Anda di halaman 1dari 9

Sebagai pelayanan penunjang bagi puskesmas, pelayanan di laboratorium dikelola

oleh seorang analis yang setiap hari dapat melakukan pemeriksaan pasien yang datang baik
pasien rawat jalan maupun rawat inap.
Kegiatan yang dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui jenis
penyakit yang di derita pasien. Contohnya yaitu :

Laboratorium merupakan sarana untuk melaksanakan kegiatan penelitian ilmiah guna


meningkatkan ketrampilan pemakaian dan pemanfaatan alat-alat laboratorium. Tempat
dengan segala kelengkapan peralatannya yang berpotensi menimbulkan bahaya kepada
penggunanya.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan perlindungan tenaga kerja dari segala
aspek yang berpotensi membahayakan dan sumber yang berpotensi menimbulkan penyakit
akibat dari jenis pekerjaan tersebut, pencegahan kecelakaan dan penserasian peralatan kerja,
dan karakteristik pekerja serta orang yang berada di sekelilingnya. Tujuannya agar tenaga
kerja mencapai ketahanan fisik, daya kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi sehingga
menciptakan kesenyamanan kerja dan keselamatan kerja yang tinggi. Tidak ada sesuatu di
tempat kerja yang terjadi secara kebetulan tetapi karena ada alasan-alasan yang jelas dan
dapat diperkirakan sebelumnya. Pengawasan terhadap alat maupun terhadap pekerja harus
dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Fasilitas Perlindungan Pekerja (Praktikan)
1. Jas Praktikum, merupakan pengaman langsung, terbuat dari bahan yang baik, yaitu
tidak mudah terbakar, tidak berupa bahan konduktor listrik maupun panas, tahan
bahan kimia.
2. Ventilasi, desain laboratorium yang baik harus memiliki ventilasi yang cukup dan
memadai dengan sirkulasi udara segar yang baik.
3. Alat Pemadam Kebakaran, mutlak dimiliki setiap laboratorium karena kebanyakan
laboratorium telah terhubung dengan arus listrik tegangan tinggi sebagai sumber
energinya terhadap alat praktikum yang digunakan didalamnya
Peningkatan Kemampuan Pekerja (Praktikan)
Memberikan pengetahuan praktis kepada pekerja tentang prosedur penggunaan alat serta
prosedur melakukan kegiatan laboratorium yang sesuai dengan penerapan keselamatan kerja.
Penanganan Kecelakaan
1. Penyediaan P3K, meskipun penerapan prosedur keselamatan kerja telah
diberlakukan, bukan tidak mungkin terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan.
2. Pengadaan Tanda-tanda Peringatan Bahaya, mengurangi statistik kecelakaan
dalam laboratorium dengan alarm, kode tertulis seperti poster dan sebagainya.
Dalam pelaksanaan K3 laboratorium perlu memperhatikan dua hal yakni indoor dan outdoor.
Baik perhatian terhadap konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya
terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanannya maupun terhadap jaringan elektrik dan
komunikasi, kualitas udara, kualitas pencahayaan, kebisingan, tata ruang dan alat, sanitasi,
psikososial, pemeliharaan maupun aspek lain mengenai penggunaan alat laboratorium.
Kesehatan kerja (Occupational health) merupakan bagian dari kesehatan masyarakat yang
berkaitan dengan semua pekerjaan yang berhubungan dengan faktor potensial yang
mempengaruhi kesehatan pekerja. Bahaya pekerjaan (akibat kerja), seperti halnya masalah
kesehatan lingkungan lain, bersifat akut atau kronis (sementara atau berkelanjutan) dan
efeknya mungkin segera terjadi atau perlu waktu lama. Efek terhadap kesehatan dapat secara
langsung maupun tidak langsung. Kesehatan masyarakat kerja perlu diperhatikan, oleh karena
selain dapat menimbulkan gangguan tingkat produktivitas, kesehatan masyarakat kerja
tersebut dapat timbul akibat pekerjaannya.

Sasaran kesehatan kerja khususnya adalah para pekerja dan peralatan kerja di lingkungan
Laboratoria pada Program Studi Teknik Fisika. Melalui usaha kesehatan pencegahan di
lingkungan kerja masing-masing dapat dicegah adanya bahaya dan penyakit akibat dampak
pencemaran lingkungan maupun akibat aktivitas dan produk Laboratorium terhadap
masyarakat konsumen baik di lingkungan Laboratorium itu sendiri maupun masyarakat
sekitarnya.

Tujuan kesehatan kerja adalah:

1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan


pekerjaan ke tingkat yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental maupun kesehatan sosial.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh
tindakan/kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang
disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubungannya dengan pekerjaan dan


lingkungan kerjanya, baik secara fisik maupun psikis yang meliputi, antara lain: metode
bekerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan
kerja, penyakit ataupun perubahan dari kesehatan seseorang. Pada hakikatnya ilmu kesehatan
kerja mempelajari dinamika, akibat dan problematika yang ditimbulkan akibat hubungan
interaktif

3 komponen utama yang mempengaruhi seseorang bila bekerja yaitu:

1. Kapasitas kerja: Status kesehatan kerja, gizi kerja, dan lain-lain.


2. Beban kerja: fisik maupun mental.
3. Beban tambahan yang berasal dari lingkungan kerja antara lain: bising, panas, debu,
parasit, dan lain-lain.

Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu kesehatan kerja yang optimal.
Sebaliknya bila terdapat ketidakserasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa
penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas
kerja

PENGENDALIAN MUTU

Kinerja pelaksanaan Laboratorium dimonitor dan dievaluasi dengan menggunakan indicatorsebagai b


erikut:
1. Ketepatan petugas pelaksana pemeriksaan
2. Ketepatan hasil penyerahan Laboratorium
3. Hasil Pemantapan Mutu Internal (PMI)
4. Hasil Pemantapan Mutu Eksternal (PME)
Permasalahan dibahas pada tiap pertemuan lokakarya mini tiap bulan.

1. Audit adalah proses menilai atau memeriksa kembali secara kritis berbagai kegiatan
yang dilaksanakan di laboratorium. Audit ada dua macam, yaitu audit internal dan audit
eksternal.

Audit internal dilakukan oleh tenaga laboratorium yang sudah senior. Penilaian yang
dilakukan haruslah dapat mengukur berbagai indikator penampilan laboratorium,
misalnya kecepatan pelayanan, ketelitian laporan hasil pemeriksaan laboratorium dan
mengidentifikasi titik lemah dalam kegiatan laboratorium yang menyebabkan kesalahan
sering terjadi.

Audit eksternal bertujuan untuk memperoleh masukan dari pihak lain di luar laboratorium
atau pemakai jasa laboratorium terhadap pelayanan dan mutu laboratorium. Pertemuan
antara kepala-kepala laboratorium untuk membahas dan membandingkan berbagai
metode, prosedur kerja, biaya dan lain-lain merupakan salah satu bentuk dari audit
eksternal.

2. Pendidikan dan Pelatihan

Pendidikan dan pelatihan bagi tanaga laboratorium sangat penting untuk meningkatkan
mutu pelayanan laboratorium melalui pendidikan formal, pelatihan teknis, seminar,
workshop, simposium, dsb. Kegiatan ini harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan
dipantau pelaksanaannya.

Audit Internal adalah alat yang penting, karena memberikan penilaian yang independen dan objektif terhadap
pemenuhan bisnis terkait dan persyaratan lainnya. Temuan berdasarkan audit internal dapat memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan efisiensi bisnis, efektifitas, kinerja dan keuntungan.
Auditor Internal harus memiliki dan memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan oleh ISO 9001 : 2000. Tim
Auditor Internal Puskesmas Kotabumi II telah memenuhi persyaratan tersebut, dan telah mengikuti serta Lulus
ujian yang diselenggarakan oleh Konsultan Sertifikasi dari AIMS pada tahun 2007. Kompetensi tersebut
dibuktikan dengan sertifikat kelayakan sebagai AUDITOR INTERNAL QMS ISO 9001 : 2000 yang dimiliki
oleh para Auditor.
Pengembangan ISO 9001 dari versi 2000 ke versi 2008, menuntut Tim Auditor Internal Puskesmas Kotabumi II
harus memiliki kompetensi lebih, sesuai yang dipersyaratkan. Pada tanggal 1 – 2 April 2008, Tim Auditor
mengikuti ujian sebagai Tim Auditor Internal QMS ISO 9001 : 2008. Berlangsung di Jakarta dan
diselenggarakan oleh badan Sertifikasi SAI GLOBAL.
Tim Auditor Internal Puskesmas Kotabumi II dinyatakan lulus kompetensi dan dikualifikasikan sebagai Internal
Auditor Sistem Manajemen Mutu yang telah diakui oleh Quality Society of Australia (QSA).Kompetensi yang
dimiliki terdaftar dan terakreditasi di National Trainning Board (NTB). Pernyataan lulus tersebut dituangkan
dalam bentuk Certificate of Attainment, khusus bagi Tim Auditor Internal yang dinyatakan lulus.

Beberapa kompetensi yang mampu dimiliki oleh Tim Auditor Internal :


1. Menggambarkan prinsip-prinsip dasar dan persyaratan audit internal.
2. Menganalisa persyaratan dalam organisasi dan untuk audit internal.
3. Merencanakan, melaksanakan dan menyelesaikan audit internal secara efektif.
4. Mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan hal-hal yang diperlukan dalam melaksanakan audit
internal yang efektif.
TIM AUDITOR INTERNAL SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001 : 2008
PUSKESMAS KOTABUMI II
1. drg. Noor Afia Adi Surani (Lead Auditor)
2. dr. Hj. Maya Metissa (Auditor)
3. Ns. Deni Metri, S.kep (Auditor)
4. Biantara Suri,AMd.AK (Auditor)
5. Kartini (Auditor)

AUDIT MUTU INTERNAL


Tujuan

1. Untuk memastikan bahwa kegiatan sistem mutu telah sesuai dengan ketentuan
persyaratan / standar yang dijadikan acuan.
2. Untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan baik berupa barang/material
ataupun jasa/pelayanan yang diberikan telah sesuai dengan standar yang telah
disepakati.
3. Untuk melakukan perbaikan – perbaikan yang diperlukan.
4. Manfaat Audit Mutu Internal
5. Manfaat bagi Pimpinan
Hasil audit mutu internal dapat menjadi masukan berharga untuk referensi dalam
membuat keputusan atau mengambil/mengubah kebijakan mutu sehingga
pengelolaan mutu dapat berjalan sesuai dengan yang ditetapkan.

Manfaat bagi unit kerja dalam organisasi


Audit mutu membantu pegawai yang terlibat dalam menghasilkan produk barang
atau jasa/layanan di unit kerja tersebut, untuk mengidentifikasi permasalahan yang
dihadapi sehingga dapat mengambil langkah – langkah yang tepat untuk melakukan
perbaikan yang diperlukan sesuai masukan dan rekomendasi auditor.

Manfaat bagi Auditor


Audit Mutu bagi Auditor (Tim Pengendali Mutu) merupakan proses pembelajaran
dan pertumbuhan, dimana interaksi antara Tim Pengendali Mutu
dengan Auditee pada berbagai fungsi dan kegiatan dan pengungkapan permasalahan
dan pembahasan solusinya merupakan proses pengkaderan dan pematangan auditor
sebagai tenaga professional.
Manfaat bagi Pelanggan
Audit Mutu bagi pelanggan adalah proses pendeteksian segala kemungkinan yang
dapat menciptakan ketidakpuasan pelanggan dan dilanjutkan dengan tindakan
perbaikan serta pencegahan sehingga komitmen institusi diklat untuk memberikan
kepuasan kepada pelanggan dapat benar – benar tercapai.

Manfaat bagi instansi yang bekerja sama


Audit Mutu, bagi instansi yang bekerja sama dapat memberikanumpan balik
terhadap kinerja yang telah dilakukan, sehingga menjamin terpenuhinya hak dan
kewajiban dari masing – masing instansi yang bekerja sama.

Manfaat Audit Mutu bagi Pemasok


Audit Mutu bagi pemasok dapat memberikan umpan balik terhadap pemasok dari
sudut pandang institusi diklat yang berkepentingan untuk menjamin barang yang
dipasok memenuhi semua persyaratan.

Ketentuan Audit Mutu Internal

1. Audit mutu dilaksanakan oleh tenaga/personil independent terhadap tanggung


jawab atas produk atau aktivitas yang diaudit.
2. Audit harus bersifat komprehensif, meliputi seluruh operasional organisasi yang
diaudit.
3. Audit harus dijadwalkan berdasarkan penentuan prioritas produk atau aktifitas
yang diaudit.
4. Audit harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang terdokumentasi.
5. Hasil audit perlu didokumentasikan dan menjadi perhatian manajemen yang
bertanggung jawab untuk mengambil tindakan koreksi/perbaikan.
6. Auditor tidak bertanggung jawab untuk mengambil tindakan koreksi.
7. Tim Audit Mutu Internal
8. Susunan Tim Audit Mutu terdiri dari:
Ketua Tim:
Ketua Tim bertugas: memimpin / mengkoordinir kegiatan tim. Oleh karena itu ketua
tim dituntut mampu:

1. Mengarahkan diskusi anggota tim agar pelaksanaan audit dapat berjalan efektif
dan objektif.
2. Menyusun rencana audit, melatih anggota tim, mengkoordinir penyusunan
instrument audit.
3. Memimpin pelaksanaan audit mutu
4. Mengarahkan penyusunan laporan hasil audit
Sebaiknya ketua tim telah berpengalaman dalam pekerjaan yang akan menjadi
tanggung jawabnya dan telah mengikuti pelatihan audit mutu.

Anggota
Anggota bertugas:

Mengembangkan dan membahas persiapan, pelaksanaan dan pelaporan hasil audit.


Jumlah anggota tim audit tergantung dari besarnya organisasi yang akan diaudit.

Anggota dipilih berdasarkan keahlian dan penguasaannya terhadap pelayanan yang


akan diaudit. Selama pelaksanaan audit, anggota hendaknya dibebaskan dari tugas /
pekerjaan sehari – hari.

Tugas Tim Audit


 Menentukan sasaran, cakupan, metode audit, rencana kerja dan jadwal
pelaksanaan audit. Rencana ini harus lengkap, meliputi : unit/bagian yang akan
ditinjau, jadwal peninjauan, kegiatan yang ditinjau/diaudit, serta tanggal
pelaporan;
 Mengembangkan checklist dan questioner serta standar penilaian yang akan
digunakan dalam audit;
Untuk kegiatan ini, tim harus mempelajari organisasi yang diaudit, sifat unit yang
diaudit, standar dan prosedur yang berlaku, hasil audit mutu yang lalu, program
mutu yang dijalankan di organisasi tersebut, dan lain – lain.

 Melakukan pemeriksaan / sudit secara objektif ke unit kerja tersebut,


mereviewpelaksanaan prosedur, kebijakan mutu dan uraian tugas yang
digunakan, melakukan wawancara dan pengamatan kepada staf/karyawan untuk
pembuktian / verifikasi;
 Melakukan peninjauan ke masing – masing unit yang diambil untuk langkah
pembuktian/verifikasi;
 Menyusun laporan hasil audit dan saran perbaikannya.
Pada pelaksanaan audit mutu internal di Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah
disebut Komite Penjamin Mutu Diklat. Bertugas mengawasi dan meluruskan
atau menindaklanjuti penerapan teknis kediklatan baik yang ditemukan pada saat
melakukan kegiatan atau berdasarkan temuan hasil audit. Sehingga diharapkan
pelaksanaan kediklatan sesuai dengan ketentuan, prosedur atau standar yang telah
ditentukan. Komite diklat menangani hal – hal yang berhubungan dengan
pelaksanaan pada komponen pelayanan diklat.
Peran Manajemen dalam Organisasi
Karena audit mutu merupakan suatu bentuk audit manajemen, maka kegiatan audit
ini harus diprakarsai oleh manajemen puncak.

Dalam hal ini manajemen puncak mempunyai peran:

 Memberi dukungan moril maupun materil;


 Menerapkan perubahan – perubahan yang telah disepakati;
 Mereview laporan audit yang mengarah pada rencana perbaikan;
 Memantau pelaksanaan perbaikan.
Siklus Audit Mutu Internal
Siklus audit mutu atau disebut juga dengan audit life cycle adalah suatu rangkaian
aktivitas dan merupakan guide line pelaksanaan audit.
Siklus ini dibagi dalam empat (4) tahap yaitu :
1. Perencanaan Audit;
2. Pelaksanaan Audit;
3. Analisis hasil Audit;
4. Laporan dan tindakan perbaikan / koreksi.

Analyzed Grade (Tingkat Pereaksi)

Bahan kimia pada tingkat ini memenuhi aturan standar yang ditetapkan oleh The American
Chemical Society Committee on Analytical Reagents dan pabrik pembuatnya mencantumkan
pernyataan “Conforms to ACS Specifications” pada label pereaksi yang juga memuat daftar
impuritis (pengotor) dan persen kemurniannya. Untuk keperluan baku primer, kemurnian 99,5-100%
cukup memenuhi persyaratan analisis. Istilah lain untuk tingkatan ini adalah Pro Analysi, p.a;
Analaar Reagent, AR; Guaranteed Reagent, GR.

Tingkat pereaksi (Analyzed Grade) : Pro analysis (PA), Analar Reagent (AR), Guaranteed
Reagent (GR). Tingkat kemurnian memenuhi aturan kebakuan ACS (The American Chemical
Society Committe on Analytical Reagents). Pabrik pembuatnya selalu mencantumkan
pernyataan pada label pereaksi “Conforms to ACS Specification”. Memenuhi persyaratan
analisis.

Larutan P.A adalahlarutan kimia yang telah dianalisa/diteliti kadar


/konsentrasinya secara kuantitatif di laboratorium tempat bahan kimia itu
diproduksi. Larutan kimia p.a memiliki tingkat kemurnian yang sangat tinggi
biasanya sekitar 99,5% tingkat kemurnian dari larutan p.a ini
-NaOH br/ -H2SO4 br/ -HCl br/ -MnO2 br

Acetic Acid Glasial (100%) CH3COOH


Bagi seseorang bekerja sebagai analis, laboran, atau pelaku penelitian, perlu dan penting untuk
mengetahui sifat dan spesifikasi reagent (pereaksi kimia) yang akan digunakan. Salah satunya
adalah tingkat kemurnian zat yang diperbolehkan menurut jenis analisis yang diterapkan. Umumnya
berdasarkan pada kriteria tersebut zat-zat dikelompokkan menjadi technical grade, pharmaceutical
grade, chemically pure grade, dan analyzed grade.

1. Technical Grade (Tingkat Teknis/Bahan Kimia Teknis)

Zat-zat / bahan kimia ini umumnya digunakan untuk kebutuhan industri, dan jarang digunakan
untuk tujuan analisis kimia. Kecuali digunakan untuk keperluan sebagai larutan pencuci/pembersih,
dan untuk larutan pereaksi kualitatif (demonstratif) bila masih 9emberikan hasil yang cukup jelas,
atau impuritisnya diperkecil terlebih dahulu sebelum digunakan melalui proses tertentu. Istilah lain
untuk bahan kimia grade teknis adalah grade komersial.

2. Pharmaceutical Grade (Tingkat Farmasi)

Bahan kimia pada tingkat ini kemurniannya memenuhi standar USP (United States Pharmacopeia)
dan biasanya digunakan untuk kebutuhan bidang farmasi dan kedokteran. Jika digunakan sebagai
pereaksi kimia di laboratorium, tingkat kemurnian ini cukup memenuhi kecuali untuk analisis kimia

3. Chemically Pure, CP (Tingkat Murni)

Bahan kimia pada tingkat ini pada umumnya jauh lebih murni dari Pharmaceutical grade (kata
‘murni’ di sini berarti murni secara kimiawi). Tidak ada ketentuan khusus mengenai aturan
kabakuan umum terhadap tingkat kemurniannya. Oleh karena itu, biasanya setiap pabrik
pembuatnya mencantumkan keterangan mengenai tingkat kemurnian. Umumnya bahan kimia pada
tingkat ini dapat digunakan sebagai pereaksi analisis. Akan tetapi, untuk proses analisis kimia
tertentu, bahan kimia pada tingkat ini pelu diuji lagi ketidakmurniannya sebelum digunakan. Istilah
lain untuk tingkatan ini adalah GPR (General Purpose Reagents).

4. Analyzed Grade (Tingkat Pereaksi)

Bahan kimia pada tingkat ini memenuhi aturan standar yang ditetapkan oleh The American
Chemical Society Committee on Analytical Reagents dan pabrik pembuatnya mencantumkan
pernyataan “Conforms to ACS Specifications” pada label pereaksi yang juga memuat daftar
impuritis (pengotor) dan persen kemurniannya. Untuk keperluan baku primer, kemurnian 99,5-100%
cukup memenuhi persyaratan analisis. Istilah lain untuk tingkatan ini adalah Pro Analysi, p.a;
Analaar Reagent, AR; Guaranteed Reagent, GR.

Gambar 1. Label bahan kimia Analyzed grade.

Gambar 2. Label keterangan impuritis (pengotor).

Dalam menggunakan zat kimia untuk keperluan analisis, sangat ditekankan untuk mengetahui dan
memeriksa keterangan yang ada pada label, agar tidak terjadi kekeliruan proses dan hasil analisis.