Anda di halaman 1dari 7

ANALISA JURNAL

EFEKTIFITAS TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM DAN


GUIDED IMAGERY TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA
PASIEN POST OPERASI SECTIO CAESAREA

Disusun Oleh :
Liniyatul Husniyah (070116B038)
Rian Elfina (070116B059)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
UNGARAN
2017
ANALISIS JURNAL

1. LATAR BELAKANG
Penjelasan pada latar belakang sudah menggambarkan latar belakang
diambilnya suatu masalah penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan deduktif, dimana dari masalah secara umum yang timbul pada ibu
post operasi sectio caesarea, kemudian menjelaskan alternative yang bisa
digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut, selanjutnya menjelaskan
cara yang bisa digunakan untuk mengurangi nyeri post operasi sectio caesarea

2. METODE PENELITIAN
a. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan
metode penelitian quasi eksperimen dengan pre-post tes tanpa kelompok
kontrol. Teknik pengambilan sampel yaitu Accidental Sampling.
SARAN:
Desain penelitian analitik pra eksperimental dengan pendekatan two-
group pretest-post test design agar dapat melihat sejauh mana perubahan
skala nyeri pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi.
b. Jumlah sampel sebanyak 20 responden ibu post operasi sectio
caesarea
c. Instrument/alat ukur: Instrumen yang digunakan yaitu berupa lembar
observasi yang berisi tentang data umum responden, dan lembar isian
nyeri yang terdiri dari nomor, inisial, umur, jam post operasi sectio
caesarea, jam terjadinya nyeri, hasil skala nyeri sebelum dilakukan
tindakan, lama dan jumlah tindakan, dan hasil skala nyeri sesudah
dilakukan tindakan serta lembar intensitas nyeri berupa skala intensitas
nyeri 10 poin dengan kata-kata penjelas dan prosedur teknik relaksasi
nafas dalam dan guided imagery. Teknik pengambilan sampel yaitu
Accidental Sampling dimana didapatkan sampel sebanyak 20 responden.
Hanya menggunakan satu kelompok pre-post tes tanpa kelompok control.
SARAN:
Dalam penelitian ini belum dijelaskan mengenai kapan nyerinya
diukur, belum ada instrument yang digunakan untuk mengetahui skala
intensitas nyeri.
Sebaiknya untuk mengetahui skala nyeri dilakukan dengan
wawancara untuk menilai sejauh mana penurunan skala nyeri karena pada
proses wawancara bisa menilai skala atau intensitas nyeri dengan meilhat
fokus klien, reaksi non verbal responden, serta bisa ditambahkan
mengenai tanda, gejala fisik dan tanda-tanda vitalnya.

3. HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji paired sample t test pada
tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Nilai mean sebelum dilakukan teknik
relaksasi nafas dalam dan guided imagery yaitu 6,15 sedangkan sesudah
dilakukan teknik relaksasi nafas dalam dan guidedimagery yaitu 3,05. Hasil
analisis diperoleh nilai p=0,000 dengan kata lain p<0,05 maka Ho ditolak
yang berarti bahwa Adanya perubahan intensitas nyeri sebelum dan sesudah
dilakukan teknik relaksasi nafas dalam dan guided imagery.
Relaksasi adalah sebuah keadaan dimana seseorang terbebas dari tekanan
dan kecemasan atau kembalinya keseimbangan (equilibrium) setelah
terjadinya gangguan.Tujuan dari teknik relaksasi adalah mencapai keadaan
relaksasi menyeluruh, mencakup keadaan relaksasi secara fisiologis, secara
kognitif, dan secara behavioral. Secara fisiologis, keadaan relaksasi ditandai
dengan penurunan kadar epinefrin dan non epinefrin dalam darah, penurunan
frekuensi denyut jantung (sampai mencapai 24 kali per menit), penurunan
tekanan darah, penurunan frekuensi nafas (sampai 4-6 kali per menit),
penurunan ketegangan otot, metabolisme menurun, vasodilatasi dan
peningkatan temperatur pada extermitas (Rahmayati, 2010).
Teknik relaksasi nafas dalam akan lebih efektif bila dikombinasikan
dengan beberapa teknik lainnya, seperti guided imagery. Guided imagery
merupakan teknik yang menggunakan imajinasi seseorang untuk mencapai
efek positif tertentu (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010). Teknik ini
dimulai dengan proses relaksasi pada umumnya yaitu meminta kepada klien
untuk perlahan-lahan menutup matanya dan fokus pada nafas mereka, klien
didorong untuk relaksasi mengosongkan pikiran dan memenuhi pikiran
dengan bayangan untuk membuat damai dan tenang (Rahmayati, 2010).

4. ANALISIS RUANG RAWAT BERSALIN PONEK 2


a. Standart Operasional Prosedur Nyeri
Rumah Sakit Dr.Moewardi berstandar KARS adalah Rumah Sakit
yang berorientasi pada pemenuhan aspek kebutuhan dasar dimana
memperhatikan nyeri sebagai masalah utama. Rumah Sakit Dr.Moewardi
mengikuti standart KARS dan berorientasi pada IASP (International
Association for the Study of Pain) dengan tujuan bahwa setiap pasien
bebas dari nyeri.
b. Standart Operasional Prosedur PONEK 2
Ruang PONEK 2 mempunyai Standart Operasional Prosedur asuhan
keperawatan yang berfokus pada pelaksanaan intervensi nyeri secara
nonfarmakologi yaitu:
1. Standart Operasional Prosedur relaksasi nafas dalam
c. Pelaksanaan standar asuhan keperawatan nyeri
Pelaksanaan pengkajian nyeri rutin dilakukan oleh perawat ruang
rawat inap PONEK 2. Pelaksanaan manajemen Nyeri belum dilakukan
secara optimal, perawat belum optimal atau sepenuhnya melaksanakan
intervensi terkait nyeri nonfarmakologi (misalnya: relaksasi nafas dalam,
dll) dan masih berkolaborasi dengan dokter dalam mengatasi nyeri dengan
pengobatan obat-obatan.
d. Pelaksanaan relaksasi nafas dalam dan Guided Imagery
Pelaksanaan relaksasi nafas dalam dan Guided Imagery belum optimal
dilaksanakan diruang PONEK 2. Pelaksanaan Relaksasi nafas dalam dan
Guided Imagery bisa ditingkatkan dengan meningkatkan kompetensi
perawat dalam mengurangi nyeri pada post partum SC (Sectio Caesarea).
e. Uji Responden Ruang PONEK 2
No Responden Nyeri sebelum Nyeri sesudah
. diberikan terapi diberikan terapi
Relaksasi nafas dalam Relaksasi nafas dalam
dan Guided Imagery dan Guided Imagery
1 Ny.A 7 5
Kriteria inklusi :
1. Pasien post operasi SC hari pertama, pasien yang bersedia
menjadi responden
2. Pasien yang reaksi analgetiknya telah hilang atau 6 jam setelah
pemberian analgetik dan belum mendapatkan analgetik lagi
Kriteria eksklusi :
1. Pasien yang telah diberikan tehnik relaksasi lainnya
2. Pasien yang telah melakukan operasi SC sebelumnya
3. Pasien SC yang mengalami komplikasi

5. KETERBATASAN PENELITI
a. Peneliti tidak mencantumkan intensitas dan frekuensi diberikan terapi
Relaksasi nafas dalam dan guided imagery untuk .
b. Penelitian ini tidak mencantumkan instrumen yang jelas dalam
pengukuran skala nyeri.

6. KELEBIHAN PENELITI
a. Peneliti mencantumkan tujuan penelitian yang diuraikan cukup jelas yaitu
tujuan umum dan tujuan khusus.
b. Peneliti mampu memberikan gambaran bahwa teknik relaksasi nafas
dalam dan guided imagery efektif untuk menurunkan nyeri post op SC
dan tenaga kesehatan bisa mengaplikasikan di Rumah Sakit.
7. HASIL DAN KESIMPULAN
a. Hasil penelitian berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji paired
sample t test pada tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Nilai mean
sebelum dilakukan teknik relaksasi nafas dalam dan guided imagery yaitu
6,15 sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi nafas dalam dan
guidedimagery yaitu 3,05. Hasil analisis diperoleh nilai p=0,000 dengan
kata lain p<0,05 maka Ho ditolak yang berarti bahwa Adanya perubahan
intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi nafas
dalam dan guided imagery. Hal ini menunjukkan rata-rata tingkat nyeri
pada pasien post operasi sectio caesarea sebelum dilakukan teknik
relaksasi nafas dalam dan guided imagery sebagian besar mengalami
nyeri hebat sampai sangat hebat, tingkat nyeri pada pasien post operasi
section caesarea sesudah dilakukan teknik relaksasi nafas dalam dan guid
ed imagery sebagian besar mengalami penurunan ke kategori nyeri ringan
selebihnya ke kategori nyeri sedang, dan teknik relaksasi nafas dalam dan
guided imagery efektif terhadap penurunan nyeri pada pasien post operasi
sectio caesarea.
b. Pelaksanaan Relaksasi nafas dalam dan guided imagery dilaksanakan
diruang rawat inap PONEK 2 dan bisa diaplikasikan dalam menurunkan
skala dan intensitas nyeri pada ibu post partum, karena dalam
pelaksanaannya Relaksasi nafas dalam dan guided imagery sangat mudah.

8. SARAN
a. Bagi Pelayanan Kesehatan
Dari hasil penelitian diharapkan terapi teknik relaksasi nafas dalam dan
guided imagery dapat diterapkan pihak Rumah Sakit dan tenaga medis
sebagai salah satu terapi modalitas untuk menurunkan nyeri bagi pasien
post operasi SC hari pertama selain dengan obat farmakologis.
DAFTAR PUSTAKA

Howard Butcher, Gloria Bulechek. 2016. Nursing Interventions Classification


(NIC). CV. Mocomedia
Rahmayati, Yeni Nur. 2010. Pengaruh Guided Imagery Terhadap Tingkat Kecem
asan Pada Pasien Skizoafektif Di RSJD SURAKARTA. http://etd.eprints.
ums.ac.id/9482/1/J21 0060060.pdf didownload pada tanggal : 04 Mei
2013 pukul 17.00 WITA
Smeltzer. Suzanne C. Bare Brenda G. Hinkle Janice L & Cheever Kerry H. 2010.
Brunner&Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing edisi 12.
Philadelphia: Wolters Kluwer Health