Anda di halaman 1dari 7

Nama : Rahmad Putra Nasution

Nim : 37144033

Jurusan : Manajemen Pendidikan Islam (VII-I)

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

ABSTRAK

Pendidikan Nasional melakukan perubahan-perubahan pada sektor Pendidikan dengan


mengaplikasikan Manajemen Berbasis Sekolah. Model ini merupakan tindakkan untuk
mencapai perubahan. model manajemen yang memberikan otonomi yang lebih besar pada
sekolah . Penerapan manajemen berbasis sekolah di Indonesia sendiri tertuang dalam
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang berbunyi
“pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah
dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis
sekolah/madrasah.

Kaca Kunci : IMPLEMENTASI MBS

PENDAHULUAN
Seiring terjadinya perubahan dan pergeseran sistem pada sektor pendidikan tentu
pemerintah harus mampu membuat suatu keputusan dan trobosan di dalam dunia pendidikan.
Bergesernya sistem sentralisasi menjadi desentrasilasi merupakan paragdigma baru di dalam
dunia pendidikan agar dapat mengatur sekolah secara keseluruhan. Salah satu penerapan
desentralisasi yaitu penerapan Mbs di dalam dunia pendidikan. Secara esensi, Landasan
filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan kemandirian setiap daerah dalam
mengupayakan kualistas masyarakat yang dicita-citakan. Manajemen Berbasis Sekolah ini

1
diharapkan dapat menjawab semua keluhan dan keinginan stakeholder. Sehingga dalam
proses peningkatan kualitas pendidikan ini dapat memuaskan masyarakat tentang mutu
pendidikan tersebut.
Masyarakat membutuhkan sesuatu yang dapat mewujudkan masa depannya kea rah
yang lebih baik. Keinginan tersebut sangat beragam, tetapi secara sederhana dapat dikatakan
bahwa keinginan dari masyarakat mempunyai titik tujuan yang sama yaitu terpuaskan oleh
sistem pendidikan. Yang menjadi permasalahan, justru terletakdapat sistem tersebut karena
dianggap tidak bersahabat dengan masyarakat pengguna produk pendidikan. Indikasi dari
permasalahan tersebut adalah ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan masyarakat dengan
apa yang diprogramkan oleh lembaga pendidikan.

KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN


1. Defenisi Manajemen Berbasis Sekolah
MBS merupakan salah satu model inovasi pendidikan di indonesia, sebagai muara
dari desentralisassi pendidikan dalam kerangka proses reformasi pendidikan, dalam hal ini
inovasi pendidikan adalah kegiatan mencobakan cara baru merupakan suatu keniscayaan.

Etheridge menyatakan MBS adalah sebuah proses formal yang melibatkan kepala
sekolah, guru, orang tua , siswa, dan masyarakat yang berada dekat dengan sekolah dalam
proses pengambilan berbagai keputusan. Hal senada dijelaskan oleh Short dan Greer bahwa
MBS adalah sebuah strategi yang mengangkat konsep tentang pemberdayaan dan
memberdayakan semua individu di sekolah (Rosyada, 2004)

Mbs diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi atau


kemandirian yang lebih besar kepada sekolah dalam pengambilan keputusan partisipatif yang
melibatkan secara langsung semua warga sekolah sesuai standar mutu yang berkaitan dengan
kebutuhan sarana prasarana, fasilitas sekolah, peningkatan kualitas kurikulum dan
pertumbuhan jabatan guru (Sagala, 2005)
Desentralisasi manajemen pendidikan maupun manajemen berbasis sekolah
memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah maupun sekolah untuk mengambil
keputusan terbaik tentang penyelenggaraan pendidikan di daerah atau sekolah yang
bersangkutan berdasarkan potensi daerah dan stakeholders sekolah. Hal ini di samping
memberikan kesempatan kepada daerah atau sekolah untuk memacu penyelenggaraan
pendidikan, juga bisa berakibat sebaliknya, yaitu memberikan peluang bagi daerah atau

2
sekolah untuk menjadi semakin ketinggalan karena potensi daerah atau stakeholders
sekolahnya tidak memungkinkan. Apabila hal terakhir ini yang terjadi, maka kualitas
pendidikan atau standar mutu di daerah itu menjadi lebih terancam. Oleh karena itu,
kehadiran Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 053/U/2001 tentang Pedoman
Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolhan Bidang Pendidikan
Dasar dan Menengah dirasakan sangat tepat. Dengan keputusan ini diharapkan
penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah tidak ‘kebablasan’ cepat ataupun
‘keterlaluan’ ketinggalan berada di bawah persyaratan minimal sehingga kualitas pendidikan
malah menjadi terpuruk.
2. Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah
Secara umum MBS bertujuan meningkatkan kemandirian sekolah melalui pemberian
kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sumberdaya sekolah dan mendorong
keikutsertaan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah dalam pengambilan
keputusan untuk peningkatan mutu sekolah.
Menurut Kamars (2004) menjelaskan Tujuan MBS adalah :
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian (otonomi) dan inisiatif (
prakarsa)sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang bersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelengaraan
pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
3. Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada orangtua, masyarakat dan pemerintah
tentang mutu sekolahnya.
4. Meningkatkan kompetensi yang sehat antara sekolah tentang mutu pendidikan yang ingin
dicapai.

Berdasarkan pemaparan di atas maka terkait dengan tujuan MBS diterapkan maka hal
ini menunjukkan rasionalitas dari diterapkannya MBS. Dalam hal ini alasan diterapkan
dijelaskan oleh kamars (2004) sebagai berikut :
1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya.
2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang
akan dikembangkan dan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
3. Pengambilan keputusan yang akan dilakukan sekolah lebih cocok untuk memenuhi
kebutuhan sekolah.
4. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efesien dan efektif bilamana dikontrol oleh
masyarakat setempat.

3
5. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan
sekolah menciptakana transparansi dan demokrasi yang sehat.
6. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan kepada pemerintah, orang
tua peserta didik dan masyarakat.
7. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang
berubah dengan cepat.

3. Prinsip-Prinsip MBS
Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada
Pasal 48 Ayat (1) menyatakan bahwa , “pengelolaan dana pendidikan berdasarkan prinsip
keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik”. Sejalan dengan amanat tersebut ,
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 49
ayat (1) menyatakan : “pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian,
kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

4. Syarat-syarat Pelaksanaan MBS


Salah satu indikasi bahwa mutu pendidikan nasional yang masih rendah, yakni sangat
kecilnya jumlah lulusan yang mampu memperoleh nilai yang baik, minimnya jenis
keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Belajar dari pengelolaan
sekolah-sekolah yang sukses, maka nilai-nilai dasar, serta standarisasi mutu harus dapat
diterapkana secara ketat (Sujanto, 2007). Untuk meningkatkan kualitas proses dan lulusan
sekolah, maka kontribusi manajemen yang berfokus atas sumberdaya sekolah menjadi faktor
penentu sehingga MBS menjadi pilihan relevan dalam memajukan sekolah.
Menurut Zabadi (2011) ada sembilan syarat dalam pelaksanaan MBS, yaitu :
a. Sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu : memiliki kekuasaan
dan kewenangan, pengembangan pengetahuan yang berkesinambungan, akses
informasi ke segala bagian, dan pemberian penghargaan kepada setiap orang yang
berhasil.
b. Adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan, proses
pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan instruksional serta non
instruksional.
c. Adanya kepemimpinan kepala sekolah yang mampu menggerakkan dan
mendayagunakan setiap sumberdaya sekolah secara efektif.

4
d. Adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan
sekolah yang aktif.
e. Semua pihak harus memahami peran dan tanggungjawabnya secara sungguh-
sungguh.
f. Adanya petunjuk (guidelines) dari departemen terkait sehingga mampu
mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. Petunjuk itu
jangan sampai merupakan peraturan-peraturan yang mengekang dan
membelenggu sekolah.
g. Sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan
dalam laporan pertanggung jawaban setiap tahunnya.
h. Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih
khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa.
i. Implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS, identifikasi peran
masing-masing, mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya.
Implementasi pada proses pembelajaran, evaluasi atas pelaksanaan dilapangan dan
dilakukan perbaikan-perbaikan.

Sekolah yang demikian itu adalah sekolah efektif dengan suasana yang terbentuk
dalam iklim kerja profesional dengan pengembangan staf, perencanaan kolaboratif,
pengajaran unggul, dan rendahnya pemberian staf. Iklim sekolah efektif juga ditandai dengan
pembagian sasaran secara luas, dan harapan tinggi terhadap prestasi siswa (Mohrman, 1994).
Dengan penerapan MBS, perwujudan sekolah-sekolah efektif semakin cepat berkembang
dengan iklim kondusif peningkatan mutu akademik, dan non-akademik sesuai harapan
stakeholder pendidikan.

5
PENUTUP

Mbs diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi atau


kemandirian yang lebih besar kepada sekolah dalam pengambilan keputusan partisipatif yang
melibatkan secara langsung semua warga sekolah sesuai standar mutu yang berkaitan dengan
kebutuhan sarana prasarana, fasilitas sekolah, peningkatan kualitas kurikulum dan
pertumbuhan jabatan guru (Sagala, 2005).
Menurut Zabadi (2011) ada sembilan syarat dalam pelaksanaan MBS, yaitu :
j. Sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu : memiliki kekuasaan
dan kewenangan, pengembangan pengetahuan yang berkesinambungan, akses
informasi ke segala bagian, dan pemberian penghargaan kepada setiap orang yang
berhasil.
k. Adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan, proses
pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan instruksional serta non
instruksional.
l. Adanya kepemimpinan kepala sekolah yang mampu menggerakkan dan
mendayagunakan setiap sumberdaya sekolah secara efektif.
m. Adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan
sekolah yang aktif.
n. Semua pihak harus memahami peran dan tanggungjawabnya secara sungguh-
sungguh.
o. Adanya petunjuk (guidelines) dari departemen terkait sehingga mampu
mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. Petunjuk itu
jangan sampai merupakan peraturan-peraturan yang mengekang dan
membelenggu sekolah.
p. Sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan
dalam laporan pertanggung jawaban setiap tahunnya.
q. Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih
khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa.
r. Implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS, identifikasi peran
masing-masing, mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya.
Implementasi pada proses pembelajaran, evaluasi atas pelaksanaan dilapangan dan
dilakukan perbaikan-perbaikan.

6
DAFTAR BACAAN

Hadiyanto.(2004). Desentralisasi Manajemen Pendidikan Di Indonesia. Jakarta: Rineka


Cipta.

Syafaruddin , (2012), Inovasi Pendidikan, Medan : Perdana Publishing.


Ananda rusydi, (2017) Inovasi Pendidikan, Medan : CV. Widya Puspita.