Anda di halaman 1dari 34

BAGIAN ILMU LAPORAN SEMINAR AKHIR

KESEHATAN KOMUNITAS DAN OKTOBER 2017


ILMU KEDOKTERAN PENCEGAHAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AL-KHAIRAAT

LAPORAN DAN RENCANA PEMECAHAN MASALAH KESEHATAN


DAN KESELAMATAN KERJA DI BAGIAN YANG BERISIKO SEDANG
DI RSD KABELOTA

NAZWA ALHADAR, S.Ked

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATANKOMUNITAS DAN
ILMU KEDOKTERAN PENCEGAHAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AL-KHAIRAAT
PALU
2017
BAB I

PENDAHULUAN

Kesehatan kerja adalah merupakan bagian dari kesehatan masyarakat atau


aplikasi kesehatan masyarakat didalam suatu masyarakat pekerja dan masyarakat
lingkungannya. Kesehatan kerja bertujuan untuk memperoleh derajat kesehatan
setinggi-tingginya, baik fisik, mental, dan sosial bagi masyarakat pekerja dan
masyarakat lingkungan perusahaan tersebut, melalui usaha-usaha preventif,
promotif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan
kesehatan akibat kerja atau lingkungan kerja. Kesehatan kerja ini merupakan
terjemahan dari “Occupational Health” yang cenderung diartikan sebagai lapangan
kesehatan yang mengurusi masalah-masalah kesehatan secara menyeluruh bagi
masyarakat pekerja. Menyeluruh dalam arti usaha-usaha preventif, promotif,
kuratif, dan rehabilitatif, higine, penyesuaian faktor manusia terhadap pekerjaannya
dan sebagainya.1
Tujuan akhir dari kesehatan kerja ini adalah untuk menciptakan tenaga kerja
yang sehat dan produktif. Tujuan ini dapat tecapai, apabila didukung oleh
lingkungan kerja yang memenuhi syarat-syarat kesehatan kerja. Lingkungan kerja
yang mendukung terciptanya tenaga kerja yang sehat dan produktif antara lain: suhu
ruangan yang nyaman, penerangan atau pencahayaan yang cukup, bebas dari debu,
sikap badan yang baik, alat-alat kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh atau
anggotanya (ergonomic ) dan sebagainya.2
Dasar hukum sistem managemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
tercantum dalam undang-undang keselamatan kerja no.1 tahun 1970 tentang
keselamatan kerja. Dalam undang-undang no.23 tahun 1992 tentang kesehatan,
pasal 23 dinyatakan bahwa K3 harus diselenggarakan di semua tempat kerja,
khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan, mudah
terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit sepuluh orang. Jika
memperhatikan isi dari pasal diatas maka jelaslah rumah sakit, termasuk kedalam
kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan

2
dampak kesehatan tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja dirumah
sakit, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung rumah sakit sehingga sudah
seharusnya pihak pengelola rumah sakit menerapkan upaya-upaya K3 di rumah
sakit. Instalasi laundry merupakan bagian dari rumah sakit yang mempunyai resiko
penularan penyakit infeksi dan juga terdapat beberapa resiko bahaya yang
mempengaruhi situasi dan kondisi di rumah sakit (Depkes RI, 2009).
Dari berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu upaya untuk
mengendalikan dan meminimalisirkan dan bila mungkin meniadakannya. Oleh
karena itu perlu diadakannya sistem K3 di instalasi laundry agar penyelenggaraan
K3 tersebut lebih efektif, efisien dan terpadu.3

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kesehatan dan keselamatan kerja (K3)


a. Definisi
Kesehatan kerja adalah merupakan bagian dari kesehatan masyarakat atau
aplikasi kesehatan masyarakat didalam suatu masyarakat pekerja dan masyarakat
lingkungannya (Notoadmojo, 2012).
Keselamatan kesehatan kerja adalah merupakan multidisplin ilmu yang
terfokus pada penerapan prinsip alamiah dalam memahami adanya risiko yang
mempengaruhi kesehatan dan keselamatan manusia dalam lingkungan industri
ataupun lingkungan diluar industri, selain itu keselamatan dan kesehatan kerja
merupakan profesionalisme dari berbagai disiplin ilmu yaitu fisika, kimia, biologi
dan ilmu perilaku yang diaplikasikan dalam manufaktur, transportasi, penyimpanan
dan penanganan bahan berbahaya (OHSAH 2003).
b. Tujuan
Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antar pekerja dengan
pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara/metode
kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk : (Depkes RI, 2006)
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di
semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan
sosialnya.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan padamasyarakat pekerja yang
diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya
3. Memberi pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dan
kemungkina bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan
kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkunga pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

4
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diperhatikan oleh semua
instansi perusahaan termasuk dalam hal ini rumah sakit. Bahaya-bahaya potensial
di Rumah Sakit dapat dikelompokkan, seperti dalam tabel berikut:1

B. Ergonomi
a. Definisi Ergonomi
Istilah ergonomi berasal dari bahas Latin yaitu “Ergon (Kerja)” dan “Nomos
(Hukum Alam)”. Ergonomi adalah suatu ilmu tentang manusia dalam usahanya
untuk meningkatkan kenyamanan dilingkungan kerjanya.2

5
b. Tujuan Ergonomi
Secara umum tujuan ergonomi adalah:2,3
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cedera dan
penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan
promosi dan kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontrak sosial,
mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan
sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
3. Menciptakan keseimbangan rasional antra berbagai aspek yaitu aspek teknis,
ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan
sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

c. Manfaat Ergonomi
Manfaat pelaksanaan ergonomi:2,3
1. Mengerti tentang pengaruh dari suatu jenis pekerjaan pada diri pekerja dan
kinerja pekerja.
2. Memprediksi potensi pengaruh pekerjaan pada tubuh pekerja.
3. Mengevaluasi kesesuaian tempat kerja, peralatan kerja dengan pekerja saat bekerja.
4. Meningkatkan produktivitas dan upaya untuk menciptakan kesesuaian antara
kemampuan pekerja dan persyaratan kerja..
5. Membangun pengetahuan dasar guna mendorong pekerja untuk meningkatkan
produktivitas.
6. Mencegah dan mengurangi resiko timbulnya penyakit akibat kerja.
7. Meningkatkan faktor keselamatan kerja.
8. Meningkatkan keuntungan, pendapatan, kesehatan dan kesejahteraan untuk
individu dan institus

d. Prinsip Ergonomi
Memahami prinsip ergonomi akan mempermudah evaluasi setiap tugas atau
pekerjaan meskipun ilmu pengetahuan dalam ergonomi terus mengalami kemajuan
dan teknologi yang digunakan dalam pekerjaan tersebut terus berubah. Prinsip

6
ergonomi adalah pedoman dalam menerapkan ergonomi di tempat kerja, menurut
Baiduri dalam diktat kuliah ergonomi terdapat 12 prinsip ergonomi yaitu:2,3
1. Bekerja dalam posisi atau postur normal;
2. Mengurangi beban berlebihan;
3. Menempatkan peralatan agar selalu berada dalam jangkauan;
4. Bekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh;
5. Mengurangi gerakan berulang dan berlebihan;
6. Minimalisasi gerakan statis;
7. Minimalisasikan titik beban;
8. Mencakup jarak ruang;
9. Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman;
10. Melakukan gerakan, olah raga, dan peregangan saat bekerja;
11. Membuat agar display dan contoh mudah dimengerti;
12. Mengurangi stres.

e. Jenis-jenis Ergonomi
Jenis-jenis ergonomi yaitu: ergonomi fisik, ergonomi kognitif, ergonomi
sosial, ergonomi organisasi, ergonomi lingkungan dan faktor lain yang sesuai.
Evaluasi ergonomi merupakan studi tentang penerapan ergonomi dalam suatu
sistem kerja yang bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan penerapan
ergonomi, sehingga didapatkan suatu rancangan keergonomikan yang terbaik.2,3

1. Ergonomi Fisik: berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, anthropometri,


karakteristik fisiolgi dan biomekanika yang berhubungan dnegan aktifitas fisik.
Topik-topik yang relevan dalam ergonomi fisik antara lain: postur kerja,
pemindahan material, gerakan berulan-ulang, MSD, tata letak tempat kerja,
keselamatan dan kesehatan.
2. Ergonomi Kognitif: berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di
dalamnya ; persepsi, ingatan, dan reaksi, sebagai akibat dari interaksi manusia
terhadap pemakaian elemen sistem. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi
kognitif antara lain ; beban kerja, pengambilan keputusan, performance, human-

7
computer interaction, keandalan manusia, dan stres kerja.
3. Ergonomi Organisasi: berkaitan dengan optimasi sistem sosioleknik, termasuk
sturktur organisasi, kebijakan dan proses. Topik-topik yang relevan dalam
ergonomi organisasi antara lain ; komunikasi, MSDM, perancangan kerja,
perancangan waktu kerja, timwork, perancangan partisipasi, komunitas ergonomi,
kultur organisasi dan organisasi virtual
4. Ergonomi Lingkungan: berkaitan dengan pencahayaan, temperatur, kebisingan, dan
getaran. Topik-topik yang relevan dengan ergonomi lingkungan antara lain;
perancangan ruang kerja, sistem akustik,dll.
Pada suatu kondisi kerja tertentu menggambarkan kecenderungan untuk
mengalami beberapa keluhan antara lain:2,3
1. Algias: penyakit pada juru ketik, sekretaris, pekerja yang postur tubuhnya
membungkuk ke depan, vertebral syndrome pada pembawa barang, pengantar
barang & penerjun payung.
2. Osteo-articular: scoliosis pada pemain violin & operator pekerja bangku, bungkuk
(kifosis) pada buuh pelabuhan dan pembawa/pemikul keranjang, datarnya telapak
kaki pada para penunggu, pembuat roti dan pemangkas rambut.
3. Rasa nyeri pada otot dan tendon: rusaknya tendon achiles bagi para penari, tendon
para ekstensor panjang bagi para drummer, tenosynovitis pada pemoles kaca,
pemain piano dan tukang kayu.
4. Iritasi pada cabang saraf tepi: saraf ulnar bagi para pengemudi kendaraan, tukang
kunci, tukang pande besi, reparasi arloji, enjilidan buku, pemotong kaca, dan
pengendara sepeda.

Dari berbagai keluhan diatas, maka akan muncul CTD (Cummulative Trauma
Disorder), yaitu trauma dari keadaan yang tidak teratur. Gejala ini muncul karena
terkumpulnya kerusakan kecil akibat trauma berulang yang membentuk kerusakan
cukup besar untuk menimbulkan rasa sakit.2,3
1. Trauma pada jaringan timbul karena:2,3
a. Overexertion: Proses penggunaan yang berlebihan.
b. Overstretching: Proses peregangan yang berlebihan.

8
c. Overcompression:Proses penekanan yang berlebihan.
2. Contoh-contoh dari CTD:2,3
a. Tendinitis (tendon yang meradang & nyeri).
b. Rotator Cuff Tendinitis (satu atau lebih RCT pd bahu meradang).
c. Tenosynovitis (pembengkakan pada tendon & sarung tendon).
d. Carpal Tunnel Syndrome
e. Epicondylitis (peradangan pada tendon di siku).
f. White finger (pembuluh darah di jari rusak).
3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi tersebut diatas yaitu:2,3
a. Lingkungan kerja
b. Penerangan/cahaya
c. Temperatur/suhu udara
d. Kelembaban
e. Sirkulasi udara
f. Musik
g. Kebisingan
h. Keamanan
i. Getaran mekanis
j. Bau tidak sedap
k. Tata warna
l. Dekorasi
4. Pencegahan terhadap kelelahan akibat kerja:2,3
a. Menggunakan secara benar waktu istirahat kerja.
b. Melakukan koordinasi yang baik antara pimpinan dankaryawan.
c. Mengusahakan kondisi lingkungan kerja sehat, aman,nyaman dan selamat.
d. Mengusahakan sarana kerja yangg ergonomis.
e. Memberikan kesejahteraan dan perhatian yang memadai.
f. Merencanakan rekreasi bagi seluruh karyawan

Terdapat beberapa aplikasi/penerapan dalam pelaksanaan ilmu ergonomi.


Aplikasi/penerapan tersebut antara lain:4,5

9
1) Posisi Kerja,
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak
terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja.Sedangkan posisi
berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara
seimbang pada dua kaki.4,5
a. Posisi Kerja Duduk
Keuntungan posisi kerja duduk yang sebagai berikut:
1. Mengurangi kelelahan pada kaki.
2. Terhindarnya sikap yang tidak alamiah.
3. Berkurangnya pemakaian energi.

Kerugiankerja duduk yang sebagai berikut:


1. Melembeknya otot perut.
2. Melengkungnya punggung.
3. Efek buruk bagi organ bagian dalam.

Gambar 1. Gambar Posisi Kerja


duduk4

b. Posisi Kerja Berdiri


Keuntungan: Otot perut tidak kendor, sehingga vertebra (ruas tulang belakang)
tidak rusak bila mengalami pembebanan.

10
Kerugian: Otot kaki cepat lelah.

Gambar 2: Posisi Kerja Berdiri4

c. Posisi Kerja Duduk - Berdiri


Posisi Duduk - Berdiri mempunyai keuntungan secara Biomekanis dimana tekanan
pada tulang belakang dan pinggang 30% lebih rendah dibandingkan dengan posisi
duduk maupun berdiri terus menerus.

11
Gambar 3. Posisi Kerja Duduk-Berdiri4

2) Mengangkat beban
Mengangkat beban. Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni,
dengan kepala, bahu, tangan, punggung dan sebagainya. Beban yang terlalu berat
dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat
gerakan yang berlebihan. Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang
ditetapkan ILO sebagai berikut:3,4,5

Tingkat Dewasa Tingkat Muda


Deskripsi
Pria(Kg) Wanita(Kg) Pria(Kg) Wanita(Kg)
Sekali-
40 15 15 10-12
sekali
Terus menerus 15-18 10 10-15 6-9

3) Organisasi kerja
Pekerjaan harus diatur dengan berbagai cara:2,3
a. Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun.
b. Frekuensi pergerakan diminimalisir.
c. Jarak mengangkat beban dikurangi.
d. Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan mengangkat tidak
terlalu tinggi.
e. Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.

4) Metode mengangkat beban


Semua pekerja harus diajarkan bagaimana cara mengangkat beban yang baik.
Metode kinetik dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua
prinsip:2,3
a. Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung.
b. Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat badan.

12
Gambar 4. Cara Mengangkat Beban4

5) Prinsip kerja mengangkat beban:2,3


a. Posisi kaki yang benar.
b. Punggung kuat dan kekar.
c. Posisi lengan dekat dengan tubuh.
d. Mengangkat dengan benar.
e. Menggunakan berat badan.

6) Supervisi medis2,3,4
Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur.
a. Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya
b. Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan
mendeteksi bila ada kelainan.
c. Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita
muda dan yang sudah berumur

f. Akibat Tidak Ergonomi

13
Penerapan ergonomi pada tata letak fasilitas tentu akan menimbulkan
beberapa manfaat yang menunjang kepentingan pekerja maupun perusahaan atau
pabrik tempat kerjanya. Begitu pula sebaliknya, sistem ergonomi yang tidak
diterapkan akan menimbulkan beberapa akibat negatif, yang kemudian dapat
menimbulkan penurunan produktivitas kerja. Akibat yang dimaksud yaitu
seperti:2,3
a. Kejenuhan pada pekerja
Kejenuhan termasuk kelelahan secara psikis. Kejenuhan pada pekerja ini
dapat muncul karena kondisi ruang yang sama. Dimana seluruh fasilitasnya, seperti
komputer, meja, lemari, atau lainnya berada diposisi yang sama. Hal ini akan
memberikan kebosanan/kejenuhan tersendiri bagi pekerja yang berada diruangan
tersebut. Padahal agar sel-sel otak bisa bekerja dengan giat, kita membutuhkan
ruang kerja yang nyaman, memiliki privasi, sekaligus inspiratif.2,3

b. Kelelahan
Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya pasti
terjadikelelahan, apa lagi didukung tata letak fasilitas kerja yang tidak menerapkan
sistem ergonomi. Kelelahan yang dimaksud disini adalah kelelahan dari segi
fisik.2,3
c. Timbul penyakit akibat kerja
Para pekerja yang sudah merasakan kelelahan, namun tidak melakukan upaya
untuk kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahannya itu, maka sudah dipastikan
penyakit akibat kerjapun akan muncul. Contohnya seperti para pekerja yang terus-
terusan berada di depan komputer, maka tidak menutup kemungkinan
penglihatannya akan terganggu.2,3
d. Kematian
Kematian merupakan dampak yang paling fatal, hal ini tentu bisa terjadi
hanya karena tata letak yang salah di lingkungan kerja. Misalnya bila tata letak
mesin pengepres tidak sesuai prosedur dan kaidah ergonomi, maka berpotensi
menyebabkan kecelakaan kerja yang menelan korban jiwa.2,3

14
g. Contoh Kasus Ergonomi
Terdapat beberapa kasus dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Kasus-kasus
tersebut antara lain:2,3
a. Dalam pengukuran performansi atlet. Pengukuran jangkauan ruang yang
dibutuhkan saat kerja. Contohnya: jangkauan dari gerakan tangan dan kaki efektif
pada saat bekerja, yang dilakukan dengan berdiri atu duduk.
b. Pengukuran variabilitas kerja. Contohnya: analisis kinematika dan kemampuan
jari-jari tangan dari seseorang juru ketik atau operator komputer.
c. Antropometri dan Aplikasinya dalam Perancangan Fasilitas Kerja
Anthropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan
ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia.
d. Kasus bekerja sambil duduk: Seorang pekerja yang setiap hari menggunakan
komputer dalam bekerja dengan posisi yang tidak nyaman, maka sering kali ia
merasakan keluhan bahwa tubuhnya sering mengalami rasa sakit/nyeri, terutama
pada bagian bahu, pergelangan tangan, dan pinggang.
e. Kasus manual material handling: Kuli panggul di pasar sering sekali mengalami
penyakit herniadan juga low back pain akibat mengangkut beban di
luar recommended weighting limit (RWL).
f. Kasus information ergonomic atau kognitive ergonomic: Operator reaktor sulit
untuk membedakan beraneka macam informasi yang disampaikan
oleh display terutama pada saat situasi darurat/emergency. Hal ini disebabkan
karena informasi tersebut sulit dimengerti oleh operator tersebut. Kejadian yang
serupa sering juga dialami oleh pilot, dimana harus menghadapi
banyak display pada waktu yang bersamaan.

C. Instalasi loundry
Laundry rumah sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan
sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan disinfektan, mesin uap (steam
boiler), pengering, meja dan meja setrika (Ferdianto, 2010).
a. Urutan Kegiatan Petugas laundry
1) Pengambilan linen kotor

15
Linen kotor diambil dari masing-masing ruangan perawatan, Poli rawat jalan, ruang
operasi dan UGD
2) Pemisahan Linen bedasarkan jenis nodanya
3) Proses Pencucian
4) Proses pengeringan menggunakan mesin pengering pakaian (mesintumbler).
5) Proses finishing
6) Proses Pendistribusian

b. Proses pencucian7,9
1) Prewash/Flush/Break/Pencucian awal
Linen dimasukkan dalam mesin cuci, lalu petugas menambahkan kimia
laundry detergen dan alkali dan memberikan emulsi apabila terdapat noda darah
atau minyak/lemak. Zat kimia ini ditambahkan menggunakan sendok takaran.
2) Mainwash/Suds wash/Pencucian.
Pada proses ini mesin cuci bekerja secara otomatis bedasarkan program yang
diinginkan.
3) Rinse/Fill/Pembilasan.
Pembilasan adalah untuk menghilngkan kimia laundry dari permukaan dan
dalam serat-serat kain sehingga kain akan terbebas dari pengaruh kimia laundry
yang dapat membuat serat kain menjadi kaku/keras.
4) Souring/Penetralan.
Souring/penetralan dapat dilakukan bersamaan saat pembilasan atau dapat
dilakukan sendiri setelah pembilasan selesai.
5) Softening/Pelembutan.
Softener adalah kimia laundry yang difungsikan untuk melembutkan kain dan
memberikan aroma pada hasil pencucian.

16
Gambar 5. Alur kegiatan petugas loundry
c. Sistem Manajemen K3 di Instalasi Loundry Rumah Sakit
Standar Pelayanan Keselamatan dan kesehatan di rumah sakit (K3RS).
Adapun bentuk pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakuan, sebagai berikut;
(Ferdianto, 2010).
1. Melakukan Pemeriksaan Kesehatan sebelum kerja bagi pekerja.
2. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan kerja dan
memberikan bantuan kepada pekerja di Rumah Sakit dalam penyesuaian diri baik
fisik maupun mental terhadap pekerjaannya.
3. Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai dengan pajanan di
rumah sakit.
4. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik
pekerja
5. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi pekerja yang
menderita sakit.
6. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja Rumah Sakit yang akan
pensiun atau pindah kerja.
7. Melakukan koordinasi dengan tim panitia pencegahan dan pengendalian infeksi
mengenai penularan infeksi terhadap pekerja dan pasien.

17
8. Melakukan kegiatan surveilans kesehatan kerja.
9. Melaksanakan Pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan dengan
kesehatan kerja (pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi,
psikososial dan ergonomi).
10. Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan kerja yang
disampaikan kepada direktur rumah sakit dan unit teknis di wilayah kerja rumah
sakit.

Langkah manajemen sistem K3 di rumah sakit di instalasi loundry:10,11


1. Komitmen dan Kebijakan
Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis, jelas dan
mudah dimengerti serta diketahui oleh seluruh karyawan RS. Manajemen RS
mengidentifikasi dan menyediakan semua sumber daya esensial seperti pendanaan,
tenaga K3 dan sarana untuk terlaksananya program K3 di RS.
Kebijakan K3 di RS diwujudkan dalam bentuk wadah K3 RS dalam struktur
organisasi RS. Untuk melaksanakan komitmen dan kebijakan K3 RS, perlu disusun
strategi antara lain :6
1) Advokasi sosialisasi program K3 RS.
2) Menetapkan tujuan yang jelas.
3) Organisasi dan penugasan yang jelas.
4) Meningkatkan SDM profesional di bidang K3 RS pada setiap unit kerja di
lingkungan RS.
5) Sumber daya yang harus didukung oleh manajemen puncak
6) Kajian risiko (risk assessment) secara kualitatif dan kuantitatif
7) Membuat program kerja K3 RS yang mengutamakan upaya peningkatan dan
pencegahan.
8) Monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal secara berkala.

2. Perencanaan
RS harus membuat perencanaan yang efektif agar tercapai keberhasilan
penerapan sistem manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur.
Perencanaan meliputi:

18
1) Identifikasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian faktor risiko.
Identifikasi sumber bahaya yang ada di RS berguna untuk menentukan tingkat
risiko yang merupakan tolok ukur kemungkinan terjadinya kecelakaan dan PAK
(penyakit akibat kerja). Sedangkan penilaian faktor risiko merupakan proses untuk
menentukan ada tidaknya risiko dengan jalan melakukan penilaian bahaya potensial
yang menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan.
Pengendalian faktor risiko di RS dilaksanakan melalui 4 tingkatan yakni
menghilangkan bahaya, menggantikan sumber risiko dengan sarana atau peralatan
lain yang tingkat risikonya lebih rendah bahkan tidak ada risiko sama sekali,
administrasi, dan alat pelindung pribadi (APP).
2) Membuat peraturan. Peraturan yang dibuat tersebut merupakan Standar
Operasional Prosedur yang harus dilaksanakan, dievaluasi, diperbaharui, serta
harus dikomunikasikan dan disosialisasikan kepada karyawan dan pihak yang
terkait.
3) Menentukan tujuan (sasaran dan jangka waktu pencapaian)
4) Indikator kinerja yang harus diukur sebagai dasar penilaian kinerja K3 dan
sekaligus merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian SMK3 RS.
5) Program K3 ditetapkan, dilaksanakan, dimonitoring, dievaluasi dan dicatat serta
dilaporkan.

3. Pengorganisasian
Pelaksanaan K3 di RS sangat tergantung dari rasa tanggung jawab
manajemen dan petugas, terhadap tugas dan kewajiban masing-masing serta kerja
sama dalam pelaksanaan K3. Tanggung jawab ini harus ditanamkan melalui adanya
aturan yang jelas. Pola pembagian tanggung jawab, penyuluhan kepada semua
petugas, bimbingan dan latihan serta penegakkan disiplin.
a. Tugas pokok unit pelaksana K3 RS
1) Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada direktur RS mengenai masalah-
masalah yang berkaitan dengan K3.
2) Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan prosedur.
3) Membuat program K3 RS

19
b. Fungsi unit pelaksana K3 RS
1) Mengumpulkan dan mengolah seluruh data dan informasi serta permasalahan yang
berhubungan dengan K3.
2) Membantu direktur RS mengadakan dan meningkatkan upaya promosi K3,
pelatihan dan penelitian K3 di RS.
3) Pengawasan terhadap pelaksanaan program K3.
4) Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif.
5) Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota K3RS.
6) Memberi nasehat tentang manajemen k3 di tempat kerja, kontrol bahaya,
mengeluarkan peraturan dan inisiatif pencegahan.
7) Investigasi dan melaporkan kecelakaan, dan merekomendasikan sesuai
kegiatannya.

d. Identifikasi bahaya/ancaman di Instalasi Loundry Rumah sakit10


1. Bahaya biologi (debu dari serat linen yang mengandung virus),
2. Bahaya fisik (kebisingan mesin cuci, suhu panas faktor risiko),
3. Bahaya kimia (detergen, desinfektan dan pewangi),
4. Bahaya ergonomic (posisi kerja berdiri selama proses kerja sampai selesai),

D. Penyakit Akibat Kerja


Penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan
atau lingkungan kerja. Penyakit ini artefisial oleh karena timbulkan disebabkan oleh
adanya pekerjaan. Kepadanya sering diberikan nama penyakit buatan manusia
(manmade diseases). Berat ringannya penyakit dan cacat tergantung dari jenis dan
tingkat sakit. Sering kali terjadi cacat yang berat sehingga pencegahannya lebih
baik daripada pengobatan. Di tempat kerja terjadi faktor-faktor yang menjadi sebab
penyakit akibat kerja sebagai berikut:11
1. Golongan fisik
Suara yang biasa menyababkan pekak atau tuli. Radiasi. Radiasi pengion,
misalnya berasal dari bahan-bahan radioaktif yang menyebabkan antara lain
penyakit-penyakit sistem darah dan kulit, sedangkan radiasi non pengion, misalnya,
radiasi elektromagnetik yang berasal dari peralatan yang menggunakan listrik.

20
Radiasi sinar inframerah bisa mengakibatkan katarak pada lensa mata, sedangkan
sinar ultraviolet menjadi sebab conjungctivitis photo-electrica.
Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan heat stroke beat cramps atau hyperpyrexia,
sedangkan suhu-suhu yang rendah, antara lain menimbulkan frosbite. Tekanan yang
tinggi menyebabkan caisson disease. Penerangan lampu yang kurang baik,
misalnya menyebabkan kelainan kepada indra penglihatan atau kesilauan yang
memudahkan terjadinya kecelakaan.
2. Golongan kimiawi
Debu yang menyebabkan pnemokoniosis, di antaranya: silikosis, bisinosis,
asbestosis dan lain-lain. Uap yang di antaranya menyebabkan mental fume fever
dermawatis, atau keracunan. Gas, misalnya, keracunan oleh CO, H2S dan lain-lain.
Larutan yang dapat menyebabkan dermatitis. Awan atau kabut, misalnya racun
serangga (insecticides), racun jamur dan lain-lain yang dapat menimbulkan
keracunan.
3. Golongan infeksi
Golongan infeksi misalnya oleh bakteri, virus, parasit maupun jamur.

4. Golongan fisiologis
Golongan fisiologis yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan konstruksi
mesin, sikap badan kurang baik, salah cara melakukan pekerjaan dan lain-lain yang
semuanya menimbulkan kelelahan fisik, bahkan lambat laun perubahan fisik tubuh
pekerja.
5. Golongan mental-psikologis,
Dalam buku ini dibahan dua gangguan jiwa yang menonjol, yaitu stres
psikologis dan depresi.
Berikut adalah daftar kelompok Penyakit Akibat kerja (PAK) sebagaimana
yang tercantum pada Lampiran Keputusan Presiden Indonesia Nomor 22 Tahun
1993 Tentang Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Kerja:11
1. Pneumokonisis yang disebabkan debu mineral pembentuk jaringan parut (silikosis,
antrakosilikosis, asbestosis) dan silikotuberkulosis yang silikosisnya merupakan
faktor utama penyebab cacat atau kematian.

21
2. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh
debu logam keras.
3. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh
debu kapas, vlas, henep, dan sisal (bissinosis).
4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang
yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
5. Alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat
penghirupan debu organik.
6. Penyakit yang disebabkan oleh zat – zat kimia seperti berilium, cadmium,
fosfor, mangan, air raksa, arsen, flour, timbal atau persenyawaannya yang beracun.
7. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfide.
8. Penyakit yang disebabkan oleh derivate halogen dari persenyawaan hidrokarbon
afiliatik atau aromatic yang beracun.
9. Penyakit yang disebabkan oleh benzene atau homolognya yang beracun.
10. Penyakit yang disebabkan oleh derivate nitro dan amina dari benzene atau
homolognya yang beracun.
11. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya.
12. Penyakit yang disebabkan oleh alcohol, glikol, atau keton.
13. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan
seperti karbon monoksida, hirogensianida, hidrogen sulfide, atau derivatnya yang
beracun, amoniak seng, braso, dan nikel.
14. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan.
15. Penyakit yag disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot, urat, tulang
persendian, pembuluh darah tepi atau syaraf tepi).
16. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan lebih.
17. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan radiasi mengion.
18. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi, atau
biologik.
19. Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, minyak
mineral, antrasena atau persenyawaan, produk atau residu dari zat tersebut.
20. Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes.

22
21. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang didapat
dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminasi khusus.
22. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah atau panas radiasi atau
kelembaban udara tinggi.
23. Penyakit yang disebabkan bahan kimia lainnya termasuk obat.

23
BAB III

HASIL OBSERVASI

Laundry rumah sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan
sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan disinfektan, mesin uap (steam
boiler), pengering, meja dan meja setrika (Ferdianto, 2010).
Tabel 1. Daftar tilik hasil observasi di bagian kamar cuci linen (instalasi loundry)
Check List Ya Tidak

Pertukaran udara ruangan √

Periode pembersihan AC √

Penerangan ruangan √

Kebersihan ruangan √

Kepadatan hunian √

Kotak P3K √

Tempat cuci tangan dan sabun cair √

SOP pemisahan linen terinfeksi √

SOP pencucian linen terinfeksi √

SOP pemakaian alat pelindung diri √

Pelaksananaan semua SOP √

24
Gambar 6. Dokumentasi ruangan instalasi loundry
Keterangan: Pada gambar 6 dapat di lihat bahwa masalah yang terdapat pada
ruangan cuci linen (instalasi loundry) RSD Kabelota adalah:
 Tempat pengambilan linen tidak terdapat labelnya dan tidak menggunakan pelastik
yang berwarna hitam dan kuning untuk membeedakan linen yang infeksius dan
tidak infeksius.
 Tidak terdapat timbangan duduk
 Pencucian menggunakan detergen biasa

25
Tabel 2. Pemecahan masalah ruangan instalasi laundry

No. Masalah Semestinya Akibat/ penyakit akibat Pemecahan masalah


kerja
1. Tempat pengambilan Ditempat Risiko untuk terkena -Dilakukan pemberian label
linen tidak terdapat pengambilan linen penyakit menular/ pada tempat pengambilan
semestinya harus infeksius lebih besar linen
labelnya dan tidak
terdapat label dan - Diberikan kantong plastik
menggunakan kantong plastik hijau dan hitam pada tempat
pelastik yang berwarna kuning linen
dan hitam untuk -Memberikan informasi
berwarna hitam dan
membedakan linen kepada seluruh petugas
kuning untuk infeksius dan non loundry tentang pentingnya
membeedakan linen infeksisus pemberian label
yang infeksius dan
tidak infeksius.

2. Tidak terdapat Diruang instalasi -Produktivitas pekerja -Dilakukan permintaan ke


timbangan duduk laundry (linen) menurun dan RS untuk menyediakan
harus terdapat meningkatkan kesakitan timbangan duduk.
timbangan duduk pada pekerja.
yang bertujuan -Pengukuran deteren
untuk menimbang yang akan digunakan
berat dari linen yang tidak dapat diukur.
akan dicuci dan
disesuaikan dengan
kapasitas dari mesin
cuci, detergen dan
disinfektan
3. Menggunakan Pencucian linen Kebersihan linen kurang Detergen diganti
detergen biasa menggunakan menggunakan khines
khines

26
Gambar 7. Mesin cuci di Instalasi laundry RSD Kabelota
Keterangan:
Pada gambar 7 dapat di lihat masalah yang terdapat di instalasi laundry:
a. Tampak letak mesin cuci non infeksius dan infeksius terletak berdampingan tanpa
sekat
b. Tampak lantai tempat pencucian terbuat dari bahan yang licin dan datar

27
Tabel 3. Pemecahan masalah yang terdapat di instalasi laundry

No Masalah Semestinya Akibat/ penyakit akibat Pemecahan masalah


kerja
1. Tampak letak Semestinya antara -Produktivitas pekerja Dilakukan
mesin cuci non ruang linen cuci menurun dan pembenahan pada
infeksius dan infeksius dan ruang meningkatkan kesakitan instalasi laundry
infeksius linen non infeksius pada pekerja yaitu membuat ruang
terletak dipisahkan sesuai -Risiko untuk terkena yang terpisah untuk
berdampingan dengan pedoman penyakit menular/ ruang linen cuci
tanpa sekat teknis fasilitas RS infeksius lebih besar infeksius dan ruang
kelas C linen non infeksius
sesuai dengan
pedoman teknis
fasilitas RS kelas C
2. Tampak lantai Lantai di ruang -Produktivitas pekerja -Mengganti lantai
tempat instalasi loundry menurun dan tempat pencucian
pencucian tidak terbuat dari meningkatkan kecelakaan dengan
terbuat dari bahan yang licin, kerja bagi petugas di memepertimbangkan
bahan yang licin, tidak berpori dan instalasi laundry nilai mekanik dan
datar dan tempat tempat -Terpeleset dan tersengat ergonomis bagi
pembuangan air pembuangan air listrik pekerja
dari mesin cuci dari mesin cuci -Mengatur kembali
tidak langsung langsung kesaluran posisi dari mesin cuci
ke saluran pembuangan air
pembuangan air

28
Gambar 8. Sarana air dan listrik di Instalasi laundry RSD Kabelota
Keterangan:
Sarana air yang digunakan dari selang hanya 1 dan jaraknya jauh dari mesin cuci
rentan untuk terjadinya kecelakaan (kesetrum) pada petugas linen karena
menggunakan sistem colokan dan kabel tidak ditutup untuk menghindari percikan
air
Tabel 4. Pemecahan masalah yang terdapat di instalasi laundry
No Masalah Semestinya Akibat/ Pemecahan
penyakit akibat masalah
kerja
1 Sarana air yang Sarana air -Produktivitas -Mengganti
digunakan dari langsung pekerja menurun saluran air yang
tersambung ke ada 2 jalur dan
selang hanya 1 dan
selang mesin cuci menambah
dan jaraknya sentuhan meningkatkan selang sehingga
jauh dari mesin langsung dan kecelakaan pada petugas tidak
paralel yang mengangkat air
cuci, sehingga pekerja
melebihi kapasitas
petugas biasanya penggunaan. -Risiko
mengangkat air terjadinya
untuk mengisi penyakit HNP
mesin cuci

29
2. Rentan untuk Untuk instalasi -Produktivitas -Menata
terjadinya kotak kontak pekerja menurun kembali kotak
untuk kontak dan
kecelakaan dan
memperhatikan kabel-kabel
(kesetrum) pada penempatan, yaitu meningkatkan dengan rapi dan
petugas linen harus menjauhi kecelakaan pada memberikan
daerah yang penutup untuk
karena pekerja
lembab dan basah. melindungi
menggunakan Jenis kontak -Risiko kabel dari
sistem colokan hendaknya yang terjadinya percikan air
tertutup agar serta mengganti
dan kabel tidak kebakaran
terhindar dari -colokan dengan
ditutup untuk udara lembab, ataupun sistem saklar
menghindari sentuhan langsung tersengat listrik -Disediakan
percikan air. dan paralel yang menjadi lebih APAR
melebihi kapasitas
penggunaan tinggi

Gambar 9. Bahan kimia yang digunakan untuk mencuci pakaian

30
Keterangan:
Pada gambar 9 dapat di lihat masalah yaitu tampak bahan kimia seperti
detergen, klorin dan bahan lainnya berserakan di lantai kamar mandi.
Tabel 5. Pemecahan masalah yang terdapat di instalasi laundry
No Masalah Semestinya Akibat/ Pemecahan
penyakit akibat masalah
kerja
1. Tampak bahan Terdapat ruang -Produktivitas -Mengajukan
kimia seperti khusus gudang pekerja menurun permintaan
chemical sebagai dan lemari khusus
detergen, klorin
tempat meningkatkan chemical
dan bahan penyimpanan kesakitan pada sebagai tempat
lainnya bahan-bahan pekerja penyimpanan
kimia dan ruangan -Risiko
berserakan di
harus dijamin terjadinya
lantai kamar terjadinya Dermatitis
mandi pertukaran udara kontak dan
baik alami infeksi saluran
maupun mekanik pernapasan
dengan total Menjadi lebih
pertukaran udara tinggi
minimal

Gambar 10. Tempat Setrika

31
Keterangan:
Pada gambar 10 dapat di lihat masalah yaitu:
 Tampak hanya terdapat satu setrika manual yang digunakan untuk menyetrika
semua linen yang telah dicuci
 Meja yang digunakan terlalu pendek
Tabel 6. Pemecahan masalah yang terdapat di instalasi laundry
No Masalah Semestinya Akibat/ Pemecahan
penyakit akibat masalah
kerja
1. Tampak hanya Penyetrikaan  Produktivitas Memberikan
terdapat satu linen pekerja menurun informasi
menggunakan kepada seluruh
setrika manual dan
flatwork ironers, petugas loundry
dan satu meja pressing ironer meningkatkan tentang
setrika yang yang kesakitan pada pentingnya APD
membutuhkan dalam bekerja
digunakan untuk pekerja, pekerja
tenaga listrik sehari-hari di
menyetrika sekitar 3,8 Kva-4 bisa mengalami bagian loundry
semua linen Kva per alat atau stres jika jumlah RS, dampak dan
jenis yang bahaya yang
linen banyak saat
menggunakan uap dapat
dari boiler dengan jumlah pasien ditimbulkan
tekanan kerja uap meningkat akibat tidak
sekitar 5 kg/cm2 menggunakan
 Risiko untuk
dan tenaga listrik APD.
sekitar 1 Kva per terjadi luka
unit alat. bakar, terkena
setrikaan,
tersengat listrik

2. Meja setrika Menyediakan Meningkatkan  Membuat meja


yang digunakan meja yang sesuai kesakitan pada yang lebih tinggi
standar agar pasien akibat
terlalu pendek sesuai dengan
mendapat posisi posisi kerja yang
kerja yang sesuai. salah standar meja
untuk setrika dan

32
meminta
penambahan
kursi untuk
petugas

33
DAFTAR PUSTAKA
1. Keputusan menteri kesehatan republik indonesia nomor:
1087/menkes/sk/viii/2010. Standar kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit.
Direktorat bina kesehatan kerja; Jakarta: 2010. Available from:
URL:http://www.gizikia.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/05/Kepmenkes-
1087-Standar-K3-RS.pdf
2. Nurmianto E. Ergonomi konsep dasar dan aplikasinya. Edisi 2. Guna widya;
Jakarta: 2008.
3. Tarwaka, dkk. Ergonomi untuk keselamatan, kesehatan kerja dan produktivitas.
UNIBA PRESS; Surakarta: 2004.
4. Kroemer KHE, dkk. Ergonomics design for ease and efficiency. Prentice Hall
Internasional; USA: 1994.
5. Departemen kesehatan RI. Pedoman Teknis Sarana dan prasarana Rumah Sakit
Kelas C. Sekretariat jenderal. Pusat sarana, prasarana dan peralatan kesehatan.
2007
6. Aneuk, N. Sistem K3 di Instalasi Laundry Rumah Sakit. Kesehatan kerja; kesehatan
masyarakat; keselamatan kerja; rumah sakit. 2012. URL:
https://aneukngupi.wordpress.com/2012/11/29/sistem-k3-di-instalasi-laundry-rs-
kesmas-stase-k3/
7. Depkes. Pedoman Managemen Linen di Rumah Sakit. Direktorat jenderal
pelayanan medik. 2004
8. Rodgers,Suzanne H. Ergonomic design for people at work.Van Nostrand Reinhold
Company; New York: 1986.
9. Healthcare Laundry Accreditation Council. Accreditation Standards for Processing
Reusable Textiles for Use in Healthcare Facilities. Frankfort. HLAC. 2011.
10. South Eastern Sidney Local Health Network. Linen-Handling and Supply. Sidney:
2011.
11. Universitas sumatera utara. Penyakit akibat kerja dan penyakit terkait kerja.
Available from: URL: http://library.usu.ac.id/download/ft/07002746.pdf

34