Anda di halaman 1dari 12

1

BAB 1
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN

Dalam operasionalnya, PT Win Textile tidak memiliki sertifikat manajemen


lingkungan yang dikeluarkan oleh ISO maupun OHSAS. Perusahaan ini menggunakan
standar tara internasional lain yang juga dapat membuktikan keseluruhan kinerja PT Win
Textile. Sistem manajemen lingkungan yang diterapkan di PT Win Textile tidak
dituangkan dalam bentuk standar ISO 14001. Alasan yang mendasari kondisi tersebut
adalah standar ISO merupakan standar yang bersifat sukarela dan para buyer yang
melakukan kerja sama dengan PT Win Textile tidak pernah mempertanyakan atau
mensyaratkan pabrik untuk mendapatkan sertifikasi ISO 14001 ataupun standar terkait
lain. Hal tersebut juga didukung dengan sistem manajemen lingkungan yang sudah
berjalan baik tanpa perlu adanya sertifikasi ISO 14001. Standar internasional lain yang
diterapkan di PT Win Textile antara lain adalah standar mengenai bangunan hijau, bahan
baku organik, dan bahan kimia raham lingkungan.

1.1 AMDAL
Dokumen AMDAL yang dimiliki oleh PT Win Textile adalah per tahun 2012.
AMDAL tersebut berisi mengenai kondisi eksisting daerah pabrik tersebut berdiri,
program pelestarian kondisi lingkungan, dan usaha mengevaluasi kinerja lingkungan
yang dilakukan oleh PT Win Textile. Selain itu, juga terdapat gambaran umum mengenai
kegiatan perusahaan, seperti struktur organisasi, diagram alir produksi, dan surat izin
pengelolaan sumber daya yang digunakan.

1.2 Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Daerah (PROPERDA)


Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) merupakan salah
satu upaya Kementerian Lingkungan Hidup untuk meningkatkan pentaatan perusahaan
dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui instrument informasi. PROPER dapat
dilakukan melalui berbagai kegiatan yang diarahkan untuk mendorong perusahaan untuk
menaatin peraturan perundang-undangan melalui insentif dan disinsentif reputasi serta
mendorong perusahaan dengan kinerja lingkungan yang baik untuk menerapkan produksi
bersih (clean production). Insentif dalam bentuk penyebarluasan kepada publik tentang

Universitas Indonesia
2

reputasi atau citra baik bagi perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan
yang baik, ditandai dengan label biru, hijau, dan emas. Sedangkan, disinsentif dilakukan
dalam bentuk penyebarluasan reputasi atau citra buruk bagi perusahaan yang mempunyai
kinerja pengelolaan lingkungan yang tidak baik, ditandai dengan label merah dan hitam.
PROPER merupakan penilaian dengan indikator yang terukur.
Sedangkan, Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Daerah
(PROPERDA) adalah penilaian terhadap upaya penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan dalam mengendalikan pencemaran lingkungan hidup untuk tingkat provinsi.
PROPERDA bertujuan untuk mendorong perusahaan taat terhadap aturan pengelolaan
dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Kriteria dari penilaian PROPERDA merujuk
kepada PROPER yang terdiri dari empat aspek penilaian, yaitu:
 Ketaatan terhadap dokumen lingkungan.
 Pengendalian pencemaran air.
 Pengendalian pencemaran udara.
 Pengendalian pencemaran limbah B3.

PT Win Textile sudah mendapatkan PROPERDA biru selama tiga tahun


berturut-turut, yaitu tahun 2015 – 2017. Sebenarnya, PT Win Textile sudah mulai
operasional sejak tahun 2012. Akan tetapi, pada tahun 2012 – 2014, PT Win Textile tidak
ikut serta dalam penilaian PROPERDA karena unit pengolahan WWTP di pabriknya
belum siap untuk dijalankan. Sehingga, pada tahun tersebut PT Win Textile tidak
memiliki sertifikasi dari PROPERDA Jawa Barat. Dalam operasional pengolahan
limbahnya, PT Win Textile sebenarnya sudah bisa mengajukan untuk mendapatkan
sertifikasi PROPER hijau. Hal tersebut belum dijalankan hingga saat ini karena masih
terdapat beberapa syarat yang belum dapat dipenuhi, seperti belum adanya sistem
penggunaan kembali limbah cair dari WWTP. Berikut adalah bentuk fisik sertifikat
PROPERDA biru dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi
Jawa Barat:

Universitas Indonesia
3

Gambar 1-1 Sertifikat PROPERDA Biru PT Win Textile


Sumber: PT Win Textile, 2017

1.3 Leadership in Energy and Environmental Design (LEED)


Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) merupakan salah satu
sertifikasi bangunan hijau yang sering digunakan di dunia. Sertifikasi ini dikembangkan
oleh lembaga nonprofit U.S. Green Building Council (USGBC), termasuk di dalamnya
sistem penilaian desain, konstruksi, operasi, dan perawatan bangunan hijau, perumahan,
dan kompleks. LEED memiliki tujuan membantu pemilik bangunan dan operatornya
bertanggung jawab terhadap lingkugan dan menggunakan sumber daya secara efisien.
LEED telah mengalami perubahan sejak tahun 1998 untuk membuat sistem
penilaian yang lebih akurat dan memunculkan ide teknologi bangunan hijau yang baru
dan lebih mutakhir. Beberapa negara dunia sudah menetapkan sertifikasi LEED sebagai
syarat utama dalam sistem penilaian bangunan hijau. Sertifikasi LEED memberikan
verifikasi independen terhadap komponen lingkungan dari suatu bangunan atau
perumahan. Hal tersebut akan berujung pada rancangan, konstruksi, operasional, dan
perawatan yang dilaksanakan dengan prinsip efisiensi penggunaan sumber daya,
optimalisasi kinerja, sehat, dan efisiensi biaya.
Versi terbaru dari LEED yang saat ini diberlakukan untuk sertifikasi adalah
LEED 2009. LEED 2009 melibatkan sepuluh sistem penilaian untuk rancangan,
konstruksi, dan operasional suatu bangunan. Sepuluh penilaian tersebut dikelompokkan
menjadi lima kelompok besar, yaitu:
 Rancangan dan Konstruksi Bangunan Hijau
 LEED untuk Bangunan Baru.

Universitas Indonesia
4

 LEED untuk Core & Shell.


 LEED untuk Sekolah.
 LEED untuk Retail: Bangunan Baru dan Renovasi Besar.
 LEED untuk Layanan Kesehatan.

 Rancangan dan Konstruksi Interior Hijau


 LEED untuk Interior Komersial.
 LEED untuk Retail: Interior Komersial.

 Operasi dan Perawatan Bangunan Hijau


 LEED untuk Bangunan Eksisting: Operasi dan Perawatan.

 Pengembangan Perumahan Hijau


 LEED untuk Pengembangan Perumahan.

 Rancangan dan Konstruksi Rumah Hijau


 LEED untuk Rumah.

LEED 2009 merupakan sistem penilaian termutakhir yang muncul dari empat
tahun pengembangan dan mengintegrasikan seluruh sistem penilaian yang sudah dibuat
sebelumnya. Versi terbaru dari sertifikasi LEED memiliki hinnga serratus poin mendasar
untuk penilaian yang tersebar ke dalam enam kelompok besar: Lokasi Berkelanjutan,
Efisiensi Air Bersih, Energi dan Atmosfer, Material dan Sumber Daya, Kualitas
Lingkungan Dalam Ruangan, dan Inovasi dalam Rancangan. LEED memiliki kelompok
nilai tersendiri, yaitu:
 Tersertifikasi: 40 – 49 poin.
 Perak: 50 – 59 poin.
 Emas: 60 – 79 poin.
 Platinum: ≥ 80 poin.

Tujuan dari sistem penilaian kinerja dari LEED adalah mengalokasi skor/poin
berdasarkan dampak potensial terhadap lingkungan dan keuntungan bagi manusia yang

Universitas Indonesia
5

dapat ditimbulkan dari suatu bangunan. Hal tersebut diukur melalui kategori dampak
lingkungan yang dibuat oleh United States Environmental Protection Agency (U.S. EPA)
dan dikembangkan oleh National Institure of Standards and Technology (NIST).
Dalam pelaksanaannya, PT Win Textile sudah melakukan usaha sertifikasi
menggunakan sertifikasi LEED dengan kategori LEED untuk Rancangan dan Konstruksi
Bangunan Hijau dan subkategori LEED untuk Bangunan Baru. Pemilihan sertifikasi
LEED ini didasarkan pada sertifikasi tersebut sudah dikenal di dunia dan melingkupi
aspek yang sangat lengkap dari sebuah perusahaan. Nilai yang didapat dari sertifikasi
tersebut adalah 59 poin, atau tersertifikasi Perak. Hal ini mereka jalankan untuk
membuktikan bahwa bangunan yang mereka gunakan untuk kegiatan perusahaan tersebut
sudah memiliki kinerja yang baik terhadap lingkungan, pekerja, dan warga sekitarnya.
Berikut adalah rincian hasil penilaian LEED untuk Bangunan Baru PT Win Textile:

Gambar 1-2 Hasil Penilaian Sertifikasi LEED untuk Bangunan Baru PT Win Textile
Sumber: USGBC, 2012

Dari Gambar 1-1, dapat dilihat bahwa aspek penilaian yang sebagian besar
belum terpenuhi oleh PT Win Textile adalah aspek Energi dan Atmosfer (nilai pemeuhan
14 dari 35), terutama di kelompok penilaian Renewable Energy. Dalam pelaksanannya,
PT Win Textile memang belum menerapkan usaha untuk menggunakan kembali material

Universitas Indonesia
6

sisa sebagai energi dalam proses produksinya. Akan tetapi, PT Win Textile baru-baru ini
sudah menerapkan sistem yang dapat menghasilkan energi renewable dari limbah yang
dihasilkan. Sistem tersebut adalah insinerasi limbah lumpur yang dihasilkan dari proses
pengolahan di wastewater treatment plant (WWTP) yang dimiliki oleh PT Win Textile.
Lumpur tersebut digunakan sebagai komposisi dalam campuran bahan bakar boiler,
dengan rasio lumpur dengan batu bara adalah 1:9.
Aspek penilaian lain yang masih belum mencapai nilai sempurna adalah aspek
Material dan Sumber Daya, dengan nilai pemenuhan 6 dari 14. Hal yang belum dimili
oleh PT Win Textile adalah usaha menggunakan kembali material sisa dan menjaga
dinding, lantai, serta atap eksisting dari bangunan. Selain itu, aspek Lokasi Keberlanjutan
juga masih kurang, yaitu dengan nilai pemenuhan 15 dari 27. Dari aspek tersebut,
penilaian yang kurang terjadi pada hubungan pabrik dengan masyarakat sekitar beserta
pengembangan masyarakat tersebut. Dalam operasionalnya, belum terdapat program
khusus dan secara langsung dapat mengembangkan masyarakat dan meningkatkan
hubungan yang dibuat oleh PT Win Textile. Salah satu bentuk tanggung jawab sosial dari
PT Win Textile, yang dapat dianggap berdampak tidak langsung terhadap masyarakat,
adalah pemberian bibit pohon. Hal tersebut sangat baik untuk melestarikan lingkungan,
tapi dianggap tidak cukup untuk memenuhi penilaian dari sertifikasi LEED tersebut.
Terdapat beberapa aspek penilaian yang secara sempurna terpenuhi oleh PT Win
Textile, yaitu aspek Efisiensi Air Bersih (10 dari 10), Inovasi (6 dari 6), dan Prioritas
Regional (4 dari 4). Dari ketiga aspek tersebut, dapat digambarkan secara umum bahwa
PT Win Textile sudah sangat baik dalam mengelola sumber daya air bersih, sudah
menerapkan program inovasi yang berdampak baik terhadap lingkungan dan
masyarakatnya, serta sudah merencanakan upaya untuk melestarikan lingkungan. Hal
tersebut, didukung oleh sertifikasi LEED, dapat meningkatkan eksistensi PT Win Textile
di bursa perdagangan dunia. Berikut adalah bentuk fisik sertifikat LEED yang didapat
oleh PT Win Textile:

Universitas Indonesia
7

Gambar 1-3 Sertifikat LEED untuk Bangunan Baru PT Win Textile


Sumber: PT Win Textile, 2017

1.4 Audit Lingkungan


Audit lingkungan internal (bersifat sukarela) dilakukan oleh PT Win Textile
dengan frekuensi dua kali dalam satu tahun. Audit tersebut dilakukan untul seluruh
pencemar dan beberapa titik yang dapat menggambarkan kondisi lingkungan. Selain itu,
audit lingkungan juga dilakukan oleh pihak eksternal (bersifat sukarela), seperti calon
buyer dan lembaga auditor eksternal. Setiap calon buyer memiliki persyaratan tersendiri
mengenai karakteristik bahan, proses produksi, limbah, hingga lingkugan selama
operasionalnya pabrik tersebut. Contoh calon buyer yang melakukan audit terhadap PT
Win Textile secara rutin satu kali per tahun adalah H&M. Audit yang dilakukan oleh
calon buyer tersebut bersifat wajib, karena hal tersebut merupakan salah satu syarat bagi
pihak calon buyer dalam pengambilan keputusan melakukan kerja sama dengan PT Win
Textile atau tidak. Berikut adalah contoh penilaian karakteristik efluen limbah WWTP
oleh H&M:

Universitas Indonesia
8

Gambar 1-4 Audit Limbah Efluen WWTP PT Win Textile oleh H&M
Sumber: PT Win Textile, 2017

Salah satu auditor eksternal yang melaksanakan audit di PT Win Textile adalah
SGS. Beda dengan audit yang dilakukan oleh calon buyer, audit oleh auditor eksternal ini
bersifat sukarela karena audit ini ditujukan untuk membuktikan bahwa kinerja lingkungan
PT Win Textile sudah berjalan dengan baik dan sesuai standar. Berikut adalah contoh
audit eksternal yang dilakukan oleh SGS:

Gambar 1-5 Audit Kinerja Lingkungan PT Win Textile oleh SGS


Sumber: PT Win Textile, 2017

1.5 Bahan Produksi Ramah Lingkungan


Seluruh bahan yang digunakan dalam proses produksi di pabrik PT Win Textile
sudah memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga sertifikasi.
Keseluruhan bahan baku produksi yang digunakan di PT Win Textile sudah memiliki

Universitas Indonesia
9

sertifikat Oeko-Tex Standard 100. Standar tersebut menyebutkan bahwa seluruh material
mentah yang digunakan di proses produksi bersifat tidak merusak lingkungan.

Gambar 1-6 Sertifikat Oeko-Tex Standard 100


Sumber: PT Win Textile, 2017

Bahan utama yang harus memiliki sertifikat dalam proses produksi adalah
benang. Benang yang digunakan untuk produksi sudah memiliki tiga sertifikasi yang
dikeluarkan oleh Control Union Certifications, Belanda. Tiga sertifikasi tersebut
merepresentasikan tiga karakteristik yang berbeda. Pertama, sertifikasi Global Organic
Textile Standard (GOTS), merupakan sertifikat yang membuktikan bahwa benang yang
digunakan adalah bersifat organik. Sifat benang tersebut merupakan tren yang sedang
berlangsung di kalangan industri tekstil. Hal tersebut dikarenakan bahan organik berarti
kondisi lingkungan yang baik pula, dengan kualitas tekstil yang dihasilkan sama dengan
kualitas yang didapatkan dari bahan anorganik. Kedua, sertifikasi Organic Content
Standard (OCS), merupakan sertifikasi yang membuktikan bahwa proses pencampuran
bahan-bahan di proses produksi sudah sesuai dengan standar yang berlaku. Lalu,
sertifikasi ketiga adalah Global Recycled Standard (GRS), yang membuktikan bahwa PT
Win Textile sudah memanfaatkan benang hasil daur ulang dari hasil sisa produksi. Ketiga
sertifikasi tersebut berguna untuk menunjukkan kinerja produksi PT Win Textile berbasis
lingkungan sudah berjalan dengan sangat baik, yaitu dimulai dari material mendasar dari
suatu proses produksi tekstil.

Universitas Indonesia
10

(a) (b) (c)


Gambar 1-7 Sertifikasi Bahan Produksi: (a) GOTS, (b) OCS, dan (c) GRS
Sumber: PT Win Textile, 2017

Selain itu, bahan kimia yang digunakan juga sudah memiliki sistem yang akan
menghasilkan produk dan sisa yang sesuai standar. Salah satu sistem pengelolaan bahan
kimia adalah dengan Taesan Automatic Dispancing System (TADS), yaitu sistem yang
mengalirkan bahan kimia pewarna secara otomatis ke unit pewarnaan. Sehingga,
kemungkinan terjadinya bahan kimia berkontak langsung dengan kuliat sangat minim.
Selain itu, juga ada sistem For-One, yaitu proses pewarnaan akan berjalan secara otomatis
dengan pemilihan jenis warna sesuai kebutuhan. Sistem pengelolaan bahan kimia di PT
Win Textile telah terbukti, salah satunya dengan penganugerahan predikat Best Chemical
Management Practice dari H&M.

1.6 Konservasi Energi


Dalam pelaksanaannya, PT Win Textile menerapakan upaya untuk
mengonservasi energi melalui berbagai cara. Usaha tersebut bertujuan untuk mengurangi
polusi yang dapat ditimbulkan dari pemakaian berbagai macam energi di keseluruhan
area perusahaan dan juga sebagai ajang untuk meningkatkan eksistensi perusahaan di
bursa perdagangan dunia. Hal tersebut juga selaras dengan prinsip proses produksi
berbasis lingkungan, yaitu seluruh kegiatan perusahaan, terutama proses produksi, harus
menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar untuk melestarikan kesehatan
lingkungan tersebut.

Universitas Indonesia
11

Terdapat beberapa usaha konservasi energi yang sudah dijalankan di PT Win


Textile, salah satunya adalah penerapan natural lighting (pencahayaan alami) saat siang
hari. Usaha tersebut berguna untuk mengurangi jumlah pemakaian energi listrik (terutama
untuk lampu) dengan cara memanfaatkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Sinar
tersebut akan masuk ke bangunan dengan cara masuk melalui celah transparan yang
terletak pada atap. Kondisi tersebut dapat mengehemat penggunaan energi listrik dalam
jumlah yang cukup besar per harinya. Usaha tersebut juga kemudian dilanjutkan dengan
usaha konservasi energi lain, yaitu menonaktifkan seluruh energi listrik di pabrik
(mematikan unit produksi, lampu, dsb) selama berjalannya waktu istirahat. Usaha
tersebut memiliki tujuan yang sama dengan usaha penerapan pencahayaan alami.

Gambar 1-8 Penerapan Natural Lighting di Bangunan Pabrik PT Win Textile


Sumber: PT Win Textile, 2017

Selain itu, usaha lain yang diterapkan adalah penggantian seluruh lampu inverter
menjadi lampu LED. Terdapat beberapa teknologi dan sistem lain pada PT Win Textile
dengan tujuan mengonservasi energi, seperti penerapan panel surya, penggunaan
teknologi pertukaran panas air limbah dengan air bersih, dsb.

1.7 Pengelolaan Air Bersih


1.8 Pengelolaan Limbah
1.8.1 Pengelolaan Limbah Cair
1.8.2 Pengelolaan Limbah Padat
1.8.3 Pengelolaan Emisi Gas
1.8.4 Pengelolaan Limbah B3

Universitas Indonesia
12

Universitas Indonesia