Anda di halaman 1dari 77

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL KAYU MANIS

(Cinnamomum burmannii) TERHADAP NEUROPATI DIABETIK


PADA TIKUS WISTAR HIPERGLIKEMI
HASIL INDUKSI ALOKSAN

SKRIPSI

Oleh
Budiono
NIM 112010101053

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014
EFEK PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL KAYU MANIS
(Cinnamomum burmannii) TERHADAP NEUROPATI DIABETIK
PADA TIKUS WISTAR HIPERGLIKEMI
HASIL INDUKSI ALOKSAN

SKRIPSI
diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat
untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran (S1)
dan mencapai gelar Sarjana Kedokteran

Oleh
Budiono
NIM 112010101053

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

ii
PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk:


1. Kedua orang tuaku, Bapak Sugiantoro dan Ibu Enny Endrawati yang
senantiasa memberikan doa dan dukungan tiada henti serta telah mendidik dan
menjadikanku manusia yang lebih baik;
2. Guru-guruku sejak taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi yang
telah mendidik dengan penuh kesabaran;
3. Almamater Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

iii
MOTO

Learn from yesterday,


live from today,
and hope for tomorrow
(Albert Einstein)

Live as if you were to die tomorrow and


learn as if you were to live forever
(Mahatma Gandhi)

iv
PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


nama : Budiono
NIM : 112010101053
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah saya yang berjudul
“Efek Pemberian Ekstrak Etanol Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) Terhadap Neuropati
Diabetik pada Tikus Wistar Hiperglikemi Hasil Induksi Aloksan.” adalah benar-benar hasil
karya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah
diajukan pada institusi mana pun, dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab
atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung
tinggi.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa ada tekanan dan
paksaan dari pihak mana pun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika ternyata
pernyataan ini tidak benar.

Jember, 4 Desember 2014


Yang menyatakan,

Budiono
NIM 112010101053

v
SKRIPSI

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL KAYU MANIS


(Cinnamomum burmannii) TERHADAP NEUROPATI DIABETIK
PADA TIKUS WISTAR HIPERGLIKEMI
HASIL INDUKSI ALOKSAN

Oleh
Budiono
NIM 112010101053

Pembimbing:

Dosen Pembimbing I : dr. Elly Nurus Sakinah, M.Si


Dosen Pembimbing II : dr. Ali Santosa, Sp.PD

vi
PENGESAHAN

Skripsi berjudul “Efek Pemberian Ekstrak Etanol Kayu Manis (Cinnamomum


burmannii) Terhadap Neuropati Diabetik pada Tikus Wistar Hiperglikemi Hasil
Induksi Aloksan” ini telah diuji dan disahkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas
Jember pada:
Hari , Tanggal : Kamis, 4 Desember 2014
Tempat : Fakultas Kedokteran Universitas Jember

Tim Penguji :
Penguji I, Penguji II,

dr. Cholis Abrori, M.Kes.,M.Pd.Ked Dr. dr. Aris Prasetyo, M.Kes


NIP 197105211998031003 NIP.196902031999031001

Penguji III, Penguji IV,

dr. Elly Nurus Sakinah, M.Si dr. Ali Santosa, Sp. PD


NIP 198409162008012003 NIP 195909041987011001

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember

dr. Enny Suswati, M.Kes


NIP 197002141999032001

vii
RINGKASAN

Efek Pemberian Ekstrak Etanol Kayu Manis (Cinnamomum burmannii)


Terhadap Neuropati Diabetik pada Tikus Wistar Hiperglikemi Hasil Induksi
Aloksan; Budiono, 112010101053; 2014; 59 halaman; Jurusan Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan endokrin yang ditandai dengan


hiperglikemia dan perubahan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein. Hal ini
disebabkan oleh kekurangan produksi insulin oleh sel beta pankreas dan penurunan
sensitivitas insulin. Data WHO menyebutkan pasien diabetes melitus pada tahun 2011
dengan usia lebih dari 20 tahun mencapai 366 juta orang. Hiperglikemi yang
berlangsung secara terus-menerus akan menyebabkan peningkatan Reactive Oxygen
Species (ROS) dan menimbulkan komplikasi. Komplikasi yang paling umum yaitu
neuropati diabetik dengan gejala klinis antara lain hiperalgesia, parestesia dan nyeri
spontan. Sedangkan penanganan dengan antidiabetik oral menimbulkan beberapa
efek samping seperti seperti perut tidak nyaman, hipoglikemia berat, asidosis laktat,
dan edema perifer.
Kayu manis (Cinnamomum burmannii) merupakan tanaman obat yang
memiliki efek hipoglikemi dan antioksidan. Kayu manis kaya kandungan polifenol
yang berupa cynamaldehide dan cinnamic acid. Kandungan antioksidan dalam kayu
manis diduga memiliki efek terhadap neuropati diabetik. Penelitian mengenai efek
kayu manis terhadap kadar glukosa darah sudah dilakukan, tetapi efek terhadap
komplikasi diabetes melitus masih belum ada. Hal inilah yang mendasari penulis
untuk melakukan penelitian tentang efek pemberian ekstrak etanol kayu manis
terhadap neuropati diabetik pada tikus wistar hiperglikemi hasil induksi aloksan.
Jenis penelitian ini adalah penelitian true experimental laboratories dengan
rancangan penelitian pretest-posttest with control group design, bertujuan untuk
mengetahui efek pemberian ekstrak etanol kayu manis terhadap neuropati diabetik

viii
pada tikus wistar hiperglikemi hasil induksi aloksan. Penelitian dilakukan di
laboratorium Fisiologi dan Farmakologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 25 ekor tikus wistar jantan berat
150-200 gram yang diambil secara simple random sampling. Sampel dibagi menjadi
5 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (K(-)), kontrol positif (K(+)), perlakuan 1
(P1), perlakuan 2 (P2), dan perlakuan 3 (P3). Sebelum diberikan perlakuan, hewan
coba dibuat model diabetes melitus dengan iinduksi aloksan 100 mg/kgBB pada
kelompok K(+), P1, P2, dan P3, sedangkan pada K(-) diinduksi dengan aquabidest.
Kemudian masing-masing kelompok diberi perlakuan berbeda selama 7 hari, yaitu :
K(-) dan K(+) diberi aquades, P1 diberi terapi ekstrak kayu manis dosis 200 mg/kgBB,
P2 diberi terapi ekstrak kayu manis dosis 400 mg/kgBB, P3 diberi terapi ekstrak kayu
manis dosis 600 mg/kgBB. Sebelum induksi aloksan dan pada hari ke-1, ke-3, ke-5,
dan ke-7 selama pemberian terapi ekstrak kayu manis, neuropati diabetik tikus diukur
dengan metode hot plate test. Pembuatan ekstrak kayu manis (Cinnamomum
burmannii) menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 80%. Serbuk kayu
manis diperoleh dari PT. Materia Medica Kabupaten Batu, Malang.
Data yang didapat berupa respon nyeri tikus yang dilakukan dengan metode
hot plate test. Hasil pretest menunjukkan rata-rata respon nyeri dari masing-masing
kelompok yaitu K(-) (5,08 detik), K(+) (5,64 detik), P1 (5,34 detik), P2 (5,18 detik) dan
P3 (4,82 detik) dan hasil posttest hari ke-1 yaitu K(-) (5,04 detik), K(+) (3,72 detik), P1
(3,38 detik), P2 (3,64 detik) dan P3 (3,38 detik), pada hari ke-3 K(-) (4,58 detik), K(+)
(3,28 detik), P1 (4,24 detik), P2 (3,76 detik) dan P3 (3,76 detik), pada hari ke-5 K(-)
(4,72 detik), K(+) (3,66 detik), P1 (4,28 detik), P2 (4,44 detik) dan P3 (4,16 detik), dan
hari ke-7 K(-) (4,86 detik), K(+) (3,34 detik), P1 (4,48 detik), P2 (4,56 detik) dan P3
(4,68 detik). Hasil pengukuran neuropati diabetik dianalisis dengan menggunakan
One Way ANOVA dan dilanjutkan uji Post Hoc multiple comparisons dengan tes LSD
(Least Significant Difference). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat efek
pemberian ekstrak etanol kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap neuropati
diabetik pada tikus wistar hiperglikemi hasil induksi aloksan (p<0,05).

ix
PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efek Pemberian
Ekstrak Etanol Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) Terhadap Neuropati Diabetik pada
Tikus Wistar Hiperglikemi Hasil Induksi Aloksan”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi
salah satu syarat menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) pada Fakultas Kedokteran
Universitas Jember.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena
itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Almamater Fakultas Kedokteran Universitas Jember;
2. dr. Enny Suswati, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember
atas segala fasilitas dan kesempatan yang diberikan selama menempuh
pendidikan kedokteran di Universitas Jember;
3. dr. Elly Nurus Sakinah, M.Si selaku Dosen Pembimbing Utama dan dr. Ali
Santosa, Sp.PD selaku Dosen Pembimbing Anggota yang telah meluangkan
waktu, pikiran, tenaga, dan perhatiannya dalam penulisan tugas akhir ini;
4. dr. Cholis Abrori, M.Kes, M.Pd.Ked dan Dr. dr. Aris Prasetyo, M.Kes sebagai
dosen penguji yang banyak memberikan kritik, saran, dan masukan yang
membangun dalam penulisan skripsi ini;
5. Bu Widi, Mbak Dini, Mbak Indri, dan Mas Agus yang telah memberikan bantuan
dalam penelitian ini;
6. Bapak Sugiantoro dan Ibu Enny Endrawati, orang tua tercinta atas kasih saying,
dukungan moril, materi, doa, dan pengorbanan;
7. Kakakku tercinta, Hariono serta seluruh keluarga besar yang telah memberikan
motivasi, dukungan, bimbingan serta kasih sayang untukku;
8. Rekan kerjaku, Vidya Muqsita, Fauziyah Damayanti, dan Stefen Andrean yang
telah membantu dan selalu memberikan dorongan serta semangat selama
penelitian;

x
9. Teman-teman angkatan 2011 tercinta yang telah berjuang bersama-sama demi
sebuah gelar Sarjana Kedokteran;
10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam penyusunan
skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis mengaharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi
kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat.

Jember, 4 Desember 2014

Penulis

xi
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL ......................................................................... i
HALAMAN JUDUL ............................................................................ ii
HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................... iii
HALAMAN MOTTO .......................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN .............................................................. v
HALAMAN BIMBINGAN .................................................................. vi
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................. vii
RINGKASAN ....................................................................................... viii
PRAKATA ............................................................................................ x
DAFTAR ISI ......................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ................................................................................ xv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................ xvi
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xvii
BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................ 3
1.4 Manfaat Penelitian ...................................................... 3
BAB 2. TINAJUAN PUSTAKA ........................................................ 4
2.1 Diabetes Melitus .......................................................... 4
2.1.1 Definisi Diabetes Melitus .................................. 4
2.1.2 Epidemiologi Diabetes Melitus ......................... 4
2.1.3 Etiologi Diabetes Melitus .................................. 5
2.1.4 Manifestasi Klinis Diabetes Melitus.................. 6
2.1.5 Komplikasi Diabetes Melitus ............................ 7
2.2 Neuropati Diabetik ...................................................... 8

xii
2.3 Aloksan ......................................................................... 11
2.4 Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) .................... 13
2.5 Kerangka Konseptual Penelitian ............................... 15
2.5 Hipotesis ....................................................................... 16
BAB 3. METODE PENELITIAN ..................................................... 17
3.1 Jenis Penelitian ............................................................ 17
3.2 Rancangan Penelitian.................................................. 17
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ................................. 19
3.4 Tempat dan Waktu Penelitian ................................... 19
3.5 Variabel Penelitian ...................................................... 20
3.5.1 Variabel Bebas ................................................... 20
3.5.2 Variabel Terikat ................................................. 20
3.5.3 Variabel Terkendali ........................................... 20
3.6 Definisi Operasional .................................................... 20
3.6.1 Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) ............ 20
3.6.2 Neuropati Diabetik ............................................ 20
3.6.3 Usia Tikus .......................................................... 21
3.6.4 Jenis Kelamin Tikus .......................................... 21
3.6.5 Aloksan .............................................................. 21
3.6.6 Waktu dan Lama Perlakuan ............................... 21
3.6.7 Pemeliharaan dan Perlakuan Hewan Coba ........ 21
3.7 Alat dan Bahan Penelitian .......................................... 22
3.7.1 Alat Penelitian ................................................... 22
3.7.2 Bahan Penelitian ................................................ 22
3.8 Prosedur Penelitian ..................................................... 23
3.8.1 Adaptasi Hewan Coba ....................................... 23
3.8.2 Pembagian Kelompok dan Pengukuran Kadar
Glukosa Awal Hewan Coba .............................. 23
3.8.3 Perlakuan Hewan Coba ..................................... 23

xiii
3.8.4 Pemeriksaan Respon Nyeri Hewan Coba .......... 25
3.9 Analisis Data ................................................................ 25
3.10 Alur Penelitian ............................................................. 26
3.11 Etika Penelitian............................................................ 26
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................... 27
4.1 Hasil Penelitian ............................................................ 27
4.1.1 Ekstraksi Kayu Manis ........................................ 27
4.1.2 Pembuatan Tikus Model Hiperglikemi.............. 27
4.1.3 Perlakuan pada Hewan Coba ............................. 29
4.2 Analisis Data .................................................................... 32
4.3 Pembahasan ..................................................................... 35
BAB 5. PENUTUP................................................................................ 39
5.1 Kesimpulan ............................................................................... 39
5.2 Saran ......................................................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 40
LAMPIRAN .......................................................................................... 44

xiv
DAFTAR TABEL

Halaman
4.1 Rata-rata kadar glukosa darah puasa sebelum dan sesudah induksi
aloksan .................................................................................................. 28
4.2 Rata-rata kadar glukosa darah puasa sebelum dan sesudah pemberian
ekstrak kayu manis ............................................................................... 29
4.3 rata-rata respon nyeri tikus kelompok perlakuan ................................. 30
4.4 Hasil LSD neuropati diabetik pada hari ke-1 ....................................... 33
4.5 Hasil LSD neuropati diabetik pada hari ke-3 ....................................... 33
4.6 Hasil LSD neuropati diabetik pada hari ke-5 ....................................... 34
4.7 Hasil LSD neuropati diabetik pada hari ke-7 ....................................... 34

xv
DAFTAR GAMBAR

Halaman
2.1 Struktur molekul aloksan ..................................................................... 12
2.2 Struktur molekul cynnamaldehide ....................................................... 14
2.3 Kerangka konseptual penelitian ........................................................... 15
3.1 Skema rancangan penelitian ................................................................. 17
3.2 Skema alur penelitian ........................................................................... 26
4.1 Grafik rata-rata kadar glukosa darah puasa sebelum dan sesudah induksi
ALS ...................................................................................................... 28
4.2 Grafik rata-rata kadar glukosa darah puasa sebelum dan sesudah
pemberian ekstrak kayu manis ............................................................. 30
4.3 Grafik rata-rata respon nyeri tikus kelompok perlakuan ...................... 31

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran A. Perhitungan Dosis Aloksan .................................................... 44
Lampiran B. Perhitungan Dosis Ekstrak Kayu Manis ................................. 45
Lampiran C. Data Kadar Glukosa Darah Puasa .......................................... 47
Lampiran D. Data Neuropati Diabetik ........................................................ 48
Lampiran E. Analisis Data........................................................................... 49
Lampiran F. Keterangan Persetujuan Etik ................................................... 56
Lampiran G. Dokumentasi penelitian .......................................................... 58

xvii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan endokrin yang ditandai dengan
hiperglikemia dan perubahan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein. Hal ini
disebabkan oleh kekurangan produksi insulin oleh sel beta pankreas dan penurunan
sensitivitas insulin (Bisht & Sisodia, 2011). Data WHO menyebutkan pasien diabetes
melitus pada tahun 2011 dengan usia lebih dari 20 tahun mencapai 366 juta orang.
Sedangkan Indonesia merupakan negara urutan ke-7 dengan prevalensi diabetes
tertinggi di bawah China, India, USA, Brazil, Rusia dan Meksiko (Unwin et al.,
2012).
Komplikasi dari hiperglikemia dibagi menjadi komplikasi makrovaskuler
seperti penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah perifer dan komplikasi
mikrovaskuler seperti nefropati diabetik, neuropati, dan retinopati (Fowler, 2008).
Neuropati adalah komplikasi yang paling umum dari diabetes melitus (DM), hal ini
terjadi pada 60% pasien dan mempengaruhi kualitas hidup. Gejala klinis yang terkait
dengan neuropati diabetik antara lain hiperalgesia, parestesia dan nyeri spontan yang
dapat menjalar dari jari kaki ke kaki hingga tungkai dan dapat juga terjadi pada jari-
jari dan tangan (Farmer et al., 2012).
Penanganan diabetes melitus meliputi pembatasan kalori, olahraga teratur,
gaya hidup, dan pemberian antidiabetes oral, tetapi penggunaan klinis obat
antidiabetes biasanya disertai dengan efek samping seperti perut tidak nyaman,
hipoglikemia berat, asidosis laktat, dan edema perifer (Niu, 2014). Oleh karena itu,
pencarian antidiabetes baru dengan efektivitas yang lebih baik dan efek samping yang
lebih rendah terus dikembangkan, diantaranya melalui efek antidiabetes dari beberapa
tanaman obat yang telah didukung oleh hasil dari percobaan hewan ataupun uji klinis
2

(Ghorbani et al., 2013). Pengobatan alternatif dengan menggunakan tanaman


tradisional telah menunjukkan efek hipoglikemik dan penurunan resiko terhadap
komplikasi sekunder dari diabetes seperti kerusakan ginjal, stress oksidatif, dan fatty
liver (Juarez Rojop et al., 2012).
Diabetes melitus dikaitkan dengan komplikasi jangka panjang berupa nyeri
perifer, dimana keluhan yang muncul berupa nyeri spontan, alodinia, dan hiperalgesi.
Hasil studi terhadap pasien neuropati diabetik menunjukkan bahwa tingkat nyeri yang
dirasakan berhubungan dengan kadar glukosa darah yang tidak terkontrol dan
perubahan biokimia akut dalam jaringan saraf muncul akibat hiperglikemi
berkepanjangan dan hal ini beresiko terhadap perkembangan dari neuropati diabetik.
Terdapat empat mekanisme yang terlibat dalam kerusakan pembuluh darah akibat
hiperglikemi yaitu peningkatan polyol pathway, peningkatan advance glycation end-
product (AGE) formation, aktivasi protein kinase C (PKC), dan peningkatan
hexosamine pathway. Penelitian klinis dan eksperimental menunjukkan bahwa
reactive oxygen species (ROS) memainkan peran penting dalam patofisiologi nyeri
neuropati diabetik (Morani and Bodhankar, 2007). Pada kondisi tersebut, antioksidan
seluler gagal mempertahankan sistem perlindungan tubuh melalui efek penghambat
pembentukan radikal bebas sehingga diperlukan antioksidan eksogen untuk meredam
kerusakan oksidatif (Kaleem, 2006).
Salah satu tanaman obat yang memiliki efek hipoglikemi dan antioksidan
antara lain kayu manis (Cinnamomum burmannii). Hasil studi oleh Mahmood et al.
(2011) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kayu manis dengan dosis 200
mg/kgBB dan 400 mg/kgBB memberikan hasil yang signifikan terhadap penurunan
kadar glukosa tikus yang diinduksi aloksan. Penelitian ini juga didukung oleh hasil
studi Khan et al. (2014) yang menyatakan bahwa pemberian ekstrak kayu manis dosis
200 mg/kgBB dan 600 mg/kgBB mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus.
Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Alusinsing et al. (2014)
menyatakan bahwa ekstrak etanol 80% kulit batang kayu manis memiliki efek
menurunkan kadar gula darah pada tikus wistar jantan yang diinduksi sukrosa. Studi
3

lainnya menunujukkan bahwa ekstrak kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii)


mampu menghambat lipopolisakarida dan memiliki peran sebagai antioksidan (Al-
Dhubiab, 2012). Hal ini didukung studi yang dilakukan oleh Azima (2004) bahwa
aktivitas antioksidan ekstrak etanol kayu manis (Cinnamomum burmannii) lebih
tinggi dibanding dengan antioksidan α-tokoferol yang terkandung dalam vitamin E.
Sedangkan efek kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap komplikasi diabetes
melitus belum pernah dilakukan penelitian.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti ingin mengetahui efek
pemberian ekstrak etanol kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap neuropati
diabetik pada tikus wistar hiperglikemi hasil induksi aloksan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan
penelitian sebagai berikut: apakah terdapat efek pemberian ekstrak etanol kayu manis
(Cinnamomum burmannii) terhadap neuropati diabetik pada tikus wistar hiperglikemi
hasil induksi aloksan.

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui adanya efek pemberian ekstrak etanol kayu manis
(Cinnamomum burmannii) terhadap neuropati diabetik pada tikus wistar hiperglikemi
hasil induksi aloksan.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Manfaat Teoritis
Sebagai informasi ilmiah mengenai potensi ekstrak etanol kayu manis
terhadap komplikasi diabetes melitus berupa neuropati diabetik.
2. Manfaat Aplikatif
Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat untuk
menggunakan kayu manis sebagai pilihan terapi neuropati diabetik.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes Melitus


2.1.1 Definisi Diabetes Melitus
Diabetes melitus adalah suatu penyakit karena tubuh tidak mampu
mengendalikan jumlah glukosa dalam aliran darah. Ini menyebabkan hiperglikemia,
suatu keadaan gula darah yang tinggi sudah membahayakan. Faktor utama pada
diabetes melitus ialah insulin, suatu hormon yang dihasilkan oleh kelompok sel beta
di pankreas. Insulin memberi sinyal kepada sel tubuh agar menyerap glukosa. Insulin,
bekerja dengan hormon pankreas lain yang disebut glukagon yang juga
mengendalikan jumlah glukosa dalam darah. Apabila tubuh menghasilkan terlampau
sedikit insulin atau jika sel tubuh tidak menanggapi insulin dengan tepat terjadilah
diabetes. Diabetes biasanya dapat dikendalikan dengan makanan yang rendah kadar
gulanya, obat antidiabetes maupun suntikan insulin secara teratur. Diabetes melitus
dapat menyebabkan komplikasi seperti kebutaan dan stroke (Setiabudi, 2008).

2.1.2 Epidemiologi Diabetes Melitus


Data WHO menyebutkan pasien diabetes melitus pada tahun 2011 dengan
usia lebih dari 20 tahun mencapai 366 juta orang. Sedangkan Indonesia merupakan
negara urutan ke-7 dengan prevalensi diabetes tertinggi di bawah China, India, USA,
Brazil, Rusia dan Meksiko (Unwin et al., 2012). DM lebih banyak ditemukan pada
wanita dibanding pria serta pada golongan tingkat pendidikan dan status sosial yang
rendah. Kelompok usia terbanyak DM adalah 55-64 tahun yaitu 13.5%. Beberapa hal
yang dihubungkan dengan faktor resiko DM adalah obesitas, hipertensi, kurangnya
aktivitas fisik dan rendahnya konsumsi sayur dan buah-buahan (Riskesdas, 2007).
5

2.1.3 Etiologi Diabetes Melitus


Penyebab diabetes melitus sampai sekarang belum diketahui dengan pasti,
kekurangan insulin adalah penyebab utama dan faktor herediter memegang peranan
penting. Berdasarkan penyebabnya, diabetes melitus dibagi dua, yaitu:
a. Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)
Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM) sering terjadi pada usia sebelum
30 tahun, disebut juga juvenille diabetes yang ditandai dengan adanya meningkatnya
kadar glukosa darah dalam tubuh atau hiperglikemia (Bare & Suzanne, 2002). Faktor
genetik dan lingkungan merupakan faktor pencetus IDDM. Oleh karena itu insidensi
lebih tinggi akibat adanya infeksi virus (dari lingkungan) misalnya coxsackievirus B
dan streptococcus sehingga pengaruh lingkungan dipercaya mempunyai peranan
dalam terjadinya DM (Bare & Suzanne, 2002). Virus atau mikroorganisme akan
menyerang pulau–pulau langerhans pankreas yang membuat kehilangan produksi
insulin. Dapat pula akibat respon autoimun, dimana antibodi sendiri akan menyerang
sel beta pankreas. Faktor herediter juga dipercaya memainkan peran munculnya
penyakit ini (Bare & Suzanne, 2002).
b. Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) terjadi akibat penurunan
sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah
produksi insulin. Resistensi insulin adalah berkurangnya kemampuan insulin untuk
merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat
produksi glukosa oleh hati. Dalam hal ini, sel tidak mampu mengimbangi resistensi
insulin sepenuhnya, sehingga terjadi defisiensi relatif insulin. Kondisi ini
menyebabkan sel mengalami desensitisasi terhadap glukosa. Untuk mengatasi
resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah harus terdapat
peningkatan insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu,
keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan
dipertahankan pada tingkat yang normal. Namun, jika sel-sel tidak mampu
6

mengimbangi peningkatan kebutuhan insulin maka kadar glukosa akan meningkat


dan terjadi diabetes tipe 2 atau Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
(Bare & Suzanne, 2002).

2.1.4 Manifestasi Klinis Diabetes Melitus


a. Poliuria
Kekurangan insulin untuk mengangkut glukosa melalui membran dalam sel
menyebabkan hiperglikemia sehingga serum plasma meningkat atau hiperosmolaritas
menyebabkan cairan intrasel berdifusi kedalam sirkulasi atau cairan intravaskuler,
aliran darah ke ginjal meningkat sebagai akibat dari hiperosmolaritas dan akibatnya
akan terjadi diuresis osmotik (poliuria) (Bare & Suzanne, 2002).
b. Polidipsia
Akibat meningkatnya difusi cairan dari intrasel kedalam vaskuler
menyebabkan penurunan volume intrasel sehingga efeknya adalah dehidrasi sel.
Akibat dari dehidrasi sel mulut menjadi kering dan sensor haus teraktivasi
menyebabkan seseorang haus terus dan ingin selalu minum (polidipsia) (Bare &
Suzanne, 2002).
c. Polifagia
Karena glukosa tidak dapat masuk ke sel akibat dari menurunnya kadar
insulin maka produksi energi menurun, penurunan energi akan menstimulasi rasa
lapar. Maka reaksi yang terjadi adalah seseorang akan lebih banyak makan. (Bare &
Suzanne, 2002).
d. Penurunan berat badan
Karena glukosa tidak dapat di transport kedalam sel maka sel kekurangan
cairan dan tidak mampu mengadakan metabolisme, akibat dari itu maka sel akan
menciut, sehingga seluruh jaringan terutama otot mengalami atrofi dan penurunan
secara otomatis (Bare & Suzanne, 2002).
7

2.1.5 Komplikasi Diabetes Melitus


Komplikasi-komplikasi pada diabetes melitus dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Komplikasi yang bersifat akut
a) Koma hipoglikemi
Koma hipoglikemi terjadi karena pemakaian obat-obat diabetik yang melebihi
dosis yang dianjurkan sehingga terjadi penurunan glukosa dalam darah. Glukosa yang
ada sebagian besar difasilitasi untuk masuk ke dalam sel
b) Ketoasidosis diabetik
Minimnya glukosa di dalam sel akan mengakibatkan sel mencari sumber
alternatif untuk memperoleh energi sel, jika tidak ada glukosa maka benda-benda
keton yang digunakan oleh sel. Kondisi ini akan mengakibatkan penumpukan residu
pembongkaran benda-benda keton yang berlebihan yang dapat mengakibatkan
asidosis.
c) Hiperosmolar non ketotik
Koma ini terjadi karena penurunan komposisi cairan intrasel dan ekstrasel
karena banyak dieksresi melalui urin.
2) Komplikasi Kronis (Menahun)
a) Makroangiopati
Mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung, pembuluh darah
tepi, pembuluh darah otak, perubahan pada pembuluh darah besar dapat mengalami
aterosklerosis sering terjadi pada NIDDM. Komplikasi makroangiopati adalah
penyakit vaskular otak, penyakit ateri coroner, dan penyakit vaskuler perifer.
b) Mikroangiopati
Mengenai pembuluh darah kecil, retinopati diabetik dan nefropati diabetik.
Perubahan-perubahan mikrovaskuler yang ditandai dengan penebalan dan kerusakan
membrane diantara jaringan dan pembuluh darah sekitar. Terjadi pada penderita
IDDM yang terjadi neuropati, nefropati, dan retinopati.
8

c) Neuropati
Akumulasi sorbitol di dalam jaringan dan pembuluh metabolik mengakibatkan
fungsi sensorik dan motorik saraf menurun kehilangan sensori mengakibatkan
penurunan persepsi nyeri.
d) Rentan infeksi seperti tuberkulosis paru, gingivitis dan infeksi saluran kemih.
e) Kaki diabetik
Perubahan mikroangiopati, makroangiopati dan neuropati menyebabkan
perubahan pada ekstremitas bawah. Komplikasinya dapat terjadi gangguan sirkulasi,
infeksi, gangren, penurunan sensasi, dan hilangnya fungsi saraf sensorik dapat
menunjang terjadinya trauma atau tidak terkontrolnya infeksi yang mengakibatkan
gangren (Purnyami et al., 2011).

2.2 Neuropati Diabetik


Neuropati diabetik adalah adanya gejala dan atau tanda dari disfungsi saraf
penderita diabetes tanpa ada penyebab lain selain diabetes melitus (Boulton, 2005).
Studi epidemiologik menunjukkan bahwa dengan tidak terkontrolnya kadar gula
maka akan mempunyai resiko yang lebih besar untuk terjadinya neuropati, seperti
halnya ulkus kaki dan amputasi. Suatu kenaikan kadar HbA1c 2% mempunyai resiko
komplikasi neuropati sebesar 1,6 kali lipat dalam waktu 4 tahun. Polineuropati
diabetik menggambarkan keterlibatan banyak saraf tepi dan distribusinya umumnya
bilateral simetris meliputi gangguan sensorik, motorik maupun otonom (Sjahrir,
2006). Pada pasien diabetes melitus tipe 2, 59% menunjukkan berbagai neuropati,
45% diantaranya menderita polineuropati diabetik (Aswin, 2004). Gejala yang mudah
dikenal adalah kelainan yang sifatnya simetris (Sjahrir, 2006). Gangguan sensorik
selalu lebih nyata dibanding kelainan motorik dan sudah terlihat pada awal penyakit.
Ditandai dengan hilangnya akson dan serabut saraf terpanjang terkena terlebih dulu.
Umumnya gejala nyeri, parastesi dan hilang rasa muncul pada malam hari. Khas
diawali dari jari kaki berjalan ke proksimal tungkai. Seiring memberatnya penyakit
9

jari tangan dan lengan terkena sehingga memberi gambaran “hand gloves stocking”.
Kelainan ini dapat mengenai saraf sensoris, motor dan fungsi otonomik dengan
bermacam-macam derajat tingkat, dengan predominan terutama disfungsi sensoris
(Sadeli, 2008). Kelemahan otot-otot tungkai dan penurunan reflek lutut dan tumit
terjadi lebih lambat. Adanya nyeri dan menurunnya rasa terhadap temperatur
melibatkan serabut sarabut saraf kecil (small fiber neuropathy) dan merupakan
predisposisi terjadinya ulkus kaki. Gangguan propioseptif, rasa getar dan gaya
berjalan (sensory ataxia gait) menunjukkan keterlibatan serabut saraf ukuran besar
(large fiber neuropathy). Disfungsi otonom yang timbul adalah adanya anhidrosis,
atonia kandung kencing dan pupil reaksi lambat. Awitan gejala perlahan sebagai
gejala negatif dan atau positif. Serabut saraf berukuran besar dan kecil terkena
walaupun manifestasi dini yang muncul mungkin dari serabut kecil (Bansal, 2006).
Banyak teori yang dikemukan oleh para ahli tentang patofisiologi terjadinya
neuropati diabetika, namun semuanya sampai sekarang belum diketahui sepenuhnya.
Faktor-faktor etiologi neuropati diabetika diduga adalah vaskular, berkenaan dengan
metabolisme, neurotrofik dan imunologik. Studi terbaru menunjukkan adanya
kecenderungan suatu multifaktorial patogenesis yang terjadi pada neuropati diabetik
(Ametov, 2003). Stres oksidatif terjadi dalam sebuah sistem seluler saat produksi dari
radikal bebas melampaui kapasitas antioksidan dari sistem tersebut. Jika antioksidan
seluler tidak memindahkan radikal bebas, radikal bebas tersebut menyerang dan
merusak protein, lipid dan asam nukleat. Oksidasi produk radikal bebas menurunkan
aktifitas biologi, membuat hilangnya energi metabolisme, sinyal sel, transport, dan
fungsi-fungsi utama lainnya. Hasil produknya juga membuat degradasi proteosome,
kemudian dapat menurunkan fungsi seluler. Akumulasi dari beberapa kerusakan
membuat sel mati melalui nekrotisasi atau mekanisme apoptosis. Hiperglikemik
kronis menyebabkan stres oksidatif pada jaringan cenderung pada komplikasi pasien
dengan diabetes. Metabolisme glukosa yang berlebihan menghasilkan radikal bebas
(Vincent et al., 2004). Beberapa jenis radikal bebas di produksi secara normal di
dalam tubuh untuk menjalankan beberapa fungsi spesifik. Superoxide, hydrogen
10

peroxide (H2O2), dan nitric oxide (NO) adalah tiga diantara radikal bebas ROS yang
penting untuk fisiologi normal, tetapi juga dipercaya mempercepat proses penuaan
dan memediasi degenerasi selular pada keadaan sakit.
Ketidakseimbangan radikal bebas dan antioksidan akan menyebabkan
terjadinya stress oksidatif yang berakibat pada kerusakan jaringan atau endotel. Stres
oksidatif merupakan modulator penting pada perkembangan komplikasi DM.
Beberapa bukti penelitian ilmiah menunjukkan bahwa didapatkan peningkatan kadar
basal dari produksi radikal bebas dan penurunan anti-oksidan yang memburuk seiring
dengan peningkatan glukosa plasma sehingga terjadilah suatu keadaan stres oksidatif
(Vincent et al., 2004). Peningkatan glukosa intrasel juga berperan dalam proses
patologis. Glukosa dapat bereaksi dengan Reactive Oxygen Species (ROS) dan akan
membentuk karbonil. Karbonil bereaksi dengan protein atau lemak akan
menyebabkan pembentukan glikosidasi atau liposidasi. Selain itu glukosa dapat juga
membentuk karbonil secara langsung dengan protein dan membentuk Advanced
glycation end products (AGEs) yang berperan dalam stress oksidatif dan dapat
menyebabkan kerusakan sel. Peningkatan glukosa intrasel juga akan meningkatkan
glikolisis dan aktivasi Tricarboxylic acid (TCA) sehingga menyababkan
ketidakseimbangan transport elektron ke mitokondria dan mempercepat produksi
superoxide. Superoxide adalah radikal bebas yang sangat reaktif dan dapat
menimbulkan kerusakan jaringan. Superoxide juga berperan dalam aktivasi protein
kinase C (PKC) dengan cara merangsang sintesa diacylglycerol (Dubby et al., 2004).
Peningkatan produksi superoxide pada mitokondria selama kondisi hiperglikemia
menyebabkan peningkatan stress oksidatif. Selama hiperglikemia rasio antara
nicotiamide adenine dinucleotide phosphal hyrolase (NADPH)/NAD+ menurun
karena kelebihan penggunaan NADPH untuk mengurangi pembentukan glukosa
menjadi sorbitol. Sebagai konsekuensinya NADPH tersedia untuk mempertahankan
anti oksidan GSH pada pengurangan dari katalisator oleh GSH reductase juga
meningkatakan stress oksidatif. Peningkatan AGEs dan pengikatan AGE pada
reseptornya (RAGE) juga meningkatkan stress oksidatif. Peningkatan formasi
11

diacylglycerol (DAG) pada jalur PKC menimbulkan stress oksidatif lewat aktivasi
bebas PKC dari NADPH oxidase (Srivastata, 2005).
Mekanisme yang menyebabkan stres oksidatif pada hiperglikemik kronik dan
perkembangan neuropati telah diperiksa pada model dengan binatang. Stres oksidatif
ini dihubungkan dengan perkembangan apoptosis pada neuron dan menyokong sel
glia sehingga dapat disatukan dengan mekanisme lain yang berperan dalam kerusakan
sistem saraf pada diabetes. Pada binatang percobaan dampak terjadinya stres oksidatif
pada sel glia akan menyebabkan proses demielinisasi dimana hal ini diterangkan
dengan adanya penurunan kecepatan hantar saraf dan manifestasinya berupa
timbulnya gejala nyeri sedangkan pada neuron akan mengakibatkan aksonopati,
penurunan kapasitas regenerasi dari akson sehingga dapat menimbulkan gejala
negatif pada neuropati diabetika perifer (Dobretsov et al., 2007). Oleh karena itu
dibutuhkan antioksidan dari luar tubuh terutama antioksidan alami yang terdapat
dalam berbagai jenis tanaman untuk menghambat reaksi oksidasi sehingga jumlah
radikal bebas menjadi berkurang (Sriram et al., 2011).

2.3 Aloksan
Aloksan (ALS) (2,4,5,6-tetraoxypyrimidine; 2,4,5,6-pyrimidinetetrone) adalah
suatu substrat yang secara struktural merupakan derivat pirimidin sederhana (Lenzen,
2008). Nama ALS diperoleh dari penggabungan kata allantoin dan oksalurea atau
asam oksalurik. Allantoin adalah produk asam urat yang diekskresikan oleh janin
dalam alantois dan asam oksalurik diturunkan dari asam oksalat dan urea yang
ditemukan dalam air seni (Rohilla and Ali, 2012). Struktur molekul aloksan dapat
dilihat pada gambar 2.1.
12

Gambar 2.1 Struktur molekul ALS

Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menginduksi binatang


percobaan untuk menghasilkan kondisi diabetik eksperimental (hiperglikemik) secara
cepat. Aloksan dapat diberikan secara intravena, intraperitoneal, atau subkutan pada
binatang percobaan. Pada larutan dalam air, aloksan akan terdekomposisi menjadi
senyawa asam aloksanat yang tidak bersifat diabetogenik dalam hitungan menit. Oleh
sebab itu, aloksan harus dapat terakumulasi dengan cepat di sel β, dan menjadi tidak
efektif jika aliran darah menuju pankreas terganggu selama beberapa menit pertama
setelah injeksi aloksan (Lenzen, 2008). Aloksan dapat menyebabkan diabetes melitus
tergantung insulin pada hewan coba (aloksan diabetes) dengan karakteristik mirip
dengan diabetes melitus tipe 1 pada manusia (Yuriska, 2009). Setelah pemberian
aloksan, akan terlihat 4 fase dari fluktuasi kadar glukosa darah sebagai berikut
(Lenzen, 2008):
a) Fase pertama yaitu fase hipoglikemia yang terjadi dalam waktu 30 menit setelah
injeksi aloksan. Hal ini terjadi karena penghambatan glukokinase yang
menyebabkan penghambatan fosforilasi glukosa. Penghambatan ini akan
menyebabkan penurunan konsumsi dan peningkatan ketersediaan ATP yang
kemudian akan menyebabkan stimulasi sekresi insulin.
b) Fase kedua dimulai dengan peningkatan dari kadar glukosa darah dan penurunan
dari kadar insulin plasma. Fase hiperglikemia pertama ini terjadi sekitar satu jam
setelah pemberian diabetogen dan bertahan kurang lebih 2–4 jam.
c) Terjadi fase hipoglikemia kembali. Biasanya terjadi 4–8 jam setelah pemberian dan
akan bertahan selama beberapa jam. Keadaan hipolikemia ini terkadang sangat
13

parah sampai menyebabkan kejang dan bahkan fatal tanpa pemberian glukosa.
Keadaan hipoglikemia transisi ini dihasilkan akibat dari keluarnya insulin dari
dalam sel β Langerhans pankreas akibat kerusakan sel-sel tersebut.
d) Fase ini merupakan fase hiperglikemia diabetik. Secara morfologis, telah terjadi
degranulasi yang sempurna dan hilangnya integritas dari sel β Langerhans
pankreas. Fase ini dapat terlihat pada 12–48 jam setelah pemberian aloksan.
Pemberian ALS dengan dosis 120 mg/kg bb pada tikus jantan strain Wistar
secara intra peritoneal selama 5 hari mampu meningkatkan kadar glukosa darah puasa
(Sharma et al., 2010; Chitra et al., 2010). Pemberian ALS pada mencit jantan (Mus
musculus) strain Swiss albino dengan dosis 150 mg/kgBB dalam larutan 0,9% NaCl
secara intra peritoneal mampu menyebabkan keadaan hiperglikemia pada hewan coba
selama 5 hari sampai satu minggu setelah penyuntikan (Sharma et al., 2010).
Studiawan dan Santosa (2005) menyatakan, pemberian ALS dengan dosis 100 mg/kg
bb mencit jantan galur Wistar setiap 4 hari sekali selama 8 hari menunjukkan
kenaikan kadar glukosa darah hewan coba yang berarti. Pemberian aloksan pada tikus
wistar jantan dengan dosis tunggal 120 mg/kgBB dalam larutan NaCl 0,9% mampu
menaikkan kadar glukosa darah setelah 48 jam injeksi aloksan dan menimbulkan
komplikasi berupa neuropati diabetik (Morani and Bodhankar, 2007).

2.4 Kayu Manis (Cinnamomum burmannii)


Kayu manis adalah tanaman yang banyak digunakan sebagai rempah-rempah
dan obat herbal di seluruh dunia. Komponen aktif berupa polifenol terdapat pada kulit
kayu manis dapat berfungsi sebagai antioksidan dalam melawan bahaya radikal bebas
dalam membran sel. Senyawa polifenol memiliki kemampuan sebagai scavenger
radikal bebas dengan cara mendonasikan satu elektron yang tidak berpasangan atau
atom H+ dalam radikal bebas sehingga reaksi oksidasi berantai pembentukan radikal
bebas akan berhenti karena terjadi hambatan produksi lipid peroxide (Mudgal et al.,
2010). Menurut Rohmah (2010) kayu manis mengandung cynamaldehide, eugenol,
14

dan senyawa lain seperti flavanoid, tanin, triter-penoid, dan saponin. Struktur molekul
dari cynnamaldehyde ditampilkan pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Struktur molekul cynnamaldehyde

Antioksidan mampu menurunkan stress oksidatif. Hal ini dapat menimbulkan


efek protektif terhadap sel beta pankreas dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Antioksidan memiliki mekanisme dalam penghambatan fosfodiesterase sehingga
kadar cAMP dalam sel-β pankreas meningkat menyebabkan sekresi insulin oleh
(Panjuantiningrum, 2009). Ekstrak kayu manis mengaktivasi sintesis glikogen,
peningkatan pengangkutan glukosa dan mengaktivasi reseptor kinase insulin.
Pemberian ekstrak kayu manis yang mengandung cinnamaldehyde dengan dosis 5-20
mg/kg/hari menurunkan glukosa darah dan meningkatkan insulin pada tikus yang
diinduksi streptozotosin (Iyer et al., 2009. Hasil studi oleh Mahmood et al. (2011)
menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kayu manis dengan dosis 200 mg/kgBB dan
400 mg/kgBB memberikan hasil yang signifikan terhadap penurunan kadar glukosa
tikus yang diinduksi aloksan. Penelitian ini juga didukung oleh hasil studi Khan et al.
(2014) yang menyatakan bahwa pemberian ekstrak kayu manis dosis 200 mg/kgBB
dan 600 mg/kgBB mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus. Selain itu,
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Alusinsing et al. (2014) menyatakan
bahwa ekstrak etanol 80% kulit batang kayu manis memiliki efek menurunkan kadar
gula darah pada tikus wistar jantan yang diinduksi sukrosa. Studi lainnya
menunujukkan bahwa ekstrak kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) mampu
menghambat lipopolisakarida dan memiliki peran sebagai antioksidan (Al-Dhubiab,
2012). Hal ini didukung studi yang dilakukan oleh Azima (2004) bahwa aktivitas
15

antioksidan ekstrak etanol kayu manis (Cinnamomum burmannii) lebih tinggi


dibanding dengan antioksidan α-tokoferol yang terkandung dalam vitamin E.

2.5 Kerangka Konseptual Penelitian

Ekstrak Etanol Kayu Manis Hiperglikemia


(Cinnamomum burmanii)

Stres oksidatif
Polifenol

Polyol pathway
Cynamaldehide dan cinnamic
acid
Sorbitol dan fruktosa 

Antioksidan eksogen
Aktivitas Na+ K+ ATP-ase 

Radical scavenger Kerusakan struktur dan


fungsi sel saraf

Menyumbangakan satu
elektron tidak berpasangan Neuropati diabetik

nn

Respon nyeri tikus 


Gambar 2.3 Kerangka konseptual penelitian
Keterangan:
: menghambat

Aloksan merupakan substrat yang secara struktural merupakan derivat


pirimidin sederhana bersifat toksik selektif terhadap sel beta pankreas yang
memproduksi insulin sehingga produksi insulin menurun dan kadar glukosa darah
16

tikus meningkat (hiperglikemi). Hiperglikemi akan memicu peningkatan stres


oksidatif melalui jalur polyol pathway dimana pada keadaan hiperglikemi konsentrasi
glukosa intrasel pada saraf perifer yang tidak tegantung insulin akan meningkat
sehingga akan terjadi pengaktivan jalur polyol pathway yaitu glukosa tersebut akan
diubah menjadi sorbitol oleh enzim aldose reduktase yang kemudian dioksidasi oleh
enzim sorbitol dehidrogenase menjadi fruktosa. Penumpukan sorbitol dan fruktosa ini
akan diikuti dengan penurunan mioinositol yang merupakan precursor fosfoinositid,
dimana fosfoinositid bertugas untuk mengaktifkan Na+ K+ ATP-ase sehingga apabila
kadar mioinositol menurun akan menyebabkan penurunan aktivitas Na+ K+ ATP-ase
yang akhirnya akan merusak struktur dan fungsi sel saraf yang berujung pada
neuropati diabetik. Hiperglikemi kronik juga akan menghasilkan radikal karboksil
melalui autooksidasi glukosa . Untuk menghambat pembentukan stres oksidatif dalam
tubuh, maka diperlukan antioksidan eksogen yang terdapat dalam kayu manis.
Ekstrak etanol kayu manis (Cinnamomum burmannii) diduga memiliki efek
antioksidan berupa senyawa polifenol yang terdiri dari cynamaldehide dan cinnamic
acid yang berperan sebagai radical scavenger dengan menyumbangkan satu elektron
tidak berpasangan dalam radikal bebas sehingga menghambat pembentukan radikal
bebas dalam tubuh. Akibatnya kadar glukosa darah tikus akan menurun dan sekaligus
memberikan efek terhadap komplikasi berupa neuropati diabetik yang ditunjukkan
melalui respon nyeri tikus meningkat.

2.6 Hipotesis Penelitian


Terdapat efek pemberian ekstrak etanol kayu manis (Cinnamomum
burmannii) terhadap neuropati diabetik pada tikus wistar hiperglikemi hasil induksi
aloksan.
BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah true experimental laboratories dengan rancangan
penelitian pretest posttest with control group design.

3.2 Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian pretest posttest with
control group design. Penilaian dilakukan pada saat pretest saat tikus belum
mendapatkan perlakuan apapun dan saat posttest yaitu setelah mendapat perlakuan
berupa pemberian ekstrak etanol kayu manis. Hasil penelitian dibandingkan antara
kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Secara sistematis rancangan
penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1.

K(-) X1, G1 Aquabidest G6, P1 G11, X6

K(+) X2, G2 Aloksan G7, P2 G12, X7


P R K1 X3, G3 Aloksan G8, P3 G13, X8
K2 X4, G4 Aloksan G9, P4 G14, X9
K3 X5, G5 Aloksan G10, P5 G15, X10
Gambar 3.1 Skema rancangan penelitian

Keterangan :
P : Populasi
R : Randomisasi
K(-) : Kelompok kontrol negatif
K(+) : Kelompok kontrol positif
K1 : Kelompok perlakuan 1
18

K2 : Kelompok perlakuan 2
K3 : Kelompok perlakuan 3
X1, X2, X3, X4, X5 : Respon nyeri tikus masing-masing kelompok sebelum
perlakuan
G1, G2, G3, G4, G5 : Kadar glukosa darah puasa tikus masing-masing kelompok
sebelum perlakuan
G6 : Kadar glukosa darah puasa K(-) setelah pemberian aquabidest
G7 : Kadar glukosa darah puasa K(+) setelah pemberian aloksan 100 mg/kgBB
G8 : Kadar glukosa darah puasa K1 setelah pemberian aloksan 100 mg/kgBB
G9 : Kadar glukosa darah puasa K2 setelah pemberian aloksan 100 mg/kgBB
G10 : Kadar glukosa darah puasa K3 setelah pemberian aloksan 100 mg/kgBB
P1 : Perlakuan terhadap K(-) (pemberian aquades)
P2 : Perlakuan terhadap K(+) (pemberian aquades)
P3 : Perlakuan terhadap K1 (pemberian ekstrak etanol kayu manis dosis 200
mg/kgBB)
P4 : Perlakuan terhadap K2 (pemberian ekstrak etanol kayu manis dosis 400
mg/kgBB)
P5 : Perlakuan terhadap K3 (pemberian ekstrak etanol kayu manis dosis 600
mg/kgBB)
G11 : Kadar glukosa darah puasa K(-) setelah perlakuan
G12 : Kadar glukosa darah puasa K(+) setelah perlakuan
G13 : Kadar glukosa darah puasa K1 setelah perlakuan
G14 : Kadar glukosa darah puasa K2 setelah perlakuan
G15 : Kadar glukosa darah puasa K3 setelah perlakuan
X6 : Respon nyeri tikus K(-) setelah perlakuan
X7 : Respon nyeri tikus K(+) setelah perlakuan
X8 : Respon nyeri tikus K1 setelah perlakuan
X9 : Respon nyeri tikus K2 setelah perlakuan
X10 : Respon nyeri tikus K3 setelah perlakuan
19

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi pada penelitian ini adalah tikus wistar jantan yang diperoleh dari
peternak tikus yang ada di Malang. Terdapat kriteria inklusi dan ekslusi yang
bertujuan untuk menentukan dapat tidaknya sampel tersebut digunakan. Kriteria
inklusi sampel penelitian meliputi: Rattus novergicus galur wistar jantan, tikus sehat
(bergerak aktif), umur 2-3 bulan, berat badan rata-rata 150-200 gram. Sedangkan
kriteria ekslusi meliputi tikus yang sakit, mati sebelum proses randomisasi, dan tikus
dengan kadar glukosa darah puasa kurang dari 180 mg/dl setelah induksi aloksan.
Sampel yang digunakan pada penelitian ini diambil dengan teknik random sederhana
(simple random sampling) dari populasi tikus wistar jantan yang kemudian akan
dibagi menjadi 5 kelompok. Besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini
ditentukan berdasarkan rumus Federer, yaitu:
(t-1) (r-1) ≥ 15
(t-1) (r-1) ≥ 15
(5-1) (r-1) ≥ 15
4 (r-1) ≥ 15
r ≥ 4,75 ≈ 5
Pada rumus tersebut, t adalah jumlah perlakuan dan r adalah banyaknya
replikasi setiap kelompok perlakuan. Jadi sampel yang digunakan pada penelitian ini
adalah 5 ekor tikus untuk 5 kelompok sehingga jumlah sampel yang digunakan
adalah 25 ekor tikus wistar.

3.4 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di tiga tempat, yaitu di Laboratorium Fisiologi dan
Farmakologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember untuk pemeliharaan tikus,
Laboratorium Biologi Fakultas Farmasi Universitas Jember untuk pembuatan ekstrak
etanol kayu manis, dan Laboratorium Biomedik Fakultas Farmasi Universitas Jember
untuk pemeriksaan neuropati diabetik tikus. Waktu pelaksanaan adalah bulan Oktober
2014.
20

3.5 Variabel Penelitian


3.5.1 Variabel Bebas
Variabel bebas penelitian ini adalah dosis pemberian ekstrak etanol kayu
manis (Cinnamomum burmannii) pada tikus wistar.

3.5.2 Variabel Terikat


Variabel terikat adalah neuropati diabetik.

3.5.3 Variabel Terkendali:


1. Usia tikus
2. Jenis kelamin (jantan)
3. Berat badan tikus
4. Dosis aloksan
5. Waktu dan lama perlakuan
6. Pemeliharaan tikus

3.6 Definisi Operasional


3.6.1 Kayu manis (Cinnamomum burmannii)
Kayu manis (Cinnamomum burmannii) yang digunakan adalah bubuk kayu
manis yang diekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 80%.
Ekstrak etanol kayu manis ini diberikan setiap hari kepada tikus secara peroral
melalui sonde lambung pada kelompok perlakuan pertama, kedua, dan ketiga dengan
dosis masing-masing 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB selama 7 hari.

3.6.2 Neuropati Diabetik


Neuropati diabetik merupakan kerusakan saraf sebagai komplikasi dari
diabetes melitus. Kerusakan saraf dapat diketahui dengan melakukan pengamatan
terhadap respon nyeri yang dinilai dengan melihat reaksi geliatan dari tikus yang
berupa menjilat telapak kaki atau melompat di dalam hot cold plate.
21

3.6.3 Usia Tikus


Ditentukan berkisar 2-3 bulan karena pada umur tersebut hewan coba telah
matur.

3.6.4 Jenis Kelamin Tikus


Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus wistar jantan
karena relatif lebih kuat dan tidak terganggu oleh kehamilan.

3.6.5 Aloksan
Dosis aloksan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 mg/kgBB yang
diinjeksikan secara intravena. Setelah 48 jam induksi aloksan, kadar glukosa darah
puasa tikus diukur dan tikus dengan diabetes melitus (KGD > 180 mg/dl) digunakan
untuk perlakuan selanjutnya (Bimo et al., 2013 dan Singh, 2008).

3.6.6 Waktu dan Lama Perlakuan


Perlakuan dilakukan pada saat hewan coba tenang atau telah diaklimatisasi
selama 1 minggu.

3.6.7 Pemeliharaan dan Perlakuan Hewan Coba


Pemeliharaan dan perawatan hewan coba di sebuah kandang berukuran 45 x
30 x 20 cm dan beralaskan sekam kering. Pada kandang kontrol negatif berisi 5 ekor
hewan coba, kontrol positif berisi 5 ekor hewan coba, dan kandang perlakuan 1, 2,
dan 3 masing-masing berisi 5 ekor hewan coba dengan pemberian makanan pellet dan
minum berupa aquades secara ad libitum pada semua kandang. Pemeriksaan kadar
glukosa darah puasa awal tikus sebelum perlakuan dilakukan pada hari ketujuh
setelah dipuasakan selama 6 jam dengan tujuan untuk memastikan hewan coba
memiliki kadar glukosa normal. Pemberian aloksan dilakukan pada hari kesepuluh
setelah hewan coba dipuasakan selama 4 jam, tikus wistar diinduksi dengan dosis 100
mg/kgBB secara intravena pada kandang kontrol positif, perlakuan 1, 2, dan 3,
22

sedangkan pada kandang kontrol negatif diberikan aquabidest. Segera setelah induksi
aloksan pada masing-masing kandang diberikan dextrose 5% secara ad libitum
selama 12 jam guna mencegah terjadinya hipoglikemi pada tikus. Setelah 48 jam
induksi aloksan, kadar glukosa darah tikus diukur menggunakan blood glucose test
strip dan tikus yang mengalami diabetes (KGD >180 mg/dl) digunakan untuk
perlakuan selanjutnya. Kemudian pada kandang perlakuan 1, 2, dan 3 diberikan
ekstrak etanol kayu manis dengan dosis masing-masing 200 mg/kgBB, 400
mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB peroral melalui sonde lambung selama 7 hari. Neuropati
diabetik pada hewan coba dinilai melalui pengamatan respon nyeri tikus dengan
memasukkan tikus dengan metode blinding ke dalam hot cold plate dengan suhu
diatur konstan 55 ± 1 oC yang kemudian dicatat waktu saat tikus memberikan respon
berupa menjilat atau mengangkat kaki, dilakukan pada saat pretest yaitu setelah
aklimatisasi dan belum mendapat perlakuan apapun serta pada saat posttest yaitu pada
hari 1, 3, 5, dan 7 saat pemberian ekstrak etanol kayu manis. Setelah pemberian
ekstrak etanol kayu manis selama 7 hari, kadar glukosa darah puasa tikus kembali
diukur pada hari kedua puluh.

3.7 Alat dan Bahan Penelitian


3.7.1 Alat Penelitian
1. Kandang hewan coba
2. Wadah makanan dan minuman hewan coba
4. Neraca ohaus
5. Alat sonde lambung
6. spuit 6 cc
7. Beaker gelas
8. Blood glucose test strip
9. Hot-cold plate

3.7.2 Bahan Penelitian


23

1. Pakan hewan coba


2. Alkohol 70%
3. Aquabidest
4. Aquades
5. Aloksan
6. Dextrose 5%
7. Etanol 80%
8. Bubuk kayu manis

3.8 Prosedur Penelitian


3.8.1 Adaptasi Hewan Coba
Sebelum penelitian dimulai, tikus wistar diadaptasikan terlebih dahulu selama
tujuh hari di Laboratorium Fisiologi dan Farmakologi Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember. Makanan dalam bentuk pellet dan minuman berupa aquades
diberikan secara ad libitum pada semua kandang.

3.8.2 Pembagian Kelompok dan Pengukuran Kadar Glukosa Awal Hewan Coba
Hewan coba yang telah diaklimatisasi akan dirandomisasi menjadi 5
kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus, diantaranya 2
kelompok kontrol yaitu kelompok kontrol positif dan kelompok kontrol negatif serta
3 kelompok perlakuan, yaitu kelompok perlakuan 1, 2, dan 3. Pada hari keenam
setelah dilakukan randomisasi, hewan coba dipuasakan selama 6 jam kemudian pada
hari ketujuh diukur kadar glukosa darah puasa dengan memotong pembuluh darah
ekor tikus 5 mm dari ujung yang sebelumnya sudah dibersihkan dengan alkohol 70%.
Tetesan darah diteteskan pada blood glucose strip, 10 detik kemudian angka pada
glukometer menunjukkan kadar glukosa darah puasa tikus. Kadar glukosa darah
puasa normal pada tikus memiliki rentang antara 50-135 mg/dl (Braslasu et al.,
2007).
24

3.8.3 Perlakuan Hewan Coba


a. Pembuatan Ekstrak Kayu Manis
Kayu manis yang digunakan adalah serbuk dari kulit kayu manis
(Cinnamomum burmannii) yang diperoleh dari PT. Materia Medica Kabupaten Batu,
Malang. Proses ekstraksi bahan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
metode maserasi dengan pelarut etanol 80%. Serbuk kayu manis ditimbang sebanyak
159 gram, kemudian direndam dengan 660 mL etanol 80% selama 3 hari. Selanjutnya
ekstrak disaring menggunakan kertas saring dan diperoleh filtrat. Selanjutnya filtrat
diuapkan dengan menggunakan rotatory evaporator pada suhu 50oC dan dilanjutkan
dengan pengentalan menggunakan waterbath sehingga menghasilkan ekstrak kental
sebanyak 66 gram.
b. Induksi Aloksan
Dua hari setelah pemeriksaan kadar glukosa darah awal, tikus kembali
dipuasakan selama 4 jam dengan tujuan mengosongkan lambung, kemudian K(+), K1,
K2, dan K3 diinduksi aloksan dengan dosis 100 mg/kgBB dengan pelarut aquabidest
yang diinjeksikan secara intravena. Perhitungan dosis ALS dapat dilihat pada
lampiran A. Sedangkan kelompok kontrol negatif diberi aquabidest secara intravena.
Segera setelah induksi aloksan pada masing-masing kandang diberikan dextrose 5%
secara ad libitum selama 12 jam guna mencegah terjadinya hipoglikemi pada tikus.
48 jam setelah induksi aloksan, hewan coba dipuasakan selama 6 jam kemudian
diukur kadar glukosa darah puasa dengan memotong pembuluh darah ekor tikus 5
mm dari ujung yang sebelumnya sudah dibersihkan dengan alkohol 70%. Tetesan
darah diteteskan pada blood glucose strip, 10 detik kemudian angka pada glukometer
menunjukkan kadar glukosa darah puasa tikus. Hewan coba dengan kadar glukosa
darah puasa lebih besar dari 180 mg/dl digunakan untuk perlakuan selanjutnya
(Singh, 2008).
c. Pemberian Ekstrak Kayu Manis
Tikus hiperglikemi pada kelompok perlakuan 1, 2, dan 3 diberi ekstrak etanol
kayu manis secara peroral melalui sonde lambung selama 7 hari dengan dosis
25

pemberian masing-masing 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB,


sedangkan kelompok kontrol negatif dan kontrol positif diberikan aquades secara
peroral melalui sonde lambung. Perhitungan dosis ekstrak kayu manis dapat dilihat
pada lampiran B

3.8.4 Pemeriksaan Respon Nyeri Hewan Coba


Respon rasa nyeri pada tikus wistar dilakukan dengan cara pengukuran
hiperalgesia dengan rangsangan panas (thermal stimulus) menggunakan metode Hot
Plate Test yaitu dengan memasukkan tikus ke dalam hot cold plate dengan metode
blinding, suhu diatur konstan 55 ± 1 oC kemudian diamati respon geliatan tikus
pertama kali yang berupa menjilat telapak kaki atau melompat dan dicatat waktunya
menggunakan stopwatch sebagai hasil pengukuran. Pengukuran dilakukan saat tikus
belum mendapat perlakuan apapun dan saat mendapat perlakuan berupa pemberian
ekstrak etanol kayu manis yaitu pada hari ke-1, ke-3, ke-5, dan ke-7.

3.9 Analisis Data


Data yang diperoleh diolah dan dilihat distribusi datanya normal atau tidak
dengan uji Shapiro-Wilk. Hasilnya semua sampel distribusi datanya normal,
kemudian dilakukan uji homogenitas untuk mengetahui apakah varians datanya sama
dan hasilnya ada data yang tidak homogen sehingga harus ditransformasi. Setelah
ditransformasi didapatkan varians data yang homogen. Selanjutnya dilakukan uji
beda dengan menggunakan statistik parametrik One Way Anova, didapatkan P < 0,05
kemudian dilanjutkan dengan uji Post Hoc untuk mengetahui beda antar kelompok
perlakuan.
26

3.10 Alur Penelitian

25 ekor tikus wistar

H 1-7 Aklimatisasi

Randomisasi

Pengukuran neuropati diabetik tikus (pretest )


H7
Cek kadar glukosa darah puasa awal

K(-) K(+) K1 K2 K3
H 10 Pemberian Aquabidest Pemberian Aloksan Pemberian Aloksan Pemberian Aloksan Pemberian Aloksan
0,2 ml 100 mg/kgBB 100 mg/kgBB 100 mg/kgBB 100 mg/kgBB

Cek kadar Cek kadar Cek kadar Cek kadar Cek kadar
H 12
glukosa darah glukosa darah glukosa darah glukosa darah glukosa darah

Pemberian ekstrak Pemberian ekstrak Pemberian ekstrak


etanol kayu manis etanol kayu manis etanol kayu manis
H 13-19
Aquades 1 ml 200 mg/kgBB 400 mg/kgBB 600 mg/kgBB

H 13, 15, Pengukuran neuropati diabetik tikus (posttest )


17, 19
Diamati geliatan respon nyeri tikus

H 20 Cek kadar glukosa darah setelah 7 hari terapi

Analisis Data

Hasil
Gambar 3.2 Skema alur penelitian

3.11 Etika Penelitian


Telah didapatkan Ethical Clearence dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Jember.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


4.1.1 Ekstraksi Kayu Manis
Kayu manis yang digunakan adalah serbuk dari kulit kayu manis
(Cinnamomum burmannii) yang diperoleh dari PT. Materia Medica Kabupaten Batu,
Malang. Proses ekstraksi bahan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
metode maserasi dengan pelarut etanol 80%. Serbuk kayu manis ditimbang sebanyak
159 gram, kemudian direndam dengan 660 mL etanol 80% selama 3 hari. Selanjutnya
ekstrak disaring menggunakan kertas saring dan diperoleh filtrat. Selanjutnya filtrat
diuapkan dengan menggunakan rotatory evaporator pada suhu 50oC dan dilanjutkan
dengan pengentalan menggunakan waterbath sehingga menghasilkan ekstrak kental
sebanyak 66 gram.

4.1.2 Pembuatan Tikus Model Hiperglikemi


Setelah aklimatisasi dilakukan pengukuran kadar glukosa darah puasa awal
pada masing-masing kelompok. Kelompok K(+), P1, P2, dan P3 diinduksi aloksan
dengan dosis 100 mg/kgBB yang dilarutkan aquabides secara intravena melalui vena
ekor tikus, kemudian diberikan minum berupa larutan glukosa 5% (D5) secara ad
libitum selama 12 jam pasca induksi aloksan. Sedangkan kelompok K(-) diinduksi
aquabides secara intravena melalui vena ekor tikus. Setelah 48 jam induksi aloksan,
kadar glukosa darah puasa diukur dengan glukometer. Hewan coba dengan kadar
glukosa darah puasa > 180 mg/dl digunakan untuk perlakuan selanjutnya (Bimo et
al., 2013 dan Singh, 2008).
Data kadar glukosa darah puasa sebelum induksi aloksan dan setelah induksi
aloksan dapat dilihat pada Lampiran C. Rata-rata kadar glukosa darah tikus
berdasarkan data tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1
28

Tabel 4.1 Rata-rata Kadar Glukosa Darah Puasa Sebelum dan Setelah Induksi Aloksan

Kelompok KGDP sebelum KGDP setelah


mg/dl mg/dl
Kontrol (-) 117,2 118,2
Kontrol (+) 117,2 401,2
Perlakuan 1 99,6 382,0
Perlakuan 2 104,0 476,0
Perlakuan 3 107,0 429,8

Berdasarkan data rata-rata kadar glukosa darah puasa sebelum dan sesudah
induksi aloksan tersebut dapat digambarkan melalui grafik yang ditunjukkan pada
Gambar 4.1
500
476
450
429.8
rata-rata kadar glukosa darah puasa

400 401.2
382
350
K(-)
300
(mg/dl)

K(+)
250
P1
200
P2
117.2
150 118.2
117.2 P3
100 104 99.6
107
50
0
Hari ke-1 Hari ke-3
hari

Gambar 4.1 Grafik Rata-rata Kadar Glukosa Darah Puasa Sebelum dan Sesudah Induksi ALS

Berdasarkan data, menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa darah puasa


tikus sebelum induksi aloksan pada seluruh kelompok dibawah 126 mg/dl. Hal ini
menunjukkan bahwa sebelum diinduksi aloksan seluruh tikus memiliki kadar glukosa
darah normal (Braslasu et al., 2007). Setelah induksi aloksan terjadi peningkatan
kadar glukosa darah pada seluruh kelompok lebih dari 180 mg/dl (Bimo et al., 2013
29

dan Singh, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa induksi aloksan mampu menyebabkan
peningkatan kadar glukosa darah.

4.1.3 Perlakuan pada Hewan Coba


Sampel penelitian yaitu 25 ekor tikus Wistar jantan yang diberikan perlakuan
sesuai kelompok masing-masing selama 7 hari dan diukur neuropati diabetik hewan
coba menggunakan metode thermal hyperalgesia yaitu dengan menilai respon nyeri
tikus yang dilakukan pada saat pretest yaitu sebelum mendapat perlakuan dan pada
saat posttest yaitu pada hari ke-1, ke-3, ke-5, dan ke-7 selama perlakuan. Setelah 7
hari pemberian ekstrak etanol kayu manis, masing-masing kelompok perlakuan
diperiksa kadar glukosa darah puasa. Data kadar glukosa darah puasa dari masing-
masing kelompok dapat dilihat pada lampiran C. Rata-rata kadar glukosa darah puasa
sebelum dan setelah pemberian ekstrak kayu manis berdasarkan data tersebut dapat
dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Rata-rata Kadar Glukosa Darah Puasa Sebelum dan Setelah Pemberian Ekstrak
Kayu Manis
Kelompok KGDP sebelum KGDP setelah
mg/dl mg/dl
Kontrol (-) 118,2 106,6
Kontrol (+) 401,2 482,4
Perlakuan 1 382,0 239,0
Perlakuan 2 476,0 297,0
Perlakuan 3 429,8 287,8

Berdasarkan data rata-rata kadar glukosa darah puasa sebelum dan setelah
pemberian ekstrak kayu manis tersebut dapat digambarkan secara histogram yang
ditunjukkan pada Gambar 4.2.
30

600
Rata-rata
482.4 476
500 KGDP setelah
rata-rata KGDP (mg/dl)

420.8 induksi ALS


401.2 382
400
297 287.8
300 rata-rata
239
KGDP setelah
200 pemberian
118.2 106.6 ekstrak kayu
100 manis

0
K(-) K(+) P1 P2 P3
kelompok perlakuan

Gambar 4.2 Grafik Rata-Rata Kadar Glukosa Darah Puasa Sebelum dan Sesudah Pemberian
Ekstrak Kayu Manis

Data neuropati diabetik yang berupa respon nyeri tikus dari masing-masing
kelompok dapat dilihat pada Lampiran D. Rata-rata respon nyeri tikus berdasarkan
data tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Rata-rata Respon Nyeri Tikus Kelompok Perlakuan
Kelompok Sebelum induksi Setelah induksi
(detik ± SD) (detik ± SD)
Hari ke-1 Hari ke-3 Hari ke-5 Hari ke-7
K(+) 5,64 ± 1,08 3,72 ± 0,31 3,28 ± 0,29 3,66 ± 0,29 3,34 ± 0,23
K(-) 5,08 ± 0,71 5,04 ± 0,56 4,58 ± 0,28 4,72 ± 0,26 4,86 ± 0,45
P1 5,34 ± 0,72 3,38 ± 0,20 4,24 ± 0,16 4,28 ± 0,21 4,48 ± 0,21
P2 5,18 ± 0,67 3,64 ± 0,35 3,76 ± 0,49 4,44 ± 0,52 4,56 ± 0,20
P3 4,82 ± 0,36 3,38 ± 0,21 3,76 ± 0,28 4,16 ± 0,36 4,68 ± 0,63

Berdasarkan data rata-rata neuropati diabetik tersebut dapat digambarkan


melalui grafik yang ditunjukkan pada Gambar 4.3.
31

Rata-Rata Neuropati Diabetik (detik)


6

5.64
5.5
5.34
5.04
5.18
5 5.08 4.72 4.86
4.58 4.68
4.82
4.5 4.56
4.44
4.48
4.24 4.28
4 4.16
3.72
3.76
3.76
3.5 3.64
3.66
3.34
3.38 3.28
3
Sebelum Induksi Hari 1 Hari 3 Hari 5 Hari 7

K(+) K(-) P1 P2 P3

Gambar 4.3 Grafik Rata-Rata Respon Nyeri Tikus Kelompok Perlakuan

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa nilai rata-rata respon nyeri tikus
sebelum induksi aloksan masing-masing kelompok yaitu K(+) 5,64 detik, K(-) 5,08
detik, P1 5,34 detik, P2 5,18 detik, dan P3 4,82 detik. Data sebelum induksi aloksan
menunjukkan respon nyeri tikus normal. Nilai rata-rata respon nyeri tikus setelah
induksi aloksan pada hari ke-1 pada masing-masing kelompok yaitu K(+) 3,72, detik,
K(-) 5,04 detik, P1 3,38 detik, P2 3,64 detik, dan P3 3,38 detik. Pada hari ke-3 K(+)
3,28 detik, K(-) 4,58 detik, P1 4,24 detik, P2 3,76 detik, dan P3 3,76 detik. Respon
nyeri tikus pada hari ke-5 K(+) 3,66 detik, K(-) 4,72 detik, P1 4,28 detik, P2 4,44
detik, dan P3 4,16 detik. Pada hari ke-7 K(+) 3,34 detik, K(-) 4,86 detik, P1 4,48 detik,
P2 4,56 detik, dan P3 4,68 detik. Nilai rata-rata respon nyeri tikus pada hari ke-7
menunjukkan bahwa kelompok P1, P2, dan P3 memiliki nilai yang hampir sama
dengan kelompok K(-) dan berbeda dengan kelompok K(+).
32

4.2 Analisis Data


Data neuropati diabetik tiap-tiap kelompok sebelum induksi aloksan dan
setelah induksi aloksan pada hari ke-1, ke-3, ke-5, dan ke-7 pemberian terapi ekstrak
etanol kayu manis dianalisis normalitas dan homogenitasnya. Data dikatakan
terdistribusi secara normal dan homogen jika memiliki signifikansi lebih dari 0,05.
Uji normalitas yang digunakan pada analisis data penelitian ini adalah uji Shapiro
Wilk karena sampel yang digunakan kecil (≤ 50). Hasil uji normalitas dan
homogenitas dapat dilihat pada Lampiran E. Hasil uji normalitas dan homogenitas
memiliki signifikansi lebih besar dari 0,05. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat
disimpulkan bahwa distribusi kelima kelompok data adalah normal dan tidak ada
perbedaan varians antara kelompok data yang dibandingkan/ varians data adalah
sama.
Data yang memiliki distribusi normal dan homogenitas dianalisis dengan
menggunakan metode One Way Anova (Analysis of Variance). Derajat kemaknaan
yang dipakai adalah 95% (α=0,05) karena didasari adanya faktor-faktor biologis pada
tikus yang mempengaruhi hasil. Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05
menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan. Hasil uji One
Way Anova dapat dilihat pada Lampiran E. Berdasarkan hasil uji One Way Anova
diperoleh nilai p=0,000 yang artinya paling tidak terdapat perbedaan neuropati
diabetik yang signifikan antara kelima kelompok perlakuan.
Hasil analisis One Way ANOVA dilanjutkan dengan analisis menggunakan
LSD (Least Significantly Difference) untuk mengetahui adanya perbedaan secara
signifikan antar kelompok perlakuan. Hasil Uji One Way ANOVA yang dilanjutkan
dengan LSD dapat dilihat pada lampiran E. Secara singkat, hasil analisis neuropati
diabetik dengan uji LSD pada hari ke-1, ke-3, ke-5, dan ke-7 dapat dilihat pada tabel
4.4, tabel 4.5, tabel 4.6, dan tabel 4.7.
33

Tabel 4.4 Hasil LSD Neuropati Diabetik pada Hari ke-1


Kelompok Dosis Dosis Dosis 600
K(+) K(-)
Perlakuan 200 (P1) 400 (P2) (P3)
K(+) * 0.000* 0.084 0.663 0.083
K(-) 0.000* * 0.000* 0.000* 0.000*
Dosis 200 (P1) 0.084 0.000* 0.185 0.995
Dosis 400 (P2) 0.663 0.000* 0.185 0.183
Dosis 600 (P3) 0.083 0.000* 0.995 0.183
Keterangan:
* : berbeda secara bermakna

Dari data hasil uji LSD neuropati diabetik hari ke-1 menunjukkan bahwa
kelompok K(+) berbeda signifikan dengan kelompok K(-), tetapi tidak terdapat
perbedaan yang signifikan dengan kelompok P1, P2, dan P3. K(-) berbeda signifikan
dengan K(+), kelompok kelompok P1, P2, dan P3. Neuropati diabetik antara kelompok
P1, P2, dan P3 tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Tabel 4.5 Hasil LSD Neuropati Diabetik pada Hari ke-3
Kelompok Dosis Dosis Dosis 600
K(+) K(-)
Perlakuan 200 (P1) 400 (P2) (P3)
K(+) * 0.000* 0.000* 0.030* 0.030*
K(-) 0.000* * 0.114 0.001* 0.001*
Dosis 200 (P1) 0.000* 0.114 0.030* 0.030*
Dosis 400 (P2) 0.030* 0.001* 0.030* 1.000
Dosis 600 (P3) 0.030* 0.001* 0.030* 1.000
Keterangan:
* : berbeda secara bermakna

Dari data hasil uji LSD neuropati diabetik hari ke-3 menunjukkan bahwa K(+)
berbeda signifikan dengan K(-) dan kelompok P1, P2, dan P3. K(-) berbeda signifikan
dengan K(+), kelompok P2 dan P3, tetapi tidak ada perbedaan signifikan dengan
34

kelompok P1. Terdapat perbedaan signifikan antara kelompok P1, P2, dan P3, tetapi
antara kelompok P2 dan P3 tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Tabel 4.6 Hasil LSD Neuropati Diabetik pada Hari ke-5
Kelompok Dosis Dosis Dosis 600
K(+) K(-)
Perlakuan 200 (P1) 400 (P2) (P3)
K(+) * 0.000* 0.008* 0.002* 0.028*
K(-) 0.000* * 0.067 0.220 0.021*
Dosis 200 (P1) 0.008* 0.067 0.508 0.577
Dosis 400 (P2) 0.002* 0.020 0.508 0.229
Dosis 600 (P3) 0.028* 0.021* 0.577 0.229
Keterangan:
* : berbeda secara bermakna

Dari data hasil uji LSD neuropati diabetik hari ke-5 menunjukkan bahwa K(+)
berbeda signifikan dengan K(-) dan kelompok P1, P2, dan P3. K(-) berbeda signifikan
dengan K(+) dan kelompok P3, tetapi tidak ada perbedaan signifikan dengan
kelompok P1 dan P2.
Tabel 4.7 Hasil LSD Neuropati Diabetik pada Hari ke-7
Kelompok Dosis Dosis Dosis
K(+) K(-)
Perlakuan 200 (P1) 400 (P2) 600 (P3)
K(+) 0.000* 0.000* 0.000* 0.000*
K(-) 0.000* 0.137 0.236 0.472
Dosis 200 (P1) 0.000* 0.137 0.748 0.425
Dosis 400 (P2) 0.000* 0.236 0.748 0.630
Dosis 600 (P3) 0.000* 0.472 0.425 0.630
Keterangan:
* : berbeda secara bermakna

Dari data hasil uji LSD neuropati diabetik hari ke-7 menunjukkan bahwa K(+)
berbeda signifikan dengan K(-) dan kelompok P1, P2, dan P3. K(-) berbeda signifikan
35

dengan K(+), tetapi tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok P1, P2, dan P3.
Neuropati diabetik antara kelompok P1, P2, dan P3 tidak terdapat perbedaan yang
signifikan.

4.3 Pembahasan
Hasil uji One Way Anova untuk neuropati diabetik menunjukkan signifikansi
0,000 (p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan secara bermakna neuropati diabetik
antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Selanjutnya, uji hipotesis dapat
dilanjutkan dengan uji analisis Post Hoc dengan metode LSD. Hasil uji ini pada hari
ke-1 belum menunjukkan adanya peningkatan respon tikus dengan pemberian terapi
ekstrak etanol kayu manis dosis 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB.
Pada hari ke-3 mulai terlihat adanya peningkatan respon tikus pada terapi pemberian
ekstrak etanol kayu manis dosis 200 mg/kgBB sedangkan pada dosis 400 mg/kgBB
dan dosis 600 mg/kgBB belum terlihat adanya peningkatan. Pada hari ke-5 terjadi
peningkatan respon tikus pada terapi pemberian ekstrak etanol kayu manis dosis 200
mg/kgBB dan dosis 400 mg/kgBB sedangkan pada dosis 600 mg/kgBB belum
menunjukkan adanya peningkatan. Pada hari ke-7 terjadi peningkatan respon tikus
pada terapi pemberian ekstrak etanol kayu manis dosis 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB,
dan 600 mg/kgBB. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol
kayu manis dengan dosis 200 mg/kgBB memberikan efek peningkatan respon tikus
dengan jangka waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan pemberian dosis 400
mg/kgBB dan 600 mg/kgBB serta terapi pemberian ekstrak etanol kayu manis dengan
tiga variasi dosis tersebut dapat mengatasi stres oksidatif yang terjadi pada neuropati
diabetik.
Stres oksidatif yang ditandai dengan peningkatan radikal bebas menjadi
masalah pada diabetes melitus dengan komplikasi kronis berupa neuropati diabetik
karena menyebabkan kerusakan sel-sel saraf dan diduga berhubungan dengan
peningkatan superoksida.
36

Senyawa antioksidan yang terdapat pada kayu manis (Cinnamomum


burmannii) adalah polifenol dimana antioksidan tersebut didapatkan pada ekstrak
etanol kayu manis. Hal ini juga didukung studi yang dilakukan oleh Azima 2004
bahwa aktivitas antioksidan ekstrak etanol kayu manis (Cinnamomum burmannii)
lebih tinggi dibanding dengan antioksidan α-tokoferol yang terkandung dalam
vitamin E. Mekanisme antioksidan kayu manis adalah melalui donor atom hidrogen
dari gugus hidroksil sehingga menghentikan reaksi oksidasi berantai pembentukan
radikal bebas (Bimo, 2013). Senyawa antioksidan tersebut dapat dimanfaatkan untuk
mencegah kerusakan oksidatif pada sel-sel saraf yang dilakukan dengan menguji
thermal hyperalgesi hewan coba.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan rata-rata respon nyeri tikus neuropati
diabetik pada kelompok kontrol negatif hari ke-1, ke-3, ke-5, dan ke-7 adalah 5,04
detik, 4,58 detik, 4,73 detik, 4,86 detik. Apabila dibandingkan dengan kelompok
kontrol positif yang diinduksi aloksan 100 mg/kgBB menunjukkan adanya penurunan
respon nyeri tikus. Rata-rata respon nyeri tikus pada kelompok kontrol positif adalah
3,72 detik, 3,28 detik, 3,66 detik, 3,34 detik. Nilai signifikansi antara kelompok
kontrol negatif dan kelompok kontrol positif menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan (0,000). Dari uraian diatas, respon nyeri kelompok kontrol positif lebih
rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Hal ini menunjukkan bahwa
aloksan yang diinduksikan membuat tikus hiperglikemi dan menyebabkan komplikasi
berupa neuropati diabetik akibat penumpukan radikal bebas dalam sel-sel saraf.
Kelompok kontrol positif apabila dibandingkan dengan kelompok perlakuan
dosis 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB dan 600 mg/kgBB tidak memiliki perbedaan yang
signifikan pada hari ke-1 terapi pemberian ekstrak etanol kayu manis dimana nilai
signifikan kedua kelompok sebesar (α>0,05). Nilai rata-rata respon nyeri tikus pada
kelompok kontrol positif adalah 3,72 detik, sedangkan pada kelompok perlakuan
dosis 200 mg/kgBB, dosis 400 mg/kgBB, dan dosis 600 mg/kgBB yaitu masing-
masing sebesar 3,38 detik, 3,64 detik, dan 3,38 detik. Sebaliknya perbandingan antara
kelompok kontrol positif dengan kelompok perlakuan dosis 200 mg/kgBB, 400
37

mg/kgBB dan 600 mg/kgBB pada hari ke-3, ke-5, dan ke-7 memiliki perbedaan yang
signifikan. Nilai signifikan kedua kelompok sebesar 0,000 (α<0,05). Tikus yang
diberikan ekstrak etanol kayu manis dengan dosis 200 mg/kgBB memiliki rata-rata
respon nyeri 4,24 detik pada hari ketiga, 4,28 detik pada hari kelima, dan 4,48 detik
pada hari ketujuh. Tikus yang diberikan ekstrak etanol kayu manis dengan dosis 400
mg/kgBB memiliki rata-rata respon 4,44 detik pada hari kelima dan 4,56 detik pada
hari ketujuh. Tikus yang diberikan ekstrak etanol kayu manis dengan dosis 600
mg/kgBB memiliki rata-rata respon 4,68 detik pada hari ketujuh. Data tersebut
menunjukkan bahwa ekstrak etanol kayu manis belum memberikan efek terhadap
tikus neuropati diabetik pada hari ke-1, tetapi mampu meningkatkan respon nyeri
tikus neuropati diabetik secara signifikan pada hari ke-3, ke-5, dan ke-7. Hal ini
disebabkan karena rantai radikal bebas pada sel-sel saraf akibat diabetes melitus
mampu diputus oleh ekstrak etanol kayu manis yang berperan sebagai radical
scavenger melalui donor atom hidrogen dari gugus hidroksil flavonoid sehingga
menghasilkan radikal stabil dan mencegah kerusakan sel-sel saraf akibat stress
oksidatif (Bimo, 2013).
Kelompok kontrol negatif apabila dibandingkan dengan kelompok perlakuan
dosis 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB dan 600 mg/kgBB memiliki perbedaan yang
signifikan pada hari ke-1 pemberian terapi ekstrak etanol kayu manis. Nilai signifikan
kedua kelompok sebesar 0,000 (α<0,05). Sedangkan kelompok kontrol negatif
apabila dibandingkan dengan kelompok perlakuan dosis 200 mg/kgBB, 400
mg/kgBB dan 600 mg/kgBB tidak memiliki perbedaan signifikan pada hari ke-7
pemberian terapi ekstrak etanol kayu manis. Rata-rata respon nyeri tikus kelompok
kontrol negatif adalah 4,86 detik dan kelompok perlakuan dosis 200 mg/kgBB, 400
mg/kgBB dan 600 mg/kgBB masing-masing sebesar 4,48 detik, 4,56 detik, dan 4,68
detik. Nilai signifikansi antara kedua kelompok tersebut adalah (α>0,05). Hal ini
menunjukkan bahwa pemberian eskstrak etanol kayu manis dengan dosis 200
mg/kgBB, 400 mg/kgBB dan 600 mg/kgBB memberikan efek terhadap tikus
hiperglikemi dengan komplikasi neuropati diabetik dimana ekstrak kayu manis
38

memiliki kandungan antioksidan berupa polifenol dengan mengurangi stres oksidatif


yang terjadi pada sel-sel saraf.
Rata-rata respon nyeri tikus yang diukur saat sebelum induksi aloksan pada
masing-masing kelompok yaitu kelompok kontrol positif 5,64 detik, kontrol negatif
5,08 detik, perlakuan dosis 200 mg/kgBB 5,34 detik, perlakuan dosis 400 mg/kgBB
5,18 detik, dan perlakuan dosis 600 mg/kgBB 4,82 detik. Sedangkan rata-rata respon
nyeri setelah induksi aloksan yaitu setelah mendapatkan perlakuan selama 7 hari pada
masing-masing kelompok yaitu kelompok kontrol positif 3,34 detik, kontrol negatif
4,86 detik, perlakuan dosis 200 mg/kgBB 4,48 detik, perlakuan dosis 400 mg/kgBB
4,56 detik, dan perlakuan dosis 600 mg/kgBB 4,68 detik. Hal ini menunjukkan bahwa
induksi aloksan berhasil membuat tikus mengalami neuropati diabetik dimana
terdapat perbedaan yang bermakna pada respon nyeri kelompok kontrol positif
sebelum induksi dan setelah induksi. Pada kelompok perlakuan dosis 200 mg/kgBB,
400 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB menunjukkan respon nyeri yang hampir sama pada
saat sebelum induksi aloksan dan setelah mendapatkan terapi ekstrak kayu manis
selama 7 hari, ini menandakan bahwa antioksidan dalam ekstrak etanol kayu manis
memiliki efek dalam menurunkan stress oksidatif akibat neuropati diabetik sehingga
memperbaiki respon nyeri tikus.
Dari data-data di atas, diketahui bahwa ekstrak etanol kayu manis memiliki
efek sebagai antioksidan dengan mampu meningkatkan respon tikus wistar neuropati
diabetik. Kandungan antioksidan pada ekstrak etanol kayu manis berpotensi
melindungi sel-sel saraf dari kerusakan oksidatif. Senyawa polifenol yang bertindak
sebagai antioksidan akan bekerja dengan cara mentransfer atom hidrogen atau donor
elektron sehingga terbentuk senyawa yang stabil dan tidak reaktif. Jika telah
terbentuk senyawa yang tidak reaktif maka senyawa radikal bebas tidak lagi bereaksi
dengan sel-sel saraf dan dapat mempertahankan nutrisi dari sel-sel saraf sehingga
dapat menimimalkan kerusakan pada sel-sel saraf akibat neuropati diabetik.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat
efek pemberian ekstrak etanol kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap
neuropati diabetik pada tikus wistar hiperglikemi hasil induksi aloksan.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji efektifitas ekstrak etanol
kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap neuropati diabetik melalui
isolasi cynnamaldehide.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai waktu optimal pemberian
ekstrak etanol kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap neuropati
diabetik.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek kombinasi antara ekstrak
etanol kayu manis (Cinnamomum burmannii) dan obat antidibetik oral sebagai
terapi pada neuropati diabetik.
40

DAFTAR PUSTAKA

Al-Dhubiab, B.E. 2012. Pharmaceutical applications and phytochemical profile of


Cinnamomum burmannii. Pharmacogn Rev. Vol 6(12): 125–131.

Alusinsing, G., Bodhi, W., Sudewi, S. 2014. Uji Efektivitas Kulit Batang Kayu Manis
(Cinnamomum burmannii) Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Tikus Putih
Jantan Galur Wistar (Rattus novergicus) yang Diinduksi Sukrosa. Jurnal Ilmiah
Farmasi-UNSRAT. Vol 3 No. 3.

Ametov, A.S., Barinov, A., Dyck, P.J., et al. 2003. The sensory symptoms of diabetic
polyneuropathy are improved with alpha lipoic acid. Diabetes Care. Vol 26: 770-
776.

Azima, F., Muchtadi, D., Zakaria, F.R., Priosoeryanto, B.P. 2004. Potensi Anti-
Hiperkolesterolemia Ekstrak Cassia vera (Cinnamomum burmannii Nees ex
Blume). Jurnal Teknol. Dan Industri Pangan. Vol 15(2): 145-152.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar


(RISKESDAS) 2007. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2007.

Bansal, V., Kalita, J., Misra, U.K. 2006. Diabetic Neuropathy. Postgrad Med J. Vol
82: 95-100.

Bhatti, R., Rawal, S., Singh, J., Ishar, M.P.S. 2012. Effect of Aegle marmelos Leaf
Extract Treatment on Diabetic Neuropathy in Rats: A Possible Involvement of A2
Adrenoceptors. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical
Sciences. Vol 4(3): 632-637.

Bimo, B.A., Fadli, Z., Sulistyowati, E. 2013. Efek Ekstrak Kayu Manis
(Cinnamomum burmannii) Terhadap Kadar SOD dan MDA Jaringan Pankreas
Tikus yang Diinduksi Aloksan. Program Studi Pendidikan Dokter. Universitas
Islam Malang.

Bisht, S., Sisodia, S.S. 2011. Assessment of antidiabetic potential of Cinnamomum


tamala leaves extract in streptozotocin induced diabetic rats. Indian Journal of
Pharmacology. Vol.43(5): 582-585.

Boulton, A.J., Vinik, A.I., Arezo, J.C., et al. 2005. Diabetic neuropathies, a statement
by American diabetes association. Diabetes Care. Vol 28(4): 956-962.
41

Braslasu, M.C., Braslasu E.D., Bradaian, C., Savulescu, I., et al. 2007. Experimental
Studies Regarding the Diabetes Mellitus Induced in White Wistar Rats. Lucrari
Stiinifice Medicina Veterinara. Vol XL.

Bril, V., Perkins, B., Toth, C. 2013. Neuropathy. Can J Diabetes. Vol 37: S142-S144.

Chitra, V., Varma, V. K. R., Raju, K., and Prakash, K. J. 2010. Study of Antidiabetic
and Free Radical Scavenging Activity of the Seed Extract of Strychnos
nuxvomica. Int J of Pharm and Pharmaceutical Scie. Vol. 2: 106-110.

Dobretsov, M., Romanosky D., Stimer, J.R. 2007. Early Diabetic Neuropathy:
Trigger and Mechanisms. World J Gastroenterol. Vol 13:175-191.

Dubby, J.J., Campbell, R.K., Setter, S.M., White, J.R., Rasmussen, K.A. 2004.
Diabetic Neuropathy an Intensive Review. Am J Health-Sys Pharm. Vol 61:160-
176.

Farmer, K.L., Li, C., Dobrowsky, R.T. 2012. Diabetic Peripheral Neuropathy: Should
a Chaperone Accompany Our Therapeutic Approach. Pharmacol Rev. Vol 64:
880–900.

Fowler, M.J. 2008. Microvascular and Macrovascular Complications of Diabetes.


Clinical Diabetes Journal. Vol 26(2): 77-82.

Ghorbani, A., Shafiee-Nick, R., Rakhshandeh, H., Borji, A. 2013. Antihyperlipidemic


Effect of a Polyherbal Mixture in Streptozotocin-Induced Diabetic Rats. Journal
of Lipids. Volume 2013 Article ID 675759: 6 pages.

Iyer, A., Panchal, S., Poudyal, H., Brown, L. 2009. Potential Health Benefit of Indian
Spices in the Symptoms of the Metabolic Syndromes. Indian Journal of
Biochemistry & Biophysics. Vol. 46: 467-481.

Juarez-Rojop, I.E., Diaz-Zagoya, J.C., Ble-Castillo, J.L. 2012. Hypoglycemic effect


of Carica papaya leaves in streptozotocin-induced diabetic rats. BMC
Complement Altern Med 2012; 12:236.

Kaleem, M., Asif, M., Ahmed, Q.U., Bano, B. 2006. Antidiabetic and antioxidant
activity of Annona squamosal extract in streptozotocin-induced diabetic rats.
Singapore Medical Journal. Vol 47: 670-675.

Khan, M. S., Qureshi, A., Kazi, S. A., et al. 2014. Effects of Cinnamon Extract in
Diabetic Rat Models in Comparison with Oral Hypoglicemic Drugs. Professional
Med J. Vol 21(4): 717-722.
42

Lenzen, S. 2008. The Mechanism of Alloxan and Streptozotocin Induced Diabetes.


http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18087688 [ 8 Agustus 2014].

Mahmood, S., Aisha, T., Sabina, K., Rushana, K., Aza., Z. 2011. Effect of Cinnamon
extract on blood glucose level and lipid profile in alloxan induced diabetic rat.
Pak J Physiol. Vol 7: 13-16.

Morani, A.S. and Bodhankar, S.L. 2007. Neuroprotective effect of early treatment
with pioglitazone and pyridoxine hydrochloride in alloxan induced diabetes in
rats. Pharmacologyonline, 2: 418-428.

Niu, C.S., Chen, L.J., Niu, H.S. 2014. Antihyperglycemic action of rhodiola-aqeous
extract in type1-like diabetic rats. BMC Complement Altern Med 2014; 14:20.

Panjuantiningrum, F. 2009. Pengaruh Pemberian Buah Naga Merah (Hylocereus


polyrhizus) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Putih yang Diinduksi Aloksan.
Fakultas Kedokteran. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Purnyami, Utomo, M.,Astuti, R. 2011. Hubungan Antara Faktor Karakteristik, Profil


Lipid dan Hipertensi dengan Penyakit Jantung Koroner pada Penderita Diabetes
Mellitus di Rumah Sakit Tentara Semarang. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang.

Rohilla, A., Ali, S. 2012. Alloxan Induced Diabetes: Mechanisms and Effects.
International Journal of Research in Pharmaceutical and Biomedical Sciences.
Vol 3 (2): 819-823.

Rohmah, M. 2010. Aktifitas Antioksidan Pada Campuran Kopi Robusta (Coffea


cannephora) dengan Kayu Manis (Cinnamomun burmanii). Jurnal Teknologi
Pertanian. Vol. 6 (2): 50-54.

Sadeli, H.A. 2008. Nyeri Neuroapti Diabetika. Yogyakarta: Medigama Press 2008:
77-90.

Sharma, N., Garg, V. and Paul, A. 2010. Antihyperglycemic, Antihyperlipidemic and


Antioxidative Potential of Prosopis Cinerraria Bark. Indian Journal of Clinical
Biochemistry. Vol. 25 (2): 193-200.

Singh, A.B., Chaturvedi, J.P., Narender, T., Srivastava, A.K. 2008. Preliminary
Studies on The Hipoglycemic Effect of Peganum Harmala L. Seeds Ethanol
Extract on Normal And Streptozotocin Induced Diabetic Rats. Indian Journal of
Clinical Biochemistry. Vol 23 (4): 391-393.
43

Sjahrir, H. 2006. Diabetic Neuropathy: The Pathoneubiology & Treatment Update.


Medan: USU Press.

Smeltzer, C. Suzanne, Bare G. Brenda., 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal –


Bedah. Alih Bahasa: dr. H. Y. Kuncara. Jakarta: EGC.

Soni, R. and Bhatnagar, V. 2009. Effect of Cinnamon (Cinnamomum cassia)


Intervention on Blood Glucose of Middle Aged Adult Male with Non Insulin
Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Ethno-Med. Vol. 3 (2): 141-144.

Sriram, S.M., Kim, B.Y., Kwon, Y.T. 2011. The N-end rule pathway: emerging
functions and molecular principles of substrate recognition. Nat Rev Mol Cell
Biol. Vol 12(11): 735-47.

Srivastata, S.K., Raman, K.V., Bhatnagar, A. 2005. Role of Aldose Reductase and
Oxidative Damage in Diabetes and Consequent Potential for Therapeutic
Options. Endocer Rev. Vol 25: 612-628.

Studiawan, H. dan Santosa, M. H. 2005. Uji Aktivitas Penurun Kadar Glukosa Darah
Ekstrak Daun Eugenia polyantha pada Mencit yang Diinduksi Aloksan. Media
Kedokteran Hewan. Vol. 21 (2): 62-65.

Vincent, A.M., Russell, J.W., Low, P., Feldman, E.L. Oxidative Stress in the
Pathogenesis of Diabetic Neuropathy. Endocr Rev. Vol 25(4): 612-628.

Yuriska, A. 2009. Efek Aloksan Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar.
http://eprints.undip.ac.id/7527/1/adhita_yuriska_f.pdf [12 Agustus 2014].
44

LAMPIRAN

Lampiran A. Perhitungan Dosis Aloksan


Dosis aloksan 100 mg/kgBB
Kebutuhan aloksan untuk 1 ekor tikus
a. Untuk BB 150 gram = 0,1 mg/gBB x 150 g
= 15 gram aloksan dilarutkan dengan aquabides 0,15 ml
= 15g / 0,15 ml

b. Untuk BB 200 gram = 0,1 mg/gBB x 200 g


= 20 gram aloksan dilarutkan dengan aquabides 0,20 ml
= 20 g / 0,2 ml
45

Lampiran B. Perhitungan Dosis Ekstrak Kayu Manis


1. Dosis 200 mg/kgBB
0,2 mg/mgBB kayu manis  0,01 ml aquades
200 mg/kgBB kayu manis  10 ml aquades
a. Untuk 5 ekor tikus, BB 150 gram
 Volume yg dibuat
= ∑ 𝑡𝑖𝑘𝑢𝑠 x Vol.pemberian x BB rata-rata x lama pemberian
= 5 x 0,01 ml x 150 g x 1
= 7,5 ml
Jadi 1 ekor tikus, dosis peroral yang diberikan 1,5 ml dengan dosis 200mg.
b. Untuk 5 ekor tikus, BB 200 gram
 Volume yg dibuat
= ∑ 𝑡𝑖𝑘𝑢𝑠 x Vol.pemberian x BB rata-rata x lama pemberian
= 5 x 0,01 ml x 200 g x 1
= 10 ml
Jadi 1 ekor tikus, dosis peroral yang diberikan 2 ml dengan dosis 200mg.

2. Dosis 400 mg/kgBB


0,4 mg/mgBB kayu manis  0,01 ml aquades
400 mg/kgBB kayu manis  10 ml aquades
a. Untuk 5 ekor tikus, BB 150 gram
 Volume yg dibuat
= ∑ 𝑡𝑖𝑘𝑢𝑠 x Vol.pemberian x BB rata-rata x lama pemberian
= 5 x 0,01 ml x 150 g x 1
= 7,5 ml
Jadi 1 ekor tikus, dosis peroral yang diberikan 1,5 ml dengan dosis 400mg.

b. Untuk 5 ekor tikus, BB 200 gram


46

 Volume yg dibuat
= ∑ 𝑡𝑖𝑘𝑢𝑠 x Vol.pemberian x BB rata-rata x lama pemberian
= 5 x 0,01 ml x 200 g x 1
= 10 ml
Jadi 1 ekor tikus, dosis peroral yang diberikan 2 ml dengan dosis 400mg.

3. Dosis 600 mg/kgBB


0,6 mg/mgBB kayu manis  0,01 ml aquades
600 mg/kgBB kayu manis  10 ml aquades
c. Untuk 5 ekor tikus, BB 150 gram
 Volume yg dibuat
= ∑ 𝑡𝑖𝑘𝑢𝑠 x Vol.pemberian x BB rata-rata x lama pemberian
= 5 x 0,01 ml x 150 g x 1
= 7,5 ml
Jadi 1 ekor tikus, dosis peroral yang diberikan 1,5 ml dengan dosis 600mg.

d. Untuk 5 ekor tikus, BB 200 gram


 Volume yg dibuat
= ∑ 𝑡𝑖𝑘𝑢𝑠 x Vol.pemberian x BB rata-rata x lama pemberian
= 5 x 0,01 ml x 200 g x 1
= 10 ml
Jadi 1 ekor tikus, dosis peroral yang diberikan 2 ml dengan dosis 600mg.
47

Lampiran C. Data Kadar Glukosa Darah Puasa


Kadar Glukosa Rata- Kadar Glukosa Rata- Kadar Rata-
Darah sebelum rata Darah setelah rata Glukos rata
Kelompok Induksi (mg/dl) Induksi (mg/dl) a hari (mg/dl)
Aloksan Aloksan ke-8
(mg/dl) (mg/dl)
116 102 85
116 102 108
Kontrol
120 117,2 129 118,2 110 106,6
Negatif
110 129 111
124 129 119
116 399 507
116 467 488
Kontrol
123 117,2 354 401,2 423 482,4
Positif
110 449 536
121 337 458
116 306 200
Perlakuan 1 87 319 101
(dosis 200 87 99,6 186 382 106 239
mg/kgBB) 98 654 488
110 445 300
98 345 123
Perlakuan 2 98 644 491
(dosis 400 116 104 290 476 149 297
mg/kgBB) 112 633 488
96 468 234
114 250 179
Perlakuan 3 116 406 117
(dosis 600 121 107 600 429,8 501 287,8
mg/kgBB) 84 225 187
100 623 455
48

Lampiran D. Data Neuropati Diabetik


Sebelum Setelah Induksi Aloksan
Rata-
Induksi Hari Rata- Hari Rata- Hari Rata- Hari Rata-
Kelompok rata
Aloksan ke-1 rata ke-3 rata ke-5 rata ke-7 rata
(detik)
(detik) (detik) (detik) (detik) (detik) (detik) (detik) (detik) (detik)

5,5 5,2 4,8 4,4 4,9

5,7 5,7 4,9 4,6 4,8


Kontrol
4,2 5,08 5,4 5,04 4,2 4,58 4,6 4,72 4,5 4,86
Negatif
4,4 4,5 4,4 5,0 4,5

5,6 4,4 4,6 5,0 4,6

7,0 3,9 3,3 3,5 3,5

4,6 4,1 3,4 3,7 3,3


Kontrol
6,6 5,64 3,8 3,72 3,0 3,28 3,3 3,66 3,0 3,34
Positif
5,1 3,4 3,0 4,1 3,3

4,9 3,4 3,7 3,7 3,6

6,0 3,4 4,1 4,6 4,3

Perlakuan 4,3 3,4 4,3 4,3 4,4


1 (dosis 5,34 3,38 4,24 4,28 4,8 4,48
5,6 3,7 4,5 4,0
200
mg/kgBB) 4,9 3,2 4,2 4,3 4,3

5,9 3,2 4,2 4,1 4,6

5,3 3,3 3,4 5,1 4,7


Perlakuan
5,6 4,1 3,8 4,9 4,4
2 (dosis
4,4 5,18 3,9 3,64 3,4 3,76 4,0 4,44 4,6 4,56
400
4,6 3,3 3,6 4,2 4,3
mg/kgBB)
6,0 3,6 4,6 4,0 4,8

5,0 3,6 4,0 4,6 4,2


Perlakuan
4,3 3,3 3,7 4,4 4,8
3 (dosis
5,2 4,82 3,3 3,38 4,0 3,76 3,9 4,16 4,1 4,68
600
5,0 3,1 3,8 3,7 5,7
mg/kgBB)
4,6 3,6 3,3 4,2 4,6
49

Lampiran E. Analisis Data


1. Neuropati Diabetik
Hasil Uji Normalitas
Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
KELOMPOK
Statistic df Sig. Statistic df Sig.

kontrol negatif .320 5 .103 .800 5 .082

kontrol positif .291 5 .193 .857 5 .218

pretest dosis 200 mg/kgBB .240 5 .200* .899 5 .403

dosis 400 mg/kgBB .206 5 .200* .942 5 .677

dosis 600 mg/kgBB .290 5 .197 .914 5 .493


kontrol negatif .229 5 .200* .905 5 .437
kontrol positif .248 5 .200* .885 5 .332
hari1 dosis 200 mg/kgBB .261 5 .200* .862 5 .236
dosis 400 mg/kgBB .229 5 .200* .894 5 .377
dosis 600 mg/kgBB .245 5 .200* .871 5 .272
kontrol negatif .179 5 .200* .962 5 .823
kontrol positif .229 5 .200* .907 5 .449
hari3 dosis 200 mg/kgBB .201 5 .200* .881 5 .314
dosis 400 mg/kgBB .268 5 .200* .806 5 .090
dosis 600 mg/kgBB .218 5 .200* .871 5 .269
kontrol negatif .273 5 .200* .852 5 .201
kontrol positif .246 5 .200* .956 5 .777
hari5 dosis 200 mg/kgBB .263 5 .200* .951 5 .747
dosis 400 mg/kgBB .277 5 .200* .824 5 .124
dosis 600 mg/kgBB .162 5 .200* .971 5 .884
kontrol negatif .265 5 .200* .844 5 .175

kontrol positif .231 5 .200* .943 5 .685

hari7 dosis 200 mg/kgBB .244 5 .200* .871 5 .272

dosis 400 mg/kgBB .180 5 .200* .952 5 .754

dosis 600 mg/kgBB .225 5 .200* .897 5 .392

*. This is a lower bound of the true significance.


a. Lilliefors Significance Correction
50

Hasil Uji Homogenitas


Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.

trn_hari1 1.046 4 20 .408


hari3 .932 4 20 .466
trn_hari5 2.581 4 20 .069
hari7 1.550 4 20 .226

Hasil Uji One Way Anova


ANOVA

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups .032 4 .008 17.180 .000

trn_hari1 Within Groups .009 20 .000

Total .042 24
Between Groups 4.994 4 1.248 11.822 .000
hari3 Within Groups 2.112 20 .106
Total 7.106 24
Between Groups .185 4 .046 6.481 .002
trn_hari5 Within Groups .143 20 .007
Total .327 24
Between Groups 7.222 4 1.805 11.988 .000

hari7 Within Groups 3.012 20 .151

Total 10.234 24
51

Hasil Uji Analisis Post Hoc Test LSD


Multiple Comparisons
LSD

Dependen (I) kelompok (J) kelompok Mean Std. Error Sig. 95% Confidence Interval
t Variable Difference (I- Lower Upper
J) Bound Bound
*
kontrol positif -.07241 .01373 .000 -.1010 -.0438

dosis 200 mg/kgBB -.09734* .01373 .000 -.1260 -.0687


kontrol negatif
dosis 400 mg/kgBB -.07848* .01373 .000 -.1071 -.0498
dosis 600 mg/kgBB -.09743* .01373 .000 -.1261 -.0688

kontrol negatif .07241* .01373 .000 .0438 .1010

dosis 200 mg/kgBB -.02494 .01373 .084 -.0536 .0037


kontrol positif
dosis 400 mg/kgBB -.00607 .01373 .663 -.0347 .0226

dosis 600 mg/kgBB -.02503 .01373 .083 -.0537 .0036

kontrol negatif .09734* .01373 .000 .0687 .1260

kontrol positif .02494 .01373 .084 -.0037 .0536


trn_hari1 dosis 200 mg/kgBB
dosis 400 mg/kgBB .01886 .01373 .185 -.0098 .0475

dosis 600 mg/kgBB -.00009 .01373 .995 -.0287 .0285

kontrol negatif .07848* .01373 .000 .0498 .1071

kontrol positif .00607 .01373 .663 -.0226 .0347


dosis 400 mg/kgBB
dosis 200 mg/kgBB -.01886 .01373 .185 -.0475 .0098

dosis 600 mg/kgBB -.01895 .01373 .183 -.0476 .0097

kontrol negatif .09743* .01373 .000 .0688 .1261

kontrol positif .02503 .01373 .083 -.0036 .0537


dosis 600 mg/kgBB
dosis 200 mg/kgBB .00009 .01373 .995 -.0285 .0287

dosis 400 mg/kgBB .01895 .01373 .183 -.0097 .0476


kontrol positif 1.30000* .20552 .000 .8713 1.7287
dosis 200 mg/kgBB .34000 .20552 .114 -.0887 .7687
kontrol negatif
dosis 400 mg/kgBB .82000* .20552 .001 .3913 1.2487
dosis 600 mg/kgBB .82000* .20552 .001 .3913 1.2487
hari3
kontrol negatif -1.30000* .20552 .000 -1.7287 -.8713
dosis 200 mg/kgBB -.96000* .20552 .000 -1.3887 -.5313
kontrol positif
dosis 400 mg/kgBB -.48000* .20552 .030 -.9087 -.0513
dosis 600 mg/kgBB -.48000* .20552 .030 -.9087 -.0513
52

kontrol negatif -.34000 .20552 .114 -.7687 .0887


kontrol positif .96000* .20552 .000 .5313 1.3887
dosis 200 mg/kgBB
dosis 400 mg/kgBB .48000* .20552 .030 .0513 .9087
dosis 600 mg/kgBB .48000* .20552 .030 .0513 .9087
kontrol negatif -.82000* .20552 .001 -1.2487 -.3913
kontrol positif .48000* .20552 .030 .0513 .9087
dosis 400 mg/kgBB
dosis 200 mg/kgBB -.48000* .20552 .030 -.9087 -.0513
dosis 600 mg/kgBB .00000 .20552 1.000 -.4287 .4287
kontrol negatif -.82000* .20552 .001 -1.2487 -.3913
kontrol positif .48000* .20552 .030 .0513 .9087
dosis 600 mg/kgBB
dosis 200 mg/kgBB -.48000* .20552 .030 -.9087 -.0513
dosis 400 mg/kgBB .00000 .20552 1.000 -.4287 .4287
kontrol positif .25999* .05340 .000 .1486 .3714
dosis 200 mg/kgBB .10357 .05340 .067 -.0078 .2150
kontrol negatif
dosis 400 mg/kgBB .06759 .05340 .220 -.0438 .1790
dosis 600 mg/kgBB .13383* .05340 .021 .0224 .2452
kontrol negatif -.25999* .05340 .000 -.3714 -.1486
dosis 200 mg/kgBB -.15642* .05340 .008 -.2678 -.0450
kontrol positif
dosis 400 mg/kgBB -.19239* .05340 .002 -.3038 -.0810
dosis 600 mg/kgBB -.12616* .05340 .028 -.2375 -.0148
kontrol negatif -.10357 .05340 .067 -.2150 .0078
kontrol positif .15642* .05340 .008 .0450 .2678
trn_hari5 dosis 200 mg/kgBB
dosis 400 mg/kgBB -.03597 .05340 .508 -.1474 .0754
dosis 600 mg/kgBB .03026 .05340 .577 -.0811 .1416
kontrol negatif -.06759 .05340 .220 -.1790 .0438
kontrol positif .19239* .05340 .002 .0810 .3038
dosis 400 mg/kgBB
dosis 200 mg/kgBB .03597 .05340 .508 -.0754 .1474
dosis 600 mg/kgBB .06623 .05340 .229 -.0452 .1776
kontrol negatif -.13383* .05340 .021 -.2452 -.0224
kontrol positif .12616* .05340 .028 .0148 .2375
dosis 600 mg/kgBB
dosis 200 mg/kgBB -.03026 .05340 .577 -.1416 .0811
dosis 400 mg/kgBB -.06623 .05340 .229 -.1776 .0452
kontrol positif 1.52000* .24544 .000 1.0080 2.0320

dosis 200 mg/kgBB .38000 .24544 .137 -.1320 .8920


hari7 kontrol negatif
dosis 400 mg/kgBB .30000 .24544 .236 -.2120 .8120

dosis 600 mg/kgBB .18000 .24544 .472 -.3320 .6920


53

kontrol negatif -1.52000* .24544 .000 -2.0320 -1.0080

dosis 200 mg/kgBB -1.14000* .24544 .000 -1.6520 -.6280


kontrol positif
dosis 400 mg/kgBB -1.22000* .24544 .000 -1.7320 -.7080

dosis 600 mg/kgBB -1.34000* .24544 .000 -1.8520 -.8280

kontrol negatif -.38000 .24544 .137 -.8920 .1320

kontrol positif 1.14000* .24544 .000 .6280 1.6520


dosis 200 mg/kgBB
dosis 400 mg/kgBB -.08000 .24544 .748 -.5920 .4320

dosis 600 mg/kgBB -.20000 .24544 .425 -.7120 .3120

kontrol negatif -.30000 .24544 .236 -.8120 .2120

kontrol positif 1.22000* .24544 .000 .7080 1.7320


dosis 400 mg/kgBB
dosis 200 mg/kgBB .08000 .24544 .748 -.4320 .5920

dosis 600 mg/kgBB -.12000 .24544 .630 -.6320 .3920

kontrol negatif -.18000 .24544 .472 -.6920 .3320

kontrol positif 1.34000* .24544 .000 .8280 1.8520


dosis 600 mg/kgBB
dosis 200 mg/kgBB .20000 .24544 .425 -.3120 .7120

dosis 400 mg/kgBB .12000 .24544 .630 -.3920 .6320

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.


54

Hasil Uji Rata-Rata (Mean)


Case Summaries

kelompok pretest hari1 hari3 hari5 hari7

Mean 5.0800 5.0400 4.5800 4.7200 4.8600

kontrol negatif Std. Deviation .71903 .56833 .28636 .26833 .45056

Std. Error of Mean .32156 .25417 .12806 .12000 .20149


Mean 5.6400 3.7200 3.2800 3.6600 3.3400
kontrol positif Std. Deviation 1.08305 .31145 .29496 .29665 .23022
Std. Error of Mean .48436 .13928 .13191 .13266 .10296
Mean 5.3400 3.3800 4.2400 4.2800 4.4800
dosis 200 mg/kgBB Std. Deviation .72319 .20494 .16733 .21679 .21679
Std. Error of Mean .32342 .09165 .07483 .09695 .09695
Mean 5.1800 3.6400 3.7600 4.4400 4.5600
dosis 400 mg/kgBB Std. Deviation .67231 .35777 .49800 .52249 .20736
Std. Error of Mean .30067 .16000 .22271 .23367 .09274
Mean 4.8200 3.3800 3.7600 4.1600 4.6800
dosis 600 mg/kgBB Std. Deviation .36332 .21679 .28810 .36469 .63797
Std. Error of Mean .16248 .09695 .12884 .16310 .28531
55

2. Kadar Glukosa Darah Puasa

Tests of Normality

kelompok Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

kontrol positif .199 5 .200* .922 5 .541

dosis 200 g/kgBB .239 5 .200* .942 5 .677


kgdsesudah
dosis 400 mg/kgBB .234 5 .200* .887 5 .344

dosis 600 mg/kgBB .230 5 .200* .866 5 .249

*. This is a lower bound of the true significance.


a. Lilliefors Significance Correction

Test of Homogeneity of Variances


kgdsesudah

Levene Statistic df1 df2 Sig.

2.182 3 16 .130

ANOVA
kgdsesudah

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 24670.400 3 8223.467 .342 .795


Within Groups 384503.600 16 24031.475
Total 409174.000 19
56

Lampiran F. Keterangan Persetujuan Etik


57
58

Lampiran G. Dokumentasi Penelitian


Pembuatan Ekstrak Etanol Kayu Manis

Serbuk kayu manis Penimbangan serbuk kayu Serbuk dimaserasi dengan


manis etanol 80%

Pemisahan maserat dengan Penguapan etanol Ekstrak etanol 80% kayu


manis
residu menggunakan rotatory
evaporator
59

Perlakuan Hewan Coba

Adaptasi dan pemeliharaan hewan coba Penginduksian aloksan secara


intravena

Blood glucose test strip untuk mengukur Pengukuran kadar glukosa darah
kadar glukosa darah hewan coba hewan coba
60

Penimbangan berat kayu manis sesuai Pemberian ekstrak etanol kayu manis
dosis melalui sonde lambung

Hot cold plate untuk mengukur respon Pengukuran respon nyeri hewan coba
nyeri hewan coba