Anda di halaman 1dari 90

BAB I

INFORMASI UMUM

1.1. PENDAHULUAN
Spesifikasi teknis umum ini merupakan ketentuan yang harus dibaca bersama-sama dengan
gambar-gambar yang keduanya menguraikan pekerjaan yang harus dilaksanakan. Istilah
pekerjaan mencakup suplai dan instalasi seluruh peralatan dan material yang harus dipadukan
dalam konstruksi-konstruksi, yang diperlukan menurut dokumen-dokumen kontrak, serta semua
sumber daya, tenaga kerja, peralatan, dan prosedur perizinan/sertifikasi yang dibutuhkan untuk
memasang dan menjalankan peralatan dan material tersebut. Spesifikasi untuk pekerjaan yang
harus dilaksanakan dan material yang harus disepakati, harus diterapkan baik pada bagian di
mana spesifikasi tersebut ditemukan maupun bagian-bagian lain dari pekerjaan di mana
pekerjaan atau material tersebut dijumpai.

Penyedia Barang/Jasa yang ditunjuk, baik telah melakukan dan mengikuti kunjungan lapangan
(aanwijzing lapangan) ataupun belum, dianggap telah mengetahui kondisi lapangan dan
memahami metode pelaksanaan pekerjaan di lokasi yang telah ditentukan. Segala potensi resiko
yang ada dan terjadi di lapangan dianggap telah dikenali dan merupakan tanggung jawab
Penyedia Barang/Jasa.

1.2. LOKASI PEKERJAAN


Lokasi pekerjaan Pengadaan dan Pemasangan Sarana dan Prasrana Air Bersih Di Banjar Belok
dan Lawak Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.

1.3. URAIAN PEKERJAAN


Pekerjaan pokok yang harus diselesaikan adalah sarana insfrastruktur air bersih di Banjar Belok
dan Lawak Desa Belok Sidan Kecamatan Petang, Kabupaten Badung yang terdiri dari item-
item pekerjaan sebagai berikut :
1. Pekerjaan Persiapan
2. Pekerjaan Bongkaran dan Pengembalian Kondisi
3. Pekerjaan Pembuatan Bak Penangkap mata Air dan Bak Pompa Hidram
4. Pekerjaan Pengadaan dan Pemasangan Pipa serta Accesoris
5. Pekerjaan lain-lain

1.4. GAMBAR – GAMBAR


Gambar-gambar perencanaan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Dokumen Lelang ini
dapat dilihat pada dokumen tersendiri.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-1


Gambar-gambar tersebut meliputi standar-standar dan detail-detail struktur yang mungkin tidak
berhubungan langsung dengan kontrak ini. Apabila Kontraktor ragu-ragu mengenai gambar-
gambar tersebut, maka kontraktor dapat meminta penjelasan dari Direksi Teknik.

1.5. SATUAN-SATUAN PENGUKURAN DAN STANDAR-STANDAR UMUM


Satuan Sistem Internasional (SI) digunakan di proyek ini dan akan digunakan sebagai dasar
perhitungan, perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan.

Satuan SI untuk pengukuran harus digunakan di semua dokumen, seperti surat-menyurat, jadwal
dan gambar-gambar teknis. Pada gambar-gambar atau brosur-brosur yang telah menggunakan
sistem satuan lain harus dicantumkan satuan SI yang setara.Semua ukuran harus menggunakan
satuan metrik. Standar-standar yang dipakai dalam pelaksanaan atau uji coba pekerjaan harus
disebutkan dalam Dokumen Kontrak.

Apabila terdapat singkatan-singkatan seperti tercantum di bawah ini, makasingkatan-singkatan


tersebut berarti sebagai berikut :
AASHTO : American Association State of Highway and TransportationOfficials
ACI : American Concrete Institute
ANSI : American Standard Institute
ASA : American Standard Association
ASTM : American Society for Testing and Materials
AWS : American Welding Society
AWWA : American Water Works Association
BS : British Standard
DIN : Deutsche Industrie Norm
ISO : International Organization for Standarization
IEC : International Electrotechnical Commision
SNI : Standar Nasional Indonesia
SII : Standar Industri Indonesia
JIS : Japanese Industrial Standard
SPLN : Standar Perusahaan Listrik Negara

Kontraktor dengan persetujuan Direksi Teknik, menyediakan bahan-bahan yang memenuhi


persyaratan atau setara dengan Standar Nasional atau Internasional asalkan ia menyatakan
standar mana yang akan digunakan pada waktu pelelangan dan ia menyediakan versi resmi
dalam bahasa inggris dari standar tersebut untuk digunakan oleh Direksi Teknik.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-2


1.6. STANDAR-STANDAR BAHAN

1.6.1. Identitas Barang dan Sertifikat Pabrik


Bahan-bahan yang digunakan dalam Pekerjaan Permanen dan Pekerjaansementara yang
direncanakan/dirancang oleh Perencana harus mengikutiSpesifikasi Standar yang tepat
selama persiapan pekerjaan. Bahan-bahanyang digunakan adalah jenis dan kualitas
yang sama dengan yang telahdiajukan pada saat penawaran.
Kontraktor wajib menyediakan identitas bahan dan sertifikat dari pabrikyang
menyatakan bahwa bahan-bahan tersebut memenuhi standar yangdisyaratkan.
Apabila suatu Standar menyediakan pilihan bagi pembeli untukmenyaksikan pengujian
bahan pada pekerjaan, Direksi Teknik akanmengeluarkan instruksi kepada Kontraktor,
dan Kontraktor akanmengaturnya dengan pihak pabrik.
Bilamana persyaratan ataupersetujuan lain diperlukan, maka Kontraktor dengan
persetujuan tertulisdari PPK boleh menggunakan suatu produk alternatif yang disetujui.

1.6.2. Peninjauan Spesifikasi dan Kesiapan Bahan/Barang ke Pabrik.


Untuk memastikan bahwa spesifikasi dan kesiapan bahan/barang yangakan digunakan
oleh kontraktor dapat diadakan sesuai dengan schedule/jadwal pengiriman
bahan/barang, maka jika diperlukan Direksi Teknik akanmengeluarkan instruksi untuk
melakukan peninjauan ke Pabrikbahan/barang yang bersangkutan untuk melakukan
inspeksi dan pengetesan yang di perlukan. Semua biayayang dikeluarkan menjadi
tanggung jawab kontraktor.

1.6.3. Pengadaan Spesifikasi Standar dan Brosur


Kontraktor harus mengajukan kepada Direksi Teknik untuk dimintakanpersetujuan
mengenai catalog, spesifikasi pabrik, diagram, gambaratau data-data lainnya untuk
seluruh material dan peralatan yang akandigunakan dalam pelaksanaan kontrak.

1.6.4. Contoh-Contoh Bahan


Apabila ditentukan secara khusus dan bilamana diminta oleh Direksi Teknik,Kontraktor
harus menyerahkan contoh-contoh bahan yang akan digunakankepada Direksi Teknik.
Bahan-bahan yang dipergunakan dalam pelaksanaan nantinya harus samadengan
contoh bahan yang diajukan dan telah disetujui Direksi Teknik, baikmutu, warna,
dimensi dan segala aspek yang berkaitan dengan bahantersebut.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-3


1.7. PROGRAM DAN URUTAN KONSTRUKSI
Sebelum memulai pekerjaan di setiap lokasi, Kontraktor harus memberitahu Direksi Teknik dan
Penguasa Wilayah tempat pekerjaan dilangsungkan,sehingga penduduk setempat mengetahui
akan adanya kegiatan konstruksi serta kemungkinan dibuat pengaturan jalan alternatif.

Kontraktor juga harus menyiapkan hal-hal sebagai berikut :


• Program yang memperlihatkan urutan prosedur pelaksanaan pekerjaan.
• Peralatan instalasi kerja (construction plant) yang akan dipakai termasuk
pembuatannya, tipe dan kapasitasnya.
• Struktur Organisasi Lapangan
• Tenaga buruh / pekerja yang dipekerjakan.
• Senior staff, Staf Ahli Suplier dan Spesialis yang dipekerjakan.
• Rancangan detail metode pelaksanaan pekerjaan sementara danpenggalian termasuk
penguatan (shoring dan bracing) untuk lubang – lubang sumuran, parit-parit dan
sebagainya, termasuk juga perhitungan beban dan tegangannya.
• Rencana pengeluaran biaya dalam bentuk grafik yang memperlihatkan akumulasi
pengeluaran biaya terhadap waktu.

Apabila Kontraktor tidak dapat memberikan informasi tersebut di atas,maka kontraktor tidak
akan diperbolehkan untuk memulai pekerjaan.

1.8. PERSONIL KONTRAKTOR DI LAPANGAN


1.8.1 Wakil Kontraktor
Wakil Kontraktor di lapangan harus sesuai dengan struktur organisasi
yangditawarkan.

1.8.2 Kehadiran untuk Direksi Teknik


Kontraktor harus menyediakan pekerja yang perlu selalu hadir dikantor/lapangan,
termasuk penjaga malam, pekerja/buruh untukmembersihkan peralatan dan untuk
membantu Direksi Teknik dalammengukur, mengawasi, memeriksa, menguji atau
setting out pekerjaanKontraktor setiap saat pada siang atau malam hari selama
pelaksanaanKontrak.

1.9. PENYEDIAAN LISTRIK, AIR BERSIH DAN TELEPON.


Kontraktor harus menyediakan/memasok listrik, air dan telepon selamapelaksanaan
pekerjaan.Semua biaya yang dikeluarkan untuk keperluan tersebut harus sudahtermasuk
kedalam harga satuan penawaran.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-4


1.10. RAPAT-RAPAT LAPANGAN
Selama pelaksanaan pekerjaan, harus diadakan rapat-rapat kemajuanpekerjaan di lapangan
secara teratur dan berkala dengan dihadiri olehDireksi Teknik. Risalah-risalah rapat lapangan
tersebut akan disimpan dansalinan-salinannya dibagikan kepada semua peserta rapat
yangberkepentingan dan semua keputusan yang dibuat sepenuhnyadipengaruhi oleh hasil rapat-
rapat lapangan ini.

1.11. INFORMASI KEPADA DIREKSI TEKNIK


Kontraktor harus segera melapor kepada Direksi Teknik atas setiap masalahyang dihadapi yang
berpotensi menghambat penyelesaian pekerjaan,untuk bersama-sama mencari solusi
pemecahannya.

1.12. LEMBUR DAN WAKTU TAK PRODUKTIF


Apabila Kontraktor menganggap perlu melakukan pekerjaan di luar jamkerja normal untuk
menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang telahdisepakati, atau untuk tujuan lain, ia harus
mendapat ijin dari Direksi Tekniksebelum melaksanakannya. Biaya atas pekerjaan semacam itu
seluruhnyamerupakan beban Kontraktor yang harus mengikuti persyaratanperburuhan setempat.

Kontraktor harus menanggung semua biaya yang dikeluarkan akibat waktutak produktif dan
semua pengeluaran yang berhubungan dengan kerja lembur.

1.13. KERJA MENERUS


Apabila menurut pendapat Direksi Teknik perlu demi keselamatanpekerjaan atau untuk
mempercepat pekerjaan struktur atau perlintasan - perlintasanjalan-jalan utama atau sungai
dan saluran, Kontraktor harusmelakukan sebagian pekerjaan secara menerus tersebut siang
dan malam.

1.14. PENGUNJUNG - PENGUNJUNG RESMI


Kontraktor harus setiap saat memberikan jalan dan segala fasilitas kepadasetiap orang yang
ditunjuk oleh pihak Pemberi Tugas, setiap wakil dariPemerintah atau setiap orang yang
ditunjuk oleh Pemerintah yang inginmeninjau atau melakukan pemeriksaan atas setiap
bagian Pekerjaan ataumaterial yang termasuk didalamnya.
Kontraktor harus menyediakan buku tamu dan buku direksi agar sewaktu-waktudireksi
Teknis dapat memberikan tanggapan atas pekerjaan yangdilaksanakan kontraktor.

1.15. KEAMANAN DAN KENYAMANAN UMUM

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-5


Kontraktor harus selalu melakukan pekerjaannya sedemikian rupa untukmenjamin
kemungkinan gangguan ketidaknyamanan lalu lintas terkecilkepada masyarakat umum dan
memberikan perlindungan yang cukupkepada orang-orang serta tanah milik orang lain di
sekitar pekerjaan. Tidakboleh ada jalan yang ditutup untuk umum tanpa mendapat ijin
terlebihdahulu dari Direksi Teknik dan Badan Pemerintah yang berwenang.
Apabila galian dilakukan di jalan, satu lajur harus selalu terbuka untuk lalulintas kecuali
bila disyaratkan lain atau diperlihatkan. Perlengkapansementara harus disediakan/dibuat
untuk menjamin sistem drainase yangbenar.

1.16. PEMBONGKARAN, KERUSAKAN TAK SENGAJA DAN PERBAIKAN


Kontraktor harus bertanggung jawab untuk keselamatan bangunanbangunan,dinding dan
pagar yang berada di dekat penggalian. Ia harusmemberikan perhatian pada pekerjaan
sementara yang diperlihatkan dalamgambar. Kontraktor harus menyerahkan perhitungan-
perhitungan dangambar-gambar untuk memperlihatkan kecukupan semua
pekerjaansementara misalnya pit shoring danbracing dan ini harus disetujui oleh Direksi
Teknik sebelum pekerjaandimulai.
Setiap pekerjaan atau struktur didekatnya (rumah, toko, kantor, fasilitasumum, bangunan
suci, dsb.) yang rusak akibat pekerjaan Kontraktor harusdiganti oleh Kontraktor dan
dikembalikan ke kondisi semula.

1.17. HAK ATAS BENDA-BENDA YANG DIKETEMUKAN DI PEKERJAAN


Pemberi tugas dibenarkan untuk memperoleh hak atas semua kayu, tanah,bata, pasir,
kerikil dan semua benda seperti benda-benda arkeologi yangditemukan dan didapat dari
penggalian dan dari pengoperasian lain yangberhubungan dengan Pekerjaan.

1.18. PERLINTASAN DAN PEKERJAAN PADA JALAN-JALAN UTAMA


Semua pekerjaan pada jalan-jalan utama harus mendapat persetujuaninstansi terkait. Harga
satuan dalam penawaran Kontraktor harus dianggapmemasukkan semua pekerjaan yang
diperlukan sesuai dengan peraturan-peraturanyang dikeluarkan oleh instansi terkait.

1.19. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


Selama masa Kontrak, Kontraktor harus mentaati setiap peraturan yangberlaku di negara
Republik Indonesia yang mempengaruhi kondisi kerja,keselamatan dan kesehatan setiap
Kontraktor, Direksi Teknik atau PemberiTugas.
Kontraktor harus mentaati prosedur-prosedur yang lazim yang dilakukanuntuk
keselamatan para pekerja, orang-orang yang berdiri di dekatpekerjaan dan lalu lintas.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-6


Metoda pelaksanaan keselamatan kerja secara tertulis harus dipersiapkandengan baik
sebelum pekerjaan dimulai, dengan mengacu kepadaperaturan menteri pekerjaan umum
no: 05/PRT/M/2014 tentang pedomansistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
(SMK 3) konstruksibidang pekerjaan umum, dan peraturan lain yang terkait. Pada
metodapelaksanaan keselamatan ditekankan persyaratan sebagai berikut :
1. Semua galian harus ditopang secukupnya untuk mencegah longsor danharus diberi
sekat-sekat pelindung keselamatan serta tanda-tandaperingatan dan bendera.
2. Sebelum memulai setiap pekerjaan di jalan raya, terlebih dahulu harusditempatkan
tanda-tanda peringatan, pengalihan dan pengendalian lalulintas kendaraan dan pejalan
kaki yang harus mendapat persetujuanDireksi Teknik dan kepolisian setempat.
3. Semua pekerjaan di jalan raya dan jalan setapak umum harus dilengkapidengan lampu
pada malam hari yang harus dipelihara oleh petugaspatroli malam dan/atau penjaga
malam.
4. Untuk pekerjaan perlintasan jalan, Kontraktor mungkin diminta untukmelakukan
pekerjaannya pada malam hari dan harus disediakan penutupparit sementara sehingga
lalu lintas pada siang hari dapat berjalandengan lancar diatasnya tanpa terganggu.
5. Semua pekerja, personil-personil yang melakukan peninjauan ataupemeriksaan setiap
bagian pekerjaan harus dilengkapi dan diwajibkanmengenakan perlengkapan
keamanan seperti helm, sarung tangan,sepatu, masker pernafasan, perlengkapan
ventilasi dan pakaian pelindunglain atau perlengkapan lain yang dianggap perlu oleh
Direksi Teknik.
6. Semua instruksi dan rekomendasi dari pabrik mengenai penggunaan,penerapan,
pemasangan atau pembangunan setiap bahan atau bagianperlengkapan harus diikuti
dengan benar dan tepat.

Perlindungan terhadap semua pekerja harus diperhatikan benar-benarterutama bila


menggunakan alat-alat atau benda-benda yangmenggunakan kekuatan (power tools) yang
akan menghasilkan debuhalus. Operator harus berdiri melawan arah angin pengoperasian
danmengenakan respirator (alat bantu pernafasan) dan kaca mata pelindungyang disetujui.

Semua bagian dari roda gigi (working gear) baik yang permanenterpasang maupun yang
dapat dipindahkan termasuk penerapan danpemasangan setiap crane dan mesin pengangkat
harus mempunyaikonstruksi, bahan dan kekuatan yang baik dan harus dipelihara
denganbaik dan benar. Semua bagian/komponen dan roda gigi harus diuji olehorang yang
cakap/kompeten sekurang-kurangnya sekali setiap 12 (duabelas) bulan.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-7


Pencatatan/penyusunan daftar semua perlengkapan tersebut danpengujiannya harus selalu
diperbaharui oleh Kontraktor dan harus dapatdiperiksa oleh Direksi Teknik setiap saat.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-8


1.20. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Pelaksana wajib menyediakan medan/tempat kerja dan daerah kerja termasuk sewa tanah yang
diperlukan dan pembersihan medan kerja.
2. Sebelum kegiatan fisik dimulai Pelaksana harus :
- Melaksanakan uitzet, pengukuran dengan pesawat ukur, untuk mendapatkan gambar Mutual
Check awal (MC 0)
- Memasang patok-patok tetap, patok-patok bantu, bouwplank profil yang peil-peilnya
diambil dari peil pokok.
3. Setelah uitzet selesai dikerjakan, Pelaksana harus segera meminta Direksi mengeceknya.
4. Pelaksana harus membersihkan lapangan kerja untuk saluran dan bangunan yang ada dari semua
tumbuh-tumbuhan dan bambu, termasuk pohon-pohon dan semua rintangan-rintangan
permukaan, kecuali gedung-gedung dan bangunan-bangunan.
5. Jika diperintahkan secara tertulis oleh Direksi, Pelaksana harus membersihkan lapangan dari
pohon-pohon dengan ukuran keliling lebih dari 0,75 meter, gedung-gedung dan bangunan-
bangunan. Pelaksana harus membongkar akar-akar kemudian mengisi lubang-lubang dengan
dipadatkan dan memindahkan dari tempat semua bahan yag timbul akibat pembersihan
lapangan.

1.21. GAMBAR RENCANA PELAKSANAAN DAN GAMBAR DETAIL


1. Pelaksanaan fisik konstruksi harus dikerjakan sesuai dengan gambar rencana pelaksanaan
(gambar bestek) dan gambar detail yang telah disetujui Pejabat Pembuat Komitmen.
2. Gambar detail yang belum ada harus dibuat Pelaksana sendiri dan dimintakan persetujuan
Pejabat Pembuat Komitmen.
3. Apabila terdapat ketidaksesuaian antara gambar pelaksanaan (gambar bestek) dengan gambar
detail maka gambar detail yang telah mendapat persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen lebih
mengikat.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-9


4. Apabila terdapat ketidaksamaan antara gambar dengan keadaan di lapangan, Pelaksana harus
memberitahukannya kepada Direksi untuk penetuan lebih lanjut.
5. Disamping gambar konstruksi yang telah ada, gambar revisi/perubahan/penyempurnaan selama
pelaksanaan apabila sudah disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen, mengikat untuk
penyelesaian pekerjaan.
6. Pekerjaan yang dilaksanakan tidak berdasarkan gambar yang telah disetujui oleh Pejabat
Pembuat Komitmen menjadi tanggungan Pelaksana sendiri. Terhadap hal ini Direksi berhak
agar pekerjaan tersebut dibongkar dan Pelaksana wajib membetulkannya. Dalam hal Pelaksana
melaksanakan pekerjaan di luar ketentuan tanpa persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen maka
hasil fisik pekerjaan tidak dapat diperhitungkan dalam pembayaran pekerjaan. Hal ini menjadi
tanggungan Pelaksana sendiri.
7. Gambar terbangun/As Built Drawing :
- Setiap selesainya satu bagian pekerjaan, terutama yang berkaitan dengan pengajuan
permintaan pembayaran/termin atas hasil fisik pekerjaan Pelaksana wajib membuat gambar
terbangun (As Built Drawing) yang mendapat persetujuan oleh Direksi/ Pejabat Pembuat
Komitmen.
- Gambar tersebut butir diatas, berkelanjutan sampai pekerjaan selesai 100%.
- Sebagai kelengkapannya dibuat Berita Acara atas gambar terbangun tersebut.

1.22. UKURAN
1. Ukuran-ukuran patok dapat dilihat pada gambar pelaksanaan. Ukuran-ukuran yang belum
tercantum atau kurang jelas dapat ditanyakan pada Direksi.
2. Apabila terdapat ketidaksesuaian antara spesifikasi teknis dengan gambar rencana maka
spesifikasi teknis lebih mengikat.
3. Apabila terdapat ketidaksesuaian antara skala gambar dengan angka ukuran yang tercantum
maka ukuran yang mengikat dengan urutan :
- Ukuran tertulis
- Ukuran skala gambar
4. Apabila ukuran dalam gambar pelaksanaan tidak sesuai dengan keadaan di lapangan, Pelaksana
harus memberitahukan kepada Direksi untuk penentuan selanjutnya.

1.23. IJIN KERJA


1. Untuk memulai pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana memperoleh Surat perintah Mulai Kerja
(SPMK) dari Pejabat Pembuat Komitmen.
2. Pelaksana wajib memberitahukan/melaporkan kepada pemerintah/penguasa setempat tentang
rencana kegiatan pelaksanaan pekerjaan.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-10


1.24. RENCANA KERJA
1. Selambat-lambatnya 7(tujuh) hari kalender terhitung dari tanggal penunjukan/penetapan
pemenang pelelangan Pelaksana harus sudah menyerahkan program/rencana kerja terperinci
untuk pelaksanaan pekerjaan, dan data personil yang akan ditugaskan.
2. Rencana Kerja berupa Time Schedule secara detail yang dilengkapi dengan :
- Rencana pengerahan tenaga.
- Rencana penggunaan peralatan.
- Volume kegiatan bagian-bagian pekerjaan.
- Rencana penggunaan bahan bangunan.
- Gambar tahapan kegiatan pekerjaan dan lain-lain.
- Dilengkapi dengan grafik (curves) rencana kemajuan pekerjaan.
3. Rencana kerja diatas dibuat oleh Pelaksana dan dimintakan persetujuan Pejabat Pembuat
Komitmen. Persetujuan terhadap rencana kerja ini tidak membebaskan Pelaksana dari tanggung
jawabnya.
4. Apabila diperlukan, Pelaksana wajib mengadakan penyempurnaan atas rencana kerja tersebut
atau sehubungan dengan adanya keterlambatan, perubahan-perubahan pelaksanaan, dengan
persetujuan Direksi. Pelaksana dapat menyusun kembali rencana kerjanya.

1.25. KETERLAMBATAN PEKERJAAN


1. Keterlambatan penyerahan pekerjaan terhitung dari batas waktu pelaksanaan, Pelaksana
dikenakan denda sebesar 1/1.000 (1 permil) dari Nilai Kontrak untuk setiap hari kelambatan.
2. Apabila prestasi pekerjaan mengalami kelambatan mencapai batas - batas yang ditetapkan
dalam peraturan yang berlaku, maka hubungan kontrak antara Pihak I dengan Pihak II akan
diputuskan, dan Pihak I berhak menunjuk Pihak III untuk menyelesaikan pekerjaan selanjutnya.

1.26. DIAGRAM DAN GRAFIK KEMAJUAN PELAKSANAAN


1. Pelaksana harus membuat :
- Diagram/bagan yang menunjukkan bagian-bagian kegiatan yang sudah
dilaksanakan/diselesaikan.
- Grafik-grafik kemajuan pekerjaan.
- Grafik-grafik tenaga kerja, bahan bangunan.
- Data pendukung lainnya.
2. Diagram kegiatan dan grafik-grafik di atas diplot setiap minggu.
3. Semua hal di atas harus sudah ditempel di Direksi Keet selambat-lambatnya 20 (dua puluh) hari
kalender terhitung dari penunjukan pekerjaan.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-11


1.27. PERUBAHAN GAMBAR DAN DESAIN
1. Gambar Kontrak
Gambar yang telah disiapkan oleh Pemilik Pekerjaan merupakan bagian dari dokumen kontrak.
Selama pekerjaan berlangsung, penambahan atau perubahan gambar desain akan disampaikan
oleh Direksi sesuai dengan keperluan untuk melengkapi kekurangan gambar desain yang ada
dan merupakan bagian dari dokumen kontrak.
2. Gambar yang perlu disiapkan oleh Pelaksana
Jika tidak disebutkan dalam dokumen, Pelaksana harus menyiapkan gambar pelaksanaan (shop
drawing) yang cukup jelas dan detail untuk pelaksanaan pekerjaan termasuk pekerjaan
sementara dan Gambar terlaksana (as built drawing) untuk semua pekerjaan yang telah
dilaksanakan. Direksi akan memberikan informasi kepada Pelaksana, terkait dengan gambar
pelaksanaan, seperti :
- Situasi, dimensi dan ukuran dari bagian-bagian pekerjaan.
- Keadaan dan bahan-bahan/material dari berbagai bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan.
Setiap ada perubahan harus dilaporkan dan dikirimkan kepada Direksi untuk mendapatkan
persetujuan.

1.28. JAM KERJA


1. Pelaksana menentukan sendiri jam kerja bagi petugas dan pekerja yang dikerahkan untuk
melaksanakan pekerjaan ini, dengan mengingat peraturan perburuhan yang berlaku.
2. Dalam rangka mempercepat penyelesaian pekerjaan agar dapat mencapai target pelaksanaan
fisik tepat pada waktunya atau pun karena sifat/syarat pelaksanaan pekerjaan tidak boleh
terputus maka Pelaksana dapat melaksanakan pekerjaan di luar jam kerja/lembur.
3. Dalam hal Pelaksana akan bekerja di luar jam kerja/lembur maka Pelaksana harus
memberitahukan kepada Direksi pekerjaannya secara tertulis sekurang-kurangnya 24 jam
sebelumnya.

1.29. BAHAN/MATERIAL BANGUNAN UNTUK PELAKSANAAN PEKERJAAN


1. Mendatangkan bahan-bahan ke lokasi pekerjaan:
- Dalam mendatangkan bahan-bahan guna pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana harus
melaporkannya kepada Direksi untuk diperiksa kesesuaiannya dengan yang diusulkan.
Segala biaya dan tanggung jawab pengadaan bahan-bahan ini menjadi beban Pelaksana
sepenuhnya.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-12


- Bahan-bahan yang setelah diperiksa Direksi dapat diterima/disetujui, maka bahan tersebut
masuk di gudang Job Site dan di bawah pengawasan Direksi pekerjaan, tidak boleh ditarik
keluar guna pekerjaan Pelaksana yang lain, kecuali atas persetujuan tertulis atas Direksi.
- Bahan-bahan yang didatangkan di lokasi pekerjaan tetapi tidak memenuhi persyaratan dan
ditolak Direksi, harus dibawa keluar lokasi pekerjaan dengan batas waktu paling lama tiga
hari terhitung dari keputusan penolakan oleh Direksi. Biaya pengeluaran bahan tersebut
menjadi beban Pelaksana. Bila Pelaksana dengan sengaja membiarkan bahan-bahan afkir
tersebut di lokasi pekerjaan maka Pelaksana dikenakan denda kelalaian.
- Penggantian merk/kualitas bahan bangunan harus mendapat persetujuan Pejabat Pembuat
Komitmen.

2. Pemeriksaan bahan bangunan dan kualitas pekerjaan.


- Pemeriksaan bahan oleh Direksi didasarkan syarat-syarat bahan seperti tersebut dalam Bab
II Spesifikasi Teknis ini.
- Apabila dipandang perlu, Pejabat Pembuat Komitmen berhak meminta kepada Pelaksana
untuk memeriksakan kualitas pekerjaan ke Laboratorium dengan biaya ditanggung oleh
Pelaksana.
- Direksi/Petugas Proyek berhak mengadakan pemeriksaan ulang terhadap bahan-bahan yang
sudah diterima. Dan bila dari hasil pemeriksaan ulang ternyata memang tidak memenuhi
syarat dan harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan seperti yang telah disebutkan di atas.

3. Penggunaan bahan-bahan yang belum diperiksa.


Apabila Pelaksana menggunakan/memasang bahan-bahan yang belum diperiksa oleh Direksi,
dan apabila Direksi meragukan kualitas bahan tersebut, maka Direksi berhak memerintahkan
untuk membongkar pekerjaan tersebut. Biaya akibat pembongkaran ini menjadi tanggungan
Pelaksana.

1.30. PEMERIKSAAN PEKERJAAN


1. Pelaksana wajib minta kepada Direksi/Petugas Proyek untuk memeriksa pekerjaan yang telah
dikerjakan sebelum mulai pelaksanaan selanjutnya.
2. Bila Direksi Pekerjaan, Petugas Proyek menganggap perlu untuk memeriksa pekerjaan atau bila
Pelaksana memintanya secara tertulis untuk penyerahan seluruh pekerjaan, sebagian pekerjaan
atau guna permintaan pembayaran, maka Pelaksana atau pelaksana harus hadir di tempat
pekerjaan selama waktu pemeriksaan.
3. Hasil pemeriksaan ditulis pada laporan hasil pemeriksaan yang ditandatangani oleh kedua belah
pihak yang memeriksa.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-13


1.31. LAPORAN KEMAJUAN PEKERJAAN
1. Pelaksana wajib menyediakan buku harian. Buku Harian tersebut harus diisi setiap hari dan
ditandatangani bersama-sama oleh Pelaksana dan Pengawas Lapangan. Pada serah terima
pekerjaan selesai/penyerahan pertama kalinya, buku-buku tersebut harus diserahkan kepada
Dinas Pekerjaan Umum Bidang Cipta Karya Kabupaten Badung.

2. Buku harian dibuat/diisi setiap hari untuk mencatat hal-hal sebagai berikut :
- Catatan tenaga kerja yang terdiri dari : jumlah pekerja, mandor, tukang, kepala tukang serta
tenaga personalia dari Pelaksana sendiri.
- Catatan bahan meliputi : stock bahan yang datang, bahan yang ditolak dan bahan yang
digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan.
- Jumlah alat yang dioperasikan maupun yang tidak.
- Jenis kegiatan bagian konstruksi yang dilaksanakan pada hari tersebut.
- Hasil fisik pekerjaan yang dicapai.
- Keadaan cuaca (hujan, banjir, dan lain-lain).
3. Pencatatan dalam Buku Harian dibuat oleh petugas Pelaksana dan diperiksa/diketahui
kebenarannya oleh Pengawas Pekerjaan dengan memberi paraf tiap hari.
4. Pelaksana wajib membuat laporan harian, laporan mingguan dan laporan bulanan dalam
rangkap 5 (lima) yaitu untuk :
- 1 (satu) lembar untuk Kepala Pelaksana Teknik.
- 1 (satu) lembar untuk PPK bersangkutan.
- 1 (satu) lembar untuk Arsip Pelaksana.
- 1 (satu) lembar untuk Direksi Pekerjaan.
- 1 (satu) lembar untuk Pengawas Lapangan.
Laporan dimaksudkan didasarkan pada Buku Harian Pelaksanaan. Laporan harus
ditandatangani oleh Pelaksana dan Direksi. Laporan Mingguan yang dilampiri Laporan Harian
diserahkan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari setelah akhir minggu yang bersangkutan dan
Laporan Bulanan diserahkan selambat-lambatnya pada tanggal 5 pada bulan berikutnya.
5. Kemajuan pekerjaan harus didokumentasikan dengan foto sekurang-kurangnya :
- Kemajuan Fisik 0%
- Kemajuan Fisik 25%
- Kemajuan Fisik 50%
- Kemajuan Fisik 100%
Setelah masa pemeliharaan berakhir/penyerahan kedua.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-14


Setiap masa pengambilan foto dibidik dari posisi dengan titik pengambilan yang tetap. Foto
dicetak rangkap 2 dengan ukuran 3R dan disusun pada album.
Disamping foto-foto kemajuan pekerjaan, pelaksana wajib mengambil foto pada keadaan
tertentu misalnya kerusakan konstruksi yang sudah dikerjakan, dan lain-lain dan pada pekerjaan
selesai 100% menyerahkan foto 0,50 x 0,60 berfigura 2 (dua) buah. Foto yang diserahkan
disertai pita film (klise) bila menggunakan kamera analog atau CD File format JPEG / BMP
bila menggunakan kamera digital. Selain itu, pelaksana wajib menyerahkan video pelaksanaan
pekerjaan.
6. Sertifikat Bulanan/Monthly Certificate.
Setiap bulan sekali Direksi wajib mengadakan opname pekerjaan yang kemudian dituangkan ke
dalam Sertifikat Bulanan yang dibuat bersama Pengawas Lapangan serta disetujui Pelaksana.
Meskipun pekerjaan telah diterima pada Sertifikat Bulanan, namun Pelaksana tetap wajib
memelihara dan membetulkan apabila ada kerusakan sampai dengan saat penyerahan yang
kedua.

1.32. PEKERJAAN YANG TIDAK LANCAR


1. Bagi pekerjaan yang tidak lancar yang tidak sesuai dengan rencana kerja, terlalu lambat atau
terhenti sama sekali, maka Direksi Pekerjaan akan memberikan peringatan-peringatan/teguran-
teguran secara tertulis kepada Pelaksana.
2. Apabila Pelaksana ternyata dengan sengaja tidak mengindahkan peringatan-peringatan tersebut
diatas dan telah cukup diberi peringatan dan teguran-teguran tertulis 3 kali berturut-turut, maka
PPK bersangkutan berhak melakukan pemutusan kontrak secara sepihak.

1.33. PEKERJAAN TAMBAH KURANG


1. Pekerjaan tambah dan kurang hanya boleh dilakukan oleh Pelaksana atas perintah tertulis
Pejabat Pembuat Komitmen.
2. Pekerjaan tambah yang dilakukan oleh Pelaksana di luar ketentuan tersebut poin diatas ini
sepenuhnya menjadi tanggungan Pelaksana.

1.34. ALAT DAN PERALATAN KERJA PELAKSANA


1. Pelaksana harus dan wajib menyediakan sendiri semua jenis alat peralatan maupun
perlengkapan kerja yang diperlukan untuk kegiatan pelaksanaan pekerjaan.
2. Alat peralatan dimaksud harus dalam keadaan siap dipakai, kerusakan yang terjadi selama
pelaksanaan agar segera diperbaiki atau dicarikan penggantinya.
3. Biaya angkut, pengadaan maupun biaya operasional semua peralatan menjadi tanggungan
Pelaksana.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-15


4. Pelaksana wajib menyediakan tambahan peralatan jika peralatan yang ada dinilai tidak
mencukupi.
5. Keamanan alat selama pelaksanaan menjadi tanggung jawab Pelaksana sendiri.

1.35. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


Selama masa Kontrak, Kontraktor harus mentaati setiap peraturan yangberlaku di negara Republik
Indonesia yang mempengaruhi kondisi kerja,keselamatan dan kesehatan setiap Kontraktor, Direksi
Teknik atau PemberiTugas.
Kontraktor harus mentaati prosedur-prosedur yang lazim yang dilakukann untuk keselamatan para
pekerja, orang-orang yang berdiri di dekatpekerjaan dan lalu lintas.
Metoda pelaksanaan keselamatan kerja secara tertulis harus dipersiapkandengan baik sebelum
pekerjaan dimulai, dengan mengacu kepadaperaturan menteri pekerjaan umum no :
05/PRT/M/2014 tentang pedomansistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK 3)
konstruksibidang pekerjaan umum, dan peraturan lain yang terkait.
1. Keselamatan Kerja
Pelaksana harus memperhatikan secara penuh terhadap resiko terjadinya kecelakaan yang
mungkin terjadi selama proyek berlangsung dan selalu memperhatikan keamanan sebagai faktor
utama dalam melaksanakan pekerjaan dan keselamatan semua milik proyek yang ada di lokasi.
2. Pelaksana harus mengikuti peraturan-peraturan mengenai pencegahan kecelakaan dan
keamanan yang berlaku. Dalam hal ini harus mengikutkan tenaga kerja yang dikerahkan dalam
program Astek (Asuransi Tenaga Kerja).
3. Pelaksana wajib menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi pekerjanya sesuai dengan tingkat
bahaya yang mungkin terjadi, dan kotak PPPK berikut perlengkapan standar serta Obat-obatan
yang dibutuhkan.
4. Bahaya Kebakaran
Pelaksana harus memperhatikan secara penuh terhadap masalah pencegahan bahaya kebakaran.
Pelaksana harus memadamkan api bila timbul kebakaran dengan mengerahkan semua tenaga
dan peralatan yang ada di lokasi.
5. Rambu-rambu K3
Pelaksana wajib memasang rambu-rambu K3 seperti diuraikan pada point 22.

1.36. PAPAN NAMA PEKERJAAN

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-16


1. Pelaksana harus membuat papan nama pekerjaan ukuran 0.8 x 1.2 m dengan bentuk dan format
tulisan standar dari Sub Dinas Cipta Karya Kabupaten Badung, dipasang ditepi jalan atau
tempat yang mudah dilihat, atau sesuai petunjuk direksi
2. Papan nama pekerjaan harus sudah dipasang sebelum pekerjaan dimulai
3. Segala biaya untuk pengadaan dan pemasangan papan nama menjadi tanggungan kontraktor

1.37. DIREKSI KEET, BARAK KERJA DAN GUDANG


1. Pelaksana sebelum memulai kegiatan fisik harus sudah menyiapkan Direksi keet dengan ukuran
minimal 4 x 6 m2 dengan ketentuan minimal :
- Konstruksi kayu
- Atap asbes gelombang
- Lantai beton tumbuk 5 cm
- Dinding papan atau kayu lapis /tripleks
- Jendela
2. Kantor pelaksana berukuran 3 x 4 m dengan kondisi sebagaimana Direksi Keet.
3. Gudang berukuran secukupnya dengan persyaratan pada umumnya dan menjamin keamanan
dan kualitas terhadap bahan bahan yang ditempatkan.
4. Barak kerja harus dapat menjamin keselamatan dan keamanan pekerja, serta terjamin terhadap
kesehatan.
5. Kelengkapan yang harus ada pada direksi keet:
- Gambar konstruksi pekerjaan
- Gambar tahap-tahap pelaksanaan
- Time schedule, barchart dengan kurve S
- Data pekerjaan, laporan cuaca dan lain-lain
- Meja tulis ½ biro 2 buah dengan kursi seperlunya
- Meja Rapat dan kursi (minimal 8 buah)
- Alat tulis / alat gambar
- Papan tulis dan papan tempel gambar pelaksanaan dan grafik-grafik
- Buku direksi , buku tamu, buku harian pelaksanaan
- Meja / kursi tamu 1 set ( bambu)
6. Direksi keet, gudang dan barak kerja harus berada dekat dengan lokasi pekerjaan, mudah
dijangkau, dan dapat mendukung kelancaran pekerjaan di lapangan.
7. Segala biaya yang berhubungan dengan direksi keet, barak dan gudang menjadi tanggungan
Pelaksana/Kontraktor.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-17


8. Bila ditentukan lain, Pelaksana dapat melakukan perjanjian sewa – menyewa dengan pihak
ketiga untuk bangunan-bangunan tersebut, dengan ketentuan sesuai persyaratan dan disetujui
oleh Direksi.

1.38. RAMBU-RAMBU PENGAMAN


1. Pelaksana wajib memasang rambu–rambu pengaman untuk pekerjaan yang berada pada
kawasan lalu-lintas umum orang / kendaraan untuk keselamatan umum.
2. Rambu-rambu tetap (2 buah) dipasang pada ujung-ujung lokasi pekerjaan dengan memakai
standar rambu lalu lintas yang sesuai dilengkapi tanda atau tulisan yang jelas, dimengerti dan
mudah dibaca khususnya pada malam hari.
3. Rambu-rambu tidak tetap dipasang pada daerah yang ada galian yang masih menganga/belum
diurug. Bahan menggunakan papan/kayu yang tahan terhadap perubahan cuaca, serta
tanda/tulisan dapat dilihat dengan jelas. Penyangga kaki menggunakan balok kayu sehingga
rambu dapat kokoh berdiri dan mudah untuk dipindahkan.
4. Jumlah rambu tidak tetap disesuaikan kondisi lapangan, minimal harus ada sebanyak 2(dua)
buah.
5. Galian yang menganga pada daerah bahu jalan agar diisi pengaman sehingga tidak
membahayakan pengguna jalan. Bahan menggunakan papan kayu dipasang sejajar jalan dengan
penyangga usuk atau ketentuan lain sesuai petunjuk direksi.
6. Segala biaya untuk pengadaan dan pemasangan rambu menjadi tanggungan kontraktor.

SPESIFIKASI TEKNIS – INFORMASI UMUM I-18


BAB II
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN UMUM

2.1. ASURANSI
Kontraktor harus mengasuransikan hal-hal sebagai berikut :
1. Asuransi pekerjaan dan peralatan Kontraktor
Kontraktor harus mengasuransikan pekerjaan termasuk juga bahan-bahandan peralatan
yang digunakan dengan biaya penggantian penuh.Disamping itu kontraktor juga harus
mengadakan asuransi untuk setiapkerusakan dan kehilangan peralatan termasuk saat
mobilisasi dandemobilisasi ke lapangan.
Kontraktor juga harus mengasuransikan harta milik termasuk material danperlengkapan
yang disediakan oleh Pemerintah terhadap semua bentukkerugian dan kerusakan
2. Asuransi pihak ketiga
Kontraktor harus menyediakan asuransi untuk pihak ketiga yangmengakibatkan luka/cacat,
kematian dan kehilangan properti yangdisebabkan oleh pelaksanaan kontrak ini.
3. Asuransi terhadap kecelakaan tenaga kerja
Kontraktor harus mengasuransikan secara keseluruhan dan terus menerusterhadap setiap
orang yang dipekerjakannya dan juga mewajibkankepada subkontraktor untuk
menyediakan asuransi yang sama.

2.2. IJIN-IJIN PELAKSANAAN


Kontraktor harus mendapat jaminan dari lembaga-lembaga yang mempunyai kekuatan hukum
mengenai ijin-ijin untuk melakukan kegiatan yang menimbulkan gangguan, membuat galian
apabila diperlukan berdasarkan Kontrak, dan melanggar batas wilayah kerja serta
memperlihatkan bukti kepada Direksi Pekerjaan bahwa ijin-ijin tersebut telah terjamin
sebelum setiap pekerjaan dimulai. Peraturan-peraturan dan persyaratan-persyaratan semua
Lembaga terkait harus ditaati dalam pelaksanaan Kontrak ini,termasuk melengkapi asuransi-
asuransi / jaminan-jaminan dan surat- suratobligasi (bonds) apabila diperlukan oleh lembaga-
lembaga tersebut.
Pelaksanaan syarat-syarat di bawah kontrak ini tidak boleh dijadikan dasaruntuk mengajukan
tuntutan atas kompensasi tambahan.
Kontraktor juga bertanggung jawab atas segala ijin-ijin untuk pengangkutan, penempatan dan
pembuangan tanah dan atau bekas galian baik sementaramaupun tetap serta semua pekerjaan
lain yang dibutuhkan untukmenyelesaikan pekerjaan ini.

Kontraktor tidak boleh melakukan setiap pekerjaan yang akan mempengaruhi pipa-pipa
minyak, gas, air limbah atau air minum, jalur transmisi telepon, telegraf, atau listrik, pagar
II - 1
SPESIFIKASI TEKNIS – KEWAJIBAN-KEWAJIBAN UMUM
atau struktur lain dan atau memulai kegiatan pekerjaan yang termasuk dalam Kontrak, sampai
Direksi Pekerjaan mendapat pemberitahuan bahwa Instansi yang mempunyai wewenang telah
menjamin atas hal tersebut. Setelah mendapat jaminan, Kontraktor harus memberitahu
Instansi tersebut bahwa ia bermaksud memulai pekerjaan.

2.3. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Tidak ada pembayaran khusus dan terpisah yang dilakukan untukmelaksanakan kewajiban-
kewajiban umum yang dijelaskan pada bab2 ini.
Biaya untuk penyediaan dan pelaksanaan kewajiban-kewajiban umum ini telah
diperhitungkan dalam item-item pada bab lain pada spesifikasi teknis ini.

II - 2
SPESIFIKASI TEKNIS – KEWAJIBAN-KEWAJIBAN UMUM
BAB III
PEKERJAAN SEMENTARA

3.1. LOKASI
Area yang digunakan Kontraktor untuk pengoperasian, yang merupakan area untuk bangunan-
bangunan di lapangan, kantor, bengkel, gudang,penyimpanan material, bangsal dan sarana-
sarana lain yang perlu untukkegiatan administrasi, pemeriksaan dan pelaksanaan pekerjaan
yangtercantum dalam kontrak, harus direncanakan dan diusulkan oleh Kontraktor.
Kontraktor harus menyerahkan usulan dan Direksi Teknik akan memeriksausulannya maupun
area yang disediakan untuk berbagai kegiatan. ApabilaKontraktor tidak membatasi dirinya
untuk merencanakan semua fasilitas didalam batas area yang disediakan, maka semua biaya
yang timbul karenanyaharus ditanggung oleh Kontraktor.
Kontraktor harus mengetahui sepenuhnya tentang kondisi umum di lokasi proyek dan jalan-
jalan masuk menuju ke lokasi proyek, informasi mengenai situasi geologi dan meteorologi
dan semua karakteristik lain yang berhubungan dengan tempat-tempat dimana pekerjaan dan
pelayanan akan dilaksanakan dan karena itu tidak dapat menuntut ganti rugi atau menempuh
jalur hukum yang disebabkan karena kesalah pahaman.
Setelah penyelesaian pekerjaan, seluruh instalasi termasuk semua struktur dan instalasi yang
bersifat sementara di lokasi-lokasi pekerjaan yang berbeda, seperti pondasi-pondasi untuk
crane, harus dipindahkan dari lapangan. Hal ini tidak hanya berlaku untuk bahan-bahan dan
instalasi – instalasi yang dapat digunakan lagi oleh Kontraktor, tetapi juga untuk reruntuhan,
puing-puing, limbah/buangan, dan sebagainya. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi
Teknik seluruh area yang digunakanuntuk bertugas, dalam keadaan bersih dan rapi dan
memuaskan bagi DireksiTeknik.

3.2. PEMELIHARAAN
Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya atas pemeliharaan semua peralatan dan
instalasinya serta harus mempunyai staf teknis yang mampu melakukan setiap pekerjaan
perbaikan. Oleh sebab itu, Kontraktor harus memasok semua peralatan dan perlengkapannya
dengan banyak suku cadang, alat-alat khusus untuk pekerjaan perbaikan dan cadangan
lengkap unit-unit bagian yang vital/penting untuk menjamin pengoperasian terus menerus
tanpa terlambat sebelum waktunya. Kontraktor bertanggung jawabpenuh atas setiap
keterlambatan yang disebabkan oleh ketidak pedulian ataskeperluan tersebut. Setiap
perlengkapan yang tidak cocok atau tidak cukup kapasitasnya untuk satu unit, apabila
diperintahkan oleh Direksi Teknik harus diganti tanpa tambahan pembayaran kepada
Kontraktor.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SEMENTARA III -1


3.3. PEKERJAAN PEMBONGKARAN
Pekerjaan pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati. Semua bahan-bahan yang
dipindahkan tetap menjadi milik Pengguna Jasa danharus disimpan di lapangan untuk
digunakan kembali pada masa yangakan datang. Bahan-bahan/material yang akan digunakan
lagi, seperti bekas-bekas bongkaran, limbah dan bahan buangan, dsb. Harus dipindahkan
langsung ke tempat pembuangan yang dipilih oleh Kontraktor dengan seijin Direksi Teknik.

3.4. SARANA-SARANA DALAM TANAH YANG ADA


Dengan bekerja sama dengan Direksi Teknis, Kontraktor harus menghubungi pejabat-pejabat
setempat yang berwenang atas sarana – sarana pelayanan yang ada dan harus memelihara
hubungan dekat dengan mereka selama masa konstruksi. Di bawah koordinasi DireksiTeknis,
posisi semua sarana pelayanan yang besar kemungkinan akan terganggu dengan
dilaksanakannya pembangunan harus ditentukan terlebih dahulu, buat galian percobaan bila
informasi yang diperlukantidak diperoleh dari rekaman yang ada atau tak tampak dari
permukaan tanah.
Apabila sarana-sarana pelayanan akan bertentangan dengan konstruksi, maka Direksi Teknik
akan memerintahkan untuk mengalihkan ataumengubah desain.
Untuk kemungkinan pengalihan terlebih dahulu sebelum pembangunan/konstruksi, percobaan
penggalian harus dilakukansebelum memulai setiap bagian pekerjaan yang terpengaruh.
Apabila sambungan-sambungan pelayanan bertentangan dengan pekerjaan-pekerjaan
permanen maka pengalihannya akan disetujui secara detail oleh Direksi Teknik pada saat
sambungan-sambungan tersebut bertemu. Pengalihan saluran-saluran drainase harus
dilakukan oleh Kontraktor dan pengalihan sarana-sarana pelayanan lain oleh badan yang
berwenang. Direksi Teknik akan mengkoordinasikan pekerjaan ini dan akan mengumumkan
perintah-perintah detail untuktiap pengalihan.
Kerusakan sarana-sarana pelayanan utama yang ada dalam tanah dan sambungan-sambungan
ke bangunan-bangunan. Setiap kerusakan yang menurut pendapat Direksi Teknik dapat
dihindari dengan wajar harus diperbaiki dengan biaya Kontraktor.
Kontraktor harus menopang sementara semua sarana pelayanan dansambungan yang tampak
atau sebagian tampak agar tidak longsorakibat galian.

3.5. DEWATERING SISTEM


Kontraktor harus membangun, memelihara dan sesudah itu memindahkan sistem dewatering
saat diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan, termasuk pemasangan, pelaksanaan dan
pemeliharaan peralatan dewatering, dengan jumlah unit yang cukup. Fasilitas dan peralatan
untuk sistem dewatering harus atas persetujuan Direksi Teknik.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SEMENTARA III -2


Kontraktor juga harus memasang, memelihara, memperbaiki dan sesudah itumemindahkan
setiap cofferdams, saluran peralihan, saluran drainase, parit,kolam penangkap, lubang air dan
setiap pekerjaan sementara yang pentingyang dibutuhkan untuk membantu konstruksi utama
agar selalu dalamlingkungan yang kering dan bersih.
Meskipun rencana dan gambar kontraktor telah disetujui oleh Direksi Teknik,kontraktor harus
bertanggung jawab untuk dewatering dan pengairan daritempat-tempat kerja dan bertanggung
jawab untuk setiap kerusakan yangdiakibatkan oleh banjir, penggenangan, dan gangguan air
tanah.
Tidak ada tambahan pembayaran bagi kontraktor untuk kerusakan seperti itudan tidak ada
pertimbangan perpanjangan waktu. Kerusakan dan kehilanganwaktu karena banjir,
penggenangan dan/atau gangguan air tanah adalahtidak merupakan resiko pengguna jasa.

3.6. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Tidak ada pembayaran khusus yang terpisah dilakukan untuk pekerjaansementara yang
dijelaskan pada bab 3 ini. Biaya untuk penyediaan danpelaksanaan semua pekerjaan
sementara ini dianggap sudah termasukdalam satuan harga dari item-item pada bab lain yang
terdapat dalam DaftarKuantitas.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SEMENTARA III -3


BAB IV
PEKERJAAN SIPIL

4.1. UMUM

Spesifikasi teknis ini berisi syarat-syarat pelaksanaan masing-masing jenis pekerjaan yang
diperlukan untuk mendapatkan hasil yang direncanakan dari segi bentuk, kuantitas dan kualitas
pekerjaan.

Pelaksanaan pekerjaan ini harus menggunakan tata kerja dan mengikuti ketentuan-ketentuan dari
spesifikasi teknis yang telah ditetapkan, sehingga sasaran/tujuan pembangunan dapat dicapai

Jenis-jenis pekerjaan yang mengikat adalah yang tercantum dalam daftar kuantitas dan harga
pekerjaan, sedang bila pada spesifikasi teknis ini ada yang belum diberikan spesifikasi teknisnya
akan diberikan pada waktu anwizing.

Dalam bagian ini, kontraktor harus menyediakan peralatan, tenaga kerja, peralatan dan bahan yang
diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan dengan cara yang baik untuk bangunan dan
jalur pipa, yang mencakup kegiatan atau hal seperti pembongkaran; penggalian; penimbunan;
pembongkaran bahan pengurugan kembali; pemilihan bahan untuk pengurugan dan pelapisan
dasar; penurapan dan penopangan; peralatan, pemindahan pagar dan perbaikan kembali; cara
perlindungan lokasi; perbaikan permukaan; lubang pengujian (test pit); akomodasi lalu lintas dan
pemeliharaan perkerasan; perlindungan harta benda; bangunan yang ada dan lansekap dan semua
peralatan kerja sesuai dengan dokumen kontrak dan memungkinkan diperintahkan oleh direksi

4.2. PEKERJAAN GALIAN TANAH

4.2.1. Pembersihan dan Pengupasan


Jalur pipa harus dibersihkan dan dikupas sebelum melakukan penggalian atau melakukan
pengurugan.
Pembersihan dan pengupasan berupa memberihkan akar-akar, tonggak, tumbuhan,
perkerasan, jalur pejalan kaki dan hambatan apapun di permukaan yang perlu disingkirkan
secara permanen atau untuk sementara waktu dan semua itu terdapat di area yang akan
digali.
Tidak boleh ada pohon yang ditebang, dirusak, atau diganggu oleh kontraktor tanpa
persetujuan direksi.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 1


Semua kotoran, buangan, tumbuhan, dan bahan bongkaran seluruhnya harus disingkirkan
dari lokasi pekerjaan dan dibuang oleh kontraktor dengan cara yang baik, kecuali bagi bahan
atau bangunan yang akan disingkirkan untuk sementara waktu dan nantinya akan dipasang
dan diperbaiki kembali seperti semula.
Bahan maupun bangunan yang disingkirkan untuk sementara waktu dan nantinya akan
dipasang dan diperbaiki kembali harus dijaga dan disimpan dengan baik.

4.2.2. Galian Tanah/Pasir/Batu/Lumpur/Cadas


a. Sebelum pekerjaan galian tanah dimulai, Kontraktor wajib mengadakan check bersama
Pengawas pekerjaan atas duga tinggi/peil awal permukaan tanah (test pit), sehingga
apabila terdapat kelainan/perbedaan yang menjolok dengan gambar rencana dapat segera
diketahui secara dini dan melaporkannya kepada Direksi. Pengajuan klaim atas
perbedaan/kelainan setelah Kontraktor melakukan pekerjaan galian, tidak dapat diterima.
b. Penggalian harus dikerjakan sesuai dengan gambar pelaksanaan, kecuali ditetapkan lain
oleh Direksi berhubung keadaan setempat.
c. Galian yang diperlukan untuk pondasi konstruksi dibuat dengan ukuran yang sesuai
untuk keperluan pekerjaannya.
d. Kemiringan galian dibuat secukupnya untuk amannya terhadap longsoran. Bila terpaksa
dibuat tegak harus diadakan tindakan pengamanannya (save pile).
e. Dalam hal galian tanah tertimbun kembali sebagai akibat dari adanya :
• Longsoran tebing galian dan sejenisnya.
• Adanya rembesan.
Teknis pelaksanaan galian yang dilakukan dengan maksud untuk memperbesar volume
pekerjaan tanah oleh hal tersebut diatas, tidak dapat diperhitungkan sebagai pekerjaan
tambah.
f. Galian yang telah sampai pada kedalaman yang ditentukan harus segera dilaporkan
kepada Direksi untuk diadakan pemeriksaan. Sebelum ada persetujuan Direksi Atas
kebenaran kedalaman galian tersebut, Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan
konstruksi pondasi/pekerjaan utama diatasnya. Dalam hal rawan banjir pemeriksaan agar
dilakukan sekurang-kurangnya satu hari sekali.
g. Tanah hasil galian bilamana nantinya tidak akan dipergunakan untuk meninggikan atau
menimbun lokasi pekerjaan lain, maka tanah galian tersebut harus diangkut
keluar/disingkirkan dari tempat pekerjaan menurut petunjuk Direksi.
h. Harga satuan pekerjaan yang ditawarkan Kontraktor sudah termasuk upah dan peralatan
bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 2


i. Galian tanah yang mengandung batu atau batuan yang terdiri dari pecahan batu, atau
batu-batu besar dengan kuantitas satu meter kubik atau lebih besar dikategorikan sebagai:
galian tanah berbatu . Tanah yang mengandung cadas atau bahan konglomerat yang keras
dapat dikategorikan sebagai : galian tanah keras / cadas. Untuk galian tanah seperti
dimaksud dapat menggunakan peralatan kerja seperti linggis, panyong, peneumatik, bor
atau peledak.
j. Semua penggalian lain, seperti : batu, batuan , dengan volume lebih kecil dari 1 m3,
pasir, lumpur/ tanah basah dan material lain selain butir (i) diatas dianggap sebagai galian
tanah biasa.
k. Pembuatan parit atau penggalian lainnya yang memotong jalan kendaraan harus
dilaksanakan dengan metode pelaksanaan galian setengah lebar jalan, atau satu sisi jalur
untuk lalu lintas dua arah dan diadakan perlindungan sehingga jalan tersebut dijaga tetap
terbuka untuk lalu lintas setiap waktu.
l. Semua bahan-bahan galian yang dapat dimanfaatkan kembali, dimana mungkin akan
digunakan dengan cara yang paling efektif, untuk pembuatan formasi pematang atau
untuk urugan kembali.
m. Bahan-bahan galian yang berisikan tanah-tanah sangat organis, gambut berisikan akar-
akar atau barang-barang tumbuhan yang layak dan juga tanah yang mudah mengembang,
yang menurut pendapat Direksi Teknik akan menghalangi pemadatan bahan lapisan
diatasnya atau dapat menimbulkan suatu penurunan yang tidak dikehendaki atau
kehancuran akan diklasifikasikan sebagai bahan tidak cocok digunakan sebagai urugan
dalam pekerjaan permanen.
n. Setiap bahan galian yang melebihi kebutuhan untuk timbunan atau setiap bahan yang
tidak disetujui Direksi menjadi bahan urugan yang cocok, harus dibuang dan diratakan
dalam lapisan-lapisan tipis oleh kontraktor diluar daerah rencana kerja atau tempat lain
sesuai arahan Direksi.
o. Kontraktor harus bertanggung jawab untuk mengadakan perlindungan bagi setiap pipa
bawah tanah yang berfungsi, kabel-kabel konduit atau struktur dibawah permukaan
lainnya yang dapat dipengaruhi oleh penggalian dan harus bertanggung jawab untuk
biaya perbaikan setiap kerusakan yang disebabkan oleh operasinya.
p. Daerah yang bukan termasuk daerah galian, yang terlanjur digali atau daerah dimana
telah bercerai-berai atau berjatuhan, harus diurug kembali dengan urugan terpilih dan
dikembalikan pada kondisi seperti semula.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 3


4.2.3. Galian Parit Pipa
a. Galian Parit pemasangan pipa disebut galian parit pipa.
b. Galian parit pipa harus merupakan parit terbuka dengan kedalaman minimal 70 cm untuk
pipa GIP/PVC Ø 3" dan 2” , 60 cm untuk pipa GIP/PVC Ø 3/4", atau ukuran lainnya
sesuai petunjuk penyedia jasa. Semua ukuran harus berdasarkan gambar kontrak yang
diberikan, yang menjadi bagian dokumen kontrak.
c. Lebar dasar parit harus berukuran minimal diameter luar pipa ditambah 200 mm dan
maksimum diameter luar pipa ditambah 500 mm, atau sesuai petunjuk direksi.
d. Dasar parit harus dibuat sama rata dengan dasar pipa, sehingga dasar setiap bagian pipa
yang dipasang harus mengenai tanah sepanjang jalur pipa.
e. Pada sambungan pipa harus digali lebih dalam untuk memudahkan penyambungan pipa,
apabila penyambungan memungkinkan dilakukan pada parit pipa. Galian pada
sambungan tersebut harus dikerjakan oleh kontraktor dan sudah diperhitungkan dalam
penawaran.
f. Bila ada bagian parit yang longsor, rekanan harus menyingkirkan tanah longsor itu, biaya
yang timbul sebagai akibat longsoran itu ditanggung oleh kontraktor.
g. Harga satuan pekerjaan yang ditawarkan Kontraktor sudah termasuk upah dan peralatan
bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan.

4.2.4. Galian Terbuka


1. Umum
Galian terbuka harus digali sehingga pipa dapat diletakan pada trase dan kedalaman yang
diminta, dan galian tersebut dilakukan sampai didepan perletakan pipa sebagaimana yang
diijinkan oleh direksi dan/atau persyaratan yang ditetapkan oleh Departemen Pekerjaan
Umum. Galian terbuka tersebut harus dikeringkan dan dipelihara selama pekerjaan agar
pekerja dapat bekerja secara aman dan efisien.
2. Lebar Galian Terbuka
Lebar galian harus cukup agar memungkinkan pipa dapat diletakan dan disambung dengan
baik, dan pengurugan serta pemadatan dapat dilakukan sebagaimana yang telah ditentukan.
Bilamana diperlukan, lebar galian harus sedimikian rupa sehingga dapat memberikan
kemudahan dalam penempatan penopang kayu, turap dan penopang lainnya, maupun
penanganan khusus lainnya.
3. Lubang Galian Untuk Penyambungan
Lubang galian untuk penyambungan harus dibuat disetiap lokasi sambungan agar
penyambungan dapat dilakukan dengan baik.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 4


4. Panjang Galian
Galian terbuka bagi suatu pemasangan pipa tidak boleh melebihi panjang yang diijinkan
direksi. Galian harus diselesaikan paling sedikit 10 (sepuluh) meter didepan perletakan pipa
terakhir.
Bilamana diperlukan oleh direksi, penggalian dan pengurugan harus dilakukan dalam 24
jam, atau galian harus diurug penuh di akhir hari kerja setiap hari atau ditutupi dengan pelat
baja yang ditopang dengan cukup aman serta mampu menahan beban arus lalu lintas
kendaraan.
5. Galian Terbuka dan Jarak Pipa
Galian harus digali sampai kedalaman yang telah ditentukan sebagaimana yang diperlihatkan
dalam gambar standar agar memberikan dukungan yang menerus dan seragam dan
menopang pipa pada tanah yang padat dan tak terganggu pada setiap titik diantara lubang
galian sambungan.
Bagian dasar tanah yang digali melampaui kedalaman yang ditentukan harus diurug kembali
secara merata sebagaimana diperintahkan oleh direksi sampai pada kedalaman yang
ditetapkan dengan pasir atau bahan lain yang telah disetujui serta dipadatkan.
Muka akhir lapisan ini harus dilakukan dengan tepat dengan memakai peralatan tangan
(manual).
Bongkahan batu dan batu besar, bilamana ditemukan harus disingkirkan agar memberikan
jarak bebas paling sedikit 15 cm dibawah dari setiap sisi pipa dan fitting untuk pipa dengan
diameter 600 mm atau lebih kecil; dan 20 cm untuk pipa dan fitting dengan diameter lebih
besar 600 mm.
6. Penggalian di Tanah yang Kondisinya Buruk
Bilamana muka akhir dasar galian tidak stabil atau terdiri dari bahan yang kurang baik
seperti abu, bahan sampah dan lain-lain, dan atas keputusan direksi bahan tersebut harus
disingkirkan, kontraktor harus menggali dan menyingkirkan bahan tersebut.
7. Penopangan dan Penurapan
Galian tanah lebih dari 1 meter harus ditopang dan diturap sehingga galian tidak
gugur/runtuh, agar pekerja dapat bekerja secara aman dan menjaga permukaan jalan dan
bangunan lainnya sebagaimana ditunjukan dalam gambar kondisi tanah, lalu lintas atau yang
diperintahkan oleh direksi.
Perhatian perlu diberikan untuk mencegah terjadinya rongga di luar turap, tetapi jika terjadi
rongga; rongga tersebut harus segera diisi dan dipadatkan. Sebelum memasang penopang dan
turap, kontraktor harus memberi tahu lokasi
galian dengan turap dan penopang beserta dengan jadwal pelaksanaannya untuk mendapat
persetujuan dari direksi.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 5


Kecuali ditentukan lain atau diperintahkan direksi, galian terbuka diperkerasan sepanjang
jalan utama dan atau jalan strategis harus dilakukan dengan penurapan dan penopangan.
Semua penopang dan turap yang tidak digunakan harus dipindahkan dengan hati-hati tanpa
membahayakan pemasangan yang baru dilakukan utilitas yang ada, atau kepemilikan yang
berada didekatnya.
Semua rongga yang timbul akibat dicabutnya turap harus segera diisi kembali dengan pasir
dan dipadatkan dengan cara penumbukan menggunakan alat yang sesuai dengan
membasahinya atau cara lain yang diperintahkan.
Direksi dapat memerintahkan kontraktor secara tertulis setiap saat selama pekerjaan
berlangsung untuk tidak mencabut semua turap, penopang dan lain-lain, untuk ditimbun pada
saat pengurugan dengan tujuan mencegah kerusakan bangunan, utilitas dan kepemilikan.
Hak direksi memerintahkan semua turap dan penopang serta bahan lain
ditinggalkan/dibiarkan di tempatnya tidak boleh ditafsirkan sebagai kewajiban di fihak
direksi untuk mengeluarkan perintah seperti itu, dan kegagalan melaksanakan hak seperti itu
tidak mengurangi tanggung jawab kontraktor terhadap kerusakan yang terjadi pada pihak
ketiga yang diakibatkan oleh kepemilikan oleh kelalaian dalam pekejaan sebagai akibat tidak
ditinggalkannya penopang atau turap untuk mencegah longsor atau bergeraknya tanah.
8. Penimbunan Bahan Galian
Kontraktor harus menyusun jadwal penggalian dan pemasangan pipa sehingga tidak terjadi
penimbunan bahan galian di jalan utama maupun jalan nasional. Bahan hasil galian dapat
ditimbun di bagian jalan lain dengan syarat menggunakan kotak penampung tanag galian
agar tidak menghambat arus lalu lintas.
Bahan galian yang tidak dapat dipakai untuk urugan harus ditimbun atau dibuang dengan
cara yang disetujui direksi dan jauh dari jalan.
Bilamana diperlukan dan diperintahkan oleh direksi, kontraktor harus mengangkut bahan
galian untuk dibuang atas beban biaya sendiri.

4.2.5. Pengeringan (Dewatering)


Kontraktor harus menyediakan dan memelihara cara dan peralatan pengeringan serta
membuang air yang masuk ke lubang galian maupun pada bagian pekerjaan lainnya dengan
cara yang baik.
Semua galian harus tetap dalam keadaan kering dan tidak ada bahan pondasi, pipa atau beton
yang diletakan dalam air kecuali dengan persetujuan direksi.
Air harus dibuang sedemikian rupa sehingga terhindar keruskan harta benda dan gangguan
terhadap masyarakat luas dan lingkungan sekitarnya.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 6


Jika kontraktor memilih membuat saluran bawah pembuang, hal ini harus mendapat
persetujuan direksi terlebih dahulu.
Pemasangan rambu-rambu pengaman pada galian atau lokasi yang membahayakan atau yang
lalu lintasnya padat harus dipasang rambu-rambu pengaman yang mudah dilihat dan terbaca
dengan jelas

4.2.6. Pengukuran dan Pembayaran


Jumlah yang akan dibayar, adalah jumlah kubikasi dalam m3 dari tanah galian yang diukur
dalam keadaan asli dengan cara luas ujung rata-rata atau kubikasi dalam m3 dari tanah yang
dipadatkan pada pekerjaan urugan.
Volume tanah atau batu-batuan yang diukur adalah volume dari prisma yang dibatasi
bidang-bidang,sebagai berikut :
a. Bidang atas, adalah bidang horizontal seluas bidang pondasi yang melewati titik
terendah dari permukaan tanah asli. Di atas bidang horizontal ini galian tanah
diperhitungkan sebagai galian tanah biasa yang sesuai dengan sifatnya.
b. Bidang bawah, adalah bidang dasar pondasi.
c. Bidang tegak, adalah bidang vertikal keliling.

Pengukuran volume tidak diperhitungkan untuk galian yang diakukan di bawah bidang dasar
pondasi atau di bawah bidang batas bawah yang ditentukan oleh Direksi. Juga tidak
diperhitungkan untuk galian yang diakibatkan oleh pengembangan tanah, pemancangan,
longsor, bergeser, runtuh atau karena sebab-sebab lain.
Kedudukan dasar pondasi yang tercantum pada gambar rencana, hanya bersifat pendekatan
dan perubahan-perubahan sesuai dengan ketentuan Direksi dapat diadakan tanpa tambahan
pembiayaan.
Volume galian konstruksi untuk tanah-tanah dibawah muka air tanah, akan dibayar
tersendiri, yaitu untuk volume tanah galian yang terletak minimum 20 cm dibawah muka air
tanah konstan pada lubang galian.
Jumlah yang diukur dengan cara seperti tersebut diatas tanpa mempertimbangkan cara
dimana material tersebut akan dibuang, dibayar menurut harga satuan sesuai dengan mata
pembiayaan yang akan disebut dibawah ini.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 7


4.3. PEKERJAAN URUGAN
4.3.1. Umum

Urugan mencakup menyediakan, menempatkan dan memadatkan semua bahan untuk


mengisi/mengurug galian pemasangan pipa dan galian untuk bangunan lainnya. Urugan
tidak boleh dijatuhkan secara langsung pada pipa atau bangunan lainnya.

Kecuali ditentukan lain, bahan yang digunakan untuk pengurugan harus berupa bahan yang
terpilih. Jika urugan pasir atau kerikil tidak ditentukan dalam gambar, tetapi menurut
pendapat direksi harus digunakan di beberapa bagian pekerjaan, kontraktor harus
menyediakan dan mengurug dengan pasir atau kerikil sebagaimana ditentukan dan
diperintahkan oleh direksi. Urugan harus dikerjakan setelah semua pipa terpasang, diperiksa
dan disetujui direksi.

4.3.2. Bahan Urugan

Bilamana tidak disebutkan lain dalam spesifikasi dan gambar rencana, bahan untuk urugan
ditentukan sebagai berikut :
1. Bahan Terpilih
Bahan terpilih adalah bahan yang telah diambil dengan penggalian atau diangkat yang
tidak mengandung batu atau benda padat yang ukurannya tidak lebih besar 5 cm dalam
bentuk apapun dan juga tidak mengandung bahan organik seperti rumput, akar, semak
atau tumbuhan lainnya, dan tidak bersifat mengembang (non exrisive nature).
2. Urugan Pasir
Semua pasir yang digunakan untuk urugan harus pasir alam berbutir halus hingga sedang,
tidak bergumpal, dan bebas dari kotoran, arang, abu, sampah, atau bahan lainnya yang
menurut pendapat direksi dapat ditolak.
Bahan tersebut tidak boleh mengandung lempung dan tanah liat lebih dari 10 berat bahan
keseluruhan.
3. Urugan Kerikil
Kerikil yang dipakai untuk urugan harus berupa kerikil alam, memiliki partikel yang kuat
berbutir halus sampai sedang dalam bentuk yang cukup seragam dan tidak mengandung
batu besar atau batu dengan ukuran lebih besar dari 5 cm.
Bahan tersebut harus bebas dari kotoran, abu, arang, bahan tak terpakai/buangan atau
bahan yang tidak boleh ada atau bahan buangan lainnya. Bahan tersebut tidak boleh
mengandung tanah liat, lempung dan tidak boleh bergumpal.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 8


4.3.3. Urugan Pada Galian
1. Lapisan Alas
Pipa harus didasari dan dialasi hingga kedalaman minimum sebagaimana diperlihatkan
dalam gambar.
Bahan bagi lapisan alas ini harus pasir, ditempatkan dalam bentuk lapisan dengan
ketebalan tidak lebih dari 15 cm dan dipadatkan dengan tongkat pemadat atau cara lain
yang disetujui direksi pada kepadatan kering maksimum 95 %.
Pemberian lapisan alas pipa dengan memakai kerikil diperlukan sebagai pengganti pasir
pada tempat yang dianggap perlu dan yang diperintahkan untuk dilakukan oleh direksi.
2. Urugan di Bawah Pipa
Semua galian diurug kembali dengan pasir atau bahan lain yang disetujui, dengan
tenaga manusia mulai dari lapisan pasir alas hingga garis tengah pipa, diletakan secara
berlapis dengan ketebalan tidak lebih dari 15 cm dan dipadatkan dengan tongkat
pemadat pada ketebalan kering maksimum 95 %.
Bahan urugan ditempatkan dalam galian secara penuh selebar galian di masing-masing
sisi pipa, dan perlengkapan lainnya secara menerus.
Dalam hal pipa Ductile Cast Iron, dari garis tengah pipa ke permukaan, dalam ”Urugan
Sampai Permukaan” harus diterapkan bagi pengurugannya.
3. Urugan di Atas Pipa
Pada garis tengah pipa dan perlengkapannya sampai pada kedalaman 10 cm diatas pipa
baja (steel), galian harus diurug dengan peralatan tangan (manual) atau cara mekanis
lainnya yang telah disetujuinya.
Bahan dan cara pengurugan harus sebagaimana yang ditunjukan dalam gambar rencana,
dan ditempatkan secara berlapis dengan ketebalan tidak melebihi 20 cm dan dipadatkan
dengan tongkat pemadat dengan ketebalan kering maksimum 95 %.
Dalam pipa Polyvinyl Chloride, galian harus diurug dengan cara konvensional atau cara
mekanis yang telah disetujui, pada kedalaman 30 cm diatas puncak pipa PVC dan tidak
merusak pipa.
4. Urugan Sampai Permukaan
Dari kedalaman 10 cm diatas pipa baja sampai permukaan, galian harus diurug dengan
peralatan tangan (manual) atau yang disetujui, ditempatkan berlapis dengan ketebalan
tidak melebihi 20 cm, dan dipadatkan dengan tongkat
pemadat untuk mencegah amblasnya permukaan tanah setelah penyelesaian pekerjaan
pengurugan.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 9


Dalam pipa Polyvinyl Chloride, galian harus diurug dengan tangan (manual) atau cara
mekanis yang telah disetujui, pada kedalaman 30 cm diatas pipa PVC dan tidak
merusak pipa.

4.3.4. Pengujian Kepadatan di Lapangan


Dimana urugan perlu dipadatkan sampai pada kepadatan tertentu, pengujian pemadatan
dapat dilakukan oleh direksi, menggunakan prosedur pengujian yang ditetapkan dalam
ASTM D-1556.
Referensi kepadatan tanah maksimum harus ditentukan menggunakan standard compaction
test. ASTM D-698. Pengujian dapat dilakukan dalam zona pipa, dan diatas zona pipa.

4.3.5. Pemadatan Tanah


a. Material tanah yang dimanfaatkan kembali untuk penimbunan harus sesuai
kondisi/keadaan tanah ditempat pekerjaan.
b. Bentuk dan metode penimbunan tanah harus sesuai dengan gambar rencana atau atas
petunjuk Direksi
c. Pemadatan dengan tenaga manusia:
• Tanah yang memenuhi syarat untuk ditimbun dihampar setebal 20 cm merata.
• Sesuai dengan kadar yang diperlukan untuk pemadatan maka hamparan tanah
tersebut disiram air.
• Setelah disiram air dimulai pemadatannya dengan menimbris tanah tersebut
dengan alat yang beratnya 15-20 Kg dan tinggi jatuh alat timbris ± 30 cm.
• Setelah padat betul baru dihampar dengan tanah berikutnya setebal 20 cm, disiram
air dipadatkan, begitu seterusnya sampai selesai.
d. Pemadatan dengan mesin pemadat disesuaikan dengan aturan/manual dari peralatan
yang digunakan.

4.3.6. Timbunan Parit Pipa


a. Parit pipa khususnya untuk pipa GIP/PVC harus diurug dengan pasir mulai dari sebelah
bawah pipa sampai diatas pipa sesuai dengan gambar.
b. Urugan pasir disebelah menyebelah pipa harus merata.
c. Sisanya harus diurug kembali dengan tanah galian lapis demi lapis, dimana setiap
lapisnya harus dibasahi dan dipadatkan dengan hati-hati.
d. Selama proses pemasangan pipa, bahan-bahan urugan secukupnya harus diletakkan
dengan hati-hati dan dipadatkan disekitar pipa itu untuk memegangnya dengan kuat
dalam posisinya.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 10


e. Timbunan parit pipa yang bersentuhan dengan aspal / perkerasan jalan , dibawah
lapisan aspal diatas lapisan pasir diisi agregat A , Agregat B dengan ketentuan dan
spesifikasi yang telah ditetapkan.
f. Timbunan yan tidak bersentuhan dengan aspal / perkerasan jalan, setelah urugan pasir
diisi timbunan pilihan / tanah yang dipadatkan, dengan metode dan syarat kwalitas
bahan yang dipakai sesuai dengan yang ditetapkan pada spesifikasi ini.
g. Harga satuan pekerjaan yang ditawarkan Kontraktor sudah termasuk upah dan peralatan
bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan.
h. Test Sand Cone diperlukan untuk mengetahui kadar pemadatan yang telah dilakukan

4.3.7. Pemadatan Urugan Standar AASHTO

Segera setelah penempatan dan penebaran urugan, masing-masing lapisan harus dipadatkan
menyeluruh dengan peralatan pemadatan yang cocok dan memadai yang disetujui oleh
Direksi sampai kepada persyaratan-persyaratan kepadatan sebagai berikut :

i. Lapisan-lapisan yang lebih dari 30 cm harus dipadatkan setandard minimum yang


ditetapkan sesuai AASHTO T.99

ii. Lapisan-lapisan didalam 30 cm atau kurang, harus dipadatkan sampai 100 %


kepadatan kering setandard maksimum yang ditetapkan sesuai AASHTO T.99
(PB.0111-76).

iii. Tergantung kepada jenis pelaksanaan dan persyaratan khusus Direksi Teknik,
pengujian-pengujian kepadatan dilapangan dengan metode kerucut pasir harus
dilakukan diatas masing-masing lapisan urugan yang telah didapatkan, sesuai
dengan AASHTO T.191 (PB.0103-76). Dan jika hasil sesuatu pengujian
penunjukkan bahwa kepadatannya kurang dari kepadatan yang diminta, kontraktor
harus memperbaiki pekerjaan tersebut. Pengujian harus dilakukan sampai
kedalaman penuh lapisan dan dilokasi yang ditunjukkan oleh Direksi.

4.3.8. Syarat Kwalitas

i. Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan pilihan terdiri dari bahan tanah atau
bahan batu yang memenuhi persyaratan untuk urugan tanggul biasa diatas dan
yang jika diuji untuk CBR Laboratorium akan memiliki nilai minimum 10 %.

ii. Untuk pekerjaan stabilitasasi talud atau pematang atau pekerjaan-pekerjaan lain
dimana diperlukan adanya tegangan geser yang baik, urugan pilihan pematang
akan terdiri dari urugan batu, atau lempung berpasiran bergradasi baik atau

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 11


campuran lempung/ kerikil dengan indeks plastisitas rendah tidak lebih tinggi dari
10 %.

iii. Bilamana harus dilakukan pemadatan dibawah kondisi banjir atau kondisi jenuh,
urugan pilihan pematang akan berupa pasir atau kerikil atau bahan butiran bersih
lainnya dengan indeks plastisitas tidak lebih besar dari 6 %.

4.3.9. Perbaikan urugan yang tidak memuaskan atau tidak stabil


a. Urugan terakhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang ditentukan atau
disetujui atau dengan toleransi permukaan yang ditentukan diatas, harus diperbaiki
dengan membuat terurai permukaan tersebut, dan membuang atau menambah bahan-
bahan yang diperlukan diikuti dengan pembentukan dan pemadatan kembali.
b. Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan, dalam hal batas-batas kandungan
kelembahan seperti ditentukan atau seperti diperintahkan oleh Direksi, harus diperbaiki
dengan menggaruk bahan tersebut sampai kedalaman 15 cm atau seperti yang
diperintahkan oleh Direksi, yang diikuti dengan penyiraman yang memadai dan
pencampuran secara menyeluruh dengan alat motor grader atau peralatan lain yang
disetujui.
c. Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan, seperti yang ditetapkan oleh batas-batas
kandungan kelembaban yang ditentukan atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi,
harus diperbaiki di bawah kondisi cuaca kering dengan menggarukkan bahan-bahan
tersebut diikuti dengan pengerjaan sebentar-sebentar alat grader atau peralatan lain yang
disetujui, dengan waktu istirahat diantara pekerjaan-pekerjaan tersebut. Secara alternatif
atau jika pengeringan yang cukup tidak dapat di capai dengan pengerjaan bahan lepas
tersebut. Direksi dapat memerintahkan supaya bahan tersebut dibuang dari tempat
pekerjaan dan diganti dengan bahan yang cocok dan kering.
d. Perbaikan urugan yang tidak memenuhi persyaratan kepadatan atau persyaratan sifat-
sifat bahan spesifikasi ini, dapat meliputi kebutuhan pencampuran dengan bahan lain
yang cocok, disertai dengan penambahan kebasahan, pemadatan yang lebih dan / atau
pembuangan serta penggantian atas perintah Direksi.

4.3.10. Pengukuran dan Pembayaran


Pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan urugan dibuat dalam hargasatuan m3sesuai
dengan satuan mata pembayaran seperti tercantum dalamdaftar kuantitas dan harga
Harga tersebut harus telah mencakup semua pekerjaan yang perlu dan hal-hal lain yang
umum dikerjakan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 12


4.4. PEKERJAAN STRUKTUR
4.4.1. Umum
1) Pekerjaan yang disyaratkan dalam Pasal ini harus mencakup pembuatan seluruh struktur
beton, termasuk tulangan dan struktur komposit sesuai dengan Persyaratan dan sesuai
dengan garis, elevasi, ketinggian dan dimensi yang ditunjukkan dalam gambar, dan
sebagaimana diperlukan oleh Direksi.
2) Kelas dari beton yang akan digunakan pada masing – masing bagian dari pekerjaan
dalam kontrak haruslah seperti yang diminta dalam Gambar atau pasal lain yang
berhubungan dengan persyaratan ini atau sebagaimana diperintahkan oleh direksi.
Seluruh beton struktur harus mempunyai tegangan tekan minimal K-.225
3) K.-225 : untuk digunakan dalam struktur beton bertulang seperti Pembuatan Block
Angker dan Kolom Sifon. Untuk Bak PMA dan reservoir digunakan K-250
4) Beton non Struktur K-175 (1Pc :3 Ps : 5 Krl) untuk digunakan dalam semua beton,
sebagai rabatan, lapisan lantai dasar pondasi, sebagai pengisi dan lain – lain.
5) Syarat dari SKSNI T-15-1991-03 harus diterapkan sepenuhnya pada semua pekerjaan
beton yang dilaksanakan dalam kontrak ini, kecuali bila terdapat pertentangan dengan
syarat dalam spesifikasi ini, dalam hal ini syarat dari spesifikasi ini harus dipakai.

4.4.2. Beton
A. Semen dan Bahan Pencampur
1) Semen yang dipakai pada pekerjaan ini harus berkualitas sama dengan semen Portland,
tipe biasa seperti standart JIS R 5210 atau yang disarankan ASTM C 150 dan atau yang
disarankan oleh Direksi.
Kontraktor harus menangani dan menyediakan fasilitas penyimpanan yang memadai untuk
semen, dan harus dibangun sedemikian rupa sehingga tidak ada semen yang mati / rusak.
Bila Direksi berpendapat bahwa ada semen mati/rusak di tempat penyimpanan maka
tempat penyimpanan harus dibersihkan dari bahan semen yang mati atau rusak tersebut.
Semen yang dikirim dalam kantong-kantong harus diangkut dengan cara yang sudah
disetujui Direksi dan disimpan di gudang yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak
menyerap kelembaban. Fasilitas penyimpanan diatur sedemikian rupa sedemikian rupa
sehingga mudah bagi Direksi untuk melakukan inspeksi dan mengidentifikasi pengiriman
semen.
Semen harus disimpan di gudang yang lantainya lebih dari 30 cm dari permukaan tanah,
sedemikian pengaturannya sehingga yang masuk lebih dulu nanti dikeluarkan lebih dulu.
Diantara tumpukan semen harus ada cukup ruang. Dalam satu tumpukan tidak ditempatkan
lebih dari 13 kantung, atau kurang dari 13 kantung seperti saran Direksi, kalau jangka
waktu penggudangan lebih dari 60 hari. Biaya gudang semen sudah termasuk dalam harga

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 13


kontrak pekerjaan beton.
Semen yang sudah disimpan selama 90 hari atau lebih tidak dibenarkan dipakai untuk
pekerjaan ini, kecuali bila hasil pengujian cukup memuaskan untuk dipakai pekerjaan ini.

Kontraktor harus menjamin bahwa cukup ada persediaan (stock) semen. Pada hari pertama
setiap bulan harus memberitahu kepada Direksi mengenai data sebagai berikut :
2) Persediaan semen yang ada di lokasi pada setiap akhir bulan.
3) Pengiriman semen yang diterima bulan itu
4) Semen yang dipakai bulan itu
5) Semen yang dibuang atau hilang bulan itu dan alasannya.
6) Data lain yang diperlukan Direksi

B. Air dan Bahan Pencampur Tambahan (Admixture)


Kontraktor harus menyediakan bahan tambahan beton (bahan pencampur) untuk
menyempurnakan pelaksanaan pekerjaan beton dan mortar bila diminta oleh Direksi. Bahan
pencampur tipe air entraining atau tipe set retarding dibenarkan dipakai bila ada persetujuan
Direksi.
Semua pengujian untuk bahan pencampur harus dilakukan Kontraktor atas biayanya sendiri
dan hasil uji harus diserahkan kepada Direksi untuk mendapat persetujuan.
Kalau yang dipakai lebih dari satu bahan pencampur, setiap bahan pencampur harus dibatch
pada batchernya sendiri dan ditambahkan ke air pencampurnya secara terpisah, sebelum
dimasukkan ke mixer.
Banyaknya campuran pada setiap pencampuran beton dan di bagian pekerjan mana akan
memakainya, harus memperoleh persetujuan dahulu dari Direksi. Semua biaya insidentil
pemakaian admixture, sudah tercakup dalam harga satuan yang disyaratkan pada harga
kontrak.
Bahan pencampur dalam bentuk cair atau powder untuk beton harus disimpan di gudang yang
bisa mencegah penyerapan air. Gudang tersebut harus diatur sedemikian sehingga material
yang dipergunakan dalam urutan seperti waktu datangnya material tersebut di lokasi. Bila ada
bahan pencampur yang sudah kadaluwarsa, containernya harus ditandai dengan jelas. Untuk
menjamin kelancaran pembuatan beton maka harus ada cukup persediaan bahan pencampur di
gudang.
C. Agregat
1) Umum
Lokasi material yang diusulkan Kontraktor untuk mendapatkan agregat halus dan kasar harus
memperoleh persetujuan dahulu dari Direksi. Lokasi dimana akan diperoleh material untuk
agregat, harus dioperasikan sedemikian hingga tidak mengurangi manfaat deposit atau

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 14


properti lainnya dan agar supaya deposit tersebut dilestarikan di masa mendatang. Material
yang dipindahkan dari lokasi tersebut tidak dimanfaatkan dalam pekerjaan harus ditumpuk
atau dibuang sesuai saran dari Direksi dan Kontraktor tidak diperkenankan untuk meminta
biaya tambahan.
Untuk agregat yang halus yang akan dipergunakan campuran beton dibiarkan kering
setidaknya selama 2 jam dan kemudian ditangani sedemikian sehinga pasir yang dibawa ke
instalasi pencampuran kelembabannya relatif seragam. Bila permukaan tumpukan pasir yang
akan dibawa langsung ke instalasi pencampuran lebih kering atau lebih basah daripada
tumpukan pasir, penanganannya tidak memperhitungkan kondisi permukaan pasir tersebut.
Biaya untuk menghasilkan agregat yang diperlukan sudah termasuk pada harga satuan yang
tercantum pada harga kontrak untuk beton dimana dipakai agregat. Harga satuan tersebut
harus termasuk semua biaya Kontraktor dalam melaksanakan penggalian, penanganan,
pemrosesan, pengujian, pengangkutan dan penyimpanan material. Kontraktor tidak berhak
mendapatkan biaya tambahan untuk material yang terbuang yang berasal dari lokasi sumber
agregat, termasuk material dengan ukuran lebih besar atau lebih kecil yang harus diseleksi
atau dibuang.

2) Agregat Halus
Istilah “agregat halus” dimaksudkan untuk memberi istilah agregat dengan partikel
maksimum 5 mm.
Kontraktor harus melaksanakan pengujian untuk mengontrol agregat halus, dan menyediakan/
memasang fasilitas untuk keperluan pengujian tersebut.
Agregat halus harus terdiri atas fragmen batuan keras, padat, tahan lama dan “uncoated”
dengan gradasi memadai dan harus relatif bebas kotoran, debu, atau zat organik lain atau
material lain yang tidak diperlukan.
Kelembaban agregat halus yang akan dipakai untuk campuran beton, harus diuji terlebih
dahulu oleh Kontraktor untuk memperoleh persetujuan dari Direksi.
Pengujian tersebut akan diserahkan dengan standar JIS A-5308 atau ASTM C-33 meliputi :
- Gradasi
- Spesific gravity
- Absorbtion
- Decantation
- Soundness
- Organic impurities

3) Agregat Kasar

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 15


Istilah agregat kasar dipakai untuk agregat yang ukuran minimalnya 5 mm digradasikan mulai
dari 5 mm sampai ukuran terbesar. Agregat kasar untuk beton harus disediakan Kontraktor,
berasal dari sumber-sumber material dari lokasi yang sudah disetujui oleh Direksi. Kontraktor
harus menyediakan dan memasang fasilitas yang sesuai untuk melakukan pengujian contoh
sample, sebelum memulai pekerjaan beton untuk memperoleh persetujuan Direksi.

Agregat Kasar yang digunakan adalah agregat dari batu pecah untuk meningkatkan
kemampuan kuat tekan beton.

Agregat kasar harus bersih, keras, tidak lapuk, berbentuk baik, padat, uncoated dan bebas dari
partikel yang panjang atau “flat”, zat-zat organik atau material lain yang mengganggu kualitas
beton.

Pengujian tersebut diatas akan disesuaikan dengan standar JIS A-5308 atau ASTM C-33,
meliputi :
- Gradasi
- Specific gravity
- Absorbtion
- Decantation
- Soundness
- Abrasion (Los Angeles)

D. Campuran Beton
1) Komposisi
Beton terdiri atas semen portland, air, agregat halus dan kasar, dan bisa ditambahkan
pula bahan pencampur, semua dicampur dan diaduk sampai mencapai konsistensi yang
tepat. Untuk proyek ini yang lokasi dan kondisi yang selalu dipengaruhi oleh garam,
maka komposisi campuran beton harus ditambah bahan pencampur (admiture) tahan air
garam, terkecuali Direksi menentukan lain.

2) Proporsi Pencampuran
Perbandingan untuk proporsi campuran air dan semen yang tepat harus memperoleh
persetujuan Direksi agar beton mempunyai “workability”, kepadatan, impermeabilitas
dan keawetan (durability) serta kekuatan, tanpa mempergunakan semen terlalu banyak.
Untuk memperoleh kekuatan tekan yang disyaratkan beton pada gambar sample maka
80% dari total hasil kekuatan kompresif harus sama atau lebih besar dengan kekuatan
desain yang disyaratkan, dimana hubungan berikut ini dipakai untuk menentukan
minimum kekuatan kompresif rata-rata :

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 16


f 'c
f av =
1 − 0,842 V

dimana :
f av = tegangan tekan rata-rata minimum yang diperlukan
f’c = tegangan tekan yang direncanakan
V = koefisien variasi yang dinyatakan dengan desimal

Kontraktor harus memberitahukan kepada Direksi bila akan mengadakan perubahan


mengenai proporsi pencampuran, dan harus menyerahkan kepada Direksi alternatif
tersebut untuk mendapatkan persetujuan. Kontraktor tidak berhak untuk mendapatkan
biaya tambahan bila ada penambahan proporsi pencampuran.

3) Kandungan Air dan Slump


Banyaknya air yang dipakai pada beton harus diatur dalam batas-batas yang sudah
ditentukan, untuk memperoleh konsistensi beton yang baik, dengan mempertimbangkan
pula bila memakai bahan pencampur dan agregat maupun semen yang diperlukan.
Slump test harus dilakukan pada beton yang disimpan, tetapi sebelum beton
dikonsolidasi. Direksi mungkin memerlukan sedikit slump bila beton dengan slump
lebih sedikit seperti itu bisa segera berkonsolidasi di tempatnya, dengan vibrasi.
Pemakaian sarana penanganan atau pengangkutan seperti buckets, chutes, hoppers
diperkenankan selama tidak mengurangi kualitas beton secara keseluruhan. Dalam
pekerjaan ini tinggi slump yang diijinkan adalah 10 ( + / - ) 2 cm.
Sebelum dimulainya pekerjaan beton permanen, Kontraktor harus malaksanakan trial
mix atau setiap beton seperti yang disyaratkan dibawah pengawasan Direksi, dengan
memakai semua bahan dan alat yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Trial
mix harus berlangsung terus sampai beton mencapai persyaratan yang diminta.
Untuk pelaksanaan trial mix tidak ada biaya tambahan, sudah termasuk pada harga
satuan pada Daftar Volume Pekerjaan.

4) Pengujian Beton dan Material Beton


Pengambilan sampel dan pengujian material beton, beton baru dan keras, harus
dilakukan Kontraktor dibawah pengarahan Direksi, sesuai dengan standar JIS atau
ASTM atau semacamnya.
Kontraktor harus melakukan sampling dan pengujian beton secara rutin untuk
menentukan kuat tekan dan slump. Banyaknya dilakukan setidaknya satu seri pengujian
pada campuran maksimum 40 m3.
Pengujian slump dilakukan pada setiap campuran yang datang dan akan dipergunakan

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 17


untuk pengecoran pada pekerjaan beton satu seri pengujian kuat tekan maksudnya adalah
sebagai berikut :
- Satu seri pengambilan sample dilakukan pada setiap kali pengecoran, satu kali
untuk volume maksimum 40 m3, pada setiap type concrete yang sama.
- Satu kali pengambilan sample terdiri dari 6 (enam) buah beton uji (kubus).
- Pengujian kuat tekan dilakukan pada hari ke 7 dan 28 masing-masing dengan 3
buah beton uji.
Direksi berhak meminta kepada Kontraktor untuk melakukan pemeriksaan uji material
beton, beton baru dan beton keras bila dianggap perlu, dan Kontraktor harus membantu
Direksi untuk melaksanakan pemeriksaan uji. Disamping itu Direksi berhak pula
menolak campuran beton yang akan dipergunakan, bila kurang memenuhi syarat yang
diminta. Sedang Kontraktor diwajibkan untuk mematuhi dan memperbaiki campuran
beton, sesuai petunjuk Direksi tanpa meminta imbalan jasa.
Tegangan tekan beton harus ditentukan dengan tes silinder yang tingginya 30 cm dan
diameternya 15 cm. beton yang mengandung agregat yang lebih kasar dari 40 mm
dibuang dan diayak untuk menghilangkan partikel yang lebih besar sebelum pemakaian
silinder.
Kontraktor harus menyediakan alat-alat, fasilitas, material dan tenaga kerja yang
diperlukan untuk membuat, menangani dan membuang sisa-sisa sample yang diuji
seperti yang disyaratkan.
Kontraktor harus menanggung semua biaya dan biaya apa saja yang terkait dengan
penyediaan fasilitas sampling, tenaga kerja dan sample, dan tidak berhak mendapatkan
biaya tambahan bila ada kelambatan atau biaya dalam penyediaan sample.
Untuk sample material yang diuji, tidak ada pembayaran khusus, tetapi biaya
pemeliharaan dan operasi laboratorium di lapangan dan untuk pengujian material beton,
termasuk dalam biaya lump sum seperti tercantum dalam Daftar Harga Satuan
Pekerjaan.
Kontraktor harus menyediakan laboratorium di lapangan, alat-alat laboratorium serta
ruangan yang mendapatkan persetujuan dan semua biaya yang terkait dengan penyediaan
ruangan termasuk dalam biaya lain-lain untuk laboratorium lapangan.

5) Batching
Bila Kontraktor mempergunakan batching plant, Kontraktor harus memasang,
memelihara dan mengoperasikan alat batching untuk menentukan dan mengontrol
ketelitian batas-batas banyaknya material, termasuk air, semen, bahan pencampur,
agregat halus dan agregat kasar yang dipakai pada beton.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 18


Banyaknya air, semen agregat halus dan kasar harus memperoleh persetujuan Direksi
dengan cara menimbang. Banyaknya bahan pencampur “air entraining” harus ditentukan
dengan mengukur volume pada dispenser atau ditimbang dengan alat lain.

Alat untuk membawa material yang dicampur dari batcher atau hopper ke mixer harus
dibuat, dipelihara dan dioperasikan sedemikian hingga tidak ada pengotoran material
campuran atau overlap batch. Alat yang tidak sesuai dengan persyaratan ini harus diubah
atau ganti dengan alat yang sudah disetujui Direksi.

Konstruksi alat untuk mengetahui ketelitian penimbangan atau pengukuran harus dengan
skala kapasitas ketelitian 0.4%. Alat tersebut harus bisa langsung disetel untuk
mengetahui atau untuk memberikan perubahan-perubahan pada proporsi campuran
beton.

Alat batching harus dipelihara dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga


ketidaktelitian dalam memasukkan dan mengukur material tidak lebih dari 1% air atau
bahan pencampur air entraining dan 3% semen dan agregat. Semen dan air akan
ditimbang pada container tersendiri dan masing-masing beratnya terlihat pada
timbangan.

Kontraktor harus mempergunakan timbangan pengujian standart atau alat penunjang


yang lain untuk memeriksa pengoperasian hasil kerja setiap timbangan atau alat ukur
yang lain, melakukan pengujian secara periodik dengan melakukan pengukuran-
pengukuran yang terkait dengan operasi batching, pengujian tersebut harus dilaksanakan
dengan hadirnya Direksi dan pengujiannya harus cukup untuk membuktikan ketelitian
alat ukur. Kontraktor harus melakukan penyetelan, perbaikan atau penggantian
pengukuran atau bila diminta oleh Direksi.

Cara bekerja pengoperasian pada alat batching ini harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi kebocoran bila katub (valve) ditutup. Sesudah pengaliran,
sejumlah campuran air harus masih tetap di pencampur (batcher) air.

Alat batching harus dioperasikan dan dipelihara sedemikian rupa sehinggga kalau ada
tambahan debu pada waktu pengukuran dan pengaliran campuran material, bisa dicegah.

Hopper untuk menimbang dibuat sedemikian rupa sehingga mudah menghilangkan


material yang berlebihan beratnya dengan toleransi seperti disyaratkan disini.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 19


6) Pencampuran
Bahan beton harus dicampur dengan baik pada mixer, dengan ketentuan perbedaan hasil.
Beton yang dipakai untuk bangunan permanen tidak boleh dicampur dengan tangan.
Untuk bangunan sementara, maka percampuran harus mendapat persetujuan Direksi bila
akan memakai cara manual.

Kapasitas Mixer (m3) Waktu Mencampur (menit)


3 sampai 2 2,5
2 sampai 1,5 2
1,5 atau kurang 1,5

Waktu khusus untuk pencampuran harus ditentukan sesudah melaksanakan pengujian


efisiensi mixer, yang didasarkan atas perbandingan sampel yang diambil mulai dari
pengaliran campuran yang pertama sampai terakhir.

Lamanya pencampuran minimal seperti yang disyaratkan, tergantung kepada kondisi


material yang dimasukkan ke mixer, sedemikian rupa sehingga memudahkan efisiensi
pencampuran dan memudahkan operasi mixer dengan percepatan yang ditetapkan.

Direksi mempunyai hak untuk menentukan waktu untuk pencampuran atau batas-batas
ukuran batch kalau operasi pengisian dan mixing gagal menghasilkan batch beton yang
sesuai dengan yang diperlukan dan dengan pencampuran yang baik. Campuran beton
begitu lepas dari mixer harus rata komposisi dan konsistensinya.

Tidak diperbolehkan adanya penambahan air untuk memperoleh konsistensi beton yang
diperlukan. Beton yang tertahan pada mixer lebih dari 1,0 jam mixer, harus dibuang.
Dalam hal ini Kontraktor tidak berhak menuntut ganti rugi atas hal tersebut.

Mixer yang pada waktu tertentu tidak memenuhi persyaratan harus segera diperbaiki
atau diganti. Mixer harus diisi sesuai dengan kapasitas mixer tersebut atau sesuai dengan
ukuran batch, yang ditentuhan sesuai dengan persyaratan. Mixer tidak boleh diisi lebih
dari kapasitas yang ditentukan kecuali atas pengarahan Direksi.

7) Pengecoran Beton
(a). Umum
Pengecoran beton belum bisa dilaksanakan sampai pemasangan bekisting dan

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 20


penulangan dirampungkan dulu oleh Kontraktor dan sudah disetujui Direksi.
Pengecoran beton tidak dilakukan sewaktu turun hujan atau pada air yang
menggenang. Fasilitas komunikasi antara peralatan pencampur dan lokasi
pengecoran harus disediakan, dioperasikan dan dipelihara oleh Kontraktor.
(b). Persiapan untuk Pengecoran
Sebelum dilakukan pengecoran, semua permukaan dimana beton akan dicor, harus
dibersihkan dari minyak, lumpur, zat organik, potongan-potongan kayu, fragmen
batuan dan reruntuhan atau batuan lepas atau material berbahaya lainnya, dengan
menggunakan “high velocity air-water jet” atau alat lain seperti disarankan Direksi.
Semua permukaan bekisting dan material yang melekat dengan mortar kering atau
beton yang ditempatkan lebih dulu, harus bersih sebelum sekeliling beton yang
berdekatan ditempatkan.
Permukaan pondasi batuan harus dilembabkan dengan baik sebelum beton
ditempatkan, dan air yang menggenang harus dihilangkan.
Permukaan tanah atau pondasi pasir dan kerikil dimana beton akan ditempatkan
harus bebas dari air yang menggenang atau air yang mengalir, perca-perca kayu
atau material lainnya yang dianggap mencemari. Bagi pondasi dan tanah atau
kerikil, maka kondisinya harus lembab sebelum beton ditempatkan.
Permukaan “construction joint” yang berhubungan dengan pengecoran beton baru,
harus dengan cara yang disetujui Direksi. Pembersihan ini harus terdiri dari
penghilangan semua adukan semen atau mortar yang mengering dan dari segala
kotoran. Permukaan sambungan dan beton lama dimana beton baru harus
ditempatkan, harus dikasarkan dengan mengelupas (chipping) atau dengan cara lain
lalu dibiarkan lembab dimana jangka waktunya ditentukan Direksi, sebelum
menambahkan beton baru.
Selanjutnya sebelum beton dituangkan, maka permukaan yang akan dicor tersebut
dituangkan mortar terlebih dahulu untuk mendapatkan lapisan sambungan yang
baik antara permukaan lama dengan beton yang baru dituang.
Permukaan “constraction joint” harus dibersihkan betul-betul terhadap tambahan
beton atau material yang lain, dengan mengerik, mengelupas atau dengan cara lain
yang disetujui Direksi. Sambungan akan diberi “coat of compound” seperti saran
Direksi, untuk mencegah pengikatan dengan beton yang ditempatkan pada sisi
sambungan yang lain.
(c). Suhu Beton pada Waktu Penempatan
Suhu beton pada waktu pengecoran tidak boleh melebihi 35o C. Bila perlu,
Kontraktor mempertahankan suhu beton dibawah 35o C saat pengecoran beton dan

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 21


Kontraktor harus memakai cara yang efektif seperti pendinginan agregat,
mendinginkan air pencampur, penambahan potongan as ke air pencampur tersebut,
penempatan di malam hari atau cara apa saja yang disarankan Direksi.
Bila beton di cor pada saat cuaca yang sedemikian rupa sehingga suhu beton
melampaui 35o C, Kontraktor harus menggunakan “water-reducing admixture”,
tipe set retarding, untuk mengurangi efek yang kurang baik bagi beton, yang
disebabkan suhu tinggi.
Alat untuk Pengangkutan dan Pengecoran Beton
Cara dan alat yang dipakai untuk mengangkut dan mengecor beton dan waktu yang
hilang selama pengangkutan tidak boleh menyebabkan segregasi agregat kasar,
turunnya slump sampai lebih dan 25 mm atau hilangnya kandungan udara sebelum
konsolidasi, sampai lebih dan 1% pada waktu beton di cor pada pekerjaan.
Bila beton diangkut dan atau dicor dengan alat seperti dibawah ini, alat tersebut
harus dipasang dan ditangani sebagai berikut :
d.1 Agitator Truck
Kecepatan drum yang bergerak harus antara 2 sampai 4 putaran per menit. Volume
campuran beton di drum tidak dibenarkan, bila melebihi volume yang disarankan
pabriknya atau melampaui 70% volume drum. Truk untuk mengangkutnya harus
disetujui Direksi. Internal antara memasukkan air ke drum pencampur dan
mengeluarkan beton dari agitator tidak boleh melebihi 1,0 jam. Pada interval ini,
campuran harus terus digerakkan dengan kecepatan tersebut diatas.
d.2 Non-Agitator Truck
Body non-agitator truck harus halus dan kedap air, dan harus ada tutup bila
diperlukan untuk melindunginya dan air hujan.
Non-agitator truk harus membawa beton ke lokasi pekerjaan, yaitu beton yang
dicampur dengan baik dan rata. Beton dianggap rata pencampurannya bila sampel
dan seperempat beban, mempunyai slump 10 (+/- 2) cm. Pengecoran beton harus
rampung dalam 1,0 jam sesudah memasukkan air pencampur ke semen dan agregat.
Selama proses pengecoran, apabila digunakan concrete mixer, jarak antara truk
mixer satu dengan berikutnya maximal 1 jam.
d.3 Chutes/Talang
Secara garis besar pengangkutan beton dengan mempergunakan chute tidak
dibenarkan, kacuali bila ada saran dari Direksi. Bila disetujui, chute harus punya
potongan (profil) dengan sudut bulat dan kemiringannya harus sedemikian sehingga
beton mengalir dengan lancar tanpa ada segregasi. Ujung chute bawah harus
dilengkapi dengan drop chute, yang tingginya tidak lebih dari 1,5 m untuk

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 22


mencegah adanya segregasi dan beton yang jatuh. Chute harus terlindung dari sinar
matahari langsung.
d.4 Concrete Pump dan Placer
Pipa pengangkut harus dipasang sehingga mudah memindahnya. Sebelum memulai
operasi pump atau placer, kira-kira 1 m3 mortar dengan proporsi air, admixture,
semen dan agregat halus yang sama, seperti yang ditentukan untuk pencampuran
beton biasanya, harus dilewatkan melalui pipa.

8) Pengecoran
Kontraktor harus selalu konsultasi dengan direksi mengenai waktu pelaksanaan
pengecoran beton. Pengecoran beton harus dilaksanakan dengan disaksikan direksi.
Beton harus ditempatkan langsung ke posisi akhir dan tidak boleh sampai mengalir
sehingga menyebabkan segregasi. Cara dan alat-alat yang dipakai dalam
pengecoran beton pada bekisting harus sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan agregat kasar yang terpisah dalam campuran beton. Kontraktor harus
mempunyai cara untuk pengecoran beton sehingga tidak menyebabkan segregasi
atau bleeding. Tinggi jatuh bebas beton pada pengecoran kolom atau dinding tidak
boleh melebihi 1,5 meter, bila perlu pengecoran beton kolom yang tingginya lebih
dari 1,5 m harus menggunakan pipa corong (tremi).
Semua beton yang dibentuk, kecuali beton lining untuk bangunan di bawah tanah,
harus ditempatkan pada lapisan horisontal yang ketebalannya tidak melebihi 40 cm.
Pemberi tugas mempunyai hak untuk meminta kedalaman lapisan lebih kecil
apabila lapisan beton setebal 40 cm tidak bisa dicor sesuai dengan persyaratan
spesifikasi. Tinggi satu angkutan penempatan beton haruslah seperti yang
disarankan Direksi atau seperti pada Gambar.
Bila beton ditempatkan secara monolitis di sekitar opening dengan dimensi vertikal
lebih besar dan 60 cm, atau bila beton pada decks, lantai, pelat, balok atau bagian
bangunan yang lain diletakkan secara monolitis dengan beton penyanggah, maka
harus diikuti petunjuk sebagai barikut :
a). Pengecoran beton harus ditunda tidak kurang dari satu jam atau tidak lebih
dari 3 jam dibagian atas opening dan di bagian bawah level, di bawah
decks, lantai, pelat, kayu, girder dan bagian bangunan yang lain, bila yang
dipakai level, dan di bagian bawah bangunan bila bukan level yang dipakai,
tetapi pengecoran bisa pula ditunda lama bila unit vibrating tidak bisa
menembus beton dengan cepat, dangan berat sendiri sebelum pengecoran
beton ditunda atau menuruti saran Direksi.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 23


Bila konsolidasi beton ditempatkan sesudah penundaan di atas, unit
vibrating harus menembus dan menggetarkan kembali beton yang
ditempatkan sebelum penundaan.
b). 60 cm atau lebih dari beton yang ditempatkan sebelum penundaan harus
ditempatkan dengan slump yang rendah dan Kontraktor harus merasa yakin
bahwa konsolidasi beton sudah terlaksana dengan baik.
c). Permukaan beton dimana terjadi kelambatan harus dibersihkan dan bebas
dan kotoran bila pengecoran beton dimulai sesudah kelambatan.
d). Beton yang ditempatkan di atas opening dan di dek, lantai balok, girder dan
bagian-bagian semacamnya, harus ditempatkan dengan harapan konsolidasi
beton tersebut terlaksana dengan baik.
Untuk pekerjaan tersebut Kontraktor tidak berhak mendapatkan biaya
tambahan melebihi harga satuan seperti tercantum dalam Daftar Volume
Pekerjaan.

9) Pemadatan Beton
Masing-masing lapisan beton harus segera dikonsolidasi dengan alat yang memadai
sehingga beton menjadi padat sampai densitas maksimum dan tertutup bagi semua
permukaan bekisting dan material yang berdekatan. Lapisan beton berikutnya tidak
dicor dulu sampai lapisan yang dicor sebelumnya sudah bagus keadaannya seperti
spesifikasi yang disyaratkan.
Secara garis besar, beton harus dikonsolidasi dengan listrik atau pemasangan
dengan tenaga pneumatik, internal-type vibrators, yang operasinya dengan
kecepatan setidaknya 7.000 putaran per menit bila dicelupkan ke beton. “Vibrating
head” harus dimasukkan ke beton secara vertikal, setidaknya 5 cm kedalam lapisan
dibawahnya. Bila sukar menggunakan internal vibrator, beton bisa dikonsolidasi
dengan “external-type form vibrator” atau dipadatkan dengan “hand plunger” sesuai
saran dan Direksi.
Konsolidasi beton pada bagian-bagian bangunan yang nantinya akan tampak harus
dengan “immersion-type vibrator” yang bisa pula dipakai sebagai alat yang bisa
membantu, dan disarankan Direksi, dan bisa menggunakan “heavy-duty form
vibrator”. Form vibrator ini harus dipasang kuat-kuat pada bekisting pada saat
operasi tetapi vibrator harus bisa segera dibongkar dan dipasang lagi ke posisi lain
pada bekisting dan harus beroperasi dengan kecepatan sedikitnya 8.000
putaran/menit.
Harus hati-hati sekali dalam pelaksanaan pekerjaan di atas sehingga vibrasinya bisa

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 24


sistimatis dan pada interval tertentu sehingga zone dan pengaruhnya overlap dan
beton menjadi betul-betul padat.
Di daerah dimana baru saja ditempatkan beton yaitu pada setiap lapisan yang
ditempatkan labih dulu dan beton sudah mengeras, harus dilakukan vibrasi yang
lebih dan biasanya; vibrator menambus dalam sekali dengan interval pendek di
sepanjang hubungan ini. Hubungan ‘vibrating head” dengan parmukaan bekisting
harus dihindari.

10) Perawatan Beton ( Concrete curing )


Syarat-syarat Perawatan harus diperhatikan setiap saat, pada cuaca yang panas dan
kering karena ada bahaya keretakan lebih besar. Karena itu Kontraktor harus benar-
benar mematuhi persyaratan seperti berikut ini.
Kontraktor harus melindungi semua beton dan benda - benda yang bisa merusak atau
membahayakan karena pengeringan mendadak, atau pembebanan mendadak atau
karena shock atau vibrasi, sampai beton betul-betul keras sehingga bisa mencegah
kerusakan. Bila memungkinkan, permukaan beton yang selesai harus dilindungi dan
sinar matahari langsung setidaknya 3 hari sesudah pengecoran.
Semua beton harus dibasahi dengan air atau “membrane curing” sesuai dengan
persyaratan spesifikasi disini, kecuali bila beton cetak adalah “steam cured” dengan
cara yang sudah disetujui Direksi. Permukaan beton untuk “construction joint’
pelaksanaan harus dibasahi dengan air.
Permukaan dinding, atau pelat atau tiang teratas yang tidak dibekisting harus
dilembabkan dengan material yang dibasahi dengan air atau dengan cara lain yang
efektif pada saat beton menjadi keras, sehingga cukup bisa mencegah kerusakan yang
disebabkan oleh air. Permukaan-permukaan ini dan kemiringan yang tajam serta
permukaan vertikal yang dibekisting harus betul-betul lembab, sebelum dan pada saat
pembongkaran yaitu dengan mengairi permukaan yang dibekisting dan dibiarkan
mengalir turun antara bekisting dan muka beton yang dibekisting. Prosedur ini diikuti
dengan “water curing” atau “membrane curing”, dengan syarat-syarat sebagai berikut :
(a). Water Curing
Beton yang dibasahi dengan air harus tetap basah setidaknya 14 hari
sesudah pangecoran beton, atau sampai tertutup dengan “fresh concrete”
yaitu dengan menutupinya dengan bahan yang sudah dibasahi dengan air
atau dengan cara pipa penyemprot atau penyemprot mekanis atau dengan
“porous hoze” atau cara lain yang disarankan Direksi, sehingga semua
permukaan terus menerus dalam keadaan basah, dan air yang dipakai

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 25


untuk curing memenuhi syarat-syarat untuk air campuran beton. Water
curing harus ditangani sedemikian rupa sehingga mencegah terbentuknya
noda pada permukaan beton yang akan tampak terus.
(b). Membrane Curing
Membrane curing harus dengan menggunakan “white pigmented curing
compound” yang membentuk selaput yang menahan air di permukaan
beton, dan permukaan yang akan tampak seterusnya nanti diberi “grey
pigmented curing compound”. Curing compound tidak dipakai pada
permukaan dimana diperlukan pekerjaan finishing. Curing compound
dipakai pada permukaan beton, dengan menyemprotkan pada satu lapisan
(coat) sehingga pada semua bagian selaputnya amat rata, dengan luas
permukaan yang harus ditutupi. Bila perlu dilakukan “coat of curing
compound” kedua kali.
Bila “curing compound’ dipakai pada permukaan beton yang tidak
dibekisting, pamakaian bahan campurannya harus dimulai segera setelah
operasi finishing selesai.
Bila “curing compond” dipakai pada permukaan beton yang dibekisting,
permukaan harus dilembabkan dengan sedikit menyemprotkan air setelah
bekisting dibongkar dan harus tetap basah sehingga permukaan tidak lagi
rnenyerap kelembaban lebih banyak. Segera apabila kelembaban di
permukaan “film hilang tapi permukaan masih sampai lembab, harus
dipergunakan “curing compound”, yang mungkin dipergunakan pada
permukaan yang luas, dimana bahan campuran diletakkan pada tepi,
sudut-sudut dan di tempat yang kasar dan permukaan yang dibekisting.
Sesudah pemakaian “curing compound’ selesai dan lapisan telah kering
bila disentuh, maka dilakukan perbaikan di permukaan baton. Setiap
perbaikan, sesudah difinishing, harus dilembabkan dan dilapisi curing
compound”, sesuai dengan persyaratan.
Peralatan dan cara yang dipakai untuk penanganan “curing compound”
harus disetujui oleh Direksi.
Lalu lintas Kontraktor dan operasi lainnya harus sedemikian rupa
sehingga mencegah kerusakan pelapisan “curing compound” selama 28
hari sesudah pemakaian “curing compound”. Bisa tidak mungkin karena
adanya operasi dalam pelaksanaan, maka untuk mencegah lalu lintas
yang melewati parmukaan yang baru dilapisi dengan “curing compound”,
“membrane” harus dilindungi dengan menutupinya dengan pasir yang

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 26


tebalnya tidak kurang dan 25 cm, atau dengan cara lain. Penutupan untuk
tujuan melindungi permukaan ini, tidak ditempatkan dulu sampai “sealing
membrane” betul-betul kering. Sebelum penerimaan pekerjaan akhir,
Kontraktor harus menghilangkan semua pasir tersebut dengan cara yang
sudah disetujui Direksi. Bila ada kerusakan pada “sealing membrane”
yang mengelupas dan permukaan beton sesudah 26 hari dipakai, maka
harus diperbaiki tanpa ditunda lagi, dengan cara yang sudah disetujui
Direksi.
Sebelum melakukan tipe “curing compound” yang diusulkan untuk
pengambilan sampel dan pangetesan harus memohon persetujuan Direksi.
Kontraktor harus menyediakan, tanpa biaya dan Pemberi Tugas fasilitas-
fasilitas dan bantuan yang diperlukan untuk pengambilan sampel dan
pengetesan “curing compound”. Petunjuk yang disediakan pabrik harus
diikuti, yaitu dalam penyimpanan, pencampuran dan pemakaian “curing
compound” tersebut.
Selain menyemprot dengan “membrane curing”, lembaran plastik bisa
juga dipakai, terutama curing pada pelat dan bentuk konstruksi. Dalam
hal semacam ini, segera setelah beton mengeras dan terhindar dari
kerusakan, permukaan harus disemprot sedikit dengan air lalu ditutup
dengan lembaran plastik putih, setebal 4-6 milimeter. Lembaran tersebut
harus kedap udara dan anti uap (vaporproof) untuk mencegah hilangnya
kelembaban kedap udara, harus dilakukan dengan hati-hati, dengan
memukul mukul pinggirnya dan memperkuatnya (sealing). Macam
selaput tersebut harus dijaga minimum selama 14 hari.
Semua “construction joint” harus terus menerus lembab, yaitu dengan
“water curing” dan waktu ke waktu sampai tertutup beton. Bila dianggap
perlu mengadakan penundaan pengecoran beton baru diatas construction
joint, maka curing untuk melembabkan permukaan sambungan harus
dihentikan pada saat curing dianggap kadaluwarsa, tetapi bila curing
dihentikan, harus dimulai lagi dalam 48 jam sebelum pengecoran beton
baru pada sambungan itu.
Bila pengasaran bagian beton yang membuka belum dilaksanakan sampai
curing menjadi kadaluwarsa, maka permukaan bagian yang membuka
harus terus dalam keadaan lembab setidaknya 4 jam sebelum
pengisiannya (filling).
Biaya penyediaan dan pemakaian semua material untuk pelembaban

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 27


(curing) beton, harus termasuk dalam harga satuan seperti tercantum
dalam Daftar Volume Pekerjaan.

11) Penyelesaian akhir (finishing)


Persyaratan untuk Penyelesaian(finishing) permukaan beton, harus seperti yang tertera
pada gambar, atau seperti spesifikasi disini. Bila panyelasaiannya tidak dijelaskan
definisinya disini atau pada Gambar, finishing yang dipakai haruslah seperti yang
disyaratkan bagi pemnukaan semacam, seperti saran Direksi.
Pekerjaan akhir/finishing dan permukaan beton hanya dilaksanakan oleh tenaga yang
terampil. Kontraktor harus selalu berkonsultasi kepada Direksi kapan dilaksanakan
finishing beton, Finishing beton harus dilakukan sesuai petunjuk Direksi.

12) Perbaikan Permukaan Beton yang Cacat atau Rusak


Beton yang cacat atau rusak karena sebab-sebab tertentu harus dibongkar dan diganti
dengan beton lain oleh Kontraktor dan biasanya ditanggung Kontraktor sendiri.
Alinemen yang tidak teratur karena kurangnya finishing pada permukaan, tonjolan
bekisting atau cacat yang lain harus diperbaiki dan biaya di tanggung oleh Kontraktor.
Sebelum pekerjaan akhir diterima, Kontraktor harus membersihkan semua permukaan
beton yang tampak, yang dilapisi semen, mortar atau grout dan sernua noda, sesuai
dengan saran Direksi.
Perbaikan pada beton harus dilakukan oleh tenaga yang terampil. Kontraktor harus terus
berkonsultasi dengan Direksi, kapan perbaikan beton harus dilaksanakan.
Kontraktor harus membetulkan semua cacat pada permukaan beton, untuk menghasilkan
permukaan yang sesuai dengan persyaratan yang dikehendaki.
Beton yang rusak karena sebab-sebab tertentu, dan beton yang retak atau cacat dan
karena depresi permukaan yang eksessif, harus digali dan dibentuk lagi sehingga
permukaan mempunyai garis batas seperti yang disyaratkan, harus dibongkar dan diganti
dengan mortar kering atau beton seperti disarankan disini.

Pembongkaran beton yang rusak dilakukan dengan mengkasarkan permukaan yang


terbuka. Luas dan dimensi pengkasaran harus seperti yang disarankan Direksi. Lubang
yang dikelupas tepi tepinya harus tajam dan terkunci (keyed) dan harus diisi sampai
betas-batas yang diperlukan, dengan mortar atau beton, seperti pengarahan Direksi.

Bila yang dipakai untuk pengisian adalah beton, lubang yang dikelupas tidak lebih dan 8
cm dalamnya.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 28


Mortar untuk penambalan (patching) harus terdiri dan satu bagian semen, 2 bagian pasir
beton biasa dan air secukupnya, sehingga sesudah bahan-bahan dicampur, mortar akan
menyatu bila dipadatkan dengan tenaga manusia. Mortar harus baru pada saat dituang
dan mortar yang tak berguna dalam waktu 2 jam sesudah disiapkan, harus dibuang.
Sebelum pemakaian mortar, permukaan dimana mortar harus disikat, dilembabkan lalu
digosok dengan sedikit mortar, dengan sikat kawat.

Bila pembukaan yang dikelupas lebih dari 3 cm dalamnya, mortar harus dipakai pada
lapisan yang tebalnya tidak lebih dan 2 cm untuk menghindari pengantongan (sagging).
Sesudah tiap lapisan dilaksanakan, permukaannya harus dikasarkan dengan
menggantinya dengan sekop sehingga ikatan dengan lapisan berikutnya efektif.

Finishing lapisan-lapisan terakhir harus halus yaitu dengan cetok agar membentuk
permukaan halus dengan beton disekelilingnya, dengan menambah sedikit air
kepermukaan tambahan sudah jadi sehingga finishing menjadi halus, tetapi selain untuk
ini tidak diperbolehkan menambah air lagi. Semua penambahan di permukaan yang
tampak, harus bersih dan halus dan harus sedapat rnungkin berwarna sama dengan beton
penggabungnya. Semua tambalan harus terikat betul-betul ke permukaan opening yang
dikelupas, harus baik dan tidak retak atau mengkerut.

Pengisian dengan beton harus dipergunakan untuk lubang yang meluas ke bagian beton,
untuk lubang yang lebih besar dan 1 m2 dan lebih dalam dan 10 cm dan untuk lubang
pada penulangan yang luasnya lebih dan 500 cm2 yang melintas di atas penulangan yang
paling dekat dengan permukaan. Kelas beton harus seperti yang disarankan oleh Direksi.

2.5.3. Pekerjaan Baja Tulangan


a. Mutu besi beton yang digunakan adalah mutu besi tulangan beton untuk diamater batang
polos adalah BJTP 24 ( fy = 2.400 Kg/cm2 ), sedangkan mutu besi beton yang diprofil (
Deform /ulir) minimal BJTP 32 ( fy = 3.200 Kg/cm2), untuk tulangan baja jaring BJTP 50 ( fy
5.000 Kg/m2) dan ukuran sesuai ketentuan dalam gambar. Simbol "φ" (menunjukkan Baja
tulangan polos), Simbol "D" (menunjukan Baja Tulangan Deform/ulir). Simbol "M" tulangan
baja jaring ( wire mesh)
b. Semua besi yang dipakai diatas harus mempunyai sertifikat dari produsen/pabrik. Ketentuan
toleransi ukuran besi disesuaikan dengan standar S11 atau SNI.
c. Jika besi yang di datangkan ke lokasi tidak sesuai dengan yang tercantum dalam
sertifikat/diragukan, Direksi pekerjaan berhak memerintahkan kontraktor untuk melakukan
pengujian fisik terhadap besi tersebut. Semua biaya hasil pengujian menjadi tanggungan

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 29


kontraktor. Bila hasil pengujian tidak sesuai dengan yang tercantum dalam sertifikat, makes
Direksi berhak menolak semua besi tersebut. Berita acara hasil pengujian besi di laboratorium
harus sah dan ditanda tangani oleh pejabat laboratorium.
d. Membengkokkan dan meluruskan besi beton harus dalam keadaan dingin, sesuai dengan
aturan yang berlaku. Panjang penyaluran besi beton dan panjang pengangkeran pada bagian-
bagian konstruksi disesuaikan dengan gambar kerja atau menurut aturan dalam SKSNI-1991.
e. Besi beton harus babas dari kotoran, karat, minyak, cat dan kotoran lain yang dapat
mengurangi daya lekat semen atau dapat menurunkan mutu besi beton.
f. Besi beton harus dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan gambar. Kemudian dibentuk dan
dipasang sedemikian rupa sehingga sebelum dan selama pengecoran tidak berubah tempat.
g. Kawat beton yang dipergunakan hares lazim dipakai, sehingga dapat mengikat besi beton
tetap pada tempatnya. Untuk mendapatkan mutu besi beton yang diinginkan, dapat
dipergunakan besi beton dari produk yang ditunjuk Direksi Teknis.
h. Besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di alam
terbuka untuk jangka waktu yang panjang.

Tabel Spesifikasi : Round Bar (Grade 24)

1) UNIT WEIGHT Diameter


Code No. Tolerance
2) Kg/m (D)
Tolerance
Ø 7 5) 7% 7 6) 7%
Ø 8 8) 7% 8 9) 7%
Ø 10 11) 5% 10 12) 6%
Ø 12 14) 5% 12 15) 6%
Ø 16 17) 5% 16 18) 5%
Ø 19 20) 4 % 19 21) 5 %
Ø 22 23) 4%- 22 24) 5%-
Ø 25 26) 4% 25 27) 5%

Tabel Spesifikasi : Deformed Bar (Grade 40)


28) UNI
Code No. T e Diameter
29) Kg/m
Tolerance
D- 10 32) 6% 33) 10
D- 13 35) 6% 36) 13
D- 16 38) 5% 39) 16

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 30


D- 19 41) 5% 42) 19
D- 22 44) 5% 45) 22
D- 25 47) 5 % 48) 25
D- 29 50) 4%- 51) 29
D- 32 53) 4% 54) 32 -1

Tabel Spesifikasi : Wire Mesh


55) Code Type 57) Size
56) No. 58) (M)
61) M4 Root 54,0 2,10
63) M 5 Root 54,0 2,10
65) MG Root 54,0 2,10
67) M6 Sheet 5,40 2,10
69) M 7 Sheet 5,40 2,10
71) M8 Sheet 5,40 2,10
73) M9 Sheet 5,40 2,10
75) M10 Sheet 5,40 2,10

2.5.4. Pekerjaan Begesting / Form work


a. Kontraktor harus menyerahkan usulan tentang cara pelaksanaan begesting yang baik untuk
mendapat persetujuan Direksi
b. Material yang dipakai untuk begesting apakah dari baja atau kayu harus mendapat
persetujuan Direksi
c. Begesting yang dipakai pada alur air dan untuk beton yang akan tampak harus ditutup
dengan plywood dan harus bebas dari semua cacat yang menghasilkan noda pada
permukaan beton
d. Sebelum pemakaian ulang, papan begesting harus dibersihkan, lubang-lubang harus
disumbat dan bila perlu di permukaan dilapisi lagi.
e. Begesting harus kaku dan kokoh untuk menahan tekanan saat pengecoran dan proses
pengerasan beton. Begesting diangkat / dibongkar secara hati-hati setelah beton mengeras
dan cukup kuat menahan beban dengan aman dan permukaan beton tetap bagus serta
mendapat persetujuan dari Direksi.

2.5.5. Gambar Penulangan Yang Harus Disiapkan Kontraktor


a. Kontraktor harus menyiapkan gambar-gambar tulangan secara rinci untuk semua struktur dan
diajukan kepada Direksi untuk mendapat persetujuan. Gambar-gambar tersebut mencakup
peletakan tulangan, diagram pembengkokan tulangan dan daftar tulangan (Bar List). Gambar-

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 31


gambar yang dibuat oleh Kontraktor harus mengacu kepada gambar konstruksi (Constructions
Drawings) yang disajikan oleh Direksi dan harus memenuhi persyaratan. Gambar-gambar
tersebut harus dapat menunjukkan secara rinci dan memudahkan pemeriksaan selama
pelaksanaan dan perhitungan untuk pembayaran.
b. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi untuk mendapat persetujuan, 4 lembar salinan
dari masing-masing gambar rinci penulangan. Gambar-gambar tersebut akan dikaji ulang oleh
Direksi. Adanya kesalahan dan koreksi akan dicantumkan pada lembar salinan dan atau akan
disampaikan kepada Kontraktor untuk dibetulkan. Kontraktor harus melakukan koreksi sesuai
dengan yang dicantumkan pada lembar salinan yang dikembalikan dan kemudian diajukan
kembali kepada Direksi untuk mendapat persetujuan sebelum pelaksanaan dimulai. Walaupun
telah dikaji ulang dan telah disetujui oleh Direksi, Kontraktor tidak lepas tanggung jawab
terhadap ketepatan atau kesesuaian terhadap kebutuhan dari pada persyaratan-persyaratan
teknik.

2.5.6. Pengukuran dan Pembayaran


A. Beton
Pengukuran untuk pembayaran setiap kelas beton yang diperlukan untuk dicor langsung ke
permukaan galian, dilakukan sesuai dengan garis batas dimana pembayaran untuk galian
dilakukan.
Pengukuran untuk pembayaran setiap kelas beton dilakukan sesuai dengan garis batas
kerapian konstruksi, seperti tercantum pada Gambar, kecuali bila tercantum dalam spesifikasi.
Pengukuran untuk pembayaran beton pengisi (back concrete) dilakukan sesuai dengan volume
beton aktual yang ditempatkan pada lokasi lokasi yang memerlukan pengisian.
Dalam mengukur beton untuk pernbayarannya, volume semua bagian yang membuka, bagian
yang ceruk (recess), saluran, pipa, pekerjaan kayu (woodwork) dan pekerjaan baja yang
masing-masing lebih besar 0,05 m2 pada potongan melintang, maka harus dikurangi
pembayarannya.
Kecuali tercantum dalam spesifikasi, pembayaran setiap kelas beton di berbagai bagian
pekerjaan, dilakukan berdasarkan harga satuan per meter kubik seperti yang tercantum dalam
Daftar Volume Pekerjaan, dimana harga satuan tersebut termasuk semua biaya, peralatan,
tenaga kerja, dan material yang diperlukan dalam pelaksanaan, termasuk pekerjaan bekisting
dan finishing, kecuali baja tulangan, ‘joint filler” dan “waterstop” dimana pembayarannya di
lakukan secara terpisah. Pembayaran setiap kelas beton sudah termasuk biaya beton (semen,
agregat, air dan bahan pencampurnya), “batching”, pencampuran, pengangkutan, penempatan,
curing blockouts, joints, pengetesan dan pekerjaan lain yang terkait, seperti yang tercantum
dalam spesifikasi.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 32


Pembayaran tidak dilakukan untuk beton yang perlu ditempatkan diluar garis batas galian,
seperti misalnya galian yang lebih atau karena alasan lain, kecuali ada persetujuan Direksi.
Semua biaya pembuangan sisa beton atau mortar harus ditanggung Kontraktor.

B. Begesting
Pengukuran untuk pembayaran dari pada begesting dilakukan berdasarkan luasan (M2)
begesting terpasang sesuai dengan daftar kuantitas yang dibuat oleh Kontraktor dan sudah
disetujui oleh Direksi.

C. Baja Tulangan
Pengukuran untuk pembayaran dari pada baja tulangan dilakukan berdasarkan berat besi
terpasang sesuai dengan daftar tulangan yang dibuat oleh Kontraktor dan sudah disetujui oleh
Direksi. Besi penyangga dan besi antara tidak termasuk yang dapat dibayar.
Pembayaran untuk pengadaan dan perakitan penulangan dilakukan untuk setiap ton terpasang.
Oleh karena itu dalam harga satuan harus sudah mencakup ongkos untuk tenaga, bahan,
peralatan, penyiapan gambar rinci dan pengadaan, pengangkutan, penyimpanan, pemotongan,
pembengkokan, pembersihan, kawat pengikat atau logam penyangga lain yang diijinkan serta
pekerjaan lain yang terkait.

2.1 PEKERJAAN PLESTERAN


2.6.1. Umum
1) Uraian.
Pekerjaan plesteran meliputi semua pekerjaan plesteran dinding, kolom beton, plat beton,
listplang beton, atau sesuai dengan yang tertera dalam gambar Kerja.
2) Toleransi dimensi
a) Tebal plesteran rata-rata 15 mm untuk setiap lapis plesteran dengan toleransi
perbedaan ketebalan tidak lebih dari 5 mm setiap bidang plesteran.
b) Toleransi kemiringan vertikal dan horizontal plesteran adalah 1 mm per 1 m’ baik
Tinggi atau Panjang per seribu.
3) Pengajuan Kesiapan Kerja dan Perbaikan Pekerjaan yang Cacat
a) Sebelum memulai pekerjaan plesteran, Kontraktor harus mengajukan kepada Direksi
Pekerjaan contoh bidang plesteran untuk setiap jenis adukan untuk mendapatkan
persetujuan Direksi Pekerjaan.
b) Pekerjaan plesteran tidak boleh dimulai sebelum Direksi Pekerjaan menyetujui
formasi/kedudukan dan kondisi bidang plesteran untuk setiap bagian pekerjaan sesuai

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 33


Gambar, namun Kontraktor tetap bertanggung jawab atas ketepatan dan presisi
pekerjaan.
c) Bilamana terdapat pekerjaan yang cacat atau tidak sesuai dengan rencana Gambar dan
ketentuan yang disyaratkan harus segera diperbaiki atas biaya dan tanggung jawab
Kontraktor hingga dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.
4) Jadwal Kerja
a) Jumlah pekerjaan plesteran yang dilaksanakan setiap satuan waktu haruslah dibatasi
sesuai dengan tingkat kecepatan pekerjaan plesteran untuk menjamin agar seluruh
pekerjaan plesteran hanya digunakan adukan plester baru.
b) Lebar bidang plesteran maksimum setiap tahap pleseran tidak boleh lebih dari 1 m’
untuk setiap tahap kerja yang dibatasi dengan membuat plesteran kepala secara
vertikal.
c) Setiap tahap pekerjaan, tebal plesteran tidak boleh lebih tebal dari 20 mm, hari guna
memberikan kesempatan mengeringnya plesteran lapis pertama sebelum pekerjaan
plesteran dilanjutkan.
d) Setiap memulai pekerjaan plesteran harus sepengetahuan dan seijin Direksi Pekerjaan.

2.6.2. Bahan
1) Adukan plesteran

No. Jenis Keterangan Adukan Plesteran Komposisi


1 A1 1 pc : 2 ps
2 A2 1 pc : 3 ps
3 A3 1 pc : 4 ps
4 A4 1 pc : 5 ps
- pc = portland cement
- ps = pasir pasang
2) Bahan dan Standar
a) Semen sesuai NI – 8
b) Pasir sesuai NI – 3 pasal 14 ayat 2
c) Air sesuai NI – 3 pasal 10
d) Kapur/Mil sesuai NI -7
Kontraktor hars memberikan contoh bahan terlebih dahulu kepada Direksi
Pekerjaan.
3) Penggunaan Komposisi Campuran
Adukan untuk plesteran dibuat sesuai dengan yang digunakan pada pasangan
batanya ;

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 34


a) Plesteran trasram A1 : 1pc : 2ps
b) Plesteran kolom, level, dan nat bata expose : A2 : 1pc : 3ps ayakan halus
(expose)
c) Plesteran dinding pada umumnya A1 : 1pc : 5ps
d) Pasangan dinding sejauh menempel pada tanah harus diplester sesuai dengan
adukan untuk dindingnya.

2.6.3. Pelaksanaan
1) Membuat Campuran
a) Pasir harus bersih dari kotoran-kotoran dan diayak sesuai dengan kebutuhan
campuran.
b) Campuran harus dibuat secara homogen dengan cara dan peralatan mekanis
(beton molen) dengan pemakaian air secukupnya.
c) Campuran yang akan dipasang harus selalu baru, jangan biarkan adukan
membeku lebih dari satu jam.
2) Contoh Bidang Plesteran
Kontraktor harus membuat contoh bidang plesteran terlebih dahulu, kemudian
setelah disetujui oleh Direksi Pekerjaan, pekerjaan plesteran harus dilanjutkan
sesuai dengan contoh.
3) Persiapan pada Bidang yang Akan Diplester
a) Semua siar hendaknya dikerok sedalam lebih kurang 10 mm sebelum
diplester dan bila dinat bidang bata harus bersih dari bekas-bekas
perekat/kotoran-kotoran lainnya.
b) Semua dinding dan kolom beton yang akan diplester harus dikerik agar
plesterannya dapat melekat dengan baik.
c) Semua dinding bataco/beton cetak harus disawut dengan adukan 1 pc ; 2 ps
ayakan halus sebelum diplester agar plesteran dapat melekat dengan baik.
d) Semua bidang yang akan diplester harus disikat atau disapu sampai bersih
dan dibasahi hingga jenuh sebelum diplester.
4) Sudut-Sudut dan Bidang Plesteran
Semua sudut-sudut harus tegas tajam dan bidang-bidang plesteran harus rata
tidak bergelombang.
5) Kerataan Bidang Plesteran
Untuk dapat mencapai permukaan yang rata dari suatu plesteran sebaiknya
diadakan pemeriksaan dengan garisan panjang, baik horisontal maupun vertikal
yang berpedoman kepada plesteran kepala.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 35


6) Perbaikan Bidang Plesteran
Bilamana terdapat bidang plesteran yang berombak harus diperbaiki secara
keseluruhan. Bagian-bagian yang diperbaiki, harus dibobok terlebih dahulu
dengan baik, bobokan dibuat dalam bidang segi empat kemudian diplester rata
dengan sekitarnya.
7) Bidang Plesteran Tebal
Tebal plesteran tidak kurang dari 1,5 cm dan tidak lebih dari 2 cm. Dipasang
merata toleransi 1 mm setiap meter panjang. Untuk plesteran lebih dari 20 mm
dan kurang dari 40 mm, sebelum lapisan tahap pertama kering benar
permukaannya di garis silang-silang untuk mengikat lapisan berikutnya.
Permukaan harus dibasahi secara berkala dan dilindungi dari terik matahari atau
hujan.
8) Plesteran Finishing Cat
Untuk plesteran yang akan difinishing cat harus di aci terlebih dahulu. Pengacian
dilakukan setelah lapisan mengeras dan tidak berkerut lagi. Tebal acian tidak
kurang dari 1 mm dan tidak lebih dari 2 mm, memakai bahan kapur dan semen
yang diayak halus dengan perbandingan campuran 1 pc : 8 kapur/gamping dan
disetujui Direksi Pekerjaan. Permukaannya halus dan rata, dilindungi dan
dibasahi seperti tersebut di atas.
9) Plesteran Exposed
Plesteran expose dengan adukan 1 pc : 3 ps ayakan halus, dikerjakan langsung
jadi sesuai dengan luas bidang yang dikehendaki sesuai dengan petunjuk
Gambar atau Direksi Pekerjaan. Setiap satu satuan bidang plesteran dengan
bidang lainnya harus dipisahkan dengan alur ukuran 10x10 mm. Tebal plesteran
tidak kurang dari 1,5 cm dan tidak lebih dari 2,0 cm. Dipasang merata toleransi 1
mm setiap meter panjang.
10) Naad Plesteran
Antara bidang plesteran dan kusen atau kolom harus dibuat alur-alur pemisah
yang rapi. Bila tidak disebutkan dalam gambar ukuran alur dibuat 8x8 mm yang
selanjutnya diaci.
11) Hasil Akhir yang Dikehendaki :
a) Bidang plesteran yang halus, rata atau tidak bergelombang, dan tidak retak-
retak
b) Alur-alur lurus dengan ukuran yang sama dan lurus
c) Sudut-sudut tajam dan rapih.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 36


2.6.4. Pengukuran dan Pembayaran
1) Kuantitas pekerjaan plesteran yang dapat dibayar adalah jumlah luasan dalam
“meter persegi” sebagai luasan nominal yang selesai terpasang, memenuhi
persyaratan-persyaratan serta jaminan mutu yang merupakan hasil pemeriksaan
dan pengukuran serta telah disetujui bersama oleh Kontraktor, Konsultan
Pengawas dan Direksi.
2) Kuantitas plesteran seperti yang disyaratkan di atas akan dibayar atas dasar
Harga Kontrak persatuan pengukuran untuk Mata pembayaran yang ditunjukkan
dalam Daftar Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan. Harga tersebut merupakan
kompensasi penuh untuk pemasokan dan harga bahan, ongkos kerja, peralatan,
pengujian dan pekerjaan lain yang dierlukan untuk penyelesaian pekerjaan
sesuai dengan ketentuan dalam Gambar dan Spesifikasi ini.

2.2 PEKERJAAN ACIAN


2.7.1. Bahan
1) Bahan – bahan seperti pasir halus, semen, mill tembok dan air adukan
mengikuti ketentuan yang digunakan dalam pekerjaan beton.
2.7.2. Pelaksanaan.
3) Lakukan pekerjaan acian setelah plesteran atau beton berumur 7 hari.
4) Pastikan bahwa kondisi plesteran rata, lurus pada bagian sudut dan siap
untuk diaci.
5) Lakukan pembasahan atau penyiraman dengan air terhadap plesteran atau
beton atau bidang yang akan diaci.
6) Tebal acian tidak boleh lebih dari 3 mm.
7) Gunakan jidar aluminium untuk meratakan acian.
8) Setelah acian setengah kering gunakan kasut kecil untuk merapikan dan
menghaluskan acian secara merata dan tidak bergelombang.
9) Bidang acian harus tetap dibasahi dengan air minimal dalam waktu 7 hari,
dan setelah itu acian baru dikeringkan.
10) Setelah acian benar – benar kering dan atas persetujuan Direksi atau
Pengawas pekerjaan, pekerjaan pengecatan atau plamiran baru dapat
dilaksanakan.
11) Sebelum pemasangan kontraktor harus membuat shop drawing dan ditunjukkan
kepada direksi atau konsultan pengawas. Sebelum shop drawing disetujui
konsultan pengawas atau direksi pekerjaaan belum boleh dilaksanakan.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 37


2.7.3. Pengukuran dan Pembayaran
1) Kuantitas pekerjaan Acian yang dapat dibayar adalah jumlah luasan dalam
“meter persegi” sebagai luasan nominal yang selesai terpasang, memenuhi
persyaratan-persyaratan serta jaminan mutu yang merupakan hasil pemeriksaan
dan pengukuran serta telah disetujui bersama oleh Kontraktor, Konsultan
Pengawas dan Direksi.
2) Kuantitas acian seperti yang disyaratkan di atas akan dibayar atas dasar Harga
Kontrak persatuan pengukuran untuk Mata pembayaran yang ditunjukkan dalam
Daftar Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan. Harga tersebut merupakan
kompensasi penuh untuk pemasokan dan harga bahan, ongkos kerja, peralatan,
pengujian dan pekerjaan lain yang dierlukan untuk penyelesaian pekerjaan sesuai
dengan ketentuan dalam Gambar dan Spesifikasi ini.

2.3 PEKERJAAN WATER STOP DAN WATER PROOFING


2.8.1 Umum
1) Pekerjaan pasang Water Proofing meliputi semua pekerjaan pasang Waterproofing pada Lantai
dan dinding Bak PMA dan Bak Reservoar atau bidang-bidang lainnya atau sesuai dengan
tertera dalam Gambar dan petunjuk Direksi Pekerjaan.
2) Pengajuan Kesiapan Kerja dan Perbaikan Pekerjaan yang Cacat
a. Kontraktor harus menyiapkan tenaga kerja yang terampil dan peralatan secukupnya
sebelum memulai pekerjaan pasangan Waterproofing.
b. Kontraktor harus mengajukan kepada Direksi Pekerjaan satu unit contoh bidang pasangan
Waterproofing untuk setiap jenis penggunaan ruang atau bidang pasangan dalam rangka
mendapatkan persetujuan Direksi Pekerjaan.
c. Pekerjaan pasangan Waterproofing tidak boleh dimulai sebelum Direksi Pekerjaan
menyetujui formasi/kedudukan dan kondisi bidang pasang untuk setiap bagian pekerjaan
sesuai Gambar, namun kontraktor tetap bertanggung jawab atas ketepatan dan presisi
pekerjaan.
d. Bilamana terdapat pekerjaan yang cacat atau tidak sesuai dengan rencana Gambar dan
ketentuan yang disyaratkan harus segera diperbaiki atas biaya dan tanggung jawab
Kontraktor hingga dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.
3) Jadwal Kerja
a. Jumlah pekerjaan pasang Waterproofing yang dilaksanakan setiap satuan waktu haruslah
dibatasi sesuai dengan tingkat kecepatan dan presisi pekerjaan pasang Waterproofing.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 38


b. Luas bidang pasang Waerproofing minimal setiap tahap pasang harus mengacu kepada
luas ruang atau bidang yang akan dipasang Waterproofing untuk setiap tahap kerja yang
dibatasi dengan membuat construction join.
c. Setiap tahap pekerjaan, pasangan Waterproofing tidak boleh terganggu/diinjak sebelum
lapisan mengering sesuai jenis Waerproofing yang dipakai.
d. Setiap memulai pekerjaan pasang Waterproofing harus sepengetahuan dan seijin Direksi
Pekerjaan
e. Garansi Pekerjaan Waterproofing minimal 10 (sepuluh) tahun sejak Serah Terima I
Pekerjaan Kontruksi.

2.8.2. Bahan
1) Bahan dan Standar
Waterproofing untuk air bersih dipakai jenis anti toxic (tidak beracun) dari jenis cement
base sedang untuk lantai toilet pada lantai tingkat, bak mandi maupun Septic Tank
digunakan jenis membrancesheet atau lapisan bitumen lainnya dengan kualitas terbaik,
ketebalan sheet minimal 4 mm. Pasir sesuai NI -3 pasal 14 ayat 2, Air sesuai NI – 3 pasal
10, semen sesuai NI - 8
2) Lapisan Screed dan Penutup Akhir Waterproofing Access Floor
Lapisan screed dari campuran beton K175 kedap air, sedang penutup akhir dari plesteran
kedap air A1 yang diberikan wiremesh/kawat ayam galvanized untuk menghindari retak.
3) Contoh Bahan
Kontraktor harus memberikan contoh bahan, tiap jenis penggunaan Waterproofing terlebih
dahulu kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan.

2.7.3. Pelaksanaan
1) Pembuatan Beton Screed :
Semua bahan beton Screed harus bersih dari kotoran-kotoran terbuat dari campuran 1Pc :
2Ps : 3 Krk (K275) yang dihampar di ats bidang dinding atau lantai yang akan dilapis
Waterproofing dengan ukuran sesuai gambar atau dengan sudut kemiringan minimal 1 %
ke arah floor drain.
Sebelum screed dicor dpastikan bahwa dinding atau lantai dasarnya sudah kedap air,
apabila ada retak atau cacat harus di grouting terlebih dahulu.
2) Contoh bidang pasang Waterproofing :
Kontraktor harus membuat contoh bidang pasang Waterproofing terlebih dahulu,
kemudian setelah disetujui oleh Direksi Pekerjaan, pekerjaan pasang Waterproofing harus
dilajutkan sesuai dengan contoh

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 39


3) Persiapan pada bidang yang akan dipasang Waterproofing
a. Semua bidang pasang harus bersih dari kotoran-kotoran/debu dan telah diadakan
perbaikan hingga mendapatkan permukaan yang kedap air melalui uji rendam air min.
3 x 24 jam.
b. Semua bidang pasang telah Direncanakan system drainasenya dengan derajat
kemiringan ketempat pembuangan sebesar minimal 1 % dengan beton screed K 175
kedap air.
4) Pasang Waterproofing
Waterproofing sesuai jenisnya dipasang mengikuti petunjuk pabrik dan dikerjakan oleh
tenaga kerja terampil dan memiliki sertifikasi. Setelah lapisan Waterproofing terpasang
harus diuji kedap air melalui uji rendam air minimal 3x24 jam. Di atas lapisan
Waterproofing di hampar plesteran padat kedap air (A1 - 1pc:2ps) setebal minimal 3 cm
yang diperkuat dengan kawat ayam galvanized, permukaan plesteran harus rata dan miring
ke arah pembuangan air.
5) Hasil Akhir yang dikehendaki
a. Bidang pasang Waterproofing rata atau tidak bergelombang dan tidak cacat.
b. Bidang yang dilapisi Waterproofing tidak bocor dan plesteran pelindung tidak retak.
c. Air dapat mengalir lancar kearah floor drain.

2.7.4. Pengukuran dan Pembayaran


1) Volume pekerjaan pasang Waterproofing yang dapat dibayar adalah jumlah volume dalam
meter persegi sebagai volume nominal yang selesai terpasang, memenuhi persyaratan –
persyaratan serta jaminan mutu yang ditentukan, dan diterima Direksi Pekerjaan.
2) Kuantitas pasang Waterproofing seperti yang disyaratkan di atas akan di bayar atas dasar
Harga Kontrak persatuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang ditunjukkan dalam
Daftar Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan. Harga tersebut merupakan kompensasi
penuh untuk pemasokan dan harga bahan, ongkos kerja, peralatan, pengujian, masa garansi
dan pekerjaan lain yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan sesuai dengan ketentuan
dalam Gambar dan Spesifikasi ini.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN SIPIL IV - 40


BAB V
PEKERJAAN PERPIPAAN

5.1. UMUM
Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan dan menyertakan semua pipa dan fitting, valve,
coupling, meter, mur, baut, gasket, material penyambung dan bahan pelengkap sebagaimana dirinci
dalam Daftar Kualitas dan Bahan atau dalam gambar/drawing.
Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan perpipaan dari semua material sebagaimana dirinci
disini dan ditunjukkan dalam daftar kuantitas bahan. Semua pipa, fitting, valve dan perlengkapan
lainnya harus sesuai dengan untuk pemakaian di daerah tropis, beriklim lembab dan bersuhu udara
o
32 C. Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan suatu affidavit (Sertifikat Jaminan Barang) dari
pabrik pembuat yang menyatakan bahwa barang tersebut sesuai dengan kebutuhan yang dirinci dalam
spesifikasi teknis. Penyedia Jasa Pengadaan juga harus menyampaikan tentang laporan hasil uji
kimiawi dan fisik yang telah dilakukan di pabrik dan berlaku untuk semua jenis barang.

5.1.1. Referensi Standard


Referensi pada standard dalam dokumen lelang ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran
mengenai jenis dan kualitas material yang diminta.
Semua material yang ditawarkan harus produksi dalam negeri dengan Standar Nasional Indonesia
(SNI). Bila ternyata belum ada SNI untuk produk tertentu atau belum dibuat di dalam negeri, maka
yang ditawarkan dapat menggunakan standard lain, dengan syarat bahwa kualitas keseluruhan
sekurang-kurangnya sama dengan apa yang ditetapkan dalam dokumen lelang ini.
Semua material yang dikirim harus seratus persen baru (bukan material bekas), dalam keadaan baik
dan memenuhi syarat spesifikasi teknis yang ditentukan.
Barang atau peralatan yang di produksi di dalam negeri atau berasal dari luar negeri dan sudah diatur
dalam SNI maka barang/peralatan tersebut wajib memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI).
Bilamana jenis barang atau peralatan tersebut belum diatur dalam Standar Nasional Indonesia, maka
barang atau peralatan tersebut harus memiliki standar-standar sebagai berikut :
• ISO - International for Standardization Organization
• JIS - Japanesse Industrial Standard
• BS - British Standard
• DIN - Deutsche Industrie Norm
• AWWA - American Water Works Association
• ASTM - American Society for Testing and Materials
• ANSI - American National Standard Institute.
SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -1
• AS - Australian Standar
• AWS - American Welding Society

5.1.2. Bahan Pipa Dan Fitting


Untuk pipa dan fitting yang telah dapat dibuat di dalam negeri maka Penyedia Jasa Pengadaan harus
melampirkan surat dari pabrik untuk izin penggunaan SII/SNI yang dikeluarkan oleh Departemen
Perindustrian dan dapat menunjukkan pengalaman minimal 3 (tiga) tahun.
Bahan pipa yang ditawarkan dapat berlainan dengan bahan pipa yang tercantum dalam dokumen
lelang ini, dengan syarat bahwa pipa yang ditawarkan mempunyai kualitas keseluruhan yang
sekurang-kurangnya sama dengan apa yang tercantum dalam dokumen lelang ini.
Dalam hal bahan pipa yang ditawarkan berbeda dengan apa yang tercantum dalam dokumen lelang
ini, peserta pelelangan harus menyertakan gambar-gambar detail junction (gambar detail
penyambungan pipa) disertai dengan jumlah dan spesifikasi dari tiap material yang ditawarkan.
Seluruh pipa dan fitting yang ditawarkan harus dapat digunakan di daerah tropis dengan temperatur
air yang mengalir antara 15-35 derajat Celcius dan pH antara 6 sampai dengan 8.
Seluruh pipa dan fitting pipa akan ditanam didalam tanah kecuali untuk hal-hal khusus yang
membutuhkan lain.

5.1.3. Tekanan Kerja/Working Pressure


Tekanan kerja dari pipa minimal 100 m kolom air atau 10 kg/cm2 (SNI 06-0084-1987 dan SNI 03-
6419-2000) dan tekanan pengujian minimal 2 (dua) kali tekanan kerja pipa. Penyedia Jasa Pengadaan
harus menyertakan tanda bukti hasil pemeriksaan tekanan kerja dari pipa/fitting pipa yang ditawarkan.
Bila dianggap perlu, atas permintaan Direksi Pengawas Penyedia Jasa Pengadaan harus dilakukan
pengujian kekuatan tekanan kerja pipa/fitting pipa di lapangan pada pipa/fitting pipa yang dikirim ke
lapangan atas biaya Rekanan. Jumlah pipa/fitting pipa yang akan diuji di lapangan akan ditentukan
kemudian oleh Direksi Pengawas. Bila ternyata hasil pengujian tersebut tidak sesuai dengan
spesifikasi ini, maka Penyedia Jasa Pengadaan harus menggantinya dengan yang baru sampai
memenuhi persyaratan spesifikasi yang ditentukan.

5.2. Fitting dan Adaptor


3.2.1 Adaptor
Adaptor harus terbuat dari ductile iron atau dari besi tuang dan terdiri atas flange pada satu ujungnya
dan socket (atau bell) pada sambungan fleksibel baik dengan mekanikal maupun push-on.

3.2.2 Fitting

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -2


Fitting sambungan harus sesuai dengan standar SNI-0084-1987 dan bila tidak disebutkan dalam
Volume Pekerjaan (Bill of Quantity) maka sistem sambungan menggunakan sistem baut dan
pengelasan untuk pipa GIP
Semua fitting direncanakan mempunyai tekanan kerja 1.23 mpa (12.4 kg/cm2)
Kecuali ditentukan lain, semua fitting harus dari jenis injection molded atau heat process (pencetakan
atau proses panas) dan didesain dengan karakteristik dan kekuatan yang sama dengan pipa yang
disambung.
Bila fitting yang dispesifikasikan bukan terbuat dari HDPE maka harus dari besi tuang ductile
(Ductile Cast Iron). Bell and Flange yang dispesifikasikan harus mempunyai flange pada satu
ujungnya dan push-on bell satu sambungan jenis mekanikal pad ujung yang lain. Tee dengan cabang
flange, jika dispesifikasikan, harus berupa ujung-ujung dengan push-on dan ujung pipa cabang
dengan flange. Permukaan luar fitting tersebut harus dilapisi lapisan pelindung dari bahan bitumen,
yaitu coal tar atau aspheltic base, yang mempunyai ketebalan kering tidak kurang dari 0,3 mm.
permukaan dalam dari fitting tersebut harus dilapisi epoxy atau coal tar epoxy yang dipakai untuk
lining harus dari bahan yang tepat untuk pipa air minum dan dilengkapi sertifikati dari instansi yang
berwenang (public health authorities).
Baut dan mur yang akan dipakai untuk flange dan sambungan mekanikal harus dari baja yang
digalvanis.
A. Pengujian Quality Assurance (Jaminan Kualitas)
Pengujian quality assurance sesuai dengan persyaratan berikut harus cukup mewakili unit yang
disuplai sesuai kontrak. Pengguna harus diijinkan untuk mengunjungi tempat pembuatan untuk
menyaksikan test/pengujian tersebut. Atas biaya penyedia jasa.
B. Pengujian Tekanan Hidrostatis
Pengujian tekanan harus dilakukan pada semua pipa dan fitting dan memenuhi standar SNI 06-
2549-1991.
Setiap pipa harus diuji untuk dapat menahan tekanan pengujian hidrostatis pada tekanan paling
sedikit 42 N/mm 1
C. Pengujian Lain
Pengujian lainnya seperti flattering test, toksisitas, tekanan terus menerus dan lain-lain harus
dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku.

3.2.3 Bend
"Bend" yang mempunyai sudut defleksi sebesar 22.5 derajat dan lebih kecil harus terdiri dari dua
potongan bend. Bend yang mempunyai sudut defleksi lebih besar dari 22.5 derajat sampai dengan 45

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -3


derajat harus difabrikasi dengan menggunakan tiga potongan bend. Bend yang mempunyai sudut
defleksi lebih besar dari 45 derajat harus terdiri dari empat potongan bend.

5.3. VALVE
5.3.1. Umum
1) Penyedia Jasa Pengadaan harus melengkapi valve sesuai dengan yang dibutuhkan dan
menurut standar yang disetujui. Seluruh valve sesuai dengan ukuran yang disebutkan
dan bila mungkin dari jenis atau model yang sama dan dikeluarkan oleh satu pabrik
2) Seluruh valve pada badan bagian luar harus tercetak asli dari pabrik dan dicor dengan
huruf timbul yang dapat menunjukkan :
• Nama atau Merk Dagang Pembuatnya
• Tahun pembuatan (97 berarti 1997)
• Tekanan kerja
• Diameter nominal
• Arah panah aliran bila valve tersebut digunakan satu aliran
3) Valve dengan diameter lebih kecil atau sama dengan25 mm bolehdari brass/kuningan,
kecuali untuk handwheel terbuat dari besi tuang atau besi tempa atau jenis sambungan
dari sambungan ulir.
4) Batang katup terbuat dari bahan stainless steel sesuai standar EN 10088 atau setara
yaitu Baja tahan karat AISI 420 atau AISI 316, Galur batang trapezoidal hendaknya
sesuai bentuk alur acme DIN 103
5) Valve dengan diameter 50 mm keatas menggunakan sambungan sistem dengan flange
dan terbuat dari ductile iron.
6) Ketebalan flange harus ditentukan berdasarkan tekanan kerja seperti yang
dispesifikasikan dan sesuai dengan standard internasional yang diakui.
7) Bila tidak disebutkan dalam Volume Pekerjaan (Bill of Quantity) maka seluruh Valve
harus dibuat khusus untuk menerima tekanan kerja minimal 10 bar
8) Semua lubang/bukaan sambungan pipa harus ditutup untuk mencegah masuknya benda-
benda asing.
9) Harga penawaran valve sudah termasuk perlengkapan untuk penyambungan seperti
gasket, mur, baut dan ring untuk satu sisi flange dengan tambahan 10%.
10) Besar dan ukuran perlengkapan tersebut disesuaikan dengan spesifikasi teknis dari
flange valve, mur, baut dan ring dikirim dalam keadaan bukan material bekas.
11) Valve yang disupplai adalah termasuk kategori / Type B, dimana desainnya lebih kuat
& tahan untuk torsi yang diberikan.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -4


12) Valve harus bersih, kering dan bebas dari kotoran sebelum digunakan. Coating sudah
menggunakan Electrostatically Applied Epoxy Resin Coating, lebih baik disertakan
sertifikasi Coating sesuai standard GSK Coating.
13) Petunjuk operasi (operating manual) harus disediakan untuk setiap jenis valve dan
perlengkapannya.
14) Penyedia barang/jasa harus menyertakan sertifikat keaslian dari pabrik dengan garansi
dari kerusakan yang disebabkan malfungsi tanpa tindakan disengaja dirusak dengan
pemakaian normal minimal 8 tahun.

5.3.2. Gate Valve


1) Bila tidak disebut dalam Volume Pekerjaan (Bill of Quantity), maka gate valve yang
ditawarkan adalah gate valve dari jenis “Non Rising Stem setaraKITZ .
2) Penawaran gate valve sebaiknya disediakan hand wheel dan kunci T (Tee Key) sebagai
bonus dalam penawaran. Jumlah T Key & Handwheel minimal 40% dari setiap valve
yang ditawarkan yang ukurannya sama. Handwheel dari bahan Besi tuang kelabu
sedangkan T Key dari Mild Steel. Semua Gate Valve harus disediakan Stamp Cap
(tutup batang ulir) dari Besi tuang kelabu .
3) Bila dalam Volume Pekerjaan (Bill of Quantity) diperlukan extension spindle maka
material tersebut terbuat dari baja galvanis yang telah dilakukan Electrostatically
applied epoxy resin (GSK Coating). Harga penawaran extension spindle sudah
termasuk spindle Cap dari Besi tuang kelabu.
4) Badan dari gate valve terbuat dari Ductile Cast Iron atau juga disebut Ductile
Iron.Tangkai valve jenis non-rising dan dengan katup yang solid (solid wedge gate).
Valve harus cocok untuk pemasangan dengan posisi tegak (vertikal mounting). Valve
harus dirancang untuk saluran air yang bebas hambatan yang mempunyai diameter
tidak kurang dari diameter nominal valve apabila dalam posisi terbuka.
5) Teknologi Valve sudah menggunakan konsep O-Ring, bukan Gland Packing. O-Ring
dibuat dari bahan Karet EPDM dan aman digunakan untuk air minum.
6) Surface box untuk valve yang ditanam terbuat dari besi tuang kelabu , rata dan tahan
terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh beban lalu lintas yang padat. Tutup harus
disertakan pada surface box tersebut.
7) Joint antara tutup dengan badan bisa berupa engsel atau dihubungkan dengan baut.
Ukuran surface box disesuaikan dengan masing-masing dimensi valve dan sudah
dicoating dengan anti karat.
8) Valve dengan ukuran lebih kecil dari 50 mm mempunyai badan yang terbuat dari
perunggu, skrup bonnet (topi sekrup), gate valve memiliki solid wedge (baji), skrup
dalam dan tangkai pengungkit.
SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -5
5.3.3. Katup Udara (Air Release Valve)
1) Katup udara harus dapat beroperasi secara otomatis dan mengikuti hal-hal sebagai
berikut :
• Dapat melepaskan udara selama pengaliran air dalam pipa.
• Dapat memasukkan udara selama penggelontoran.
• Dapat melepaskan udara bila ada udara yang terjebak dalam pipa.
• Dapat mencegah penutupan yang dini bila udara sedang dilepaskan.
• Aman terhadap vakum
2) Seluruh air valve dengan standard flange JIS-B2213. Setiap valve lengkap dengan
mur, baut, ring dan dudukan (stool). Ukuran sesuai dengan yang diberikan pada uraian
pekerjaan.
3) Badan valve terbuat dari cast iron atau ductile iron dan pelampung dari ebonit,
stainlees steel atau Acrynolitrie Butediene Steel.
4) Seluruh bagian yang bergerak terbuat dari stainlees steel, bronze atau ABS.
5) Valve harus diuji dengan tekanan sebesar 1 bar diatas tekanan kerja dan tidak
menunjukkan gejala kebocoran.
6) Juga tidak terjadi keboooran bila tekanan minimum 0,1 bar.
7) Penyedia barang harus menyediakan katup penutup (isolating valve) secara terpisah
untuk setiap katup udara dengan jenis kupu-kupu (butterfly valve) dengan spesifikasi
sbb:
• Setiap badan valve terbuat dari cast iron atau ductile iron dengan rubber seal,
disc, valve shaft dan peralatan mekanisme operasional yang mengikuti 'Standards
for Rubber Seated Butterfly Valves' (AWWA Designation C 504) atau standard
Internasional lain yang disetujui yang sama atau leblh tinggi kualitasnya dari
yang disebutkan.
• Setiap piringan (valve disc) harus dapat berputar dengan sudut 90o dari posisi
terbuka penuh sampai tertutup. Sumbu perputaran valve harus horizontal.
• Mekanisme operasional harus terkait pada badan valve dan sesuai dengan
standard AWWA C 504,
• Setiap mekanisme operasional harus dapat dilepas untuk pengawasan dan
perbaikan,
• Mekanisme operasional untuk pengoperasian valve secara manual harus dapat
mengunci sendiri sehingga tangga aliran air atau vibrasi tidak mengakibatkan
piringan berpindah dari tempatnya semula.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -6


• Setiap valve didesain untuk tekanan melintang pada piringan (bila tertutup rapat)
sama dengan rate tekanan pada pipa.
• Seluruh valve harus mengikuti Spesifikasi ini dan harus dapat membuka atau
menutup bila tidak dioperasikan dalam periode yang lama.
• Badan valve dan flange terbuat dari cast iron dan mengikuti "Specification for
Grey Iron Casting for Valves, Flanges and Pipe Fittings kelas B(ASTM
Designation A 126) alau ductile iron (ASTM 536). Flange harus mengikuti
standard JIS-8 2213.
8) Dudukan valve harus dapat menjaga valve pada posisi yang seharusnya.
9) Tipe air valve harus sesuai dengan spesifikasi di bawah ini yang tergantung pada
ukuran pipa yang dipasang.

Tabel Tipe Air Valve


Ukuran Pipa Diameter Nominal Air Valve
Tipe Air Valve
(mm) (mm)

300 dan lebih kecil Tipe dengan orifice 25 mm dan lebih kecil
350 dan lebih besar kecil / tunggal 75 mm dan lebih besar
Tipe dengan dua
Orifice atau kombinasi

Tipe air valve adalah sebagai berikut :


1. Tipe air valve dengan lubang/orifice kecil
Air valve dengan lubang kecil didesain untuk pengoperasian secara otomatis yang akan
mengeluarkan udara yang terakumulasi bertekanan pada saat aliran air dalam penuh.
2. Tipe air valve dengan dua lubang atau kombinasi
Air valve dengan dua lubang atau kombinasi didesain untuk dioperasikan secara
otomatis, sehingga akan :
a) Terbuka pada kondisi bertekanan kurang dari tekanan atmosfer, dan menampung
banyak udara selama operasi pengurasan saluran pipa.
b) Mengeluarkan banyak udara dan menutup, pada saat air dalam kondisi tekanan
rendah, mengisi badan valve selama operasi pengisian.
c) Tidak menutup aliran pada kondisi kecepatan pembuangan udara tinggi, dan
d) Mengeluarkan akumulasi udara bertekanan pada kondisi aliran air penuh dalam pipa.

5.3.4. Gate Valve Perunggu (Bronze)


1) Gate valve perunggu harus didesain dan dibuat sesuai dengan JIS B 2011 atau ketentuan
lain yang disetujui. Tekanan kerja besarya 0.98 Mpa (10.0 kg/cm2). Valve harus
dilengkapi dengan roda pemutar dan ujung berulir (sekrup).
SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -7
2) Valve dengan ukuran 80 mm atau lebih kecil mempunyai badan yang terbuat dari
perunggu, skrup bonnet (topi sekrup), gate valve memiliki solid wedge (baji), skrup
dalam dan tangkai pengungkit.
3) Badan valve harus merupakan cetakan perunggu yang mengacu pada JIS H 5111, kelas 6
atau cetakan perunggu dengan daya rentang tidak kurang dari 196 N/mm2 (20 kg/m2).
Piringan terbuat dari perunggu cetakan sesuai spesifikasi di atas atau dari kuningan yang
mengacu pada AS H 3250, kelas C 3711 atau dari tembaga yang mempunyai daya
rentang tidak kurang dari 314 N/mm2 (32 kg/m2). Stem/tangkai harus terbuat dari
tembaga sesuai spesiflkasi di atas.

Beberapa Standar Valve,fitting pipa dan accessories pipa lainnya yang untuk dijadikan acuan
dalam penawaran antara lain:
 Bronze & Brass Valve ( connect srew ) Gate valve,Swing Check valve, Ball valve, Y-
Strainner,Ball Foot valve, etc.
Design : JIS Standard
Class : 125 Lbs, 150 Lbs,
Body : Bronze
Stem : Brass
Disc : Bronze
 CI Gate Valve (N.R.S) connect flange
Design : JIS Standard Material
Class : 10K,16 K
Body : FCD-S
Stem : SUS 403
Disc : SUS 403
 CI Swing Check Valves (connect Flange )
Design : JIS Standard Material
Class : 10K,16 K
Body : FCD-S
Screen : SUS 304
Plug : SUS 304/S45C
 CI Y-Pattern Strainer ( connect flange)
Design : JIS Standard Material
Class : 10K, 16 K
Body : FCD-S
Disc : SUS 403
 CI Air Valve ( connect srew/flange)
SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -8
Standar : SCI ( Siam Cast Iron) Air valve
Type : Single small orifice valve ( screwed end & Flange end)
Body & Cover : Cast iron
Orifice & sealing ring : Moulded Synthetic Rubber
Float : ABS ( Acryloitrilile Butadiene Styrene ) /Stainless Steel
Float guide : ABS/Gunmetal/Cast iron
 CI Water Meter (connect flange)
Standar : ISO 4064 B
Setara : Linflow
Status : Lulus uji Kalibrasi
 Surge/pressure Tank dengan pressure switch
Standart : ISO 9001
Setara : CIMM( 500 liter )
Max Press : 10 Bar
Tes Press : 14,3 Bar
 Pressure Reducing Valve(PRV )
Cla Val-Model 90-01 KO (Uses Basic Valve Model 100-01)
Valve size : 3 inchi
Valve and body cover : ASTM A536
Material : Ductile Iron
Flange : ANSI Standart B16.42
Disc retainer
& Diaphragm washer : Cast iron
Trim :Disc guide
Seat & cover bearing :Bronze standart
Disc : Buna N.Rubber
Diaphragm : Nylon Reinforced Buna N.Rubber
Steam nut & spring : Stainless steel
 FITTING SCH- 40 ( Tee, Reducer, Bend, Reducer Tee )
Standar specification : ASTM A234
Standar dimension : ASME B16.9
Material : Carbon steel
 Steel Pipe Flange
Class : 10 K
 CI Giboult Joint
Standart : SII
Class : 10 Bar, 16 Bar
SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -9
5.4. PENGADAAN PIPA GIP DAN PERLENGKAPANNYA
5.4.1. Referensi
Standar yang digunakan adalah :
 AWWA C 200 Steel Water Pipa 6 Inches and Larger
 AWWA C 203 Coal-Tar Protective Coatings and Linings for Steel Water
Pipelines Enamel and Tape Hot Applied
 AWWA C 205 Cement Mortar Protective Lining and Coating for Steel
Water Pipe 4 Inches and Larger Shop Applied.
 AWWA C 208 Dimensions for Steel Water Pipe Fittings.
 AWWA Manual M11 Stell Pipe Design and Installation.
 AWWA C 210 Liquid Epoxy Coating System for he Interior and Exterior
Steel Water Pipe.
 JIS G 3101 Rolled Steel for General Structure.
 JIS G 3452 Carbon Steel Pipes for Ordinary Piping.
 JIS G 3457 Arc Welded Carbon Steel Pipe.
 JIS B 2311 Steel Butt-Welding Pipe Fitting for Ordinary Use.
 JIS G 3451 Fitting of Coating Steel Pipes for Water Service.
 JIS G 550 Spheroidal Graphite Iron Castings
 JIS G 5702 Blackheart Malleable Iron Castings
 JIS G 3445 Carbon Steel Tubes for Machine Structures Purposes
 JIS G 3454 Carbon Steel Pipes for Pressure Service
 JIS K 6353 Rubber Goods Pipes for Water Works.

5.4.2. Material Dan Fabrikasi


 Semua pipa GIP yang dipakai mempunyai diameter nominal, diameter luar, tebal dinding
harus sesuai dengan yang disyaratkan dalam uraian ( SNI, SII ).
 Pipa GIP yang dipakai adalah kelas Medium A yang tahan terhadap Pengujian Tekanan Air
sebesar 50 Kg/cm2. Sedangkan untuk fittingnya menggunakan CI dan atau Black Steel
(SCH- 40) sesuai keterangan dalam gambar dan dalam daftar Quantity.
 Sambungan pipa GIP yang dipergunakan adalah dengan screw,flange las dan atau
pengelasan, disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Dimensi flange dibuat sesuai standar
yang lazim digunakan untuk air minum dan khusus dibuat untuk tahan Pengujian Tekanan
Air 50 Kg/cm2. Harga penawaran yang diajukan sudah termasuk perlengkapannya, seperti
mur, baut, ring dan gasket/karet packing.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -10


 Semua pipa beserta perlengkapan penyambungan adalah dalam kondisi baru dan siap pakai
( tidak dibenarkan menggunakan barang bekas ).

5.4.3. Dimensi Pipa


Kecuali ditentukan lain, pipa dengan ukuran diameter nominal berikut ini harus mempunyai ukuran
diameter luar dan ketebalan dinding mminimum sebelum dilapisi pelindung dalam dan luar
sebagai berikut :

5.4.4. Pengukuran dan Pembayaran


Pengukuran dan kuantitas yang dibayar adalah dalam satuan Meterpanjang (M) dari pipa untuk
masing-masing diameter dan jenis pipasebagaimana tertuang pada daftar kuantitas dan harga.

3.5. PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA


3.5.1. Umum

1) Lingkup Pekerjaan
Kontraktor harus mengerjakan pekerjaan pemasangan pipa berupa perletakan pipa dan
penyambungan, dengan cara yang memuaskan direksi dengan spesifikasi ini dan sebagaimana
yang diperlihatkan dalam gambar kerja.

2) Penanganan Bahan Pipa, Perkakas dan Peralatannya


Perhatian perlu diberikan dalam menangani semua bahan pipa yang disediakan oleh pemilik untuk
menghindari kerusakan pada bahan tersebut selama pengangkutan, penurunan, pemasangan dan
penyambungan sampai pada penyelesaian pekerjaan. Kerusakan pada bahan pipa yang disebutkan
tadi harus diperbaiki hingga memuaskan direksi atas beban biaya kontraktor.
Kontraktor juga harus menangani perkakas dan peralatan yang disediakan oleh pemilik
sedemikian rupa guna menghindari kerusakan pada peralatan tersebut.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -11


Semua perkakas dan peralatan harus dijaga kebersihannya dan dipelihara dengan baik sehingga
selalu siap digunakan dalam kondisi yang baik.
Kerusakan yang terjadi pada perkakas dan peralatan tersebut harus diperbaiki hingga memuaskan
direksi atas biaya beban kontraktor. Dalam hal perkakas dan peralatan tidak dapat diperbaiki atau
hilang, kontraktor harus memberi kompensasi kepada pemilik

3) Sumber Tenaga Dan Penerangan


Kontraktor harus menyediakan semua peralatan dan melakukan pengaturan untuk pemakaian
tenaga listrik serta penerangan yang perlu bagi pelaksanaan pekerjaan. Harus tersedia cukup
penerangan sehingga semua pekerjaan dapat dilakukan secara wajar bila keadaan kurang cukup
sinar matahari atau/pada saat malam hari.

3.5.2. Pemasangan Galvanized Iron Pipe


1) Umum
Singkatan GIP yang digunakan dalam spesifikasi dan dokumen ataupun gambar berarti
Galvanized Iron Pipe.
Kontraktor harus menyediakan dan memelihara dalam keadaan baik perkakas peralatan yang
sesuai bagi pengamanan dan pemasangan pipa, valve dan fitting.
Cara pemasangan pipa dan penggunaan perkakas serta peralatan harus sesuai dan memahami
petunjuk dari pabrik atau mengikuti pengarahan direksi.
2) Pemasangan Pipa
1. Penurunan Pipa ke Dalam Galian
Peralatan Perkakas, dan fasilitas direksi yang memuaskan direksi harus disediakan
dan digunakan oleh kontraktor untuk keamanan dan kenyamanan pekerjaan. Semua
pipa “fitting”, dan “valve” harus diturunkan secara hati-hati kedalam galian, satu
persatu, dengan batasan diameter memakai “crane”, derek, tali, atau dengan mesin,
perkakas, atau peralatan, lainnya yang sesuai, dengan cara sedemikian rupa agar
mencegah kerusakan terhadap bahan, lapisan pelindung luar (protective coating) serta
lapisan pelindung dalam (Lining). Bahan tersebut sama sekali tidak diperkenankan
dijatuhkan atau dilemparkan kedalam galian.
Jika kerusakan terjadi pada pipa, “valve” atau perlengkapan pada saat
penanganannya, harus segera dilaporkan kepada direksi. Direksi akan menentukan
perbaikan yang diperlukan atau menolak bahan yang rusak tersebut.
2. Pemeriksaan Sebelum Pemasangan
Semua pipa ”Fitting” harus diperiksa secara hati-hati dari kemungkinan kerusakan,
pada saat di atas galian sesaat sebelum dipasang pada posisi akhir.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -12


Setiap ujung pipa harus diperiksa dengan secara khusus, karena daerah ini paling
mudah mengalami kerusakan dalam penanganannya.
Pipa atau ”fitting” yang rusak/cacat harus diletakan terpisah untuk pemeriksaan oleh
direksi yang akan menentukan perbaikan yang diperlukan ataupun menolaknya.
3. Pembersihan Pipa dan Fitting
Bagian luar dan dalam ujung pipa harus dibersihkan dengan kain kering dan bersih,
dikeringkan dan bebas dari minyak dan lemak sebelum pipa dipasang.
Bila ada profil pengaku bahan (stiffeners) guna melindungi ujung pipa, semua profil
pengaku tersebut harus disingkirkan sampai bersih demikian pula benda asing lainnya
dalam pipa.
4. Perletakkan Pipa
Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk mencegah benda asing masuk kedalam
pipa pada saat pipa diletakkan pada jalur.
Selama berlangsungnya peletakan, tidak boleh ada kotoran, perkakas, kain, ataupun
benda-benda lainnya ditempatkan dalam pipa.
Saat satuan panjang pipa dalam galian, setiap ujung pipa harus dipasang berhadapan
dengan pipa yang sebelumnya, pipa dipasang dan ditempatkan pada jalur dengan
ketinggian yang benar. Pipa dimantapkan ditempatkan dengan bahan urugan yang
telah disetujui dan dipadatkan dengan ketinggian yang sama kecuali pada ujung pipa.
Tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah tanah atau kotoran lainnya
masuk ke sambungan.
Setiap saat bila pemasangan pipa sedang berlangsung, ujung pipa harus
ditutup/disumbat dengan bahan yang memadai dan dengan cara yang disetujui oleh
direksi.
5. Pemotongan Pipa
Pemotongan pipa untuk menyisipkan ”Tee”, ”Bend” atau ”Valve” atau tujuan
lainnya, harus dilakukan dengan mesin potong yang sesuai dengan cara yang rapih
dan baik, tanpa menyebabkan kerusakan pada pipa maupun lapisan pelindung
dalamnya dan menghasilkan ujung yang halus pada sudut yang tepat terhadap sumbu
pipa.
Pemotongan pipa baja harus dikerjakan dengan mesin pemotong yang sesuai
menghasilkan potongan yang halus pada sudut yang benar atau sudut yang diminta
terhadap sumbu pipa.
Pemotongan perlu dijaga agar jangan sampai merusak lapisan pelindung luar maupun
lapisan pelindung pipa dalam. Ujung potongan pipa yang dipotong tersebut, harus
dipotong serong (Beveled) dengan ukuran yang sama sebagaimana yang ditentukan
dalam spesifikasi.
SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -13
Tidak boleh ada ”fitting” seperti ”Bend”, ”Tee”, dan ”flange dan spigot” dipotong
untuk pekerjaan pemasangan pipa, sejauh tidak ada instruksi tertulis yang diberikan
kepada kontraktor dari direksi.

3) Penyambungan Pipa GIP


Penyambungan pipa-pipa dilaksanakan sesuai dengan petunjuk penyambungan pipa dari
pabrik pembuatan pipa dan atau berdasarkan petunjuk-petunjuk dari direksi proyek.
Penyambungan pipa yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut :
- Pipa baja dengan sambungan Flens
- Pipa baja dengan sambungan las
- Pipa GIP dengan sambungan shock, flens dan las.

4) Sabungan Flens.
- Setelah flens pipa sudah bersih permukaannya, kemudian di las dan dipasang bout
dengan putaran secukupnya.
- Baut-baut harus diputar dengan kunci-kunci yang sesuai sehingga dapat menjamin
kesamarataan baut-baut pipa dengan kedudukan flens pipa sehingga terdapat tekanan
yang sama pada seluruh permukaan dari flens.
- Sebelum baut dipasang, semua baut dan mur harus diberi gemuk dengan sempurna.

5) Penyambungan Dengan Pengelasan


1. Umum
Pengelasan pipa GIP di lapangan harus disesuaikan dengan persyaratan yang
ditentukan berikut ini. Hal-hal yang tidak dijelaskan dalam spesifikasi ini, mengacu
pada standar ataupun pedoman (code) berikut ini.
a. Codes of Japanese Waterworks Steel Pipes Manufactures’ Association (WSP)
b. Codes of Welding Engineering Standard (WES), Japan
Bila pengelasan dilakukan dalam galian, galian harus dilebarkan dan dibuat lebih
dalam agar memungkinkan pengelasan sebagaimana diminta.
Jumlah pipa yang akan menjadi satu, dengan panjang yang sesuai yang dilakukan
diatas permukaan tanah, serta cara perletakannya ke posisi yang sesuai, harus
disetujui terlebih dahulu oleh Direksi.
Untuk jembatan pipa, harus diuji sepanjang seluruh pinggiran setiap sambungan,
dengan cara pengujian radiografi kecuali ditentukan lain.
Penyambungan dengan pengelasan harus dilakukan baik dengan sambungan dengan
las tumpul tunggal (singgle-welded butt joint) atau las-tumpul ganda (double-welded
butt joint) sesuai yang ditentukan.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -14


2. Juru Las (Welder)
Kontraktor harus memasukkan pengalaman dan kualifikasi juru las yang diusulkan
untuk persetujuan Direksi.
Juru las tersebut harus memiliki pengalaman dan kualifikasi yang cukup bagi
pekerjaan pengelasan, dan memegang sertifikat atau ijazah yang dikeluarkan oleh
badan berwenang.
3. Batang Las dan Mesin Las
Batang las harus sesuai persyaratan yang ditentukan dalam JIS Z 3211 dan 3212 atau
yang memiliki kuat tarik yang setara atau lebih baik dari logam dasar bahan pipa.
Batang las yang menyerap lengas (moisture) tidak boleh digunakan dan tingkat lengas
harus lebih kecil dari 2,5 % untuk batang yang diiluminasi (illuminated rod) dan 0,5
% untuk batang yang hydrogennya rendah (low hydrogenous rod)
Mesin las, harus mesin pengelasan busur nyala (Arc Welding Machine) dengan arus
AC atau pengelasan busur nyala DC, sebagaimana yang ditentukan dalam JIS C 9301
atau pada standar yang telah diterima oleh Direksi.
4. Penyiapan Ujung Pipa
Ujung pipa seluruhnya harus mempunyai alur menyudut/serong (bewel) yang sesuai
sebelum pengelasan. Kecuali ditentukan lain atau disetujui oleh Direksi, alur tersebut
harus dibuat pada bagian permukaan luar (exterior) untuk pipa dengan diameter 700
mm dan yang lebih kecil dari pada permukaan dalam (interior) untuk pipa dengan
diameter 800 mm dan yang lebih besar.
Pipa yang mempunyai ketebalan dinding 16 mm atau lebih, harus ada alur dikedua
sisi pipa agar dapat dilakukan sambungan las tumpul ganda (double welded butt
joint). Bentuk dan ukuran celah yang terbentuk oleh alur menyudut tersebut, harus
sesuai dengan JIS G-3443 atau sebagaimana yang disetujui oleh Direksi.
5. Pengelasan
Sebelum pengerjaan pengelasan, permukaan alur harus dibersihkan dari debu, tanah
dan karat dengan menyikat dan mengasah (grinding).
Bila pipa akan dipotong di lapangan, lapisan pelindung dalam maupun lapisan
pelindung luar pada kedua ujung pipa, harus dikupas minimum 10 cm, kemudian
ujung pipa dibuat alur sebagaimana yang ditentukan.
“Fitting” tidak boleh dipotong di lapangan.
Atas pengelasan dan kecepatan harus dijaga selama pekerjaan pengelasan, harus terus
menerus (berlanjut) dari bagian dasar ke bagian atas pinggiran pipa.
Bila pengelasan dilakukan di lapangan, Kontraktor harus memperhatikan keadaan
cuaca seperti hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Pekerjaan tidak boleh

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -15


dilakukan dalam kondisi cuaca seperti yang telah disebutkan tanpa perlindungan atau
persetujuan dari Direksi.
Permukaan hasil pengelasan harus seragam tanpa ada sempalan yang berlebihan,
tumpang tindih dan ketidak rataan.

6) Pengujian Tanpa Merusak Pada Pengelasan di Lapangan


1. Umum
Bagian ini dipakai untuk Pengujian Tanpa Merusak Sambungan dengan pengelasan
setelah pemasangan pipa. Bagian pipa baja bawah tanah, semua pengelasan
dilapangan harus diuji dengan cara uji cairan pemnembus dengan perwarna (dye
penetrant test).
Pengujian harus dilakukan oleh perusahaan pemeriksa yang independen yang
memiliki sertifikat dari badan yang berwenang.
Kontraktor harus memberikan keterangan mengenai perusahaan pemeriksa yang
diusulkan beserta pengalamannya, bersama dengan kualifikasi kepala pengawas yang
disebutkan untuk persetujuan Direksi.
Kontraktor harus menyediakan semua tenaga kerja, peralatan dan bahan untuk
pengujian tanpa merusak pada sambungan dengan pengelasan di lapangan.
Semua pengujian harus dilakukan dengan dihadiri Direksi atau wakilnya, kecuali
disetujui lain oleh Direksi.
Kontraktor harus menunjuk kepala pengawas yang mampu, yang bertanggung jawab
dalam mengawasi prosedur pengujian sambungan dengan pengelasan.
Kontraktor harus menyusun dan menyerahkan laporan mengenai hasil pengujian
sambungan dengan pengelasan yang dilakukan dilapangan kepada Direksi. Laporan
harus berisi analisa dari pengujian, film, rekaman fotografi dan sebagainya; yang
ditandatangani oleh pengawas dan diserahkan sebanyak 5 (lima) copy kepada Direksi.
2. Pemeriksaan Secara Amatan (Visual Inspection)
Pengelasan alur dan pengelasan kedua harus diperiksa secara amatan. Kerusakan
berikut ini dapat menyebabkan ditolaknya hasil pengelasan dan Kontraktor harus
mengelas dan menguji kembali atas biayanya sendiri.
- Adanya lubang (pit) dipermukaan
- Adanya potongan berlebih (undercut) dengan kedalaman 1 mm atau lebih
- Adanya potongan berlebih (undercut) dengan kedalaman lebih dari 0,5 mm
dan kurang dari 1,0 mm dan lebih dari ketebalan dinding.
- Adanya tumpang tindih (overlap)
- Adanya penguatan berlebihan

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -16


Ketebalan Dinding Maximum Reinforcement
(mm) (mm)

12,1 atau lebih kecil 3,2

Lebih besar dari 12,7 4,8

- Butiran yan tidak merata (unven beads), dan


- Adanya kerusakan akibat nyala (are strike)

3. Uji Cairan Penembus Dengan Warna


Penetrasi warna harus dipakai pada pengelasan terakhir dan prosedur pelaksanaan
harus memenuhi rekomendasi pabrik.
Adanya retakan dan/atau lubang harus diperbaiki dan diuji ulang atas biaya
kontraktor sendiri.
Direksi dapat meniadakan uji cairan penembus dengan warna, bila kemampuan
pengelasan kontraktor dapat diterima atas dasar pengujian yang diserahkan oleh
perusahaan pemeriksa yang independen

7) Lapisan Pelindung Luar (Protective Coating) dan Lapisan Pelindung Dalam (Lining)
1. Umum
Bilamana perlu atau ditetapkan semua sambungan pipa baja dan "fitting" termasuk
"coupling"; sambungan "flexible" harus dilindungi sesuai dengan persyaratan yang
dicantumkan dalam spesifikasi ini.
Bahan pelindung yang dipakai untuk pekerjaan, harus produk pabrik yang
menghasilkan produksi bahan tersebut dalam jumlah besar.
Pengarahan petunjuk dan penjelasan teknis dari pabrik, yang diperlukan oleh Pemilik,
harus disediakan/diberikan terlebih dahulu. Warna dan lainnya, bila tidak ditentukan
akan dipilih oleh Direksi
2. Pelapisan Pipa Baja dan Fitting
a. Pipa Baja yang terekpos
Seluruh permukaan pipa baja dan "fitting" yang terekspos udara, harus diberi tiga
lapisan cair sebagai tambahan pada lapisan primer dan lapisan pertama dari
pabrik, dan dilakukan setelah pembersihan dan pengeringan permukaan lapisan
tersebut.
Jika ditemui kerusakan sebelum pelapisan di lapangan, kerusakan tersebut harus
diperbaiki sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi. Pelapisan tersebut harus
dilakukan sesuai dengan urutan sebagai berikut :
• Lapisan Pertama Meni besi, total minimum ketebalan lapisan kering,
35 microns.
SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -17
• Lapisan Kedua Cat dasar, total minimum ketebalan lapisan kering,
25 microns.
• Lapisan KetigaDua lapis cat akhir, masing-masing 20 microns.
Lapisan pertama harus memenuhi "JIS K5622, Red-Lead Anticorrosive Paint.
Class 2" atau "JIS K5523 Lead Suboxide Anticorrosive Paint. Class 2" atau yang
setara.
Lapisan pertama, kedua dan ketiga, jika mungkin haruslah produk dari pabrik
yang sama sebagaimana pula lapisan primer dan lapisan pertama dari pabrik.
Produk tersebut haruslah produk terdaftar.
Semua penopang, angker dan perlengkapan lainnya harus dicat sebagaimana
ditentukan untuk pipa dan "fitting", yang mana mereka terpisah
b. Pipa baja yang terendam
Lapisan pelindung digunakan ada pipa baja yang akan dipendam, dalam proyek
terdiri dari :
• "Head-Shrinkable Sleeve" atau "Sheet System" (untuk sambungan dengan
pengelasan)
• "Epoxy Lining" atau "Coal Tar Epoxy Lining System" (untuk "Sleeve
Coupling°), dan
• Petrolatum Corrosin Protective Tape S ' Nsteni" (untuk sambungan expansi)
(expansion joints).
Spesifikasi ini mencakup hanya hal-hal yang bersifat dasar dan hal-hal yang tak
dapat dihindarkan. Semua rincian cara pemasangan sebagaimana yang
ditunjukkan/direkomendasikan oleh pabrik.
3. Head - Shrinkable Sleeve atau Sheet
Semua sambungan yang dilas yang dipendam di bawah tanah harus dilindungi dengan
"Head-shrinkable sleeve" atau "sheet".
Bahan tersebut akan disediakan oleh Pemilik.
Kontraktor harus melakukan pekerjaan pemasangan, di bawah petunjuk instruktur
yang ditugaskan oleh pemasok bahan tersebut. Nama pemasok bahan akan
diberitahukan kepada Kontraktor oleh Pemilik, dan semua biaya bagi penugasan
Instruktur tersebut menjadi beban Kontraktor.
Head – Shrinkable Sleeve
Pemasangan "Sleeve"
Panjang tumpang tindih (overlapping) antara lapisan dari pabrik dan lapisan yang
dipasang di lapangan harus lebih dari 50 mm pada kedua sisinya. Sebelum pekerjaan
pengelasan sambungan, sejumlah sleeve yang diperlukan harus dipotong dengan

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -18


panjang yang sesuai, dan disisipkan ke pipa sebelum ditempatkan dalam galian.
"Sleeve" tersebut harus berada di tempat yang tidak terpengaruh oleh panas
pengelasan.

Penanganan Pendahuluan Permukaan Pipa


Semua percikan, butiran dan lain sebagainya yang timbul di daerah pengelasan harus
disingkirkan dengan alat pembersih yang memadai, dan setiap permukaan pipa akan
ditutup dengan "sleeve" harus dihaluskan terlebih dahulu.
Pemanasan Pendahuluan Pada Pipa
Area yang akan ditutupi dengan "wrapping", harus dipanasi dahulu dengan pembakar
(burner) sampai kurang lebih 60 derajat, dan "wrapping" harus diletakkan
ditempatnya untuk menutupi daerah sambungan, setelah menyingkirkan lapisan
pemisah dari "wrapping".
Panjang tumpang tindih antara lapisan dari pabrik dan lapisan yang dipasang di
lapangan harus lebih besar dari 50 mm.

Pemanasan dan Pengerutan "Sleeve"


Pemanasan "sleeve" harus dilakukan dengan pembakar yang disetujui oleh Direksi.
mulai dari bagian tengah "sleeve". Udara yang berada di antara "sleeve" dan pipa,
harus disingkirkan seluruh secara perlahan dan pastil. Pengerutan akan berlanjut
secara merata, sampai sifat adhesive "sleeve" timbul.

Head – Shrinkable Sheet


Penanganan Pendahuluan Permukaan Pipa
Penanganan komponen terdahulu (a) dan i) "Head-Shrinkable Sleeve". Kata "Sleeve"
harus dibaca "sheet",
Pemanasan Pendahuluan Pipa
Bagian yang akan ditutup dengan "sheet", harus dipanaskan dahulu dengan pembakar
sampai kurang lebih 60 derajat.
Panjang tumpang tindih antara pelapisan dari pabrik dan pelapisan di lapangan harus
lebih darl 50 mm, dan tumpang tindih untuk "sheet" itu sendiri harus lebih dari 100
mm
Pemanasan dan Pengerutan "Sheet"
Setelah melakukan 'sheet" pada pipa, "sheet" tersebut harus dikerutkan dengan
pembakar, secara merata, dan udara yang berada diantara -sheet" dan pipa harus
disingkirkan seluruhnya secara perlahan tapi pasti.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -19


Pengerutan harus dilanjutkan sampai bahan perekatnya timbul dari "sheet".

4. Pelapisan Epoxy atau Pelapisan Coat Tar Epoxy


"Sleeve coupling" yang disediakan oleh Pemilik dilindungi dengan bahan khusus.
Kontraktor harus menangani bahan tersebut dengan sangat hati-hati jangan sampai
merusak ataupun menggores permukaan bahan pelapis.
Semua bagian yang rusak atau tergores dan bagian sekitarnya pada permukaan
lapisan pelindung "sleeve coupliiig" harus diberi lapisan kembali sebagaimana
berikut ini.
Semua biaya bagi bahan pelapisan "epoxy°' atau pelapisan "coal tar epoxy'', tenaga
kerja, peralatan dan perkakas harus ditanggung oleh Kontraktor.
Kontraktor harus memasukan data teknis dan contoh (sample) bahan pelapisan
tersebut untuk persetujuan Direksi.
• Pelapisan Epoxy
- Satu (1) lapisan dari cairan epoxy primer
- Satu (I) atau lebih lapisan cairan finish coat.
• Pelapisan Coal Tar Epoxy
- Satu (1) lapisan "epoxy primer',
- Dua (2) lapisan "epoxy finish coat"]

5. Pipa Pelindung Korosi Petrolatum


Semua sambungan "expansion" harus dilindungi dengan pelindung korosi
"petrolatum" Bahan harus disediakan oleh Kontraktor.
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan pemasangan di bawah pengawasan
instruktur yang ditugaskan oleh pemasok bahan.
Kontraktor harus memasukan data teknis dan contoh (sample) bahan tersebut
besarnya dengan data pengalaman instruktur yang akan ditugaskan oleh pabrik, untuk
persetujuan Direksi.
Pembungkusan pita pelindung oleh bahan tersebui, harus dilanjutkan ke bagian beton
tidak kurang dari 15 cm sesuai dengan petunjuk dari pabrik.
Permukaan yang akan dilapisi dengan pelindung korosi "petrolatum" harus
dibersihkan. Karat, kotoran dan debu, air, minyak dan lemak harus disingkirkan
seluruhnya dari permukaan yang akan dilapisi.
Setelah membersihkan permukaan, permukaan tersebut harus ditutup dengan pasta.
Cekungan harus diisi dengan bahan pengisi (filler) sampai permukaan rata dan halus.
Pasta tersebut dan bahan pengisi harus produk yang disuplai oleh pabrik, pita
pelindung korosi "petrolatum".
SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -20
Pita pelindung korosi "petrolatum" harus ditarik dengan tegangan yang cukup agar
cukup merenggangkan pita tersebut. Paling sedikit 150 mm permukaan pita harus
ditekan dengan tangan agar dapat mengikatnya dengan baik dan mantap.
Dalam hal pita yang disediakan pemilik habis, Kontraktor harus menyediakan pita
yang sama atau setara yang disetujui Direksi atas biaya Kontraktor sendiri.

3.5.3. Pengukuran Dan Pembayaran


Pengukuran dan kuantitas yang dibayar adalah dalam satuan Meterpanjang (M) dari pipa yang
dipasang, dan disetujui oleh direksi Tekniksesuai dengan harga satuan untuk setiap ukuran diameter
pipa, bahanpipa, kedalaman dan tipe pengembalian kondisisetelah dilakukan pengetesan aliran seperti
yangtercantum dalam Daftar Kuantitas.
Perpipaan harus diukur sepanjang pusat pipa diantara pusat ke pusatmanhole dan Inspection chamber
atau di samping permukaan jalanatau struktur yang lainnya.
Dalamnya tanah penutup harus diukur sebagai rata-rata dalam daridasar tanah hingga batas atas pipa,
dalam meter, diantara duamanhole, inspection chamber atau pada struktur lainnya.
Pembayaran adalah merupakan kompensasi penuh untuk seluruh alatberat, tenaga kerja, peralatan dan
material yang dibutuhkan untukmenyelesaikan pekerjaan perpipaan termasuk galian, penahan
tanah,pemasangan pipa, dewatering, sambungan, urugan dan pemadatanlapisan pondasi jalan dan
semua pekerjaan penting lainnya yangdibutuhkan untuk menyelesaikan pemasangan jaringan pipa.

3.6. PENGUJIAN HIDROSTATIS DAN DESINFEKSI


3.6.1. Umum
Setelah pemasangan jalur pipa, termasuk pipa induk, "valve", bangunan khusus jembatan pipa,
penembusan pipa (pipe driving), perlintasan pipa dan perlengkapan lainnya, harus dilakukan
pengujian pada jalur pipa tersebut sesuai dengan spesifikasi ini.
Pengujian tekanan air (hydrostatic-pressure test) pada jalur pipa dilakukan dengan tujuan untuk
meyakinkan/menjamin bahwa sambungan pipa dan perlengkapannya dalam keadaan balk, kuat dan
tidak bocor serta biok-blok penahan (thrus block permanen) sanggup menahan tekanan sesuai dengan
tekanan kerja pipa.
Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja, peralatan dan bahan untuk pengulian tekanan air dan
pengujian kebocoran. Peralatan meter yang diperlukan untuk penguatan tekanan dan kebocoran harus
disediakan oleh Kontraktor.
Bagian jaringan pipa yang akan diuji diisi penuh dengan air. Pemborong dapat menggunakan sumber
air yang ada tanpa biaya atau menyediakan sumber air tersendiri dengan biaya sendiri. Pengisian air
ini dilakukan dengan pemompaan (an electric piston type test pump) yang dilengkapi meteran air,
harus dicegah

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -21


terjadinya gelombang-gelombang tekanan, semua udara di dalam pipa harus dilepas, dan sebuah
manometer dengan kran penutupnya harus dihubungkan pada cabang jaringan pipa yang diuji.
Apabila bagian pipa yang diuji ini tidak terdapat katup udara maka cara pengeluaran udara akan
ditentukan oleh Tenaga Ahli.
1) Air untuk penguatan akan disediakan oleh Pemilik atas beban biaya Kontraktor.
2) Seluruh pekerjaan pengujian harus dilakukan dengan disaksikan oleh Direksi atau wakilnya.

3.6.2. Uji Tekan


Setelah pipa dipasang, semua pipa baru yang dipasang atau setiap bagian pipa baru yang dipasang
katup harus bertekanan hidrostatis minimal 1,5 kali tekanan kerja pada saat pengujian.

A. Batasan Tekanan
Pengujian tekanan harus sebagai berikut :
1. Tidak boleh lebih kecil dari 1,25 kali tekanan kerja pada tekanan tertinggi selama pengujian
2. Tidak melebihi tekanan yang direncanakan
3. Paling sedikit dilaksanakan selama 2 jam
4. Tidak bervariasi > ± 5 psi (0,35 bar) untuk selama pengujian
5. Tekanan yang diberikan tidak boleh melebihi 2 kali tekanan yang diijinkan untuk katup atau
hidran bila batas tekanan pengujian termasuk pada gate valves atau hidran. Catatan :
Katup tidak boleh dioperasikan pada saat tekanan menyebar ke semua arah melebihi tekanan
yang diijinkan
6. Tidak boleh melebihi tekanan katup yang diijinkan bila batas tekanan bagian yang diuji dari
bagian uji termasuk pada saat katup tertutup, baik untuk gate valves atau katup buterfly.

B. Tekanan Udara
Setiap bagian pipa yang dipasang katup harus diisi dengan air perlahan-lahan dan ditentukan uji
tekan, berdasarkan evaluasi dari titik terendah dari jalur pipa atau bagian yang diuji dan dikoreksi
terhadap evaluasi alat ukur pengujian, harus dilakukan dengan cara menyambungkan pompa ke pipa.
Katup-katup tidak boleh dioperasikan baik dalam keadaan tertutup pada tekanan differensial melebihi
tekanan yang diijinkan. Cara ini berguna untuk menstabilkan uji tekan sebelum uji kebocoran.

C. Pelepasan Udara
Sebelum pelaksanaan uji tekan ditentukan, udara harus dibuang seluruhnya dari katup dan hidran.
Apabila ventilasi udara tidak dipasang pada semua titik tertinggi, kontraktor harus memasang katup
cock pada titik tersebut diatas sehingga udara dapat dikeluarkan bersamaan pada saat pipa diisi air.
Setelah semua udara dikeluarkan, katup cock harus ditutup dan uji tekan dilaksanakan. Pada akhir uji
tekan cock harus dilepas dan disumbat atau tinggalkan ditempat sesuai dengan permintaan pemilik.

D. Pemeriksaan
SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -22
Setiap pipa, fitting, hidran dan sambungan-sambungan yang terlihat harus diperiksa secara cermat
selama pengujian. Setiap pipa, fitting, hidran yang rusak atau cacat ditemukan pada saat uji tekan
harus diperbaiki atau diganti dengan bahan yang baik, dan pengujian akan diulangi sampai
memuaskan pemilik.

3.6.3. Uji Kebocoran


Uji kebocoran harus dilakukan segera setelah uji tekan

A. Definisi Kebocoran
Kebocoran harus diartikan sebagai sejumlah air yang harus disuply kedalam pipa yang baru dipasang
atau setiap bagian yang baru dipasang katup, untuk menjaga
tekanan pada 5 psi (0,35 bar) sebagai tekanan uji yang ditentukan sesudah udara pada jalur pipa
sudah dihilangkan dan pipa telah diisi dengan air. Kebocoran tidak boleh diukur dalam keadaan
tekanan turun pada saat pengujian melebihi periode waktu pengujian yang ditentukan.

B. Kebocoran Yang Diijinkan


Pemasangan pipa dianggap gagal apabila tingkat kebocoran melebihi dari yang ditentukan dalam
persamaan berikut :
SD P
L=
133200

Dimana :
L : Kebocoran yang diijinkan, dalam gallon/jam
S : Panjang pipa uji, dalam feet
D : Diameter pipa nominal, dalam inch
P : Tekanan uji rata-rata selama uji kebocoran, dalam pound/inch atau gauge

Dalam satuan metrik :


SD P
Lm =
2816

Dimana :
Lm : Kebocoran yang diijinkan, dalam liter/jam
S : Panjang pipa uji, dalam meter
D : Diameter pipa nominal, dalam inch
P : Tekanan uji rata-rata selama uji kebocoran, dalam bar
Formula berdasar pada kebocoran yang diijinkan dari 11,65 gpd per mil, dengan diameter
nominal D = 1 inch dan tekanan P = 150 psi.

3.6.4. Penggelontoran Pipa


SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -23
Air untuk penggelontoran akan disediakan oleh Pemilik atas beban biava Kontraktor dan Kontraktor
harus membersihkan semua pipa yang terpasang dengan Penggelontoran memakai air bersih
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.
Penggelontoran dilakukan dengan membuka / menguras cabang pembuang (drainase branch), mulai
dari hulu dan secara bertahap ke arah hilir. Jangka waktu pengurasan cabang pembuang akan
diperintahkan oleh Direksi.
Kontraktor harus dengan segera menentukan lokasi dan memperbaiki apabila ditemukan kebocoran
selama penggelontoran, sebagaimana diperintahkan Direksi, walaupun hasil pengujian yang
disebutkan di atas disetujui oleh Direksi.

3.6.5. Desinfeksi
Sebelum berfungsi dalam sistem layanan. dan sebelum dinyatakan selesai oleh Direksi, semua pipa
induk baru, perluasan atau sambungan ke sistem yang ada, atau "valve" yana ada dalam jaringan
perluasan harus didesinfeksi dengan Chlorine sesuai dengan prosedur berikut ini, atau sebagaimana
yang diperintahkan oleh Direksi.
1) Desinfeksi harus dilakukan dengan mengisi jalur pipa dengan air bersih yang telah diolah
yang mengandung paling sedikit 10 mg/liter sisa Chlorine.
2) Setelah 24 jam, sisa Chlorine harus diperiksa dan jika lebih dari 5 mg/lt hal tersebut dapat
dianggap desinfeksi telah dicapai dengan memuaskan.
3) Walaupun demikian, jika sisa Chlorine memperlihatkan kurang dari 5 mg/liter, harus
ditambah Chlorine, diikuti dengan tambahan periode kontak selama 24 jain.
Desinfeksi termasuk pengukuran sisa Chlorine merupakan tanggung jawab Kontraktor, tetapi air dan
bahan kimia akan disediakan oleh Pemilik atas beban biaya Kontraktor.
Pekerjaan akan mencakup pemasangan pipa sementara atau pengambilan sesuai kebutuhan bagi
injeksi air Chlorine dan pengambilan contoh air untuk pengujian di bawah pengarahan Direksi.
Pekerjaan yang dilakukan di atas harus dilakukan setelah penyelesaian dan diterimanya pengujian
kebocoran dan tekanan yang disyaratkan.

3.6.6. Accessories (Kelengkapan Pipa)


Pemasangan accessories yaitu katup-katup, katup-katup udara, wash out, fitting-fiting, dan lain-lain
akan menerima perhatian sama seperti pada pemasangan pipa, terutama mengenai pembersihan,
dudukan, cara penyambungan dan instruksi-instruksi pabrik pembuatnya. Katup-katup yang terletak
di bawah tanah untuk pipa yang letaknya horizontal, maka katup-katup didudukan beton agar jangan
terjadi retak pada pipa akibat berat katup itu sendiri.
Katup-katup harus dilengkapi dengan “spindle”, rumah katup dan tutup rumah katup sesuai dengan
tipikal gambar detail. Rumah katup dan tutup rumah katup akan terpasang hingga dapat berfungsi

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -24


baik, bebas dari kotoran-kotoran dan gangguan terhadap mekanismenya. Setiap katup yang tidak
berfungsi sebagaimana mestinya setelah pemasangan akan diperbaiki atas biaya Pemborong.
a. Air Valve
1) Semua valves harus punya spesifikasi ukuran.
2) Semua valves harus dilengkapi nama pabrik, tekanan kerja, ukuran/diameter, dan arah
aliran pada setiap badan valves.
3) Valve terbuat dari ductile iron atau cast iron klass tinggi, cakram dengan dudukan
nikle atau stainless . Cakram alternatif dengan lapisan plastic atau karet yang
menutup penuh semua permukaan. Tangkai valves harus dari stainless steel.
Komponen yang lain bisa dari gunmetal, aluminium, kuningan atau nikle tembaga
dengan campuran 5% dari seng.
4) Dududukan valves harus bisa kokoh sempurna dicelah bagian badan valve atau kokoh
sempurna pada bagian tembereng lingkaran, atau dengan cara lain terletak sempurna
pada badan valve dan aman terikat pada posisinya. Semua bagian, baut, mur, dan ring
(washer) untuk pengikat sempurna dibagian dalam valve harus terbuat dari stainless
steel type 304.
5) Valve ukuran diameter 40 mm dan lebih kecil harus dari kuningan, kecuali untuk
pemutarnya (hand wheel) bisa memakai cast iron atau besi tempa dan dilengkapi
dengan baut penutup.
6) Semua valve direncanakan untuk tekanan kerja tidak kurang dari 16 bar, jika tidak
ada ketentuan lain.
7) Supplier harus menyerahkan shop drawing (gambar rencana kerja) ke tenaga ahli
yang ditunjuk untuk persetujuan. Shop drawing meliputi :
8) Daftar dan rencana material
• Detail joint (dan bila diperlukan adaptor)
• Nama pabrik pembuat
• Ukuran, detail, material, ketebalan untuk setiap bagian.
b. Gate Valve
1) Gate valve harus bisa menutup rapat tanpa ada celah sesuai dengan BS 5150, BS
5163 atau AWWA C 500.
2) Gate valve adalah tipe non-rising stem dan harus dilengkapi dengan alat pengatur
(hand whells, operating nuts) sesuai spesifikasi. Operator harus bisa melihat pada
arah mana untuk mengatur posisi/membuka valve.
3) Gate-Valves terbuat dari material sebagai berikut:
a) Kandungan besi bagian dalam harus dilindungi/dilapisi cat dengan
polyamidecurd epoxy resin, yang aman dan sesuai untuk air minum.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -25


b) Semua valves diameter 50 mm dan yang lebih besar memakai hubungan flens.
Valves dan stop cocks untuk pipa diameter 40 mm kebawah memakai hubungan
ulir.
Kontraktor harus mengajukan accessories pipa kepada konsultan pengawas dan Direksi
untuk mendapat persetujuan sebelum memesan atau mengadakan barang tersebut.

3.6.7. Perlintasan
Perlintasan sungai, selokan, jalan supaya dilaksanakan sesuai typikal gambar detail yang ada.
Pemasangan pipa, accessories dan fitting-fitting pada perlintasan ini benar-benar harus dilaksanakan
dengan baik dan juga seluruh pekerjaan lain yang mungkin diperlukan yang dijumpai sewaktu
peninjauan di lapangan. semua biaya-biaya ini sudah harus diperhitungkan dan dimasukkan dalam
biaya penawaran harga.

3.6.8. Penyelesaian Pekerjaan


Yang dimaksud dengan pekerjaan penyelesaian adalah :
- Perbaikan – perbaikan kecil terhadap bagian dari pekerjaan yang kurang sempurna dengan
nilai pekerjaan setinggi – tingginya 1% dari harga jenis pekerjaannya dan bukan pekerjaan
pokok.
- Pembersihan kembali lapangan kerja dari sisa – sisa bahan / peralatan kerja menjadi
tanggung jawab kontraktor.
Selama masa pemeliharaan, kontraktor diwajibkan untuk :
- Membongkar barak kerja / gudang bahan dan membersihkannya
- Memperbaiki bangunan – bangunan setempat yang rusak sehubungan dengan pelaksanaan /
kegiatan pekerjaan. Termasuk lining jembatan, deker / gorong – gorong yang rusak akibat
kendaraan – kendaraan kontraktor selama pelaksanaan pekerjaan.
- Semua alat bantu milik Negara yang dipinjamkan / diperbantukan dikembalikan setelah
diservice / diperbaiki sebagaimana keadan pada waktu penyerahan dari proyek.
- Pembersihan dan pembuangan lumpur / sampah / pasir bawaan
- Yang dimaksud dengan item ini adalah pembersihan sampah / lumpur / pasir yang terbawa
aliran air setelah dilaksanakan pekerjaan pembersihan sebelumnya baik pada saluran maupun
sungai. Hal ini harus dilengkapi data pendukung / photo dan atas sepengetahuan direksi.
Hasil pembersihan ( tanah / pasir) yang kualitasnya baik dapat digunakan untuk timbunan
atas persetujuan direksi.

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -26


3.6.9. P E N U T U P.
- Hal – hal yang belum jelas disebutkan dalam Rencana Kerja dan syarat-syarat ini, akan
disampaikan dan dijelaskan dalam Berita Acara Rapat Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).
- Pemborong harus membuat gambar As Built Drawing sebanyak 5 ( lima ) exemplar yang
telah disetujui oleh Direksi dan Pengguna Jasa. Dalam gambar as built drawing tersebut
dicantumkan pula tabel mengenai spesifikasi material yang dipakai, baik material dasar
maupun material finishing.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)

IGA. Ngr. Arinda Trisnawati, ST


Pembina
NIP : 19690524 199803 2 005

SPESIFIKASI TEKNIS –PEKERJAAN PERPIPAAN V -27