Anda di halaman 1dari 17

KASUS PENCURIAN KENDARAAN

BERMOTOR
KASUS PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR
DI TANGERANG

DISUSUN OLEH : AYU TRIYANTI


FARRAHDIBA YOSAN. F
LANANG SATYO ROSANO
QUDWATUN NISAA
TIKA ANANTA SARI
KELAS : XI IPA 3
MAPEL : SOSIOLOGI

SMA NEGERI 7 KOTA TANGERANG SELATAN


Jl. Raya Villa Melati Mas, Komp. Villa Melati Mas Blok. J Pondok Jagung,
Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan 15310
Tahun Ajaran 2014 / 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Tangerang selatan, 11 November 2014

Penyusun

Daftar Isi

COVER
KATA
PENGANTAR............................................................................................
............................................. i
DAFTAR
ISI........................................................................................................
................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG..............................................................................................
......................1
1.2 RUMUSAN
MASALAH...............................................................................................
................2
1.3 KERANGKA
TEORI...................................................................................................
.................2

BAB II KASUS: MOTOR DISIKAT MALING, WARTAWAN RUGI Rp 16 JUTA


1.1 FAKTOR PENDORONG TINDAK PIDANA
PENCURIAN......................................................8
1.2 DAMPAK NEGATIF
PENCURIAN.........................................................................................12
1.3 CARA MENCEGAH DAN MENGATASI PENCURIAN
BERMOTOR..................................13

BAB III PENUTUP


1.1 KESIMPULAN...........................................................................................
..............................15

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Negara kita adalah negara berkembang yang sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang,
dengan tujuan pokok untuk memberikan kemakmuran dan kesejahteraan lahir dan batin bagi
seluruh rakyat Indonesia. Hal ini dapat tercapai apabila masyarakat mempunyai kesadaran
bernegara dan berusaha untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.
Masyarakat dikatakan sejahtera apabila tingkat perekonomian menengah keatas dan kondisi
keamanan yang harmonis Hal tersebut dapat tercapai dengan cara setiap masyarakat berperilaku
serasi dengan kepentingan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat yang diwujudkan dengan
bertingkah laku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Namun belakangan ini dengan terjadinya krisis moneter yang berpengaruh
besar terhadap masyarakat sehingga mengakibatkan masyarakat Indonesia mengalami
krisis moral. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin meningkatnya kejahatan dan
meningkatnya pengangguran. Dengan meningkatnya pengangguran sangat berpengaruh
besar terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Masyarakat dengan tingkat
kesejahteraan yang rendah cenderung untuk tidak mempedulikan norma atau kaidah
hukum yang berlaku. Melihat kondisi ini untuk memenuhi kebutuhan ada
kecenderungan menggunakan segala cara agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi.
Dari cara-cara yang digunakan ada yang melanggar dan tidak melanggar norma hukum.
Salah satu bentuk kejahatan yang sering terjadi di masyarakat adalah
pencurian. Dimana melihat keadaan masyarakat sekarang ini sangat memungkinkan
orang untuk mencari jalan pintas dengan mencuri. Dari media-media massa dan media
elektronik menunjukkan bahwa seringnya terjadi kejahatan pencurian dengan berbagai
jenisnya dilatarbelakangi karena kebutuhan hidup yang tidak tercukupi.
Mencuri berarti mengambil harta milik orang lain dengan tidak hak untuk
dimilikinya tanpa sepengetahuan pemilikinya. Mencuri hukumnya adalah haram. Dan
seiring berjalannya waktu, tindakan mencuri juga mengalami perkembangan. Masalah
pencurian kendaraan bermotor merupakan jenis kejahatan yang selalu menimbulkan
gangguan dan ketertiban masyarakat. Kejahatan pen;curian kendaraan bermotor yang
sering disebut curanmor ini merupakan perbuatan yang melanggar hukum dan diatur
dalam KUHP. Obyek kejahatan curanmor adalah kendaraan bermotor itu sendiri.
“Kendaraan bermotor adalah sesuatu yang merupakan kendaraan yang menggunakan
mesin atau motor untuk menjalankannya”. Kendaraan bermotor yang paling sering
menjadi sasaran kejahatan curanmor roda dua yaitu sepeda motor dan kendaraan
bermotor roda empat yaitu mobil pribadi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan pada uraian latar belakang, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut:
1. Apa saja faktor pendorong yang memicu tindakan pencuiran?
2. Apa saja dampak dari adanya tindakan pencurian?
3. Bagaimana cara mengatasi dan mencegah pencurian ?

1.3 Kerangka Teori


A. Pengertian Pencurian
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti dari kata “curi” adalah
mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan
sembunyi-sembunyi. Sedangkan arti “pencurian” adalah proses, cara, perbuatan. Di
dalam hadist dikatakan bahwa mencuri merupakan tanda hilangnya iman seseorang.

“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang
peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang
pencuri ketika ia sedang mencuri”. (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah : 2295)
Sedangkan secara istilah banyak pendapat yang mengemukakan definisi mengenai
mencuri :

1. Menurut Sabiq (1973:468), mencuri adalah mengambil barang orang lain secara
sembunyi-sembunyi.

2. Menurut Ibnu Arafah, orang arab memberi definisi, mencuri adalah orang yang
datang dengan sembunyi-sembunyi ke tempat penyimpanan barang orang lain untuk
mengambil apa-apa yang ada di dalamnya yang pada prinsipnya bukan miliknya.

3. Menurut Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini, mencuri adalah
mengambill barang orang lain (tanpa izin pemiliknya) dengan cara sembunyi-sembunyi
dan mengeuarkan dari tempat penyimpanannya.

4. Menurut Al-Jaziri (1989:756), mencuri adalah prilaku mengamsil barang orang lain
minimal satu nisab atau seharga satu nisab, dilakukan orang berakal dan baligh, yang
tidak mempunyai hak milik ataupun syibih milik terhadap harta tersebut dengan jalan
sembunyi-sembunyi dengan kehendak sendiri tanpa paksaan orang lain, tanpa
perbedaan baik muslim, kafir dzimni, orang murtad, laki-laki, perempuan, merdeka
ataupun budak.

5. Menurut A. Djazuli dalam bukunya Fiqh Jinayah, pencurian


mempunyai makna perpindahan harta yang dicuri dari pemilik kepada
pencuri.
6. Menurut Mahmud Syaltut (kata Rahmat Hakim), ”Pencurian adalah
mengambil harta orang lain dengan sembunyi-sembunyi yang dilakukan oleh orang
yang tidak dipercayai menjaga barang tersebut”.
7. Sedangkan dalam bukunya Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq berpendapat bahwa yang
dimaksud mencuri adalah mengambil barang orang lain secara sembunyi-bunyi.

Pengertian pencurian menurut hukum beserta unsur - unsurnya dirumuskan


dalam pasal 362 KUHP, adalah berupa rumusan pencurian dalam bentuk pokoknya
yang berbunyi :
"Barang siapa mengambil suatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain,
dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian,
dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp.
900.000.000,00".

Untuk lebih jelasnya, apabila dirinci rumusan itu terdiri dari unsur - unsur
ojektif (perbuatan mengambil, objeknya suatu benda, dan unsur keadaan yang
menyertai/melekat pada benda, yaitu benda tersebut sebagian atau seluruhnya milik
orang lain) dan unsur - unsur subjektif (adanya maksud, yang ditujukan untuk
memiliki, dan dengan melawan hukum).

Suatu perbuatan atau peristiwa, baru dapat dikualifisir sebagai pencurian apabila
terdapat semua unsur tersebut di atas:

1. Unsur-Unsur Objektif

 Unsur perbuatan mengambil (wegnemen)


Unsur pertama dari tindak pidana pencurian ialah perbuatan “mengambil”
barang. “Kata “mengambil” (wegnemen) dalam arti sempit terbatas pada
menggerakan tangan dan jari-jari, memegang barangnnya, dan mengalihkannya ke lain
tempat”.
Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukan
bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formill. Mengambil adalah suatu tingkah
laku psoitif/perbuatan materill, yang dilakukan dengan gerakan-gerakan yang
disengaja. Pada umumnya menggunakan jari dan tangan kemudian diarahkan pada
suatu benda, menyentuhnya, memegang, dan mengangkatnya lalu membawa dan
memindahkannya ke tempat lain atau dalam kekuasaannya. Unsur pokok dari
perbuatan mengambil harus ada perbuatan aktif, ditujukan pada benda dan
berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya.Berdasarkan hal
tersebut, maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap
suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaanya secara nyata dan
mutlak.
Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah
merupaka syarat untuk selesainya perbuatan mengambil, yang artinya juga merupakan
syarat untuk menjadi selesainya suatu perbuatan pencurian yang sempurna.

 Unsur benda
Pada objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van
toelichting (MvT) mengenai pembentukan Pasal 362 KUHP adalah terbatas pada
benda-benda bergerak (roerend goed). Benda-benda tidak bergerak, baru dapat
menjadi objek pencurian apabila telah terlepas dari benda tetap dan menjadi benda
bergerak. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai
dengan unsur perbuatan mengambil.
Benda yang bergerak adalah setiap benda yang sifatnya dapat berpindah
sendiri atau dapat dipindahkan (Pasal 509 KUHPerdata). Sedangkan benda yang tidak
bergerak adalah benda-benda yang karena sifatnya tidak dapat berpindah atau
dipindahkan, suatu pengertian lawandari benda bergerak.

 Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain


Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain, cukup sebagian
saja, sedangkan yang sebagian milik pelaku itu sendiri. Contohnya seperti sepeda
motor milik bersama yaitu milik A dan B, yang kemudian A mengambil dari kekuasaan
B lalu menjualnya. Akan tetapi bila semula sepeda motor tersebut telah berada dalam
kekuasaannya kemudian menjualnya, maka bukan pencurian yang terjadi melainkan
penggelapan (Pasal 372 KUHP).
2. Unsur-Unsur Subjektif

 Maksud untuk memiliki


Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur, yakni unsur pertamamaksud
(kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk), berupa unsur kesalahan
dalam pencurian, dan kedua unsur memilikinya. Dua unsur itu tidak dapat dibedakan
dan dipisahkan satu sama lain.
Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus
ditujukan untuk memilikinya, dari gabungan dua unsur itulah yang menunjukan bahwa
dalam tindak pidana pencurian, pengertian memiliki tidak mengisyaratkan beralihnya
hak milik atas barang yang dicuri ke tangan pelaku, dengan alasan.Pertama tidak
dapat mengalihkan hak milik dengan perbuatan yang melanggar hukum, dan kedua
yang menjadi unsur pencurian ini adalah maksudnya (subjektif) saja. Sebagai suatu
unsur subjektif, memiliki adalah untuk memiliki bagi diri sendiri atau untuk dijadikan
barang miliknya. Apabila dihubungkan dengan unsur maksud, berarti sebelum
melakukan perbuatan mengambil dalam diri pelaku sudah terkandung suatu kehendak
(sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya.

 Melawan hukum
Menurut Moeljatno, unsur melawan hukum dalam tindak pidana pencurian
yaitu Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu
ditunjukan pada melawan hukum, artinya ialah sebelum bertindak melakukan
perbuatan mengambil benda, ia sudah mengetahui dan sudah sadar memiliki benda
orang lain itu adalah bertentangan dengan hukum. Karena alasan inilah maka unsur
melawan hukum dimaksudkan ke dalam unsur melawan hukum subjektif. Pendapat ini
kiranya sesuai dengan keterangan dalam MvT yang menyatakan bahwa, apabila unsur
kesengajaan dicantumkan secara tegas dalam rumusan tindak pidana, berarti
kesengajaan itu harus ditujukan pada semua unsur yang ada dibelakangnya
Apabila dikaitkan dengan unsur 362 KUHP maka kejahatan curanmor adalah
perbuatan pelaku kejahatan dengan mengambil suatu barang berupa kendaraan
bermotor yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk
memiliki kendaraan bermotor tersebut secara melawan hukum.
Kejahatan curanmor sebagai tindak pidana yang diatur dalam KUHP tidak
hanya terkait denga pasal pencurian saja dalam KUHP. Kejahatan curanmor juga
memiliki keterikatan dengan pasal tindak pidana penadahan.
Berikut ini adalah pasal KUHP yang mengatur tentang kejahatn curanmor
beserta pasal yang memiliki keterikatan dengan kejahatan curanmor:
1. Pencurian dengan Pemberatan yang diatur dalam pasal 363 KUHP
2. Pencurian dengan Kekerasan yang diatur dalam pasal 365 KUHP
3. Tindak Pidana Penadahan yang diatur dalam pasal 480 KUHP

B. Syarat Pencurian
Suatu perbuatan dapat dinyatakan sebagai prilaku pencurian apabila
memenuhi keempat rukun dan syarat, meliputi : pencuri, barang yang dicuri, cara
melakukan pencurian, dan tempat penyimpanan barang yang dicuri.
Menurut Sabiq (1973:490-493), syarat-syarat pencurian itu meliputi
:pertama, orang yang mencuri harus mukalaf, artinya anak kecil dan orang gila tidak
termasuk. Kedua, pencurian dilakukan atas kehendak sendiri, tidak ada sedikit pun
paksaan dari orang lain. Ketiga, pencuri tidak memiliki harta syubhat terhadap barang
yang dicuri, seperti contoh : orang tua yang mencuri harta anaknya tidak bisa dijatuhi
hukuman, karena orang tua memiliki harta syubhat pada anaknya. Sabiq tidak
mensyaratkan agama islam pada pencuri, meskipun pencuri itu beragama non-muslim,
ia tetap di hadd sebagaimana haddnya orang islam.
Menurut Al-jaziri (1989:154-155), syarat pencuri yang harus dipotong tangan
meliputi : baligh, berakal, tidak memiliki sedikit pun bagian terhadap barang yang
dicuri, dan pencuri bukan penguasa atas harta yang dicurinya, seperti majikan yang
mecuri harta budaknya, begitu pula sebaliknya, maka tidak bisa dijatuhi hukuman,
serta pencuri melakukannya atas kehendak sendiri, tidak ada sedikit pun paksaan. Ibnu
Rusyd mengatakan (1990:649-650) bahwa fuqaha sependapat dengan persyaratan yang
telah disebutkan tadi.

C. Syarat-Syarat Barang Curian


Menurut Sabiq (1973:493-497), syarat-syarat barang curian meliputi
:pertama, barang yang dicuri tersebut berharga, bisa dipindahmilikkan dan sah apabila
dijual. Kedua, barang yang dicuri mencapai satu nisab. Menurut Al-Jaziri
(1989:155) : pertama, barang tersebut mencapai satu nisab. Kedua, barang tersebut
buan milik pencuri. Ketiga, barang tersebut bisa dimiliki dan sah apabila
dijaul. Keempat, barang tersebut sah dicuri.
Dalam menanggapi pencapaian satu nisab, ulama berbeda pendapat. Jumhur
ulama berpendapat, bahwa satu nisab itu seperempat dinar emas atau tiga dirham dan
perak. Ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ahmad, Muslim,
dan Ibnu Majah, yakni :

“ Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa Rasulullah SAW menjatuhkan hadd atas


pencuri seperempat dinar “, dan pada riwayat Nassa’i dalam hadits marfu’,
menjelaskan bahwa tidaklah dipotong tangan orang yang mencuri barang dibawah
harga perisai atau tameng, di kala Aisyah ditanya tentang harga perisai atau tameng,
ia menjawab bahwa harganya seperempat dinar. (Sabiq, 1973:495-496)

BAB II
Motor Disikat Maling, Wartawan Rugi Rp16 Juta
Saiful Munir
Selasa, 11 November 2014 − 07:50 WIB
Ilustrasi pencurian kendaraan bermotor (dok:Istimewa/sorotgunungkidul.com)
TANGERANG - Aksi pencurian kendaraan bermotor kembali terjadi di Jalan Raya
Pondok Aren, Kelurahan dan Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan. Kali ini
sasarannya adalah H Kurniawan, wartawan media online nasional.

Penyidik Pembantu Polsek Pondok Aren Brigadir Bayu Indrajaya mengatakan, aksi
pencurian terjadi pada Sabtu 8 November 2014, sekitar pukul 18.00 WIB, di rumah
kontrakan korban.

"Motor yang dicuri Honda Vario bernomor polisi B 6585 WKE tahun 2013 warna putih
biru dengan nomor rangka MH1JFB125DKI173631 dan nomor mesin JFB1E2127618.
Total kerugian mencapai Rp16 juta," katanya, Selasa (11/11/2014).

Ditambahkan dia, aksi pencurian dilakukan dengan cara membuka pintu gerbang dan
merusak kunci stang motor, serta memakai kunci duplikat atau letter T. Kemudian,
motor didorong dan dibawa kabur pelaku.

"Saat kejadian, korban sedang menonton TV, dan tidak tahu jika gerbang yang
sebelumnya telah ditutup dibuka maling, serta motornya dibawa kabur," terangnya.

Berdasarkan keterangan saksi L Badri, saat kejadian situasi rumah sedang sepi, karena
sehabis hujan. Bahkan, dirinya saat itu sedang menonton TV di depan kontrakan.
Namun tidak mendengar ada yang membuka gerbang, dan menyalakan motor.
"Saya tidak mendengar suara gerbang dibuka, dan motor menyala. Saya tidak
menghiraukan situasi sekitar, karena saat itu situasi sedang sepi. Saya fokus menonton
TV di depan kontrakan," ungkapnya.

Sementara itu, H Kurniawan mengatakan, dirinya sempat lemas saat tahu motornya
telah hilang. Sebab, motor kredit yang diangsurnya itu tinggal satu bulan lagi lunas.

"Yang membuat saya sesak itu, satu bulan lagi motor itu lunas, dan baru saja saya cuci
bersih, karena Minggu 10 November 2014, saya masuk piket," tukasnya

2.1 Faktor-Faktor Yang Menjadi Pendorong Terjadinya Tindak Pidana


Pencurian
Terjadinya suatu tindak pidana pencurian banyak sekali faktor-faktor yang
melatar belakanginya. Selain faktor dari diri pelaku sebagai pihak yang melakukan
suatu tindak pidana pencurian, banyak faktor lain yang mendorong dapat terjadinya
suatu tindak pidana pencurian.yang terjadi dalam masyarakat.
Terdapat dua faktor utama yang menyebabkan dapat terjadinya suatu
tindak pidana pencurian. Yaitu faktor internal dan faktor external. Kedua faktor
tersebut akan dipaparkan dalam sub bab di bawah.

1. Faktor Internal

 Niat Pelaku

Niat merupakan awal dari suatu perbuatan, dalam melakukan tindak pidana
pencurian niat dari pelaku juga penting dalam faktor terjadinya perbuatan tersebut.
Pelaku sebelum melakukan tindak pidana pencurian biasanya sudah berniat dan
merencanakan bagaimana akan melakukan perbuatannya. Yang sering terjadi adalah
pelaku merasa ingin memiliki barang yang dipunyai oleh korban, maka pelaku memiliki
barang milik korban dengan cara yang dilarang oleh hukum,yaitu dengan mencurinya.
Pelaku biasanya merasa iri terhadap barang yang dimiliki oleh korban, sehingga pelaku
ingin memilikinya.

 Keadaan Ekonomi

Ekonomi merupakan salah satu hal yang penting di dalam kehidupan


manusia. Maka keadaan ekonomi dari pelaku tindak pidana pencurian kerap kali
muncul yang melatarbelakangi sesorang melakukan tindak pidana pencurian. Para
pelaku sering kali tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, atau bahkan tidak punya
pekerjaan sama sekali atau seorang penganguran. Karena desakan ekonomi yang
menghimpit, yaitu harus memenuhi kebutuhan keluarga, membeli sandang maupun
papan, atau ada sanak keluarganya yang sedang sakit, maka sesorang dapat berbuat
nekat dengan melakukan tindak pidana pencurian. Secara lengkap JJH Simanjuntak
menjelaskan sebagai berikut :
Sebagian besar pelaku pencurian melakukan tindakannya tersebut
disebabkan oleh kesulitan ekonomi, baik yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,
ada keluarganya yang sakit, membutuhkan biaya dalam waktu dekat dan lain-lain.
Maka dapat disimpulkan bahwa faktor pendorong seseorang melakukan tindak pidana
pencurian adalah kesulitan ekonomi yang menyebabkan ia melakukan perbuatan
tersebut.
Rasa cinta seseorang terhadap keluarganya, menyebakan ia sering lupa diri
dan akan melakukan apa saja demi kebahagiaan keluarganya. Terlebih lagi apabila
faktor pendorong tersebut diliputi rasa gelisah, kekhawatiran, dan lain sebagainya,
disebabkan orang tua (pada umumnya ibu yang sudah janda), atau isteri atau anak
maupun anak-anaknya, dalam keadaan sakit keras. Memerlukan obat, sedangkan uang
sulit di dapat. Oleh karena itu, maka seorang pelaku dapat termotivasi untuk
melakukan pencurian.

 Moral dan Pendidikan

Moral disini berarti tingkat kesadaran akan norma-norma yang berlaku di


dalam masyarakat. Semakin tinggi rasa moral yang dimiliki oleh seseorang, maka
kemungkinan orang tersebut akan melanggar norma-norma yang berlaku akan semakin
rendah. Kesadaran hukum seseorang merupakan salah satu faktor internal yang dapat
menentukan apakah pelaku dapat melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma
di masyarakat. Apabila seseorang sadar akan perbuatan yang dapat melanggar norma
maka ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut karena takut akan adanya sanksi
yang dapat diterimanya, baik sanksi dari pemerintah maupun sanksi dari masyarakat
sekitar.
Tingkatan pendidikan seseorang juga menentukan seseorang dapat
melakukan tindak pidana pencurian. Karena dari kebanyakan pelaku tindak pidana
pencurian hanya memiliki tingkat pendidikan yang tidak begitu tinggi. Tingkat
pendidikan juga berpengaruh dalam kepemilikan pengahasilan dari pelaku tersebut.
Karena tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, maka seseorang sulit mencari
pekerjaaan. Karena tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang pasti tadi, maka
seseorang melakukan tindak pidana pencurian karena terdesak kebutuhan ekonomi
yang harus segera dipenuhi.
2. Faktor External
 Lingkungan Tempat Tinggal

Lingkungan yang dimaksud disini merupakan daerah dimana penjahat


berdomisili atau daerah-daerah di mana penjahat malakukan aksinya. Selain itu
lingkungan disini juga bias diartikan sebagai lingkungan dimana si korban tinggal.
Pertama penulis mengkaji terlebih dahulu mengenai lingkungan tempat tinggal pelaku
kejahatan. Lingkungan tempat tinggal pelaku kejahatan biasanya merupakan
lingkungan atau daerah-daerah yang pergaulan sosialnya rendah, rendahnya moral
penduduk, dan sering kali di lingkungan tersebut norma-norma sosial sudah sering
dilanggar dan tidak ditaati lagi. Selain itu standar pendidikan dan lingkungan tempat
tinggal yang sering melakukan tindak pidana juga menjadi salah satu faktor yang dapat
membentuk sesorang atau individu untuk menjadi seorang pelaku kejahatan.
Lingkungan tempat tinggal dari pelaku juga ikut mempengaruhi dalam
terjadinya suatu tindak pidana. Karena keamanan dari lingkungan korban tinggal juga
turut menjadi salah satu faktor utama dari terjadinya tindak pidana. Lingkungan yang
sepi dan tidak terdapatnya sistem keamanan lingkungan (Siskamling) juga dapat
membuat tindak pidana pencurian semakin marak terjadi di lingkungan tempat tinggal
korban. Mengenai hal ini JJH Simanjuntak menjelaskan bahwa :
Lingkungan tempat tinggal juga menjadi salah satu faktor penting dari
terjadinya suatu tindak pidana pencurian. Hal ini dapat dilihat dari penelitian selama
ini, bahwa lingkungan juga menjadi salah satu faktor kriminigen (penyebab
kejahatan). Dari kasus-kasus pencurian yang terjadi di daerah Surakarta, sering
didapati bahwa pelaku kejahatan berasal dari lingkungan tempat tinggal yang tidak
sehat. Maksudnya adalah lingkungan tempat tinggal pelaku sering merupakan
pemukiman yang kumuh, dimana pemukiman tersebut dihuni oleh orang-orang yang
sering kali melakukan tindakan melanggar hukum, seperti mabuk-mabukan,
perkelahian dan lain-lain. Sedangkan lingkungan tempat tinggal korban pun sama-sama
mempunyai andil yang besar. Karena sering kali kelengahan kemanan dari lingkungan
tempat tinggal yang dijadikan celah oleh pelaku untuk melancarkan aksinya. Maka
keamanan lingkungan harus lebih diperhatikan oleh masyarakat luas pada saat ini.

 Penegak Hukum

Sebagai petugas Negara yang mempunyai tugas menjaga ketertiban dan


keamanan masyarakat, peran penegak hukum disini juga memiliki andil yang cukup
besar dalam terjadinya tindak pidana pencurian. Penegak hukum disini bukan hanya
polisi saja, melainkan Jaksa selaku Penuntut Umum dan Hakim selaku pemberi
keputusan dalam persidangan. Peran serta penegak hukum yang memiliki peran
strategis adalah polisi. Polisi selaku petugas Negara harus senantiasa mampu
menciptakan kesan aman dan tentram di dalam kehidupan bermasyarakat. Apabila
dalam masyarakat masih sering timbul tindak pidana, khususnya tindak pidana
pencurian berarti Polisi belum mampu menciptakan rasa aman di dalam masyarakat.
Polisi mempunyai tugas tidak hanya untuk menangkap setiap pelaku tindak
pidana pencurian, tetapi harus mampu memberikan penyuluhan-penyuluhan dan
informasi kepada masyarakat luas agar senantiasa mampu berhati-hati agar tidak
terjadi tindak pidana pencurian di lingkungan mereka masing-masing. Penyuluhan-
penyuluhan tersebut dapat dilakukan dengan melalui media elektronik dan penyuluhan
secara langsung kepada masyarakat. Selain itu polisi juga dapat melakukan patroli
untuk senantiasa menjaga keamanan di lingkungan masyarakat. Seperti halnya
dijelaskan oleh JJH Simanjuntak, sebagai berikut :
Pihak kepolisian dapat melakukan pencegahan terhadap kemungkinan
terjadinya kejahatan pada umumnya, dan pencurian pada khususnya, juga dilakukan
pihak aparat penegak hukum. Dari Kepolisian Kota Besar Surakarta, tindakan yang
berkaitan dengan itu dilakukan dalam bentuk patroli keamanan, penyuluhan-
penyuluhan hukum terhadap masyarakat, baik secara langsung, maupun secara
periodik. Di samping itu kepolisian daerah atau kepolisian Negara juga telah
melakukan peringatan-peringatan melalui media elektronik, seperti yang sering kita
lihat di televisi-televisi. Aparat kejaksaan juga telah menyelenggarakan jaksa masuk
desa, dan lain sebagainya.
Dari pernyataan di atas, dapat juga di simpulkan, bahwa aparat penegak
hukum juga tidak henti-hentinya melakukan tindakan pencegahan terjadinya
kejahatan, termasuk kejahatan pencurian dengan , baik dengan mengadakan patroli-
patroli, penyuluhan hukum terhadap masyarakat (yang dilakukan oleh POLRI), maupun
yang berupa ”peringatan-peringatan” melalui media elektronik seperti televisi, dan
radio. Pihak kejaksaan juga melaksanakan program jaksa masuk desa dengan (salah
satunya) tujuan serupa. Dengan demikian, pihak aparat penegak hukum pun telah
melakukan tindakan-tindakan preventatif. Maka dari itu pihak penegak hukum juga
menjadi faktor penentu dalam terjadinya tindak pidana pencurian, bila penegak
hukum sudah melakukan tugasnya dengan baik maka angka kejahatan,khususnya
pencurian dapat ditekan ke angka yang paling rendah.

 Korban

Kelengahan korban juga menjadi salah satu faktor pendorong pelaku untuk
melakukan tindak pidana pencurian. Pada keadaan masyarakat saat ini dimana tingkat
kesenjangan di dalam masyarakat semakin tinngi. Di satu sisi banyak orang yang kaya
raya tetapi orang yang miskin sekali pun juga semakin banyak. Hal ini menimbulkan
kecemburuan sosial yang dirasakan oleh pelaku. Tindakan korban yang memamerkan
harta kekayaan juga menjadi “godaan” kepada pelaku untuk melancarkan aksinya.
Rasa waspada dari korban juga harus ditingkatkan agar tindak pidana
pencurian tidak dialami oleh korban. Misalkan A mempunyai motor, dan diparkir di
depan rumahnya. Untuk menjamin keamanannya A harus mengkunci motornya dan
harus diparkir di tempat yang aman agar tidak dicuri oleh seseorang. Tindakan ini
disebut tindakan preventif yang dapat dilakukan oleh individu agar ia tidak menjadi
korban dari tindak pidana pencurian. Seperti halnya pencurian uang yang paling sering
terjadi di masyarakat saat ini. Anggota masyarakat harus senantiasa meningkatakan
kewaspadaanya serta harus dapat memberikan keamanan kepada setiap hartanya,
khusunya disini uang. Kelengahan pemilik uang juga dapat menciptakan kesempatan
kepada pelaku untuk melakukan tindak pidana pencurian

2.2 Dampak Negatif Mencuri

Dalam sebuah perkara atau perbuatan pasti ada di dalamnay hukum sebab
akibat yang itu tidak bisa lepas dan selalu mengikuti. Dalam hal pencurian yang
notabene adalah perbuatan jahat, maka di balik perbuatan tersebut adanya dampak
negatif yang merugikan terhdap orang lain maupun terhadap diri sendiri.

1. Dampak terhadap pelakunya


Dampak yang akan di alami bagi pelaku pencurian atas perbuatanya tersebut antara
lain,
 Mengalami kegelisahan batin, pelaku pencurian akan selaludikejar-kejar rasa
bersalah dan takut jika perbuatanya terbongkar
 Mendapat hukuman, apabila tertangkap, seorang pencuri akan mendapatkan
hukuman sesuai undang-undang yang berlaku
 Mencemarkan nama baik, seseorang yang telah terbukti mencuri nama baiknya
akan tercemar di mata masyarakat
 Merusak keimanan, seseorang yang mencuri berarti telah rusak imanya. Jika ia
mati sebelum bertobat maka ia akan mendapat azab yang pedih

2. Dampak terhadap korban pencurian


Dampak dari pencurian bagi korban diantaranya adalah
 Menimbulkan kerugian dan kekecewaan, peristiwa pencurian akan sangat
merugikan dan menimbulkan kekecewaan bagi korbanya
 Menimbulkan ketakutan, peristiwa pencurian menimbulkan rasa takut bagi
korban dan masyarakat karena mereka merasa harta bendanya terancam
 Munculnya hukum rimba, perbuatan pencurian merupakan perbuatan yang
mengabaikan nilai-nilai hukum. Apabila terus berlanjut akan memunculkan hukum
rimba dimana yang kuat akan memangsa yang lemah.
2.3 Cara Mengatasi dan Mencegah Pencurian Motor

Sepeda motor dan mobil adalah salah satu benda yang disukai pencuri untuk
dijadikan sasaran pencurian karena nilainya yang tinggi, fleksibel, dibutuhkan banyak
orang dan mudah dicuri. Pencuri ranmor motor profesional umumnya hanya
membutuhkan waktu kurang dari satu menit saja dalam menjalankan aksi
kejahatannya.
Mereka menggunakan berbagai metode / modus untuk membawa kabur
motor jarahan yang berhasil dikerjai. Cara atau modus operandi yang sering digunakan
oleh pencuri sepeda motor adalah seperti :
1. Menggunakan kunci letter T untuk menyalakan paksa mesin motor.
2. Mengangkut motor ke dalam mobil boks atau truk.
3. Merusak kunci-kunci keamanan yang ada dengan trik tertentu lalu membawa kabur
motor, dll.
Waspadai pula aksi kejahatan ranmor / kendaraan bermotor lainnya yang
berhubungan dengan sepeda motor anda seperti pencurian helm, pencurian aksesoris
motor, dsb. Berikut ini adalah beberapa saran untuk anda dalam menghindar dan
mengurangi resiko kehilangan motor.

Tips / Cara Mengurangi Resiko Kehilangan Motor :


1. Parkir Di Tempat Parkir Resmi Dan Aman
Usahakan untuk selalu parkir di tempat parkir profesional dengan tingkat
pengawasan dan keamanan yang tinggi. Kalau bisa pilih saja lahan parkir yang selalu
memeriksa STNK ketika akan meninggalkan tempat parkir, ada tiket bukti parkir, ada
kamera pengawas cctv dan banyak petugas keamanan yang menjaga di sekitar tempat
parkir.
2. Berikan Tambahan Kunci Pengaman Pada Motor
Kunci motor anda dengan kunci-kunci tambahan yang berbeda jenisnya.
Contohnya seperti kunci roda, kunci setang rahasia, alarm, gembok, rantai, kunci disc
cakram, dan lain sebagainya. Bila perlu parkir di samping tiang atau pohon lalu lilitkan
rantai bersama tiang atau pohon tersebut.
3. Terus Awasi Motor Anda
Jika memarkir kendaraan di depan rumah baik rumah sendiri atau rumah orang
lain serta di tempat umum seperti mini market, sekolah, warung, warnet, wartel, dan
lain sebagainya sebaiknya anda terus mengawasi motor anda. Parkirlah di tempat yang
terlihat dari dalam serta pasang mata dan telinga anda dan jangan sampai lalai karena
pencuri sepeda motor hanya butuh kurang lebnih setengah menit atau kurang untuk
menggasak motor anda.
4. Hati-Hati dengan Mobil Boks, Pickup dan Truk
Waspadai jenis mobil-mobil tersebut yang parkir di samping atau sekitar parkir
motor anda. Pencuri sepeda montor dapat dengan cepat menggotong motor anda dan
kemudian membawanya pergi dari anda untuk selama-lamanya.
5. Amankan Barang Berharga Bawaan Anda
Hati-hati pula terhadap barang-barang berharga yang anda bawa. Jika ada
tempat penitipan helm dan jaket segera titipkan di tempat tersebut. Jika anda
khawatir dengan tempat penitipan anda bisa pasang kotak atau box motor di belakang
sepeda motor ada untuk menyimpan barang anda seperti helm, berkas, jaket, uang,
jaket jas hujan, uang / duit, alat mekanik, payung, senter, air minum, baju ganti, dan
lain sebagainya.
6. Mengurangi Perhatian Pencuri
Motor yang terlihat bagus, baru dan berdaya jual tinggi dengan sistem
pengamanan yang kurang sangat disukai oleh pelaku curanmor. Motor yang sudah
kelihatan jelek atau biasa saja dengan pengamanan yang cukup dan bila dijual
harganya murah termasuk jenis motor yang cukup aman dari pencurian motor.
Menutup motor anda dengan kain penutup motor dapat mengurangi perhatian pencuri
dan akan mempersulit pencuri untuk melaksanakan aksinya. Dengan menutup motor
dengan bahan anti air juga dapat melindungi motor dari kehujanan dan terik sinar
matahari.
Motor yang telah aneh, unik, jarang dan telah dimodifikasi juga kurang
menarik minat orang yang mau nyolong motor kita. Kalau anda sayang pada motor
anda, pasanglah sistem keamanan yang berlapis serta rahasia dan juga kalau anda suka
modiflah motor anda mnjadi beda dengan yang lain agar pencuri enggan mencurinya
karena terlalu menarik perhatian orang banyak di sekitar tempat parkir.
7. Jika tempat parkir motor memiliki CCTV ( misal di mall ), usahakan
parkirkan sepeda motor di area yang terpantau CCTV , sehingga pencuri pun akan
berpikir dua kali ketika hendak mencuri sepeda motor Anda.
8. Beri tanda-tanda unik di bodi atau bagian motor lainnya dengan stiker atau
lainnya, dan kemudian abadikan motor biker dalam foto. Ini akan sangat bermanfaat
bagi para penegak hukum ketika melakukan pencarian kehilangan dengan ciri-ciri yang
spesifik di motor.
9. Buatlah sepeda motor sulit untuk dijual kembali jika terjadi pencurian.
Misalnya dengan mengakali dan menandai atau memberi identitas beberapa
bagian
motor yang tidak terlihat, terutama di bagian yang sering dipreteli untuk dijual
kembali….ini sih jika sudah jalan terakhir…
10. Jaga semua surat-surat kendaraan , termasuk BPKB, STNK, asuransi dan
lainnya yang akan dibutuhkan jika suatu saat ada masalah pada motor biker.
11. Membina Hubungan Baik Dengan Petugas Parkir Dan Tetangga
Untuk lebih aman, jika anda parkir di tempat yang rutin atau sering misalnya di
kampus, kantor, rumah, mini market, warung, dan lain sebagainya anda bisa pelan-
pelan membina hubungan baik dengan orang di sekitarnya. Jika ada waktu ajak
petugas parkir ngobrol, nongkrong, dan sebagainya. Kalau punya uang lebih kita bisa
kasih uang rokok ke petugas parkir tersebut. Tujuannya adalah agar tukang parkir jadi
kenal sama kita dan otomatis kenal dengan motor yang kita pakai. Jika motor kita
diusili orang maka dengan cepat tukang parkir akan menyadari dan menindak
lanjutinya dengan tegas.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang rendah cenderung untuk tidak
mempedulikan norma atau kaidah hukum yang berlaku termasuk dalam memenuhi
kebutuhan ada kecenderungan menggunakan segala cara agar kebutuhan tersebut
dapat terpenuhi. Dari cara-cara yang digunakan ada yang melanggar dan tidak
melanggar norma hukum.
 Salah satu bentuk kejahatan yang sering terjadi di masyarakat adalah
pencurian. Mencuri berarti mengambil harta milik orang lain dengan tidak hak untuk
dimilikinya tanpa sepengetahuan pemilikinya. Dan seiring berjalannya waktu, tindakan
mencuri juga mengalami perkembangan. Masalah pencurian kendaraan bermotor
merupakan jenis kejahatan yang selalu menimbulkan gangguan dan ketertiban
masyarakat.
 Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti dari kata “curi” adalah mengambil
milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-
sembunyi. Sedangkan arti “pencurian” adalah proses, cara, perbuatan. Di dalam hadist
dikatakan bahwa mencuri merupakan tanda hilangnya iman seseorang.
 Terdapat dua faktor utama yang menyebabkan dapat terjadinya suatu tindak
pidana pencurian. Yaitu faktor internal dan faktor external. Faktor Internal terdiri
atas : niat pelaku, keadaan ekonomi, serta faktor moral dan pendidikan. Adapun
faktor Eksternal terdiri atas: lingkungan tempat tinggal, penegak hukum dan faktor
korban sendiri.
 Dalam hal pencurian yang notabene adalah perbuatan jahat, maka di balik
perbuatan tersebut adanya dampak negatif yang merugikan terhdap orang lain maupun
terhadap diri sendiri. Dampak yang merugikan orang lain diantaranya: Menimbulkan
kerugian dan kekecewaan, peristiwa pencurian akan sangat merugikan dan
menimbulkan kekecewaan bagi korbanya dll. Dan dampak yang merugikan pelakunya
sendiri diantaranya: Mendapat hukuman, apabila tertangkap, seorang pencuri akan
mendapatkan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku
 Tips / Cara Mengurangi Resiko Kehilangan Motor :

Parkir Di Tempat Parkir Resmi Dan Aman
Berikan Tambahan Kunci Pengaman Pada Motor
Terus Awasi Motor Anda
Dan lain-lain

TANGGAPAN MASYARAKAT

Pencurian harus ditindak tegas oleh penegak hukum karena pencurian sangat merugikan
pihak korban, bahkan bisa sampai menyebabkan trauma. Pelaku pencurian sebaiknya diberi
sanksi keras agar jerah atas perbuatan yang telah ia lakukan.