Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN KERJA PRAKTIK

KONFIGURASI JARINGAN LAN (LOCAL AREA NETWORK) PADA


KANTOR IMIGRASI I YOGYAKARTA
dengan CISCO PACKET TRACER

Oleh:
Haryanto Eben
13030041

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI ADISUTJIPTO
YOGYAKARTA
2017

i
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KERJA PERAKTIK

Kantor Imigrasi I Yogyakarta

Telah disetujui dan disahkan

Oleh Program Studi Teknik Informatika STT AdisutjiptoYogyakarta

di Yogyakarta pada tanggal Maret 2017

Ketua Program Studi Dosen Pembimbing

Anggraini Kusumaningrum. S.Kom., M.Cs Nurcahyani Dewi Retnowati., M.T.


NIK. 121095 NIK.070659

ii
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KERJA PERAKTIK

Dengan judul :

“KONFIGURASI JARINGAN LAN (LOCAL AREA NETWORK) PADA

KANTOR IMIGRASI I YOGYAKARTA

dengan CISCO PACKET TRACER”

Telah disetujui dan disahkan

Kantor Imigrasi I Yogyakarta

di Yogyakarta pada tanggal, 28 September 2017

Kantor Imigrasi I Yogyakarta


a.n. Kantor Imigrasi I Yogyakarta

Didik Heru Praseno Adi


NIP. 19595911281983031001

iii
HALAMAN PERSEMBAHA

“jangan pernah menunda satu hari,lakukan yang bisa kamu lakukan.Kerjakan


yang bisa kamu kerjakan hari ini

karna esok kamu bisa melakukan banyak hal hal baru dan

karna esok kamu bisa melakukan banyak pekerjan baru”

Karya ini kupersembahkan kepada:

Tuhan Yang Maha Esa yang telah begitu banyak memberikan kenikmatan,
kemudahan dan kelancaran dalam kehidupan umat manusia.

dan Kepada Kedua Orang tua saya, yang selalu senantiasa memberikan
do’a,dukungan dan semangat.

iv
KATA PENGANTAR

Segala puji Syukur ku panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat, nikmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan Laporan Kerja Praktek yang berjudul “Konfigurasi
Jaringan” di Kantor Imigrasi I Yogyakarta Menggunakan Cisco Packet Tracer“.
Kerja Praktek tersebut dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2016 dan
berakhir pada tanggal 2 September 2016 di Kantor Imigrasi I Yogyakarta dengan
tujuan agar penulis memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baru terkait
dengan Konfigurasi jaringan.
Selama penyusunan Laporan Kerja Praktek ini, penulis menyadari
sepenuhnya telah mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, sehingga
tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Orang tua dan seluruh keluarga atas do’a dan dukungan moril dan
materil.

2. Seluruh staf Kantor Imigrasi I Yogyakarta yang membantu dalam


pelaksanaan Kerja Praktek.
3. Bapak Ir., Drs., T. Ken Darmastono, M.Sc, selaku Ketua Sekolah
Tinggi Teknologi Adisutjipto Yogyakarta.
4. Ibu Anggraini Kusumaningrum. S.Kom., M.Cs selaku Ketua Jurusan
Teknik Informatika STTA Yogyakarta.
5. Ibu Nurcahyani Dewi Retnowati,MT selaku Dosen Pembimbing
Kerja Praktek.
6. Suryanto, Sidik, Dika,wayan,ikwandi,ozi dan teman-teman Teknik
Informatika 2013 yang telah memberikan motivasi dan dukungannya
selama ini.

v
7. Serta semua rekan yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, terima
kasih atas semua bantuannya.
Penulis menyadari bahwa laporan kerja praktik ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu, penulis mohon maaf apabila masih terdapat banyak
kesalahan dalam penyusunan laporan kerja praktik ini. Saran dan kritik yang
membangun sangat diharapkan oleh penulis. Semoga dengan Laporan Kerja Praktik
ini dapat bermanfaat dan berguna bagi penulis maupun pembaca. Aamiin.

Yogyakarta, September 2017

Haryanto Eben

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………...... i
HALAMAN PENGESAHAN STT ADISUTJIPTO YOGYAKARTA ii
HALAMAN PENGESAHAN KANTOR IMIGRASI I YOGYAKARTA iii

HALAMAN PERSEMBAHAN…………………………………………………. iv
KATA PENGANTAR…………………………………………………………... v
..................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................. xi
DAFTAR TABEL................................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN……............................................................................... 1i
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 2
1.3 Batasan Masalah……………………………………………...…………… 2
1.4 Tujuan Penulisan………………………………………………………...... 2
1.5 Manfaat Kerja Praktek...…………………………………………………… 2
1.6 Lokasi, Waktu dan Tempat kerja Praktek ……………………...…………. 3
1.7 Metode Pengumpulan Data ………………………………………...……... 3

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN.................................................. 5

2.1 Sejarah Kantor Imigrasi I Yogyakarta………………………………………... 5


2.2 Visi dan Misi Kantor Imigrasi I ………………........................................... 5
2.3 Profil Kantor Imigrasi I Yogyakarta............................................................. 6
2.4 Struktur Organisasi Kantor Imigrasi I Yogyakarta....................................... 7
2.5 Lambang Kantor Imigrasi I Yogyakarta……………………………...…… 8

BAB III LANDASAN TEORI............................................................................... 9

3.1 Pengertian Jaringan....................................................................................... 9


3.1.1 Peer to Peer……………………………………………………………..……. 9

vii
3.1.2 Client Server.......................................................................................... 10
3.2 Macam-macam Jaringan Komputer ……………………………………............…… 11
3.2.1 Local Area Network (LAN) …………………………………………. 11
3.2.2 Metropolitan Area Network (MAN) …………………………….…… 12
3.2.3 Wide Area Network (WAN) …………………………………………..……. 12

3.2.4 Intranet .................................................................................... 14


3.2.5 Internet .................................................................................... 14
3.2.6 Jaringan tanpa kabel (Wireless) ............................................... 14
3.3 Topologi Jaringan ................................................................................ 15
3.3.1 Topologi Bus ........................................................................... 15
3.3.2 Topologi Ring .......................................................................... 16
3.3.3 Topologi Star........................................................................... 16
3.3.4 Topologi Daisy-Chain (Linear) ............................................... 17
3.3.5 Topologi Tree/Hierarchical .................................................... 17
3.3.6 Topologi Mesh (Full Connected) ............................................ 18
3.3.7 Topologi Hybrid ...................................................................... 19
3.4 Pengalamatan IP Address .................................................................... 19
3.5 IP Private dan IP Public ...................................................................... 22
3.6 Subnetting IP dan Variable Length Subnet Mask (VLSM) ................. 22
3.6.1 Dasr – Dasar Subnetting ............................................................. 23
3.7 Cisco Packet Tracer ............................................................................. 24
3.8 Perangkat Cisco ................................................................................... 25
3.9 Hotspot ................................................................................................ 29

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN JARINGAN………….………..


30

4.1 Kebutuhan hardware dan software ..................................................... 30


4.2 Flowchart Jaringan LAN pada Gedung Imigrasi Kelas I DIY ........... 31
4.3 Skema Jaringan LAN pada Gedung Imigrasi Kelas I DIY ................. 32

viii
4.4 Konfigurasi IP ..................................................................................... 33

BAB V IMPLEMENTASI .............................................................................. 37

5.1 Koneksi Jaringan .............................................................................. 37


5.2 Hasil Pengecekan.............................................................................. 37
5.3 Kesimpulan Hasil ............................................................................. 38

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 43

6.1 Kesimpulan....................................................................................... 43
6.2 Saran ................................................................................................. 43
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ix
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kemajuan teknologi informasi pada masa sekarang ini terus berkembang
dengan pesat seiring dengan kebutuhan manusia yang menginginkan kemudahan,
kecepatan dan keakuratan dalam memperoleh suatu informasi. Teknologi
informasi tentunya tidak terlepas dari teknologi jaringan yang dapat
menghubungkan dua atau lebih komputer, sehingga dapat berhubungan dan
berkomunikasi yang menimbulkan efisiensi, sentralisasi dan optimasi kerja. Oleh
sebab itu teknologi jaringan komputer sangat memegang peranan penting dalam
perkembangan teknologi informasi.
Pada awal perkembangan teknologi jaringan komputer, infrasruktur berbasis
kabel (wired) paling banyak dipakai. Oleh karena itu ketergantungan teknologi
akan device tambahan dalam ruang lingkup multiuser menimbulkan efek negatif
berupa fleksibelitas yang tidak terlalu signifikan. Faktor yang berpengaruh besar
terhadap kinerja user secara jangka panjang adalah faktor fleksibelitas. Hal ini
yang mendorong perkembangan teknologi nirkabel, dimana multiuser
dimungkinkan untuk berkomunikasi dan bertukar informasi secara bersama tanpa
diperlukan kabel, cukup dengan membangun LAN yang mendukung teknologi
wireless.
Untuk dapat mencerminkan arsitektur dari jaringan Lan pada sistem jaringan
yang digunakan, maka jaringan ini dapat disimulasikan dengan aplikasi Cisco
Packet Tracer. Dengan menggunakan aplikasi Cisco Packet Tracer, simulasi data
mengenai jaringan dapat dimanfaatkan menjadi informasi tentang keadaan
koneksi suatu komputer dalam suatu jaringan, apabila terjadi masalah dalam
interkoneksi jaringan.

x
2

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka dapat diambil
suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana merancang suatu jaringan LAN dengan menggunakan Cisco
Packet Tracer?
2. Bagaimana cara mengkonfigurasi LAN area?

1.2. Batasan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah yang penulis paparkan di atas, dalam laporan
kerja praktek ini penulis membatasi pada masalah konfigurasi LAN pada access
point, router, server, end device, DSL modem dan cloud.

1.3. Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini, yaitu:
1. Merancang simulasi jaringan Lan yang efisien dan efektif di Kantor
Imigrasi Kelas I Yogyakarta menggunakan Cisco Packet Tracer.
2. Merancang konfigurasi cisco pada jaringan LAN di Kantor Imigrasi Kelas
I Yogyakarta yang meliputi VLAN, security, firewall dan DHCP.

1.4. Manfaat Kerja Praktek


Manfaat yang dapat diambil dari laporan Kerja Praktek (KP) ini, yaitu:
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi siapa saja
yang ingin membuat simulasi jaringan LAN dengan Cisco Packet Tracer
pada kantor dengan 2 lantai.
2. Bagi Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta, hasil penelitian ini dapat
menjadi bahan pertimbangan dalam membangun jaringan LAN,
3

yang belum ada di kantor. Sehingga mempermudah karyawan dalam


menperoleh informasi, berkomunikasi dan berhubungan yang
menimbulkan efisiensi, sentralisasi dan optimasi kerja.
3. Bagi penulis, dapat memahami, mempelajari dan menerapkan
konfigurasi jaringn LAN yang meliputi VLAN, security, firewall dan
DHCP pada Cisco Packet Tracer.
4. Manfaat umumnya yaitu dapat digunakan sebagai acuan dalam
penelitian berikutnya.

1.5. Lokasi, Waktu dan Tempat kerja Praktek


a. Lokasi.
Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta yang beralamat di Jalan Solo km 10
Nayan, Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
b. Waktu.
Kerja Praktek (KP) pelaksanaannya dimulai pada tanggal 1 Juli 2016 dan
berakhir pada tanggal 1 Agustus 2016.
c. Tempat Kerja Praktek.
Kerja praktek dilaksanakan di Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta.

1.6. Metode Pengumpulan Data


Dalam penulisan laporan ini, penulis menggunakan beberapa metode
dalam pemgumpulan data, sehingga penulis dapat membuat laporan yang presentif
dan dapat dipertanggungjawabkan. Adapun metode yang digunakan penulis,
sebagai berikut :
1. Metode interview.
Metode interview yaitu suatu cara pengumpulan data-data dalam bentuk
pertanyaan kepada staff Kantor Imigrasi Kelas I
Yogyakarta, terutama bagian yang berhubungan langsung dengan
pekerjaan teknologi informasi.
2. Metode observasi.
Metode observasi yaitu cara pengumpulan data-data dengan
pengamatan langsung selama pelaksanaan Kerja Praktek.
3. Metode studi literatur.
Metode Studi Literatur yaitu dengan menggunakan semua referensi
yang berkaitan dengan Kerja praktek untuk dapat memperoleh data-
data yang dikehendaki, sehingga dapat dijadikan acuan dalam
penulisan laporan.
4. Metode implementasi.
Metode implementasi yaitu metode pengumpulan data-data yang
dilakukan dengan cara dipraktekkan secara langsung pada saat
pelaksanaan Kerja Praktek.

9
10

BAB II
GAMBARAN UMUM KANTOR IMIGRASI KELAS I
YOGYAKARTA

2.1 Sejarah Kantor Imigrasi I Yogyakarta


Kantor Imigrasi Yogykarta berdiri pada tanggal 01 April 1974. Semula
Kantor Imigrasi Yogyakarta bernama Kantor Imigrasi Kelas II Yogyakarta. Pada
Tanggal 19 Agustus 2004, Kantor Imigrasi Yogyakarta berubah nama menjadi
Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Menteri
Kehakiman RI No. M.05.07.04.2004.
Kantor Imigrasi kelas I Yogyakarta beralamat di Jl. Solo km.10 Yogyakarta
yang berdiri diatas tanah seluas 2.329 M2. Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta
mempunyai 1 Wilayah kerja yaitu :
1. Kota Madya Yogyakarta
2. Kabupaten Gunungkidul
3. Kabupaten Kulon Progo
4. Kabupaten Bantul
5. Kabupaten Sleman
Tugas dan Fungsi organisasi antara lain :
1. Sebagai aparatur pelayanan masyarakat.
2. Sebagai Pengawasan dan penegakan hukum.
3. Sebagai Fasilitator Ekonomi Nasional.

2.2 Visi dan Misi Imigrasi I Yogyakarta


Visi Kantor Imigrasi I Yogyakarta Yaitu :
“Masyarakat memperoleh kepastian misi melindungi hak asasi manusia
strategi peningkatan intregritas dan profesionalisme sumber daya manusia,
yang bertakwa, menjunjung tinggi kehormatan, cendekia dan inovatif motto
melayani masyarakat pemohon jasa imigrasi dengan tulus”.
2.3 Profil Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta
Alamat Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta: Jalan Solo km 10 Nayan,
Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Telepon : 0274-487130
Email : kanim_yogyakarta@imigrasi.go.id
Kami imigrasi indonesia siap melaksanakan tugas pengamanan negara dan
penegakan hukum berbakti pada masyarakat berwibawa tegas dan ramah dalam
memenuhi kewajiban menjaga pintu gerbang negara tuk mencapai adil dan makmur
bhumi pura wira wibawa sasanti imigrasi indonesia berlandaskan dasar negara
pancasila dan Undang-Undang Dasar '45 hadapilah tantangan dan godaan
menghambat jalannya pembangunan mengabdi dengan tulus dan suci demi
kejayaan indonesia.
Kode Etik Pegawai Imigrasi
1. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 Tentang Pembinaan
Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin PNS.
3. Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor M.HH-02.KP.05.02
Tahun 2010 Tentang Kode Etik Pegawai Imigrasi.
4. Kepetusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor M.HH-
06.KP.05.02 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Majelis Kode Etik
Pusat Direktorat Jenderal Imigrasi.
5. Keputusan Direktur Jenderal Imigrasi Nomor IMI-294.KP.05.02
Tahun 2012 Tentang Pembentukan Sekretariat Majelis Kode Etik
Pusat Direktorat Jenderal Imigrasi.

Tujuan Kode Etik


1. Meningkatkan disiplin Pegawai Imigrasi.
2. Menjalin terpeliharanya tata tertib.
3. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim yang kondusif.
4. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang
profesional.
12

5. Meningkatkan citra dan kinerja Pegawai Imigrasi.

Etika Pegawai Imigrasi


1. Setiap Pegawai Imigrasi dalam melaksanakan tugas kedinasan dan
kehidupan sehari-hari wajib bersikap dan berpedoman pada etika
dalam beragama, bernegara, berorganisasi, bermasyarakat, dan
terhadap diri sendiri serta sesama Pegawai Imigrasi.
2. Setiap Pegawai Imigrasi wajib mematuhi, mentaati, dan
melaksanakan etika.

2.4 Struktur Organisasi Kantor Imigrasi Kelas I


Dalam melaksanakan tugas dan fungsi Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta
memiliki struktur organisasi, yaitu:
1. Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta
2. Kepala Bagian Umum, membawahkan :
a. Kasubbag Kepegawaian
b. Kasubbag Keuangan
c. Kasubbag TU dan RT
d. Kasubbag Penil. Kinerja
3. Kabid. Ppa I
a. Kabid. Ppa I A
b. Kabid. Ppa I B
4. Kabid. Ppa II
a. Kabid. Ppa II A
b. Kabid. Ppa II B
c. Kabid. Ppa II C
5. Kabid. Skki
a. Kasi Supervisi dan Proses Bisnis
b. Kasi Supervisi Teknis Aplikasi
c. Kasi Kepatuhan Internal
6. Kabid. Papk
a. Kasi Pembinaan Sist. Akunt Pem. Pusat
b. Kasi Pembinaan Sist. Akunt Pem. Daerah
c. Kasi Analisis, Statistik Dan Penyusunan Lap. Keuangan
7. Kepala Kppn Yogyakarta
8. Kepala Kppn Wates
9. Kepala Kppn Wonosari

Gambar 2.1. Struktur Organisasi Kantor Imigrasi I Yogyakarta

2.5 Lambang Kantor Imigrasi I Yogyakarta


Adapun Lambang Kantor Imigrasi I Yogyakarta, sebagai berikut:

Gambar 2.2. Kantor Imigrasi I Yogyakarta.


14

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Pengertian Jaringan Komputer


Jaringan komputer adalah himpunan interkoneksi antara 2 komputer
autonomous atau lebih yang berhubungan dengan media transmisi kabel atau tanpa
kabel (Wireless). Bila sebuah komputer dapat membuat komputer lainnya restart,
shutdown, atau melakukan kontrol lainnya, maka komputer-komputer tersebut
bukan autonomous (tidak melakukan kontrol terhadap komputer lain dengan akses
penuh).
Dua unit komputer dikatakan terkoneksi apabila keduanya bisa saling
bertukar data/informasi, berbagi resource yang dimiliki, seperti file, printer, media
penyimpanan (hardisk, floppy disk, cd-rom, flash disk, dll). Data yang berupa teks,
audio, maupun video bergerak melalui media kabel atau tanpa kabel, sehingga
memungkinkan pengguna komputer dalam jaringan komputer dapat saling
bertukar file/data, mencetak pada printer yang sama dan menggunakan
hardware/software yang terhubung dalam jaringan secara bersama-sama.
Tiap komputer, printer atau periferal yang terhubung dalam jaringan disebut
dengan node. Sebuah jaringan komputer sekurang- kurangnya terdiri dari dua unit
komputer atau lebih, dapat berjumlah puluhan komputer, ribuaan atau bahkan
jutaan node yang saling terhubung satu sama lain.
Di dalam jaringan komputer dikenal sistem koneksi antarnode (komputer),
yakni:
3.1.1 Peer to Peer
Peer to peer network adalah jaringan komputer yang terdiri dari beberapa
komputer (biasanya tidak lebih dari 10 komputer dengan 1-2 printer). Untuk
penggunaan khusus, seperti laboratorium komputer, riset dan beberapa hal lainnya,
maka model peer to peer ini bisa saja dikembangkan untuk koneksi lebih dari 10
hingga 100 komputer.
10

Peer to peer adalah suatu model dimana tiap PC dapat memakai resource pada
PC lain atau memberikan resource-nya untuk dipakai PC lain. Dengan kata lain
dapat berfungsi sebagai client maupun server pada periode yang sama. Metode peer
to peer ini pada sistem Windows dikenal sebagai workgroup, dimana tiap- tiap
komputer dalam satu jaringan dikelompokkan dalam satu kelompok kerja.

Gambar 3.1 Peer to Peer

3.1.2 Client – Server


Selain pada jaringan lokal, sistem ini bisa diterapkan dengan teknologi
internet dimana ada suatu unit komputer yang berfungsi sebagai server yang hanya
memberikan layanan bagi komputer lain dan client yang hanya meminta layanan
dari server. Akses dilakukan secara transparan dari client dengan melakukan login
terlebih dulu ke server yang dituju.
Client hanya bisa menggunakan resource yang disediakan server sesuai
dengan otoritas yang diberikan oleh administrator. Aplikasi yang dijalankan pada
suatu client bisa saja merupakan resource yang tersedia di server atau aplikasi
yang di install di sisi client namun hanya bisa dijalankan setelah terkoneksi ke
server.
32

. Gambar 3.2 Model Client-Server

3.2 Macam-macam Jaringan Komputer


Secara umum jaringan komputer terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:
3.2.1 Local Area Network (LAN)
Local Area Network (LAN) merupakan jaringan milik pribadi di dalam
sebuah gedung atau kampus yang berukuran sampai beberapa kilometer. LAN
seringkali digunakan untuk menghubungkan komputer-komputer pribadi dan
workstation dalam kantor perusahaan atau pabrik-pabrik untuk memakai bersama
resource (misalnya printer, scanner) dan saling bertukar informasi. LAN dapat
dibedakan dari jenis jaringan lainnya berdasarkan tiga karakteristik, yaitu ukuran,
teknologi transmisi dan topologinya.
LAN mempunyai ukuran terbatas, yang berarti bahwa waktu transmisi pada
keadaan terburuknya terbatas dan dapat diketahui sebelumnya. Dengan
mengetahui keterbatasannya, menyebabkan adanya kemungkinan untuk
menggunakan jenis desain tertentu.
LAN seringkali menggunakan teknologi transmisi kabel tunggal. LAN
tradisional beroperasi pada kecepatan mulai 10 sampai 100 Mbps dengan delay
rendah (puluhan mikro second) dan mempunyai faktor kesalahan yang kecil. LAN
modern dapat beroperasi pada kecepatan yang sampai 100 Mbps dengan delay
rendah (puluhan mikro second) dan mempunyai faktor kesalahan yang kecil. LAN
modern dapat beroperasi pada kecepatan yang lebih tinggi sampai ratusan
megabit/detik.
Gambar 3.3 Local Area Network

3.2.2 Metropolitan Area Network (MAN)


Metropolitan Area Network (MAN) pada dasarnya merupakan versi LAN
yang berukuran lebih besar dan biasanya memakai teknologi yang sama dengan
LAN. MAN dapat mencakup kantor-kantor perusahaan yang berdekatan dan dapat
dimanfaatkan untuk keperluan pribadi swasta atau umum. MAN biasanya mampu
menunjang data dan suara, dan bahkan dapat berhubungan dengan jaringan televisi
kabel.
MAN hanya memiliki sebuah atau dua buah kabel dan tidak mempunyai
elemen switching, yang berfungsi untuk mengatur paket melalui beberapa output
kabel. Adanya elemen switching membuat rancangan menjadi lebih sederhana.

Gambar 3.4 Metropolitan Area Network

3.2.3 Wide Area Network (WAN)


34

Wide Area Network (WAN) adalah sebuah jaringan yang memiliki jarak
yang sangat luas, karena radiusnya mencakup sebuah negara dan benua. Pada
sebagian WAN komponen yang dipakai dalam berkomunikasi biasanya terdiri
dari dua komponen, yaitu kabel transmisi dan elemen switching.
Kabel transmisi berfungsi untuk memindahkan bit-bit dari suatu komputer
ke komputer lainnya, sedangkan elemen switching adalah sebuah komputer
khusus yang digunakan untuk menghubungkan dua buah kabel transmisi atau
lebih. Saat data yang dikirim sampai ke kabel penerima, elemen switching harus
memilih kabel pengirim untuk meneruskan pesan-pesan tersebut.

Gambar 3.5 Wide Area Network

Tabel 3.1 Interkoneksi berdasarkan jarak antarnode


Jarak Lokasi/Area Jenis Jaringan
antar
1-10 m Ruangan
100 mkomput
-<1 Gedung
km er perkantor Local Area Network

1-10 km Kota
an Metropolitan
10 - < 100 Kabupat Area Network
km en,
>= 100 km Negara Wide Area Network
Propinsi
>= 1.000 km Benua

Nilai-nilai yang terdapat pada tabel di atas bukan merupakan nilai mutlak
bagi jarak yang menghubungkan antar komputer, karena jarak tersebut bisa saja
lebih pendek, tergantung pada kondisi area suatu wilayah.
3.2.4 Intranet
Intranet merupakan suatu jaringan komputer yang terdiri dari LAN maupun
WAN, serta internet untuk akses yang lebih global. Intranet dapat diartikan hanya
memberikan layanan bagi sekelompok pengguna komputer yang terhubung
dengan LAN maupun WAN untuk mengakses internet dalam lingkup lokal
saja. Biasanya intranet hanya melayani sebuah instansi dalam suatu wilayah
jangkauan LAN/WAN tersebut.

3.2.5 Internet
Internet merupakan gabungan dari berbagai LAN dan WAN yang berada di
seluruh jaringan komputer di dunia, sehingga terbentuk jaringan dengan skala
yang lebih luas dan global. Jaringan internet biasanya menggunakan protokol
TCP/IP dalam mengirimkan paket data. Internet berasal dari kata Interconnected
Network yang berarti hubungan dari beragam jaringan komputer di dunia yang
saling terintegrasi membentuk suatu jaringan global.

3.2.6 Jaringan tanpa kabel (Wireless)


Untuk menangani masalah kabel yang begitu panjang pada pemasangan
jaringan komputer, maka dapat memilih alternatif Wireless LAN untuk
berhubungan dengan jaringan. Dengan menggunakan Wireless LAN tidak perlu
bersusah payah menarik kabel untuk memasang jaringan.
Sebagai contoh, saat ini telah ada penggabungan antara Wireless LAN
dengan jaringan internet yang membentuk jaringan hotspot. Hotspot merupakan
sebutan bagi sebuah daerah yang dapat melakukan koneksi ke jaringan lain atau
ke internet tanpa harus menggunakan kabel. Hotspot menggunakan teknologi Wifi
dengan frekuensi 2,4 GHz.
Kelebihan lain dari jaringan nirkabel, yaitu:
a. Dapat membaca dan mengirimkan email atau file data dalam waktu singkat
tanpa harus pergi ke warnet untuk mengirimkannya.
b. Tidak tergantung dengan pemilik infrastruktur, sehingga penggunaannya
36

dapat melakukan setiap saat sesuai dengan keinginan.


c. Lebih praktis serta tidak memerlukan ruang apabila Wireless terpasang pada
laptop atau peralatan elektronik portabel sejenisnya.
d. Kecepatan transfer paket data minimal 5 Mbps dan dapat mencapai 54 Mbps.

Adapun kelemahan menggunakan Wireless LAN, yaitu:


1. Banyak perangkat yang tidak cocok dengan Wireless LAN.
2. Jumlah kanal yang tesedia pada frekuensi 2,4 GHz sangat terbatas, sehingga
perangkat-perangkat lain yang menggunakan frekuensi tersebut dapat
terganggu.

3.3 Topologi Jaringan


Topologi jaringan atau arsitektur jaringan adalah gambaran perencanaan
hubungan antarkomputer dalam LAN yang umumnya menggunakan kabel
(sebagai media transmisi), konektor, ethernet card dan perangkat pendukung
lainnya. Ada beberapa jenis topologi yang terdapat pada hubungan komputer pada
jaringan LAN, yaitu:

3.3.1 Topologi Bus


Topologi ini merupakan bentangan satu kabel yang kedua ujungnya ditutup,
dimana di sepanjang kabel terdapat node-node. Signal dalam kabel dengan
topologi ini dilewati satu arah, sehingga memungkinkan sebuah collision terjadi.
Berikut merupakan gambar arsitektur topologi jaringan tipe Bus:

Gambar 3.6 Topologi Bus


3.3.2 Topologi Ring
Topologi jaringan yang berupa lingkaran tertutup yang berisi node-node.
Signal mengalir dalam dua arah, sehingga dapat menghidarkan terjadinya collision
dan memungkinkan terjadinya pergerakan data yang sangat cepat.
Semua komputer saling tersambung membentuk lingkaran (seperti bus tetapi
ujung-ujung bus disambung). Data yang dikirim diberi address tujuan, sehingga
dapat menuju komputer yang dituju. Tiap stasiun (komputer) dapat diberi repeater
(transceiver) yang berfungsi sebagai listen state, transmit state dan bypass state.
Berikut merupakan gambar arsitektur topologi jaringan tipe Ring:

Gambar 3.7 Topologi Ring

3.3.3 Topologi Star


Karakteristik dari topologi jaringan ini adalah node (station) berkomunikasi
langsung dengan station lain melalui central node (hub/switch), traffic data
mengalir dari node ke central node dan diteruskan ke node (station) tujuan. Jika
salah satu segmen kabel putus, jaringan lain tidak akan terputus. Berikut
merupakan gambar arsitektur topologi jaringan tipe Star:
38

Gambar 3.8 Topologi Star

3.3.4 Topologi Daisy-Chain (Linear)


Topologi ini merupakan peralihan dari topologi bus dan topologi ring,
dimana tiap simpul terhubung langsung kedua simpul lain melalui segmen kabel,
tetapi segmen membentuk saluran, bukan lingkaran utuh. Antar komputer seperti
terhubung secara seri. Berikut merupakan gambar arsitektur topologi jaringan tipe
Daisy-Chain (Linear):

Gambar 3.9 Topologi Daisy-Chain (Linear)

3.3.5 Topologi Tree/Hierarchical


Tidak semua workstation mempunyai kedudukan yang sama. Workstation
yang kedudukannya lebih tinggi menguasai workstation di bawahnya, sehingga
jaringan sangat tergantung pada workstation yang kedudukannya lebih tinggi
(hierarchical topology) dan kedudukan workstation yang sama disebut peer
topology. Berikut merupakan gambar arsitektur topologi jaringan tipe
Tree/Hierarchical:

Gambar 3.10 Topologi Tree/Hierarchical

3.3.6 Topologi Mesh (Full Connected)


Topologi mesh ini merupakan teknologi khusus (ad hock) yang tidak dapat
dibuat dengan pengkabelan, karena sistemnya yang rumit namun dengan teknologi
Wireless topologi ini sangat memungkinkan untuk diwujudkan (karena dapat
dipastikan tidak akan ada kabel yang berseliweran). Biasanya untuk memperkuat
sinyal transmisi data yang dikirimkan, di tengah-tengah (area) antarkomputer yang
kosong ditempatkan perangkat radio (air point) yang berfungsi seperti repeater
untuk memperkuat sinyal sekaligus untuk mengatur arah komunikasi data yang
terjadi. Berikut merupakan gambar arsitektur topologi jaringan tipe Mesh (Full
Connected:

Gambar 3.11 Topologi Mesh


40

3.3.7 Topologi Hybrid


Topologi hybrid merupakan topologi gabungan dari beberapa topologi yang
ada dan bisa memadukan kinerja dari beberapa topologi yang berbeda, baik
berbeda sistem maupun berbeda media transmisinya. Berikut merupakan gambar
arsitektur topologi jaringan tipe Hybrid:

Gambar 3.12 Topologi Hybrid

3.4 Pengalamatan IP Address


Untuk mengatur alamat masing-masing komputer pada suatu jaringan,
digunakan IP Address. IP Address adalah suatu alamat yang diberikan ke peralatan
jaringan komputer untuk dapat diidentifikasikan oleh komputer yang lain. Dengan
demikian masing-masing komputer dapat melakukan proses tukar-menukar data
atau informasi, mengakses internet, atau mengakses suatu jaringan komputer
dengan menggunakan protokol TCP/IP.
IP Address digunakan untuk mengidentifikasikan interface jaringan pada
host dari suatu mesin (komputer). IP Address terdiri dari sekelompok bilangan
biner 32 bit yang dibagi menjadi 4 bagian. Masing-masing terdiri dari 8 bit, yang
berarti memiliki nilai desimal dari 0 sampai 255. Tiap 8 bit ini disebut sebagai
oktet. Bentuk IP Address adalah sebagai berikut:

XXXXXXXX.XXXXXXXX.XXXXXXXX.XXXXX
XXX
Setiap tanda simbol ”X” dapat kita gantikan oleh angka 0 dan 1,
seperti:
11000000.10101000.00000000.00000001
Notasi IP Address dengan bilangan biner seperti di atas tidak mudah kita
baca dan hafalkan. Oleh karena itu, untuk memudahkan dalam membaca dan
mengingat suatu alamat IP dalam jaringan, IP Address sering ditulis sebagai 4
bilangan desimal yang masing-masing dipisahkan oleh sebuah titik. Setiap
bilangan desimal tersebut merupakan nilai dari suatu oktet (8 bit) IP Address,
misalnya :
11000000.10101000.00000000.00000001
192 . 168 .0 .1
IP Address dapat dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu host ID dan network
ID. Host ID berfungsi untuk mengidentifikasi host dalam suatu jaringan,
sedangkan network ID berfungsi untuk mengidentifikasikan suatu jaringan dari
jaringan yang lain. Hal ini berarti seluruh host yang tersambung di dalam jaringan
yang sama memiliki network ID yang sama pula. Sebagian dari bit-bit bagian
awal dari IP Address merupakan network ID atau network number, sedangkan
sisanya untuk host. Garis pemisah antara bagian network dan host tidak tetap
(konstan), tergantung pada kelas network yang digunakan.
Terdapat beberapa kelas IP Address yang digunakan dalam TCP/IP dalam
suatu jaringan, yaitu:
1) Kelas A
Pada jaringan IP kelas A, bit pertama dari IP Address tersebut adalah 0.
Bit pertama dan 7 bit berikutnya (8 bit pertama) merupakan network ID.
Pada kelas A hanya terdapat 126 network IP Address dengan jangkauan
dari 0.xxx.xxx.xxx sampai 127.xxx.xxx.xxx dan pengalamatannya masing-
masing dapat mendukung 16.777.214 host.

NNNNNNNN HHHHHHHH HHHHHHHH HHHHHHHH

N = Network ID H = Host
42

2) Kelas B
Pada jaringan IP Address Kelas B, 2 bit pertama dari IP Address adalah
10. Dua bit ini dan berikutnya (16 bit pertama) merupakan network ID,
sedangkan 16 bit terakhir adalah Host ID. Pada kelas B terdapat 16384
network IP Address dengan jangkauan dari 128.0.xxx.xxx sampai
191.255.xxx.xxx dan pengalamatannya masing-masing dapat mendukung
65.532 host.

NNNNNNNN NNNNNNNN HHHHHHHH HHHHHHHH

N = Network ID H = Host
3) Kelas C
Pada jaringan IP Address kelas C, 3 bit pertama dari IP Address adalah
110. Tiga bit ini dari 21 bit berikutnya (24 bit pertama) merupakan network
ID, sedangkan 8 bit terakhir merupakan host ID. Pada kelas C terdapat
2.097.152 network IP Address dengan jangkauan dari 192.0.0.xxx sampai
223.255..255.xxx dan pengalamatannya masing-masing dapat mendukung
254 host.

NNNNNNNN NNNNNNNN NNNNNNNN HHHHHHHH

N = Network ID H = Host
4) Kelas D
Pada jaringan IP Address kelas D, 4 bit pertama dari IP Address ini
adalah 1110. Sedangkan bit sisanya digunakan group host pada jaringan
dengan range IP antara 244.0.0.0- 239.255.255.255 IP Address kelas D
digunakan untuk multicasting, yaitu pemakaian aplikasi secara bersama-
sama oleh sejumlah komputer. Salah satu penggunaan multicast address
pada internet saat ini adalah aplikasi real time video conference yang
melibatkan lebih dari dua host (multipoint) dengan menggunakan Mbone
(Multicat Backbone).
5) Kelas E
Pada jaringan IP Address kelas E, 4 bit pertama dari IP Address ini
adalah 1 1 1 1, IP Address kelas E mempunyai range antara 240.0.0.0-
254.255.255.255. IP Address kelas E merupakan kelas IP Address
eksperimen yang dipersiapkan untuk penggunaan IP Address di masa yang
akan datang.

3.5 IP Private dan IP Public


Berdasarkan jenisnya, IP Address dibedakan menjadi dua macam, yaitu IP
Private dan IP Public. IP Private adalah IP Address yang digunakan oleh suatu
organisasi yang diperuntukkan jaringan lokal. Organisasi lain dari luar organisasi
tersebut tidak dapat melakukan komunikasi dengan jaringan lokal. Contoh
pemakaiannya terdapat pada jaringan internet.
Range IP Private adalah sebagai berikut :
Kelas A : 10.0.0.0 – 10.255.255.255
Kelas B : 172.16.0.0 – 172.31.255.255
Kelas C : 192.168.0.0 – 192.168.255.255
IP Public adalah IP Address yang digunakan pada jaringan lokal oleh suatu
organisasi. Organisasi lain, di luar dari organisasi tersebut dapat melakukan
komunikasi langsung dengan jaringan lokal. Contoh pemakaiannya adalah pada
jaringan internet dan range IP Public adalah range IP Address yang tidak termasuk
dalam IP Private.

3.6 Subnetting IP dan Variable Length Subnet Mask (VLSM)


Subnetting adalah suatu cara yang digunakan untuk mencegah pemborosan
alamat IP dengan cara membagi full network address menjadi segmen atau subnet
yang lebih kecil dengan menggunakan subnet mask . Beberapa alasan pentingnya
penggunaan subnetting, yaitu:
1. Berkurangnya lalu lintas jaringan (reduced network traffic).
2. Teroptimasinya kerja jaringan (optimized network performances).
3. Pengelolaan yang disederhanakan (simplified management).
44

4. Membantu pengembangan jaringan ke jarak geografis yang jauh


(facilitated spanning of large geographical distances).
Sedangkan VLSM seringkali diartikan sebagai subnetting a subnet dan bisa
digunakan untuk memaksimalkan efisiensi pengalamatan IP. Keuntungan
menggunakan VLSM adalah karena VLSM mengijinkan jaringan memiliki subnet
masks yang berbeda.

3.6.1 Dasar – Dasar Subnetting


Untuk membuat subnet-subnet, ambil bit-bit dari bagian sebuah alamat IP
dan me-reserve atau menyimpannya untuk mendefinisikan alamat subnet. Ini
berarti semakin sedikit jumlah bit untuk host. Jadi semakin banyak jumlah subnet,
semakin sedikit jumlah bit yang tersedia untuk mendefinisikan host-host.
a Subnet Mask
Agar perencanaan alamat subnet bekerja, semua mesin di jaringan harus
tahu bagian mana dari alamat host yang akan digunakan sebagai alamat
subnet. Ini dilakukan dengan menetapkan sebuah subnet mask untuk setiap
mesin. Sebuah subnet mask adalah sebuah nilai 32-bit yang memungkinkan
penerima paket IP membedakan bagian ID network dari sebuah alamat IP
dengan bagian ID host dari alamat IP tersebut .
b. Subnetting Class C
Di sebuah alamat class C, hanya 8 bit yang tersedia untuk
mendefinisikan host. Ingat bahwa bit subnet dimulai dari kiri ke kanan, tanpa
melompati bit. Berarti subnet mask class C yang mungkin adalah sebagai
berikut:
Tabel 3.2 Subnet Mask VLSM Class C
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30
255.255.255.254 /31
c. Subnetting Class B
Sebelum membahas lebih dalam, mari melihat terlebih dahulu semua
subnet mask yang mungkin dari alamat class. Perhatikan bahwa class B
mempunyai jauh lebih banyak subnet yang mungkin dari pada sebuah alamat
class C:
Tabel 3.3 Subnet Mask VLSM Class B
Subnet Mask Nilai CIDR Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.128.0 /17 255.255.255.128 /25
255.255.192.0 /18 255.255.255.192 /26
255.255.224.0 /19 255.255.255.224 /27
255.255.240.0 /20 255.255.255.240 /28

255.255.248.0 /21 255.255.255.248 /29


255.255.252.0 /22 255.255.255.252 /30
255.255.254.0 /23
255.255.255.0 /24

Proses melakukan subnetting pada sebuah network class B hampir


sama dengan proses subnetting untuk network class C, kecuali bila
mempunyai lebih banyak bit host. Untuk octet ketiga di class B, gunakan
nomor subnet yang sama dengan nomor subnet yang sama dengan nomor
subnet yang digunakan di octet keempat class C, tetapi tambahkan sebuah 0
ke bit.
a. Subnetting Class A
Subnet class A tidak dilakukan dengan cara yang berbeda dari class B
dan class C, tetapi ada 24 bit yang dimainkan dibandingkan 16 bit di class B
dan 8 bit di class C. Itulah datanya, paling tidak 2 bit untuk mendefinisikan
host sehingga subnet terakhir yaitu /30. Ingat, ini dilakukan dengan cara
yang sama seperti subnet class B dan class C. Hanya saja mempunyai lebih
banyak bit host.
46

3.7 Cisco Packet Tracer


Packet Tracer adalah sebuah software yang dikembangkan oleh Cisco.
Dimana software tersebut berfungsi untuk membuat suatu jaringan komputer atau
sering disebut dengan computer network. Dalam program ini tersedia beberapa
komponen-komponen atau alat-alat yang sering dipakai atau digunakan dalam
sistem network tersebut. Misalkan contoh seperti kabel LAN (cross over, console,
dll), HUB, switches, router dan lain sebagainya, sehingga dapat dengan mudah
membuat sebuah simulasi jaringan komputer di dalam PC. Simulasi ini berfungsi
untuk mengetahui cara kerja pada tiap-tiap alat tersebut dan cara pengiriman
sebuah pesan dari komputer satu ke komputer lain dapat di simulasikan juga di
program ini.

3.8 Perangkat Cisco


Di dalam jaringan hotspot, ada 2 istilah untuk perangkat-perangkat yang
digunakan, yaitu end device dan intermediary device. End device merupakan
perangkat-perangkat yang menjadi pengguna dari jaringan hotspot yaitu sebagai
sumber atau tujuan dari pertukaran data. Setiap end device disebut juga sebagai
host dan dibekali dengan perangkat yang disebut NIC (Network Interface Card)
untuk berinteraksi dengan jaringan. Berikut ini merupakan beberapa perangkat
end device, yaitu:
1. Server
Server adalah sebuah sistem komputer yang menyediakan jenis layanan
tertentu dalam sebuah jaringan komputer. Server didukung dengan prosesor
yang bersifat scalable dan RAM yang besar, juga dilengkapi dengan sistem
operasi khusus disebut sebagai sistem operasi jaringan. Server juga
menjalankan perangkat lunak administratif yang mengontrol akses terhadap
jaringan dan sumber daya yang terdapat di dalamnya, seperti halnya berkas
atau pencetak dan memberikan akses kepada stasiun kerja anggota jaringan.
2. Personal Computer (PC)
Sebuah komputer pribadi (PC) adalah setiap komputer untuk keperluan
umum yang ukuran, kemampuan, dan asli harga jual membuatnya berguna
bagi individu, dan yang dimaksudkan untuk dioperasikan secara langsung
oleh pengguna akhir tanpa campur tangan operator komputer. Berbeda
dengan batch processing atau model time-sharing yang memungkinkan
lebih besar, komputer mini lebih mahal dan mainframe sistem yang akan
digunakan oleh banyak orang, biasanya pada saat yang sama. Data
yang besar sistem pengolahan membutuhkan staf penuh-waktu untuk
beroperasi secara efisien.
3. Laptop
Laptop atau komputer jinjing adalah komputer bergerak yang berukuran
relatif kecil dan ringan, beratnya berkisar dari 1-6 kg, tergantung ukuran,
bahan, dan spesifikasi laptop tersebut. Sumber daya laptop berasal dari
baterai atau adaptor AC yang dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai
dan menyalakan laptop itu sendiri. Baterai laptop pada umumnya dapat
bertahan sekitar 1 hingga 6 jam sebelum akhirnya habis, tergantung dari cara
pemakaian, spesifikasi, dan ukuran baterai.
4. Wireless Tablet
Wireless Tablet adalah laptop atau komputer portable berbentuk buku.
Memiliki layar sentuh atau teknologi tablet digital yang memungkinkan
pengguna komputer mempergunakan stylus atau pulpen digital selain
keyboard ataupun mouse komputer.
Istilah ini dipopulerkan oleh Microsoft pada tahun 2001, tetapi wireless
tablet sekarang mengacu pada setiap komputer pribadi yang berukuran
tablet, jika tidak menggunakan Windows melainkan sistem operasi PC yang
lain. Tablet dapat menggunakan papan ketik virtual dan pengenalan tulisan
tangan untuk input teks melalui layar sentuh.
5. Personal Digital Assistant (PDA)
Personal Digital Assistant (PDA) adalah sebuah alat elektronik yang
berbasis komputer dan berbentuk kecil serta dapat dibawa ke mana-mana.
PDA banyak digunakan sebagai pengorganisir pribadi pada awalnya, tetapi
karena perkembangannya, kemudian bertambah banyak fungsi
kegunaannya, seperti kalkulator, penunjuk jam dan waktu, permainan
48

komputer, pengakses internet, penerima dan pengirim surat elektronik


(e-mail), penerima radio, perekam video, dan pencatat memo. Selain itu,
dengan PDA (komputer saku) ini, kita dapat menggunakan buku alamat dan
menyimpan alamat, membaca buku-e, menggunakan GPS dan masih banyak
lagi fungsi yang lain. Bahkan versi PDA yang lebih canggih dapat digunakan
sebagai telepon genggam, akses internet, intranet, atau extranet lewat wifi
atau jaringan wireless. Salah satu ciri khas PDA yang paling utama adalah
fasilitas layar sentuh.
Intermediary device adalah perangkat-perangkat yang berfungsi sebagai
penghubung antar perangkat-perangkat yang ada di dalam jaringan hotspot.
Berikut adalah beberapa intermediary device, yaitu:
a. Router
Router adalah perangkat jaringan yang digunakan untuk membagi
protocol kepada anggota jaringan yang lainnya, dengan adanya router
maka sebuah protocol dapat di sharing kepada perangkat jaringan lain.
Ciri-ciri router adalah adanya fasilitas DHCP (Dynamic Host
Configuration Procotol), dengan mensetting DHCP, maka kita dapat
membagi IP Address. Fasilitas lain dari router adalah adanya NAT
(Network Address Translator) yang dapat memungkinkan suatu IP
Address atau koneksi internet di sharing ke IP Address lain.
b. Cloud
Cloud computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi
komputer (komputasi) dan pengembangan berbasis Internet (awan).
Awan (cloud) adalah metafora dari internet, sebagaimana awan yang
sering digambarkan di diagram jaringan komputer. Awan (cloud) dalam
cloud computing juga merupakan abstraksi dari infrastruktur kompleks
yang disembunyikannya.
Cloud Computing adalah suatu metoda komputasi di mana
kapabilitas terkait teknologi informasi disajikan sebagai suatu layanan
(as a service), sehingga pengguna dapat mengaksesnya lewat Internet (di
dalam awan) tanpa mengetahui apa yang ada didalamnya, ahli
dengannya, atau memiliki kendali terhadap infrastruktur teknologi yang
membantunya. Menurut sebuah makalah tahun 2008 yang dipublikasi
IEEE Internet Computing "Cloud Computing adalah suatu paradigma di
mana informasi secara permanen tersimpan di server internet dan
tersimpan secara sementara di komputer pengguna (client) termasuk di
dalamnya adalah desktop, komputer tablet, notebook, komputer tembok,
handheld, sensor-sensor, monitor dan lain-lain”.
c. Access Point
Wireless access point merupakan perangkat keras yang
memungkinkan perangkat wireless lain (seperti laptop, ponsel) untuk
terhubung ke jaringan kabel menggunakan wifi, bluetooth atau perangkat
standar lainnya. Wireless access point umumnya dihubungkan ke router
melalui jaringan kabel (kebanyakan telah terintegrasi dengan router) dan
dapat digunakan untuk saling mengirim data antar perangkat wireless
(seperti laptop, printer yang memiliki wifi) dan perangkat kabel pada
jaringan.
Access point berfungsi sebagai pengatur lalu lintas data, sehingga
memungkinkan banyak client dapat saling terhubung melalui jaringan.
Sebagai Hub/Switch yang bertindak untuk menghubungkan jaringan
lokal dengan jaringan Wireless/nirkabel. Access point dapat
memancarkan atau mengirim koneksi data/internet melalui gelombang
radio, ukuran kekuatan sinyal juga mempengaruhi area coverage yang
akan dijangkau. Semakin besar kekuatan sinyal (ukurannya dalam satuan
dBm atau mW) semakin luas jangkauannya.
d. DSL Modem
DSL Modem adalah perangkat yang digunakan untuk
menghubungkan komputer atau router ke saluran telepon, untuk
menggunakan layanan ADSL. Seperti jenis modem lainnya, modem
ADSL merupakan transceiver (DSL Transceiver atau ATU-R).
Singkatan NTBBA (Network Termination Broad Band Adapter,
50

Network Termination Broad Band Acces) juga sering ditemui di


beberapa negara.

3.9 Hotspot
Hotspot adalah lokasi yang dilengkapi dengan piranti wifi, sehingga dapat
dipergunakan oleh pengguna yang berada pada lokasi tersebut untuk mengakses
internet dengan menggunakan Laptop/PDA/Tablet yang sudah memiliki peralatan
kartu wifi. Wifi merupakan koneksi tanpa kabel yang menghubungkan jaringan
komputer, seperti ponsel yang mempergunakan teknologi radio sehingga
pengguna dapat melakukan transfer data dengan cepat dan aman.
Ada beberapa jenis hotspot yang biasa digunakan, yaitu:
1. Hotspot gratis sebagai tambahan pelanggan umum biasanya dioperasikan di
hotel, di lobi hotel, di ruang konferensi, kedai kopi, atau di kafe. Kadang area
besinyal jenis ini merupakan instalasi semi permanen, di acara pameren
komputer atau konferensi/seminar komputer.
2. Hotspot yang dibayar langsung ke pemilik gedung, biasanya di ruangan
hotel, restoran, atau kedai kopi. Tidak semua hotel mampu memberikan
servis wifi gratis. Mereka mengambil kebijakan untuk memberikan servis
berbayar kepada pengguna area besinyal untuk menalangi biaya leased line
atau tak terbatas (unlimited) ADSL ke Internet.
3. Hotspot berbayar ke operator area besinyal wifi, misalnya Boingo, iPASS.
Operator area besinyal wifi ini merupakan jaringan internasional yang
global dengan banyak sekali pengguna yang berpindah tempat (mobile)
secara internasional. Jenis hotspot ini biasanya akan lebih menarik bagi
mereka yang memiliki banyak pengguna yang datang dari mancanegara.
Tentunya sebuah hotspot dapat merupakan gabungan dari beberapa tipe
hotspot menjadi satu kesatuan, tidak harus menyediakan hanya satu tipe saja. Jadi
bisa saja, hotspot berbayar ke pemilik gedung dan berbayar ke operator area
besinyal wifi dioperasikan pada sebuah area hotspot.
BAB IV

ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM

4.1 Kebutuhan Hardware dan Software


a. Kebutuhan Hardware

Hardware atau perangkat keras merupakan suatu komponen yang


sangat mendukung dalam proses komputerisasi. Berikut ini adalah
spesifikasi hardware yang digunakan dalam mengkonfigurasi jaringan
LAN di Gedung Imigrasi Kelas I DIY :
1. Komputer/ Laptop
2. DELL
3. CPU Core i3
4. Processor 3.3Ghz
5. Wireless mouse
6. Kabel Straight
7. Kabel Cross
8. Acces Point

b. Kebutuhan Software
Adapun spesifikasi software atau perangkat lunak yang
digunakan dalam mengkonfigurasi jaringan LAN di Gedung Imigrasi
Kelas I DIY adalah Cisco Packet Tracer 6.3.
52

4.2 Flowchart Skema Jaringan LAN pada Gedung Imigrasi Kelas I DIY

Gambar 4.1 Flowchart Skema Jaringan LAN pada Gedung Imigrasi Kelas I DIY

4.3 Skema Jaringan LAN pada Gedung Imigrasi Kelas I DIY


Jaringan Local Area Network merupakan suatu jaringan komputer yang
jaringannya hanya mencakup wilayah kecil. Seperti jaringan komputer
kampus, kantor, gedung atau seperti yang ada di Gedung Imigrasi Kelas I
DIY.
Berikut adalah perancangan skema dari jaringan LAN (Local Area Network)
pada Gedung Imigrasi Kelas I DIY dengan menggunakan Packet Tracer, dilihat
pada gambar 4.2.

Gambar 4.2 Perancangan LAN di Gedung Imigrasi Kelas I DIY

Imigrasi Kelas I DIY dalam membangun jaringan LAN di semua


gedung lebih menekankan pada penggunaan access point agar bisa terhubung
ke internet. Access point adalah sebuah perangkat jaringan yang berisi sebuah
transceiver dan antena untuk transmisi dan menerima signal ke dan dari client
remote. Karena dengan access point, client wireless bisa dengan mudah
terhubung kepada jaringan LAN kabel secara wireless
(www.wirelessmode.net/pengertian-access-point-dan-fungsinya.html).

Konfigurasi IP (Internet Protocol)


Di dalam Gedung Imigrasi Kelas I DIY disediakan 15 PC (Personal
Computer) dan juga disediakan tempat khusus untuk pengunjung yang ingin
mengakses internet dengan membawa laptop sendiri. Pada gambar 4.1 juga sudah
54

digambarkan bahwa pada suatu jaringan tersebut terdapat 1 server, 2 switch , dan 1
access point.

Pada server, konfigurasi IP yang digunakan adalah static. Server0 terhubung


dengan switch0 pada inteface FastEthernet0 dilihat pada gambar 4.3.

Gambar 4.3 Konfigurasi IP pada Server0


Sedangkan, untuk pengaturan IP yang digunakan pada PC menggunakan DHCP
(Dynamic Host Configuration Protocol). DHCP adalah fasilitas yang dapat
dipergunakan untuk memberikan IP Address secara otomatis pada komputer-
komputer yang berada pada LAN. DHCP merupakan standar dari Internet
Engineering Task Force (IETF) yang didesain untuk mengurangi beban
administrasi dan kompleksitas dalam menangani konfigurasi TCP/IP di komputer
klien. DHCP akan menyederhanakan konfigurasi alamat IP karena akan
memberikan.
konfigurasi tersebut kepada komputer klien yang ada di jaringan secara
otomatis.

Gambar 4.4 Contoh Konfigurasi IP Address dengan DHCP pada PC2

Gambar 4.4 adalah salah satu contoh cara mengkonfigurasi alamat IP dengan
DHCP pada PC2. Pada jendela IP Configuration tersebut, user hanya perlu
untuk melakukan click pada menu DHCP. Maka, beberapa saat kemudian IP
Address dan Subnet Mask akan terisi dengan sendirinya. Hal yang sama juga
dilakukan pada semua PC yang ada di Gedung Imigrasi Kelas I DIY.

Dibawah ini adalah alamat IP, Subnet mask dan Default Gateway
digambarkan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 IP Address, Subnet mask dan Default Gateway
56

No. IP Address Subnet Mask Default Gateway

Server 0 192.168.1.1 255.255.255.0 192.168.1.1

PC0 169.254.84.91 255.255.0.0 -

PC1 169.254.11.75 255.255.0.0 -

PC2 169.254.32.142 255.255.0.0 -

PC3 169.254.58.140 255.255.0.0 -

PC4 169.254.123.172 255.255.0.0 -

PC5 169.254.184.236 255.255.0.0 -

PC6 196.254.200.146 255.255.0.0 -

PC7 196.254.203.55 255.255.0.0 -

PC8 196.254.134.4 255.255.0.0 -

PC9 196.254.206.40 255.255.0.0 -

PC10 169.254.29.168 255.255.0.0 -

PC11 169.254.129.136 255.255.0.0 -

PC12 169.254.209.3 255.255.0.0 -

PC13 169.254.171.162 255.255.0.0 -

PC14 169.254.21.198 255.255.0.0 -

Laptop 1 169.254.2.96 255.255.0.0 -

Laptop 2 169.254.238.126 255.255.0.0 -


Laptop 3 169.254.80.208 255.255.0.0 -

Laptop 4 169.254.44.96 255.255.0.0 -

Laptop 5 169.254.72.60 255.255.0.0 -

Dari tabel 4.1 tersebut dapat diketahui bahwa DHCP server tidak hanya
memberikan alamat IP saja, tetapi juga memberikan subnet mask.Selain itu,
DHCP server juga dapat memberikan parameter lain seperti host name,
domain name, DNS, alamat gateway, time server dan lain sebagainya.
Maka, dari itulah alasan mengapa banyak yang menerapkan DHCP
adalah kemudahannya dalam pemberian alamat IP kepada komputer client/
perangkat jaringan (walau dalam jumlah yang banyak) secara otomatis. Jadi
kita tidak perlu memberikan alamat IP secara manual kepada setiap komputer
satu per satu.
Di bawah ini adalah beberapa keuntungan menggunakan layanan
DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) :
a. Tidak perlu memberikan/ mengkonfigurasi alamat IP kepada client satu
per satu,
b. Mencegah terjadinya IP conflict yang sering terjadi pada suatu jaringan,
c. Dengan layanan DHCP, komputer client dapat menggunakan alamat IP
dalam jangka waktu tertentu (tergantung pemberian server),
d. Komputer client dapat menggunakan suatu alamat IP yang tidak dipakai
oleh komputer client yang lain, dan
e. Dengan adanya DHCP, kita dapat mengintegrasikan suatu mesin (host)
ke dalam suatu jaringan, karena nantinya mesin tersebut akan mendapat
alamat IP juga melalui pooling yang sebelumnya telah dibuat oleh
server.
58
BAB V

IMPLEMENTASI SISTEM

5.1 Koneksi Jaringan


Setelah seluruh konfigurasi selesai dan semua sudah tertata dengan
baik, maka jaringan LAN (Local Area Network) pada Gedung Imigrasi Kelas
I DIY dapat bekerja. Untuk mengetahui apakah jaringan sudah terkoneksi
semua atau tidak, yaitu dengan cara melakukan ping antar perangkat. Baik
antar komputer, komputer ke laptop dan juga laptop ke komputer.

5.2 Hasil Pengecekan


a. Dari PC 2 ke PC 9, PC 10 dan Laptop 1
Pengecekan PC2 dengan alamat IP 169.254.32.142, subnet mask 255.255.0.0
ke PC9, PC10, dan Laptop1 dilihat pada gambar 5.1.

Gambar 5.1 Hasil Ping PC 2 ke PC 9, PC 10 dan Laptop 1

b. Dari PC 0 ke PC 5, PC 11 dan Laptop 2


Pengecekan PC0 dengan alamat IP 169.254.84.91, subnet mask 255.255.0.0 ke
PC 5, PC 11 dan Laptop 2 dilihat pada gambar 5.2.

Gambar 5.2 Hasil Ping PC 0 ke PC 5, PC 11 dan Laptop 2


c dari PC 1 ke PC 6, PC 12 dan Laptop 3

Pengecekan PC1 dengan alamat IP 169.254.11.75, subnet mask 255.255.0.0 ke


PC 6,PC 12 dan Laptop 3 dilihat pada gambar 5.3

Gambar 5.3 Hasil Ping PC 1 ke PC 6,PC 12 dan Laptop 3

c. Dari PC 3 ke PC 7, PC 13 dan Laptop 4


Pengecekan PC3 dengan alamat IP 169.254.58.140, subnet mask 255.255.0.0
ke PC 7,PC 13 dan Laptop 4 dilihat pada gambar 5.4.

Gambar 5.4 Hasil Ping PC 3 ke PC 7,PC 13 dan Laptop 4

d. Dari PC 4 ke PC 8, PC 14 dan Laptop 5


Pengecekan PC4 dengan alamat IP 169.254.123.172, subnet mask 255.255.0.0
ke PC 8, PC 14 dan Laptop 5 dilihat pada gambar 5.5.
Gambar 5.5 Hasil Ping PC 4 ke PC 8, PC 14 dan Laptop 5

e. Dari PC 14 ke PC 8, PC 4 dan Laptop 5

Pengecekan PC14 dengan alamat IP 169.254.21.198, subnet mask 255.255.0.0


ke PC 8, PC 4 dan Laptop 5 dilihat pada gambar 5.6.

Gambar 5.6 Hasil Ping PC 14 ke PC 8, PC 4 dan Laptop 5

f. Dari PC 13 ke PC 3, PC 7 dan Laptop 4

Pengecekan PC13 dengan alamat IP 169.254.171.162, subnet mask


255.255.0.0 ke PC 3, PC 7 dan Laptop 4 dilihat pada gambar 5.7.

Gambar 5.7 Hasil Ping PC 13 ke PC 3,PC 7 dan Laptop 4

iii
g. Dari PC 12 ke PC 1, PC 6 dan Laptop 3

Pengecekan PC12 dengan alamat IP 169.254.209.3, subnet mask 255.255.0.0


ke PC 1, PC 6 dan Laptop 3 dilihat pada gambar 5.8.

Gambar 5.8 Hasil Ping PC 12 ke PC 1, PC 6 dan Laptop 3

h. Dari PC 11 ke PC 0, PC 5 dan Laptop 2

Pengecekan PC11 dengan alamat IP 169.254.129.136, subnet mask


255.255.0.0 ke PC 0, PC 5 dan Laptop 2 dilihat pada gambar 5.9.

Gambar 5.9 Hasil Ping PC 11 ke PC 0, PC 5 dan Laptop 2

i. Dari PC 10 ke PC 2, PC 9 dan Laptop 1

Pengecekan PC10 dengan alamat IP 169.254.29.168, subnet mask 255.255.0.0


ke PC 2, PC 9 dan Laptop 1 dilihat pada gambar 5.10.
Gambar 5.10 Hasil Ping PC 10 ke PC 2, PC 9 dan Laptop 1

j. Dari Laptop 1 ke PC 2, PC 10 dan PC 9

Pengecekan Laptop 1 dengan alamat IP 169.254.2.96, subnet mask 255.255.0.0


ke PC 2, PC 10, PC 9 dilihat pada gambar 5.11.

Gambar 5.11 Hasil Ping Laptop 1 ke PC 2, PC 10 dan PC 9

k. Dari Laptop 2 ke PC 0, PC 11 dan PC 5

Pengecekan Laptop 2 dengan alamat IP 169.254.238.126, subnet mask


255.255.0.0 ke PC 0, PC 11, dan PC 5 dilihat pada gambar 5.12.

v
Gambar 5.12 Hasil Ping Laptop 2 ke PC 0, PC 11 dan PC 5

l. Dari Laptop 3 ke PC 1, PC 12 dan PC 6

Pengecekan Laptop 3 dengan alamat IP 169.254.80.208, subnet mask


255.255.0.0 PC 1, PC 12, dan PC 6 dilihat pada gambar 5.13.

Gambar 5.13 Hasil Ping Laptop 3 ke PC 1, PC 12 dan PC 6

m. Dari Laptop 4 ke PC 3, PC 13 dan PC 7

Pengecekan Laptop 4 dengan alamat IP 169.254.44.96, subnet mask


255.255.0.0 ke PC 3, PC 13 dan PC 7 dilihat pada gambar 5.14.

Gambar 5.14 Hasil Ping Laptop 4 ke PC 3, PC 13 dan PC 7

n. Dari Laptop 5 ke PC 4, PC 14 dan PC 8


Pengecekan Laptop 5 dengan alamat IP 169.254.72.60, subnet mask
255.255.0.0 ke PC 4, PC 14 dan PC 8 dilihat pada gambar 5.15.
Gambar 5.15 Hasil Ping Laptop 5 ke PC 4, PC 14 dan 8

5.3 Kesimpulan Hasil


Pada proses ping, dapat dihasilkan keberhasilan konfigurasi setiap koneksi
pada komputer yang ada pada gedung Imigrasi Kelas I Yogyakarta, dibuktikan
dengan pada kolom last status berisi pesan successcul.

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

vii
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembahasan tersebut antara lain:
1. LAN (Local Area Network) adalah jaringan komputer yang jaringannya
hanya mencakup wilayah kecil, seperti jaringan komputer pada Gedung
Imigrasi Kelas I DIY.
2. DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) memberi kemudahan
bagi administrator dalam pemberian alamat IP kepada komputer client/
perangkat jaringan (walau dalam jumlah yang banyak) secara otomatis.
3. Access point sebagai alat yang memiliki fungsi untuk menyambungkan
peralatan wireless pada sebuah jaringan berkabel (wired network).
4. Penggunaan access point pada jaringan di Gedung Imigrasi Kelas I DIY
tersebut memberi kesempatan untuk pengunjung perpustakaan yang
membawa laptop sendiri untuk bisa tetap terhubung dengan internet.

6.2 Saran
Dengan adanya WLAN di Gedung Imigrasi Kelas I DIY, memberikan
kemudahan kepada user untuk terhubung ke jaringan dan mengakses internet
tanpa harus menggunakan kabel. Namun penempatan access point harus di
perhitungkan dengan baik agar performa dan jangkauan signal menjadi
maksimal. Bila di perlukan, aktifkan fitur security pada access point untuk
meningkatkan keamanan jaringan.