Anda di halaman 1dari 24

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR

RUMAH SAKIT ADVENT BANDAR LAMPUNG


Nomor: 097/SK/DIR-RSABL/V/2016

TENTANG

KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI DI


RUMAH SAKIT ADVENT BANDAR LAMPUNG

ATAS BERKAT RAHMAT TUHAN YME

DIREKTUR RUMAH SAKIT ADVENT BANDAR LAMPUNG

Menimbang: a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di Rumah


Sakit Advent Bandar Lampung sesuai dengan Manajemen dan
Penggunaan Obat telah diberlakukan Surat Keputusan Direktur
Rumah Sakit Advent Nomor : 04/PER/DIR/I/2013 tanggal 2 Januari
2013

b. Bahwa agar pelayanan farmasi di Rumah Sakit Advent dapat


terlaksana dengan baik, perlu adanya kebijakan Direktur Rumah
Sakit Advent sebagai landasan bagi penyelenggaraan pelayanan
farmasi di Rumah Sakit Advent

c. Bahwa pada huruf a,b tersebut dipandang perlu ditetapkan


dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit Advent Bandar Lampung.

Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan


2. Undang-undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2009
tentang Pekerjaan Kefarmasian
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58
tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah Sakit
5. Keputusan Pengurus Yayasan Rumah Sakit Advent Nomor
008/ESKEP/PENG-YRSABL/I/2015 tanggal 18 Januari 2015, tentang
Struktur Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Advent Bandar
Lampung
6. Surat Keputusan Badan Pengurus Yayasan Rumah Sakit Advent
Bandar Lampung No.PENG.YRSABL/3.25/XII-2013 tanggal 11
Desember 2013 tentang Pengangkatan Direktur Pelaksana
Yayasan Rumah Sakit Advent Bandar Lampung periode 2013 –
2018.

1
MEMUTUSKAN

Menetapkan :

Pertama : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT TENTANG KEBIJAKAN


TENTANG PELAYANAN FARMASI DI RUMAH SAKIT ADVENT
BANDAR LAMPUNG

Kedua : Kebijakan Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit Advent Bandar


Lampung sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini

Ketiga : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pelayanan Farmasi


Rumah Sakit Advent dilaksanakan oleh Direktur Rumah Sakit
Advent Bandar Lampung

Keempat : Dengan diberlakukannya keputusan ini, maka Surat Keputusan


Direktur Rumah Sakit Advent Bandar Lampung Nomor :
04/PER/DIR/I/2013 tanggal 2 Januari 2013, dinyatakan tidak
berlaku lagi

Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya dan apabila di


kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : Bandar Lampung.

Pada tanggal : 04 Mei 2016

Direktur Rumah Sakit Advent Bandar Lampung

dr. Reuben V.T. Supit

2
Lampiran 1 : Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Advent
Nomor :
Tanggal :
Tentang : Kebijakan Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit Advent Bandar
Lampung

KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI di RUMAH SAKIT ADVENT BANDAR LAMPUNG

I. Pengertian
Pengelolaan perbekalan farmasi dan pelayanan kefarmasian adalah suatu
siklus kegiatan yang dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, peresepan, peracikan,
pemberian obat, penggunaan dan pemberian informasi, pemantauan
manfaat dan keamanan, termasuk pendokumentasian, laporan dan evaluasi

II. Tujuan
1. Sebagai pedoman penyelengaraan pelayanan farmasi di rumah sakit
2. Menerapkan standar pelayanan kefarmasian
3. Memberikan pelayanan yang profesional kepada pasien
4. Meningkatkan mutu pelayanan farmasi di rumah sakit

III. Kebijakan

A. Umum
1. Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu
kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dan kegiatan
pelayanan farmasi klinik dengan maksud mencapai hasil yang pasti
untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
2. Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada
apoteker, baik dalam bentuk kertas (paper) maupun elektronik
(electronic) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien
sesuai peraturan yang berlaku. Penulisan resep harus mengikuti
prinsip penulisan resep obat, dengan minimal persyaratan :
 Ada identitas dokter
 Ada identitas pasien
 Nama Obat
 Kekuatan Obat
 Bentuk Obat
 Jumlah Obat
 Perintah Pembuatan
 Aturan Pemakaian
 Rute pemakaian
3. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan
kosmetika.

3
4. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi
untuk manusia.
5. Obat Hebal adalah obat yang bersifat organik atau alami. Obat herbal
murni diambil dari saripati tumbuhan atau hewan yang mempunyai
manfaat untuk pengobatan, tanpa ada campuran bahan kimia buatan
(sintetis). Dapat digunakan dengan persyaratan harus memiliki khasiat
nyata yang teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara luas untuk
pengobatan oleh masyarakat dan dokter.
6. Alat Kesehatan (alkes) adalah instrumen, aparatus, mesin dan/ atau
implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah,
mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat
orang sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau
membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.
7. Bahan Medis Habis Pakai (BMHP atau disingkat BHP) adalah alat
kesehatan yang ditujukan untuk penggunaan sekali pakai (single use)
yang daftar produknya diatur dalam peraturan perundang-undangan.
8. Instalasi Farmasi adalah unit pelaksana fungsional yang
menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah
Sakit dan dipimpin oleh seorang Apoteker.
9. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan
telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
10. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker
dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana
Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah
Farmasi/Asisten Apoteker.
11. Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) yaitu organisasi yang mewakili
hubungan komunikasi antara staf medik dengan staf farmasi, sehingga
anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili spesialisasi-spasialisasi
yang ada di rumah sakit dan apoteker wakil dari farmasi rumah sakit,
serta tenaga kesehatan lainnya.
Tujuan Panitia Farmasi dan Terapi adalah Menerbitkan kebijakan-
kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat dan
evaluasinya.
a. PFT adalah Panitia Farmasi dan Terapi terdiri :
 Ketua PFT adalah seorang Dokter
 Sekretaris PFT adalah Apoteker
 Anggota PFT adalah perwakilan dari Kelompok Staf
Medis, Apoteker, Perawat dan Ahli Gizi.
b. Panitia Farmasi dan Terapi mengadakan rapat minimal 2 (dua)
kali dalam setahun.

4
c. Apoteker anggota PFT wajib memberikan informasi yang
lengkap meliputi tinjauan farmakologi, farmakokinetik,
farmakodinamik dan toksikologi pada saat seleksi obat
d. Dalam keadaan tertentu, Kepala Instalasi Farmasi dapat
mengadakan obat diluar formularium RS Advent Bandar
Lampung dengan pesyaratan :
 Obat tersebut bersifat segera digunakan (cito)
 Pasien telah terbiasa dengan obat tersebut
 Obat tersebut merupakan satu-satunya preparat yang
tersedia dan sesuai dengan indikasi penyakit pasien
pasien
 Dimasukkan dalam agenda seleksi pada rapat PFT
selanjutnya
e. Pengelolaan dan pemantauan obat dan alat kesehatan sampel
dilakukan dan ditelaah oleh PFT
f. Penulisan pemesanan obat (resep dokter) harus mengikuti
prinsip penulisan resep obat dengan minimal persyaratan :
- Ada identitas dokter
- Ada identitas pasien
- Nama Obat
- Kekuatan Obat
- Bentuk Obat
- Jumlah Obat
- Perintah Pembuatan
- Aturan Pemakaian
- Rute pemakaian

B. Pengelolaan Perbekalan Farmasi


1. Pemilihan Perbekalan Farmasi
a. Semua obat yang digunakan di RS. Advent Bandar Lampung
harus melalui proses seleksi oleh Panitia Farmasi dan Terapi.
b. Hasil seleksi obat diterbitkan dalam bentuk buku Formularium
RS. Advent Bandar Lampung yang ditetapkan berlaku selama
satu tahun dan ditetapkan kembali setiap tahun serta disahkan
Direktur.
c. Semua Kelompok Staf Medis dan Instalasi wajib mematuhi hasil
seleksi obat yang tertuang dalam bentuk Formularium RS.
Advent Bandar Lampung.
d. Kriteria dasar dalam pemilihan obat adalah :
 Masuk dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN)
 Masuk dalam Formularium Nasional (FORNAS)
 Kualitas dan keamanan obat
 Efektifitas manfaat dan resiko efek samping obat
 Serapan Obat
 Pola Penyakit dalam masyarakat
 Memiliki Registrasi atau Ijin Edar dari BPOM atau
Kemenkes RI

5
 Ada hasil evaluasi penggunaan obat di RS. Advent Bandar
Lampung
 Harga
 Khusus Obat herbal/tradisional, harus memiliki khasiat
nyata yang teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara
luas untuk pengobatan oleh masyarakat dan dokter.

2. Perencanaan Pengadaan Perbekalan Farmasi


a. Perencanaan pengadaan dibuat oleh Instalasi Farmasi yaitu
Kepala Instalasi Farmasi atau yang mewakilinya.
b. Perencanaan didasarkan pada Formularium RS. Advent Bandar
Lampung
c. Perencanaan harian dibuat setiap hari berdasarkan kebutuhan :
 Kebutuhan harian Instalasi Farmasi
 Epidemi Penyakit
 Anggaran yang tersedia;
 Penetapan prioritas;
 Sisa persediaan;
 Data pemakaian periode yang lalu;
 Waktu tunggu pemesanan; dan
 Rencana pengembangan.
d. Perencanaan dituangkant dalam Formulir Pembelian Obat-
obatan dan Alat Kesehatan disahkan oleh

3. Pengadaan Perbekalan Farmasi


a. Proses pengadaan perbekalan farmasi dilakukan oleh Bagian
Keuangan melalui Seksi Pembelian berdasarkan Formulir
Pembelian Obat-obatan dan Alat Kesehatan yang dibuat oleh
Instalasi Farmasi
b. Pengadaan dilakukan dengan cara :
 Pembelian ke Pedagang Besar Farmasi (PBF) resmi, untuk
pengadaan rutin harian dan khusus
 Pembelian ke Apotek, untuk pengadaan obat satuan
(kurang dari 1 bok), karena ada permintaan diluar
rencana, terjadi kekosongan obat rutin di PBF resmi atau
PBF resmi tutup.
 Pembuatan, untuk spesifikasi (formula, volume/jumlah,
konsentrasi) produk yang tidak ada di pasaran, produk
yang mudah rusak atau produk untuk penelitian/
pengujian.
 Sumbangan, untuk produk sampel, obat dan alkes untuk
pengobatan cuma-cuma atau obat yang diberikan karena
ada program dari pemerintah.

4. Penerimaan Perbekalan Farmasi

6
Penerimaan adalah kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera
dalam kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.
Semua dokumen terkait penerimaan barang harus tersimpan dengan
baik.
a. Penerimaan perbekalan farmasi yang dibeli dari distributor atau
sumbangan dilakukan oleh Instalasi Farmasi melalui Unit
Gudang Farmasi.
b. Penerimaan perbekalan farmasi yang dibeli dari apotek untuk
obat satuan dilakukan oleh Instalasi Farmasi melalui Unit
Pelayanan Obat Rawat Inap/Jalan

5. Penyimpanan Perbekalan Farmasi


a. Penyimpanan dilaksanakan untuk memelihara mutu, menjaga
ketersediaan barang, memudahkan pengawasan, menjaga
keamanan dan memudahkan pencarian
b. Menggunakan sistem penyimpanan FEFO (first expired first out),
yang memiliki tanggal daluwarsa terdekat digunakan dahulu dan
FIFO (first in first out), barang yang datang dahulu yang keluar
dahulu.
c. Menggunakan dasar penyimpanan yang berlaku, yaitu :
1) Stabilitas produk, seperti :
 Suhu 25-30°C, suhu kamar
 Suhu < 25°C, ruang ber-AC
 Suhu 2-8°C, lemari pendingin
2) Bentuk sediaan, seperti: tablet, syrup, salep/krim, injeksi,
alat kesehatan dll.
3) Keamanan, seperti: bahan mudah menguap/terbakar,
bahan B3
4) Persyaratan khusus, seperti:
 Narkotika, disimpan langsung di unit pelayanan
rawat inap/jalan IFRS dalam lemari terpisah dari
obat lain dengan dobel pintu dan kunci
 psikotropika, disimpan langsung di unit pelayanan
rawat inap/jalan IFRS dalam lemari terpisah dari
obat lain
 sitostatika, disimpan langsung di unit pelayanan
rawat inap/jalan IFRS dalam lemari terpisah dari
obat lain dan diberi label sitostaika
 Obat LASA (look a like sound a like), diberi label
LASA
 Film Radiologi disimpan dalam suhu < 15°C
5) Sifat Farmakologi, seperti : obat high alert (obat yang
perlu diwaspadai) disimpan pada lemari terpisah dan
diberi label high alert, garis merah
6) Alfabetis, seperti : A-Z

7
d. Penyimpanan obat emergency
Adalah obat yang dibutuhkan pasien dalam keadaan
emergency dan bersifat life saving untuk keselamatan pasien.
Pengelolaan Obat emergensi harus menjamin:
1. Jumlah dan jenis Obat sesuai dengan daftar Obat
emergensi yang telah ditetapkan;
2. Tidak boleh bercampur dengan persediaan Obat untuk
kebutuhan lain;
3. Bila dipakai untuk keperluan emergensi harus segera
diganti;
4. Dilarang untuk dipinjam untuk kebutuhan lain.
5. Obat emergency disimpan dalam emergency troley yang
tersegel dalam jumlah yang cukup dan diletakkan dalam
setiap bangsal dan unit pelayanan
6. Penggunaan obat emergency dibawah tanggungjawab
Kepala Ruangan dan setiap penggunaan harus dicatat
dalam buku penggunaan obat emergency yang terdapat
pada setiap emergency troley tersebut
7. Setiap ada tindakan pembukaan segel, harus segera
menghubungi Instalasi Farmasi dan meminta untuk
melengkapi kembali obat emergency bila ada yang
digunakan menggunakan formulir penggunaan obat
emergency dan menyegel kembali emergency troley
tersebut
8. Petugas Instalasi Farmasi yang ditunjuk harus selalu
memeriksa obat emergency dalam kurun waktu tertentu
9. Daftar obat emergency ditetapkan oleh Direktur Rumah
Sakit Advent
e. Pengawasan Penyimpanan Perbekalan Farmasi
 Pengawasan penyimpanan perbekalan farmasi di Unit
Gudang Farmasi dan Unit Pelayanan Obat Rawat
Inap/Rawat Jalan dilaksanakan oleh Kepala Unit masing-
masing.
 Pengawasan Jumlah Fisik, yaitu melakukan inspeksi
berkala terhadap fisik dengan cara melakukan sampling
secara acak untuk melihat kesesuaian jumlah antara
kartu stok, sistem inventori SIRSABL dan fisik perbekalan
farmasi
 Pengawasan suhu, dengan melakukan pencatatan suhu
sehari 2 kali, pagi dan sore di gudang farmasi, pagi dan
malam di unit rawat jalan/inap pada formulir
pemantauan suhu
 Pengawasan Daluwarsa, yaitu dengan memberikan label
Kuning untuk perbekalan farmasi dengan masa
daluwarsa 3-6 bulan dan label merah untuk masa
daluwarsa 3 bulan ke bawah

8
 Pengawasan Keseluruhan, yaitu melakukan stok opname
terhadap seluruh perbekalan farmasi yang terdapat di
Gudang Farmasi, Unit Rawat Inap/Jalan dan Depo Satelit
guna mengetahui jumlah, kondisi dan masa daluwarsa
perbekalan farmasi.
f. Pengamanan Penyimpanan Perbekalan Farmasi di Gudang
Farmasi
 Pengamanan Penyimpanan Perbekalan Farmasi di
Gudang Farmasi dan Unit Pelayanan Obat RI/RJ menjadi
tanggung jawab dari Kepala Unit Gudang Farmasi.
 Gudang farmasi dipastikan dalam kondisi aman dan
terkunci pada saat di luar jam kerja.
 Gudang Farmasi dikunci dengan 2 jenis kunci (gembok)
yang berbeda untuk saling kontrol. Anak Kunci ke-1
disimpan di unit rawat inap/jalan untuk membuka/tutup
kunci ke-1. Anak kunci ke-2 disimpan oleh petugas
gudang farmasi untuk membuka/tutup kunci ke-2. Kedua
kunci harus dibuka/tutup bersamaan.
 Selain petugas gudang farmasi dilarang masuk ke dalam
gudang penyimpanan persediaan farmasi.
 Terdapat daftar dan tandatangan penerima dan pemberi
anak kunci 1 di unit pelayanan obat rawat inap/jalan.
 Setiap pengeluaran perbekalan farmasi, harus ada slip
pengeluaran yang dicetak dari SIRSABL dan
ditandatangani oleh penerima barang.
g. Pengamanan Penyimpanan Perbekalan Farmasi di Depo Satelit.
 Depo Satelit adalah tempat penyimpanan berbekalan
farmasi di unit pelayanan klinis tertentu yang menjadi
tanggung-jawab pengelolaannya adalah Instalasi Farmasi
melalaui Kepala Unit Pelayanan Obat Rawat Inap/Jalan.
 Kepala Shift Jaga dari Unit Pelayanan Klinis bertanggung-
jawab untuk pengamanan yaitu memegangun anak kunci
Depo Satelit untuk membuka dan menutupnya, serta
menjamin dilaksanakannya pencatatan masuk keluar
perbekalan.
 Pengecekan dan pengisian Depo Satelit dibuat 2 (dua)
dalam sehari pada shift pagi dan sore atau.
 Sediaan perbekalan farmasi dalam depo satelit selalu
tercatat dalam hal pemasukan maupun pengeluaran.
 Lemari selalu terkunci dan anak kunci dipegang oleh
petugas kepala shif jaga dari unit dimana Depo Satelit itu
berada.
10. Pendistribusian Perbekalan Farmasi
Adalah penyaluran/penyerahan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit
pelayanan/pasien dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis,
jumlah, dan ketepatan waktu.

9
Sistem distribusi di unit pelayanan dilakukan dengan cara:
a. Sistem Persediaan di Unit (depo satelit)
Serah terima pengelolaan obat depo sateli dilakukan 2 (dua) kali
sehari antara petugas Unit Pelayan Obat Rawat Inap/Jalan yang
bekerja pada shift pagi dan sore.
b. Sistem Resep Perorangan untuk Rawat Jalan
Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai berdasarkan Resep perorangan untuk pasien rawat
jalan.
c. Sistem Resep Perorangan bentuk Unit Dosis untuk Rawat Inap
Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai berdasarkan Resep perorangan yang disiapkan dalam
unit dosis tunggal atau ganda, untuk penggunaan satu kali dosis
untuk pasien rawat inap.
Pemberian obat/alat kesehatan di Bangsal rawat inap didelegasikan
kepada perawat (medicine nurse).

11. Pemusnahan dan Penarikan Perbekalan Farmasi


Pemusnahan dan Penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang tidak dapat digunakan dilaksanakan atau
ditanggung-jawabi oleh Kepala Instalasi Farmasi dengan cara yang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Syarat pemusnahan adalah bila:
a. produk tidak memenuhi persyaratan mutu;
b. telah kadaluwarsa;
c. tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan
kesehatan atau kepentingan ilmu pengetahuan; dan
d. dicabut izin edarnya.

Penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis


Pakai dilakukan terhadap produk yang izin edarnya dicabut atau
barangnya ditarik dari peredaran oleh Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) dan atau Pabrik/Produsen Farmasi.

12. Pengendalian Perbekalan Farmasi


Pengendalian terhadap jenis, jumlah dan penggunaan sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai, dilakukan oleh Instalasi
Farmasi bersama Panitia Farmasi dan Terapi (PFT).
Tujuan pengendalian persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai adalah untuk:
a. penggunaan Obat sesuai dengan Formularium Rumah Sakit;
b. penggunaan Obat sesuai dengan diagnosis dan terapi;

10
c. memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi
kelebihan dan kekurangan/kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa,
dan kehilangan serta pengembalian pesanan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.

11
Cara untuk mengendalikan persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai adalah:
a. melakukan evaluasi persediaan yang jarang digunakan (slow moving);
b. melakukan evaluasi persediaan yang tidak digunakan dalam waktu
tiga bulan berturut-turut (death stock);
c. Stok opname yang dilakukan secara periodik dan berkala.

13. Administrasi Perbekalan Farmasi


Administrasi dilakukan secara tertib dan berkesinambungan untuk
memudahkan penelusuran kegiatan yang sudah berlalu meliputi :
a. Pencatatan dan Pelaporan Perbekalan Farmasi
Pencatatan dan pelaporan kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian,
pengendalian persediaan, pengembalian, pemusnahan dan
penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai.
Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan Instalasi Farmasi
dalam periode waktu tertentu (bulanan, triwulanan, semester atau
per tahun).
Jenis-jenis pelaporan yang dibuat menyesuaikan dengan peraturan
yang berlaku.

Pencatatan dilakukan untuk:


 persyaratan Kementerian Kesehatan/BPOM;
 dasar akreditasi Rumah Sakit;
 dasar audit Rumah Sakit; dan
 dokumentasi farmasi.

Pelaporan dilakukan sebagai:


 komunikasi antar level manajemen;
 penyiapan laporan tahunan yang komprehensif mengenai
kegiatan di Instalasi Farmasi; dan
 laporan tahunan.

b. Administrasi Keuangan Perbekalan Farmasi


Administrasi Keuangan Perbekalan Farmasi dilaksanakan dan
ditanggung-jawabi oleh Kepala Bagian Keuangan dibantu oleh Kepala
Instalasi Farmasi.

12
Administrasi keuangan mencakup pengaturan anggaran,
pengendalian dan analisa biaya, pengumpulan informasi keuangan,
penyiapan laporan, penggunaan laporan yang berkaitan dengan
semua kegiatan Pelayanan Kefarmasian secara rutin atau tidak rutin
dalam periode bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan.
c. Administrasi Penghapusan Perbekalan Farmasi
Administrasi penghapusan perbekalan farmasi dilaksanakan dan
ditanggung-jawabi Kepala Instalasi Farmasi dan mencakup kegiatan
penyelesaian terhadap Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai yang tidak terpakai karena kadaluwarsa, rusak,
mutu tidak memenuhi standar dengan cara membuat usulan
penghapusan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai kepada Direktur untuk disetujui dan ditindak-lanjuti.

C. Pelayanan Farmasi Klinis


Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan langsung yang diberikan
Apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome terapi dan
meminimalkan risiko terjadinya efek samping karena Obat, untuk tujuan
keselamatan pasien (patient safety) sehingga kualitas hidup pasien (quality
of life) terjamin.
1. Pengkajian dan Pelayanan Resep
Pelayanan Resep meliputi :
 penerimaan,
 pemeriksaan ketersediaan,
 pengkajian Resep,
 penyiapan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai
 peracikan Obat,
 pemeriksaan,
 penyerahan
 pemberian informasi.
Pengkajian Resep harus memenuhi persyaratan administrasi,
persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis
Persyaratan administrasi meliputi:
 nama, umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan pasien;
 nama, nomor ijin, alamat dan paraf dokter;
 tanggal Resep; dan
 ruangan/unit asal Resep.
Persyaratan Farmasetik meliputi:
 nama Obat, bentuk dan kekuatan sediaan;
 dosis dan Jumlah Obat;
 stabilitas; dan

13
 aturan dan cara penggunaan.

Persyaratan Klinis meliputi:


 ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan Obat;
 duplikasi pengobatan;
 alergi dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD);
 kontraindikasi; dan
 interaksi Obat.

2. Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat


Adalah proses untuk mendapatkan informasi mengenai seluruh
Obat/Sediaan Farmasi lain yang pernah dan sedang digunakan, riwayat
pengobatan dapat diperoleh dari wawancara atau data rekam
medik/pencatatan penggunaan Obat pasien.
Tahapan penelusuran riwayat penggunaan Obat:
 membandingkan riwayat penggunaan Obat dengan data rekam
medik/pencatatan penggunaan Obat untuk mengetahui
perbedaan informasi penggunaan Obat;
 melakukan verifikasi riwayat penggunaan Obat yang diberikan
oleh tenaga kesehatan lain dan memberikan informasi tambahan
jika diperlukan;
 mendokumentasikan adanya alergi dan Reaksi Obat yang Tidak
Dikehendaki (ROTD);
 mengidentifikasi potensi terjadinya interaksi Obat;
 melakukan penilaian terhadap kepatuhan pasien dalam
menggunakan Obat;
 melakukan penilaian rasionalitas Obat yang diresepkan;
 melakukan penilaian terhadap pemahaman pasien terhadap Obat
yang digunakan;
 melakukan penilaian adanya bukti penyalahgunaan Obat;
 melakukan penilaian terhadap teknik penggunaan Obat;
 memeriksa adanya kebutuhan pasien terhadap Obat dan alat
bantu kepatuhan minum Obat (concordance aids);
 mendokumentasikan Obat yang digunakan pasien sendiri tanpa
sepengetahuan dokter; dan
 mengidentifikasi terapi lain, misalnya suplemen dan pengobatan
alternatif yang mungkin digunakan oleh pasien.

Informasi yang harus didapatkan:

14
 nama Obat (termasuk Obat non Resep), dosis, bentuk sediaan,
frekuensi penggunaan, indikasi dan lama penggunaan Obat;
 reaksi Obat yang tidak dikehendaki termasuk riwayat alergi;
dan
 kepatuhan terhadap regimen penggunaan Obat (jumlah Obat
yang tersisa).

3. Rekonsiliasi Obat
Adalah proses membandingkan instruksi pengobatan dengan Obat yang
telah didapat pasien. Dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan
Obat (medication error) seperti Obat tidak diberikan, duplikasi,
kesalahan dosis atau interaksi Obat. Kesalahan Obat (medication error)
rentan terjadi pada pemindahan pasien dari satu Rumah Sakit ke
Rumah Sakit lain, antar ruang perawatan, serta pada pasien yang keluar
dari Rumah Sakit ke layanan kesehatan primer dan sebaliknya.
Tujuan adalah:
 memastikan informasi yang akurat tentang Obat yang digunakan
pasien;
 mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terdokumentasinya
instruksi dokter; dan
 mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terbacanya instruksi
dokter.
Dengan tahapan :
a. Pengumpulan data
Mencatat data dan memverifikasi Obat yang sedang dan akan
digunakan pasien, meliputi :
 nama Obat,
 dosis,
 frekuensi,
 rute,
 Obat mulai diberikan,
 diganti,
 dilanjutkan dan dihentikan,
 riwayat alergi pasien
 efek samping Obat yang pernah terjadi.
Khusus untuk data alergi dan efek samping Obat, dicatat tanggal
kejadian, Obat yang menyebabkan terjadinya reaksi alergi dan efek
samping, efek yang terjadi, dan tingkat keparahan.
Data riwayat penggunaan Obat didapatkan dari pasien, keluarga
pasien, daftar Obat pasien, Obat yang ada pada pasien, dan rekam

15
medik/medication chart. Data Obat yang dapat digunakan tidak lebih
dari 3 (tiga) bulan sebelumnya.
Semua Obat yang digunakan oleh pasien baik Resep maupun Obat
bebas termasuk herbal harus dilakukan proses rekonsiliasi.
b. Komparasi
Petugas kesehatan membandingkan data Obat yang pernah, sedang
dan akan digunakan. Discrepancy atau ketidakcocokan adalah
bilamana ditemukan ketidakcocokan/perbedaan diantara data-data
tersebut. Ketidakcocokan dapat pula terjadi bila ada Obat yang
hilang, berbeda, ditambahkan atau diganti tanpa ada penjelasan
yang didokumentasikan pada rekam medik pasien. Ketidakcocokan
ini dapat bersifat disengaja (intentional) oleh dokter pada saat
penulisan Resep maupun tidak disengaja (unintentional) dimana
dokter tidak tahu adanya perbedaan pada saat menuliskan Resep.
c. Melakukan konfirmasi kepada dokter jika menemukan
ketidaksesuaian dokumentasi.
Apoteker harus menghubungi dokter bila ada ketidaksesuaian
kurang dari 24 jam. Dan menilai hal-hal :
 menentukan bahwa adanya perbedaan tersebut disengaja
atau tidak disengaja;
 mendokumentasikan alasan penghentian, penundaan, atau
pengganti; dan
 memberikan tanda tangan, tanggal, dan waktu dilakukannya
rekonsilliasi Obat.

d. Komunikasi
Melakukan komunikasi dengan pasien dan/atau keluarga pasien atau
perawat mengenai perubahan terapi yang terjadi. Apoteker
bertanggung jawab terhadap informasi Obat yang diberikan.
Pedoman teknis mengenai rekonsiliasi Obat akan diatur lebih lanjut
oleh Direktur Jenderal.

4. Pelayanan Informasi Obat (PIO)


Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan dan
pemberian informasi, rekomendasi Obat yang independen, akurat, tidak
bias, terkini dan komprehensif yang dilakukan oleh Apoteker kepada
dokter, Apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien dan
pihak lain di luar Rumah Sakit.
PIO bertujuan untuk:
a. menyediakan informasi mengenai Obat kepada pasien dan tenaga
kesehatan di lingkungan Rumah Sakit dan pihak lain di luar Rumah
Sakit;

16
b. menyediakan informasi untuk membuat kebijakan yang
berhubungan dengan Obat/Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai, terutama bagi Tim Farmasi dan Terapi;
b. Menunjang penggunaan Obat yang rasional.

Kegiatan PIO meliputi:


a. menjawab pertanyaan;
b. menerbitkan buletin, leaflet, poster, newsletter;
c. menyediakan informasi bagi Tim Farmasi dan Terapi sehubungan
dengan penyusunan Formularium Rumah Sakit;
d. bersama dengan Tim Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS)
melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan
rawat inap;
e. melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kefarmasian
dan tenaga kesehatan lainnya; dan
f. melakukan penelitian.

5. Konseling
Konseling Obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran
terkait terapi Obat dari Apoteker (konselor) kepada pasien dan/atau
keluarganya. Konseling untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap di
semua fasilitas kesehatan dapat dilakukan atas inisitatif Apoteker,
rujukan dokter, keinginan pasien atau keluarganya. Pemberian
konseling yang efektif memerlukan kepercayaan pasien dan/atau
keluarga terhadap Apoteker.
Pemberian konseling Obat bertujuan untuk mengoptimalkan hasil
terapi, meminimalkan risiko reaksi Obat yang tidak dikehendaki (ROTD),
dan meningkatkan cost-effectiveness yang pada akhirnya meningkatkan
keamanan penggunaan Obat bagi pasien (patient safety).
Secara khusus konseling Obat ditujukan untuk:
a. meningkatkan hubungan kepercayaan antara Apoteker dan pasien;
b. menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien;
c. membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan Obat;
d. membantu pasien untuk mengatur dan menyesuaikan penggunaan
Obat dengan penyakitnya;
e. meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan;
f. mencegah atau meminimalkan masalah terkait Obat;
g. meningkatkan kemampuan pasien memecahkan masalahnya dalam
hal terapi;
h. mengerti permasalahan dalam pengambilan keputusan; dan

17
i. membimbing dan mendidik pasien dalam penggunaan Obat sehingga
dapat mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu
pengobatan pasien.

Kegiatan dalam konseling Obat meliputi:


a. membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien;
b. mengidentifikasi tingkat pemahaman pasien tentang penggunaan
Obat melalui Three Prime Questions;
c. menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada
pasien untuk mengeksplorasi masalah penggunaan Obat;
d. memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah
pengunaan Obat;
e. melakukan verifikasi akhir dalam rangka mengecek pemahaman
pasien; dan
f. dokumentasi.

6. Visite
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang
dilakukan Apoteker secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan
untuk mengamati kondisi klinis pasien secara langsung, dan mengkaji
masalah terkait Obat, memantau terapi Obat dan Reaksi Obat yang
Tidak Dikehendaki, meningkatkan terapi Obat yang rasional, dan
menyajikan informasi Obat kepada dokter, pasien serta profesional
kesehatan lainnya.
Visite juga dapat dilakukan pada pasien yang sudah keluar Rumah Sakit
baik atas permintaan pasien maupun sesuai dengan program Rumah
Sakit yang biasa disebut dengan Pelayanan Kefarmasian di rumah
(Home Pharmacy Care).
Sebelum melakukan kegiatan visite Apoteker harus mempersiapkan diri
dengan mengumpulkan informasi mengenai kondisi pasien dan
memeriksa terapi Obat dari rekam medik atau sumber lain.

18
7. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang
mencakup kegiatan untuk memastikan terapi Obat yang aman, efektif
dan rasional bagi pasien.
Tujuan PTO adalah meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan
risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD).
Kegiatan dalam PTO meliputi:
a. pengkajian pemilihan Obat, dosis, cara pemberian Obat, respons
terapi, Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD);
b. pemberian rekomendasi penyelesaian masalah terkait Obat; dan
c. pemantauan efektivitas dan efek samping terapi Obat.

Tahapan PTO:
a. pengumpulan data pasien;
b. identifikasi masalah terkait Obat;
c. rekomendasi penyelesaian masalah terkait Obat;
d. pemantauan; dan
e. tindak lanjut.

8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)


Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan
pemantauan setiap respon terhadap Obat yang tidak dikehendaki, yang
terjadi pada dosis lazim yang digunakan pada manusia untuk tujuan
profilaksis, diagnosa dan terapi. Efek Samping Obat adalah reaksi Obat
yang tidak dikehendaki yang terkait dengan kerja farmakologi.
MESO bertujuan:
a. menemukan Efek Samping Obat (ESO) sedini mungkin terutama yang
berat, tidak dikenal, frekuensinya jarang;
b. menentukan frekuensi dan insidensi ESO yang sudah dikenal dan
yang baru saja ditemukan;
c. mengenal semua faktor yang mungkin dapat
menimbulkan/mempengaruhi angka kejadian dan hebatnya ESO;
d. meminimalkan risiko kejadian reaksi Obat yang tidak dikehendaki;
dan
e. mencegah terulangnya kejadian reaksi Obat yang tidak dikehendaki.

Kegiatan pemantauan dan pelaporan ESO:


a. mendeteksi adanya kejadian reaksi Obat yang tidak dikehendaki
(ESO);

19
b. mengidentifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai risiko
tinggi mengalami ESO;
c. mengevaluasi laporan ESO dengan algoritme Naranjo;
d. mendiskusikan dan mendokumentasikan ESO di Tim/Sub Tim Farmasi
dan Terapi;
e. melaporkan ke Pusat Monitoring Efek Samping Obat Nasional.

9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)


Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) merupakan program evaluasi
penggunaan Obat yang terstruktur dan berkesinambungan secara
kualitatif dan kuantitatif.
Tujuan EPO yaitu:
a. mendapatkan gambaran keadaan saat ini atas pola penggunaan
Obat;
b. membandingkan pola penggunaan Obat pada periode waktu
tertentu;
c. memberikan masukan untuk perbaikan penggunaan Obat; dan
d. menilai pengaruh intervensi atas pola penggunaan Obat.

Direktur

dr. Reuben VT. Supit

20
Lampiran 2

Surat Keputusan Direktur RS. Advent


Nomor :
Tanggal :
Tentang :

DAFTAR NAMA OBAT DAN PERBEKALAN FARMASI


EMERGENCY TROLLEY

No Nama Barang/Perbekalan Farmasi Unit Kemasan


Obat-Obatan
1 Antrain injeksi 2 ampul
2 Atropin sulfat injeksi 10 ampul
3 Cepezet injeksi 1 ampul
4 Dextrose 40% injeksi 4 ampul
5 Dobuject 250 mg injeksi 2 ampul
6 Dopamin 200 mg injeksi 2 ampul
7 Dumin rectal cream 125 mg 1 tube
8 Dumin rectal cream 250 mg 1 tube
9 Ephineprin injeksi 10 ampul
10 Farsix injeksi 4 ampul
11 Farsorbid 5 mg tablet 4 tablet
12 Gitas injeksi 2 ampul
13 Indexon injeksi 6 ampul
14 Infus D5% 500 ml 2 botol
15 Infus NaCl 0,9% 100 ml 4 botol
16 Infus NaCl 0,9% 500 ml 2 botol
17 Infus RL 500 ml 2 botol
18 Kalnek 250 mg injeksi 2 ampul
19 KCL 6,72% injeksi 3 ampul
20 Lidokain 2% injeksi 2 ampul
21 Meylon injeksi 5 ampul
22 MGSO4 20% injeksi 2 ampul
23 MGSO4 40% injeksi 2 ampul
24 Sibital injeksi 2 ampul
25 Stesolid rectal solution 10 mg 2 tube
26 Stesolid rectal solution 5 mg 2 tube
27 Tradyl injeksi 2 ampul
28 Valisanbe injeksi 2 ampul

21
Perbekalan Farmasi
1 Abbocath No. 18 4 pcs
2 Abbocath No. 20 4 pcs
3 Abbocath No. 22 4 pcs
4 Abbocath No. 24/26 4 pcs
5 Ambu Bag 1 pcs
6 Band Aid 5 pcs
7 Bantal Intubasi 1 pcs
8 Cardiac Board 1 pcs
9 Chest Lead 6 pcs
10 ETT No. 2,5 1 pcs
11 ETT No. 2,5 2 pcs
12 ETT No. 3 2 pcs
13 ETT No. 3,5 1 pcs
14 ETT No. 4 1 pcs
15 ETT No. 6,5 2 pcs
16 ETT No. 7 2 pcs
17 ETT No. 7,5 2 pcs
18 ETT No. 8 1 pcs
19 Forcep/Clem Arteri 1 pcs
20 Glove Steril No. 6,5 2 pcs
21 Glove Steril No. 7 2 pcs
22 Glove Steril No. 7,5 2 pcs
23 Glove UnSteril 5 pcs
24 Gunting 1 pcs
25 Hammer Reflex 1 pcs
26 Infus Set Blood 2 pcs
27 Infus set Makro 2 pcs
28 Infus set Mikro 2 pcs
29 Kabel Box 1 pcs
30 KY Jelly 1 tube
31 Laringoscope Set 1 pcs
32 Mouth Gag No. 1/2 1 pcs
33 Mouth Gag No. 18/21 5 pcs
34 Mouth Gag No. 23/26 5 pcs
35 Mouth Gag No. 3/4 2 pcs
36 Mouth Gag No. 5/6 1 pcs
37 NGT No. 16 2 pcs
38 NGT No. 18 2 pcs

22
39 O2 Connector 2 pcs
40 O2 Mask 1 pcs
41 O2 Rebreathing Bag 1 pcs
42 O2 Rebreathing Non Bag 1 pcs
43 O2 Tube Anak 2 pcs
44 O2 Tube Dewasa 2 pcs
45 Plester Rol 1 pcs
46 Rubber Bulp 1 pcs
47 Spinocan 1 pcs
48 Suction Tube No 8/10 2 pcs
49 Syringe 1 cc 3 pcs
50 Syringe 10 cc 3 pcs
51 Syringe 20 cc 3 pcs
52 Syringe 3 cc 5 pcs
53 Syringe 5 cc 3 pcs
54 Syringe 50 cc 1 pcs
55 Tabung Oksigen 1 pcs
56 Tangue Blade 1 pcs
57 Urine Bag 1 pcs
58 Veflon 2 pcs
59 Xylocain Jelly 1 tube

Direktur

dr. Reuben VT. Supit

23
Lampiran 3

Surat Keputusan Direktur Rs. Advent


Nomor :
Tanggal :
Tentang :

DAFTAR NAMA OBAT YANG PERLU DIWASPADAI


(HIGH ALERT MEDICATIONS)

1. Propofol injeksi
2. Ketamine injeksi
3. Gol. Insulin injeksi
4. Gol. Narkotika
5. Gol. Psikotropika
6. Ephineprine injeksi
7. Nor-Ephineprine injeksi
8. Lidocaine injeksi
9. Amiodarone injeksi
10. Dextrose 40% injeksi
11. NaCl 3% infus
12. Digoxin injeksi
13. Succinylcoline injeksi
14. Rocuronium injeksi
15. MgSO4 20% dan MgSO4 40% injeksi
16. KCl 7,46% injeksi

Direktur

dr. Reuben VT. Supit

24