Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Toksoplasmosis

2.1.1 Definisi

Toksoplasmosis disebabkan oleh infeksi protozoa Toxoplasma gondii,

parasit intraseluler obligat. Infeksi memproduksi berbagai sindrom klinis pada

manusia, mamalia darat dan laut, dan berbagai jenis burung. T gondii telah

ditemukan dari lokasi di seluruh dunia, kecuali Antartika. (Gras, et al., 2005)

2.1.2 Epidemiologi

Meskipun bukti dari infeksi sebelumnya merupakan hal yang umum,

toksoplasmosis kongenital merupakan hal yang tidak umum di amerika serikat,

dengan kira-kira 400 - 4000 kasus setiap tahun. Seroprevalensi

keseluruhan dengan penyesuaian yakni 22.5%, 2 sampai 15% diantara wanita usia

siap mengandung. Ada kira-kira 225.000 kaus infeksi Toxoplasma gondii setiap

tahun, yang kemudian menghasilkan 5000 kasus rawat inap dan 750 kasus

kematian, menjadikan toksoplasmosis sebagai penyebab umum ketiga dari

5
6

penyakit fatal yang ditularkan melalui makanan di Negara tersebut. (Lopes, et al.,

2007)

Prevalensi infeksi Toxoplasma gondii di Indonesia berkisar antara 2-63%.

Pada tahun 1964, de ever-bonnet melaporkan sekitar 24% dari populasi pribumi

berumur 10-50 tahun di Irian Jaya, seropositif dimana titer “dye test” > 1:4

dianggap sebagai batas positif. Dalam penelitian ini, Clarke et al. (1973) dan

Durfee (1976) menggunakan titer ira > 1:16 dan 1:32 sebagai batas positif yang

tersedia dan prevalensi 51% di Jawa Timur, 20% Jawa Tengah dan 31% di

Kalimantan Selatan. Dalam tes lain dengan ifa, Van Der Veen et al. (1974)

melaporkan prevalensi sebesar 63% di Surabaya, dimana titer > 1:32 atau lebih

rendah sebagai batas nilai positif, maka prevalensi meningkat hingga 63%.

(Chahaya, 2003)

2.1.3 Patofisiologi

Toksoplasmosis merupakan infeksi protozoa yang disebabkan oleh

Toxoplasma gondii dengan hospes definitif kucing dan hospes perantara manusia.

Manusia dapat terinfeksi parasit ini bila memakan daging yang kurang matang

atau sayuran mentah yang mengandung ookista atau pada anak-anak yang suka

bermain di tanah, serta ibu yang gemar berkebun dimana tangannya tertempel

ookista yang berasal dari tanah (Montoya, et al., 2004). Perkembangan parasit

dalam usus kucing menghasilkan ookista yang dikeluarkan bersama tinja. Ookista

menjadi matang dan infektif dalam waktu 3-5 hari di tanah. Ookista yang matang
7

dapat hidup setahun di dalam tanah yang lembab dan panas, yang tidak terkena

sinar matahari secara langsung. Ookista yang matang bila tertelan tikus, burung,

babi, kambing, atau manusia yang merupakan hospes perantara, dapat

menyebabkan terjadinya infeksi (Montoya, et al., 2004). Toksoplasmosis

dikelompokkan menjadi toksoplasmosis akuisita (dapatan) dan toksoplasmosis

kongenital yang sebagian besar gejalanya asimtomatik. Keduanya bersifat akut

kemudian menjadi kronik atau laten. Gejala yang nampak sering tidak spesifik

dan sulit dibedakan dengan penyakit lainnnya (Suparman, 2012).

Pada ibu hamil yang terinfeksi di awal kehamilan, transmisi ke fetus

umumnya jarang, tetapi bila terjadi infeksi, umumnya penyakit yang didapat akan

lebih berat. Pada toksoplasmosis yang terjadi di bulan-bulan terakhir kehamilan,

parasit tersebut umumnya akan ditularkan ke fetus tetapi infeksi sering subklinis

pada saat lahir (Suparman, 2012). Pada ibu hamil yang mengalami infeksi primer,

mula-mula akan terjadi parasitemia, kemudian darah ibu yang masuk ke dalam

plasenta akan menginfeksi plasenta (plasentitis). Infeksi parasit dapat ditularkan

ke janin secara vertikal. Takizoit yang terlepas akan berproliferasi dan

menghasilkan fokus-fokus nekrotik yang menyebabkan nekrosis plasenta dan

jaringan sekitarnya, sehingga membahayakan janin dimana dapat terjadi ekspulsi

kehamilan atau aborsi (Suparman, 2012).


8

2.1.4 Gejala Klinis

Toksoplasmosis akuisita biasanya bersifat asimtomatik. Bila seorang ibu

hamil mendapat infeksi primer, kemungkinan 50% bayi yang dilahirkan

menderita toksoplasmosis kongenital, yang umumnya hanya bermanifestasi

sebagai limfadenopati asimtomatik pada kelenjar getah bening leher bagian

belakang, dapat menyebar atau terlokalisasi pada satu nodul di area tertentu.

Tanda dan gejala yang sering timbul pada ibu hamil ialah demam, sakit kepala,

dan kelelahan. Beberapa pasien menunjukkan tanda mononucleosis like syndrome

seperti demam, ruam makulopapular (Blueberry muffin) yang mirip dengan

kelainan kulit pada demam tifoid. (Hariadi, 2004)

Pada janin, transmisi toksoplasmosis kongenital terjadi bila infeksi T. gondii

didapat selama masa gestasi (Cunningham, et al., 2005). Terdapat korelasi positif

yang sangat bermakna antara isolasi toksoplasma dari jaringan plasenta dan

infeksi neonatus. Korelasi ini merupakan hasil penelitian otopsi toksoplasmosis

kongenital dan mengindikasikan bahwa infeksi tersebut didapat melalui sirkulasi

uteroplasenta (Suparman, 2012). Sekitar setengah dari wanita yang terinfeksi

toksoplasmosis dapat menularkan infeksi melintasi plasenta ke janin in utero.

Transmisi penyakit ke janin lebih jarang terjadi pada awal kehamilan, namun

infeksi pada awal kehamilan ini dapat menyebabkan gejala yang lebih parah pada

janin, meskipun ibunya tidak merasakan tanda dan gejala infeksi toksoplasma

(Suparman, 2012). Terdapat trias klasik pada toksoplasmosis kongenital berat,


9

yaitu: hidrosefalus, korioretinitis, dan kalsifikasi intrakranial. Pada bayi baru lahir

yang bergejala, salah satu atau keseluruhan tanda dari trias klasik mungkin

timbul, disertai gejala infeksi lainnya meliputi hepatosplenomegali, ikterus,

trombositopenia, limfadenopati, dan kelainan susunan saraf pusat (Denkers, et al.,

2012; Kimberly, 2012).

Lesi pada mata merupakan salah satu manifestasi yang paling sering pada

toksoplasmosis kongenital. Gambaran lesi toksoplasmosis okular ialah adanya

fokus nekrosis pada retina. Pada fase akut, lesi ini timbul sebagai bercak putih

kekuningan di fundus dan biasanya berhubungan dengan ruam pada vitreus.

Gejala yang timbul pada infeksi mata antara lain penglihatan kabur, fotofobia,

nistagmus, strabismus epifora, dan katarak. (Hariadi, 2004)

Manifestasi neurologik pada anak menunjukkan gejala-gejala neurologik

termasuk kalsifikasi intrakranial, hidrosefalus, epilepsi, retardasi mental, dan

mikrosefalus. Fungsi intelektual anak yang terinfeksi juga mengalami penurunan.

Sekuele yang didapatkan p\ada bayi baru lahir dapat dikategorikan atas sekuele

ringan dan berat. Pada sekuele ringan, ditemukan sikatriks korioretinal tanpa

gangguan visus atau adanya kalsifikasi serebral tanpa diikuti kelainan neurologik.

Pada sekuele berat, terjadi kematian janin intrauterin atau neonatal, adanya

sikatriks korioretinal dengan gangguan visus berat atau kelainan neurologik.

(Hariadi, 2004)
10

2.1.5 Mekanisme Diagnosis

Menurut Hariadi (2004), diagnosis toksoplasmosis pada kehamilan ditegakkan

berdasarkan, antara lain:

1. Kehamilan dengan imun seropositif, yaitu ditemukan adanya antibodi

IgG anti- toksoplasma dengan titer 1/20 – 1/1000

2. Kehamilan dengan antibodi IgG atau IgM spesifik dengan titer tinggi

(biasanya disertai juga hasil positif uji Sabin-Feldman), yang

menunjukkan bahwa ibu hamil dengan seropositif mengalami reinfeksi.

Keadaan ini sering juga disebut kehamilan dengan toksoplasmosis

eksaserbasi akut.

3. Kehamilan dengan seronegatif, yaitu darah ibu tidak mengandung

antibodi spesifik. Dalam hal ini ibu hamil dianjurkan untuk mengulangi

uji serologik (cukup lateks aglutinasi) tiap trimester.

4. Kehamilan dengan serokonversi, yaitu adanya perubahan dari seronegatif

menjadi seropositif selama kehamilan. Penderita memiliki risiko tinggi

transmisi vertikal dari maternal ke janin serta mengakibatkan

toksoplasmosis kongenital. Hal ini merupakan indikasi pengobatan

antiparasit selama kehamilan.


11

Remington (1974) menetapkan kriteria toksoplasmosis akuta sebagai

berikut: limfadenopati pada daerah tertentu (merupakan ciri toksoplasmosis

akuta), uji warna Sabin-Feldman dengan titer tinggi (≥ 300 IU), dan adanya IgM

positif (Jones, 2004). Pemeriksaan laboratorium yang lazim dilakukan ialah IgG

dan IgM antitoksoplasma, serta aviditas anti-toksoplasma IgG. Pemeriksaan

tersebut perlu dilakukan pada yang diduga terinfeksi T. gondii, ibu-ibu sebelum

atau selama masa kehamilan (bila hasil negatif perlu diulang sebulan sekali,

khususnya pada trimester pertama kehamilan, dan selanjutnya tiap trimester),

serta pada bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi T. gondii (Chandra, 2001). Food

and Drug Administration (FDA) merekomendasikan para dokter dan tenaga

medis untuk menginterpretasikan hasil tes serologi IgM anti-toksoplasma dengan

cermat. Para dokter tidak boleh menegakkan diagnosis toksplasmosis hanya

berdasarkan satu jenis pemeriksaan, karena pada beberapa tes dapat terjadi hasil

positif palsu. Apabila dicurigai seorang ibu hamil mengalami infeksi akut, darah

pasien harus diperiksa kembali untuk IgM dan IgG spesifik anti-toksoplasma.

Keputusan pemilihan terapi atau intervensi tindakan medis untuk terminasi

kehamilan harus berdasarkan evaluasi klinis dan test tambahan yang dilakukan di

laboratorium referensi (Chandra, 2001).

Diagnosis prenatal Dengan menyadari besarnya dampak toksoplasmosis

kongenital pada janin, bayi, dan anak-anak, serta kebutuhan akan konfirmasi

infeksi janin prenatal pada ibu hamil, maka para klinisi/ahli kebidanan
12

memperkenalkan metode baru yang merupakan koreksi atas konsep dasar

pengobatan toksoplasmosis kongenital yang lampau. Diagnosis prenatal

umumnya dilakukan pada usia kehamilan 14-27 minggu (trimester II) dan dapat

ditegakkan melalui pemeriksaan-pemeriksaan di bawah ini : (Denkers, et al., 1998

; Hariadi, 2004)

1. Kordosintesis, yaitu pengambilan sampel darah janin melalui tali pusat

(1,5-3 ml) atau amniosentesis (aspirasi cairan ketuban 15-20 ml) dengan

tuntunan ultrasonografi

2. Biakan darah janin atau cairan ketuban dalam kultur fibroblas, atau

diinokulasikan ke rongga peritoneum tikus, diikuti isolasi parasit, yang

ditujukan untuk mendeteksi adanya parasit

3. Pemeriksaan PCR untuk identifikasi DNA T. gondii pada darah janin atau

cairan ketuban

4. Pemeriksaan ELISA pada darah janin untuk mendeteksi antibodi IgM

spesitik

5. Petanda nonspesifik darah fetus yang terinfeksi seperti hitung trombosit,

hitung eritrosit, fetal IgM, eosinofil, dan enzim-enzim hati

Diagnosis toksoplasmosis kongenital ditegakkan dengan adanya IgM dan

IgA spesifik dari darah janin, ditemukannya parasit dari hasil kultur atau inokulasi
13

pada tikus, dan adanya DNA T. gondii pada pemeriksaan PCR darah janin atau

cairan ketuban (Hariadi, 2004).

2.1.6 Penatalaksanaan

Diagnosis infeksi akut seringkali sulit untuk ditegakkan selama kehamilan,

dan pemberian terapi antimikroba empiris tidak disarankan (Di Mario, et al.,

2013). Terdapat kontroversi substansial mengenai kemanjuran pengobatan selama

kehamilan dalam hal mengurangi risiko paparan terhadap janin dan

perkembangan selanjutnya dari penyakit klinis seperti retinochoroiditis atau

kelainan SSP. Terdapat juga kontroversi mengenai regimen yang optimal untuk

mengobati infeksi maternal dapatan. Spiramyicin dan pyrimethamine-sulfonamide

digunakan, tetapi mengingat infeksi pada janin adalah bersifat tidak sering dan

asimtomatik, efek pengobatan jadi sulit untuk diukur. Spiramyicin tampak lebih

mudah ditoleransi daripada pyrimethamine-sulfonamide. (Paquet, 2013)

Dosis regimen yang dianjurkan untuk pasien hamil adalah sebagai berikut:

1. Spiramyicin 1 g per oral setiap 8 jam

2. Jika ketuban hasil tes cairan untuk T. gondii positif: 3 minggu pyrimethamine

(50 mg / hari secara oral) dan sulfadiazin (3 g / hari secara oral dalam 2-3

dosis terbagi) bergantian dengan kursus 3 minggu dari spiramyicin 1 g 3 kali

sehari untuk perawatan ibu OR


14

3. Pyrimethamine (25 mg / hari secara oral) dan sulfadiazin (4 g / hari secara

oral) dibagi 2 atau 4 kali sehari sampai pengiriman (agen ini mungkin

berhubungan dengan penekanan sumsum dan pansitopenia) dan Leucovorin

10-25 mg / hari secara oral untuk mencegah penekanan sumsum tulang

(Paquet, 2013)

2.2 Spiramycin

2.2.1 Sifat Fisika Kimia dan Rumus Kimia

Gambar 2.1 Tabel sifat Spiramycin secara kuantitatif


Sumber : O'Neil, 2001
15

Spiramycin merupakan senyawa yang tidak berwarna, bersifat basa, dan

dapat sedikit larut dalam air serta lebih sering terlarut dalam pelarut organik.

Gambar 2.1 Struktur Kimia Antibiotik Spiramycin


Sumber : https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov

2.2.2 Farmakologi Umum

2.2.2.1 Golongan Obat

Spiramycin adalah makrolida 16-membered ring dengan

karakteristik spektrum antibakteri kokus gram negatif dan gram postif,

Parvobacteriaceae dan beberapa organisme intraselular, serta aktivitas

terhadap sejumlah parasit juga telah dibuktikan (Clinical Drug

Investigation, 1993).
16

2.2.2.2 Mekanisme Kerja

Mekanisme kerja dari spiramycin masih tidak jelas (Smith, 1988;

Brisson-Noël, et al., 1988). Namun, diduga secara reversibel mengikat

subunit 50 S ribosom bakteri, sehingga dapat memblok reaksi

transpeptidasi atau translokasi, menghambat sintesis protein dan

pertumbuhan sel berikutnya (Reynolds, et al., 1993; Smith, 1988;

Brisson-Noël, et al., 1988). Antibiotik ini termasuk golongan

bakteriostatik, tetapi mungkin dapat tergolong dalam bakterisida terhadap

strain lebih sensitif bila digunakan dalam konsentrasi tinggi (Reynolds, et

al., 1993). Spiramycin juga terakumulasi dalam konsentrasi tinggi dalam

sel bakteri (Smith, 1988). Tidak seperti eritromisin, spiramycin tidak

menghasilkan stimulasi motilitas gastrointestinal (Kavi, et al., 1988).

2.2.2.3 Dosis Obat

Catatan : Dosis spiramycin akan ditunjukkan dalam satuan

milligrams (mg) atau International Units (IU). Satu mg spiramycin sama

dengan kurang lebih 3000 IU

A. Dosis oral

1. Dewasa

Antibakteri

Oral, 1 - 2 gram (3,000,000 - 6,000,000 IU) 2x sehari

(Reynolds, 1993; Vidal, 1994), atau 500 mg - 1 gram

(1,500,000 - 3,000,000 IU) 3x sehari (Rovamycine (Rhone-


17

Poulenc Rorer), 1994). Untuk infeksi yang berat, dosis dapat

ditingkatkan menjadi 2 - 2.5 gram (6,000,000 - 7,500,000 IU)

2x sehari.

Catatan : Toksoplasmosis pada wanita hamil

Trimester pertama: Oral, 3 gram (9,000,000 IU) per hari,

dibagi menjadi tiga atau 4 dosis (Stray, 1992). Oral, 25 - 50 mg

of pyrimethamine per hari dalam kombinasi dengan 2 - 3 gram

sulfadiazine per hari serta asam folat 5 mg per hari untuk 3

minggu, alternatif dengan 3 gram (9.000.000 IU) spiramycin,

dibagi kedalam 3 atau 4 dosis selama 3 minggu (Stray, 1992;

Hohlfeld, et al., 1989; Couvreur, et al., 1993; Stray, 1993;

Steigbigel, 1993).

2. Anak

Antibakteri

Anak dengan Berat Badan 20 kg dan lebih : Oral, 25 mg

(75,000 IU) per kg BB 2x sehari, atau 16.7 mg (50,000 IU)

per kg BB 3x sehari (Reynolds, 1993; Vidal, 1994)

Toxoplasmosis (Fleeger, 1994)

Infeksi Kongenital Subklinik : Oral, terapi alternatif dengan

50 - 100 mg (150,000 - 300,000 IU) spiramycin per kg BB


18

selama 6 minggu; dosis ini diulang kembali setahun kemudian

(Stray, 1992).

Infeksi kongenital berat: terapi alternatif dengan 50 - 100 mg

(150,000 - 300,000 IU) spiramycin per kg BB dalam

kombinasi dengan pyrimethamine dan sulfadiazine selama 4

minggu, dosis ini diulang kembali sampai umur 18 bulan

(Stray, 1992).

B. Tablet

Dosis sama dengan dosis kapsul.

C. Parenteral

Antibakteri (Dewasa)

Intravena, 500 mg (1,500,000 IU), dengan infus intravena yang

lambat, setiap 8 jam. Untuk infeksi yang berat, dosis dapat di

double menjadi 1 gram (3,000,000 IU) setiap 8 jam. (Reynolds,

1993; Vidal, 1994)

D. Supposituria

1. Dewasa

Antibakteri

Rektal, suppositori dua sampai tiga 750 mg (1,950,000 IU)

setiap 24 jam.
19

2. Anak

Antibakteri

Bayi baru lahir : Rektal, suppositori satu 250 mg (650,000 IU)

per 5 kg BB setiap 24 jam.

Anak umur sampai 12 tahun : Rektal, suppositori dua sampai

tiga 500 mg (1,300,000 IU) setiap 24 jam.

Anak umur 12 tahun atau lebih : lihat dosis pada orang dewasa.

(Spiramycine Coquelusédal (Élerté), 1994)

2.2.2.4 Sediaan Obat

A. Tablet 250mg, 500mg, 1gram

B. Kapsul 250mg, 500mg

C. Parenteral 500mg

D. Rectal Supposituria 250mg, 500mg, 750mg

2.2.3 Farmakodinamik

2.2.3.1 Kegunaan Terapi

Spiramycin adalah agen antimikroba macrolide dengan aktivitas

terhadap organisme gram positif, termasuk Streptococcus pyogenes

(streptokokus grup A beta-hemolitik), S. viridans, Corynebacterium

diphtheriae, dan methicillin-sensitive Staphylococcus aureus (Vidal, 1994).

Peningkatan resistensi telah membuat spiramycin ditinggalkan, karena


20

aktivitasnya yang tidak konsisten terhadap S. pneumoniae dan Enterococcus.

(Vidal, 1994). Spiramycin juga memiliki aktivitas terhadap beberapa bakteri

gram negatif, seperti Neisseria meningitidis, Bordetella pertussis, dan

Campylobacter (Vidal, 1994; Kavi, et al., 1988). Neisseria gonorrhoeae

merupakan bakteri yang kurang sensitif terhadap antibiotik spiramycin, dan

sekitar 50% dari strain Haemophilus influenzae peka terhadap spiramycin.

spesies Clostridium terbukti sensitif (Vidal, 1994). Namun, spesies

Enterobacteraceae, Pseudomonas, serta Bacteroides fragilis, dan sebagian

besar bakteri gram negatif lainnya memiliki sifat yang resisten terhadap

spiramycin (Vidal, 1994). Spiramycin juga memiliki aktivitas terhadap

organisme lain, termasuk Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia trachomatis,

Toxoplasma gondii , Legionella pneumophila, dan spirochetes (Vidal, 1994;

Kavi, et al., 1988).

Pada pengobatan toksoplasmosis digunakan spiramycin sebagai agen

alternatif dalam pengobatan toksoplasmosis selama kehamilan (Gorbach, et

al., 1992). Kombinasi pyrimethamine dan sulfadiazin dianggap lebih efektif

daripada spiramycin (Levine, 1992; Aspöck and Pollack, 1992; Stray-

Pedersen, 1993; Mannheimer and Murray, 1995). Namun, karena spiramycin

tidak ditemukan menimbulkan efek teratogenik (Stray-Pedersen, 1992; Stray-

Pedersen, 1993) dan telah ditemukan aman jika digunakan oleh wanita hamil,

janin, dan bayi baru lahir (Stray-Pedersen, 1993; Gorbach, et al., 1992).
21

Antibiotik ini sering digunakan untuk mengobati toksoplasmosis selama

kehamilan dan toksoplasmosis kongenital (Stray-Pedersen, 1992; Gorbach, et

al., 1992; Stray-Pedersen, 1993; Mannheimer and Murray, 1995).

Spiramycin mengurangi transmisi toksoplasmosis dari wanita hamil ke janin

(Stray-Pedersen, 1992; Vidal, 1994; Levine, 1991; Gorbach, et al., 1992;

Stray-Pedersen, 1993; Mannheimer and Murray, 1995); Couvreur, et al.,

1993; Dupouy-Camet, et al., 1992; Guerina, 1994). Namun, hal itu tidak

akan mempengaruhi tingkat keparahan penyakit pada janin yang sudah

terinfeksi (Stray-Pedersen, 1992; Mandell, 1990; Couvreur, et al., 1993;

Stray-Pedersen, 1993; Guerina, 1994). Meskipun spiramycin efektif dalam

pengobatan beberapa infeksi bakteri, spiramycin dianggap agen sekunder

atau alternatif.

2.2.3.2 Kontraindikasi

Obstruksi bilier atau gangguan fungsi hati (obstruksi bilier atau gangguan

fungsi hati dapat menurunkan eliminasi spiramyicin, yang dapat

meningkatkan risiko efek samping) (Catálogo de Especialidades

Farmacéuticas, 1993; Frydman, et al., 1988). Selain itu, hipersensitivitas

terhadap spiramyicin atau makrolida lain juga merupakan kontraindikasinya

(Igea, et al., 1991).


22

2.2.4 Farmakokinetik

2.2.4.1 Absorpsi

Penyerapan spiramycin tidak lengkap (Reynolds, 1993; Vidal, 1994),

dengan bioavailabilitas oral 33-39% (kisaran, 10 sampai 69%) (Frydman, et

al., 1988). Tingkat penyerapan lebih lambat dibandingkan dengan eritromisin

dan diduga disebabkan oleh pKa spiramycin yang tinggi (Gennaro , 1990;

Catálogo de Especialidades Farmacéuticas, 1993) menunjukkan tingkat

ionisas yangi tinggi di asam lambung (Wise, 1993). Studi telah menunjukkan

bahwa administrasi dengan makanan dapat mengurangi bioavailabilitas

sekitar 50% dan menunda waktu puncak konsentrasi serum (Frydman, et al.,

1988).

2.2.4.2 Distribusi

Spiramycin terkonsentrasi tinggi di dalam jaringan, seperti paru-paru,

bronkus, tonsil, sinus, dan jaringan panggul perempuan (Allen, et al., 1988).

Konsentrasi jaringan yang tinggi ini bertahan lama setelah konsentrasi serum

telah jatuh ke tingkat yang rendah (Reynolds, 1993). Puncak konsentrasi

dalam air liur adalah 1,3-4,8 kali lebih besar daripada yang ditemukan dalam

serum (Gennaro, 1990; Manolopoulos, et al., 1989). Spiramycin melintasi

plasenta (Stray-Pedersen, 1992; Jeannel, et al., 1990; Stray-Pedersen, 1993)

dan didistribusikan ke dalam ASI (Reynolds, 1993). Namun, konsentrasi


23

dalam darah janin hanya 50% dari konsentrasi serum ibu (Stray-Pedersen,

1992; Stray-Pedersen, 1993). Konsentrasi di plasenta yang sampai 5 kali

lebih tinggi dari konsentrasi serum yang sesuai (Stray-Pedersen, 1992; Stray-

Pedersen, 1993). Konsentrasi tinggi juga ditemukan dalam empedu

(Reynolds, 1993), leukosit polimorfonuklear, dan makrofag (Smith, 1988;

Pocidalo, et al., 1988; Harf, et al., 1988). Konsentrasi dalam bilier adalah 15

sampai 40 kali lebih tinggi dari konsentrasi serum (Vidal, 1994; Gennaro,

1990). Spiramycin tidak melewati sawar darah otak. (Stray-Pedersen, 1992;

Reynolds, 1993; Catálogo de Especialidades Farmacéuticas, 1993)

2.2.4.3 Metabolisme

Metabolisme spirmycin belum banyak diteliti, namun, spiramycin

diduga dimetabolisme di hati, yang menghasilkan metabolit aktif.

2.2.4.4 Ekskresi

A. Dalam bentuk feses:

Lebih dari 80% dari dosis yang masuk diekskresikan melalui

kandung empedu, siklus enterohepatik dapat terjadi.

B. Dalam bentuk urine:

Jumlah ekskresi urinari yang melalui ginjal hanya sekitar 4-14%

dari dosis yang masuk ke dalam tubuh.


24

2.2.4.5 Waktu Paruh

A. Intravena:

Usia muda (umur 18 - 32 tahun): sekitar 4.5 - 6.2 jam.

Usia tua (umur 73 - 85 tahun): sekitar 9.8 - 13.5 jam.

B. Oral:

5.5 - 8 jam.

C. Rektal (pada anak-anak):

Sekitar 8 jam.

2.2.4.6 Ikatan Protein

Rendah (10% sampai 25%).

2.2.4.7 Interaksi Obat

Tidak seperti eritromisin, makrolida terkait, spiramyicin tidak

mengikat isoenzim sitokrom hati P-450 (Descotes, 1993; Periti, et al., 1992)

dan belum terbukti untuk berinteraksi dengan siklosporin (Kessler, 1990;

Pichard, et al., 1990; Vernillet, et al., 1989; Periti, et al., 1992) atau teofilin

(Periti, et al., 1992). Kombinasi yang mengandung salah satu dari obat

berikut, tergantung pada jumlah yang hadir, mungkin berinteraksi dengan

obat ini. Kombinasi levodopa dan carbidopa (Brion, 1992) (penggunaan

bersama dari spiramyicin dengan kombinasi levodopa dan carbidopa telah

mengakibatkan peningkatan paruh eliminasi levodopa, ini diduga disebabkan

oleh penghambatan penyerapan carbidopa oleh spiramyicin sekunder untuk

dimodifikasi oleh motilitas gastrointestinal).


25

2.2.4.8 Bioavaibilitas

Bioavailabilitas absolut spiramyicin oral umumnya dalam kisaran 30

sampai 40%. Setelah dosis oral 1g, konsentrasi obat serum maksimum

ditemukan berada dalam kisaran 0,4-1,4 mg / L. Distribusi jaringan

spiramyicin luas. Volume distribusi adalah lebih dari 300L, dan konsentrasi

dicapai dalam tulang, otot, saluran pernapasan dan air liur melebihi yang

ditemukan dalam serum. Penetrasi intraseluler dari spiramyicin juga cepat

dan luas, dengan konsentrasi di makrofag alveolar 10 sampai 20 kali lebih

besar dari konsentrasi serum simultan. (Clinical Pharmacokinetic, 1998)

2.2.5 Toksisitas

2.2.5.1 Efek Samping Obat

Efek samping yang parah akibat spiramyicin jarang terjadi. Reaksi

Hipersensitivitas dan gangguan pencernaan yang paling sering terjadi

(Descotes, 1993). Trombositopenia, perpanjangan QT pada bayi, hepatitis

kolestatik, kolitis akut, dan esophagitis ulserasi telah masing-masing hanya

dilaporkan sebagai laporan kasus tunggal dalam literatur (Stramba-Badiale,

et al., 1993; Descotes, 1993; Buhl and White, 1992; Denie, et al., 1992), ada

dua laporan kasus cedera mukosa usus (Weikel, et al., 1991).

Trombositopenia, dilaporkan pada pasien yang terinfeksi human

immunodeficiency virus (HIV), yang dianggap disebabkan oleh kompleks


26

imun spiramyicin-IgG teradsorpsi ke permukaan trombosit (Buhl and White,

1992). Dua kasus cedera mukosa usus terjadi dengan dosis tinggi

spiramyicin. Pemeriksaan endoskopik mengungkapkan erosi dari dinding

usus kecil dengan hilangnya lipatan usus kecil, ditandai kerusakan pada usus

besar dan kecil dengan sel epitel pipih, apoptosis multifokal, dan perubahan

epitel regeneratif (Weikel, et al., 1991). Efek samping yang memerlukan

perhatian dan penanganan medis diantaranya:

A. Kejadian dengan frekwensi sering

1. Reaksi hipersensitivitas, khususnya ruam kulit dan gatal-gatal

(Ostlere, et al., 1991; Sáez-Llorens, et al., 1989; Igea, et al., 1991)

2. Trombositopenia (perdarahan yang tidak biasa atau memar) (Buhl

and White, 1992)

B. Kejadian dengan frekwensi jarang

1. Toksisitas jantung

2. Perpanjangan interval ECG, terutama QT (denyut jantung tidak

teratur, berulang pingsan) (Stramba-Badiale, et al., 1993)

3. Hepatitis kolestasis (sakit perut, mual, muntah, mata kuning atau

kulit) (Denie, et al., 1991)

4. Toksisitas gastrointestinal, kolitis khusus akut (sakit perut dan nyeri

tekan; tinja berdarah, demam) (Descotes, 1993)

5. Cedera usus (sakit perut dan nyeri) (Weikel, et al., 1991)


27

6. Esophagitis ulserasi (nyeri dada; mulas) (Descotes, 1993)

7. Nyeri di tempat injeksi (Vidal, 1994)

C. Memerlukan tindakan medis jika terus menerus terjadi atau menggangu

aktivitas

Gangguan gastrointestinal (diare, mual, muntah, nyeri perut)

2.2.5.2 Toksisitas Obat

Spiramyicin telah digunakan secara klinis selama 15 tahun terakhir

dengan toksisitas yang agak serius. Gangguan gastrointestinal (GI) biasanya

ringan dan tidak ada perubahan motilitas GI telah dicatat baik secara

eksperimental maupun pada manusia, berbeda dengan makrolida lainnya,

misal eritromisin. Reaksi alergi telah jarang terjadi dan terutama terbatas

pada erupsi kulit sementara. Meskipun trauma pada liver merupakan

komplikasi yang mungkin terjadi pada kebanyakan pengobatan dengan

anibiotik golongan makrolida, saat ini tidak ada bukti konklusif mengenai

hepatitis yang diinduksi spiramyicin, dan sekali lagi berbeda dengan

kebanyakan makrolida lain, kurangnya interaksi obat dengan spiramyicin

telah jelas disebutkan pada biokimia, farmakokinetik dan studi klinis tentang

spiramyicin. (Descotes, 1988)


28

2.2.5.3 Penanggulangan Toksisitas

Dalam penanganan toksisitas dalam pengobatan dengan spiramyicin,

dilakukan beberapa penanganan dasar, diantaranya : (Bronstein, 1994)

A. Membangun jalan napas paten. Hisap jika perlu. Perhatikan tanda-tanda

insufisiensi pernapasan dan membantu ventilasi jika diperlukan. Berikan

oksigen dengan masker nonrebreather pada 10 sampai 15 L / min.

Memantau edema paru dan mengobati jika perlu

B. Memantau shock dan mengobati jika perlu

C. Mengantisipasi kejang dan mengobati jika perlu

D. Kontaminasi mata, basuh mata segera dengan air. Mengairi setiap mata

terus menerus dengan normal saline selama proses transportasi

E. Jangan gunakan obat perangsang muntah. Untuk obat yang dikonsumsi,

bilas mulut dan mengelola 5 ml / kg hingga 200 ml air untuk pengenceran

jika pasien bisa menelan dan memiliki refleks muntah yang kuat.

2.2.6 Contoh Penulisan Resep

Dosis spiramycin yang dianjurkan ialah 2 – 4 gram sehari yang di bagi

dalam 2 atau 4 kali pemberian. Beberapa peneliti mengajurkan pengobatan wanita

hamil trimester pertama dengan spiramycin 2 – 3 gram sehari selama seminggu

atau 3 minggu kemudian disusl 2 minggu tanpa obat. Demikian berselang seling

sampai sembuh. Pengobatan juga ditujukan pada penderita dengan gejala klinis
29

jelas dan terhadap bayi yang lahir dari ibu penderita toxoplasmosis (Priyana, dkk.,

1988). Berikut contoh penulisan resep :

dr. A.A. Sg. Tri Buana D.

SIP: 13700167

Jl. Dukuh Kupang XXV

Surabaya, 23 Desember 2016

R/ Caps. Spiramycin 500 mg No. XXVIII

S 2 d.d caps II

Pro : Ny. Ani

Umur : 24 tahun

Alamat : Jl Dukuh Kupang XX

Keterangan resep:

Pengobatan dilakukan selama seminggu selama masa kehamilan (infeksi

toksoplasma pada trimester pertama atau kedua awal) dengan menggunakan obat
30

jadi capsule Spiramycin 500mg. Jumlah obat yang diterima oleh pasien sebanyak

28 kapsul. Diminum 2x sehari 2 kapsul satu kali minum.