Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

PENGKAJIAN PADA SISTEM IMUN


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal
Bedah II

Disusun Oleh:
Kelas : 3A
Kelompok 11
Asti Lestari Oktavian (NPM.34403515015)
Mawar Suci Agustina (NPM.34403515074)
Mega Rachmawati (NPM.34403515076)

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR
BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD)
Jl. Pasir Gede Raya No.19 Tlp. (0263) 267206 Fax. 270953 Cianjur 43216
2017
ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha
Kuasa, shalawat dan salam semoga tercurahkan ke Nabi besar kita, Nabi
Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat-Nya. Amin..Alhamdulillah
atas rahmat Allah S.W.T kami telah menyelesaikan penyusunan makalah dengan
Judul Pengkajian Pada Sistem Imun.
Kami sadar betul makalah yang kami buat ini sangat jauh dari kata
sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan masukan-masukan mengenai
makalah yang kami susun ini agar kami bisa lebih baik lagi di masa yang akan
datang. Kami akan sangat menerima dengan lapang dada segala kritik dan saran
mengenai makalah yang kami susun ini. Dengan segala kerendahan hati kami
ucapkan terima kasih.

Cianjur, Oktober 2017

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
C. Tujuan .................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Sistem Imunitas ...................................................................... 3
B. Factor yang Mempengaruh Sistem Imunitas........................................ 4
C. Anatomi dan Fisiologis Sistem Imunitas ............................................. 5
D. Tipe – tipe Imunitas ............................................................................. 7
E. Pengkajian Sistem Imunitas.................................................................. 9
F. Penatalaksanaan Medis Sistem Imunitas.............................................. 16

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .......................................................................................... 17
B. Saran..................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 18
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem kekebalan (bahasa Inggris: immune system) adalah sistem
pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul
asing atau serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit.
Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan
molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan sel yang
teraberasi menjadi tumor.
Sistem kekebalan tubuh sangat mendasar peranannya bagi kesehatan,
tentunya harus disertai dengan pola makan sehat, berolahraga, dan terhindar
dari masuknya senyawa beracun ke dalam tubuh. Sekali senyawa beracun
hadir dalam tubuh, maka harus segera dikeluarkan. Kondisi sistem kekebalan
tubuh menentukan kualitas hidup. Ada orang yang mudah sakit, ada pula
orang yang jarang sakit, ini ada kaitannya dengan sistem pertahanan tubuh
seseorang tersebut. Dalam tubuh yang sehat terdapat sistem kekebalan tubuh
yang kuat sehingga daya tahan tubuh kebal terhadap penyakit. Pada bayi yang
baru lahir, pembentukan sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna dan
masih memerlukan ASI yang membawa sistem kekebalan tubuh sang ibu
untuk membantu daya tahan tubuh bayi. Semakin dewasa, sistem kekebalan
tubuh terbentuk sempurna. Namun, pada orang lanjut usia, sistem kekebalan
tubuhnya secara alami menurun. Itulah sebabnya timbul penyakit degeneratif
atau penyakit penuaan.
Pola hidup modern menuntut segala sesuatu dilakukan serba cepat dan
instan. Hal ini berdampak juga pada pola makan. Misalnya sarapan di dalam
kendaraan, makan siang serba tergesa, belum lagi kualitas makanan yang
dikonsumsi, polusi udara, kurang berolahraga, dan stres. Apabila terus
berlanjut, daya tahan tubuh akan menurun, lesu, cepat lelah, dan mudah
terserang penyakit. Karena itu, banyak orang yang masih muda mengidap
penyakit degeneratif. Kondisi stres dan pola hidup modern sarat polusi, diet
tidak seimbang, dan kelelahan menurunkan daya tahan tubuh sehingga
memerlukan kecukupan antibodi. Gejala menurunnya daya tahan tubuh sering
kali terabaikan sehingga timbul berbagai penyakit infeksi, dan penuaan dini
pada usia produktif.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan imunitas?
2. Factor apa saja yang mempengaruhi system imunitas?
3. Bagaimana anatomi dan fisioligis system imunitas?
4. Apa saja tipe system imunitas?
5. Bagaimana pengkajian system imunitas?
6. Bagaimana penatalaksanan medis system imunitas?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian sistem imunitas
2. Untuk mengetahui actor apa saja yang mempengaruhi system imunitas?
3. Untuk mengetahui anatomi dan fisioligis system imunitas
4. Untuk mengetahui apa saja tipe system imunitas
5. Untuk memahami pengkajian system imunitas
6. Untuk memahami penatalaksanan medis system imunitas
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Imunitas
Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme
yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan
mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini
mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan
melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai parasit, serta
menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel
organisme yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi normal. Deteksi
sistem ini sulit karena adaptasi patogen dan memiliki cara baru agar dapat
menginfeksi organisme.
Sistem imunologi terdiri dari sel darah khusus (limfosit dan monosit)
dan struktur khusus, termasuk diantaranya nodus limfe, spleen, thymus, bone
marrow, tonsil, tonsil, adenoid, dan appendiks.
Darah merupakan bagian terpenting dari sistem proteksi ini. Meskipun
darah dan sistem imun memiliki perbedaan, keduanya pada dasarnya saling
berhubungan karena sel – selnya memiliki asalnya yang sama, yaitu sumsum
tulang belakang. Selain itu sistem imun menggunakan aliran darah untuk
mentransport komponen sistem imun ke tempat invasinya.

Darah yang mengandung darah merah, darah putih, limfosit, monosit, neutrofil,
dan keping darah.
Imunitas mengarah pada kemampuan tubuh untuk melawan invasi
organisme dan toksin, sekaligus mencegah kerusakan jaringan dan organ.
Untuk melaksanakan fungsi ini secara efisien, sistem imun menggunakan 3
(tiga) strategi dasar, yaitu:
1. barier fisik dan kimiawi terhadap infeksi
2. respon peradangan
3. respon kekebalan
Barier fisik, seperti kulit dan membran mukosa mencegah invasi
hampir semua organisme ke dalam tubuh. Organisme yang melakukan
penetrasi pada barier yang pertama akan mencetuskan respon peradangan dan
kekebalan. Kedua respon meliputi sel – sel (semua variasi dari sel primitif
dalam sumsum tulang belakang).

B. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Sisitem Imunitas Tubuh


1. Genetik
Kerentanan seseorang terhadap penyakit ditentukan oleh gen
hla/mhc. Genetis sangat berpengaruh terhadap system imun, hal ini dapat
dibuktikandangan suatu penelitian yang dibuktikan bahwa pasangan anak
kembar homozigot lebihrentan terhadap suatu allergen dibandingkan
dengan pasangan anak kembar yangheterozigot. Hal ini membuktikan
bahwa factor hereditas mempengaruhi system imun
2. Umur
Hipofungsi sistim imun pd bayi mudah infeksi, pada orang tua
autoimun & kanker. Usia juga mempengaruhi system imun, pada saat usia
balita dan anak-anak systemimun belum matang di usia muda dan system
imun akan menjadi matang di usia dewasadan akan menurun kembali saat
usia lanjut
3. Metabolik: Penderita penyakit metabolik/ pengobatan
4. Stres
Stres dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh karena melepas
hormonseperti neuro-endokrin, glukokortikoid dan katekolamin. Stres
bahkan bisa berdampak buruk pada produksi antibodi
5. Lingkungan dan nutrisi : mudah infeksi karena:
 Eksposur
 Berkurang daya tahan karena malnutrisi
6. Anatomis: pertahanan terhadap invasi m.o : kulit, mukosa
7. Hormone
Pada saat sebelum masa reproduksi, system imun lelaki dan
perempuan adalahsama, tetapi ketika sudah memasuki masa reproduksi,
system imun antara keduanyasangatlah berbeda. Hal ini disebabkan mulai
adanya beberapa hormone yangmuncul.Pada wanita telah diproduksi
hormone estrogen yang mempengaruhi sintesis IgGdan IgA menjadi lebih
banyak (meningkat). Dan peningkatan produksi IgG dan IgAmenyebabkan
wanita lebih kebal terhadap infeksi. Sedangkan pada pria telah
diproduksihormone androgen yang bersifat imunosupresan sehingga
memperkecil resiko penyakitautoimun tetapi tidak membuat lebih kebal
terhadap infeksi.Oleh karenanya, wanita lebih banyak terserang penyakit
autoimun dan pria lebih sering terinfeksi.
8. Olahraga berlebihan
Olahraga berlebihan bisa membakar lebih banyak oksigen dalam
tubuh.Pembakaran yang berlebihan menghasilkan radikal bebas yang
menyerang sel sistem kekebalan tubuh dan menurunkan jumlahnya.
9. Tidur
Studi yang dilakukan oleh Michael Irwin dari Universitas
Californiamenunjukkan bahwa kurang tidur menyebabkan perubahan
dalam jaringan sitokin
10. Fisiologis
 cairan lambung
 aliran urin
 sekresi kulit bersifat bakterisid
 enzim
 antibody
C. Anatomi Dan Fisiologi
Sistem imunitas (pertahanan tubuh) adalah sistem yang berperan
penting dalam menjaga kesehatan tubuh kita. Sistem imunitas manusia terdiri
atas organ limfatik primer (sumsum tulang merah, kalenjar timus) dan organ
limfatik sekunder (limpa, nodus limfa, tonsil). Didalam tubuh, sistem tersebut
dapat mengenali dan membedakan antara materi asing yang berasal dari luar
tubuh (debu, virus dan mikroba) dengan materi dari dalam tubuh. Mekanisme
pertahanan tubuh manusia dibedakan atas respons non-spesifik dan respons
spesifik.
Respons non-spesifik meliputi pertahanan fisik dan kimia terhadap
agen infeksi dan tidak dipengaruhi oleh infeksi sebelumnya. Artinya, respons
tersebut tidak memiliki memori terhadap infeksi sebelumnya. Mekanisme
pertahanan tubuh non-spesifik ini merupakan lini pertama pertahanan umum
untuk mencegah masuknya dan meminimalisasi jalan masuk mikroba dan
antigen yang masuk kedalam tubuh manusia.
Jika pertahanan lapis pertama dan kedua tidak dapat membendung
serangan bakteri atau mikroba patogen, maka kehadiran patogen tersebut akan
memicu pertahanan lapis ketiga untuk aktif. Pertahanan itu melibatkan respons
spesifik oleh sistem imun terhadap infeksi khusus sehingga memperoleh
kekebalan (imunitas). Imunitas spesifik yang diperoleh seseorang biasanya
dapat bertahan lama, bahkan seumur hidup. Imunitas spesifik melibatkan dua
jenis limfosit. Kedua limfosit dibentuk di sumsum tulang dan setelah
dilepaskan di aliran darah limfosit lebih lanjut diproses untuk membuat dua
jenis sel yang secara fungsional berbeda. Sebagian limfosit yang telah dewasa
di dalam sumsum tulang berubah menjadi limfosti B atau disebut sel B.
Sebagian limfosit yang belum mencapai tahap dewasa akan meninggalkan
sumsum tulang menuju kalenjar timus dan berubah menjadi limfosit T atau sel
T.
D. Tipe Imunitas

Gambar 1. Sel pada sistem imunitas


Ada dua tipe umum imunitas, yaitu : alami (natural) dan di dapat
( akuisita). Setiap tipe imunitas meaninkan peranann yang berbeda dalam
mempertahankan tubuh terhadap para penyerang yang berbahaya, namun
berbagai komponen biasanya bekerja dengan cara yang saling tergantung yang
satu dengan yang lain.
a. Imunitas Alami
Imunitas alami merupakan kekebalan yang non-spesifik yang di
temukan pada saat lahir dan memberikan respon non-spesifik terhadap
setiap penyerang asing tampa memperhatikan kompossisi penyerang
tersebut. Dasar mekanisme pertahanan aalami semata-mata merupakan
kemampuan untuk membedakan antara sahabat dan musuh atau antara diri
sendiri dan bukan diri sendiri. Mekanisme alami semacam ini mencakup :
1. Sawar (barier) fisik
Mencakup kulit serta membrane mukosa yang utuh sehingga
mikroorganisme pathogen dapat di cegah agar tidak masuk ke dalam
tubuh, dan silia pada traktus respiratorius bersama respon batuk serta
bersin yang bekerja sebagai filter dan membersihkan saluran napas
atas dari mikroorganisme pathogen sebelum mikroorganisme tersebut
menginflasi tubuh lebih lajut.
2. Sawar (barier) kimia
Mencakup getah lambung yang asam, enzim dalam air mata
serta air liur (saliva) dan substansi dalam secret kelenjar sbasea serta
lakrimalis, bekerja dengan cara non-spesifik untuk menghancurkan
bakteri dan jamur yang menginvasi tubuh. Virus dihadapi dengan cara
interferon yaitu salah satu tipe pengubah (modifier) respon biologi
yang meruakan substansi non-spesifik yang secara alami yang
diproduksi oleh tubuh dan dapat mengaktifkan komponen lainya dari
sistem imun.
3. Sel darah putih (leukosit)
Leukosit granular atau granolosit mencakup neutrofil (leukosit
polimorfonuklear atau PMN karena nukleusnya terdiri atas beberapa
lobus) merupakan sel pertama yang tiba pada tempat terjadinya
inflamasi. Eosinofil dan basofil yaitu tipe leukosit .ain yang neningkat
jumlahnya pada saart terjadi reaksi alergi dan respon terhadap stress.
Granulosit akan memerangi serbuan benda asing atau toksin
dengan melepaskan mediator sel seperti histamine, brandikinin,
prostaglandin, dan akan menyerang benda asing atau toksin
tersebut. Leukosit non granuler mencakup monosit yang berfungsi
sebagai sel fagosit yang dapat menelan, mencerna, dan
menghancurkan benda asing atau toksin dalam jumlah yang lebih
besar dibandingkan granulosit dan limfosit yang terdiri atas sel T dan
sel B yang memainkan peranan utama dalam imunitas humoral dan
imunitas yang diantarai oleh sel.
4. Respon inflamasi
Merupakan fungsi utama dari sistem imun alami yang
dicetuskan sebagai reaksi terhadap cidera jaringan atau
mikroorganisme penyerang. Zat-zat mediator komia turut membantu
respon inflamasi untuk mengurangi kehilangan darah, mengisolasi
mokro organism penyerang, mengaktifkan sel-sel fagosit, dan
meningkatkan pembentukan jaringan parut fibrosa serta regenerasi
jaringan yang cedera.
b. Imunitas yang Didapat
Imunitas yang didapat (acquired imunity) terdiri atas respon imun
yang tidak di jumpai pada saat lahir tetapi diperoleh dalam kehidupan
seseorang. Imunitas didapat biasanya terjadi setelah seseorng terjangkit
penyakit atau mendapatkan imunisasi yang menghasilkan respon imun
yang bersifat protektif.
Ada dua tipe imunitas yang di dapat, yaitu aktif dan pasif. Pada
imunitas didapat yang aktif, pertahanan imunologi akan dibetuk oleh tubuh
orang yang dilindungi oleh imunitas tersebut dan umumnya berlangsung
selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup. Imunitas didapat yang pasif
merupakan imunitas temporer yang di transmisikan dari sumber lain yang
sudah memiliki kekebalan setelah menderita sakit atau menjalani
imunisasi.

E. Pengkajian
Pengkajian riwayat kesehatan difokuskan pada mendeteksi tanda dan
gejala yang paling umum dari gangguan sistem imun: perdarahan abnormal,
limfadenopati (hipertrofi jaringan limfoid, seringkali disebut pembengkakan
kelenjar), keletihan, kelemahan, demam dan nyeri sendi. Berfokus pada
masalah sistem imun, tetapi pertahankan pendekatan holistik dengan meminta
keterangan tentang sistem yang lain dan tentang kekhawatiran yang
berhubungan dengan kesehatan. Masalah sistem imun dapat desebabkan oleh
masalah sistem lain, atau dapat merusak aspek-aspek kehidupan klien.
Contoh pertanyaan pada pola sehat dan sakit membantu perawat
mengidentifikasi masalah kesehatan aktual atau potensial yang berhubungan
dengan imun. Pertanyaan pada kelompok pola peningkatan dan perlindungan
kesehatan membantu perawat menentukan bagaimana gaya hidup dan perilaku
klien dapat mempengaruhi sistem imun. Pertanyaan pada kelompok pola peran
dan hubungan membantu perawat menentukan bagaimana masalah imun
mempengaruhi gaya hidup dan hubungan klien dengan orang lain.
1. Riwayat kesehatan Sekarang
Keluhan umum yang dialami oleh pasien yang mengalami
gangguan imunologi termasuk diantaranya fatigue atau kekurangan energi,
kepala terasa ringan, sering mengalami memar, dan penyembuhan luka
yang lambat.
Ajukan pertanyaan untuk mendapatkan informasi yang lebih detail
tentang penyakit pasien, seperti :
a Apakah anda menyadari adanya pembesaran nodus limph?
b Apakah anda pernah mengalami kelemahan atau nyeri sendi? Jika iya,
Kapan anda pertama kali merasakan keluhan tersebut? Apakah hal itu
menimpa sebagain dari tubuh anda atau keduanya?
c Pernahkah dalam waktu dekat ini anda menderita rash, perdarahan
abnormal, atau slow healing sore?
d Pernahkah anda mengalami gangguan penglihatan, demam, atau
perubahan dalam pola eliminasi?Riwayat kesehatan dahulu
Eksplorasi penyakit utama yang pernah diderita oleh pasien,
penyakit ringan yang terjadi secara berulang, kecelakaan atau cedera,
tindakan operasi, dan alergi. Tanyakan jika ia pernah mengalami tindakan/
prosedur yang berdampak terhadap sistem imun, seperti transdusi darah
atau transplantasi organ
2. Riwayat Keluarga dan Sosial
Klarifikasi jika pasien memiliki riwayat kanker dalam keluarga
atau gangguan hematologi atau imun. Tanyakan tentang lingkungan
dimana ia bekerja dan tinggal utnuk membantu menentukan jika ia
terpapar oleh bahan kimia berbahaya atau lainnya.
3. Pemeriksaan fisik
Efek dari gangguan sistem imun biasanya sulit untuk diidentifikasi dan
dapat berdampak pada semua sistem tubuh. Berikan perhatian khusus pada
kulit, rambut, kuku, dan membran mukosa.
a. Inspeksi
1) Observasi terhadap pallor, cyanosis, dan jaundice. Juga cek adanya
erithema yang mengindikasi inflamasi lokal dan plethora.
2) Evaluasi integritas kulit. Catat tanda dan gejala inflamasi atau
infeksi, seperti kemerahan, pembengkakan, panas, tenderness,
penyembuhan luka yang lama, drainage luka, induration
(pengerasan jaringan) dan lesi.
3) Cek adanya rash dan catat distribusinya
4) Observasi tekstur dan distribusi rambut, catat adanya alopecia.
5) Inspeksi kuku terhadap warna, tekstur, longitudinal striations,
onycholysis, dan clubbing.
6) Inspeksi membran mukosa oral terhadap plak, lesi, oedem gusi,
kemerahan, dan perdarahan
7) Inspeksi area dimana pasien melaporkan pembengkakan kelenjar
atau ‘lump’ terutama abnormalitas warna dan pembesaran nodus
lymp yang visible
8) Observasi respirasi, ritme, dan energi yang dikeluarkan saat
melakukan upaya bernafas. Catat posisi pasien saat bernafas.
9) Kaji sirkulasi perifer. Inspeksi adanya Raynaud’s phenomenon
(vasospasme arteriol intermiten pada jari tangan atau kaki dan
terkadang telinga dan hidung)
10)Inpeksi inflamasi pada anus atau kerusakan permukaan mukosa
b. Palpasi
1) Palpasi nadi perifer, dimana seharusnya simetris dan reguler
2) Palpasi abdomen, identifikasi adanya pembesaran organ dan
tenderness
3) Palpasi joint, cek pembengkakan. Tenderness, dan nyeri
4) Palpasi nodus lymph superfisial di area kepala, leher, axilla,
epitrochlear, inguinal dan popliteal. Jika saat palpasi reveals
pembesaran nodus atau kelainan lain, catat lokasi, ukuran, bentuk,
permukaan, konsistensi, kesimetrisan, mobilitas, warna, tenderness,
suhu, pulsasi, dan vaskularisasi dari nodus.
c. Perkusi
Perkusi anterior, lateral, dan posterior dari thorax. Bandingkan
satu sisi dengan sisi lainnya. Bunyi dull mengindikasikan adanya
konsolidasi yang biasa terjadi pada pneumonia. Hiperesonan
(meningkatnya bunyi perkusi) dapat dihasilkan oleh udara yang
terjebak seperti pada asthma bronchial.
d. Auskultasi
1) Auskultasi diatas paru untuk mengecek suara tambahan yang
abnormal. Wheezing bisa ditimbulkan oleh asthma atau respon
alergi. Crackles disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan seperti
pneumonia.
2) Auskultasi bunyi jantung diatas precordium. Auskultasi normal
reveals hanya bunyi jantung 1 dan 2.
3) Auskultasi abdomen untuk bunyi bowel. Gangguan autoimmun
yang menyebabkan diare, bunyi bowel meningkat. Scleroderma
(pengerasan dan penebalan kuit dengan degenerasi jaringan
konektif) dan gangguan autoimmun lainnya yang menyebabkan
konstipasi, bunyi bowel menurun
4. Pemeriksaan Diagnostik
Untuk klien dengan tanda dan gejala gangguan imun, berbagai
pemeriksaan diagnostic dapat memberikan petunjuk mengenai
kemungkinan penyebab gangguan.
a. Aglutinin, Febrile/Cold
Nilai normal
 Febrile aglitinin : tidak ada penggumpalan pada titer ≤ 1:180
 Cold aglutinin : tidak ada penggumpalan pada titer ≤ 1:16
b. Acquired immunodeficiency syndrome AIDS serology (AIDS
screening, HIV antibody tes, western blot tes untuk HIV dan antibody,
ELISA untuk HIV dan antibody)
Tipe tes : darah yang didapat dari pungsi vena sebanyak 7 ml
Nilai normal : tidak ada HIV antigen atau antibodi
c. Anticardiolipin antibody (aCL, ACA)
Tipe tes : darah 5-7 ml dari pungsi vena
Nilai normal
 IgG anticardiolipin antibodi <23 g/L
 IgM anticardiolipin antibodi <11mg/L
d. Aldolase
Tipe tes : darah yang didapat ddari vena pungsi sebanyak 7 ml
Nilai normal
 Dewasa : 3.0 – 8.2 Sibley-Lehninger U/dl atau 22 – 59 mU
dalam suhu 370c (SI unit)
 Anak : sekitar 2 kali nilai dewasa
 Bayi : 4 kali nilai dewasa
e. Antimyocardial antibody (AMA)
Tipe tes : darah vena
Nilai normal : negative (jika positif, serum diencerkan)
f. Antinuclear antibody (ANA)
Tipe tes : darah vena pungsi 7 ml
Nilai normal : titer < 1:20
g. Complement assay
Tipe tes : darah vena pungsi 7 ml
Nilai normal
 Total komplemen 75 – 160 U/ml atau 75 – 160 U/L
(SI unit)
 C3 : 55 – 120 mg/dl atau 0.55 – 1.20 gr/L (SI
unit)
 C4 : 20 – 50 mg/dl atau 0.20 – 0.50 g/L (SI unit)
h. C-reactive protein (CRP)
Tipe tes : darah 7 ml dengan pungsi vena periver
Nilai normal : <0.8 mg/dl
i. Cryoglobulin
Tipe tes : darah pungsi vena perifer 10 ml
Nilai normal : tidak terdeteksi adanya cryoglobulin
j. Epstein-Barr virus titer (EBV)
Tipe tes : darah pungsi vena perifer 5-10 ml
Nilai normal
 Titer ≤ 1:10 non diagnostik
 Titer 1:10 – 1:60 indikasi infeksi saat undetermin
 Titer ≥ 1:320 menunjukan infeksi aktif
k. Erythrocyte sedimentation rate (ESR)
Tipe tes : darah pungsi vena perifer 5-10 ml
Nilai normal
Metode westergren
 Pria ≤ 15 mm/jam
 Perempuan ≤ 20 mm/jam
 Anak ≤ 10 mm/jam
 Bayi 0-2 mm/jam
l. Human lymphocyte antigen (HLA)
Tipe tes : darah vena sekitar 10 ml dalam heparin.
Nilai normal : negatif
m. Human T-cell lymphotropic virus I/II antibody (HTLV)
Tipe tes : darah vena 7 ml
Nilai normal : negative
n. Imunoglobulin electrophoresis (Gamma Globulin Electrophoresis)
Tipe tes : darah pungsi vena 7 ml
Nilai normal
IgG:
Dewasa :565-1765 mg/dl
Anak:
4-12 tahun : 460-1600 mg/dl
2-3 tahun : 420-1200 mg/dl
1 tahun : 340-1200 mg/dl
6-9 bulan : 220-900 mg/dl
2-5 bulan : 200-700 mg/dl
1 bulan : 250-900 mg/dl
IgA:
Dewasa : 85-385 mg/dl
Anak:
4-12 tahun : 25-350 mg/dl
2-3 tahun : 18-150 mg/dl
1 tahun : 15-110 mg/dl
6-9 bulan : 8-80 mg/dl
2-5 bulan : 4-80 mg/dl
1 bulan : 1-4 mg/dl
IgM:
Dewasa :55-375 mg/dl
Anak:
9-12 tahun : 50-250 mg/dl
1-8 tahun : 45-200 mg/dl
6-9 bulan : 35-125 mg/dl
2-5 bulan : 25-100 mg/dl
1 bulan : 20-80 mg/dl
IgD dan IgE : minimal

o. Lymphocyte immunophenotyping
Tipe tes : darah pungsi vena 10 ml dalam sodium heparin, 5 ml
dalam EDTA
Nilai normal
Sel Prosentase (%) Jumlah sel/μl
Sel T 60-95 800-2500
Thelper (CD4) 60-75 600-1500
T suppressor (CD8) 25-30 300-1000
Sel B 4-25 100-450
Natural killer cell 4-30 75-500
CD4/CD8 rasio >1.0

p. Mononucleosis spot tes


Tipe tes : darah vena 7-10 ml
Nilai normal : 1:28 titer
q. Rheumatoid factor (RF)
Tipe tes : darah pungsi vena 7 ml
Nilai normal
Negatif (<60 U/ml dengan nephelometric testing)
Pasien Lansia bisa secara nyata menunjukan peningkatan nilai

F. Penatalaksanaan Medis
a. Preparat NSAID untuk mengatasi manifestasi klinis minor dan dipakai
bersama kortikosteroid, secara topikal untuk kutaneus.
b. Obat antimalaria untuk gejal kutaneus, muskuloskeletal dan sistemik
ringan SLE
c. Preparat imunosupresan (pengkelat dan analog purion) untuk fungsi imun.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang
melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan
membunuh patogen serta sel tumor. Sistem imunologi terdiri dari sel darah
khusus (limfosit dan monosit) dan struktur khusus, termasuk diantaranya nodus
limfe, spleen, thymus, bone marrow, tonsil, tonsil, adenoid, dan appendiks. ).
Didalam tubuh, sistem tersebut dapat mengenali dan membedakan antara
materi asing yang berasal dari luar tubuh (debu, virus dan mikroba) dengan
materi dari dalam tubuh. Mekanisme pertahanan tubuh manusia dibedakan atas
respons non-spesifik dan respons spesifik. Ada dua tipe umum imunitas, yaitu :
alami (natural) dan di dapat ( akuisita). Setiap tipe imunitas meaninkan
peranann yang berbeda dalam mempertahankan tubuh terhadap para penyerang
yang berbahaya, namun berbagai komponen biasanya bekerja dengan cara yang
saling tergantung yang satu dengan yang lain.

B. Saran
Sebaiknya tetap menjaga pola makan dan Istirahat yang baik dan sehat
agar system imun kita tidak lemah. Kemudian Melakukan Peningkatan
terhadap Sistem kekebalan tubuh dan melakukan imunisasi dasar untuk
menjaga tubu. dan Melakukan Pengkajian kembali terhadap penyakit penyakit
system imun untuk menambah pengetahuan kita.
LAMPIRAN GAMBAR PENGKAJIAN SISTEM IMUNITAS PADA
PENYAKIT HIV

Gambar fisiologi penyakit HIV


DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Alih bahasa Brahm U.


Pendit. EGC. Jakarta.
Lewis, Sharon Mantik et al. 2004. Medical Surgical Nursing Vol. 2. Mosby Year
Book. St. Louis, Missouri.
Nurrachmah, Elly. 2010. Dasar-dasar Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: Salemba
Medika
Sneltzen, Suzanne C. & Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: EGC.
Syaifuddin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia, edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.