Anda di halaman 1dari 12

Journal Reading

Characteristics of Gonorrhea and Syphilis Cases among the Roma Ethnic


Group in Belgrade, Serbia

OLEH

Nabila Arifah 1310311111

PRESEPTOR
Dr. dr. Satya Widya Yenny, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
2017
Characteristics of Gonorrhea and Syphilis Cases among the Roma
Ethnic Group in Belgrade, Serbia

PENDAHULUAN
Roma adalah kelompok minoritas terbesar dan paling rentan di Eropa. Secara
keseluruhan, sekitar 7-9 juta etnis Roma tinggal di Eropa dan sekitar 70% dari mereka tinggal di
negara-negara Eropa Tengah dan Timur dan yang merupakan bekas Uni Soviet.1
Menurut sensus penduduk tahun 2011 jumlah etnis Roma di Serbia adalah 147.604 yang
menyumbang 2,05% dari populasi di Serbia. Tempat dengan etnis Roma terbanyak di Serbia
berada di Belgrade, yang merupakan ibukota dan kota terbesar, di mana terdapat 27.325 atau
18,5% dari jumlah mereka, dan 1,6% dari total penduduk Belgrade. Kelompok minoritas Roma
merupakan kelompok yang paling rentan dan terpinggirkan di bidang kesehatan akibat
kemiskinan, kebersihan yang tidak layak, gizi buruk, kondisi tempat tinggal yang tidak pantas,
tingkat pengangguran yang tinggi dan kurangnya edukasi.2,3 Diskriminasi pada akses pelayanan
kesehatan merupakan dampak negatif tambahan pada kesehatan mereka.
Etnis Roma beresiko tinggi untuk infeksi menular seksual (IMS) karena perilaku seksual
mereka yang beresiko. Menurut investigasi yang dilakukan pada remaja Roma (usia 15-24 tahun)
di Serbia selama tahun 2010, perilaku seksual berisiko sangat umum dilakukan, terutama di
kalangan subjek laki-laki.4 Di Belgrade, pada remaja Roma, 36,2% telah melakukan hubungan
seksual sebelum usia 15 tahun, 53,9% memiliki lebih dari satu pasangan seksual dalam satu
tahun terakhir, 11,5% telah terlibat dalam bidang seks komersial, dan 4,0% dilaporkan
melakukan seks anal dengan laki-laki lain.4
IMS adalah penyebab utama penyakit akut, infertilitas, cacat jangka panjang dan
kematian dengan konsekuensi medis dan psikologis yang serius. Gonore dan sifilis adalah
penyakit kelamin akibat bakteri yang paling sering dan pelaporan kejadiannya wajib di Serbia.
Selama periode 2010-2014 pada Belgrade, insiden sifilis meningkat 182,2% dari 2,25 per
100.000 pada 2010 menjadi 4,4 per 100.000 pada 2014, dan insiden gonore meningkat 226,2%
dari 2,56 per 100.000 pada tahun 2010 menjadi 5,79 per 100.000 pada tahun 2014.5
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan kasus gonore dan sifilis di antara etnis
Roma yang mencari pengobatan di City Institute for Skin and Venereal Diseases di Belgrade
selama periode 2010-2014, dan untuk menggambarkan karakteristik demografi kasus ini.
Pelaporan gonore dan sifilis adalah wajib di Serbia, dan di Belgrade semua kasus yang
dilaporkan dirawat di Institut tersebut yang merupakan pusat perawatan eksklusif. Terdapat
kemungkinan bahwa beberapa pasien akan dirujuk ke dokter swasta, namun kasus ini biasanya
tidak dilaporkan.
Kami juga membandingkan kasus gonore dan sifilis untuk mengidentifikasi keperluan
yang berbeda pada pencegahan, diagnosis, skrining, atau untuk program kesehatan penyakit ini
bagi penduduk etnis Roma.

METODE
Pasien dengan gejala infeksi menular seksual dirujuk ke City Institute for Skin and
Venereal Diseases di Belgrade oleh penyedia layanan kesehatan primer antara Januari 2010 dan
Desember 2014. Diagnosis (gonore dan sifilis awal) pada kunjungan awal telah dicatat. Semua
diagnosis didasarkan pada riwayat pasien dan pemeriksaan fisik serta dikonfirmasi oleh analisa
laboratorium. Definisi kasus gonore dan sifilis telah sejalan dengan definisi kasus IMS
Surveillance, dan definisi yang telah diperbarui untuk gonore dan sifilis.6,7 Untuk gonore,
diperlukan pemeriksaan Gram-negatif dan kultur dari spesimen klinis (smear uretra yang
diperoleh dari laki-laki atau smear endoserviks dari perempuan). Persyaratan untuk diagnosa
sifilis adalah sebagai berikut: untuk sifilis primer (PS), terdapat ulkus, reaktifasi treponemal
(Treponema Pallidum Hemaglutinasi Assay - TPHA) dan tes serologi nontreponemal (Venereal
Disease Research Laboratory -VDRL); untuk sifilis sekunder (SS), manifestasi klinis stadium ini
disertai reaktifasi treponemal dan titer nontreponemal ≥4; untuk sifilis laten stadium awal
terdapat reaktifasi treponemal dan nontreponemal disertai kriteria lain dalam 12 bulan terakhir
yaitu: ditemukan serokonversi atau peningkatan empat kali lipat atau lebih pada titer uji
nontreponemal, ditemukan serokonversi pada tes treponemal, riwayat gejala yang konsisten
dengan diagnosis PS atau SS, paparan seksual dari seseorang dengan PS, SS atau sifilis laten
stadium awal, dan pertama kali berhubungan seksual dalam 12 bulan terakhir.
Data pada karakteristik dasar pasien etnis Roma (umur, jenis kelamin, status perkawinan,
pendidikan, status kerja) secara retrospektif diambil dari rekam medis. Data tentang
kemungkinan sumber infeksi serta orientasi seksual, disediakan pada formulir resmi untuk
notifikasi mengenai sifilis dan gonore, dan dianalisis.
Dalam analisis data, proporsi dibandingkan dengan menggunakan uji X2 dan uji Fisher.
Semua nilai p didasarkan pada tes two-tailed, dan p <0,05 dianggap signifikan.
Manuskrip diperiksa dan disetujui oleh otoritas yang bertanggung jawab di City Institute
for Skin and Venereal Diseases di Belgrade.

HASIL
Frekuensi sifilis dan gonore antara etnis Roma dan kelompok etnis lainnya di populasi
Belgrade disajikan pada Tabel 1. Selama periode 2010-2014 Roma menyumbang 3,4% - 17,1%
(rata-rata 9,6%) dari seluruh subyek yang terdaftar dengan sifilis dan 11,7% - 18,8% (rata-rata
13,5%) dari semua pasien yang terdaftar dengan gonore. Menimbang bahwa persentase etnis
Roma dari total penduduk Belgrade adalah sekitar 1,6%, baik sifilis dan gonore lebih sering di
antara etnis Roma dibandingkan dengan seluruh penduduk Belgrade.
Sifilis dan gonore pada etnis Roma lebih sering ditemukan pada laki-laki (75%), usia
tersering yaitu 20-29 tahun (43,4%), tidak pernah menikah (64,5%), dengan pendidikan sekolah
dasar atau kurang (59,2%), pengangguran (80,3%), dan heteroseksual (89,5%). Di antara mereka
10,5% adalah pekerja seks dan 68,4% tidak tahu sumber infeksi mereka (Tabel 2).

Tabel 1. Jumlah kasus sifilis dan gonore pada etnis Roma dan semua kelompok etnis lainnya di
populasi Belgrade yang terdaftar di City Institute for Skin and Venereal Diseases, Belgrade
Tahun Jumlah Kasus di Jumlah Kasus di Total
Roma (%) etnis lain (%)
Kasus Sifilis
2010 3(9,7) 28(90,3) 31
2011 1(3,4) 28(96,6) 29
2012 6(17,1) 29(82,9) 35
2013 3(10,3) 26(89,7) 29
2014 4(7,4) 50(92,6) 54
Total 17(9,6) 151(90,4) 178
Kasus Gonore
2010 5(12,5) 35(87,5) 40
2011 9(18,8) 39(81,2) 48
2012 14(14,9) 89(85,1) 94
2013 16(11,7) 121(88,3) 137
2014 15(12,6) 104(87,4) 119
Total 59(13,5) 379(86,5) 438
Terdapat perbedaan yang signifikan diantara kasus pada etnis Roma dan kasus – kasus
lain di semua karakteristik yang diamati (Tabel 2). Kasus – kasus Roma berkaitan dengan subjek
yang lebih muda, kurangnya pendidikan, pernikahan yang lebih sering, dan pengangguran.
Diantara kasus – kasus Roma lebih banyak menyangkut pekerja seks dan kebanyakan tidak
diketahui sumber infeksinya. Meskipun perempuan menjadi minoritas pada semua kasus, pada
kasus Roma secara signifikan, perempuan lebih banyak di hubungkan dengan kasus lain. Etnis
Roma sangat jarang menyatakan dirinya sebagai homoseksual.

Tabel 2. Karakteristik Kasus Sifilis dan Gonore di Roma dan semua kelompok etnis lainnya di
populasi Belgrade yang Terdaftar di City Institute for Skin and Venereal Diseases di Belgrade
selama periode 2010-2014
Jumlah Kasus Sifilis dan Gonore (%)
Karakteristik Nilai p
Roma Kelompok Etnis Lain
Jenis Kelamin 0.030
Laki-laki 15 (75,0) 458 (84,8)
Perempuan 19 (25,0) 82 (15,2)
Usia (tahun) ˂0.001
≤ 15 5 (6,6) 1 (0,2)
16-19 14 (18,4) 16 (3,0)
20-29 33 (43,4) 168 (31,1)
30-39 14 (18,4) 249 (46,1)
40-49 10 (13,2) 60 (11,1)
50-59 0 (0,0) 29 (5,4)
60+ 0 (0,0) 17(3,1)
Status ˂0.001
Belum menikah 49 (64,5) 444 (82,2)
Menikah 27 (35,5) 81 (15,0)
Cerai 0 (0) 15 (2,8)
Pendidikan ˂0.001
≤SD 45 (59,2) 44 (8,1)
SMP 31 (40,8) 432 (80,0)
SMA 0 (0,0) 64 (11,8)
Pekerjaan ˂0.001
Bekerja 15 (19,7) 279 (51,7)
Tidak bekerja 61(80,3) 149 (27,6)
Siswa 0 (0,0) 94 (17,4)
Pensiun 0 (0,0) 18 (3,3)
Orientasi seksual ˂0.001
Heteroseksual 68 (89,5) 344 (63,7)
Homoseksual 8 (10,5) 196 (36,3)
Menjadi pekerja seksual ˂0.001
Ya 8 (10,5) 1 (0,2)
Tidak 68 (89,5) 539 (99,8)
Sumber infeksi ˂0.001
Diketahui 24 (21,6) 314 (58,1)
Tidak diketahui 52 (68,6) 226 (41,9)

Tabel 3. Karakteristik Kasus Sifilis dan Gonore di Roma di populasi Belgrade yang Terdaftar di
City Institute for Skin and Venereal Diseases di Belgrade selama periode 2010-2014
Jumlah Kasus Sifilis Jumlah Kasus Gonore
Karakteristik (n=17) (n=59) Nilai p
(%) (%)
Jenis Kelamin 0.080
Laki-laki 10 (58,8) 47 (79,7)
Perempuan 17 (41,2) 12 (20,3)
Usia (tahun) 0.054
≤ 15 0 (0,0) 5 (8,5)
16-19 5 (29,4) 9 (15,2)
20-29 4 (23,5) 29 (49,2)
30-39 3 (17,7) 11 (18,6)
40-49 5 (29,4) 5 (8,5)
Status 0.550
Belum menikah 12 (70,6) 37 (62,7)
Menikah 5 (29,4) 22 (37,3)
Pendidikan 0.601
≤SD 11 (64,7) 34 (57,6)
SMP 6 (35,3) 25 (42,4)
Pekerjaan 0.348
Bekerja 2 (11,8) 13 (22,0)
Tidak bekerja 15 (88,2) 46 (78,0)
Orientasi seksual 0.047
Heteroseksual 13 (76,5) 55 (93,2)
Homoseksual 4 (23,5) 4 (6,4)
Menjadi pekerja seksual ˂0.001
Ya 6 (35,1) 2 (3,4)
Tidak 11 (54,7) 57 (96,6)
Sumber infeksi 0.046
Diketahui 2 (11,8) 22 (37,3)
Tidak diketahui 15 (88,2) 37 (62,7)

Beberapa karakteristik dari kasus sifilis dan gonore pada populasi etnis Roma disajikan
pada Tabel 3. Dibandingkan dengan pasien gonore, orang – orang dengan sifilis secara bermakna
lebih mungkin merupakan homoseksual (23,5% : 6,4%, p < 0,05 ) dan pekerja seks ( 35,3% :
3,4%, p <0,001 ) dan banyak kasus yang tidak diketahui sumber infeksinya ( 88,2% : 62,7%, p<
0,05 ). Pasien dengan sifilis lebih tua dari pasien dengan gonore, tetapi perbedaan ini berada pada
batas signifikansi ( p = 0,054) Tabel 3. Sifilis primer di diagnosis pada 4 kasus, sifilis sekunder
di 4 kasus lainnya, dan 9 kasus diklasifikasi kan sebagai sifilis laten stadium awal.

DISKUSI
Organisasi kesehatan dunia memperkirakan pada tahun 2008 terdapat 10,6 juta kasus
sifilis dan 106,1 juta kasus gonore diantara orang dewasa secara global.8 Sifilis dan gonore
biasanya ditularkan melalui hubungan seksual (seperti kontak genital-genital, genital-anorektal,
orogenital atau oro-anal). Selain itu, sifilis memiliki tingkat transmisi yang lebih tinggi daripada
gonore dan dapat juga ditularkan melalui darah atau melalui penularan vertikal dari ibu yang
terinfeksi kepada bayinya.9 Kedua penyakit ini dapat diikuti oleh komplikasi yang serius. Jika
tidak di obati gonore serviks pada wanita dapat menyebabkan penyakit radang panggul,
kehamilan ektopik dan infertilitas.10 Sifilis adalah infeksi sistemik yang dapat menyebabkan
komplikasi kardiovaskular dan komplikasi saraf. Jika tidak ditangani selama kehamilan, sifilis
dapat menyebabkan abortus atau persalinan prematur dan infeksi kongenital pada anak.11 Sifilis
juga dapat meningkatkan resiko penularan HIV dengan menyebabkan ulkus genital.12
Seperti yang sudah dijelaskan, kejadian sifilis dan gonore meningkat di Belgrade selama
periode pada tahun 2010 – 2014. Baik sifilis dan gonore lebih sering di antara etnis Roma
dibandingkan dengan penduduk Belgrade lainnya. Tidak ada data sebelumnya tentang frekuensi
gonore pada populasi Roma di Belgrade, tetapi dalam sebuah penelitian yang dilakukan di kota
ini pada tahun 2012 di antara 207 remaja Roma yang berusia 15 – 24 tahun prevalensi dari sifilis
disana sebesar 1 %.13 Menurut Gyarmathy dkk prevalensi sifilis pada Roma di Budapest adalah
2%.14 Antara 286 etnis Roma diuji untuk penyakit menular seksual di Sofia, 21,7% memiliki
setidaknya satu penyakit, 4,5% gonore dan 3,5% dengan sifilis.15 Studi lain di Bulgaria
mengatakan bahwa 3,7% dari Roma memiliki gonore dan tidak ada sifilis yang terdeteksi.16
Menurut hasil penelitian kohort retrospektif dalam kelompok Roma yang dilakukan di Camp de
la bota, Barcelona, untuk insiden AIDS adalah 104 kasus per 100.000 orang per tahun yang di
follow up.17
Di penelitian ini, kasus pada etnis Roma secara signifikan berbeda dari kasus – kasus lain
yang terdaftar di Belgrade pada semua karakteristik yang diamati. Yang mana pada mereka yang
masih muda, kurang terdidik dan pengangguran , yang mana berbeda dengan populasi lainnya di
Serbia. Menurut data dari sensus pada tahun 2011, usia rata – rata penduduk Serbian adalah 42,2
tahun dan untuk penduduk Roma adalah 27,8 tahun.2 Penduduk Roma yang tinggal di kota
bahkan lebih muda karena migrasi dari penduduk muda Roma untuk pemukiman perkotaan.
Menurut data yang sama, 15,1% penduduk Roma adalah buta huruf, sekitar 80% tidak lulus atau
lulus sekolah dasar , masing – masing 2,0% dan 32%, dari seluruh penduduk Serbian.
Pengangguran di kalangan Roma tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan total penduduk
Serbian. Di negara – negara Eropa Timur, Roma yang ditemukan berada di antara penuduk yang
paling miskin, dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah dan dengan tingkat pengangguran
yang tinggi.15 Knezevic menyatakan bahwa Roma di Belgrade adalah kelompok etnis yang “
paling rentan, terpencil, hidup dengan membanting tulang, dan tidak menunjukkan minat dalam
meningkatkan status sosial mereka “.16 Dalam situasi seperti itu, tidak mengherankan bahwa
10,5% kasus Roma dan hanya 0,2% kasus lainnya, menyatakan diri sebagai pekerja seks, yang
mana dapat menjelaskan mengapa pada kasus Roma banyak yang tidak diketahui sumber
infeksinya. Kasus Roma lebih sering melibatkan pekerja seks yang mana dapat dijelaskan
persentasi yang lebih tinggi pada perempuan diantara kasus Roma (25%) dibanding kasus yang
lainnya ( 15,2%). Menurut Sipetic dkk, pekerja seksual Roma di Serbia memiliki hubungan
seksual yang pertama lebih sering sebelum usia 14 tahun, 38,5% dari mereka tidak pernah atau
tidak selalu menggunakan kondom dengan pasangan pekerja seks komersil nya dan hampir 20%
memiliki beberapa IMS pada enam bulan terakhir.19 Mereka memiliki pengetahuan yang sangat
rendah tentang penularan HIV.
Pada kasus Roma, semua kasus sifilis dan kasus gonore lainnya lebih sering pada laki –
laki. Perbedaan jenis kelamin menentukan resiko IMS terkait pola perilaku seksual, dan laki –
laki lebih berisiko terinfeksi, tetapi tidak hanya pada kasus Roma, setidaknya tidak di Serbia.
Menurut tradisi, laki – laki memiliki kebebasan seksual yang lebih besar dibandingkan
perempuan. Pada saat ini, studi ini tidak mempunyai data tentang perilaku seksual yang beresiko,
seperti usia pertama berhubungan seksual, jumlah pasangan seksualnya, frekuensi penggunaan
kondom, dan sebagainya, yang mana dapat membantu untuk lebih memahami perbedaannya.
Seperti telah dijelaskan, sebuah penelitian yang dilakukan di Serbia dimana kalangan remaja
Roma telah menunjukkan berbagai perilaku seksual yang beresiko, seperti seksual pada usia dini,
banyaknya pasangan seks dan kurang nya penggunaan kondom yang konsisten, sangat sering dan
jauh lebih tinggi diantara remaja Roma di Serbia daripada penduduk Serbia pada umumnya. 4
Dalam studi yang sama, terkait pengetahuan mengenai HIV yang rendah dikalangan remaja
Roma. Pada studi Roma yang dilakukan di Bulgaria juga melaporkan perilaku seksual beresiko
tinggi diantara remaja Roma.16,20 Menurut hasil mereka 59% remaja Roma memiliki banyak
pasangan seks, dan lebih dari 52% dari mereka dilaporkan tidak menggunakan kondom atau
memiliki banyak pasangan seks selama tiga bulan terakhir. Pada studi yang dilakukan di
Budapest, 82% penduduk Roma tidak menggunakan kondom dengan pasangan seksnya.14 Studi
ini juga menemukan persentase yang rendah pada kasus Roma daripada kasus lainnya, yang
menyatakan dirinya sebagai homoseksual, ini sejalan dengan penelitian lainnya. Meskipun
sangat sedikit remaja Roma yang orientasi seksual mereka diidentifikasi sebagai homoseksual
sebanyak 51,9% dan 59% dari mereka melaporkan kegiatan kehidupan seks yang sama.16,20
Hampir dua pertiga dari laki-laki yang memiliki seks anal tanpa kondom dengan laki-laki lain
yang menerima uang atau barang berharga yang ditukaran untuk seks dan mayoritas dari mereka
( 94,1% ) dilaporkan menjadi mitra yang insertif. Pada studi saat ini, dibandingkan dengan kasus
Roma dengan gonore, pasien Roma dengan sifilis lebih sering homoseksual, pekerja seks, dan
lebih sering tidak diketahui sumber infeksinya, yang mana sejalan dengan fakta dikatakan bahwa
sifilis lebih sering dilaporkan pada laki – laki yang berhubungan seks dengan laki – laki dan
pekerja seks, di seluruh dunia.8 Pemeriksaan rutin yang dilakukan untuk sifilis seharusnya
didorong dan ditawarkan untuk pekerja seks Roma dan MSM.
Bagian penting dari analisis kami adalah akurasi data. Di asumsikan bahwa insiden kedua
penyakit ini diremehkan, karena ada kemungkinan bahwa beberapa pasien yang tidak
mengunjungi dokter dan beberapa dokter yang tidak melaporkan semua kasusnya. Pada
kenyataannya beberapa pasien bisa pergi ke dokter swasta, yang mana mungkin lebih mahal dan
tidak terjangkau olehnya, pasien – pasien Roma dan dengan demikian setidaknya dapat
menjelaskan persentasi yang tinggi pada kasus Roma di institusi. Kesimpulan penilitian ini
menegaskan bahwa kerentanan penduduk Roma untuk IMS. Frekuensi sifilis dan gonore jauh
lebih sering pada penduduk Roma daripada populasi penduduk etnis lainnya di Belgrade selama
periode tahun 2010 – 2014.
Konsekuensi upaya dari pemerintah untuk meningkatkan status ekonomi penduduk Roma
dan mempercepat integrasi sosial mereka tidak dapat segera dilakukan. Kelihatannya hanya
implentasi dari berbagai jenis edukasi kesehatan yang dapat memberikan hasil yang baik untuk
IMS dalam penanggulang yang relatif cepat. Mengurangi resiko yang menargetkan penduduk
Roma merupakan hal yang lebih penting. Selain itu , distribusi kondom dan promosi seharusnya
menjadi bagian penting dari konseling mereka.

REFERENSI
1. Ringold D, Orenstein MA, Wilkens E. Roma in an expandingEurope: breaking the cycle of
poverty. Washington, DC: WorldBank; 2015.
2. Statistical Office of the Republic of Serbia. 2011 census ofpopulation, households and
dwellings in the Republic ofSerbia. Belgrade: Statistical Office of the Republic of
Serbia;2014 [in Serbian].
3. Radovanovi´c S, Kneˇzevi´c A. Roma in Serbia. Belgrade:Statistical Office of the Republic
of Serbia; 2014 [in Serbian].
4. Djonic D, Djuric M, Bassioni-Stamenic F, et al. HIV-related riskbehaviors among Roma
youth in Serbia: results of twocommunity-based surveys. J Adolesc Health. 2013;52:234–40.
5. Center for Disease Control and Prevention. Report ofinfectious diseases in Belgrade in 2014.
Belgrade: CityInstitute of Public Health of Belgrade; 2015 [in Serbian].
6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). STDSurveillance case definitions.
Available at: http://www.cdc.gov/std/stats/casedefinitions-2014.pdf [accessed 30.04.16].
7. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Recentchanges to gonorrhea and syphilis
case definitions: programimpact. Available at: http://www.cdc.gov/std/stats/casedef-
programimpact-2014.pdf [accessed 30.04.16].
8. World Health Organization: Global incidence and prevalenceof selected curable STI-2008.
Available at: http://www.who.int/reproductivehealth/publications/rtis/2008 STI
estimates.pdf[accessed 04.07.15].
9. Garnett GP, Aral SO, Hoyle DV, Cates W, Anderson RM. Thenatural history of syphilis.
Implications for the transmissiondynamics and control of infection. Sex Transm
Dis.1997;24:185–200.
10. Hook EW III, Handsfield HH. Gonococcal infections in theadult. In: Holmes KK, Sparling
PF, Mardh P, Stamm WE,editors. Sexually transmitted diseases. 4th ed. New York:McGraw
Hill; 2008.
11. Sanchez MR. Syphilis. In: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K,Austen KF, Goldsmith LA,
Katz SI, editors. Fitzpatrick’sdermatology in general medicine. 6th ed. New York:McGraw-
Hill; 2003.
12. Arora PN, Sastry CV. HIV infection and genital ulcer disease.Indian J Sex Transm Dis.
1992;13:71–3.
13. Djoni´c D. Survey of risk behaviors and risk factors for HIV andother sexually transmitted
infections among the Roma ethnicgroup. In: Kneˇzevi´c T, Baroˇs S, Simi´c D, Bassioni
Stameni´c F,Miti´c K, editors. Research among population most at risk toHIV. Belgrade:
Ministry of Health of the Republic of Serbia;2012 [in Serbian].
14. Gyarmathy VA, Ujhelyi E, Neaigus A. HIV and selectedblood-borne and sexually
transmitted infections in apredominantly Roma (Gypsy) neighborhood in Budapest,Hungary:
a rapid assessment. Centr Eur J Public Health.2008;16:124–7.
15. Kabakchieva E, Vassileva S, Kelly JA, et al. HIV risk behaviorpatterns, predictors, and
sexually transmitted diseasesprevalence in the social networks of young Roma (Gypsy)men
in Sofia, Bulgaria. Sex Transm Dis. 2006;33:485–90.
16. Amirkhanian YA, Kelly JA, Kabakchieva E, et al. High-risksexual behavior, HIV/STD
prevalence, and risk predictors inthe social networks of young Roma (Gypsy) men in
Bulgaria. JImmigr Minor Health. 2013;15:172–81.
17. Casals M, Pila P, Langohr K, Millet JP, Cayle JA, the RomaPopulation Working Group.
Incidence of infectious diseasesand survival among the Roma population: a
longitudinalcohort study. Eur J Public Health. 2011;22:262–6.
18. Kneˇzevi´c A. Demographic characteristics of Roma populationin Belgrade as an indicator of
their social integration. RevistaRomân˘a de Geografie Politic˘a. 2013;XV:43–55.
19. Sipeti´c S, Ili´c D, Marinkovi´c J, et al. HIV/AIDS risk behaviorsamong Roma and non-
Roma sex workers in Belgrade (Serbia).Coll Antropol. 2012;36:1197–203.
20. Kelly JA, Amirkhanian YA, Kabakchieva E, et al. Prevention ofHIV and sexually
transmitted diseases in high risk socialnetworks of young Roma (Gypsy) men in
Bulgaria:randomized controlled trial. BMJ. 2006;333:1098–101.