Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Menurut kamus kedokteran, atresia ani berarti tidak adanya lubang pada tempat
yang seharusnya berlubang. Sehingga atresia ani berarti tidak terbentuknya
lubang pada anus.
Klasifikasi:
1. Anomali bawah
Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborektalis,
terdapat spingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan
fungsi normal, dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinari.
2. Anomali intermediate
Rectum berada pada atau dibawah tingkat otot puborektalis, lesung anal
dan spingter eksternal berada pada posisi yang normal.
3. Anomali tinggi
Ujung rectum diatas otot puborektalis, dan spingter internal tidak ada. Hal
ini biasanya berhubungan dengan fistula genitourinarius rektouretral
(pria) atau rektovaginalis (wanita).

B. ETIOLOGI
Atresia dapat disebabkan oleh beberapa factor, antara lain:
1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi
lahir tanpa lubang dubur
2. Kegagalan pertumbuhan bayi saat dalam kandungan berusia 12 minggu
atau 3 bulan
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah
usus, rectum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara
minggu keempat sampai keenam usia kehamilan

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran
2. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi
3. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya
4. Distensi bettrtahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada
fistula)
5. Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam
6. Pada pemeriksaan rectal touché terdapat adanya membrane anal.
7. Perut kembung

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. X-ray, ini menunjukkan adanya gas dalam usus
2. Pewarnaan radiopak dimasukkan kedalam traktus urinarius
3. Pemeriksaan urin, perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat
mekonium

E. PENATALAKSANAAN
Pena dan defries (1982) memperkenalkan metode operasi dengan pendekatan
postero sagital anoreltoplasti (PSARP), yaitu dengan cara membelah muskulus
spingter eksternus dan muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi
kantong rectum dan pemotongan fistel.
Dari berbagai klasifikasi, penatalksanaannya berbeda tergantung pada letak
ketinggian akhiran rectum dan ada tidaknya fistula.
1. Atresia ani letak tinggi dan intermediet dilakukan sigmoid kolostomi atau
TCD dahulu, setelah 6-12 bulan, baru dikerjakan tindakan definitive
(PSARP).
2. Atresia ani letak rendah dilakukan perineal anoplasti, dimana sebelumnya
dilakukan tes provokasi dengan stimulator otot untuk identifikasi batas
otot spingter ani eksternus.
3. Bila terdapat fistula dilakukan cut back incicion.
4. Pada stenosis ani cukup dilakukan dilatasi rutin, berbeda dengan pena
dimana dikerjakan minimal PSARP tanpa kolostomi.

F. DISCHARGE PLANNING
1. Berikan pujian saat melakukan perawatan dan jawab pertanyaan secara
jujur apa yang dibutuhkan oleh keluarga.
2. Ajarkan mengenai tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan didaerah
sekitar luka, terasa panas).
3. Ajarkan bagaimana mengenai pengamanan pada bayi dan melakukan
dilatasi anal.
4. Berikan instruksi secara tertulis dan verbal tentang alat-alat yang
dibutuhkan untuk perawatan dirumah
5. Tekankan tetap mengadakan stimulasinpada bayi untuk mensupport
tumbuh kembang.

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan eliinasi urine b.d obstruksi anatomic, disuria
2. Inkontinensia defekasi b.d abnormalitas sfingter rectal
3. Nyeri akut b.d trauma jaringan
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
ketidakmampuan mencerna makanan
5. Kerusakan integritas kulit b.d kolostomi
6. Gangguan rasa nyaman b.d gejala terkait penyakit, fistula retrovaginal,
disuria, trauma jaringan post operasi
7. Ansietas b.d pembedahan dan mempunyai anak yang tidak sempurna
H. PATOFISIOLOGI

Gangguan petumbuhan, fusi, ATRESIA ANI vistel rektovaginal


pembentukan anus dari
embriogenik
Feses tidak keluar Feses masuk ke uretra

Kelainan kongenital
Feses menumpuk
Mikroorganisme masuk
ke saluran kemih
Reabsorbsi sisa metabolism
oleh tubuh Peningkatan tekanan
intraabdominal disuria

keracunan Operasi anoplasti


GANGGUAN ELIMINASI
URINE
Mual, muntah

KEETIDAKSEIMBANGAN Perubahan defekasi:


ANSIETAS
NUTRISI KURANG DARI pengeluaran tak
KEBUTUHAN TUBUH terkontrol, iritasi
RESIKO KERISAKAN mukosa
INTEGRITAS KULIT

GANGGUAN RASA NYAMAN Abnormalitas spingter Trauma jaringan


NYERI rektal

Perawatan tidak
INKONTINENSIA adekuat
DEFEKASI

RESIKO INFEKSI