Anda di halaman 1dari 136

HUBUNGAN ANTARA KEBUGARAN DENGAN STATUS GIZI DAN

AKTIVITAS FISIK PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI KESEHATAN


MASYARAKAT UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA TAHUN 2013

SKRIPSI

OLEH :

LILIK MUIZZAH

109101000044

PEMINATAN GIZI

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2013M/1434H
ii
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN GIZI KESEHATAN MASYARAKAT
Skripsi, Agustus 2013

Lilik Muizzah, NIM: 109101000044


Hubungan Antara Kebugaran Dengan Status Gizi Dan Aktivitas Fisik Pada
Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Tahun 2013

xv + 120 halaman, 2 bagan, 28 tabel, 7 lampiran.

ABSTRAK
Komponen kebugaran yang paling penting dan berhubungan langsung dan utama
dengan kesehatan adalah daya tahan kardiorespiratori (Fatmah, 2011). Daya tahan
Kardiorespirasi yang tinggi menunjukkan kemampuan bekerja yang tinggi, yang berarti
kemampuan untuk mengeluarkan sejumlah energi yang cukup besar dalam periode
waktu yang lama.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan kuantitatif
dengan desain cross sectional study. Sampel penelitian berjumlah 94 mahasiswi. Data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari instansi terkait dan data
primer yang diperoleh melalui wawancara dan pengukuran langsung kepada responden.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa rata-rata tingkat kebugaran
kardiorespiratori sebesar 112,45-119,38 kali/menit artinya pada mahasiswi
kebugarannya kurang baik. Kemudian dari hasil analisis bivariat dengan tingkat
kemaknaan 5%, diperoleh 2 faktor yang berhubungan dengan kebugaran
kardiorespiratori yakni Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan P value 0,015 dan Asupan
Protein dengan P value 0,043.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka penulis menyarankan kepada
mahasiswi agar ditengah padatnya jadwal perkuliahan untuk selalu mengonsumsi
makanan dalam jenis, porsi dan frekuensi yang sesuai dengan pola makan gizi seimbang
serta mengontrol berat badan dan bagi mahasiswa kesehatan masyarakat peminatan gizi
dapat mengadakan konseling gizi kepada rekan-rekan mahasiswa lain mengenai
kebugaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti pemahaman untuk
mengonsumsi makanan yang bergizi, melakukan aktivitas fisik terutama olahraga yang
teratur.

Kata Kunci : Kebugaran, kardiorespirasi, Status Gizi, Aktivitas Fisik


Daftar Bacaan : (1984 – 2013)

iii
SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY JAKARTA
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH
SPECIALISATION PUBLIC HEALTH NUTRITION
Skripsi, August 2013

Lilik Muizzah, NIM: 109101000044


Relationship Between Physical Fitness With Nutritional Status And Physical
Activity Of Female Public Health Students UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2013

xv + 120 pages, 2 charts, 28 tables, 7attachments.

ABSTRACT

The most important fitness components and has contact directly with the primary
health care is cardiorespiratory endurance (Fatmah, 2011). The highest cardiorespiratory
endurance showes a high ability to work, which means ability to expend considerable
amounts of energy at a long period of time.
This research is a quantitative analytical approach which using a cross-sectional
study design. Sample of this research was 94 female students. The data which is used in
this study is secondary data from relevant agencies and primary data obtained through
interviews and measurement of the respondent directly. The data analysis was performed
using univariate and bivariate analysis.
Based on this research, it is known that the average fitness level of 112,45 to
119,38 kardiorespiratori times/min it means student fitness is unfavorable. Then based
on the results of the bivariate analysis with a significance level of 5%, there are 2 factors
related to fitness cardiorespiratory Body Mass Index (BMI) with P value 0,015 and
protein intake with the P value of 0,043.
Based on these results, the author suggestes the students to eat foods with
balanced although they have a tigth schedule of classes. And also control their weight
for a public health students, specialisation public health nutrition should held nutrition
conseling to others students about fitness and the factors which influenced their fitness,
such as understanding to consume nutrition food, do physical exercise regularly.

Keywords : Fitness, cardiorespiratory, Nutritional Status, Physical Activity


Reading List : (1984 - 2013)

iv
vi
vii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala

nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Hubungan Antara Kebugaran Dengan Status Gizi Dan Aktivitas Fisik Pada

Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta Tahun 2013” dengan baik.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan,

petunjuk, bimbingan, dan motivasi dari berbagai pihak, untuk itu secara khusus penulis

ingin menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Keluarga tercinta, Abah Drs. Rohimin, Ibunda Dra.Nadlirotun, Inayatul Maula,

Afiffur Rahman atas do’a, dukungan, nasehat, dan kasih sayang yang tiada henti dan

mungkin tak akan mampu penulis membalasnya.

2. Ratri Ciptaningtyas, MHS selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan

bimbingan dan pengarahan dalam proses penyusunan skripsi.

3. Riastuti Kusumawardani, SKM, MKM selaku dosen pembimbing II yang telah

memberikan bimbingan dan pengarahan dalam proses penyusunan skripsi.

4. Ir. Febrianti, M.Si. selaku dosen gizi dan ketua Program Studi Kesehatan

Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas dukungannya.

5. Seluruh dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

6. Dian Sri Rdjeki, M.Gz dan dr. Indrarti Soekotjo, Sp.KO yang telah memberikan

pencerahan materi kepada penulis.

viii
7. Teman-teman Gidza Holic, khususnya Tika, Fitri, Nursyam, Lulu, Fahad, Mufika,

Yanita, Ana, Desly yang telah membantu dan menyemangati penulis.

8. Teman-teman kosan Dina, Fida, ka Uji, Ninta, Ratih yang telah memberikan

semangat kepada penulis.

9. Untuk sahabatku Badra Al-Aufa, Yeni Faridawati, Vina Oktoramelia, Ade

Aprilianti, Annisa Fatmaulida, Nurlia, Santi, terima kasih untuk persahabatan yang

indah ini.

10. Khairil Anam yang telah bersedia menjadi tempat curhat dan banyak memberikan

movitasi, nasehat, bantuan dan dukungannya selama proses pembuatan skripsi.

11. Ita Hanani kakakku yang super memberikan dukungan dan motivasi hidup pada

penulis.

12. Teman-teman Kesehatan Masyarakat 2009 dan seluruh mahasiswi Kesehatan

Masyarkat 2010-2012 yang telah bersedia membantu penulis khususnya yang

bersedia menjadi responden.

Dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT, penulis berharap semua kebaikan

yang telah diberikan mendapatkan balasan dari Allah SWT dan semoga skripsi ini

bermanfaat bagi penulis dan pembaca umumnya.

Jakarta, Agustus 2013

Penulis

RIWAYAT HIDUP

ix
Data Diri :

Nama Lengkap : Lilik Muizzah

Tempat, Tanggal Lahir : Demak,03 september 1991

Alamat :Jl.Boulevard Raya G14 no.18 Sukatani Rajeg- Tangerang

Telepon : 085885282062

E-mail : lilik_iza@yahoo.com

Status : Belum Menikah

Riwayat Pendidikan :

Formal

Tahun Riwayat Pendidikan

1998-2004 SDN Sukatani 3

2004-2006 SMPN 2 Mauk

2006-2009 SMAN 1 Kota Serang

2009-2013 S1 Gizi Kesehatan Masyarakat Program Studi Kesehatan


Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Non Formal

Tahun Riwayat Pendidikan

2004-2006 Pondok Pesantren Al-Jufri

2006-2009 Pondok Pesantren Raudhatul Qoniin

2013 International Language Programs (ILP)

x
DAFTAR ISI

ABSTRAK ...................................................................................................................... iii


KATA PENGANTAR ..................................................................................................... vi
DAFTAR ISI .................................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ......................................................................................................... xiv
DAFTAR BAGAN ......................................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................xvii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
A. Latar Belakang........................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 7
C. Pertanyaan Penelitian ................................................................................................. 9
D. Tujuan Penelitian ..................................................................................................... 11
1. Tujuan Umum ...................................................................................................... 11
2. Tujuan Khusus ...................................................................................................... 11
E. Manfaat Penelitian ................................................................................................... 13
1. Manfaat Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat ........................................... 13
2. Manfaat Bagi Peneliti ........................................................................................... 13
F. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................................ 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................... 15
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran ...................................................... 29
C. Angka Kecukupan Gizi Usia Dewasa ...................................................................... 42
D. Penilaian Status Gizi................................................................................................ 46
E. Kerangka Teori ........................................................................................................ 51
BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 53
A. Kerangka Konsep.................................................................................................... 53
B. Definisi Operasional ............................................................................................... 56
C. Hipotesis ................................................................................................................. 59
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN .................................................................... 61
A. Desain Penelitian .................................................................................................... 61
B. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................................. 61

xi
C. Populasi dan Sampel ............................................................................................... 61
D. Pengumpulan Data .................................................................................................. 64
BAB V HASIL PENELITIAN ...................................................................................... 71
A. Analisis Univariat ................................................................................................... 71
1. Distribusi Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi Kesehata Masyarakat UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013 .............................................................. 71
2. Distribusi Aktivitas Fisik pada Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013. ..................................................... 73
3. Distibusi Status Gizi berdasarkan Asupan Gizi pada Mahasiswi Program Studi
Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013................. 74
B. Analisis Bivariat ..................................................................................................... 78
1. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program
Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013 ....... 79
2. Hubungan Persen Lemak Tubuh dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program
Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013 ....... 80
3. Hubungan Aktifitas Fisik dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi
Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013................. 80
4. Hubungan Asupan Energi dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi
Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013................. 81
5. Hubungan Asupan Protein dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi
Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013................. 82
6. Hubungan Asupan Vitamin A dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi
Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013................. 83
7. Hubungan Asupan Vitamin B1 dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program
Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013 ....... 83
8. Hubungan Asupan Fe dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi
Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013................. 84
9. Hubungan Asupan Zn dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi
Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013................. 85
BAB VI PEMBAHASAN............................................................................................... 86
A. Kebugaran Pada Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Tahun 2013 ........................................................................... 86
B. Gambaran serta Hubungan antara Status Gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh,
Persen Lemak Tubuh, Asupan Gizi dan Aktivitas Fisik dengan Kebugaran pada
Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun 2013 ............................................................................................................. 88
1. Gambaran dan Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran ................... 88

xii
2. Gambaran dan Hubungan Persen Lemak Tubuh dengan Kebugaran................... 91
3. Gambaran dan Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kebugaran ............................. 92
4. Gambaran dan Hubungan Asupan Energi dengan Kebugaran ............................. 96
5. Gambaran dan Hubungan Asupan Protein dengan Kebugaran ............................ 99
6. Gambaran dan Hubungan Asupan Vitamin A dengan Kebugaran .................... 102
7. Gambaran dan Hubungan Asupan B1 dengan Kebugaran .................................. 103
8. Gambaran dan Hubungan Zat Besi (Fe) dengan Kebugaran .............................. 105
9. Gambaran dan Hubungan Asupan Zn dengan Kebugaran ................................. 107
BAB VII PENUTUP..................................................................................................... 110
A. Simpulan ............................................................................................................... 110
B. Saran ...................................................................................................................... 111
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 114

xiii
DAFTAR TABEL

No Nama Tabel Hal


2.1 Jenis - Jenis Tes Fisik 26
2.2 Tingkat Kebugaran berdasarkan norma tes bangku 3 Menit YMCA 27
2.3 Jenis Aktivitas Fisik Sedang dan Berat 36
2.4 Angka Kecukupan Gizi Usia Dewasa 43
2.5 Klasifikasi IMT Dewasa menurut Depkes RI (2004) 47
2.6 Klasifikasi Persen Lemak Tubuh pada Perempuan 49
3.1 Definisi Operasional 56
4.1 Pembagian Jumlah Sampel 63
5.1 Distribusi Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi Kesehatan
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013 71
5.2 Distribusi Indeks Massa Tubuh pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat
2013 72
5.3 Distribusi Persen Lemak Tubuh pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat
2013 73
5.4 Distribusi Aktivitas Fisik pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat 2013 73
5.5 Distribusi Asupan Energi pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat 2013 74
5.6 Distribusi Asupan Protein pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat 2013 75
5.7 Distribusi Asupan Vitamin A pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat
2013 76
5.8 Distribusi Asupan Vitamin B1 pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat
2013 76
5.9 Distribusi Asupan Vitamin Fe pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat
2013 77
5.10 Distribusi Asupan Zn pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat 2013 78
5.11 Analisis Hubungan IMT dengan Kebugaran pada Mahasiswi Kesehatan
Masyarakat Tahun 2013 79

xiv
5.12 Analisis Hubungan Persen Lemak Tubuh dengan Kebugaran pada
Mahasiswi Kesehatan Masyarakat Tahun 2013 80
5.13 Analisis Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013 81
5.14 Analisis Hubungan Asupan Energi dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013 81
5.15 Analisis Hubungan Asupan Protein dengan Kebugaran pada
Mahasiswi Kesehatan Masyarakat Tahun 2013 82
5.16 Analisis Hubungan Asupan Vitamin A dengan Kebugaran pada
Mahasiswi Kesehatan Masyarakat Tahun 2013 83
5.17 Analisis Hubungan vitamin B1 dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013 84
5.18 Analisis Hubungan Asupan Fe dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013 84
5.19 Analisis Hubungan Asupan Zn dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013 85

xv
DAFTAR BAGAN
No Nama Bagan Hal
2.1 Kerangka Teori 52
3.1 Kerangka Konsep 55

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner PAR Q and You


Lampiran 2 Prosedur YMCA 3-minute step test
Lampiran 3 Kuesioner Penelitian
Lampiran 4 Uji Normalitas
Lampiran 5 Analisis Univariat
Lampiran 6 Analisis Bivariat
Lampiran 7 Dokumentasi Penelitian

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan didefinisikan sebagai keadaan sejahtera jasmani, mental, sosial, dan

spiritual kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit dan kecacatan (WHO,

2013). Kemudian kebugaran jasmani adalah suatu kondisi dimana seorang individu

memiliki energi yang cukup dan vitalitas untuk menyelesaikan tugas sehari- hari dan

kegiatan rekreasi aktif tanpa kelelahan yang tidak semestinya (Nieman, 1998).

Sehingga kebugaran dapat menentukan derajat kesehatan seseorang.

Kebugaran jasmani yang terkait dengan kesehatan yang ditandai oleh

kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan semangat dan

berhubungan dengan resiko rendah penyakit kronis. Diperlukan aktivitas fisik yang

aktif ditambah dengan latihan fisik yang benar, teratur dan terukur untuk mencapai

kebugaran yang optimal. Namun kenyataan dilapangan dengan majunya dunia

teknologi memberikan kemudahan aktivitas dan memanjakan manusia sehingga

menjadikan kurang gerak yang dilakukan (hypokinetic), seperti penggunaan remote

control, komputer, lift dan tangga berjalan tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik

yang akan menimbulkan penyakit akibat kurang gerak (Depkes, 2002).

Kemudian daya tahan kardiorespirasi, kebugaran musculoskeletal (kekuatan

otot dan daya tahan, fleksibilitas) dan komposisi tubuh yang optimal adalah

komponen terukur kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan. Dari beberapa

1
2

komponen tersebut komponen kebugaran yang paling penting dan berhubungan

langsung dan utama dengan kesehatan adalah daya tahan kardiorespiratori (Fatmah,

2011). Daya tahan kardiorespirasi yang tinggi menunjukkan kemampuan bekerja

yang tinggi, yang berarti kemampuan untuk mengeluarkan sejumlah energi yang

cukup besar dalam periode waktu yang lama berhubungan langsung dan utama

dengan kesehatan adalah daya tahan kardiorespiratori (Fatmah, 2011).

Kebugaran (daya tahan kardiorespiratori) adalah kemampuan untuk melakukan

kegiatan seluruh tubuh dan melanjutkan gerakan memperpanjang waktu tanpa

kelelahan yang tidak semestinya. Sistem kardiorespiratori berguna untuk mensuplai

dan membawa oksigen untuk berbagai jaringan dalam tubuh kita (Prentice, 2004).

Bugar tidaknya seseorang dapat dinilai dari kekuatan maksimum pergerakan otot dan

sendi, percepatan gerakan maksimum dan kemampuan maksimum pengambilan

oksigen (Fatmah, 2011).

Kebugaran aerobik (daya tahan kardiorespiratori) dapat dinilai secara langsung

dengan tes laboratorium yang disebut pemasukan oksigen (VO2max). Uji kebugaran

aerobik menggunakan dua metode yaitu langsung dan tidak langsung. Metode

langsung dengan pengukuran kapasitas aerobik (VO2max) menggunakan douglas bag

selama melakukan aktivitas fisik dan metode tidak langsung dapat dilakukan dengan

metode prediksi detak jantung (Astrad, 1977 dalam Fatmah, 2011). Pada individu

yang bugar, detak jantung atau denyut nadi lebih sedikit jumlahnya karena sistem

kardiorespiratori bekerja lebih efisien (Anspaugh, 1997).

Diperlukan suatu parameter yang mampu menguji kesehatan jasmani seseorang.

Step tes merupakan salah satu jenis pengukuran tingkat kebugaran seseorang,
3

diantaranya dengan metode YMCA (Young Men’s Christian Association)3 minutes

menggunakan tes naik turun bangku dalam waktu yang paling singkat dan

perhitungan paling sederhana sehingga dapat digunakan pada populasi yang banyak,

berdasarkan tingkat norma kebugaran (daya tahan kardiorespiratori) yaitu dikatakan

bugar jika denyut nadi seteleh tes berkisar antara 50-102 kali/menit bagi laki-laki dan

52- 113 kali/menit bagi perempuan (Nieman, 2007).

Data dari Behavioral Risk Factor Surveillance System (BRFSS) survey tahun

2001-2003 pada masyarakat Asia dan Hawaii atau masyarakat di Kepulauan Pasifik

lainnya diperoleh data 61% memiliki tubuh yang tergolong tidak bugar (Kruger, 2004

dalam Cassandra, 2011). Seperti halnya kondisi kebugaran pada masyarakat

Indonesia menurut data Sport Development Index (SDI) pada tahun 2006 menujukkan

kondisi yang rendah yaitu 1,08% masuk dalam ketegori baik sekali, 4,07% baik,

13,55% sedang, 43,90% kurang, dan 37,40% kurang sekali (Maksum dalam

Cassandra, 2011).

Di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang no. 36 tentang kesehatan yang

mengamanatkan bahwa upaya kesehatan olahraga ditunjukkan untuk meningkatkan

kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat serta meningkatkan prestasi belajar,

kerja dan olahraga. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia oleh Direktorat Bina

Kesehatan Kerja dan Olahraga tahun 2011 telah mengadakan kegiatan kebugaran

jasmani. Dengan adanya konsep “beraktivitas fisik agar sehat dan bugar” diharapkan

masyarakat dapat melaksanakan upaya pencegahan dan penananggulangan dampak

negatif akibat kurang berolahraga dan cedera olahraga (Kemenkes RI, 2011).

Berdasarkan laporan dan penelitian yang dilakukan oleh beberapa institusi terhadap
4

generasi muda dan orang dewasa pada dasawarsa terakhir ini, dapat disimpulkan

bahwa tingkat kebugaran jasmani orang Indonesia secara umum kurang baik atau

termasuk dalam kategori rendah (FORMI,2011).

Tingkat kebugaran yang rendah banyak dialami oleh perempuan khususnya

pada usia remaja dibandingkan dengan laki-laki, hal ini diperkuat dengan penelitian

kebugaran yang dilakukan pada siswi kelas II Sekolah Menengah Kejuruan Pangudi

Luhur Tarcisius dengan menggunakan Harvard Step Test menunjukkan bahwa status

kebugaran sebanyak 78,1% berada pada kriteria kurang, 15,6% berada pada kriteria

sedang, dan 6,3% berada pada kriteria baik (Eliyus, 2005 dalam Mustakim, 2010).

Penelitian yang dilakukan pada remaja putri usia 18-19 tahun di Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Indonesia menunjukkan bahwa berdasarkan norma tes

kebugaran 86,7% mahasiswi tergolong tidak bugar sedangkan berdasarkan nilai

median denyut nadi setelah tes diketahui 54,7% tergolong tidak bugar yang dihitung

dengan metode step tes YMCA 3 minute (Indrawagita, 2009). Kemudian penelitian

dari 30 orang responden remaja usia 18 hingga 23 tahun yang diteliti, 22 orang

berada pada level buruk (Indriawati, 2005).

Kebugaran sangatlah penting bagi kesehatan remaja, salah satunya kesehatan

jantung. Apabila seorang remaja menjaga kebugarannya maka sistem kardiovaskular

akan berfungsi maksimal dan tetap terpelihara (Sumosardjuno, 1992). Kebugaran

yang kurang akan mencerminkan kekurangan pula dalam kemampuan bekerja, baik

lama maupun daya tahannya untuk bekerja ataupun prestasi kerjanya (Turhayati,

2000).
5

Dampak dari rendahnya tingkat kebugaran adalah secara langsung akan

berpengaruh terhadap penurunan kinerja dan produktivitas dan dalam jangka waktu

yang lama akan menimbulkan penyakit jantung koroner dan penyakit degeneratif

lainnya. Penyakit jantung koroner (Coronary artery disease (CAD)) masih menjadi

penyebab kematian nomor satu. Jumlah penyakit kardiovaskular (CVD) merupakan

yang terbesar dari seluruh kematian, yang berjumlah 17,3 juta jiwa setiap tahunnya,

kemudian diikuti penyakit kanker sebanyak 7,6 juta jiwa dan diabetes sebanyak 1,3

juta jiwa. Disamping itu, jumlah kematian akibat CVD ini menggambarkan 30% dari

seluruh kematian di dunia dengan 7,3 juta orang diantaranya berhubungan dengan

penyakit jantung koroner dan 6,2 juta orang diantaranya berkaitan dengan penyakit

stroke (WHO, 2013). Penyakit CVD dan diabetes erat kaitannya dengan kejadian

obesitas. Pada tahun 2008, lebih dari 1,4 miliar orang dewasa dan lansia di dunia

mengalami overweight, dengan lebih dari 200 juta laki-laki dan sekitar 300 juta

perempuan diantaranya mengalami obesitas (WHO, 2013). Di Indonesia penyakit

jantung memiliki prevalensi 7,2 % , diabetes melitus 1,1 %, dan kanker 0,4 % . Rata-

rata kota Jakarta yang paling banyak prevalensi kejadian penyakit tidak menular

tersebut (Riskesdas, 2007).

Aktivitas fisik memberikan keuntungan kesehatan yang terbanyak dan bahwa

tingkat kebugaran aerobik yang lebih tinggi dapat mencegah dari penyakit yang

berdampak kepada kematian (Sharkley, 2003). Selanjutnya penelitian oleh Lloyd,

et.al. (1998) memecahkan hipotesis bahwa terdapat kolerasi yang positif antara

latihan fisik dengan kebugaran (kapasitas kardiorespiratori) pada perempuan remaja

dan dewasa. Kemudian terdapat faktor lain yang berhubungan dengan kebugaran
6

pada perempuan selain dari aktivitas fisik. Diketahui jenis kelamin termasuk salah

satu faktor yang menentukan tingkat kebugaran kardiovaskuler (Haskell and Kiernan,

2000). Laki-laki memiliki kondisi tubuh yang lebih bugar dari pada perempuan

(Mustakim, 2010).

Kemudian berdasarkan hasil penelitian tentang kebugaran yang dilakukan

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada

perempuan usia 19-52 tahun terdapat hubungan yang bermakna antara persen lemak

tubuh dengan kebugaran dengan mengukur VO 2max (Wijayanti,2006).

Asupan makanan untuk memperoleh zat gizi juga menjadi salah satu penentu

status kebugaran. Penelitian disuatu negara memberikan hasil bahwa asupan gizi

sumber energi (karbohidrat dan lemak) lebih memberi pengaruh kuat pada

kemampuan kardioresporatori (kebugaran) perempuan dibandingkan dengan laki-laki

(Paul,et.al, 2004 dalam Prawestri 2011). Selain itu, sebuah studi juga menyatakan

bahwa terdapat hubungan bermakna antara asupan gizi berupa zat gizi mikro dengan

kebugaran pada perempuan remaja maupun dewasa. (Lloyd, et.al, 1998).

Penelitian terkait kebugaran diketahui terdapat perbedaan yang signifikan

antara kebugaran mahasiswi angkatan 2009 usia (18-19) tahun dibandingkan dengan

angkatan 2010 usia (20-21) tahun (Oranobuka, 2011 dalam Sharkley, 2011). Tingkat

kebugaran jasmani pada perempuan lebih rendah dibandingkan pada laki-laki

(Hermanto,dkk, 2012). Pada perempuan, kebugaran (daya tahan kardiorespiratori)

mempengaruhi secara signifikan dengan penyebab kematian (Blair, et.al. 1996 dalam

Prawestri, 2011).
7

Dari data penelitian diatas diketahui bahwa kebugaran diberbagai tingkatan

dunia, Asia maupun Indonesia masih menunjukkan tingkat kebugaran pada level

rendah terutama pada perempuan. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan

menunjukkan bahwa banyaknya perempuan dalam usia 17-21 tahun yang memiliki

tingkat kebugaran dalam skala yang rendah. Dimana pada usia tersebut rata-rata

adalah usia sekolah sebagai siswa dan mahasiswa. Kebugaran (daya tahan

kardiorespiratori) pada masa sekolah penting untuk mendukung aktivitas kerja dalam

kehidupan sehari-hari, termasuk kegiatan belajar dan menyelesaikan studi dan

sebagai pencegahan terhadap terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit

lainnya yang berhubungan dengan rendahnya aktivitas fisik yang jika tidak dicegah

akan menimbulkan kematian. Kemudian pada perempuan kebugaran menjadi penting

karena manfaatnya akan berdampak pada siklus kehidupan selanjutnya.

Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait

kebugaran (daya tahan kardiorespiratori) hubungannya dengan berbagai faktor yang

mempengaruhi seperti IMT, persen lemak tubuh, asupan gizi dan aktivitas fisik pada

rentang usia mahasiswa khususnya perempuan yang dimulai sejak dini.

B. Rumusan Masalah
Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

UIN Syarif Hidayatullah merupakan institusi pendidikan dengan 74,8% mahasiswa

berjenis kelamin perempuan (AIS, 2013). Dimana rentang usia rata-rata adalah 18-23

tahun yang termasuk dalam rentang usia produktif, karena pada usia produktif seperti

mahasiswa memerlukan aktivitas kardiorespirasi yang prima yaitu tingkat

kemampuan jantung dan paru-paru untuk mensuplai dan membawa oksigen untuk
8

berbagai jaringan dalam tubuh kita sehingga seluruh fungsi tubuh dapat menunjang

kegiatan belajar mengajar, organisasi, serta latihan yang berperan dalam kegiatan

kampus dan masyarakat dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan optimal

dan tidak cepat lelah sebagai langkah preventif diri sebagai mahasiswa Kesehatan

Masyarakat. Padatnya jadwal perkuliahan menjadi salah satu faktor kurangnya

melakukan latihan fisik untuk mencapai kebugaran (daya tahan kardiorespiratori).

Studi pendahuluan yang dilakukan kepada 30 orang mahasiswa yang terdiri dari

15 orang perempuan dan 15 orang laki-laki dinilai dari kapasitas maksimal untuk

menggunaan oksigen dengan uji tes kebugaran menggunakan metode YMCA 3-

minutes step test yang kemudian dihitung berdasarkan denyut nadinya setelah

melakukan tes tersebut. Didapatkan bahwa 66,3% mahasisiwa tidak bugar,

ditunjukkan dari jumlah denyut nadi ≥113 (kali/ menit) pada perempuan dan ≥102

laki-laki. Dan 33,7% mahasiswa bugar dengan jumlah denyut nadi <113 (kali/menit)

pada perempuan dan ≥102 pada laki-laki. Idealnya intensitas latihan menghasilkan

jumlah denyut nadi yang lebih sedikit yaitu 50-102 kali/menit (laki-laki) dan 52-113

kali/menit (perempuan). Kemudian hasil studi pendahuluan diketahui pada

perempuan 93,3% tidak bugar dibandingkan dengan laki-laki 40 % tidak bugar.

Berdasarkan hasil observasi selama 1 periode oleh Departemen Kesenian dan

Olahraga Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

menunjukkan bahwa kurangnya kegiatan untuk latihan fisik atau olahraga yang rutin

dilakukan oleh mahasiswi, berbeda dengan mahasiswa yang sering melakukan

pertandingan futsal dan latihan fisik lainnya. Kemudian ditambah dengan hasil studi

pendahuluan kepada 15 orang mahasiswi ada 8 orang tidak aktif dalam


9

melaksanakan aktivitas olahraga. Olahraga adalah salah satu cara untuk mencapai

kebugaran. Perempuan merupakan individu paling beresiko untuk terkena suatu

penyakit dan gangguan fisik lainnya.

Dengan rendahnya kebugaran (daya tahan kardiorespiratori) pada mahasiswi

ditambah dengan rendahnya aktivitas olahraga, menjadikan peneliti tertarik untuk

mengetahui hubungan antara faktor lain yang mempengaruhi kebugaran (daya tahan

kardiorespiratori) seperti Indeks Massa Tubuh (IMT), persen lemak tubuh, asupan

gizi, aktivitas fisik pada mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran kebugaran pada mahasiswi Program Studi Kesehatan

Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?

2. Bagaimana gambaran status gizi menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) dan persen

lemak tubuh pada mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif

Hidayatullah tahun 2013?

3. Bagaimana gambaran aktivitas fisik pada mahasiswi Program Studi Kesehatan

Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?

4. Bagaimana gambaran asupan gizi berupa energi dan protein maupun vitamin A,

vitamin B1, zat besi (Fe), dan seng (Zn) pada mahasiswi Program Studi

Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?

5. Apakah ada hubungan antara IMT dengan kebugaran pada mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?


10

6. Apakah ada hubungan persen lemak tubuh dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?

7. Apakah ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?

8. Apakah ada hubungan antara asupan energi dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?

9. Apakah ada hubungan antara asupan protein dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?

10. Apakah ada hubungan antara asupan vitamin A dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun

2013?

11. Apakah ada hubungan antara asupan vitamin B1 dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun

2013?

12. Apakah ada hubungan antara asupan zat besi (Fe) dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun

2013?

13. Apakah ada hubungan antara asupan seng (Zn) dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun

2013?
11

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara status gizi (Indeks Massa Tubuh (IMT), persen

lemak tubuh, asupan gizi) dan aktivitas fisik dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun

2013.

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran tingkat kebugaran pada mahasiswi Program Studi

Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.

b. Mengetahui gambaran status gizi menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) dan

persen lemak tubuh pada mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat

UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.

c. Mengetahui gambaran status gizi menurut persen lemak tubuh pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.

d. Mengetahui gambaran aktivitas fisik pada mahasiswi Program Studi

Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.

e. Mengetahui gambaran status gizi berdasarkan asupan gizi berupa energi dan

protein maupun vitamin A, vitamin B1, zat besi (Fe), dan seng (Zn) pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.

f. Mengetahui hubungan antara IMT dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.


12

g. Mengetahui hubungan antara persen lemak tubuh dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.

h. Mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.

i. Mengetahui hubungan antara asupan energi dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.

j. Mengetahui hubungan antara asupan protein dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.

k. Mengetahui hubungan antara asupan vitamin A dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.

l. Mengetahui hubungan antara asupan vitamin B1 dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.

m. Mengetahui hubungan antara asupan zat besi (Fe) dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.

n. Mengetahui hubungan antara asupan seng (Zn) dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.
13

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat


a. Memberikan informasi terkait kebugaran pada mahasiswa Kesehatan

Masyarakat sehingga didapatkan upaya dalam peningkatan produktivitas

belajar.

b. Dapat menjadikan studi acuan terkait aktivitas fisik untuk program kerja

Departemen Kesenian dan Olahraga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan khususnya BEM Jurusan Kesehatan

Masyarakat.

2. Manfaat Bagi Peneliti

a. Sebagai media pengaplikasian ilmu kesehatan mayarakat khususnya ilmu gizi

yang telah dipelajari selama studi.

b. Dapat dijadikan referensi atau sumber dan acuan dalam melakukan penelitian

lanjutan.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswi peminatan gizi Program Studi

Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada

bulan Juni sampai Agustus 2013 pada mahasiswi Program Studi Kesehatan

Masyarakat. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan

antara kebugaran dengan status gizi (IMT, persen lemak tubuh, dan asupan gizi) dan

aktivitas fisik pada mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
14

Hidayatullah Jakarta Tahun 2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif

dengan desain studi cross sectional.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kebugaran

1. Pengertian Kebugaran

Kebugaran fisik adalah suatu kondisi dimana seorang individu memiliki

energi yang cukup dan vitalitas untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dan

kegiatan rekreasi aktif tanpa kelelahan yang tidak semestinya (Nieman, 1998).

Kebugaran adalah keadaan kemampuan jasmani yang dapat menyesuaikan fungsi

alat-alat tubuhnya terhadap tugas jasmani tertentu dan terhadap keadaan

lingkungan yang harus diatasi dengan cara yang efisien, tanpa kelelahan yang

berlebihan dan telah pulih sempurna sebelum datang tugas yang sama pada esok

harinya (Giriwijoyo, 2012).

Kebugaran aerobik (daya tahan kardiorespiratori) didefinisikan sebagai

kepasitas maksimal untuk menghirup, menyalurkan dan menggunakan oksigen

(Sharkley, 2011). Kesehatan kardiovaskuler penting untuk meningkatkan

kebugaran dan kesehatan.

2. Klasifikasi Kebugaran

Kebugaran jasmani merupakan keadaan keseimbangan antara kegiatan

biasa dengan tuntutan yang berlebih, dimana tidak terjadi kelelahan dan

menyimpan cukup energi untuk aktivitas selanjutnya. Kebugaran dikategorikan

menjadi dua, yaitu kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan (health-

15
16

related fitness) dan kebugaran yang berhubungan dengan keterampilan atau yang

disebut dengan skill-related fitness (Hoeger dan Hoeger, 1996). Berikut akan

dijelaskan lebih lanjut mengenai kategori kebugaran :

a. Kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan

Kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan (health related fitness)

didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari

dimana dibutuhkan energi serta kualitas dan kapasitas yang berhubungan

dengan rendahnya risiko munculnya penyakit hipokinetik dini (berhubungan

dengan kurangnya aktivitas fisik) (Prentice, 2004). Status kesehatan seseorang

dipengaruhi oleh hereditas, pola hidup sehat, akivitas fisik yang cukup dan

kualitas diet yang baik (Fatmah, 2011).

Aktivitas fisik yang sesuai dengan kebutuhan akan meningkatkan

kesehatan manusia dengan jalan mencegah kelebihan berat badan dan juga

dipengaruhi oleh faktor lain dari kebugaran yang berhubungan dengan

kesehatan. Kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan terdiri dari daya

tahan kardiorespirasi, daya tahan otot yang cukup, komposisi tubuh,

fleksibilitas atau kelentukan yang memadai. Beberapa organisasi profesional

seperti ACSM (American College Sport Medicine) telah mengindikasikan

bahwa variasi dalam melakukan aktivitas fisik dapat digunakan untuk

meningkatkan kesehatan (Williams, 2002).

b. Kebugaran yang berhubungan dengan keterampilan

Kebugaran yang berhubungan dengan keterampilan atau skill-related

fitness adalah kebugaran untuk melakukan gerakan-gerakan fisik dalam


17

aktivitas atletik atau olahraga. Skill-related fitness yang baik dapat

meningkatkan kualitas hidup secara umum dengan meningkatkan kemampuan

seseorang untuk menghadapi kondisi-kondisi darurat yang terkadang

membutuhkan ketangkasan (Hoeger dan Hoeger, 1996). Pada kebugaran yang

berhubungan dengan keterampilan lebih banyak berperan bagi kelompok atlet

dibandingkan masyarakat umum sehingga penggunannya terbatas pada

komunitas dan kegiatan olahraga (Gisolfi dan Lamb, 1989).

Skill-related fitness adalah kemampuan untuk memaksimalkan potensi

genetik dengan latihan fisik dan mental yang cukup untuk menyiapkan pikiran

dan tubuh dalam kompetisi. Pada kondisi ini, atlet mengembangkan

kebugaran yang berhubungan dengan keterampilan, dimana komponen

kebugaran yang berhubungan dengan keterampilan terdiri dari kekuatan,

kecepatan, daya tahan, dan skill motorik neuromuskular yang spesifik terkait

olahraga dari atlet (Williams, 2002).

Atlet pada semua level kompetisi, baik pada kompetisi internasional,

gulat, permain baseball sekolah menengah, pelari jarak jauh pada kelompok

usia senior, atau pemain muda sepak bola dapat meningkatkan performa

terbaik mereka dengan intensitas latihan yang disesuaikan dengan

perkembangan usia, fisik, dan mental mereka.

3. Komponen Kebugaran

Komponen kebugaran seringkali disebutkan dalam dua bagian, satu

berhubungan dengan kesehatan dan yang lain berhubungan dengan ketrampilan

atlet. Kebugaran berhubungan dengan keterampilan dibutuhkan untuk meraih


18

sukses dalam olahraga seperti tenis, sepakbola, bola voli, golf, dan basket akan

tetapi, banyak ahli merasa bahwa komponen tersebut memiliki sedikit hubungan

yang kuat terhadap kesehatan dan pencegahan penyakit (Nieman, 1998).

Kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan digambarkan untuk

melakukan aktivitas sehari-hari dengan kekuatan dan berhubungan dengan

rendahnya risiko terhadap penyakit degeneratif. Daya tahan kardiorespiratori,

kebugaran muskuloskeletal (kekuatan dan daya tahan otot, fleksibilitas), dan

komposisi tubuh yang optimal diukur sebagai komponen kebugaran yang

berhubungan dengan kesehatan. Kebugaran yang behubungan dengan tampilan di

sisi lain memiliki nilai lebih yaitu ketangkasan, keseimbangan, koordinasi,

kecepatan, kekuatan dan daya ledak serta memiliki hubungan terhadap kesehatan

dan pencegahan penyakit (Nieman, 1998).

Setiap komponen dari kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan dapat

diukur secara terpisah dengan latihan spesifik yang sudah dirancang untuk

dikembangkan sesuai dengan jenis olahraganya masing-masing. Bagian yang

terpenting disini adalah kebugaran total yang disamakan dengan perkembangan

dari setiap komponen mayor melalui program latihan terangkai dengan baik.

Beberapa individu berlatih untuk mengembangkan kekuatan dan daya tahan otot

namun sedikit dalam latihan aerobik untuk sistem kardiorespiratorinya. Beberapa

pelari terkemuka memiliki kebugaran jantung dan paru yang baik namun rendah

dalam hal kekuatan tubuh bagian atas (Nieman, 1998).


19

Individu yang bugar fisiknya dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari

misalnya, membawa bahan makanan, menaiki tangga, berkebun dengan sedikit

kelelahan dan menyisakan energi untuk latihan di waktu luang.

Berikut akan dibahas setiap komponen kebugaran yang behubungan dengan

kesehatan.

a. Daya Tahan Kardiorespiratori (Ketahanan Jantung)

Daya tahan kardiorespiratori adalah kemampuan jantung, paru-paru,

dan pembuluh darah untuk menyuplai oksigen ke dalam sel-sel sehingga

memenuhi kebutuhan untuk memperpanjang aktivitas fisik (Hoeger dan

Hoeger, 1996). Komponen ini adalah yang paling disetujui sebagai

komponen kebugaran dan kriteria yang paling umum digunakan untuk

pengukuran kebugaran baik pada orang dewasa maupun anak-anak karena

merupakan dasar dari kebugaran menyeluruh (total fitness) dengan

menggambarkan kualitas fisik seseorang dari sisi yang tergolong vital, yaitu

penggunaan oksigen (Gisolfi dan Lamb, 1989).

Daya tahan kardiorespiratori ditentukan oleh kapasitas aerobik atau

ambilan (uptake) oksigen maksimal (VO2max) yaitu jumlah maksimal

oksigen yang dapat digunakan oleh tubuh per menit saat melakukan kegiatan

atau latihan fisik. Saat tubuh sedang menghadapi beban aktivitas fisik, energi

dibutuhkan dalam jumlah yang lebih banyak sehingga jantung, paru-paru

dan pembuluh darah harus menghantarkan lebih banyak oksigen untuk

oksidasi energi di dalam sel menjadi ATP (Adenosine triphosphate). Oleh

karena itu, semakin kecil frekuensi pompa jantung yang dibutuhkan,


20

semakin efisien kerja kardiorespiratori atau semakin bugar kondisi tubuh

seorang individu karena berarti dengan satu kali curah, oksigen yang

dihantarkan lebih banyak (Anspaugh, 1997). Perbedaan VO2max yang

berarti antar individu diturunkan oleh kualitas kerja tiga sistem dalam tubuh,

yaitu: (1) respirasi eksternal (fungsi paru-paru), (2) transpor udara (sistem

kardiovaskuler seperti jantung, pembuluh darah dan darah), dan (3) respirasi

internal (penggunaan oksigen oleh sel tubuh untuk produksi energi) (Prentice

dan Bucher, 1988 dalam Wijayanti, 1998).

Pertama-tama, sistem respirasi eksternal membawa oksigen dari udara

bebas ke dalam paru-paru dan membawanya ke dalam darah. Pada orang

yang memiliki aktivitas fisik yang berat, kapasitas vital dan pernapasan

maksimal meningkat. Maka, sirkulasi serta suplai oksigen kedalam darah

dari paru-paru pun akan meningkat. Setelah itu, transpor udara pada sistem

kardiovaskuler akan memompa dan mendistribusikan oksigen yang telah

terikat pada darah ke seluruh tubuh. Peningkatan konsumsi oksigen dapat

dicapai melalui peningkatan curah jantung yang merupakan perkalian antara

volume darah sekuncup dan frekuensi atau jumlah denyut jantung. Terakhir,

respirasi internal terjadi pada sel-sel di dalam tubuh (sel-sel otot dan rangka)

dengan penggunaan oksigen untuk merubah simpanan karbohidrat dan

lemak (energi) menjadi ATP untuk kontraksi otot dan produksi panas. Proses

terakhir ini terjadi saat individu melakukan aktivitas fisik. (Prentice dan

Bucher, 1988 dalam Wijayanti, 1998).


21

b. Komposisi Tubuh

Komposisi tubuh adalah rasio dari lemak dan berat bebas lemak dan

seringkali ditampilkan dalam persen lemak tubuh (Nieman, 1998).

Komposisi tubuh adalah komponen kebugaran yang berhubungan dengan

jumlah total relatif dari otot, lemak, tulang dan bagian vital dalam tubuh

(Haskell dan Kiernan, 2000).

Lemak tubuh yang sehat berkisar antara 15% untuk laki-laki dan 23%

untuk perempuan. Banyak metode yang digunakan untuk mengukur lemak

tubuh seperti tes skinforld, under water weight (UWW). Tes tersebut

memberikan estimasi yang lebih baik untuk berat badan ideal daripada tabel

tinggi badan berat badan. Berat badan terbagi menjadi lemak dan massa

bebas lemak. Massa bebas lemak terdiri dari otot, tulang dan air. Persen

lemak tubuh yang merupakan presentasi dari total berat badan

merepresentasi berat lemak, yang juga lebih sering digunakan untuk

mengevaluasi komposisi tubuh seseorang (Nieman, 1998). Komposisi tubuh

jika seseorang memiliki berat badan yang tinggi tetapi komposisi tubuhnya

lebih banyak terdiri atas otot atau massa bukan lemak, risiko kesehatan yang

dimiliki tidak sebesar pada orang dengan lebih banyak massa lemak (Mood,

et.al, 2003 dalam Indrawagita, 2009).

Komposisi tubuh menyediakan penentuan akurat seberapa banyak berat

badan seorang atlet harus ditambah atau dikurangi karena dapat

menggambarkan apakah berat badan atlet tersebut lebih banyak terdiri dari

massa lemak atau bukan lemak (otot). Apabila persentase lemak menurun
22

untuk mencapai kondisi yang paling bugar sehingga performa dapat

menjadi lebih maksimal (Amheim dan Prentice, 2000 dalam Wijayanti,

2006).

c. Kekuatan dan Daya Tahan Otot

Kekuatan otot adalah kapasitas otot untuk mengatasi suatu beban.

Sementara itu, daya tahan otot berkaitan dengan kemampuan dalam

menghasilkan kekuatan dan kemampuan untuk mempertahankannya selama

mungkin (Hoeger dan Hoeger, 1996). Individu yang menggunakan aktivitas

fisik reguler untuk meningkatkan daya tahan kardiorespiratori, kebugaran

muskuloskeletal dan tingkat lemak tubuh yang optimal dapat memperbaiki

tingkat energi dasar mereka dan menempatkan mereka pada risiko yang

rendah terhadap penyakit jantung, kanker, diabetes, osteoporosis, dan

penyakit kronis lainnya (Nieman, 1998).

Kekuatan adalah kemampuan maksimal seseorang untuk mengangkat

suatu beban. Menjadi kuatnya otot-otot tubuh seorang pesenam disebabkan

latihan yang terus menerus. Oleh karena itu agar jasmani kita sehat maka

semua otot tubuh harus dilatih, sehingga kemampuan otot menjadi

maksimal. Jika kita melakukan latihan, sebaiknya mengikutserakan semua

otot tubuh (Sumosardjuno, 1992).

d. Kelentukan

Kelentukan adalah jangkauan area gerak sendi-sendi tubuh. Komponen

ini tercermin pada kemampuan seseorang untuk menekuk, merengang, dan

memutar tubuhnya (Haskell dan Kienan, 2000). Otot, ligamen, dan tendon
23

mempengaruhi keleluasaan gerak pada sendi-sendi tubuh. Kelentukan

berhubungan dengan umur dan aktivitas fisik.

Kelentukan akan berkurang seiring dengan meningkatnya umur yang

lebih dikarenakan kekurangan aktivitas dalam gerak dibandingkan dengan

proses penuaan. Kelentukan memiliki banyak keuntungan dalam hal

kesehatan. Diantaranya pergerakan yang baik, meningkatkan resistensi

cedera dan rasa sakit pada otot, mengurangi tekanan darah dan stres

(Nieman, 1998). Kapasitas fungsional tubuh kita untuk bergerak pada

daerah gerak yang maksimal, bergantung pada panjang otot, tendon, dan

ligamen persendian. Untuk memperbaiki kelenturan atau memelihara

kelenturan tubuh, maka kita harus menggerakkan persendian kita pada

daerah geraknya secara maksimal dan teratur (Sumosardjuno, 1992). Agar

kesegaran jasmani kita baik, maka kita tidak hanya melakukan latihan untuk

salah satu komponen saja, tetapi juga berlatih untuk memperbaiki semua

komponen.

4. Pengukuran Kebugaran

Skor atau tingkat kebugaran seseorang dapat diketahui melalui serangkaian

pemeriksaan fisik yang berhubungan dengan komponen-komponen kebugaran

melalui tahapan dengan menggunakan peralatan tertentu (Permaesih, et.al, 2001

dalam Fatmah, 2011). Tes kebugaran merupakan indikator kuantitatif yang

menggambarkan sejauh mana kualitas fisik seseorang saat ini dan setelah

beraktivitas fisik.
24

Cara penentuan tingkat kebugaran dipilih berdasarkan tujuan pengukuran,

jenis kemampuan yang akan diukur terutama yang berhubungan dengan jenis

pekerjaan yang biasa dilakukan (Moeloek,dkk, 1984). Gambaran tingkat

kebugaran seseorang dapat diperoleh melalui pengukuran pada komponen atau

interaksi antara komponen-komponen tersebut. Pengukuran kebugaran terbagi ke

dalam dua kategori berdasarkan metabolisme energi, yaitu pengukuran aerobik

dan pengukurn anaerobik (Rowland M.D, 1996).

a. Uji Kebugaran Aerobik

Aerobik adalah olahraga yang dilakukan secara terus menerus dimana

kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh, misalnya jogging, senam,

renang, bersepeda (Depkes, 2002). Kebugaran aerobik adalah kapasitas

maksimal untu menghirup, menyalurkan, dan menggunakan oksigen. Sebaiknya

diukur dalam tes laboratorium yang disebut maksimal pemasukan oksigen

(VO2max) (Sharkey, 2003).

Uji kebugaran aerobik menggunakan dua metode yaitu langsung dan

tidak langsung. Metode langsung dilakukan dengan pengukuran kapasitas

aerobik (VO2max) dapat dilakukan menggunakan alat Douglas Bag (dua kantung

udara yang disambung dengan selang pada mulut dan hidung dengan cara

dipanggul) selama melakukan aktivitas fisik.

Metode lain dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan

spirometer yang terkomputerisasi sehingga dinilai paling objektif. Uji kebugaran

dapat dilakukan dengan pemberian beban latihan fisik (seperti penggunaan

treadmill dan sepeda ergometer) pada individu yang telah dipasangi spirometer
25

sistem metabolik yang terkomputerisasi. Alat tersebut dipasang pada mulut

individu yang diuji sehingga volume pertukaran gas serta detak jantung dapat

dimonitor (Rowland, M.D, 1996). Pengukuran VO2max dapat dilakukan dengan

dua cara, yaitu tes maksimal dan submaksimal. Pada tes maksimal, VO2max

diukur pada kondisi kelelahan maksimum selama melakukan beban latihan fisik

sehingga sistem kardiorespiratori memang benar-benar sedang mengalami

VO2max (menggunakan oksigen secara maksimal) (Rowland M.D, 1996).

Sementara itu, tes submaksimal VO2max dilakukan dengan pengukuran

saat sebelum mencapai kondisi kelelahan maksimum karena individu seperti

anak-anak atau lanjut usia akan menghentikan beban latihan fisik saat mereka

merasa lelah, walaupun belum pada kelelahan maksimal. Pengukuran VO2max

submaksimal dapat dilakukan dengan uji Åstrand-Rhyming Nomogram. Prosedur

ini menganggap bahwa ambilan oksigen dan detak jantung berhubungan linear

sehingga VO2max maksimal dapat diprediksi (Bucher, 1985). Namun, pengukuran

laboratorium VO2max relatif mahal, memakan waktu, memerlukan tenaga yang

terampil dan tidak praktis untuk tes massal (Rowland, M.D, 1996 dan Nieman,

1990 dalam Wijayanti, 1998).

Uji kebugaran dengan metode langsung akan menghasilkan jumlah yang

dinyatakan dalam satuan milliliter per menit (ml/menit) atau milliliter per

kilogram berat badan per menit (ml/ kgBB/ menit). Satuan VO2max dengan berat

badan (ml/kgBB/menit) memungkinkan untuk membandingkan VO2max dengan

memperhitungkan variasi ukuran tubuh dalam situasi lingkungan yang berbeda

(Nieman, 1990; Bowers dan Fox, 1992; dalam Wijayanti, 1998).


26

Metode tidak langsung dilakukan dengan metode prediksi melalui detak

jantung (Astrad, 1977 dalam Fatmah, 2011). Pada individu yang bugar, detak

jantung atau denyut nadi lebih sedikit jumlahnya karena sistem kardiorespiratori

bekerja secara lebih efisien, yaitu setiap detak oksigen yang terpompa dalam

darah lebih banyak sehingga kebutuhan oksigen dapat langsung terpenuhi

(Aspaugh, 1997). Tujuan yang ingin dicapai dalam olahraga pada dasarnya

adalah kapasitas aerobik yang menunjukkan derajat kebugaran seseorang.

Berikut jenis latihan fisik dan instrumen untuk menilai kebugaran:

Tabel 2.1
Jenis-Jenis Latihan Fisik
Jenis Latihan Fisik Instrumen
Tes lari 12 menit (Metode Cooper) Lintasan
Tes lari 2,4 km Lintssan
Tes dengan Ergocycle Sepeda Ergometer
Tes Naik Turun Bangku
- Havard Step Test (untuk laki- - Bangku setinggi 20 inci (70
laki) cm)
- Queen’s College step test - Bangku setinggi 16.25 inci
- YMCA (Young Men’s (57 cm)
Christian Association) 3- - Bangku setinggi 12 inci (31
minute step test cm)

Sumber : Fatmah, 2011

Pengukuran kebugaran yang paling tepat dan sesuai untuk digunakan

pada jumlah sampel besar adalah pengukuran kebugaran aerobik dengn tes naik-

turun bangku (step test). Pengukuran ini berdasarkan pada denyut nadi saat atau

segera setelah melakukan latihan fisik berupa naik-turun bangku yang

tatacaranya telah distandarisasi (Rowland, M.D, 1996).


27

Diantara ketiga macam tes naik-turun bangku, waktu paling singkat dan

perhitungan paling sederhana terdapat pada YMCA 3-minute (tes bangku 3 menit

YMCA) sehingga cocok untk tes yang dilakukan secara massal (Nieman,

2007).YMCA3-minute step test menggunakan bangku setinggi 12 inci (31 cm)

biasanya digunakan untuk tes massal selama 3 menit dan memiliki perhitungan

paling sederhana (Nieman, 2007). Pengukuran kebugaran dapat dilakukan

dengan perhitungan denyut nadi sesaat setelah tes dilakukan (Jones, 2010).

Recovery denyut nadi 5 menit setelah tes naik turun tangga 3 menit

YMCA merupakan salah satu indikator pengukuran kebugaran kardiopulmonari.

Semakin cepat denyut nadi kembali seperti sebelum tes, maka akan semakin

bugar seseorang tersebut (Chen, 2006 dalam Nanda, 2012). Penelitian yang

dilakukan oleh Yuan, Fu, Zhang, Li dan Sahan (2008) dalam Nanda (2012)

membuktikan bahwa tes naik turun bangku-3 menit YMCA ini merupakan

metode terbaik pengukuran kebugaran aerobik setelah dibandingkan dengan 40

cm step test dan squat-up down test karena memiliki reliabilitas tertinggi karena

digunakan untuk populasi yang besar.

Untuk menentukan tingkat kebugaran seseorang berdasarkan perhitungan

denyut nadi setelah melakukan tes bangku 3 menit YMCA dapat dilihat dalam

tabel 2.2 :

Tabel 2.2
Tingkat Kebugaran Berdasarkan Norma Tes Bangku 3 Menit YMCA

Usia
18-25 26-35 36-45 46-55 56-65 65+
Kategori
Laki-laki
Istimewa 50-76 51-76 49-76 56-82 60-77 59-81
28

Usia
18-25 26-35 36-45 46-55 56-65 65+
Kategori
Baik 77-84 79-85 80-88 87-93 86-94 87-92
Diatas Rata-rata 88-93 88-94 92-98 95-101 97-100 94-102
Rata-rata 95-100 96-102 100-105 103-109 103-109 104-110
Dibawah Rata- 102-107 104-110 108-113 111-117 111-117 114-118
rata
Buruk 111-119 114-121 116-124 119-128 119-128 121-126
Sangat Buruk 124-157 126-161 130-163 131-154 131-154 130-151
Perempuan
Istimewa 52-81 58-80 51-84 63-91 60-92 70-92
Baik 85-93 85-92 89-96 92-101 97-103 96-101
Diatas Rata-rata 96-102 95-101 100-104 102-110 106-111 104-111
Rata-rata 104-110 104-110 107-112 111-118 113-118 116-121
Dibawah Rata- 113-120 113-119 115-120 119-124 119-127 123-126
rata
Buruk 122-131 122-129 124-132 123-132 129-135 128-133
Sangat Buruk 135-169 134-171 137-169 133-171 141-174 135-155
Sumber : Nieman, 2007

b. Tes Kebugaran Anaerobik

Anaerobik adalah olahraga dimana kebutuhan oksigen tidak dapat dipenuhi

seluruhnya oleh tubuh. Misalnya, lari sprint 100 m, tenis lapangan, bulutangkis.

Energi pada metabolisme anaerobik akan disalurkan pada jenis latihan yang berupa

ledakan otot dan memiliki intensitas tinggi. Oleh karena itu, pengukuran kebugaran

anaerobik mengarah pada komponen daya tahan dan kekuatan otot. Beberapa

prosedur telah dikembangkan untuk memprediksi tingkat kebugaran anaerobik,

yaitu Margaria stair-running test (tes berlari naik tangga Margaria) dan tes

anaerobik Wingate (Rowland M.D, 1996). Prinsip dasar dalam pelaksanaan tes ini

yaitu tes kebugaran ini harus dilaksanakan bertahap dan berkesinambungan.

Dalam penerapannya perlu dicermati siapa yang menjadi populasi yang akan

menjalani tes kebugaran jasmani. Bila populasi yang akan menjalani tes kebugaran

adalah heterogen (masyarakat umum) milsalnya warga suatu kelurahan maka


29

kapasitas tes cukup kapasits aerobik. Namun, untuk menyeleksi terhadap populasi

yang homogen maka dapat dilakukan pengukuran kapasitas aerobik dan anaerobik

(Giriwijoyo dkk, 2012).

Metabolisme aerobik jauh lebih efisien dari pada non-aerobik, yang

menghasilkan 38 molekul adenosin triphospate (ATP) yaitu komponen yang

menggerakan kontraksi otot. Per molekul glukosa berbeda dengan 2 molekul jika

melalui jalan anaerobik (Sharkley, 2011).

Karena menghasilkan sedikit asam laktat, latihan aerobik relatif menyenangkan.

Dan hasil oksidasi lemak yang berlebih, persendian energi yang memadai untuk

dapat memperpanjang latihan. Latihan aerobik dapat dilakukan dari beberapa menit

hingga beberapa jam. Latihan aerobik dapat dilakukan dengan bersantai sambil

becengkerama pada aerobik tingkat menengah.

Sekitar tahun 2000 ini, skor kebugaran aerobik (VO2max) telah dipandang

sebagai cara mengukur kebugaran yang terbaik dan dipercayai memiliki hubungan

dengan kesehatan dan prestasi kerja serta olahraga (Sharkley, 2011).

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran

Tingkat kebugaran seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:

1. Genetik

Level kemampuan fisik seseorang dipengaruhi oleh gen yang ada dalam

tubuh. Genetik atau keturunan yaitu sifat-sifat spesifik yang ada dalam tubuh

seseorang sejak lahir. Sifat genetik mempengaruhi perbedaan dalam ledakan

kekuatan, pergerakan anggota tubuh, kecepatan lari, kecepatan reaksi,


30

fleksibilitas dan keseimbangan setiap orang (Montgomery, 2001 dalam Fatmah,

2011).

Penelitian oleh Malina dan Bouchard (1991) menentukan bahwa

hereditas mempengaruhi 25-40% perbedaan nilai VO2max. Kemudian Sundet,

Magnus, dan Tambs (1994) berpendapat bahwa lebih dari setengah perbedaan

kekuatan maksimal aerobik dikarenakan oleh perbedaan genotype, dengan faktor

lingkungan (nutrisi, latihan) sebagai penyebab lainnya. Orang tua mewariskan

faktor yang dapat memberikan kontribusi pada kebugaran aerobik, termasuk

kapasitas maksimal sistem respiratori dan kardoivaskular, jantung, sel darah

merah dan hemoglobin serta persentase serat otot. Penemuan terbaru

menunjukkan bahwa kapasitas otot untuk merespon latihan juga merupakan

keturunan. Faktor keturunan lainnya seperti fisik dan komposisi tubuh juga

mempengaruhi kebugaran dan potensi performa yang tinggi (Sharkley, 2011).

Faktor ras juga mempengaruhi tingkat kebugaran seseorang, khususnya

dari segi kebugaran aerobik. Hasil suatu penelitian yang dilakukan pada 35

wanita kulit hitam dan kulit putih menyatakan bahwa kebugaran aerobik pada

wanita kulit hitam lebih rendah dibandingkan dengan kelompok wanita kulit

putih (Hunter, 2000 dalam Fatmah, 2011).

2. Jenis Kelamin

Perbedaan kebugaran antara laki-laki dan perempuan berkaitan dengan

kekuatan maksimal otot yang berhubungan dengan luas permukaan tubuh,

komposisi tubuh, kekuatan otot, jumlah hemoglobin, hormon, kapasitas paru-

paru dan sebagainya. Sampai pubertas biasanya kebugaran anak laki-laki hampir
31

sama dengan anak perempuan, tapi setelah pubertas kebugaran pada laki-laki dan

perempuan biasanya semakin berbeda, terutama yang berhubungan dengan daya

tahan kardiorespiratori, yaitu kapasitas aoerobik pada perempuan lebih rendah

15-25 persen dibandingkan dengan laki-laki (Sharkley, 2011). Hal ini

dikarenakan perempuan memiliki jaringan lemak lebih banyak, adanya

perbedaan hormon testosteron dan esterogen, dan kadar hemoglobin yang lebih

rendah.

3. Umur

Daya tahan kardiorespiratori akan semakin menurun sejalan dengan

bertambahnya umur. Namun penurunan ini dapat berkurang, bila seseorang

berolahraga teratur sejak dini (Moeloek, 1984). Kebugaran meningkat sampai

mencapai maksimal pada usia 25-30 tahun, kemudian akan terjadi penurunan

kapasitas fungsional dari seluruh tubuh, kira-kira sebesar 0,8-1% pertahun, tetapi

bila rajin berolahraga penurunan ini dapat dikurangi sampai separuhnya (Depkes,

2002).

Berdasarkan penelitian kepada seseorang yang memulai berlatih aerobik

pada usia 30 tahun memiliki nilai VO2max sebelumnya 46 ml/kg.min sebelumnya

menjadi 54 ml/kg.min, beberapa bulan kemudian mengalami penurunan karena

tidak meneruskan latihan. Di usia 60 tahun, ia memiliki waktu untuk melakukan

aktivitas dan tes kebugarannya menujukan nilai 52 ml/kg.min artinya walaupun

kemampuan latihan dapat menurun seiring dengan usia, ahli gerontologi

olahraga, Dr. Herb de Vries telah menunjukkan bahwa kebugaran dapat

ditingkatkan, bahkan setelah usia 70 (de Vreis, 1986 dalam Sharkley, 2011).
32

4. Status Kesehatan

Status kesehatanmerupakan salah satu determinan atau faktor penentu dari

kebugaran kardiovaskuler (daya tahan kardiovaskuler) (Malina dan Bouchard,

1989 dalam Haskell dan kiernan, 2000). Kemampuan untuk menjalani aktivitas

fisik yang lebih berat dari biasanya dapat diketahui dengan menggambarkan

status kesehatan seseorang. Hal tersebut juga diperlukan sebelum melakukan tes

kebugaran sehingga status kesehatan responden dapat dikontrol.

Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengetahui status

kesehatan adalah kuesioner Par-Q (Physical Activity Readiness Questionnaire).

Kuesioner tersebut melihat status kesehatan melalui enam pertanyaan yang

meliputi kondisi jantung berdasarkan keterangan dokter, ada atau tidaknya nyeri

dada saat beraktivitas dan tidak beraktivitas, rasa pusing atau pengalaman

kehilangan kesadaran, masalah tulang dan sendi, obat tekanan darah atau jantung

yang sedang dikonsumsi serta alasan lain yang berhubungan dengan kesehatan

(Health Canada, 1998).

5. Kebiasaan Konsumsi Rokok dan Alkohol

Kebiasaan merokok terutama berpengaruh pada daya tahan kardiovaskuler.

Pada asap termbakau terdapat 4% karbonminoksida (CO). Daya ikat (afinitas)

CO pada hemoglobin sebesar 200-300 kali lebih kuat dari oksigen. Hal ini berarti

CO lebih cepat mengikat hemoglobin daripada oksigen. Hemoglobin berfungsi

mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, dengan adanya ikatan CO pada

hemoglobin maka akan menghambat pengangkutan oksigen kejaringan tubuh

(Astrand, 1992).
33

Karbondioksida dari rokok mengurangi suplai oksigen dari darah ke jaringan

dan sel tubuh. Nikotin dapat mempersempit pembuluh darah dan mengahalangi

peredaran darah. Alkohol juga dapat memberikan akibat yang merugikan kepada

kesanggupan jantung dalam memberikan sambutan kepada olahraga (Kuntaraf,

1992).

Seperti faktor risiko penyakit kardiovaskuler, merokok menjadi salah satu

yang berhubungan dengan kejadian jantung koroner. Perokok dengan konsumsi

rendah kandungan tar, nikotin, memiliki risiko lebih kecil dibandingkan dengan

perokok yang mengonsumsi lebih banyak zat berbahaya tersebut. Tetapi itu

semua berbahaya dan dapat berisiko terhadap kematian. (Bucher, 1985).

6. Aktivitas Fisik

Kegiatan fisik sangat mempengaruhi semua komponen kesegaran jasmani,

latihan fisik yang bersifat aerobik dilakukan secara teratur akan mempengaruhi

atau meningkatkan daya tahan kardiovaskular dan dapat mengurangi lemak tubuh

(Depkes, 1994 dalam Fatmah, 2011). Aktivitas fisik adalah pergerakan tubuh

akibat aktivitas otot-otot skelet yang mengakibatkan pengeluaran energi. Latihan

fisik adalah aktivitas fisik yang terencana, terstruktur dilakukan berulang-ulang

dan bertujuan untuk memperbaiki dan mempertahankan kebugaran. Latihan fisik

merupakan bagian dari aktivitas fisik, sedangkan olahraga adalah aktivitas fisik

yang mempergunakan otot-otot besar yang bersifat baik kompetitif maupun non

kompetitif. Aktivitas fisik merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi

tingkat kebugaran seseorang. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa latihan

fisik merupakan salah satu faktor yang menghambat proses penuaan yang
34

ditandai dengan penurunan kapasitas aerobik dan kekuatan otot yang akan

menurunkan tingkat kebugaran (Astrad, 1992).

Para ahli epidemiologi membagi aktivitas fisik ke dalam dua kategori, yaitu

aktivitas fisik terstruktur (kegiatan olahraga) dan aktivitas fisik tidak terstruktur

(kegiatan sehari-hari seperti berjalan, bersepeda dan berkerja) (Williams, 2002).

Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dapat mengurangi risiko terhadap

penyakit seperti cardiovakuler disease (CDV), stroke, diabetes mellitus dan

kanker kolon. Selain itu juga memberikan efek positif terhadap penyakit seperti

kanker payudara, hipertensi, osteoporosis, dan risiko jantung, kelebihan berat

badan, kondisi muskuloskletal, gangguan mental dan psikologikal dan

mengontrol perilaku yang berisiko seperti merokok, alkohol, serta juga dapat

meningkatkan produktivitas dalam bekerja (WHO, 2008 dalam Fatmah, 2011).

Aktivitas fisik rutin dapat memberikan dampak positif bagi kebugaran

seseorang, di antaranya yaitu (Astrad, 1992) :

1) Peningkatan kemampuan pemakaian oksigen dan curah jantung.

2) Penurunan detak jantung, penurunan tekanan darah, peningkatan efisiensi

kerja otot jantung.

3) Mencegah mortalitas dan morbiditas akibat gangguan jantung.

4) Peningkatan ketahanan saat melakukan latihan fisik.

5) Peningkatan metabolisme tubuh (berkaitan dengan gizi tubuh).

6) Meningkatkan kemampuan otot.

7) Mencegah obesitas
35

Kebiasaan olahraga didefinisikan sebagai suatu kegiatan fisik menurut cara

dan aturan tertentu dengan tujuan meningkatkan efisiensi fungsi tubuh yang hasilnya

adalah meningkatkan kesegaran jasmani. Sedangkan kualitas olahraga adalah

penilaian terhadap aktivitas olahraga berdasarkan frekuensi dan lamanya berolahraga

setiap kegiatan dalam seminggu. Olahraga dapat meningkatkan kebugaran apabila

memenuhi syarat-syarat berikut (Depkes, 1994 dalam Fatmah 2011):

a. Intensitas latihan

Makin besar intensitas latihan, makin besar pula efek latihan tersebut.

Intensitas kesegaran jasmani sebaiknya antara 60-80% dari kapasitas aerobik

yang maksimal. Intensitas latihan yang dianjurkan untuk berolahraga kesehatan

adalah antara 72% dan 78% dari denyut nadi maksimal.

b. Lamanya latihan

Jika kita menghendaki hasil latihan yang baik, berarti cukup

bermanfaatkan bagi kesegaran jantung dan tidak berbahaya, maka harus berlatih

sampai mencapai training zone yaitu selama 15-25 menit.

c. Frekuensi latihan

Frekuensi latihan berhubungan erat dengan intensitas dan lamanya

latihan. Olahraga dilakukan secara teratur setiap hari atau 3 kali seminggu

minimal 30 menit setiap berolahraga.

d. Cara Pengukuran Aktivitas Fisik

Pengukuran aktivitas fisik tergolong kompleks dan tidak mudah.

Berbagai pendekatan telah dikembangkan diantaranya adalah klasifikasi

pekerjaan, obeservasi perilaku, penggunaan alat sensor gerakan, penandaan


36

fisiologi (detak jantung) serta penggunaan kalorimeter. Namun, metode yang

paling sering digunakan saat ini adalah self-reported survey (survei dengan

pelaporan diri) (Haskell dan Kiernan, 2000).

1) International Physical Activity Questionnaire (IPAQ)

International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) merupakan

kuesioner internasional yang dirancang untuk mengukur aktivitas fisik pada

orang dewasa pada 7 hari sebelumnya. Jenis aktivitas fisik lebih spesifiknya

terbagi menjadi aktivitas berjalan, aktivitas sedang, dan aktivitas berat

(IPAQ, 2005). Aktivitas sedang adalah aktivitas yang menggunakan tenaga

fisik sedang sehingga membuat bernafas agak lebih kuat daripada biasanya

serta dilakukan minimal 10 menit. Aktivitas fisik berat adalah aktivitas yang

menggunakan tenaga fisik kuat sehingga nafas jauh lebih cepat dari biasanya

dan dilakukan minimal 10 menit. Menurut WHO (2011) beberapa jenis

aktivitas sedang dan berat adalah seperti pada tabel 2.3

Tabel 2.3
Jenis Aktivitas Fisik Sedang dan Berat
No Aktivitas Fisik Sedang Aktivitas Fisik Berat
1 Berjalan cepat Berlari
2 Menari Mendaki bukit
3 Berkebun Bersepeda cepat
4 Melakukan pekerjaan rumah Aerobik
tangga (menyapu, mengepel)
5 Berburu Berenang cepat
6 Bermain dengan anak-anak Bertanding olahraga (sepak
bola, voli, basket)
7 Badminton Menyekop atau menggali parit
8 Membawa/memindahkan Membawa/memindahkan
barang (<20 kg) beban (>20kg)
Sumber : WHO, 2011
37

Skor total nilai aktivitas fisik dilihat dalam MET-menit/minggu berdasarkan

penjumlahan dari aktivitas berjalan, aktivitas sedang, dan aktivitas berat dalam

durasi (menit) dan frekuensi (hari). MET merupakan hasil dari perkalian dari Basal

Metabolisme Rate dan METs-menit hasil dari dihitung dengan mengalikan skor

METs dengan kegiatan yang dilakukan dalam menit. Nilai METs untuk berjalan

adalah 3,3; aktivitas sedang adalah 4,0; dan aktivitas berat adalah 8,0.

Berikut merupakan cara perhitungan aktivitas fisik menurut IPAQ (2005).

Total MET-menit/minggu = aktivitas berjalan (METs x durasi x

frekuensi) + aktivitas sedang (METs x

durasi x frekuensi) + aktivitas berat

(METs x durasi x frekuensi).


7. Status Gizi

Ketersediaan zat gizi dalam tubuh akan berpengaruh pada kemampuan otot

berkontraksi dan daya tahan kardiovaskuler. Untuk mendapatkan kebugaran yang

baik, seseorang haruslah melakukan latihan-latihan olahraga yang cukup

mendapatkan gizi yang memadai untuk kegiatan fisiknya dan tidur (Fatmah,

2011). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan

penggunaan zat-zat gizi, dibedakan antara gizi kurang, baik, dan lebih (Almatsier,

2002). Definisi lain menyebutkan bahwa status gizi adalah ekspresi dari keadaan

keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu.

Dalam dunia olahraga, keadaan (status) gizi baik dan ketersediaan energi dalam

jumlah yang cukup serta pada waktu yang tepat sangat penting. Teknik dan latihan
38

apabila tidak dilengkapi dengan status gizi yang baik tidak akan mencapai prestasi

yang optimal (Proyek Pengembangan Kesehatan Olahraga RI, 1985).

Kelebihan lemak tubuh meningkatkan massa tubuh sehingga menurut hukum II

Newton akan menurunkan percepatan (gerak). Peningkatan berat badan akan

membawa pada kebutuhan energi yang lebih besar pada sistem aerobik untuk

melakukan dan melangsungkan pergerakan badan. Oleh karena itu, kelebihan berat

badan umumnya menyebabkan saat kelelahan yang jauh lebih dini (Woolford,

et.al, 1993 dalam Wijayanti, 2006). Ketidakmampuan tubuh dalam melakukan

aktivitas sering dikaitkan dengan penimbunan lemak (Marley,1988 dalam

Permaesih 2000). Jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk meningkatkan

temperatur lemak jaringan lebih sedikit dibandingkan yang dibutuhkan untuk

menaikkan temperatur massa bukan lemak (lean body-mass). Oleh karena itu,

dengan persen lemak yang besar, suhu tubuh akan meningkat lebih banyak

(Woolford,et.al, 1993 dalam Wijayanti, 2006).

Sebuah penelitian yang dilakukan di Maputo, Mozambik dari 2316 orang anak-

anak dan remaja berusia 6–18 tahun menyatakan bahwa kelompok gizi lebih

(overweight) tergolong paling rendah dalam hampir seluruh tes kebugaran.

Sementara itu, dibandingkan dengan kelompok normal, kelompok gizi kurang

(underweight) lebih buruk dalam tes kekuatan, sama baiknya dalam aspek

kelenturan dan ketangkasan, namun justru lebih baik dalam daya tahan

kardiovaskular (Prista, et.al, 2003dalam Indrawagita, 2009). Sementara itu, sebuah

penelitian pada 80 remaja obesitas yang dilakukan di Georgia, AS memperoleh hasil


39

bahwa kebugaran (daya tahan kardiovaskuler) berhubungan terbalik dengan persen

lemak tubuh (Gutin, et.al, 2002).

8. Asupan Gizi

Asupan gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan kebugaran karena

berkaitan dengan aktivitas fisik dan status gizi. Keadaan atau status gizi sangat

ditentukan oleh kebiasaan makan yang baik dalam jangka waktu yang lama (Proyek

Pengembangan Kesehatan Olahraga RI, 1985).

Proses pencapaian kebugaran tidak terlepas dari pengaturan gizi. Pada awalnya

pengaturan gizi hanya fokus pada penanggulangan defisiensi zat gizi untuk

pencegahan penyakit kronis. Namun, dampak dari perubahan gaya hidup dan

peningkatan umur harapan hidup maka konsep bugar mulai diterapkan. Konsep

bugar yang dimaksud adalah kemampuan untuk hidup aktif dan sehat dan

membutuhkan kualitas hidup yang baik dimana adanya kecukupan dan

keseimbangan zat gizi mikro dan makro (Fatmah, 2011). Asupan gizi yang harus

dipenuhi diantaranya energi, protein, vitamin, dan mineral.

a. Energi

Peningkatan aktivitas fisik atau intensitas olahraga yang dilakukan seseorang

diiringi dengan peningkatan pemakaian energi (Wardlaw, 1999 dalam

Indrawagita, 2009). Hal ini berkaitan dengan penelitian yang dilakukan pada

atlet yang membutuhkan berat badan yang ringan dan rendah konsumsi

energinya cendrung memiliki rendahnya kekuatan kardiorespiratori (Pařízková,

1989).
40

Sebuah penelitian yang dilakukan pada wanita dan pria berusia 47– 48 tahun

menyatakan bahwa zat gizi yang berpengaruh lebih kuat pada komponen

kebugaran persen lemak tubuh jika dibandingkan dengan laki-laki adalah

berupa makronutrien, yaitu karbohidrat dan lemak (Paul, et.al, 2004 dalam

Indrawagita, 2009).

b. Protein

Protein adalah salah satu zat gizi esensial yang sangat penting. Protein

memiliki fungsi fisiologis yang penting. Protein memilki fungsi fisiologis untuk

mengoptimalkan performa aktivitas fisik. Survei menyatakan bahwa banyak

sekolah menegah dan perguruan tinggi atlet mempercayai bahwa performa atlet

meningkat karena performa aktivitas fisik (Williams, 2002).

Sebuah penelitian yang dilakukan di Georgia, AS pada 80 orang remaja dan

anak-anak obesitas menyatakan bahwa terdapat hubungan hampir bermakna

(nilai p = 0,063) antara kebugaran (daya tahan kardiovaskuler) dengan asupan

protein. Namun, hubungan tersebut bersifat terbalik, yaitu semakin kecil

konsumsi protein, semakin tinggi daya tahan kardiovaskulernya atau sebaliknya

(Gutin, et.al, 2002). Selain itu, penelitian lain menyatakan bahwa terdapat

hubungan yang bermakna antara asupan protein dengan status gizi menurut

IMT pada bebagai ras dan golongan umur (Slattery, 1992).

c. Vitamin A

Vitamin A adalah salah satu vitamin larut lemak. Secara teoritis, defisiensi

vitamin A dapat mempengaruhi performa aktivitas fisik (Williams, 2002).

Penelitian lain yang dilakukan pada wanita menyatakan bahwa terdapat


41

hubungan positif antara konsumsi buah dengan kesehatan kardiovaskuler.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara β-

karoten (berasal dari vitamin A) dalam darah dengan daya tahan kardiovaskuler

(Lloyd, 1998). Penelitian-penelitian sepuluh tahun terakhir menunjukkan

kemungkinan hubungan antara β-karoten dan vitamin A dengan pencegahan

dan penyembuhan penyakit jantung koroner dan kanker. Hal ini dikaitkan

dengan fungsi beta-karoten dan vitamin A sebagai antioksidan yang mampu

menyesuaikan fungsi kekebalan dan sistem perlawanan tubuh terhadap

mikrorganisme atau proses merusak lainnya (Schmidt, 1991 dalam Almatsier,

2006).

d. Vitamin B1

Vitamin B1 atau thiamin merupakan jenis vitamin yang larut dalam air,

berpengaruhterhadap kebugaran sesuai dengan fungsinya sebagai koenzim

dalam mengatur metabolisme glikogen dalam otot (William, 2002). Vitamin B

lainnya secara signifikan meningkatkan daya tahan kardiorespiratori (Manore,

2000). B1 adalah bagian dari sebuah koenzim dikenal sebagai thiamin

pirofosfat, yang diperlukan untuk mengubah piruvat ke Asetil KoA untuk

masuk ke dalam krebs. Thiamin sangat penting untuk fungsi normal dari sistem

saraf dan penurunan energi dari glikogen dalam otot (Williams, 2002).

e. Zat Besi (Fe)

Zat besi memiliki fungsi utama dalam tubuh sebagai alat transportasi dan

utilitas dari oksigen. Fungsi zat besi penting dalam penggunaan oksigen dalam

tubuh. Fungsi ini terutama penting bagi seseorang yang melakukan latihan
42

aerobik berupa daya tahan dan harus memiliki asupan yang cukup (Williams,

2002). Zat gizi bersatu dengan protein hemoglobin dalam sel darah merah

sehingga dapat membantu melepaskan energi sebagai bahan bakar untuk kerja

sel (Hoeger dan Boyle, 2001). Penelitian menyatakan bahwa penurunan

kebugaran (VO2max) pada wanita non anemia dengan defisiensi Fe dapat

disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya simpanan

zat besi dalam tubuh (Zhu dan Haas, 1997).

f. Seng (Zn)

Tubuh mengandung 2-2,5 gram seng yang tersebar dihampir semua sel.

Sebagian besar seng berada dalam hati, prankreas, ginjal, otot dan tulang.

Jaringan yang banyak mengandung seng adalah bagian mata, kelenjar prostat,

spermatozoa, kulit dan rambut, dan kuku (Almatsier, 2006). Status seng yang

rendah dapat menghambat fungsi alat-alat tubuh yang berperan dalam

mengoptimalkan kebugaran. Seng yang rendah mengakibatkan menurunnya

konsentrasi Zn serum yang berhubungan dengan rusaknya fungsi-fungsi otot,

termasuk dalam menurunnya kekuatan dan meningkatnya kecenderungan untuk

menjadi lelah dan turunnya tenaga selama puncak kerja, kemudian status Zn

yang rendah menyebabkan menurunnya fungsi fisik dan penampilan

(Ramayulis, 2008 dalam Cassadra, 2011).

C. Angka Kecukupan Gizi Usia Dewasa

Gizi untuk usia dewasa mengutamakan pentingnya makanan untuk menjaga

kesehatan, mencegah penyakit dan menghambat perkembangan penyakit


43

degeneratif. Susunan makanan yang dapat mengoptimalkan kesehatan gizi jangka

panjang adalah dengan menerapkan pola makan seimbang, beraneka ragam, rendah

lemak terutama lemak jenuh, mengutamakan makanan sumber protein dari ikan dan

kacang-kacangan, seperti kacang kedelai, mengonsumsi sayuran dan buah-buahan,

serta mengurangi garam dan gula. Untuk mengetahui angka kecukupan gizi dewasa

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.4
Angka Kecukupan Gizi Usia Dewasa
Laki-Laki Perempuan
Zat Gizi 19-29 30-49 50-64 19-29 30-49 50-64
tahun tahun tahun tahun tahun tahun
Energi (Kkal) 2550 2350 2250 1900 1800 1750
Protein (gram) 60 60 60 50 50 50
Vitamin A (RE) 600 600 600 500 500 500
Vitamin D (µg) 5 5 10 5 5 10
Vitamin E (mg) 15 15 15 15 15 15
Vitamin K (µg) 65 65 65 55 55 55
Tiamin (mg) 1,2 1,2 1,2 1,0 1,0 1,0
Riboflavin (mg) 1,3 1,3 1,3 1,1 1,1 1,1
Niasin (mg) 16 16 16 14 14 14
Asam Folat (µg) 400 400 400 400 400 400
Piridoksin (mg) 1,3 1,3 1,7 1,3 1,3 1,5
Vitamin B12 (µg) 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4
Vitamin C (µg) 90 90 90 90 90 90
Kalsium (mg) 800 800 1000 800 800 1000
Fosfor (mg) 600 600 600 600 600 600
Magnesium (mg) 290 300 300 250 270 270
Besi (mg) 13 13 13 26 26 12
Yodium (µg) 150 150 150 150 150 150
Seng (mg) 13 13,4 13,4 9,3 9,8 9,8
Selenium (µg) 30 30 30 30 30 30
Mangan (mg) 2,3 2,3 2,3 1,8 1,8 1,8
Flour (mg) 3 3,1 3,1 2,5 2,7 2,7
Sumber :Widya Pangan Gizi Nasional 2014
44

a. Energi

Kebutuhan energi pada usia dewasa menurun sesuai dengan bertambahnya

usia, yang disebabkan oleh menurunnya metabolisme basal dan berkurangnya

aktivitas fisik. Usia dewasa muda yang berkisar antara 19-49 tahun merupakan

usia produktif, banyak kegiatan yang dilakukan terutama pada pekerja buruh

kebutuhan energi pada orang dewasa aktif lebih tinggi dibandingkan kelompok

usia lanjut 50-64 tahun. AKG pada perempuan usia 19-29 tahun adalah 1900

kkal (AKG Depkes RI, 2004).

b. Protein

Kebutuhan protein kelompok usia dewasa terutama digunakan untuk

mengganti protein yang hilang sehari-hari melalui urin, kulit, feses, dan rambut

serta untuk mengganti sel-sel yang rusak. Pada usia ini seseorang tidak

mengalami pertumbuhan lagi. AKG protein untuk perempuan sebesar 50 gr/hari

(AKG Depkes RI, 2004). Asupan protein lebih dari jumlah yang dianjurkan

dapat meningkatkan kajadian kanker tertentu, penyakit jantung koroner, terutama

sebagai akibat tingginya asupan lemak jenuh dan kolesterol yang terdapat pada

makanan hewani. Untuk mengurangi asupan lemak jenuh dianjurkan sebagian

dari protein berasal dari makanan nabati, yaitu kacang-kacangan.

c. Vitamin

Angka kucukupan vitamin pada kelompok usia dewasa umumnya dapat

dipenuhi apabila makanan sehari-hari sesuai dengan Pedoman Umum Gizi

Seimbang (PUGS). Masalah kekurangan vitamin pada usia dewasa bisa terjadi

karena asupan makanan kaya vitamin yang kurang.


45

Di Indonesia, AKG untuk vitamin A adalah sebanyak 600 IU wanita 18

tahun dan 500 IU untuk yang berumur 19 tahun (AKG Depkes RI, 2004). Di

Indonesia, AKG menyatakan bahwa wanita berumur 18 tahun membutuhkan

masing-masing vitamin B1 sebanyak 1,1 mg sedangkan wanita berumur 19 tahun

membutuhkan 1 – 1,1 mg (AKG Depkes RI, 2004).

g. Mineral

Angka kecukupan mineral pada usia dewasa umumnya dapat dipenuhi

apabila makana sehari-hari sesuai dengan PUGS. Angka kecukupan besi untuk

laki-laki dewasa muda dan setengah tua adalah 13 mg/hari untuk perempuan

dewasa muda 26 mg/hari, dan dewasa setengah tua 12 mg/hari. Angka

kecukupan besi perempuan dewasa muda lebih tinggi dari pada dewasa setengah

tua karena pada usia tersebut perempuan kehilangan besi tiap bulan melalui haid.

Makanan sumber besi adalah daging merah, hati, kuning telur, sayuran hijau,

serta kacang-kacangan dan hasil olahan seperti tempe dan tahu.

AKG menyatakan bahwa wanita usia 18-19 tahun membutuhkan Fe

sebanyak 26 mg per hari (AKG Depkes RI, 2004). AKG Depkes RI (2004)

menentukan bahwa wanita usia 18 – 19 tahun membutuhkan Zn sebanyak 13 mg

per hari.
46

D. Penilaian Status Gizi


Pada dasarnya penilaian status gizi dapat dibagi dua yaitu secara langsung dan

tidak langsung.

1. Penilaian Gizi Secara Langsung

Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian

yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Pengukuran yang mudah untuk

dilakukan dan tidak membutuhkan dana yang cukup besar serta dapat digunakan

untuk pengukuran pada penelitian ini adalah antropometri.

a. Antropometri

Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari

sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai

macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai umur

dan tingkat gizi. Pengunaan antropometri secara umum digunakan untuk

melihat ketidaksembangan ini terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan

proposi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh.

Dalam program gizi masyarakat, pemantauan status gizi anak dewasa dapat

menggunakan metode antropometri.

Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan

mengukur beberapa parameter, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan,

lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar pinggul dan tebal lemak bawah kulit.

Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan indeks masa tubuh

yaitu pembagian antara berat badan (BB) per tinggi badan (TB) dalam

kuadrat. Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan


47

gambaran masa tubuh. Laporan FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan

bahwa batasan berat badan normal orang ditentukan berdasarkan nilai Body

Mass Index (BMI) dikenal dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT

merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa

khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan,

maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat

mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Berikut adalah rumus IMT :

IMT = BB(kg) /TB (m2)

Keterangan :
IMT = Indeks Massa Tubuh
BB = Berat Badan (kg)
TB = Tinggi Badan (m2)

Kemudian diklasifikasikan hasil pengukuran sehingga diketahui dalam

ketegori bagaimana orang tersebut.

Tabel 2.5
Klasifikasi IMT Dewasa Menurut Depkes RI (2004)

Kategori IMT Klasifikasi


<17,0 Kurus (kekurangan berat badan tingkat berat)
17,0 – 18,4 Kurus (kekurangan berat badan tingkat ringan)
18,5 – 25,0 Normal
25,1 – 27,0 Kegemukan (kelebihan berat badan tingkat ringan)
>27,0 Gemuk (kelebihan berat badan tingkat berat)
Sumber : Depkes RI, 2004

Pengukuran antropometri untuk mengetahui persen lemak tubuh

seseorang, di antaranya yaitu (1) Underwater weighing (penimbangan dalam

air),(2) Pengukuran dengan alat bioelectrical impedanceanalysis (BIA), (3)

Dual-energy X-ray absorptiometry, serta (4) Skinfoldassessment pengukuran

tebal lemak, (5) The Bod Pod (alat pengukuran) (Fahey, et.al, 2004).
48

Underwater weighing (penimbangan dalam air), yaitu dilakukan dengan

memanfaatkan perbedaan sifat lemak terhadap daya angkat air, yaitu lemak

mengapung dalam air sementara massa bukan lemak tenggelam dalam air.

Metode pengukuran ini tergolong rumit dan membutuhkan kesediaan individu

untuk masuk ke dalam air sehingga cukup sulit dilakukan. Alat ini akurat untuk

menentukan persen lemak tubuh (Fahey, et.al, 2004). The Bod Pod yang

menggunakan alat laboratorium khusus yang tertutup dan akan memberi

tekanan udara pada tubuh sehingga diperoleh besar volume tubuh. Melalui

metode tersebut, persen lemak tubuh dapat dikalkulasikan dari volume tubuh

(Fahey, etal, 2004).

Bioelectrical impedance analysis (BIA) merupakan teknik yang

memanfaatkan aliran listrik kecil (tidak dapat dirasakan) untuk mengetahui

lemak tubuh karena lemak merupakan isolator listrik sehingga semakin lambat

aliran listrik dari satu kutub ke kutub lain, semakin tinggi persen lemak tubuh

seseorang. digunakan jumlah resistensi terhadap arus listrik berhubungan dengan

jumlah jaringan lemak bebas dalam tubuh dan dapatdigunakan untuk

mengetimasi persen lemak tubuh. Pada saat ini telah dikembangkan alat portable

yang terkomputerisasi sehingga dapat langsung menghasilkan persentase lemak

tubuh pada monitornya. Metode ini adalah yang paling populer digunakan karena

ketersediaan alat-alat BIA yang variatif serta mudah dipakai untuk masyarakat

umum (Fahey et.al, 2004).

Dual-energy X-ray absorptiometry merupakan metode yang dilakukan

dengan memanfaatkan sinar-X yang biasa digunakan untuk mengukur kepadatan


49

tulang. Sinar-X dipaparkan pada tubuh seseorang sehingga komposisi tubuh

dapat direfleksikan dan dianalisa dengan komputer. Hasil pengukuran dengan

teknik tersebut tergolong sangat akurat, namun membutuhkan biaya mahal serta

menggunakan alat yang tidak dapat dipindahkan. Biasanya dapat ditemukan

dipusat kebugaran dan klinik oleharaga. (Fahey, et.al,2004).

Skinfold assessment (pengukuran tebal lemak) yang dilakukan melalui

pengukuran tebal lemak subkutan pada area tertentu dengan menggunakan

skinfold caliper (alat untuk mencubit lipatan kulit sekaligus mengukur

ketebalannya) dalam satuan milimeter sehingga dapat diperoleh persen lemak

tubuh dengan tepat. Metode ini tidak rumit, murah dan praktis untuk pengukuran

komposisi tubuh, namun sangat rawan kesalahan dan membutuhkan standar

pelatihan yang sama sehingga hasil menjadi akurat (Fahey, et.al, 2004).

Tabel 2.6
Klasifikasi Persen Lemak Tubuh pada Perempuan
Persen Lemak Tubuh (%)
Kategori
< 19 tahun 20-29 tahun
Baik Sekali 17,0 18,0
Baik 17,1-22,0 18,1-23,0
Cukup 22,1 -27 23,1-28
Buruk 27,1- 32,0 28,1 -33
Buruk Sekali ≥ 32,1 ≥ 33,1
Sumber : Depdiknas Pengembangan Olaharaga, 2012

2. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung

a. Recall 24 Jam

Metode recall 24 jam dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah

bahan makanan yang dikonsumsi selama 24 jam yang lalu. Data yang

diperoleh dari recall 24 jam biasanya bersifat kualitatif, sehingga untuk


50

mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu

ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat ukuran rumah tangga

(sendok, gelas, piring dan lain-lain) atau ukuran lainnya yang biasanya

digunakan sehari-hari. Dalam recall 24 jam, untuk memudahkan penentuan

jumlah konsumsi makanannya, biasanya digunakan food model. Recall 24 jam

ini jangan dilakukan hanya 1 kali (1x24 jam) karena akan menghasilkan data

yang kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makan individu.

Oleh karena itu, recall 24 sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya

tidak berturut-turut (Supariasa dkk, 2002).

Menurut Sanjur (1997) dalam Suparisa, dkk (2002) beberapa penelitian

menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut, dapat

menghasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi

yang lebih besar tentang intake harian individu. Menurut Supariasa (2002)

Metode recall 24 jam ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan

sebagai berikut :

a. Kelebihan metode recall 24 jam

1) Mudah melaksanakannya secara serta tidak terlalu membebani

responden

2) Biayanya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan

tempat yang luas untuk wawancara

3) Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden

4) Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf


51

5) Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi

individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari.

b. Kekurangan metode recall 24 jam

1) Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari, bila hanya

dilakukan recall satu kali.

2) Ketepatan sangat tergantung pada daya ingat respoden, oleh karena itu

responden harus mempunyai daya ingat yang baik, sehingga metode

ini tidak cocok dilakukan pada anak usia dibawah 7 tahun, orang tua

diatas 70 tahun dan orang hilang ingatan atau pelupa.

3) The flat slope syndrome, yaitu kecendrungan bagi responden yang

kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate)

dan bagi responden yang gemuk cendrung melaporkan lebih sedikit

(under estimate).

E. Kerangka Teori

Berdasarkan teori yang telah dijelaskan diatas faktor–faktor yang

mempengaruhi kebugaran diantaranya menurut Fatmah (2011) adalah genetik, usia,

jenis kelamin, status gizi, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, asupan gizi. Ditambah

menurut Sharkley (2011) faktor yang mempengaruhi kebugaran adalah genetik, usia,

jenis kelamin, status gizi, aktivitas fisik, kemudian Astrad (1992) menjelaskan

aktivitas fisik dan kebiasaan merokok, Hoeger (2011) menjelaskan status kesehatan,

Williams (2002) menjelaskan asupan gizi dan Nieman (1998) menjelaskan faktor
52

yang mempengaruhi kebugaran secara keseluruhan. Sehingga diperoleh kerangka

teori sebagai berikut :

Bagan 2.1

Kerangka Teori

Genetik

Umur

Jenis Kelamin

Status Kesehatan

Rokok dan Alkohol

Aktifitas Fisik Kebugaran

Status Gizi
-IMT
-Persen Lemak Tubuh

Asupan Gizi
-Energi
-Protein
-Vitamin A
-Zat Besi ( fe)
-Seng (Zn)

Sumber : ModifikasiAstrad (1992), Nieman (1998), Williams (2002), Fatmah (2011), Hoeger (2011), dan
Sharkley (2011)
BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep

Tujuan umum dari penelitian ini yaitu ingin mengetahui hubungan antara status

gizi dengan kebugaran dilihat dari Indeks Massa Tubuh (IMT), persen lemak tubuh,

asupan gizi dan aktifitas fisik pada Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kebugaran diantaranya adalah genetik, usia,

jenis kelamin, status gizi, aktivitas fisik dan asupan gizi yang dijadikan sebagai

variabel independen. Tetapi tidak semua faktor dapat diteliti dengan asumsi sebagai

berikut:

a. Genetik.

Genetik tidak dimasukan kedalam kerangka konsep karena merupakan faktor

yang tidak dapat dicegah atau tidak dapat dimodifikasi (Prentice, 2004).

b. Usia, Jenis Kelamin, Rokok dan Alkohol

Variabel tersebut homogen karena responden yang diteliti seluruhnya perempuan

dan semua responden tidak mengonsumsi rokok dan alkohol.

c. Status Kesehatan

Status kesehatan juga tidak diteliti karena homogen pula. Seluruh reponden yang

teliti memiliki status kesehatan yang baik berdasarkan penelitian pendahuluan

menggunakan kuesioner PAR-Q and You. Jika diketahui dari pertanyaan terkait

53
54

kesehatan memiliki jawaban “Ya” artinya responden dalam keadaan status

kesehatan yang baik. Sedangkan variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. IMT

IMT menggambarkan komposisi tubuh manusia yang terdiri dari jaringan adiposa

dan Lean Body Mass. Komposisi tubuh sesorang yang berlebihan dapat

mempengaruhi kebugaran tubuh.

b. Persen Lemak Tubuh

Lemak tubuh yang berlebihan akan memperberat kerja jantung sehingga akan

mempengaruhi kebugaran tubuh.

c. Aktivitas Fisik

Latihan fisik merupakan salah satu faktor yang menghambat proses penuaan yang

ditandai dengan penurunan kapasitas aerobik dan kekuatan otot.

d. Asupan Gizi (Energi, Protein, Vitamin A, Vitamin B1, Zat Besi dan Seng)

Asupan makanan zat gizi makro terutama karbohidrat, lemak, dan protein akan

dipergunakan untuk menghasilkan energi dan sebagian disimpan dalam hati dan

otot yang dapat dipergunakan untuk melakukan aktivitas fisik guna mencapai

kebugaran. Protein yang didalamnya asam amino berguna untuk meningkatkan

performa. Selain itu diperlukan zat gizi mikro untuk memelihara proses dalam

tubuh. Vitamin B1 dibutuhkan untuk pengaturan metabolisme tubuh. Vitamin A

dengan kandungan β-karoten berfungsi menetralisir radikal bebas dalam tubuh.

Besi diperlukan dalam pembentuk hemoglobin. Zn berperan mengoptimalkan

kebugaran.
55

Dengan pernyataan diatas maka kerangka konsep dari variabel yang akan

diteliti yaitu variabel independen meliputi status gizi (Indeks Massa Tubuh (IMT),

persen lemak tubuh, asupan gizi) dan aktifitas fisik adalah sebagai berikut:

Bagan 3.1
Kerangka Konsep

IMT

Persen Lemak Tubuh

Aktivitas Fisik

Asupan Energi
Kebugaran
Asupan Protein

Asupan Vitamin A

Asupan Vitamin B1

Asupan ZatBesi (Fe)

Asupan Seng (Zn)


56

B. Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional

Skala
No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
Ukur
Variabel Dependen
1 Kebugaran Nilai kebugaran yang diperoleh Metode YMCA 3- Perhitungan denyut Jumlah denyut nadi Rasio
dari pengukuran daya curah minute step test nadi setelah setelah tes kebugaran
jantung pada sistem (tes bangku 3 melakukan dalam satu menit
kardiorespiratori setelah menit YMCA) YMCA3-minute (kali/menit)
melakukan step test naik turun step test (tes
tangga yang dilakukan oleh bangku 3 menit
mahasiswi YMCA)

Variabel Independen
1 Indeks Massa Ukuran keadaan gizi mahasiswi 1. Timbangan Pengukuran Nilai IMT dalam Rasio
Tubuh (IMT) yang dihitung dari perbandingan Injak (Seca) antropometrik kg/m2
antara berat badan dalam 2. Mircotoise
kilogram dibagi dengan tinggi
badan dalam meter yang
dikuadratkan
2 Persen Lemak Persentase massa lemak dari berat BIA (Bioelectric
Pengukuran dengan Nilai Persen Lemak Rasio
Tubuh badan total pada mahasiswi Impedance) alat BIA Tubuh dalam %
(Bioelectric
Impedance
Analysis)
4 Asupan gizi Jumlah rata-rata energi yang Kuesioner Recall Penghitungan Jumlah asupan Rasio
Energi dikonsumsi oleh mahasiswi yang 24 jam Recall 2 x 24 jam energi dalam kkal
berasal dari makanan, minuman
57

Skala
No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
Ukur
dan suplemen dalam satu hari
dilakukan sebanyak 2 kali pada
hari yang berlainan.
5 Asupan Protein Jumlah rata-rata protein yang Kuesioner Recall Penghitungan Jumlah asupan Rasio
dikonsumsi dari makanan, 24 jam Recall 2 x 24 jam protein dalam gram
minuman dan suplemen dalam (gr)
satu hari sebelum wawancara
yang dilakukan sebanyak 2 kali
pada hari yang berlainan.
6 Asupan Jumlah rata-rata vitamin A yang Kuesioner Recall Penghitungan Jumlah asupan Rasio
Vitamin A dikonsumsi dari makanan, 24 jam Recall 2 x 24 jam vitamin A dalam
minuman dan suplemen dalam mikrogram (µg)
satu hari sebelum wawancara
yang dilakukan sebanyak 2 kali
pada hari yang berlainan.
7 Asupan Jumlah rata-rata vitamin B1 yang Kuesioner Recall Penghitungan Jumlah asupan Rasio
Vitamin B1 dikonsumsi dari makanan, 24 jam Recall 2 x 24 jam vitamin B1 dalam
minuman dan suplemen dalam miligram (mg)
satu hari sebelum wawancara
yang dilakukan sebanyak 2 kali
pada hari yang berlainan.
8 Asupan Zat Besi Jumlah rata-rata zat besi (Fe) Kuesioner Recall Penghitungan Jumlah asupan zat Rasio
(Fe) yang dikonsumsi dari makanan, 24 jam Recall 2 x 24 jam besi (Fe) dalam
minuman dan suplemen dalam miligram (mg)
satu hari sebelum wawancara
yang dilakukan sebanyak 2 kali
pada hari yang berlainan.
9 Asupan Seng (Zn) Jumlah rata-rata seng (Zn) yang Kuesioner Recall Penghitungan Jumlah asupan Seng Rasio
58

Skala
No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
Ukur
dikonsumsi dari makanan, 24 jam Recall 2 x 24 jam (Zn) dalam miligram
minuman dan suplemen dalam (mg)
satu hari sebelum wawancara
yang dilakukan sebanyak 2 kali
pada hari yang berlainan.
C. Hipotesis
1. Ada hubungan antara status gizi berdasarkan IMT dengan kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah

tahun 2013.

2. Ada hubungan status gizi berdasarkan persen lemak tubuh dengan kebugaran

pada mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif

Hidayatullah tahun 2013.

3. Ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kebugaran pada mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.

4. Ada hubungan antara asupan energi dengan kebugaran pada mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.

5. Ada hubungan antara asupan protein dengan kebugaran pada mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.

6. Ada hubungan antara asupan vitamin A dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah tahun

2013.

7. Ada hubungan antara asupan vitamin B1 dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah tahun

2013.

8. Ada hubungan antara asupan zat besi (Fe) dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah tahun

2013.

59
60

9. Ada hubungan antara asupan seng (Zn) dengan kebugaran pada mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah tahun

2013.
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik melalui pendekatan

kuantitatif dengan desain cross sectional karena pengambilan data variabel

independen yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT), persen lemak tubuh, asupan gizi dan

aktivitas fisik dengan variabel dependen yaitu kebugaran dilakukan pada saat yang

bersamaan. Desain ini digunakan karena mudah dilaksanakan, sederhana, murah,

ekonomis dalam hal waktu, dan hasilnya dapat diperoleh dengan cepat

(Notoatmodjo, 2010).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus tahun 2013 di Program

Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari unit di dalam pengamatan yang akan

kita lakukan (Sabridkk,2009). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat yang berstatus aktif sebagai

mahasiswi di tahun ajaran 2012/ 2013 diketahui sebanyak 305 orang.

61
62

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.Adapun Sampel

yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswi Program Studi Kesehatan

Masyarakat tahun ajaran 2012/2013. Dengan pengambilan sampel probability

sampling dengan teknik pengambilan sampling secara simple random sampling

dengan kriteria.Sampel diperoleh dengan memperhatikan kriteria inklusi sebagai

berikut:

a. Mahasiswi berstatus aktif sebagai mahasiswi tahun ajaran 2012/2013 usia

19-21 tahun.

b. Tidak memiliki penyakit tertentu seperti jantung, karena akan berakibat

terhadap lemahnya daya tahan tubuh setelah melakukan pengujian step test.

c. Mengisi kuesioener PAR-Q and You untuk mengetahui kesanggupan dalam

melakukan tes kebugaran kardiorespiratori dan dinyatakan bisa mengikuti

tes tersebut.

d. Tidak Mengonsumsi rokok dan alkohol


63

Jumlah sampel diperoleh dengan menggunakan rumus uji hipotesis koefisien

kolerasi. Perhitungan didasarkan pada transformasi Fisher (Ariawan, 1998):

Keterangan:

Ζ = Koefisien Fisher
r = Koefisien kolerasi antara aktivitas fisik tingkat
moderat dengan estimasi kebugaran
kardiorespiratori aerobik anak 0,33 (Kristensen,
et,al, 2010)

n = Jumlah sampel
Z 1-α/2 = 1,96 (tingkat kepercayaan 0,5%)
Z 1-β = 1,28 (kekuatan uji 90%)
Ζ = Koefisien Fisher 0,34 hasil perhitungan dengan
r sebesar 0,33

Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus tersebut, diperoleh bahwa besar

sampel berjumlah 94 orang. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam

penelitian ini adalah simple random sampling, yaitu pengambilan sampel secara acak,

sesuai langkah yang ditetapkan. Dengan pembagian jumlah sampel per angkatan sebagai

berikut:

Tabel 4.1
Pembagian Jumlah Sampel

Angkatan Jumlah
2009 52/ 305 x 94 = 16
2010 56/305 x 94 = 17
2011 105/305 x 94 = 32
2012 92/ 305 x 94 = 29
Total 94
64

Sampel pada setiap angkatan diambil secara acak berdasarkan undian dan

disesuaikan dengan jumlah yang dibutuhkan. Setelah didapatkan jumlah sampel

sebanyak 94 orang dicocokkan dengan kriteria yang ditentukan, jika terdapat responden

yang tidak sesuai maka dilakukan drop out dan dipilih kembali sampai menemukan

responden yang sesuai.

D. Pengumpulan Data
1. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer yang langsung diperoleh dalam penelitian adalah pengukuran

status gizi dengan antropometri (tinggi dan berat badan serta persen lemak

tubuh), asupan gizi dengan wawancara recall 24 jam, aktivitas fisik dengan

wawancara kuesioner IPAQ, dan kebugaran kardiorespiratori dengan

menggunakan tes bangku 3 menit YMCA.

b. Data Sekunder

Data sekunder yang diperoleh adalah data mengenai profil dan jumlah

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

yang diperoleh dari bagian program studi.

2. Instrumen Penelitian

Pelaksanaan pengumpulan data memerlukan instrumen yang sesuai standar

prosedur uji kebugaran kardiorespiratori. Berikut instrumen yang digunakan

dalam pengumpulan data :

a) Kuesioner PAR-Q and You


65

b) Kuesioner penelitian yang berisi pendahuluan dan kolom data diri, prosedur

pemgumpulan data, kolom recall 24 jam, kolom recall aktivitas fisik (IPAQ)

dan kolom hasil pengukuran antropometrik.

c) Timbangan berat badan digital (merek Seca)

d) Pengukuran tinggi badan (microtoise)

e) Alat pengukuran persen lemak tubuh (bioelectrical impedance analysis

(BIA)) merek Omron) dengan ketelitian 1%

f) Bangku kayu tes kebugaran kardiorespiratori dengan tinggi 31 cm.

g) Rekaman suara alat pengatur ketukan irama (metronome)

h) Dua buah alat pengukur waktu (stopwatch).

3. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan membagi tahapan menjadi tiga pos. Pos

pertama merupakan pos wawancara recall 24 jam, pos kedua merupakan pos

pengukuran antropometrik dan pos ketiga merupakan pos tes kebugaran

kardiorespiratori dengan tes bangku 3 menit YMCA. Pengumpulan data telah

dilakukan dengan prosedur sebagai berikut.

a) Sebelum pelaksanaan tes sampel penelitian yang telah terpilih mengisi

kuesioner PAR-Q and You untuk mengetahui keanggupan dalam melakukan

tes fisik. Jika diketahui ada sampel yang tidak memenuhi kriteria maka

dilakukan drop out (ajuan pengeluaran) dan dilakukan penarikan sampel

kembali sesuai jumlah yang dibutuhkan.


66

b) Tahap pertama, responden menuju pos untuk registrasi dan melakukan

wawancara food recall 24 jam dan recall aktivitas fisik dengan kuesioner

IPAQ (2005).

c) Tahap kedua, responden melakukan tes pengukuran antropometrik untuk

dilakukan pengukuran. Hasil pengukuran dicatat pada lembar entri data pada

kuesioner masing-masing responden.

d) Tahap ketiga, responden melakukan tes kebugaran kardiorespiratori sesuai

prosedur (lampiran) dan hasil perhitungan denyut nadi ditulis pada lembar entri

data dalam kuesioner.

e) Setelah data seluruh responden terkumpul, penulis melakukan pemeriksaan

kuesioner yang telah diisi untuk menghindari kesalahan pengisian.

4. Pengukuran Data

a) Kebugaran

Dalam pengukuran kebugaran melakukan tes langsung dengan naik turun

bangku selama 3 menit (tes bangku 3 menit YMCA). Sebelumnya responden

mengisi kuesioner PAR-Q and You untuk mengetahui kesanggupan dalam

melaksanakan aktivitas tes yang terdiri dari 7 pertanyaan kemudian

dikategorikan dapat melakukan tes jika ≥1 jawaban “Ya”, tidak dapat

melakukan tes jika ≥1 jawaban “Tidak”. Untuk tes bangku 3 menit YMCA

setelah itu dihitung denyut nadi responden oleh mahasiswi keperawatan.

b) Status Gizi (IMT)

Dalam penelitian ini status gizi dengan melihat Indeks Massa Tubuh

(IMT) dilakukan pengukuran secara langsung menggunakan timbangan digital.


67

Pelaksanaannya dilakukan sebanyak 2 kali untuk mendapatkan hasil yang

presisi dan akurasi. Hasil pengukuran dihitung dari pembagian antara berat

badan dibagi dengan tinggi badan (dalam m2) oleh mahasiswi gizi kesehatan

masyarakat.

c) Status Gizi (Persen Lemak Tubuh)

Penilaian status gizi untuk mengetahui persen lemak tubuh menggunakan

alat BIA (Bioelectric Impedance Analyses) secara langsung oleh mahasiswi gizi

kesehatan masyarakat.

d) Aktivitas Fisik

Untuk mengetahui aktivitas fisik responden, peneliti menggunakan

kuesioner yang telah standarisasi secara internasional yaitu IPAQ. Kuesioner

IPAQ terdiri dari 7 pertanyaan. Skor total nilai aktivitas fisik dilihat dalam

MET-menit/minggu berdasarkan penjumlahan dari aktivitas berjalan, aktivitas

sedang, dan aktivitas berat dalam durasi (menit) dan frekuensi (hari). MET

merupakan hasil dari perkalian Basal Metabolisme Rate dan MET-menit

(IPAQ,2005).

e) Asupan Gizi

Untuk mengetahui asupan gizi pada responden maka digunakan teknik

wawancara recall 24 jam yang dilakukan 2 kali dalam waktu yang berlainan.

Wawancara menanyakan makanan yang responden konsumsi 1 hari sebelumnya

dan takaran yang dikonsumsi. Hasil wawancara dimasukan dalam software

Nutri Survey 2007 (versi Indonesia) sehingga langsung dapat diketahui jumlah

zat gizi. Wawancara dilakukan oleh mahasiswi gizi kesehatan masyarakat.


68

5. Teknik Manajemen dan Analisis Data

Agar analisis penelitian menghasilkan informasi yang benar, beberapa tahapan

dalam pengolahan data yang harus dilalui. Pengolahan data yang telah

dikumpulkan dilakukan dengan proses komputerisasi melalui beberapa langkah

sebagai berikut:

a. Penyutingan (Editing)

Penyutingan data dilakukan sebelum pemasukan data ke dalam komputer.

Untuk Informasi yang belum lengkap ditanyakan kembali kepada responden

melalui telepon.

b. Entri Data (Entry)

Template kolom entri data dibuat dengan menggunakan Microsoft Office Excel

disertai dengan tahapan check yang dilakukan untuk memberi menghindari

kekeliruan dalam memasukkan data. Selanjutnya data dimasukkan dalam

program peranti lunak untuk diproses pada tahap selanjutnya.

c. Koreksi (Cleaning)

Proses koreksi terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahan yang dapat

menggangu proses pengolahan data selanjutnya. Untuk melihat apakah terdapat

kesalahan dalam entry data maka dilakukan dengan cara membuat distribusi

frekuensi sehingga akan muncul kesalahan dalam mengentri data.

d. Analisis Data

1) Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil tiap

penelitian (Notoatmodjo, 2010). Pada analisis ini akan menghasilkan


69

tabel distribusi data digunakan untuk mengetahui sebaran nilai rata-rata,

simpangan baku, nilai minimun dan maksimum dari hasil pengukuran

pendukung, yaitu umur responden, tinggi dan berat badan serta denyut

nadi sebelum dan lima menit setelah tes bangku 3 menit YMCA.

2) Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua

variabel, yaitu satu variabel bebas (IMT dan persen lemak tubuh, aktivitas

fisik, asupan energi, protein, vitamin A, vitamin B, zat besi (Fe), dan seng

(Zn) dan satu variabel terikat kebugaran Analisis bivariat menggunakan

uji statistik korelasi. Tujuan dari uji korelasi ini adalah untuk mengetahui

keeratan hubungan dan untuk mengetahui arah hubungan dari kedua

variabel numerik.Jika data berditribusi normal digunakan uji kolerasi

Pearson, jika data berdistrubsi tidak normal digunakan uji kolerasi

Spearman. Perhitungan koefisien korelasi (r) menggunakan rumus

berikut.

Nilai r berkisar 0 sampai 1 sementara untuk menunjukkan arah

nilainya antara -1 hingga +1. Jika nilai = 0 menunjukkan tidak ada

hubungan linier, nilai r = -1 menunjukkan hubungan linier negatif

sempurna, dan nilai r = +1 menunjukkan hubungan linier positif

sempurna.

Menurut Colton (dalam Sutanto, 2011), kekuatan hubungan antara dua

variabel secara kualitatif ditunjukkan ke dalam empat area, yaitu:

r = 0,00-0,25 menunjukkan tidak ada hubungan/ hubungan lemah


70

r = 0,26-0,50 menunjukkan hubungan sedang

r = 0,51-0,75 menunjukkan hubungan kuat

r = 0,76-1,00 menunjukkan hubungan sangat kuat/ sempurna

Untuk mengetahui hubungan antara dua variabel menggunakan uji

hipotesis. Tujuan dari uji hipotesis ini adalah untuk mengetahui apakah

hubungan antar variabel terjadi secara signifikan atau tidak (by

chance). Uji hipotesis ini menggunakan tingkat kepercayaan 95% atau

tingkat kesalahan α = 5%. Uji hipotesis kolerasi sebagai berikut: Uji

hipotesis ini dilakukan dengan two-tail, dan jika keluaran SPSS

menunjukkan p-value ≤0,05, berarti hipotesis ditolak atau terdapat

hubungan yang signifikan antara varibel x dengan y, atau dapat

diterima hipotesis jika p-value >0,05 atau tidak terdapat hubungan

yang signifikan antara varibel x dengan y.


BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Analisis Univariat

Analisis univariat pada penelitian ini memaparkan gambaran hasil analisis dari

kebugaran berdasarkan nilai denyut nadi, Indeks Massa Tubuh (IMT), persen lemak

tubuh, aktivitas fisik dan asupan gizi (energi, protein, vitamin A, vitamin B1, Fe dan

Zn) pada mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta tahun 2013.

1. Distribusi Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi Kesehata


Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013
Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui kebugaran bersadarkan

nilai denyut nadi setelah 5 detik tes kebugaran mahasiswi yang sangat bervariasi.

Distribusi kebugaran mahasiswi penelitian dipaparkan pada tabel 5.1 berikut ini:

Tabel 5.1
Distribusi Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi Kesehatan
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013
Variabel Mean 95% CI SD Min-Max
Kebugaran 112,45- 119,38 17,03kali/menit 76 -151 kali/menit
kali/menit
Sumber :Data Primer, 2013

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata pada Coefisien Interval 95%

kebugaran berdasarkan denyut nadi dari total seluruh mahasiswi yaitu 112,45-

119,38 kali/menit. Variasi nilai kebugaran berdasarkan denyut nadi sebesar

71
72

17,03. Sedangkan sebaran nilai kebugaran berdasarkan denyut nadi terendah

adalah sebesar 76 kali/menit dan tertinggi sebesar 151 kali/menit.

1. Distribusi Status Gizi pada Mahasiswi Program Studi Kesehatan


Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013.

a. Indeks Massa Tubuh

Status gizi mahasiswi pada penelitian ini diukur dengan menggunakan

indikator Indeks Massa Tubuh (IMT). Hasil uji statistik univariat untuk nilai

IMT mahasiswi dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut ini:

Tabel 5.2
Distribusi Indeks Massa Tubuh pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat
Tahun 2013
Variabel Mean 95% CI SD Min-Max
2
IMT 20,60-22,41 kg/m 4,25 15,37-39,26 kg/m2
Sumber : Data Primer 2013

Nilai rata-rata IMT pada Coefisien Interval 95% mahasiswi adalah 20,60-

22,41 kg/m2 dengan variasi nilai IMT sebesar 4,25. Sedangkan sebaran nilai IMT

terendah adalah 15.37 kg/m2 dan tertinggi adalah 39.26 kg/m2.

Gambaran kategori IMT mahasiswi yang diteliti berdasarkan standar

Depkes RI (2004) diketahui sebanyak 16% mahasiswi tergolong kurus, 66%

mahasiswi tergolong normal dan 18,1% kegemukan.

b. Persen Lemak Tubuh

Status gizi mahasiswi pada penelitian ini diukur dengan menggunakan

indikator persen lemak tubuh. Hasil uji statistik univariat untuk nilai status gizi

mahasiswi dapat dilihat pada tabel 5.3 berikut ini:

Tabel 5.3
73

Distribusi Persen Lemak Tubuh pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat


Tahun 2013
Variabel Mean 95% CI SD Min-Max
Persen Lemak Tubuh 22,70-25,34 % 6,71 9,20-42%
Sumber : Data Primer, 2013

Tabel 5.3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata persen lemak tubuh pada

Coefisien Interval 95% penelitian ini adalah 22,70-25,34% dengan variasi nilai

persen lemak tubuh sebesar 17,03. Sedangkan sebaran persen lemak tubuh

terendah yaitu sebesar 9,20% dan tertinggi sebesar 42,00%.

Gambaran kategori persen lemak tubuh mahasiswi berdasarkan

Depdiknas Pengembangan Olahraga (2002) diketahui persentase lemak tubuh

mahasiswi sebesar 70,2% berada pada keadaan normal dan 29,8% berada pada

keadaan lebih.

2. Distribusi Aktivitas Fisik pada Mahasiswi Program Studi Kesehatan


Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013.

Data aktivitas fisik digambarkan dengan nilai aktivitas fisik berdasarkan

perhitungan total skor IPAQ dan disajikan dalam bentuk metabolic equivalen

(METs). Distribusi nilai aktivitas fisik dipaparkan dalam tabel 5.4 berikut :

Tabel 5.4
Distribusi Nilai Aktivits Fisik pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat 2013
Variabel Mean 95 % CI SD Min-Max
Aktivitas Fisik 1892,32-3296,27 METs 3685,92 17-22344 METs
Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.4 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata aktivitas fisik

mahasiswi dari hasil total nilai METs pada Coefisien Interval 95% adalah

sebesar 1892,32-3296,27 METs dan variasi nilai aktivitas fisik sebesar 3685,92.
74

Distribusi nilai aktivitas fisik berada pada kategori nilai 600-3000 METs, artinya

sebagian besar mahasiswi memiliki aktivitas fisik sedang dengan variasi data

3685,923 METs. Sedangkan sebaran total nilai aktivitas fisik terendah adalah 17

METs dan nilai tertinggi adalah 22344 METs.

Gambaran kategori aktivitas fisik mahasiswi berdasarkan klasifikasi

IPAQ 2005 diketahui 28,7% memiliki aktivitas fisik rendah, 50% memiliki

aktivitas fisik sedang, dan 21,3% memiliki aktivitas fisik tinggi.

3. Distibusi Status Gizi berdasarkan Asupan Gizi pada Mahasiswi Program


Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013.

Asupan gizi yang diteliti meliputi zat gizi makro dan mikro yang terdiri dari

energi, protein, vitamin A, vitamin B1, Fe dan Zn. Adapun distribusi asupan gizi

dipaparkan di bawah ini.

a. Asupan Energi

Data tentang gambaran asupan energi mahasiswi diperoleh dari hasil

wawancara kuesioner food recall 2x24 jam. Hasil univariat gambaran asupan

gizi energi responden dapat dilihat pada tabel 5.5 berikut ini:

Tabel 5.5
Distribusi Asupan Energi pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat 2013
Variabel Mean 95% CI SD Min-Max
Asupan 1478,8-1655,42 kkal 430,1 516,9-3009 kkal
Energi
Sumber : Data Primer, 2013

Tabel 5.5 menunjukkan bahwanilai rata-rata asupan energi pada

Coefisien Interval 95% dalam satu hari adalah sebesar 1478,8-1655,42 kkal
75

dengan variasi jumlah asupan energi sebesar 430,10. Sedangkan sebaran

asupan energi terendah sebesar 516,90 kkal dan tertinggi sebesar 3009 kkal.

Gambaran kategori asupan energi mahasiswi berdasarkan

Departemen Kesehatan 2004 yang memiliki asupan energi kurang sebesar

54,3% dan asupan energi cukup sebesar 45,7%.

b. Asupan Protein

Data tentang gambaran asupan protein mahasiswi diperoleh dari hasil

wawancara kuesioner food recall 2x 24 jam. Hasil univariat gambaran asupan

protein mahasiswi dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut ini:

Tabel 5.6
Distribusi Asupan Protein pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat 2013
Variabel Mean 95% CI SD Min-Max
Asupan Protein 51,14-58,69 gram 6,71 17,45-119,86 gram
Sumber: Data Primer 2013

Tabel 5.6 menunjukkan bahwa nilai rata-rata pada Coefisien Interval

95% adalah 51,14-58,69 gram dan variasi jumlah asupan protein sebesar

17,63. Sedangkan sebaran asupan protein terendah berkisar antara 17,45

gram dan tertinggi 119,85 gram.

Gambaran kategori asupan protein mahasiswi berdasarkan

Departemen Kesehatan 2004 yang memiliki asupan protein kurang sebesar

18,1% dan asupan protein cukup sebesar 81,9%.


76

c. Asupan vitamin A

Data tentang gambaran asupan vitamin A mahasiswi diperoleh dari hasil

wawancara kuesioner food recall 2x24 jam. Hasil univariat gambaran asupan

vitamin A responden dapat dilihat pada tabel 5.7 berikut ini:

Tabel 5.7
Distribusi Asupan Vitamin A pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat
2013
Variabel Mean 95% CI SD Min-Max
Asupan Vitamin A 663,65-1015,03 µg 6,71 72,70-5999 µg
Sumber : Data Primer, 2013

Tabel 5.7 menunjukkan bahwa nilai rata-rata asupan vitamin A pada

Coefisien Interval 95% adalah 663,65-1015,03 µg dan variasi jumlah asupan

vitamin A sebesar 904,88. Sedangkan sebaran asupan vitamin A terendah

sebesar 72,70 µg dan tertinggi sebesar 5999 µg. Gambaran kategori asupan

vitamin A mahasiswi berdasarkan Departemen Kesehatan 2004 yang

memiliki asupan vitamin A kurang sebesar 93,6% dan asupan vitamin A

cukup sebesar 6,4%.

d. Asupan Vitamin B1

Data tentang gambaran asupan vitamin B1 mahasiswi diperoleh dari hasil

wawancara kuesioner food recall 2x24 jam. Hasil univariat gambaran asupan

vitamin B1 responden dapat dilihat pada tabel 5.8 berikut ini:

Tabel 5.8
Distribusi Asupan Vitamin B1 pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat
2013
Variabel Mean 95% CI SD Min-Max
Asupan Vitamin B1 0,45-0,53 mg 0,187 0,20-1,25 mg
Sumber : Data Primer, 2013
77

Tabel 5.8 menunjukkan bahwa nilai rata-rata asupan vitamin B1 mahasiswi

pada Coefisien Interval 95% adalah 0,45-0,53 mg dengan variasi jumlah

asupan vitamin B1 sebesar 0,187. Sedangkan sebaran asupan vitamin B1

terendah sebesar 0,20 mg dan tertinggi sebesar 1,25 mg. Gambaran kategori

asupan vitamin B1 mahasiswi berdasarkan Departemen Kesehatan 2004 yang

memiliki asupan vitamin B1 kurang sebesar 94,7% dan asupan vitamin B1

cukup sebesar 5,3%.

e. Asupan Fe

Data tentang gambaran asupan Fe responden diperoleh dari hasil

wawancara kuesioner food recall 2x 24 jam. Hasil univariat gambaran

asupan Fe mahasiswi dapat dilihat pada tabel 5.9 berikut ini:

Tabel 5.9
Distribusi Asupan Vitamin Fe pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat
2013
Variabel Mean 95% CI SD Min-Max
Asupan Vitamin Fe 6,74-8,66 mg 4,695 0,90-30,60 mg
Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui asupan Fe mahasiswi. Nilai

rata-rata asupan Fe pada Coefisien Interval 95% adalah 6,74-8,66 mg dengan

variasi jumlah asupan Fe sebesar 4,695. Sedangkan sebaran asupan Fe

terendah adalah 0,90 mg dan tertinggi adalah 30,60 mg.

Gambaran kategori asupan Fe mahasiswi berdasarkan Departemen

Kesehatan 2004 yang memiliki asupan Fe kurang sebesar 96,8% dan asupan

Fe cukup sebesar 3,2%.


78

f. Asupan Zn

Data tentang gambaran asupan Zn mahasiswi diperoleh dari hasil

wawancara kuesioner food recall 2x 24 jam. Hasil univariat gambaran asupan

Zn mahasiswi dapat dilihat pada tabel 5.10 berikut ini:

Tabel 5.10
Distribusi Asupan Zn pada Mahasiswi Kesehatan Masyarakat 2013

Variabel Mean 95% CI SD Min-Max


Asupan Vitamin Zn 5,94-6,88 mg 2,304 1,95-14,60 mg
Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui asupan Zn responden.

Nilai rata-rata asupan Zn pada Coefisien Interval 95% adalah 5,94-6,88 mg

dengan variasi jumlah asupan Zn sebesar 2,304. Sedangkan sebaran asupan

Zn terendah adalah 1,95 mg dan tertinggi adalah 14,60 mg.

Gambaran kategori asupan Zn mahasiswi berdasarkan Departemen

Kesehatan 2004 yang memiliki asupan Zn kurang sebesar 92,6% dan asupan

Zn cukup sebesar 7,4%.

B. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yaitu

variabel dependen dan variabel independen. Dalam penelitian ini yang menjadi

variabel dependen yaitu kebugaran, sementara variabel independen yaitu IMT, persen

lemak tubuh, aktivitas fisik, dan asupan gizi (energi, protein, vitamin A, vitamin B1,
79

Fe dan Zn) yang dianalisis menggunakan uji korelasi dengan jenis data secara

keseluruhan adalah numerik dan numerik.

1. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran pada Mahasiswi


Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun 2013

Adapun hubungan antara IMT dengan kebugaran yang diukur

menggunakan denyut nadi sesaat setelah 5 detik setelah tes kebugaran dapat

dilihat pada tabel 5.11 berikut ini:

Tabel 5.11
Analisis Hubungan IMT dengan Kebugaran pada Mahasiswi Kesehatan
Masyarakat Tahun 2013
Variabel Jumlah (n) Korelasi (r) P-value
IMT 94 0,251 0,015
Sumber: Data Primer 2013

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa terdapat hubungan yang

signifikan antara IMT dengan kebugaran sesaat setelah tes kebugaran dengan

nilai Pvalue sebesar 0,015 (P ≤0,05). Nilai koefisien korelasi (r = 0,251)

menunjukkan pola hubungan antar variabel yang positif dengan pola hubungan

yang lemah, menunjukkan dengan semakin bertambahnya nilai IMT maka akan

semakin bertambah denyut nadi setelah tes kebugaran yang berarti tingkat

kebugarannya semakin berkurang.


80

2. Hubungan Persen Lemak Tubuh dengan Kebugaran pada Mahasiswi


Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun 2013

Adapun hubungan persen lemak tubuh dengan kebugaran yang diukur

menggunakan denyut nadi sesaat setelah 5 detik setelah tes kebugaran dapat

dilihat pada tabel 5.12 berikut ini:

Tabel 5.12
Analisis Hubungan Persen Lemak Tubuh dengan Kebugaran pada
Mahasiswi Kesehatan Masyarakat Tahun 2013
Variabel Jumlah (n) Korelasi (r) P-value
Persen Lemak Tubuh 94 0,114 0,275
Sumber: Data Primer 2013

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan antara persen lemak tubuh dengan Kebugaran sesaat setelah tes

kebugaran dengan nilai Pvalue sebesar 0,275 (P >0,05). Nilai koefisen korelasi (r

= 0,114) menunjukkan pola hubungan antar variabel yang positif dengan pola

hubungan yang sedang, yang berarti semakin bertambahnya nilai persen lemak

tubuh maka akan semakin bertambah denyut nadi setelah tes kebugaran yang

berarti tingkat kebugarannya semakin berkurang.

3. Hubungan Aktifitas Fisik dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program


Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013

Adapun hubungan aktivitas fisik dengan kebugaran yang diukur

menggunakan denyut nadi sesaat setelah 5 detik setelah tes kebugaran dapat

dilihat pada tabel 5.13 berikut ini:


81

Tabel 5.13
Analisis Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013
Variabel Jumlah (n) Korelasi (r) P-value
Aktivitas Fisik 94 0,018 0,862
Sumber: Data Primer 2013

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan anatar aktivitas fisik dengan Kebugaran sesaat setelah tes

kebugaran dengan nilai Pvalue sebesar 0,862 (P >0,05). Nilai koefisien korelasi

(r = 0,018) menunjukkan pola hubungan antar variabel yang positif dengan pola

hubungan yang lemah hampir tidak terdapat hubungan yang bermakna antara

aktivitas fisik dengan kebugaran pada mahasiswi Program Studi Kesehatan

Masyarakat.

4. Hubungan Asupan Energi dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program


Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013

Adapun hubungan asupan energi dengan kebugaran yang diukur

menggunakan denyut nadi sesaat setelah 5 detik setelah tes kebugaran dapat

dilihat pada tabel 5.14 berikut ini :

Tabel 5. 14
Analisis Hubungan Asupan Energi dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013
Variabel Jumlah (n) Korelasi (r) P-value
Asupan Energi 94 -0,128 0,220
Sumber: Data Primer 2013

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan antara asupan energi dengan Kebugaran sesaat setelah tes

kebugaran dengan nilai Pvalue sebesar 0,220 (P >0,05). Nilai koefisien korelasi
82

(r = -0,128) menunjukkan pola hubungan antar variabel yang negatif dengan pola

hubungan yang lemah, yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan energi

maka akan semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran yang berarti

tingkat kebugarannya semakin bertambah.

5. Hubungan Asupan Protein dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program


Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013

Adapun hubungan asupan protein dengan kebugaran yang diukur

menggunakan denyut nadi sesaat setelah 5 detik setelah tes kebugaran dapat

dilihat pada tabel 5.15 berikut ini:

Tabel 5.15
Analisis Hubungan Asupan Protein dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013
Variabel Jumlah (n) Korelasi (r) P-value
Asupan Protein 94 -0,209 0,043
Sumber: Data Primer 2013

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa terdapat hubungan yang

signifikan anatar asupan protein dengan Kebugaran sesaat setelah tes kebugaran

dengan nilai Pvalue sebesar 0,043 (P ≤0,05).Nilai koefisien korelasi (r = -0,209)

menunjukkan pola hubungan antar variabel yang negatif dengan pola hubungan

yang lemah, yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan protein maka akan

semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran yang berarti tingkat

kebugarannya semakin bertambah.


83

6. Hubungan Asupan Vitamin A dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program


Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013

Adapun hubungan asupan vitamin A dengan kebugaran yang diukur

menggunakan denyut nadi sesaat setelah 5 detik setelah tes kebugaran dapat

dilihat pada tabel 5.16 berikut ini:

Tabel 5.16
Analisis Hubungan Asupan Vitamin A dengan Kebugaran pada
Mahasiswi Kesehatan Masyarakat Tahun 2013
Variabel Jumlah (n) Korelasi (r) P-value
Asupan Vitamin A 94 -0,079 0,451
Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan antara asupan vitamin A dengan kebugaran sesaat setelah tes

kebugaran dengan nilai Pvalue sebesar 0,451 (P >0,05).Nilai koefisien korelasi (r

= -0,079) menunjukkan pola hubungan antar variabel yang negatif dengan pola

hubungan yang sangat lemah, yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan

vitamin A maka akan semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran

yang berarti tingkat kebugarannya semakin bertambah.

7. Hubungan Asupan Vitamin B1 dengan Kebugaran pada Mahasiswi


Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun 2013

Adapun hubungan vitamin B1 dengan kebugaran yang diukur berdasarkan

denyut nadi sesaat setelah 5 detik setelah tes kebugaran dapat dilihat pada tabel

5.17 berikut ini:


84

Tabel 5.17
Analisis Hubungan vitamin B1 dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013
Variabel Jumlah (n) Korelasi (r) P-value
Asupan Vitamin B1 94 -0,099 0,341
Sumber: Data Primer 2013

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan anatar asupan vitamin B1 dengan kebugaran sesaat setelah tes

kebugaran dengan nilai Pvalue sebesar 0,341 (P >0,05). Nilai koefisien korelasi

(r = -0,099) menunjukkan pola hubungan antar variabel yang negatif dengan pola

hubungan yang lemah, yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan vitamin

B1 maka akan semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran yang

berarti tingkat kebugarannya semakin bertambah.

8. Hubungan Asupan Fe dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi


Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013

Adapun hubungan Asupan Fe dengan kebugaran yang diukur berdasarkan

denyut nadi sesaat setelah 5 detik setelah tes kebugaran dapat dilihat pad atabel

5.18 berikut ini:

Tabel 5.18
Analisis Hubungan Asupan Fe dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013
Variabel Jumlah (n) Korelasi (r) P-value
Asupan Fe 94 -0,089 0,392
Sumber: Data Primer 2013

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan anatar asupan Fe dengan Kebugaran sesaat setelah tes kebugaran

dengan nilai Pvalue sebesar 0,392 (P >0,05). Nilai koefisien korelasi (r = -0,089)
85

menunjukkan pola hubungan antar variabel yang negatif dengan pola hubungan

yang sangat lemah, yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan vitamin Fe

maka akan semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran yang berarti

tingkat kebugarannya semakin bertambah.

9. Hubungan Asupan Zn dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi


Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013

Adapun hubungan asupan Zn dengan kebugaran yang diukur

menggunakan denyut nadi sesaat setelah 5 detik setelah tes kebugaran dapat

dilihat pada tabel 5.19 berikut ini:

Tabel 5.19
Analisis Hubungan Asupan Zn dengan Kebugaran pada Mahasiswi
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013
Variabel Jumlah (n) Korelasi (r) P-value
Asupan Zn 94 -0,182 0,078
Sumber: Data Primer 2013

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan antara asupan Zn dengan kebugaran sesaat setelah tes kebugaran

dengan nilai Pvalue sebesar 0,078 (P >0,05). Nilai koefisien korelasi (r = -0,182)

menunjukkan pola hubungan antar variabel yang negatif dengan pola hubungan

yang lemah, yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan Zn maka akan

semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran yang berarti tingkat

kebugarannya semakin bertambah.


BAB VI

PEMBAHASAN

A. Kebugaran Pada Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif


Hidayatullah Jakarta Tahun 2013

Kebugaran pada mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat diukur dengan

menggunakan metode tidak langsung melalui denyut nadi setelah melakukan tes

kebugaran step test YMCA 3 menit. Pengukuran kebugaran tersebut menghasilkan

nilai rata-rata kebugaran pada Coefisien Interval 95% adalah diantara 112,45-119,38

kali/menit. Standar denyut nadi untuk kebugaran menurut Nieman (2007) bagi

perempuan adalah baik jika denyut nadi <113 kali/menit. Sehingga dapat diketahui

bahwa mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat pada penelitian ini

kebugaranya kurang baik. Hal ini disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi

kebugaran diantaranya adalah Indeks Massa Tubuh dimana jika terjadi peningkatan

akan berdampak terhadap penurunan kebugaran dan asupan protein yang kurang akan

menurunkan kebugaran seseorang. Kemudian dibandingkan dengan beberapa

penelitian lain terkait kebugaran, kebugaran mahasiswi Program Studi Kesehatan

Masyarakat lebih rendah dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan di Nevada,

Amerika Serikat pada 60 responden sehat dengan rentang usia 18-55 tahun yang

menunjukkan rata-rata denyut nadi setelah 5 detik tes kebugaran sebesar 107

kali/menit (berada diatas rata-rata nilai kebugaran) dengan metode yang sama yaitu

step test YMCA 3 menit (Santo dan Golding, 2003).

86
87

Jika kebugaran tersebut diklasifikasikan berdasarkan norma tes kebugaran

menurut standar tes bangku 3 menit YMCA Nieman (2007) diketahui persentase

mahasiswi yang bugar sebesar 38,3% dan tidak bugar sebesar 61,7%. Hasil

penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan di Karnatakan, India pada

kelompok dewasa muda dengan menggunakan metode ergometer step test yang

diketahui sebanyak 63,3% responden tergolong tidak bugar (Halaskar, et.al, 2005).

Dan juga selaras dengan penelitian pada mahasiswi gizi Universitas Indonesia yang

diketahui sebanyak 86,7% mahasiswi tidak bugar (Indrawagita, 2009). Dari

beberapa penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan metode yang selaras

yaitu step test diketahui bahwa rata-rata responden memiliki kebugaran yang

rendah.

Ditinjau dari sisi metode, pengukuran kebugaran dengan tes bangku 3 menit

YMCA adalah metode tes bangku yang tergolong baru dengan waktu paling singkat

serta perhitungan yang mudah (satu kali dan tanpa rumus) (Nieman, 2007). Hal ini

akan mengurangi resiko kesalahan perhitungan denyut nadi sehingga hasilnya dapat

dikatakan akurat.
88

B. Gambaran serta Hubungan antara Status Gizi berdasarkan Indeks Massa


Tubuh, Persen Lemak Tubuh, Asupan Gizi dan Aktivitas Fisik dengan
Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Tahun 2013

1. Gambaran dan Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran


Hasil penelitian menunjukkan rata-rata IMT mahasiswi Program Studi

Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta adalah diantara 20,60 sampai dengan 22,41

kg/m2 dengan variasi nilai IMT 4,25. IMT terkecil adalah 15,37 kg/m2 dan

terbesar adalah 39,26 kg/m2. Bila diklasifikasikan berdasarkan standar Depkes RI

(2004) diketahui sebanyak 16% mahasiswi tergolong kurus, 66% mahasiswi

tergolong normal dan 18,1% kegemukan.

Hasil uji statistik antara IMT dengan kebugaran diperoleh Pvalue 0,015.

Dengan demikian hipotesis penelitian diterima, artinya ada hubungan yang

bermakna antara IMT dengan kebugaran mahasiswi Program Studi Kesehatan

Masyarakat. Selain itu, diperoleh nilai koefisien kolerasi sebesar 0,0251 yang

menunjukkan bahwa hubungan antara IMT dengan kebugaran adalah lemah.

Nilai tersebut menunjukkan dengan semakin bertambahnya nilai IMT maka akan

semakin bertambah denyut nadi setelah tes kebugaran yang berarti tingkat

kebugarannya semakin berkurang.

IMT merupakan alat ukur untuk menilai status gizi seseorang. Ketika

nilai IMT seseorang diatas ambang normal menunjukkan status gizinya berlebih.

Gizi lebih menyimpan kelebihan energi dalam bentuk lemak tubuh yang

berpengaruh terhadap kebugaran seseorang. Baik otot maupun lemak memiliki

massa, yang jika dibandingkan dengan tinggi badan akan menggambarkan


89

komposisi tubuh secara tidak langsung. Menurut Hoeger (1996) berat badan

berlebih (overweight) tidak pasti membuktikan bahwa orang tersebut memiliki

massa lemak yang tinggi begitu pula dengan berat badan kurang tidak pasti

membuktikan bahwa orang tersebut memiliki massa otot yang tinggi.

Menurut Martin (2003) pada saat terjadi timbunan lemak dalam tubuh,

membungkus jaringan viseral menjadikan kerja lebih kuat dalam mensuplai

oksigen ke jaringan guna menghasilkan energi oleh kerena itu jantung perlu

memompa pada frekuensi yang sering. Selain terdapat lemak pada IMT yang

lebih, dalam berat badan berlebih terdapat sel dan otot yang semakin besar yang

berpengaruh pada kebutuhan nutrisi yang lebih besar sehingga peningkatan

denyut jantung, akibat pada satu kali curah jantung oksigen yang dihantarkan

kurang dari jumlah yang diperlukan untuk memenuhi nutrisi sel-sel yang

berlebih tersebut. Terjadi ketidakefisienan fungsi jantung yang akibatnya

kebugaran menjadi berkurang (Sherwood, 2010). Kemudian Menurut Woolford,

et.al (1993) dalam Wijayanti (2006) kelebihan lemak tubuh akan meningkatkan

massa tubuh sehingga menurut hukum II Newton akan menurunkan percepatan

(gerak). Peningkatan berat badan akan membawa pada kebutuhan energi yang

lebih besar pada sistem aerobik untuk melakukan dan melangsungkan pergerakan

badan. Oleh karena itu, kelebihan berat badan umumnya menyebabkan saat

kelelahan yang jauh lebih dini.

Penelitian ini selaras dengan penelitian Nanda (2012) dan Indarawagita

(2012) yang menunjukkan hubungan bermakana antara IMT dengan kebugaran.

Kesesuaian penelitian ini dengan penelitian tersebut dikarenakan keduanya


90

menggunakan metode tes kebugaran 3 menit YMCA. Dengan semakin tinggi nilai

IMT maka akan memiliki kebugaran yang semakin rendah. Kondisi ini selaras

dengan penelitian di Maputo, Mozambik, yaitu kelompok dengan gizi lebih

(overweight) paling rendah dalam hampir seluruh tes kebugaran. Sementara

dibandingkan dengan kelompok normal, kelompok gizi kurang (underweight)

lebih baik dalam daya tahan kardiorespiratori (endurance) (Prista,et.al,2003).

Hal tersebut juga selaras dengan penelitian Nancy,et.al (2005) tentang

kebutuhan energi pada wanita usia produktif dimana salah satunya

membandingkan kebugaran (VO2max) dan kekuatan (repetisi maksimum)

terhadap latihan leg press, leg extension, bench press, and latissimus pull-down)

diantara subyek dengan IMT kurang, normal, dan lebih. Hasilnya adalah

konsumsi maksimal oksigen cendrung berbeda untuk setiap kelompok IMT.

Vo2max terendah terdapat pada kelompok IMT terendah dan Vo2max pada

kelompok lebih cendrung lebih rendah dibandingkan kelompok normal

(Cassandra, 2011).

Dengan status gizi yang baik akan tercapai kesehatan dan kebugaran yang

optimal (Proyek Pengembangan Kesehatan Olahraga RI, 1985). Dari hasil

penelitian menujukan rata-rata IMT mahasiswi berada pada kondisi normal. Oleh

karena itu diperlukan keseimbangan antara asupan konsumsi dan keluaran agar

status gizi berada keadaan normal guna memperoleh kebugaran yang optimal.
91

2. Gambaran dan Hubungan Persen Lemak Tubuh dengan Kebugaran


Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persen lemak tubuh

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta adalah diantara

22,70 sampai dengan 25,34% dan variasi nilai persen lemak tubuh sebesar 17,03.

Dengan persen lemak tubuh terendah 9,20% dan persen lemak tubuh tertinggi

42%. Jika diklasifikasikan berdasarkan Depdiknas Pengembangan Olahraga

(2002) diketahui persentase lemak tubuh responden sebesar 70,2% berada pada

keadaan normal dan 29,8% berada pada keadaan lebih.

Hasil uji statistik antara persen lemak tubuh dengan kebugaran diperoleh

Pvalue 0,275. Dengan demikian hipotesis penelitian ditolak, artinya tidak ada

hubungan yang bermakna antara persen lemak tubuh dengan kebugaran

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat. Selain itu diperoleh nilai

koefisien korelasi sebesar 0,114 yang menujukkan bahwa hubungan persen

lemak tubuh dengan kebugaran adalah lemah. Nilai tersebut juga menunjukkan

adanya hubungan linier positif sempurna, yang berarti semakin bertambahnya

nilai persen lemak tubuh maka akan semakin bertambah denyut nadi setelah tes

kebugaran yang berarti tingkat kebugarannya semakin berkurang.

Menurut Sharkey (2011) penurunan kebugaran dipengaruhi juga karena

peningkatan lemak tubuh. Seseorang yang mempunyai berat sama dan tinggi

yang sama belum tentu memiliki persentase lemak yang sama pula karena

besarnya lemak dalam tubuh kita tergantung dari aktivitas yang dilakukan dan

pola makannya. Dalam penelitian ini tidak terjadi hubungan karena rata-rata

persen lemak tubuh mahasiswi sebesar 22,70 sampai dengan 25,34 yang berarti
92

memiliki status gizi normal yang mana pada kondisi normal tidak terjadi

pengaruh terhadap penurunan kebugaran. Selain itu perbedaan kemaknaan

dengan pengukuran status gizi dengan IMT adalah pada mahasiswi

dimungkinkan memiliki komposisi tubuh lebih besar pada jaringan bebas lemak

dibandingkan dengan jaringan lemak.

Penelitian ini tidak sejalan dengan Mifsud,et,al (2008) dan Indrawagita

(2009) bahwa ada hubungan antara persen lemak tubuh dengan kebugaran.

Dengan menandakan semakin tinggi persen lemak tubuh responden semakin

rendah kebugaran berdasarkan VO2max. Dan juga tidak sejalan dengan penelitian

oleh Gutin (2002) pada remaja obesitas usia 13-16 tahun di Georgia, Amerika

Serikat yang diperolah hasil adanya hubungan yang signifikan antara kebugaran

dengan persen lemak tubuh dengan arah hubungan yang negatif sedang (r= -

0,622, P<0,001). Perbedaan hasil penelitian ini dengan penelitian Gutin (2002)

dimungkinkan karena karakteristik sampel yang berbeda yaitu pada penelitian ini

responden memiliki persen lemak tubuh rata-rata normal sedangkan penelitian

oleh Gutin seluruh responden memiliki riwayat obesitas.

3. Gambaran dan Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kebugaran


Aktivitas fisik didefinisikan sebagai pergerakan badan anggota tubuh

yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan

kesehatan fisik dan mental, serta mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat

dan bugar sepanjang hari. Dengan melakukan aktivitas fisik dapat

mempertahankan bahkan meningkatkan derajat kesehatan (Fatmah, 2011).


93

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata aktivitas fisik mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta adalah 1892,32 sampai dengan 3296,27

METs dengan nilai variasi aktivitas fisik sebesar 3685,92. Dan nilai aktivitas

fisik terendah 17 METs dan tertinggi 22344 METs. Dengan demikian, maka

pada umumnya responden memiliki aktivitas fisik sedang cendrung berat.

Menurut IPAQ (2005) aktivitas sedang berada pada rentang 600-3000 METs,

aktivitas ringan <600 METs dan aktivitas berat >3000 METs.

Hasil uji statistik antara aktivitas fisik dengan kebugaran diperoleh

Pvalue sebesar 0,862. Dengan demikian hipotesis penelitian ditolak, artinya tidak

terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kebugaran. Selain itu, diperoleh

nilai koefisien kolerasi sebesar 0,018 yang menujukan nilai korelasi mendekati 0

yang berarti tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kebugaran. Hal ini

tidak sesuai dengan hipotesis awal bahwa terdapat hubungan yang bermakna

antara aktivitas fisik dengan kebugaran pada mahasiswi Program Studi

Kesehatan Masyarakat.

Aktivitas fisik berperan penting dalam proses pembakaran cadangan

lemak tubuh. Seseorang yang kurang aktivitas fisik akan menyebabkan

penumpukan lemak dalam jaringan tubuh yang berpengaruh terdapat

kebugarannya. Menurut Sharkley (2011) aktivitas secara teratur dapat

mengurangi beban kerja jantung sehingga lebih efisien yang outputnya akan

menghasilkan kebugaran terutama pada kardiorespirasinya.

Pada mahasiswi diketahui berdasarkan skor aktivitas fisik rata-rata

memiliki aktivitas fisik sedang. Diantaranya aktivitas yang banyak dilakukan


94

adalah berjalan cepat, melakukan pekerjaan rumah tetapi tidak jarang yang

melakukan aktivitas fisik olahraga secara teratur dan terstruktur sehingga tidak

sesuai dengan teori diatas.

Tidak ditemukannya kemaknaan antara aktivitas fisik dengan kebugaran

pada penelitian ini dimungkinkan karena variasi data yang homogen. Kemudian

asumsi lainnya dalam penelitian ini masih terdapat keterbatasan penelitian

penghitungan aktivitas fisik menggunakan kuesioner aktivitas fisik International

Physical Activity Quesionnaire (IPAQ, 2005) yang mungkin terjadi bias dalam

pengisian. Kuesioner penelitian ini merupakan kuesioner internasional untuk

menilai aktivitas fisik usia 18-65 tahun yang sudah tervalidasi dan juga dilakukan

uji validitas pada kuesioner secara langsung oleh peneliti. Namun pengukuran

dengan menggunakan kuesioner aktivitas fisik bergantung pada daya ingat

responden karena menggingat aktivitas yang telah dilakukan selama satu

minggu kebelakang.

Berbeda dengan studi yang dilakukan oleh Gutin (2005) dengan

menggunkan alat yang lebih canggih berupa komputer kecil yang dipasang pada

dada responden selama tujuh hari berturut-turut (lepas saat tidur atau melakukan

aktivitas berbahaya) sehingga kadar aktivitas fisik didapat secara otomatis dan

data yang diperoleh langsung berupa durasi melakukan aktivitas fisik istirahat,

ringan, sedang dan berat dalam satuan menit/hari dan studi yang dilakukan oleh

Rizo (2007) yang menggunakan sebuah monitor aktivitas juga untuk menilai

aktivitas fisik.
95

Perbedaan cara pengukuran tersebut dapat berdampak pada hasil yang

jauh lebih akurat dibandingkan dengan pengisian kuesioner. Selain itu, pada

penelitian Gutin (2005) jumlah sampel yang jauh lebih banyak sehingga data

mejadi lebih variatif dan memperjelas makna hubungan. Apabila dibandingkan

dengan studi Sharkey (1979), responden pada penelitian tersebut berada pada

kondisi yang sedang menurun dan diberi intervensi langsung sehingga

aktivitasnya dapat terkontrol. Berbeda dengan pengisian kuesioner yang hanya

memberikan persepsi dan keterangan mengenai kehidupan sehari-hari

menggunakan sudut pandang subjektif sehingga besar terjadinya bias.

Kemudian, pernyataan Astrad (1992) yang mendukung bahwa aktivitas

fisik mempengaruhi status gizi, yaitu dapat meningkatkan metabolisme tubuh

dan mencegah obesitas. Hal tersebut menunjukkan secara tidak langsung

aktivitas fisik memiliki hubungan dengan status gizi. Sehingga peneliti

berpendapat bahwa aktivitas fisik sesungguhnya memiliki hubungan dengan

kebugaran. Namun, hubungan tersebut tidak secara langsung mempengaruhi

terhadap kebugaran melainkan dengan hubungan antara status gizi dengan

kebugaran .

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Sassen,dkk, 2010)

pada 1298 responden berumur 18-62 tahun pada staf di kantor Utrecht Police

Lifestyle Intervention Fitness and Training (UP-LIPI) menunjukkan hubungan

positif yang signifikan antara kebugaran dengan kebiasaan beraktivitas (r =

0,018) dan intensitas aktivitas fisik (r = 0,238) dengan kekuatan hubungan yang
96

lemah. Perbedaan kemaknaan ini dikarenakan pada penelitian diatas berada pada

sampel yang besar dan jenis kelamin yang heterogen.

Kemudian responden dalam penelitian ini sebagian besar memiliki

aktivitas fisik sedang seperti membersikan rumah, mengangkat beban dari buku

dan alat tulias kuliahnya tanpa diimbangi dengan olahraga yang teratur sehingga

berdampak pada kebugaran yang rendah pula.

4. Gambaran dan Hubungan Asupan Energi dengan Kebugaran


Manusia membutuhkan energi untuk mempertahankan hidup, menunjang

pertumbuhan dan melaksanakan aktivitas fisik. Kebutuhan energi seseorang

menurut WHO (1985) adalah konsumsi energi berasal dari makanan yan

diperlukan untuk menutupi pengeluaran energi seseorang bila mempunyai

ukuran dan komposisi tubuh dengan tingkat aktivitas fisik yang dibutuhkan

secara sosial dan ekonomi (Almatsier, 2001).

Hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata asupan energi mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah

diantara 1478,8 sampai dengan 1655,42 kkal dengan variasi jumlah asupan

energi sebesar 430,10. Dan nilai asupan energi terendah 516,9 kkal dan tertinggi

3009 kkal.

Hasil uji statistik antara asupan energi dengan kebugaran diperoleh

Pvalue 0,220. Dengan demikian hipotesis penelitian ditolak, artinya tidak ada

hubungan antara asupan energi dengan kebugaran pada mahasiswi Program Studi

Kesehatan Masyarakat. Nilai koefisien korelasi sebesar -0,128 yang menujukan


97

bahwa hubungan asupan energi dengan kebugaran adalah lemah. Nilai tersebut

juga menunjukkan bentuk hubungan antara asupan energi dengan kebugaran

adalah negatif yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan energi maka akan

semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran yang berarti tingkat

kebugarannya semakin bertambah.

Energi merupakan bahan bakar utama bagi tubuh untuk melakukan

metabolisme guna melangsungkan kehidupan. Zat gizi yang tergolong sebagai

sumber energi adalah karbohidrat, protein, lemak. Setiap 1 gram karbohidrat dan

protein menghasilkan 9 kkal energi (Williams,1995). Karbohidrat merupakan

sumber utama energi bagi tubuh untuk melakukan aktivitas (Hoeger dan Hoeger,

1996). Glukosa yang merupakan bentuk dari karbohidrat, digunakan sebagai

bahan bakar otot untuk melakukan latihan (Smolin dan Grosvenor,2010 dalam

Iskaningtyas,2012). Glukosa dalam darah akan diterima jantung sebagai energi

sementara otot tulang dan hati menyimpannya.dalam bentuk glikogen (Sharkley,

2011). Kebugaran paru jantung memerlukan energi agar tubuh dapat terus

menerus mensuplai oksigen pada saat melakukan aktivitas dan latihan fisik. Jika

asupan energi tersebut kurang dari kebutuhan, maka akan berpengaruh juga

terhadap kemampuan otot untuk mempompa jantung untuk mengalirkan oksigen

hingga dapat digunakan berbagai keperluan metabolisme tubuh.

Secara statistik tidak ditemukan hubungan bermakna antara asupan energi

dengan kebugaran dimungkinkan adalah karena rata-rata asupan energi dalam

sehari belum mencukupi. Rata-rata asupan energi mahasiswi adalah 1478,8-

1655,42 kkal masih kurang dari angka kecukupan energi dalam satu hari yang
98

diperlukan tubuh menurut AKG (2004) yaitu 1900 kkal perhari dan

dimungkinkan terjadinya flat slop sydrom pada saat dilakukan recall

makanan yaitu ketidaktepatan laporan asupan makanan. Orang yang mengalami

kegemukan secara konsisten kurang melaporkan makanan yang dikonsumsi

dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal sehingga berpengaruhi

terhadap jumlah rata-rata asupan energi dalam sehari. Selain itu jumlah sampel

dalam penelitian perlu ditingkatkan karena jumlah sampel yang lebih besar akan

memperjelas keberadaan hubungan yang ada antara asupan zat gizi dengan

kebugaran.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan pernyataan pada sebuah

penelitian oleh Pařízková (1989) bahwa pada atlet senam putri memiliki

karakteristik konsumsi energi yang rendah dan asupan yang tidak seimbang

sehingga membawa pada pertumbuhan yang tidak normal dan rendahnya

kekuatan aerobik (daya tahan kardiorespiratori). Sehingga dapat diketahui bahwa

berdasarkan hasil penelitian diatas dengan konsumsi energi yang kurang akan

menurunkan kebugaran seseorang.

Mahasiswi dengan padatnya jadwal perkuliahan dengan aktivitas sedang

diharapkan cukup dalam memenuhi kebutuhan energi untuk beraktivitas.

Konsumsi energi berasal dari makanan yang diperlukan untuk menutupi

pengeluaran energi seseorang bila ia mempunyai ukuran dan komposisi tubuh

dengan tingkat aktivitas yang sesuai (Almatsier, 2006). Peneliti mengasumsikan

bahwa dengan asupan energi yang kurang dengan aktivitas sedang jika

berlangsung lama akan menyebabkan defisit terhadap kebutuhan energi tersebut.


99

Begitupun sebaliknya jika asupan energi berlebih tetapi aktivitas fisiknya pasif

akan menimbun lemak yang menyebabkan obesitas sehingga akan berpengaruh

terhadap nilai indeks massa tubuh dan persen lemak tubuh.

Penelitian yang dilakukan pada wanita di Georgia, AS, diketahui zat gizi

yang berpengaruh lebih kuat pada komponen kebugaran persen lemak tubuh jika

dibandingkan dengan laki-laki adalah berupa makronutrien (Paul.et,al, 2004).

Peneliti berpendapat bahwa hubungan yang terjalin antara asupan energi dengan

kebugaran yang dinilai dari denyut nadi terjadi secara tidak langsung. Melainkan

melalui aktivitas fisik dimana jumlah energi yang digunakan tubuh sangat

bergantung kepada kegiatan jasmani. Kemudian masukan energi yang lebih besar

dari pada pengeluaran akan meningkatkan komposisi tubuh. Dengan penelitian

lebih lanjut mengenai hubungan asupan energi dengan status gizi dimungkinkan

akan menemukan hubungan kemaknaan dengan kebugaran.

5. Gambaran dan Hubungan Asupan Protein dengan Kebugaran

Hasil penelitian didapatkan rata-rata asupan protein mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah diantara

51,14 sampai dengan 58,69 gram dengan jumlah variasi asupan protein 17,63.

Dan jumlah asupan protein terendah 17,45 gram dan tertinggi 119,85 gram.

Hasil uji statistik antara asupan protein dengan kebugaran diperoleh

Pvalue 0,043. Dengan demikian hipotesis penelitian diterima, artinya ada

hubungan antara asupan protein dengan kebugaran pada mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat. Nilai koefisien korelasi sebesar -0,209 yang


100

menujukan bahwa hubungan asupan protein dengan kebugaran adalah lemah.

Nilai tersebut juga menunjukkan bentuk hubungan antara asupan protein dengan

kebugaran adalah negatif yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan

protein maka akan semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran

yang berarti tingkat kebugarannya semakin bertambah.

Seperti halnya korelasi diatas, Protein memiliki fungsi fisiologi yang

penting untuk mengoptimalkan performa aktivifitas fisik. Survey menyatakan

bahwa banyak sekolah menengah dan perguruan tinggi atlet mempercayai bahwa

performa atlet meningkat karena diet protein tinggi (Williams, 2002). Sebuah

penelitian menyatakan bahwa suplemen gizi setelah latihan ketahanan dan

termasuk di dalamnya asam amino dibandingkan ketersediaan energi lebih

penting untuk mengembalikan dan menyusun kembali protein dalam otot seteleh

latihan (Levenhagen et.al, dalam Pikosky,et.al, 2006 dalam Fatmah, 2011). Asam

amino membangun dinding sel, jaringan otot, hormon, enzim, dan berbagai

molekul lainnya. Darah membawa protein yang besar globulin untuk formasi,

albumin untuk menahan tenaga, fibrinogen untuk penggumpalan, dan

hemoglobin untuk transportasi oksigen. Latihan kebugaran menghasilkan

protein-enzim untuk latihan aerobik dan protein yang berkontraksi (aktin dan

myosin) untuk latihan tenaga (Sharkley, 2011).

Berdasarkan AKG Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2004),

kebutuhan protein usia 19-21 tahun untuk perempuan sebanyak 60 gram perhari.

Hasil wawancara makanan sebanyak 2x24 jam diperoleh rata-rata asupan protein

mahasiswi Kesehatan Masyarakat dalam sebanyak 51,14-58,69 gram perhari,


101

sehingga dapat dikatakan asupan protein mahasiswi sudah cukup memenuhi

angka kecukupan. Mahasiswi memperoleh asupan protein ini berasal dari

makanan sumber protein hewani dan nabati seperti: telur ayam, ayam, ikan,

tempe, tahu, dan susu.

Peneliti berpendapat protein yang berpengaruh terhadap kebugaran

jantung paru adalah dari fungsi protein sebagai asam amino yang bertindak

sebagai prekusor sebagai koenzim sehingga membantu dalam proses

metabolisme tubuh agar dihasilkan energi dengan cepat guna meningkatkan

kebutuhan oksigen dalam tubuh. Oksigen yang tersalurkan dengan baik akan

menciptakan kebugaran.

Penelitian ini selaras dengan hasil penelitian (Gutin, et.al, 2002) yang

dilakukan di Georgia, AS pada 80 orang remaja dan anak-anak obesitas yang

menyatakan bahwa terdapat hubungan terbalik yang hampir bermakna Pvalue

0.063 antara kebugaran (daya tahan kardiorespiratori) dengan asupan protein.

Hasil penelitian ini juga selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh

Konig,et.al (2003) dalam penelitian crossectional tersebut menunjukkan bahwa

terdapat hubungan yang bermakna antara asupan protein dengan kebugaran

menggunakan metode aerobik sepeda ergometer. Persamaan hasil penelitian ini

dengan penelitian Gutin (2002) dan Konig (2003) adalah pada penggunaan

metode pengukuran untuk makanan dengan recall dan record asupan protein ini.
102

6. Gambaran dan Hubungan Asupan Vitamin A dengan Kebugaran


Hasil penelitian didapatkan rata-rata asupan vitamin A mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah

diantara 663,65 sampai dengan 1015,03 µg dengan jumlah variasi asupan

vitamin A 904,88. Dan jumlah asupan vitamin A terendah 72,70 µg dan

tertinggi 5999 µg.

Hasil uji statistik antara asupan vitamin A dengan kebugaran diperoleh

Pvalue 0,451. Dengan demikian hipotesis penelitian ditolak, artinya tidak ada

hubungan antara asupan vitamin A dengan kebugaran pada mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat. Nilai koefisien korelasi sebesar -0,079 yang

menujukan bahwa hubungan asupan vitamin A dengan kebugaran adalah lemah.

Nilai tersebut juga menunjukkan bentuk hubungan antara asupan vitamin A

dengan kebugaran adalah negatif yang berarti semakin bertambahnya nilai

asupan vitamin A maka akan semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes

kebugaran yang berarti tingkat kebugarannya semakin bertambah.

Menurut Williams (2002) defisiensi vitamin A dapat mempengaruhi

performa aktivitas fisik. Chen (2000) menyatakan bahwa vitamin A dalam

keberadaan β-karoten didalam tubuh berperan sebagai antioksidan yang

berfungsi mereduksi kerusakan sel selama latihan karena adanya radikal bebas

yang membantu merangsang dan memperkuat daya tahan tubuh dalam

meningkatkan akivitas sel pembunuh kuman (natural killer cell), memproduksi

limfosit, dan antibodi (Hadribroto,dkk, 2004).


103

Dalam penelitian asupan vitamin A tidak terdapat hubungan kemaknaan

dengan kebugaran secara statistik. Tidak ditemukan kemaknaan dalam penelitian

ini dimungkinkan terjadinya flat slope syndrome, responden melaporkan asupan

makanan yang dikonsumsi terlalu tinggi (overestimate) terhadap asupan yang

rendah sehingga tidak dapat diketahui pasti rata-rata asupan vitamin A dalam

satu hari. Selain itu jumlah sampel dalam penelitian perlu ditingkatkan karena

jumlah sampel yang lebih besar akan memperjelas keberadaan hubungan yang

ada antara asupan zat gizi dengan kebugaran. Kemudian, penggunaan desain

studi cross sectional dengan metode food recall-24 jam, berbeda dengan

penelitian dengan studi kohort di Pennsylvania, AS dengan metode laboratorium

menyatakan bahwa terdapat kolerasi positif antara β-karoten yang berasal dari

vitamin A dalam darah dengan kebugaran (Llyod, 1998). Sehingga memiliki

ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode yang digunakan dalam

penelitian ini. Karakteristik sampel yang relatif sama (jumlah, jenis kelamin dan

usia) menunjukkan bahwa perbedaan kemaknaan dapat disebabkan oleh

perbedaan metode pengukuran tersebut.

7. Gambaran dan Hubungan Asupan B1 dengan Kebugaran


Hasil penelitian didapatkan pada rata-rata asupan vitamin B1 mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah

diantara 0,45 sampai dengan 0,53 mg dengan jumlah variasi asupan vitamin B1

0,187. Dan asupan vitamin B1 terendah 0,2 mg dan tertinggi 1,25 mg.
104

Hasil uji statistik antara asupan vitamin B1 dengan kebugaran diperoleh

Pvalue 0,341. Dengan demikian hipotesis penelitian ditolak, artinya tidak ada

hubungan antara asupan vitamin B1 dengan kebugaran pada mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat. Nilai koefisien korelasi sebesar –0,099 yang

menujukan bahwa hubungan asupan vitamin B1 dengan kebugaran adalah lemah.

Nilai tersebut juga menunjukkan bentuk hubungan antara asupan vitamin B1

dengan kebugaran adalah negatif yang berarti semakin bertambahnya nilai

asupan vitamin B1 maka akan semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes

kebugaran yang berarti tingkat kebugarannya semakin bertambah.

Vitamin B1 (thiamin) bekerja terutama sebagai koenzim dalam reaksi

yang melepaskan energi dari karbohidrat dan dapat meningkatkan daya tahan

dalam melakukan olahraga dengan durasi panjang (Hoeger, Hoeger dan Boyle,

2001). Pengaruh terhadap kebugaran sesuai dengan fungsinya sebagai koenzim

dalam mengatur metabolisme glikogen dalam otot (William, 2002). Thiamin dan

vitamin B lainnya secara signifikan meningkatkan daya tahan kardiorespiratori.

(Manore, 2000). B1 adalah bagian dari sebuah koenzim dikenal sebagai thiamin

pirofosfat, yang diperlukan untuk mengubah piruvat ke acetly CoA untuk masuk

ke dalam krebs.

Tidak ditemukan kemaknaan asupan B1 dengan kebugaran dimungkinkan

karena rata-rata asupan B1 dari makanan yang dikonsumsi rendah yaitu rata-rata

dalam satu hari sebesar 0,45-0,53 mg dari asupan yang dibutuhkan dalam sehari

yaitu 1,1 mg. Peneliti menganalisis bahwa hubungan yang terjadi antara vitamin

B1 terhadap kebugaran terjadi secara tidak langsung melalui peranannya dalam


105

proses metabolisme tubuh. Selain itu belum ditemukannya hasil penelitan lain

yang menunjukkan vitamin B1 berhubungan langsung dengan kebugaran.

Namun, Brouns,et.al (1989) yang menyatakan bahwa vitamin B menjadi

perhatian khusus pada atlet karena vitamin B membangun reaksi pembentukan

energi dalam metabolisme (Brouns dan Saris, 1989). Selain itu sebuah penelitian

yang dilakukan pada anak-anak sekolah usia 7-10 tahun di Bangalore, India

menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kapasitas aerobik dan daya

tahan fisik yang disertai dengan peningkatan status thiamin bersama dengan

mikronutrien lain (Vaz dkk, 2011).

8. Gambaran dan Hubungan Zat Besi (Fe) dengan Kebugaran

Hasil analisis univariat diketahui nilai rata-rata asupan Fe mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat adalah diantara 6,74 sampai dengan 8,66

mg dengan jumlah variasi asupan Fe sebesar 4,695. Dan asupan Fe terendah

0,90 mg dan tertinggi 30,60 mg.

Hasil uji statistik antara asupan energi dengan kebugaran diperoleh

Pvalue 0, 392. Dengan demikian hipotesis penelitian ditolak, artinya tidak ada

hubungan antara asupan vitamin A dengan kebugaran pada mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat. Nilai koefisien korelasi sebesar -0,089 yang

menujukan bahwa hubungan asupan Fe dengan kebugaran adalah lemah. Nilai

tersebut juga menunjukkan bentuk hubungan antara asupan Fe dengan kebugaran

adalah negatif yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan Fe maka akan
106

semakin berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran yang berarti tingkat

kebugarannya semakin bertambah.

Kemudian zat besi memiliki fungsi utama dalam tubuh sebagai alat

transportasi dan utilitas dari oksigen. Fungsi zat besi penting dalam penggunaan

oksigen dalam tubuh. Fungsi ini terutama penting bagi seseorang yang

melakukan latihan aerobik berupa daya tahan dan harus memiliki asupan yang

cukup (Williams, 2002). Zat gizi bersatu dengan protein hemoglobin dalam sel

darah merah sehingga dapat membantu melepaskan energi sebagai bahan bakar

untuk kerja sel (Hoeger,Hoeger, dan Boyle, 2001).

Tidak ditemukan kemaknaan asupan Fe dengan kebugaran dimungkinkan

adalah karena rata-rata asupan Fe dari makanan yang rendah yaitu rata-rata

dalam satu hari sebesar 6,74 - 8,66 mg dari yang seharusnya yaitu 26 mg perhari

sehingga masih jauh dari angka kecukupan. Selain itu mahasiswi yang menjadi

responden dalam penelitian ini berada pada keadaan sehat tidak menunjukkan

gejala anemia dilihat dari seleksi melalui kuesioner PAR Q and You sehingga

tidak mempengaruhi kebugarannya. Kemudian untuk melihat hubungan lebih

lanjut penelitian dapat dilakukan dalam skala penelitian yang lebih besar.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan dua studi yang menjukan

terdapat hubungan bermakna antara Fe dalam tubuh dengan VO2max (daya tahan

kardiorespiratori). Browline (2002) menyebutkan bahwa suplementasi Fe dapat

meningkatkan kembali daya tahan kerdiorespiratori pada wanita yang tidak

anemia dengan deplesi Fe. Selain itu penelian lain pun menyatakan bahwa

penurunan kebugaran (VO2max) pada wanita tanpa anemia dengan defisiensi Fe


107

dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya

simpanan zat besi dalam tubuh (Zhu dan Haas, 1997). Perbedaan kemaknaan

terjadi dikarenakan pada penelitian ini menggunakan metode recall 24 jam untuk

melihat gambaran asupan dalam satu hari, sedangkan pada penelitian Zhu dan

Haas (1997) meneliti zat besi dalam bentuk simpanan dalam tubuh.

Selain itu ditemukan penelitian yang pernah dilakukan terhadap anak usia

7 hingga 10 tahun menunjukkan asupan zat besi akan memiliki hubungan

bermakna terhadap kapasitas aerobic dan daya tahan fisik jika dikonsumsi

bersama-sama dengan mikronutrien lain seperti vitamin C dan vitamin B

kompleks (Vaz, 2011).

9. Gambaran dan Hubungan Asupan Zn dengan Kebugaran

Hasil analisis univariat diketahui rata-rata asupan Zn mahasiswi Program

Studi Kesehatan Masyarakat diantara 5,94-6,88 mg dengan jumlah variasi asupan

Zn sebesar 2,304 dan nilai asupan Zn terendah 1,95 mg dan tertinggi 14,60 mg.

Hasil uji statistik antara asupan Zn dengan kebugaran diperoleh Pvalue 0,

078 Dengan demikian hipotesis penelitian ditolak, artinya tidak ada hubungan

antara asupan vitamin Zn dengan kebugaran pada mahasiswi Program Studi

Kesehatan Masyarakat. Nilai koefisien korelasi sebesar -0,182 yang menujukan

bahwa hubungan asupan Fe dengan kebugaran adalah lemah. Nilai tersebut juga

menunjukkan bentuk hubungan antara asupan Zn dengan kebugaran adalah

negatif yang berarti semakin bertambahnya nilai asupan Zn maka akan semakin
108

berkurangnya denyut nadi setelah tes kebugaran yang berarti tingkat

kebugarannya semakin bertambah.

Zn berperan dalam kebugaran yang ditunjukan oleh hubungan rendahnya

konsentrasi serum Zn dalam darah yang mengakibatkan penurunan otot dan

berkurangnya kapasitas latihan (Driskell dan Wolinsky, 2000). Zn juga memiliki

fungsi penting sebagai kofaktor ratusan enzim dalam tubuh yang berperan dalam

metabolisme termasuk reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degenerasi

karbohidrat, protein, lipid dan asam nukleat (Almatsier, 2004).

Status Zn yang rendah dapat menghambat fungsi alat-alat tubuh yang

berperan dalam mengoptimalkan kebugaran. Zn yang rendah mengakibatkan

menurunnya konsentrasi Zn serum yang berhubungan dengan rusaknya fungsi-

fungsi otot, termasuk dalam menurunnya kekuatan dan meningkatnya

kecenderungan untuk menjadi lelah dan turunnya tenaga selama puncak kerja,

kemudian status Zn yang rendah menyebabkan menurunya fungsi fisik dan

penampilan (Ramayulis, 2008).

Tidak ditemukan kemaknaan asupan Zn dengan kebugaran

dimungkinkan karena rata-rata asupan Zn dari makanan yang rendah yaitu rata-

rata dalam satu hari sebesar 5,94 sampai dengan 6,88 mg dari yang seharusnya

yaitu 9,3 mg perhari. Selain itu jumlah sampel dalam penelitian perlu

ditingkatkan karena jumlah sampel yang lebih besar akan memperjelas

keberadaan hubungan yang ada antara asupan zat gizi dengan kebugaran.

Penelitian ini selaras dengan penelitian pada siswa SD di Tersobo yang

juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara asupan Zn nilai (p=
109

0,455) dengan kebugaran dihitung berdasarkan nilai berjalan 1 mil dengan

metode food record. (Iskaningtyas, 2012). Kemudian penelitian ini tidak selarasa

dengan penelitian Krotkiewaski,et,al (1982) yang menunjukkan terdapat

hubungan bermakana antara wanita tua yang mendapatkkan suplementasi Zn

30mg perhari dengan peningkatan kekuatan otot (Ramayulis,2010).

Ketidaksesuaian hasil penelitian ini dikarenakan perbedaan metode yang

digunakan pada penelitian tersebut diberi perlakukan suplementasi sedangkan

pada penelitian ini mengetahui rata-rata asupan Zn dalam sehari dengan recall 24

jam. Dari hasil analisis terhadap asupan Zn terhadap kebugaran tidak terdapat

hubungan langsung dengan kebugaran yang dihitung dengan metode recall 24

jam.
BAB VII

PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisa univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi

berikut adalah kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini.

1. Berdasarkan standar tes bangku 3 menit YMCA, status kebugaran mahasiswi

Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun

2013 memiliki tingkat kebugaran yang rendah dengan nilai rata-rata 112,45-

119,39 kali/menit. Jika diklasifikasikan berdasarkan norma tes kebugaran

menurut standar tes bangku 3 menit YMCA Nieman (2007) diketahui persentase

mahasiswi yang bugar sebesar 38,3% dan tidak bugar sebesar 61,7%.

2. Rata-rata Indeks Massa Tubuh mahasiswi sebesar 20,60-22,41 kg/m2 dalam

klasifikasi Depkes 2004 berada pada IMT normal, rata-rata persen lemak tubuh

mahasisiwi sebesar 22,70-25,3% dalam klasifikasi Depdiknas Pengembangan

Olaharaga 2012 berada pada kategori normal, rata-rata aktivitas fisik mahasisiwi

sebesar 1892,32-3296,27 METs dalam klasifikasi IPAQ temasuk kategori

aktivitas fisik sedang.

3. Rata-rata asupan energi, protein, vitamin A, vitamin B1, Fe, dan Zn secara

berturut-turut adalah sebesar 1478,8-1655,4 kkal; 51,14-58,69 gr;663,65-1015,03

µm; 0,45-0,7 mg; 6,74-8,66 mg; 5,94-6,88 mg. Rata-rata asupan zat gizi

110
111

mahasiswi kurang dari angka kecukupan gizi dalam satu hari berdasarkan

klasifikasi Widya Pangan Gizi Nasional tahun 2004.

4. Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunkan uji korelasi disimpulkan bahwa:

a. Variabel status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh dan Asupan Protein

memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat kebugaran pada

Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta tahun 2013.

b. Variabel Status gizi berdasarkan persen lemak tubuh, asupan energi, asupan

vitamin A, asupan vitamin B1, asupan Fe, asupan Zn dan aktivitas fisik tidak

memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat kebugaran pada

mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta tahun 2013.

B. Saran

1. Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat

a. Pemegang kebijakan dapat merealisasikan saran dan prasarana olahraga bagi

seluruh mahasiswa khususnya Program Studi Kesehatan Masyarakat guna

menunjang aktivitas olahraga.

b. Diperlukan kegiatan peningkatan aktivitas fisik mahasiswa dengan

mengadakan program olahraga rutin di Program Studi Kesehatan Masyarakat

melalui program kerja Badan Eksekutif Mahasiswa Kesehatan Masyarakat

dengan mengikutsertakan seluruh civitas akademika Program Studi Kesehatan


112

Masyarkat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. contohnya: mengadakan satu hari

senam bersama.

2. Bagi Mahasiswa Kesehatan Masyarakat

a. Bagi mahasiswa kesehatan masyarakat peminatan gizi dapat mengadakan

konseling gizi kepada rekan-rekan mahasiswa lain mengenai kebugaran dan

faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti pemahaman untuk mengonsumsi

makanan yang bergizi.

b. Bagi mahasiswa ditengah padatnya jadwal perkuliahan untuk selalu

mengonsumsi makanan dalam jenis, porsi dan frekuensi yang sesuai dengan

pola makan gizi seimbang serta mengontrol berat badan agar tidak terjadi

kelebihan berat badan.

c. Bagi mahasiswa diharapakan dapat melakukan aktivitas fisik teratur dan

terukur terutama olahraga guna mencapai kebugaran yang optimal dapat

dilakukan dengan melakukan senam bersama, berkunjung ke pusat kebugaran

dan olahraga di rumah.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

a. Penelitian berikutnya mengenai tingkat kebugaran mahasiswa sebaiknya

menggunakan metode tes kebugaran yang berbeda agar diketahui variasi hasil

dengan berbagai meode tes tersebut. Misalnya dengan jalan dengan 1 Mil,

Ergonometer tes. Atau dengan mengukur kebugaran dari komponen lainnya

seperti fleksibilitas dan kekuatan otot.


113

b. Dapat meneliti zat gizi lain yang diduga berhubungan dengan kebugaran seperti

karbohidrat, lemak, vitamin C, Mg, Cu dan lainnya.

c. Dapat meneliti variabel lain yang diduga dapat ditemukan kemaknaan yaitu

antara asupan energi dengan persen lemak tubuh.


114

DAFTAR PUSTAKA

Ariawan, Iwan. 1998. Besar dan Metode Sampel pada Penelitian Kesehatan.Depok:
Universitas Indonesia.

Amran, Yuli. 2012. Pengolahan dan Analisis Data Statistik di Bidang Kesehatan.
Jakarta: UIN.

Almatsier,dkk. 2006.Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Almatsier,dkk. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.

Anspaugh, David J, et.al.1997. WELLNESS Concept and Applications. New York, USA:
McGraw-Hill Book Compan.

Åstrand, Per-Olof. 1992. “Physical Activity and Fitness”. American Journal of Clinical
Nutrition 55 (1992): 1231S – 6S.

Bucher, Charles and Prentice,William. 1985. Fitness for college and life.MOSBY:
College Publising.

Bonci, Chritine, dkk. 2008. “ Addresing Non-Communicable Syndrom Are Association


Position Statement: Preventing, Dectecting, and Managing Disorder Eating in
Athletes”. Journal of Athletic Training, 43,80

Bray.2004. Medical consequences of obesity. Pennington Biomedical Research Center,


Baton Rouge, Louisiana 70808, USA diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov pada 18
Agustus 2013.

Brownlie, dkk.. 2002. Fitness; Iron Supplementation Enhances Aerobic Training in


Iron-Depleted Woman. Women’s Health Weekly: http://www.newsRx.com.

Brouns,F dan W,Saris.1989. How vitamin affect performance. The Journal of Sports
Medicine and Physical Fitness,29.

Cassandra ,Yuni Syamisa.2011. Hubungan status gizi, latihan fisik asupan energi dan zat
gizi dengan status kebugaran pada mahasisw S-1 reguler FKM UI tahun 2011.

Nurwidyastuti, Dinda.2012 Hubungan Konsumsi zat Gizi, dan faktor lain dengan status
kebugaran mahasiswa departemen Arsitektur fakultas teknik universitas indonesia
tahun 2012
115

Departemen Kesehatan, FKUI, PDSKO, PPKOR, 2002. Panduan Kesehatan Olahraga


bagi Petugas Kesehatan: Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2004. Angka Kecukupan Gizi (AKG)


http://www.depkes.go.id

Depdiknas. 2012. Persen Lemak Tubuh. Jakarta: Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani

Driskell,J.A dan I. Wolinsky. 2002.Nutritional Assesment of Athletes.US: CRC Press


LLC, 2002.

Eskaning Arum Pawestri, 2011. Hubungan antara Jenis Kelamin, Status Gizi, Aktivitas
Fisik, Dan Asupan Gizi dengan Tingkat Kebugaran Pada Siswa/siswi SMA Negeri
1 Kebumen, Jawa Tengah Tahun 2011.

Fatmah,SKM,MSc,Dr. 2011. Gizi kebugaran dan Olah Raga. Bandung: Lubuk Agung

Fahey, Thomas. D, et,al. 2000. Fit dan Well Core Concepts and Labs in Physical Fitness
and Wellness Sixth Edition. Mc Graw Hill

FORMI.2011. Pekan dan Tes Kebugaran Jasmani Nasional. Artikel Majalah AKTIF,
edisi IV / 01 – 2011

Giriwijoyo. 2012. Ilmu Faal Olahraga (Fisiologi Olahraga). Bandung: Rosda Karya

Gisolfi, Carl V. dan Lamb, David R.1989. Perspectives In Exercise Science and Sports
Medicine Volume 2: Youth, Exercise and Sport. Indiana. USA: BenchmarkPress
Inc.

Gutin, Bernard, et.al. 2002. “Effects of Exercise Intensity on Cardiovascular Fitness,


Total Body Composition, and Visceral Adiposity of Obese Adolescents”.
American Journal of Clinical Nutrition 75 :818 – 26.
Hadibroto,dkk,2004. Seluk beluk suplement. PT.Gramedia Utama : Jakarta

Haskell, William L dan Michaela Kiernan.2000. “Methodologic Issues in Measuring


Physical Activity and Physical Fitness when Evaluating the Role of Dietary
Supplements for Physically Active People”. American Journal of ClinicalNutrition
72: 541S – 50S.

Hasalkar, Suma, et.al.2005.”Measures and Physical Fitness Level of the CollegeGoing


Students”. Anthropologist (7) no. 3 (2005): 185 – 7.

Health Santé Canada. 2002.Par-Q and You (A questionnaire for people aged 15 to
69).http://www.hc-sc.gc.ca/hppb/paguide/pdf/guideEng.pdf.
116

Hermanto,dkk. 2012. Faktor-Faktor yang Mepengaruhi Tingkat Kesegaran pada Wanita


Vegetarian. Journal of Nutrition College : Vol 1.No.1 hal 421-434.

Hoeger, Werner W.K. dan Sharon A.Hoeger. 1996.Fitness and Wellness. Colorado,
USA : Morton Publishing Company.

Indrawagita, Larasati. 2009. Hubungan Antara Status Gizi, Asupan Gizi, dan Aktivitas
Fisik dengan Kebugaran pada Mahasiswi Program Studi Gizi FKM UI tahun 2009.
Depok: Skripsi Program Sarjana FKM UI.

Indriawati, Ratna. 2005.“Hubungan Tingkat Kebugaran Jasmani dan Kapasitas Vital


Paru pada Kelompok Remaja dengan Faal Paru Normal”. Majalah Ilmu
FaalIndonesia, 4 Maret, 135 – 42.

Iskaningtyas, Dita Anitya. 2011.Model Prediksi VO2max anak usia 10-11 tahun Etnis
Jawa (Desa Tersobo, Kebumen) dari tes berjalan 1 mil berdasarkan jenis kelamin ,
denyut nadi dan waktu tempuh.Depok: Skripsi

Jones, Lorraine A. 2010. “The Effect of Statistic Stretching n Recovery Heart Rate
Following The YMCA step Test”. ProQuest Dissertation and Theses

Konig, D. et.al. 2003. Cardiorepiratory fitness modifies the associoation between dietary
fat intake and plasma fatty acids. European Journal Clinical Nutrition,

Kuntaraf, Jhonathan.1992. Olah Raga Sumber Kesehatan. Bandung: Advent Indonesia

Kraus, William F dan Pamela S. Douglas.2005. “Where Does Fitness Fit In?”. New
England Journal of Medicine 353;5 (): 517 – 19.

Kristensen P.L,et al.2010. “The Association Between Aerobic Fitness and Physical
Activity In Children and Adolescent: The European Youth Heart Study.”
European Journal of Applied Physiology.

Lloyd, Tom, et.al. 1998“Fruit Consumption, Fitness, and Cardiovascular Health in


Female Adolescents: The Penn State Young Women’s Health Study”. American
Journal of Clinical Nutrition 67 :624 – 30.

Moeloek, Dangsina dan Arjatmo Tjoronegoro. 1984. Kesehatan dan Olahraga. Jakarta:
FKUI

Manore. 2000. “ Effect of physical activity on thiamen, riboflavin, and vitamin B-6”.
American Journal of Clinical Nutrition 67 :624 – 30.
117

Martins,et,al.2003. The relationship between body mass index, blod pressure, and pulse
rate among normotensive and hypertensive participans in the thrid National Health
and Nutrition Examination Survey (NHANES). Departement of Medicine,Charles
R.Drew University:USA.

Mifsud, Gabrielle, Karine Duval, dan Eric Doucet.2009. “Low Body Fat and Hight
Cardiorespiratory Fitness at the Onset of the Freshmen Year May Not Protect
Against Weight Gain”. British Journal of Nutrition. 101
Mustakim. 2010. Hubungan Status Gizi, Asupan Zat Gizi dan Aktivitas Fisik dengan
Kebugaran pada Siswa/Siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Terpilih Kabupaten
Sragen Jawa Tengah Tahun 2010. Depok: Skripsi Progam Sarjana FKM UI.

Nanda, 2012. Hubungan Antara Status Gizi, Asupan Gizi, dan Aktivitas Fisik dengan
Kebugaran pada Karyawan PT. WIKA. Depok: Skripsi Program Sarjana FKM UI.

Nieman, David C. 1998. The Exercise Health Connection. USA : Human Kinetics.

Nieman, David C. 2007.Exercise Testing and Prescription: A Health Related Approach.


New York, USA: McGraw-Hill Companies Inc.

Notoatmodjo. Soelidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Penerbit


Rineka Cipta

Paul, David R, et.al.2004.“Effects of The Interaction of Sex and Food Intake on The
Relation Between Energy Expenditure and Body Composition”.American Journal
of Clinical Nutrition

Pařízková, Jana.1989. ”Age-Dependent Changes in Dietary Intake Related to Work


Output, Physical Fitness and Body Composition”. American Journal of Clinical
Nutrition.

Permaesih, Dewi. 2000. “Kaitan Kesegaran Jasmani, Kesehatan dan Olahraga


Keterampilan”. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia XXVIII No.10 : 569 –
73.

Prentice, William E. 2004. Get Fit, stay fit. USA: Mc Graw Hiil.

Proyek Pengembangan Kesehatan Olahraga RI. 1985. Manual Kesehatan Olahraga.


Jakarta: Dinas Kesehatan DKI Jakarta

Prawestri, Eskaning Arum.2011. Hubungan Antara Jenis Kelamin, Status Gizi, Aktivitas
Fisik, dan Asupan Gizi dengan Tingkat Kebugaran pada siswa/siswi SMA Negri 1
Kebumen, Jawa Tengah Tahun 2011. Depok: Skripsi Program Studi FKM UI
118

Prista, António, et.al.(2003)“Anthropometric Indicators of Nutritional Status:


Implications for Fitness, Activity and Health in School-Age Children and
Adolescents from Maputo, Mozambique”. American Journal of Clinical Nutrition
952 – 9

Ramayulis, Rita. “Gizi Kebugaran (Nutrition for fitness)”, dalam pelatihan gizi olahraga.
3-5 April 2008.

Riset Kesehatan Dasar tahun (RISKESDAS).2007. Laporan Riset Kesehatan Dasar


Tahun 2007. (www.riskesdas.co.id pada 18 Maret 2012
Rizzo, Nico S,et.al. 2007.Relationship of physical activity,fitness, and fatness with
clustered metabolic risk in children and adolescent. The Eouropean Youth Heart
Study. Journal Pediatr

Rowland M.D, Thomas W. 1996. Developmental Exercise Physiology. Illinois,


USA:Human Kinetics.

Sabri,Luknis, Hastono. 2009. Statistik Ksehatan. Jakarta: Rajawali Press

Santo, Antonio Saraiva, dan Lawrence A.2003.Golding. “Predicting Maximum Oxygen


Uptake From a Modified 3-Minutes Step Test”. Research Quarterly forExercise
and Sport.

Sassen, Barbara, dkk.2010. “Cardiovascular Risk Profile: Cross-Sectional Analysis of


Motivational Determinants, Physical Fitness and Physical Activity”. Biomedical
Central Public Health.

Sharkley, Brian J. 2011.Kebugaran dan Kesehatan (terjemah dariFitness and Health oleh
Eri Desmarini N).Jakarta: Rajawali Press.

Sherwood,Lauralee. 2010. Human Physiology: From Cells to Systems, Seventh Edition:


Belmont, CA

Slattery, Martha L, et.al. 1992. “ Association of Body Fat and Its Distribution with
Dietary Intake, Physical Activity, Alcohol and Smoking in Blacks and Whites”.
American Journal of Clinical Nutrition 55 : 943 – 9.

SN, Blair, et.al. 1996. Influences of cardiorespiratory fitness and other precursors on
cardiovascular disease and all-cause mortality in men and women. JAMA. 1996
Jul 17;276(3):205-10.

Supariasa, I Dewa Nyoman, et.al.2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Sumosardjuno, Sadoso. 1992. Pengetahuan Praktis Kesehatan dalam Olahraga. Jakarta :


Gramedia Putaka Utama.
119

Tampubolon, Erwin S.2002. Gambaran Tingkat Kesegaran Jasmani Karyawan


Puskesmas Kecamatan Palmerah di Kotamadya Jakarta Barat Tahun 2001. Depok:
Tesis Program Pacasarjana FKM UI.

Turhayati, Elmy Rindang.2008.Gambaran Keadaan Kesegaran Jasmani dan Beberapa


Faktor yang Berhubungan pada Karyawan PT. Ekspan Nusantara Tahun 1999.
Depok: Thesis Program Pascasarjana FKM UI.

Trismanto, Ashari. 2003. Hubungan Status Gizi dan Perilaku Hidup Sehat dengan
Tingkat Kesegaran Jasmani Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah
Daerah Serang, Banten Tahun 2003. Depok: Skripsi Program Sarjana FKMUI.

Vaz, Mario, dkk. ”Micronitrient Supplementation Improves Physical Performance


Measures in Asian Indian School-Age Children”. The Journal of Nutrition. (2011):
2017-2023.

Wijayanti, Kusuma. 1998. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan VO2max Peserta
Diklat Penjenjangan Struktural PNS SPAMA Depdikbud tahun 1996.
Depok:Skripsi Program Sarjana FKM UI.

Williams, M.H. 1995. Nutrition for Fitness and Sport 4th Edition, USA: Brown and
Benchmark Publishers.

Williams, Robert M.2002. Nutrition, Health and Fitness. New York, USA: McGrawHill

Williams, Lippincott dan Lippincott Wilkins. 2009. ACSM’s Guidelines For Exercise
Testing and Prescription 8th Edition. Philadelphia, USA: ACSM’s Publisher.

William MH. Nutrition for fitness and sport. Iowa. Brown Publisher. 2005;19-48.

World Health Organization (WHO). 2005. International Physical Activity Quesioner


(IPAQ).

World Health Organization (WHO). 2005. Guidelines for Data Processing and Analysis
of the International Physical Activity Quesioner (IPAQ).

World Health Organization (WHO). 2011. Global Recommendations on Physical


Activity for Health 18–64 years old. Diakses pada www.who.int pada 5 mei 2013.

World Health Organization (WHO). 2013. Noncommunicable disease and mental


health. Diakses pada www.who.int pada 5 Mei 2013.
120

Zhu, Y. Isabel dan Jere D. Haas. 1997. “Iron Depletion Without Anemia and Physicial
Performance in Young Women”. American Journal of Clinical Nutrition 66 : 334-
41