Anda di halaman 1dari 20

SAPONIN

Kelas : A

Oleh Kelompok 5:

Berylian Arief Kurniawan (152210101058)

Yesi Dwi Astuti (152210101059)

Nike Ardianti (152210101061)

Ajeng Merdeka Putri (152210101116)

I Wayan Seniarta (152210101118)

Nidya Meilany H.P.Y. (152210101119)

Andrean Roni (152210101120)

Siti Nur Azizah (152210101127)

Ahmad Syarifudin Noor (152210101148)

Atika Najma Furaida (152210101149)

Lelyta Septiandini (152210101151)

Febrina Icha Isabellita (152210101155)

Dosen Pembimbing :

Bawon Triatmoko, S.Farm., M.Sc., Apt.

BAGIAN BIOLOGI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER

2017
ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR................................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ....................................................................................................................................... iv
BAB I ........................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang......................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ..................................................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ................................................................................................................................... 2
1.5 Struktur Penjelasan ................................................................................................................. 2
BAB II ....................................................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 3
2.1 Definisi Saponin ....................................................................................................................... 3
2.2 Metode Ekstraksi Saponin ....................................................................................................... 5
2.3 Analisis KLT Saponin ................................................................................................................ 9
2.4 Analisis HPLC Saponin............................................................................................................ 10
BAB III .................................................................................................................................................... 14
PENUTUP ............................................................................................................................................... 14
3.1 Kesimpulan ............................................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 15
iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Strukur dari diosgenin ........................................................................................................... 4


Gambar 2. Perbandingan antara pemilihan metode konvensional dan teknolohi hijau. ....................... 6
Gambar 3. Proses ekstraksi Soxhlet. ....................................................................................................... 7
Gambar 4. Proses ekstraksi Ultrasonifikasi ............................................................................................. 7
Gambar 5. Gambaran peralatan mikrowave. ......................................................................................... 8
Gambar 6. Penampakan noda pada KLT. .............................................................................................. 10
Gambar 7. Gambaran kromatogram KCKT dari saponin....................................................................... 11
iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Penentuan High Performance Liquid Chromatographic dari saponin .................................... 12


1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saponin merupakan golongan senyawa yang tersebar luas di berbagai spesies
tanaman, diketahui hampir terdapat pada 100 jenis famili. Saponin merupakan
glikosida alami yang ditemukan, tetapi tidak secara eksklusif pada tanaman laut.
Saponin terdiri dari senyawa aglikon nongula, tetapi tergabung dalam satu unit rantai
gula. Rantai-rantai gula tersebut dapat digabungkan menjadi satu, dua atau tiga rantai
gula, yang disebut rantai monodesmosida, bidesmonosida dan tridesmosida pada
masing-masing jenis saponin itu sendiri. Berdasarkan sifat aglikonnya saponin
dibedakan menjadi dua kelompok yaitu steroid dan triterpen (Oleszek, 2002).
Berbagai macam metode digunakan untuk menganalisis kandungan saponin di
dalam tumbuhan. Salah satunya, metode biologis yang dapat memberikan hasil adanya
saponin dalam bahan tanaman. Proses isolasinya diawali dari pemilihan bagian
tumbuhan yang akan digunakan, metode ekstraksi yang digunakan dengan pemilihan
pelarut yang sesuai, metode fraksinasi yang dapat memisahkan senyawa saponin pada
ekstrak tumbuhan sehingga menghasilkan berbagai fraksi-fraksi, dan berbagai macam
metode pemisahan senyawa campuran menjadi senyawa murni, seperti senyawa
saponin itu sendiri.
Oleh karena itu kami membuat paper saponin steroid ini untuk memberikan
informasi ciri-ciri tumbuhan yang memiliki senyawa saponin steroid beserta proses
isolasinya, sebagai pemenuhan tugas fitokimia. Diharapkan dengan adanya paper ini
dapat mengetahui proses isolasi

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada paper ini, adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan senyawa saponin?
2. Bagamanai metode ekstraksi dari senyawa saponin?
3. Bagamanai analisis KLT dari senyawa saponin?
2

4. Bagamanai analisis HPLC dari senyawa saponin?

1.3 Tujuan
Adapaun tujuan dari pembuatan paper ini, adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui definisi dari senyawa saponin.
2. Mengetahui bagaimana metode ekstraksi dari senyawa saponin.
3. Mengetahui bagaimana analisis KLT dari senyawa saponin.
4. Mengetahui bagaimana analisis HPLC dari senyawa saponin.

1.4 Manfaat
Dengan adanya paper ini, memiliki manfaat untuk mengetahui tentang saponin
steroid, mulai dari proses pemilihan bahan tanamannya sampai dengan proses
pemisahan semyawa campuannya menjadi senyawa murrni sehingga dapat
memberikan wawasan dan pengetahuan yang baru.

1.5 Struktur Penjelasan


Pada paper ini kami menjelaskan mulai dari saponin secara umum, kemudian
mengerucut mejelaskan saponin steroid, metose isolasi beserta hasilnya. Yang kami
jelaskan adalah definisi, metode isolasi beserta hasilnya.
3

BAB II

ANALISISN KLT DAN HPLC SENYAWA SAPONIN

2.1 Definisi Saponin


Saponin merupakan golongan senyawa yang tersebar luas di berbagai spesies
tanaman, diketahui hampir terdapat pada 100 jenis famili. Saponin merupakan
glikosida alami yang ditemukan, tetapi tidak secara eksklusif pada tanaman laut.
Saponin terdiri dari senyawa aglikon nongula, tetapi tergabung dalam satu unit rantai
gula. Rantai-rantai gula tersebut dapat digabungkan menjadi satu, dua atau tiga rantai
gula, yang disebut rantai monodesmosida, bidesmonosida dan tridesmosida pada
masing-masing jenis saponin itu sendiri. Berdasarkan sifat aglikonnya saponin
dibedakan menjadi dua kelompok yaitu steroid dan triterpenoid (Oleszek, 2002).
2.1.1 Saponin Steroid
Steroid saponin adalah turunan monoglikosida atau multihidroksilat senyawa
steroid yang memiliki satu atau lebih rantai oligosakarida (mono-, bi-, atau
tridesmosides) yang berhubungan dengan aglikon steroid dengan ciri khas pada
kerangkanya dan memiliki substituen terlokalisasi. Rantai gula steroid saponin biasanya
menempel pada C-3 (kadang juga menempel pada C-1, C-2, C-6, atau karbon rantai
samping) dan mengandung monosakarida linier pada cabang 2-5. Definisi umum
saponin didasarkan pada sifat surfaktan atau deterjen, tercermin dalam pembentukan
sabun dalam larutan air. Sabun dapat terbentuk karena mengandung molekul air dan
lemak yang larut dalam bagian lemaknya. Saponin steroid kurang tersebar luas di alam
daripada saponin triterpenoid. Sumber utama saponin steroid adalah spesies di
Liliaceae, Dioscoreaceae, dan famili Agavaceae, terutama genera Agave, Allium,
Asparagus, Dioscorea, Lilium, dan Yucca (Waksmundzka, 2008).
Tanaman asal dari senyawa saponin steroid dapat dibagi menjadi dua kelompok
utama, yaitu:
1. Spirotanol glikosida adalah spirostanol glikosida, terdiri dari aglikon tipe spirostane
(misalnya, diosgenin) dengan rantai gula pada spirostanol umumnya berada pada
posisi C-3:, hal ini menunjukkan bahwa tipikal susunan spiroketal dihubungkan pada
4

C-22. Variasi struktural spirostanol sangat bergantung pada stereokimia pada posisi
C-5 dengan konfigurasi 5a-H atau 5b-H (masing-masing A = B-trans atau -cis ring
annelation) dan pada posisi C-25 dengan gugus metil dalam konfigurasi R atau S,
lihat pada Gambar 1 (Mahato, 1981).

Gambar 1. Strukur dari diosgenin (Mahato, 1981)


Lebih dari 45 tipe agonis spirostanol telah diidentifikasi secara struktural. Telah
dipertimbangkan bnetuk teroksidasi (biasanya karbonil pada posisi C6 dan C12, atau
karbonil membentuk laktat pada C26), maka jumlah kemungkinan struktural analog
lebihcdari 100. Jumlah tipe struktural meningkat bahkan lebih dengan rantai gula
variabel yang terkait dengan hidroksil pada posisi C-3 (Mahato, 1981).
2. Glikosida furostanol terdiri dari glikosida furostanol dengan aglikon kerangka
seperti spirostanol, tapi dengan rantai samping terbuka (ditransformasikan F-ring
oleh hidrolisis C-22 asetal menjadi 22,26-diol). Bentuk struktural furostanol aglikon
telah diidentifikasi tetapi lebih sedikit daripada spirostanol, tetapi lebih banyak
konjugat glikosida (saponin), karena rantai gula bisa dihubungkan tidak hanya
dengan posisi C-3, tetapi kadang sering juga pada C-26. Furostanol dapat
ditransformasikan menjadi spirostanol selama hidrolisis enzimatik, dan dalam
kondisi tertentu spirostanol juga bisa ditransformasikan dengan asam hidrolisis
menjadi furostanol. Selain itu dapat terjadi eterifikasi pada posisi C-22 (yaitu
pembentukan metil eter selama ekstraksi metanol), atau dehidrasi hidroksil pada
posisi C-6 dapat membentuk 6 (7) -ene derivatif. Reaksi samping semacam itu bisa
terbentuk banyak artefak, yang harus dipertimbangkan saat memilih metode untuk
analisisatau pemisahan saponin (Mahato, 1981).
5

Kelompok saponin steroid kecil dan unusual adalah osladin, polipodosaponin


dan polipodosida A, B, dan C dengan cincin terbuka E dan yang diawetkan. Cincin
hemiacetal beranggota enam, dan dengan rantai gula yang terpasang pada hidroksil C-3
dan C-26. Saponin memungkinkan timbulnya rasa manis Polypodium vulgare (sweet
flag) dan P. glycyrhiza (licorice fern). Klasifikasi spesifik struktur bagian dalam 6-keto-7-
ena juga terdapat pada phytoecdysteroids (polipotin B and 20-hydroxyecdysone). Tidak
hanya hubungan struktural saja, tetapi juga mengindikasikan hubungan biogenetik co-
occurrence dengan mayor phytoecdysteroids (polipodin B dan 20 hydroxyecdysone)
pada senyawa P. Vulgare (Waksmundzka, 2008).
2.1.2 Saponin Triterpenoid
Saponin triterpenoid merupakan konjugat gula alami dari triterpen yang dapat
membentuk buih yang stabil saat digoyangkan ketika dilarutkan dengan air. Bagian
glikon dari senyawa ini umumnya oligosakarida, linier atapun bercabang yang
menempel pada gugus hidroksil atau gugus karboksil kedua yang disebut rantai
monodesmosida, bidesmonosida dan tridesmosida. sifat dari saponin triterpenoid
hampir sama dengan steroid (Chandel dan Rastogi, 1980).

2.2 Metode Ekstraksi Saponin


Pada umumnya teknik ekstraksi saponin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
ekstraksi konvensional dan teknologi hijau. Yang termasuk teknik ekstraksi
konvensional adalah maserasi, soxhlet dan ekstraksi refluks. Sedangkan, yang termasuk
teknologi hijau yaitu ultrasound-assisted, microwave-assisted, dan accelerated solvent
extraction. Ekstraksi konvensional tergantung pada kelarutan zat terlarut dari bahan
tanaman ke dalam pelarut. Sehingga, sering kali menggunakan pelarut dalam jumlah
yang besar untuk mengekstrak zat terlarut yang dibutuhkan. Teknik ekstraksi teknologi
hijau melibatkan sintesis kimia menggunakan bahan kimia yang kurang berbahaya,
bahan kimia yang aman, memerlukan energi yang sedikit, menggunakan bahan bakau
terbarukan dan dapat mengurangi polusi. Gambar 2. menjelaskan bahwa teknik yang
dipilih dalam ekstraksi lebih banyak menggunakan metode konvensional (70%) dari
pada metode teknologi hijau (30%) (Cheok dkk., 2014).
6

Gambar 2. Perbandingan antara pemilihan metode konvensional dan teknolohi hijau


(Cheok dkk., 2014).

2.2.1 Ekstraksi Konvensional


1. Ekstraksi Maserasi
Ekstraksi maserasi adalah ekstraksi pada-cair dimana zat terlarut yang terdapat
dalam bahan tumbuhan direndam menggunakan pelarut yang spesifik dalam jangka
waktu tertentu. Proses maserasi ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu kelarutan
dan difusi. Kelarutan didasarkan, bahwa senyawa polar akan larut dengan pelarut
polar dan senyawa nonpolar akan larut dalam pelarut nonpolar. Laju zat terlaut
dalam pelarut ekstraksi ditentukan oleh laju perpindahan masa zat terlarut dari
bahan tanaman ke pelarut. Karena gradien konsentrasi antarmuka menyebabkan
perpindahan zat yang terlarut, menunjukkan difusi tersebut berjalan dengan efektif
(Cheok dkk., 2014).
2. Ekstraksi Soxhlet dan Refluks
Prinsip kerja ekstraksi soxhlet dan refluks adalah sama, tetapi yang
membedakannya yaitu peralatan ekstraksi soxhlet terdiri dari bidal yang berfungsi
untuk menampung bahan tumbuhan, lihat pada Gambar. 3. Refluks dan ekstraksi
soxhlet melibatkan proses destilasi yang banyak digunakan pada pembuatan
makanan produk industri. Proses ini melibatkan pemanasan untuk mendidihkan
bahan tanaman dan kemudian uap yang terbentuk akan dibawa kembali ke dalam
wadah. Kerugian dari refluks dan ekstraksi soxhlet memerlukan waktu yang lama,
setidaknya satu jam (Cheok dkk., 2014).
7

Gambar 3. Proses ekstraksi Soxhlet (Azwanida, 2015)

2.2.2 Ekstraksi Teknologi Hijau


1. Ultrasound-assisted Extraction (UAE)
Ekstraksi UAE menggunakan prinsip gelombang ultrasonik. Gelombang ultrasonik
menyebabkan fenomena kawitasi (pembentukan gelombang gas) dalam pelarut.
Sehingga akan menyebabkan perbesaran pori-pori dan kerusakan dinding sel. UAE
basanya dilakjukan pada suhu kamar (±250C), lihat pada Gambar 4. Keunggulannya
yaitu memerlukan peralatan yang sederhana, mempercepat waktu ekstraksi, dan
pelarut yang digunakan cenderung sedikit. Sedangkan kerugiannya yaitu
ketidakmampuan untuk mengganti pelarut selama proses ekstraksi (Cheok dkk.,
2014).

Gambar 4. Proses ekstraksi Ultrasonifikasi (Azwanida, 2015)


8

2. Microwave-assisted Extraxtion (MAE)


Merupakan metode ekstraksi dengan gelombang mikro dengan frekuensi 0,3-300
GHz. Metode ini didasari pada penyerapan energi gelombang mikro oleh molekul
polar. Hanya bahan yang bersifat polar yang akan menyerap gelombang yng
sebanding dengan kostanta dielektriknya (Gambar 5). Keungulan metode ini adalah
penyerapannya yang luar pada ekstraksi, penggunaan pelarut yang lebih sedikit,
dan waktu pengerjaanya yang cepat (kurang dari 30/10 menit). Metode MAE sudah
banyak diterapkan untuk ekstraksi senyawa saponin (Cheok dkk., 2014).

Gambar 5. Gambaran peralatan mikrowave. 1). Kondensor air; 2). Kondensor udara: 3).
Tabung tembaga; 4). Tabung penyesuaian; 5). Agitator air; 6). Tampilan status; 7).
Pengaturan waktu; 8). Botol; 9). Pemanas mikrowave; 10). Dasar labu (Azwanida,
2015).

3. Accelerated Solvent Extraction (ASE)


Pelarut ekstraksi yang dipercepat dianggap sebagai teknik green dalam
mempersiapkan sampel sebelum dilakukan analisis kromatografi. Ekstraksi ini
didasarkan atas tekanan pelarut dan penambahan pelarut ekstraksi. Metode ini
adalah teknik ektraksi yang sangat cepat dan otomatis dengan menggunakan
pelarut yang sedikit pada suhu dan tekanan tertentu. Maanfat dari terjadinya
peningkatan suhu yaitu kelarutan dan perpindahan massa zat terlarut ke pelarut
akan meningkat, dan tekanan yang tinggi akan menjada pelarut berada di bawah
titik didihnya yang menyebabkan ekstraksinya berlangsung cepat, aman, dan
efisien. Proses ektraksi biasanya salama 15-25 menit dangan hanya menggunakan
15-45 ml pelarut (Cheok dkk., 2014).
9

2.3 Analisis KLT Saponin


2.3.1 Sistem Eluen dan Fase Diam
KLT merupakan metode pendukung yang sesuai untuk mengamati saponin
selama fraksinasi atau pemurnian dengan skala kecil. Hal ini sering digunakan untuk
mengetahui kemurnian dan identitas senyawa yang terisolasi, yang dibandingkan
dengan standar. Analisis KLT Untuk pemisahan sederhana dari saponin, yang paling
sering digunakan yaitu dengan sistem pelarut CHCl3=MeOH=H2O (14:6:1) atau
CHCl3=MeOH (4:1). Untuk pemisahan aglikon digunakan pelarut, CHCl3=MeOH (50:1).
Senyawa tersebut dapat terdeteksi pada kromatografi dengan berbagai visualisasi
melalui titik-titik berwarna dengan reagen tertentu, yaitu penyemprotan dengan asam
sulfat, penyemprotan dengan vanillin ditambahkan asam sulfat, penyemprotan dengan
anisaldehida ditambahkan asam asetat dan asam sulfat, penyemprotan dengan SbCl3
dalam kloroform dan pemanasan memberi karakteristik warna bintik, atau
penyemprotan dengan pereaksi Ehrlich (p-dimethylaminobenzaldehyde=HCl
terkonsentrasi=EtOH) dan pemanasan (warna merah untuk turunan furostanol). Pada
beberapa sistem ditunjukkan oleh spot yang terbentuk dan evaluasi intensitasnya
secara paralel dengan menggunakan standar yang sesuai, menggunakan sistem
pemindai khusus untuk KLT-densitometri atau KLT-kolorimetri (Waksmundzka, 2008).
Sifat yang sangat polar pada molekul saponin dapat menyebabkan kesulitan
dalam proses KLT, namun resolusi HPLC dapat dijadikan alternatif lainnya selain KLT.
Kesulitan utama menggunakan analisis KLT yaitu tidak adanya kromofor yang sesuai
untuk deteksi UV. Sebagian besar data yang diperoleh didasarkan pada gambaran profil
dari HPLC dengan kisaran 200-210 nm, sehingga dapat dideteksi secara nonspesifik dan
tidak menggunakan teknik yang banyak dalam mengkuantifikasi saponin dalam sampel
yang tidak dapat terpisah (Waksmundzka, 2008).
10

2.3.2 Penampak Noda

Gambar 6. Penampak Noda pada KLT (Birk dkk., 2007)

2.4 Analisis HPLC Saponin


HPLC merupakan teknik yang paling baik dan paling sering digunakan untuk
penentuan saponin karena dapat menangani secara efektif senyawa non-volatil dan
sangat polar serta telah digunakan secara ekstensif untuk penentuan aglikon dan
saponin utuh. Pemisahan dilakukan biasanya pada kolom normal (silika gel) dan kolom
fase balik (C8, C18). Dalam beberapa kasus ketika resolusi saponin pada fase terbalik
tidak akurat, pertukaran karbohidrat, pertukaran anion borat dan hidroksiapatit
[Ca10(PO4)6(OH)2] yang dipilih telah berhasil digunakan. Kolom karbohidrat dan NH2 yang
dimodifikasi telah terbukti sangat efektif dalam pemisahan glikoalkaloid tetapi
beberapa saponin steroid juga dapat dianalisis (Tabel. 1). Kakonin dan solanin
dipisahkan dengan baik menggunakan kolom Bondapack NH2 pada fase terbalik pada
mode kurang dari 7 menit (batas deteksi, 5-15 ppm).
Kromatografi pertukaran anion borat bergantung pada pembentukan kompleks
borat dengan cis-diol pada bagian sakarida. Pembentukan kompleks ini dalam beberapa
kasus meningkatkan secara signifikan resolusi dan pemisahan isomer glikosida yang
tidak dipisahkan pada fase terbalik. Setelah pemisahan, saponin asli dapat dipulihkan
dengan menghilangkan borat sebagai metil borat yang mudah menguap dengan
destilasi berulang dari eluasi dengan metanol. Resolusi senyawa yang saling terkait juga
dapat ditingkatkan dengan penerapan hidroksiapatit. Hidroksiapatit bersifat lebih
hidrofilik daripada silika gel dan memungkinkan pemisahan dua glikosida berbeda
hanya pada pentosa terminal.
Masalah utama dalam analisis HPLC saponin adalah deteksi. Karena hanya
beberapa saponin yang dapat dideteksi dengan mudah pada 254 nm. Kebanyakan
11

saponin tidak memiliki kromofor yang diperlukan untuk deteksi UV, dan pemisahan
glikosida utuh atau aglikonnya harus dideteksi pada panjang gelombang UV yang lebih
rendah mulai dari 200 sampai 210 nm. Saponin bidesmosidik mengelusi gradien air-
asetonitril pada konstruksinya yang relatif rendah dari MeCN sementara
monodesmosidik dielusi kemudian dan akibatnya jauh lebih sulit untuk dihitung.
Beberapa ekstrak tumbuhan mengandung sejumlah besar glikosida yang berbeda
dalam polaritas karena jumlah gula yang menempel. Analisis campuran yang rumit
tersebut membutuhkan konsentrasi pelarut yang luas. Aplikasi gradien benar-benar
mengecualikan deteksi dengan detektor indeks bias (RI) dan inilah mengapa jenis
deteksi ini jarang digunakan dapat dilihat pada Gambar 3 (Oleszek, 2002).

Gambar 7. Gambaran kromatogram KCKT dari saponin (Oleszek, 2002)


12

Tabel 1. Penentuan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dari saponin (Oleszek, 2002).

Derivatisasi saponin dari kedelai dengan koumarin dan pendaftaran profil HPLC
dengan detektor sinar UV. Prosedur derivatisasi ini, juga memunculkan beberapa
masalah praktis karena bentuk steril dari molekul saponin dan tingkat substitusi gugus
fungsional -OH yang berbeda. Beberapa dari kelompok ini, senyawanya tidak mudah
diturunkan, dan dengan demikian campuran reaksi saponin tunggal mungkin
mengandung sejumlah turunannya. Selama derivat campuran saponin kompleks, banyak
13

puncak diamati dan diinterpretasi tetapi untuk kuantifikasinya sulit dilakukan (Oleszek,
2002).
Pada awalnya, derivatisasi ini digunakan untuk analisis asam lemak dan
prostaglandin. Untuk derivatisasi dengan 4-bromophenacyl bromida, molekul saponin
harus memiliki sekurang-kurangnya satu gugus karboksil, baik pada bagian aglikon
maupun gula. Oleh karena itu, metode ini hanya bisa diterapkan pada beberapa
kelompok saponin. Metode ini sangat baik untuk penentuan saponin pada bagian akar
dan bagian udara alfalfa. Asam glikosida medicagenic, baik dalam bentuk
monodesmosidik dan basa-mosidik dapat dikromatografi setelah diderivatisasi dalam
satu putaran pada kolom C18. Asam nitrat tridesmosida di bagian udara alfalfa memiliki
kedua gugus -OHOH yang diklikosilasi dan tidak dapat ditentukan dengan mudah. Karena
polaritas yang sangat tinggi dari senyawa ini, determinasi pada 210 juga sangat sulit
(Oleszek, 2002).
Masalah ini dapat dihindari dengan hidrolisis alkali dari asam zanhat
tridesmosida sebelum turunannya dengan bromida 4-bromofenol. Prosapogenin yang
dihasilkan mudah dan dapat dikromatografi pada 260 nm. Untuk menerapkan
derivatisasi 4-bromo-fenantil bromida ke analisis campuran saponin mono-, bi dan
tridesmosidik, metode ini dapat dimodifikasi untuk memungkinkan kromatografi ketiga
kelompok. Untuk ini, diperlukan dua HPLC. Pada tahap pertama, hanya monodesmosidik
atau bidesmosidik dengan satu -COOH bebas yang ditentukan. Untuk saponin yang
tidak memiliki gugus COOH bebas, ekstrak tanaman diolah dengan larutan timbal asetat
jenuh dalam H2O dan endapan yang dihasilkan disentrifugasi pada 3000 g. Endapan
mengandung semua saponin bebas karboksil, dan supernatan dilewatkan melalui kartrid
C18 Sep-Pak yang mempertahankan saponin. Kemudian dicuci dengan metanol, hidrolisis
alkali dan turunannya untuk kromatografi (Oleszek, 2002).
14

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Saponin merupakan golongan senyawa yang tersebar luas di berbagai spesies
tanaman, diketahui hampir terdapat pada 100 jenis famili. Saponin merupakan
glikosida alami yang ditemukan, tetapi tidak secara eksklusif pada tanaman laut.
Berdasarkan sifat aglikonnya saponin dibedakan menjadi dua kelompok yaitu steroid
dan triterpen.
Steroid saponin adalah turunan monoglikosida atau multihidroksilat senyawa
steroid yang memiliki satu atau lebih rantai oligosakarida (mono-, bi-, atau
tridesmosides) yang berhubungan dengan aglikon steroid dengan ciri khas pada
kerangkanya dan memiliki substituen terlokalisasi. Saponin triterpenoid merupakan
glikon dari senyawa ini umumnya yaitu oligosakarida, linier atapun bercabang yang
menempel pada gugus hidroksil atau gugus karboksil kedua yang disebut rantai
monodesmosida, bidesmonosida dan tridesmosida
Pada umumnya teknik ekstraksi saponin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
ekstraksi konvensional dan teknologi hijau. Yang termasuk teknik ekstraksi
konvensional adalah maserasi, soxhlet dan ekstraksi refluks. Sedangkan, yang termasuk
teknologi hijau yaitu ultrasound-assisted, microwave-assisted, dan accelerated solvent
extraction.
Untuk mengetahui kemurnian dari saponin dilakukan analisis KLT dan HOLC.
KLT merupakan metode pendukung yang sesuai untuk mengamati saponin selama
fraksinasi atau pemurnian dengan skala kecil. Hal ini sering digunakan untuk
mengetahui kemurnian dan identitas senyawa yang terisolasi, yang dibandingkan
dengan standar. Sedangkan HPLC merupakan teknik yang paling baik dan paling sering
digunakan untuk penentuan saponin karena dapat menangani secara efektif untuk
senyawa non-volatil yang sangat polar serta telah digunakan secara ekstensif untuk
penentuan aglikon dan saponin utuh.
15

DAFTAR PUSTAKA

Azwanida. 2015. Medicinal & Aromatic Plants A Review on the Extraction Methods Use in
Medicinal Plants , Principle , Strength and Limitation. Malaysia: University Malaysia
Kelantan. 3.

Birk, C. D., G. Provensi, F. H. Reginatto, dan E. P. Schenkel. 2007. Journal of Liquid


Chromatography & Related Technologies TLC Fingerprint of Flavonoids and Saponins
from Passiflora Species. Brazil: Universidade Federal do Rio Grande do Sul. April 2013.

Chandel, R. S. dan R. P. Rastogi. 1980. Triterpenoid Saponins and Sapogenins: 1973-1978.


India: Central Drug Research Institute. Phytochemistry.

Cheok, C. Y., H. Abdel, K. Salman, dan R. Sulaiman. 2014. Extraction and Quanti Fi Cation of
Saponins : A Review. Malaysia: Department of Food Technology, Faculty of Food
Science and Technology, Universiti Putra Malaysia.

Mahato, A. N. G. dan N. P. S. 1981. Steroid Saponin. India: Indian Insitute of Experimental


Medicine.

Oleszek, W. A. 2002. Chromatographic Determination of Plant Saponins. Poland:


Department of Biochemistry Institute of Soil Science and Plant Cultivation.

Waksmundzka, J. S. dan T. K. 2008. Thin Layer Chromatography in Phytochemistry. francis:


CRC press.