Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Wakaf merupakan salah satu ibadah kebendaan yang penting yang secara ekplisit tidak
memiliki rujukan dalam kitab suci Al-Quran. Oleh karena itu, ulama telah melakukan
identifikasi untuk mencari “induk kata” sebagai sandaran hukum. Hasil identifikasi mereka
juga akhirnya melahirkan ragam nomenklatur wakaf yang dijelaskan pada bagian berikut.
Wakaf adalah institusi sosial Islami yang tidak memiliki rujukan yang eksplisit dalam al-
Quran dan sunah. Ulama berpendapat bahwa perintah wakaf merupakan bagian dari
perintah untuk melakukan al-khayr (secara harfiah berarti kebaikan). Dasarnya adalah
firman Allah berikut :

...dan berbuatlah kebajikan agar kamu memperoleh kemenangan”


Imam Al-Baghawi menafsirkan bahwa peerintah untuk melakukan al-khayrberarti perintah
untuk melakukan silaturahmi, dan berakhlak yang baik. SementaraTaqiy al-Din Abi Bakr Ibn
Muhammad al-Husaini al-Dimasqi menafsirkan bahwa perintah untuk melakukan al-khayr
berarti perintah untuk melakukan wakaf. Penafsiran menurut al-Dimasqi tersebut relevan
(munasabah) dengan firman Allah tentang wasiyat.

“Kamu diwajibkan berwasiat apabila sudah didatangi (tanda-tanda) kematian dan jika
kamu meninggalkan harta yang banyak untuk ibu bapak dan karib kerabat dengan acara
yang ma’ruf; (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang takwa.”

Dalam ayat tentang wasiat, kata al-khayr diartikan dengan harta benda. Oleh karena
itu, perintah melakukan al-khayr berarti perintah untuk melakukan ibadah bendawi. Dengan
demikian, wakaf sebagai konsep ibadah kebendaan berakar pada al-khayr. Allah
memerintahkan manusia untuk mengerjakannya.
B. Pengertian Wakaf
Menurut bahasa Wakaf berasal dari waqf yang berarti radiah(terkembalikan), al-
tahbis (tertahan), altasbil (tertawan) dan al-man’u (mencegah). disebut pula dengan al-
habs (al-ahbas, jamak). Secara bahasa,al-habs berarti al-sijn (penjara), diam, cegah,
rintangan, halangan, “tahanan,” dan pengamanan. Gabungan kata ahbasa (al-habs)
dengan al-mal (harta) berarti wakaf (ahbasa al-mal).
Penggunaa kata al-habs dengan arti wakaf terdapat dalam beberapa riwayat. Yaitu :
Pertama, dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Ibn ‘Umar yang menjelaskan bahwa
Umar Ibn al-Khatab datang kepada Nabi saw. Meminta petunjuk pemanfaatan tanah
miliknya di Khaibar. Nabi saw. Bersabda:

“Bila engkau menghendaki, tahanlah pokoknya dan sedekahkanlah hasinya (manfaatnya)!”


Kedua, dalam hadits riwayat Ibn Abbas (yang dijadikan alasan hukum oleh Imam Abu
Hanifah) dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda :

“Harta yang sudah berkedudukan sebagai tirkah (harta pusaka) tidak lagi termasuk benda
wakaf.”
Dalam hadits dikatakan bahwa wakaf disebut dengan sedekah jariah(shadaqat jariyah)
dan al-habs (harta yang pokoknya dikelola dan hasilnya didermakan). Oleh karena itu,
nomenklatur wakaf dalam kitab-kitab haditas dan fiqih tidak seragam.. Al-Syarkhasi dalam
kitab al-Mabsuth, memberikan nomenklatur wakaf dengan Kitab al-waqf, Imam Malik
menuliskannya dengan nomenklatur Kitab Habs wa al-Shadaqat Imam al-Syafi’I dalam al-
Umm memberikan nomenklatur wakaf dengan al-Ahbas, dan bahkan Imam Bukhari
menyertakan hadits-hadits tentang wakaf dengan nomenklatur Kitab al-Washaya. Oleh
karena itu secara nomenklatur wakaf ddisebut dengan al-ahbas, shadaqat jariyat, dan al-
waqf.
Secara normative idiologis dan sosiologis perbedaan nomenklatur wakaf tersebut dapat
dibenarkan, karena landasan normative perwakafan secara eksplisit tidak terdapat dalam al-
Quran atau al-Sunna dan kondisi masyarakat pada waktu itu menuntut akan adanya hal
tersebut. Oleh karena itu, wilayah Ijtihad dalam bidang wakaf lebih besar dari pada wilayah
Tauqifi-Nya.
Ketiga, sebab nuzul (salah satu ayat) dalam surat an-nisaa’ dalam penjelasan Imam Syuraih
adalah bahwa:

“Nabi Muhammad saw. menjual benda wakaf.”


Menurut Istilah, wakaf berarti :

“Penahanan harta yang memungkinkan untuk dimanfaatkan desertai dengan kekal


zat/benda dengan memutuskan (memotong) tasharruf (penggolongan) dalam
penjagaannya atas Mushrif (pengelola) yang dibolehkan adanya.

Atas dasar sejumlah riwayat tersebut, nomenklatur wakaf dalam kitab-kitab hadits dan
fikih tidaklah seragam. Al-Syarkhasi dalam kitab al-Mabsutmemberikan nomenklatur wakaf
dengan al-Wakaf, Imam al- Syafi’i dalam al-Ummemberikan nomenklatur wakaf dengan al-
Ahbas dan bahkan Imam Bukhari menyertakan hadits-hadits tentang wakaf dengan
nomenklatur Kitab al-Washaya.Oleh karena itu, secara teknis, wakaf disebut dengan al-
ahbas, shadaqah jariyah, dan al-wakaf
Keragaman nomenklatur wakaf terjadi karena tidak ada kata wakaf yang eksplisit dalam
Al-Quran dan hadits. Hal ini menunjukan bahwa wilayah ijtihad dalam bidang wakaf lebih
besar dari pada wilayah tawqifi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan Wakaf
Seperti telah diuangkapkan di muka, bahwa secara eksplisit tidak ditemukan ayat al-Quran
yang mengatur tentang wakaf, namun secara implisit cukup banyak ayat-ayat yang bisa jadi
dasar hukum tentang wakaf.

Qur’an Ali Imran : 92


Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya.
.
Kutipan Al-Quran surat Ali Imran ayat 92 tersebut benar-benar menyentuh. Ternyata
menafkahkan harta yang kita cintai merupakan salah satu jalan sekaligus syarat untuk
menyempurnakan semua kebajikan lain yang sudah, sedang, dan akan kita lakukan. Bisa jadi
seseorang telah banyak berbuat baik. Tampaknya dengan menafkahkan sebagian hak milik
yang sangat dicintai untuk perjuangan di jalan Allah, barulah akan sampai kepada
kebajikan/keshalehan yang sempurna.
Sabab Nuzul ayat tersebutadalah, Seperti diterangkan dalam hadits Nabi yang
diriwayatkan oleh Imam Buchori, Muslim, Tarmidzi, dan An-Nasa’i, yang diterima dari Anas
bin Malik, Beliau menrangkan :
Abu Tholhah diantara salah seorang Sahabat Nabi yang paling banyak memiliki kebun
kurmanya di Madinah, salah satunya kebun kurma Bairuha,kebun tersebut berhadapan
dengan Masjid tempat Nabi sembahyang dan Nabi sering keluar masuk memakan kurma
tersebut dan meminum airnya yang harum.
Ketika turun ayat tersebut (Ali Imran : 92) Tholhah langsung mendatangi Rasull lalu ia
berkata, :Ya Rasulullah, sesungguhnya kekayaan yang sangat kucintai yaitu kebun
kurma Bairuha, karena ada perintah dari Allah melalui ayat tadi, kusedekahkan bairuha ini
kepadamu Ya Rasulullah.
Mendengar ucapan Abu Tholhah, Rasulullah berkata, wahai Tholhah sungguh engkau
beruntung, kebun kurma itu membawa keberuntungan, kalau begitu alangkah baiknya
disedekahkan kebun kurma itu kepada karib kerabatmu. Timpal Abu Tholhah, ya Rasulullah
akan kusedekahkan harta itu sesuai dengan petunjukmu Ya Rasulullah.
Kemudian dalam Riwayat Abi Hatim dari Muhammad bin Al-Munkodir, beliau berkata,
bahwa ketika turun ayat Ali Imran ke 92, datang sahabat Zaid bin Haritsyah membawa
seekor kuda yang bernama Sibul, Zaid tidak memiliki lagi kekayaan lain selain kuda itu.
Beliau berkata, Ya Rasulullah saya datang akan menyerahkan kuda ini untuk kepentingan
agama, Rasull menjawab “Aku menerima sedekahmu” wahai Zaid.
Selanjutnya oleh Rasulullah ditunggangkan diatas punggung kuda itu Usamah bin Zaid
anaknya Zaid, lantas Rasull melihat muka Zaid agak muram masih merasa berat hati
melepaskan kuda kesayangannya.
Namun Rasulullah melanjutkan perkataannya. Sesungguhnya Allah telah menerima sedekah
engakau Zaid.

Pemahaman konteks atas ajaran wakaf juga diambilkan dari beberapa hadits Nabi yang
menyinggung masalah shadaqah jariyah, yaitu :

Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : “Apabila anak Adam
(manusia meninggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara:
Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya”.
(HR. Muslim)
Penafsiran shadaqah jariyah dalam hadits tersebut dikataakan asuk dalam pemebahasan
wakaf, seperti yang diuangkapkan seorang Imam
Hadit tersebut dikemukakan di dalam bab wakaf, karena para ulama menafsirkan shadaqah
jariyah dengan wakaf.

Hadits Nabi yang secara tegas menyinggung dianjurkannya ibadah wakaf, yaitu perintah
Nabi kepada Umar untuk mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar :
)
Dari Ibnu Umar ra. Berkata, bahwa sahabat Umar Ra. Memperoleh sebidang tanah d
Khaibar kemudian menghadap kepada Rasulullah untukm memohon petunjuk Umar berkata
: Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah
mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah engkau perintahkan kepadaku ? Rasulullah
menjawab: Bila kamu suka, kamu tahan (pokoknya) ntanah itu, dan kamu sedekahkan
(hasilnya). Kemudian Umar menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, kaum kerabat,
budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak mengapa atau tidak dilarang bagi
yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara yang baik
(sepantasnya) atau makan dengan tidak bermaksud menumpuk harta (HR. Muslim).

Pada sabda Nabi yang lainnya disebutkan :


Dari Ibnu Umar, ia berkata : “Umar mengatakan kepada Nabi Saw, saya mempunyai
seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah mendapat harta yang paling saya
kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin menyedekahkannya. Nabi Saw mengatakan kepada
Umar : Tahanlah (jangan jual, hibahkan dan wariskan) asalnya (modal pokok) dan jadikan
buahnya sedekah untuk sabilillah” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Bertitik tolak dari beberapa ayat al-Quran dan hadits Nabi yang menyinggung tentang
akaf tersebut nampak tidak terlalu tegas. Karena itu sedikit sekali hukum-hukum wakaf yang
diterapkan berdasarkan kedua sumber tersebut. Sehingga ajaran wakaf ini diletakan pada
wilayah yang bersifat ijtihadi, bukan ta’abudi, khususnya yang berkaitan dengan aspek
pengelolaan, jenis wakaf, syarat, peruntukan dan lain-lain.
Meskipun demikian, ayat al-Quran dan Sunnah yang sedikit itu mampu menjadi
pedoman para ahli fikih Islam. Sejak masa Khulafaur Rasyidun sampai sekarang, dalam
membahas dan mengembangkan hukum-hukum wakaf dengan menggunakan metode
penggalian hukum (ijtihad) mereka. Sebab itu sebagian besar hukum-hukum wakaf dalam
Islam ditetapkan sebagai hasil ijtihad, dengan menggunakan metode ijtihad seperti qiyas,
maslahah mursalah dan lain-lain.
Oleh karenanya, ketika suatu hukum (ajaran) Islam yang masuk dalam wilayah ijtihadi,
maka hal tersebut menjadi sangat fleksibel, terbuka terhadap penafsiran-penafsiran baru,
dinamis, fururistik dan berorientasi pada masa depan. Sehingga dengan demikian, ditinjau
dari aspek ajaran saja, wakaf merupakan sebuah potensi yang cukup besar untuk bisa
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Apalagi ajaran wakaf ini termasuk bagian
dari muamalah yang memiliki jangkauan yang sangat luas, khususnya dalam pengembangan
ekonomi lemah.
Memang, bila ditijau dari kekuatan sandaan hukum yang dimiliki, ajaran wakaf
merupakan ajaran yang bersifrat anjuran (sunnah), namun kekuatan yang dimiliki
sesungguhnya begitu besar sebagai tonggak menjalankan roda kesejahteraan masyarakat
banyak. Sehingga dengan demikian, ajaran wakaf yang masuk dalam wilayah ijtihadi, dengan
sendirinya menjadi pendukung non manajerial yang bisa dikembangkan pengelolaannya
secara optimal.

B. Perwakafan Dalam Undang-Undang Di Indonesia


1. Wakaf sebagai pranata keagamaan yang memiliki potensi dan manfaat ekonomi yang perlu
dikelola secara efektif dan efisien untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan
kesejahteraan umum.
2. Wakaf merupakan perbuatan hukum yang telah lama hidup dan dilaksanakan dalam
masyarakat.
C. Regulasi Perwakafan di Indonesia
1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tantang Wakaf
3. Peraturan pemerintah No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU No. 41 Tahun 2004
4. Peraturan pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik

Benda Tidak Bergerak yang Dapat Diwakafkan


1. Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik
yang sudah terdaftar maupun yang belum terdaftar.
2. Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah dan atau bangunan.
3. Tanaman dan beda lain yang berkaitan dengan tanah
4. Hal milik atas satuan rumah sesuai dengan peraturan perundag-undangan yang berlaku.
5. Benda tidak bergerak lain yang sesuai dengan sejarah dan peraturan perundang-unagan.
D. Benda Bergerak yang dapat Diwakafkan
1. Uang Rupiah
2. Logam Mulia
3. Surat Berharga
4. Benda bergerak lain yang berlaku
5. Kendaraan
6. Hak atas kekayaan intelektual
7. Hak sewa sesuai ketentuan syariah dan peraturan perunda-undanga yang berlaku.

E. Unsur-Unsur Wakaf
1. Wakif
2. Nadzir
3. Harta Benda Wakaf
4. Peruntukan Wakaf
5. Jangka Waktu Wakaf
6. Sighat Wakaf/Akad

F. WakIf
1. Wakif perseorangan (dewasa, sehat, dan cakap) Organisasi (Pengurus memenuhi syarat
sebagai wakif perseorangan, bergerak dalam bidang
sosial/pendidikan/kemasyarakatan/keagamaan Islam.
2. Badan Hukum (Pengurus memenuhi syarat sebagai wakif perseorangan, Badan Hukum sah,
bergerak dalam bidang sosial/pendidikan/keagamaan Islam dan kemasyarakatan
3. Pemilik sah harta benda yang akan diwakafkan.
G. N a d z I r
1. Nadzir Perorangan (dewasa, sehata, cakap).
2. Organisasi (Pengurus memenuhi syarat sebagai Nadzir perseorangan, bergerrak dalam
bidang sosial/pemdidikan/kemasyarakatan/keagamaan Islam.
3. Badan Hukum (Pengurus memenuhi syarat sebagai Nadzir perseorangan, Badan Hukum sah,
bergerak dalam bidang sosial/ pendidikan/kemasyarakatan /keagamaan Islam.
4. Terdaftar di BWI dan Kemenag (Pendaftaran dapat dilaksanakan setelah proses wakaf bagi
nadzir baru.

H. Tugas Nadzir
1. Pengadministrasian
2. Mengelola dan mengembangkan harta wakaf sesuai tujuan
3. Mengawasi proses pengelolaan
4. Melaporkan hasil pengelolaan kepada BW) dan Kemenag.
Nadzir dapat memperoleh imbalan maksimal 10 % dari hasil pengelolaan.
BAB III
KESIMPULAN

1. Wakaf menahan dzat/benda dan membiarkan nilai manfaatnya demi mendapatkan pahala
dari Allah Ta’ala.
2. Merupakan ibadah kebendaan yang secara tekstualitas tidak ditemukan ayat nya di dalam
al-Quran, kecuali ada beberapa hadist Nabi yang secara eksplisit memberikan kepastian
tentang hukum wakaf.
3. Wakaf adalah amalan yang disunnahkan, teermasuk jenis sedekah yang paling utama yang
dianjurkan Allah dan termasuk bentuk taqarrub yang ermulia, serta merupakan bentuk
kebaikan dan ihsan yang terluas serta banyak manfaatnya.
4. Wakaf merupakan amal yang tidak pernah terputus, meski orang yang memberikan wakaf
sudah meninggal dunia.
5. Wakaf ditentukan peruntukannya, seperti untuk sarana peribatan seperti; masjid, langgar,
mushala, yayasan pendidikan, yayasan panti jompo dan untuk sarana peribadatan sosial
lainnya.
6. Disyariatkan harta yang diwakafkan bermanfaat secara langgeng seperti gedung, hewan,
kebun, senjata, perabot dan yang berkembang sekarang adalah wakaf uang tunai, dan wakaf
hak kekayaan intelektual.
7. Pensyariatan wakaf adalah hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, “Umar memperoleh
tanah Khaibar, Kemudian mendatangi Nabi SAW Seraya berkata, Saya memperoleh tanah
yang tidak pernah saya dapatkan harta yang lebih berharga darinya, Lalu apa yang engkau
perintahakan kepada saya? Nabi SAW bersabda, Jika berkenan, kamu dapat menahan
(menafkahkan) pokoknya dan bersedekah dengannya. Kemudian Umar bersedekah agar
tanah tersebut tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan, tapi hanya untuk fakir
miskin, kerabat, budak-budak, orang yang dijalan Allah, para tamu dan ibnu sabil. Sehingga
orang yang mengurusnya tidak berdosa mengambil makan darinya dengan cara yang baik
atau memberikan makan kepada semua yang tidak mempunyai harta.
TUGAS PAI
“ARTIKEL TENTANG WAKAF”

Anggun Putri Nur Alifah

X.B

SMK Farmasi Bumi Siliwangi

Bandung