Anda di halaman 1dari 21

MANAJEMEN KASUS

TB PARU
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sistem Respirasi

Diampu Oleh Ibu Maria Wisnu Kanita, S.Kep,. Ns

Disusun Oleh Kelompok 1

1. Addini Nur Fadilah (S13.001)


2. Aditiya Kurniawan (S13.002)
3. Aditya Heru S (S13.003)
4. Afif Qomarudin (S13.004)
5. Agustina Merdeka Wati (S13.005)
6. Alfi Sani Maskana Putri (S13.006)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2014/2015
BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Di Indonesia tuberculosis merupakan penyebab kematian utama dan angka
kematian. Indonesia menduduki urutan ke 3 setelah India dan China dalam jumlah
penderita tuberculosis paru di dunia, jumlah penderita tuberculosis paru tahun ke tahun di
Indonesia terus meningkat, penyakit tuberculosis paru menyerang sebagian besar kelompok
kerja produktif, penderita tuberculosis paru kebanyakan dari kelompok ekonomi rendah
namun saat ini juga banyak di derita oleh ekonomi atas di karenakan mudah proses
penularan tuberculosis paru yaitu penyebaran melalui udara atau droplet. (Aru, W Sudoyo.
2007).
Menurut WHO sekitar delapan juta penduduk dunia diserang tubercolusis dengan
kematian 3 juta orang / tahun (WHO,1993). WHO memperkirakan bakteri ini membunuh
sekitar 2 juta jiwa setiap tahunnya,antara tahun 2002-2020 diperkirakan 1 milyar manusia
akan terinfeksi dengan kata lain penambahan jumlah infeksi lebih dari 86 juta tiap
tahunnya. Biasanya 5-10% Diantaranya infeksi akan berkembang menjadi penyakit dan
berakhir dengan kematian, jika dihitung pertambahan jumlah pasien tuberculosis paru akan
bertambah sekitar 2,8-5,8 juta setiap tahunnya. Perkiraan WHO yakni setiap 2 juta jiwa
meninggal tiap tahunnya, karena 2-4 orang terinfeksi setiap detik dan hampir 4 orang setiap
menit meninggal karena tuberkolusis ini. Dikawasan Asia Tenggara WHO menunjukan
bahwa tuberkulosis paru membunuh sekitar 40% dari kasus tuberculosis paru di dunia
berada dalam kawasan asia tenggara. (Aru, W Sudoyo. 2007).Berdasarkan data rekam
medis Rumah Sakit Pelni Jakarta periode tahun 2009, jumlah pasien yang dirawat sebanyak
11.310 orang dan yang menderita tuberculosis paru sebanyak 142 orang (1,25%), tidak ada
pasien yang meninggal. Sedangkan pada tahun 2010, jumlah pasien yang dirawat sebanyak
11.705 orang yang menderita TB Paru sebanyak 156 orang(1,33%). Jumlah pasien yang
meninggal sebanyak 6 orang(3.84%).
Bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan tuberculosis paru
merupakan bakteri pembunuh masal, karena kuman mycobacterium ini telah menginfeksi
sepertiga pendudukdunia. Akhir-akhir ini penyakit infeksi Tuberculosis menunjukkan
peningkatan yang cukup besar.Penderita dengan perilaku tidak meludah
sembarangan,menutup mulut apabila bersin atau batuk. Hal ini dilakukan untuk
meminimalkan peningkatan penderita Tuberculosis Paru.
Dalam mengatasi berbagai masalah yang timbul pada klien dengan TB Paru, perawat
mempunyai peranan yang sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan
diantaranya sebagai Care Giver, Advocat, vasilitator, koordinator, edukator. Oleh karena itu
perawat mempunyai upaya sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan dengan
TB paru, diantaranya dalam segi promotif yaitu peran perawat memberikan penyuluhan
agar masyarakat mengenal tentang penyakit TB Paru dan melakukan pola hidup sehat, dari
segi preventif dengan cara mendeteksi dini penyakit TB Paru atau menghindari faktor
penyebab TB Paru (merokok atau minum alkohol), dari segi kuratif perawat langsung
membatasi aktivitas sesuai beratnya keluhan, sedangkan dari segi rehabilitatif dengan
memberikan penyuluhan (menjemur kasur seminggu 1 kali dan membuka jendela pada pagi
hari).

2. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Penulis ingin mendapatkan pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan Tuberculosis Paru.
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan keperawatan pada klien tuberculosis paru diharapkan penulis
dapat :
a. Melakukan pengkajian pada klien dengan tuberculosis paru
b. Menentukan masalah keperawatan klien dengan tuberculosis paru
c. Merencanakan asuhan keperawatan klien dengan tuberculosis paru
d. Melaksanakan tindakan keperawatan klien dengan tuberculosis paru.
e. Melakukan evaluasi keperawatan pada klien dengan tuberculosis paru.
f. Mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus klien dengan
tuberculosis paru.
g. Mengidentifikasi faktor-faktor pendukung, penghambat, serta mencari
solusi/alternatif pemecahan masalah.
h. Mengdokumentasikan asuhan keperawatan pada klien dengan tuberculosis paru.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI
Tuberculosis adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru.
Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meninges, genjal,
tulang, dan nodus limfe. Agens infeksius utama, mycobacterium tuberculosis, adalah
batang aerobic tahan asam yang tumbuh dengan lamabat dan sensitif terhadap panas dan
sinar ultraviolet. M. bovis dan M. avium pernah, pada kejadian yang jarang, berkaitan
dengan terjadinya infeksi tuberculosis.
Tuberculosis merupakan masalah kesehatan masyarakat diseluruh dunia. Angka
mortalitas dan morbiditasnya terus meningkat. TB sangat erat kaitannya dengan
kemiskinan, malnutrisi, tempat kumuh, rumah di bawah standar, dan perawatan kesehatan
yang tidak adekuat. Pada tahun 1952, diperkenalkan obat anti tuberculosis dan angka
kasus TB yang di laporkan di Amerika Serikat menurun rata-rata 6% setiap tahun antara
1953 dan 1985. Saat itu di duga bahwa pada awal abad ke -21, TB di Amerika Serikat
mungkin dapat disingkirkan. Namun sejak 1985 trennya justru sebaliknya dan jumlah
kasusnya meningkat. Perubahan ini terlah di tunjang oleh beberapa faktor, termasuk
peningkatan imigrasi, epidemic HIV, strein TB yang residen terhadap banyak obat, dan
tidak adekuatnya dukungan system kesehatan masyarakat Amerika Serikat
2. ETIOLOGI
Tuberculosis paru disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Sebagian
besar kuman terdiri dari asam lipid. Lipid inilah yang membuat kuman menjadi tahan
terhadap asam dan lebih tanan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman dapat tahan
hidup pada udara kering / dingin. Atau dapat berhatan bertahun-tahun dalam lemari es.
Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dorman, dari sifat dorman ini kuman
dapat bangkit kembali dan menjadi tuberculosis aktif lagi. Sifat lain kuman adalah aerob,
sifat ini menunjukan bahwa kuman ini lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan
oksigennya, dalam hal ini tekanan apical paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya,
sehingga bagian apical ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberculosis. Penularan
penyakit ini melalui inhalasi (droplet atau luka dikulit dan saluran pencernaan). Faktor
predisposisi penyakit tuberculosis antara lain usia, immunosupresi, infeksi HIV,
malnutrisi, alkoholisme dan penyalahgunaan obat, adanya keadaan penyakit lain (DM).
3. MANIFESTASI KLINIS
Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang
mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum
seperti lemah dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas
sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik.
Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala
sistemik:
1.Gejala respiratorik, meliputi:
a. Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering
dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan
bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis
atau bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat
banyak. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya
batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
c. Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada
hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul
apabila sistem persarafan di pleura terkena.
2.Gejala sistemik, meliputi:
a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari
mirip demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang
serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek.
b. Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta
malaise.
Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi
penampilan akut dengan batuk, panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga
timbul menyerupai gejala pneumonia.
4. KOMPLIKASI
1. Hemoptisis masif (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena sumbatan jalan napas, atau syok hipo¬volemik
2. Kolaps lobus akibat sumbatan bronkus
3. Bronkietasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan
ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru
4. Pneumotoraks (pnemotorak/ udara didalam rongga pleura) spontan: kolaps
spontan karena bula/ blep yang pecah
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, sendi, ginjal dan sebagainya,
6. Insufisiensi kardio pulmoner (cardio pulmonary insufficiency)

5. PATOFISIOLOGI
Penularan terjadi karena kuman dibatukan atau dibersinkan keluar menjadi
droflet nuklei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas
selama 1 – 2 jam, tergantung ada atau tidaknya sinar ultra violet. dan ventilasi yang
baik dan kelembaban. Dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan
sampai berhari – hari bahkan berbulan, bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang
yang sehat akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan berkembang bisa
sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula keduanya dengan
melewati pembuluh linfe, basil berpindah kebagian paru – paru yang lain atau
jaringan tubuh yang lain.Setelah itu infeksi akan menyebar melalui sirkulasi, yang
pertama terangsang adalah limfokinase, yaitu akan dibentuk lebih banyak untuk
merangsang macrofage, berkurang tidaknya jumlah kuman tergantung pada jumlah
macrofage. Karena fungsinya adalah membunuh kuman / basil apabila proses ini
berhasil & macrofage lebih banyak makaklien akan sembuh dan daya tahan tubuhnya
akan meningkat.Tetapi apabila kekebalan tubuhnya menurun maka kuman tadi akan
bersarang didalam jaringan paru-paru dengan membentuk tuberkel (biji – biji kecil
sebesar kepala jarum).Tuberkel lama kelamaan akan bertambah besar dan bergabung
menjadi satu dan lama-lama timbul perkejuan ditempat tersebut.apabila jaringan yang
nekrosis dikeluarkan saat penderita batuk yang menyebabkan pembuluh darah pecah,
maka klien akan batuk darah (hemaptoe)
6. PATHWAY
Mycobacterium tuberculosis

Airbone / inhalasi droplet

Saluran pernafasan

Saluran pernafasan atas Saluran pernafasan bawah

Bakteri yg besar bertahan di bronkus Paru-paru

Peradangan bronkus alveolus

Pernumpukan sekret Alveolus Penyebaran


Mengalami infeksi
Efektif Tidak Efektif Anoreksiamalaese, konsolidasi dan secara
Mual, muntah eksudasi limfa
hematogen
Sekret keluar Sekret tidak Perubahan nutrisi Gangguan
Saat batuk keluar kurang dari Pertukaran Demam
saat batuk kebutuhan Gas
Batuk terus
menerus Bersihan Hipertermi Peningkatan
jalan nafas suhu tubuh
Terhirup tidak efektif
Orang sehat Keletihan

Resiko
Penyebaran Gangguan pola Intoleransi
infeksi istirahat tidur aktivitas
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Anamnesis pada pemeriksaan fisik
b. Laboratorium darah rutin ( LED normal atau meningkat,limfositosis)
c. Foto thoraks PA dan lateral.gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis TB,
yaitu :
 Bayangan lesi terletak di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah
 Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular)
 Adanya kavitas, tunggal atau ganda
 Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru
 Adanya klasifikasi
 Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
 Bayangan milier
d. Pemeriksaan sputum BTA pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru,
namun pemeriksaan ini tidak sensitif karena hanya 30-70 persen pasien TB yang
dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini
e. Tes PAP (peroksidase anti peroksidase)merupakan uji serologi imunoperoksidase
memakai alat histogen imunoperoksidase staninguntuk menentukan adanyan IgG
spesifik terhadap basil TB
f. Tes mantoux / tuberculin
g. Teknik polymerase chain reactiondeteksi DNA kuman secara spesifik melalui
aplifikasi dalam berbagai tahap sehingga dapatmendeteksi meskipun hanya ada 1
mikroorganisme dalam spesimen. Juga dapatmendeteksi adanya retensi
h. Becton Dickinson Diagnostik Instrumen System (BACTEC)deteksi grouth index
berdasarkan CO2 yang di hasilkan dari metabolisme asam lemak olehM. Tuberculosis
i. Enzyme Linked Immunosorbent Assaydeteksi respon humoral memakai antigen-
antibody yang terjadi. Pelaksanaannya rumit danantibody dapat menetap dalam waktu
lama sehingga menimbulkan masalah
j. MYCODOTDeteksi antibody memakai antigen lipoarabinomannan yang di rekatkan
pada suatu alat berbentuk seperti sisir plasti, kemudian dicelupkan dalam serum
pasien. Bila terdapatantibody spesifik dalam jumlah memadai maka warna sisir akan
berubah.
8. PENATALAKSANAAN MEDIS
Tuberkolosis paru diobati terutama dengan agens kemoterapi (agens
antituberkolosis) selama periode 6 sampai 12 bulan. Lima medikasi garis depan
digunakan: isoniasid (INH), rifampin (RIF), streptotomisin (SM), etambutol (EMB),
dan pirasinamid (PZA).Kapreomisin, kanamisin, etionamid, natrium para-
aminosalisilat, amikasin, dan siklisin merupakan obat-obat baris kedua.
M. Tuberculosis yang resisten terhadap obat – obatan terus menjadi isu yang
berkembang di seluruh dunia. Meski TB yang resisten terhadap obat telah
terindentifikasi sejak tahun 1950, insiden dari resisten banyak obat telah menciptakan
tantangan baru. Beberapa jenis resisten obat harus dipertimbangkan ketika
merencanakan terapi efektif.
 Resisten obat primer adalah resisten terhadap satu agens
antituberkolusis garis depan pada individu yang sebelumnya belum
mendapatkan pengobatan.
 Resisten obat didapat atau sekunder adalah resisten terhadap satu atau
lebih agens antituberkulosis pada pasien yang sedang menjalani terapi.
 Resisten banyak obat adalah resisten terhadap dua agens, sebut saja,
INH dan RIF.
Pengobatan yang direkomendasikan bagi kasus tuberculosis paru yang baru
didiagnosa adalah regimenpengobatan beragam, termasuk INH, RIF, dan PZA selama
4 bulan, bulan dengan INH dan RIF dilanjutkan untuk tambahan 2 bulan(totalnya 6
bulan). Sekarang ini, setiap agens dibuat dalam pil yang terpisah. Pil anti-tuberkulosis
baru three-in-one yang terdiri atas INH, RIF, dan PZA telah dikembangkan, yang
akan memberikan dampak besar dalam meningkatakankepatuha terhadap regimen
pengobatan. Pada awalnya, etambutol streptomisin mungkin di sertakan dalam terapi
awal sampai pemeriksaan resisten obat didapatkan. Regimen pengobatan,
bagaimanapun, tetap dilanjutkan selama 12 bulan. Individu akan dipertimbangkan
noninfeksius setelah menjalani 2-3 minggu terapi obat kontinu.
Isoniasid (INH) mungkin digunakan sebagai tindakan preventif bagi mereka
yang diketahui beresiko terhadap penyakit signifikan, sebagai contoh, angota keluarga
dari pasien yang berpenyakit aktif. Regimen pengobatan profilatik ini mencakup
penggunaan dosis harian INH selama 6-2 bulan. Untuk meminimalkan efek samping,
dapat diberikan piridoksin (vitamin B6). Enzim-enzim hepar, nitrogen urea darah
(BUN), dan kreatinin dipantau setiap bulan. Hasil pemeriksaan kultur spuntum
dipantau terhadap basil tahan asam (BTA) untuk meevaluasi efektivitas pengobatan
dan kepatuhan pasien terhadap terapi.

9. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1. Memposisikan pasien semi fowler
2. Mengajarkan pasien batuk efektif
3. Memberikan pendidikan kesehatan TB Paru

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Pengumpulan data
Dalam pengumpulan data ada urutan – urutan kegiatan yang dilakukan yaitu :
a. Identitas klien
Nama, umur, kuman TBC menyerang semua umur, jenis kelamin, tempat tinggal
(alamat), pekerjaan, pendidikan dan status ekonomi menengah kebawah dan satitasi
kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya
riwayat kontak dengan penderita TB patu yang lain.
b. Riwayat penyakit sekarang
Meliputi keluhan atau gangguan yang sehubungan dengan penyakit yang di rasakan
saat ini. Dengan adanya sesak napas, batuk, nyeri dada, keringat malam, nafsu makan
menurun dan suhu badan meningkat mendorong penderita untuk mencari
pengonbatan.
c. Riwayat penyakit dahulu
Keadaan atau penyakit – penyakit yang pernah diderita oleh penderita yang mungkin
sehubungan dengan tuberkulosis paru antara lain ISPA efusi pleura serta tuberkulosis
paru yang kembali aktif.
d. Riwayat penyakit keluarga
Mencari diantara anggota keluarga pada tuberkulosis paru yang menderita penyakit
tersebut sehingga sehingga diteruskan penularannya.
e. Riwayat psikososial
Pada penderita yang status ekonominya menengah ke bawah dan sanitasi kesehatan
yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak
dengan penderita tuberkulosis paru yang lain.
f. Pola fungsi kesehatan
1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada klien dengan TB paru biasanya tinggal didaerah yang berdesak –
desakan, kurang cahaya matahari, kurang ventilasi udara dan tinggal dirumah
yang sumpek.
2. Pola nutrisi dan metabolik
Pada klien dengan TB paru biasanya mengeluh anoreksia, nafsu makan
menurun.
3. Pola eliminasi
Klien TB paru tidak mengalami perubahan atau kesulitan dalam miksi maupun
defekasi
4. Pola aktivitas dan latihan
Dengan adanya batuk, sesak napas dan nyeri dada akan menganggu aktivitas
5. Pola tidur dan istirahat
Dengan adanya sesak napas dan nyeri dada pada penderita TB paru
mengakibatkan terganggunya kenyamanan tidur dan istirahat.
6. Pola hubungan dan peran
Klien dengan TB paru akan mengalami perasaan asolasi karena penyakit
menular.
7. Pola sensori dan kognitif
Daya panca indera (penciuman, perabaan, rasa, penglihatan, dan pendengaran)
tidak ada gangguan.
8. Pola persepsi dan konsep diri
Karena nyeri dan sesak napas biasanya akan meningkatkan emosi dan rasa
kawatir klien tentang penyakitnya.
9. Pola reproduksi dan seksual
Pada penderita TB paru pada pola reproduksi dan seksual akan berubah karena
kelemahan dan nyeri dada.
10. Pola penanggulangan stress
Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan mengakibatkan
stress pada penderita yang bisa mengkibatkan penolakan terhadap pengobatan.
11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Karena sesak napas, nyeri dada dan batuk menyebabkan terganggunya
aktifitas ibadah klien.
g. Pemeriksaan fisik
Berdasarkan sistem – sistem tubuh
1) Sistem integument
Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun
2) Sistem pernapasan
Pada sistem pernapasan pada saat pemeriksaan fisik dijumpai
 Inspeksi : adanya tanda – tanda penarikan paru, diafragma,
pergerakan napas yang tertinggal, suara napas melemah.
 Palpasi : Fremitus suara meningkat.
 Perkusi : Suara ketok redup.
 Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah,
kasar dan yang nyaring.
3) Sistem pengindraan
Pada klien TB paru untuk pengindraan tidak ada kelainan
4) Sistem kordiovaskuler
Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 syang mengeras.
5) Sistem gastrointestinal
Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun.
6) Sistem musculoskeletal
Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan keadaan
sehari – hari yang kurang meyenangkan.
7) Sistem neurologis
Kesadaran penderita yaitu komposments dengan GCS : 456
8) Sistem genetalia
Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada genitalia
10. ASUHAN KEPERAWATAAN SESUAI TEORI
NO Diagnosa Kep Tujuan dan kriteria Intervensi TTD
hasil
1 Ketidakefektifan bersihan RR : Normal Airway management
jalan nafas berhubungan Suara : Tidak ada O : memonitor
dengan faktor lingkungan Ronchi pernafasan dan status
merokok. Pola nafas teratur oksigenasi yang sesuai
N : memposisikan pasien
untuk memaksimalkan
potensi fentilasi
E : mengajarkan batuk
efektif
C:-
2 Intoleran aktivitas Kekuatan otot dari 4 Acitivity Therapy
berhubungan dengan menjadi 1. O : memantaurespons
imobilitas Mudah beraktifitas. emosional, fisik, sosial,
danspiritualdengan
aktivitas
N : Berkolaborasi dengan
fisik pekerjaan, atau
terapis rekreasi dalam
perencanaan dan
monitoring program
kegiatan, yang sesuai
E:-
C : Membantu
dengankegiatan
rutinfisik (ambulation,
transfer, mengubahdan
perawatan pribadi)
sesuai kebutuhan
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KASUS
Kasus :

Tn.S mengeluh sesak nafas, batuk berdahak susah keluar, badan merasa lemas, timbul
keringat di malam hari. Pasien mendapat terapi oksigen 3 liter/menit, infuse RL
16tetes/menit, captopril 3x12, 5mg, furosemid 1x20mg, ranitidine 2x25mg. pergerakan
terbatas ,aktivitas di bantu keluarga .TD 170/100 mmHg ,nadi 88 kali/menit .Riwayat sudah
dua kali opname dengan diagnosa medis TB paru. Pernah melakukan pengobatan Tb paru
tetapi terputus,pasien mengatakan saat remaja mempunyai kebiasaan merokok.kakak klien
juga menderita TB paru.terdapat keluarga yang menderita hipertensi.hasil rontgen terdapat
gambaran Tb paru dan lobus medium paru.hasil lab TBA (+).

Tanggal dan jam pengkajian : 13 September 2014

Tanggal masuk : 12 September 2014

I. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
1. Identitas Jurnal
Nama : Tn.S
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 50 tahun
Agama : Islam
Status perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA
Suku : Jawa
Alamat : Surakarta
Golongan Darah :B
Nomor RM : 201
Diagnosa medis : TB Paru
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny.S
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 45 tahun
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Suku : Jawa
Hub. dgn medis : Istri
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Surakarta
B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan utama : Tn.S mengeluh sesak nafas
2. Riwayat penyakit sekarang : Tn.S mengeluh sesak nafas, batuk berdahak
susah keluar, badan lemas, timbul keringat dingin di malam hari
3. Riwayat penyakit dahulu : Tn. S pernah melakukan pengobatan TB paru
tetapi terputus, pasien mengatakan saat remaja mempunyai kebiasaan merokok
4. Riwayat kesehatan keluarga : Kakak klien juga menderita TB paru, dan
terdapat keluarga yang menderita hipertensi
5. Genogram
Keterangan :
: laki-laki
: perempuan

: pasien

: menikah
: keturunan

C. PENGKAJIAN POLA FUNGSI GORDON


1. Pola Persepsi dan Pemeliharaan
Menurut klien kesehatan adalah hal utama yang harus diupayakan
karena tanpa kesehatan tidak bisa melakukan aktivitas.
2. Pola Aktivitas dan latihan

No Aktivitas 0 1 2 3 4

1 Makan dan minum 

2 Mandi 

3 Toileting 

4 Berpakaian 

5 Mobilitas tempat tidur 

6 Berpindah 

7 Ambulansi/ROM 
Keterangan :

0 : Mandiri

1 : Di bantu alat

2 : Di bantu keluarga

3 : Di bantu alat dan keluarga

4 : Di bantui alat dan keluarga

3. Pola Istirahat dan Tidur


No Keterangan Sebelum sakit Selama sakit

1 Jumlah jam tidur siang - -

2 Jumlah jam tidur malam - -

3 Pengantar tidur/penggunaan Tidak ada Tidak ada


obat idur
4 Gangguan tidur Tidak ada Batuk berdahak

5 Perasaan waktu bangun Terasa segar Lemah

4. Pola nutrisi metabolik


a. = TB : 130 cm BB : 35 kg IMT : 13,79595
b. = Leukosit 9.3 103/ml, Hb 9.0 g/dl, eritrosit 3.66 106/ml,
Hematokrit 27.8 %
c. = -
d. = -
5. Pola eliminasi
BAB
 Frekuensi : 1x sehari
 Keluhan :-
BAK

 Frekuensi : 2-3x /hari


 Keluhan : -
6. Pola kognisi dan perceptual :-
7. Pola konsep diri :-
8. Pola koping : pasien tidak mengalami tekanan mental
karena penyakit yang dideritanya, sehingga psikologis pasien normal
9. Pola seksual reproduksi : Tn.s masih ingat bahawa telah
mempunyai satu anak dan satu istri, selama sakit tidak melakukan
hubungan intim.
10. Pola peran hubungan : Pasien masih ingat perannya dalam
rumah tangga sabagai suami dan seorang ayah
11. Pola nilai dan keyakinan : Selama sakit pasien mampu melakukan
ibadah shalam 5x sehari, selama sakit pasien tidak mampu melakukan
ibadah shalam 5x sehari.
Pemeriksaan Fisik

I. Keadaan umum : Composmentis


II. TTV
a. Tekanan darah : 170/100 mmHg
b. Nadi : 88x/menit
c. Pernafasan :28x/menit
d. Suhu :37 0C

III.Pemeriksaan head to Toe


a. Kepala :
 Inspeksi : warna rambut hitam, kebersian terjaga,
bentuk kepala bulat.
 Palpasi : nyeri tekan tidak ada

b. Leher :
 Inspeksi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
dan vena jugularis
c. Dada
 Inspeksi : simetris
 Palpasi : lemas, nyeri tekan tidak ada massa
 Perkusi : sonor kiri dan kanan
 Auskultasi : ronchi+/+, wheezing+/+a
d. Jantung
 Inspeksi : Iktuskordis terlihat
 Palpasi : Tidak ada benjolan
 Perkusi : berbunyi pekak
 Auskultrasi : reguler

e. Abdomen
 Inspeksi : datar
 Palpasi : lemas, nyeri tekan tidak ada massa
 Perkusi : tidak kembung
 Auskultrasi : bising usus normal

f. Genitalia :-
g. Anus dan rectum :-
h. Ekstrimitas
 Atas : akral hangat, tidak ada oedem, tangan kanan terpasang infus
dextrose 5% 20gtt/mnt
 Bawah : akral hangat, tidak ada oedem

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil rontgen terdapat gambaran TB paru di apek paru dan lobus medium paru,
Hasil lab BTA (+)
II. ANALISA DATA
NO Hari/Tanggal Data Fokus Problem Etiologi Dx
1 Sabtu DS: klien Ketidakefektifan Mukus Ketidakefektifan
13/09/2014 mengeluh sesak bersihan jalan dalam jalan nafas
nafas,batuk nafas jumlah berhubungan
berdahak susah berlebihan dengan mucus
keluar. dalam jumlah
DO: berlebihan
TD:170/100mmHg
RR:28 X/menit
Nadi:88 X/menit
Suhu:37°C
Takhi kardi
Irama Nafas :
Ireguler
2 Senin DS: klien Intoleransi Imobilitas Intoleran
15/09/2014 mengatakan badan aktivitas aktivitas
terasa lemas berhubungan
DO: pergerakan dengan
terbatas, aktivitas imobilitas
di bantu keluarga

INTERVENSI

NO Diagnosa Kep Tujuan dan kriteria Intervensi TTD


hasil
1 Ketidakefektifan bersihan RR : Normal Airway management
jalan nafas berhubungan Suara : Tidak ada O : memonitor
dengan faktor lingkungan Ronchi pernafasan dan status
merokok. Pola nafas teratur oksigenasi yang sesuai
N : memposisikan pasien
untuk memaksimalkan
potensi fentilasi
E : mengajarkan batuk
efektif
C:-
2 Intoleran aktivitas Kekuatan otot dari 4 Acitivity Therapy
berhubungan dengan menjadi 1. O : memantaurespons
imobilitas Mudah beraktifitas. emosional, fisik, sosial,
danspiritualdengan
aktivitas
N : Berkolaborasi dengan
fisik pekerjaan, atau
terapis rekreasi dalam
perencanaan dan
monitoring program
kegiatan, yang sesuai
E : Pendidikan
kessehatan tentang TB
Paru
C : Membantu dengan
kegiatan rutin fisik
(ambulation, transfer,
mengubah dan
perawatan pribadi)
sesuai kebutuhan
BAB IV PENUTUP

1. KESIMPULAN

Dari hasil pengkajian penyebab dari TB Paru adalah kuman mycrobakterium


tuberculosis. Sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak/ lipid. Lipid inilah yang membuat
kuman menjadi tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisisk.
Kuman dapat tahan hidup pada udara kering/ dingin. Atau dapat bertahan bertahun-tahun
dalam lemari es. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dorman, dari sifat dorman
ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadi tuberculosis aktif lagi. Manifestasi klinis pada
teori dan kasus sama yaitu penurunan berat badan, batuk, penurunan napsu makan
(anoreksia), kelemahan, mual dan muntah. Resiko tinggi penularan penyakit berhubungan
dengan kurangnya pengetahuan. sedangkan satu diagnosa teratasi yaitu gangguan pemenuhan
kebersihan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas.

2. SARAN
 Dalam memberikan asuhan keperawatan sebaiknya penulis lebih teliti lagi dalam
mengkaji masalah yang ada dan masalah yang mungkin muncul pada klien.
 Penulis dan perawat ruangan agar lebih memonitoring hasil laboratorium untuk
menunjang dalam menegakan diagnosa.
 Penulis dan perawat dapat lebih meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang
lebih baik untuk klien dan keluarga dalam memberikan pelayanan secara
komprehensif serta dapat bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya.
 Perawat dan penulis khususnya harus lebih meningkatkan pengetahuan agar dapat
meningkatkan kwalitas asuahan keperawatan yang lebih baik untuk klien dan
keluarga.
 Perawat memberikan pembelajaran kepada klien dan keluarga untuk memperhatikan
lingkungan (rumah ada jendela, menjemur kasur minimal 1 kali dalam seminggu)