Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. Karena berkat rahmat-Nya
kita bisa mengerjakan laporan ini dengan sebaik-baiknya. Adapun laporan ini
kami beri judul “Disminore”.

Semoga dengan adanya laporan penelitian ini dapat memudahkan dan


memperlancar kita dalam memahami atau mempelajari tentang Disminore dan
memberi manfaat kepada mahasiswa dan mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Palembang.

Penulis menyadari laporan penelitian ini masih banyak sekali kekurangan.


Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik maupun saran dari semua pihak untuk
perbaikan sehingga dapat menyempurnakan laporan penelitian ini dan terciptanya
laporan yang lebih sempurna.

Akhirnya, semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Amin.

Palembang, januari2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Metode

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Disminore

2.2 Gejala Disminore

2.3 Fatofisiologi Disminore

2.4 Klasifikassi Disminore

2.5 Etiologi

2.6 Diagnosis

2.7 Pengobatan Disminore

2.8 Perawatan Disminore

BAB III SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Wanita memiliki tubuh yang komplek, mereka mengalami proses


perkembangan anatomi , dan reproduksi selama kehidupan. Normalnya wanita
mengalami periode menstruasi atau haid , mulai dari usia remaja hingga
menoupause. Selama masa produktif, sebagian wanita mengalami proses tersebut
dengan alami dan normal, yaitu mengalami siklus haid yang teratur. Haid atau
menstruasi adalah proses keluarnya darah yang terjadi secara periode. Pada saat
atau akan haid muncul gangguan di khususnya pada wanita muda usia produktif
satu-satunya disminore (Kardus, D.2005)

1.2 Rumusan Masalah


Adapun masalah yang harus dibahas daalam materi ini, yaitu :
1. Definisi Disminore
2. Gejala Disminore
3. Patofisiologi Disminore
4. Klasifikasi Disminore
5. Diagnosis Disminore
6. Pengobatan Disminore
7. Perawaatan Disminore
1.3 Tujuan

Setelah melakukan penelitian, tentang disminore kita dapat menyimpulkan


tujuan melakukan penelitian tentang disminore dan menyampaikan informasi
pentingnya kesadaran menjaga kesehatan.

1.4 Metode
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dysmenorrhea (Dismenorea/Disminore)

Istilah medis untuk kejang-kejang menstruasi adalah dysmenorrhea.


Dysmenorrhea berasal dari bahasa yunani ”dys” yang berarti sulit, nyeri ,
abnormal, “meno” yang berarti bulan, dan “rrhea” berarti aliran. Dysmenorrhea
atau dismenorea dalam bahasa indonesia berarti nyeri pada saat menstruasi.

Hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak pada perut bagian bawah
saat menstruasi. Namun, istilah dismenorea hanya dipakai bila nyeri begitu hebat
sehingga mengganggu aktivitas dan memerlukan obat-obatab. Uterus atau rahim
terdiri atas otot yang juga berkontraksi dan relaksasi. Pada umumnya, kontraksi
otot uterus tidak diarasakan, namun kontraksi yang hebat dan sering menyebabkan
aliran darah ke uterus terganggu sehingga timbul rasa nyeri.

Dismenorea adalah menstruasi yang menimbulkan nyeri, keadaan ini


mengenai 60-70% wanita yang mengalami menstruasi. (Rayburn W. 2001)

Dismenorea adalah rasa sakit yang meyertai menstruasi sehingga daapat


menimbulkan gangguan pekerjaan sehari-hari. Derajat rasa nyeri ada yang ringan
(berlangsung beberapa saat dan masih bisa meneruskan aktivitas sehari-hari) nyeri
sedang (diperlukan obat untuk menghilangkan rasa nyeri tetapi masih dapat
meneruskan pekerjaan), nyeri berat (rasa nyeri demikian berat sehingga
memerlukan istirahat dan pengobatan untuk menghilangkan rassa nyeri)(Baradeto
Spc dkk,2005).

2.2 Gejala Dismenorea

Gejala dismenorea antara lain :

1. Rasa sakit yang dimulai pada hari pertama menstruasi


2. Terasa lebih baik setelah perdarahan menstruasi mulai
3. Terkadang nyerinya hilang setelah satu atau dua hari, namun ada juga
wanita yang masih merasakan nyeri perut meskipun setelah dua hari haid

4. Nyeri pada perut bagian bawah, yang bisamenjalar kepunggung bagian


bawah dan tungkai

5. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang atau sebagai nyeri tumpul yang
terus menerus

6. Terkadang disertai rasa mual, muntah, dan pusing

7. Nyeri tidak menimbulkan bahaya, karena tidak mempengaruhi


kemampuan anda untuk hamil (Kasdu, D.2005).

2.3 Patofisiologi Dismenorea

Patofisiologi Dismenorea adalah :

1. Kelainan Anatomi

Faktor-faktor anatomi dapat juga menyokong dismenorea , stenosis serviks


pernah dipikirkan sebagai penyebab umum dismenorea. Dalam penelitian
telah memperlihatkan penyempitan tidak bermakna pada canalis uteri wanita
dismenorea dibandingkan wanita normal yang tidak mengeluh dismenorea
primer.

2. Penghambatan kolinesterase

Uterus memiliki pesarapan otonom bermakna. Observasi bahwa banyak


wanita dismenorea memperoleh kesembuhan sebagian atau total dari
gejalanya setelah pemotongan syaraf otonom utama uterus , dan penderita
dismenorea berat yang sembuh , bila inhibitor koilinesterase diberhentikan.
3. Hiperaktivitas uterus dan berkurangnya aliran darah uterus
Diperkirakan bahwa kontraksi uterus sendiri mungkin bertanggung
jawab untuk nyeri kolik disminore yang khas, sementara episode
pengurangan aliran uterus berkepanjangan yang dijumpai pada beberapa
wanita mungkin bertanggung jawab untuk tipe nyeri kedua, pegal yang
dapat bervariasi intensitasnya untuk waktu yang lebih lama (10-20 menit).

2.4 klasifikasi

Klasifikasi munurut wiknjosastro,H.1999:299 yaitu :

1. Disminore primer sering juga disebut disminore sejati nyeri haid timbul
sejak menstruasi biasanya pada bulan atau tahun haid tahun pertama
biasanya terjadi pada usia 15-25 tahun hilang pada awal 30 tahun. Tidak
dijumpai kelainan pada alat-alat kehamilan.
2. Disminore sekunder. Dimulai pada usia dewasa, menyerang wanita yang
semula-mula bebas dari disminore disebabkan oleh adanya kelainan alat-
alat kandungan.
2.5 Etiologi
Penyebab disminore primer yaitu :
1. Faktor kejiwaan
Pada gadis- gadis yang secara emosional tidak stabil, apabila jika
mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid
mudah timbul disminore.
2. Faktor konstitusi
Faktor ini yang erat hubungannya dengan faktor tersebut diatas, dapat
juga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor seperti
anemia, penyakit menahun, dan sebagainya dapat mempengaruhi
timbulnya disminore.
3. Faktor alergi
Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara
disminore dengan urtikaria,migrain, atau asma bronkhiale, smith
menduga bahwa sebab alergi adalah toksin haid ( wiknjosastro,1999).
2.6 Diagnosis
Disminore primer sering ditemukan pada usia muda, nyeri sering
timbul segera setelah timbul haid yang teratur. Nyeri sering terasa sebagai
kejang uterus dan sering disertai mual, muntah,diare, kelelahan dan nyeri
kepala. Nyeri haid timbul mendahului haid. Disminore sekunder pada usia
tua dan setelah dua tahun mengalami siklus haid teratur. Nyeri dimulai
pada saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah haid
(Badziad,2003).
2.7 Pengobatan Disminore
Beberapa cara pengobatan dibawah ini dapat menghilangkan atau
membantu mengurangi nyeri haid yang mengganggu. Cara tersebut antara
lain yaitu :
A. Obat-obatan
Wanita dengan disminore primer banyak yang dibantu dengan
mengonsumsi obat anti peradangan bukan steroid (NSAID) yang
menghambat produksi dan kerja prostaglandin , obat ini termasuk aspiri,
formula ibu profen yang dijual bebas, dan monoproksen, untuk kram yang
berat, pemberian NSAID seperti naproksen atau piroksikan dapat
membantu.
Beberapa dokter meresepkan pil KB untuk meredakan disminore,
tetapi hal ini tidak dianggap sebagai penggunaan yang tepat. Namun, hal
itu dapat menjadi pengobatan yang sesuai bagi wanita yang ingin
menggunakan alat KB berupa pil.
B. Relaksasi
Dalam kondisi rileks tubuh juga menghentikan produksi hormon adrenalin
dan semua hormon yang diperlukan saat kita stres, karena hormon seks
estrogen dan progesteron serta hormon stres adrenalin diproduksi dari blok
bangunan kimiawi yang sama, ketika kita mengurangi stres kita juga telah
mengurangi produksi kedua hormon seks tersebut, jadi dapat kita lihat
perlunya relaksasi.

C. Hipoterapi
Caranya adalah menstruasi belum datang, rilekskan tubuh dalam
posisi terlentang ditempat tidur dengan kedua tangan berada disamping
tubuh, nonaktifkan pikiran dengan mata terpejam, sadari kondisi saat itu,
setelah benar-benar rileks dan nyaman, pelan intruksikan pada diri sendiri
sebuah perintah yang bunyinya “ rasa sakit yang biasanya datang saat
menstruasi hilang “ ucapkan kalimat tersebut berulang kali dalam hati
sembari meyakini bahwa hal itu akan merasa segar dan nyaman dan
pikiran terasa lepas dari beban.
D. Alternatif pengobatan
1. Suhu panas gunakan bantal pemanas, kompres handuk atau botol air berisi
air panas diperut atau dibawah punggung serta minum-minuman yang
hangat, mandi air hangat dapat membantu.
2. Tidur dan istirahat yang cukup, serta olah raga yang teratur (termasuk
banyak jalan).
3. Sebagai tambahan,aroma terapi dan pemijatan juga dapat mengurangi rasa
tidak nyaman, pijatan yang ringan dan melingkar dengan menggunakan
telunjuk pada perut bagian bawah akan membantu mengurangi nyeri haid,
mendengarkan musik, membaca buku atau menonton film juga dapat
menolong. ( http/id.akupuntu,2008).

2.8 Perawatan Disminore

Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya


disminore primer. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim
akibat penuaan dan hilangnya bagian saraf pada akhir kehamilan. Untuk
mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid ( misalnya
ibu profen, naproksen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika
mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2
menstruasi.

Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan :

- Istirahat yang cukup


- Olah raga yang teratur ( terutama berjalan )
- Pemijatan dan yoga
- Orgasme pada aktivitas seksual
- Kompres hangat didaerah perut
- Kurangi konsumsi kopi
- Tidak merokok maupun minum alkohol
- Mengurangi konsumsi garam dan memperbanyak minum air putih
- Mengonsumsi makanan tinggi kalsium karena diduga dapat meringankan
kram
- Memperbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran
- Suhu panas dapat meringankan keluhan, lakukan pengompresan dengan
handuk panas atau botol air panas pada perut atau punggung bagian
bahwah
- Berolahraga mampu meningkatkan produksi endorphin otak yang dapat
menurunkan stress sehingga secara tidak langsung mengurangi rasa nyeri
- Beberapa posisi senam bisa menghilangkan kram
- Melakukan aktivitas sehari-hari yang ringan juga membantu melupakan
rasa sakit
- Tidur yang cukup, karena kurang tidur bisa menyebabkan kelelahan
sehingga lebih sensitif terhadap sakit.
- Rasa nyeri dapat dikurangi dengan obat pereda nyeri yang beredar
dipasaran.
Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, terapi
mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi. Gejala
juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara
teratur. Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari,
maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan
progesteron atau diberikan medroksiprogesteron. Pemberian kedua obat
tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi ( pelepasan sel telur ) dan
mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan
mengurangi beratnya disminore. Jika obat ini juga tidak efektif, maka
dilakukan pemeriksaan tambahan ( misalnya laparoskopi ). Jika disminore
sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur
dimana lapisan rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas.
Pengobatan untuk disminore sekunder tergantung kepada penyebabnya.
( http ://www.google.co.id 2/01/2009.pukul 13:00)
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Nyeri haid atau disminore merupakan suatu keadaan medis yang
nyata dan dapat mengganggu jika tidak diatasi dengan benar.
2. Nyeri haid atau disminore dapat dibagi dua (disminore primer dan
disminore skunder )
3. Dengan cara pengobatan yang dapat menghilangkan atau
meminimalkan mengurangi nyeri antara lain :
 Obat-obatan
 Relaksasi
 Hiponoterapi, dan
 Beberapa alternatif atau pengibatan tambahan seperti
kompres air hangat, olahraga teratur, aroma terapi,
pemijatan dan lain-lain.

3.2 Saran

Agar aktif dalam mencari informasi tentang disminore dan berusaha


menanggulangi bila terjadi disminore.
DAFTAR PUSTAKA

Badziad, Ali.2003. Endokrinologi dan Ginekologi. Edisi II, Jakarta:Media

Aesculapius FKUI.

Baradeto SPC,dkk.2005.Disminore. Fakultas Kedokteran.Jakarta.

http://www.google.com.19/12/2008.pukul 14.00

http://id.akupuntur.php?/18/12/2008.pukul 15.00

Kasdu,Dini.2005.Solusi Problem Wanita Dewasa.Jakarta : Puspa Swara Baradeto

SPC,dkk.2005.Disminore.Fakultas Kedokteran : Jakarta.

Notoatmodjo,Soekidjo.2003.Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka

Cipta.

Raybun, William.2001. Obstetri dan Ginekologi.Jakarta : Widya Medika.

Wiknjosastro,Hanifa.1999.Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka