Anda di halaman 1dari 1

ESSAY

IRMAMARDIA BINTI ERY itulah nama yang diberikan pada saya 19 tahun yang
lalu sampai sekarang, saya tau anda semua pasti bingung kenapa nama saya pakai binti?
Karena semua teman-teman saya bahkan para dosen kerap kali menanyakan nama saya ini,
jadi awal ceritanya pada saat ibu saya menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Malaysia,
waktu itu kebetulan ibu saya sedang hamil, jadi ibu saya melahirkan saya di Hospital
Sultanah Aminah di Johor Bahru, Malaysia. Kemudian pihak rumah sakit memberikan Sijil
Kelahiran dan Kematian dari Negara Malaysia, Lalu ketika saya SD sampai sekarang sijil
itulah yang saya gunakan untuk sekolah. Saya sendiri merupakan anak tunggal, saya berasal
dari Kerinci, Ibu saya adalah seorang Cleaning Service di Batam, Ia adalah sesosok yang
sangat kuat dan tegar serta sangat mendorong saya untuk kuliah, Ayah saya telah lama
meninggal sejak saya kecil, Sedangkan saya dari SMP-SMA tinggal bersama nenek saya di
Desa Semerap.
Menurut teman-teman saya, saya itu orangnya lelet atau lama, namun saya bisa tepat
waktu apabila ada hal-hal yang menjadi prioritas dan menurut saya itu penting untuk masa
depan saya, saya adalah sesosok yang perfeksionis, saya ingin mengerahkan kemampuan
saya semaksimal mungkin dalam melakukan suatu pekerjaan, Prinsip saya yaitu, "Menjalani
kehidupan itu harus semaksimal mungkin sehingga tidak ada kata menyesal diakhir nanti,
sukses atau tidaknya serahkan pada Allah",
Sekarang saya sedang menjalani perkuliahan tahun ke-2 di universitas jambi, saya
mengambil jurusan Hukum, Karena saya bercita-cita ingin menjadi Pengacara Publik, cita-
cita saya ini awalnya timbul saat ibu saya menelepon saya ketika saya masih duduk dibangku
SMA, ibu bercerita saat ia mendatangi sebuah rumah sakit di kota A, ibu saya sedang
mengalami sakit kerongkongan, kebetulan ibu saya memakai kartu BPJS saat berobat waktu
itu, saat itu seorang suster dengan wajah kesal memanggil ibu saya masuk sambil mengatakan
"ibuk kenapa terlambat? Apa tidak bisa datang lebih awal?"tanya suster itu dengan nada
marah,"maaf sus! Saya tadi dari kerja, sebelum pekerjaan saya selesai saya tidak dibolehkan
izin", sahut ibu saya "emangnya ibu gak punya keluarga disini? Suami anak atau siapalah
yang menolong ibuk mengambil surat rujukan?emang ibuk hidup sebatang kara di Batam
ini?" Katanya lebih marah, "iya saya hidup sebatang kara disini sus, suami saya sudah tidak
ada lagi, sedangkan anak saya sedang sekolah di Jambi" kata ibu saya. Disitu hati saya
bergetir, rasanya hati saya seperti tersayat-sayat atas hinaan itu, suara ibu terdengar hampir
menangis, saya tidak sanggup menahan tangis, dari situ saya bertekad kelak saya akan
menolong orang-orang lemah seperti ibu saya, saya akan menjadi pengacara yang membela
rakyat miskin yang tak berdaya, saya akan mengubah analogi hukum yang mengatakan
bahwa hukum itu runcing kebawah kepada orang-orang miskin dan lemah, saya akan
mengabdi pada nusa bangsa. Dan saya harap pihak Tanoto Foundation menolong saya untuk
meraih cita-cita saya, dan menolong meringankan biaya kuliah saya sampai saya lulus,
Karena saya merasa saya pantas mendapatkan beasiswa Tanoto Foundation, serta yang
terakhir saya ingin menunjukkan pada suster dan dokter yang telah menghina ibu saya bahwa
anak seorang ibu yang mereka hina telah sukses dan akan membayar hinaan mereka.