Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan jiwa menurut WHO ( World Health Organization) adalah


ketika seseorang tersebut merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi
tantangan hidup serta dapat menerima orang lain sebagaimana seharusnya
serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Kesehatan
jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik,
mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan
sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu
memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Kondisi perkembangan yang
tidak sesuai pada individu disebut gangguan jiwa (UU No.18 tahun 2014).

Berdasarkan Undang Undang No. 18 tahun 2014 tentang kesehatan


jiwa, kesehatan jiwa adalah suatu kondisi dimana seorang individu dapat
berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu
tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat
bekerja, secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi pada
komunitasnya.

Sedangkan menurut American Nurses Association (ANA) tentang


keperawatan jiwa, keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktek
keperawatan yang menggunakan ilmu dan tingkah laku manusia sebagai dasar
dan menggunakan diri sendiri secara terapeutik dalam meningkatkan,
mempertahankan, serta memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan
mental masyarakat dimana klien berada. Selain keterampilan teknik dan alat
klinik, perawat juga berfokus pada proses terapeutik menggunakan diri sendiri
(use self therapeutic) (Kusumawati F dan Hartono Y, 2010).

Salah satu gejala negatif pada gangguan jiwa yaitu isolasi sosial.
Isolasi Sosial adalah kesepian yang dialami oleh individu dan dirasakan saat
didorong oleh keberadaan orang lain dan sebagai pernyataan negatif atau
mengancam. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan
tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. Isolasi sosial
disebabkan oleh harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri,
hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan yang ditandai
dengan adanya perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri
sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, percaya diri
kurang dan juga dapat mencederai diri (NANDA, 2012).

Di BPRS (Badan Penggelola Rumah Sakit) Dadi Makassar pada bulan


Oktober 2017 tercatat penderita schizoprenia 706 pasien, jumlah pasien rawat
inap di Ruangan ASOKA berjumlah 14 pasien, pasien yang berada di
Ruangan Asoka adalah pasien dengan rencana pulang/observasi.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan asuhan keperawatan

pada klien dengan isolasi sosial diharapkan akan mampu mengidentifikasi

seluruh masalah yang terjadi sehubungan dengan isolasi sosial.

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu mengkaji klien dengan masalah utama Isolasi

Sosial : Menarik diri.

b. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan klien dengan

masalah utama Isolasi Sosial : Menarik diri.

c. Mahasiswa mampu merencanakan tindakan keperawatan klien dengan

masalah utama Isolasi Sosial : Menarik diri


d. Mahasiswa mampu mengimplementasikan rencana tindakan

keperawatan klien dengan masalah utama Isolasi Sosial : Menarik diri.

e. Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan keperawatan klien dengan

masalah utama Isolasi Sosial : Menarik Diri.

C. Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu :

1. Metode Kepustakaan

Metode penulisan dengan menggunakan beberapa literatur sebagai

sumber.

2. Metode Wawancara

Data diperoleh dengan wawancara langsung kepada klien dan keluarganya.

3. Metode Observasi

Dengan mengobservasi langsung kepada klien dengan masalah utama

Isolasi Sosial

D. Sistematika Penulisan

1. BAB I

Pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan penulisan, metode

penulisan dan sistematika penulisan

2. BAB II

Tinjauan teori yang berisi pengertian, rentang respon, faktor predisposisi,

faktor presipitasi, diagnosa dan rencana asuhan keperawatan

3. BAB III

Tinjauan kasus
4. BAB IV

Pembahasan yang memuat tentang kesenjangan antara teori dan kasus