Anda di halaman 1dari 22

FARMAKOTERAPI TERAPAN

PERNAPASAN

Oleh :
NUR AINI K100140010
AHMAD FAUZI K100140011
YUANITA NUR MAGRIFAH K100140012
KUSUMA NASTITI ARDIATI K100140014

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
KASUS 3
PERNAPASAN
IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Bp. Wiryo
Tanggal lahir : 7 September 1949
Alamat : Timuran RT 15 Surakarta
RM : 01 44 69 44
Ruang : bangsal Mawar
Umur : 63 tahun
Tanggal MRS : 22 Juni 2017
Tanggal KRS : 28 Juni 2017
Diagnosa : PPOK eksaserbasi akut, CAP, Dispepsia

I. SUBYEKTIF (Saat MRS)


1. Keluhan Utama : 2 tahun SMRS pasien mengeluh sesak nafas hilang timbul saat beraktifitas,
mengi (+), batuk dahak hilang timbul, nyeri ulu hati hilang timbul, mual (-) muntah (-). Pasien ke
RS W diberikan terapi Furosemid, Aspar K, Salbutamol, Ambroxol, Metil Prednisolon, Ventolin
inhaler, Lansoprazol dan didiagnosa bronkitis dan maag. Dua minggu SMRS mengeluh sesak
memberat, sesak saat istirahat, batuk dahak putih kekuningan (+), demam (-). Tiga hari SMRS
pasien kontrol lagi ke RS W dan disarankan untuk istirahat (ranap) namun ternyata RS W penuh,
akhirnya dirujuk ke RS S  masuk IGD.
2. Keluhan Tambahan : jika berjalan 3 meter sudah ngos-ngosan (sesak)
3. Riwayat Penyakit Dahulu : HT, dispepsia/maag
4. Riwayat Pengobatan : amlodipin 5 mg
5. Riwayat Keluarga/Sosial : duda dengan 3 anak, dengan tingkat ekonomi kebawah. Sebelum
sakit sering pergi keluar kota menyetir truk sendiri mencari kayu. Pasien adalah perokok aktif
selama 15 tahun dan bisa mengkonsumsi 2 bungkus rokok/hari, namun sudah berhenti selama 3
tahun setelah terdiagnosa maag.
6. Alergi Obat : -

II. OBYEKTIF
1. Tanda Vital

Parameter
22/6 23/6 24/6 25/6 26/6 27/6 28/6
Tekanan darah 120/70 160/90 160/90 150/80 140/90 150/90
36,5 36 36,6 36,6 36,7 36,6
Suhu
Nadi 96 80 90 92 88 84
RR 30 28 28 24 22 22

2. Hasil Pemeriksaan Laboratorium


Parameter Normal 22/6 26/6
WBC 4,0 – 11,0 X 10³/μL 21,3 18,7
pH darah 7,35 – 7,45 7,389 -
Pa O2 80 – 100 mmHg 157,8 -
Pa CO2 34- 45 mmHg 65,3 -
HCO3¯ 22 – 26 mEq/L 38,5 -
Sa O2 95 – 97 % 99,4 -
Na 135 – 145 mEq/L 126 139
K 3,5 – 5,1 mEq/L 3,2 4,4
Cl 98 – 107 mEq/L 89 93
SGOT 15 – 37 30 18
SGPT < 34 69 46

3. Hasil pemeriksaan BTA sputum = negatif

Terapi Pasien

Nama obat Tanggal


Regimen 22/6 23/6 24/6 25/6 26/6 27/6 28/6
     
O2 3 lpm

    
Injeksi ceftriaxone 1 g/12 jam - -

   
Azitromisin 500 mg 1x1 - - -

    31,25  Tapper
Injeksi Metilprednisolon 62,5 mg/8 jam
mg off
     
Injeksi ranitidin 1 amp/12 jam -

     
Nebule atrovent : pulmicort 2 cc/resp/8 jam

  
KCl 2x1 - - - -

     
Ambroxol 3x1 

     
Amlodipin 5 mg 1x1 

     
Omeprazol 1x1 -

  
Antasida 3x1 - - - -

  
Sucralfat 3 x C1 - - - 


Cefadroxil 500 mg 2x1 - - - - - 

Kondisi Klinik 22/6 23/6 24/6 25/6 26/6 27/6 28/6


Sesak nafas +++ +++ +++ +++ ++ ++ +
Batuk +++ +++ +++ +++ ++ ++ +
Lemas +++ +++ +++ +++ ++ ++ +
Mual, sebah ++ ++ ++ + + - -
FORM PEMANTAUAN PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN

Nama Pasien : Bp. Wiryo


Tanggal lahir : 7 September 1949
Alamat : Timuran RT 15 Surakarta
RM : 01 44 69 44
Ruang : bangsal Mawar
Umur : 63 tahun
Tanggal MRS : 22 Juni 2017
Tanggal KRS : 28 Juni 2017
Diagnosa : PPOK eksaserbasi akut, CAP, Dispepsia

II. SUBYEKTIF (saat MRS)


II.1 Keluhan Utama (Chief Complaint):
2 tahun SMRS pasien mengeluh :
 sesak nafas hilang timbul saat beraktifitas,
 mengi (+),
 batuk dahak hilang timbul,
 nyeri ulu hati hilang timbul,
 mual (-) muntah (-).

Pasien ke RS W diberikan terapi Furosemid, Aspar K, Salbutamol, Ambroxol, Metil


Prednisolon, Ventolin inhaler, Lansoprazol dan didiagnosa bronkitis dan maag.

Dua minggu SMRS mengeluh :


 sesak memberat,
 sesak saat istirahat,
 batuk dahak putih kekuningan (+),
 demam (-).

Tiga hari SMRS pasien kontrol lagi ke RS W dan disarankan untuk istirahat (ranap) namun
ternyata RS W penuh, akhirnya dirujuk ke RS S  masuk IGD.

II.2 Riwayat Penyakit Sekarang (History of Present Illness)


Bronkitis dan maag

II.3 Riwayat Penyakit Terdahulu (Past Medical History)


Hipertensi, dispepsia/maag

II.4 Riwayat Penyakit Keluarga/Sosial


- Duda dengan 3 anak, dengan tingkat ekonomi kebawah.
- Sebelum sakit sering pergi keluar kota menyetir truk sendiri mencari kayu.
- Pasien adalah perokok aktif selama 15 tahun dan bisa mengkonsumsi 2 bungkus rokok/hari,
namun sudah berhenti selama 3 tahun setelah terdiagnosa maag.

2.5 Riwayat Pengobatan (Medication History)

Nama Dosis Lama Efek/


No Nama Obat Indikasi Rute Frekuensi
Generik (mg) Penggunaan Kesulitan
1. Amlodipin Amodipine Antihipertensi p.o 5 - -
2. Furosemid Furosemide Antihipertensi p.ol - - -
3. Aspar K K-Aspartat Hipokalemia p.o - - -
4. Salbutamol Salbutamol Bronkodilator p.o - - -
5. Ambroxol Ambroxol Mukolitik p.o - - -
Metil Metil
6. Antiinflamasi p.o - - -
Prednisolon prednisolone
7. Ventolin inhaler Salbutamol Bronkodilator inhaler - - -
Terapi
8. Lansoprazol Lansoprazole p.o - - -
dispepsia

III. OBYEKTIF
3. 1 Pemeriksaan Fisik (Physical Examination)

Parameter
22/6 23/6 24/6 25/6 26/6 27/6 28/6
TD 120/70 160/90 160/90 150/80 140/90 150/90
36,5 36 36,6 36,6 36,7 36,6
T
N 96 80 90 92 88 84
RR 30 28 28 24 22 22

3. 2. Kondisi Klinis
Kondisi Klinik 22/6 23/6 24/6 25/6 26/6 27/6 28/6
Sesak nafas +++ +++ +++ +++ ++ ++ +
Batuk +++ +++ +++ +++ ++ ++ +
Lemas +++ +++ +++ +++ ++ ++ +
Mual, sebah ++ ++ ++ + + - -
3. 3. Data Laboratorium

Parameter Normal 22/6 26/6 Keterangan

WBC 4,0 – 11,0 X 10³/μL 21,3 18,7 ↑↑↑

pH darah 7,35 – 7,45 7,389 - N, -

Pa O2 80 – 100 mmHg 157,8 - ↑↑↑, -

Pa CO2 34- 45 mmHg 65,3 - ↑↑↑, -

HCO3¯ 22 – 26 mEq/L 38,5 - ↑↑↑, -

Sa O2 95 – 97 % 99,4 - ↑↑↑, -

Na 135 – 145 mEq/L 126 139 ↓↓↓, N

K 3,5 – 5,1 mEq/L 3,2 4,4 ↓↓↓, N

Cl 98 – 107 mEq/L 89 93 ↓↓↓

SGOT 15 – 37 30 18 N

SGPT < 34 69 46 ↑↑↑

Hasil pemeriksaan BTA sputum = negatif

VI. ASSESMENT
4.1 Terapi Pasien di RS

Nama obat Tanggal


22/6 23/6 24/6 25/6 26/6 27/6 28/6
Regimen
     
O2 3 lpm

    
Injeksi ceftriaxone 1 g/12 jam - -

   
Azitromisin 500 mg 1x1 - - -

    31,25  Tapper
Injeksi Metilprednisolon 62,5 mg/8 jam
mg off
     
Injeksi ranitidin 1 amp/12 jam -

     
Nebule atrovent : pulmicort 2 cc/resp/8 jam

  
KCl 2x1 - - - -

     
Ambroxol 3x1 

     
Amlodipin 5 mg 1x1 

Omeprazol 1x1       -
  
Antasida 3x1 - - - -

  
Sucralfat 3 x C1 - - - 


Cefadroxil 500 mg 2x1 - - - - - 

4.2 Mekanisme Kerja Masing-Masing Obat


 Oksigen : Meningkatkan intake oksigen
 Ceftriaxone : Menghambat sintesis dinding sel bakteri
 Azitromisin : Menghambat sintesis protein pada tahap elongasi
 Metilprednisolon : mengurangi inflamasi dengan menekan polymorphonuclear leukocytes
 Ranitidin : Menhambat reseptor histamin H-2
 KCl : Mengganti kekurangan kalium
 Antasida : Menetralkan asam lambung
 Sucralfat : Melapisi mukosa lambung jika terjadi ulcer
 Cefadroxil : Menghambat sintesis dinding sel bakteri
 Ambroxol : mengencerkan dan mengeluarkan dahak pada batuk berdahak
 Budesonide : Mengurangi inflamasi dengan menekan polymorphonuclear leukocytes
 Omeprazole : Mnghambat pompa proton sehingga sekresi asam lambung berkurang
 Amlodipin : Megurangi influks kalsium, mengakibatkan relakssi otot jantung dan
otot polos sehingga tekanan darah menurun (DIH, 2009).
4.3 Problem Medik dan Drug Related Problems
4.3.1.Problem Medik
Problem
Subyektif, Obyektif Terapi Analisis DRP Rekomendasi Monitoring
Medik
PPOK S : Sesak napas, Oksigen 3 lpm  Tepat obat : dalam Dipiro, 510 Tidak ada DRP Terapi dihentikan Subyektif :
eksaserbasi batuk, pasien dengan PaO2 > 60 mmHg Sesak napas,
akut atau SaO2 > 90% menggunakan batuk, hilang.
O: oksigen.
PaO2 : 157,8 mmHg  Tepat indikasi : sesuai dengan Obyektif :
PaCO2 : 65,3 mmHg gejala sesak yang tidak menentu
 Tepat pasien : tidak ada
SaO2 : 99,4% ESO
kontraindikasi dengan pasien
 Tepat dosis Metilprednisolon
Pasien sudah keluar dari rumah Aritmia, edema,
sakit sehingga pemberian oksigen mual, muntah.
perlu dihentikan.
Metilprednisolon  Tepat indikasi : diindasikan untuk Tidak tepat dosis Dosis Ipratropium
62,5 mg/8 jam iv pasien PPOK ekaserbasi akut. Metilprednisolon bromida
 Tepat pasien : tidak ada ditingkatkan Sinusitis,
kontraindikasi dengan pasien menjadi 125mg bronkitis, nyeri
 Tepat obat : pasien PPOK
tiap 6jam sampai dada, sakit
eksaserbasi akut diberikan
dengan 72 jam kepala.
corticosteroid maka akan
mempersingkat waktu di rumah
Salbutamol
sakit.
 Tidak tepat dosis : dosis
Metilprednisolon secara iv adalah
dosis 125 mg tiap 6 jam sampai 72
jam.

Nebule atrovent :  Tepat indikasi : diindasikan untuk Tidak tepat obat. Terapi dihentikan
pulmicort pasien PPOK eksaserbasi akut. Diganti dengan
 Tidak tepat pasien : nebule Ipratropium bromid
digunakan untuk terapi jangka 20µgr +
panjang bukan untuk pasien salbutamol
eksaserbasi akut 100µgr→
 Tidak tepat obat : nebule digunakan
persemprot : 2 - 4
untuk terapi jangka panjang
 Tepat dosis semprot → 3 - 4
x/hari
Ambroxol 15 mg  Tepat indikasi : tidak ada Tidak tepat obat Terapi dihentikan
3x1 kontraindikasi dengan pasien
 Tepat pasien : tidak ada
kontraindikasi dengan pasien
 Tidak tepat obat : menurut Dipiro:
512 tidak ada manfaatnya memakai
mukolitik
 Tepat dosis

CAP S : Batuk, sesak Azitromisin 500  Tepat Indikasi : Azitromisin dan Tidak ada DRP Dilanjutkan Subyektif :
nafas. mg 1 x 1 ceftriaxon merupakan antibiotik penggunaannya Batuk, sesak
sehari dan injeksi untuk pengobatan empiris Infeksi sambil menunggu napas hilang
O: Ceftriaxone 1 Pneumonia hasil kultur lab.
WBC: gram/12 jam  Tepat Pasien: Azitromisin dan Obyektif :
• 22/6: 21,3 Ceftriaxon tepat digunakan pada Berkurangnya
• 26/6: 18,7 pneumonia akibat comorbiditas infeksi.
penyakit paru obstruksi kronis. WBC : 4,0 – 11,0
 Tepat Obat : Azitromisin dan
X 10³/μL)
Ceftriaxon adalah salah satu first
line therapy untuk pneumonia
 Tepat Dosis : Pemberian ESO

Azitromisin dan Ceftriaxon sudah Azitromisin

sesuai dengan dosis yang Sakit perut,

direkomendasikan diare,
pruritisrash,
Cefadroxil 500  Tepat Indikasi : Cefadroxil adalah Tidak tepat obat Jika dikehendaki
mg 2x1 sehari antibotik yang digunakan untuk menggunakan Ceftriaxone
pengobatan akibat infeksi antibiotik Diare, rash,
 Tepat Dosis : Penggunaan golongan leukopenia,
cefadroxil sudah sesuai dengan sefalosforin peningkatan
dosis yang direkomendasikan direkomendasikan transaminase
 Tidak tepat obat: Cefadroxil
menggunakan
merupakan obat golongan
sefalosforin
sefalosforin generasi pertama
generasi ke 3.
yang bukan merupakan first line
(Ceftriaxon dosis
terapi untuk PPOK.
 Tidak tepat pasien : Pasien 1-2 g/hari)

menderita PPOK eksaserbasi akut


dan pneumonia, cefadroxil bukan
merupakan pilihan terapi selain itu
belum ada data lab mengenai
bakteri penyebab infeksi.

Hipertensi S:- Amlodipin 5 mg 1  Tepat Indikasi : Amlodipine adalah Dosis kurang Dosis amlodipine Obyektif :
x 1 sehari obat golongan CCB diindikasikan perlu ditingkatkan TD Pasien
O: untuk pengobatan hipertensi menjadi 10 mg <150/90mmHg
Tekanan darah :  Tepat Obat : Amlodipine (CCB) dengan aturan
22/6 : 120/70 merupakan first line therapy untuk pakai 1x1 sehari. ESO :
23/6 : 160/90 pengobatan hipertensi Amlodipine
 Tepat dosis : Dosis amlodipine
24/6 : 160/90 Sakit kepala,
yang direkomendasikan adalah 5
25/6 : 150/80 palpitasi, rash,
mg 1x sehari (DIH, 2008). Tekanan
26/6 : 140/90 peripheral
darah pasien belum memenuhi
27/6 : 150/90 goal therapy sehingga dosis edema
amlodipine ditingkatkan menjadi
10 mg 1x1 sehari.
 Tepat pasien : Pasien menderita
hipertensi stage 1 dan tidak ada
kontraindikasi.
Dispepsia S : mual, sebah Injeksi ranitidin 1  Tepat indikasi, karena ranitidin Tidak ada DRP Diganti dengan Subyektif : mual
amp/12 jam dapat digunakan untuk omeprazole untuk dan sebah hilang
O:- pengobatan dispepsia. penggunaan
 Tepat pasien, karena pasien setelah keluar dari Obyektif : -
mengalami mual muntah, sehingga rumah sakit
perlu penanganan mual muntah ESO :
tersebut. Ranitidin :
 Tepat obat, karena ranitidin
Sakit kepala,
merupakan drug of choice untuk
insomnia,
pengobatan dispepsia, tetapi untuk
agitasi, dll.
memudahkan pasien dalam
mengkonsumsi obat setelah keluar
Antasida :
dari rumah sakit ranitidin dapat
Konstipasi,
diganti dengan omeprazol yang
hipomagnesemia
juga telah diberikan pada pasien
, warna feses
selama di rumah sakit
 Tepat dosis, karena dosis yang berubah, dll.

disarankan adalah 50 mg.


Antasida 3 x 1  Tepat indikasi, karena antasida Tidak ada DRP Terapi Omeprazole :
digunakan untuk pengobatan dilanjutkan untuk Sakit kepala,
dispepsia. penggunaan akut. rash, diare, nyeri
 Tepat pasien, karena pasien abdomen,
mengalami gejala yang hilang flatulen,
timbul, sehingga dapat mengatasi konstipasi, dll.
dispepsia apabila terjadi serangan
akut. Sukralfat :
 Tepat obat, karena antasida
Konstipasi, diare,
merupakan drug of choice untuk
dll.
pengobatan serangan akut.
 Tepat dosis,

Omeprazol 1 x 1  Tepat indikasi, karena omeprazol Tidak ada DRP Terapi dilanjutkan
(golongan PPI) dapat digunakan
untuk pengobatan dispepsia.
 Tepat pasien, karena omeprazol
digunakan untuk mengobati
dispepsia dengan mengontrol
gejala dalam jangka waktu yang
panjang.
 Tepat obat, karena untuk
mengobati gejala yang terus ada
perlu pengobatan dengan PPI.
 Tepat dosis, karena dosis yang
disarankan adalah 20 mg/ hari.
Sukralfat 3 x 1C  Tepat indikasi, karena sukralfat Tidak tepat obat Terapi dihentikan
dapat digunakan untuk mengobata
gejala seperti ulcer.
 Tidak tepat pasien, karena pasien
telah menerima pengobatan
dengan omeprazole, ranitidin, dan
antasida.
 Tidak tepat obat, karena sukralfat
bukan drug of choice untuk
pengobatan dispepsia
 Tepat dosis, karena dosis yang
disarankan adalah 1 g 4 kali
sehari.
4.3.2. Drug Related Problems (DRPs)
DRUG RELATED
PERTANYAAN YES NO KOMENTAR
PROBLEMS (DRPs)
Korelasi obat dg masalah Adakah obat tanpa indikasi medis?
medis √
(Correlation between drug Adakah masalah medis yang tidak
therapy & medical problem) diobati √
Ketepatan Pengobatan Apakah obat yang digunakan efektif/
(Appropriate Therapy) mencapai hasil yang diinginkan √
(therapeutic outcome)?
Apakah obat yang digunakan

dikontraindikasikan untuk pasien?
Apakah obat yang digunakan merupakan
drug of choice ? √
Apakah terapi non-obat diperlukan? √
Drug Regimen Apakah besaran dosis sudah tepat untuk

pasien?
Apakah frekuensi pemberian sudah

tepat?
Apakah lama pemberian obat sudah Lama pemberian
tepat? setelah keluar dari

rumah sakit tidak
diketahui.
Duplikasi terapi/Polifarmasi Adakah terjadi duplikasi terapi? Terapi dispepsia
√ diberikan obat
yang berlebihan.
Adverse Drug Reactions Adakah gejala/ masalah medis yang

disebabkan oleh obat?
Interaksi Obat Adakah interaksi obat-obat yg

berdampak klinis?
Adakah interaksi obat- makanan yg
berdampak klinis? √
Adakah interaksi obat- pemeriksaan
laboratorium yang berdampak klinis? √
Alergi Obat/ Intoleransi Apakah terjadi alergi /intoleransi

terhadap obat ?
Adherence/ Compliance Adakah masalah ketidak patuhan pasien

terhadap penggunaan obat?
Apakah pasien mengalami hambatan/
kesulitan dalam penggunaan obat? √
IV. PEMBAHASAN
PPOK
CAP
HIPERTENSI

DISPEPSIA
V. KESIMPULAN REKOMENDASI

 Pemberian antibiotik spektrum sempit yang didasarkan pada pemeriksaan hasil kultur lab.
 Amlodipine 10 mg 1x1 sehari
 Antasida 3x1 sehari sebelum makan
 Omeprazole 1x1 sehari
 Metilprednisolone 125 mg tiap 6 jam
 Ipatropium bromide dan salbutamol nebulizer

VI. KONSELING
 Istirahat yang cukup
 Teruskan untuk tidak merokok.
 Hindari polusi dan asap rokok
 Hidrasi yang banyak
 Perlu dikompres jika panas tinggi
 Kurangi makanan yang mengandung garam
 Disarankan untuk melakukan EGD (esophagogastroduodenoscopy) apabila pasien
mampu.

VII. DAFTAR PUSTAKA


APA, 2008, Drug Information Handbook, Lexicomp

Dipiro T.J., 2009, Pharmacoteraphy handbook 7th edition, New York : McGrow Hill