Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH BENTUK RUANG TERHADAP

GERAK MOTORIK ANAK

Latar Belakang

Pada masa kanak-kanak (usia emas), pendidikan pengembangan motorik menjadi hal
yang sangat penting. Kemampuan ini dapat mempengaruhi kesehatan anak, mengontrol emosi
melalui gerakan-gerakan tubuh, melatih kemandirian, sebagai bentuk hiburan untuk diri
sendiri, sosialisasi dalam masyarakat dan sebagai penerimaan terhadap rasa aman dalam diri
sendiri karena mampu melakukan berbagai hal. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
berkembangnya motorik anak, diantaranya kesempatan belajar, bimbingan, dan kesempatan
berpraktek. Ruang sebagai salah satu fasilitas fisik yang mendukung ketiga kegiatan tersebut
harus memenuhi syarat agar tercipta kesinambungan yang baik anatara komponen fisik dan
non fisik.

Rumusan Masalah

Di Indonesia, standar bangunan khususnya taman kanak-kanak belum diperhatikan


kualias ruangnya, sebagian besar hanya memperhatikan tentang kapasitas untuk pengguna dan
perabot yang ada di dalamnya, tanpa mempertimbangkan aspek psikologis dan metode apa
yang akan digunakan dalam pembelajarnnya. Pada akhirnya ruang belajar hanya difungsikan
sebagai tempat berteduh dan berkumpul bagi anak-anak dan pembimbingnya.

Dalam aplikasinya, ruang memiliki banyak komponen yang harus dipenuhi, yaitu
pencahayaan, pengudaraan, luas dan material apa yang digunakan untuk menciptakan ruang
yang dapat memberikan suasanya kondusif untuk perkembangan motorik anak. Namun, dalam
pembahasan ini, dibatasi pada pembahasan bentuk dasar geometri ruang, yaitu:

1. Apa saja pengaruh bentuk ruang terhadap perkembangan gerak motorik anak?
2. Bagaimana pengaruh bentuk ruang sebagai pemicu perkembangan gerak motorik anak?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kriteria-kriteria desain khususnya pada pola
dasar ruang, dan menganalisa bagimana proses terbentuknya peran fisik (ruang) dan non fisik
(psikologi) pada proses perkembangan gerak motorik anak. Sehingga peran ruang belajar bagi
anak-anak dapat dimaksimalkan.
Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah dapat mengetahui apa saja kriteria yang harus dipenuhi
untuk pembangunan ruang belajar anak usia dini; Dapat mengetahui proses terbentuknya
hubungan timbal balik antara aspek fisik (ruang) dan non fisik (psikologi) pada proses
perkembangan motorik anak.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif, dengan melakukan survei langsung, studi
literatur dan studi korelasi, yaitu mengamati sejauh mana dua variabel saling berhubungan
tanpa memberikan perlakuan terhadap variabel dan mendeskripsikan peristiwa yang terjadi
selama survei, pengamatan dilakukan berdasarkan studi literatur sebelumnya. Survei langsung
dilakukan dengan cara mengamati dan membandingkan antara dua ruang belajar yang memiliki
pola dasar berbeda, yaitu bujur sangkar dan lingkaran.

Diagram Sistematika Pemikiran


Perkembangan Motorik Anak

Gerak motorik adalah segala bentuk pengendalian gerak tubuh yang melibatkan seluruh
anggotanya, yang merupakan respon terhadap pusat saraf (otak), dengan kata lain gerak
motorik adalah sebuah koordinasi antara kegiatan sistem syaraf dan seluruh anggota tubuh.
Gerak motorik terbagi menjadi dua, yaitu gerak motorik kasar dan gerak motorik halus. Gerak
motorik kasar adalah segala bentuk respon tubuh yang melibatkan otot besar, sedangkan gerak
motorik halus adalah bentuk respon tubuh dengan melibatkan otot kecil. Pada perlakuannya
gerak motorik kasar membutuhkan lebih banyak tenaga dibanding gerak motorik halus, contoh
kegiatannya adalah berjalan, berlari, menendang, memanjat, dan kegiatan lain yang dilakukan
oleh tangan dan kaki. Sedangkan gerak motorik halus membutuhkan lebih banyak ketelitian,
karena melibatkan anggota tubuh yang lebih kompleks, contoh kegiatannya adalah
menggunting, menulis, menggambar, dan kegiatan lain yang dilakukan oleh jari-jari tangan.

Perkembangan motorik adalah kemampuan untuk meningkatkan pengendalian


gerakan-gerakan tubuh menjadi lebih baik. Perkembangan motorik dipengaruhi oleh
kematangan bagian otot tubuh dan sistem syaraf, serta berbagai stimulasi atau rangsangan yang
berbeda-beda terhadap tubuh, pada hal ini koordinasi otot dan syaraf bekerja lebih cepat untuk
merespon rangsangan dan menjadi lebih terbiasa pada rangsangan. Akibatnya, kegiatan hasil
rangsangan yang dilakukan berulang kali dapat menjadi sebuah kebiasaan (rangsangan-respon-
pengulangan-kebiasaan).

Pada idealnya, rangsangan terhadap gerak motorik diberikan pada masa kanak-kanak.
Secara psikologi, anak usia dini memiliki rasa keingintahuan yang lebih besar tersebab mereka
belum memiliki banyak kemampuan yang kompleks, memiliki keberanian yang kuat, aktif
bergerak, kecenderungan egosentris (kegiatan memahami apa yang dilihat berdasarkan sudut
pandangnya masing-masing), dan senang melakukan pengulangan terhadap hal-hal yang baru
ditemui. Sehingga, rangsangan sekaligus pembelajaran akan lebih mudah dilakukan dan
diterima oleh tubuh mereka.

Kategori usia kanak-kanak yaitu dimulai saat usia 2 sampai 12 tahun, dengan rincian 2
sampai 6 tahun adalah masa kanak-kanak awal dan 6 sampai 12 tahun adalah masa kanak-
kanak akhir. Rangsangan terhadap gerak motorik anak sudah dapat dilakukan sejak usia 3 bulan
pasca kelahiran. Namun idealnya diberikan pada masa kanak-kanak akhir, karena pada masa
ini anak-anak sudah memiliki kematangan otot dan sistem syaraf, serta pemikiran dan
pertimbangan terhadap apa yang akan dilakukannya.
Geometri dalam Sudut Pandang Psikologi

Dalam sudut pandang psikologi, bentuk geometri memiliki arti atau makna tersendiri.
Dalam konteks ini meliputi psikologi bagi sebuah desain. Bentuk dasar geometri yang paling
mudah dikenali berdasarkan pengalaman manusia adalah lingkaran, bujur sangkar dan segitiga.

Makna bentuk geometri secara psikologi, yaitu:

1. Lingkaran
Tidak memiliki ujung, terhubung tanpa batas pasti. Sebuah koneksi. Memberikan kesan
emosi yang positif, melambangkan fleksibilitas dan kesatuan, serta keramahan.
2. Bujur Sangkar
Tidak memiliki arah, namun memiliki sumbu dan garis yang tegas. Sebuah kestabilan.
Memberikan kesan kekuatan dan efisiensi, serta kesetaraan.
3. Segitiga
Menunjuk kepada tiga arah, memiliki sumbu dan garis yang tegas. Sebuah tujuan.
Memberikan kesan sebuah kejelasan dan sesuatu yang terarah, serta keterkaitan.

Geometri dalam Sudut Pandang Arsitektur

Dalam ilmu arsitektur, bentuk geometri juga memiliki makna tersendiri. Pengertian
bentuk dalam desain arsitektural sering diartikan sebagai perwujudan atau penampilan luar dari
suatu benda atau sebuah komposisi dari bagian-bagian komponen arsitektural. Bentuk
Geometri adalah penggambaran sebuah penampilan yang berdasarkan pada kesatuan titik-titik
dan garis yang mudah dikenali oleh pengalaman manusia. Wujud dasar geometri seperti
lingkaran, bujur sangkar dan segitiga adalah yang paling dasar yang mudah dikenali karena
kecenderungan manusia untuk memudahkan visualisasi yang ingin dipahaminya. Wujud dasar
geometri seringkali berfungsi sebagai batasan utama antara ruang luar dan ruang dalam.

Bentuk geometri dalam ilmu arsitektur:

1. Lingkaran
Lingkaran menjadi pola dasar arsitektural yang sudah cukup sering digunakan, karena
bentuknya yang tidak terlalu umum, maka dapat memberikan daya tarik tersendiri.
Selain itu, bentuk yang nampak seperti tidak memiliki batasan, memberikan penekanan
pemusatan pada ruang tergantung sudut pandang penggunanya, sehingga memberikan
kesan kebebasan yang lebih nyata.
2. Bujur Sangkar
Bujur sangkar adalah geometri dasar yang paling sering ditemui dalam arsitektur,
karena keteraturannya membantu memudahkan membuat grid untuk bagian-bagian
strukturnya. Selain itu, titik-titik dan sudutnya yang simetri dapat memberikan kesan
rapi atau teratur.
3. Segitiga
Segitiga jarang ditemui dalam desain arsitektural karena bentuk khusus yang
kecenderungan sudutnya sulit di manfaatkan sebagai ruang. Pola ini dapat menjadi
komposisi yang unik. Salah satu pemanfaatan ruang dari bentuk segitiga adalah dengan
memotong bagian ujungnya sebagai bukaan. Kesan yang dimunculkan adalah
mengarahkan penggunanya kepada sesuatu (membuat alur).