Anda di halaman 1dari 21

Bedsite Teaching

ULKUS KORNEA SENTRAL OS EC SUSPEK JAMUR

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik


di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSMH Palembang

Oleh:
Reinecke Ribka Halim, S.Ked
04054821719146

Pembimbing:
dr. Prima Maya Sari, Sp.M

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


RUMAH SAKIT DR. MOH. HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Judul
Ulkus Kornea Sentral OS ec Suspek Jamur

Oleh:
Reinecke Ribka Halim, S.Ked
04054821719146

Bedsite Teaching ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
periode 6 November 2017-11 Desember 2017.

Palembang, November 2017

dr. Prima Maya Sari, SpM

2
STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
Nama : Tn. SM
Umur : 40 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Petani
Alamat : Muara Enim
Tanggal pemeriksaan : 17 November 2017

II. Anamnesis (autoanamnesis pada tanggal 17 November 2017)


a. Keluhan Utama
Timbul bintik putih pada mata kiri sejak ±3 hari yang lalu

b. Keluhan Tambahan
Nyeri pada mata kiri

c. Riwayat Perjalanan Penyakit


Sejak ±1 minggu yang lalu pasien mengeluh kemasukan serpihan
kelapa sawit pada mata kiri. Pandangan kabur (-), mata merah (+), sensasi
benda asing (+), nyeri (-), berair-air (-), mual muntah (-), pandangan ganda (-
). Pasien mencuci mata dengan air rebusan sirih, keluhan tidak berkurang.
Pasien lalu berobat ke RS Swasta di Prabumulih dan diberikan obat tetes dan
obat minum (pasien lupa nama obat).
Sejak ±3 hari yang lalu pasien mengeluh timbul bintik putih pada mata
kiri. Keluhan ini disertai dengan nyeri. Pandangan kabur (+), mata merah (+),
berair-air (+), kotoran mata (+), mual muntah (-), pandangan ganda (-).

3
d. Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (-)
 Riwayat memakai kacamata (-)
 Riwayat trauma pada mata (+) kemasukan serpihan kelapa sawit 1
minggu yang lalu
 Riwayat mencuci mata dengan air rebusan sirih (+)
 Riwayat alergi (-)
 Riwayat kencing manis (-)
 Riwayat darah tinggi (-)

e. Riwayat Penyakit Keluarga


 Riwayat penyakit yang sama pada keluarga disangkal

f. Riwayat Pengobatan
 Riwayat pengobatan (+) obat tetes mata botol pink dan botol kuning
dan 2 macam obat minum (pasien lupa nama obat)

III. Pemeriksaan Fisik


a. Status Generalis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 95 kali/ menit
Frekuensi napas : 22 kali/ menit
Suhu : 37,0o C

4
b. Status Oftalmologikus
Okuli Dekstra Okuli Sinistra
Visus 6/6 1/~ PSB
Tekanan 15,6 mmHg N+0 (palpasi)
intraokular

Keterangan: defek bergaung


7x7 mm mencapai 1/3
stroma.
KBM Ortoforia
GBM

Palpebra Tenang Edema (-), spasme (-)


Konjungtiva Tenang Injeksi silier (+), injeksi
konjungtiva (+), sekret (+)
Kornea Jernih Defek bergaung 7x7 mm,
mencapai 1/3 stroma,
feathery edge (+), infiltrat
(+), keruh, siedel test (-)
BMD Sedang Dangkal, hipopion (-)
Iris Gambaran baik Sulit dinilai
Pupil Bulat, Central, Refleks Sulit dinilai
cahaya (+), diameter 3 mm

Lensa Jernih Sulit dinilai


Refleks RFOD (+) RFOS (-)
Fundus

Papil Bulat, batas tegas, warna Sulit dinilai


merah normal, c/d ratio 0.3,
a/v 2:3
Makula Refleks fovea (+) Sulit dinilai

5
Retina Kontur pembuluh darah baik Sulit dinilai

IV. Pemeriksaan Penunjang


 Pemeriksaan slitlamp
 Pemeriksaan USG mata
 Pemeriksaan mikrobiologi (gram dan KOH)
 Kultur jamur dengan medium agar Saboroud dan kultur bakteri dengan
medium agar darah

V. Diagnosis Banding
 Ulkus Kornea Sentral OS et causa suspek jamur
 Ulkus Kornea Sentral OS et causa suspek bakteri
 Endoftalmitis OS

VI. Diagnosis Kerja


Ulkus Kornea Sentral OS et causa suspek jamur

VII.Tatalaksana
 Informed consent
 KIE
 Menjelaskan pada pasien bahwa keluhan bintik putih pada mata,
pandangan kabur, dan nyeri pada pasien disebabkan oleh jamur
 Menjelaskan kepada pasien mengenai cara pemakaian obat.
 Menjelaskan kepada pasien untuk tidak menggosok-gosok atau
memegang mata yang meradang, melindungi mata dari segala benda
yang dapat masuk ke mata, dan menjaga higienitas untuk mencegah
penyebaran infeksi.

6
 Menjelaskan bahwa pasien harus dirujuk ke dokter spesialis mata untuk
dilakukan pemeriksaan USG mata untuk melihat apakah segmen
posterior mata terinfeksi jamur.
 Menjelaskan kemungkinan terapi yang akan dilakukan ketika dirujuk ke
dokter spesialis mata, yaitu dapat dilakukan pengerokan epitel,
parasentesa, penutupan ulkus dengan flap konjuntiva, dan keratoplasti
bila pengobatan topikal tidak memberikan perbaikan klinis.

 Farmakologi
 Antifungi topikal: natamycin 5% ED 1 gtt/ jam OS
 Antifungi sistemik: Itraconazole 200 mg tab/ 24 jam OS
 Sikloplegik : Sulfas Atropine 1% ED 1 gtt/ 8 jam OS
 Analgetik sistemik: Paracetamol 500 mg tab/ 8 jam OS
 Antibiotik profilaksis: Ofloxacin ED 1gtt/ 4 jam OS

 Non-Farmakologi
 Rujuk ke Sp.M untuk dilakukan pemeriksaan dan penatalaksanaan
lanjut bila tidak membaik dengan pengobatan farmakologi.

VIII. Prognosis
 Quo ad vitam : bonam
 Quo ad functionam : dubia ad bonam
 Quo ad sanationam : dubia ad bonam

7
ANALISIS KASUS

Seorang pria, Tn. SM, 40 tahun, datang dengan keluhan timbul bintik
putih pada mata kiri sejak ±3 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh nyeri pada
mata kiri. Pasien di diagnosis banding ulkus kornea akibat suspek jamur, ulkus
kornea akibat suspek bakteri, dan endoftalmitis.
Pada anamnesis didapatkan riwayat trauma mata yaitu kemasukan serpihan
kelapa sawit dan mencuci mata dengan air rebusan sirih. Cedera mata oleh bagian
tanaman, pada kasus adalah serpihan kelapa sawit dan mencuci mata dengan air
rebusan sirih merupakan salah satu etiologi terjadinya infeksi jamur. Pasien juga
memiliki riwayat pengobatan berupa tetes berwarna kuning dan merah muda dan
obat minum (pasien lupa nama obat). Penggunaan obat berupa antibiotik akan
menganggu simbiosis bakteri dan fungi dan pemakaian steroid akan menyebabkan
jamur sebagai patogen fakultatif sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi
jamur.
Tiga hari setelahnya, timbul bintik putih pada mata kiri. Trauma mata
berupa benda asing terinfeksi pada pasien akan menyebabkan kerusakan epitel
kornea dan terjadi 4 tahap perubahan-perubahan, yakni infiltrasi, ulserasi aktif,
regresi, dan sikatrisasi. Pada kasus terjadi tahap infiltrasi dan ulserasi aktif.
Infiltrasi sel MN, plasma, leukosit, dan PMN ke kornea dan menghasilkan
infiltrat, tampak seperti bercak berwarna kelabu. Keluhan disertai nyeri,
pandangan kabur, dan mata merah. Pandangan kabur pada kasus disebabkan oleh
adanya kekeruhan kornea pada bagian sentral yang menutupi axis visual.
Kekeruhan ini akan menganggu pembentukan bayangan di retina. Kornea
dipersarafi oleh cabang pertama nervus cranialis V (n.oftalmikus), saraf siliar, dan
saraf nasosiliar sebagai saraf sensorik, sehingga lesi pada kornea yang bersifat
superfisial maupun profunda akan menyebabkan nyeri. Mata merah pada kasus
disebabkan oleh dilatasi pembuluh darah limbus, dan tampak sebagai injeksi silier
(mata merah).

8
Pada pemeriksaan oftalmologi sinistra didapatkan visus 1/~ PSB, injeksi
silier dan konjungtiva, sekret pada konjungtiva, defek bergaung 7x7 mm
mencapai 1/3 stroma, feathery edge, infiltrat, keruh, siedel test (-) pada kornea,
gambaran iris, pupil, lensa, dan segmen posterior sulit dinilai. Terbentuknya ulkus
kornea diakibatkan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan
sel radang. Pada tahap infiltrasi terjadi infiltrasi PMN ke dalam epitel dan
vaskularisasi dari limbus. Badan kornea, wandering cell, dan sel lain yang berada
dalam stroma berperan sebagai makrofag. Terjadi dilatasi pembuluh darah limbus,
dan tampak sebagai injeksi silier (mata merah). Dilatasi pembuluh darah akan
menyebabkan infiltrasi sel MN, plasma, leukosit, dan PMN ke kornea dan
menghasilkan infiltrat, tampak seperti bercak berwarna kelabu. Pada tahap
ulserasi aktif terjadi nekrosis dan pengelupasan epitel, membran bowman dan
stroma. Ulkus berdasarkan letaknya dibagi menjadi ulkus sentral dan ulkus
perifer. Ulkus sentral biasanya merupakan ulkus infeksi sekunder terhadap
kerusakan epitel kornea. Ulkus sentral akan menutup axis visual menyebabkan
gangguan pembentukan bayangan di retina, sehingga visus menurun, gambaran
iris hingga segmen posterior sulit dinilai. Siedel test atau tes fistel dapat
menentukan apakah telah terjadi perforasi kornea. Pada perforasi kornea akan
terlihat pengaliran cairan mata yang berwarna hijau mulai dari lubang fistel.
Pada ulkus kornea disebabkan jamur didapatkan bercak putih dengan warna
keabu-abuan yang agak kering, berbatas tegas irregular, ekstensi feathery finger-
like, terdapat infiltrat berbentuk cincin, lesi satelit di sekitar ulkus, injeksi silier,
dapat muncul hipopion. Pada ulkus kornea disebabkan bakteri didapatkan ulkus
berwarna keabu-abuan pada pseudomonas dan putih kekuningan pada
stafilokokus, streptokokus, dan pneumokokus, sekret berwana kehijauan, hipopion
dalam jumlah banyak, dan bersifat akut dimana ulkus cepat menjalar ke dalam dan
menyebabkan perforasi kornea. Endoftalmitis ditandai oleh suatu peradangan pada
segmen anterior dan posterior mata yang terjadi sebagai suatu akibat dari infeksi
bakteri atau jamur. Endoftalmitis mungkin dapat bermula dari nodul putih pada
kapsul lensa, iris, retina, atau koroid. Hal tersebut juga dapat terjadi seperti radang
semua jaringan mata, yang mengarah ke bola mata dengan kondisi penuh dengan
9
eksudat purulen. Pasien biasanya mengeluh fotofobia, nyeri pada bola mata,
penurunan tajam penglihatan, nyeri kepala, mata terasa bengkak, kelopak mata
bengkak, merah, kadang sulit untuk dibuka. Pada pemeriksaan oftamologis
didapatkan masa putih abu-abu, hipopion ringan, bentuk abses satelit di dalam
badan kaca, dengan proyeksi sinar yang baik Berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan oftalmologi dapat disimpulkan pasien didiagnosis dengan ulkus
kornea okuli sinistra et causa suspek jamur.
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah pemeriksaan
mikrobiologi, kultur, dan pemeriksaan USG mata. Pemeriksaan mikrobiologi
dilakukan sebagai dasar dalam memberikan pengobatan empirik, karena gambaran
klinis tidak dapat digunakan untuk membuat diagnosis etiologi secara spesifik.
Pemeriksaan USG dilakukan untuk melihat segmen posterior yang sulit dinilai
dengan pemeriksaan funduskopi. Pemeriksaan USG untuk memeriksa apakah
segmen posterior mata pasien terlibat. Pada endoftalmitis didapatkan gambaran
amplitudo rendah, membran vitreus, penebalan retina dan koroid. Pada kasus tidak
didapatkan keterlibatan segemen posterior.
Penatalaksanaan pada kasus terdiri dari penatalaksanaan non-farmakologis
dan farmakologis. Pasien diedukasi bahwa keluhan bintik putih pada mata,
pandangan kabur, dan nyeri pada pasien disebabkan oleh jamur. Pasien juga
dijelaskan cara pemakaian obat, tidak menggosok-gosok atau memegang mata
yang meradang, melindungi mata dari segala benda yang dapat masuk ke mata,
dan menjaga higienitas untuk mencegah penyebaran infeksi. Pasien juga diedukasi
bahwa pasien harus dirujuk ke dokter spesialis mata untuk dilakukan pemeriksaan
USG mata untuk melihat apakah segmen posterior mata terinfeksi jamur dan
kemungkinan terapi yang akan dilakukan ketika dirujuk ke dokter spesialis mata.
Penatalaksanaan farmakologis yang diberikan adalah natamycin 5% ED 1
gtt/ jam OS sebagai antifungi filamentosa topikal yang merupakan etiologi ulkus
kornea akibat jamur tersering, diberikan setiap jam dalam 48 jam pertama dan
diturunkan bila gejala klinis sudah membaik, itraconazole 200 mg tab/ 24 jam OS
sebagai antifungi sistemik diberikan bila lesi dekat dari limbus atau suspek
endoftalmitis, sulfas atropine 1% ED 1 gtt/ 8 jam OS sebagai sedatif, mencegah
10
spasme iris, meningkatkan aliran darah ke uvea anterior, menurunkan hiperemis
dan permeabilitas vaskuler, paracetamol 500 mg tab/ 8 jam OS sebagai analgetik,
dan ofloxacin ED 1gtt/ 4 jam OS sebagai antibiotik profilaksis. Pasien perlu
dirujuk ke spesialis mata untuk dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya seperti
USG dan penatalaksanaan lanjut bila tidak membaik dengan pengobatan
farmakologi.

11
LAMPIRAN

12
Tugas
1. Perbedaan Injeksi Silier dan Injeksi Konjungtiva1
Injeksi konjungtiva
Melebarnya pembuluh darah arteri konjungtiva posterior dapat terjadi akibat
pengaruh mekanis, alergi, atau infeksi pada konjungtiva. Injeksi konjungtiva
memiliki sifat:
 Mudah digerakkan pada dasarnya, akibat arteri konjungtiva posterior
melekat sangat longgar pada konjungtiva bulbi yang mudah lepas dari dasar
sklera.
 Pembuluh darah didapatkan di daerah forniks pada saat inflamasi
 Berasal dari bagian perifer atau arteri siliaris anterior sehingga makin besar
ke bagian perifer.
 Berwarna merah segar
 Bila ditetes dengan adrenalin 1:1000 injeksi akan lenyap sementara
 Tidak disertai gatal, fotofobia, dan perubahan ukuran pupil bila terjadi
injeksi.

Injeksi silier
Melebarnya pembuluh darah perikornea akibat radang kornea, tukak kornea,
benda asing kornea, radang jaringan uvea, glaucoma, endoftalmitis maupun
panoftalmitis.
Injeksi silier memiliki sifat:
 Berwarna lebih ungu dibanding pembuluh darah konjungtiva
 Tidak tampak pembuluh darah
 Tidak dapat digerakkan karena menempel erat dengan jaringan perikornea
 Ukuran sangat halus, terletak di sekitar kornea, paling padat disekitar
kornea, berkurang kea rah forniks
 Tidak menciut saat diinjeksi epinefrin atau adrenalin 1:1000
 Hanya lakrimasi

13
 Disertai fotofobia, nyeri pada penekanan sekitar kornea, dan iregularitas
pupil.

2. Pemeriksaan BMD2
Oblique flashlight test
Metode paling sederhana untuk menilai bilik mata depan adalah dengan
menyinari penlight ke mata pasien dari kantus temporal sehingga penlight
terletak pada bidang yang sama seperti mata. Dalam kasus ruang anterior yang
dalam, iris terletak rata dan seluruh iris akan disinari. Dalam kasus ruang
anterior yang sangat dangkal iris terbentang ke depan, menghalangi sebagian
cahaya dan sangat sedikit iris diterangi. Berdasarkan jumlah mata yang
diterangi, bilik mata depan dapat dinilai.

Metode Smith
Metode Smith adalah metode kuantitatif untuk mengukur bilik mata depan. Hal
ini dilakukan dengan menggunakan slit lamp dengan sistem pengamatan
langsung di depan mata pasien dan sistem penerangan pada sudut 60 ° ke sisi
temporal. Jika mengukur mata kanan pasien, maka digunakan slitlamp mata
kanan dan sebaliknya untuk mata kiri. Sinar dengan ketebalan sekitar 1.5mm,
dengan orientasi horizontal, ditempatkan di kornea. Teknik ini sedikit lebih
mudah jika tear film diwarnai dengan fluorescein. Sinar horisontal kedua
kemudian terlihat di bidang lensa kristal. Panjang sinar disesuaikan sampai
sinar pada kornea dan lensa kristal tampak bertemu. Panjang sinar dilihat
langsung dari lampu celah dan jumlahnya ini dikalikan dengan 1,34 untuk
menghitung bilik mata depan. Mata dengan bilik mata depan kurang dari 2mm
harus dilebarkan dengan hati-hati.

14
Teknik Van Herrick
Teknik Van Herrick mungkin merupakan metode kualitatif yang paling umum
digunakan untuk menilai ukuran bilik mata depan dengan menggunakan
slitlamp biomikroskopi. Hal ini melibatkan perbandingan ukuran lebar bagian
optik pada kornea sampai jarak antara bagian dan pantulan pada iris saat sinar
di letakkan tepat di dalam limbus pada sudut 60 °. Bagian ini harus berada di
sisi kornea limbus. Sudut 60 ° harus digunakan secara konsisten untuk
memungkinkan standarisasi pengukuran. Lebar sudut bilik mata digunakan
untuk dinilai pada skala kelas 0 (tertutup) sampai 4 (terbuka lebar).

Teknik split limbal


Teknik Van Herrick dapat digunakan untuk mengukur lebar sudut temporal dan
nasal namun tidak menginformasikan mengenai sudut superior dan inferior.
Sudut superior merupakan sudut paling smpit dan mudah tertutup.. Untuk
memperkirakan sudut superior dan inferior dapat digunakan teknik ini. Dalam
teknik ini slit lamp digunakan untuk memberi iluminasi namun observasi
dengan mata telanjang. Dengan iluminasi pada posisi yang tepat, celah vertikal
harus ditempatkan menyebrangi sudut bilik mata depan superior pada pukul 12.
Amati busur cahaya yang jatuh pada kornea dan iris tanpa bantuan slitlamp.
Pemisahan sudut yang terlihat pada limbal corneal junction merupakan
perkiraan kedalaman sudut ruang anterior dalam derajat

15
3. Farmakologi obat-obat ulkus kornea3,4

Antifungi topikal

Terapi medikamentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial


yang tersedia. Berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi:
o Jamur berfilamen: topikal amphotericin B, Thiomerosal, Natamicin,
Imidazol;
o Ragi (yeast): Amphotericin B, Natamicin, Imidazol, Micafungin 0,1% tetes
mata14,15;
o Actinomyces yang bukan jamur sejati: golongan sulfa, berbagai jenis
antibiotik

Natamycin

Indikasi Blefaritis, konjunctivitis dan keratitis.


Dosis Dewasa: Blefaritis, konjungtivitis, dan keratitis 5% obat tetes: 1
tetes tiap 1-2 jam, kurangi 1 tetes 6-8 kali/hari setelah 4 hari.
Durasi penggunaan 2-3 minggu
Kontraindikasi Hipersensitivitas, penggunaan bersamaan dengan kortikosteroid
topikal
Efek samping Reaksi alergi, nyeri dada, kekeruhan kornea, dispneu, rasa
obat mengganjal, edema, hiperemi, iritasi dan/atau nyeri, sensasi
benda asing, paraestesia, perubahan tajam penglihatan.

Konseling Jika terdapat gejala dan tanda blefaritis fungi, konjungtivitis,


kepada Pasien dan atau keratitis maka tidak disarankan menggunakan lensa
kontak.
Interaksi obat Mungkin fatal: akan meningkatkan penyebaran infeksi fungi
pada mata ketika diberikan dengan kortikosteroid topikal.
Mekanisme Natamycin merupakan antifungi golongan polyene yang
kerja bekerja dengan cara memperbanyak permeabilitas sel membran
terhadap fungi. Natamycin berguna untuk mengobati yeast dan

16
fungi filamentosa.
Farmakokinetik:
Absorbsi: Kurang diserap oleh traktur gastrointestinal; tetes
mata (<2%)
Distribusi: Konstentrasi teurapetik berada dalam stroma
kornea, dan berkumpul di konjungtiva forniks.

Antifungi sistemik

Antifungi sistemik dapat diberikan pada kasus berat, bila lesi dekat dari
limbus, atau suspek endoftalmitis. Dapat diberikan itraconazole 200 mg setiap
hari, kemudian diturunkan menjadi 100 mg setiap hari, atau fluconazole 200 mg
dua kali sehari.

Itrakonazol

Dosis Dosis: 200 mg/hari, ditingkatkan menjadi 200 mg/12 jam


untuk infeksi invasif.
Aturan Sirup : sebaiknya diberikan saat perut kosong, makan setelah
pemberian 1 jam konsumsi.
Kapsul: sebaiknya diberikan bersamaan dengan makanan,
diberikan langsung saat setelah makan.
Kontraindikasi hipersensitivitas, kerusakan ginjal berat (IV)

Peringatan Pasien dengan risiko CHF, kerusakan ginjal dan hepar, ibu
hamil dan menyusui
Efek samping Jarang: anafilaksis, sindrom Stevens-Johnson, neuropati.
obat Berpotensi Fatal: CHF, edema paru, hepatotoksisitas.
Interaksi obat Dapat meningkatkan konsentrasi antikoagulan oral, digoksin,
cilostazol, alprazolam, midazolam (IV), repaglinide,
kortikosteroid (misalnya budesonida, deksametason,
flutikason, metilprednisolon).
Dapat meningkatkan konsentrasi plasma dengan protease
inhibitor HIV (misalnya ritonavir, indinavir, saquinavir),
eritromisin, klaritromisin.
Dapat mengurangi konsentrasi plasma dengan isoniazid,
karbamazepin, nevirapine, fenitoin, fenobarbital, rifampisin,
rifabutin.

17
Dapat mengurangi penyerapan dengan PPI, antasida,
antimuscarinics, antagonis reseptor histamin H2.
Penggunaan bersama dengan dihydropyridines dapat
menyebabkan edema.
Dapat meningkatkan efek inotropik negatif dari verapamil.
Dapat meningkatkan risiko depresi berat yang berpotensi fatal
dengan fentanyl.
Berpotensi Fatal: Dapat meningkatkan risiko pemanjangan
QT atau torsades de titik dengan astemizole, bepridil,
cisapride, dofetilide, levacetylmethadol (levomethadyl),
mizolastine, pimozide, quinidine, sertindole, terfenadine,
metadon, ranolazine, dronedarone, halofantrine.
Dapat meningkatkan risiko myopathy termasuk
rhabdomyolysis w / HMG-CoA reductase inhibitor (misalnya
atorvastatin, lovastatin, simvastatin).
Dapat meningkatkan risiko ergotisme dengan alkaloid ergot
(misalnya ergotamine, dihydroergotamine, ergometrine,
methylergometrine).
Dapat mempotensiasi efek hipnotis dan sedatif triazolam dan
midazolam oral.
Dapat meningkatkan konsentrasi eletriptan plasma,
nisoldipine, felodipine, disopyramide, irinotecan, lurasidone;
colchicine (pasien dengan gagal ginjal atau hati).
Dapat meningkatkan risiko hipotensi dan hiperkalemia dengan
eplerenon.
Interaksi Makanan dan minuman asam bisa meningkatkan penyerapan
makanan itrakonazol (tutup). Dapat mengurangi konsentrasi plasma
dengan wort St John.
Mekanisme kerja Itraconazole menurunkan sintesis ergosterol dengan
mengganggu aktivitas sitokrom P450. Hal ini menghambat
fungsi membran sel dari jamur yang rentan termasuk
Microsporum spp., Trichophyton spp., Candida spp.,
Aspergillus spp., Epidermophyton spp., Cryptococcus
neoformans, Histoplasma capsulatum, Blastomyces
dermatitidis, sporothrix schenckii, Malassezia furfur,
Coccidioides immitis and Paracoccidiodes brasiliensis. Obat
ini juga memiliki aktivitas antiprotozoal melawan Leishmania
spp.
Farmakokinetik:
Penyerapan: Diserap dari saluran pencernaan. Penyerapan
ditingkatkan dengan lingkungan asam lambung atau bila
dikonsumsi dengan makanan (cap). Waktu untuk konsentrasi
plasma puncak: 1,5-5 jam.
Distribusi: didistribusikan secara luas ke dalam kulit, nanah,
sebum, organ dan jaringan; CSF dan ASI (dalam jumlah
kecil). Pengikatan protein plasma: 99,8%.
18
Metabolisme: Menjalani metabolisme hati yang jenuh oleh
isoenzim CYP3A4; diubah menjadi metabolit utama
(hydroxyitraconazole).
Ekskresi: Via urine atau empedu (sebagai metabolit tidak
aktif), kotoran (3-18% sebagai obat yang tidak berubah),
stratum korneum dan rambut (jumlah kecil). Waktu paruh
eliminasi: 16-28 jam, dapat meningkat menjadi 34-42 jam.

Sikloplegik (Atropin)

Indikasi Secara umum sikloplegik digunakan untuk:


1. Melebarkan pupil sehingga memudahkan pemeriksaan
fundus okuli
2. Pada peradangan intraokular sebagai:
Menekan peradangan
Melepas sinekia
3. Melemahkan akomodasi pada pemeriksaan ‘kelainan
refraksi’ anak-anak
4. Melebarkan pupil selama pembedahan lensa yang
memerlukan pupil tetap melebar

Mekanisme kerja Midriatika tetes mata bekerja pada otot iris dan berfungsi
melebarkan pupil. Sikloplegia selain bekerja pada iris juga
bekerja pada otot badan siliar, melumpuhkannya sehingga
mata tidak atau kehilangan kemampuan akomodasinya.
Farmakokinetik Obat sikloplegik yang dikenal adalah atropine, homatropin,
dan tropikamida. Atropin (0,5%-2%) merupakan
sikloplegik kuat dan bersifat midriatik. Efek maksimal
dicapai setelah 30-40 menit. Bila telah terjadi kelumpuhan
otot akomodasi maka akan normal kembali 2 minggu
setelah obat dihentikan.
Efek samping obat Atropin memberikan efek samping seperti nadi cepat,
demam, merah, dan mulut kering.
Peringatan Pada pemberian midriatika sebaiknya hati-hati karena
dapat memberikan serangan glaukoma akut pada pasien
yang mempunyai bakat glaukoma sudut sempit.

.
Antibiotik
Antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas
diberikan dapat berupa salep, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan
19
ulkus sebaiknya tidak diberikan salep mata karena dapat memperlambat
penyembuhan dan dapat menimbulkan erosi kornea kembali. Berikut ini contoh
antibiotik:Sulfonamide 10-30% , Basitrasin 500 unit, Tetrasiklin 10 mg ,
Gentamisin 3 mg. Eritromisin 0,5% , Kloramfenikol 10 mg , Ofloksasin 3 mg,
Polimisin B 10.000 unit.

Ofloxacin
Dosis 1-2 tetes pada mata yang terifeksi setiap 2-4 jam pada hari
pertama dan kedua, lalu 4 kali sehari. Durasi maksimal: 10
hari
Kontraindikasi Hipersensitivitas pada ofloxacin dan golongan quinolon
lainnya
Efek samping Reaksi hipersensitivitas
obat
Interaksi obat Penggunaan bersamaan kelas IA (misalnya quinidine,
procainamide) atau golongan III (misalnya amiodarone,
sotalol) agen antiaritmia dapat meningkatkan risiko
perpanjangan interval QT. Berkurangnya konsentrasi serum
dan urin dengan antasida yang mengandung Mg, Al atau Ca.
Aktivitas antibakteri aditif dengan aminoglikosida (misalnya
amikasin, tobramycin).
Mekanisme kerja Ofloxacin adalah fluoroquinolone yang menghambat bakteri
topoisomerase IV dan enzim DNA gyrase yang diperlukan
untuk replikasi, transkripsi, perbaikan, transposisi dan
rekombinasi DNA. Obat ini memiliki aktivitas antibakteri
terhadap berbagai mikroorganisme gm-ve dan gm- + ve.

Farmakokinetik:
Penyerapan: Cepat dan terserap dengan baik dari saluran
pencernaan. Waktu untuk konsentrasi plasma puncak: 1-2
jam.
Distribusi: didistribusikan secara luas ke cairan tubuh,
termasuk CSF; muncul di empedu; penetrasi jaringan yang
baik; Melintasi plasenta dan masuk ke air susu ibu. Volume
distribusi: 2,4-3,5 L / kg. Pengikatan protein plasma: Sekitar
25%.
Metabolisme: <10% dosis tunggal dimetabolisme; diubah
menjadi desmethyl ofloksasin dan ofloksasin N-oksida.
Ekskresi: Via urine (<5% sebagai metabolit; 65-80% sebagai
obat yang tidak berubah); kotoran (4-8%). Waktu paruh
eliminasi: Bifasik: kira-kira 4-5 jam dan 20-25 jam.

20
Sumber:
1. Ilyas, S. Ilmu Penyakit Mata Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI,
2012. 113-14, 304-5.
2. McDonnell, C. Assessment of the anterior chamber angle and depth.
(http://www.metropolia.fi/fileadmin/user_upload/Liiketoimintapalvelut/Sosia
ali-_ja_terveysala/Optikoiden_DG-
koulutuksen_materiaalit/Assessment_of_the_anterior_angle_of_the_eye.pdf)
3. MIMS
4. Farida, Y. Article Review: Corneal Ulcer Treatment. Lampung: J Majority.
2015. Vol 4(1). p119-27

21