Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan
ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan
kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam pengukuran
Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan adalah salah satu komponen
utama selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang Nomor 23
tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomi.
Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya agar terwujud manusia Indonesia yang
bermutu, sehat, dan produktif. Untuk mencapai tujuan pembangunan
kesehatan dilaksanakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perorangan. Kedua upaya adalah pelayanan berkesinambungan atau
continuum care. Upaya kesehatan masyarakat dilaksanakan pada sisi hulu
untuk mempertahankan agar masyarakat tetap sehat dan tidak jatuh sakit,
sedangkan upaya kesehatan perorangan dilaksanakan pada sisi hilir.
Usaha ke arah itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah dengan
menyelenggarakan beberapa bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan,
diantaranya adalah melalui PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero)
yang melayani antara lain pegawai negeri sipil, penerima pensiun, veteran,
dan pegawai swasta. Untuk masyarakat miskin dan tidak mampu, pemerintah
memberikan jaminan melalui skema Jaminan Kesehatan Masyarakat
(Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Namun demikian,
skema-skema tersebut masih terfragmentasi, terbagi- bagi. Biaya kesehatan
dan mutu pelayanan menjadi sulit terkendali.
Untuk mengatasi hal itu, pada 2004, dikeluarkan Undang-Undang No.40
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). UU 40/2004 ini
mengamanatkan bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui suatu Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS).
Dengan telah disahkan dan diundangkannya UU No. 24 Tahun 2011
tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS), pada tanggal 25
November 2011, maka PT Askes (Persero) dan PT (Persero) Jamsostek
ditranformasi menjadi BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah singkat penyelenggaraan program Asuransi
Kesehatan di Indonesia?
2. Bagaimana pengelolaan pelayanan Askes di Indonosia?
3. Apa landasan hukum transformasi PT Askes menjadi BPJS Kesehatan?
4. Bagaimana proses transformasi PT Askes menjadi BPJS Kesehatan?

C. Tujuan
1. Pembaca dapat mengetahui sejarah singkat penyelenggaraan program
Asuransi Kesehatan di Indonesia.
2. Untuk megatahui bagaimana pelayanan Askes di Indonesia.
3. Pembaca dapat mengetahui landasan hukum transformasi PT Askes
menjadi BPJS Kesehatan.
4. Pembaca dapat mengetahui proses transformasi PT Askes menjadi
BPJS Kesehatan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Singkat Penyelenggaraan Askes


Asuransi kesehatan adalah sebuah jenis produk asuransi yang secara
khusus menjamin biaya kesehatan atau perawatan para anggota asuransi
tersebut jika mereka jatuh sakit atau mengalami kecelakaan. Secara garis
besar ada dua jenis perawatan yang ditawarkan perusahaan-perusahaan
asuransi, yaitu rawat inap (in-patient treatment) dan rawat jalan (out-patient
treatment).
Produk asuransi kesehatan diselenggarakan baik oleh perusahaan
asuransi sosial, perusahaan asuransi jiwa, maupun juga perusahaan asuransi
umum. Di Indonesia, PT Askes Indonesia merupakan salah satu perusahaan
asuransi sosial yang menyelenggarakan asuransi kesehatan kepada para
anggotanya yang utamanya merupakan para pegawai negeri baik sipil
maupun non-sipil. Anak-anak mereka juga dijamin sampai dengan usia 21
tahun. Para pensiunan beserta istri ataupun suami juga dijamin seumur hidup.
PT Askes (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang
ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan
pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun PNS
dan TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta keluarganya dan
Badan Usaha lainnya. Sejarah singkat penyelenggaraan program Asuransi
Kesehatan sebagai berikut :
1. Tahun 1968
Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan yang secara jelas
mengatur pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri dan Penerima
Pensiun (PNS dan ABRI) beserta anggota keluarganya berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor 230 Tahun 1968. Menteri Kesehatan
membentuk Badan Khusus di lingkungan Departemen Kesehatan RI
yaitu Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK),
dimana oleh Menteri Kesehatan RI pada waktu itu (Prof. Dr. G.A.
Siwabessy) dinyatakan sebagai cikal-bakal Asuransi Kesehatan
Nasional.
2. Tahun 1984
Untuk lebih meningkatkan program jaminan pemeliharaan kesehatan
bagi peserta dan agar dapat dikelola secara profesional, Pemerintah
menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984 tentang
Pemeliharaan Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil,Penerima Pensiun
(PNS, ABRI dan Pejabat Negara) beserta anggota keluarganya.
Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1984, status badan
penyelenggara diubah menjadi Perusahaan Umum Husada Bhakti.
3. Tahun 1991
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991, kepesertaan
program jaminan pemeliharaan kesehatan yang dikelola Perum Husada
Bhakti ditambah dengan Veteran dan Perintis Kemerdekaan beserta
anggota keluarganya. Disamping itu, perusahaan diijinkan memperluas
jangkauan kepesertaannya ke badan usaha dan badan lainnya sebagai
peserta sukarela.
4. Tahun 1992
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 status Perum
diubah menjadi Perusahaan Perseroan (PT Persero) dengan
pertimbangan fleksibilitas pengelolaan keuangan, kontribusi kepada
Pemerintah dapat dinegosiasi untuk kepentingan pelayanan kepada
peserta dan manajemen lebih mandiri.
5. Tahun 2005
PT. Askes (Persero) diberi tugas oleh Pemerintah melalui Departemen
Kesehatan RI, sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1241/MENKES/SK/XI/2004 dan Nomor 56/MENKES/SK/I/2005,
sebagai Penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Masyarakat
Miskin (PJKMM/ASKESKIN).
Dasar penyelenggaraan :
a. UUD 1945
b. UU No. 23/1992 tentang Kesehatan
c. UU No.40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN)
d. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1241/MENKES/SK/XI/2004 dan Nomor
56/MENKES/SK/I/2005.

Prinsip penyelenggaraan Mengacu pada :


1) Diselenggarakan secara serentak di seluruh Indonesia dengan
azas gotong royong sehingga terjadi subsidi silang.
2) Mengacu pada prinsip asuransi kesehatan sosial.
3) Pelayanan kesehatan dengan prinsip managed care
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
4) Program diselenggarakan dengan prinsip nirlaba.
5) Menjamin adanya protabilitas dan ekuitas dalam pelayanan
kepada peserta.
6) Adanya akuntabilitas dan transparansi yang terjamin dengan
mengutamakan prinsip kehati-hatian, efisiensi dan efektifitas.
6. Tahun 2014
Mulai tanggal 1 Januari 2014,PT Askes Indonesia (Persero) berubah
nama menjadi BPJS Kesehatan sesuai dengan Undang-Undang no. 24
tahun 2011 tentang BPJS.

B. Manajemen Organisasi Dalam Askes


Dalam pengelolaan organisasinya, PT Askes Indonesia, memiliki sebuah
Dewan Komisaris yang terdiri dari 1 orang ketua dan 5 orang anggota ( 1
orang independen),serta sebuah Dewan Direksi yang beranggotakan 1 orang
Direktur Utama,1 orang Wakil Direktur Utama, dan 4 (empat) orang anggota
Dewan Direksi lainnya yang memiliki fungsi dan tanggung jawab yang
berbeda seperti Direktur SDM & Umum, Direktur Perencanaan &
Pengembangan, Direktur Operasional, dan Direktur Keuangan.
Di dalam PT Askes Indonesia (Persero) terdapat Dewan Komisaris yang
berewanang dan bertanggung jawab sebagai berikut:
1. Melakukan pengawasan terhadap pengelolaan Perusahaan yang
dijalankan oleh Direksi, termasuk perencanaan dan pengembangan,
operasi dan anggaran, kepatuhan terhadap Anggaran Dasar
Perusahaan dan pelaksanaan mandat dan keputusan RUPST dan
RUPSLB. Dewan Komisaris tidak berwenang untuk menjalankan
maupun mengelola Perusahaan, kecuali dalam situasi apabila seluruh
anggota Direksi diberhentikan sementara karena suatu sebab;
2. Memberikan saran dan pendapat kepada RUPST mengenai pelaporan
keuangan tahunan, rencana pengembangan perusahaan, penunjukan
Kantor Akuntan Publik sebagai auditor dan hal-hal penting serta
strategis lainnya terkait dengan aksi Perusahaan;
3. Melakukan evaluasi atas rencana kerja dan anggaran Perusahaan,
mengikuti perkembangan Perusahaan, dan melakukan koordinasi
dengan pihak Direksi jika ada gejala yang menunjukkan Perusahaan
sedang dalam masalah sehingga Direksi dapat segera
mengumumkannya kepada para pemegang saham dan memberikan
rekomendasi untuk langkah-langkah perbaikan yang harus ditempuh;
4. Memastikan program pelaksanaan tata kelola Perusahaan telah
diterapkan dan dipelihara dengan baik sesuai peraturan yang berlaku.

Di dalam PT Askes Indonesia (Persero) terdapat Dewan Direksi yang


berewanang dan bertanggung jawab sebagai berikut:

 memimpin perusahaan dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan


perusahaan.
 memilih, menetapkan, mengawasi tugas dari karyawan dan kepala
bagian (manajer) menyetujui anggaran tahunan perusahaan.
 menyampaikan laporan kepada pemegang saham atas kinerja
perusahaan

Untuk kelancaran dan keberhasilan suatu perusahaan, maka perlu


dibentuk struktur organisasi dengan tujuan agar dapat terlaksananya tugas
dengan lancar dan baik.Struktur organisasi juga merupakan gambaran
susunan perwujudan oleh tetap hubungan-hubungan, fungsi-fungsi, bagian-
bagian dan posisi-posisi maupun yang memisahkan kedudukan dan
wewenang dan tanggung jawab bagi tiap-tiap karyawan dalam organisasi.

Adapun bentuk organisasi PT. Askes Indonesia (persero) berbentuk garis


dan staff yakni terdapatnya garis komando dan garis koordinasi yang
berbentuk matriks. Dan terdapat juga garis putus-putus yang menunjukkan
garis koordinasi yang berarti diberikannya wewenang untuk mengadakan
perubahan-perubahan terhadap kebijakan yang ada pada bagian-bagian/
perangkat organisasi.

C. Pelayanan Askes di Indonesia


1. Kewajiban askes
Secara garis besar UU SJNS mewajibkan ASKES untuk
memberikan jaminan kepeda seluruh peserta sesuai dengen ketentuan
yang diatur oleh UU SJNS yang diatur dalam peraturan pemerintah dan
atau DJNS. Karena sistem JKN menggunakan teknik managed care dalam
pengendalian biaya,maka timbul masalah dimana bisa bisa terjadi di
suiatu daerah yang cukup banyak banyak pesertanya, tetapi fasilitas
kesehatah yang akan di kontrak tidak memadai jumlahnya dan tidak selalu
menyediakan pelayanan atau dokter spesialis yang dibutuhkan.sebagai
contoh,dikalimantan bisa jadi banyak perusahan kayu yang memiliki
ribuan karyawan akan tetapi rumah sakit atau dokter spesialis tidak
tersedia. Dalam hal ini Askes wajib menyediakan tenaga (baik dari dalam
maupun dari luar negeri) dan atau fasilitas kesehatan guna memenuhi
kebutuhan kesehatan para pesertanya.Apabila penyediaan tenaga dan
fasilitas tidak efisien atau terlalu mahal ASKES wajib memberikan
konpensasi lain seperti memberikan penggantian biaya berobat. Disinilah
pentingnya ada komite pelayanan yang selalu memantau kondisi di
berbagai daerah, kepuasan peserta dan mementau kelayakan manfaat
program.
Komite pelayanan melekukan evaluasi terhadap kepatutan fasilitas
kesehatan yang dikontrak atas standar pelayanan dan standar mutu yang
harus dipatuhi yang telah ditetapkan oleh ASKES dalam rangka
menjamin mutu dan kepuasan peserta.Komite pelayanan dapat meminta
direksi untuk memutuskan kontrak kepada fasilitas kesehatan yang tidak
mampu memenuhi standar yang ditetapkan. Inilah yang dimaksud UU
bahwa ASKES mengembangkan sistem pelayanan dan pembayaran.
Beberapa pihak di Kementrian kesehatan kurang memahami hal ini dan
menilai bahwa UU ASKES terlalu jauh memberikan kewenangan,
Kewenangan mengembangkan mengenbangkan sistem pelayanan dan
pembayaran yang seharusnya kewenangan Kementrian kesehatan kepada
ASKES. Undang-undang juga mewajibkan Askes untuk mengumukan
kinerja keuangan dan kinerja pelayanan (ASKES, biaya satuan per grup
pelayanan/ diagnosis, kepuasan peserta per fasilitas ,dll ) hal ini sangat
perlu untuk menjmin agar semua peserta memahami segala macam
masalah yang dihadapi dan memahami kalau misalnya diperlukan
kenaikan biaya iuran, pengendalian yang lebih ketat untuk membutuhkan
kurun biaya yang lebih tinggi dan meningkatkan kepercayaan peserta
ASKES.
Salah satu komponen penting dalam menjamin kepuasan peserta
adalah tugas ASKES untuk menertbitkan buku saku yang berisi hak dan
kewajiban peserta dan anggota keluarganya ,tata cara memperoleh
pelayanan, pelayanan yang ditanggung/ dijamin, dan jaminan yang tak
ditanggung, besaran kurun biaya untuk berbagai pelayanan dll. Selain itu
ASKES wajib menerbitkan revisi buku saku tersebut setiap kali terjadi
perubahan kebijakan iuran ,paket pelayanan, maupun prosedur pelayanan
dan mencantumkan seluruh isi buku saku tersebut dalam website ASKES.
Pengendalian mutu pelayanan merupakan faktor yang juga tidak kalah
pentingnya . oleh, karena itu ASKES wajib mengembangkan sistem
kendali mutu (quality assurance) diberbagai fasilitas yang dikontrak
diberbagai daerah. Seharusnyalah ASKES melakukan berbagai upaya
untuk menjamin bahwa setiap peserta mendapat pelayanan kesehatan
dengan kualitas terbaik menurut standar profesi dan kemampuan tenaga
keuangan suatu daerah.
2. Hak Peserta
Seperti dikemukakan diatas, ASKES wajib memberikan informasi
yang rinci dan jelas kepada seluruh peserta tentang hak-hak peserta. Hak
terpenting peserta adalah hak atas pelayanan. Idealnya tercantum dalam
UU BPJS ,manfaat yang diberikan bersifat komprehensif dan diberikan
dikesehatan swasta atau fasilitas kesehatan pemerintah yang mandiri
(otonom) dimana birokrasi pemerintah tidak memperngaruhi kinerja
perusahaan. Untuk 10 tahun pertama masih dapat ditoleransi perbedaan
manfaat nonmedis antara peserta yang iurannya dibayarkan oleh
pemerintah (penduduk miskin dan tidak mampu) dan penduduk yang
membayar iuran penuh dari upahnya. Fasilitas kesehatan untuk penerima
bantuan iuran dapat digunakan hanya fasilitas publik seperti puskesmas
dan Rumah Sakit publik (pemeintah) yang masih mendapat dana
pemerintah pusay maupun daerah
Sejalan dengan konsep Indonesia sehat dan paradigma pencegahan
lebih baik daripada pengobatan, maka ASKES harus memberikan
pelayanan pencegahan. Pelayan kontrasepsi dan konseling KB merupakan
program pencegahan penting dalam mengendalikan besarnya jumlah
peserta dalam jangka panjang untu menurunkan angka kematian ibu dan
kematian bayi ASKES harus mampu menyediakan pelayanan ante nata
lengkap, minimum 4 kali selama kehamilan dan pemeriksaan rutin setiap
3 bulan kepada ibu dan anaknya, sampai mencapai usia lima tahun.
ASKES harus mampu menjamin pemeriksaan media rutin untuk
mendeteksi dini penyakit-penyakit kurang gizi dan penyakit infeksi kronis
anak dibawah usia 5 tahun. . program seperti ini akan lebih cepat
meningkatkan status kesehatan yang selama ini tidak cukup cepat
meningkat.

D. Landasan Hukum
Dasar hukum transformasi Askes menjadi BPJS Kesehatan ialah:
1. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional.
2. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional, menjelaskan bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah
suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa badan
penyelenggaraan jaminan sosial. Sistem Jaminan Sosial Nasional
diselenggarakan berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistem Jaminan Sosial Nasional
bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya dasar hidup yang layak
bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya.

Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan pada


prinsip :

a. Kegotong-royongan;
Gotongroyong sesungguhnya sudah menjadi salah satu prinsip dalam
hidup bermasyarakat dan juga merupakan salah satu akar dalam
kebudayaan kita. Dalam SJSN, prinsip gotong royong berarti peserta yang
mampu membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat
membantu yang sakit atau yang berisiko tinggi, dan peserta yang sehat
membantu yang sakit. Hal ini terwujud karena kepesertaan SJSN bersifat
wajib untuk seluruh penduduk, tanpa pandang bulu. Dengan demikian,
melalui prinsip gotong royong jaminan sosial dapat menumbuhkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
b. Nirlaba;
Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) adalah nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented).
Sebaliknya, tujuan utama adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya
kepentingan peserta. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah
dana amanat, sehingga hasil pengembangannya, akan di manfaatkan
sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.
c. Prinsip keterbukaan, kehati-hatian dan akuntabilitas;
Prinsip prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan pengelolaan
dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.
d. Portabilitas;
Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan
jaminan yang berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah
pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
e. Kepesertaan bersifat wajib;
Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta
sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi
seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan
ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan
program. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal,
bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara
mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
dapat mencakup seluruh rakyat.
f. Dana amanat;
Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada
badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka
mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.
g. Hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya untuk
pengembangan program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.

Sedangkan dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan


Penyelenggara Jaminan Sosial, menjelaskan Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk
untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. BPJS bertujuan untuk
mewujudkan terselenggaranya pemberian jaminan terpenuhinya kebutuhan
dasar hidup yang layak bagi setiap Peserta dan/atau anggota keluarganya.
BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan
asas:
 kemanusiaan;
 manfaat; dan
 keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011, BPJS akan
menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang ada di Indonesia yaitu
lembaga asuransi jaminan kesehatan PT Askes dan lembaga jaminan sosial
ketenaga kerjaan PT Jamsostek. Transformasi PT Askes dan PT Jamsostek
menjadi BPJS dilakukan secara bertahap. Pada awal 2014, PT Askes akan
menjadi BPJS Kesehatan, selanjutnya pada 2015 giliran PT Jamsostek
menjadi BPJS Ketenagakerjaan.

Setiap warga negara Indonesia dan warga asing yang sudah berdiam di
Indonesia selama minimal enam bulan wajib menjadi anggota BPJS. Ini
sesuai pasal 14 UU BPJS. Setiap perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya
sebagai anggota BPJS. Sedangkan orang atau keluarga yang tidak bekerja
pada perusahaan wajib mendaftarkan diri dan anggota keluarganya pada
BPJS. Setiap peserta BPJS akan ditarik iuran yang besarnya ditentukan
kemudian. Sedangkan bagi warga miskin, iuran BPJS ditanggung pemerintah
melalui program Bantuan Iuran.

Menjadi peserta BPJS tidak hanya wajib bagi pekerja di sektor formal,
namun juga pekerja informal. Pekerja informal juga wajib menjadi anggota
BPJS Kesehatan. Para pekerja wajib mendaftarkan dirinya dan membayar
iuran sesuai dengan tingkatan manfaat yang diinginkan.

Jaminan kesehatan secara universal diharapkan bisa dimulai secara


bertahap pada 2014 dan pada 2019, diharapkan seluruh warga Indonesia
sudah memiliki jaminan kesehatan tersebut. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi
menyatakan BPJS Kesehatan akan diupayakan untuk menanggung segala
jenis penyakit namun dengan melakukan upaya efisiensi.

Kementerian Sosial mengklaim Badan Penyelenggara Jaminan Sosial


(BPJS) Kesehatan yang berlaku pada awal 2014 akan menjadi program
jaminan sosial terbaik dan terbesar di Asia. Namun pelaksanaan Sistem
Jaminan Sosial Nasional oleh BPJS pada 2014 diperkirakan terkendala
persiapan dan infrastruktur. Misalnya, jumlah kamar rumah sakit kelas III
yang masih kurang 123 ribu unit. Jumlah kamar rumah sakit kelas III saat ini
tidak bisa menampung 29 juta orang miskin. Kalangan DPR menilai BPJS
Kesehatan belum siap beroperasi pada 2014 mendatang.

E. Transformasi Askes menjadi BPJS Kesehatan


UU SJSN dan UU BPJS memberi arti kata ‘transformasi’ sebagai
perubahan bentuk BUMN Persero yang menyelenggarakan program jaminan
sosial, menjadi BPJS. Perubahan bentuk bermakna perubahan karakteristik
badan penyelenggara jaminan sosial sebagai penyesuaian atas perubahan
filosofi penyelenggaraan program jaminan sosial. Perubahan karakteristik
berarti perubahan bentuk badan hukum yang mencakup pendirian, ruang
lingkup kerja dan kewenangan badan yang selanjutnya diikuti dengan
perubahan struktur organisasi, prosedur kerja dan budaya organisasi.
Transformasi menjadi kosa kata penting sejak tujuh tahun terakhir di
Indonesia, tepatnya sejak diundangkannya UU SJSN pada 19 Oktober 2004.
Transformasi akan menghadirkan identitas baru dalam penyelenggaraan
program jaminan sosial di Indonesia.
Perintah transformasi kelembagaan badan penyelenggara jaminan sosial
diatur dalam UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(UU SJSN). Penjelasan Umum alinea kesepuluh UU SJSN menjelaskan
bahwa, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang dibentuk oleh UU
SJSN adalah transformasi dari badan penyelenggara jaminan sosial yang
tengah berjalan dan dimungkinkan membentuk badan penyelenggara baru.
Transformasi badan penyelenggara diatur lebih rinci dalam UU No. 24
tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). UU
BPJS adalah pelaksanaan Putusan Mahkamah Konstitusi atas Perkara No.
007/PUU-III/2005.
Penjelasan Umum UU BPJS alinea keempat mengemukakan bahwa UU
BPJS merupakan pelaksanaan Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 52 UU SJSN pasca
Putusan Mahkamah Konstitusi. Kedua pasal ini mengamanatkan
pembentukan BPJS dan transformasi kelembagaan PT ASKES (Persero), PT
ASABRI (Persero), PT JAMSOSTEK (Persero) dan PT TASPEN (Persero)
menjadi BPJS. Transformasi kelembagaan diikuti adanya pengalihan peserta,
program, aset dan liabilitas, serta hak dan kewajiban.
Dengan telah disahkan dan diundangkannya UU No. 24 Tahun 2011
tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS), pada tanggal 25
November 2011, maka PT Askes (Persero) ditranformasi menjadi BPJS
Kesehatan. Transformasi tersebut meliputi perubahan sifat, organ dan prinsip
pengelolaan, atau dengan kata lain berkaitan dengan perubahan stuktur dan
budaya organisasi.
UU BPJS menentukan bahwa PT Askes (Persero) dinyatakan bubar tanpa
likuidasi pada saat mulai beroperasinya BPJS Kesehatan pada tanggal 1
Januari 2014. Tranformasi PT Askes (Persero) menjadi badan hukum publik
BPJS Kesehatan diantarkan oleh Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes
(Persero) sampai dengan mulai beroperasinya BPJS Kesehatan.
Masa persiapan transformasi PT ASKES (Persero) menjadi BPJS
Kesehatan adalah selama dua tahun terhitung mulai 25 November 2011
sampai dengan 31 Desember 2013. Dalam masa persiapan, Dewan Komisaris
dan Direksi PT Askes (Persero) ditugasi untuk menyiapkan operasional BPJS
Kesehatan, serta menyiapkan pengalihan asset dan liabilitas, pegawai serta
hak dan kewajiban PT Askes (Persero) ke BPJS Kesehatan.
Penyiapan operasional BPJS Kesehatan mencakup:
 Penyusunan sistem dan prosedur operasional BPJS Kesehatan;
 Sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan;
 Penentuan program jaminan kesehatan yang sesuai dengan UU
SJSN;
 Koordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mengalihkan
penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Masyarakat
(Jamkesmas);
 Kordinasi dengan KemHan,TNI dan POLRI untuk mengalihkan
penyelenggaraan program pelayanan kesehatan bagi anggota
TNI/POLRI dan PNS di lingkungan KemHan,TNI/POLRI; dan
 Koordinasi dengan PT Jamsostek (Persero) untuk mengalihkan
penyelenggaraan program jaminan pemeliharaan kesehatan
Jamsostek.
Penyiapan pengalihan asset dan liabilitas, pegawai serta hak dan
kewajiban PT Askes (Persero) ke BPJS Kesehatan, mencakup penunjukan
kantor akuntan publik untuk melakukan audit atas:

 laporan keuangan penutup PT Askes(Persero),


 laporan posisi keuangan pembukaan BPJS Kes,
 laporan posisi keuangan pembukaan dana jaminan kesehatan.

Pada saat BPJS Kesehatan mulai beroperasi pada 1 Januari 2014, PT


Askes (Persero) dinyatakan bubar tanpa likuidasi. Semua asset dan liabilitas
serta hak dan kewajiban hukum PT Askes (Persero) menjadi asset dan
liabilitas serta hak dan kewajiban hukum BPJS Kesehatan, dan semua
pegawai PT Askes (Persero) menjadi pegawai BPJS Kesehatan.

Pada saat yang sama, Menteri BUMN selaku RUPS mengesahkan


laporan posisi keuangan penutup PT Askes (Persero) setelah dilakukan audit
kantor akuntan publik. Menteri Keuangan mengesahkan laporan posisi
keuangan pembuka BPJS Kes dan laporan keuangan pembuka dana jaminan
kesehatan. Untuk pertama kali, Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes
(Persero) diangkat menjadi Dewan Pengawas dan Direksi BPJS Kesehatan
untuk jangka waktu paling lama 2 tahun sejak BPJS Kesehatan mulai
beroperasi.

Mulai 1 Januari 2014, program-program jaminan kesehatan sosial yang


telah diselenggarakan oleh pemerintah dialihkan kepada BPJS Kesehatan.
Kementerian kesehatan tidak lagi menyelenggarakan program Jamkesmas.
Kementerian Pertahanan,TNI dan POLRI tidak lagi menyelenggarakan
program pelayanan kesehatan bagi pesertanya, kecuali untuk pelayanan
kesehatan tertentu berkaitan dengan kegiatan operasionalnya yang ditentukan
dengan Peraturan Pemerintah. PT Jamsostek (Persero) tidak lagi
menyelenggarakan program jaminan kesehatan pekerja.

Mencermati ruang lingkup pengaturan transformasi badan penyelenggara


jaminan sosial yang diatur dalam UU SJSN dan UU BPJS, keberhasilan
transformasi bergantung pada ketersediaan peraturan pelaksanaan yang
harmonis, konsisten dan dilaksanakan secara efektif. Kemauan politik yang
kuat dari Pemerintah dan komitmen pemangku kepentingan untuk
melaksanakan trasnformasi setidaknya tercermin dari kesungguhan
menyelesaikan agenda-agenda regulasi yang terbengkalai.

Peraturan perundangan jaminan sosial yang efektif akan berdampak pada


kepercayaan dan dukungan publik akan transformasi badan penyelenggara.
Publik hendaknya dapat melihat dan merasakan bahwa transformasi badan
penyelenggara bermanfaat bagi peningkatan efisiensi dan efektifitas
penyelenggaraan SJSN, sebagai salah satu pilar untuk mewujudkan
kesejahteraan sosial. Pembangunan dukungan publik diiringi dengan
sosialisasi yang intensif dan menjangkau segenap lapisan masyarakat.
Sosialisasi diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pentingnya
penyelenggaraan SJSN dan penataan kembali penyelenggaraan program
jaminan sosial agar sesuai dengan prinsip-prinsip jaminan sosial yang
universal, sebagaimana diatur dalam Konstitusi dan UU SJSN.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Munculnya asuransi kesehatan di Indonesia diawali saat pemerintah
Indonesia mengeluarkan kebijakan yang secara jelas mengatur pemeliharaan
kesehatan bagi Pegawai Negeri dan Penerima Pensiun (PNS dan ABRI)
beserta anggota keluarganya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 230
Tahun 1968, hingga berubahnya PT ASKES menjadi BPJS Kesehatan mulai
1 Januari 2014.
Landasan hukum transformasi ASKES menjadi BPJS Kesehatan yakni
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional dan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial. Masa persiapan transformasi PT ASKES
(Persero) menjadi BPJS Kesehatan adalah selama dua tahun terhitung mulai
25 November 2011 sampai dengan 31 Desember 2013. Dalam masa
persiapan, Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes (Persero) ditugasi untuk
menyiapkan operasional BPJS Kesehatan, serta menyiapkan pengalihan asset
dan liabilitas, pegawai serta hak dan kewajiban PT Askes (Persero) ke BPJS
Kesehatan.

B. Saran
Semogga saja asuransi di Indonesia dapat menjamin semua aspek warga
negaranya yang mengikuti asuransi agar lebih baik lagi. Layanan asuransi
yang baik dan menjamin dapat membuat banyak masyarakat semakin
bertambah mengikuti asuransi-asuransi yang ada di Indonesia.