Anda di halaman 1dari 5

2.

3 Proses tradisional dan proses kimia kombinatorial

Yang membedakan proses sintesis kimia secara tradisional dengan proses


secara kombinatorial adalah bahwa dalam proses dengan kimia kombinatorial,
pereaksi (reaktan) direaksikan bersama-sama, dan membentuk banyak hasil
reaksi dari reaksi kimia yang berbeda-beda.
Perbandingan antara proses sintesis kimia secara tradisional dan
kombinatorial dapat diilustrasikan sebagai berikut

Gambar 1. Perbandingan Metode Sintesis Kimia Secara Tradisional dan


Kombinatorial

Pada sintesis secara tradisional, sesuai pada contoh di atas,dimisalkan


senyawa A direaksikan dengan senyawa B membentuk senyawa AB. Reaksi
dilakukan satu demi satu. Semnetara itu,pada sintesis secara kombinatorial,
dimungkinkan untuk membuat setiap kombinasi yang memingkinkan, mulai dari
A1 hingga A11, dengan B1 hingga B11

2.4 Analisis Kombinatorial

Proses sintesis molekul-molekul secara kombinatorial dapat menghasilkan


banyak ragam molekul. Kimia kombinatorial berperan dalam penemuan beragam
molekul senyawa baru yang susunannya berbeda, tetapi serupa. Melalui analisis
kombinatorial, dapat diperoleh jumlah molekul yang terbentuk melalui suatu
proses kimia kombinatorial. Perhitungannya menggunakan aturan perkalian.
Misalnya, terdapat tiga kelompok molekul, yaitu R1, R2, dan R3.
Jika diasumsikan tiga kelompok molekul tersebut tidak bereaksi
membentuk senyawa baru dengan sesama kelompoknya, yaitu molekul R1 tidak
bereaksi dengan molekul R1 lainnya, demikian juga R2 dan R1, jumlah molekul
baru yang dapat terbentuk adalah

NR1 X NR2 X N R3
dengan N adalah jumlah molekul yang direaksikan dalam tiap-tiap kelompoknya.

2.5 Sintesis Kombinational - Peptida

2.5.1 Proses Sintesis Kombinatorial pada Fase Padat

Sintesis fase padat dianggap sebagai awal perkembangan kimia


kombinatorial. Hal ini telah berkontribusi dalam penemuan bahan-bahan baru di
bidang obat-obatan, katalisator (pemercepat reaksi), atau penemuan bahan-bahan
alam[3]. Sintesis ini merupakan sintesis organik dengan menggunakan bahan
pendukung dalam wujud padat.
Agar dapat berlangsung, sintesis fase padatmemerlukan beberapa
komponen, yaitu

1. Bahan polimer yang inert (tidak tergantung) terhadap kondisi sintesis

2. Pengait substrat (zat-zat yang direaksikan)

3. Strategi perlindungan untuk dapat melakukan proteksi atau deproteksi


secara selektif terhadap gugus-gugus reaktif

Sintesis kimia secara kombinatorial pada fase padat memanfaatkan suatu


proses yang dinamakan sebagai sintesis “campur dan pisahkan”[21]. Proses ini
dilakukan dengan membagi bahan pendukung reaksi berupa resin ke dalam
beberapa porsi. Setelah itu, tiap-tiap porsi dimasukkan ke dalam masing-masing
pereaksi untuk mengaktifkan pereaksi. Setelah reaksi pengaktifan selesai,
dilakukan pencucian untuk membersihkan sisa-sisa pereaksi sisa berlebih.
Kemudian, porsi-porsi tersebut dicampurkan secara merata. Setelah proses
pencampuran, hasil reaksinya kemudian boleh jadi dipisah-pisahkan lagi ke dalam
sejumlah porsi. Reaksi dalam sintesis ini menghasilkan jumlah yang lengkap dari
senyawa senyawa Dimer (senyawa yang strukturnya merupakan gabungan dari
dua buah komponen penyusun) yang mungkin terbentuk.
Jika dimisalkan terdapat X buah komponen (senyawa) yang direaksikan
melalui proses yang telah disebutkan sebelumnya, jumlah dimer yang terbentuk
adalah
X x X × (11)
Jumlah tersebut sesuai dengan aturan perkalian, yang telah disebutkan
sebelumnya. Jika proses diulangi sebanyak n kali dengan mereaksikan hasil reaksi
sebelumnya dengan komponen satuannya (yang berjumlah X), hasil reaksi yang
terbentuk meningkat secara eksponensial, yaitu
X n (12)
Rumus pada persamaan 12 tersebut sebenarnya merupakan perluasan dari
kaidah perkalian, yang juga telah disebutkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan
bahwa hanya dengan beberapa langkah reaksi, dapat terbentuk banyak ragam
molekul yang susunannya berbeda tetapi mirip.

2.5.2 Proses Sintesis Kombinatorial dengan Larutan


Selain sintesis fase padat, ada pula sintesis kombinatorial yang dilakukan
pada larutan. Hal ini dilakukan untuk mengatasi keterbatasan pada sintesis fase
padat. Keterbatasan/kekurangan sintesis fase padat untuk sintesis secara
kombinatorial, antara lain bahan kimia yang berwujud padat terbatas dan terdapat
kesulitan pada saat memantau sejauh mana reaksi berlangsung ketika substrat
(bagian yang menjadi perhatian dari reaktan) dan hasil reaksi terkait pada bahan
berfase padat. Kelebihan lain dari sintesis dengan larutan adalah tidak
diperlukannya bahanbahan yang menjadi prasyarat untuk melakukan sintesis pada
fase padat.
Proses sintesis secara tradisional melibatkan reaksi secara bertahap. Hasil
reaksi dikarakterisasi dan dimurnikan terlebih dahulu, kemudian melalui proses
screening (pemisahan)[9]. Setelah pemisahan, tahap ini dapat dilakukan lagi
secara berulang untuk membangun senyawa analog (senyawa yang berbeda jenis
tetapi serupa) lainnya.

Gambar 2: Sintesis dalam Larutan Secara Tradisional[9]


Sementara itu, pada sintesis secara kombinatorial, yang berlangsung
secara paralel, substrat bereaksi dengan sejumlah reaktan lainnya membentuk
hasil reaksi sejumlah tertentu. Kumpulan ini kemudian melalui proses screening,
pemisahan molekulmolekulnya, umumnya tanpa melalui proses pemurnian.
Karakterisasi juga dilakukan, tetapi secara lebih minimum. Saringan yang
digunakan untuk screening ini memiliki keluaran lebih besar daripada yang
digunakan pada sintesis secara tradisional.

Gambar 3: Sintesis dalam Larutan Secara Paralel[9]


Seperti pada sintesis kombinatorial pada fase padat, sintesis larutan secara
kombinatorial juga mempercepat pembentukan senyawa-senyawa baru. Terlihat
dari gambar, bahwa pada saat yang bersamaan, dapat dihasilkan tiga macam hasil
reaksi. Setelah terbentuknya hasil reaksi, karena yang bereaksi pada tahapan
selanjutnya adalah kumpulan substrat, hasil reaksi pada tahap berikutnya juga
meningkat jumlahnya secara eksponensial.

2.6
2.7
2.8
2.9 Aplikasi dan Perkembangan Kimia Kombinatorial
Manfaat terbesar dari kimia kombinatorial adalah penemuan bahan-bahan
baru, khususnya di bidang farmasi[2]. Proses pembuatan bahan obat-obatan dapat
melibatkan proses pemisahan maya (virtual screening), yaitu menggunakan
simulasi dengan bantuan komputer, juga pemisahan secara nyata (real), yang
dilakukan secara eksperimen[6].
Metode komputasi pada virtual screening dalam pembuatan obat-obatan
dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu prediksi atau simulasi bagaimana suatu
senyawa tertentu bereaksi dengan protein sasaran tertentu. Simulasi dengan
komputer ini berguna, khususnya dalam membuat hipotesis atau merencanakan
penyempurnaaan terhadap bahan obatobatan yang sudah ada.

Gambar 4: Contoh pemodelan komputer untuk pengujian sintesis


senyawa baru[1]

Penggunaan pemisahan secara maya memiliki beberapa keunggulan


dibandingkan dengan eksperimen secara langsung, antara lain
1. biaya yang lebih rendah, karena tidak perlu membeli senyawa uji
2. dimungkinkan untuk meneliti senyawa yang belum pernah disintesis
tanpa harus melakukan pengujian secara eksperimen langsung
Meskipun pengujian dapat dilakukan secara maya, tetap dibutuhkan
eksperimen secara nyata agar suatu senyawa hasil uji dapat dimanfaatkan secara
nyata. Pengujian secara maya menggunakan simulasi komputer tetap tidak dapat
menggantikan proses pengujian dengan eksperimen secara sepenuhnya [6].

Selain dalam bidang farmasi, produksi bahan obatobatan, kimia


kombinatorial juga berperan dalam bidang material. Bahan-bahan baru, seperti
misalnya bahan yang dapat menghasilkan cahaya tanpa panas (luminescent)
dengan substrat silikon[2].