Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN STUDI KASUS

UPAYA PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA PADA PASIEN


DENGAN TINEA KRURIS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik Madya

Oleh:

Ardiraz Fides Khairunnisa (211.121.0048)

Pembimbing Lapangan :
dr. Titis Ari Respatilatsih

Pembimbing:

dr. Farida Rusnianah, M.Kes. (MARS), Dipl.DK.

KEPANITERAAN KLINIK MADYA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
LABORATORIUM ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PUSKESMAS GONDANGLEGI KABUPATEN MALANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Infeksi akibat dermatofisia terdapat diseluruh dunia terutama daerah
tropis yang mempunyai kelembapan tinggi seperti Indonesia. Penyakit ini
menyerang pria maupun wanita dan terjadi pada semua umur terutama
dewasa. Penyebab tersering penyakit ini adalah Trichophyton rubrum dengan
prevalensi 47% dari semua kasus tinea.1 Trichophyton rubrum mempunyai
dinding sel sehingga resistens terhadap eradikasi. Barrier proteksi ini
mengandung mannan, yang menghambat organisme ini tahan terhadap
pertahanan lapisan kulit.2,4,10
Lainnya halnya dengan mikosis profunda, yang jarang ditemui,
dermatofitosis cukup banyak dengan angka insidensi yang kurang lebih sama
di kota-kota besar di Indonesia. Selain itu, penyakit ini mengenai semua
golongan usia. Meskipun belum tersedia angka insidensi dermatofitosis di
Indonesia, penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan Kedokteran
Indonesia (1997-1998) menunjukkan rentang usia penderita 25-64 tahun. Hal
ini berkaitan dengan tingkat aktivitas yang mengeluarkan banyak keringat,
trauma, dan lama pajanan terhadap fungi.5,6 infeksi dermatofitosis tidak
menyebabkan mortalitas yang signifikan tetapi dapat berpengaruh besar
terhadap kualitas hidup sehingga diagnosis dan terapi infeksi dermatofit harus
dilakukan dengan tepat. Apabila terapi yang digunakan tidak sesuai, maka
akan menimbulkan beberapa pebyulit seperti reaksi alergi, hiperpigmentasi,
kekambuhan, dan infeksi sekunder yang menyebabkan pasien tidak kunjung
sembuh, memungkinkan terjadinya penurunan imunitas yang dapat memicu
terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri, virus, maupun fungsi jenis lainnya.
Oleh karena itu, dibutuhkan terapi yang tepat dan cepat untuk meminimalisir
terjadinya penyulit.7
Fungi dermatofitosis dapat ditularkan secara langsung maupun secara
tidak langsung, dan untuk dapat menimbulkan suatu penyakit, jamur
dermatofitosis harus memiliki kemampuan untuk melekat pada kulit host
(pejamu) mampu menembus jaringan pejamu. Sedangkan variabilitas host,
seperti usia, jenis kelamin, ras, budaya, dan imunitas dapat mempengaruhi
manifestasi klinis dan perjalanan penyakit infeksi dermatofitosis ini. Hal ini
menunjukkan bahwa penyakit ini bersifat medis tidak hanya berfokuks pada
aspek biologi (penyakit) tetapi juga dipengaruhi oleh aspek psikososial.
Karena itu, interaksi antara komunitas sosial dan keluarga dengan bantuan
lingkungan komunitasnya sangat membantu tidak hanya dalam menyelesaikan
masalah klinis tetapi juga masalah psikososial.
Keluarga adalah unit masyarakat yang paling terkecil. Oleh sebab itu,
untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang baik, harus dimulai dari
keluarga. Keluarga dapat menjadi pelaku rawat yang baik bagi masing-masing
anggota keluarganya. Pola hidup yang kurang baik dalam kehidupan
seseorang merupakan salah satu faktor internal, dan hubungan kurang baik
dengan anggota keluarga lainnya merupakan faktor eksternal yang
menyebabkan sulitnya penyelesaian masalah medis. Berdasarkan pelayanan
dokter keluarga yang holistik, kontinu, integratif, dan koordinatif,
penyelesaian masalah medis dan psikososial dilaksanakan.8

1.2 TUJUAN
Tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk melatih keterampilan klinis
dan komunikasi dalam menangani kasus penyakit kulit terutama Tinea cruris
dengan upaya pendekatan kedokteran keluarga yang bersifat holistik,
komprehensif, terepadu, dan berkesinambungan.

1.3 MANFAAT
Manfaat penyusunan laporan ini adalah sebagai media pembelajaran dan
evaluasi terhadap aspek kedokteran keluarga dalam penangan serta pencegahan
kasus penyakit kulit khususnya tinea kruris.
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PENDERITA


Nama : Ny. I
Usia : 26 tahun
Status : Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah tangga
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Gondanglegi Kulon
Tanggal periksa : Selasa, 12-9-2017
Nama Suami : Tn.Z
Usia Suami : 30 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan suami : Wiraswasta
Nomor RM : 28. 464
2.2 ANAMNESA
1. Keluhan utama : Gatal pada daerah kelamin dan selangkangan
Harapan : Gatalnya sembuh
Kekhawatiran : penyakit tidak bisa sembuh
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang sediri ke Puskesmas Gondanglegi dengan keluhan gatal-gatal dan
kemerah pada kulit bagian kelamin, daerah perut bawah dan selangkangan. Keluhan ini
sudah dirasakan selama 1 bulan terakhir. Pasien mengaku kulitnya terasa sangat gatal
apabila terutama apabila terkena keringat. Awal mulanya hanya terbentuk bundaran kecil
kemerahan pada daerah selangkangan kiri, lambat laun semakin membesar, meluas hingga
kelamin dan perut bagian bawah kiri, disertai perubahan warna kulit menjadi kemerahan
dengan pinggir yang tidak rata. Oleh karena terasa sangat gatal, pasien mengaku sering
menggaruknya menggunakan kuku atau dikompres menggunakan air hangat. Setelah 2
minggu dan tak kunjung sembuh, pasien memutuskan memeriksakan diri ke bidan dan
diberi salep gentamycin dan obat minum berupa antibiotik. 2 minggu kemudian, bercak
kemerahan dan gatal menetap sehingga pasien beralih memeriksakan diri ke Puskesmas.
Keluhan ini merupakan yang pertama kali dirasakan. Riwayat keputihan tidak ada dan
anggota keluarga serumah tidak ada yang mengalami penyakit serupa.
3. Riwayat penyakit Dahulu :
 Riwayat Mondok : (-)
 Riwayat sakit gula : (-)
 Riwayat penyakit jantung : (-)
 Riwayat hipertensi : (-)
 Riwayat sakit kejang : (-)
 Riwayat alergi obat : (-)
 Riwayat alergi makanan : (-)
 Riwayat dirawat di rumah sakit : (-)
 Riwayat asma : (-)
 Riwayat penyakit kulit : (-)
 Riwayat penyakit lain : (-)
 Riwayat penyakit Genitourinaria : (-)
4. Riwayat penyakit keluarga :
 Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : tidak ada anggota keluarga yang
terkena penyakit yang sama dengan pasien.
5. Riwayat kebiasaan
 Riwayat merokok : (-)
 Riwayat minum alkohol : (-)
 Riwayat olahraga : (-)
Pasien mengatakan jarang sekali bahkan hampir tidak pernah olahraga.
 Riwayat pengisian waktu luang : (+)
Pasien sering menghabiskan waktu dirumah untuk menonton TV, tidur, mengurus
anak, mengurus rumah tangga, mengantar anak ke sekolah, bersosialisasi dengan
tetangga sekitar.
 Konsumsi obat/jamu : Gentamycin salp dan amoxicilin 3x 500mg
6. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah ibu rumah tangga. Penghasilan keluarga pasien ini dikatakan cukup untuk
memenuhi kebutuhan keluarganya. Suami pasien merukan wiraswasta yang membuka usaha
jasa servis alat elektronik dirumahnya. Untuk aktivitas social Ny. I aktif bersosialisasi
dengan tetangga.
7. Riwayat gizi
Makan sehari-hari seperti nasi putih, sayur dengan lauk seperti tempe, tahu, telur dan
kadang ikan serta ayam potong.
8. Riwayat Pengobatan
Sudah dibawa ke bidan desa tidak kunjung membaik.
2.3 ANAMNESA SISTEM
1. Kulit : terdapat bercak kemerahan yang terasa sangat gatal pada daerah
selangkangan kiri, perut bawah, dan kelamin.
2. Kepala : luka (-), sakit kepala (-), pusing (-)
3. Mata :merah (-/-), penglihatan berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (-)
4. Hidung : tersumbat (-/-), mimisan (-/-), sekret/rhinorrea (-/-)
5. Telinga : cairan (-/-), nyeri (-/-), penurunan pendengaran (-/-)
6. Mulut : sariawan(-), bibir pucat (-)
7. Tenggorokan: sakit menelan (-), serak (-)
8. Pernafasan : sesak nafas (-), batuk (-)
9. Kardiovaskuler : Berdebar-debar (-), nyeri dada (-)
10. Gastrointestinal : Mual (-), muntah (-), BAB (normal)
11. Genitourinaria : BAK lancar, warna dan jumlah dalam batas normal
12. Neurologik : kejang (-),lumpuh (-)
13. Muskuluskeletal : nyeri sendi (-), nyeri otot(-)
14. Ekstremitas :
a. Atas kanan : bengkak (-), nyeri(-), pucat (-), luka (-), kesemutan (-), hangat
b. Atas kiri : bengkak (-), nyeri (-), pucat (-), luka (-), kesemutan (-), hangat
c. Bawah kanan : bengkak (-), nyeri (-), pucat (-), luka (-), kesemutan (-), hangat
d. Bawah kiri : bengkak (-), nyeri (-), pucat (-), luka (-), kesemutan (-), hangat
2.4 PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : tampak baik,kesadarancompos mentis (GCS E4V5M6), status gizi
kesan berlebih.
2. Antropometri
 BB : 69 kg
 TB : 148 cm
 BMI : BB/TB2 = 69/(1,48)2 = 31,5 Obesitas
3. Tanda Vital
 Tensi : 100/60 mmHg
 Nadi : 75 x/menit, reguler, nadi kuat
 RR : 20 x/menit, tipe thorakoabdominal
 Suhu : 36 oC
4. Kepala dan wajah: bentuk mesocephal, wajah simetris, luka (-), pusing (-), sakit kepala (-
),kulit gatal (-), luka baru dan luka lama pada kulit (-), pucat (-)
5. Mata : konjungtiva anemis (-/-), radang (-/-),reflek cahaya (+/+), warna kelopak (coklat
kehitaman), katarak (- /-)
6. Hidung : rhinorrhea (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung (-/-)
7. Mulut : bibir pucat (-/-), bibir kering (-/-)
8. Telinga : otorrhea (-/-), kedua cuping telinga normal
9. Leher : lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran KGB (-)
10. Thorax : normochest, simetris
Cor : Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis kuat angkat
Perkusi : batas kiri atas : SIC II LPSS
Batas kanan atas : SIC II LPSD
Batas kiri bawah : SIC V 1 cm lateral LMCS
Batas kanan bawah : SIC IV LPSD
Batas jantung kesantidak melebar
Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, regular
Pulmo :
Inspeksi : pengembangan dada kanan sama dengan dada kiri
Palpasi : fremitus taktil kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : + + - - - -
suara dasar vesikuler + wheezing - ronkhi -
+ + - - - -
11. Satus Lokalis (Abdomen) :
Inspeksi : bentuk simetris, sejajar dinding dada
Auskultasi : bising usus normal
Palpasi : nyeri tekan (-), nyeri lepas (-)
Perkusi : timpani

12. Sistem Collumna Vertebralis :


Inspeksi : skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
13. Ekstremitas : nyeri sendi dan otot (-), eritema (-),akral hangat (+), edema (-), luka (-)
deformitas (-), luka (-), nyeri (-), krepitasi (-)
14. Status Dermatologis

Regio Effloresensi

Inguinal, mons pubis, left iliac Terdapat :


Lesi makula eritema dengan luas
penampang ±12cm x 15cm , pada
daerah tepi lesi terdapat skuama
halus dan papul yang aktif,
sedangkan pada daerah tengah lesi
lebih tenang (central healing) serta
terdapat erosi.

Gambar 2.1 gambaran dermatologi

2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium pada pasien ini.

2.6 RESUME
Pasien datang sediri ke Puskesmas Gondanglegi dengan keluhan gatal-gatal dan kemerah
pada kulit bagian kelamin, daerah perut bawah dan selangkangan. Keluhan ini sudah
dirasakan selama 1 bulan terakhir. Pasien mengaku kulitnya terasa sangat gatal apabila
terutama apabila terkena keringat. Awal mulanya hanya terbentuk bundaran kecil kemerahan
pada daerah selangkangan kiri, lambat laun semakin membesar, meluas hingga kelamin dan
perut bagian bawah kiri, disertai perubahan warna kulit menjadi kemerahan dengan pinggir
yang tidak rata. Oleh karena terasa sangat gatal, pasien mengaku sering menggaruknya
menggunakan kuku atau dikompres menggunakan air hangat. Setelah 2 minggu dan tak
kunjung sembuh, pasien memutuskan memeriksakan diri ke bidan dan diberi salep
gentamycin dan obat minum berupa antibiotik. 2 minggu kemudian, bercak kemerahan dan
gatal menetap sehingga pasien beralih memeriksakan diri ke Puskesmas. Keluhan ini
merupakan yang pertama kali dirasakan. Riwayat keputihan tidak ada dan anggota keluarga
serumah tidak ada yang mengalami penyakit serupa.
Pada pemeriksaan efloresensi kulit didapatkan hasil berupa lesi makula eritema dengan
luas penampang ±12cm x 15cm , pada daerah tepi lesi terdapat skuama halus dan papul yang
aktif, sedangkan pada daerah tengah lesi lebih tenang (central healing) serta terdapat erosi.

2.7 DIAGNOSA HOLISTIK


1. Aspek Personal
 Keluhan utama : Terdapat bercak kemerahan yang terasa sangat gatal pada
daerah kelamin, selangkangan kiri, dan perut bawah kiri.
 Harapan : Sembuh
 Kekhawatiran : kambuh-kambuhan dan tidak sembuh
 Persepsi pasien : penyakitnya bisa sembuh.
2. Aspek Klinis
Tinea Cruris
3. Aspek Resiko Internal
Usia : Ny. I berusia 26 tahun yang yang merupakan usia dengan prevalensi
usia terbanyak mengalami infeksi dermatofitosis.
Genetik : kemungkinan tidak ada peran genetic pada pasien ini hanya factor
kekebalan yang mempengaruhi penyakit ini
Kebiasaan : pasien jarang mengganti pakaian dalam dan sering menggunakan
celana ketat, serta celana jins yang jarang dicuci.
4. Aspek Resiko External
Pasien hidup bertiga dengan suami dan anaknya. Kemungkinan penularan penyakit dari
kontak langsung dengan keluarga cukup tinggi .
5. Aspek Fungsional : pasien masih mampu melakukan aktivitas dan pekerjaan seperti
sebelum sakit. Cuma rasa gatal yang sangat ini cukup mengganggu terutama apabila
pasien berkeringat.

2.8 PENATALAKSANAAN HOLISTIK


2.8.1 Non Farmakoterapi - KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi)
1. Menyarankan kepada Ny.I dan keluarga untuk meningkatkan personal higiene.
2. Menyarankan keluarga untuk Mengganti sprei, menjemur baju-baju yang dipakai, dan
membuka jendela.
3. Menyarankan Ny.I dan keluarga untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan
rumah.
4. Menyarankan kepada keluarga untuk tidak memakai benda-benda si penderita seperti
pakaian, handuk, dll.
5. Menganjurkan untuk melakukan pengobatan yang teratur sesuai dengan lama pengobatan
yang ditentukan.
6. Menganjurkan pengobatan secara keseluruhan pada penderita maupun apabila nanti ada
keluarga yang tertular.
7. Menyarankan untuk jangan menggunakan pakaian dalam maupun celana jins yang terlalu
ketat.
8. Menyarankan Ny.I untuk menurunkan berat badan.
9. Menyarankan Ny.I untuk tidak menggaruk daerah yang gatal menggunakan tangan
maupun benda lainnya sebagai pencegahan terhadap infeksi sekunder.
10. Nutrisi yang cukup serta makan makanan sehat bergizi seimbang untuk membantu
proses penyembuhan serta meningkatkan kesehatan.

2.8.2 Farmakoterapi
Ketoconazole cream 2x sehari sehabis mandi
Ketoconazole tablet 200mg 2 kali sehari
CTM 3x1 tablet

2.9 PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad functionam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
BAB III
PEMBAHASAN ASPEK KEDOKTERAN KELUARGA

3.1 IDENTIFIKASI KELUARGA


3.1.1 Profil Keluarga
A. Karakteristik Demografi Keluarga
Tanggal kunjungan pertama : 16 September 2017
Nama kepala keluarga : Tn. Z
Alamat : Gondanglegi Kulon
Bentuk Keluarga : nuclear family
Struktur Komposisi Keluarga :

Tabel 3.1. Daftar anggota keluarga

L/ Umur Pasien
No Nama Status Pendidikan Pekerjaan Keterangan
P (th) puskesmas

1 Tn.Z. Kepala L 30 SMA Wiraswasta - -


keluarga
2 Ny. I Istri P 26 SMA Ibu Rumah Ya Tinea Cruris
(pasien) Tangga
3 An. M Anak P 6 SD Siswa - -

Sumber: data primer, 16 September 2017

Kesimpulan :Bentuk keluarga Tn.Z. berupa Nuclear Family (keluarga inti) yang terdiri dari
Suami, Istri dan satu orang anak. Status pasien sebagai anggota keluarga yang menderita
tinea cruris pada usia 26 tahun. Anggota keluarga yang lain tidak menderita penyakit yang
sama dengan pasien.
B. Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup
 Denah rumah keluarga An. A :

C. Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga


Jenis tempat berobat : Puskesmas Gondanglegi,
Asuransi / jaminan kesehatan : BPJS
Jarak layanan kesehatan tempat berobat :Jarak Pelayanan Kesehatan dengan rumah tidak
cukup jauh.
 Sarana Pelayanan Kesehatan
Tabel 3.2. Pelayanan kesehatan
Faktor Keterangan Kesimpulan
Cara mencapai pusat Jalan kaki An. A datang kepuskesmas
pelayanan kesehatan Angkot Gondanglegi bersama kedua orang
Kendaraan pribadi tuanya
Tarif pelayanan kesehatan Sangat mahal Tarif pelayanan kesehatan gratis
Mahal karena menggunakan fasilitas bpjs
Terjangkau kesehatan, pasien sangat terbantu.
Murah
Gratis
Kualitas pelayanan kesehatan Sangat Memuaskan
Memuaskan
Cukup Memuaskan
Tidak memuaskan
 Pola Konsumsi Makanan Keluarga
a. Kebiasaan makan dan penerapan pola gizi seimbang:
Penderita makan sehari-hari biasanya 2-3 kali dengan nasi, sayur, dan lauk pauk
tahu, tempe, terkadang dengan telur dan daging. Buah kadang-kadang seperti
pepaya, dan pisang. Kesan status gizi cukup. Sejak mengeluh sakit, nafsu makan
pasien menurun tetapi akhir-akhir ini nafsu makan pasien semakin meningkat.

3.1.2 Identifikasi Fungsi-Fungsi dalam Keluarga


A. Fungsi Holistik
1. Fungsi Biologis : Keluarga terdiri atas pasien Ny. I dua puluh enam tahun yang
menderita penyakit Tinea cruris, Tn. Z (30 tahun) yang sehat, An. M (6 tahun) yang
sehat.
2. Fungsi Psikologis : Hubungan keluarga yang terjalin sangat baik. Mereka saling
mendukung dan bekerjasama dalam mengatasi masalah kesehatan yang mereka alami.
Komunikasi terjalin dengan baik. Secara psikologis pasien dan kelurga memiliki
spiritual yang baik terbukti dengan sholat 5 waktu tidak pernah ditinggalkan, dan
sering mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya seperti tahlilan dll
3. Fungsi Sosial : hubungan dan komunikasi dengan lingkungan terjalin baik,
keluarga pasien juga aktif jika ada kerjabakti dan mengikuti beberapa acara warga di
lingkungan rumahnya seperti kegiatan PKK.

B. Fungsi Fisiologis dengan APGAR Score


 Adaptation : kemampuan anggota keluarga beradaptasi dengan anggota keluarga yang
lain, serta penerimaan, dukungan, dan saran dari anggota keluarga yang lain.
 Partnership : menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara
anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut
 Growth : menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan
anggota keluarga lain
 Affection : menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota
 Resolve : menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu
yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.
 Penilaian :
o Hampir selalu : 2 poin
o Kadang – kadang : 1 poin
o Hampir tak pernah : 0 poin
 Penyimpulan :
o Nilai rata-rata < 5 : kurang
o Nilai rata-rata 6-7 : cukup/sedang
o Nilai rata-rata 8-10 : baik
Tabel 4.1 APGAR score Tn. Z

A.P.G.A.R. Tn. Z Terhadap Keluarga Sering/ Kadang- Jarang/t


selalu kadang idak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga 


saya bila saya menghadapi masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas 


dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima 


dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya 


mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon
emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 


membagi waktu bersama-sama

Untuk Tn. Z, APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Adaptation : adanya dukungan dari keluarga dalam menghadapi masalah. (Score :


2)
 Partnership : Komunikasi Tn. K dengan keluarga terjalin baik (Score : 2).
 Growth : Ketika Tn. K mengungkapkan keinginannya kepada keluarga, keluarga
menerima dan mendukung keinginannya (Score : 2 ).
 Affection : Kasih sayang yang terjalin antara Tn. K dengan keluarga terjalin baik
karena mereka sering menghabiskan waktu luang bersama-sama selain itu komunikasi
terjalin baik. (Score : 2)
 Resolve : Tn. K dan keluarga sering menghabiskan waktu bersama karena dan mereka
sering menghabiskan waktu di rumah. Sementara anak-anaknya tinggal serumah dan
sering menghabiskan waktu bersama meskipun kadang bermain di luar rumah dengan
teman sebayanya (Score : 2)
Total APGAR score Tn. Z: 10 (baik)
Tabel 4.2 APGAR score Ny.I

A.P.G.A.R. Ny.I Terhadap Keluarga Sering/ Kadang- Jarang/t


selalu kadang idak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga 


saya bila saya menghadapi masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas 


dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima 


dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya 


mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon
emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 


membagi waktu bersama-sama

Untuk Ny.I, APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Adaptation : adanya dukungan dari keluarga dalam menghadapi masalah. (Score :


2)
 Partnership : Komunikasi Ny.S dengan keluarga terjalin baik (Score : 2).
 Growth : Ny.S sering mengungkapkan keinginannya kepada keluarga dan keluarga
selalu menerima dan mendukung keinginannya. (Score : 2).
 Affection : Kasih sayang yang terjalin antara Ny.S dengan keluarga terjalin baik
(Score : 2)
 Resolve : setiap hari menghabiskan waktu luang dengan keluarganya. (Score : 2)

Total APGAR score Ny.I: 10 (baik)


C. Fungsi Patologis dengan Alat SCREEM Score
Fungsi patologis keluarga Tn.Z dinilai menggunakan alat S.C.R.E.E.M sebagai berikut:
Tabel 2.3. S.C.R.E.E.M Keluarga Tn. Z

Sumber Patologis ket

Social Sering mengikuti kegiatan kampong dan warga sekitar. -

Culture Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik. _

Pemahaman tentang ajaran agama baik, ketaatan beribadah


Religious baik. -

Economic Ekonomi cukup. _

Educational Tingkat pendidikan baik -

Kurangnya pengetahuan keluarga mengenai penyakit yang


Medical diderita pasien +

D. Kesimpulan : Tn.Z memiliki fungsi patologis yang relative baik kecuali pada medical.
Kurangnya pengetahuan di keluarga menyebabkan penyakit pasien kambuh-kambuh
dan menular ke keluarga yang lain. Perlunya pemahaman mengenai penyakit scabies
agar keluarga bisa mendapatkan penatalakasanaan yang holistik dan komprehenship.
E. Genogram dalam Keluarga

Ny.I Tn. Z

An. A

: Laki-laki

: Perempuan

: Tinggal serumah

: Tinea Cruris

Kesimpulan:Tinea Cruris hanya diderita oleh Ny. I saja. Anggota keluarga yang lain tidak
mengalami penyakit serupa.

F. Informasi Pola Interaksi Keluarga

Tn.Z Ny.I

An. M
Keterangan :
: Hubungan baik

: Hubungan tidak baik

Kesimpulan: Hubungan antar anggota keluarga terjalin cukup baik.

3.2 IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN


3.2.1 Identifikasi Faktor Perilaku dan Non-Perilaku Keluarga

a. Faktor perilaku keluarga


Menurut pendapat semua anggota keluarga yang dimaksud kondisi sehat adalah suatu
kondisi dimana seseorang tidak menderita penyakit dan tidak memiliki keluhan apapun
terhadap suatu penyakit tersebut.
Ny, I, ketika merasa sakit langsung memeriksakan diri ke bidan desa terdekat.
Namun, dikarenakan penyakit kulit gatalnya tak kunjung sembuh, maka Ny. I
memutuskan untuk memeriksakan diri ke Puskesmas. Jika ada anggota keluarga yang
sakit dan penyakitnya sudah cukup mengganggu biasanya keluarga akan langsung
membawa ke bidan atau mantri praktek atau puskesmas. Keluarga sadar betul pentingnya
kesehatan pasien sehingga kesehatanya sangat diperhatikan.
b. Faktor Non perilaku
Rumah yang dihuni keluarga ini kurang memenuhi standar kesehatan. Luas
bangunannya tidak terlalu luas, namun masih cukup luas untuk dihuni oleh keluarga kecil.
pencahayaan cukup, ventilasi rumah cukup. Untuk kebutuhan air sehari-hari diperoleh
dari Sumber air desa dan untuk pembuangan sampah dilakukan di belakang dan biasanya
akan dibakar jika sudah banyak. Untuk kebersihan rumah sudah cukup,meski masih
banyak barang-barang elektronik seperti tv yang menumpuk pada ruang tamu.
Kelembaban kamar terasa sangat lembab karna jendela jarang dibuka. Untuk kamar
mandi seadanya dengan tingkat kebersihan kurang.
Keluarga Ny. I belum memahami tentang penyakit tinea cruris yang diderita oleh Ny.
I, sehingga bercak merah semakin meluas disertai rasa gatal yang sangat. Keluarga Ny. I
biasanya menggunakan Bidan, Mantri dan puskesmas sebagai sarana untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan. Keluarga pasien memiliki asuransi kesehatan. Tapi karena
pemahaman mengenai cara penanganan penyakit tinea cruris yang holistic agar penyakit
tersebut sembuh secara tuntas masih kurang akhirnya penyakit tersebut bertambah parah
seriring berjalannya waktu.

Diagram 3.1 Faktor Perilaku dan Non Perilaku

Pemahaman: Lingkungan : rumah


keluarga belum kurang memenuhi
memahami penyakit syarat kesehatan
penderita.

Sikap: keluarga sering Keturunan : -


memeriksakan Keluarga Tn.Z
kesehatannya jika
sakit

Pelayanan Kesehatan :
Tindakan: Ny. I langsung pasien memiliki bpjs
memeriksakan diri kesehatan
kepetugas kesehatan

Faktor Perilaku

Faktor Non Perilaku

.2.2 Identifikasi Lingkungan Rumah

a. Lingkungan luar rumah


Keluarga tinggal di sebuah rumah disebuah desa. Terdapat pekarangan dan tempat
parkir namun tidak terdapat pagar pembatas. Saluran pembuangan limbah tersalur ke
lingkungan sekitar. Pembuangan sampah di depan rumah dan biasanya dibakar.
b. Lingkungan dalam rumah
Dinding rumah terbuat dari batu bata bersemen yang di cat warna putih, dan lantai
rumah dari keramik seluruhnya. Rumah ini terdiri dari 5 ruangan yaitu ruang tamu, 1
kamar tidur, 1 ruang penyimpanan, satu dapur, satu ruang makan dan satu kamar mandi
didalam rumah. Rumah ini mempunyai 1 pintu untuk keluar masuk (Di bagian depan) dan
terdapat 5jendela kaca yang terdapat di sisi depan dan kamar. Kamar mandi sudah
berjamban. Fasilitas MCK keluarga dan fasilitas air dari sumber air desa. Ventilasi udara
cukup dengan 2 jendela dan lubang untuk pertukaran udara. Pencahayaannya baik dan
atap rumahnya terbuat dari genteng.
3.3 DAFTAR MASALAH
3.3.1 Masalah Medis
Tinea cruris

3.3.2 Masalah Non Medis

Kurangnya pengetahuan mengenai tinea cruris


Kekhawatiran kambuh lagi
Lingkungan dan kebersihan Rumah yang kurang
3.3.3 Diagram Permasalahan Pasien

1.Kurangnya pengetahuan
mengenai Skabies

3. Lingkungan dan
Ny. I, 26 th
kebersihan rumah
Dengan Tinea Cruris

2. Kekhawatiran kambuh
lagi
.
BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Permasalahan Medis


5.1.1 Diagnosa pasien
Pasien datang sediri ke Puskesmas Gondanglegi dengan keluhan gatal-gatal dan
kemerah pada kulit bagian kelamin, daerah perut bawah dan selangkangan. Keluhan ini
sudah dirasakan selama 1 bulan terakhir. Pasien mengaku kulitnya terasa sangat gatal
apabila terutama apabila terkena keringat. Awal mulanya hanya terbentuk bundaran kecil
kemerahan pada daerah selangkangan kiri, lambat laun semakin membesar, meluas
hingga kelamin dan perut bagian bawah kiri, disertai perubahan warna kulit menjadi
kemerahan dengan pinggir yang tidak rata. Oleh karena terasa sangat gatal, pasien
mengaku sering menggaruknya menggunakan kuku atau dikompres menggunakan air
hangat. Setelah 2 minggu dan tak kunjung sembuh, pasien memutuskan memeriksakan
diri ke bidan dan diberi salep gentamycin dan obat minum berupa antibiotik. 2 minggu
kemudian, bercak kemerahan dan gatal menetap sehingga pasien beralih memeriksakan
diri ke Puskesmas. Keluhan ini merupakan yang pertama kali dirasakan. Riwayat
keputihan tidak ada dan anggota keluarga serumah tidak ada yang mengalami penyakit
serupa.
Pada pemeriksaan efloresensi kulit didapatkan hasil berupa lesi makula eritema
dengan luas penampang ±12cm x 15cm , pada daerah tepi lesi terdapat skuama halus dan
papul yang aktif, sedangkan pada daerah tengah lesi lebih tenang (central healing) serta
terdapat erosi.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis pada Ny. I yaitu
Tinea cruris.

5.1.1.1 Tinea Cruris


Penderita merasa gatal dan kelainan lesi berupa plakat berbatas tegas terdiri

atas bermacam-macam efloresensi kulit (polimorfik). Bentuk lesi yang beraneka

ragam ini dapat berupa sedikit hiperpigmentasi dan skuamasi menahun. Kelainan

yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong, berbatas tegas, terdiri

atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan papul di tepi lesi. Daerah

tengah biasanya lebih tenang daripada bagian pinggi dari lesi. Kadang-kadang
terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Kelainan kulit juga dapat dilihat secara

polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Lesi dapat meluas dan

memberikan gambaran yang tidak khas terutama pada pasien imunodefisiensi.

5.2 Penatalaksanaan Kasus Dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Scabies


Dengan pendekatan kedokteran keluarga maka masalah yang dihadapi pasien berupa
tinea cruris. penyakit ini bisa di tatalaksana holistic dengan farmakologi dan non farmakologi.
Non Farmakologi
 Pencegahan
 Higienis perorangan ditingkatkan
 Mengganti sprei, menjemur baju-baju yang dipakai, membuka jendela
 Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan rumah
 Tidak memakai pakaian dalam ataupun celana jins yang terlalu ketat.
 Tidak memakai benda-benda si penderita.
ex: pakaian, handuk,dll.
Diagnosi lain lainnya seperti fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan keluarga bisa
dikatakan cukup. Pada fungsi patologis di dapatkan pengetahuan yang kurang baik pasien,
keluarga, dan lingkungan sehingga menyebabkan sulitnya kesembuhan dari penyakit tinea
cruris di lingkungan tersebut sehingga perlu dilakukan intervensi dari puskesmas seperti
pembagian obat tinea cruris dilingkungan tersebut dan diberikanya penyuluhan mengenai
penyakit tinea cruris dari pencegahan sampai penatalaksanaannya. Perilaku kesehatan
keluarga, dan lingkungan. lingkungan rumah pada keluarga perlu meningkatkan cara
hidup bersih dan sehat agar kuman dan penyakit tidak mudah menyebar di seekitar
wilayah tersebut.
 Anjuran
1. Pengobatan  Teratur dan sesuai dengan lama pengobatan yang telah ditentukan (± 1
minggu, kemudian di follow up kembali, hingga lesi benar-benar sudah menghilang).
2. Pengobatan secara keseluruhan  Penderita maupun keluarga yang tertular.
3. Meningkatkan higine perorangan serta lingkungan.
Farmakologi
 Ketoconazole cream 2x sehari setelah mandi
 Ketoconazole tablet 200 mg 2 kali sehari
 CTM 3x1 tab
BAB VI
PENUTUP

KESIMPULAN HOLISTIK

6.1 Kesimpulan
Diagnosis Ny. I dari segi biologis menderita tinea cruris yang harus diobati sampai tuntas
agar tidak semakin meluas. Selain itu keluarga dan lingkungan keluarga juga perlu
melakukan tindakan pencegahan agar tidak ada penularan lagi ke anggota keluarga.
Sementara itu untuk diagnosis dari segi psikologis dan segi sosial Ny.I tidak di dapatkan
permasalahan yang berarti, hanya saja pasien khawatir kalau penyakitnya semakin bertambah
berat lagi dan tidak sembuh-sembuh. Sementara itu dari fungsi keluarga juga tidak ditemukan
masalah yang berarti.
Dari data genogram pasien, tidak perlu dilakukan penatalaksanaan juga pada anggota
keluarga lainnya. Namun, perlu dilakukan upaya preventif untuk mencegah penularan.
6.2 Saran
1. Promotif
Edukasi penderita dan keluarga mengenai Tinea cruris, yang meliputi pencegahan,
penanganan, tanda dan gejala dari penyakit tersebut.
2. Preventif
Pencegahannya adalah dengan pola hidup bersih dan Sehat, menjaga kebersihan
lingkungan, dan mencegah penyakit berkembang dan menularkan anggota keluarga
yang lain.
3. Kuratif
Terapi yang telah dilakukan adalah : ketoconazole cream, ketoconazole tablet 200 mg
2 kali sehari, dan CTM 3 kali sehari. Perlu evaluasi terapi apakah pengobatan berhasil
atau tidak, selain itu cara penggunaan perlu di perhatiakan.

4. Rehabilitatif
Edukasi dan motivasi pada pasien bahwa penderita bisa sembuh.
Gambar 1. Depan Rumah Gambar 2. Ruang Tamu

Gambar 3. Kamar Tidur Gambar 4. Kamar Mandi


Gambar 5. Dapur
DAFTAR PUSTAKA

1. Wolff K, Johnson RA, Suurmond D. Fitzpatrick’s Color Atlas & Synopsis of Clinical
Dermatology.[e-book]. Fifth Edition.
2. Hainer BL. Dermatophyte infections. American Family Physician.2008.7(6): 109–117.
3. Jack L, Lesher JR. Tinea corporis. US: Medical College of Georginia.2012.
4. Hainer BL. Dermatophyte Infections. Am Fam Physician. 2003; 67(1) :101-108.
5. Budimulja U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S.
Dermatomikosis Superfisial. Kelompok Studi Dermatomikosis Indonesia. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2004. hal.16.
6. Budimulja U. Mikosis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Jakarta: FKUI; 2007. hal.92-100.
7. Suyoso S. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Surabaya:
RSUD dr.Soetomo.2004.
8. Tarigan ET. Sindrom Metabolik (DM Tipe 2, Hipertensi Stage 1) dengan Penyakit
Cardiovaskular Artherosklerotik pada Janda Geriatri 64 tahun. Lampung: Universitas
Lampung.2014.
9. Wong JW. Pocketbook in Dermatogeriatrics. 2012. Diakses
dari:http://content.lib.utah.edu/ utils/getfile/collection/ehslGerInt/id/88/filename/88.pdf
pada 21 juli 2014.
10. Seyfarth F, Ziemer M, Gräser Y, Elsner P, Hipler UC. Widespread tinea corporis caused
by Trichophyton rubrum with non-typical cultural characteristics-diagnosis via
PCR.Mycoses. 2007;50(2):26-30.
11. Sun PL, Ho HT. Concentric rings: an unusual presentation of tinea corporis caused by
Microsporum gypseum. Mycoses. Mar 2006;49(2):150-1.
12. Moriarty B, Hay R, Morris-Jones R. The diagnosis and management of tinea.. BMJ.
2012,345(7): e4380
13. Rotta I, Sanchez A, Gonçalves PR, Otuki MF, Correr CJ. Efficacy and safety of topical
antifungals in the treatment of dermatomycosis: a systematic review. British Journal of
Dermatology. 2012, 166(5): 927– 933.
14. Pershing LK, Jorgensen J. In Vivo Pharmacokinetics and Pharmacodynamics of
TopicalKetoconazole and Miconazole in Human Stratum Corneum. Antimicrobial
Agents and Chemotherapy. 1994. 38(1): 90-95.
15. World Bank Group. Population ages 15-64 (% of total). 2014. Diakses dari
http://data.worldbank.org/indicator/SP.POP.15 64.TO.ZSpada 21 juli 2014
16. Kuswadji, Budimulja U. Penatalaksanaan Dermatofitosis di Indonesia. MDVI
1997;24(1):36-39
17. Hay RJ, Moore MK. Mycology. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Grifftths C, editors.
Rook’s textbook of Dermatology. [e-book] Seventh Edition. Massachussets: Blackwell
Science; 2004.
18. Gupta A et al. Optimal Management of Fungal Infections of the Skin, Hair, and Nail. Am
J Clin Dermatol 2004;5(4):225-237.
19. Mycek MJ, Harvei RA, Champe PC. 2001. Farmakologi ulasan bergambar edisi 2.
Jakarta: Widya Medika.
20. Hammer, KA. Carson, CF. Riley, TV. In Vitro Activities of Ketoconazole, Econazole,
Miconazole, and Melaleuca alternifolia (Tea Tree) Oil against Malassezia Species.
Antimicrobial Agents and Chemotherapy. 2000. 44 (2): 467–469.
21. James WD, Berger TG, Elston DM. Andrews’ Diseases of the Skin Clinical
Dermatology. Eleventh Edition. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2011.p.188-9.
22. Akinwale SO. Personal hygiene as an alternative to griseofulvin in the treatment of
tineacruris. Afr J Med Med Sci. 2000. 29(1): 41-3.
23. Fuller LC, Child FJ, Midgley G, Higgins EM. Diagnosis and management of scalp
ringworm. BMJ2003;326:539-41.
24. Weitzman I, Summerbell RC. The dermatophytes. Clinical microbiology reviews. Clin
Microbiol Rev1995;8:240.