Anda di halaman 1dari 2

Halaman 6-8

Kaplan dkk mendapatkan hasil bahwa bayi mengalami inisiasi fototerapi pada usia <72 tahun
memiliki faktor risiko untuk mengalami relaps, walaupun pada penelitian ini, dikatakan
rebound jika terjadinya peningkatan kadar TSB pada terminasi/akhir fototerapi. Sebagian
besar penelitian sebelumnya tidak memeriksa kadar TSB sebagai faktor risiko dari
hiperbilirubinemia berulang/rebound. Seperti pada percobaan Bansal dkk,tidak ada perbedaan
antara fototerapi berulang pada bayi yang dipilih secara acak dengan fototerapi yang tidak
diteruskan pada level TSB ≥1 mg/dL versus ≥3 mg/dl dibawah dari ambang fototerapi (5 dari
25 vs 5 dari 27, dengan nilai P=0,58), namun ini hanya penelitian kecil, melibatkan 52 bayi
yang lahir <36 minggu.

Prediktor lainnya yang dapat menentukan rebound hiperbilirubinemia adalah asupan nutrisi
yang diberikan dirumah sakit selama fototerapi dan saat fototerapi lanjutan dirumah.
Banyaknya asupan nutrisi yang diberikan berhubungan dengan odds rendah pada rebound
hiperbilirubinemia. Hal yang menarik adalah, nilai OR antara 4-6 nutrisi yang diberikan
(0,63) sama dengan nilai OR pada pemberian nutrisi yang diberikan saat fototerapi dirumah
(OR=0,62) dan 1mg/dL menurunkan kadar TSB saat akhir fototerapi (OR=0,68). Hasil ini
menunjukkan bahwa untuk kedepannya dokter dapat menurunkan risiko terjadinya rebound
hiperbilirubinemia dengan memberikan suplemen formula, melanjutkan fototerapi dirumah
(jika memungkinkan) atau menurunkan kadar TSB relatif dengan memberikan tambahan 1
mg/dL pada fototerapi terminasi.

Walaupun pada direct antiglobulin test (DAT) positif menunjukkan OR yang signifikan pada
analisis semu, pada analisis sebenarnya nilai OR hanya didapatkan 1,37 (CI 95%, 0,90-2,07),
kemungkinan karena nilai DAT positif menyebabkan bayi masuk dalam kelompok high risk,
dengan ambang fototerapi lebih rendah. Perubahan ini menurunkan perbedaan antara nilai
TSB terakhir dengan nilai ambang. Jadi, efek DAT dinilai berdasakan perbedaan antara nilai
TSB terakhir dan nilai ambang fototerapi.

Pada penelitian kohort ini, 34% bayi dapat berhenti dilakukan fototerapi lebih cepat dengan
risiko 4% untuk terjadi rebound hiperbilirubinemia. Keputusan untuk berhenti dilakukan
fototerapi berdasarkan dengan menyesuaikan dan menyeimbangkan antara risiko dan biaya
yang dikeluarkan untuk treatment dengan manfaat untuk menurunkan risiko terjadi rebound
hiperbilirubinemia. Dirawat dirumah sakit, merupakan hal menyedikan bagi keluarga, dan
fototerapi akan mengganggu proses menyusui dan ikatan antara bayi dan keluarga. Selain itu,
terdapat bukti kuat yang menunjukkan adanya hubungan antara nevus melanositik dan kanker
pada bayi, terutama acute myeloid leukemia (AML). Peneliti memaparkan skor prediksi
untuk mengetahui kemungkinan terjadinya rebound hiperbilirubinemia sehingga dapat
membantu dokter/pemeriksa dan keluarga dalam menentukan keputusan, berdasarkan nilai
faktor risiko terhadap rebound hiperbilirubinemia, dan kapan untuk berhenti dilakukan
fototerapi. Contohnya pasien dengan masa kehamilan 37 minggu, dilakukan fototerapi awal
pada usia 4 hari. Pemberhentian fototerapi dilakukan ketika nilai TSB 5 mg/dl dibawah
ambang dengan nilai 17 dan kemungkinan terjadinya rebound hiperbilirubinemia sebesar
2,8%. Sedangkan angka rebound akan meningkat hingga 6% jika nilai TSB <3 mg/dL dan
12,3% pada nilai TSB <1 mg/dL. Pada bayi yang rutin dilakukan follow up kadar TSB,
sangat jarang terjadi fototerapi dalam waktu dekat. Disamping itu, pada keluarga bayi
dengan high risk 10-15% dapat dipercaya,

Penelitian ini tentu terdapat kelemahannya. Satu dari variabel prediktor, kadar TSB pada
fototerapi terminasi, dapat diperkirakan dari extrapolation untuk subjek utama, yang mungkin
memperburuk aturan dalam memprediksi. Namun, kami membayangkan pemeriksa
menggunakan aturan ini untuk memutuskan kapan fototerapi dilanjutkan ketika hasil TSB
telah ada. Selanjutnya, pemeriksa akan mengetahui TSB saat akhir terminasi tanpa perlu
berandai-andai/memperkirakan. Hasil pada subjek dengan mengetahui nilai TSB pada
fototerapi terminasi/akhir telah diketahui lebih baik dibandingkan berandai-andai, nilai
AUROC menunjukkan angka 0,9.

Selain itu, peneliti membuat variabel fototerapi dirumah menggunakan alat, maka dari itu
peneliti tidak mengetahui bagaimana dan kapan fototerapi dapat dilakukan. Mungkin dapat
dilakukan pada bayi yang telah menyelesaikan fototerapi dan pada 72 jam selanjutnya tidak
ada penurunan nilai TSB. Penggunaan fototerapi dirumah dan kelemahan lainnya, tidak dapat
diketahui pada penelitian ini dan fototerapi dirumah hanya merupakan suatu pilihan. Peneliti
juga hanya memeriksa rebound hiperbilirubinemia pada saat pertama kali dirawat inap untuk
dillakukan fototerapi. Jadi, peneliti tidak dapat memvalidasi dari prediksi yang dilakukan,
dapat dijadikan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.

Kesimpulan:

Rebound hiperbilirubinemia dapat diprediksi dengan melihat usia kehamilan bayi, usia
pertama dilakukan fototerapi, dan relatif TSB pada fototerapi terminasi. Pada bayi dengan
nilai <20, fototerapi dapat dihentikan dengan nilai <4% untuk terjadi rebound
hiperbilirubinemia. Implementasi klinis prediksi ini via a Web-based calculator atau integrasi
hingga rekam medik elektronik dapat membantu dokter dalam menentukan kapan fototerapi
dihentikan.