Anda di halaman 1dari 27

Sembilan Nawacita Bidang Energi

Indonesia

Sebuah Resume
Diajukan sebagai tugas akhir (UAS) mata kuliah Regulasi Energi dan
Sumber Daya Mineral Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran

Disusun oleh
Stephen
270110140141
Kelas A
Program Studi Teknik Geologi

Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran

Tahun ajaran 2017/2018


1. Penyediaan Energi Untuk Program Listrik 35 GW

Salah satu program Nawacita Energi yang di pelopori oleh Joko Widodo – Jusuf
Kalla yaitu pembangunan listrik 35.000 Megawatt yang dimulai tahun 2015 dan di
harapkan rampung tahun 2019 sekaligus sebagai bentuk keberhasilan program
masa pemerintahan pada periode 1. Program 35.000 Megawatt yang dianggap
ambisius untuk di selesaikan dalam jangka waktu 5 tahun tetap harus direalisasikan
guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat.
Program 35.000 Megawatt dirasa harus di realisasikan mengingat masih ada ±2519
desa selama 70 tahun Indonesia merdeka yang masih dalam keadaan gelap gulita
karena belum mendapat pasokan listrik dari negara.

Pembangunan listrik 35.000 Megawatt ini ditujukan untuk sebesar – besarnya


kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia dari sabang hingga merauke,
terutama untuk wilayah yang berada jauh di luar pulau Jawa dan memerlukan
pasokan listrik. Selain itu agar terciptanya pemerataan agar foto pada Gambar 1.
yang diambil dari satelit luar angkasa tidak hanya tampak terang di Pulau Jawa,
tetapi bercahaya pula di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi bahkan
Papua.

Angka 35.000 Megawatt tidak muncul secara tiba – tiba melainkan melalui
perhitungan yang panjang terkait akan 3 aspek yaitu asumsi pertumbuhan ekonomi
sebesar 6% – 7% per tahun, kenaikan konsumsi listrik dari 800 Kilowatt per jam
per kapita menjadi 1200 Kilowatt per jam per kapita, serta rasio kenaikan
elektrifikasi 80% menjadi 96% pada tahun 2019.

Kontroversi yang mewarnai perjalanan pembangunan program listrik 35.000


Megawatt ini terus terjadi. Kesan negatif bahwa program ini merupakan program
ambisius yang tidak realistis, mimpi, bahkan membesar-besarkan masalah karna
pada akhirnya hanya akan menambah hutang negara terutama pelaksana utama PT.
PLN ke Bank Dunia. Selain itu ada pula kesna positif yaitu program ini bukanlah
suatu target melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi. Bahkan, ±7400 Megawatt
pembangkit sudah dalam tahan konstruksi. Hal ini menandakan bahwa program
35.000 Megawatt ini dalam tahap on-progress namun tidak dipungkiri akan selalu
terdapat hambatan dalam pelaksanaannya.

1.1. Kebutuhan Listrik Indonesia

Saat ini, kapasitas pembangkit listrik di Indonesia baru 55.528,8 Megawatt


sedangkan pada tahun 2019 dengan program pembangunan listrik 35.000
Megawatt kemungkinan kebutuhan listrik mencapai 90,528,8 Megawatt
dengan tambahan 63% dari kapasitas sekarang. Kebutuhan listrik Indonesia
bergantung kepada jumlah, diantaranya sebagai berikut : Rasio Elektrifikasi,
Penduduk Indonesia, Pelanggan PLN, Pertumbuhan Kebutuhan Listrik.

Data berikut memperlihatkan kondisi listrik Indonesia dari sabang sampai


merauke :

Gambar 1. Kondisi Sektor Kelistrikan Indonesia

1.2. Strategi Mencapai 35 GW

Pemerintah telah berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan progam listrik


35.000 Megawatt agar selesai tepat waktu yaitu 5 tahun. Walaupun program
ini terkesan ambisius, tetapi program ini memiliki 3 tujuan muliah yaitu
sebagai berikut : Pemerataan pasokan listrik di daerah-daerah yang belum
mendapatkan aliran listrik, Menambah cadangan listrik sebesar 30% di atas
beban puncak pada hampir semua wilayah, menjadikan listrik sebagai
pendorong pertumbuhan industri dan wilayah. Untuk mencapai tujuan mulia
tersebut, maka dari itu Pemerintah telah menentapkan 8 hambatan beserta
solusi yang dapat memperlancar pelaksanaan program ini. Berikut di bawah
ini merupakan table mengenai hambatan pemenuhan kelistrikan di Indonesia
serta solusi untuk mengatasi hambatan tersebut. Data table di bawah ini dikutip
dari data Kementrian ESDM.

Hambatan Solusi
Penentuan IPP yang terlambat IPP ditunjuk langsung oleh
PLN
Terhambatnya penyediaan lahan, Kaitkan dgn UU No 2 tahun
2012 “pembebasan lahan
untuk kepentingan umum”
Negosiasi harga yang alot Penetapan harga Patokan yang
tertinggi (peraturan no 3 tahun
2015)
Perizinan yang berbelit belit Jadikan pelayanan terpadu
satu pintu
Lemahnya koordinasi lintas sector yang Membentuk tim lintas
berkaitan dengan pengerjaan proyek 35GW kementrian secara terintegrasi
(hubungi KPPIP = Komisi
pembangunan percepatan
infrastruktur prioritas)
Kapasitas manajemen proyek yang terbatas Membentuk project
management office – PLN
Developer dan kontraktor teknis kurang Penyaringan sesuai procedur
berpengalaman yang berkualitas .Analisa
kemampuan teknis dari teknisi
dan kontraktor
Maraknya mafia hukum dalam konteks Menerbitkan perpres yang
kriminalitas dalam prosedur hukum pada bersifat khusus tentang
investor penyediaan energy listrik
nasional

2. Tata Kelola Industri Biofuel

2.1. Biofuel
Biofuel secara umum adalah bahan bakar dari biomassa (materi yang berasal
dari tumbuhan dan hewan). Setiap produk biofuel diproduksi secara berbeda.
Misalnya ethanol diproduksi dengan cara fermentasi jagung atau tebu,
sedangkan biodiesel diproduksi dengan cara menghancurkan lemak hewani
atau tumbuhan dengan adanya methanol. Minyak sawit mentah (Crude Palm
Oil) melalui proses transesterifikasi, dimana secara kimia bereaksi dengan
alkohol seperti methanol atau ethanol untuk memproduksi biodiesel.

2.2. Proses Produksi Biofuel


Ada dua jenis utama bahan baku biofuel: dapat dikonsumsi dan tidak dapat
dikonsumsi. Produk makanan manusia seperti gula, pati, atau minyak sayur
dijadikan biofuel melalui metode konvensional yakni transesterifikasi (seperti
yang telah disebutkan di atas). Biofuel juga dapat dihasilkan dari tanaman non
pangan, limbah pertanian dan residu yang tidak dapat dikonsumsi manusia
dengan menggunakan teknologi maju seperti hydrocracking. Pada proses ini
bahan baku dipecah dengan adanya hidrogen dalam menghasilkan biofuel.
Yang menarik adalah bahan baku seperti minyak kelapa sawit dapat digunakan
untuk menghasilkan biofuel melalui metode konvensional dan lanjutan
tergantung dari keadaannya.

2.3. Biofuel Sebagai Energi Tepat Guna

Dunia telah mengalami mencairnya permukaan es, meningkatnya suhu udara


dan terjadinya bencana alam. Ilmuwan mengemukakan bahwa salah satu
alasan utama perubahan iklim yang drastis ini adalah akibat konsumsi bahan
bakar fosil yang berlebihan dan terlepasnya gas rumah kaca ke atmosfir yang
menipis.

Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, biofuel seperti ethanol


menghasilkan karbon dioksida hingga 48 persen lebih sedikit daripada bensin
konvensional sementara penggunaan biodiesel hanya melepaskan seperempat
jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan diesel konvensional. Hal ini menjadi
pilihan yang jauh lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan bahan
bakar fosil.

Tidak seperti bahan lain yang tak terbaharui, biofuel dapat diproduksi terus-
menerus karena kita selalu dapat menanam lebih banyak tanaman untuk
menjadi bahan bakar. Terlebih lagi komunitas ilmuwan telah menunjukkan
tingkat produktivitas tanaman nabati yang lebih tinggi dapat menangani
beberapa masalah deforestasi yang erat kaitannya dengan biofuel. Oleh karena
itu minyak kelapa sawit yang memiliki hasil panen tertinggi di antara tanaman
nabati lainnya diyakini menjadi bahan baku paling ekonomis untuk biodiesel.
Siklus hidup pohon kelapa sawit 30 tahun juga berarti nilai penyerapan karbon
yang dilepaskan ke atmosfer tinggi.
Pada masa yang akan datang mungkin tak ada lagi bahan bakar fosil dan kita
dapat menggunakan biofuel sebagai sumber energi alternatif yang aman dan
terbarukan.

2.4. Sertifikasi Biofue dan Kelapa Sawit

Salah satu tantangan industri kelapa sawit Indonesia saat ini adalah masalah
tata kelola roduksi yang dapat menjamin keberlanjutan sosial dan
lingkungan. Sebagai produsen terbesar kelapa sawit di dunia dengan tujuan
ekspor utama ke China, India dan Eropa, Indonesia banyak disorot karena
ekspansi perkebunan sawit yang dilakukan secara besar-besaran dapat
menimbulkan berbagai efek negatif. Permasalahan hak atas tanah, indirect
land use change (ILUC), perburuhan, konflik sosial, kompetisi produk pangan
dengan kebutuhan biofuel, serta degradasi lingkungan merupakan persoalan
yang sering mengemuka.

Sertifikasi terhadap tata kelola produksi dan perdagangan sawit merupakan


jawaban yang dimunculkan untuk mengatasi persoalan tata kelola tersebut.
Pada tataran global, terdapat Roundtable on Sustainable Palm Oil sawit yang
diinisiasi oleh berbagai pemangku kepentingan (perkebunan, pemrosesan,
distributor, industri manufaktur, investor, akademisi, dan organisasi non
pemerintah (NGOs)). Pada tataran nasional, sejak 2009 pemerintah Indonesia
telah pembentuk Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), sebuah standar
keberlanjutan yang wajib dimiliki semua perusahaan kelapa sawit yang ada di
Indonesia. Kelapa sawit merupakan produk yang berfungsi ganda; selain
untuk produk pangan atau minyak nabati, sawit juga digunakan sebagai bahan
untuk biofuel. Hal tersebut menyebabkan kebijakan energi di pasar global juga
sangat berpengaruh terhadap produksi sawit Indonesia. Berlakunya
Renewable Energy Directive (RED) Uni Eropa (UE) tahun 2009, misalnya,
sangat berpengaruh terhadap tata kelola sawit Indonesia. RED merupakan
aturan yang mempromosikan pemakaian energi dari sumber terbarukan,
dengan komitmen negara anggota UE untuk menurunkan penggunaan energi
primer sebesar 20%, mengurangi 20% gas rumah kaca, dan menggunakan
20% energi dari sumber terbarukan pada tahun 2020.

Tulisan ini berargumen bahwa berbagai macam sertifikasi yang digunakan


untuk menjamin keberlanjutan sosial dan lingkungan tidak terlepas dari politik
perdagangan internasional. Namun, standar tata kelola dalam sertifikasi
tersebut tetap penting guna meminimalkan dampak negatif ekspansi
kelapa sawit maupun biomass lainnya.

2.5. Tata Kelola Sebagai Masalah di Indonesia

Permasalahan energi di Indonesia bukan karena kekurangan energi, melainkan


belum memiliki tata kelola yang baik. Demikian Rinaldi Dalimi, anggota
Dewan Energi Nasional dan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia,
dalam diskusi ketahanan energi dan kesinambungan pembangunan lewat
BUMN, di Jakarta, Kamis (24/2/2011). Masalah kedua, menurutnya, yaitu
sumber energi Indonesia tidak bisa dikontrol sepenuhnya oleh pemerintah.
Karena BUMN tidak lagi penuh dimiliki oleh pemerintah.

Tata kelola menjadi masalah kunci juga, diungkapkan oleh M Shohibul Imam,
anggota Komisi VII DPR, yang juga menjadi salah satu pembicara dalam
diskusi tersebut. Imam menyayangkan terjadinya tontonan antarmenteri, seperti
dalam masalah capping listrik. "Menteri ESDM mengatakan ini (masalah
capping) wilayah tanggung jawab dari Menteri Perekonomian. Pak Menko, ini
wilayah tanggung jawab dari Menteri ESDM. Jadi, jangankan masyarakat
umum, kami yang di DPR saja bingung," kata Imam.
Kondisi ini memperlihatkan kita belum serius mengurus energi, ujarnya.
Padahal ketersediaan energi kita berlimpah, seperti gas dan batu bara nomor
dua di dunia. Tidak hanya bahan bakar anorganik yang melimpah, Rinaldi
menyebutkan bahwa Indonesia bisa menjadi Arab Saudi-nya biofuel.

Maka sebagai solusi dari tata kelola yang buruk ini, Rinaldi mengutarakan
sejumlah strategi, di antaranya, pertama, pisahkan kementerian energi dengan
pertambangan. Sehingga energi bisa terlihat sebagai komoditas. Kedua,
kembalikan semua BUMN energi kepada sepenuhnya milik pemerintah.
Sehingga setiap kebijakan bisa dikontrol pemerintah. Ketiga, BUMN energi
hanya di bawah Kementerian ESDM.

3. Pembangunan Transmisi dan Distribusi Gas

3.1. Pemaduan Transmisi dan Distribusi

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) meminta undang-
undang (UU) Migas nantinya mengatur jaringan pipa transmisi dan distribusi
gas secara terpadu melalui pipa yang telah ada.Kepala BPH Migas Andy
Noorsaman Someng mengatakan selama ini banyak infrastruktur pipa gas yang
mubazir, karena dibangun bertumpuk dengan pipa yang telah ada. Pasalnya,
Peraturan Menteri ESDM No. 19/2009 masih memungkinkan pembangunan
pipa baru di jalur yang telah tersedia pipa milik badan usaha lain,“Permen
ESDM No. 19/2009 memang membuat rancu, karena ada pipa yang di titik
hulu dan hilir, serta open access. Kedepannya, memang harus satu pengaturan
saja, kala dipertegas dalam UU [Migas] kan dapat lebih enak,” katanya seusai
Seminar Tata Kelola Industri Hilir Migas di Jakarta, Rabu (19/12).
Seperti diketahui, Pasal 10 Permen ESDM No. 19/2009 menyebutkan dalam
hal dari aspek teknis dan ekonomis pipa transmisi dan/atau pipa distribusi tidak
dapat dimanfaatkan bersama atau belum tersedia, maka badan usaha dapat
membangun pipa dedicated hilir.Direktur Gas BPH Migas Hendra Fadly
mengatakan pihaknya akan duduk bersama dengan Kementerian ESDM untuk
membahas persoalan infrastruktur pipa gas itu. Sebab, Pipa yang dibangun
bertumpuk-tumpuk seperti di Jawa Timur dapat berujung pada harga jual gas
yang lebih tinggi ke konsumen.Hendra menyebut pertumbuhan infrastruktur
pipa gas di Indonesia memang relatif lambat dibandingkan dengan negara lain.

Belum pastinya pasokan gas yang akan disalurkan melalui pipa, menjadi salah
satu persoalan dalam pertumbuhan tersebut.“Masalah pasokan gas memang
harus dipertimbangkan. Percuma kalau membangun pipa gas, tetapi tidak ada
pasokan gasnya. Untuk apa membangun infrastruktur gas kalau kondisinya
seperti itu,” jelasnya.Selain itu, pipa gas yang ada saat ini kebanyakan tidak
dirancang untuk open access. Sementara untuk pemberlakuan open access
diperlukan kepastian agar pelanggan tidak kekurangan pasokan gas dan
tekanan di dalam pipa tersebut tetap terjaga.Akan tetapi menurutnya, saat ini
telah banyak pembangunan pipa gas dalam skala kecil untuk memenuhi
kebutuhan gas konsumen rumah tangga.

3.2. Pembangunan Transmisi di Indonesia Saat Ini

Sekretaris Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Heri Yusup


mengungkapkan bahwa pipa transmisi gas bumi di dalam negeri saat ini baru
mencapai 2.625 km atau 20% dari total rencana pembangunan infrastruktur
gas nasional yang dikeluarkan Dewan Energi Nasionak (DEN).
Menurutnya, total pipa gas bumi di Tanah Air yang dibangun PGN telah
mencapai 13.500 km. Angka tersebut membuat PGN menjadi perusahaan yang
mendominasi kepemikikan pipa sebanyak 7.200 km. Sisanya, milik PT
Pertagas dan 63 unit trader. "Hingga kini belum ada pipa gas lagi yang
dibangun," ujarnya di Bandung.

Dia menuturkan, minimnya infrastruktur gas tersebut membuat alokasi gas


melambat. Saat ini pembangunan infrastruktur gas perlu secara masif.
Pemerintah pun mau tidak mau harus melakukan rencana bauran energi 2025
agar mencapai 22%. "Untuk mencapai tingkat pemanfaan gas bumi 2025 harus
ada pemanfaatan dan tambahan 15 ribu km pipa gas transmisi dan 14 proyek
liquidfication," kata Heri. Lanjut dia menerangkan penambahan infrastruktur
gas dapat meningkatkan kemampuan pemanfaatan gas bumi sebanyak 1.902
juta kaki kubik per hari (MMSCFD. Di mana, pada 2015, PGN baru
menyalurkan gas bumi sebanyak 1.591 juta MMSCFD.

3.3. Rencana Pembangunan Transimisi

PT Perusahaan Gas Negara Tbk/PGN (Persero) telah menganggarkan belanja


modal (capital expenditure/capex) tahun ini sekitar USD25 miliar untuk
investasi pembangunan jaringan transmisi dan distribusi gas pipa.
Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso mengatakan, investasi tersebut
dalam rangka mendukung capaian bauran energi pada 2025. Perusahaan hilir
gas pelat merah itu sudah mengalokasikan sejumlah anggaran untuk investasi
pembangunan 25.000 kilometer (km) jaringan transmisi dan distribusi pada
tahun ini yang diperkirakan sekitar USD25 miliar.

"Estimasinya sekitar USD25 miliar. Berbentuk new capital expenditure


investment. Jumlah dalam dimensi skala sekitar 25.000 km jaringan transmisi
maupun distribusi baru selain yang berbentuk virtual pipe line, yaitu terminal
untuk bisa menerima LNG," kata Hendi di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa 11
April 2017. Hendi menjelaskan, pembangunan virtual pipeline sangat berguna
di masa depan karena lebih fleksibel dalam menjangkau suplai gas. Tak hanya
dari lapangan yang sudah berproduksi, virtual pipeline juga bisa digunakan
untuk mengaliri gas dari impor.

"Di masa depan (virtual pipeline) flexibility supply tidak hanya mengandalkan
lapangan yang dedicated, tetapi juga membawa gas alam cair baik produksi
domestik atau impor bilamana diperlukan," jelas Hendi. Ia melanjutkan,
pembangunan infrastruktur ini sangat perlu dilakukan mengingat kebutuhan
gas di masa datang sangat besar. Apalagi, kebutuhan untuk daerah Indonesia
bagian tengah dan Indonesia bagian timur. "Terutama di Indonesia bagian
tengah dan timur. Sehingga jumlah dimensi jaringan pipa yang dibutuhkan itu
butuh tiga kali dari pada seluruh jumlah panjang pipa km yang ada sekitar
9.000 km, dibutuhkan hampir tiga kali lipat agar semua kebutuhan di masa
depan dan program penting elektrifikasi menggunakan gas bisa tercapai,"
pungkas dia.

4. Pembangunan Jaringan Gas Rumah Tangga

4.1. Alasan Melambatnya Pembangunan Jaringan Gas Rumah Tangga

Lelang pembangunan jaringan gas rumah tangga dalam Anggaran Pendapatan


Belanja Negara (APBN) 2017 mengalami keterlambatan. Meski begitu,
Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) optimistis proyek tersebut
selesai tepat waktu. Direktur Perencanaan Pembangunan Infrastruktur Migas
Kementerian ESDM Alimmudin Baso mengatakan, dalam APBN 2017
Kementerian ESDM akan membangun 57 ribu sambungan rumah tangga di 10
wilayah.
"2017 itu 57 ribuan, sekarang lagi berjalan di lapangan, kemarin kita lakukan
mutual check, baseline dari proses mobilisasi peralatan, karena harus kerja
gali-gali," kata Alimmudin, dalam forum diskusi untuk mengkaji lebih dalam
mengenai proyek pembangunan Jaringan Gas (Jargas), di Jakarta, Rabu
(26/7/2017).

Menurut Alimmudin, lelang pembangunan jaringan gas tersebut mengalami


keterlambatan. Hal ini diakibatkan lelang yang molor dari jadwal, karena uang
belanja proyek tersebut baru turun, sehingga pada April 2017 baru mendapat
kontraktor pemenang lelang.

"Mereka kan terkontrak April, karena ada keterlambatan lelang, baru dapat
pemenang di April," ucap Alimmudin. Alimmudin mengungkapkan, meski
mengalami keterlambatan dalam memulai pembangunan jaringan gas, tetapi
pembangunan tetap bisa diselesaikan tepat waktu. Dia berharap kontraktor
pemenang lelang bekerja dengan baik. "Secara kontrak insya Allah. kita
berharap mereka yg mendapatkan kontrak itu kerjanya bagus," tutup
Alimmudin.

5. Pembangunan Storage Unit

5.1. Rencana Pembangunan Storage Oleh Pertamina

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta PT Pertamina (Persero) untuk


memborong minyak mentah (crude oil) di pasar dunia saat harga minyak
anjlok seperti saat ini. Harga minyak mentah saat ini sudah menyentuh angka
di bawah USD 30 per barel, sedangkan harga tertingginya pernah menyentuh
angka USD 100 per barel. Jokowi mengatakan, stok minyak itu bisa disimpan
di tempat penampungan yang dikuasai Pertamina di mana pun, dalam negeri
maupun luar negeri guna mengantisipasi lonjakan harga minyak di kemudian
hari. Atas instruksi tersebut, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Dwi
Soetjipto mengatakan bakal memenuhi arahan Presiden Jokowi dengan
beberapa strategi. Salah satunya, Pertamina menambah pembangunan tempat
penampungan minyak di dalam negeri.

"Yang pertama kita memanfaatkan storage-storage yang ada, baik dalam


negeri maupun luar negeri, tentu kita akan bicara dengan vendor," ujar Dwi di
Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (1/3).
Selain memanfaatkan storage yang ada, Pertamina juga akan membangun
storage di Indonesia. Saat ini, lanjut Dwi, kapasitas stok minyak yang dimiliki
Pertamina masih mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri selama satu bulan.

Pembangunan storage baru ini bakal dilakukan pada tahun ini. Kendati
demikian, Pertamina masih melakukan kalkulasi dalam rencana penambahan
storage baru. "Bisa tahun ini. (Penambahan) Sesuai kebutuhan, sekarang kami
punya stok 30 hari akan naik berapa," pungkas Dwi.

5.2. Kritisi Terhadap Pembangunan Storage

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli menilai


bahwa rencana pembangunan jaringan pipa Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh
Pertamina tidak sesuai dengan kebutuhan Indonesia saat ini. “Pertamina punya
rencana untuk membangun jaringan pipa BBM di seluruh Indonesia.
Pertanyaan kami waktu rapat itu, apakah ini betul-betul top urgent? karena
distribusi kita sudah diladeni oleh truk, oleh kapal, jadi tidak ada urgensinya
membangun jaringan pipa untuk BBM,” ujar Rizal di sela-sela rapat bersama
dengan sejumlah menteri dan Badan Anggaran (Banggar) DPR di Gedung
DPR, Jakarta, Rabu (9/9/2015).
Rizal menyarankan agar Pertamina lebih fokus untuk membangun jaringan
pipa gas agar bisa mengganti penggunaan BBM bagi kepentingan transportasi,
kegiatan rumah tangga hingga kegiatan Industri. Ia menilai Indonesia memiliki
potensi sumber daya gas alam yang melimpah serta gas alam memiliki
sejumlah keuntungan tersendiri bagi lingkungan. “Potensi gas Indonesia itu
bisa untuk 60-70 tahun ke depan. Jadi gas dari berbagai wilayah, seperti
Sumatera, Kalimantan dan Irian itu kita salurkan menjadi city gas. Jadi rakyat
bisa seperti di luar negeri pakai gas kota, industri juga bisa. Gas ini juga sangat
ramah lingkungan polusinya rendah,” ujar mantan Menteri Keuangan era
Presiden Abdurrahman Wahid tersebut.

Selain mengkritisi pembangunan jaringan pipa BBM, Rizal juga mengkritisi


pembangunan fasilitas penyimpanan atau storage minyak yang juga
dicanangkan oleh Pertamina. Rencana tersebut, kata Rizal, pernah
disampaikan dalam rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo di Jakarta
pada Hari Selasa (8/9/2015) kemarin. "Kami laporkan, kemarin ada rapat
bersama presiden dan menteri-menteri. Lalu ada keinginan untuk Pertamina
untuk membangun storage supaya stok operasional naik dari 18 hari ke satu
bulan," kata dia.

Rizal menyebutkan, pembangunan tempat penyimpanan minyak tersebut


memerlukan biaya sekitar 2,4 miliar dolar AS. Namun, kata dia, Presiden Joko
Widodo dan para menteri telah memutuskan proyek tersebut bukan prioritas
karena pasokan minyak yang setengahnya diimpor tersebut tidak seharusnya
memberatkan keuangan Pertamina. “Presiden paham pada waktu itu akhirnya
memutuskan ini bukan prioritas karena kita membeli setengah juta barel
minyak mentah setiap hari, membeli setengah juta finished oil setiap hari,
ngapain kita bikin storage,” ujarnya.
Mantan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) tersebut menyarankan agar
pembangunan tempat penyimpanan minyak dilakukan oleh pihak yang
mengimpor minyak ke Indonesia. Sehingga Pertamina bisa menghemat
pengeluaran senilai 2,4 miliar dolar AS. “Atau diatur supaya kita cuma bayar
biaya aksesnya,” kata dia.

6. Pembangunan Kilang Minyak


6.1. Pembangunan Kilang Minyak Baru

Selain upgrading kilang eksisting melalui RDMP, Pertamina juga


merencanakan untuk membangun 3 kilang pengolahan minyak mentah baru
melalui proyek New GRR (Grass Root Refinery), yaitu: GRR East di Bontang
dan GRR West 1 di Tuban (perkiraan selesai di tahun 2020) dan GRR West 2
(perkiraan selesai di tahun 2024). Nilai masing-masing proyek GRR tersebut
diperkirakan mencapai USD 10 miliar atau Rp 130 trilyun.4Berdasarkan
roadmap peningkatan kapasitas kilang yang disusun Pertamina, target
produksi BBM dari berhasilnya proyek RDMP dan New GRR, mencapai 2,3
juta bph di tahun 2025. Terealisasinya proyek ini tentu akan membuat
Indonesia lepas dari ketergantungan impor BBM, juga dipastikan akan
menghasilkan pendapatan yang signifikan dan kontribusi dalam bentuk devisa
kepada negara.

Selain itu, pembangunan kilang minyak baru juga berpotensi meningkatkan


nilai tambah ekonomi melalui added value creation di sektor hilir. Kalangan
industri melalui KADIN meminta pemerintah membuat skema investasi
terintegrasi antara kilang minyak dan gas dengan industri intermediate
petrokimia yang menggunakannnya sebagai bahan baku, dapat menekan harga
bahan baku industry intermediate di dalam negeri, otomatis berdampak pada
harga bahan baku yang diterima industri hilir ditekan lebih rendah.
6.2. Pembangunan Kilang Minyak Skala Mini

Gagasan pembangunan kilang minyak skala mini (mini refinery plant)


merupakan terobosan yang menarik, berdasarkan pertimbangan adanya
beberapa daerah yang sulit dijangkau, namun memiliki lapangan minyak, baik
yang sudah beproduksi maupun lapangan yang belum masuk tahap eksploitasi,
dengan produksi crude oil di bawah 20 ribu bph. Kondisi produksi minyak
eksisting yang tidak memiliki fasilitas penyimpanan (storage), jarak yang jauh
ke fasilitas bongkar muat terapung (floating storage offloading/FSO) dan
kilang BBM, sehingga selama ini minyak mentah tersebut dikirimkan melalui
pipa atau truk tangki sejauh ratusan kilometer ke storage atau FSO terdekat.
Adanya biaya transportasi ini menambah komponen biaya produksi.

Kilang mini memiliki model skid mounted, sudah dalam bentuk fabricated, dan
bisa dipindah-pindah, dengan durasi konstruksi sekitar 18 bulan, diperkirakan
biaya pembangunan senilai USD 50 juta-150 juta untuk kapasitas 6 ribu-18
ribu bph. Untuk menjadi proyek yang feasible, komponen utama yang harus
dimasukkan adalah harga minyak mentah dengan formula di kepala sumur,
yang mereduksi handling cost. Pembangunan kilang minyak skala mini yang
lokasinya dekat dengan lapangan produksi, dinilai efektif untuk meningkatkan
keekonomian lapangan marjinal, menghapuskan biaya transportasi sehingga
menurunkan biaya produksi, mengoptimalkan lifting dan memenuhi
kebutuhan BBM daerah setempat.

Kilang mini pertama yang sudah dibangun di Indonesia adalah kilang milik
PT. Tri Wahana Universal (TWU) di Bojonegoro dengan kapasitas 16 ribu
bph, yang mengolah minyak mentah dari lapangan Banyu Urip, Cepu sejak
tahun 2009. Merujuk pada penelitian LPPM Universitas Gadjah Mada soal
keberadaan kilang mini TWU tersebut, pada tahun 2014, multiplier effect (efek
pengganda) pengoperasian kilang minyak tersebut memberikan nilai tambah
ekonomi Rp 1,3 triliun di tingkat Kabupaten Bojonegoro, Rp 2,6 triliun di
tingkat Provinsi Jawa Timur, dan Rp 9,8 triliun secara nasional.

Sebagai tindak lanjut dari Perpres Percepatan Pembangunan Kilang,


kementerian ESDM, sedang menyiapkan peraturan menteri yang menjadi
dasar pembangunan kilang mini, sekaligus penyiapan skema lelang proyek
tersebut5. Terdapat delapan kluster yang menjadi lokasi pembangunan kilang
mini, yaitu:1. Sumatera Utara meliputi Lapangan Rantau dan Pangkalan Susu
2. Selat Panjang Malaka meliputi Blok EMP Malacca Strait dan Petroselat 3.
Riau meliputi Blok Tonga, Siak, Pendalian, Langgak, dan West Area Kisaran
4. Jambi meliputi Blok Palmerah, Mengoepeh, Lemang, dan Karang Agung 5.
Sumatera Selatan meliputi Blok Merangin II dan Ariodamar 6. Kalimantan
Selatan yakni Blok Tanjung 7. Kalimantan Utara meliputi Blok Bunyu,
Sembakung, Mamburungan, dan Parmusian Juawat, dan 8. Maluku meliputi
Blok Oseil dan Bula. Apabila proyek pembangunan kilang skala mini ini mulai
berjalan, tentu secara otomatis akan memicu pertumbuhan ekonomi setempat,
berikut efek pengganda lainnya, seperti yang sudah terjadi dengan
beroperasinya Kilang TWU Bojonegoro.

6.3. Agenda Pembangunan Kilang Minyak Nasional

Dari evaluasi terhadap demand versus supply BBM, kapasitas infrastruktur


kilang domestik yang saat ini beroperasi, dan proyeksi kebutuhan BBM
nasional sampai tahun 2025, maka diperlukan agenda pembangunan kilang
minyak yang sifatnya krusial dan mendesak untuk dilaksanakan, yaitu:
upgrading kilang minyak eksisting, pembangunan kilang minyak baru, dan
mempercepat pembangunan kilang minyak skala mini (mini refinery plant).
6.4. Upgrading Kilang Minyak Eksisting

Saat ini, Pertamina mengelola enam kilang yang mengolah total minyak
mentah sekitar 1,1 juta bph. Keenam kilang tersebut adalah: UP II Dumai-
Riau, UP III Plaju-Sumsel, UP IV Cilacap-Jateng, UP V Balikpapan-Kaltim,
UP VI Balongan-Jabar, dan UP VII Kasim-Papua. Kilang-kilang eksisting
tersebut desain awalnya untuk mengolah minyak mentah domestik, yang
umumnya berjenis light sweet crude. Produknya pun disesuaikan dengan
kebutuhan konsumen Indonesia saat itu, yaitu premium, kerosene, dan
solar.3Minyak mentah jenis light sweet crude ini harganya lebih mahal,
dengan kandungan sulfurnya rendah sekitar 0,2%. Padahal di pasaran, lebih
banyak beredar jenis minyak mentah sour dengan harga lebih murah meski
kandungan sulfurnya tinggi, sekitar 2%.

Untuk mengatasi berbagai kendala, seperti spesifikasi kilang eksisiting,


menurunnya efisiensi maupun fleksibilitas, maka Pertamina melakukan upaya
revitalisasi dan modernisasi kilang eksisting melalui Proyek Residual Fuel
Catalytic Cracking (RFCC) Cilacap, Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) di
kilang Cilacap dan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di
kilang Balikpapan, kilang Cilacap, kilang Dumai dan kilang Balongan. RFCC
sudah beroperasi sejak November 2015, dengan penambahan produksi
premium 730 ribu barel per bulan, HOMC 200 ribu barel per bulan dan elpiji
31 ribu ton per bulan. PLBC fokus pada peningkatan kualitas produk kilang,
yaitu minyak berkadar oktan 92, setara dengan pertamax, yang dimulai sejak
tahun 2015 dan ditargetkan rampung pada tahun 2018. Pengoperasian kembali
kilang TPPI Tuban oleh Pertamina, juga menyumbang produksi premium
sebanyak 61 ribu bph.
Dengan RDMP ini kilang akan mampu mengolah minyak jenis sour crude
yang lebih murah, juga diproyeksikan akan mendongkrak kapasitas
pengolahan minyak mentah dari posisi saat ini sekitar 820 ribu barel per hari
(bph) menjadi 2 juta bph di tahun 2023. Fleksibilitas kilang juga ditargetkan
meningkat, yang ditunjukkan dengan kemampuannya untuk mengolah minyak
mentah dengan tingkat kandungan sulfur setara 2%, di mana saat ini
kandungan sulfur pada minyak mentah yang dapat ditoleransi hanya 0,2%.
RDMP kilang Balikpapan ditargetkan selesai tahun 2019, RDMP kilang
Cilacap ditargetkan selesai tahun 2022, dan RDMP kilang Dumai dan
Balongan ditargetkan selesai tahun 2023.

7. Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas

Dalam waktu beberapa bulan kedepan masyarakat Balikpapan diperkirakan sudah


bisa menikmati Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai pengganti dari Bahan Bakar
Minyak (BBM) yang selama ini dikonsumsi untuk kendaraan bermotor. Hal itu
seiring dengan tuntasnya pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas
(SPBG) pada akhir Desember nanti. Kepastian tentang selesainya pembangunan
SPBG di Balikpapan ini disampaikan oleh Kabag Humas dan Protokol Pemkot
Balikpapan, Sudirman DJ usai mengikuti pertemuan tertutup antara Dirjen Minyak
dan Gas Kementerian ESDM, Edy Hermantoro dengan Walikota Balikpapan, Rizal
Effendi di ruang kerjanya, Rabu (28/8/2013).

Dalam pertemuan itu menurut Sudirman, Dirjen Migas mengatakan akan terlebih
dahulu melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai keefektifan
penggunaan BBG dibandingkan BBM seperti yang selama ini lazim dikonsumsi.
Sosialisasi akan dilakukan selama 2 hari, dimana pada tanggal 2 September akan
terlebih dahulu dilakukan kepada kalangan internal pemerintah kota, kemudian
keesokan harinya diberikan pemahaman kepada masyarakat. Kementerian ESDM
menurutnya memang telah menunjuk 2 lokasi pembangunan SPBG yang saat ini
tengah dikerjakan pembangunannya, yang terletak di Jl Marsma Iswahyudi serta
satu lagi ditempatkan di Jl Patimura.

8. Eksplorasi Kawasan Untuk Pembangunan Industri Migas


8.1. Penemuan Eksplorasi Tingkatkan Cadangan Migas

Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS)
mengungkapkan dari kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan selama ini
masih terdapat 50 struktur penemuan minyak dan gas bumi yang belum
dikembangkan dengan perkiraan cadangan potensial (2P) sebesar 277 juta
barel untuk minyak dan 5,5 triliun kaki kubik gas. Struktur baru ini diharapkan
dapat mulai berkontribusi meningkatkan cadangan dan produksi migas
nasional dalam lima tahun ke depan, yang tersebar di 24 wilayah kerja
eksplorasi dan eksploitasi di seluruh Indonesia.

“Kita berharap pengembangan struktur penemuan tersebut dapat berjalan


sesuai rencana sehingga bisa berkontribusi untuk produksi nasional
secepatnya,” ujar Wakil Kepala BPMIGAS Hardiono dalam penutupan Forum
Perencanaan di Bandung, Jumat (1/6). Forum Perencanaan ini diadakan untuk
menyusun perkiraan penambahan cadangan dan produksi migas nasional tahun
2013 sampai 2017 dan merupakan forum untuk berbagi pengetahuan antara
sesama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) dan juga dari
industri penunjang. Forum Perencanaan ini diikuti sekitar 300 peserta yang
berasal dari BPMIGAS, Kementerian ESDM, Kontraktor KKS, Perguruan
Tinggi dan perusahaan dari industri penunjang. Hardiono menambahkan saat
ini penemuan cadangan pada bagian timur Indonesia menunjukkan volume
cadangan yang lebih tinggi dari penemuan cadangan di bagian barat Indonesia.
“Peluang Indonesia untuk meningkatkan cadangan dan produksi di masa yang
akan datang dititikberatkan pada kegiatan eksplorasi dan pengembangan di
kawasan timur Indonesia,” ujar Hardiono.

Dia mengingatkan bahwa kegiatan eksplorasi hulu migas merupakan kegiatan


yang padat resiko karena biayanya yang besar dan belum tentu akan
memperoleh hasil yang ekonomis. Sebagai gambaran, saat ini di kawasan
timur Indonesia terdapat 21 pemboran sumur eksplorasi yang belum berhasil
menemukan hidrokarbon dalam jumlah ekonomis padahal investasi sekitar 1,3
miliar US dollar sudah dikeluarkan untuk kegiatan ini. Karena sumur-sumur
ini terletak di Wilayah Kerja Eksplorasi, angka yang sangat fantastis ini tidak
menjadi tanggung jawab negara, akan tetapi sepenuhnya menjadi tanggung
jawab investor.

Dengan investasi yang padat modal dan resiko di bidang eksplorasi dan
produksi hulu migas, Indonesia masih memerlukan keberadaan investor baik
dalam negri maupun asing. Hardiono menambahkan, selain dari
pengembangan lapangan baru, upaya peningkatan produksi juga ditempuh
melalui peningkatan kegiatan enhanced oil recovery (EOR) yang
menggunakan bahan kimia surfaktan dan polymer. Pada tahun 2012, terdapat
tiga proyek pertama (pilot project) EORyang akan dimulai yaitu proyek EOR
Lapangan Minas (PT Chevron Pacific Indonesia), Proyek EOR Tanjung (PT
Pertamina EP), dan Proyek EOR Kaji (PT Medco E&P Indonesia). “Selama
ini teknologi EOR dengan bahan kimia baru diujicobakan di skala
laboratorium, tahun ini untuk pertama kalinya akan mulai diujicobakan di
lapangan minyak,” ujar Hardiono.

Penerapan di sumur produksi ini akan dilakukan selama lima sampai sepuluh
tahun ke depan dan apabila hasilnya memuaskan akan diterapkan dalam skala
penuh sehingga diharapkan terdapat potensi peningkatan produksi minyak
bumi yang sangat besar. Salah satu teknologi yang akan diterapkan di lapangan
Tanjung menggunakan bahan kimia Surfaktan hasil karya bangsa Indonesia
yang diproduksikan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Hardiono
mengingatkan Kontraktor KKS untuk benar-benar melaksanakan rencana
kerja lima tahun terkait dengan penambahan cadangan dari kegiatan eksplorasi
dan rencana produksi baik dari lapangan baru maupun eksisting. “Rencana
kerja ini harus menjadi komitmen kita bersama dalam peningkatan pencapaian
kinerja industri hulu migas nasional,” ujar Hardiono.

8.2. Eksplorasi Migas Bergeser ke Laut Dalam

Kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia kini mulai
bergeser ke laut dalam. Setelah ditemukan pertama kali oleh pengusaha
Belanda Jan Reerink pada 1871, lapangan migas di Indonesia yang sampai
akhir 1990-an mayoritas terletak di lapangan daratan (onshore) kini mulai
melorot produksinya. Lapangan-lapangan yang selama ini menjadi andalan
nasional tersebut telah mengalami faktor alamiah akibat sumur yang menua.

Mengatasi kondisi penurunan produksi ini, selama 10 tahun terakhir telah


terjadi beberapa pergeseran aktivitas hulu migas di Tanah Air. Salah satunya
terkait fokus kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang bergeser dari lapangan
onshore ke daerah lepas pantai dan laut dalam (offshore). Fenomena tersebut
ditunjukkan dari jumlah penawaran lelang wilayah kerja (WK) migas yang
lebih didominasi oleh lapangan offshore selama tiga tahun terakhir.

Di masa depan, Indonesia akan sangat bergantung dengan kawasan perairan


karena 70 persen potensi cadangan migas nasional ada di sana. Meski begitu,
aktivitas eksplorasi di laut dalam bukan tanpa hambatan. Beberapa tantangan
seperti biaya investasi, tingkat pengembalian investasi (IRR) yang rendah dan
periode waktu eksplorasi yang pendek perlu dicari jalan keluarnya oleh
pemerintah guna menggenjot angka produksi migas Indonesia yang terus turun
dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

9. Pengurangan Konsumsi Listrik

Upaya-upaya penghematan energi mendapat perhatian serius semua pihak


karenabiaya bahan bakar untuk produksi listrik semakin mahal, dan isu pemanasan
globalpada proses penyediaan listrik semakin mengemuka karena sebagian besar
listrik PLN diproduksi melalui proses pembakaran.Kenaikan input costs berupa
biaya bahan bakar tidak serta merta diikuti olehkenaikan harga jual. Karena harga
jual listrik PLN didasarkan kepada Tarif DasarListrik yang ditetapkan oleh
Pemerintah dengan persetujuan DPR. Padahal,sebagian besar listrik yang
diproduksi oleh PLN diperoleh dengan cara membakarenergi primer seperti minyak
bumi, gas alam, batubara yang harganya ditentukanoleh pasar.

Dalam kondisi input costs yang terus naik dan harga jual yang relatif
tetap,permintaan energi listrik dari waktu ke waktu meningkat terus sehingga
selisihminus antara Pendapatan dengan Pengeluaran semakin besar.Meningkatnya
permintaan listrik dari waktu ke waktu disebabkan oleh berbagaihal. Satu di
antaranya yang utama adalah harga listrik yang dibayar konsumenrelatif murah,
sementara di pasar semakin banyak dijual peralatan listrik yangmempermudah
aktivitas kehidupan dan menawarkan kenyamanan.

Kondisi harga jual lebih rendah dari biaya pokok penyediaan listrik
menyebabkansemakin banyak konsumen mengonsumsi listrik maka semakin besar
pula kerugianyang dialami PLN. Saat ini, dapat dikatakan seluruh pelanggan PLN
yangmengonsumsi listrik PLN membayar lebih murah dari biaya yang diperlukan
untukmenyediakan listrik tersebut. Dengan kata lain, seluruh pelanggan
memperolehsubsidi dari Pemerintah untuk listrik yang dikonsumsinya.Dengan
demikian, penggunaan listrik secara hemat selain berdampak positif bagikonservasi
energi dan lingkungan, juga berdampak baik bagi kondisi keuangan PLNdan
berdampak baik bagi pengurangan subsidi Pemerintah.Berbagai upaya dilakukan
untuk mendorong konsumen menggunakan listrik secarahemat. Salah satu cara
efektip adalah melalui mekanisme Tarif, yaitu melaluipengenaan tarif listrik sesuai
harga keekonomian. Dengan penerapan tarif keekonomian, berarti juga
mengurangi subsidi dari Pemerintah untuk pelanggan
DAFTAR PUSTAKA

Kajian Supply & Demand Energi, Pusat Data dan Informasi, Kementerian ESDM,
2014

Perpres Perpres Kilang Terbit, Pemerintah Janjikan Insentif dan Jaminan,


Katadata.co.id, 15 Januari 2016

Proyek RDMP Pertamina Naikkan Daya Saing Kilang Nasional, Siaran Pers
Pertamina, 23 Januari 2015

Grass Root Refinery: Pertamina Incar Mitra Strategis, Bisnis Indonesia, 14 Agustus
2015

Pemerintah Bakal Lelang 8 Proyek Kilang Mini, Berita Satu, 16 Februari 2016

Petroleum Refining in Nontechnical Language (4th Edition),PennWell, 2008, Leffler,


William L.

https://forums.spacebattles.com/threads/american-zaibatsus-and-chaebols.531706/

http://psdr.lipi.go.id/publications/policy-papers/item/impact-and-market-economy-in-
rrc-copy-5-copy-4-copy-2

https://www.smart-tbk.com/biofuel-sumber-energi-alternatif/

http://nasional.kompas.com/read/2011/02/25/08301315/ri.bisa.jadi.quotarabnyaquot.b
iofuel

https://ekbis.sindonews.com/read/1147459/34/pembangunan-pipa-gas-transmisi-di-
indonesia-baru-20-1476525638

http://industri.bisnis.com/read/20121219/44/110678/pipa-gas-jaringan-transmisi-dan-
distribusi-agar-diatur-terpadu

http://ekonomi.metrotvnews.com/energi/4KZEmrgk-pgn-siapkan-usd25-miliar-
bangun-jaringan-transmisi-distribusi-gas
http://www.peraturan.go.id/rperpres-tentang-pelaksanaan-pembangunan-jaringan-
distribusi-gas-bumi-untuk-rumah-tangga.html

http://bisnis.liputan6.com/read/3036193/pembangunan-jaringan-gas-rumah-tangga-
melambat-ini-alasannya

https://finance.detik.com/energi/3559381/proyek-jaringan-gas-rumah-tangga-batal-
dapat-tambahan-anggaran

http://ekonomi.kompas.com/read/2015/09/09/155342926/Rizal.Ramli.Kritisi.Pemban
gunan.Jaringan.Pipa.BBM.dan.Storage.Minyak.Pertamina

https://www.merdeka.com/uang/ikuti-perintah-jokowi-pertamina-bakal-bangun-
storage-minyak-baru.html

https://ekbis.sindonews.com/topic/2689/kilang-minyak-dan-gas

https://www.kompasiana.com/abyansyahnaufal/agenda-strategis-pembangunan-
kilang-minyak-nasional_5919085d9a9373d35af2f56d

http://www.pertamina.com/news-room/siaran-pers/mru-beroperasi,-isi-bbg-tak-sulit-
lagi/

http://www3.esdm.go.id/berita/migas/40-migas/5765-50-struktur-penemuan-
eksplorasi-berpotensi-tingkatkan-cadangan-migas-nasional.html