Anda di halaman 1dari 28

ASUUHAN KEPERWATAN PADA Tn.

M dengan Hernia Inguinalis Lateral (HIL) di


Ruang Ruangan Operasi (OK) RS BDLUD

Tanggal pengkajian : 10 November 2011


Tanggal Operasi : 10 November 2011
Tempat Praktek : Ruangan OK RS BDLUD
A. PENGKAJIAN
1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M
Umur : 63 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen Protestan
Suku bangsa : Minahasa / Indonesia
Pekerjaan : Buruh bangunan
Pendidikan : SD
Status : Kawin
Alamat : Mahakeret, kota Manado
Tanggal MRS : 20 November 2011
2. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
Nama : Tn. T
Umur : 43 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen Protestan
Suku bangsa : Minahasa / Indonesia
Pekerjaan : Buruh bangunan
Pendidikan : SMP
Status : kawin
Alamat : Mahakeret, kota Manado
Hubungan dengan pasien: anak

3. RIWAYAT PENYAKIT
a. Keluhan Utama
Benjolan di lipat paha sebelah kanan.
b. Riwayat penyakit sekarang
 Benjolan di lipat paha kanan, dialami penderita sejak kurang lebih 2 tahun sebelum masuk
rumah sakit. Benjolan dirasakan penderita keluar masuk. Benjolan keluar dan membesar bila
penderita mengangkat beban berat atau berjalan jauh dan benjolan akan masuk kembali bila
penderita beristirahat (tiduran). Penderita tidak merasakan nyeri, mual muntah, serta demam.

 Frekuensi kencing ± 3 kali sehari, kencing tidak terputus-putus, tidak dirasakan nyeri saat
BAK.

 BAB dirasakan biasa normal.


c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat batuk lama (+), sakit jantung (-), darah tinggi (-).
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Hanya penderita yang sakit seperti ini dalam keluarga. Menikah dan mempunyai 5 orang
anak. Penderita bekerja sebagai buruh bangunan sehingga sering mengangkat beban yang
berat.
4. PEMERIKSAAN FISIK
 Keadaan Umum : Cukup
 Kesadaran : E4V5M6

 Tanda Vital : Tekanan darah : 110/70 mmhg.


Nadi : 84 x/menit.
Respirasi : 22 x/menit
Suhu rectal : 36,2 oC.
 Kepala : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil bulat isokor kiri =
kanan, refleks cahaya +/+ normal.
 Leher : Kelenjar getah bening tidak membesar.
 Thoraks : Inspeksi : Pergerakan nafas simetris kiri = kanan
Auskultasi : Suara pernapasan kiri = kanan
Palpasi : Stem fremitus kiri = kanan
Perkusi : Sonor kiri = kanan
 Abdomen : Inspeksi : Datar
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Lemas, nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani, pekak hepar (+)
 Inguinalis : Inspeksi : Benjolan (-), warna kulit sama dengan sekitar
Palpasi : Tes invaginasi : impuls pada ujung jari
Tes Ziemenn : teraba pulsasi di anulus inferior
 Tulang belakang : Tak ada kelainan

 Extremitas : Superior et Inferior : Tak ada kelainan

 Neurologi : Refleks fisiologis +/+, refleks patologis -/-

 Rectal Toucher : Tonus sfingther ani cekat, ampula kosong, mukosa licin, prostat kesan
normal.

 Sarung tangan : Darah (-), lender (-), feses (-)

 Genitalia : Tak ada kelainan

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium

 Hb : 14,1 gr%

 Leukosit : 4800/mm3

 Trombosit : 188.000/mm3

Radiologi

 X-rays : Foto Thorax : kronik bronkiolitis

EKG : LAHB

B. ANALISA DATA
No Data Etiologi Problem
1. DS : Tindakan Nyeri
- Klien mengatakan lemas
untuk bergerak
- Klien mengatakan nyeri di
bagian bekas operasi
DO :
- Klien tampak lemah
- Terdapat luka insisi
- Terdapat jahitan di perut

Adanya
insisi bedah

Nyeri

Ga
ngguan
nyaman/Nyeri

2. DS : Tindakan opersi Retensi Urine


- Klien mengeluh kesulitan
berkemih
DO :
- BAK klien tidak adekuat
- Haluaran urine < 1000 ml/24 Nyeri

jam

Perubahan suhu
tubuh

Gangg
uan Berkemih
3. DS : Tingkat Kurang
- Klien / keluarga mengatakan pendidikan pengetahuan
tidak mengetahui komplikasi, rendah
cara perawatan serta tanda dan
gejala dari hernia
DO :
keterbatasan
- Klien dan keluarga tampak
pengatahuan
bingung saat ditanya
komplikasi, cara perawatan
serta tanda dan gejala dan dari
hernia
- Klien dan keluarga tampak
tidak bisa menunjukkan cara Kurang
penanggulangan pasien hernia pengetahuan
mengenai
penyakit hernia

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri (khususnya dengan mengedan) yang berhubungan dengan kondisi hernia atau
intervensi pembedahan.
2. Retensi urine (resiko terhadap hal yang sama) yang berhubungan dengan nyeri, trauma dan
penggunaan anestetik selama pembedahan abdomen.
3. Kurang pengetahuan : potensial komplikasi GI yang berkenaan dengan adanya hernia dan
tindakan yang dapat mencegah kekambuhan mereka.
D. INTERVENSI
NO Dx Keperawatan NOC NIC RASIONAL
1. 1. Nyeri (khususnya Hasil yang a. Kaji dan catat nyeri a.Untuk
dengan mengedan) diperkirakan : b. Beritahu pasien untuk mengetahui
yang berhubungan dalam 1 jam menghindari tingkat nyeri
dengan kondisi intervensi, mengejan, meregang,b. Mengejan ,
hernia atau -persepsi batuk dan batuk dan
intervensi subjektif klien mengangkat benda meregang
pembedahan. tentang yang berat. dapat
ketidaknyamananc. Ajarkan bagaimana memperbesar
menurun seperti bila menggunakan resiko hernia
ditunjukkan skala dekker (bila c. Dekker adalah
nyeri. diprogramkan). terapi yang
- Indikator d. Ajarkan pasien baik untuk
objektif seperti pemasangan hernia
meringis tidak penyokong d. Kompres
ada/menurun. skrotum/kompres es dingin dapat
yang sering mengendalikan
diprogramkan untuk / mengurangi
membatasi edema dan nyeri
mengendalikan nyeri. e. Analgesik
2. e. Berikan analgesik dapat
sesuai program. mengurangi
nyeri
a. Kaji dan catat
distensi suprapubik
atau keluhan pasiena. Untuk
 Hasil yang tidak dapat berkemih. mengetahui
diharapkan b.: Pantau haluaran perkembangan
Retensi urine dalam 8-10 jam urine. Catat dan kondisi klien
(resiko terhadap hal pembedahan, laporkan berkemihb. Urine adalah
yang sama) yang pasien berkemih yang sering < 100 ml tolak ukur dari
berhubungan tanpa kesulitan. dalam suatu waktu. fungsi ginjal
dengan nyeri, Haluaran urine c.³ Permudah berkemih
trauma dan 100 ml selama dengan
penggunaan setiap berkemih mengimplementasika c. Merangsang
anestetik selama dan adekuat n : pada posisi normal berkemih
3. pembedahan (kira-kira 1000- untuk berkemih adalah cara
abdomen. 1500 ml) selama rangsang pasien untuk

periode 24 jam. dengan mendengar air memulihkan


mengalir/tempatkan fungsi ginjal
pada baskom hangat.

a. Ajarkan pasien untuk


waspada dan
melaporkan nyeri
berat, menetap, mual

Hasil yang dan muntah, demam


diperkirakan : dan distensi abdomen, a. Nyeri
setelah instruksi, yang dapat merupakan
 pasien memperberat awitan komplikasi
mengungkapkan inkarserasi/strangulasi utama dari
pengetahuan usus. pembedahan
b. Dorong pasien untuk
tentang tanda dan
gejala komplikasi mengikuti regumen
1. Kurang GI dan medis : penggunaan
pengetahuan : menjalankan dekker atau
potensial tindakan yang penyokong lainnya
komplikasi GI yang diprogramkan dan menghindari
berkenaan dengan oleh pencegahan. mengejan meregang,
adanya hernia dan konstipasi dan b. Penggunaan
tindakan yang dapat mengangkat benda dekker adlah
mencegah yang berat. terpai terbaik
kekambuhan untuk hernia
mereka. c. Anjurkan pasien
untuk mengkonsumsi
diit tinggi residu atau
menggunakan
suplement diet serat
untuk mencegah
konstipasi, anjurkan
masukan cairanc. Makanan
sedikitnya 2-3 l/hari berserat dpaat
untuk meningkatkan meminimalisir
konsistensi feses mengedan
lunak.
d. Beritahu pasien
mekanika tubuh yang
tepat untuk bergerak
dan mengangkat.
d. Latihan gerak
dapat
membantu
untuk
mengindarkan
dari luka
dekubitus

E. IMPLEMENTASI
Tgl/jam Dx keperawatan Tindakan Paraf
10 2. Nyeri (khususnya dengan a. Mengkaji dan TT
November mengedan) yang mencatat nyeri
2011 berhubungan dengan b. Memberitahu
09.00 kondisi hernia atau pasien untuk
WITA intervensi pembedahan. menghindari
mengejan,
meregang, batuk
dan mengangkat
benda yang berat.
c. Mengajarkan
bagaimana bila
menggunakan
dekker (bila
12 diprogramkan).
November d. Mengajarkan
2011 pasien

09.00 pemasangan

WITA penyokong
skrotum/kompres
es yang sering
diprogramkan
untuk membatasi
edema dan
mengendalikan
nyeri.
13 e. Memberikan
November analgesik sesuai
2011 program.
09.00
WITA Retensi urine (resiko
a. Mengkaji dan
terhadap hal yang sama) mencatat distensi
yang berhubungan dengan suprapubik atau
nyeri, trauma dan keluhan pasien
penggunaan anestetik tidak dapat
selama pembedahan berkemih.
abdomen. b. Memantau
haluaran urine.
Mencatat dan
melaporkan
berkemih yang
sering < 100 ml
dalam suatu
waktu.
c. Mempermudah
berkemih dengan
mengimplementas
14 ikan : pada posisi
November normal untuk
2011 berkemih
rangsang pasien
09.00
dengan
WITA
mendengar air
mengalir/tempatka
n pada baskom
hangat.

2. Kurang pengetahuan a.: Mengajarkan


potensial komplikasi GI pasien untuk
yang berkenaan dengan waspada dan
adanya hernia dan tindakan melaporkan nyeri
yang dapat mencegah berat, menetap,
kekambuhan mereka. mual dan muntah,
demam dan
distensi abdomen,
yang dapat
memperberat
awitan
inkarserasi/strangu
lasi usus.
b. Mendorong
15 pasien untuk
November mengikuti
2011 regumen medis :
09.00 penggunaan
WITA dekker atau
penyokong
lainnya dan
menghindari
mengejan
meregang,
konstipasi dan
mengangkat benda
yang berat.

c. Menganjurkan
pasien untuk
mengkonsumsi
diit tinggi residu
atau menggunakan
suplement diet
serat untuk
mencegah
konstipasi,
anjurkan masukan
cairan sedikitnya
2-3 l/hari untuk
meningkatkan
konsistensi feses
lunak.
d. Memberitahu
pasien mekanika
tubuh yang tepat
untuk bergerak
dan mengangkat.
F. EVALUASI
Catatan perkembangan
Tanggal /Jam Dx Perkembangan SOAP
Keperawatan
10 November
1. S : Keluar benjolan dilipat paha kanan
2011 O:
09.00 WITA KU : Cukup Kes : Compos mentis
Tensi 120/80 mmhg, Nadi 84 x/menit,
Respirasi 22 x/menit, Suhu 36,4oC
Regio inguinalis dekstra : terdapat
benjolan yang dapat keluar masuk.
A : Hernia inguinalis lateralis dekstra
reponibilis
P : Bed rest
Pro herniotomi dengan pemasangan
mesh

12 November
2011 S : (-)

9.00 WITA O : KU : Cukup Kes : Compos mentis


Tensi 120/70 mmhg, Nadi 88 x/menit,
Respirasi 22 x/menit, Suhu 36,2oC
Regio inguinalis dekstra : terdapat
benjolan yang dapat keluar masuk.
A : Hernia inguinalis lateralis dekstra
reponibilis
P : Bed rest
Pro herniotomi dengan pemasangan
13 November mesh
2011
Konsul anestesi untuk dilakukan
9.00 WITA operasi

S : (-)
O : KU : Cukup Kes : Compos mentis
Tensi 120/80 mmhg, Nadi 80 x/menit,
Respirasi 22 x/menit, Suhu 36oC
Regio inguinalis dekstra : terdapat
benjolan yang dapat keluar masuk.
A : Hernia inguinalis lateralis dekstra
reponibilis
P : Dilakukan herniotomi dengan
pemasangan mesh
Laporan operasi.

 Penderita tidur terlentang


diatas meja operasi
 Dilakukan general anestesi
 Dilakukan asepsis dan
antisepsis lapangan operasi
dengan povidon iodine
 Dilakukan insisi sejajar
ligamentum inguinal,
diperdalam sampai tampak
apponeurosis
 Identifikasi nervus inguinalis
dan genitofemoral, disisihkan
 Apponeurosis MOE dibuka
 Identifikasi kantong hernia,
dibuka keluar cairan serous ±
20 cc, isi omentum
 Omentum dikembalikan
kerongga abdomen
 Kantong hernia diligasi
kemudian dipotong secara
intoto
 Identifikasi funiculus
spermatikus
 Pasang mesh dengan jahitan
pada tuberculum pubicum,
ligamentum inguinal dan
conkoin tendon
 Kontrol perdarahan
14 November  Luks operasi dijahit lapis demi
2011 lapis

9.00 WITA  Operasi selesai

Instruksi post operasi.

 IVFD RL : D5% = 2 : 2 → 28
gtt/menit
 Interome 2 dd 1 gr → i.v
 Metronidazole 3 dd 1 → drips
 Ranitidin 3 dd 1 amp → i.v
 Ketorolac 3% drips dalam D5
100 cc/8 jam
 Puasa bila Bu (+) dan
penderita sadar betul boleh
minum sedikit demi sedikit

S : Nyeri luka bekas operasi (+)


15 November O : KU : Cukup Kes : Compos mentis
2011
Tensi 110/70 mmhg, Nadi 84 x/menit,
9.00 WITA Respirasi 22 x/menit, Suhu 36,6oC

Abdomen : Datar lemas, bising usus


(+), defence muscular (-), nyeri tekan
pada bekas operasi (+).

A : Post herniotomi dengan pemasangan mesh


hari I - II
P : IVFD RL : D5% = 2 : 2 → 28 gtt/menit

Interome 2 dd 1 gr → i.v
Metronidazole 3 dd 1 → drips
Ranitidin 3 dd 1 amp → i.v
Ketorolac 3% drips dalam D5 100 cc/8
jam
Diet makanan lunak
Mobilisasi ( miring kanan/kiri )

16 November
2011 S : Nyeri pada luka bekas operasi
mulai berkurang
9.00 WITA
O : KU : Cukup Kes : Compos mentis

Tensi 110/70 mmhg, Nadi 80 x/menit,


Respirasi 22 x/menit, Suhu 36,3oC

Abdomen : Datar lemas, bising usus


(+), defense muscular (-), nyeri tekan
pada bekas operasi (+).

Regio inguinalis : luka bekas operasi


terawat baik.

A : Post herniotomi dengan


pemasangan mesh hari III – IV

P : Aff infus, lanjut terapi oral

Cefixime 2 dd 1 caps

Ultracet 2 dd 1

Kalmex 3 dd 1

Mobilisasi
18 November
2011

9.00 WITA S : Nyeri pada luka bekas operasi


berkurang
O : KU : Cukup Kes : Compos mentis

Tensi 110/70 mmhg, Nadi 88 x/menit,


Respirasi 22 x/menit, Suhu 36,3oC

Abdomen : Datar lemas, bising usus


(+), defense muscular (-), nyeri tekan
pada bekas operasi (+).

Regio inguinalis : luka bekas operasi


terawat baik, pus (-).

A : Post herniotomi dengan


pemasangan mesh hari V – VI

P : Cefixime 2 dd 1 caps

19 November Ultracet 2 dd 1
2011 Kalmex 3 dd 1
9.00 WITA Mobilisasi

S : Nyeri pada luka bekas operasi


berkurang

O : KU : Cukup Kes : Compos mentis

Tensi 110/70 mmhg, Nadi 88 x/menit,


Respirasi 22 x/menit, Suhu 36,3oC

Abdomen : Datar lemas, bising usus


(+), defense muscular (-), nyeri tekan
pada bekas operasi (+).

Regio inguinalis : luka bekas operasi


terawat baik, pus (-).

A : Post herniotomi dengan


20 November pemasangan mesh hari VII – VIII
2011
P : Cefixime 2 dd 1 caps
9.00 WITA
Ultracet 2 dd 1
Kalmex 3 dd 1

Mobilisasi

S : (-)

22 November O : KU : Cukup Kes : Compos mentis


2011 Tensi 110/70 mmhg, Nadi 84 x/menit,
9.00 WITA Respirasi 22 x/menit, Suhu 36,3oC

Abdomen : Datar lemas, bising usus

24 November (+), defense muscular (-), nyeri tekan

2011 pada bekas operasi (+).

9.00 WITA Regio inguinalis : luka bekas operasi


terawat baik, pus (-).

A : Post herniotomi dengan


pemasangan mesh hari IX

P : Cespam 2 dd 100 mg

Metronidazole 3 dd 500 mg

Intervensi dihentikan
25 November
Kontrol poli jika obat habis
2011

9.00 WITA
S: klien mengatakan sulit BAK

O: klien terlihat lemah

A: Post herniotomi dengan


pemasangan mesh

A : masalah belum teratasi

P : lanjutkan intervesi 1,2,3

S: klien menngatakan BAK sudah


lancar

O: input dan output sudah seimbang

A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi, pertahankan
keadaan klien.

S: klien mengatakan badannya dapat


bergerak bebas kembali

O: -klien tampak bersemangat


-klien tidak bedres total

A: masalah teratasi

P: hentikan intervensi, pertahankan


keadaan klien

2.

S: klien sudah mulai tidak bertanya


lagi tentang penyakitnya dan sudah
mengerti tentang penyakitnya

O: klien tampak tenang

A: masalah teratasi

P: hentikan intervensi, pertahankan


keadaan klien.

3.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. Hernia adalah penonjolan sebuah organ atau struktur melalui mendeteksi di dinding otot
perut. Hernia umumnya terdiri dari kulit dan subkutan meliputi jaringan, sebuah peritoneal
kantung, dan yang mendasarinya visera, seperti loop usus atau organ-organ internal lainnya.
2. Hernia kongenital disebabkan oleh penutupan struktural cacat atau yang berhubungan dengan
melemahnya otot-otot normal. Hernia diklasifikasikan menurut lokasi di mana mereka
muncul. Sekitar 75% dari hernia terjadi di pangkal paha. Ini juga dikenal sebagai hernia
inguinalis atau femoralis. Sekitar 10% adalah hernia ventral atau insisional dinding abdomen,
3% adalah hernia umbilikalis. Jenis lain dapat mencakup hiatus hernia dan diafragmatik
hernia.
3.2 Saran
Adapun saran yang penulis sampaikan adalah diharapkan agar pembaca melatih
penguatan otot yang mungkin dapat membantu. Menjaga berat badan normal, sehat secara
fisik, dan menggunakan teknik mengangkat yang tepat dapat mencegah herniasi. Awal
pengakuan dan diagnosis herniasi sangat membantu dalam pencegahan tercekik. Setelah
herniasi terjadi, individu harus mencari perhatian medis dan menghindari mengangkat dan
tegang, yang berkontribusi pada cekikan.

DAFTAR PUSTAKA

Lemone and Burke,M.K. 2000 .Medical Surgical Nursing:Critical Thinking in Client


Care. Second Edition.New Jersey: Prentie-Hall,Inc.
Ignatavicius, Donna, et.All.2000.Medical Surgical Nursing.Philadelphia: W.B Saunders
Company.
Lewis,Heitkemper,Dirksen.2000.Medical Surgical Nursing: Assessment and
Management of Clinical Problem. Volume 2. Fifth Edition. Mosby.
Oswari E.1993. Bedah dan Perawatannya. Jakarta: PT Gramedia. .
http://forbetterhealth.wordpress.com/2009/01/12/hernia/
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1000546
Hernia Scrotalis dekstra reponibel (presentasi Kasus)

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. D
Umur : 59 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Pendidikan : SD
Alamat :Jln.Karang kemiri RT.03 RW.06 Karang lewas bumiayu
Tanggal Masuk kepoli : 07 Desember 2009
Tanggal masuk bangsal: 14 Desemeber 2009
No CM : 093388

II. ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS)


1. Keluhan utama : Benjolan di kantung buah zakar sebelah kanan
2. Keluhan tambahan : -
3. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) :
Pasien laki-laki datang ke poli Bedah RSMS dengan keluhan terdapat benjolan di kantung buah zakar
sebelah kanan sejak 2 tahun yang lalu. Awalnya benjolan terdapat di lipat paha sebelah kanan,
namun makin lama benjolan semakin membesar bahkan sampai masuk ke kantung buah zakar
sebelah kanan. Benjolan teraba kenyal sebesar telur ayam dikantung buah zakar sejak 1 bulan
sebelum datang ke poli. Benjolan akan terlihat pada saat pasien berdiri, batuk, mengedan, saat
sedang bekerja. Benjolan dapat masuk apabila didorong dengan tangan. Benjolan tidak terasa sakit,
tidak merah, dan tidak terasa tegang.
Pasien tidak mengeluhkan adanya perubahan dalam BAB, BAB tidak berdarah dan tidak pernah
keluar benjolan dari dubur. Pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan BAK, pada saat BAK pasien
selalu merasa tuntas dan tidak merasa nyeri. Pasien juga tidak mengeluhkan adanya mual dan
muntah.
4. Riwawat Penyakit Dahulu (RPD) :
• Riwayat penyakit hipertensi disangkal.
• Riwayat penyakit diabetes mellitus disangkal.
• Riwayat penyakit jantung disangkal.
• Riwayat pembedahan disangkal.

5. Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) :


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan Umum : Sedang, kooperatif
B. Kesadaran : Compos Mentis
C. Vital Sign : Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 22 x/menit
Suhu : 36,5 0 C
D. Status Generalis :
1. Kepala : Simetris, mesocephal, rambut tidak mudah dicabut.
2. Mata : Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat isokor, reflek cahaya (+/+)
3. Hidung : Discharge (-), deviasi septum nasi (-)
4. Telinga : Simetris kanan kiri, discharge (-)
5. Mulut : Mukosa tidak anemis, lidah kotor (-)
6. Leher :
Inspeksi : Trakea di tengah, JVP ↑ (-)
Palpasi : Pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe (-)
7. Thorak
a. Jantung
Inspeksi : Ictus Cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus Cordis teraba ICS V LMC sinistra
Perkusi : Batas kanan atas ICS II LPS dextra
Batas kanan bawah ICS IV LPS dextra
Batas kiri atas ICS II LMC sinistra
Batas kiri bawah ICS V LMC sinistra
Auskultasi : S1 > S2 di apeks reguler, bising (-), gallop (-)
b. Paru-paru
Inspeksi : Simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi interkostal (-), tidak ada benjolan
Palpasi : Vokal fremitus kanan = kiri, nyeri tekan (-)
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru, batas paru-hepar ICS VI dextra
Auskultasi : Suara dasar vesikuler, suara tambahan ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
8. Abdomen
Inspeksi : Cembung, darm contour (-), darm steifung (-)
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), massa (-), hepar/lien tidak teraba
Perkusi : Tympani di seluruh lapang abdomen, asites (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
9. Ekstremitas
Superior : edema (-/-), refleks fisiologis (+/+)
Inferior : edema (-/-), refleks fisiologis (+/+)
E. Status Lokalis
Regio Scrotalis Kanan
- Inspeksi : Tampak benjolan sebesar telur ayam, tidak berwarna merah, tidak tegang.
- Palpasi : Benjolan terpisah dari testis, nyeri tekan (-), kenyal, test transiluminasi (-).
- Auskultasi : Bising Usus (+) ↓
- Rectal Toucher : Tonus sfingter ani (+), ampula rekti kolaps (-), mukosa licin, pembesaran prostat (-
).
Sarung tangan : Feses (-), darah (-), lendir (-).
IV. RESUME
A. Anamnesa
Laki-laki 59 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan di kantung buah zakar sebelah kanan
sejak 2 tahun yang lalu, benjolan kenyal sebesar telur ayam dan masih dapat dimasukkan lagi apabila
didorong dengan tangan. Benjolan tidak terasa sakit, tidak merah dan tidak terasa tegang. BAB dan
BAK lancar, masih dapat buang angin, tidak mual dan muntah. Sebelumnya pasien tidak pernah
operasi.

B. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign : Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 22 x/menit
Suhu : 36,50C
Status Generalis : Dalam batas normal
Status Lokalis : Regio Scrotalis dekstra
- Inspeksi : Tampak benjolan sebesar telur ayam, tidak berwarna merah, tidak tegang.
- Palpasi : Benjolan terpisah dari testis, nyeri tekan (-), kenyal, test transiluminasi (-).
- Auskultasi : Bising Usus (+) ↓
- Rectal Toucher : Tonus sfingter ani (+), ampula rekti kolaps (-), mukosa licin, pembesaran prostat (-
).
Sarung tangan : Feses (-), darah (-), lendir (-).

V. DIAGNOSA KERJA
Hernia Scrotalis Dekstra Reponible

VI. DIAGNOSA BANDING


1. Hidrokel
2. Torsio testis
VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Pemeriksaan Hb, Ht, Leukosit, Trombosit, Faktor pembekuan.
- Pemeriksaan ureum kreatinin, urinalysa

VIII. TERAPI
Operatif : Hernioraphy elektif

IX. PROGNOSIS
Dubia ad bonam

By.FQ coass FK UPN Veteran Jakarta 2004


ple closure
Kelly 5.0 Hernia, Pendahuluan post operasi hernioraphy, wial exucise + siple closure

A. Latar belakang
Kesehatan merupakan bagian penting bagi hidup kita, dimana dengan hidup sehat kita bisa
menjalankan semua aktifitas dengan baik, pada zaman seperti sekarang ini diamana tantangan
hidup semakin besar dan kebutuhan hidup jaga semakin banyak sehingga manusia dituntut
untuk bekerja keras agar kebutuhanya terpenuhi semuanya sampai mengesampingkan
kesehatan, padahal semakin berat pekerjaan semakin banyak penyakakit yang ditimbulkan,
seperti hernia penyakit ini bisa timbul karna pekerjaan yang keras seperti mengangkat benda
– benda berat.

Hernia merupakan penyakit yang sering ditemukan dimasyarakat. Penyakit ini ditandai
dengan adanya penonjolan isi perut melalui bagian dinding perut yang lemah, kelainan ini
terutama ditemukan di daerah lipat paha. Hernia bisa terjadi disemua umur, juga banyak pada
usia produkif, sehingga mempunyai dampak sosial ekonomi yang cukup signifikan, oleh
karena itu penanganan penyakit hernia yang efektif dan efisien sangat diperlukan

Insidens hernia inguinalis pada bayi dan anak antara 1 dan 2 % kemungkinan terjadi hernia
pada sisi kanan 60 % sisi kiri 20 – 25 % dan bilateral 15 % insidens inguinalis pada orang
dewasa kira – kira 2 % umumnya terapi operatif merupakan terapi satu – satunya yang
rasional . usia lanjut tidak merupakan kontra indikasi operasi efektif ( Sjamsuhidayat de jong
1998 )

Di Indonesia pasien hernia sering kali datang dalam keadaan terlambat, karena banyak orang
tidak mengetahui, mungkin juga biayanya mahal. Padahal itu merupakan yang upnormal saja.
Upnormal bukan karena suatu organic disease tetapi suatu kelainan anatomi, bukan organ
yang upnormal, tetapi anatomi ada lobang yang besar, sehingga dia menonjol. Oleh karena
adanya perubahan anatomi ditubuh maka salah satunya jalan harus dilakukan pengobatan
dengan bedah (http://www.idionline.org/artikel).

Data statistik yang di peroleh dari Rumah Sakit 2 tahun dari tahun 2008 – 2009 jumlah

penderita hernia di ruang bedah adalah sebagai berikut ada tahun 2008 dari bulan
Januari sampai desember adalah 211 orang dan pada tahun 2009 dari bulan Januari sampai
bulan mei 109 orang yang menderita hernia, total pnderita hernia diruang bedah Rumah
sakit Adalah 320, dari data terebut dapat di simpulkan tidak ada peningkatan atau penurunan
jumlah penderita hernia pada bulan januari sampai bulan Mei 2008 dan januari sampai Mei
2009 Di Rumah Sakit tahun 2008 dan 2009 karena data yang di peroleh dari data statistik
Rumah Sakkit pada tahun 2009 sampai bulan Mei hampir sama dengan tahun 2009 yaitu 108
dan 109.
Berdasarkan data statistik di atas penulis tertarik untuk melakukan Asuhan keperawatan pada
Tn. XYZ dengan ( HILD ) post operasi hernia inguinalis lateralsi dextra dan penulis mencoba
memaparkan tentang segala permasalahan tentang hernia yang ada. karena penulis merasa
penting untuk memberikan asuhan keperawatan pada pasien hernia secara komperhensif.
Dari hal tersebut,penulis mencoba mengangkat judul Asuhan keperawatan pada Tn. XYZ
dengan hernia inguinalis lateralis dextra ( HILD )post operasi hernioraphy,wial exucise +
siple closure Di Ruang ABCD Rumah Sakit .
B. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum
Penulis dapat menerapkan asuhan keperawatan pada pasien Tn. XYZ dengan ( HILD )post
operasi hernioraphy,wial exucise + siple closure secara comprehensif dan mampu
mendokumentasikanya.
2. Tujuan Khusus
Tujuan Khuaus dari penulisan kasus ini adalah untuk :
a. Melaksanakan pengkajian pada klien dengan ( HILD ) post operasi hernioraphy, wial
exucise + simple closure.
b. Membuat analisa data dari hasil pengkajian dan menetapkan diagnosa keperawatan
pada pasien ( HILD ) post operasi hernioraphy, wial exucise + simple closure.
c. Menetapkan rencana keperawatan pada pasien dengan ( HILD ) post operasi hernioraphy,
wial exucise + simple closure.
d. Melaksanakan implementasi keperawatan pada pasien ( HILD ) post perasi hernioraphy,
wial exucise + simple closure.
e. Meleksanakan evaluasi implementasi keperawatan yang telah dilakukan pada pasien
dengan ( HILD ) post operasi hernioraphy, wial exucise + simple closure.
f. Melaksanakan dokumentasi terhadap tindakan proses keperawatan pada pasien dengan (
HILD ) post operasi hernioraphy, wial exucise + simple closure.

C. Pengumpulan data
Untuk penyusunan kasus ini bersifat diskriptif dengan memaparkan pelaksanaan asuhan
keperawatan yang di lakukan secara komprehensif terhadap klien pendekatan proses
keperawatan yang terdi atas pengkajian, analisa data, dan diagnosa keperawatan, rencana
tindakan keperawatan , implementasi, evaluasi.
Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang di lakukan secara
sistematis untuk menentukan masalah – masalah serta kebutuhan – kebutuhan keperawatan
dan kesehatan klien dalam pengumpulan data untuk penyusunan laporan kasus ini di gunakan
teknik pengumpulan data dengan cara sebagai berikut:

1. Obseservasi parsitipatif
Penulis mengamati secara langsung mengenai keadaan fisik dengan respon pasien serta
keluhan yang di alami pasien dengan palapasi, inspeksi auskultasi,dan perkusi.

2. Wawancara
pengumpulan data di lakukan dengan cara melakukan wawancara langsung atau Tanya
jawab tentang hal – hal yang berkaitan dengan masalah yang di hadapi oleh klien .
3. Studi literature
Pengumpulan data di lakukan dengan cara menggali sumber – sumber pengetahuan melalui
buku – buku atau jurnal – jurnal terkini ( dapat di lakukan melalui browsing/telusuri internet)
4. Studi dokumentasi
Pemgumpulan data dilakukan dengan cara menelaah catatan – catatan tentang kasus pasien
yang terdapat pada format – format dokumentasi manapun yang ada pada rekam medik.

D.Tempat dan Waktu.


Asuhan keperawatan ini dilakukan Di Ruang ABCD Rumah Sakit selama 2 hari dari tanggal.

E.Sistematika Penulisan.
BAB I: Pendahuluan. Membahas tentang latar belakang masalah, tujuan
penulisan, pengumpulan data, tempat dan waktu serta sistematika penulisan.
BAB II: Tinjauan Pustaka. Membahas tentang hernia inguinalis lateralis dextra. Terdiri dari
pengertian, anatomi, konsep nifas meliputi pengertian, fisiologi, etiologi, patofisiologi,
pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan yang terdiri dari penatalaksanaan umum dan
keperawatan.
BAB III: Tinjauan kasus dan pembahasan. Membahas tentang tinjauan kasus dan
pembahasannya yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi
keperawatan
BAB IV: Penutup. Terdiri dari kesimpulan dan saran.

pencarian yang hadir:

askep tiroiditis,askep tiroidektomi,Laporan pendahuluan GEA,laporan pendahuluan hil,woc


hernia,laporan pendahuluan post op hernia,askep hil,resume hernia,laporan pendahuluan
app,prevalensi hernia di indonesia,laporan pendahuluan post op laparatomi,askep hernia
inguinalis lateralis dextra,pathway hernia scrotalis,askep histerektomi,askep post
histerektomi,askep post op laparatomi,contoh kasus kebidanan patologis,askep post op
hil,angka kejadian hernia menurut WHO,data hernia menurut who,analisa data
combustio,latar belakang hernia scrotalis,kti hernia inguinalis,pengertian apendiktomi,laporan
kasus post SC,laporan pendahuluan keputihan,latar belakang TIROIDEKTOMI,askep post op
tiroidektomi,askep hernia scrotalis,latar belakang penyakit hernia,askep post operasi
tiroidektomi,woc hernia inguinalis lateralis,pengertian hernioraphy,laporan kasus sc,laporan
pendahuluan post SC dengan KPD,laporan pendahuluan post operasi laparatomi,jurnal
hernia,lp cemas,askep hil dextra,jurnal hernia pdf,woc apendik,implementasi hernia,askep
post op perforasi gaster,contoh laporan pendahuluan nyeri,laporan pendahuluan obs
vomitus,lp hernia,lp post op hernia,kti post op hernia,kti hernia,contoh kti hernia,askep post
op peritonitis,Laporan pendahuluan Post Op APP,laporan pendahuluan hernia,lp
presbo,konsep askep perioperatif hernia inguinalis lateralis,askep post op
vesikolithiasis,jurnal ugd,askep hernia inguinalis dextra,jurnal keperawatan hernia,pathways
hernia scrotalis,laporan pendahuluan histerektomi,jurnal penyakit hernia,laporan pendahuluan
sc dengan indikasi kpd,laporan pendahuluan hernia inguinalis lateralis,lp post op
hernioraphy,jurnal ca mammae pdf,artikel pendahuluan tentang hernia,askep post app,laporan
pendahuluan presbo,penyakit ckr,askep presbo,kti hernia inguinalis lateralis,askep
hidronefrosis bilateral,lp hernia inguinalis lateralis,implementasi post sc,askep fraksi,latar
belakang PEB,pengkajian hernia inguinalis,laporan pendahuluan post operasi
apendiksitis,resume gadar,contoh laporan pendahuluan hil,askep hernia inguinalis lateralis
sinistra,laporan pendahuluan ca hepar,hernia menurut who,hernia scrotalis dextra,laporan
pendahuluan wsd,laporan pendahuluan hernia scrotalis dekstra,laporan kasus hernia
inguinalis lateralis,askep hernia umbilikalis,LATAR BELAKANG POST OP
HERNIORAPHY,Laporan pendahuluan hematuri,laporan pendahuluan hernia pdf,jurnal
hernia scrotalis,penyakit hernia scrotalis,analisa data laparatomi,askep disritmia,laporan
pendahuluan post sc kpd,contoh laporan kasus bph,woc hernia inguinalis,contoh laporan
kasus hernia,diagnosa hil,laporan pendahuluan post op sc,laporan pendahuluan hernia
scrotalis dextra,askep hernia scrotalis sinistra,makalah hernia scrotalis,analisa data hernia
inguinalis,hil bilateral,laporan pendahuluan post op histerektomi,analisa data
appendicitis,penyakit vomitus,askep pre dan post operasi hernia,hernia scrotalis pdf,analisa
data apendisitis,asuhan keperawatan pada pasien vesikolithiasis,contoh kasus
laparatomi,askep hernia inguinalis pre operasi,pengkajian post op hernia inguinalis,anatomi
fisiologi hernia,askep gadar hernia,latar belakang hernia inguinalis di indonesia,contoh kasus
kdm,Contoh Kasus postnatal care,data who tentang apendisitis,hernia scrotalis sinistra,jurnal
kesehatan hernia,lp hernia skrotalis,latar belakang pasien terminal,askep appendiktomi,lp post
op tiroidektomi,contoh format pengkajian antenatal care,format pengkajian gadar,LP operasi
hernia,askep post op hernia pada anak,laporan pendahuluan hernia inguinalis lateralis
dextra,format rawat jalan,penyakit hernia pdf,laporan pendahuluan post op hil,contoh format
pengkajian rawat jalan,Contoh Format pengumpulan data,dokumentasi gawat
darurat,intervensi hernia,laporan pendahuluan hernia inguinalis lateralis sinistra,dokumentasi
keperawatan psikososial,askep hernia dextra post operasi,langkah operasi
hernioraphy,prevalensi hernia menurut who,contoh format resume keperawatan,contoh
dokumentasi pada psikiatri,implementasi dan evaluasi hernia,contoh askep post op
hernia,teknik hernioraphy,skripsi hernia,Hernia tomi,operasi hild,format pre post operasi,wial
adalah,format askep pengkajian pre operasi,pengkajian gadar,pengkajian penyakit
hernia,Penyakit DF,studi kasus hernia,format pengkajian hernia,jumlah penderita hernia
inguinalis di indonesia,TINJAUAN KASUS HERNIA,laporan kasus hernia pada anak,asuhan
keperawatan hernia inguinalis dextra,bab 1 pendahuluan tentang hernia,laporan pendahuluan
operasi hernioraphy bilateral,laporan pendahuluan dari post op hernioraphy,ASKEP KASUS
WOC HERNIA,latar belakang hernia di indonesia,data statistik penyakit hernia pdf,lp intra
operasi,data hernia inguinalis di indonesia,contoh kasus askep hernia inguinalis pada
bayi,laporan kasus post op hernia,latar belakang penyakit hernia inguinalis lateralis
sinistra,laporan pendahuluan pre op hernia,laporan pendahuluan intra operasi
hil,penyimpangan kdm post operasi hernia,proses hernioraphy,jurnal konsep sistem
keperawatan,resume askep penyakit,post herniatomi,latar belakang hernia pada anak,statistik
hernia di indonesia,jurnal ca scrotalis,laporan pendahuluan perawatan luka operasi,judul kti
tentang bedah,tinjauan pustaka hernia inguinalis lateralis,laporan pendahuluan post op hernia
inguinalis,judul kti bedah,inguinal dextra,Lp Hernia inguinalis lateral,KTI kejadian
perawatan luka post operasi hernia,KTI post op hernia inguinali,KUMPULAN KTI POST OP
HERNIA,pembahasan kasus anc normal,pendahuluan kti hernia,woc presbo




 0

Related Posts to "Askep Multiple Fraktur"

Pasien Luka Bakar /Combustio bagian 2, sebuah Asuhan Keperawatan

Pasien Luka Bakar /Combustio bagian 1, sebuah Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan dengan fraktur humerus pada klien

Klien Dengan PyeloNeprolithotomi Dextra, askep perioperatif


Klien dengan Laparatomi, sebuah askep

3 Response on "Hernia, Pendahuluan post operasi hernioraphy, wial exucise +


siple closure"
Tumor Mammae, diagnosis dan stadium

Tumor thyroid dextra et sinistra curiga ganas

Blogroll

 Crystal X
 Rumah Minimalis
 Info Kesehatan
 Natural Crystal X
 Tituitbom
 Keputihan
 Bnalone

Posting Terbaru

 Penyebab Keputihan
 Keputihan
 Praktikum golongan darah
 Laju endap darah
 Penyakit ultrashort-segment Hirschsprung Bab 1 dan 3

Statistik Pengunjung