Anda di halaman 1dari 31

BAB 4

SISTIMATIKA
PEMETAAN GEOMORFOLOGI
Pemetaan geomorfologi meliputi segala aspek yang berhubungan dengan
gambaran bentuklahan, proses bentuklahan, nilai - nilai bentuklahan dan material
penyusun bentuklahan. Aspek - aspek tersebut tidak hanya disampaikan dalam bentuk
kata (verbal), seperti ketepatan bentuk, ukuran dan posisi, tetapi sangat beik dituangkan
dalam bentuk peta. Secara umum peta dapat diklasifikasikan menjadi peta tujuan umum
dan peta tujuan khusus.
Penelitian dan pemetaan geomorfologi saat ini merupakan gabungan dari dua
sumber yang berbeda, yaitu penelitian yang mendalam tentang geomorfologi dan
hubungan geomorfologi dengan bidang ilmu lainnya. Penelitian sistematika yang
mendalam tentang geomorfologi akan menghasilkan peta geomorfologi analitik,
khususnya yang paling menonjol menghasilkan informasi monodisiplin dan pada bagian
lain menampilkan informasi bentuklahan, sebagian proses eksogen, menekankan unsur
- unsur morfogenesis (termasuk morfostruktural) dan mungkin morfokhronologi.
Penelitian terhadap hubungan antara geomorfologi dengan pengkajian elemen -
elemen lingkungan disebut sebagai ekologi bentanglahan (landscape ecology) dan
hasilnya berupa peta yang disebut sebagai peta sintetik (holistik). Peta - peta sintetik
(holistik) memiliki kandungan multidisiplin ilmu dan data geomorfologi terpadu, sebagian
memberikan informasi bentuklahan ditambah dengan proses eksogen dan endogen,
data lithologi, sedimen, tanah, kondisi air permukaan dan air bawah tanah.
Pendekatan analitik dan sintetik memiliki hubungan yang erat, sehingga
penelitian yang bersifat analitik akan menghasilkan satuan - satuan pemetaan
geomorfologi yang rinci, sedangkan penelitian yang bersifat sintetik menghasilkan
informasi - informasi yang berhubungan dengan aspek - aspek terapan, seperti
informasi lingkungan dan hubungan lingkungan dengan bentanglahan (landscape).
Pada kasus tertentu peta geomorfologi terapan dibuat berdasarkan peta geomorfologi
analitik dan pada kasus lain peta geomorfologi sintetik menampilkan informasi -
informasi klasifikasi bentuklahan untuk tujuan tertentu.
Pendekatan pragmatik dilakukan untuk kepentingan saat sekarang dengan data
yang dikumpulkan terbatas hanya untuk penelitian - penelitian yang bersifat lebih
khusus. Peta - peta geomorfologi yang ada sekarang pada dasarnya merupakan peta -
peta geomorfologi pragmatik.
4.1 Pemahaman bentuklahan
Mitchel dan Way (1973) menyebutkan bahwa bentuklahan adalah gambaran
umum fisik rupa bumi. Karakteristik gambaran umum fisik rupa bumi, seperti morfografi,
morfogenetik, morfometri dan material penyusun dapat ditafsirkan melalui peta topografi,
foto udara atau citra satelit yang saat ini telah berkembang dengan pesat. Selaras
dengan karakteristik gambaran umum fisik rupa bumi, maka secara garis besar
bentuklahan berdaarkan morfografi dan morfogenetik dapat dibedakan menjadi
bentuklahan asal denudasional, fluvial, marin, struktural, gunungapi (vulkanik), aeolian,
karst dan glasial.

4.1.1 Bentuklahan asal denudasional


Proses eksogen (epigen), seperti iklim, vegetasi dan aktivitas manusia
merupakan faktor pengaruh yang sangat menonjol pada bentuklahan denudasional.
Iklim, seperti curah hujan dan perubahan temperatur berpengaruh terhadap proses
pelapukan batuan, erosi dan gerakan tanah. Vegetasi dan aktivitas manusia sangat
membantu percepatan proses eksogen, sehingga perubahan bentuklahan terjadi sangat
cepat.
Ciri - ciri bentuklahan asal denudasional dapat diamati dari pola - pola
punggungan yang tidak beraturan, pola aliran sungai yang membentuk pola dendritik
dengan kerapatan pola pengaliran yang cukup rapat dan lereng relatif terjal. Material
penyusun biasanya terdiri dari batuan homogen yang mudah lapuk, seperti lempung,
lanau, serpih, dan breksi. Kenampakkan ciri - ciri bentuklahan denudasional dapat
diamati melalui peta topografi, foto udara atau citra satelit. Secara garis besar proses
yang berlangsung pada bentuklahan asal denudasional dapat dibedakan menjadi proses
erosional dan proses longsoran (degradasional) dengan diakhiri oleh proses
pengendapan (agradasional).

4.1.1.1 Erosi
Erosi adalah proses pengikisan terhadap permukaan bumi oleh hujan hujan,
sehingga partikel - partikel permukaan bumi berpindah terangkut oleh aliran air atau
sungai. Jika kecepata aliran tenang dan memiliki kecepatan yang rendah, maka
perpindahan partikel - partikel hasil pengikisan tersebut tidak menunjukkan telah terjadi
erosi, sedangkan jika kecepatan aliran meningkat, maka erosi berlangsung dengan
cepat. Selaras dengan kondisi aliran tersebut, maka jenis erosi dapat dibedakan menjadi
:
- Erosi permukaan (sheet erosion)
- Erosi alur (riil erosion)
- Erosi parit (gully erosion).
Erosi permukaan berlangsung akibat dari limpasan air permukaan yang tidak
terpusat (terkonsentrasi) dan biasanya berlangsung pada saat hujan mulai berlangsung,
sehingga curah hujan yang jatuh dipermukaan tanah mulai mengalir. Kondisi erosi
permukaan tidak akan pernah tampak pada peta topografi dan sangat sulit diinterpretasi
melalui foto udara, namun sebagai ciri suatu daerah mengalami erosi permukaan pada
foto udara akan menunjukkan tutupan vegetasi yang jarang.
Erosi alur berlangsung ketika limpasan air permukaan mulai bergabung
membentuk alur, sehingga aliran permukaan terpusat membentuk suatu alur dan
pengikisan terjadi pada alur - alur dari suatu aliran tersebut disertai dengan torehan
terhadap dinding alur dan dasar alur. Erosi alur memiliki ciri yang hampir sama dengan
erosi permukaan, tetapi pada foto udara dengan skala yang besar akan tampak alu -
alur pengikisan pada daerah yang terbuka, sehingga erosi alur dapat dipetakan pada
skala peta yang besar.
Semakin tinggi debit hujan dan debit aliran pada alur yang terbentuk, maka
semakin kuat erosi vertikal dan horisonta mengakibatkan alur semakin besar dan
menjadi parit. Erosi parit memiliki ukuran yang reltif besar, sehingga pada peta topografi
dicerminkan oleh lekukan garis kontur yang bertindak sebagai aliran air ari suatu
punggungan dan bersatu menjadi saluran arus aliran air. Kenampakan pada foto udara
sangat jelas, sehingga erosi parit dapat dipetakan dengan skala peta sedang sampai
besar.

Tabel 10. Media dan proses erosi (sumber : Van Zuidam, 1985)

MEDIA PENGARUH PROSES YANG TERJADI PROSES MUATAN MATERIAL

AIR PERMUKAAN

Arus permukaan dan Kegiatan hidrolik Traksi, saltasi, suspensi, larutan


arus bawah dan apungan.
permukaan; aliran
permukaan.

AIR TANAH
Tanpa arus bawah Pencucian ; korosi Larutan
tanah.

OMBAK, ARUS dan Kegiatan hidrolik Traksi, saltasi, suspensi, larutan


PASANG NAIK. dan apungan.

ANGIN Abrasi dan deflasi Traksi, saltasi dan suspensi.

GLASIAL Penggerusan dan saluran. Traksi dan suspensi

GRAVITASI Gerakan massa Traksi dan suspensi.


Aliran, luncuran dan
penurunan.

Dari F.D. Hole, 1967, didalam :The Encyclopedia of Geomorphology


R.W. Fairbridge, ed.

Selain faktor air yang mempengaruhi terjadinya erosi, maka faktor ketahanan
batuan terhadap pengikisan atau penggerusan merupakan salah satu faktor yang
berperan. Tampilan ketahanan batuan terhadap pe - ngikisan atau penggerusan pada
peta topografi dan foto udara akan ditunjukkan oleh kerapatan pengaliran. Semakin
rapat pola aliran, maka batuan mudah mengalami pengikisan atau penggerusan,
sedangkan semakin renggang pola aliran berarti batuan semakin tahan terhadap
pengikisan atau penggerusan.
Tabel 11. Ketahanan relatif batuan terhadap erosi dan pelapukan
(sumber : Van zuidam, 1985).

JENIS BATUAN KETAHANAN BENTUKLAHAN

BATUAN BEKUAN

Tekstur halus
Hitam (basa) Basalt Biasanya tahan Gawir dan aliran
Menengah Andesit Biasanya tahan Tidak menyebar
Cerah Rhiolite Biasanya tahan Tebing terjal

Tekstur kasar
Hitam (basa) Gabro Biasanya sangat tahan Gawir dan kubah
Menengah Sienite Biasanya tahan Pengangkatan
Cerah Granit Biasanya tahan Kubah dan pengang-
Kecuali di wilayah arid katan..

BATUAN ENDAPAN

Butiran halus
Lepas Lempung Lunak, membentuk din- Lahan terbuka
ding tegak.
Padat Batulempung Biasanya lunak Dataran rendah sam -
pai landai
Karbonat lepas Lanau Sangat lunak Dasar lembah.
Karbonat padat Gamping Lunak di daerah basah Daerah gamping.
tahan di daerah arid.

Butiran kasar
Lepas Pasir Biasanya lunak Dataran rendah
Padat Batupasir Tahan jika tersemen Tebing terjal dan plato
kuat.
Butiran sangat kasar
Lepas Kerakal Memiliki ketahanan se- Sebagai batuan penu-
dang, tup perlipatan.
Padat Konglomerat Sangat tahan. Punggungan dan pe-
gunungan.

BATUAN MALIHAN
(METAMORF)
Asal batuan endapan
Serpih Slate Lunak Dataran rendah
Batugamping Marble Lunak Dataran rendah
Batupasir Kuarsit sangat tahan Punggungan, gumuk,
dan monadnok.
Asal batuan bekuan atau endapan
Banded Gneis Sangat tahan Pengangkatan
Schistose Schist Sangat tahan Pengangkatan dan
punggungan.

Disadur dari : A.K. Lobeck, Geomorphology,Mc Graw-Hill New York

4.1.1.2 Longsor
Longsor adalah gerakan massa tanah atau batuan dengan jumlah yang cukup
besar dari suatu tempat ke tempat lain yang memiliki kemiringan lereng dan disebabkan
oleh gravitasi atau media air. Gerakan massa tanah atau batuan tersebut dapat terjadi
dengan kecepatan yang tinggi dan kecepatan yang rendah. Tiga jenis utama gerakan
massa tanah atau batuan, yaitu luncuran (slide), aliran (flow) dan jatuhan (heave).
Luncuran, merupakan gerakan perpindahan blok massa tanah atau batuan
secara alami dari bagian tertinggi lereng yang curam ke arah bagian kaki lereng.
Gerakan perpindahan massa tanah dan batuan tersebut memiliki kecepatan yang cukup
tinggi (cepat), sehingga menimbulkan kerusakan pada lereng yang dilalui. Faktor
pengaruh terjadinya luncuran disebabkan oleh lereng yang curam dan sedikit pengaruh
air.
Aliran, merupakan gerak perpindahan massa tanah atau batuan yang
dipengaruhi oleh faktor air dengan kecepatan yang relatif cepat, sehingga tidak
menampakkan kerusakan. Gerakan massa tanah atau batuan berupa aliran biasanya
terjadi pada kemiringan lereng landai dan memiliki gerakan kejadian yang tidak
bersamaan serta terhenti jika kemiringan lereng mulai mendatar.
Jatuhan, merupakan gerak perpindahan massa tanah atau batuan yang
dipengaruhi oleh faktor gaya gravitasi, biasanya terjadi pada lereng yang sangat terjal
(hampir tegak lurus). Gerak jatuh massa tanah atau batuan memiliki kecepatan relatif
lambat dan berlangsung pada daerah yang tidak luas.
Proses gerakan massa tanah atau batuan jarang terjadi bersamaan, karena
faktor pengaruh yang berbeda. Pada gambar diagram segitiga (gambar 9), menunjukkan
klasifikasi jenis gerakan massa tanah atau batuan serta faktor yang mempengaruhinya,
seperti angkutan ketika terjadi gerakan atau kandungan jenuh ketika terjadi gerakan.

4.1.2 Bentuklahan asal struktural


Pengaruh struktur geologi terhadap perkembangan dan penampilan bentuklahan
disebut sebagai bentanglahan yang dipengaruhi oleh struktur. Pengaruh struktur geologi
yang sangat luas dapat mempengaruhi bentanglahan secara keseluruhan sampai
tampilan terkecil bentuklahan yang berlangsung bersamaan dengan proses
geomorfologi lainnya. Pengaruh struktur geologi pada geomorfologi dapat dibagi
menjadi dua jenis struktur utama; yaitu : (1) struktur aktif yang berlangsung sehingga
meninggalkan jejak bentanglahan modern, (2) struktur pasif yang meninggalkan jejak
pada bentanglahan modern berupa pelapukan dan erosi.
Pengaruh struktur geologi yang mempengaruhi aspek - aspek struktur
geomorfologi, seperti perlipatan dan sesar dapat dikenali melalui foto udara dan peta
topografi. Foto udara dan peta topografi dapat menampilkan lokasi dan bentuk massa
batuan yang memiliki bermacam - macam tampilan, antara lain : (a) ketahanan batuan
terhadap pelapukan dan erosi, (b) perubahan kristal dan pengikisan batuan akibat
pelapukan dan erosi, (c) penampilan lapisan dan (d) tampilan bentuk lainnya. Batuan
dan iklim memiliki peran penting pada tampilan geomorfologi, terutama pada daerah
yang memiliki hubungan erat dengan kondisi geologi seperti jenis batuan dan struktur
geologi yang tergambar pada peta topografi atau yang tampak pada foto udara. Pada
dasarnya batuan memiliki perbedaan ketahanan terhadap pelapukan dan erosi,
sehingga sangat mendorong terjadinya pengikisan pada lereng dengan ciri terbentuknya
lereng yang terputus. Perkembangan lereng yang cembung menunjukkan batuan yang
relatif tahan terhadap pelapukan dan erosi, sedangkan perkembangan lereng yang
cekung cenderung kurang tahan terhadap pelapukan dan erosi. Sangat jelas bahwa
ketebalan lapisan batuan sangat berpengaruh terhadap bentuk lereng (cembung atau
cekung). Jika suatu suatu lapisan batuan tipis atau proses pelapukan atau proses
erosi/akumulasi aktif, maka permukaan lereng relatif halus, sehingga batuan tampak
seperti tidak berlapis, sehingga singkapan lapisan akan tampak pada tebing atau dasar
aliran. Interpretasi batuan secara rinci akan lebih baik jika dilakukan dila -pangan, tetapi
kemampuan interpretasi foto udara dan peta topografi ditambah dengan pengetahuan
geologi umum akan memberikan hasil lebih baik didalam menentukan batas - batas
batuan, perlapisan, foliasi, kelurusan dan hubungannya dengan bentuklahan, seperti
tampilan gawir sesar dan erosi. Pola aliran sungai yang tampak pada foto udara dan
peta topografi akan mencerminkan perlapisan batuan yang cukup baik pada suatu
daerah, walaupun tertutup vegetasi dan tanah, tetapi masih mungkin untuk mengenali
struktur geologi utama dan jenis batuan seperti lanau, batupasir dan gamping. Smith
(1943) menyebutkan bahwa ciri - ciri terbaik untuk mengenali batuan di suatu daerah
melalui foto udara atau peta topografi adalah sebagai berikut : (1) kenampakkan
topografi, (2) warna tanah dan batuan, (3) sebaran vegetasi dan (4) struktur primer dan
sekunder.
Tujuan interpretasi struktur adalah menentukan lokasi, sebaran dan
kesinambungan dari kunci hamparan bumi. Bentuk relief batuan yang tahan terhadap
pelapukan dan erosi, seperti batupasir, kuarsit dan batugamping di bawah kondisi
tertentu akan membentuk lapisan kunci yang baik. Hubungan erat antara interpretasi
struktur dengan relief tergantung pada pemahaman dan analisis geomorfologi. Analisis
pola aliran, kelurusan aliran dan pola vegetasi akan memudahkan interpretasi
geomorfologi. Hubungan tersebut akan memberikan gambaran yang jelas terhadap
relief dan struktur geologi, khususnya pada daerah - daerah tektonik muda.
Pada daerah luas yang memiliki relief rendah dan tertutup oleh lapisan tanah
disertai dengan proses tektonik, malihan (metamorphisme) dan waktu pengikisan, maka
akan sulit melihat hubungan morfologi dengan struktur geologi yang ada. Lapisan
batuan yang memiliki bidang lapisan, arah jurus dan kemiringan lapisan batuan (strike &
dip) mudah dikenali, terutama batuan endapan yang memiliki bidang lapisan dengan
jelas, karena ketahanan batuan terhadap pelapukan dan erosi. Bidang lapisan batuan
yang datar atau hampir datar dan kontak sejajara serta tertutup tanah, pada kontur
topografi menunjukkan pola - pola lingkaran tertutup, sehingga bidang lapisan batuan
yang datar seolah - olah tidak memiliki arah jurus lapisan (strike) atau jarang tergambar
pada bidang lapisan batuan tersebut.
Permukaan lapisan batuan ditunjukkan oleh relief topografi, lapisan dengan
perbedaan ketahanan terhadap pelapukan dan erosi dicerminkan oleh perubahan lereng
pada topografi; lereng yang sangat curam menunjukkan lapisan batuan yang sangat
tahan terhadap pelapukan dan erosi, sedangkan lereng landai menunjukkan lapisan
batuan yang kurang tahan terhadap pelapukan dan erosi. Kelompok lapisan batuan
yang datar (horisontal), tebal dan sangat tahan terhadap pelapukan dan erosi akan
menunjukkan tebing yang sangat tegak, karena keseragaman ketahanan terhadap
pelapukan dan erosi, maka pola aliran normal akan mengambarkan pola aliran dendritik,
khususnya jika pengaruh kekar dan rekahan tidak ada.
Lapisan batuan yang tegak menunjukkan garis arah jurus lapisan dan garis
kontak lapisan akan lurus dan sejajar dengan arah jurus lapisan, sehingga tampilan
pada topografi tidak menunjukkan adanya pergeseran. Lapisan batuan tegak yang tebal
dapat langsung dikenali dari lebar hasil pelapukannya, khususnya lapisan batuan yang
memiliki perbedaan ketahanan terhadap pelapukan dan erosi, sehingga pola aliran jenis
trelis sangat berkembang. Pola - pola permukaan lapisan batuan yang memiliki
kemiringan ditunjukkan oleh relief topografi arah jurus dan kemiringan lapisan batuan.
Kemiringan lapisan batuan yang curam menyebabkan relief arah jurus lapisan batuan
lebih menonjol, sehingga mempengaruhi bentuk permukaan lapisan batuan tersebut.
Permukaan topografi yang datar menyebabkan pola permukaan lapisan batuan
mengikuti arah jurus lapisan batuan sebenarnya. Jika permukaan topografi tidak datar,
maka pola permukaan lapisan batuan menjadi fungsi arah jurus (strike), kemiringan
lapisan (dip) merupakan kemiringan (gradient) topografi. Pola - pola permukaan lapisan
batuan tidak mengikuti sepanjang arah jurus lapisan batuan sebenarnya, tetapi
mengikuti arah jurus lapisan batuan semu.
Penyimpangan antara arah jurus lapisan batuan sebenarnya dengan arah jurus
lapisan batuan semu akan menambah kecuraman lereng pada topografi, kecuali jika
arah jurus lapisan batuan membentuk sudut yang tepat terhadap kemiringan topografi,
sehingga arah jurus lapisan batuan semu dan arah jurus lapisan batuan sebenarnya
memiliki kesamaan. Permukaan topografi dan bidang lapisan batuan membentuk arah
jurus punggungan membentuk hogback serta arah kemiringan lapisan batuan mudah
dikenali. Pada lipatan monoklinal yang baik menunjukkan susunan pola aliran paralel
sampai sub paralel dan trelis, setempat - setempat pola aliran dendritik. sungai atau
lembah pada topografi yang memotong arah jurus lapisan batuan de -ngan membentuk
sudut, maka pada lembah V tersebut akan tercermin suatu lapisan dan kemiringan
batuan yang jelas.
Lapisan batuan yang memiliki kemiringan landai menunjukkan lembah Vs yang
cukup panjang, sedangkan jika dibentuk oleh lapisan batuan dengan sudut kemiringan
yang tajam akan membentuk lembah Vs yang pendek. Lebar suatu lembah atau
punggungan ditentukan oleh tajam atau tumpulnya kemiringan lapisan batuan. Jika
suatu lembah memotong tegak terhadap arah jurus lapisan batuan, maka lembah Vs
akan membentuk tebing yang simetri, sedangkan jika lembah Vs yang memotong arah
jurus lapisan batuan membentuk sudut, maka perkembangan tebing lembah Vs tidak
akan simetri. Jika lembah Vs sejajar (paralel) terhadap arah jurus lapisan batuan, maka
lembah tidak akan berkembang, tetapi percabangan aliran akan mengikis lembah
lembah Vs. Bidang lapisan batuan yang tertutup oleh vegetasi atau material permukaan,
maka arah jurus lapisan batuan dapat dikenali dengan dari ciri - ciri pola aliran pada
daerah tersebut.
Jika kemiringan lapisan batuan landai, maka aliran percabangan su -ngai yang
panjang akan mengikuti arah kemiringan lereng lapisan batuan, tetapi apabila
percabangan sungai pendek dicerminkan oleh gawir lereng (Lattman dan Ray, 1965).
Struktur lipatan yang diikuti dengan sesar normal dan sesar naik dapat diketahui melalui
pengulangan lapisan batuan dengan kemiringan lapisan batuan yang berlawanan,
kecuali pada lipatan isoklin. Jika sumbu lipatan mendatar (horisontal), maka kedua
sayapnya akan sejajar (paralel). Kedua sayap lipatan yang membentuk kurva
(melengkung) dengan puncak sinklinal atau antiklinal akan membentuk lembah V atau
U. Kedua sayap lipatan akan membentuk jalur permukaan lurus atau melengkung ada
sisi - sisi yang berlawanan. Pada suatu daerah perlipatan yang jelas, sumbu lipatan
yang terletak pada puncak atau lembah yang terbentuk akibat perlipatan tersebut dapat
ditentukan dengan cara perhitungan atau perkiraan arah jurus dan kemiringan lapisan
batuan serta hubungan tiga dimensionalnya.

Pada lipatan rebah yang sering diikuti oleh struktur sesar dan sesar naik, arah
kemiringan lapisan batuan pada kedua sayapnya akan sama dan pola lembah V sangat
membantu menentukan sayap yang berlawanan.
Hubungan struktur geologi dengan morfologi akan tampak jelas pada suatu
daerah bervegetasi sedikit dan tutupan tanah relatif tipis, tetapi pada daerah yang
beriklim basah atau tropik basah, struktur geologi akan tercermin oleh bentuk relief
daerah tersebut. Kerapatan vegetasi ketebalan tanah yang menutupi atau menghalangi
morfologi struktur yang berada di bawahnya sangat sulit ditentukan, sehingga untuk
menentukan struktur geologi tersebut pola aliran dan penyimpangan pola aliran dapat
digunakan sebagai ciri penentuan struktur.
Aliran utama pada sayap lipatan cenderung mengalir sejajar arah jurus lapisan
batuan dan mengikuti celah - celah lapisan batuan yang tahan terhadap pelapukan dan
erosi, sedangkan aliran - aliran yang kecil mengalir searah searah kemiringan lapisan
batuan dan permukaan lereng lipatan membentuk pola aliran yang trelis. Lapisan yang
melengkung sekitar puncak lipatan tercermin oleh aliran utama yang melengkung. Pola
aliran radial dan anular atau gabungan kedua pola tersebut sering berkemang pada
daerah - daerah yang berbentuk kubah atau lipatan (antiklin) sungkup.
Howard (1967) menyebutkan kelokan (meander) lokal pada sungai, kelokan
tajam (compressed meander), percabangan sungai lokal, keragaman lebar tanggul
sungai (levee) dan penyimpangan - penyimpangan (anomali) pada sungai merupakan
ciri - ciri struktur geologi atau deformasi aktif.
Pada sesar - sesar besar, biasanya sesar yang terletak pada bidang permukaan
lahan yang melengkung terdapat pergeseran yang tidak menunjukkan celah dan
biasanya berada sekitar mintakat regangan serta permukaan sesar merupakan suatu
bidang. Sudut sesar 450 atau lebih biasanya disebut sebagai sesar normal dan sudut
sesar kurang dari 450 biasanya disebut sebagai sesar naik. Sesar normal pada foto
udara tampak seperti garis lurus atau garis melengkung, seperti kelurusan ( lineament )
yang membentang sangat jelas. Tampilan yang memanjang mencerminkan atau
memberi kesan bahwa sesar seperti dipengaruhi oleh kelurusan morfologi, aliran su
-ngai ( misalnya penggalan sungai lurus, air terjun, danau, genangan air dan mata air)
atau kumpulan vegetasi yang dicerminkan oleh garis lurus karena perubahan rona ( tone
) foto udara yang tajam.
Mintakat sesar atau kekar pada batuan lunak yang mudah tererosi akan
membentuk lekukan atau lembah. Pola aliran yang dipengaruhi oleh sesar atau kekar
akan membentuk pola lurus (elongated ) dan paralel atau angular. perubahan pola atau
arah aliran sungai pada sisi yang berhadapan dari suatu kelurusan merupakan ciri sesar
yang sangat menyolok. Breksi sesar biasanya sering menahan air disekitarnya,
sehingga garis sesar pada foto udara akan menunjukkan garis hitan karena sangat
jenuh oleh kan - dungan air dan kemungkinan lebatnya vegetasi. Mintakat sesar yang
memiliki kelulusan air (permebility) rendah akan mempengaruhi kondisi air tanah dan
menyebabkan perubahan kumpulan vegetasi, sehingga sesar dicirikan oleh mata air.
Suatu daerah yang disusun oleh batuan yang keras dan memiliki lapisan yang
mendatar (horisontal) kemudian terangkat, maka akan membentuk morfologi "mesa"
atau plato yang dipengaruhi oleh struktur. Pe - ngikisan (erosi) yang berlangsung
pada sisi - sisi gawir bagian depan struktur, maka akan membentuk alur erosi yang
sejajar (paralel) atau gawir erosi yang tidak menerus hasil dari kegiatan erosi mata air
atau limpasan air permukaan ( runoff ) yang terkumpul. Jika diameter batuan penutup
ukurannya lebih kecil dari pada tinggi bukit disekitarnya, maka digunakan istilah "butte".
Kemiringan lapisan batuan yang memiliki satu arah, karena posisi awalnya sudah miring
(contoh : lereng cekungan pengendapan yang curam) atau miring karena tektonik, maka
bentanglahan yang berkembang menunjukkan relief perbukitan atau pegunungan yang
disusun oleh batuan keras yang miring. Bentuklahan yang simetris atau asimetris
tergantung pada kemiringan lapisan batuan dan proses yang berlangsung pada
bentuklahan tersebut. Struktur monoklin yang cukup dikenal antara lain "cuesta",
"hogback" dan pegunungan "dike".
"Cuesta' adalah punggungan asimetri dengan salah satu sayap yang panjang,
umumnya searah dengan kemiringan lapisan batuan yang keras dan lereng landai.
Pada salah satu sisi lereng "cuesta" memiliki kemiringan lereng yang terjal, sedangkan
pada sayap lain memiliki kemiringan yang landai.
" Hogback" adalah punggungan dengan puncak yang terjal, dibentuk oleh
lapisan batuan keras atau batuan yang memiliki kemiringan lapisan batuan yang terjal.
Bentuklahan pada umumnya agak simetri, tetapi ada juga yang tidak simetri.
Punggungan yang menyerupai "dike" dibentuk oleh lapisan batuan yang memiliki
kemiringan hampir tegak, kemiringan lereng sangat curam dan hampir simetris. Lapisan
atau struktur lapisan sejajar (planar) yang miring merupakan bagian dari lipatan tunggal
(single fold ) atau bagian dari sistem lipatan (kumpulan lipatan). Struktur lipatan dapat
berupa antiklin atau sinklin. Antiklin adalah lipatan ke atas yang telah mengalami
perkembangan beberapa tahap. Antiklin sederhana memiliki kemiringan lapisan batuan
dari arah sumbu antiklin ke arah sisi - sisi yang berlawanan, sedangkan sinklin adalah
lipatan lapisan batuan dengan arah kemiringan yang bertindak sebagai sayap menuju
sumbu sinklin (lihat gambar ...). Suatu daerah yang terlipat dan tererosi akan
menunjukkan relief yang bergelombang membentuk bukit dan lembah. Bagian bukit
menunjukkan antiklin, sedangkan bagian lembah menunjukkan sinklin. Jika daerah
terlipat tererosi, maka akan tampak bentuk lapisan batuan yang dipengaruhi oleh
perbedaan kekerasan batuan. Kedua sisi antiklin dikenal sebagai sayap, sedangkan
pada bagian yang paling tinggi disebut puncak. Bidang yang memotong lipatan pada
puncaknya disebut sebagai bidang sumbu. Jika bidang sumbu tegak sejajar sumbu
lipatan, maka lipatan tersebut dinamakan lipatan simetri.
Kekar dan sesar sangat mempengaruhi perkembangan bentuklahan, sedangkan
kekar - kekar tersebut pada umumnya membentuk arah yang tegak atau mendatar pada
lapisan batuan selaras dengan arah gerak yang tidak beraturan. Sistem kekar sangat
banyak dan suatu sistem kekar terdiri dari dua atau lebih kelompok kekar yang sejajar.
Pelapukan dan erosi yang mengikuti sistem alur kekar sejak terbentuk akan menjadi
tempat mengalirnya air ketika terjadi hujan. Sistem kekear yang sangat luas mudah
dikenali pada foto udara dan peta topografi dengan cara melihat pola aliran sungai,
kerapatan vegetasi yang berkelompok pada jalur kekar dan arah perbukitan.

Sesar adalah rekahan atau mintakat (zone) rekahan pergeseran yang panjang
dengan sisi - sisi rekahan sejajar. Pergeseran yang tegak menghasilkan suatu gawir
sesar yang terjal (lihat gambar...). Kenampakan sesar pada foto udara atau peta
topografi akan sangat tajam , seperti naik turunnya blok yang tersesarkan tergantung
pada gerak / pergeseran sesar, kegiatan erosi dan kekerasan batuan. Perbedaan erosi
sepanjang gawir sesar ( = perpotongan antara bidang sesar dengan permukaan) jarang
sekali nampak, dibandingkan dengan hasil langsung dari gerakan yang menyebabkan
terjadinya sesar (bidang sesar), sehingga yang tampak adalah jejak sesar berupa garis
dan biasanya disebut sebagai garis gawir sesar. Suatu garis gawir sesar obsequen
adalah kenampakan gawir sesar, kecuali pada daerah bertopografi rendah tampak blok
yang naik dan turun.
Thornbury (1969, halaman 253 - 256) menggunakan analisis umum untuk
menentukan gawir sesar dan garis gawir sesar, dengan cara :
(1). Melihat bidang kasar yang mengesankan bekas goresan dan di-terapkan
hanya pada sesar - sesar yang berumur muda. Bidang yang memberikan
kesan goresan belum tentu sebagai gawir sesar.
(2). Bidang sesar dicirikan oleh :
(a). Breksi sesar, mintakat (zone) hancuran dan mintakat rekahan
serta kekar
(b). Tampilan permukaan sesar yang menunjukkan goresan -
goresan pada bidang sesar ("slickenside"), tetapi goresan
tersebut jarang ditemukan.
(c), Tampilan pergeseran lapisan batuan yang tegak, mendatar,
atau miring.
(3). "Triangular facet" (permukaan berbentuk segitiga ?) dengan ciri bagian ujung
atas yang meruncing.
Bagian ujung yang meruncing dianggap sebagai bagian yang pa -ling dekat
dengan sesar dan biasanya menutupi sesar yang tampak sekarang.
Biasanya lereng permukaan (facet) yang meruncing kurang dari 300,
sedangkan bidang sesar normal lebih lebih curam.Selanjutnya ujung yang
meruncing dari permukaan segitiga (triangular facet) mengalami perombakan
oleh pelapukan dan erosi, sehingga tidak menunjukkan ciri - ciri permukaan
sesar.
(4). Kelurusan gawir. Sesar memanjang seperti garis lurus; padahal
kenyataannya melengkung, jika dibandingkan dengan gawir cuesta yang
memiliki gawir yang lurus. Kelrusen mencerminkan gawir sesar atau garis
gawir sesar.
(5). Jeram berbentuk V dengan batuan dasar mengikuti garis sesar.
(6). Pendekatan dengan melihat bertambah miringnya dasar sungai di sepanjang
jeram dan disebut sebagai lembah "gelas anggur" ("wineglass" valley),
sehingga dijadikan sebagai bukti sesar sekarang (Resen).
(7). Lembah naik (Hanging valley) pada permukaan gawir. Lembah naik biasanya
terjadi di sepanjang gawir sesar, tetapi dapat juga terjadi di sepanjang garis
gawir sesar yang mencerminkan terdapat perbedaan regangan pada kedua
sisi blok sesar.
(8). Mataair di sepanjang dasar gawir. Mataair sering ditemukan di sepanjang
sesar tetapi bukan berarti batas sesar atau sesar aktif.
(9). Aliran lava sepanjang alur sesar. Hamparan aliran lava bukan menutupi
sesar, tetapi vulkanisme terjadi pada jalur sesar yang disebut sebagai
mintakat lemah.
Tampilan topografi dapat memberikan kesan sesar, tetapi tidak berarti sebagai
sesar. Fenomena - fenomena (kejadian) yang dapat diperkirakan terjadi sesar saat
sekarang atau masa lalu antara lain :
- sering terjadi longsoran.
- kelurusan punggungan yang tidak dipengaruhi oleh jenis batuan.
- pola aliran sungai paralel yang memotong berbagai jenis batuan.
- kelokan tajam aliran sungai.

4.1.3 Bentuklahan asal gunungapi (vulkanik)


Bentuklahan gunungapi terbentuk dari hasil endapan gunungapi berupa endapan
lava yang membeku dan fragmen - fragmen gunungap, sehingga dapat dibedakan
dengan bentuklahan lainnya dan sangat mudah dikenali pada foto udara.
Letusan (erupsi) gunungapi dapat dibedakan berdasarkan material yang keluar
dari saluran magma gunungapi atau " vent " , yaitu jika material yang dikeluarkan dari
saluran magma melalui pusat saluran magama gu - nungapi / vent disebut sebagai
pusat letusan. Material yang keluar melalui celah / rekahan saluran magam disebut
sebagai letusan celah / rekahan dan material yang keluar melalui beberapa saluran
magma yang tersebar luas pada suatu daerah disebut sebagai daerah letusan.
Klasifikasi ini sulit untuk diterapkan pada setiap kejadian letusan, karena sebuah
letusan akan terjadi di sepanjang rekahan (minakat lemah), sehingga pusat letusan
besar dapat terjadi melalui sejumlah kerucut parasit (parasit cone) yang terapat
disepanjang jalur rekahan pada sayap / lereng gunungapi. Perbedaan pusat letusan
dengan letusan yang terjadi melalui rekahan umumnya tergantung pada skala dan tahap
pertumbuhan gu - nungapi, sehingga perbedaan itu akan sangat menonjol. Daerah
gunungapi disebut juga "polyrifice" dicirikan oleh tidak pernah terdapat pusat letusan,
karena letusan akan terjadi pada titik - titik tertentu dalam kurun waktu yang panjang
(Karapetian, 1964).
Struktur tubuh gunungapi cenderung berukuran kecil dan jarang mencapai
ketinggian 450 meter. Terak (scoria) lava, kerucut lava, kubah lava dan hamparan lava
adalah sebutan jenis - jenis gunungapi yang paling menonjol, sedangkan gunungapi
strato sangat jarang atau hampir tidak ada. Sebaran gunungapi pada umumnya tidak
beraturan, tetapi tidak menutup kemung-kinan sebaran gunungapi tersebut
berkelompok. Kondisi sebaran gunungapi tersebut berdasarkan beberapa penelitian
menyebutkan bahwa gunungapi terbentuk bersamaan dengan tumbukan dan
pemekaran lempeng, sehingga gunungapi biasanya terbentuk pada sabuk pegunungan
Alpen dan sabuk Pasific (gambar ). Komposisi petrografi batuan penyusun gunungapi
pada suatu daerah yang luas akan memiliki kesamaan, sehingga berdasarkan sebaran
yang luas dan kesamaan petrografinya, maka jenis gunungapi dapat dibagi menjadi dua
kategori, yaitu (1) kerucut dan sebaran kerucut serta hubungan bentuk kubah dan (2)
plato dan dataran. Beberapa gunungapai ada yang membentuk sebagian kubah lava
dan sebagian lagi membentuk plato vulkanik. Selanjutnya tampilan negatif hasil letusan
berupa kaldera yang sa- ngat luas, sehingga terbentuk danau hasil dari letusan tersebut
atau akibat penurunan (depresi) yang terbendung oleh lava yang mengeras.
Secara garis besar klasifikasi gunungapi berdasarkan letusan yang diajukan oleh
Lacroix (1908) dan disusun kembali oleh Sapper (1931) adalah sebagai berikut :

Tabel Jenis gunungapi berdasarkan letusannya.

JENIS GUNUNGAPI KARAKTERISTIK

Letusan melalui rekahan, mengeluarkan aliran magma


basalt bebas, tenang, gas sedikit, menghasilkan volume
1. ICELANDIC lava yang besar, lava mengalir seperti lapisan pada
daerah yang luas, sehingga membentuk plato.

Letusan berasal dari rekahan, kaldera dan lubang kawah,


2. HAWAIIAN lelehan lava diikuti dengan gas, letusan aktif tenang
sampai sedang, lava dan gas mengalir dengan cepat
sambil menyemburkan api, debu sangat sedikit,
membentuk kubah lava.

Kerucut berlapis ((stratocones) sekitar kawah, letusan


sedang, berlanjut, melepaskan gas tidak teratur, me -
3. STROMBOLIAN nyemburkan gumpalan lava, menghasilkan bomb dan
terak (scoria) lava, kegiatan letusan berulang - ulang,
dengan semburan lava dan awan panas (seperti uap air)
yang naik sampai pada ketinggian tertentu..

Kerucut berlapis pada bagian tengah saluran magma,


kumpulan lava lebih kental, lapisan lava tertumpuk
diantara letusan, gas terkumpul di bawah permukaan,
letusan bertambah hebat dengan waktu yang cukup lama,
sampai terak (scoria) lava hancur, lubang saluran magma
4. VULCANIAN bersih. Semburan bomb, batuapung dan debu, lava
mengalir dari puncak menuruni lereng setelah letusan
utama, awan bercampur debu yang pekat tersembur ke
udara membentuk seperti cendawan, debu berlapis
sekitar lereng puncak gunungapi. (catatan : letusan
pseudo vulkanik memiliki ciri yang sama, tetapi hasilnya
menjadi lain (contoh: Hawaiian), yaitu menjadi phreatic
dan meng- hasilkan kabut uap yang sangat luas,
membawa fragmen - fragmen lain).
Lanjutan tabel ......

Letusan lebih hebat daripada jenis strombolian atau


vulcanian, letusan hebat terjadi dengan melepaskan
gas dari lubang saluran magma yang berbentuk
kerucut berlapis (Stratocones), terjadinya letusan
5. VESUVIAN setelah gunungapi istirahat cukup lama, saluran
magma cenderung menjadi kosong dan cukup dalam,
pada suatu letusan lelehan lava menyebar (pada
bagian atas mengkilat) disertai dengan semburan
asap seperti cendawan yang terus menerus
membentuk lapisan debu pada ketinggian tertentu.

6. PLINIAN. Letusan lebih hebat daripada letusan vesuvian, pada


fase utama yang terakhir menyemburkan gas dengan
cepat membentuk awan seperti cendawan tegak lurus
setinggi beberapa kilometer, menyempit pada bagian
bawahnya dan di bagian atasnya menyebar sambil
menyebarkan debu.

7. PELE'AN Menghasilkan lava kental bertekanan tinggi, letusan


jarang terjadi, saluran magma gunungapi jenis strato
terhalang oleh kubah lava atau lava penyumbat, gas
keluar rekahan - rekahan lateral (lereng gunungapi)
atau dari saluran yang telah mengalami penghancuran
penyumbatnya; debu dan fragmen - fragmen bergerak
menuruni lereng dalam satu atau lebih letusan
sebagai "nue'es ardentes" atau luncuran awan panas,
langsung mengendapkan hasillnya.

Sumber : Van Zuidam (1985 dari Holmes,1975 dan Bullard,1962)

Berdasarkan Ollier(1970), jenis gunungapi dan kawah merupakan hasil endapan


lava kental derajat tinggi dari suatu daerah yang sangat luas. Larutan magma (kaya Mg,
Fe dan Ca) menguapkan H2O (uap), SO2 dan CO2 serta mengurangi potensi letusan.
Magma yang bertemperatur tinggi mengalir keluar secara perlahan - lahan melalui celah
- celah / rekahan - rekahan yang terdapat pada gunungapi, seperti rekahan yang
disebabkan oleh "horst volcano tectonic" atau lahan yang tergali (R.W. Fairbridge,
1968). Magma kental (banyak mengandung SiO2 dan alkali) cepat dingin dan melekat,
menyimpan lebih banyak gas.
Setelah gerakan magma pada saluran terhenti dan temperatur naik, tekanan gas
menyebabkan kawah tua retak, sehingga dapat menyebabkan terjadinya letusan dan
penumpukan debu, bara, serta terak (scoria) lava.Letusan biasanya terjadi dari lubang
kawah tunggal yang biasa disebut dengan pusat letusan gunungapi. Terjadinya letusan
gunungapi dapat dibedakan menjadi dua macam, antara lain (1) monogenetik, yaitu
letusan terjadi sekali, berupa letusan kecil, dan (2) poligenetik, yaitu letusan terjadi
beberapa kali, sering menyemburkan lava secara berulang - ulang.
Letusan monogenetik selalu dihubungkan dengan jalur rekahan gunungapi,
sebagai contoh jalur rekahan lava yang terbuka sekali, kemudian lava membeku dan
muncul kembali di tempat lain. Poligenetik biasanya berhubungan dengan pusat
gunungapi. Pada awalnya letusan terjadi dari kawah - kawah kecil kemudian kawah
tersebut terkubur oleh limpahan / curahan kawah lainnya (sehingga kawah tumpang
tindih) dan pada akhirnya lenyap karena letusan kaldera. Ketika letusan terhenti,
endapan lava dan piroklastik membentuk strato vulkanik, lapisan lava dapat dilihat pada
dinding - dinding kawah atau lereng - lereng kawah yang tererosi.
Gunungapi lava basa. Lava basa bersifat sangat cair, sehingga dapat
menyebar dengan mudah dan meninggikan gunungapi. Ollier (1973) membedakan
perisai lava , kubah lava, kerucut lava, gundukan lava dan lava datar (gambar 28).
Hamparan batuan gunungapi, terbentuk oleh semburan lava basaltik dan dapat
membentuk pilar lava seperti perisai besar, lereng landai (kurang dari 7 0) dan cembung.
Kerucut parasit, letusan lereng, dan letusan rekahan biasanya berhubungan dengan
gunungapi perisai (gunungapi perisai merupakan pernyataan yang kurang tepat, karena
merujuk kepada lava perisai, tetapi digunakan untuk gunungapi strato yang besar atau
pada suatu lingkungan gunungapi).
Gunungapi berskala kecil memuntahkan lava cairdan menghasilkan kubah
cembung dari pada bentuk perisai, sehingga disebut sebagai kubah lava vulkanik.
Perbedaan ukuran yang digunakan tidak baku, dan beberapa penulis kadang - kadang
mnggunakan perisai atau kubah. Pusat letusan pada skala kecil menyebabkan sisi
kerucut lurus dan aliran lava biasanya memiliki kemiringan lereng yang landai (kurang
dari 70) , tetapi ada juga beberapa contoh yang relatif curam. Gunungapi basaltik tidak
dicirikan oleh kawah, tetapi memiliki ciri berupa gundukan lava yang berlereng landai.
gundukan lava tersebut sebagian menunjukkan bentuk yang tajam, mencerminkan telah
mengalami erosi yang kuat.

Gunungapi basaltik tidak memiliki kawah, tetapi menghasilkan lelehan lava yang
keluar melalui dari rekahan - rekahan. Beberapa gunungapi dibedakan kerucutnya oleh
rekahan yang bertindak menjadi kawah dan dapat dinyatakan sebagai gundukan lava
("lava mounds") yang memiliki kesamaan dengan gundukan terak ("scoria mounds"). Di
Victoria (Australia) ada beberapa kelainan gunungapi yang telah diteliti, dan gunungapi
tersebut membentuk lava yang mendatar ("lava disc ) yang terbentuk dari lava basal dan
keluar melalui rekahan - rekahan yang tegak lurus terhadap permukaan lava yang ada di
atas dan sisinya (Ollier, 1970).
Gunungapi lava asam. Batuan bekuan asam pada umumnya sangat pekat dan
apabila batuan bekuan asam ini tidak terlontarkan oleh suatu letusan gunungapi, maka
magma ini akan mengalir melalui rekahan - rekahan membentuk sejumlah bentuklahan (
gambar 30).
Pada saat lava yang pekat dismburkan, maka akan menyebar dan membentuk
gundukan cembung yang dikenal sebagai kubah kumulus ("cumulo dome") dan ini tidak
berdiri sendir, tetapi membentuk kelompok intrusi pada endapan piroklastik.
Istilah "mamelon" sering diterapkan untuk kubah kumulus, tetapi Cotton (1944)
menyebutkan bahwa "mamelon" adalah kubah kumulus yang terbentuk oleh letusan
dengan aliran material lava trakhitik dan "mamelon" sama seperti kubah kumulus yaitu
tidak memiliki kawah,
"Tholoid " mengacu pada kubah kumulus atau mamelon yang berasal dari dalam
kawah besar gunungapi dengan ketinggian dan diameter beribu - ribu meter yang
tertutup oleh runtuhan atau mungkin bentuk kubah yang menyimpang menjadi kasar dan
tidak memiliki kawah. Formasi " tholoid " pada kawah tidak mencirikan akhir dari suatu
aktifitas gunungapi karena terbentuk dan hancurnya " tholoid " berlangsung selama
pertumbuhan gu -nungapi.
Lava kental yang menyembur dari saluran memiliki sifat sangat kaku dan
bergerak seperti batang lurus (piston), sehingga menghasilkan tubuh yang membulat
dan panjang disebut sebagai kubah penyumbat. Kerucut kubah penyumbat berkembang
dengan cepat, tetapi pertumbuhannya hancur oleh letusan dan pecah karena tidak
seimbang pada saat tumbuh dan kumpulan pecahan dari letusan punggungan karena
beberapa kubah penyumbat ditutupi oleh tumpukan batuan rombakan yang membentuk
seperti endapan longsor sekitar lereng dengan batuan berbentuk pilar membentuk sudut
hampir datar.
Kubah penyumbat yang memiliki ukuran besar mendekati ukuran pegunungan
merupakan letusan dengan skala lebih kecil dari lava yang sa-ngat kaku, selanjutnya
rekahan pada permukaan kubah penyumbat atau kubah kumulus muncul membentuk
punggungan.
Gunungapi piroklastik. Letusan gunungapi menghasilkan pecahan - pecahan
(fragmen - fragmen) lava yang berjatuhan dekat lubang kepundan, pecahan - pecahan
lava tersebut membentuk gumuk rombakan dengan lereng sesuai dengan sudut
pembentukan gumuk rombakan tersebut. Partikel - partikel halus diendapkan pada
lereng lebih bawah dibandingkan dengan partikel - partikel kasar, sehingga pecahan -
pecahan kasar terkumpul dekat lubang kepundan. Bentuk lereng yang indah seperti di
Fujiyama (Jepang) dan Mt. Egmont (New Zealand).
Ollier (1973), membedakan lima jenis gunungapi piroklastik menjadi kerucut
terak ("scoria cones"), gundukan terak ("scoria mounds"), kumpulan kerucut terak
("nested scoria cones"), kerucut littoral ("littoral cones") dan maar. Kerucut terak yang
ideal adalah kerucut tunggal yang memiliki lereng lurus atau sisi - sisinya cembung
melandaidan kawah di bagian puncaknya. Bibir kawah yang datar memperlihatkan
seakan - akan kerucut terak memiliki puncak yang datar jika dilihat dari jarak jauh.
Kerucut terak terbentuk sangat cepat, karena pada tahap akhir letusan gunungapi yang
memiliki magma basaltik cenderung membentuk kerucut terak.
Beberapa terak gunungapi tidak memiliki kawah sebenarnya dan biasanya
dinyatakan sebagai gundukan terak ("scoria mounds") yang terpisah dari kerucut terak
normal ("normal scoria cones"). Kerucut terak dihasilkan dari akhir suatu letusan
gunungapi yang cukup besar. Jika posisi terak terletak di tengah kawah atau kepundan
yang sangat besar, maka disebut sebagai kumpulan kerucut terak ("nested scoria
cones"), penampang melintang antara kerucut bagian dalam dengan dinding kawah
disebut "fosse".
Saat lelehan lava bersentuhan dengan laut, maka akan terjadi letusan dan
semburan pecahan lava, sehingga pecahan lava tersebut membentuk tumpukan
pecahan lava yang disebut sebagai kerucut litoral ("littoral cones") dengan ketinggian
100 meter dan memiliki diameter 1 kilometer. Sering ditemukan satu atau dua bukit yang
terbentuk pada sisi aliran lava ( Wentworth dab Macdonald, 1953). " Maars"
atau kawah bekas letusan adalah bentuklahan yang disebabkan oleh letusan
gunungapi, terdiri dari kawah sampai bagian yang paling bawah, luas dan dalam.
Disekitar bibir kawah dibentuk oleh semburan material - material piroklastik, batuan
bekuan atau batuan dasar dan sering dicirikan oleh bentuk endapan besar asimetris
yang searah dengan arah angin pada kawah tersebut. Pada penampang akan tampak
bagian sisi yang curam mengarah ke kawah dan lereng yang berlawanan arah dengan
lereng curam memiliki kemiringan yang landai (umumnya 4 0 atau kurang) membentuk
lapisan piroklastik yang relatif sejajar dari arah kawah. Kawah sering memeiliki diameter
1 kilometer dan ketinggian bibir antara 50 sampai 100 meter. "Maar" biasanya terdapat
bersama dengan endapan batuan bekuan basal dan kawah bagian bawah ditutupi oleh
air membentuk danau.
Letusan gunungapi campuran. Pada beberapa gunungapi sering ditemukan
endapan campuran antara lava dengan fragmen dan gunungapinya disebut sebagai
gunungapi strato ("strato vulcanous"). Beberapa gunungapi besar di dunia seperti
Gunungapi Visuvius, Fujiyama, Egmont dan sebagainya merupakan gunungapi jenis
strato. Seperti umumnya gu - nungapai, maka gunungapi jenis strato juga memiliki
periode letusan yang panjang selaras dengan aktifitas gunungapi tersebut. Kerucut -
kerucut yang tertoreh kemudian membentuk parit erosi dan menjadi alur mengalirnya
lava. kerucut - kerucut terak ("scoria cones") terbentuk disekeliling puncak gu -
nungapi dan aliran piroklastik serta endapan jatuhan tersebar secara luas disekitar
lereng - lereng gunungapi.
Gunungapi gabungan. Campuran gunungapi yang tampak sempurna adalah
gunungapi yang memiliki campuran bentuk lava dan terak ("scoria"), tetapi tidak
sesederhana kumpulan suatu lapisan lava. Banyak bukit campuran secara genetik
memiliki hubungan yang sama pada awalnya berdiri sendiri, kemudian karena tumpang
tindihnya endapan hasil letusan (erupsi) yang tidak memiliki hubungan antara satu
letusan dengan letusan lainnya dengan umur yang berbeda mengakibatkan bukit - bukit
tersebut menjadi satu, (Ollier, 1970).
Kerucut parasit ("parasit cones") biasa disebut sebagai kerucut "adventive" dan
kerucut kedua dapat berkembang apabila gunungapi memiliki tekananyang sangat
besar agar dapat mengeluarkan lava mengalir melalui rekahan - rekahan yang mudah
dicapai ke permukaan dan meletus pada lereng - lereng utama gunungapi. Sekali
letusan gunungapi terjadi, maka endapan lava yang bertindak sebagai penyumbat
lubang kawah hancur, sehingga memberi peluang keluarnya lava dan letusan
selanjutnya akan menjadi mudah.
Sesar, rekahan dan punggungan terbentuk pada sayap - sayap gunungapi,
sehingga lava dapat mengalir melalui rekahan - rekahan dengan sifat letusan dari
rekahan tersebut. Kawah yang terdapat dipuncak gunungapi telah membentuk
percabangan pada bagian dindingnya, sehingga dijadikan alur keluarnya lelehan lava
atau kegiatan letusan. Pada suatu kawah yang luas dapat terdiri dari satu atau lebih
gundukan kerucut atau kawah. Pada beberapa daerah terbentuk sejumlah kerucut terak
("scoria cones") secara bersamaan dengan mekanisme terbentuknya kerucut parasit
("parasit cones") ; sebagai contoh : jika kerucut yang pertama menutupi saluran magma
("vent"), maka akan terbentuk saluran magma ("vent") baru. Perbedaanya adalah tidak
terjadi pertumbuhan kerucut yang berukuran besar, misalnya : tidak tampak gunungapi
utama, tetapi yang tampak adalah rangkaian gunungapi, sehingga disebut sebagai
rangkaian kerucut ("multiple cones").
"Cryptocones" adalah gunungapi yang memilikilubang kawah atau bibir kawah
yang kasar dan kadang - kadang ditemukan lapisan material gunungapi yang tebal, tidak
ditemukan batuan beku yang memiliki struktur yang dibentuk oleh pelepasan gas tau
tampilan permukaan saluran magma ("vent") tidak sampai ke permukaan.
Kawah meteorit memiliki bentuk permukaan yang sama dengan gunungapi,
tetapi cara terbentuknya bukan diakibatkan oleh gunungapi, melainkan oleh jatuhan
meteor ke permukaan bumi, kemudian meledakdan letusannya memberi dampak seperti
bentuk kawah tersebut. Batuan meterorit yang jatuh membentuk kawah jarang
ditemukan disekitar bibir kawah, karena pecahannya menyebar jauh dari bibir kawah.
Ciri lain dari meteor yang jatuh ke permukaan bumi adalah kenampakan fragmen batuan
dasar pada bibir kawah menjadi miring akibat benturan meteor yang jatuh tersebut.
Kaldera adalah depresi (cekungan) gunungapi yang sangat luas berdiameter
mencapai 5 kilometer. tiga jenis utama kaldera yang dikenal, yaitu kaldera runtuhan,
kaldera letusan dan kaldera eosi. Kaldera runtuhan selanjutnya dibagi menjadi jenis
Karakatau atau kaldera runtuh karena suatu letusan dan jenis kaldera Glencoe taua
kalderayang mengalami penurunan ("subsidence") (ganbar 32). Pada jenis kaldera
glencoe, penurunan tidak diikuti dengan letusan abu, tetapi rekahan yang mengisolasi
bagian tengah yang melingkar menyebabkan terjadinya terobosan ( intrusi) lateral atau
jalan keluarnya lelehan lava.
Kaldera hasil dari letusan sangat jarang, tampilan letusan gunungapi yang
membentuk kaldera sebenarnya hanya dapat menghasilkan kaldera dengan garis
tengah kurang dari 1,5 kilometer. sedangkan kaldera yang berdiameter besar
merupakan hasil dari beberpa kali letusan. Selanjutnya jenis ketiga adalah kaldera erosi,
yaitu kaldera yang memiliki luas akibat erosi terhadap dinding kawah. Kaldera erosi
akan hilang selaras dengan pemebntukkan kaldera baru oleh proses yang berbeda
(bukan erosi), seperti runtuhan atau penurunana (subsidence).

4.1.3.1 Aliran lava dan tampilan lava minor


Jenis lava. hasil utama gunungapi adalah lava, debu atau tufa, semburan gas
dan asap. Lava silika kental cenderung membentuk kubah kumulus atau "coulees" atau
letusan material piroklastik, sedangkan lava yang lebih cair membeku membentuk
seperti lapisan meninggalkan jejeak seperti aliran lava (Ollier, 1970). Selaras dengan
kenampakan permukaan lava, maka aliran lava diklasifikasikan menjadi aa pahoehoe, a
a, lava blok dan lava bantal (gambar 33).
Lava pahoehoe adalah jenis lava cair dengan sedikit berbusa dan pada lapisan
permukaannya yang tipis mendingin membentuk lipatan akibat gerakan lava yang
meleleh pada bagian bawahnya, hasilnya adalah lava seperti kulit hiu dan lilitan sejajar
yang pijar, seperti melilit pilar
Lava a a (dibunyikan ah ah) adalah lava berbentuk blok, berbusa dan bergerak
secara perlahan. lapisan lava cukup tebal, pecah membentuk blok - blok yang saling
bertumpuk dan masiv, lava seperti bubur saling bertumpang tindih. Aliran lava yang
mengalir secara perlahan - lahan membentuk timbunan seperti bongkah - bongkah dan
bergerak mengeluarkan suara deru yang cukup keras. Lava a a dan lava blok memiliki
persamaan, tetapi Fe'nch (1933) dan Macdonald (1953) membedakan antara a a karena
bentuknya seperti kerak besi yang melintir dengan blok lava yang memiliki bentuk blok -
blok yang menyudut. Jika aliran lava masuk ke dalam air atau terjadi letusan gunungapi
di bawah permukaan air, maka biasanya terbentuk struktur khusus yang disebut sebagai
lava bantal ("pillow lava"). Lava mendingin dengan cepat, sehingga membentuk lava
yang mengkilat seperti kaca, tetapi lapisan kulit yang plastis terdapat menutupi lava
yang cair bergulung seperti kantung plastik yang diisi penuh oleh larutan. Kantung -
kantung yang berbentuk membulat seperti lelehan saus merupakan bantal dan biasanya
saling bertumpuksatu dengan yang lainnya. Pada bagian puncak berbentuk membulat,
tetapi pada bagian dasar yang masuk ke bagian dalam membentuk lapisan. Tampilan ini
tampak sama dengan kilapan kaca, kulit tachylitic dan rekaha radial (gambar 34),
membentuk bantal yang mudah dibedakan dari bentukkebundaran bongkah karrena
pelapukan mengelupas bawang. Banyak lava bantal yang terbentuk dilaut, tetapi ada
juga yang terbentuk pada air tawar (danau).
Tampilan lava minor. Pendinginan aliran lava menyebabkan penyusutan,
sehingga terbentuk formasi kekar. penyusutan dan pembentukan formasi kekar ini tidak
pernah terjadi pada massa lava seperti bubur, tetapi akan mencapai geometri yang
sempurna pada sebaran larutan kental lava basal yang luas. Pengkerutan (kontraksi)
terjadi ketika lava mendingin yang dicerminkan oleh garis - garis kekar memusat yang
menjadi arah tekanan. Ketika pengkerutan (kontraksi) memenuhi ruang, maka rekahan -
rekahan menjadi kekar, kemudian memebntuk pecahan heksagonal. Pola - pola kekar
yang tegak membagi lava menjadi kolom - kolom tegak heksagonal dan pecah
membentuk blok - blok karena rekahan yang melintang.

Permukaan kekar tegak (vertikal) mempunyai jarak gores yang dikenal seperti
bekas pahatan. Bentuk - bentuk kekar akibat aliran lava terbentuk didalam satu
kumpulan, kemudian membentuk mega kolom dan selanjutnya kolom normal dan
terakhir membentuk rekahan - rekahan yang saling berpotongan.
Secara alamiah bagian permukaan lava akan lebih cepat dingin dari pada bagian
dalam (tengah) aliran lava, sehingga bagian permukaan tersebut akan mengkerut dan
pecah. Pada aliran lava, blok - blok lava terangkut sampai ujung ujung aliran dan
terbenam, sehingga gerakan aliran lava yang mendorong blok - blok lava tersebut
membentuk celah - celah yang menjadi jalur aliran lava tersebut, sedangkan pada
bagian atas dan bawah aliran lava tersebut membentuk bongkah - bongkah kerak.
Selanjutnya pada saat bagian atas aliran lava mendingin secara tiba - tiba, maka aliran
lava tersebut akan terputus membentuk ujung - ujung aliran (" toe") yang baru atau
membentuk satuan aliran yang baru. Pada bagian dalam (tengah) tubuh aliran yang
mendinging perlahan - lahan masih bersifat cair dari pada bagian luar (tepi) dan akan
bergerak setiap saat, sehingga dapat dibedakan bagian luar dan bagian dalam dari
suatu aliran lava yang tampak dengan skala kecil.
aliran lava sangat berhubungan dengan kenampakkan topografi, sehingga aliran
lava sangat cepat akan memenuhi lereng - lereng yang terjal. Selanjutnya aliran lava
dapat bergerak pada lereng - lereng yang memiliki kemiringan landai, sedangkan pada
lereng yang tegak membentuk aliran lava terjun seperti air terjun. Aliran lava yang
sangat kental dapat menghancurkan penghalang - penghalang di jalur alirannya dan
aliran lava yang relatif cair akan terbelokkan oleh lambatnya aliran lava kental yang
bertindak seperti tangul - tanggul kecil. Kejadian bentuk - bentuk aliran lava sangat
rumit, sehingga dapat menunjukkan bermacam - macam tampilan seperti lava yang
berlapis, gua - gua lava dan bongkah - bongkah (gambar 35).
Salah satu bentuk lava (minor) dapat ditemukan pada ujung dari aliran lava
("TOE"), yaitu bagian paling depan suatu aliran lava yang berbentuk cembung dengan
ketinggian 3 meter dan panjang dapat mencapai puluhan meter.
4.2 Pelaksanaan pemetaan geomorfologi
Pemetaan geomorfologi dilakukan dengan pendekatan cara yang dikembangkan
oleh Verstappen (1967 dan 1968) dan Van Zuidam (1968 dan 1975), dengan
pertimbangan metode pemetaan gemorfologi dari kedua akhli tersebut mudah dipahami
dan cukup jelas. Sistem pemetaan geomorfologi disusun secara sederhana untuk
keperluan analisis, klasifikasi dan evaluasi yang digunakan sebagai dasar pemetaan
geologi dan penelitian geologi.
Sistem yang digunakan untuk kepentingan geologi dan ilmu - ilmu yang
berhubungan dengan geologi memiliki prinsip - prinsip sebagai berikut :
- Sistem harus terpakai untuk penelitian bidang ilmu geologi dan ilmu - ilmu yang
berhubungan dengan geologi.
- Sistem harus dapat digunakan didalam berbagai skala.
- Sistem harus dapat memisahkan dengan jelas keseragaman satuan.
- Sistem harus mudah diekstrapolasi dan digeneralisasi.
Cara pemetaan geomorfologi dilakukan dengan 2 tahap, yaitu tahap interpretasi
peta topografi dan atau foto udara / citra satelit serta tahap pemeriksaan lapangan.
Bahan dan alat yang digunakan untuk pemetaan geomorfologi antara lain :
- Peta topografi dan foto udara skala 1 : 50.000 atau lebih besar.
- Citra satelit (Landsat.TM, SPOT atau ERS). jika diperlukan.
- Kerta kalkir dan plastik OHP.
- Kompas geologi.
- Palu geologi.
- Pita ukur.
- Plan table lengkap dengan tripod dan mistar.
-Alat - alat tulis.

4.3 Langkah - langkah pemetaan


Tahap interpretasi peta topografi dan foto udara dilakukan di studio pemetaan
dengan kegiatan yang dilakukan antara lain :
- Batasi puncak - puncak punggungan yang bertindak sebagai batas pemisah
aliran (water devided area) .
- Gambar pola aliran pada peta topografi dan / atau foto udara, pada setiap
lekukan garis kontur atau lekukan lembah pada foto udara.
- Batasi pola aliran pada suatu perbukitan / punggungan mulai dari puncak
punggungan yang bertindak sebagai batas pemisah aliran sampai ke titik akhir
pengaliran. Bandingkan dengan pola aliran yang telah dibakukan seperti pada
gambar 7 dan 8
- Nyatakan aspek geologi yang berkembang berdasarkan pola aliran tersebut.
- Aspek geologi yang tercermin melalui pola aliran merupakan unsur genetikan
suatu bentuklahan.
- Klasifikasikan bentuklahan secara morfografi (perbukitan atau pedataran) yang
tampak pada peta topografi dengan ciri perbedaan garis kontur dan kondisi
pola aliran yang menyatakan aspek genetika, sehingga dapat ditentukan nama
satuan geomorfologi.
- Perhatikan kerapatan kontur, karena kerapatan kontur akan mencerminkan
kecuraman lereng, sehingga memiliki arti bahwa lereng yang curam dan
menerus dapat diperkirakan sebagai sesar yang berkembang di daerah
tersebut, sedangkan perbedaan kerapatan kontur lainnya dapat digunakan
untuk membedakan jenis batuan.
- Perhatikan kerapatan pola aliran, karena kerpatan pola aliran akan
mencerminkan janis batuan yang tahan terhadap erosi atau mudah tererosi.,
sehingga dapat disimpulkan bahwa batuan yang mudah tererosi merupakan
jnis batuan yang lunak, sedangkan batuan yang tahan terhadap erosi
merupakan jenis batuan yang keras.
- Jika telah dibuat klasifikasi dengan dukungan unsur - unsur geomorfologi, maka
kelas lahan yang memiliki kesamaan dijadikan satuan geomorfologi.

4.3.2 Bentuklahan asal fluvial (sungai)


- Bentuklahan asal fluvial (sungai)
a. Satuan bentuklahan dataran banjir.
b. Satuan bentuklahan dataran tanggul alam
c. Satuan bentuklahan dataran teras sungai.
d. Satuan bentuklahan dataran beting gisik.
e. Satuan bentuklahan dataran gosong sungai.

4.3.3 Bentuklahan asal marin (laut)


a. Satuan bentuklahan dataran pesisir (coastal)
b. Satuan bentuklahan dataran pesisir aluvial.
c. Satuan bentuklahan beting gisik.
d. Satuan bentuklahan dataran pantai (beach).
e. Satuan gumuk pasir (sand dunes)

4.3.4 Bentuklahan asal struktural


a. Satuan bentuklahan perbukitan struktural terlipat.
b. Satuan bentuklahan perbukitan struktural gawir sesar.
c. Satuan bentuklahan perbukitan blok sesar.
4.3.5 Bentuklahan asal vulkanik.
a. Satuan bentuklahan perbukitan intrusi.
b. Satuan bentuklahan perbukitan lereng atas vulkanik.
c. Satuan perbukitan lereng vulkanik tengah.
d. Satuan perbukitan lereng vulkanik bawah.
4.3.6 Bentuklahan asal aeolian
4.3.7 Bentuklahan asal karst.
a. Satuan bentuklahan perbukitan karst.
b. Satuan bentuklahan kubah karst.
c. " sinkhole" / 'dolina'
4.3.8 Bentuklahan asal glasial (es)

Tahap kegiatan lapangan dilakukan setelah kegiatan interpretasi peta topografi


dan / atau foto udara di studio, serta telah tersusun kerangka peta geomorfologi
sementara (sebagai peta dasar geomorfologi dan geologi) sebagai acuan. Tahap
kegiatan lapangan meliputi :
1. Peninjauan lapangan dengan tujuan mencocokkan aspek - aspek
bentanglahan (landscape) daerah penelitian dengan peta dasar yang telah
dibuat di studio.
2. Penelusuran batas - batas yang telah dibuat pada peta dasar selaras dengan
kegiatan penelitian geologi.
3. Jadikan aspek geomorfologi sebagai ciri - ciri aspek geologi yang sedang
diteliti.
4. Tentukan (plot) dan catat aspek geomorfologi tersebut sebagai data untuk
pembuktian kondisi geologi yang sedang diteliti.
5. Jika masih diragukan aspek - aspek geomorfologi sebagai ciri - ciri aspek
geologi, maka aspek tersebut dijadikan panduan untuk menelusuri aspek
geologi yang sedang diteliti.
6. Satuan bentuklahan dapat dijadikan panduan untuk menelusuri kondisi geologi
yang sedang diteliti, sehingga didalam penarikan batas satuan geomorfologi
harus dilakukan dengan hati - hati.
7. Batas satuan bentuklahan dan simbol - simbol yang digunakan harus
memberikan cerminan kondisi geologi daerah yang diteliti.
8. Diharapkan dengan membuat peta geomorfologi sebaai peta dasar pemetaan
geologi, cerminan kondisi geomorfologi dapat memudahkan pelaksanaan
pemetaan geologi dan ilmu - ilmu yang berhubungan dengan geologi.

4.2.2 Simbol yang digunakan


Simbol - simbol yang digunakan pada peta geomorfologi terdiri dari simbol
warna, simbol gambar, dan simbol huruf. Simbol warna digunakan untuk satuan
bentuklahan adalah sebagai berikut :

1. Satuan bentuklahan struktural (S) - warna ungu (violet)


2. Satuan bentuklahan vulkanik (V) - warna merah.
3. Satuan bentuklahan denudasional (D) - warna coklat
4. Satuan bentuklahan marin (laut) (M) - warna hijau.
5. Satuan bentuklahan sungai (fluvial) (F) - warna biru tua
6. Satuan bentuklahan gleitser (es) (G) - warna biru muda.
7. satuan bentuklahan aeolian (angin) (A) - warna kuning.
8. Satuan bentuklahan karst (K) - warna jingga (orange)

Simbol huruf :
1. Satuan bentuklahan struktural (S)
a. Satuan bentuklahan perbukitan terlipat - S.1
b. Satuan bentuklahan perbukitan sesar - S.2
c. Satuan bentuklahan perbukitan blok sesar - S.3
d. Satuan bentuklahan perbukitan sesar geser - S.4
2. Satuan bentuklahan vulkanik (V)
a. Satuan bentuklahan puncak vulkanik - V.1
b. Satuan bentuklahan perbukitan lereng - V.2
vulkanik atas.
c. Satuan bentuklahan perbukitan lereng - V.3
vulkanik tengah.
d. Satuan bentuklahan perbukitan lereng - V.4
vulkanik bawah.
3. Satuan bentuklahan denudasional (D)
a. Satuan bentuklahan perbukitan tererosi kuat - D.1
b. Satuan bentuklahan perbukitan tererosi sedang - D.2
c. Satuan bentuklahan perbukitan tererosi ringan - D.3
d. Satuan bentuklahan perbukitan tanah longsor - D.4
4. Satuan bentuklahan marin (M)
a. Satuan bentuklahan dataran gisik - M.1
b. Satuan bentuklahan dataran beting gisik - M.2
c. Satuan bentuklahan dataran gisik aluvial - M.3
d. Satuan bentuklahan dataran gumuk pasir - M.4
5. Satuan bentuklahan fluvial (F).
a. Satuan bentuklahan dataran tanggul alam - F.1
b. Satuan bentuklahan dataran banjir - F.2
c. Satuan bentuklahan dataran undak sungai - F.3
6. Satuan bentuklahan Karst (K)
a. Satuan bentuklahan perbukitan karst - K.1
b. Satuan bentuklahan perbukitan kubah karst - K.2

Simbol gambar :
Bentuklahan struktural.

Batas pemisah aliran (water devide ).


Gawie sesar geser / blok sesar.

Sesar geser / blok sesar geser.

Perlipatan

Sesar naik.

Bentuklahan vulkanik

Kawah / kepundan

Arah lelehan lava

Bentuklahan denudasional

Arah erosional

Tingkat erosi kuat

Tingkat erosi sedang

Tingkat erosi lemah.


Erosi tebing sungai

Erosi garis pantai

Gerakan tanah (Mass wasting)

Longsor jatuhan (rock fall)

Longsor geseran ( landslide)

Longsor geser rotasional (slump)

Bentuklahan marin (M)

Beting gisik ( beach ridge )

Gumuk pasir (sand dunes )

Bentuklahan Fluvial /sungai ( F)

Alur sungai berupa garis tipis

Tanggul alam
Datraran banjir

Undak sungai.

Bentuklahan karst (K)


Kerucut karst

Kubah karst

Sinkhole

Dolina

Gua karst dengan stalagtit/stalagmit