Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyidikan tindak pidana merupakan serangkaian tindakan penyidik dalam

hal dan menurut tata cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang suatu tindak

pidana yang terjadi guna menemukan tersangka. Penyidikan merupakan suatu tahap

yang terpenting dalam kerangka hukum acara pidana di Indonesia, karena dalam

tahap ini pihak penyidik berupaya mengungkap fakta-fakta dan bukti-bukti atas

terjadinya suatu tindak pidana serta menemukan tersangka pelaku tindak pidana

tersebut.

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) seperti yang

dirumuskan memberi maksud penyidik adalah orang yang melakukan penyidikan

yang terdiri dari pejabat yaitu Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia (POLRI)

yang terbagi menjadi pejabat penyidik penuh dan pejabat penyidik pembantu, serta

Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-

undang. Namun dalam hal tertentu jaksa juga memiliki kewenangan sebagai

penyidik terhadap perkara / atau tindak pidana khusus, seperti perkara Hak Asasi

Manusia dan Tindak Pidana Korupsi. Seiring berkembangnya zaman, penyidik

berdasarkan undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan

Korupsi yang merupakan awal mula eksistensi dari lembaga Komisi Pemberantasan

Korupsi (Selanjutnya disebut KPK) disebutkan juga bahwa penyidik dalam perkara

1
tindak pidana korupsi adalah Penyidik pada Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sebelum dimulainya suatu proses penyidikan, terlebih dahulu telah dilakukan tahap

proses penyelidikan oleh penyelidik suatu tindak pidana yang terjadi. Dalam Pasal

1 angka 5 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

(KUHAP) disebutkan pengertian penyelidikan adalah sebagai berikut :

“penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan

menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai suatu tindak pidana guna

menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur

dalam undang-undang ini”.

Dari pengertian tersebut terlihat bahwa penyelidikan merupakan tindakan

tahap pertama permulaan penyidikan, namun pada tahap penyelidikan penekanan

diletakkan pada tindakan mencari dan menemukan suatu peristiwa yang dianggap

atau diduga sebagai suatu tindak pidana. Sedangkan pada proses penyidikan titik

beratnya diletakkan pada penekanan mencari serta mnegumpulkan bukti agar dan

supaya dalam tindak pidana yang ditemukan dapat menjadi terang serta agar dapat

menemukan dan menentukan pelakunya. Hampir tidak ada perbedaan makna antara

keduanya (penyelidikan dan penyidikan). Antara penyelidikan dan penyidikan

saling berkaitan dan saling isi mengisi guna dapat diselesaikannya pemeriksaan

suatu peristiwa pidana. Keberhasilan penyidikan suatu tindak pidana akan sangat

mempengaruhi berhasil tidaknya penuntutan Jaksa Penuntut Umum pada tahap

pemeriksaan siding pengadilan nantinya. Undang-Undang memberikan wewenang

penghentian penyidikan kepada penyidik, yakni penyidik berwenang bertindak

menghentikan penyidikan yang telah dimulainya. Hal ini ditegaskan Pasal 109 ayat

2
2 KUHAP yang memberi wewenang kepada penyidik untuk menghentikan

penyidikan yang sedang berjalan. Pasal 109 ayat 2 KUHAP menyebutkan“ dalam

hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak cukup bukti atau peristiwa

tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan dihentikan demi

hukum, maka penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum, tersangka

atau keluarganya“.

Ketika penyidik memulai tindakan penyidikan kepadanya dibebani kewajiban

untuk memberitahukan hal dimulainya penyidikan tersebut kepada penuntut umum.

Akan tetapi masalah kewajiban pemberitahuan itu bukan hanya pada permulaan

tindakan penyidikan, melainkan juga pada tindakan penghentian penyidikan. Untuk

itu setiap penghentian penyidikan yang dilakukan pihak penyidik secara resmi

harus menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan).

Jadi pada intinya sebelum dilakukan proses penyidikan, penyelidikan harus

lebih dulu berusaha mengumpulkan fakta dan bukti yang ada sebagai landasan

tindak lanjut penyidikan. Sedangkan penyidikan merupakan serangkaian tindakan

yang dilakukan oleh penyidik dalam mencari dan mengumpulkan bukti, dan dengan

bukti itu membuat atau menjadi terang tindak pidana yang terjadi serta sekaligus

menemukan tersangkanya atau pelaku pidananya. Dari kedua rangkaian proses ini

terdapat graduasi antara tahap penyelidikan menuju tahap penyidikan, karena itulah

dibutuhkan kehati-hatian yang amat besar serta alasan yang jelas, meyakinkan dan

relevan ketika aparat penegak hukum meningkatkan tahap penyelidikan ke

tahap penyidikan. Hal ini tentu saja bertujuan untuk menjaga kredibilitas dan

3
kewibawaan dari aparat penegak hukum itu sendiri agar tidak dinilai tergesagesa

dalam melakukan rangkaian pemeriksaan terhadap suatu tindak pidana.

Secara resmi negara mengatur wewenang dan tugas pokok Polri sesuai

dengan UU No 2 Tahun 2002, pasal 13 “ Memelihara keamanan dan ketertiban

masyarakat, Menegakkan Hukum, Memberikan perlindungan, pengayoman dan

pelayanan masyarakat”. Selain itu Polri berwenang melakukan penyidikan proses

pidana seperti yang diatur dalam pasal 16 UU No 2 Tahun 2002, dan melakukan

penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum

acara pidana dan peraturan perundang – undangan lainnya. Penyelidikan dan

penyidikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) diatur

dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 11.

4
1.2. Rumusan Masalah

Mengenai ketentuan yang terdapat dalam Pasal 19 ayat (1) KUHAP yang

menyatakan : “Penangkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dapat

dilakukan untuk paling lama satu hari”. Yang dimana dalam ketentuan tersebut

timbul suatu permasalahan baru mengenai “pengangkapan paling lama satu hari”.

1. Dari ketentuan pasal tersebut timbul sebuah pertanyaan ”apabila dalam

suatu penangkapan tersangka pelaku tindak pidana dilakukan lebih dari

satu hari dengan keadaan yang tertentu atau tempat terpencil yang susah

dijangkau dan penangkapan tersebut tidak memungkinkan untuk

melakukan penangkapan kurang dari satu hari”, bagaimanakah tindakan

penyidik dalam melakukan tindakan ini tanpa melanggar ketentuan dari

pasal 19 ayat (1) KUHAP ?

1.3. Tujuan Penulisan

Laporan ini dibuat untuk mengetahui tindakan penyidik dalam menangkap

tersangka tindak pidana dalam ketentuan pasal 19 ayat (1) KUHAP, dan untuk

mengetahui prosedur penangkapan tersangka tindak pidana yang dilakukan oleh

penyidik.

1.4. Manfaat Penulisan

Guna mengetahui cara penyidik dalam menanggulangi ketentuan dalam pasal 19

ayat (1) yang menyatakan bahwa “penangkapan paling lama satu hari”, dan

menambah pengetahuan tentang hukum acara pidana mengenai penyidik.

5
1.5. Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan laporan ini termasuk kedalam penelitian

Normatif Empiris. Yang dimana data yang diperoleh ini melalui wawancara dari

narasumber di POLDA BALI, dan mengkaji mengenai implementasi ketentuan

hukum yang berlaku dalam masyarakat.

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Cara Penyidik dalam Melakukan Tindakan Penangkapan Tanpa

Melanggar Ketentuan dari Pasal 19 ayat (1) KUHAP

Pada ketentuan Pasal 19 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

menegaskan bahwa, “penangkapan dapat dilakukan paling lama satu hari”.

Ketentuan penangkapan ini berlaku untuk tindak pidana umum. Dalam melakukan

penangkapan orang yang melakukan tindak pidana haruslah dengan bukti

permulaan yang cukum menurut ketentuan pasal 17 KUHAP. Bukti permulaan

yang cukup dapat berupa laporan. Selanjutnya harus ada dua alat bukti yang harus

ada guna menunjukan bahwa orang tersebut telah melakukan tindak pidana atau

sudah menjadi tersangka. Alat bukti beruba saksi sangatlah penting dalam

melakukan proses penyidikan guna memperoleh keterangan saksi yang langsung

melihat kejadian tersebut.

Setelah mendapatkan bukti permulaan yang cukup, terdapat beberapa strategi

yang dilakukan penyidik guna menghindari pra pradilan. Pra pradilan dilakukan

apabila penyidik melewati batas ketentuan penangkapan lebih dari 1x24 jam yang

terdapat pada pasal 19 ayat (1) KUHAP. Penyidik menghindari pra pradilan dengan

cara :

a. Diskresi Kepolisian, diskresi kepolisian pada dasarnya adalah

kewenangan kepolisian yang bersumber pada asas kewajiban umum

7
Kepolisian. Diskresi Kepolisian diatur dalam pasal 18 Undang-Undang

Nomor 2 Tahun 2002 yaitu, “untuk kepentingan umum, pejabat

Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan

wewenangnya dapat bertindak merutut penilaiannya sendir”. Dalam

melakukan proses penyidikan pidana, wewenang diskresi kepolisian

tersebut diatur dalam pasal 16 ayat (1) huruf l UU No. 2 Tahun 2002

yaitu, “mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung

jawab”.

b. Dalam KUHAP, pada KUHAP penyelidik harus mengedepankan atau

membawa tersangka kepada penyidik sesuai dengan pasal 5 ayat (1)

huruf b angka 4 KUHAP. Dalam ketentuan ini penyidik akan mencari

alat bukti yang cukup. Apabila tersangka kabut ke tempat yang terpencil

dan susah untuk dijangkau, untuk menangani hal tersebut pihak

kepolisian mengirimkan surat permohonan bantuan kepada pihak yang

berwenang di daerah yang disinggahi oleh tersangka. Kemudian pihak

polisi datang ke tempat yang disinggahi oleh tersangka dan akan dibantu

oleh pihak yang berwenang yang sudah menerima permohonan bantuan

tersebut, dan pihak yang berwenang di daerah ini akan menunjukkan

lokasi tersangka. Pihak Polisi akan menunjukkan surat perintah tugas dan

surat perintah membawa. Dengan menyampaikan surat perintah

membawa tersebut, maka tersangka dibawa untuk dihadapkan pada

penyidik di daerah ia melakukan tindak pidana. Setibanya ia di bandara

(Pukul 2 siang) yaitu wilayah hukum POLDA Bali, maka penyidik akan

8
menangkap saat itu juga dengan membawa surat perintah penangkapan.

Dan penyidik akan menghubungi pihak keluarga tersangka dan

mengirimkan surat. Setelah melakukan penangkapan, pihak kepolisian

akan mengintrogasi tersangka serta menanyakan apakah tersangka

menggunakan pengacara sendiri atau tidak. Apabila tersangka tidak

memiliki pengacara sendiri maka pihak polisi akan langsung

menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Setelah itu penyidik

menghadirkan alat bukti dll, dan penyidik akan menyimpulkan bahwa

tersangka melakukan tindak pidana (pembunuhan, korupsi, dll). Setelah

dalam waktu 1x24 jam, maka dilakukan penahanan (dalam hal ini

tersangka ditangkap pada pukul 2 siang, maka penahanan dilakukan

sekurangnya tidak melebihi pukul 2 siang hingga keesokan harinya).

Dalam hal ini apabila pihak Kepolisian mengalami kesulitan dalam hal

menangkap tersangka yang sengaja bersembunyi ketempat yang terpencil dan

susah untuk dijangkau dan memerlukan waktu hingga lebih dari 1x24 jam

menurut ketentuan pasal 19 ayat (1) KUHAP, maka penyidik akan membawa:

a. Surat Perintah Tugas

b. Surat Perintah Membawa

c. Surat Perintah Penangkapan

Setelah penyidik yang berwenang melakukan penangkapan tersebut dengan

menyertai surat yang sah, maka penangkapan dapat dilakukan oleh penyidik yang

berkaitan dan tersangka tersebut dibawa ketempat penyidik yang berwenan tersebut

9
untuk dimintai keterangannya selaku tersangka. Dalam hal tersebut setelah

selesainya penangkapan, penyidik mengeluarkan berita acara penangkapan yang

berisi tentang mekaniseme penangkapan penyidik di TKP (Tempat Kejadian

Perkara).

Jadi, penangkapan dapat dilakukan lebih dari 1 hari atau 1x24 jam apabila dalam

penangkapan tersebut penyidik harus menyertai surat perintah penangkapan dan

surat perintah membawa tersangka dan setelah hal tersebut dilaksanakan penyidik

membuat mekanisme penangkapan di lembaran berita acara.

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari penelitian yang terlah saya lakukan dan telah mewawancarai narasumber

seorang penyidik polri di POLDA Bali, dapat disimpulkan bahwa agar tidak

melanggar ketentuan pasal 19 ayat (1) yang menyatakan bahwa “penangkapan

sebagaimana dimaksud dalam pasal 17, dapat dilakukan untuk paling lama satu

hari”, pihak kepolisian mengantisipasinya dengan menggunakan 3 (tiga) surat

penting, yaitu Surat Perintah Tugas, Surat Perintah Membawa, dan Surat Perintah

Penangkapan.

11
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan hasil penelitian ini disusun oleh :

Mengetahui, Mei 2017 Peneliti, Mei 2017


Kasubag Bin Ops Mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Udanaya

I Ketut Dana Suasta, S.H. I Made Dwi Juniartha


KOMPOL NRP 62020439 Nim. 1516051126

12