Anda di halaman 1dari 7

GLOBALISASI KEUANGAN

Makalah

Oleh:
Novi Ariyani
NIM 140810101142

ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak tahun 1970an, ekonomi dunia telah menyaksikan kenaikan tajam
dalam globalisasi keuangan. Proses globalisasi ini hanya sebanding dengan
periode mobilitas modal dan pasar modal dunia yang terjadi pada pergantian abad
ke-20. Gelombang globalisasi pertama ini berlangsung dari tahun 1870 sampai
1914, kemudian mengalami penghentian karena pecahnya Perang Dunia
Pertama. Periode perang tersebut menyebabkan Great Depression yang
menyebabkan kemunduran pada globalisasi ekonomi internasional, yang secara
drastis mengurangi arus modal. Butuh waktu hampir 60 tahun untuk
engembalikan globalisasi keuangan. Tidak sampai tahun 1970an, dimana sistem
nilai tukar tetap Bretton Woods dibongkar dan menyebabkan peningkatan
mobilitas modal secara perlahan. Proses globalisasi keuangan mengalami
percapatan pada tahun 1990an dan yang pada saat itu menjadi topik perdebatan
utama di Indoensia oleh para akademisi (Caprio et al., 2006; Calomiris dan Neal,
2013).
Ekspektasi awal yaang muncul adalah bahwa globalisasi keuangan akan
mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan perkembangan keuangan
khususnya di kawasan negara-negara berebang. Pertama, denga membiarkan
investor asing masuk ke dalam pasar domestik maka akan memperuasketersediaan
modal dan menurunkan biaya. Modal akan mengalir dari negara-negara yang kaya
modal ke negara-negara yang kekurangan modal. Modal akan mengalir dari
negara-negara kaya modal ke negara-negara yang kekurangan ((Mody dan
Murshid, 2005; Henry, 2007). Kedua, dengan memberikan akses investor
domestik ke pasar internasional, globalisasi keuangan akan memperluas
jangkauan instrumen keuangan, memungkinkan risiko lebih baik diversifikasi
(Obstfeld, 1995). Ketiga, dengan mempromosikan infrastruktur reformasi
globalisasi keuangan, akan dapat mengurangi masalah asimetri informasi dan
meningkatkan efisiensi sektor keuangan (Schmukler, 2004; Mishkin,
2009). Dengan kata lain, globalisasi keuangan akan meningkatkan ketersediaan
dan kualitas layanan keuangan. Sehingga perkembangan finansial yang lebih
tinggi akan mendorong pertumbuhan. Sektor keuangan melakukan serangkaian
fungsi yang mengarah pada akumulasi modal yang lebih tinggi dan inovasi
teknologi, yang keduanya merupakan saluran pertumbuhan ekonomi. Fungsi-
fungsi tersebut antara lain: memobilisasi tabungan, memfasilitasi resiko
manajemen, meningkatkan alokasi sumber daya, meningkatkan kontrol
perusahaan, dan kemudahan pertukaran barang dan jasa (Levine, 1997).
Berdasarkan diskusi akademis dan kebijakan mengenai apakah globalisasi
finansial dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sebuah
literatur empiris besar telah berkembang dan berusaha mengukur berbagai dampak
globalisasi keuangan serta bagaimana cara kerjanya dalam praktik. Beberapa
penelitian telah meninjau literatur yang luas ini dan menyimpulkan bahwa,
berbeda dengan yang awal prediksi teoritis, bukti tentang efek globalisasi
keuangan tercampur secara keseluruhan. Padahal beberapa penulis menganggap
bahwa globalisasi finansial meningkatkan pertumbuhan ekonomi, ada yang
berpendapat bahwa dampak pertumbuhan globalisasi keuangan dapat diabaikan
atau tidak ada (Mishkin, 2009). Survei lainnya menyimpulkan hal itu Globalisasi
keuangan sangat menguntungkan namun hubungan antara globalisasi keuangan
dan pertumbuhannya tidak langsung Misalnya, hanya negara dengan karakteristik
tertentu yang mendapatkan keuntungan globalisasi keuangan. Juga, efek positif
pada pertumbuhan mungkin berasal bukan dari efek langsung globalisasi
keuangan, seperti pertumbuhan stok modal, tapi dari efek tidak langsungnya.
Secara khusus, globalisasi keuangan dapat menyebabkan spillovers teknologi,
kebijakan ekonomi yang lebih baik, sektor perbankan yang lebih dalam, dan pasar
keuangan yang lebih besar dan stabil, antara lain. Di sisi lain, bukti empiris
menunjukkan bahwa keuangan globalisasi telah meningkatkan risiko seperti
ketidakstabilan makroekonomi yang lebih tinggi, kerentanan terhadap krisis
keuangan, dan dampak penularan yang menyebar melintasi batas.
Survei yang disebutkan di atas biasanya berfokus pada temuan dalam
literatur terkait dengan dampak globalisasi keuangan terhadap variabel
makroekonomi agregat. Yaitu, mereka mendiskusikan apakah makalah akademik
yang ada menemukan bahwa globalisasi keuangan mempengaruhi positif, negatif,
atau tidak berpengaruh terhadap variabel seperti produk domestik bruto (PDB)
dan volatilitas, investasi, konsumsi, harga aset, nilai tukar, dan keuangan indikator
stabilitas, antara indikator makroekonomi lainnya. Meskipun dunia secara
keseluruhan maju menuju integrasi finansial yang lebih besar dalam beberpa
dekade terakhir, tren di negara maju dan berkembang terlihat berbeda p gambar
1.1. Di negara maju, integrasi keuangan secara konsisten meningkat dari waktu ke
waktu dan hanya terbalik selama krisis keuangan global 2008-2009. Sebaliknya,
di negara berkembang keuangan Integrasi dimulai pada tingkat yang lebih rendah
dan tidak berjalan mulus. Sebaliknya, negara berkembang mengalami periode
bergantian integrasi dengan masa pembalikan selama krisis. Keuangan Proses
integrasi yang dimulai pada tahun 1970an terbalik pada akhir 1980an selama
krisis utang di Indonesia Amerika Latin, tapi kemudian meningkat tajam pada
awal 1990an. Namun, pada akhir 1990an dan awal 2000an, proses ini berbalik
lagi ketika negara berkembang mengalami serangkaian krisis keuangan Integrasi
keuangan segera dimulai pada pertengahan tahun 2000an, hanya untuk berbalik
sekali lagi selama krisis keuangan global 2008-09. Sebagai hasil dari awal dan
dari ini fluktuasi, negara berkembang saat ini kurang terintegrasi secara finansial
daripada yang dikembangkan negara. Sedangkan pada tahun 2011 negara
berkembang memiliki aset dan kewajiban luar negeri yang mewakili 109 persen
dari PDB, di negara maju angka ini mencapai 437 persen.
Di negara maju, utang selalu menjadi alat yang dominan, akuntansi untuk
bagian terbesar dari jumlah aset dan kewajiban asing. Pada tahun 2011, agregat
Stok aset dan kewajiban utang di negara-negara ini sebesar 220 persen dari PDB,
sebagian besar melebihi persediaan investasi langsung asing (foreign direct
investment / FDI) dan ekuitas, yang mewakili 87 dan 60 persen dari PDB,
masing-masing. Namun, sejak tahun 1990an, negara maju telah mengalami a
ekspansi yang signifikan dalam kepemilikan FDI dan ekuitas asing. Peningkatan
ini sebagian dijelaskan oleh perubahan di neraca eksternal Amerika Serikat, yang
telah meningkatkan pangsa pasar high- mengembalikan aset berisiko menjadi apa
yang oleh beberapa penulis disebut "kapitalis usaha dunia" Perilaku telah
memperluas investasi pada ekuitas dan FDI di luar negeri.
Gambar 1.1 Aset dan Kewajiban Asing di Negara Berkembang dan Berkembang
Di negara-negara berkembang, secara historis jenis holding asing yang
paling penting adalah hutang, diikuti oleh FDI. Tapi tren ini telah berubah sejak
akhir tahun 1990an ketika relatif Pentingnya hutang mulai berkurang dan,
sebaliknya, FDI menjadi semakin penting. Bagian dari perilaku ini dijelaskan oleh
pengurangan defisit fiskal dan ketergantungan pemerintah utang luar negeri
Perubahan signifikan lainnya adalah kenaikan stok ekuitas asing, yaitu praktis
bisa diabaikan sebelum tahun 1990an. Karena perubahan tersebut, pada tahun
2011 agregat saham PT hutang dan aset dan kewajiban FDI mewakili 35 persen
dari PDB, dan persediaan ekuitas mencapai 11 persen. Hal ini kontras dengan
nilai-nilai pada tahun 1999, ketika agregat stok utang sebesar 51 persen dari PDB,
FDI mewakili 21 persen, dan ekuitas mencapai 7 persen. Komposisi aset dan
kewajiban berguna tidak hanya untuk memahami evolusi globalisasi keuangan
tapi juga eksposur guncangan dan krisis. Secara khusus, yang patut diperhatikan
ciri sifat aset dan kewajiban asing di negara berkembang adalah transisi menuju
bentuk integrasi keuangan yang lebih aman. Di sisi kewajiban, ekonomi ini
meningkat investasi ekuitas dan instrumen hutang yang berkurang. Di sisi aset,
sebagian besar terakumulasi cadangan internasional Karena perubahan tersebut,
negara berkembang telah menjadi kreditor bersih dalam aset hutang dan debitur
bersih pada aset ekuitas.
Komposisi baru aset asing dan Kewajiban lebih aman dibandingkan
dengan yang di tahun 1990an ketika negara-negara berkembang memiliki jaringan
bersih yang besar posisi debitur dalam aset hutang. Misalnya, pada krisis
sebelumnya, sejumlah besar mata uang asing Kewajiban tersebut menyiratkan
bahwa, karena mata uang terdepresiasi, beban hutang tumbuh dalam mata uang
lokal dan krisis semakin dalam Sebaliknya, selama krisis keuangan global 2008-
09, karena komposisi baru aset dan kewajiban asing, devaluasi mata uang
meningkatkan posisi eksternal negara berkembang (diukur dalam mata uang
lokal). Pada saat bersamaan, karena negara-negara ini adalah debitur bersih di
posisi ekuitas, kewajiban eksternal turun karena harga ekuitas anjlok. Selain itu,
cadangan internasional yang besar berguna untuk mencegah krisis mata uang dan
perbankan). Kinerja ini dalam periode krisis menunjukkan bagaimana negara
berkembang menjadi lebih siap menghadapi guncangan keuangan, terutama saat
Mereka melibatkan devaluasi mata uang dan harga aset yang ambruk.
DAFTAR PUSTAKA
Caprio, G., P. Honohan, and J. Stiglitz. 2006. Financial Liberalization.
Cambridge, MA: Cambridge University Press.

Calomiris, C. and L. Neal. 2013. History of Financial Globalization. Handbook of


Key Global Financial Markets, Institutions, and Infrastructure. London:
Elsevier.

Mody, A., and A. Murshid. 2005. Growing Up with Capital Flows. Journal of
International Economics. 65, 249-6.

Henry, P., 2007. Capital Account Liberalization: Theory, Evidence, and


Speculation. Journal of Economic Literature. 45 (4): 887-935.

Henry, P. 2007. Capital Account Liberalization: Theory, Evidence, and


Speculation. Journal of Economic Literature 45 (4): 887-935.

Schmukler, S. 2004. Financial Globalization: Gain and Pain for Developing


Countries. Economic Review-Federal Reserve Bank of Atlanta. 89 (2): 39-
66.

Mishkin, F. 2009. Globalization and Financial Development. Journal of


Development Economics. 89 (2): 164-169.

Levine, R. 1997. Financial Development and Economic Growth: Views and


Agenda. Journal of Economic Literature. 35 (2): 688-726.