Anda di halaman 1dari 12

PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007

The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

Pendahuluan Dasar Teori

Pegunungan Selatan Jawa Gunung api adalah tempat atau


merupakan bagian dari pembelajaran busur bukaan yang menjadi titik awal bagi
gunung api berumur Tersier, selain yang batuan pijar dan atau gas yang keluar ke
tersebar luas di kepulauan Indonesia. permukaan bumi dan bahan sebagai
Secara umum, produk gunung api tersebut produk yang menumpuk di sekitar bukaan
dikenal sebagai “Old Andesite Formation” tersebut membentuk bukit atau gunung
(van Bemmelen, 1949) yang kemudian (Macdonald, 1972). Tempat atau bukaan
menjadi acuan para ahli geologi bilamana tersebut disebut kawah atau kaldera,
menjumpai batuan gunung api berumur sedangkan batuan pijar dan gas adalah
tua. Beberapa peneliti (misal: magma. Batuan atau endapan gunung api
Sopaheluwakan, 1977; Bronto, et al., adalah bahan padat berupa batuan atau
1994; Yuwono, 1997) menyebutkan endapan yang terbentuk sebagai akibat
tentang adanya kegiatan gunung api bawah kegiatan gunung api, baik secara langsung
laut berumur Tersier yang lokasinya maupun tidak langsung.
terletak di Pulau Jawa bagian selatan. Di
pihak lain, penelitian ini mengungkapkan
morfologi gunung api yang penyusunnya
mengindikasikan keberadaan gunung api
bawah laut di daerah Tawangsari dan
Jomboran, Jawa Tengah.
Daerah Tawangsari terletak di
bagian baratdaya wilayah Kecamatan
Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo,
sedangkan daerah Jomboran terletak di
bagian paling utara wilayah Kecamatan
Selogiri, Kabupaten Wonogiri atau
merupakan wilayah perbatasan kedua
kabupaten tersebut (Gambar 1). Bentang
alam Tawangsari berupa perbukitan (+138
hingga +148 dml) yang dikelilingi dataran
dan terletak diantara dua Pegunungan
Baturagung (+687 dml) dan Gajahmungkur
(+692 dml). Sementara itu, bentang alam
Jomboran berupa bukit (+102 dml) yang
dilingkupi dataran dan menempati daerah
bukaan dari struktur melingkar gawir
Pegunungan Gajahmungkur yang
membuka kearah utara. Gambar 1. Lokasi daerah penelitian.
Penelitian ini menekankan pada
deskripsi rinci di lapangan dan di
laboratorium, sedangkan pemilihan daerah Secara umum, Wilson (1989)
studi didasarkan pada kemudahan menyatakan bahwa magmatisme dapat
pencapaian lokasi, singkapan geologi yang terjadi di batas lempeng konstruktif
cukup mewakili dan keberadaannya belum maupun destruktif, dan magmatisme yang
dikaji secara komprehensif. Selain hal terjadi di dalam lempeng. Selain itu, tataan
tersebut, daerah ini penting untuk studi tektonik tersebut menunjukkan keteraturan
magmatisme-volkanisme, dan terhadap kenampakan bentang alam
implikasinya terhadap sumber daya energi. gunung api, seri magma, dan kisaran
komposisi SiO2. Karakteristik gunung api
sendiri mencakup diantaranya letak sumber
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

erupsi, tipe letusan, bentuk gunung api, Lava terutama dikontrol oleh
struktur gunung api, tipe magma, dan viskositas, kecepatan efusi, dan keadaan
komposisi batuan. Di pihak lain, Walker lingkungan pengendapan baik di darat
(1993) menjelaskan ciri-ciri magma ataupun di laut. Aliran lava encer memiliki
sebagai dasar parameter di dalam viskositas dan kandungan silika rendah,
kegunungapian adalah (a) densitas relatif sebaliknya aliran lava kental memiliki
magma - litosfera yang membuat viskositas dan kandungan silika tinggi.
kemungkinan terjadinya volkanisme dan Berdasarkan fungsi dari kecepatan efusi
membantu menentukan posisi intrusi dan terhadap viskositas maka akan terbentuk
dapur magma; (b) viskositas dan yield beberapa jenis aliran lava, seperti block,
strength menentukan geometri, intrusi dan aa, dan pahoehoe. Disamping itu, aliran
struktur aliran lava; (c) kandungan gas lava yang mengendap di dalam lingkungan
mendorong terjadinya erupsi dan air (submarine) akan membentuk struktur
menentukan tingkat letusannya; dan (d) khusus yaitu bantal (pillow). Struktur
kombinasi antara kandungan gas dengan bantal terbentuk berkaitan dengan
viskositas, dan rheology mengontrol pendinginan sangat cepat/tinggi, namun
kekuatan letusan erupsi. Pemahaman hal kecepatan aliran sangat lambat/rendah
tersebut diwujudkan ke dalam lima tipe (Gambar 3). Kecepatan aliran penting
sistem gunung api-basal (Gambar 2). dalam mengendalikan tipe pembentukan
lava bawah muka air, sementara kecepatan
pendinginan lebih cepat di lingkungan
bawah muka air. Sehingga lava yang
terbentuk umumnya disertai oleh
pembentukan hialoklastit (fragmen gelas),
sedangkan breksi bantal terbentuk dari
pecahan-pecahan kasar (secara khas
berukuran block) yang dihasilkan dari lava
Gambar 2. Skema diagram blok, lima tipe bantal sendiri yang tertanam di dalam
sistem gunung api-basal (Walker, 1993). pecahan bantal yang lebih halus atau
Keterangan gambar: b-basaltic vents, c- matrik hialoklastit.
caldera, d-dyke, ls-lava shield, m-magma
chamber, rz-rift zone, r-rhyolitic lava
dome, s-sill or intrusive sheet, u-
cumulates.
Secara umum, terdapat dua jenis
erupsi gunung api yaitu erupsi letusan yang
menghasilkan material fragmental berbutir
halus – kasar, sedangkan erupsi lelehan
menghasilkan kerucut spater, aliran lava,
dan kubah lava. Menurut Walker (1973a,
dalam Cas & Wright, 1987), lava
berkomposisi menengah menunjukkan
volume terbesar (10 km3), tebal mencapai
800 m, dan penyebaran luas (40 km2),
sedangkan lava berkomposisi asam
mempunyai volume lebih kecil dan cukup
tebal dibanding aliran lava menengah.
Sementara itu, karena sifatnya yang encer
(low viscosity) lava basal secara lateral
sangat luas tetapi mempunyai ketebalan Gambar 3. Pembentukan struktur aliran
tipis (<50 m). lava akibat “cooling rate vs flow rate”
(Anonim, 2002).
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

Secara umum, bentuk atau struktur geologi lembar Surakarta-Giritontro perlu


bentang alam gunung api sangat beragam. dilakukan.
Keragaman tersebut tidak terpisahkan oleh Hal tersebut di atas, juga perlu
berbagai faktor pembentuk seperti tipe dilakukan terhadap lokasi atau daerah yang
erupsi, komposisi dan viskositas magma, secara genesis mempunyai kemiripan fisis,
lingkungan sekitar, dsb. Sementara sifat kimiawi, dan tataan tektoniknya. Sebagai
alami letusan dan hasil bentukan bentang contoh, keberadaan lava bantal sebagai
alam gunung api tergantung pada sifat bagian dari Formasi Citirem (Mcv),
alami lava. Sebagai contoh, erupsi lava Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian yang
felsik letusannya dahsyat dan sering telah dilakukan oleh Sukamto, (1975)
menyebabkan kerucut komposit curam, menyebutkan bahwa pembentukan
produknya terdistribusi lebih jauh. Formasi Citirem berkaitan dengan
Sebaliknya, lava mafik letusannya tenang mekanisme olistostrom dan berumur
dan membentuk morfologi landai, Mesozoikum, dan Sartono (1990)
produknya dekat dengan kawah, dan mengaplikasikan prinsip tektonostratigrafi
kadang-kadang erupsi bawah muka air terhadap terjadinya sedimen-sedimen
membentuk pulau. berumur Eosen – Miosen Awal di
Pegunungan Selatan Jawa sebagai endapan
Geologi Regional luncuran, dan bahkan mélange sedimenter
atau olistostrom. Di pihak lain, Dardji
Pulau Jawa bagian selatan secara (1997) melaporkan kelompok batuan basa-
umum disusun oleh batuan gunung api ultrabasa (batuan ofiolitik) atau batuan
produk erupsi letusan maupun erupsi volkanik Citirem (dalam Sukamto, 1975)
lelehan, selain batuan sedimen klastik dan terbentuk sebagai akibat tektonik regangan
karbonat. Beberapa hasil penelitian dan berumur Oligosen. Sementara itu,
memberikan berbagai pernyataan yang Harsono (2006) menyebutkan keberadaan
beragam, seperti yang diuraikan di bawah lava bantal dan perselingan tuf halus-kasar
ini. yang keduanya berkomposisi basal
Surono, et al., (1992) menyatakan berkaitan dengan kegiatan gunung api
perbukitan Tawangsari yang menjadi topik bawah laut. Berdasarkan kandungan fosil
bahasan disusun oleh lava dasit-andesit foraminifera kecil pada batuan klastika
dan tuf dasit, dan dikelompokkan ke dalam gunung api menunjukkan umur Miosen
Formasi Mandalika (Tomm) yang secara Awal – Miosen Tengah (N4-N14),
stratigrafi sebagai batuan tertua berumur sedangkan fosil foraminifera besar pada
Oligosen-Miosen Awal. Di daerah ini, batugamping menunjukkan umur Oligosen
formasi tersebut dilingkupi oleh endapan – Miosen Awal (Te4-Te5). Selanjutnya
aluvium (Qa). Dalam keterangannya, kearah timur yaitu di wilayah Jawa Tengah
khususnya terhadap batuan gunung api dijumpai hal serupa. Di daerah Gunung
tidak dijelaskan lebih lanjut, misalnya Wetan dan sekitarnya, sebelah barat aliran
tentang ciri-ciri atau karakter khusus yang Sungai Serayu yang tercakup dalam peta
menyertainya, seperti tekstur ataupun geologi lembar Banyumas (Asikin et al.,
strukturnya. Karena hal tersebut sangat 1992) tersingkap batuan beku lava (Tpb)
penting dalam kaitan dengan genesis berkomposisi basal yang menyisip di
batuan termaksud. Di pihak lain (misal: dalam massa batuan sedimen yang terdiri
Walker, 1993; Bronto, et al., 1994; atas batupasir, batulempung, napal, dan tuf
Hartono & Syafri, 2007) menyatakan dengan sisipan breksi. Batuan sedimen
bahwa produk erupsi lelehan, pengendapan tersebut dikelompokkan sebagai Formasi
aliran lava tidak jauh dari sumber Halang (Tmph). Keterangannya tersebut
erupsinya atau kurang dari 7 km. Oleh tidak menjelaskan lebih lanjut adanya
sebab itu, pembelajaran geologi gunung hubungan genesis antara batuan beku dan
api dan atau evaluasi parsial terhadap peta batuan sedimen klastis tersebut. Adanya
kemungkinan perselingan antara produk
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

klastika gunung api (Formasi Halang) dan al., (1992) melaporkan kumpulan lava
aliran lava basal sebagai satu kesatuan basal dan lava andesit yang sebagian besar
genesis gunung api kurang membentuk struktur bantal tersebut
dipertimbangkan, terlebih bilamana dikelompokkan ke dalam Formasi
komposisinya tidak jauh berbeda seperti Mandalika (Tomm) dan Formasi
yang terjadi di Formasi Citirem, Jawa Watupatok (Tomw). Kedua formasi
Barat yaitu antara tuf dan lava bantal, tersebut diduga berumur Oligosen-Miosen.
keduanya berkomposisi basal. Bronto (komunikasi lisan) melaporkan
Penelitian di daerah Luk Ulo, penyebaran lava basal berstruktur bantal
Kebumen, Jawa Tengah (Suparka & juga dijumpai di ujung timur pulau Jawa
Soeria-Atmadja, 1991) menyebutkan yaitu di selatan Jember, dan di pantai timur
adanya kaitan keberadaan lava bantal Banyuwangi.
(bagian dari kumpulan ofiolit) dengan jalur
pemekaran samudera. Kemudian, Asikin, Bentang alam lava bantal
et al., (1992) menerangkan bahwa Formasi
Karangsambung dan Formasi Totogan Bentang alam daerah Tawangsari,
(mélange sedimenter) diinterpretasikan Sukoharjo dan daerah Jomboran, Wonogiri
sebagai hasil mekanisme olistostrom. merupakan perbukitan bergelombang
Namun, di pihak lain Yuwono, (1994, lemah yang dipisahkan oleh dataran
1997) menyatakan adanya kegiatan gunung sebagai bentang alam utamanya.
api bawah laut “Dakah” di daerah akresi. Perbukitan daerah Tawangsari mempunyai
Hal terakhir diterangkan oleh adanya ketinggian kurang dari 150 m di atas
hubungan genesis antara batuan gunung permukaan air laut dengan kelerengan
api dan batuan sedimen penyusun Formasi tidak lebih dari 15º (Gambar 4a),
Totogan (Tomt) dan Formasi sedangkan bukit Jomboran sebagai satu-
Karangsambung (Teok) yang diendapkan satunya bukit di desa Jomboran
di laut. Sementara itu, komposisi mempunyai ketinggian 102 m di atas
meneralogi dan kimiawi himpunan batuan permukaan air laut dengan kelerengan 10º
gunung api menunjukkan afinitas toleit (Gambar 4d). Bentuk bukit-bukit dikedua
busur kepulauan. daerah ini umumnya melingkar seperti
Bronto, et al., (1994) melaporkan kubah, dan ada yang memanjang pendek
bahwa lava yang tersingkap di daerah (elipsoidal) dengan panjang kurang dari
Watuadeg, Kalasan, Yogyakarta dan di 300 m, sementara puncak dari bukit
Kali Nampu, dan “Gunung Sepikul” Bayat, tersebut landai. Umumnya, puncak dari
Klaten merupakan lava tipe bantal. Selain bukit-bukit itu dimanfaatkan penduduk
itu juga menyebutkan tipe lava bantal di setempat sebagai tempat pemakaman
kedua daerah tersebut mungkin bukan (kuburan) dan tempat ziarah.
bagian dari ofiolit yang berasal dari Bukit-bukit daerah Tawangsari
pemekaran lempeng samudera Hindia. berjajar dengan arah tenggara-baratlaut
Kemudian kearah timur di daerah Pacitan, (N140oE), mulai dari bukit Prengkel, G.
Jawa Timur khususnya di aliran Sungai Pencit, bukit Jarum, bukit Tumpukan, G.
Grindulu bagian hulu juga tersingkap lava Beluk, dan G. Mojo. Pola pengaliran
bantal berkomposisi basal, dan andesit- berupa sungai-sungai kecil yang berhulu di
basal. Menurut Sopaheluwakan (1977), Pegunungan Wonogiri dan Pegunungan
keberadaan lava bantal tersebut masih Baturagung yang terletak di sebelah
dipertanyakan sebagai bagian dari kegiatan selatannya. Disamping itu, umumnya
volkanik continental ataukah sebagai bersistem subparalel tenggara-baratlaut
produk dari gunung api bawah laut (?). Hal berhulu di G. Merapi (+2914 dml) yang
tersebut disebandingkan dengan kegiatan terletak di sebelah baratlaut. Sungai-sungai
volkanisme bawah laut di Kepulauan tersebut kemudian menyatu di Bengawan
Antilla Kecil sebagai awal pembentukan Solo sejauh 5 km di sebelah utaranya. Pola
busur kepulauan. Sementara itu, Hanang et pengaliran ini mengalir di atas bentang
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

alam dataran yang dimanfaatkan sebagai Keterangan gambar: (a) Morfologi landai
persawahan yang subur, terlebih setelah daerah Tawangsari dan sekitar, (b & c)
dibuat saluran (istilah lokal ‘sudetan’) Unit lava bantal Tawangsari, (d) Unit lava
Bengawan Solo yang berarah utara-selatan. bantal Jomboran.
Petrologi daerah Tawangsari dan
daerah Jomboran umumnya disusun oleh Gambar 5 memperlihatkan
batuan gunung api yang dikelompokkan ke perbandingan fisik atau kenampakan di
dalam Formasi Mandalika yang berumur lapangan antara lava bantal Tawangsari-
Oligo-Miosen (Surono, et al., 1992). Jomboran dengan daerah lain di Jawa
Namun, secara khusus batuan penyusun bagian selatan, disamping bentuk bentang
bukit-bukit berelief landai tersebut adalah alamnya. Lava bantal yang tersingkap di
batuan beku luar, warna abu-abu gelap Citirem, Sukabumi (Gambar 5a,b)
hingga agak terang, tekstur porfiritik, memperlihatkan struktur permukaan kasar,
struktur vesikuler halus, amigdaloidal mem-breksi, warna gelap-kehitaman,
berisi mineral sekunder berupa kalsit dan tekstur porfiritik, struktur rekahan radier
kuarsa, struktur bantal (pillow) atau bentuk dan struktur bantal, vesikuler, komposisi
tubuh seperti aliran bantal guling basal-andesit basal. Lava bantal ini
berdiameter ±1 m (Gambar 4c), rekahan membentuk bentang alam bergelombang
berpola radier pada kenampakan melintang lemah dengan kelerengan kurang dari 10o
(Gambar 4b), dan beberapa batas antar (Gambar 5k) yang hal mana juga
tubuh batuan beku tersebut dijumpai membentuk bentang alam yang sama di
material lapuk warna kehitaman dengan daerah lain (Gambar 5l, m, n, dan o).
tebal 1-2 cm (skin glassy ?). Kenampakan Kenampakan fisik tubuh lava bantal
permukaan luar umumnya mem-breksi Citirem berbeda dengan yang tersingkap di
kasar dengan ukuran fragmen berkisar Karangsambung (Gambar 5c), dan di
antara 20-40 cm, fragmen batuan beku Watuadeg, Yogyakarta (Gambar 5g, h).
tersebut tertanam dalam masa dasar Permukaan tubuh lava bantal di kedua
berkomposisi sama batuan beku, atau daerah ini halus, sedangkan di Citirem
dikenal dengan istilah coarse autobreccia. lebih kasar. Di sisi lain, kesan mem-breksi
Kenampakan aliran tubuh saling mendidih juga terjadi pada lava bantal Tawangsari-
berstruktur bantal dengan ukuran beragam Jomboran (Gambar 5d, e) dan Kali Nampu,
dan permukaan terkesan mem-breksi halus Bayat (Gambar 5f), sementara bagian luar
(granular autobreccia) juga dijumpai di lava bantal Watuadeg terlapisi skin glassy
daerah Jomboran (4d). Ciri-ciri batuan warna hitam dengan tebal 1-2 cm. Struktur
beku ini relatif sama dengan batuan beku aliran lava bantal Watuadeg berkisar 2-4 m
yang tersingkap di daerah Tawangsari, dan berdiameter kurang dari 1 m,
yaitu berwarna abu-abu gelap dan sedangkan lava bantal di Karangsambung
bertekstur porfiritik. tampak lebih kecil atau lebih pendek.
Sementara itu, kenampakan fisik dan
ukuran setiap unit tubuh lava bantal Watu
Patok, Pacitan (Gambar 5i) dan lava bantal
Karangsambung relatif sama. Kenampakan
permukaan mem-breksi pada lava bantal
Kali Nampu, Bayat relatif sama dengan
lava bantal Tawangsari-Jomboran, dan
lava bantal Citirem, hanya morfologi tubuh
lava bantal Citirem tampak lebih segar.

Petrologi lava bantal

Gambar 4. Bentang alam dan litologi Kenampakan mikroskopis lava


penyusun daerah Tawangsari-Jomboran. bantal di atas bertekstur hipokristalin,
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

porfiritik dengan fenokris plagioklas contoh yang mencapai lebih dari 1,2%
berbentuk plat tabular-lamelar, kolumnar yaitu contoh asal Karangsambung,
(batang) berukuran antara 0,25 mm – 2,25 Bobotsari, Pacitan masing-masing satu
mm, masa dasar berbentuk jarum, batang, contoh, dan asal Samudera Hindia
plat, serta bentuk tak beraturan berukuran mencapai 2,58%. Hal ini menunjukkan
antara 0,02 mm – 0,25 mm berkembar bahwa himpunan batuan gunung api ada
karlsbad, albit, albit – karlsbad, osilatori, yang berhubungan dengan subduksi
singgung, dan piriklin, bekomposisi An (subduction related magmatism), dan yang
32-50 (andesin). Piroksen terdiri atas orto lainnya tidak berhubungan (non-
dan klino, fenokris berukuran antara 0,25 subduction related magmatism). Lava
mm – 1,75 mm, bentuknya terdiri atas bantal Tawangsari menempati daerah
butiran tak teratur bentuk, plat tabular, alkali-kapur menengah bersama lava bantal
lamelar, dan segi banyak beraturan Watuadeg, Bobotsari, dan Bayat,
simetris, sering berkembar, sering tumbuh sedangkan komposisi semua lava bantal
bersama berkelompok (glomeroporfiritik), dalam makalah ini berkisar antara basal –
sering teralterasi terutama pada daerah andesit basal (SiO2 = 48,13%-60,77%).
sekeliling retakan dan belahan dengan
mineral sekunder yang hadir terdiri atas
klorit dan kalsit. Mikrolit / mesostasis
berupa butiran sangat halus berukuran <
0,01 mm diperkirakan terdiri atas felspar
dan mineral bijih serta gelas yang semi
isotropis. Klorit dan kalsit juga mengisi
rongga-rongga vesikuler dan ruang antara
masa dasar, sedangkan mineral bijih Fe,
Mg, Ti-oksida berukuran antara 0,01 mm –
0,05 mm, tersebar di dalam masa dasar dan
sebagai inklusi di dalam piroksen.
Analisis kimia elemen utama lava
bantal Tawangsari menunjukkan
kandungan K2O cukup tinggi (1,16%),
kandungan TiO2 relatif rendah yaitu
0,54%, seperti juga ditunjukkan secara
petrografis oleh kehadiran mineral opaq
atau mineral bijih (2%). Sebaliknya,
kandungan Al2O3 pada lava bantal ini
cukup tinggi yaitu 17,65% yang hal mana
ditunjukkan dengan melimpahnya
kandungan plagioklas (45%), sedangkan
kandungan alkali total lava ini cukup tinggi
yaitu mencapai 4,4% (Tabel 1). Gambar 6 Gambar 5. Lava bantal (a-i) dan bentuk
memperlihatkan analisis kimia unsur morfologi landai (k-o) dari berbagai daerah
utama seluruh lava bantal yang menjadi yang menjadi tambahan bahan diskusi.
bahan bahasan makalah ini. Berdasarkan Keterangan gambar: (a,b,k) Citirem, (c)
diagram variasi K2O - SiO2 menunjukkan Karangsambung, (d,o) Tawangsari, (e)
adanya kumpulan batuan gunung api Jomboran, (f,n) Bayat, (g,h,l) Watuadeg,
berafinitas alkali-kapur rendah hingga (i,m) Watupatok.
alkali-kapur menengah dengan kandungan
K2O antara 0,10%-1,54%. Hal yang sama
juga ditunjukkan pada diagram AFM
(Gambar 7). Kandungan TiO2 umumnya
rendah antara 0,54%-1,13%, walaupun ada
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

Menurut Hartono (2000), Hartono dan


Syafri (2007) menyatakan kelompok
batuan gunung api tersebut merupakan
produk fase pembangunan bentang alam
gunung api purba Gajahmungkur, dan
pembangunannya perlu waktu yang sangat
panjang. Di bagian utara sampai ke arah
barat bentang alam berelief kasar ini
terbentang dataran sangat luas yang
Gambar 6. Perajahan lava bantal disusun oleh endapan G. Merapi di bagian
Tawangsari & Pacitan dalam diagram % barat dan G. Lawu di bagian timur.
berat K2O terhadap % berat SiO2 Namun, nampak dari jauh di dalam
(Peccerillo & Taylor, 1976). Data bentang alam dataran tersebut terdapat
kompilasi lava bantal Pacitan, Bobotsari, seperti “gundukan-gundukan” atau
Karangsambung (Soeria-Atmadja, et al., “gumuk-gumuk” berelief landai dan
1991), Citirem (Harsono, 2006), dan selanjutnya disebut sebagai gumuk
Bayat, Watuadeg, Samudera Hindia Tawangsari-Jomboran. Oleh sebab itu,
dan G. Galunggung (vide Bronto, et al., bentang alam landai Tawangsari-Jomboran
1994). yang menempati bagian dari bentang alam
dataran nampak terisolir dan menjadi
sangat unik atau malah aneh (?). Terlebih
bila dihubungkan dengan keberadaannya
yang saling berjajar membentuk garis lurus
berarah tenggara-baratlaut.
Bentang alam berelief landai
Tawangsari-Jomboran terkait dengan
keberadaan lava bantal berkomposisi
andesit basal. Karena lava bantal tersebut
merupakan komponen utama
pembentuknya. Secara ilmu batuan,
struktur bantal hanya dapat terbentuk di
lingkungan air pada kedalaman tertentu
dan volume magma yang cukup, selain
sifat-sifat fisika-kimiawi yang
menyertainya. Di pihak lain, ilmu
kegunungapian menjelaskan bahwa
Gambar 7. Kedudukan lava bantal di keberadaan lava bantal terkait erat dengan
dalam diagram AFM. (Keterangan simbol kegiatan gunung api bawah laut. Artinya,
sama dengan gambar 6). bentang alam gunung api terbentuk ketika
lava dan partikel panas keluar dari dalam
Diskusi bumi, kemudian membeku dan atau
membatu di sekitar kawah. Kata “keluar”
Secara umum bentang alam daerah di sini identik dengan erupsi yaitu erupsi
Wonogiri merupakan bentang alam lelehan dan atau erupsi letusan. Sehingga
bentukan batuan gunung api berkomposisi bentang alam yang terbentuk merupakan
andesit hingga riolit. Sehingga bentang alam asli atau bentang alam awal.
memperlihatkan bentang alam dengan Hal ini penting bilamana kita hubungkan
relief yang sangat kasar atau bergelombang dengan peran tektonik di dalam
kuat dengan kelerengan curam. Batuan pembentukan bentang alam gunung api
gunung api tersebut merupakan penyusun (Gambar 2-CV, lihat ket. b).
utama Formasi Mandalika yang terdiri atas Pengungkapan adanya korelasi antara tipe
perselingan lava dan batuan piroklastika. erupsi gunung api dengan pembentukan
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

bentang alam ini menunjukkan peran penting untuk menguak lebar suatu
faktor-faktor penyerta seperti komposisi, fenomena geologi suatu daerah. Terlebih
temperatur, dan kandungan gas di dalam lagi adanya anggapan ”semua jenis breksi
magma. Umumnya, faktor-faktor itulah dikelompokkan sebagai batuan sedimen”,
yang mengontrol viskositas magma dan sehingga hasil analisis akhir dalam
menentukan tipe erupsi gunung api. Aliran memahami suatu genesis batuan secara
lava basal umumnya berasosiasi dengan komprehensif jelas tidak akan pernah
erupsi lelehan. terjadi. Lebih jauh lain, khususnya struktur
Jelas bahwa lava yang membeku di perselang-selingan antara batuan beku
bawah air mempunyai bentuk-membulat, masif dengan batuan fragmental berukuran
saling menumpuk, di bagian tepi tampak tuf – lapili sebagai perlapisan produk
melingkar (spheriodal, ellipsoidal), bentuk sedimentasi normal. Selanjutnya, struktur
rupa-bantal dengan kulit yang keras, dan primer batuan seperti perlapisan bersusun
rekahan radier. Hal ini kemungkinan (normal dan terbalik), laminasi (normal
berhubungan dengan viskositas yang hal dan bergelombang), dsb., dianggap sebagai
mana terlihat pada gambar 3 di atas. bukti pembentukan asal arus turbit
Pembentukan struktur bantal merupakan (endapan turbidit) yang terjadi di laut
fungsi dari kecepatan pendinginan dengan dalam. Alinea ini perlu mendapat porsi
kecepatan aliran, yaitu membeku sangat kajian yang cukup dalam proses
cepat dan mengalir sangat lambat. pembelajaran batuan gunung api dan
Sebaliknya, akan terbentuk struktur masif, stratigrafi gunung api. Ditambahkan di
tidak memperlihatkan struktur bantal. sini, negara Indonesia kaya akan gunung
Membeku sangat cepat hanya dapat terjadi api baik yang masih aktif maupun yang
pada massa yang sangat panas (magma) sudah mati.
bersentuhan dengan massa air yang dingin, Di beberapa daerah bagian selatan
es atau massa sedimen yang jenuh air. Pulau Jawa dijumpai singkapan lava bantal
Sehingga pembentukan struktur bantal dengan dimensi yang beragam. Aliran lava
sering disertai pembentukan massa gelas bantal tersebut memperlihatkan variasi
yang menyelimutinya atau dikenal dengan struktur permukaannya (Gambar 5) dan
istilah ”skin glassy”, dan berasosiasi komposisi kimiawinya (Gambar 6 dan 7).
dengan endapan fragmen gelas lava berupa Secara umum, kedudukan stratigrafi lava
hyaloclastites. Di samping hal tersebut, bantal-lava bantal ini dimasukkan ke
unit tubuh aliran lava bantal dalam formasi tertua atau dikenal dengan
memperlihatkan struktur permukaan halus Formasi Andesit Tua (van Bemmelen,
(Gambar 5c,g), terdapat juga yang 1949) yaitu berumur Oligosen-Miosen atau
memperlihatkan kesan permukaan kasar yang lebih tua (?). Disebutkan seperti
“mem-breksi” atau ”breksi autoklastika” ulasan di atas bahwa aliran lava bantal
(Gambar 5a,b,d,e,f). Pecahan-pecahan atau tersebut terletak di dalam Formasi Citirem
rekahan-rekahan yang membentuk kesan (Sukamto, 1975), Formasi
mem-breksi ini ada yang berukuran kasar Karangsambung-Formasi Totogan (Asikin,
(coarse autobreccia) dan yang berukuran et al., 1992), Formasi Kebo-Butak
halus (granular autobreccia). Selain faktor (Rahardjo, et al., 1977), Formasi
viskositas, kecepatan membeku, breksi Mandalika (Surono, et al., 1992), dan
autoklastika ini kemungkinan dipengaruhi Formasi Watupatok (Samodra, et al.,
juga oleh morfologi batuan dasar selama 1992). Keberadaan lava bantal tersebut
dia mengalir. hadir bersama-sama dan atau ditutupi oleh
Kenampakan struktur ”mem- kelompok batuan yang umumnya asal
breksi” atau sering disebut breksi gunung api bertipe asal produk letusan
autoklastika pada kebanyakan aliran lava gunung api yaitu berupa tuf – lapili dan
sering kurang mendapat perhatian yang breksi piroklastika. Hal ini menunjukkan
cukup, artinya berbagai tipe atau jenis adanya suatu kesatuan genesis atau mula
breksi yang ada masih dianggap kurang jadi batuan-batuan gunung api tersebut
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

yang hal mana sebelumnya dianggap menunjukkan struktur zoning,


sebagai proses asal berbeda (misalnya: berafinitas alkali-kapur menengah
turbidit, olistostrom). Terkait dengan yang berasosiasi pada busur
keberadaan gumuk-gumuk gunung api kepulauan.
yang terjadi di berbagai daerah di Jawa dan  Lava bantal Tawangsari-Jomboran
berumur relatif sama tersebut, maka pada membentuk bentang alam landai
periode yang sama boleh jadi bagian (kemiringan <10o) yang berasosiasi
selatan Jawa telah dimulai kegiatan dengan erupsi lelehan di dalam air
magmatisme-volkanisme yang pada kedalaman agak dalam hingga
menghasilkan lava bantal. Hal ini dangkal, dan membentuk gumuk-
didukung oleh hasil analisis petrologi yang gumuk gunung api bawah laut.
menunjukkan afinitas magma berasosiasi  Perlu penelitian lanjut tentang
dengan penunjaman lempeng yang adanya kaitan erupsi celah (fissure
membentuk busur kepulauan. Pemikiran eruption) diantara gumuk-gumuk
ini sejalan dengan hasil penelitian Soeria- gunung api yang tersingkap di
Atmadja et al., (1991). Secara ilmu sepanjang Pulau Jawa bagian
kegunungapian, pada periode itu selatan tersebut.
kemungkinan lava bantal merupakan awal
kegiatan gunung api bawah laut yang Ucapan Terimakasih
kemudian sejalan dengan proses
diferensiasi magma menghasilkan batuan Penulis mengucapkan terima kasih
gunung api yang lebih asam. Dalam kepada beberapa pihak yang telah
perjalanannya jajaran gunung api tersebut membantu sehingga makalah ini dapat
bertambah besar dimensinya hingga selesai. Kepada Dr. Sutikno Bronto atas
muncul sebagai daratan gunung api diskusinya yang menarik, Bapak Joko
(volcanic field). Subandrio (PSG) atas izin penggunaan
Secara teori masing-masing magma data kimia daerah Pacitan, Bapak Setyo
cenderung terbentuk pada lokasi tertentu, Pambudi dan Bapak Agus Hendratno atas
misalnya magma basal terbentuk di rift dan bantuan penyediaan foto lava bantal
hot spot samudera, sedangkan magma Pacitan dan lava bantal Kebumen, dan
andesit di batas subduksi, busur kepulauan. kepada saudara Sony Martino atas
Melihat posisi munculnya singkapan lava kerjasamanya yang baik selama kerja
bantal di sepanjang bagian selatan Pulau lapangan.
jawa, maka tidaklah berlebihan bilamana
keberadaannya berkaitan dengan erupsi Daftar Pustaka
celah (Fissure Eruption). Hal ini didukung
oleh komposisi lava bantal yang relatif Anonym, 2002, Submarin Volcanism,
sama yaitu basal – andesit basal dengan Required reading: p361-402 in
afinitas magma alkali-kapur. Sementara, Encyclopedia and Ch 14 in F and O.
secara sepihak jajaran gumuk-gumuk Asikin, S., Handoyo, A., Busono, H. &
gunung api Tawangsari-Jomboran juga Gafour, S., 1992, Peta Geologi
muncul dari celah bawah laut yang Lembar Kebumen, Jawa, Skala
membentuk garis lurus berarah tenggara- 1:100.000, Puslitbang Geologi,
baratlaut. Bandung.
Asikin, S., Handoyo, A., Prastistho, B. &
Kesimpulan Gafour, S., 1992, Peta Geologi
Lembar Banyumas, Jawa, Skala
Kesimpulan makalah ini sbb.: 1:100.000, Puslitbang Geologi,
 Batuan gunung api Tawangsari dan Bandung.
Jomboran adalah andesit basal Bronto, S., Misdiyanta, P., Hartono, G. dan
porfiri dengan fenokris piroksin dan Sayudi, S., 1994, Penyelidikan Awal
plagioklas, dan kadang Lava Bantal Watuadeg, Bayat dan
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

Karangsambung, Jawa Tengah, Soeria-Atmadja, R., Maury, R.C., Bellon,


Kumpulan Makalah Seminar: Geologi H., Pringgoprawiro, H,. Polve, M., dan
dan Geotektonik Pulau Jawa, Sejak Priadi, B., 1991, The Tertiary
Akhir Mesozoik Hingga Kuarter, Jur. Magmatic Belts in Java, Proccidings
Tek. Geologi, F. Teknik, UGM, of Silver Jubilee Symposium On the
Yogyakarta, h. 123-130. Dynamics and Its Products, Research
Cas, R.A.F., and Wright, J.V., 1987, and Development Center for
Volcanic Succession: Modern and Geotechnology-LIPI; Yogyakarta,
Ancient, Allen & Unwin, London, 534 September 17-19, h. 98-112.
h. Sopaheluwakan, J., 1977, Ringkasan
Dardji, N., 1997, Evolusi Cekungan Peristiwa-Peristiwa Tektonik Pada
Paleogen di Daerah Ciletuh Jawa Batuan Andesit Tua di Selatan Jawa,
Barat Selatan, Buletin Geologi, Vol. Majalah Ilmiah Riset, Lembaga
27, No. 1/3, ITB, Bandung, h. 27-42. Geologi & Pertambangan Nasional,
Harsono, B., 2006, Geologi Daerah Vol. 1, No. 1, h. 34-41.
Cigelang dan Sekitarnya Kecamatan Sukamto, R., 1975, Peta Geologi Lembar
Ciracap dan Kecamatan Ciemas, Jampang-Balekambang, Jawa, Skala
Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa 1:100.000, Puslitbang Geologi,
Barat dan Analisa Geokimia Batuan Bandung.
Gunung Api, Skripsi mahasiswa S1, Suparka, M.E., & Soeria-Atmadja, R.,
STTNAS, Yogyakarta, tidak 1991, Major Element Chemistry and
diterbitkan. 111 h. REE Paterns of the Luh Ulo
Hartono, G. & Syafri, I., 2007, Peranan Ophiolites, Central Java, Proccidings
Merapi Untuk Mengidentifikasi Fosil of Silver Jubilee Symposium On the
Gunung Api Pada “Formasi Andesit Dynamics and Its Products, Research
Tua”: Studi Kasus Di Daerah and Development Center for
Wonogiri, Jurnal Sumberdaya Geotechnology-LIPI; Yogyakarta,
Geologi, Spesial Ed. September 17-19, h. 204-218.
Hartono, G., 2000, Studi Gunung api Surono, Sudarno, I. dan Toha, B., 1992,
Tersier: Sebaran Pusat erupsi dan Peta Geologi Lembar Surakarta –
Petrologi di Pegunungan Selatan Giritontro, Jawa, skala 1:100.000,
Yogyakarta. Tesis S2, ITB, 168 p, Puslitbang Geologi, Bandung.
tidak diterbitkan. van Bemmelen, RW., 1949, The Geology
Macdonald, A.G., 1972, Volcanoes, of Indonesia, Vol IA, Government
Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, Printing Office, 732 h.
New Jersey, 510 h. Walker, G.P.L., 1993, Basaltic-Volcano
Rahardjo, W., Sukandarrumidi dan Rosidi, Systems, Magmatic Processes and
H. M. D., 1977, Peta Geologi Plate Tectonic, Prichard, H.M.,
Lembar Yogyakarta, Jawa, skala 1 : Alabaster, T., Harris, N.B.W. &
100.000, Puslitbang Geologi, Neary, C.R. (Eds), Geol. Society
Bandung. Special Publication, No. 76, h. 3-38.
Samodra, H., Gafoer, S., & Wilson, M., 1989, Igneous Petrogenesis: A
Tjokrosapoetro, S., 1992, Peta Geologi Global Tectonic Approach, Unwin
Lembar Pacitan, Jawa, skala Hyman, London, 1st. pub., 465 h.
1:100.000, Puslitbang Geologi, Yuwono, Y.S., 1994, Gunungapi Bawah
Bandung. Laut “Dakah” di Karangsambung,
Sartono, S., 1990, Extensive Slide Kebumen, Jawa Tengah, Abstrak,
Deposits In Sunda Arc Geology, The Kumpulan Makalah Seminar: Geologi
Southern Mountain of Java, Indonesia, dan Geotektonik Pulau Jawa, Sejak
Buletin Jurusan Bandung, Vol. 20, h. Akhir Mesozoik hingga Kuarter, Jur.
3-13. Tek. Geologi, F. Teknik, UGM,
Yogyakarta, h. 121.
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition

Yuwono, Y.S., 1997, The Occurrence of


Submarine Arc-Volcanism in the
Accretionary Complex of The Luk
Ulo Area, Central Java, Buletin
Geologi, Vol. 27, No. 1/3, ITB,
Bandung, h.15-25.
PROCEEDINGS JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, The 36th IAGI, and The 29th IATMI Annual Conference and Exhibition
Tabel 1. Analisis kimia elemen utama contoh batuan lava-lava bantal dari Tawangsari (HGH-05), Pacitan (05AM45, 05AM46, 05AM49B), dan
kompilasi dari Pacitan, Bobotsari, Karangsambung, Jampang (Soeria-Atmadja, et al., 1991), Citirem (Harsono, 2006), dan Bayat, Watuadeg,
Samudera Hindia dan G. Galunggung (vide Bronto, et al., 1994).