Anda di halaman 1dari 3

ANINDYA OKTI HERDYANINGRUM/10

XI IIS 3

PERLAWANAN RAKYAT INDONESIA MENGHADAP JEPANG

1. Aceh Angkat Senjata


Pada saat pertama kali, bangsa Jepang datang ke Aceh pada tanggal 9 Februari 1942 ,mereka
telah disambut dengan sangat ramah oleh rakyat Aceh. Jepang pun mulanya telah bersikap
baik dan sangat menghormati masyarakat dan tokoh- tokoh di Aceh. Tak hanya itu, Jepang
pun sangat menhormati kepercayaan dan adat istiadat rakyat Aceh yang telah bernafaskan
islam. Karena perlakuan baik bangsa Jepang tersebut membuat rakyat tidak segan di dalam
membantu dan ikut serta dalam mendukung program – program pembangunan Jepang di
Aceh.
Namun ketika Jepang sudah mencapai maksudnya tersebut, Jepang justru berbalik
merendahkan rakyat Aceh. Contohnya yaitu personil rakyat Jepang telah melakukan
pelecehan seksual kepada kaum perempuan Aceh yang beragama Islam, rakyat Aceh yang
beragama islam pun telah diperntahkan untuk menyembah matahari terbit di waktu pagi.
Tentu dari sekian tindakan- tindakan yang dilakukan dan diperintaahkan oleh orang Jepang
tersebut telah dan sangat bertentangan dengan akidah islam. Oleh karena hal tersebut,
perlawanan rakyat Aceh terhadap Jepang tidak dapat dihentikan lagi.
Adapun perlawanan rakyat Aceh kepada penduduk militer Jepang telah dipimpin oleh Tengku
Abdul Djalil. Tengku Abdul Djalil adalah seorang guru ngaji di Cot Pleing yang sangat tidak mau
patuh dan tunduk kepada Jepang. Meskipun pihak Jepang telah berusaha membujuknya
untuk berdamai, namun usaha Jepang tersebut selalu ditolak. Hingga pada akhirnya, Jepang
telah menyerbu Cot Pleing pada tanggal 10 November 1942.
Ketika Jepang menyerbu wilayah tersebut ternyata rakyat Aceh sedang melakukan ibadah
shalat shubuh dengan perbekalan senjata berupa kelewang, pedang dan rencong. Hingga
akhirnya Jepang dapat dipukul mundur oleh rakyat sampai wilayah Lhokseumawe.
Dengan adanya kegagalan serangan pertama Jepang kepada rakyat Aceh telah membuat
Jepang semakin ingin mengalahkan rakyat Aceh. Bahkan serangan kedua mereka pun telah
mereka kerahkan untuk mengalahkan rakyat Aceh, namun tetap saja tidak berhasil. Hingga
pada akhirnya, serangan Jepang yang ketiga barulah Jepang dapat menguasai wilayah Cot
Pleing dan Tengku Abdul Djalil gugur karena ditembak ketika saat sedang melakukan shalat.
2. Perlawanan Singaparna
Adapun salah satu perlawanan rakyat Indonesia kepada pihak Jepang yaitu berasal dari Jawa
Barat. Perlawanan rakyat Jawa Barat khususnya rakyat Singaparna telah dipimpin oleh K. H.
Zainal Mustafa. K. H. Zainal Mustafa merupakan seorang pemimpin pesantren Sukamnah di
Singaparna, Tasikmalaya (Jawa Barat). Perihal yang melatarbelakangi perlawanan rakyat di
daerah Singaparna adalah karena pihak militer Jepang telah memaksa masyarakat Singaparna
untuk melakukan Seikeirei. Apakah Anda tahu apa itu Seikeirei ? Yah, Seikeirei merupakan
suatu upacara penghormatan kepada kaisar Jepang yang telah dianggap dewa yaitu dengan
cara membungkukan badan ke arah timur laut atau Tokyo.
Pemaksaan Jepang kepada rakyat Singaparna untuk melakukan upacara Seikeirei telah
membuat masyarakat geram, hal tersebut ditambah lagi dengan adanya larangan dari K. H.
Zainal Mustafa (pemimpin pondok pensantren) untuk masyarakat agar tidak melakukan
Seikeirei karena perbuatan tersebut sama saja perbuatan yang mempersekutukan Tuhan.
Oleh karena tersebut, K. H. Zainal Mustafa telah melakukan upaya agar hal- hal yang tidak
diinginkan tersebut dapat dihindari.
Adapun upaya yang dilakukan oleh K. H. Zainal Mustafa untuk menghindari masyarakatnya
dari tindakan menyekutukan Tuhan tersebut yaitu dengan cara menyuruh santri- santrinya
untuk mempertebal keyakinannya atau keimannanya dan bahkan ia pun mengajarkan bela
diri silat.
Dengan melihat upaya masyarakat untuk tetap menolak kebijakan Jepang tesebut, militer
Jepang pun mengambil tindakan tegas. Tindakan tegas yang dimakud adalah militer Jepang
telah mengirimkan pasukannya pada tanggal 25 Februari 1944 untuk menyerang daerah
Sukamnah dan untuk menangkap K. H. Zainal Mustafa. Karena serangan yang mendadak yang
telah dilakukan oleh militer Jepang , maka perang antara dua pihak tersebut tidak dapat
dihindarkan lagi. Namun, peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak Jepang. Hingga pada
akhirnya, pihak Jepang berhasil menangkap rakyat Singaparna dan mereka pun dimasukkan
ke dalam tahanan di daerah Tasikmalaya dan dipindahkan lagi ke Jakarta.
Kemudian untuk, pemimpin pesantren, K. H. Zainal Mustafa telah dijatuhi hukan mati dan ia
pun dimakamkan di Ancol , tetapi sekarang makamnya telah dipindahkan ke daerah
Singaparna.
Kegagalan yang diperoleh oleh rakyat Indonesia yang berada dibawah pimpinan K. H. Zaina
Mustafa tersebut dikarenakan minimnya senjata yang mereka gunakan, sedangkan untuk
pihak Jepang, mereka telah menggunakan senjata- senjata yang lengkap dan modern. Dengan
hal tersebutlah, kekalahan pun tidak dapat dielakkan lagi oleh rakyat Singaparna.
3. Perlawanan Di Indramayu
Antara tahun 1942-1945 rakyat Indramayu melakukan perlawanan melawan Jepang yaitu di
Desa Kaplongan. Gerakan perlawanan tersebut dipicu oleh Camat Karangampel yang bernama
Misnasastra mengumpulkan padi milik Haji Aksan, namun Haji Aksan menolak. Dengan minta
bantuan kepada polisi, Haji Aksan ditangkap untuk dibawa ke Balai Desa. Dengan ditangkapnya
Haji Aksan maka rakyat Desa Kaplongan berbondong-bondong menyerbu Balai Desa dan
menyerang polisi. Selain itu Desa Kaplongan banyak sekali tokoh-tokoh agama yang memimpin
gerakan perlawanan rakyat, sehingga Jepang encatat bahwa tokoh-tokoh tersebut teah masuk
daftar hitam dan termasuk orang yang dicari Jepang. Untuk menangkap tokoh-tokoh tersebut
Jepang melakukan siasat yang sangat licik, sehingga secara satu persatu tokoh-tokoh tersebut
dapat tertangkap.
Selain di Desa Kaplongan, gerakan perlawanan juga terjadi di Desa Cidempet. Gerakan tersebut
dipicu adanya bala tentara Jepang melakukan perampasan pagi hasil panenan rakyat. Dengan
cara hasil panenan rakyat harus diserahkan ke Balaidesa dan rakyat mengambil sebagian dari
hasil panenan tersebut. Namun tawaran Jepang tersebut ditentang oleh rakyat, sehingga
timbullah gerakan perlawanan melawan Jepang.
4. Rakyat Kalimantan Angkat Senjata
Di berbagai tempat di Kalimantan terjadi perlawanan rakyat menetang kekuasaan tentara
Jepang yang bertindak kejam dan sewenang-wenang. Di Kalimantan Barat kurang lebih 21.000
orang dibunuh dan dibantai secara kejam oleh tentara Jepang. Selain rakyat yang tidak berdosa,
banyak di antara mereka adalah raja-raja, tokoh-tokoh masyarakat terkemuka, dan tokoh-
tokoh pergerak-an nasional turut terbunuh dalam aksi perlawanan tersebut. Untuk mengenang
peristiwa tersebut maka didirikanlah sebuah Monumen Mandor, di desa Mandor.
5. Perlawanan Rakyat Irian
Perlawanan yang dilakukan oleh rakyat di Biak dipimpin oleh L.Rumkorem yang menamakan
gerakannya sebagai “ Gerakan Koreri “ berpusat si Biak. Latar belakang perlawanan rakyat Biak
dikarenakan perlakuan Jepang yang semena-mena terhadap rakyat Biak. Rakyat Biak
diperlakukan tak ubahnya seperti budak belian, mereka dipukuli dan dianiaya sehingga
menimbulkan banyak korban jiwa. Dalam pertempuran tersebut, meskipun banyak jatuh
korban jiwa dari rakyat Biak, namun mereka berhasil mengusir Jepang dari tanah mereka. Dan
perlawanan rakyat di Pulau Yapen mendapat dukungan dari Sekutu yang memberikan bantuan
senjata kepada para pejuang sehingga mengakibatkan pertempuran yang seimbang. Nimrod
sebagai pimpinan rakyat berhasil ditangkap Jepang dan dihukum pancung oleh Jepang. Namun
gugur satu tumbuh seribu. Gugurnya Nimrod tidak mengecilkan nyali rakyat Pulau Yapen, justru
mereka semakin gigih berjuang meski secara gerilya di bawah pimpinan S.Papare.
6. PETA Di Blitar Angkat Senjata
Perlawanan terhadap Jepang juga dilakukan para prajurit Pembela Tanah Air (PETA).
Perlawanan pasukan PETA tersebut dilakukan untuk mencegah perlakuan Jepang yang kejam
terhadap penduduk Indonesia. Salah satu perlawanan PETA tersebut dilakukan oleh pasukan
PETA Blitar di bawah pimpinan Supriyadi pada tanggal 14 November 1942. Supriyadi melakukan
serangan terhadap Jepang dan berhasil menduduki Kota Blitar. Untuk menumpas perlawanan
PETA, tentara Jepang mengepung Kota Blitar dan menambah bala bantuan. Dalam serangan
Jepang tersebut, beberapa angggota pasukan PETA yang tertangkap berhasil dilucuti.
Selanjutnya, Supriyadi tetap melakukan perlawanan dengan gigih. Namun, karena jumlah
pasukannya semakin berkurang, perlawanan Supriyadi dapat dipatahkan. Selanjutnya,
pemimpin perlawanan PETA Blitar berhasil ditangkap dan diadili di mahkamah militer Jepang di
Jakarta. Para pemimpin gerakan seperti Muradi, Ismail, dan Sudarno dijatuhi hukuman mati
atau seumur hidup. Namun, keberadaan Supriyadi tidak diketahui setelah ditumpasnya
pemberontakan PETA Blitar.