Anda di halaman 1dari 37

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan ridho-
Nya sehingga kelompok 5 bisa menyelesaikan laporan PBL pertama untuk modul kedua pada
sistem Geriatri dan Tumbuh Kembang

Dalam penyusunan laporan ini, berdasarkan hasil brainstorming kelompok 5, dan mengacu
pada buku-buku serta website di internet. Masalah yang menyangkut pada skenario dua pada
modul ini , kami kemukakan dalam pembahasan laporan yang telah disusun.

Dan tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada dr. Anwar sebagai pembimbing kelompok
5 atas tutorial pertama yang membantu pada saat diskusi kelompok kami, sehingga dapat
terselesaikannya laporan PBL pertama ini.

Akhir kata, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dengan suatu harapan yang
tinggi, semoga laporan yang sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi semuanya.

Wassalam.wr.wb

Jakarta, 11 Desember 2015

Kelompok 5

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Setelah selesai mempelajari modul ini, maka mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan
tentang definisi, proses pengaturan diuresis normal, proses terjadinya, penyebab dan tipe-
tipenya, serta penatalaksanaan inkontinensia urin yang sering dialami oleh pasien
Geriatri/Usia Lanjut.

1.2 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Setelah selesai mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat :
I. Menjelaskan Teori-teori Proses Menua sebagai proses perkembangan normal.
I.1 Menjelaskan Teori ”Genetic Clock”
I.2 Menjelaskan Teori Mutasi Somatik (Error Catastrophe)
I.3 Menjelaskan Teori Rusaknya Sistem Imun Tubuh
I.4 Menjelaskan Teori Kerusakan Akibat Radikal Bebas
I.5 Menjelaskan Teori Akibat Metabolisme/Teori Glikasi
II. Menjelaskan Efek Penuaan pada anatomi dan fisiologi sistem organ
III. Menjelaskan Definisi Inkontinensia Urin
IV. Menjelaskan Proses Pengaturan Diuresis Normal.
V. Mampu menjelaskan Proses terjadinya, penyebab serta Tipe-tipe Inkontinensia
Urin yang terjadi pada pasien Geriatri/Usia Lanjut.
V.1 Anamnesis riwayat ngompol, penyakit yang menyertainya.
V.2 Pemeriksaan Fisik.
V.3 Pemeriksaan Penunjang.
V.4 Menentukan Status Fungsional.
V.5 Menentukan Status Kognitif.
V.6 Menentukan Status Gizi.
VI. Melakukan perencanaan/penatalaksanaan serta pencegahan agar Inkontinensia
Urin pada Pasien Geriatri/Usia Lanjut dapat diatasi.

2
1.3 Skenario 2
Perempuan 65 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan menurut keluarganya tiba-tiba
jatuh terpeleset di dekat tempat tidur tadi pagi akibat menginjak air seninya sendiri.
Beberapa bulan ini memang penderita sebentar-sebentar ke toilet untuk buang air kecil dan
kadangkala tempat tidur basah oleh karena ngompol. Sejak seminggu penderita terdengar
batuk-batuk dan sesak napas, nafsu makan sangat berkurang tetapi tidak demam. Buang air
besar jarang dan susah, penderita selama ini mengidap dan minum obat penyakit kencing
manis dan tekanan darah tinggi dan 1 tahun lalu terkena stroke. Pasien memiliki kebiasaan
makan jeroan, makan gulai dan jarang makan buah atau sayur.
1.4 Kata/Kalimat Sulit : -
1.5 Kata/Kalimat Kunci
 Perempuan, 65 tahun
 Jatuh terpeleset karena menginjak air seninya sendiri
 Beberapa bulan ini sering buang air kecil dan ngompol
 Batuk dan sesak 1 minggu lalu
 Anoreksia, tidak demam
 BAB jarang dan susah
 DM dan minum obat DM
 Hipertensi
 Stroke 1 tahun yang lalu
 R.Kebiasaan : makan lemak, kurang serat

1.6 Mind Map

Diuresis normal
Faktor resiko Inkontinensia urin proses
Tidak normal

Faktor penyebab Penyakit-penyakit Klasifikasi

Alur diagnosis

Tatalaksana

Preventif
3
1.7 Rumusan Masalah
1. Jelaskan definisi dan tipe-tipe inkontinensia urin!
2. Sebutkan dan Jelaskan teori proses penuaan!
3. Jelaskan faktor resiko inkontinensia urin!
4. Jelaskan etiologi Inkontinensia urin!
5. Sebutkan obat-obatan yang dapat mempengaruhi inkontinensia urin!
6. Jelaskan alur diagnosis pada inkontinensia urin!
7. Jelaskan penatalaksanaan pada inkontinensia urin!
8. Jelaskan efek penuaan pada struktur organ pada manusia!
9. Jelaskan hubungan stroke dengan inkontinensia urin!
10. Jelaskan proses diuresis normal dan inkontinensia urin!
11. Jelaskan upaya preventif untuk inkontinensia urin pada Lansia!

4
BAB II

PEMBAHASAN

1. Jelaskan definisi dan tipe-tipe inkontinensia urin!

The unintentional loss of urine. Inability to hold urine in the bladder due to loss of
voluntary control over the urinary sphincters resulting in the involuntary passage of urine.

Inkontinensia urin adalah pengeluaran urin tanpa disadarai dalam jumlah dan frekuensi
yang cukup sehingga menyebabkan masalah gangguan kesehatan dan atau
social. Inkontinensia urin merupakan salah satu manifestasi penyakit yang sering
ditemukan pada pasien geriatri.

Inkontinensia urin dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

i. Inkontinensia urin akut ( Transient incontinence ) :

Inkontinensia urin ini terjadi secara mendadak, terjadi kurang dari 6 bulan dan
biasanya berkaitan dengan kondisi sakit akut atau problem iatrogenik yang
menghilang jika kondisi akut teratasi. Penyebabnya berupa delirium, infeksi,
inflamasi, gangguan mobilitas, kondisi-kondisi yang mengakibatkan poliuria (
hiperglikemia, hiperkalsemia ) ataupun kondisi kelebihan cairan seperti gagal jantung
kongestif.

ii. Inkontinensia urin kronik ( persisten )

Inkontinensia urin ini tidak berkaitan dengan kondisi akut dan berlangsung lama (
lebih dari 6 bulan ). Ada 2 penyebab kelainan mendasar yang melatarbelakangi
Inkontinensia urin kronik ( persisten ) yaitu : menurunnya kapasitas kandung kemih
akibat hiperaktif dan karena kegagalan pengosongan kandung kemih akibat lemahnya
kontraksi otot detrusor. Inkontinensia urin kronik ini dikelompokkan lagi menjadi 4
tipe (stress, urge, overflow, fungsional). Berikut ini adalah penjelasan dari masing-
masing tipe Inkontinensia urin kronik atau persisten :

5
A. Inkontinensia urin tipe stress :

Inkontinensia urin ini terjadi apabila urin secara tidak terkontrol keluar akibat
peningkatan tekanan di dalam perut, melemahnya otot dasar panggul, operasi dan
penurunan estrogen. Gejalanya antara lain kencing sewaktu batuk, mengedan, tertawa,
bersin, berlari, atau hal lain yang meningkatkan tekanan pada rongga perut.
Pengobatan dapat dilakukan tanpa operasi ( misalnya dengan Kegel exercises, dan
beberapa jenis obatobatan), maupun dengan operasi.

B. Inkontinensia urin tipe urge :

timbul pada keadaan otot detrusor kandung kemih yang tidak stabil, yang mana otot
ini bereaksi secara berlebihan. Inkontinensia urin ini ditandai dengan
ketidakmampuan menunda berkemih setelah sensasi berkemih muncul.
Manifestasinya dapat berupa perasaan ingin kencing yang mendadak ( urge ), kencing
berulang kali ( frekuensi ) dan kencing di malam hari ( nokturia ).

C. Inkontinensia urin tipe overflow :

pada keadaan ini urin mengalir keluar akibat isinya yang sudah terlalu banyak di
dalam kandung kemih, umumnya akibat otot detrusor kandung kemih yang lemah.
Biasanya hal ini dijumpai pada gangguan saraf akibat penyakit diabetes, cedera pada
sumsum tulang belakang, atau saluran kencing yang tersumbat. Gejalanya berupa rasa
tidak puas setelah kencing (merasa urin masih tersisa di dalam kandung kemih ), urin
yang keluar sedikit dan pancarannya lemah.

D. Inkontinensia urin tipe fungsional :

terjadi akibat penurunan yang berat dari fungsi fisik dan kognitif sehingga pasien
tidak dapat mencapai toilet pada saat yang tepat. Hal ini terjadi pada demensia berat,
gangguan mobilitas, gangguan neurologik dan psikologik.

6
2. Sebutkan dan Jelaskan teori-teori penuaan!

A. Teori Biologis

Teori biologis mencoba untuk menjelaskan proses fisik penuaan, termasuk perubahan fungsi
dan struktur, pengembangan, panjang usia dan kematian. Perubahan-perubahan dalam
tubuh termasuk perubahan molekular dan seluler dalam sistem organ utama dan
kemampuan tubuh untuk berfungsi secara adekuat dan melawan penyakit. Seiring dengan
brekembangnya kemampuan kita untuk menyelidiki komponen-komponen yang kecil dan
sangat kecil, suatu pemahaman tentang hubungan hal-hal yang memengaruhi penuaan
ataupun tentang penyebab penuaan yang sebelumnya tidak diketahui, sekarang telah
mengalami peningkatan. Walaupun bukan suatu definisi penuaan, tetapi lima karakteristik
penuaan telah dapat diidentifikasi oleh para ahli. Teori biologis juga mencoba untuk
menjelaskan mengapa orang mengalami penuaan dengan cara berbeda dari waktu kewaktu
dan faktor apa yang memengaruhi umur panjang, perlawanan terhadap organisme, dan
kematian atau perubahan seluler. Suatu pemahaman tentang perspektif biologi dapat
memberikan pengetahuan kepada perawat tentang faktor resiko spesifik dihubungkan
dengan penuaan dan bagaimana orang dapat dibantu untuk meminimalkan atau menghindari
resiko dan memaksimalkan kesehatan.

1) Teori Radikal Bebas


Radikal bebas adalah produk metabolisme seluler yang merupakan bagian molekul yang
sangat reaktif. Molekul ini memiliki muatan ekstraseluler kuat yang dapat menciptakan reaksi
dengan protein, mengubah bentuk dan sifatnya, molekul ini juga dapat bereaksi dengan lipid
yang berada dalam membran sel, mempengaruhi permeabilitasnya atau dapat berikatan
dengan organel sel. Teori ini menyatakan bahwa penuaan disebabkan karena terjadinya
akumulasi kerusakan irreversibel akibat senyawa pengoksidasi. Dimana radikal bebas dapat
terbentuk dialam, tidak stabilnya radikal bebas mengakibatkan oksidasi bahan-bahan organik
seperti karbohidrat dan protein.

7
2) Teori Genetika
Teori sebab akibat menjelaskan bahwa penuaan terutama disebabkan oleh pembentukan gen
dan dampak lingkungan pada pembentukan kode genetik. Menurut teori genetika, penuaan
adalah suatu proses yang secara tidak sadar diwariskan yang berjalan dari waktu ke waktu
untuk mengubah sel atau struktur jaringan. Dengan kata lain, perubahan rentang hidup dan
panjang usia telah ditentukan sebelumnya. Teori genetika terdiri dari teori asam
deoksiribonukleat (DNA), teori ketepatan dan kesalahan, mutasi somatik, dan teori glikogen.
Teori-teori ini menyatakan bahwa proses replikasi pada tingkatan seluler menjadi tidak
terartur karena adanya informasi tidak sesuai yang diberikan dari inti sel. Molekul DNA
menjadi bersilangan (crosslink) denga unsur yang lain sehingga mengubah informasi genetik.
Adanya crosslink ini mengakibatkan kesalahan pada tingkat seluler yang akhirnya
mengakibatkan sistem dan organ tubuh gagal untuk berfungsi.

3) Teori Cross Link


Teori crosslink dan jaringan ikat menyatakan bahwa molekul kolagen dan elastin, komponen
jaringan ikat, membentuk senyawa yang lama meningkatkan rigiditas sel, crosslink
diperkirakan akibat reaksi kimia yang menimbulkan senyawa antara molekul-molekul yang
normalnya terpisah atau secara singkatnya sel-sel tua atau usang, reaksi kimianya
menyebakan kurang elastis dan hilangnya fungsi. Contoh crosslink jaringan ikat terkait usia
meliputi penurunan kekuatan daya rentang dinding arteri, tanggalnya gigi, tendon kering dan
berserat.

4) Teori Imunitas
Teori imunitas menggambarkan suatu kemunduran dalam sistem imun yang berhubungan
dengan penuaan. Ketika orang bertambah tua, pertahanan mereka terhadap organisme asing
mengalami penurunan, sehingga mereka lebih rentan untuk menderita berbagai penyakit
seperti kanker dan infeksi. Seiring dengan berkurangnya fungsi sistem imun, terjadilah
peningkatan dalam respons autoimun tubuh. Ketika orang mengalami penuaan, mereka
mungkin mengalami penyakit autoimun seperti artritis reumatoid dan alergi terhadap
makanan dan faktor lingkungan yang lain. Penganjur teori ini sering memusatkan pada peran
kelenjar timus. Berat dan ukuran kelenjar timus menurun seiring dengan bertambahnya
umur, seperti halnya kemampuan tubuh untuk diferensiasi sel T, karena hilangnya diferensiasi

8
sel T, tubuh salah mengenali sel yang tua dan tidak beraturan sebagai benda asing dan
menyerangnya. Pentingnya pendekatan pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, dan
promosi kesehatan terhadap npelayanan kesehatan, terutama pada saat penuaan terjadi
tidak dapat diabaikan. Walaupun semua orang memerlukan pemeriksaan rutin untuk
memastikan deteksi dini dan perawatan seawal mungkin, tetapi pada orang lanjut usia
kegagalan melindungi sistem imun yang telah mengalami penuaan melalui pemeriksaan
kesehatan ini dapat mendorong ke arah kematian awal dan tidak terduga.

5) Teori Neuroendokrin
Diskusi sebelumnya tentang kelenjar timus dan sistem imun serta interaksi antara sistem saraf
dan sistem endokrin menghasilkan persamaan yang luar biasa. Pada kasus selanjutnya para
ahli telah memikirkan bahwa penuaan terjadi oleh karena adanya suatu perlambatan dalam
sekresi hormon tertentu yang mempunyai suatu dampak pada reaksi yang diatur oleh sistem
saraf. Hal ini lebih jelas ditunjukkan dalam kelenjar hipofisis, tiroid, adrenal, dan reproduksi.
Salah satu area neurologis yang mengalami gangguan secara universal akibat penuaan adalah
waktu reaksi yang diperlukan untuk menerima, memproses, dan bereaksi terhadap perintah.
Dikenal sebagai perlambatan tingkah laku, respon ini kadang-kadang diinterpretasikan
sebagai tindakan melawan, ketulian, atau kurangnya pengetahuan. Pada umumnya,
sebenarnya yang terjadi bukan satupun dari hal-hal tersebut, tetapi orang lanjut usia sering
dibuat untuk merasa seolah-olah mereka tidak kooperatif atau tidak patuh. Perawat dapat
memfasilitasi proses pemberian perawatan dengan cara memperlambat instruksi dan
menunggu respon mereka.

B. Teori Psikososiologis
Teori psikososiologis memusatkan perhatian pada perubahan sikap dan perilaku yang
menyertai peningkatan usia, sebagai lawan dari implikasi biologi pada kerusakan anatomis.
Untuk tujuan pembahasan ini, perubahan sosiologis atau nonfisik dikombinasikan dengan
perubahan psikologis.
Masing-masing individu, muda, setengah baya, atau tua adalah unik dan memiliki
pengalaman, melalui serangkaian kejadian dalam kehidupan, dan melalui banyak peristiwa.
Salama 40 tahun terakhir, beberapa teori telah berupaya untuk menggambarkan bagaimana
perilaku dan sikap pada awal tahap kehidupan dapat memengaruhi reaksi manusia sepanjang

9
tahap akhir hidupnya. Pekerjaan ini disebut proses “penuaan yang sukses” contoh dari teori
ini termasuk teori kepribadian.

1) Teori Kepribadian
Kepribadian manusia adalah suatu wilayah pertumbuhan yang subur dalam tahun-tahun akhir
kehidupannya yang telah merangsang penelitian yang pantas dipertimbangkan. Teori
kepribadian menyebutkan aspek-aspek pertumbuhan psikologis tanpa menggambarkan
harapan atau tugas spesifik lansia. Jung mengembangkan suatu teori pengembangan
kepribadian orang dewasa yang memandang kepribadian sebagai ektrovert atau introvert ia
berteori bahwa keseimbangan antara kedua hal tersebut adalah penting dalam kesehatan.

2) Teori Perkembangan
Beberapa ahli teori sudah menguraikan proses maturasi dalam kaitannya dengan tugas yang
harus dikuasai pada tahap sepanjang rentang hidup manusia. Hasil penelitian Ericson
mungkin teori terbaik yang dikenal dalam bidang ini. Teori perkembangan adalah aktivitas
dan tantangan yang harus dipenuhi oleh seseorang pada tahap-tahap spesifik dalam hidupnya
untuk mencapai penuaan yang sukses. Erickson menguraikan tugas utama lansia adalah
mampu melihat kehidupan seseorang sebagai kehidupan yang dijalani dengan integritas.
Pada kondisis tidak adanya pencapaian perasaan bahwa ia telah menikmati kehidupan yang
baik, maka lansia tersebut beresiko untuk disibukkan dengan rasa penyesalan atau putus asa.
Minat yang terbaru dalam konsep ini sedang terjadi pada saat ahli gerontologi dan perawat
gerontologi memeriksa kembali tugas perkembanagn lansia.

3) Teori Disengagement
Teori disengagement (teori pemutusan hubungan), dikembangkan pertama kali pada awal
tahun 1960-an, menggambarkan proses penarikan diri oleh lansia dari peran bermasyarakat
dan tanggung jawabnya. Menurut ahli teori ini, proses penarikan diri ini dapat diprediksi,
sistematis, tidak dapat dihindari, dan penting untuk fungsi yang tepat dari masyarakat yang
sedang tumbuh. Lansia dikatakan bahagia apabila kontak sosial telah berkurang dan tanggung
jawab telah diambil oleh generasi yang lebih muda. Manfaat pengurangan kontak sosial bagi
lansia adalah agar ia dapat menyediakan waktu untuk merefleksikan pencapaian hidupnya

10
dan untuk menghadapi harapan yang tidak terpenuhi, sedangkan manfaatnya bagi
masyarakat adalah dalam rangka memindahkan kekuasaan generasi tua pada generasi muda.

4) Teori Aktivitas
Lawan langsung dari teori disengagement adalah teori aktivitas penuaan, yang berpendapat
bahwa jalan menuju penuaan yang sukses adalah dengan cara tetap aktif. Havighurst yang
pertama menulis tentang pentingnya tetap aktif secara sosial sebagai alat untuk penyesuaian
diri yang sehat untuk lansia pada tahun 1952. Sejak saat itu, berbagai penelitian telah
memvalidasi hubungan positif antara mempertahankan interaksi yang penuh arti dengan
orang lain dan kesejahteraan fisik dan mental orang tersebut. Gagasan pemenuhan
kebutuhan seseorang harus seimbang dengan pentingnya perasaan dibutuhkan oleh orang
lain. Kesempatan untuk turut berperan dengan cara yang penuh arti bagi kehidupan
seseorang yang penting bagi dirinya adalah suatu komponen kesejahteraan yang penting bagi
lansia. Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya fungsi peran pada lansia secara negatif
memengaruhi kepuasan hidup. Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan pentingnya
aktivitas mental dan fisik yang berkesinambungan untuk mencegah kehilangan dan
pemeliharaan kesehatan sepanjang masa kehidupan manusia.

11
3. Jelaskan faktor resiko inkontinensia urin!
Prevalensi inkontinensia urin meningkat seiring meningkatnya usia. inkontinensia
urin lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Usia lanjut seringkali
memiliki kondisi medik yang dapat mengganggu proses berkemih yang secara langsung
mempengaruhi fungsi saluran berkemih, perubahan status volume dan ekskresi urin, atau
gangguan kemampuan untuk ke toilet. Pada orang usia lanjut di masyarakat,
inkontinensia urin dikaitkan dengan depresi, stroke, gagal jantung kongesif, konstipasi,
inkontinensia feses,obesitas, penyakit paru obstruksi kronik, batuk kronik, dan gangguan
mobilitas.
Resiko inkontinensia urin meningkat pada perempuan dengan indeks massa tubuh
yang lebih besar, dengan riwayat histerektomi, infeksi urin, dan trauma perianal.
Melahirkan per vaginam meningkatkan resiko inkontinensia urin tipe stres dan tipe
campuran.
Penelitian terhadap 5418 usia lanjut di luar negeri mendapatkan tiga faktorresiko yang
dapat dimodifikasi dan berhubungan secara bermakna dengan inkontinensia urin, yaitu
infeksi saluran kemih, keterbatasan aktivitas, dan faktor gangguan lingkungan.

12
4. Jelaskan etiologi Inkontinensia urin!

Interkontinensia urin sementara dapat disebabkan oleh :

- Minum terlalu banyak atau minum cairan yang dapat mengiritasi kandung
kemih,seperti minuman berkarbonasi,alkohol,minuman yang mengandung
kafein,pemanis buatan,jus buah dan jus jeruk ,dan termasuk kopi dan teh tanpa kafein

- Konsumsi vitamin B & C dalam dosis tinggi

Karena PH dari jus buah seperti jus jeruk,dapat mempengaruhi persyarafan dari otot
kandung kemih dan dapat menjadi stimulan untuk berkemih.

- Infeksi Saluran Kemih

- Konstipasi

Impaksi feses akan mengubah posisi kandung kemih dan menekan syaraf yang
mensuplai uretra serta kandung kemih.Sehingga,akan dapat menimbulkan retensi urin
dan overflow intercontinence.

- Obat

Obat obatan sering dikaitkan dengan interkontinensia pada usia lanjut.

 Sedative Hypnotics ( Benzodiazepines: Diazepam,flurazepam )

Obat obat ini dapat menyebabkan confusion dan interkontinensia karena


menganggu mobilitas dan menimbulkan diuresis.

 Loop Diuretics

Obat obat seperti diuretik akan meningkatkan pembebanan urin di kandung


kemih,sehingga bila seseorang tidak dapat menemukan toilet pada watunya akan
timbul urge incontinence.

 Alpha-adrenergic Agonist dan Agonist Agen alpha-adrenergik yang sering


ditemukan di obat influenza,akan meningkatkan tahanan outlet dan dan
menyebabkan kesulitan berkemih.Apha blockers yang digunakan untuk terapi

13
hipertensi dapat menurunkan kemampuan penutupan uretra dan menyebabkan
stress intercontinence.
 Calcium Chanel Blockers untuk hipertensi dapat menyebabkan berkurangnya
tonus sfingter uretra eksternal dan gangguan kontraktilitas otot polos kandung
kemih sehingga menstimulasi timbulnya stress intercontinence.Obat ini juga
dapat menyebabkanedema perifer,yang menimbulkan nokturia.

Interkontinensia persisten dapat disebabkan oleh :

- Kehamilan dan Persalinan


Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya
otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga
dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan
penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya
inkontinensia urine

- Menopause
Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun
ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih
(uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine.

- Histerektomi
Karena adanya defisiensi dari hormon esterogen

- Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) & Kanker Prostat


Jika terjadi pembesaran pada kelenjar prostat, maka secara bertahap akan
mempersempit uretra dan pada akhirnya aliran urine mengalami penyumbatan.

- Obstruksi

- Cedera Otak

Pada para penderita dengan lesi di medulla spinalis atau di conus medularis yang
sudah menahun,kandung kemih dapat dikosongkan dengan jalan perangsangan pada
os pubis dan lipatan inguinal.Ada kalanya miksi timbul sewaktu kedua tungkai

14
bergerak secara involuntarily.Oleh karena itu,kandung kemih semacam itu dinamakan
kandung kemih automatic.Pengosongan secara reflektorik itu dapat dilaksanakan
karena bsuur refleks spinal yang terletak di conus medullaris masih utuh.Refleks
miksi spinal sudah tidak mungkin,sehingga pengosongan kandung kemih harus
dilaksanakan dengan penekanan suprapubik secara terus menerus sampai air seni
dikeluarkan.Karena busur refleks terputus oleh lesi di conus medularis atau saraf S3
dan S4,maka tonus kandung kemih hilang dan kandung kemih dinamakan “kandung
keih atonik” .Akibat keadaan tersebut ialah residu air seni setelah pengosongan
dengan penekanan supra pubik ,masih cukup besar.Lama kelamaan sfingter menjadi
longgar dan timbulah interkontinensia.

- Mobilitas yang minim (Restricted Mobility )

Usia lanjut dengan kecenderungan mengalami frekuensi,urgensi,dan nokturia akibat


proses menua akan mengalami inkontinensia jika terjadi gangguan mobilitas karena
gangguan muskuloskeletal ,tirah baring,dan perawatan di rumah sakit.Keterbatasan
mobilitas ini dapat disebabkan karena kondisi nyerti arthritis ,deformitas
panggul,gagal jantung,penglihatan buruk,hipertensi,perasaan takut jatuh ,stroke atau
ketidakseimbangan karena obat-obatan.

-Neurological Disorders

 Parkinson’s disease

Pada Jurnal keluhan traktus urinarius bawah pada demensia dengan lewy
bodies, parkinson dan alzaimer, disebutkan bahwa, prevalensi keluhan trakus
urinarius bawah (LUTS, frekuensi, urgensi,dan urge inkontinensia) pada PD
berhubungan dengan usia, demensia, durasi dan progresivitas keluhan
motorik. Pada demensia dengan lewy bodies (DLB), yang secara klinis
dicirikan dengan demensia progresiv, fluktuasi gangguan kognitif,
perkembangan psikosis sebelumnya, pada saat atau segera setelah gejala motor
Parkinson, inkontinensia urin sebagai keluhan awal, sedangkan alzhaimer
(AD) terjadi pada perkembangan selanjutnya dari penyakit.

Pada studi sekarang, dilakukan investigasi LUTS dan urodinamik serta


sistometri yang berbeda pada PD,DLB dan AD. Kesimpulannya adalah

15
inkontinensia urgensi dan urge dipercaya sebagai overaktivitas detrusor, yang
lebih muncul pada demensia dengan lewy bodies daripada PD dan AD,
sedangkan rerata volume berkemih, aliran air kencing, sistometri kapasitas
kandung kemih, tekanan derusor sama/ mirip pada semua group. Penilaian
frekuensi berkemih tidak dapat dipercaya pada pasien dengan demensia

a. Overaktivitas kandung kemih (DO)

Ketidaknormalan urodinamik fase penyimpanan pada PD meliputi penurunan


kapasitas kandung kemih , bersamaan dengan overaktivitas detrusor (DO),
yang merupakan bentuk kontraksi detrusor involunter pada 45-93% pasien dan
tidak dihambatnya sphincter eksterna yang mengalami penurunan involunter
aktivitas EMG sphincter, biasanya bersamaan dengan DO, pada 33% pasien
PD. Temuan ini menunjukkan disfungsi suprasacral tipe parasimpatis dan
somatik. Lebih dari itu, DO dapat merupakan faktor utama yang berperan
dalam DO kandung kemih pada PD, yang ditemukan sama pada laki- laki dan
perempuan. Ada hubungan antara DO dengan tahap penyakit, sehingga
abnormalitas urodinamik relevan dengan lesi nigrostriatal dan VTA-
mesolimbik pada pasien PD.

b. Kelemahan detrusor ringan dan obstruksi sphincter

Analisis tekanan aliran fase pasca berkemih pada PD menunjukkan aktivitas


detrusor yang lemah selama berkemih ( 40% pada laki- laki dan 66% pada
wanita ). Ada hubungan antara kelemahan detrusor dan tahap penyait. Subset
pada PD memiliki DO selama penyimpanan tetapi memiliki kelemahan
aktivitas derussor pada saat berkemih. Kombinasi ini diperkirakan terjadi pada
18% pasien pada PD. Overaktivitas detrusor ( DO) selama penyimpanan tetapi
mengalami kelemahan aktivitas detrusor pada berkemih terlihat disebabkan
karena faktor multiple daripada tunggal.

Mekanisme yang memungkinkan untuk hal diatas yaitu tidak hanya


penghambatan kandung kemih tetapi juga fasilitasi di area otak. Beberapa
studi sebelumnya , digambarkan dissinergy detrusor sphincter eksterna.
Walaupun demikian, dissinergy detrusor sphincter eksterna ini jarang terjadi.
Sebaliknya, analisis tekanan aliran pasien PD dipercaya bahwa ½ pasien

16
dengan PD memperlihatkan obstruksi yang ringan. Pasien dengan PD
memiliki tekanan urethral istirahat yang tinggi, mungkin akibat minum obat,
seperti levodopa, norepinefrin , yang dapat mengenai sphincter interna lewat
reseptor alfa-1A/D adrenergic. Terlepas dari keluhan berkemih pasien PD,
volume rerata residual pasca berkemih adalah 18 ml dan tidak ditemukan
pasien yang memiliki volume residual pasca berkemih > 100 ml.

 Stroke
 Brain Tumor
 Cedera Tulang Belakang
Penyimpanan urin normal tergantung reflek otonom sakral. Reflek
penyimpanan ini dipikirkan difasilitasi kuat oleh otak, khususnya pusat
penyimpanan pontin. Pusat penyimpanan pontin terletak sebelah ventrolateral
pusat berkemih pontin (PMC). Dan fungsi penyimpanan difasilitasi oleh
hipothalamus, serebelum, ganglia basal, dan kortek frontal. Area – area ini
terlihat diaktivasi selama penyimpanan urin melalui neuroimaging fungsional.

17
5. Sebutkan obat-obatan yang dapat mempengaruhi inkontinensia urin!
Penyebab inkontinensia disingkat dengan akronim DRIP, yang merupakan kependekan
dari (Kane dkk. dalam Pranarka, 2000):
D : Delirium
R : Retriksi, mobilitas, retensi
I : Infeksi, inflamasi, impaksi feses
P : Pharmacy (obat-obatan), poliuri
Obat-obatan merupakan salah satu penyebab utama dari inkonintesia, misalnya diuretika,
antikolinergik, psikotropik, analgesik opioid, alfa bloker, alfa agonis, dan penghambat
kalsium.
Obat-obatan yang dapat menyebabkan atau memperburuk inkontinensia urin
Jenis Obat Contoh Efek
Alpha agonists Nasal Mengencangkan sfingter kandung kemih; Dapat menyebabkan
decongestants urin tertahan di kandung kemih dan kebocoran tidak terkendali
containing urin dalam jumlah kecil (inkontinensia overflow)
pseudoephedrine
Alpha blockers Mengendurkan sfingter kandung kemih dan uretra; Dapat
Doxazosin, menyebabkan inkontinensia saat batuk, tegang, bersin,
prazosin,tamsulosin, mengangkat benda berat, atau menempatkan tekanan lainnya di
terazosin perut (stress inkontinensia)
Antidepressants Mengganggu kontraksi kandung kemih dan memperburuk
Amitriptyline, konstipasi; Dapat menyebabkan urin tertahan dalam kandung
desipramine, kemih dan inkontinensia overflow
nortriptyline
Antihistamines Mengganggu kontraksi kandung kemih dan memperburuk
Chlorpheniramine, konstipasi; Dapat menyebabkan urin tertahan dalam kandung
diphenhydramine kemih dan inkontinensia overflow
Antipsychotics Dapat memperlambat mobilitas dan menyebabkan dorongan
Haloperidol, mendadak untuk buang air kecil diikuti dengan keluarnya
risperidone urin yang tidak terkendali
thioridazine,thiothixene
Calcium Channel Mengganggu kontraksi kandung kemih dan memperburuk
blockers Diltiazem, konstipasi; Dapat menyebabkan urin tertahan dalam kandung
verapamil kemih dan inkontinensia overflow
Diuretics Furosemide, Meningkatkan buang air kecil dengan meningkatkan produksi urin
thiazides
Opioids Morphine Mengganggu kontraksi kandung kemih dan memperburuk
konstipasi; Dapat menyebabkan urin tertahan dalam kandung
kemih dan inkontinensia overflow
Sedatives Diazepam, Dapat memperlambat mobilitas dan memperburuk
flurazepam inkontinensia

18
6. Jelaskan alur diagnosis pada inkontinensia urin!

A. Diagnosis inkontinensia urin bertujuan untuk :


1. menentukan kemungkinan inkontinensia urin tersebut reversible
2. menentukan kondisi yang memerlukan uji diagnostic khusus
3. menentukan jenis penanganan operatif, obat, dan perilaku

 langkah pertama : identifikasi inkontinensia urin melalui observasi langsung atau


mengajukan pertanyaan-pertanyaan penapis. Untuk mencapai tujuan diagnosis
dilakukan pendekatan yang komprehensif beberapa aspek : riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik terarah, urinalisis, volume residu urin pasca berkemih dan
pemeriksaan penunjang khusus. Komponen-komponen evaluasi diagnostic dapat
dilihat pada tabel 6

Tabel 6. Komponen-komponen Pokok Evaluasi Diagnostik


inkontinensia urin
1. semua pasien
 riwayat penyakit termasuk kartu catatan berkemih
 pemeriksaan fisik
 urinalisis
 pengukuran volume residu urin post-miksi
2. pasien dengan kondisi tertentu
 laboratorium
 kultur urin
 sitologi urin
 gula darah, kalsium darah
 uji fungsi ginjal
 USG ginjal
 pemeriksaan ginekologi
 pemeriksaan urologic
 cystouretroskopi
 uji urodinamik
 sampel :
 observasi proses pengosongan kandung kemih
 uji batuk
 cystometri simpel
 kompleks :
 urine flowmetry
 multichannel cystometrogram
 pressure-flow study
 leak-point pressure
 urethral pressure profilometry
 sphincter electromyography
 video urodynamics
Melalui anamnesis kita harus dapat memperkirakan karakteristik
inkontinensia, problem medic dan medikasi yang sedang dijalani, gejala-gejala lain

19
yang sangat mengganggu, dan dampak inkontinensia urin terhadap kualitas hidup
pasien dan orang yang merawatnya. Pemeriksaan fisik lebih ditekankan pada
pemeriksaan abdomen, rectum, genital, dan evaluasi persyarafan lumbosakral.
Pemeriksaan pelvis perempuan penting untuk menemukan beberapa kelainan
seperti prolaps, inflamasi, keganasan. Penilaian khusus terhadap mobilitas pasien,
status mental, kemampuan mengakses toilet akan membantu penanganan pasien
yang holistic. Pencatatan aktivitas berkemih (bladder record atau voiding diary),
baik untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap dapat membantu menetukan jenis
dan beratnya inkontinensia urin serta evaluasi respon terapi. Contoh pencatatan
aktivitas berkemih dapat dilihat pada lampiran. Pengambilan sampel urin untuk
dialysis dengan cara yang benar dapat memberikan informasi tentang adanya
infeksi, sumbatan akibat batu saluran kemih atau tumor. Pemeriksaan residu urin
pasca miksi baik dengan kateter maupun ultrasonografi dapat membantu
menentukan ada tidaknya obstruksi saluran kemih. Bila volume residu urin sekitar
50 ml menunjukkan gambaran inkontinensia tipe stress, sedangkan volume residu
urin lebih 200 cc menunjukkan kelemahan detrusor atau obstruksi.
Pemeriksaan-pemeriksaan dengan prosedur khusus seperti pada tabel hanya
dilakukan pada kasus-kasus dengan riwayat dan pemeriksaan fisik sebagai berikut :
operasi atau radiasi daerah urigenital bawah, infeksi saluran kemih berulang,
prolaps (cystocele) berat, hipertrofi prostat atau kanker, gagalnya kateterisasi
nomor 14, volume residu urin pasca miksi > 200 ml, hematuria tanpa petunjuk
infeksi saluran kemih, dan gagal terapi yang telah diberikan.
Berdasarkan pendekatan diagnostic yang meliputi beberapa aspek, dapat
dipahami bahwa sejak awal evaluasi penderita inkotinensia urin harus bersifat
multidimensi yang sebaiknya dilakukan oleh sebuah tim. Pendekatan multidimensi
ini dikenal dengan pengkajian geriatric khusus inkontinensia urin.

B. pemeriksaan pada inkontinensia urin


1. tes diagnostic pada inkontinensia urin
menurut Ouslender, tes diagnostic pada inkontinensia perlu dilakukan untuk
mengindentifikasi factor yang potensial mengakibatkan inkontinensia,
mengidentifikasi kebutuhan klien dan menentukan tipe inkontinensia.
Mengukur sisa urin setelah berkemih, dilakukan dengan cara :
Setelah buang air kecil, pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter diukur
atau menggunakan pemeriksaan ultrasonic pelvis, bila sisa urin > 100 cc berarti
pengosongan kandung kemih tidak adekuat.
2. Urinalisis
Dilakukan terhadap specimen urin yang bersih untuk mendeteksi adanya factor
yang berperan terhadap terjadinya inkontinensia urin seperti hematuri, piouri,
bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria. Tes diagnostic lanjutan perlu dilanjutkan
bila evaluasi awal didiagnosis belum jelas. Tes lanjutan tersebut adalah :
1. Tes laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin,
kalsium, glukosa sitologi.

20
2. Tes urodinamik adalah unutk mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih
bagian bawah
3. Tes tekanan urethra adalah mengukur tekanan di dalam urethra saat istirahat
dan saat dinamis. Imaging adalah tes terhadap saluran perkemihan bagian atas
dan bawah.

3. Pemeriksaan penunjang
Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan alat-alat mahal.
Sisa-sisa urin pasca berkemih perlu diperkirakan pada pemeriksaan fisik.
Pengukuran yang spesifik dapat dilakukan dengan ultrasound atau kateterisasi
urin. Merembesnya urin pada saat dilakukan penekanan dapat juga dilakukan.
Evaluasi tersebut juga harus dikerjakan ketika kandung kemih penuh dan ada
desakan keinginan untuk berkemih. Diminta untuk batuk ketika sedang di periksa
dalam posisi litothomi atau berdiri. Merembesnya urin seringkali dapat dilihat.
Informasi yang dapat diperoleh antara lain saat pertama ada keinginan berkemih,
ada atau tidak adanya kontraksi kandung kemih tak terkendali, dan kapasitas
kandung kemih.

4. Laboratorium :
Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa dan kalsium serum dikaji untuk menentukan
fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria.

21
7. Jelaskan penatalaksanaan pada inkontinensia urin!

Pengelolaan inkontinensia urin

Metode pengobatan inkontinensia urin ada 3:

1.Teknik Latihan Prilaku (behavioral training)


yang mempelajari dan mempraktekkan cara-cara untuk mengontrol kandung
kemih dan otot-otot sfingter dengan cara latihan kandung kemih(bladder training),cara
latihan otot dasar panggul(pelvic floor exercise).lebih dari separuh pasien tertolong
dengan cara ini tanpa risiko pengobata yang terjadi.

A.Latihan Kandung Kemih

Mengikuti jadwal yang ketat untuk ke kamar kecil,dimulai dengan ke kamar kecil tiap 2
jam,dan waktunya akan makin ditingkatkan.Makin lama waktu yang dicapai untuk
berkemih,makin memberikan peningkatan control terhadap kandung kemih.

Sasaran:

 Memperpanjang waktu untuk ke kamar kecil


 Meningkatkan jumlah urin yang ditahan oleh kandung kemih
 Meningkatkan control pada dorongan rangsangan berkemih menurut jadwal dan
tidak begitu saja saat dorongan berkemih datang
 Mengurangi dan menghilangkan inkontinensia

Cara melakukan latihan kandung kemih:

 Membuat catatan harian berkemih.catat kunjungan ke kamar kecil dan kebocoran


urin selama seminggu.Sedapatnya ukur jumlah urin yang keluar,ini dapat
menggambarkan jumlah urin yang tertahan.
 Pada minggu 1 gunakan kamar kecil ketat menurut jadwal,bila rangsangan
berkemih datang maka ditahan ditunggu sampai jadwal berikutnya.bila dorongan
tidak dapat ditahan silahkan berkemih tetapi catat pada jadwal berkemih
 Taip minggu tingkatkan jadwal berkemih 15 sampai 3 menit sesuai yang dapat
ditoleransi.seiring perbaikan inkontinensia,jadwal terus ditingkatkan.untuk
kebanyakan orang,kunjungan ke kamar kecil tiap 3-6 jam sangat
diharapkan.biarpun sekitar 3 jam sudah cukup baik.
 Catat jumlah urin bocor,berapa jumlahnya,banyak atau beberapa tetes.

B.Latihan menahan dorongan untuk berkemih

 Berdiri tenang atau duduk diam,lebih baik dengan kaki disilangklan ,untuk
mencegah rangsanggan berlebihan.
 Tarik napas teratur dan relaks

22
 Kontraksikan otot-otot dasar panggul beberapa kali,ini akan membantu menutup
urethra dan menenangkan kandung kemmih.
 Alihkan pikiran ke hal lain untuk menjauhkan perhatian dorongan berkemih
 Bila rangsangan berkemih sudah menuru,jangan ke toilet sebelum jadwal
berkemih

C.Latihan otot dasar panggul

Tahun 1948,Arnold Kegel melaporkan perbaikan atau kesembuhan sampai 84% dengan
latihan otot dasar panggul untuk wanita dengan macam-macam tipe inkontinensia.Otot
pelvis seperti hal nya otot lainnya yang dapat menjadi lemah.Latihan otot pelvis
memperkuat otot yang lemah di sekitar kandung kemih.untuk identiikasi otot yang tepat
bayangkan kita sedang menahan untuk tidak flatus,otot yang digunakan untuk menahan
flatus inilah otot yang ingin kita latih.

 Lakukan latihan otot dasar panggul beberpa kali sehari sekitar 10 menit
 Praktekkan setiap waktu dan tempat.Paling baik saat berbaring ditempat
tidur.setelah menguasai metodenya,lakukan juga saat duduk dan berdiri
 Jangan memakai otot perut,paha dan betis saat latihan dan bernapaslah biasa saja

Setelah 4-6 minggu melakukan latihan ini dengan teratur akan terasa berkurangnya
Kebocoran.

Hasil latihan diatas memiliki hasil yang sangat memuaskan .

2.obat-obatan

Jenis Mekanisme Tipe Efek samping Nama obat dan dosis


Obat inkontinen
sia
Anti  Menigkat Urgensi  Mulut  Oksibutinin:2,5-5 mg
kolinergi kan atau stress kering bid
k kapasitas dengan  Penglihata  Tolterodine :2 mg
Dan anti vesika instabilitas n kabur bid
spasmodi urinaria. detrusor  Peningkata  Propanthelin:15-30
c  Menguran atau n TIO mg tid
gi hiperefleksi  Konstipasi  Dicyclomine:10-20
involunter a  Delirium mg
vesika  Imipramine :10-50
urinaria mg tid
a- Meningkatkan Tipe stress  Sakit  Pseudofedrin:15-30
adrenergi kontraksi otot dengan kepala mg tid
k agonis polos urethra kelemhan  Takikardi  Phenylpropanolamin
spingter e:75 mg bid

23
 Peningkata  Imipramine :10-50
n tekanan mg tid
darah

Estrogen Meningkatkan Tipe  Kanker  Oral:0,625 mg/hr


agonis aliran darah stress,tipe endometria  Topical”0,5-1,0 gr
periurethra urgensi  Peningkata per aplikasi
yang n tekanan
berhubunga darah
n dengan  Batu
vaginitis saluran
atropi kemih
Kolinergi Menstimulasi Tipe luapan  Bradikardi  Benthanechol:10-30
k agonis kontraksi vesika atau  Hipotensi mg tid
urinaria overflow  Bronkokon
dengan striksi
vesika  Sekresi
urinaria asam
atonik lambung
a- Merelaksasikan Tipe luapan  Hipotensi  Terasozine:1-10
adrenergi otot polos urethra dan urgensi postural mg/hari
k dan kapsul yang
antagonis prostat berhubunga
n dengan
pembesaran
prostat

3.Pembedahan
Merupakan pilihan terakhir yang dilakukan apabila latihan dan obat-obatan tidak berhasil
menangani inkontinensia nya,kadang juga bedah merupakan pilihan dari penderita
sendiri.tindakan bedah yang dilakukan bisa sphincerektomi,operasi prostat,atau operasi
prolapse Rahim.

Yang sering dikerjakan pada pada penderita inkontinensia lanjut usia adalah pemasangan
kateter secara menetap.Ada 3 macam cara kateterisasi pada inkontinensia urin(Reuben
dkk):

1. Kateterisasi luar:
Memakai system kateter-kondom.Efek samping adalah iritasi kullit dan sering
lepas,ada laporan insidensi infeksi saluran kemih meningkat.biasanya digunakan
pada pria yang tidak menderita retensio urin dan mobilitasnya masih cukup
baik.sudah mulai diperkenalkan pada eanita tapi manfaatnya belunm memuaskan

24
2. Kateterisasi intermitten:

Dapat dicoba,terutama pada wanita lanjut usia yang menderita


inkontinensia.Frekuensi pemasangan nya 2 hingga 4x sehari dengan sangta
memperhatikan sterilitas dan teknik prosedurnya.

3. Kateterisasi menetap:
Harus benar-benar dibatasi padaindikasi yang yepat.Misalnya untuk ulkus
decubitus yang
terganggu penyembuhannya karena adanya inkontinensia urin ini.Komplikasi
kateterisasi ini disamping infeksi,juga mungkin menyebabkan batu kandung
kemih,abses ginjal dan bahkan proses dari keganasan dari saluran kemih.

Terdapat produk-produk untuk inkontinensia yang dapat diberikan sebagai pelengkap


terapi untuk meningkatkan kenyamanan dan percaya diri.Dapat dibagi menjadi
bebrapa kategori:
 Peyerap
 Drainase/penyalur urin
 Penyekat urin
 alat-alat bantu berkemih di kamar kecil
 alat pelengkap untuk terapi perilaku
 Alat-alat perawatab kulit
 Produk penyerap berguna untuk menyerap dan menanpung kebocoran urin
pendeira,produk ini dapat membantu untuk kontinens sosial;ada 2 macam:
 Penyerao di tempat tidur
 Dipakai sebagai pakaian dalam

Biasanya terdiri dari 3 lapisan untuk mendapat hasil yang memuaskan.Urin


dijauhkan dari kulit dan diserap lapisan penyerap sehingga kulit diupayakan tetap
kering.Jenis penyerap ada yang sekali pakai ada yang dapat digunakan lagi,juga ada yang
penggunaannya siang atau malam,atau sama saja.aspek pentingny adalah menajga
kesehatan kulit jangan sampai terjadi dermatitis atau kelainan kulit lainnya.

 Stimulasi elektrik
Dipakai suatuprobe lewat anal atau rektal untuk merangsang saraf pufendus
mengakibatkan kontraksi maksimal otot dasar panggul dan relaksasi otot
detrusor.ini dapat menolong penderita dengan kelemahan otot dasar panggul yang
berat atau aktifitas berlebihan dari otot kandung kemih yang tidak respons
terhadap terapi prilaku atau obat-obatan
 Pessarium
Ada beberapa ukuran yang diletakkan di vagina untuk mencegah prolapse Rahim
 Klemp penis
Untuk penderita sehabis operasi prostate dan masih ada kebocoran urin saat
aktifitas.klem dibuka saat mau berkemih dan saat waktu tidur
 Kateter

25
8. Jelaskan efek penuaan pada struktur organ pada manusia!

Menua adalah penurunan seiring waktu yang terjadi pada sebagian besar makhluk hidup,
yang berupa kelemahan, meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan perubahan
lingkungan, serta hilangnya mobilitas dan ketangkasan serta perubahan fisiologis yang
terkait usia.

Dalam proses menua dipergunakan beberapa istilah yang digunakan oleh gerontologis:

1. Aging (bertambahnya umur) : menunjukkan efek waktu, proses perubahan,


biasanya bertahap.
2. Senescence (menjadi tua) : hilangnya kemampuan sel untuk membelah dan
berkembang
3. Homeostenosis : penyempitan atau berkurangnya cadangan hemeostatis yang
terjadi selama penuaan pada setiap organ

Fisiologi proses menua

Fisiologi proses penuaan tidak dapat dilepaskan dengan pengenalan konsep hemeostenosis.
Konsep ini diperkenalkan oleh Walter Cannon pada tahun 1940.

Seiring bertambahnya usia jumlah cadangan fisiologis untuk menghadapi berbagai


perubahan yang mengganggu homeostasis berkurang. Setiap yang mengganggu
homeostasis akan mengakibatkan pergerakan yang menjauhi keadaan dasar, dan semakin
besar yang terjadi maka semakin besar pula cadangan fisiologis yang diperlukan untuk
kembali ke homeostasis. Disisi lain dengan makin berkurangnya cadangan fisiologis, maka
seseorang lanjut usia lebih mudah mencapai ambang yang dapat berupa keadaan sakit atau
kematian akibat gangguan homeostasis. Seorang lanjut usia tidak hanya memiliki cadangan
fisiologis yang semakin berkurang, namun mereka juga memakai cadangan fisiologis itu
hanya untuk mempertahankan homeostasis. Akibatnya, semakin sedikit cadangan yang
tersedia untuk menghadapi gangguan homeostasis.

26
Disregulasi Homeostasis Pada Usia Lanjut

Konsep Contoh
Homeostenosis Pengurangan kapasitas untuk merespon dari
berbagai gangguan homeostasis seperti
dehidrasi
Penurunan Fisiologi Kehilangan neuron atau ketidakmampuan
glomerulus dalam memfiltrasi
Kehilangan kompleksitas Penurunan massa tulang
Kehilangan Feed-back negatif Ketersediaan dari kortikosteroid untuk
menurunkan aktivitas regulasi pada sistem
hipotalamus-pituitary-adrenal melalui
feedback negatif sehingga mengalami
penurunan
Penurunan respon organ bawah Ketersediaan dari katekolamin perifer untuk
meningkatkan detak jantung via beta-
adrenergic-reseptor

Penuaan pada Sistem Organ:

1. Aspek Sel dan Neurochemical pada Bertambahnya Umur Otak Manusia


Otak memiliki banyak sel dan molekul yang mengkoordniasi dengan sistem organ
lain, termasuk dalam kerusakan oksidatif pada protein, asam nulkeat dan membran
lipid, metabolisme dan akumulasi dari agregasi protein pada intraselular dan
ekstraselular.
a. Perubahan struktur pada bertambahnya umur otak

Semua tipe sel besar didalam otak akan berubah strukturnya selama proses
bertambahnya usia. Disini termasuk terjadi kematian sel, retraksi dan ekspansi
dendritik, kehilangan sinaps dan remodeling, dan pengaktifan sel glial (astrosit
dan mikroglia). Struktur berubah sebagai dampak dari perubahan pada protein
sitoskeletal dan disposisi dari protein sebagai alfa-synuklein didalam sel dan
amiloid didalam rongga ekstaselular. Perubahan didalam selular memberikan
sinyal pathways yang mengontrol dalam perkembangan sel dan kematian sel
yang akan berkontribusi baik dalam adaptive maupun perubahan struktur
patologis pada bertambahnya usia otak.

Perubahan Sitoskeletal dan Sinaps

Sel sitoskeletal berasal dari diferensiasi polimer dan komposisi protein. Dari
tiga tipe besar polimer yaitu aktin mikrofilamen (Diameter 6 nm), mikrotubulus
(D = 25 nm) dan filamen intermediete (D = 10-15 nm). Untuk proses regulasi
dari filamen berkumpul dan berpolimerasi dan akan membuat link sitoskeleton
untuk membran dan struktur sel lain, neuron dan sel glial akan berkerja dengan
memperlebar dari asosisasi-sitoskeleton protein. Sebagai contoh, ekspresi
beberapa neuron mikrotubuli-asosiasi-protein (MAPs) adalah berdiferensiasi
didistribusi dari kompleks arsitektur sell; MAP-2 yang ada didalam dendrit tapi

27
tidak didalam akson, dimana tau ada didalam akson tapi tidak didalam dendrit.
Sedangkan disana tidak ada perubahan besar pada level yang protein sitoskeletal
dengan jumlah yang cukup banyak dan di modifikasi posttransisi dari protein
sitoskeletal.

Sinaps adalah struktur dinamis spesialisasi dimana neurotransmisi dan


pemberian sinyal intraselular terjadi. Disana terjadi sinaps “remodeling” pada
otak ketika bertambah usia, seperti jumlah pergantian hubungan dendrit dan
neuron. Sebagai contoh, terdapat penurunan pada jumlah sinaps dibeberapa
bagian otak tetapi disana terdapat peningkatan ukuran dari remaining sinaps.
Pada bertambahnya usia, perubahan pada neuron sitoskeleton dan sinaps akan
berakibat pada degeneratif neuro seperti pada Alzeimer, Parkinson, dan
Huntington.

Perubahan Vaskular

Pada sistem organ yang lain, pembuluh darah sebagai pengsuplai darah untuk
otak dimana ketika terjadi pertambahan usia maka akan terjadi aterosklerosis
dan arteriosklerosis, dimana pembuluh darah akan lebih rentan terjadinya oklusi
atau ruptur (stroke) , yang merupakan penyebab utama dari disabitilas dan
kematian pada lansia.

Akumulasi Amiloid

Pertambahan plak amiolid lebih berat pada bagian otak yang mengatur proses
belajar dan proses memori seperti hipocampus dan korteks entorhinal. Pada
Alzheimer, pertambahan antagonis Beta didalam otak berkolerasi dengan
jumlah degenerasi neuron dan dengan hubungan kognitif.

Radikal Bebas dan Pertambahan Usia Otak

Molekul radikal bebas adalah molekul dimana tidak memiliki pasangan elektron
pada orbital terluar. Dalam sistem biologi, oksigen merupakan molekul yang
paling predominan pada radikal bebas. Radikaloksi adalah sel Oksigen yaitu
superoksida, dimana generasi selama proses transpor elektron di mitokondria;
superokside tidak bermutasi dan mengeliminasi oksigen sehingga bergabung
dengan hidrogen dan kemudian menyertakan hidrogen proksida. Hidrogen
peroksida menjadi radikal hidroksil melalui reaksi Fenton, dimana reaksi
tersebut dikabalis oleh Fe2+ dan Cu+. Peroksinitrit ada dari interaksi nitrit oksida
dengan oksigen; influks kalsium adalah stimulus terbesar pada produksi NO.
Sedangkan hidroksil radikal dan peroksinitrit dapat menyebabkan kerusakan
pritein dan DNA, mereka penyebab terbesar dari kerusakan sel oleh asam lemak
pada membran yang melalui proses inisiasi yang disebut Peroksidasi Lemak.

28
Mekanisme dari Stress Oksidative pada Pertambahan Usia dan
Neurodegeneratif

Oksiradikal pada mitokondria berada pada daerah sentral dari akumulasi


oksidatif pada kerusakan. Hubungan usia pada ketersediaan energi dan
metabolisme berkontribusi untuk akselerasi dari produksi oksiradikal dengan
pertambahan usia. Level pada stress oksidasi juga mereduksi pada retriksi-
kalori otak.

2. Perubahan yang terjadi pada Sistem Tubuh dikarenakan Proses Menua


Sistem Endokrin  Toleransi glukosa terganggu,
 Penurunan yang bermakna pada
dehidroepiandrosteron (DHEA)
 Penurunan testosteron bebas
maupun yang bioavailable
 Penurunan hormon T3
 Peningkatan hormon paratiroid
(PTH)
 Penurunan produksi vitamin D oleh
kulit
 Menurunnya hormon ovarium
 Peningkatan kadar homosistein
serum
Kardiovaskular  Berkurangnya pengisian ventrikel
kiri
 Hipertrofi atrium kiri
 Arterosklerosis
 Arteriosklerosis
Tekanan Darah  Berkurangnya vasodilatasi yang
dimediasi beta-adrenergik
 Vasokonstriksi yang dimediasi
alfa-adrenergik tidak berubah
 Terganggunya perfusi autoregulasi
otak
Pulmo  Meningkatnya volume residual
 Berkurangnya efektivitas batuk
 Berkurangnya difusi CO
 Berkurangnya respons ventilasi
akibat hiperkapnia
 Membesarnya duktus alveolaris
akibat berkurangnya elasitas
struktur penyangga parenkim paru,
menyebabkan berkurangnya area
permukaan
Hematologi  Berkurangnya cadangan sumsum
tulang akibat kebutuhan yang
meningkat

29
Ginjal  Menurunnya laju filtrasi
glomerulus
 Penurunan massa ginjal
 Berkurangnya produksi nitrit
oksida
Regulasi Suhu Tubuh  Berkurangnya produksi keringat
Otot  Massa otot berkurang secara
bermakna karena berkurangnya
serat otot
 Peningkatan fatigabilitas
Tulang  Berkurangnya osteoblas tulang
 Meningkatnya osteoklas tulang
Sistem Saraf Perifer  Hilangnya neuron motor spinal
 Berkurangnya sensitivitas termal
 Berkurangnya sensasi getar
Sistem Saraf Pusat  Berkurangnya massa otak
 Proliferasi astrosit
 Berkurangnya mielin dan total lipid
otak
 Meningkatnya aktivitas monoamin
oksidase
GI  Berkurangnya absorpsi kalsium
 Berkurangnya kontraksi kolon yang
efektif
 Terganggunya clearance obat oleh
hati sehingga membutuhkan
metabolisme fase 1 yang lebih
ekstensif
Penglihatan  Kekeruhan pada lensa
 Presbiopia
 Berkurangnya lakrimasi
Penghidu  Deteksi penghidu berkurang 50%
Haus  Terganggunya kontrol haus oleh
endofrin
Keseimbangan  Berkurangnya jumlah sel rambut
pada organ corti
 Meningkatnya respons ambang
vestibuler
Pendengaran  Defisir pada proses sentral
 Kesulitan membedakan sumber
bunyi
Sistem Imun  Berkurangnya imunitas yang
dimediasi sel
 Rendahnya afinitas produksi
antibody
Fungsi Kognitif  Kemampuan meningkatkan fungsi
intelektual berkurang

30
 Berkurangnya efisiensi transmisi
saraf diotak
 Berkurangnya kemampuan
akumulasi informasi baru dan
mengambil informasi dari memori
 Kemampuan mengingat kejadian
masa lalu lebih baik dibandingkan
kemampuan mengingat kejadian
yang baru saja terjadi

31
9. Jelaskan hubungan stroke dengan inkontinensia urine!

Stroke di definisikan sebagai suatu manifestasi klinik gangguan peredaran darah otak
yang menyebabkan defisit neurologik (WHO,1971).Inkontinensia urine dapat berasal
dari kelainan neurologik misalnya stroke, dimana saat seseorang yang menderita stroke
dapat mengalami inkontinensia urine. Pada skenario pasien pernah memiliki riwayat
stroke, dimana stroke dapat menyebabkan defisit neurologis bergantung pada lokasi lesi
(pembuluh darah mana yang tersumbat) jika diketahui letak lesi di medula spinalis maka
pasien tersebut tidak dapat membawa informasi tentang isi kandung kemih ke medula
spinalis. Sehingga pasien tidak dapat merasakan sensasi kapan ia akan berkemih dan jika
adanya gangguan di lobus frontalis akan menyebabkan seseorang pasien stroke sulit
untuk menunda berkemih. Stroke dapat menyebabkan gangguan pada pusat-pusat di
korteks di lobus frontalis. dimana dapat terjadi kerusakan fungsi kognitif, fungsi kognitif
ini merupakan kemampuan seseorang untuk menerima , mengolah,menyimpan dan
menggunakan kembali semua masukan sensorik secara baik. Fungsi kognitif terdiri dari
unsur-unsur : memperhatikan (atensi), mengingat (memori), mengerti
pembicaraan/berkomunikasi (bahasa), bergerak (motorik) dan
merencanakan/melaksanakan keputusan (eksekutif). Pada penderita stroke kadang-kadang
kontrol sfingter urinarius eksternal hilang dan berkurang,maka pasien akan mudah
mengompol atau urin pasien dapat keluar spontan tanpa dapat dikontrol.

32
10. Jelaskan proses diuresis normal dan inkontinensia urin!
Proses berkemih yang normal adalah suatu proses dinamik yang secara fisiologik
berlangsung dibawah kontrol dan koordinasi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi di
daerah sakrum . Saat periode pengisian kandung kemih , tekanan didalamnya tetap rendah
(dibawah 15mmH2O) . Sensasi pertama ingin berkemih biasanya timbul pada saat volume
kandung kemih mencapai antara 150- 350 ml . kapasitas kandung kemih normal bervariasi
sekitar 300- 600 ml . Umumnya kandung kemih dapat menampung urin sampai lebih
kurang 500 ml tanpa terjadi kebocoran . Bila proses berkemih terjadi , otot otot detrusor
dari kandung kemih berkontraksi , diikuti relaksasi dari sfingter dan uretra (Van der
Cammen dkk) . Secara sederhana dapat digambarkan , saat proses berkemih dimulai
tekanan dari otot otot detrusor kandung kemih meningkat melebihi tahanan dari muara
uretra dan urin akan memancar keluar (Reuben dkk.)
Secara garis besar , diatur oleh pusat refleks kemih di daerah sakrum . Jaras aferen lewat
persarafan somatik dan otonom membawa informasi tentang isi kandung kemih ke medulla
spinalis sesuai pengisian kandung kemih . Tonus simpatik akan menyebabkan penutupan
kandung kemih dan menghambat tonus parasimpatik . Pada saat proses berkemih
berlangsung tonus simpatik menrun dan peningkatan rangsang parasimpatik
mengakibatkan kontraksi kandung kemih . Semua ini berlangsung dibawah dari koordinasi
dari pusat yang lebih tinggi dari batang otak , otak kecil dan korteks serebri .
Mekanisme Detrusor
Otot detrusor kandung kemih merupakan otot otot yang beranyaman dan bersifat
kontraktil . Mekanisme detrusor melibatkan otot detrusor , persyarafan pelvis , medulla
spinalis dan pusat pusat di otak yang mengatur proses berkemih . Bila kandung kemih
makin terisi dengan urin , sensasi syaraf diteruskan lewat persyarafan pelvis dan medulla
spinalis ke pusat pusat sub-kortikal dengan korteks . Pusat sub-kortikal di ganglia basalis
pada serebellum memerintahkan kandung kemih untuk relaksasi ; dengan demikian proses
pengisian berlanjut ,perasaan regangan kandung kemih mencapai pusat kesadaran .
Selanjutnya pusat di korteks di lobulus frontalis akan mengatur untuk menunda berkemih .
gangguan pada pusat pusat di korteks atau sub kortikal ini akibat penyakit atau obat obatan
dapat menurunkan kemampuan untuk menunda berkemih . Bila dikehendaki untuk
berkemih , rangsang dari korteks diteruskan lewat medulla spinalis dan persayarafan pelvis

33
mengakibatkan kontraksi dari otot otot detrusor . Kerja kolinergik dati persayarafan pelvis
mengakibatkan konraksi dari otot otot detrusor . Otot otot ini juga mempunyai reseptor
untuk prostaglandin , sehingga obat obat yang menghambat prostaglandin dapat
menggangu kerja detrusor . Kontraksi kandug kemih juga tergantung ion kalsium , sehingga
penghambat kalsium juga dapat menggangu kontraksi kandung kemih .

Mekanisme sfingter
Aktifitas alfa adregenik menyebabkan sfingter uretra berkontraksi , Inervasi beta
adregenik menyebabkan relaksasi dari sfingter urethra . Hubungan anatomic antara urethra
dengan kandung kemih dan rongga perut . Mekanisme sfingter yang terkendali
membutuhkan sudut yang tepat antara urethra dan kandung kemih . Fungsi sfingter yang
normal juga tergantung dari posisi yang tepat dari urethra sehingga peningkatan tekanan
intra abdominal dapat secara efektif diteruskanke urethra .
Secara umum dengan bertambahnya usia kapasitas kandung kemih menurun.sisa urin
dalam kandung kemih , setiap selsai berkemih cenderung meningkat dan kontraksi otot otot
kandung kemih yang tidak teratur makin sering terjadi . Kontraksi invoulnter ini ditemukan
pada 40-75% orang lanjut usia yang mengalami inkontinensia.

34
11. Jelaskan upaya preventif untuk inkontinensia urin pada Lansia!

Perubahan gaya hidup

Perubahan gaya hidup seringkali dapat membantu seseorang dalam mengatasi


inkontinensia, antara lain dengan :

 Menurunkan berat badan


o Kelebihan berat badan kerap kali dihubungkan dengan berbagai masalah
kesehatan, salah satunya adalah kelainan dasar panggul, termasuk
inkontinensia urin. Orang dengan berat badan atau IMT yang tinggi
memiliki peningkatan resiko terjadinya inkontinensia urin. Ada beberapa
alasan mekanik dan fisiologi mengapa peningkatan IMT dikaitkan dengan
inkontinensia urin. Semakin tinggi IMT seseorang maka diikutii
peningkatan tekanan intra abdomennya yang semakin tinggi. Tentu saja
peningkatan ini akan semakin menekan dasar panggul dan mengurangi
kemampuan pengendalian uretra dan kandung kemih. Pada keadaan ini
besarnya peningkatan tekanan intra abdomen mampu untuk menekan urin
ke uretra dengan sangat mudah. (Luber, 2004; Greer et al., 2008).

 Melakukan Olahraga
o Untuk menguatkan kembali otot-otot dasar panggul yang telah melemah.
Senam Kegel merupakan salah satu cara untuk membantu menguatkan
kembali otot panggul anda.

Cara melakukan senam Kegel adalah dengan membuat otot-otot dasar


panggul anda berkontraksi, seperti saat anda sedang berusaha untuk
menghentikan aliran air kemih anda. Pertahankah kontraksi otot ini selama
10 detik dilanjutkan dengan merelaksasikannya selama 10 detik. Ulangi
gerakan ini sebanyak 30-40 kali setiap harinya untuk membantu
menguatkan kembali otot-otot dasar panggul anda.

35
 Menghindari Konsumsi kafein
o Kafein. Sama seperti alkohol, kafein juga menstimulasi kandung kemih
untuk mengeluarkan cairan dan menimbulkan rasa tergesa – gesa bagi
anda untuk buang air kecil.

 Latihan kandung kemih


o Otot pelvis dapat juga lemah seperti otot – otot yang lain. Latihan ini
berguna untuk memperkuat otot-otot yang lemah sekitar kandung kemih.
Untuk identifikasi otot yang tepat, bayangkan kita sedang menahan untuk
tidak flatus. Otot yang diapaki untuk menahan flatus itulah yang akan
digunakan.

 Dilakukan beberapa kali sehari sekitar 10 menit


 Praktekan di setiap waktu dan tempat, paling baik saat berbaring di tempat tidur.
Jika sudah menguasai metodenya lakukan juga saat duduk dan berdiri.
 Jangan memakai otot-otot perut, paha dan betissaat latihan dan bernapaslah seperti
biasa.

36
DAFTAR PUSTAKA

Boedhi-Darmojo dan Hadi Martono. 2013. Buku Ajar Geriatri Kesehatan Usia Lanjut Ed. 5.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Darmojo Boedhi. 2011.Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut cetakan ke-3 edisi ke-4. Jakarta :
Fakultas kedokteran universitas Indonesia .

Halter, Jeffrey B, dkk. 2009. Hazzard’s Geriatric Medicine and Geronrology Ed: 6. US: Mc
Graw Hill

Mardjono,mahar.2002.Neurologi Klinis Dasar.Jakarta:Dian Rakyat.

Mark H. Beers, Thomas V. Jones, M.D. 2005. The Merck Manual of Health and Aging.
Ballantine Books.

Muttaqin,Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Salemba Medika : Jakarta.

Ropper AH,Samuels MA.Chapter 44.Diseases of the spinal cord.In:Ropper AH,Samuels MA


,eds.Adams and Victor’s Principles of Neurology ,9th ed.New York:McGraw Hill.

Setiani,Siti,dkk.2014.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3 Edisi 6.Jakarta: Interna


Pubishing.

Utama,Hendra.2009. Buku Ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI (Ilmu Kesehatan Usia


Lanjut) Edisi ke – 4. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

www.mayoclinic.org

www.medkes.com

37