Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anatomi tumbuhan, sebagai suatu disiplin ilmu yang terinci, merupakan salah
satu bagian botani yang tertua. Ilmu ini diawali oleh Nahemiah Grew dan
Marcello Malpighi di tahun 1671. Keuntungan disiplin ilmu yang tua ini adalah
banyaknya aspek dasar anatomi yang telah ditemukan, ditafsirkan, serta
diterangkan. Dengan demikian, para peneliti dapat memusatkan diri pada rincian
yang lebih mendalam serta penerapannya, dengan bertumpu pada landasan ilmu
yang telah dibangun melalui penelitian anatomi selama tiga abad. Sebagaimana
telah dilaksanakan sejak dahulu, salah satu sasaran anatomi adalah untuk
memahami fungsi struktur. Selain itu, disaat ini evolusi yang didasarkan seleksi
alam misalnya, telah diterima sebagai cara utama untuk memahami tumbuhan.
Kita mencoba memahami dampak suatu struktur khusus dan kemudian
membuat penilaian untuk mengetahui apakah struktur seperti itu secara selektif
menguntungkan. Sebagai pedoman diakui bahwa tumbuhan (termasuk
anatominya) mengalami evolusi dan berubah sejalan dengan waktu. Dianggap
pula bahwa tidak ada yang menyesuaikan diri dengan sempurna dalam semua
segi struktur. Lingkungan hidup tumbuhan berubah ketika iklim menjadi dingin
atau panas, sewaktu-waktu deretan gunung timbul atau hilang terkena erosi,
sehingga anatomi yang tadinya sesuai bagi spesies tertentu menjadi tidak lagi
sesuai secara optimum. Mungkin sekali-kali akan ditemukan macam-macam
struktur yang bertahap, diselingi sejumlah struktur peralihan. Selain itu, ada
kemungkinan masih ada bagian struktur yang tidak dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan tumbuhnya. Pendekatan dalam mempelajari anatomi dewasa
ini didasari seleksi alam. Kini, bidang fisiologi, biokimia, dan genetika, telah
cukup maju. Interaksi ketiga bidang ini dengan anatomi memungkinkan
penafsiran struktur anatomi yang lebih jelas. Sekarang dapat dipahami dengan
lebih baik struktur, fungsi, dan keuntungan sejumlah organ dan jaringan.
Anatomi tumbuhan mula-mula membahas fungsi tumbuhan yang dinamis,
disertai pemahaman mengenai jenis sel dan jaringan bila diperlukan. Fungsi setiap
struktur harus dianalisis tersendiri. Selain itu, pembahasan fungsi tak lepas dari
kajian perkembangan tumbuhan karena dalam perkembangan inistruktur yang
belum, sedang, dan selesai terdiferensiasi akan amat berbeda. Perbedaan tersebut
sering pula berkaitan denga fungsi.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi Akar
Akar merupakan bagian organ tumbuhan yang terdapat di dalam tanah. Akar
tumbuh dan berkembang di bawah permukaan tanah. Bentuk dan ukuran akar
sangat bervariasi, disesuaikan dengan fungsinya masing-masing. Berdasarkan
asalnya, akar dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu akar primer dan akar adventif. Akar
primer adalah akar yang berasal dari calon akar (radikula) pada embrio. Akar
primer akan membentuk akar tunggang yang mampu mengadakan pertumbuhan
sekunder dengan percabangannya, sedang akar adventif tidak mengadakan
pertumbuhan sekunder.
Jaringan penyusun akar adalah: epidermis merupakan lapisan terluar, korteks
dan silinder pusat. Jangan penyusun akar tumbuhan yang mengadakan
pertumbuhan sekunder berbeda dengan akar yang tidak mengadakan
pertumbuhan sekunder. Akar yang mengadakan pertumbuhan sekunder karena
aktifitas kambium, menyebabkan terbentuknya jaringan-jaringan sekunder
sehingga terjadi perubahan struktur di bagian stele.
Berdasarkan irisan memanjang dari ujung akar, maka ada 4 daerah
pertumbuhan pada ujung akar, yaitu:
1. Tudung akar
2. Daerah pembelahan sel
3. Daerah pembentangan
4. Daerah diferensiasi atau pemasakan sel daerah pertumbuhan ini strukturnya
bervariasi tergantung jenis tumbuhan dan lingkungannya yaitu tanah dan
iklim.
Anatomi dan Morfologi Akar 3 Daerah ini tersusun oleh jaringan-jaringan
epidermis, korteks dan stele.
Gambar 1. Bagian-bagian akar
1. Tudung akar
Tudung akar terdapat pada ujung akar, berfungsi melindungi meristem
akar dari keruakan dan membantu penetrasi akar ke dalam tanah. Sel-sel
tudung akar sering berisi amilum. Sel-sel ini tidak mempunyai susunan yang
khusus atau tersusun dalam deret random. Sel tersebut adalah kolumela.
Tudung akar mengatur geotropi akar.
2. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar akar, sel-selnya tersusun rapat tanpa
ruang antar sel. Pada kebanyakan akar, epidermis berdinding tipis. Rambut-
rambut akar berkembang dan sel-sel epidermis yang khusus, dan sel tesebut
mempunyai ukuran yang berbeda dengan sel epidermis, dinamakan trikoblas.
Trikoblas sendiri berasal dari pembelahan protoderm. Epidermis akar yang
berfungsi untuk penyerapan serta bulu-bulu akar mempunyai kutikula yang
tipis.
3. Korteks
Pada kebanyakan akar korteks terdiri atas sel-sel parenkimatis. Selama
perkembangannya, ukuran sel-sel korteksn yang mengalami diferensiasi
bertambah, sebelum terjadi vakuolisasi dalam sel tersebut. Pada beberapa
akar beberapa tumbuhan air, sel-sel korteks tersusun teratur. Banyak dijumpai
ruang-ruang udara, dan parenkim ini disebut aerenkim. Sel-sel korteks sering
mengandung tepung, kadang-kadang kristal. Dibawah epidermis sering
terdapat selapis/dua lapis sel berdinding tebal disebut hipodermis atau
eksodermis.
4. Endodermis
Lapisan terdalam dari korteks akar terdiferensiasi menjadi endodermis.
Endodermis terdiri dan selapis sel. Pada sel endodermis yang muda dijumpai
adanya penebalan dinding suberin yang berbentuk pita, mengelilingi dinding
sel, disebut pita Caspary. Pada akar yang tidak mengalami pertumbuhan
menebal sekunder, lamela suberin biasanya terbentuk di seluruh dinding
bagian dalam sel endodermis. Penebalan selulosa sering terjadi. Penebalan
lignin terjadi pada dinding tangensial dan radial bagian dalam. Penbebalan
dinding biasanya dimulai dari bagian sel yang berdekatan dengan floem.
Penebalan dinding endodermis ini mula-mula sebagai titik disebut titik
Caspary, kemudian menjadi bentuk pita akhimya berbentuk seperti huruf U.

Gambar 2. Irisan melintang akar muda


5. Stele
Stele (silinder berkas pengangkut). Bagian ini dipisahkan dari koteks oleh
endodermis. Lapisan terluar yang berbatasan dengan korteks adalah perisikel.
Perisikel berfungsi untuk menghasilkan primordia akar lateral, dan sebagian
dan kambium pembuluh (yang menghasilkan floem dan xilem sekunder). Sel-
sel perisikel seperti halnya meristem apikal, bersifat diploid. Pensikel kadang-
kadang terdiri lebih dari satu lapis sel, berdinding tebal. Sistem pembuluh
akar terdiri atas unsur trakeal yang berlignin, dan diselingi oleh floem yang
berdinding tipis tersusun radial, di bagian tengah terdapat empulur yang
terdiri atas sel-sel parenkimatis atau sklerenkimatis, seperti pada akar
kebanyakan tumbuhan monokotil. Akar mungkin mempunyai jari-
jari xilem satu sampai banyak. Berdasarkan jari-jari ini maka akar dinamakan
bersifat: 1. monoarkh apabila mempunyai 1 jari-jari xilem; 2. diarkh, apabila
mempunyai dua jari-jari xilem; 3. Triarkh apabila mempunyai 3 kani-jani
xilem. Apabila akar mempunyai lebih dari enam jari-jari xilem maka disebut
poliarkh. Xilem pada akar dapat terdapat dibagian luar atau mengumpul di
bagian tengah, membentuk bangunan seperti bintang pada irisan melintang.
Kalau xilem terdapat di bagian luar maka bagian tengah terdapat empulur.
a. Struktur Akar Monokotil
Akar tumbuhan monokotil tidak mengalami pertumbuhan menebal
sekunder. Strukturnya seperti akar primer. Pada Allium, korteks tersusun oleh
sel-sel parenkim yang besar dan rapat tanpa ruang udara. Pada akar tumbuhan
air, seperti pada (Oryza sativa) banyak ruang-ruang udara. Parenkim tidak
kerkloroplas. Pada akar udara suku Orchidaceae tropik dan suku Araceae
yang hidup epifit, dan beberapa monokotil yang terestrial, apidermis
berkembang menjadi jaringan yang multiseriat berlapis-lapis, dan disebut
velamen. Velamen bersifat mati, dinding sekunder tebal, berfungsi sebagai
pelindung, mengurangi hilangnya air dan korteks. Penebalan dinding
velamen kadang-kadang berserabut. Disebelah dalam velamen terdapat
lapisan sel yang khusus, merupakan derivat periblem, dan lapisan ini
merupakan lapisan terluar korteks, disebut eksodermis.
Pada Zea mays, lapisan hipodermis berdinding tebal, berfungsi sebagai
penguat. Xilem terletak disebelah luar dan dibagian tengah terdapat empulur.

Gambar 3. Struktur anatomi akar monokotil


b. Struktur Akar Dikotil
Pada pertumbuhan primer struktur akar dikotil mempunyai persamaan
dengan akar monokotil. Tumbuhan dikotil yang berbentuk perdu tidak
mengalami pertumbuhan menebal sekunder.
Pertumbuhan sekunder pada akar disebabkan oleh aktifitas kambium
pembuluh (vaskuler). Kambium pembuluh berasal dari sel-sel parenkim yang
berada disebelah dalam berkas floem. Begitu kambium terbentuk, sel-sel
perisikel juga mengalami pembelahan. Kedua kelompok sel ini kemudian
membentuk kambium yang lengkap. Kambium membelah menghasilkan
xilem sekunder membungkus xilem primer. Pada saat yang bersamaan floem
sekunder juga terbentuk. Setelah itu terbentuk kambium gabus di bagian
korteks dan perisikel. Jaringan gabus terus tumbuh ke arah luar, sehingga
jaringan lama akan terkelupas. Perisikel juga berperan dalam pembentukan
jaringan gabus setelah kambium abus primer selesai membentang.

Gambar 4. Struktur anatomi akar dikotil


B. Anatomi Batang
Batang adalah organ penghubung akar dan daun. Batang berfungsi untuk
menegakan tubuh tumbuhan. Batang mempunyai ciri-ciri yang membedakannya
dengan akar. Pada batang, terdapat buku dan ruas. Buku merupakan tempat
merekatnya daun, sedangkan ruas merupakan bagian batang di antara dua ruas.
Struktur anatomi batang mirip dengan akar, yaitu terdiri dari :
1. Epidermis : jaringan epidermis batang umumnya terdiri atas selapis sel,
tersusun rapat tanpa ruang atarsel, dan mempunyai kutikula.
2. Korteks : tersusun atas sel-sel parenkim berdinding tipis. Letak sel-sel
parenkim tidak teratur dan mempunyai banyak ruang antar sel. Selain itu,
didalam korteks terdapat kolenkim dan sklerenkim yang berfungsi untuk
menyokong dan memperkuat batang. Pada batang muda mempunyai
kolenkim sebagai penyokong dan terdapat klorofil untuk fotosintesis. Pada
batang tua, kolenkim akan berganti dengan sklerenkim dan tidak ada lagi
klorofil.
3. Endodermis : tidak pada akar, lapisan endodermis batang tidak begitu jelas
dan menyatu dengan korteks.
4. Silinder pusat (stele) : terletak disebelah dalam korteks. Di dalam stele
terdapat sel-sel parenkim dan berkas pengangkut (xilem dan floem). Pada
batang dikotil, berkas pengangkut letaknya beraturan membentuk lingkaran.
Di antara xilem dan floem, terdapat kambium. Pembelahan kambium kearah
luar membentuk floem sekunder dan kearah dalam membentuk xilem
sekunder. Karena kativitas kambium inilah, batang dikotil dapat bertambah
besar. Pada batang monokotil, berkas pembuluh menyebar tidak teratur dan
tidak mempunyai kambium. Karena tidak memiliki kambium, batang
monokotil tidak dapat bertambah besar.
a. Struktur batang tumbuhan dikotil
1. Batang dikotil berkayu
Kebanyakan tumbuhan dikotil berbentuk potion, misalnya batang Salix,
Prunus, Quercus. Jaringan pembuluh merupakan suatu lingkaran tertutup.
Xilem primer merupakan bagian yang sempit di sekitar empulur, dan dapat
dibedakan dari xilem sekunder. Xilem sekunder tampak lebih padat dan
daerahnya lebih luas dari pada xilem primer, tersusun oleh trakea, trakeida,
serat, dan parenkim xilem yang tersusun paretrakheal. Jari-jari ada yang
sempit dan ada yang luas. Floem sekunder menunjukkan susunan yang
khas, karena adanya dilatasi dan jari-jari dan adanya serat yang letaknya
bergantian dengan lapisan yang mengandung buluh tapisan, sel pengiring,
dan sel-sel parenkim.
Gambar 5. Struktur anatomi batang herba dengan penebalan sekunder
Jaringan korteks tetap ada, dan mudah dibedakan dari floem primer
karena floem mengandung serat dibagian perifer (serat floem primer). Di
bagian yang agak dalam dijumpai serat floem sekunder. Empulur terdiri
dari sel-sel parenkimatis, mengandung sel-sel lendir atau ruang lendir.
Bagian terluar empulur merupakan jaringan penimbun.
2. Batang dikotil herba
Tumbuhan dikotil yang berbentuk herba mempunyai pertumbuhan
sekunder dan strukturnya seperti tumbuhan berkayu, misalnya batang
Hibiscus cannabmus (Malvaceae). Pada awal pertumbuhan sekunder,
lapisan epidermis tetap ada. Periderm dengan Iwentisel muncul pada
epidermis. Satu atau dua lapisan korteks yang terdapat di bawah epidermis
mengandung kloroplas.
Floem primer menghasilkan serat dan letaknya berdekatan dengan
korteks. Serat juga berkembang di daerah floem sekunder. Kambium
pembuluh memisahkan floem dan xilem sekunder, dan membentuk
silinder yang kompak. Jari-jari parenkim sekunder mula-mula uniseriat,
kemudian terjadi pula jari-jari yang bersifat multiseriat. Beberapa jari-
jarimengalami dilatasi di bagian floem luar, bersama dengan penuaan
batang. Empulur yang parenkimatis mengandung sel-sel lendir. Tepung
dan kristal juga ditemukan pada empulur, korteks, jari-jari dan parenkim
aksial. Selain mempunyai tipe kolateral terbuka, pada dikotil herba berkas
pengangkut dapat bertipe bikolateral (misalnya pada Solanaceae).

Gambar 6. Perbandingan batang monokotil dengan korteks (A) dan tanpa


korteks (B)
b. Struktur batang monokotil
Batang monokotil tersusun oleh epidermis, korteks dan stele. Epidermis
dilengkapi dengan stomata dan trikomata. Korteks seperti halnya pada batang
dikotil terdiri atas sel-sel parenkim yang kadang berkloroplas. Bagian terluar
korteks biasanya terdiri atas sel-sel berdinding tebal disebut hipodennis,
misalnya pada batang jagung (Zea mays). Batas korteks dan stele dapat nyata
atau tidak nyata. Pada tumbuhan Gramineae/Cyperaceae batas korteks dan
stele tidak nyata karena stele berisi berkas pengangkut yang letaknya tersebar.
Tipe berkas pengangkut kolateral tertutup atau konsentris amfivasal bagi
tanaman monokotil berkambium (anggota ordo Liliales). Setiap berkas
pengangkut diselubungi oleh sarung berkas pengangkut yang dindingnya
tebal yaitu sklerenkim. Pada monokotil yang berkambium batangnya dapat
mengalami pertumbuhan menebal sekunder.
c. Struktur batang Gymnospermae
Pinus merupakan salah satu contoh batang tumbuhan Gymnospemiae
(Comferales). Pinus batangnya berkayu, mempunyai kambium fasikuler dan
interfasikuler pada pertumbuhan primer. Kambium pembuluh fasikuler dan
interfasikuler membentuk silinder xilem sekunder dan floem sekunder. Xilem
pada Conifer hanya terdiri dari trakeid dan xilem primer dan ikatan pembuluh
yang terapat pada awal perkembangan mungkin masih terlihat dekat empulur,
tetapi floem primer menghilang. Apabila floem primer yang rusak masih ada,
maka dapat ditemukan batas antara floem dan korteks. Jika tidak, maka batas
antara floem dan korteks sukar ditentukan karena floem primer tidak
membentuk serat. Korteks mengandung saluran resin. Periderm pertama
muncul di bawah lapisan epidermis.
C. Anatomi Daun
Umumnya daun berwarna hijau, berbentuk lebar dan pipih. Bagian yang tipis
melebar disebut lembaran daun. Lembaran daun dapat berbentuk bulat, panjang,
dan lancip. Pada lembaran daun terdapat tulang-tulang daun. Tulang daun pada
tumbuhan monokotil berbentuk melengkung sejajar sedangkan tulang daun pada
tumbuhan dikotil berbentuk menyirip dan menjari.
Berdasarkan susunannya daun dibedakan atas :
a. Daun tunggal : apabila pada satu tanggai daun terdapat satu helai daun.
b. Daun majemuk : apabila pada satu tanggai terdapat beberapa helai daun
Struktur anatomi daun terdiri atas :
a. Epidermis
Jaringan epidermia merupakan jaringan yang terdiri dari berbagai bentuk
sel, diantaranya bentuk kubus/prisma, tidak teratur dari permukaan,
merupakan segi banyak, ada yang dindingnya berkelok-kelok tidak teratur,
serta bentuk memanjang pada tanaman Monokotil.
Berikut ini adalah karakteristik dari jaringan epidermis yang terdapat
dalam daun :
1. Jaringan paling luar pada setiap organ tumbuhan
2. Umumnya terdiri atas satu lapis sel yang irreguler
3. Sebagian besar terdiri dari vakuola yang berisi cairan
4. Pada beberapa tumbuhan spermatophyta, cairan ini berisi zat warna
antosianin
5. Tidak mengandung kloroplas kecuali pada sel penutup stomata
6. Tumbuhan yang hidup di daerah kering dan terkena matahari secara
intensif, epidermis dapat tersusun dari beberapa lapis sel, 2-16 lapis sel
(Ficus, Piper)
7. Epidermis adaksial sering ditutup kutikula, tersusun dari zat kutin,
berfungsi untuk mencegah penguapan air dan gangguan mekanik lain
8. Epidermis abaksial dinding sel lebih tipis dan lapisan kutikula lebih sedikit
Sebagai jaringan terluar dari daun, epidermis memiliki peranan cukup
penting. Beberapa fungsi epidermis fungsinya adalah :
1. Sebagai pelindung terhadap hilangnya air karena adanya penguapan
2. Sebagai pelindung terhadap kerusakan mekanik
3. Sebagai pelindung terhadap perubahan suhu
4. Sebagai pelindung terhadap hilangnya zat-zat makanan
Pada jaringan epidermis daun terdapat alat-alat tambahan yang disebut
pula sebagai derivat epidermis, antara lain :
a. Stomata
Stomata merupakan celah pada epidermis yang berwarna hijau. Alat
tambahan ini terutama terdapat pada helaian daun permukaan bawah. Pada
tumbuhan air, misalnya. Nymphaea, stomata hanya dijumpai pada
permukaan adaksial. Stomata dibatasi oleh dua sel penutup yg bentuknya
berlainan dg sel epidermis sekitar, yakni bentuk ginjal dan bentuk halter.
Bentuk ginjal terdapat pada dicotyledoneae, sedang bentuk halter terdapat
pada familia Poaceae
Bagian-bagian dari stomata adalah sebagai berikut :
1. Stoma atau apertura (celah)
2. Sel penutup yang terdiri atas 2 sel (sepasang) yang mengandung
kloroplas
3. Sel tetangga yang jumlahnya 2 atau lebih
Gambar 7. Struktur penampang melintang stomata
Tipe stomata ditentukan berdasarkan struktur , jumlah dan letak sel-sel
tetangga, yaitu :
1. Tipe anomositik (Ranunculaceae)
Jumlah sel tetangga 3 atau lebih, satu sama lain sukar dibedakan.
Bentuk sel tetangga sama dengan sel epidermis sekitar, sehingga ada
yang mengatakan tidak punya sel tetangga
2. Tipe anisositik (Solanaceae)
Jumlah sel tetangga 3 atau lebih, satu sel jelas lebih kecil dari sel lain
3. Tipe diasitik (Caryophyllaceae)
Jumlah sel tetangga 2, bidang persekutuannya menyilang celah stomata
4. Tipe parasitik (Rubiaceae)
Jumlah sel tetangga 2, bidang persekutuannya segaris celah stomata
5. Tipe aktinositik
Merupakan variasi tipe anomositik yg ditandai dg sel tetangga yang
pipih dan mengelilingi stomata dlm susunan berbentuk lingkaran
6. Tipe bidiasitik (Labiatae)
Jika sel penutup dilapisi dua lapis sel tetangga, bidang persekutuannya
menyilang celah stomata

Gambar 8. Tipe-tipe stomata


b. Trikoma (Rambut Epidermis)
Trikoma merupakan onjolan atau apendiks dari epidermis dengan bentuk,
struktur dan fungsi yang bermacam-macam. Fungsinya antara lain sebagai
proteksi, penguat, sebagai kelenjar, dan lain-lain. Alat tambahan ini terdapat
pada epidermis abaksial maupun adaksial. Trikoma memiliki struktur
uniseluler, ataupun multiseluler . Bentuknya bermacam-macam, misalnya
bentuk bintang (pada Malvaceae, Sterculiaceae), lurus sampai bercabang.
Trikoma kadang terdiri dari sel hidup dan mempunyai glandula, rambut
penggatal yang terdiri dari sel yang panjang, uniseluler dan mengandung zat
kimia tertentu. Jika tersentuh, ujung rambut putus dan melepaskan cairan
yang menyebabkan gatal.
Beberapa jenis trikoma adalah sebagai berikut :
1) Trikoma non glanduler (rambut penutup) adalah trikoma yang tidak
bersekresi.
2) Trikoma glanduler (rambut kelenjar) adalah trikoma yang bersekresi.
Trikoma glanduler terdiri dari Tipe Compositae (Asteraceae) (terdiri dari
satu deret sel tangkai dan dua baris sel kelenjar) dan Tipe Labiatae
(Lamiaceae) (terdiri dari 1 sel pangkal, 1 atau beberapa sel tangkai, sebaris
mendatar sel kelenjar sebanyak 4, 8, 12 sel atau lebih.

Gambar 9. Trikoma dan Jenis-jenisnya


c. Sel Kipas
Sel kipas merupakan derivat epidermis yang terdapat pada daun
Gramineae dan Monokotil lain. Selnya lebih besar daripada sel epidermis
biasa, dinding tipis dan vakuola besar. Pada penampang melintang tampak
seperti kipas dengan sel terbesar di bagian tengah. Sel ini berisi banyak air
dan tidak berisi kloroplas. Dinding selnya terdiri dari selulosa dan pektin.
Sedangkan dinding luar terdiri dari kutin dan ditutupi kutikula. Fungsi sel
kipas adalah untuk menyimpan air. Pada saat terjadi penguapan, sel kipas
akan mengempis dan menyebabkan daun menggulung untuk mengurangi
penguapan.
Gambar 10. Struktur sel kipas pada epidermis

d. Mesofil
Mesofil terletak di antara epidermis atas dan bawah. Pada tumbuhan
dikotil, mesofil berdiferensiasi menjadi jaringan tiang (palisade) dan bunga
karang (spon), sedangkan pada tumbuhan monokotil, mesofil tidak
berdeferensiasi dan bentuknya seragam, sehingga tidak dapat dibedakan
antara jaringan palisade atau jaringan spon.
Ciri dari jaringan palisade, antara lain :
1) Terdiri dari satu atau beberapa lapis sel yang panjang
2) Tersusun rapat (ruang antar sel sedikit)
3) Mengandung banyak kloroplaS
4) Biasanya terdapat pada sisi adaksial, namun pada xerofit terdapat pada
kedua sisi daun

Gambar 11. Struktur jaringan mesofil pada tumbuhan dikotil


Sedangkan ciri jaringan sponsa, antara lain :
1) Sel-sel irreguler
2) Tersusun agak renggang (banyak ruang antar sel)
3) Ruang ini langsung berhubungan dengan stomata
4) Stomata dan ruang antar sel berperan untuk mensuplai gas CO2 untuk
keperluan fotosintesis
5) Mengandung kloroplas, tetapi lebih sedikit dibanding sel-sel palisade
6) Karena mengandung kloroplas, maka sering disebut klorenkim
7) Perbedaan struktur mesofil bergantung pada spesies dan lingkungan
tempat tumbuh
8) Tumbuhan yang mendapat banyak sinar matahari, jaringan mesofil
lebih kompak, palisade terdiri dari 2 – 3 lapis sel
9) Tumbuhan yang kurang sinar matahari, palisade sebagian besar
digantikan oleh jaringan sponsa
10) Pada tumbuhan dari kelas monokotil, tidak ada perbedaan yang tegas
antara palisade dengan sponsa

Gambar 12. Struktur jaringan mesofil pada tumbuhan monokotil


e. Berkas pengangkut
Berkas pengangkut terdapat diantara jaringan bunga karang. Berkas
pengangkut pada daun membentuk tulang daun. Fungsi tulang daun adalah
untuk mengangkut air, garam dan mineral dari tanah dan mengedarkan hasil
fotosintesis keseluruh tubuh tumbuhan.
Tulang daun (vena) terdapat pada wilayah jaringan sponsa, tetapi ibu
tulang daun (costa) membentang menempati wilayah palisade sampai sponsa.
Tulang daun menjalar ke berbagai arah, maka pada sayatan melintang daun
vena akan tampak terpotong melintang ataupun membujur.
Namun pada daun dengan arah tulang daun yang sejajar (misal pada
monokotil), maka pada sayatan melintang vena hanya terpotong melintang
saja.
Tulang daun terdiri dari :
Selaput sklerenkim
- menutup sebagian atau seluruh berkas pembuluh
- berfungsi sebagai penguat
- biasanya hanya terdapat pada costa (jarang pada vena)
- pada vena, selaput ini terdiri dari sel-sel parenkim
(seludang berkas/bordered parenchym)
Floem
Xilem
Xilem biasanya lebih ke arah adaksial dan floem ke arah
Abaksial

D. Anatomi Bunga
Bunga merupakan alat reproduksi seksual. Bunga dikatakan lengkap apabila
mempunyai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik atau daun buah.
Bunga terdiri atas bagian fertil, yaitu benang sari dan daun buah, serta bagian
yang steril yaitu daun kelopak dan daun mahkota.