Anda di halaman 1dari 36

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga makalah pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pemilihan kepala desa
sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab. Malang dapat diselesaikan
tepat pada waktunya.

Makalah Pendidikan kewarganegaraan ini disusun untuk menggambarkan penerapan


pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pemilihan kepala desa di dusun druju wetan kab.
Malang secara lebih nyata dan jelas.
Makalah ini dapat diselesaikan atas dukungan dari berbagai pihak sehingga kami
mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Imam Syahroni, M.Si selaku dosen pembina Mata Kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan.
2. Ibu Dra. Anna S. Prawoto selaku dosen pembina Mata Kuliah Bahasa Indonesia.
3. Bapak Mustofa, M. Ag selaku dosen pembina Mata Kuliah Pendidikan Agama.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini belum sempurna. Oleh karena itu,
kami mengharapkan saran untuk menyempurnakannya. Semoga laporan ini bermanfaat.

Penulis

1
Pentingnya Keterlibatan Masyarakat Dalam Pemilihan Kepala Desa Sebagai Wujud
Pengamalan Sila ke4 di Dusun Druju Wetan Kab. Malang

MAKALAH

Untuk memenuhi sebagian tugas

Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

yang dibina oleh Imam Sahroni, M.Si

AFIDATUR RAFIKA (AKF17145)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN

PUTRA INDONESIA MALANG

OKTOBER 2015
2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................. 5


1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 7
1.3 Tujuan......................................................................................... 7
1.4 Manfaat....................................................................................... 8

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Pancasila…………………………………………... 9


2.2 Implementasi Pancasila……………………………………….. 10
2.3 Nilai- nilai pancasila…………………………………………... 11
2.4 Demokrasi pancasila………………………………………….. 16
2.5 Pengertian Pemilu …………………………………………… 18
2.6 Pandangan Islam terhadap penerapan
Partisipasi masyarakat dalam pilkades .............................. . 24

BAB III PEMBAHASAN ............................................................................ 28

3
3.1 Hasil survey .............................................................................. 28
3.2 Implementasi keterlibatan masyarakat dalam pildes ......... 29
3.3 Rumusan masalah ..................................................................... 31
3.4 Pemecahan masalah………………………………………….. 31

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ................................................................................. 34


4.2 Saran .......................................................................................... 34

DAFTAR RUJUKAN ................................................................................... 35

4
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia menganut sistem pemerintahan demokrasi telah tercantum dalam


Undang-Undang Dasar 1945 (setelah amandemen) pasal 1 ayat (1) berbunyi
“Kedaulatan berada di tangan raknyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang
Dasar”. Kemudian sebelum di atur juga dalam konstitusi yang terdapat pada pasal 1
ayat (1) dan ayat (2), serta dalam Undang-Undang Dasar sementara 1950 pada pasal
1 ayat (1) Demokrasi di negara Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945,
sehingga sering disebut dengan demokrasi pancasila. Demokrasi Pancasila
memerintahkan musyawarah untuk mufakat, dengan berpangkal tolak pada paham
kekeluargaan dan Gotong royong yang ditujukan pada kesejahteraan yang
mengandung unsur-unsur religius, berdasarkan kebenaran, kecintaan dan budi
pekerti luhur. Dalam demokrasi pancasila kebebasan individu tidak bersifat mutlak
tetapi harus diselenggarakan dengan tanggung jawab sosial. Prinsip-prinsip
demokrasi itu adalah persamaan, kebebasan, dan pluralisme.

Terdapat tujuan prinsip demokrasi yang harus ada dalam sistem demokrasi
adalah kontrol atas keputusan pemerintah, pemilihan umum yang jujur, hak memilih
dan dipilih, kebebasan menyatakan pendapat tanpa ancaman, kebebasan mengakses
informasi, dan kebebasan berserikat.

Menurut Samuel Huntington dalam Budianto (2005:53), “Demokrasi


merupakan pembuatan keputusan kolektif yang paling kuat dalam sebuah sistem
5
yang dipilih melalui suatu pemilihan umum yang adil, jujur atau berkala dalam
sistem itu pun para calon bebes bersaing untuk meperoleh suara dan hampir seluruh
penduduk desa dapat memberikan suara”. Suatu pemerintahan dikatakan demokrasi
bila dalam mekanisme penyelenggaraannya melaksanakan prinsip-prinsip dasar
demokrasi. Pemilihan kepala desa merupakan wujud dari demokrasi di
pemerintahan desa. Partisipasi masyarakat desa dalam pemilihan kepala desa
diharapkan mampu membawa perubahan bagi perkembangan dan pertumbuhan
desa. Pada pemilihan kepala desa masyarakat harus memiliki hak dan kewajiban
warga Negara agar pada pemilihan kepala desa dapat berjalan dengan lancar dan
demokratis.

Menurut Thomas H. Greene dalam Podmo Wahjono (2008:220) mengatakan


bahwa “ Pemilihan umum merupakan mekanisme demokrasi untuk memutuskan
pengantian pemerintah dimana raknyat dapat menyalurkan hak politiknya secara
aman dan bebas “. kesadaran masyarakat tentang politik dan demokrasi harus baik
agar dalam pelaksanaan pemilu masyarakat dapat menggunakan hak pilih mereka
dengan penuh tanggung jawab.

Pemilihan kepala Desa di Desa Druju wetan kecamatan Sumbermanjing


wetan kabupaten malang telah dilaksanakaan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pemilihan kepala desa tersebut dilaksanakan pada saat masa jabatan kepala desa
yang telah sebelumnya berakhir. Calon kepala desa yang lulus seleksi yang
dilaksanakan atau pun dilakukan oleh badan permusyawaratan desa berhak
mengikuti kompentisi untuk dipilih oleh masyarakat melalui pemilihan desa
.
Akan tetapi terdapat penyimpangan yang membuktikan bahwa pemilihan
kepala Desa di Desa Druju wetan Kecamatan Sumbermanjing wetan Kabupaten
Malang Pada Tahun 2012, masih belum demokratis dan pemahaman masyarakat
tentang demokrasi dan pendidikan politik yang mereka miliki masih kurang.
6
Kebebasan masyarakat untuk menentukan pilihan lebih di pengaruhi oleh pihak
lain. Kemudian kebebasan untuk dipilih lebih di pengaruhi oleh kesadaran
masyarakat sendiri yang masih kurang, masyarakat saat ini lebih bersikap apatis.

1.2 Rumusan masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah yang didapatkan adalah :
a. Apa pentingnya keterlibatan masyarat dalam pemilihan kepala desa sebagai
wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab. Malang ?
b. Mengapa keterlibatan masyarakat dalam pemilihan kepala desa penting
sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab. Malang ?
c. Bagaimana implementasi keterlibatan masyarakat dalam pemilihan kepala
desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab. Malang?
d. Bagaimana pandangan islam terhadap keterlibatan masyarakat dalam
pemilihan kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju
wetan kab. Malang?

1.3 tujuan
a. untuk mengetahui pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pemilihan
kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab.
Malang.
b. untuk mengetahui alasan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam
pemilihan kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju
wetan kab. Malang
c. untuk mengetahui implementasi keterlibatan masyarakat dalam pemilihan
kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab.
Malang
d. untuk mengetahui pandangan islam terhadap keterlibatan masyarakat dalam
pemilihan kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju
wetan kab. Malang
7
1.4 manfaat

a. kita dapat memahami pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pemilihan


kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab.
Malang
b. kita dapat memahami alasan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam
pemilihan kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju
wetan kab. Malang
c. kita dapat menyingkapi implementasi keterlibatan dalam pemilihan kepala
desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab. Malang
d. kita dapat menyingkapi pandangan islam terhadap keterlibatan masyarakat
dalam pemilihan kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun
druju wetan kab. Malang

8
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Pancasila

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama


pancasila ini terdiri dari dua kata dari sansekerta. Panca berarti lima
dan sila berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan
pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Menurut Notonegoro pancasila adalah dasar falsafah negara
Indosia, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pancasila merupakan
dasar falsafah dan ideologi negara yang diharapkan menjadi pandangan
hidup bangsa Indonesia sebagai pemersatu, lambang persatuan dan
kesatuan serta sebagai pertahanan bangsa dan negara Indonesia.
Menurut Muhammad Yamin pancasila berasal dari kata panca
yang berarti lima dan sila yang berarti sendi, asas, dasar atau peraturan
tingkah laku yang penting dan baik. dengan demikian pancasila
merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah
laku yang penting dan baik.
Menurut I.R Soekarno Pancasila adalah isi jiwa bangsa indonesia
yang turun temurun yang sekian abad lamanya terpendam bisu oleh
kebudayaan barat. dengan demikian, pancasila tidak saja falsafah negara.
tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa indonesia.

9
Menurut panitia lima pancasila adalah lima asas yang merupakan
ideologi negara. Kelima sila itu merupakan kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Hubungan antara lima asas erat sekali,
berangkaian, dan tidak berdiri sendiri.
Lima sendi utama penyusun pancasila adalah ketuhanan yang
Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia,
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan)
Undang-undang dasar 1945.

2.2 Implementasi Pancasila


Implementasi adalah proses pelaksanaan keputusan kebijaksanaan dalam
bentuk undang- undang, peraturan pemerintah yang dilakukan oleh
individual atau pejabat sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari
keputusan kebijaksanaan tersebut. Pelaksanaan tersebut dapat dilakukan
secara langsung melalui program – program pemerintah.

Dalam implementasinya pancasila mengandung tiga tingkat nilai, yaitu


nilai dasar yang tidak berubah yakni lima sila pancasila, nilai
instrumental sebagai sarana mewujudkan nilai dasar yang dapat berubah
sesuai dengan keadaan, dan nilai praksis berupa pelaksanaan secara
nyata yang sesungguhnya. Sekalipun demikian, perwujudan ataupun
pelaksanaan nilai- nilai instrumental dan nilai- nilai praksis harus tetap
mengandung jiwa dan semangat yang sama dengan nilai dasarnya.

10
2.3 Nilai- nilai Pancasila
1. Ketuhanan yang Maha Esa
Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan
dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam
semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan
bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga
memiliki arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk
agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan
serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama. Secara umum
dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini :

a. Merupakan bentuk keyakinan yang berpangkal dari kesadaran


manusia sebagai makhluk Tuhan.
b. Negara menjamin bagi setiap penduduk untuk beribadah menurut
agama dan kepercayaan masing-masing.
c. Tidak boleh melakukan perbuatan yang anti ketuhanan dan anti
kehidupan beragama.
d. Mengembangkan kehidupan toleransi baik antarintern maupun
antara umat beragama.
e. Mengatur hubungan Negara dan agama, hubungan manusia
dengan Sang Pencipta, serta nilai yang menyangkut hak asasi
yang paling asasi.

Sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai Pancasila sila Ke-1,
antara lain :

 Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


 Hormat-menghormati dan bekerja sama dengan pemeluk
agama lain.

11
 Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaann masing-masing.
 Tidak memaksakan salah satu agama kepada orang lain

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran
sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup
bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan
sesuatu hal sebagaimana mestinya. Secara Umum dapat dilihat dalam
penjelasan berikut ini :
a. Merupakan bentuk kesadaran manusia terhadap potensi budi
nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma
kebudayaan pada umumnya.
b. Adanya konsep nilai kemanusiaan yang lengkap, adil dan
bermutu tinggi karena kemampuannya berbudaya.
c. Manusia Indonesia adalah bagian dari warga dunia, meyakini
adanya prinsip persamaan harkat dan martabat sebagai hamba
Tuhan.
d. Mengandung nilai cinta kasih dan nilai etis yang menghargai
keberanian untuk membela kebenaran, santun, dan
menghormati harkat kemanusiaan

Sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai pancasila sila ke-2.
Antara lain :

 Mengakui persamaan derajat, harkat, dan martabat


manusia.
 Saling mencintai sesama manusia.
 Mengembangkan sikap tenggang rasa.

12
 Tidak semena-mena kepada orang lain.
 Suka memberi bantuan kepada korban bencana alam.

3. Persatuan Indonesia
Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu
dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus
mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman
yang dimiliki bangsa indonesia. Secara umum dapat dilihat dalam
penjelasan berikut ini :
a. Persatuan dan kesatuan dalam arti ideologis, ekonomi, politik,
social budaya dan keamanan.
b. Manifestasi paham kebangsaan yang memberi tempat bagi
keragaman budaya atau etnis.
c. Menghargai keseimbangan antara kepentingan pribadi dan
masyarakat.
d. Menjujung tinggi tradisi perjuangan dan kerelaan untuk
berkorban dam membela kehormatan bangsa dan Negara.
e. Adanya nilai patriotik serta penghargaan rasa kebangsaan
sebagai realitas yang dinamis.

Sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai pancasila sila ke-3,
antara lain :

 Mengembangkan sikap saling menghargai antarsuku,


agama, ras, dan antargolongan.
 Mengembangkan sikap saling asah, saling asih, dan saling
asuh

13
 Tidak membeda-bedakan warna kulit, suku dan etnik.
 Membina persatuan dan kesatuan demi terwujudnya
kemajuan bangsa dan Negara.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan / perwakilan.

Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu
pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara
musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Secara
umum dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini :
a. Paham kedaulatan rakyat yang bersumber kepada nilai
kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan.
b. Musyawarah merupakan cermin sikap dan pandangan hidup
bahwa kemauan rakyat adalah kebenaran dan keabsahan yang
tinggi.
c. Mendahulukan kepentingan Negara dan masyarakat
d. Menghargai kesukarelaan dan kesadaran daripada memaksakan
sesuatu kepada orang lain.
e. Menghargai sikap etis berupa tanggung jawab yang harus
ditunaikan sebagai amanat seluruh rakyat baik kepada manusia
maupun kepada Tuhannya.
f. Menegakkan nilai kebenaran dan keadilan dalam kehidupan yang
bebas, aman, adil dan sejahtera.

Sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai pancasila sila ke-4,
antara lain:

14
 Menghargai perbedaan pendapat
 Tidak memaksakan kehendak pada orang lain
 Mengembangkan sikap demokratis
 Mau menerima hasil keputusan demi kepentingan bersama

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.


Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung
makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat
Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah dan batiniah.
Secara umum dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini :
a. Setiap rakyat Indonesia diperlakukan dengan adil dalam bidang
hokum, ekonomi, kebudayaan, dan social.
b. Tidak adanya golongan tirani minoritas dan mayoritas.
c. Adanya keselarasan, keseimbangan, dan keserasian hak dan
kewajiban rakyat Indonesia
d. Kedermawanan terhadap sesama, sikap hidup hemat, sederhana
dan kerja keras.
e. Menghargai hasil karya orang lain.
f. Menolak adanya kesewenang-wenangan serta pemerasan kepada
sesama.
g. Menjujung tinggi harkat dan martabat manusia.

Sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai pancasila sila ke-5,
antara lain :

 Memajukan perbutan yang luhur


 Bersikap adil terhadap sesama manusia
 Menjujung tinggi nilai kebenaran dan keadilan

15
 Berani bertanggung jawab atas semua perbuatan yang
telah dilakukan
 Membiasakan hidup sederhana, hemat, guna menciptakan
keseimbangan kehidupan

2.4 Demokrasi Pancasila

Demokrasi adalah suatu sistem kenegaraan yang dimana sistem


pemerintahan. sebuah negara berupaya untuk mewujudkan kedaulatan
rakyat atas negara serta memiliki hak yang setara dalam mengambil
keputusan untuk mengubah hidup mereka. Bisa dikatakan, dalam
demokrasi yang menjadi nomor satu dalam sebuah negara adalah rakyat.
Kegiatan demokrasi dapat kita lihat di negara kita sendiri, Indonesia.
Demokrasi berasal dari Bahasa Yunani yang diutarakan di Athena Kuno
pada abad ke-5 SM, dan diambil dari kata demos dan kratos, yang artinya
rakyat dan kekuasaan.Demokrasi yang digunakan di Indonesia adalah
demokrasi Pancasila. Dan pengertian dari demokrasi Pancasila adalah
demokrasi yang pelaksanaannya mengutamakan asas musyawarah mufakat
untuk kepentingan bersama (seluruh rakyat) yang bersumber pada
kepribadian dan juga falsafah hidupa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah
bangsa yang ideologinya terdapat dalam Pancasila, oleh karena itu setiap
sila yang terdapat dalam Pancasila harus diaplikasikan dalam kehidupan
setiap rakyatnya sehari-hari untuk menunjang kemajuan negara kita.
Pancasila sendiri dikemukakan oleh Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI
pada 1 Juni 1945 yang pada akhirnya hingga saat ini tanggal 1 Juni
ditetapkan sebagai hari lahirnya Pancasila.

16
Kita adalah rakyat Indonesia yang tak bisa terpisahkan dengan bumi
pertiwi. Dimana kita sebagai generasi muda wajib menjunjug tinggi
nasionalisme yang didukung dengan sikap-sikap positif dalam menjalani
kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang pada akhirnya tujuan dari
semuanya itu adalah untuk kebaikan diri kita semua dan kemajuan serta
kesejahteraan bangsa Indonesia. Dan itu merupakan salah satu tujuan
sederhana yang manfaat luar biasa bagi kehidupan bangsa Indonesia. Untuk
lebih jelasnya, kami bahas dibawah, semoga dapat membantu Anda
menyelesaikan makalah Pancasila.

Secara spesifik, berikut ini adalah pengertian demokrasi Pancasila :

a. Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang berdasarkan pada asas


kekeluargaan dan gotong-royong yang ditujukan demi kesejahteraan
rakyat, yang mengandung unsur-unsur berkesadaran religius, yang
berdasarkan kebenaran, kecintaan dan budi pekerti luhur,
berkepribadian Indonesia dan berkesinambungan.
b. Dalam demokrasi Pancasila, sistem pengorganisasian negara dilakukan
oleh rakyat sendiri atau dengan persetujuan rakyat.
c. Dalam demokrasi Pancasila kebebasan individu tidaklah bersifat
mutlak, tetapi harus diselaraskan atau disesuaikan dengan tanggung
jawab sosial.
d. Dalam demokrasi Pancasila, keuniversalan cita-cita demokrasi
dipadukan dengan cita-cita hidup bangsa Indonesia yang dijiwai oleh
semangat kekeluargaan, sehingga tidak ada dominasi mayoritas atau
minoritas.

17
Dalam demokrasi Pancasila terdapat 2 asas yang membentuk, yakni :

a. Asas kerakyatan, yaitu asas atas kesadaran kecintaan terhadap rakyat,


manunggal dengan nasib dan cita-cita rakyat, serta memiliki jiwa
kerakyatan atau dalam arti menghayati kesadaran senasib dan
secita-cita bersama rakyat.
b. Asas musyawarah untuk mufakat, yaitu asas yang memperhatikan dan
menghargai aspirasi seluruh rakyat yang jumlahnya banyak dan melalui
forum permusyawaratan dalam rangka
pembahasan untuk menyatukan berbagai pendapat yang keluar serta
mencapai mufakat yang dijalani dengan rasa kasih sayang dan pengorbanan
agar mendapat kebahgiaan bersama-sama.

2.5 Pemilu (Pemilihan Umum)


Pemilu atau Pemilihan Umum yaitu proses memilih orang untuk dijadikan
pengisi jabatan-jabatan politik tertentu, mulai dari presiden, wakil rakyat di
berbagai tingkat pemerintahan sampai dengan kepala desa.

Pengertian lain Pemilu adalah salah satu upaya dalam mempengaruhi


rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melaksanakan aktivitas
retorika, hubungan politik, komunikasi massa, lobi dan aktivitas lainnya.

1. Dasar Hukum dan Pelaksanaan pemilu

 Landasan hukum pemilu 1955 adalah undang –undang Nomor 7


tahun 1953 yang diundangkan 4 April 1953. Dalam UU tersebut,
pemilu 1955 bertuju memilih anggota bikameral : Anggota DPRdan
Konstituante (seperti MPR). Sistem yang digunakan adalah
proporsional. Menurut UU nomor 7 tahun 1953 tersebut, terdapat

18
perbedaan sistem bilangan pembagian pemilih (BPP) untuk anggota
konstituante dan anggota parlemen.

 Pemilu 1971 diadakan tanggal 3 juli 1971. Pemilu ini dilakukan


berdasarkan undang- undang nomor 15 tahun 1969 tentang pemilu
dan undang- undang nomor 16 tentang susunan dan kedudukan
MPR, DPR dan DPRD.

 Dasar hukum pemilu 1977 adalah undang- undang No. 4 tahun 1975.
Pemilu ini diadakan setelah fusi partai politik dilakukan pada tahun
1973. Sistem yang digunakan pada pemilu 1977 serupa dengan pada
pemilu tahun 1971 yaitu sistem proporsional dengan daftar tertutup.

 Pemilu 1982 diadakan tanggal 4 mei 1982. Tujuannya sama seperti


pemilu 1977 dimana hendak memilih anggota DPR (parlemen).
Hanya saja, komposisinya sedikit berbeda. Sebanyak 364 anggota
dipilih langsung oleh rakyat. Sementara 96 orang diangkat oleh
presiden. Pemilu ini dilakukan berdasarkan undang –undang No 2
tahun 1980.

 Pada pemilu 2004, mekanisme pengaturan pemilihan anggota


parleman ini ada didalam undang- undang nomor 12 tahun 2003.
Untuk kursi DPR, dijatahkan 550 kursi. Daaerah pemilihan anggota
DPR adalah provinsi atau bagian- bagian provinsi.

 Pemilu 2009 dilaksanakan menurut undang- undang nomor 10 tahun


2008. Jumlah kursi DPR ditetapkan sebesar 560 dimana daerah dapil
anggota DPR adalah provinsi. Jumlah kursi ditiap dapil yang
diperebutkan minimal tiga dan maksimal sepuluh kursi. Ketentuan
ini berbeda dengan pemilu 2004.

19
2. Asas asas pemilu terdiri dari 6 asas, hal ini sesuai dengan Pasal 22E Ayat (1)
UUD 1945 dan Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2003. Ke -enam asas tersebut
sering disingkat dengan "LUBER JURDIL" yaitu Langsung, Umum, Bebas,
Rahasia, jujur dan Adil. Asas Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia
diuraikan sebagai berikut :

a. Langsung
Asas yang pertama adalah langsung. Ini mempunyai arti bahwa rakyat yang
sudah memiliki hak pilih (pemilih) mempunyai hak untuk memberikan
suaranya secara langsung sesuai dengan keyakinannya tanpa adanya
perantara.

b. Umum
Setiap warga negara yang sudah memenuhi persyaratan minimal dalam usia
yaitu sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau telah/ pernah kawin berhak
untuk memilih dalam pemilihanan umum. Warganegara yang sudah
berumur 21 (dua puluh satu) tahun berhak dipilih.. Ini artinya adalah
pemilih memiliki jaminan kesempatan yang berlaku menyeluruh (umum)
bagi semua warga negara, tanpa adanya diskriminasi berdasarkan suku,
agama, ras, golongan, jenis kelamin, pekerjaan dan status sosial. Pemilu ini
bisa diikuti oleh semua warga negara yang telah memenuhi persyaratan.

c. Bebas
Asas yang ketiga adalah bebas. Arti dari asas ini adalah bahwa setiap
pemilih bebas memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya tanpa
adanya paksaan dan paksaan dari pihak-pihak lain. Didalam melaksanakan

20
haknya setiap warganegara dijamin keamanannya, sehingga dapat memilih
sesuai dengan kehendak hati nurani dan kepentingannya.

d. Rahasia
Asas yang selanjutnya adalah rahasia. Artinya dalam memberikan suaranya,
warga negara yang sudah memilih dijamin pilihannya tidak diketahui oleh
pihak manapun dan dengan jalan apapun. Pemilih memberikan suaranya
pada surat suara dengan tidak dapat diketahui oleh orang lain Kepada
suaranya diberikan asas rahasia ini tidak berlaku lagi bagi pemilih yang
telah keluar dari tempt pemungutan suara dan secara sukarela bersedia
mengungkapkan pilihannya Kepada pihak manapun.

e. Jujur
Dalam penyelenggaraan pemilu, setiap penyelenggara pemilu, aparat,
peserta pemilu, pengawas pemilu, pemantau, pemilih dan smua orang yang
terlibat harus bersikap jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

f. Adil
Pemilu diselenggrakan secara adil, artinya setiap pemilih dan peserta
pemilu mendapatkan perlakuan yang sama, serta bebas dari kecurangan
pihak manapun.

3 Tujuan penyelenggaraan pemilu


a. Melaksanakan kedaulatan rakyat
b. Sebagai perwujudan hak asasi politik rakyat
c. Untuk memilih wakil- wakil rakyat duduk di DPR, DPD, dan DPRD serta
memilih Presiden dan wakil Presiden maupun Kepala desa.
21
d. Melaksanakan pergantian personal pemerintahan secara damai, aman, dan
tertib (secara konstitusional)
e. Menjamin kesinambungan pembangunan nasional

4 Bentuk pemilu
 Pemilu langsung :
Pada umumnya (pemilu) langsung dilaksanakan oleh para pemilih (yang
memiliki hak pilih) secara langsung tidak melalui lembaga perwakilan,
dengan cara para pemilih ia memberikan “suara”ditempat –tempat
pemungtan suara (TPS). Surat suara secara konversional terbuat dari
kertas yang dicetak / fotocopy yang memuat nama dan atau gambar dan
atau nomor urut calon yang dipilih. Panitia pemilihan sudah menetapkan
cara pemberian suara misalnya dengan cara menuliskan nama/nomor
urut calon, atau menusuk sehingga kertas berlubang atau mencontreng
pada gambar/nama/nomor calon dan atau partai yang dipilih.

Akan tetapi dizaman dulu ketika sumber daya anggaran masih terbatas,
pada pemilihan kepala desa (pilkades) “surat suara” bisa terbuat dari
bukan kertas, akan tetapi terbuat dari “bithing” (batang daun kelapa)
yang kemudian oleh pemilih dimasukkan kedalam “bumbung” (bambu)
sebagai kotak suara milik calon yang dipilih.
Pemilih langsung merupakan implementasi dari pelaksanaan demokrasi
yang nyata.

 Pemilu Tidak Langsung


Pemilu tidak langsung adalah pemilu yang dilaksanakan oleh para
anggota perwakilan di lembaga perwakilan (parlemen). Para pemilih
dalam memberikan suara bisa secara langsung (voting)atau melalui
mufakat musyawarah, tergantung kesepakatan bersama.
22
5 Sistem pemilihan umum di Indonesia
Sampai tahun 2009 bangsa Indonesia sudah sepuluh kali pemilihan umum
diselenggarakan yaitu dari tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1992, 1997, 2004
dan terakhir 2009. Semua pemilihan umum tersebut tidak diselenggarakan
dalam situasiyang vacuum, melainkan berlangsung didalam lingkungan yang
turut menentukan hasil pemilihan umum tersebut. Dari pemilu yang telah
dilaksanakan juga dapat diketahui adanya upaya untuk mencari sistem
pemilihan umum yang cocok untuk Indonesia.
a. Zaman demokrasi parlementer (1945- 1959)
b. Zaman demokrasi terpimpin (1959 -1965)
c. Zaman demokrasi pancasila (1965- 1998)
d. Zaman reformasi (1998- 2009)

6 Ketentuan pemilu

Serangkaian peraturan perundang- undangan diperlukan guna menjamin


penyelenggaraan pemilu yang sesuai dengan prinsip- prinsip pemilu demokratis,
atau dalam konteks Indonesia sesuai dengan asas pemilu : langsung, umum,
bebas, rahasia, serta jujur dan adil. Mengikuti hirarki peraturan perundang-
undangan, pemilu dan penyelenggaraan pemilu juga diatur oleh konstitusi atau
undang- undang dasar, undang-undang, dan peraturan pelaksana.

23
2.6 Pandangan islam terhadap keterlibatan masyarakat dalam pemilihan
kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab.
Malang

1. Ketuhanan yang Maha Esa

Dalam sila petama mengandung ajaran ketauhidan dan keimanan


Kepada Tuhan yang maha Esa, sebagaimana tercermin dalam surat al-
baqarah ayat 163 :

‫احد ٌ ۖ ََل إِ َٰلَهَ إِ اَل هُ َو ا‬


‫الر ْح َٰ َم ُن ا‬
‫الر ِحي ُم‬ ِ ‫َو إِ َٰلَ ُهكُ ْم إِ َٰلَ ه ٌ َو‬

“ Dan tuhanmu adalah tuhan yang maha esa tidak ada tuhan melainkan dia
yang maha pemurah lagi maha penyayang “.

Dan dalam surat al- ankabut ayat 46 :

‫م و َُقولُوا‬ ُ َ‫ن إِ اَل ال ا ِذينَ ظَل‬


ْ ‫موا ِم ْن ُه‬ ُ ‫س‬ َ ‫ح‬ ْ َ‫ي أ‬َ ‫ه‬ ِ ‫ل ْالكِتَابِ إِ اَل بِالاتِي‬ َ ‫ه‬ ْ َ‫و َََل تُجَا ِدلُوا أ‬
َ ‫م‬
.‫ون‬ ُ ‫س ِل‬ ْ ‫ن لَ ُه ُم‬ُ ‫ح‬ ْ َ‫ح ٌد َون‬
ِ ‫م وَا‬ْ ‫م وَإِلَ ُهنَا وَإِلَ ُه ُك‬ َ ‫ل إِلَ ْينَا و َُأ ْن ِز‬
ْ ‫ل إِلَ ْي ُك‬ َ ‫ءَا َم انا بِال ا ِذي ُأ ْن ِز‬

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara
yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka
[1155], dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang
diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan
Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri".

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

Dalam sila kedua ini mencerminkan nilai kemanusiaan dan bersikap adil,
hal ini diperintahkan dalam al-qur’an surat al-maidah ayat 8 :

24
ُ ‫شن‬
‫َآن‬ َ ْ ‫َجرِ َم ان ُك‬
‫م‬ ْ ‫ط و َََل ي‬ ِ ‫س‬ ْ ِ‫ش َهدَا َء ب‬
ْ ‫ال ِق‬ ُ ِ ‫يَاأَيُّهَا ال ا ِذينَ ءَا َم ُنوا ُكونُوا َق اوا ِمينَ ِ ا‬
‫ّلِل‬
َ ُ‫خبِي ٌر بِمَا تَ ْعمَل‬
.‫ون‬ َ‫ن ا‬
َ ‫َّللا‬ ‫َّللا إِ ا‬ ُ ‫ه َو أَ ْقر‬
َ ‫َب لِل ات ْقوَى وَات ا ُقوا ا‬ ُ ‫دلُوا‬ ْ ‫َق ْو ٍم َعلَى أَ اَل تَ ْع ِدلُوا‬
ِ ‫اع‬

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang


selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu
lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

3. Persatuan Indonesia

Sila ketiga merupakan suatu ajaran persatuan serta kebersamaan serta tidak
bercerai-berai, sebagaimana ajakan allah dalam surat al-imron ayat 103 :

‫ت َّللاا ِ ع َ ل َ ي ْ ك ُ ْم‬ َ ‫ج ِم ي ع ً ا َو ََل ت َف َ ار ق ُ وا ۚ َو ا ذ ْ ك ُ ُر وا ن ِ ع ْ َم‬ َ ِ ‫َص ُم وا ب ِ َح ب ْ ِل َّللاا‬ ِ ‫َو ا عْ ت‬


ْ َ ‫ف ب َ ي ْ َن ق ُ ل ُ و ب ِ ك ُ ْم ف َ أ‬
‫ص ب َ ْح ت ُ ْم ب ِ ن ِ ع ْ َم ت ِ هِ إ ِ ْخ َو ا ن ً ا‬ َ ‫إ ِ ذ ْ ك ُ ن ْ ت ُ ْم أ َعْ د َ ا ءً ف َ أ َل ا‬
‫ك ي ُ ب َ ي ِ ُن َّللاا ُ ل َ ك ُ ْم‬ َ ِ ‫ار ف َ أ َن ْ ق َ ذ َ ك ُ ْم ِم ن ْ هَ ا ۗ ك َ ذ َٰ َ ل‬
ِ ‫ح ف ْ َر ة ٍ ِم َن ال ن ا‬ ُ ‫َو ك ُ ن ْ ت ُ ْم ع َ ل َ َٰى ش َ ف َ ا‬
ِ‫آ ي َ ا ت ِ ه‬

. ‫ل َ ع َ ل ا ك ُ ْم ت َ ْه ت َد ُو َن‬

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) allah, dan


janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat allah kepadamu
ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat allah, orang-

25
orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu
allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah allah menerangkan
ayat-ayat-nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan perwakilan.

Sila yang memberi petunjuk dalam pelaksanaan kepemimpinan


berdasarkan kebijakan yaitu bermusyawarah seperti dalam surat shaad ayat
20 :

.‫ب‬ َ ‫ص َل ْال ِخ‬


ِ ‫طا‬ ْ َ‫شدَ ْدنَا ُم ْل َكهُ َو َءاتَ ْينَاهُ ْال ِح ْك َمةَ َوف‬
َ ‫َو‬

“Dan kami kuatkan kerajaannya dan kami berikan kepadanya hikmah dan
kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.”

Dan dalam surat al-imron ayat 159 :

‫ٱَّللِ ِمنَ َرحْ َم ٍة‬ ًّ َ‫ظ ف‬


‫ظا ُكنتَ َولَ ْو لَ ُه ْم لِنتَ ا‬ َ ‫غ ِلي‬
َ ‫ب‬ ۟ ‫ْف َح ْولِكَ ِم ْن َلَنفَض‬
ِ ‫ُّوا ْٱلقَ ْل‬ ُ ‫ع ْن ُه ْم فَٱع‬
َ
‫فَبِ َما‬

‫عزَ فَإِذَا ْٱْل َ ْم ِر فِى ُه ْم َوشَا ِو ْر لَ ُه ْم َوٱ ْست َ ْغ ِف ْر‬


َ َ‫ٱَّللِ فَت ََو اك ْل ْمت‬
‫ٱَّللَ إِ ان ا‬
‫ي ُِحبُّ ا‬

. َ‫ْٱل ُمت ََو ِكلِين‬

“maka disebabkan rahmat dari allah-lah kamu berlaku lemah lembut


terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan

26
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila
kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada allah.
Sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-
nya.”

5. Keadilan Bagi seluruh Rakyat Indonesia


Sila yang menggambarkan terwujudnya rakyat adil, makmur, aman, dan
damai. Hal ini disebutkan dalam surat an-nahl ayat 90 :

َ ْ‫ّللاَ يَأ ْ ُم ُر با ْلعَدْل َو ْاْلح‬


‫سان َوإيتَاء ذي ا ْلقُ ْربَى َويَ ْن َهى عَن ا ْلفَحْ شَاء َوا ْل ُم ْنكَر‬ َ َ‫إن‬
. َ‫ظ ُك ْم لَعَلَ ُك ْم تَذَك َُرون‬
ُ ‫َوا ْلبَ ْغي يَع‬

” Sesungguhnya alloh menyuruh (kamu)berlaku adil dan berbuat


kebijakan, memberi Kepada kaum kerabat, dan alloh melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”

27
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Hasil Survei


Berdasarkan survei yang pemulis lakukan tanggal 8 Oktober 2017 dapat
diperoleh data informasi sebagai berikut :

1. Pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pemilihan kepala desa druju wetan


kec. Sumber manjing sebagai wujud pengamalan sila ke4

Sebagai definisi umum dapat dikatakan bahwa partisipasi politik adalah


kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam
kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan kepala desa
secara langsung atau tidak langsung. Meningkatnya keterlibatan masyarakat
dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu), menunjukan semakin
kuatnya tatanan demokrasi dalam sebuah negara. Demokrasi menghendaki
adanya keterlibatan rakyat dalam setiap penyelenggaraan yang dilakukan
negara. Rakyat diposisikan sebagai aktor penting dalam tatanan demokrasi,
karena pada hakekatnya demokrasi mendasarkan pada logika persamaan dan
gagasan bahwa pemerintah memerlukan persetujuan dari yang diperintah.
Keterlibatan masyarakat menjadi unsur dasar dalam demokrasi. Untuk itu,
penyelenggaraan pemilu sebagai sarana dalam melaksanakan demokrasi, tentu
saja tidak boleh dilepaskan dari adanya keterlibatan masyarakat.
Partisipasi politik akan berjalan selaras manakala proses politik berjalan secara
stabil.

28
2. Alasan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pemilihan kepala desa
sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab. Malang

Sebagai masyarakat yang bijak kita harus turut serta dalam penyuksesan
proses pemilihan umum dalam rangka menentukan pemimpin yang akan
memimpin kita. Dengan demikian, secara tidak langsung kita akan
menentukan pembuat kebijakan yang akan berusaha mensejahterakan
masyarakat secara umum. Dalam turut berpartisipasi dalam proses
pemilihan umum sebagai masyarakat yang cerdas kita harus mampu
menilai calon yang terbaik yang sekiranya mampu dan mau
mendengarkan aspirasi masyarakat agar pembangunan yang akan
dilakukan sesuai dengan keinginan masyarakat dan tidak memilih calon
yang hanya mementingkan diri sendiri atau kelompoknya saja sehingga
melupakan janji-janji yang sudah diucapkan dalam masa kampanye.
Sebagai pemilik hak pemilih dalam pemilu kita jangan sampai menyia-
nyiakan hak suara hanya untuk iming-iming sementara yang dalam artian
kita harus memberikan suara kita kepada calon yang tepat. Ketidak ikut
sertaan kita sebenarnya justru akan membuat kita susah sendiri karena
kita tidak turut memilih tetapi harus mengikuti pemimpin yang tidak kita
pilih.

3.2 Implementasi keterlibatan masyarakat dalam pemilihan kepala desa


sebagai wujud pengamalan sila ke4 di dusun druju wetan kab. Malang

1. Pengamalan sila keempat

29
Pelaksanaan sila keempat dalam masyarakat pada hakekatnya didasari
oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab, serta Persatuan Indonesia, dan mendasari serta menjiwai sila
Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Hak demokrasi harus
selalu diiringi dengan sebuah kesadaran bertanggung jawab terhadap
Tuhan Yang Maha Esa menurut keyakinan beragama masing-masing,
dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan, serta menjunjung tinggi
persatuan.
Adapun pelaksanaan /implementasi dari penerapan sila keempat dari
Pancasila adalah;
1. Sebagai warga negara dan masyarakat, setiap manusia mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
2. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
3. Dengan itikad baik dan rasa tanggungjawab menerima dan
melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
4. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
5. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat
kekeluargaan.
6. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai dalam musyawarah.
7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi
harkat dan martabat manusia, dan keadilan, serta mengutamakan
persatuan dan kesatuan bersama.
8. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai
untuk melaksanakan permusyawaratan.

30
3.3 Berdasarkan survei dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1). Banyak warga masyarakat yang tidak bersedia menggunakan hak


pilihnya / hak suaranya.

Pelaksanaan Pemilu merupakan sarana bagi masyarakat (warga negara)


untuk mengekspresikan hak politiknya melaksanakan partisipasinya dalam
bentuk kehadiran dan pemberian suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Akan tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat desa Druju wetan
yang tidak bersedia / tidak mau berpartisipasi untuk menggunakan hak
pilihnya pada pemilihan Kepala Desa Druju Wetan. Pada umumnya secara
sosiologis kemasyarakatan dapat diidentifikasi beberapa alasan sikap warga
desa Druju Wetan yang tidak bersedia menggunakan hak pilihnya, antara
lain:

1. Adanya sikap apatis dari keyakinan masyarakat bahwa memilih atau


tidak memilih tidak mempengaruhi kehidupan mereka secara signifikan.
2. Para calon yang bertarung tidak memiliki kapasitas untuk mewujudkan
harapan mereka.
3. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa kebutuhan ekonomi lebih
penting daripada penyaluran hak politik mereka untuk berpartisipasi dalam
Pemilu.
4. Menurunnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap para calon
Kepala Desa
5. Masyarakat menganggap bahwa sikap dan budaya politik peserta
Pilkades (pasangan calon maupun calon Kepala desa) dalam berkampanye

31
sering melakukan prilaku – prilaku yang tidak bermoral seperti penghinaan,
permusuhan dan kecurangan.
6. Masyarakat trauma dengan propaganda – propaganda politik selama
kampanye yang ternyata tidak terbukti pasca Pilkades.

2). Politik Uang dalam Pemilihan Kepala Desa di Desa druju wetan
Kecamatan sumbermanjing Wetan.

Praktik politik uang dalam pemilihan kepala desa di Desa Druju wetan
Kecamatan sumbermanjing wetan Kabupaten Malang sudah terjadi sejak
pemilihan kepala desa dari tahun ketahun. Praktik politik uang ini telah
menjadi budaya pada setiap pemilihan kepala desa di Desa Druju wetan
hingga saat ini. Salah satunya pada pemilihan kepala desa tahun 2012 yang
lalu.

3). Kampanye Negatif.


Ini dikarenakan, informasi masih dilihat sebagai sebuah hal yang tidak
penting oleh masyarakat. Masyarakat hanya “menurut” pada sosok
tertentu yang selama ini dianggap tokoh masyarakat. Kampanye negatif
seperti ini dapat mengarah pada fitnah yang dapat merusak integritas
daerah tersebut.

4). Intimidasi
Biasanya intimidasi terjadi justru dalam anggota keluarga yang
memiliki perbedaan dalam menentukan pilihan. Akibatnya terjadi
perseteruan yang menyebabkan perpecahan yang berujung tidak saling
menyapa dan menjauh satu sama lain.

32
5). Data daftar pemilih yang tidak akurat.
Faktor lain yang menjadi penyebab rendahnya tingkat prosentase
partisipasi pemilih karena permasalahan pendataan calon pemilih yang
pada akhirnya menjadi Daftar Pemilih Tetap (DPT). Terdapat
kesenjangan atau tidak ada sinkronisasi antara sinkronisasi Daftar
Penduduk Potensial Pemilih Pilkades dengan Daftar Pemilih Tetap
(DPT) pemilu terakhir serta distribusi dan konsolidasi data pemilih pada
desa- desa pemilihan dalam wilayah Kecamatan. Adanya perbedaan /
kesenjangan data tersebut dapat disebabkan oleh faktor teknologi yang
belum memadai dan / atau faktor kesengajaan oknum – oknum tertentu
baik di pemerintahan maupun di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

3.4.Berdasarkan permasalahan dan kajian teori diatas, maka


permasalahan dapat di pecahkan sebagai berikut :
1. Seharusnya dilakukan sosialisasi tujuan pemilihan kepala desa untuk
meningkatkan daya dorong atau motivasi masyarakat pada setiap pemilihan
kepala desa
2. Seharusnya Seluruh pihak yang ada di Desa Druju wetan bersama-sama
menjaga ketertiban dan kelancaran pelaksanaan Pilkades. Dari unsur- unsur
terjadinya kecurangan.
3. Seharusnya Masyarakat Desa Druju Wetan lebih mengutamakan memilih
dengan hati nurani tanpa paksaan dari orang lain.
4. Seharusnya masyarakat Desa Druju wetan saling menghargai Perbedaan
pendapat
5. Seharusnya Pendataan kembali daftar calon pemilih tetap

33
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari pembahasan dalam makalah ini, dapat disimpulkan keterlibatan


masyarakat dalam pemilihan kepala desa sebagai wujud pengamalan sila ke4
di dusun druju wetan kab. Malang. Kendala-kendala yang dihadapi dalam
mencapai pemilihan yang demokratis dan jujur di desa Druju Wetan ada
beberapasebab, antara lain : Banyak warga masyarakat yang tidak bersedia
menggunakan hak pilihnya / hak suaranya, Politik Uang dalam Pemilihan
Kepala Desa, Kampanye Negatif, Intimidasi dan Data daftar pemilih yang tidak
akurat. Adapun solusi untuk menghadapinya, adalah melakukan sosialisasi
tujuan Pemilihan Kepala Desa untuk meningkatkan daya dorong atau motivasi
masyarakat pada setiap pemilihan Pilkades, Seluruh pihak bersama-sama
menjaga ketertiban dan kelancaran pelaksanaan Pilkades, lebih mengutamakan
memilih dengan hati nurani tanpa paksaan dari orang lain, saling menghargai
Perbedaan pendapat, Pendataan kembali daftar calon pemilih tetap.

4.2 Saran

1. melakukan sosialisasi tujuan pemilihan kepala desa dalam kehidupan berbangsa


dan bernegara untuk meningkatkan daya dorong atau motivasi masyarakat pada
setiap pemilihan kepala desa didusun Druju wetan.

34
2. Keterlibatan Seluruh pihak yang ada di Desa Druju wetan untuk bersama-
sama menjaga ketertiban dan kelancaran pelaksanaan Pilkades dari unsure-
unsur kecurangan. Karena Sebagai pemilik hak pemilih dalam pemilihan
Kepala Desa kita jangan sampai menyia-nyiakan hak suara hanya untuk
iming-iming sementara yang dalam artian kita harus memberikan suara kita
kepada calon yang tepat.
3. Masyarakat Desa Druju Wetan lebih mengutamakan memilih dengan hati
nurani tanpa paksaan dari orang lain. Sehingga prinsip-prinsip pemilu dapat
terlaksana dengan baik.
4. masyarakat Desa Druju wetan saling menghargai pendapat. Perbedaan
pendapat dalam demokrasi adalah hal wajar. Dengan kesadaran menghargai
pendapat orang lain, maka pelaksanaan pilkades dapat berjalan dengan
lancar.
5. Pendataan kembali daftar calon pemilih tetap sangat penting untuk
memaksimalkan konstribusi masyarakat desa Druju wetan dalam pemilihan
kepala desa dan melakukan sosialisasi kepada warga ditingkatkan, agar
masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat.

35
DAFTAR PUSTAKA

Novia, Windy.2009.Kamus Ilmiah Populer.WIPRESS


Okezonenews.com_ antisipasi-golput-mendagri-usul-pilkada-digelar-hari-kerja.htm
Partisipasi Masyarakat dalam Politik sebagai Implementasi Nilai-nilai Demokrasi di
Indoneisa _febrisartika257.htm
Pemberitaan online kompas.com_7.Kabupaten.di.Kalteng.Pilkada.Serentak.htm
Pembukaan UUD 1945
UUD 1945
Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu
Undang-undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum

36