Anda di halaman 1dari 6

BAB IV

ANALISIS KASUS

4.1 Pembahasan
Diagnosis
Pada kasus ini dibahas seorang wanita berusia 19 tahun dengan
diagnosa kista ovarium + abses tuba falopii.
Menurut ICD 10 – International Statistical Classification of Disease
and Related Health Problems kista adalah kantung berisi cairan. Kista
ovarium merupakan sebuah kantung yang berisi cairan yang berkembang
di dalam ovarium (berukuran >3 cm). Meskipun kasus kista ovarium
menyebabkan kecemasan pada wanita karena ditakutkan menjadi
keganasan, tetapi kebanyakan kasus kista ovarium merupakan suatu tumor
jinak. Ada tiga macam kista ovarium yang terjadi pada usia reproduktif,
yaitu: kista fungsional, kista teratoma jinak (dermoid), dan endometioma.
Masing-masing tipe mempunyai karakteristik tersendiri yang biasanya
dapat didiagnosis dan diterapi dengan benar.
Diagnosa kista ovarium ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang disesuaikan dengan
literatur.
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien datang ke Poliklinik RSUD
Palembang Bari karena mengeluh nyeri perut bawah bagian kiri dan
pinggang.
Kebanyakan pasien dengan kista ovarium asimptomatik, biasanya
kista tidak sengaja ditemukan pada pemeriksaan USG atau pemeriksaan
rutin pelvis. Beberapa kista dapat menimbulkan gejala yang beragam, dari
gejala ringan hingga berat, bahkan kista ovarium malignan tidak
menunjukkan gejala sampai kepada stadium lanjut.
Pada anamnesa harus dibedakan nyeri berasal dari organ digestive
atau organ genitalia. Pasien biasanya akan merasakan gejala nyeri atau
tidak nyaman pada perut bagian bawah. Selain itu juga tanyakan

28
bagaimana karakteristik nyerinya, apakah ada tanda-tanda kista terpuntir
atau rupture, pasien akan merasakan nyeri yang tiba-tiba, tajam, dan
unilateral, nyeri ini juga bisa disebabkan oleh trauma, aktifitas fisik, atau
koitus. Kista terpuntir atau ruptur ini juga dapat menunjukkan tanda-tanda
peritoneal, distensi abdomen, dan perdarahan (biasanya dapat sembuh
sendiri). Kemudian perlu ditanyakan gejala yang lain pada pasien seperti
nyeri saat koitus, perubahan BAB terutama konstipasi, tenesmus, frekuensi
BAK, riwayat menstruarsi dan siklus nya, dan perasaan penuh pada
abdomen. Selain itu untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan dapat
ditanyakan kepada pasien tanda-tanda kegansan seperti penuruan berat
badan, pengurangan nafsu makan, dan tanda-tanda limfadenopati.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan pasien ____,
Pada pemeriksaan fisik, saat palpasi teraba massa pada abdomen
bagian bawah. Kista dapat terasa lunak jika dipalpasi. Pada pemeriksaan
pelvis ovarium dapat teraba, hal ini bisa juga normal pada pasien pre-
menopause. Cara membedakan kista yang normal dengan kista yang
abnormal dapat dengan cara menentukan apakah ovarium lebut saat
dipalpasi. Selain itu serviks dan uterus dapat terdorong ke sisi yang
berlawanan.
Pada kasus ini pasien didiagnosis sebagai kista ovarium berdasarkan:
1. Pasien berusia 19 tahun. Pada masa usia reproduktif massa ovarium
yang paling sering terjadi adalah massa ovarium yang jinak. 80-85%
tumor ovarium adalah jinak, 2/3 nya terdapat pada usia 20-44 tahun.
Kemungkinan tumor ovarium menjadi ganas pada wanita kurang dari
45 tahun adalah 1:15. Massa neoplasma lebih dari 80% adalah kista
teratoma (kista dermoid) yang terjadi pada usia reproduksi dengan
usia median 30 tahun. Peningkatan resiko tumor epitel seiring dengan
peningkatan usia. Studi terbaru menyimpulkan bahwa kista teratoma
jinak adalah yang paling sering, 66% dari tumor jinak pada wanita <50
tahun. Tumor serosa hanya 20%, umumnya jinak, tetapi 5-10%
berpotensi ke arah keganasan borderline dan 20-25% menjadi ganas.
Sedangkan untuk tumor musinosum hanya 5-10% yang menjadi
ganas.
2. Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluh nyeri perut kiri bawah
dan pinggang. Saat dibawa ke bidan dikatakan ada benjolan. Hal ini
menunjukkan bahwa ada kemungkinan suatu tumor pada organ
genitalia pasien dan pasien merasakan nyeri dapat dipertimbangkan
adanya komplikasi seperti torsio, rupture, dan perdarahan. Selain itu
kemungkinan keganasan pada pasien ini dapat disingkirkan karena
tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan berat badan yang cepat,
penurunan nafsu makan, dan benjolan di tempat lain.
3. Pada pemeriksaan tanda vital tidak didapatkan tanda-tanda syok
akibat perdarahan yang berlangsung dan tidak didapatkan tanda-tanda
kegansan maupun metastase. Pada pemeriksaan fisik teraba massa
diabdomen kiri bawah, berbentuk bulat berukuran sebesar telur (±
5cm), konsistensi kistik, mobile nyeri tekan (+), ascites (-).
Pemeriksaan ginekologi didapatkan____.
4. Dari hasil USG didapatkan bayangan kista ovarium berukuran 8x5cm.
Neovaskularisasi (-). Hal ini menunjukkan bahwa kista tidak
mengarak kepada keganasan, walaupun belum dapat dipastikan.
Dari analisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pada pasien ini
diagnosis kista ovarium sudah tepat, dilihat dari segi usia pasien dengan
insidensi kista ovarium, faktor risiko yang dimiliki pasien, gejala yang ada,
dan pemeriksaan fisik yang didapatkan berupa tumor ovarium neoplastik
tipe kistik, dan belum bisa ditentukan apakah termasuk keganasan atau
bukan.
Untuk mengkonfirmasi kista ovarium, biasanya dilakukan USG, pada
USG biasanya mengkonfirmasi apakah tumor benar suatu kista dan berapa
ukurannya. Pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan jika pada
pemeriksaan USG didapatkan massa solid. Pemeriksaan laboratorium
yang dilakukan adalah penanda tumor CA-125. Kadar CA-125 akan
meningkatkan pada kasus keganasan.
Tatalaksana
Tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor ovarium
nonneoplastik tidak. Jika tumor ovarium tidak memberikan gejala atau
keluhan pada penderita dengan diameter kurang dari 5 cm kemungkinan
besar adalah tumor non neoplastik. Tidak jarang tumor tersebut
mengalami pengecilan spontan dan menghilang, sehingga pada
pemeriksaan ulang setelah beberapa minggu dapat ditemukan ovarium
yang kira-kira besarnya normal.
Oleh sebab itu sebaiknya ditunggu 2-3 bulan sementara mengadakan
pemeriksaan ginekologi berulang. Jika selama kurun waktu observasi
dilihat peningkatan pertumbuhan tumor tersebut, kemungkinan besar
tumor tersebut bersifat neoplastik dan dapat dipertimbangkan pengobatan
operatif. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas
ovarium dan menghilangkan kista.
Penatalaksanaan kista ovarium tergantung pada beberapa faktor,
termasuk ukuran, jenis kista, usia, kondisi kesehatan umum, rencana
kehamilan, gejala yang dialami, masih menstruasi atau tidak. Biasanya
dapat diberikan terapi hormon untuk mengecilkan kista ovarium. Tetapi
hormon juga memberikan perlindungan terhadap kista ovarium maligna.
Kista ovarium dapat dihilangkan dengan memanipulasi tubuh seakan-akan
terjadi kehamilan. Ketika hamil tidak terjadi ovulasi, tidak ada folikel dan
tidak ada kista ovarium. Dengan menggunakan progesteron alami pasien
dapat memanipulasi tubuh seakan-akan terjadi kehamilan dan mencegah
kista ovarium berkembang.
Progesteron merupakan hormon yang di produksi tubuh selama
pertengahan siklus haid. Progesteron alami secara tidak langsung
memberikan sinyal kepada ovarium untuk berhenti bertelur, yang mana
sama halnya bahwa progesteron alami memerintahkan ovarium untuk
memberikan sinyal kepada kista ovarium untuk berhenti berkembang.
Mekanisme sinyal yang menghentikan ovulasi pada satu ovarium setiap
siklus adalah produksi progesteron pada ovarium yang lain. Jika
progesteron dalam jumlah cukup diberikan pada saat ovulasi, kadar LH
akan terhambat dan kedua ovarium akan menganggap bahwa ovarium
yang lain telah berovulasi sehingga ovulasi tidak muncul. Demikian pula
halnya bahwa kadar tinggi estriol dan progesteron pada kehamilan secara
sukses menghambat aktivitas ovarium selama 9 bulan. Oleh sebab itu,
pemberian progesteron dari hari ke 10 – ke 26 pada siklus akan menekan
LH dan efek luteinisasinya sehingga kista ovarium tidak akan terstimulasi
dan akan mengecil kemudian menghlang tanpa penanganan lebih lanjut.
Adapun indikasi operasi pada kista ovarium adalah :
1. Kista berdiameter lebih dari 5 cm, dan telah diobbservasi selama 6
– 8 minggu tanpa ada pengecilan tumor.
2. Ada bagian padat dari dinding tumor.
3. Dinding tumor bagian dalam berjonjot.
4. Kista lebih besar dari 10 cm disertai ascites
5. Adanya kista torsi atau ruptur kista
Tindakan operatif pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas
adalah pengangkatan tumor dengan kistektomi bila masih ada jaringan
ovarium yang sehat. Akan tetapi jika tumornya besar atau terdapat
komplikasi dapat dilakukan tindakan ovarektomi atau pengangkatan
ovarium, biasanya disertai pengangkatan tuba (salfingooforektomi). Pada
saat operasi kedua ovarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah
terdapat keganasan atau tidak. Jika terdapat keganasan dan ditemukan
tumor pada usia lebih 50 tahun operasi yang tepat adalah histerektomi dan
salpingo-ooforektomi billateral. Akan tetapi untuk wanita muda yang
masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat keganassan yang
rendah dapat dipertimbangkan untuk dilakukan operasi yang tidak
seberapa radikal.
Operasi pada pasien ini dilakukan dengan mempertimbangkan karena
ukuran kista yang sudah membesar. Pemberian antibiotik, dalam kasus ini
cefotaxime dilakukan sebagai profilaksis terjadinya infeksi intraoperasi
maupun pascaoperasi. Pada kasus ini juga diberikan ketorolac yang ditujukan
untuk mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien setelah menjalani operasi.
Dan juga diberikan asam traneksemat untuk menghentikan perdarahan serta
Dulcolax yang berfungsi untuk ___.