Anda di halaman 1dari 13

TUGAS PLANT DESIGN II

PENGOLAHAN LIMBAH RUMAH SAKIT


DENGAN MODIFIKASI ACTIVATED SLUDGE PROCESS

Nama : Ciko Firmansyah


NIM : 16250511
Kelas : Alih Jalur Ganjil

INSTITUT TEKNOLOGI YOGYAKARTA


YAYASAN LINGKUNGAN HIDUP (YLH)
YOGYAKARTA
2017
PENDAHULUAN

Keberadaan limbah pada umumnya tidak dikehendaki di lingkungan. Salah satu


yang cukup dikhawatirkan ialah limbah rumah sakit. Rumah sakit merupakan institusi
kesehatan dengan inti kegiatan pelayanan preventif, rehabilitatif, dan promotif.
Kegiatan tersebut dapat berdampak positif dan negatif. Dampak positif ialah
meningkatnya kesehatan masyarakat, sedangkan dampak negatifnya antara lain
pencemaran sampah dan limbah medis maupun non-medis yang dapat menimbulkan
penyakit. Upaya penyehatan lingkungan rumah sakit diperlukan untuk melindungi
masyarakat dan karyawan dari bahaya pencemaran tersebut.
Rumah sakit adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan sebagai upaya untuk
meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat. Dengan jumlah penduduk yang
terus meningkat, kebutuhan akan sarana pelayanan kesehatan pun juga ikut meningkat.
Dengan meningkatnya jumlah rumah sakit, maka air limbah yang dihasilkan juga akan
meningkat secara kuantitas. Rata-rata air limbah yang dihasilkan rumah sakit adalah
sebesar 750 L per tempat tidur dan hari (Rezaee et al, 2005). Terdapat berbagai
kegiatan sarana pelayanan kesehatan yang dilakukan di rumah sakit yang menghasilkan
limbah cair maupun limbah padat. Air limbah rumah sakit pada umumnya berupa
campuran keseluruhan air limbah domestik (buangan dari kamar mandi, dapur, air
bekas pencucian), air limbah klinis, air limbah laboratorium dan hasil dari berbagai
kegiatan lainnya di rumah sakit. Terdapatnya air limbah domestik mengakibatkan
kandungan zat organik yang tinggi di dalam air limbah rumah sakit.
Limbah cair rumah sakit umumnya banyak mengandung mikroorganisme
(bakteri, virus, dsb.), senyawa kimia, dan obat-obatan yang dapat membahayakan
kesehatan masyarakat di sekitarnya. Limbah yang bersumber dari laboratorium paling
perlu diwaspadai karena bahan-bahan kimia yang digunakan untuk uji laboratorium
tidak dapat diurai hanya dengan aerasi atau lumpur aktif. Bahan-bahan itu
mengandung logam berat dan inveksikus yang harus disterilisasi atau dinormalkan
terlebih dahulu. Untuk foto röntgen, misalnya, terkandung bahan radioaktif yang
cukup berbahaya. Pengelolaan limbah cair yang baik sangat dibutuhkan agar mutu
efluen tidak melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah, dalam hal ini
KepMNLH No.58/ MNLH/12/1995.

Salah satu cara pengolahan limbah cair di rumah sakit yaitu dengan
menggunkan metode activated sludge atau lumpur aktif. Proses pengolahan limbah cair
menggunakan sistem lumpur aktif adalah salah satu proses pengolahan air limbah
secara biologi, yang membedakannya dengan sistem lain adalah penggunaan
mikroorganismenya dan media penunjang yang dapat dijadikan tempat hidup dan
berkembang dari mikroorganisme sehingga dapat berkembang secara melekat ataupun
tersuspensi (Setiadi dan Dewi, 2003; Antara 1993). Prosesnya bersifat aerobik, artinya
memerlukan oksigen untuk reaksi. Kebutuhan oksigen dapat dipenuhi dengan cara
mengalirkan udara atau oksigen murni ke dalam reaktor biologi, sehingga cairan di
dalam reaktor dapat melarutkan oksigen lebih besar dengan jumlah oksigen yang
dilarutkan merupakan kebutuhan minimum yang diperlukan mikroba di dalam lumpur
aktif (Iryani dkk, 2015). Metode pengolahan lumpur dengan activated sludge
merupakan metode pengolahan limbah cair yang paling banyak ditemukan di proses
pengolahan limbah cair di industri ataupun rumah sakit.
PEMBAHASAN

1. Pengolahan Limbah Cair di Rumah Sakit


Tingginya kandungan senyawa organik pada air limbah rumah sakit, maka dapat
dilakukan pengolahan secara biologis dengan memanfaatkan aktifitas yang berasal dari
mikroorganisme untuk menguraikan senyawa polutan organik tersebut. Pengolahan air
limbah secara biologis bisa dilakukan pada kondisi aerobik, kondisi anaerobik maupun
kombinasi antara kondisi aerobik dan anaerobik. Pengolahan biologis pada kondisi
aerobik biasanya digunakan untuk mengolah air limbah dengan nilai konsentrasi BOD
yang tidak terlalu tinggi. Sedangkan pengolahan biologis pada kondisi anaerobik bisa
digunakan untuk mengolah air limbah dengan konsentrasi BOD air limbah yang sangat
tinggi. (Rejeki et al, 2014).
Unit pengolahan air limbah rumah sakit di Indonesia yang menggunakan
pengolahan biologis yang umumnya masih menggunakan teknologi pengolahan
lumpur aktif (activated sludge) konvensional. Unit pengolahan air limbah
konvensional masih memiliki kekurangan di berbagai aspek. Mulai dari kebutuhan
lahan yang luas hingga efisiensi kinerja dari sistem pengolahan air limbah itu sendiri.
Unit pengolahan air limbah konvensional cenderung membentuk bioflok yang
memiliki kecepatan pengendapan rendah. Flok lumpur aktif terbentuk dengan diameter
tipikal antara 30 hingga 1.800 μm, tetapi memiliki densitas yang hanya sedikit lebih
tinggi dibanding densitas air (Etterer, 2006). Dibutuhkan unit pengendap terpisah untuk
memisahkan supernatan dari endapan flok lumpur aktif yang terbentuk. Oleh karena
itu dibutuhkan total hydraulic retention time (HRT) yang tinggi, sehingga
menyebabkan biaya operasional untuk unit pengolahan air limbah konvensional
menjadi lebih besar.

2. Modifikasi Proses Lumpur Aktif Konvensional


Proses lumpur aktif termasuk proses pengolahan biologi aerobik yang termasuk
dalam sistem pertumbuhan tersuspensi. Dalam sistem lumpur aktif terjadi proses
penyisihan zat organik dan nutrisi menggunakan mikroorganisme. Sejak sistem lumpur
aktif diciptakan pertama kali oleh Arden dan Lockett (1914), berbagai modifikasi
sistem lumpur aktif telah dikembangkan. Pada prinsipnya proses lumpur aktif adalah
mengkontakkan air limbah dengan massa biologi (biomassa) dalam tangki aerasi,
kemudian mengendapkan biomassa dalam tangki
pengendap.

Selain sistem lumpur aktif konvesional, ada beberapa modifikasi dari proses
lumpur aktif yang banyak digunakan di lapangan yakni antara lain sistem Sequencing
Batch Reactor (SBR), sistem aerasi berlanjut (extended aeration system), Sistem aerasi
bertahap (step aeration), Sistem aerasi berjenjang (tappered aeration), sistem
stabilisasi kontak (contact stabilization system), Sistem oksidasi parit (oxydation
ditch), sistem lumpur aktif kecepatan tinggi (high rate activated sludge), dan sistem
lumpur aktif dengan oksigen murni (pure oxygen activated sludge). Beberapa
pertimbangan untuk pemilihan proses tersebut antara lain : jumlah air limbah yang akan
diolah, beban organik kualitas air olahan yang diharapkan lahan yang diperlukan serta
kemudahan operasi dan lainnya.

3.1 Sequencing Batch Reaktor (SBR)


Sistem Sequencing Batch Reactor (SBR) merupakan salah satu modifikasi dari
sistem lumpur aktif. Sequencing Batch Reaktor (SBR) adalah pengolahan air limbah
berdasarkan sistem activated sludge dan dioperasikan dalam sebuah siklus fill-and-
draw (Vives, 2005). Pada SBR, air limbah yang dimasukkan ke dalam reaktor “batch”
tunggal diolah untuk menyisihkan komponen-komponen yang tidak diinginkan, dan
kemudian dialirkan keluar (Mahvi, 2008).
Salah satu teknologi pengolahan air limbah yang menerapkan prinsip
pembentukan granulasi aerobik di dalamnya adalah Sequencing Batch Reaktor (SBR).
Dengan terbentuknya granular aerob pada unit SBR ini, proses pengolahan biologis
dan proses pengendapan dapat terjadi di dalam satu unit atau tangki. Tidak dibutuhkan
unit pengendap atau clarifier terpisah untuk proses pengendapan setelah proses
pengolahan biologis.

3.1.1 Mekanisme Proses Sequencing Batch Reaktor (SBR)


Pengolahan menggunakan SBR terdapat lima tahap dalam setiap siklus, yaitu
tahap fill, tahap react (aeration), tahap settle (sedimentation/clarification), tahap
decant/draw dan tahap idle (Metcalf dan Eddy, 2003). Skema tahap-tahap di dalam
siklus SBR bisa dilihat pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1 Tahap-tahap dalam Siklus Operasi SBR
Sumber: NEIWPCC Manual, 2005

A. Fase Pengisian (Fill)


Pada tahap pengisian ini, bak reaktor menerima air limbah yang masuk sebagai
influen. Pada fase ini air buangan dimasukkan ke dalam reaktor sampai mencapai
volume tertentu. Di dalam air limbah tersebut terkandung makanan atau substrat yang
dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam lumpur aktif, sehingga akan menciptakan
kondisi yang ideal untuk terjadinya reaksi biokimia. Saat periode pengisian (fill)
biomassa akan berada dalam kondisi kaya substrat/kaya materi organik (feast). Karena
sebelum periode pengisian terjadi, biomassa telah
mengalami kondisi tanpa substrat (famine) sejak akhir periode reaksi sampai ke periode
stabilisasi sehingga akan terjadi degradasi materi organik yang cepat. Meskipun proses
penyisihan materi organik sudah berlangsung sejak periode pengisian, namun proses
penyisihan materi organik akan berlangsung sempurna pada periode reaksi. Mixing dan
aerasi bisa divariasikan selama tahap pengisian dengan tujuan untuk menciptakan tiga
kondisi yang berbeda, antara lain :
 Static Fill (Pengisian Statis)
Tidak dilakukan proses pengadukan maupun aerasi selama pengisian
reaktor oleh air limbah pada tahap pengisian statis ini. Dengan tidak
dilakukannya proses pengadukan dan aerasi, maka tidak akan terjadi proses
nitrifikasi maupun denitrifikasi. Selain itu juga akan mengurangi penggunaan
energi karena pengaduk (mixer) dan aerator berada dalam keadaan mati.
 Mixed Fill (Pengisian Teraduk)
Dilakukan proses pengadukan tanpa proses aerasi, dengan kata lain
pengaduk (mixer) tetap menyala tetapi aerator berada dalam keadaan mati.
Pengkondisian ini menyebabkan terciptanya kondisi anoxic yang memicu
terjadinya proses denitrifikasi. Tetapi tidak menutup kemungkinan terciptanya
kondisi anaerobik yang akan menyebabkan terlepasnya senyawa fosfor selama
tahap pengisian teraduk ini.
 Aerated Fill (Pengisian Teraerasi)
Pada tahap pengisian teraerasi ini dilakukan proses aerasi dan
pengadukan selama pengisian air limbah influen ke dalam reaktor. Pada tahap
ini akan tercipta kondisi yang sepenuhnya aerobik. Tidak ada pengaturan untuk
siklus pengisian teraerasi yang dibutuhkan agar tercapai kondisi dimana terjadi
proses nitrifikasi maupun penurunan zat organik.

B. Fase Reaksi (React)


Pada tahap ini tidak ada air limbah influen yang masuk ke dalam reaktor lagi,
sehingga tidak ada penambahan volume dan beban organik (organic loadings) ke
dalam reaktor. Proses pengadukan dan aerasi tetap berjalan selama tahap ini yang akan
menyebabkan laju penyisihan zat organik meningkat secara pesat. Pada fase ini aliran
air buangan dihentikan. Proses reaksi biologi yang
sudah mulai berlangsung saat proses fill akan berlangsung sempurna pada periode
ini sampai proses biodegradasi BOD dan nitrogen tercapai.
C. Fase Pengendapan (Settle)
Selama fase settle, SBR berfungsi sebagai clarifier. Pada fase ini aerasi
dihentikan untuk memberikan kesempatan pada biomassa untuk mengendap sehingga
menghasilkan cairan supernatan yang terpisah dari lumpur. Pengendapan
dapat berlangsung lebih sempurna karena kondisinya diam. Selama periode
pengendapan tidak didapati adanya influen ataupun efluen pada reaktor untuk
mencegah terjadinya turbulensi aliran. Pada tahap ini juga tidak ada debit air limbah
yang masuk ke dalam reaktor. Selain itu juga tidak dilakukan pengadukan dan aerasi,
selama tahap ini lumpur aktif dibiarkan untuk mengendap dalam kondisi tenang.
Lumpur aktif cenderung untuk mengendap sebagai massa flokulan. Akan
terbentuk massa flokulan berupa granular aerob jika setiap pada setiap tahap dilakukan
pengondisian dan perlakuan yang menunjang untuk terbentuknya granular aerob.
Tahap ini merupakan tahap yang sangat penting, karena jika ada padatan yang tidak
bisa mengendap secara cepat, maka padatan tersebut dapat ikut tertarik keluar pada
tahap decant, sehingga akan menurunkan kualitas effluen.
.
D. Fase Pengurasan (Decant)
Setelah tahap pengendapan selesai, sinyal akan dikirim ke decanter sehingga
valve untuk effluent-discharge (pengaliran effluen) dibuka. Pada tahap ini dilakukan
penyisihan effluen supernatan dengan menggunakan decanter. Ada dua jenis decanter,
yaitu decanter terapung dan fixed-arm. Dengan adanya volume pengisian dan
penarikan (fill and draw) yang berfluktuatif, maka lebih baik digunakan decanter jenis
terapung. Karena decanter terapung bisa menjaga orifice inlet agar tetap berada di
bawah permukaan air. Tujuannya adalah untuk meminimalkan penyisihan padatan
pada effluen tersisihkan selama tahap dekantasi. Sedangkan decanter jenis fixed-arm
lebih baik digunakan jika volume fill and draw tidak terlalu berfluktuatif. Jarak vertikal
decanter dari bawah reaktor harus optimum agar tidak terjadi turbulensi pada endapan.

E. Fase Pembuangan Lumpur (Idle)


Pada tahap ini, dilakukan pembuangan lumpur aktif yang berada pada bagian
bawah SBR dengan jumlah volume yang sedikit. Waktu yang digunakan untuk tahap
ini sangat bervariasi tergantung pada laju debit influen dan stategi operasi SBR. Tahap
ini biasanya dilakukan diantara tahap dekantasi dan tahap pengisian (NEIWPPC,
2005). Fase idle tidak mutlak diperlukan,meskipun demikian idle kadang perlu untuk
mensetabilkan lumpur biomassa sebagaimana yang terjadi dalam proses kontak
stabilisasi.

3.1.2 Kriteria Desain Sequencing Batch Reaktor (SBR)


Pada perencanaan unit SBR, terdapat beberapa kriteria desain yang digunakan
sebagai acuan untuk membuat desain unit SBR. Di dalam membuat desain unit SBR,
nilai kriteria desain yang diambil juga harus disesuaikan dengan karakteristik influen
serta effluen air limbah yang akan diolah. Pada tabel 1berikut adalah parameter desain
tipikal yang digunakan sebagai acuan dalam perencanaan unit SBR.
Tabel 1. Parameter Desain Tipikal untuk SBR
Parameter Nilai
SRT (hari) 10 - 30
F/M (kg BOD/kg MLVSS.hari) 0.04 - 0.10
Volumetric loading (kg BOD/m3.hari) 0.1 - 0.3
MLSS (mg/l) 2000 - 5000
Total waktu (jam) 15 - 40
Sumber: Metcalf dan Eddy, 2003

Dalam operasional SBR, waktu di dalam satu siklus untuk tahap pengisian,
pengendapan dan dekantasi merupakan hal yang sangat penting dalam perencanaan.
Selain itu konsentrasi oksigen yang disuplai ke dalam reaktor juga harus diperhatikan
di dalam operasional SBR. Pada Tabel 2 berikut adalah kriteria desain tipikal untuk
pengolahan lumpur aktif model SBR.

Tabel 2. Kriteria Desain Tipikal untuk SBR


Parameter Nilai
BOD loading (g/hari/m3) 80 - 240
Waktu siklus (jam)
1-3
Fill (aerasi)
0.7 - 1
Settle
0.5 - 1.5
Draw
MLSS (mg/l) 2300 - 5000
MLVSS (mg/l) 1500 - 3500
HRT (jam) 15 - 40
F/M (kg BOD/kg MLVSS.hari) 0.04 - 0.10
Sumber: Wang et al, 2009
3.1.3 Perbandingan Pengolahan Lumpur Aktif Konvensional dengan SBR
Pada tabel 3 berikut adalah beberapa keuntungan dan juga keterbatasan yang
terdapat pada SBR dan juga pengolahan lumpur aktif (activated sludge) konvensional.

Tabel 3 Perbandingan Lumpur Aktif Konvensional dengan SBR


Proses Keuntungan Keterbatasan
Proses telah terbukti Desain dan operasional untuk
memungkinkan untuk aerasi lebih kompleks
meremoval kadar amonia
Activated
yang tinggi
Sludge
Mudah disesuaikan dengan Sulit untuk menyesuaikan
Konvensional
berbagai skema operasional suplai oksigen dengan
kebutuhan oksigen pada tahap
awal
Proses lebih sederhana Kontrol dari proses lebih
rumit
Operasional fleksibel, Debit puncak yang tinggi
penyisihan nutrien bisa dapat mengganggu
dicapai dengan mengubah operasional
operasional
Dapat dioperasikan sebagai Membutuhkan proses
Sequencing proses pwmilih untuk ekualisasi sebelum filtrasi dan
Batch Reactor meminimasi potensi sludge desinfeksi
(SBR) bulking
Proses pengendapan Membutuhkan keahlian yang
meningkatkan pemisahan tinggi untuk pemelliharaan
padatan
Dapat diaplikasikan pada Beberapa desain
berbagai ukuran instalasi menggunakan alat aerasi
dengan efisiensi rendah

3.2 Sistem Aerasi Berlanjut (Extended Aeratian System)


Proses ini biasanya dipakai untuk pengolahan air limbah dengan sistem paket
(package treatment) dengan beberapa ketentuan antara lain :
 Waktu aerasi lebih lama (sekitar 30 jam) dibandingkan sistem konvensional.
Usia lumpur juga lebih lama dan dapat diperpanjang sampai 15 hari.
 Limbah yang masuk dalam tangki aerasi tidak diolah dulu dalam pengendapan
primer.
 Sistem beroperasi dengan F/M ratio yang lebih rendah (umumnya < 0,1 kg
BOD/ per kg MLSS per hari) dengan sistem lumpur aktif konvensional (0,2 -
0,5 kg BOD per kg MLSS per hari).
 Sistem ini membutuhkan sedikit aerasi dibandingkan dengan pengolahan
konvensional dan terutama cocok untuk komunitas yang kecil yang
menggunakan paket pengolahan.

3.3 Proses dengan Sistem Oksidasi Parit (Oxidation Ditch)


Sistem oksidasi parit terdiri dari bak aerasi berupa parit atau saluran yang
berbentuk oval yang dilengkapi dengan satu atau lebih rotor rotasi untuk aerasi limbah.
Saluran atau parit tersebut menerima limbah yang telah disaring dan mempunyai waktu
tinggal hidraulik (hidraulic retention time) mendekati 24 jam. Proses ini umumnya
digunakan untuk pengolahan air limbah domestik untuk komuditas yang relatif kecil
dan memerlukan lahan yang cukup besar. Diagram proses pengolahan air limbah
dengan sistem Salah satu contoh instalasi pengolahan air limbah dengan proses
oksidasi parit ditunjukkan seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Proses Oxidation Ditch

3.4 Rotating Biological Contactors (RBC)


Rotating Biological Contactor (RBC) adalah suatu proses perngolahan air limbah
secara biologis yang terdiri atas didsc melingkar yang diputar oleh poros dengan
kecepatan tertentu. Unit pengolahan ini berotasi dengan pusat pada sumbu atau as yang
digerakkan oleh motor drive system dari diffuser yang dibenam dalam air limbah,
dibawah media.
Gambar 3. Rotating Biological Contactor

Cara Kerja :
Mekanisme aerasi terjadi ketika mikroba terpapar oksigen di luar air limbah
sehingga terjadi pelarutan oksigen akibat difusi. Sesaat kemudian, mikroba ini tercelup
lagi ke dalam air limbah sekaligus memberikan oksigen kepada mikroba yang
tersuspensi di dalam bak. Bersamaan dengan itu terjadi juga reintake material organik
dan anorganik yang merekat didalam biofilm. Tetesan air berbutir-butir yang jatuh dari
media plastik dan bagian biofilm yang merekat dipermukaan plastik juga memberikan
peluang reaerasi. Begitu seterusnya secara kontinyu 24 jam.
Kelebihan :
Mudah dioperasikan, Mudah dalam perawatan. Tidak membutuhkan banyak
lahan. Beberapa variasi parameter dapat di kontrol seperti kecepatan putaran disc,
resirkulasi, dan waktu detensi.
Kekurangan :
Kerusakan pada materialnya seperti as, coupling, bearing, rantai, gear box, motor
listrik, dll. Biaya kapital dan pemasangan mahal Biaya investasi mahal jika debit airnya
besar.

3.5 Trickling Filter (Saringan Menetes)


Trickling Filter merupakan salah satu aplikasi pengolahan air limbah dengan
memanfaatkan teknologi Biofilm. Trickling filter ini terdiri dari suatu bak dengan
media fermiabel untuk pertumbuhan organisme yang tersusun oleh materi lapisan yang
kasar, keras, tajam dan kedap air. Kegunaannya adalah untuk mengolah air limbah
dengan dengan mekanisme air yang jatuh mengalir perlahan-lahan melalui melalui
lapisan batu untuk kemudian tersaring. Gambar Trickling filter dapat dilihat pada
Gambar 4 berikut ini.
Gambar 4. Metode Trickling Filter

Cara Kerja :
Air limbah dialirkan ke bak pengendapan awal untuk mengendapakan padatan
tersuspensi. Selanjutnya Air limbah dialirkan ke bak Trickling Filter melalui pipa
berlubang yang berputar, kemudian keluar melalui pipa under-drain yang ada didasar
bak dan keluar melalui saluran efluen. Air limbah dialirkan ke bak pengendapan akhir
dan limpasan dari bak pengendapan akhir merupakan air olahan. Lumpur yang
mengendap selanjutnya disirkulasikan ke inlet bak pengendapan awal.
Kelebihan :
Tidak membutuhkan lahan yang luas. Operator tidak perlu terampil
Kekurangan :
Sering timbul lalat dan bau yang timbul dari reaktor, karena suplai oksigen tidak
merata. Sering terjadi pengelupasan biofilm. Timbul sumbatan. Hanya untuk mengolah
limbah encer dengan beban BOD rendah.

3.6 Sistem Aerasi Bertingkat (Step Aeration)


Limbah hasil dari pengolahan primer (pengendapan) masuk dalam tangki aerasi
melalui beberapa lubang atau saluran, sehingga meningkankan disribusi dalam tangki
aerasi dan membuat lebih efisien dalam penggunaan oksigen. Proses ini dapat
meningkafkan kapasitas sistem pengolahan. Diagram proses pengolahan air limbah
dengan sistem Step Aeration dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Diagram Proses Sistem Step Aeration

3.7 Sistem Stabilisasi Kontak (Contact Stabilization)


Setelah limbah dan lumpur bercampur dalam tangki reaktor kecil untuk waktu
yang singkat (40 menit), aliran campuran tersebut dialirkan 16 tangki penjernih dan
lumpur dikembalikan ke tangki stabilisasi dengan waktu tinggal 4 – 8 jam. Sistem ini
menghasilkan sedikit lumpur. Diagram proses pengolahan air limbah dengan sistem
Contact Stabilization dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Diagram Proses Sistem Contact Stabilization