Anda di halaman 1dari 14

Immanuel

Jurnal Ilmu Kesehatan


Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

Hubungan Tingkat Stres Kerja Dengan Tingkat Kelelahan Kerja Perawat


ICU Rumah Sakit Immanuel Bandung

Kurnia1, Nur Intan Hayati HK.1* & Linda Hotmaida1


1
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Immanuel Bandung

Abstrak
Intensive care unit ( ICU) adalah unit perawatan khusus untuk merawat pasien yang kritis. Beban
kerja tinggi, pasien kritis, rasio perawat pasien 1:2 dengan terpasangnya alat kesehatan canggih
menjadi sumber yang menyebabkan kelelahan dan stress dalam kerja. Tujuan penelitian ini
mengukur hubungan tingkat stress kerja dengan tingkat kelelahan kerja perawat ICU. Metode
penelitian ini deskritif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 33 perawat
ICU. Instrumen yang digunakan adalah Depression Anxiety and Stress scale (DASS 42) dan alat
kelelahan kerja Reaction Timer merk Lakassidaya L-77. Hasil penelitian menunjukan bahwa
hampir seluruh responden berada pada tingkat kelelahan ringan 28 (84,8%), dan tingkat stress
kerja perawat ICU sebagaian besar berada pada tingkat ringan 19 (57,6%). Secara statistik tingkat
kelelahan dengan tingkat stress kerja tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai p-
value 0,105 ( p < α (0,05) kategori tingkat stress kerja yang ringan dan tingkat kelelahan ringan ini
dapat disebabkan oleh perawat ICU mempunyai sumber coping yang terdapat dari individu seperti
umur, tingkat pendidikan dan lama kerja sehingga perawat ICU adaptif terhadap stresor, Sehingga
perlu peningkatan jenjang pendidikan, mempertahankan perawat yang ada dan penambahan
jumlah tenaga sesuai beban kerja agar tidak menjadi kelelahan.

Kata kunci: Tingkat Stres, Tingkat Kelelahan, ICU

Abstract
Intensive care unit ( ICU) is a special unit for critically ill patients. High workload, critically ill
patients, high technology equipment, and patient nurse ratio 1:2, can be the source of burnout and
stress in workplace. The Purpose of this research is to measure stress levels and burnout levels of
ICU nurses. The method that is used is descriptive correlation with cross sectional study. The
samples are 33 ICU nurses. The Questionnaires used are Depression Anxiety and Stress scale
(DASS 42) and burnout tolls by Lakassidaya’s L-77 Reaction Timer. The results showed that most
respondents have mild burnout 28 of 33 respondents (84.8%), and there is 19 of 33 respondents
have mild level of stress (57.6%). Statistically there is not any significant correlation between
burnout levels and stress levels showed with p value 0.105 (p < α 0.05). Mild stress and burnout
levels can be affected by individual coping mechanisms, age, level of education, and length of
time working in ICU. Recommendations of this research are improvement of nurse education and
increase nurse staffing levels to prevent burnout.

Keywords: Stress levels, burnout levels, ICU

487
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

Pendahuluan kondisi pasien yang kritis, bekerja


dengan cepat, tepat, teliti dan cermat
Rumah sakit adalah institusi dalam mengobservasi dan menilai
pelayanan kesehatan yang keadaan umum pasien yang
menyelenggarakan pelayanan cenderung fluktuatif, dan
kesehatan perorangan secara bertanggungjawab untuk
paripurna yang terdiri dari berbagai mempertahankan homeostatis pasien
profesi kesehatan, fasilitas diagnostic untuk melewati kondisi kritis
dan terapi dalam sistem yang (Meltzer & Hucbay, 2004).
terkoordinasi untuk memelihara dan Kondisi pasien ICU yang
meningkatkan kesehatan masyarakat kritis (mengancam nyawa) dan
(Siregar & Amalia, 2003). Fasilitas hemodinamik tidak stabil dapat
peningkatan derajat kesehatan yang menjadi sumber stresor bagi perawat
ada dirumah sakit salah satunya ICU. Serta lingkungan kerja yang
adalah Intensive Care Unit (ICU) banyak alat canggih dan bunyi bising
(Depkes, 2006). dari mesin alat kesehatan yang ada
ICU adalah unit perawatan di ICU juga dapat menjadi pemicu
khusus yang dikelola untuk merawat stres (Widyasari, 2002).
pasien kritis, yang mengalami cedera Stres adalah psikososial dari tubuh
dengan penyulit yang mengancam
terhadap tekanan atau beban mental
jiwa dengan melibatkan tenaga yang dialami seseorang dalam
kesehatan terlatih, dan didukung kehidupannya (Hawari, 2010). Stress
dengan peralatan kesehatan khusus dapat menggangu seseorang untuk
(Hanafie, 2007). Tim kesehatan yang beradaptasi terhadap lingkungan,
dibutuhkan di ICU terdiri dari dokter mempengaruhi aktivitas dan
dan perawat ICU yang sudah pekerjaannya. Terdapat banyak jenis
mendapakan pelatihan khusus, stres dalam kehidupan seseorang,
seperti basic Life Support (BLS) dan dan salah satunya adalah stres kerja.
Advanced Cardiac Life Support Stres kerja adalah
(ACLS) (Depkes, 2006). Kriteria ketengangan yang dengan mudah
standar pelayanan ICU salah satunya muncul akibat kejenuhan yang
adalah memiliki lebih dari 50% timbul dari beban kerja yang
perawat bersertifikat pelatihan ICU berlebihan (Wijono, 2007). Ada
(Hanafie, 2007) dan rasio perawat beberapa dampak dari stres kerja
ICU dengan pasien adalah 1 : 1 menurut Sulsky dan Smith (2010)
(Elliot, aitken & Chaboyer, 2012). diantaranya gejala psikologis,
Perawat ICU mempunyai kognitif, perilaku dan fisik. Dampak
peran yang berbeda dengan perawat stress kerja yang sangat mengganggu
yang bekerja di unit lain, karena dapat menurunkan imunitas tubuh
perawat ICU harus memiliki (Kozier, 2010). Jika kesehatan
pengetahuan dan keahlian khusus, terganggu maka akan mempengaruhi
meliputi kemampuan menangani kinerja dan kualitas kerja karyawan.

488
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

Penelitian yang dilakukan Immanuel didapatkan perawat ICU


Mealer (2007) di Amerika tentang yang cuti sakit pertahun sebanyak 18
perbandingan tingkat stres perawat orang dari jumlah total perawat 36
ICU dan perawat umum didapatkan orang dan jumlah kunjungan perawat
hasil dari 230 perawat ICU terdapat ICU yang sakit ke poliklinik rata-rata
54 orang (24%) perawat ICU yang 3 orang perbulan, serta perawat ICU
mengalami post traumatic stress rata-rata absensi keterlambatan
disorder (PTSD), sedangkan dari 121 hampir 15 menit perbulan bahkan
responen perawat umum didapatkan ada yang terlambat datang hampir
17 orang (14%) yang mengalami tiap hari kerja (Sumber : Personalia
PTSD. SDM Rumah Sakit Immanuel,
Penelitian lain yang 2014).
dilakukan Supardi (2007) tentang Hasil dari wawancara
stres kerja dan beban kerja perawat Perawat ICU Rumah Sakit Immanuel
di RS Putri hijau Medan dengan mengatakan rasio perawat dengan
jumlah sampel 83 perawat pasien diruangan ICU adalah 1 : 2
didapatkan hasil, yaitu tingkat stres terkadang 1 : 3 dengan kondisi
ringan 21,7%, stres sedang 62,7% pasien yang hemodinamik tidak
dan stres berat 15, 7% stabil dan terpasang banyak alat
Menurut Meltzer & kesehatan (ventilator, monitor, infuse
Huckabay (2004) yang menyatakan pump, syringe pump) ditambah
bahwa sumber stress kerja bagi dengan tanggung jawab pembuatan
perawat adalah konflik dengan atasan laporan harian dan biling system atau
dan manajeman, banyaknya tuntutan memasukan jasa tindakan dan visite
dari keluarga klien dan beban kerja dokter, serta ungkapan perawat ICU
yang tinggi yang menyebabkan dari 5 perawat 3 perawat
terjadinya kelelahan. mengatakan sering merasa jenuh dan
Kelelahan kerja adalah aneka monoton dengan kondisi pasien
keadaan yang disertai penurunan yang kritis (tidak sadar dan
efisiensi dan ketahanan dalam hemodinamik tidak stabil) dan juga
bekerja (Suma’mur, 2009). Menurut banyak alat kesehatan yang canggih,
Eko Numianto (2003) kelelahan mengeluarkan bunyi (bising) dari
kerja akan menurunkan kinerja dan monitor (alat pengukur hemodinamik
menambah tingkat kesalahan kerja, pasien), perawat ICU juga
hal ini akan memberikan peluang mengungkapkan sering terjadi
terjadinya kecelakaan kerja terutama tekanan baik tuntutan dari atasan
dirumah sakit yang memberikan maupun komplain dari keluarga
pelayanan kesehatan. pasien, serta perawat
Berdasarkan hasil studi mengungkapkan sering mengalami
pendahuluan yang dilakukan peneliti pegal-pegal badan.
pada tanggal 22 Desember 2014 - 8 Berdasarkan data yang
Januari 2015 di Rumah Sakit ditemukan diatas ada perbedaan

489
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

antara fakta dilapangan dengan teori, Sampel Penelitian


perbandingan perawat ICU dengan
pasien 1:2, kejenuhan dan monoton Pada penelitian ini sampel
menghadapi pasien kritis, bising dari adalah perawat ICU yang berjumlah
33 responden, Adapun kriteria
alat kesehatan yang ada di ruang
ICU, tuntutan dari atasan, konflik inklusi sepel sebagai berikut:
dengan teman sejawat, komplain dari a. Perawat ruang ICU
Sedangkan kriteria ekslusi
keluarga pasien ini merupakan
sumber stressor yang dapat dalam penelitian adalah sebagai
menyebabkan stres kerja bagi berikut:
a. Perawat ICU yang tidak
perawat ICU, secara teori stress
memiliki konsekwensi negative bersedia menjadi responden
terhadap kesehatan dan proses b. Perawat ICU yang sedang
cuti
berpikir sehingga menurunkan
kinerja dan menambah tingkat
kesalahan kerja. Jumlah cuti sakit Tempat Penelitian
dan kunjungan perawat ICU ke Penelitian ini dilakukan di
poliklinik serta angka keterlambatan ruang ICU Rumah sakit Immanuel
perawat ICU yang sering terlambat Bandung.
ini juga merupakan masalah,
penurunan kondisi merupakan respon Waktu Penelitian
tubuh. Maka berdasarkan masalah
yang ada peneliti tertarik untuk Penelitian ini dilaksanakan
melakukan penelitian bagaimanakah pada bulan Desember 2014 - Maret
tingkat stress kerja dan tingkat 2015.
kelelahan kerj perawat ICU serta
apakah ada keterkaitan antara stress Alat Pengumpulan Data
kerja dengan kelelahan kerja.
a. Tingkat Stres Kerja
Berdasarkan uraian diatas
Tingkat stres diukur dengan
maka judul dari penelitian ini adalah
menggunakan instrumen
“ Hubungan tingkat stres kerja
Deperession Anxiety Stress Scale 42
dengan tingkat kelelahan kerja
(DASS 42). Penelitian ini mencari
perawat ICU Rumah Sakit Immanuel
tingkat stres pada perawat ICU,
Bandung”.
sehingga peneliti hanya
menggunakan pertanyaan stres
Metode Penelitian
berjumlah 14 item. Instrumen
Penelitian ini adalah berbentuk skala likert dengan total
penelitian deskriptif korelasi dengan skor 42. Untuk jawaban tidak pernah
pendekatan cross sectional. diberi skor 0, kadang-kadang diberi
skor 1, sering diberi skor 2, dan
sangat sering diberi sekor 3.

490
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

b. Kelelahan Kerja alat kelelahan kerja hasil kalibrasi


Alat ukur kelelahan kerja ini nya adalah Untuk pengujian
dengan menggunakan metode uji reliabilitas alat dilakukan dengan
psikomotor (Psikomotor test), alatnya metode Test Retest dan hasil
yaitu: Reaction Timer merk reliabilitas test : 0.89
Lakassidaya L-77, satuan dalam
milidetik, skala pengukuran ordinal. Analisa Data

Analisis yang digunakan dalam


Uji Validitas
Uji validitas pada instrumen stres penelitian ini adalah Chi-square
Untuk menentukan hubungan antara
kerja (DASS 42) dan instrumen
kelelahan (Reaktion Timer variabel bebas dan terikat
Lakassidaya L77). Kedua instrument menggunakan p-value.
ini sudah uji validitas konstruk (
Contruct validity) dan validitas isi Hasil Penelitian
(Content validity) dengan pakarnya 1. Karakteristik Responden
Dr. Gurdani Yogisusanti, S.KM., Karakteristik responden dari
M.Sc dan Antonius Ngadiran, hasil pengambilan data dari jumlah
S.Kep., Ners., M.Kep dengan hasil sampel 33 responden dilihat dari
instrument stress kerja koefisien distribusi : umur, jenis kelamin,
validitas isi (KVI) antara kedua rater tingkat pendidikan, status
(pakar) didapatkan nilai 1, jadi perkawinan dan Lama kerja dapat
kuesioner memenuhi syarat dan dilihat pada tabel distribusi sebagai
dapat dipakai untuk penelitian dan berikut :

491
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

Tabel 1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden
Karakteristik Frekuensi Prosentase
1. Umur :
a. 20 – 40 Tahun 26 78,8%
b. 41 – 65 Tahun 7 21,2%
c. > 65 Tahun - -
33 100%
2. Jenis Kelamin
a. Perempuan 20 60,6%
b. Laki-laki 13 39,4%
33 100%
3. Tingkat Pendidikan
a. D III Keperawatan 22 66,6%
b. S 1 Keperawatan 11 33,4%
4. Status Perkawinan
a. Belum Kawin 7 21,2%
b. Kawin 26 78,8%
33 100%
5. Lama Kerja
a. 1 – 5 Tahun 6 18,2%
b. 6 – 10 Tahun 15 45,5%
c. > 10 Tahun 12 36,3%
33 100%

2. Tingkat Kelelahan Perawat ICU di Rumah Sakit Immanuel Bandung


Hasil dari penelitian kelelahan perawat ICU sebagai berikut :

Tabel 2
Distribusi Frekuensi Tingkat Kelelahan Perawat ICU Rumah Sakit Immanuel Bandung.

Variabel Tingkat Kelelahan Frekuensi %


Ringan 28 84,8%
Kelelahan Kerja Sedang 3 9,1%
Berat 2 6,1%
Total 33 100%

Berdasarkan tabel 2 hasil ringan berjumlah 28 orang (84,8%),


analisa interpretasi data diatas sebagian kecil dari responden dengan
menunjukan bahwa dari sampel 33 kategori tingkat kelelahan sedang
responden perawat ICU didapatkan berjumlah 3 orang (9,1%) dan
hampir seluruh dari responden kategori tingkat kelelehan berat
tingkat kelelahan kerja kategori berjumlah 2 orang (6,1%).

492
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

3. Tingkat Stres Kerja Perawat ICU Rumah Sakit Immanuel Bandung.


Penelitian stress kerja pada perawat ICU dengan hasil sebagai berikut :

Tabel 3
Distribusi Frekuensi Tingkat Stres Kerja Perawat ICU Rumah Sakit Immanuel Bandung.

Variabel Tingkat stres Frekuensi %


Ringan 19 57,6%
Stres Kerja Sedang 11 33,3%
Berat 3 9,1%
Total 33 100%

Berdasarkan tabel 3 hasil setengahnya dari responden ICU


analisa interpretasi data diatas dengan kategori stres kerja sedang
menunjukan bahwa sebagain besar berjumlah 11 orang responden
dari responden ICU dari 33 (100%) (33,3%), sebagain kecil dari
mengalami stress kerja dengan rsponden kategori stress kerja berat
kategori stress ringan 19 orang pada perawat ICU berjumlah 3 orang
responden (57,6%), dan hampir responden (9,1%)

4. Hubungan tingkat kelelahan kerja dengan tingkat stress kerja perawat


ICU Rumah Sakit Immanuel Bandung

Hasil penetian dari kedua variabel stress kerja dan kelelahan kerja dengan
hasil dari program komputer didapatkan hasil interprestasi seperti pada tabel
berikut ini :

Tabel 4
Hubungan Tingkat stress kerja Dengan Tingkat Kelelahan kerja perawat ICU Rumah Sakit
Immanuel Bandung.
Tingkat Kelelahan
Stress Kerja Total p-value
R S B
17 1 1 19
Ringan
60,70% 33,30% 50,00% 57,60%
10 1 0 11
Sedang 0,105
35,70% 33,30% 0,00% 33,30%
1 1 1 3
Berat
3,60% 33,30% 50,00% 9,10%
28 3 2 33
Total
100% 100% 100% 100%

Berdasarkan tabel 4 diatas program komputer didapatkan hasil


hasil pengolahan data dengan nilai p-value 0,105, dimana nilai p-

493
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

value > alfa (0,05) mempunyai arti dibuktikan dari hasil analisa
bahwa hipotesis nol gagal ditolak konjungtiva dari semua responden.
atau uji statistik menunjukan tidak Kelelahan merupakan
adanya hubungan yang signifikan di mekanisame perlindungan tubuh agar
antara tingkat stress kerja dengan tubuh menghindari kerusakan lebih
tingkat kelelahan kerja perawat ICU lanjut, sehingga dengan demikian
Rumah Sakit Immanuel Bandung. terjadilah pemulihan (Suma’mur,
1996). Menurut Tawaka (2004)
Pembahasan Kelelahan menunjukan kondisi yang
berbeda-beda dari setiap individu,
Berdasarkan hasil penelitian tetapi semuanya bermuara pada
dan pengolahan data statistik dari kehilangan efisiensi dan penurunan
hasil yang didapatkan setalah kapasitas kerja serta ketahanan
melakukkan pengambilan penelitian tubuh. Bila kelelahan kerja terjadi
pada perawat ICU Rumah Sakit maka akan menimbulkan penurunan
Immanuel Bandung. Untuk kinerja dan menambah tingkat
mendapatkan gambaran yang lebih kesalahan kerja, meningkat
mendalam mengenai hubungaan kesalahan kerja akan memberikan
antara tingkat stress kerja dengan peluang terjadinya kecelakaan kerja
tingkat kelelahan kerja maka akan
(Eko Numianto, 2003).
dilakukan pembahasan berdasarkan Hasil penelitian yang didapat
hasil data kuantitatif yang akan dari perawat ICU secara umum
ditunjang dengan landasan teoritis berada pada kategori tingkat
dalam penelitian ini : kelelahan ringan ini disebabkan
1. Kelelahan kerja perawat ICU sumber coping dari perawat ICU
Rumah Sakit Immanuel seperti dilihat dari karakteristik
Bandung umur, dari data yang didapatkan
Berdasarkan Hasil dari perawat ICU hampir seluruh dari
penelitian kelelahan kerja perawat responden berkisar 20-40 tahun yaitu
ICU Rumah Sakit Immanuel 26 orang (78,8%), ini menunjukan
didapatkan hampir seluruh dari bahwa perawat ICU berada pada usia
responden perawat ICU dengan dewasa tengah dimana menurut
kategori tingkat “ringan” sebanyak Siagian (2001) Umur berhubungan
28 orang responden (84,6%), dengan tingkat kedewasaan,
kategori kelelahan kerja tingkat kematangan jiwa dan kemampuan
“sedang” sebanyak 3 orang (9,1%), dalam melaksanakan tugasnya. dan
sedangkan perawat dengan kategori juga pada masa ini menurut Rahayu
tingkat kelelahan “berat” sebanyak 2 (2012) merupakan masa usia
orang (6,1%) dan hasil observasi produktif dimana karakteristik
peneliti tidak ditemukan tanda-tanda perkembangannya pada masa ini
dari responden mengalami stabilitas mulai timbul dan
kekurangan hemoglobin ini meningkat, citra diri dan sikap

494
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

pandang lebih realitas, menghadapi central ners station sehingga dapat


masalah secara matang dan perasaan meminimalkan angka kelelahan.
menjadi lebih tenang, sehingga yang Analisa dari alat reaktion
terjadi pada perawat ICU lebih dapat timer yang digunakan peneliti
meminimalisir beban kerja. dengan menggunakan rangsang
Dilihat dari karakteristik lama cahaya hanya satu warna (hijau) ini
kerja, hampir setengah dari memberi dampak bagi responden
responden perawat ICU dengan masa lebih konsentrasi dan responsive
kerja antara 6-10 tahun sebanyak 15 terhadap rangsangan cahaya yang
orang (45,5%) Pengalaman kerja diberikan sehingga mempengaruhi
yang lebih lama akan meningkatkan hasil penelitian.
keterampilan seseorang dalam Hasil penelitian terhadap
bekerja, semakin mudah perawat ICU selain mendapatkan
menyesuaikan dengan pekerjaannya, hasil dengan kategori tingkat
sehingga semakin mampu kelelahan ringan juga mendapatkan
menghadapi tekanan dalam bekerja hasil dengan kategori sedang dan
(Erns, Franco, Messmer & Gonzalez, berat, menurut tawaka (2004) bahwa
2004). kelelahan menunjukan kondisi yang
Dilihat selama observasi dan berdeda-beda dari setiap individu,
penelitian manajemen perawat ICU tapi semuanya bermuara pada
dengan rasio antara perawat dan kehilangan efisiensi dan penurunan
pasien yang terkadang 1:2 tapi kapasitas kerja serta ketahanan
dengan keterampilan yang dimiliki tubuh. Bila dilihat dari kategori
serta kecekatan dan respon yang pasien ICU dengan kategori III
cepat tanggap terhadap situasi dengan ketergantungan pasien yang
ruangan dan kerjasama tim perawat memerulukan waktu 5-6 jam/hari
ICU berjalan sehingga bekerja saling dimana semua kebutuhan pasein
berkesinambungan sehingga perawat dibantu. ini menjadi problem karena
ICU dapat menggunakan tenaga kelelahan dapat mempengaruhi
dengan sangat efisien tapi tidak kualitas hasil kerja dan dapat
mengurangi dalam memberikan menimbulkan angka kecelakaan
asuhan keperawatan, Tingkat kerja jadi perlu penangan lebih lanjut
kelelahan ringan ini juga didukung dengan menambah jumlah tenaga
dari fasilitas ruang ICU dengan sesuai dengan ketentuan standar
adanya kursi perawat disamping pelayanan ICU menurut Depkes
pasien ini mengurangi tingkat (2003) jumlah ketenagaan (rasio)
kelelahan karena setelah observasi perawat dengan pasien 1 : 1, jadi ini
perawat bisa memantau pasien akan mengurangi dan meminimalisir
dengan sambil duduk didepan bed angka kelelahan.
pasien dan juga jarak antara pasein
dan perawat ICU sangat dekat karena
sistem ruangan ICU menggunakan

495
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

2. Tingkat stress kerja perawat dilihat dari karakteristik individu


ICU Rumah Sakit Immanuel seperti umur hampir seluruh dari
Bandung responden usia perawat ICU berada
Berdasarkan hasil penelitian pada kisaran umur 20-40 tahun
yang dilakukan peneliti pada perawat sebanyak 26 orang. Menurut Rahayu
ICU didapatkan sebagian besar dari (2012) pada usia 20-40 tahun
responden berada pada kategori merupakan masa usia produktif
stress kerja ringan sebanyak 19 orang dimana karakteristik
responden (57,6%) dari jumlah 33 perkembangannya pada masa ini
responden dan yang mengalami stabilitas mulai timbul dan
stress kerja sedang sebanyak 11 meningkat, citra diri dan sikap
orang responden (33.3%) sedangkan pandang lebih realitas, menghadapi
perawat yang mengalami stress berat masalah secara matang dan perasaan
sebanyak 3 orang responden (9,1%). menjadi lebih tenang, sehingga
Stress kerja adalah kombinasi perawat ICU dapat meminimalisir
dari sumber-sumber stress pada tingkat stres kerja.
pekerjaan, karakteristik individu, dan Karakteristik tingkat
stressor ekternal organisasi pendidikan perawat ICU sebagian
(Greenberg, 2004). Stress kerja besar adalah DIII Keperawatan 22
terjadi karena adanya interaksi dari orang (66,6%). Dimana menurut
karyawan dengan kondisi dan Siagian (2001) Tingkat pendidikan
lingkungan kerja. Lingkungan berpengaruh terhadap daya kritik dan
pekerjaan bisa menjadi sumber atau daya nalar, sehingga individu
stressor kerja (widyasari,2002). semakin mampu untuk
Dampak dari stres ini akan menyelesaikan masalah, mengatasi
menimbulkan seseorang mengalami tekanan atau beban kerja yang
gangguan kesehatan, menurunkan dihadapi. Jadi dengan tingkat
imunitas (Kozier, 2010). Ada tiga pendidikan merupakan sumber
tingkatan stres diantaranya stress coping, Dilihat dari status
ringan, sedang dan berat (Potter & perkawinan perawat ICU hampir
Perry, 2005). Perawat ICU seluruh responden berstatus kawin
dikategorikan tingkat stress kerja dengan jumlah 26 orang (78,8%).
secara umum mengalami stress Status perkawinan mempunyai
ringan. Hasil penelitian dari Jusmiar hubungan dengan tanggung jawab
(2012) didapatkan gambaran dari dan kinerja. Menurut Robbins (2003)
tingkat stress perawat ICU R S bagi pegawai yang sudah menikah
Darmais didapatkan hasil perawat pekerjaan menjadi hal yang lebih
secara umum megalami stress utama dibandingkan dengan yang
sedang, ini terbalik dengan hasil belum menikah. Individu yang sudah
penelitian saya dengan mendapatkan menikah jika mendapat dukungan
hasil perawat ICU dengan katagori dari keluarga, ada pasangan untuk
stress kerja ringan, ini disebabkan tukar pikiran dan berbagi masalah

496
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

pekerjaanya, tentunya dapat antara stress kerja dengan kelelahan


mengurangi stress ditempat kerja. kerja. Akan tetapi hasil yang
Karakteristik responden didapatkan dilapangan setelah
perawat ICU dilihat dari lama kerja penelitian dan pengolahan data
hampir seluruh responden dengan menggunakan program komputer
pengalaman kerja antara 6-10 tahun antara stress kerja dengan tingkat
ini memberikan coping buat perawat kelelahan perawat ICU di Rumah
ICU karena dengan pengalaman Sakit Immanuel Bandung
kerja yang lama diruang ICU akan didapatkan hasil tidak ada hubungan.
memberikan pengalaman bagi Hasil penelitian ini tidak
perawat dalam menghadapi masalah. sejalan dengan penelitian yang
Selain hasil kategori stres kerja dilakukan Widyasri (2010), dengan
ringan juga perawat ICU hasil adanya hubungan diantara
mendapatkan hasil dengan kategori kelelahan dan stress kerja tapi
stress sedang dan berat ini menjadi berbeda dengan penelitian yang
problem karena stress sedang dan dilakukan pada perawat ICU Rumah
berat akan mempengaruhi proses Sakit Immanuel dengan hasil tidak
dalam kerja. Maka perlu penanganan ada hubungan ini disebabkan perawat
untuk meminimalisir stress ini ICU memiliki sumber coping seperti
dengan mengadakan pelatihan yang dari karakterisrik individu (umur,
berhubungan dengan manajemen jenis kelamin, tingkat pendidikan dan
ruang ICU. lama kerja serta fasilitas ruang ICU
yang bagus sehingga tidak ditemukan
3. Hubungan tingkat stress kerja adanya kelelahan dan tingkat stress
dengan tingkat kelelahan maka rekomendasinya adalah 1
kerja perawat ICU Rumah penambahan tenaga perawat ICU
Sakit Immanuel Bandung dengan perbandingan antara pasien
Hasil penelitian mencari denga perawat 1 : 1, peningkatan re-
hubungan antara tingkat stress kerja fresh ilmu dibidang ICU dan
dengan tingkat kelelahan kerja peningkatan jenjang pendidikan,
didapatkan dari hasil program manajemen stress dan juga
komputer sebagai berikut : p-value mempertahankan perawat udah ada
0,105 dimana nilai p-value < alfa agar tidak cepat ganta-ganti personil
(0,05) mempunyai arti bahwa karena adaptasi ruangan sangat
hipotesis nol ditolak atau tidak memepengaruhi kinerja perawat.
memiliki hubungan yang signifikan.
Secara teori Sikap negative Keterbatasan Penelitian
terhadap, perasaan terhadap atasan
atau lingkungan kerja Alat ukur kelelahan dengan
menggunakan alat reaction timer satu
memungkinkan faktor penting dalam
sebab ataupun akibat (Suma’mur, warna (hijau) ini mempengaruhi hasil
2009), jadi ada saling keterkaiatan karena responden terfokus dengan

497
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

satu warna jadi lebih konsentrasi 1. Bagi perawat ICU


sehingga responden tertuju pada Tingkat kelelahan dan stress
rangsang cahaya yang diberikan, jadi kerja perawat ICU berada pada
rekomendasi untuk meneliti tingkat tingkat ringan oleh karena itu perlu
kelelahan dengan responden yang peningkatan pendidikan, baik
sama tapi alat yang berbeda dengan pendidikan formal (sekolah) maupun
menggunakan model rangsang informal (pelatihan manajemen ICU :
modifikasi 3 warna yang berbeda- penanganan pasien gawat, pelatihan
beda atau modifikasi rangsang keterampilan alat kesehatan ICU)
cahaya dan suara. karena tingkat pendidikan
merupakan sumber coping yang baik
Simpulan agar seseorang lebih adaptif terhadap
Berdasarkan hasil penelitian masalah atau beban kerja.
yang sudah dilakukan oleh peneliti 2. Bagi Rumah Sakit
tentang hubungan tingkat stress kerja a. Melakukan atau mengadakan
dengan kelelahan kerja perawat ICU pelatihan tentang manajemen
di Rumah Sakit Immanuel Bandung penanganan stress (coping
maka dapat diambil suatu mekanisme).
kesimpulan sebagai berikut : b. Seleksi calon perawat ICU
Kategori tingkat kelelahan dengan test bakat dan
perawat ICU Rumah Sakit Immanuel psikotes karena perawat ICU
Bandung berada secara umum pada memerlukan keterampilan,
tingkat kelelahan ringan 28 (84,8%), kecepatan, ketepatan,
dan kategori tingkat stress kerja ketelitian dan responsive
berada pada tingkat ringan 19 agar mempunyai kualitas dan
(56,6%), Hasil dari kedua variabel mutu tenaga yang
setelah melalui proses pengolahan professional
sistem komputer untuk mencari ada c. Manajemen memperhatikan
atau tidaknya hubungan diantara jumlah kebutuhan tenaga
keduanya, didapatkan nilai p-value yang berdinas, sesuai kriteria
0,105 ini menunjukan bahwa kedua ketergantungan pasien yang
variabel secara temuan dilapangan memerlukan perawatan total
menunjukan tidak ada hubungan dan sesuai standar pelayanan
yang signifikan. ICU menurut Depkes dengan
rasio perawat pasien 1 : 1.
Saran d. Peningkatan jenjang
pendidikan dan pelatihan
Berdasarkan permasalahan dibidang ilmu ICU bagi
dan hasil pembahasan yang diperoleh perawat ICU.
dalam penelitian ini, maka peneliti 3. Bagi peneliti selanjutnya
memberikan saran-saran sebagai Hasil penelitian ini dapat
berikut: dikembangkan oleh peneliti

498
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

selanjutnya yang memiliki minat hadapan rapat terbuka


dalam meneliti tingkat stress kerja Universitas Sumatera Utara
perawat dan kelelahan kerja seperti :
a. Faktor-faktor yang Hawari, D. ( 2010). Manajemen
stres, cemas, dan depresi.
mempengaruhi stress kerja
dan kelelahan kerja perawat Jakarta: Gaya Baru.
ICU. Kuruvilla, J (2007). Essensial of
b. Pengaruh tingkat stress kerja critical care nursing. New
dan kelelahan kerja terhadap Delhi : Jaypee.
mutu kualitas asuhan perawat
ICU Rumah Sakit Immanuel. Jusnimar, 2012. Gambaran tingkat
stres kerja perawat intensive
DAFTAR PUSTAKA care unit Di Rumah Sakit
Dharmais Jakarta, Skripsi.
Brunner & Suddarth (2002). Buku Jakarta : UI
Ajar Keperawatan Medikal-
Bedah (8th ed.) (Asih, Julia, Nursalam. 2013. Metodelogi
Karyasa, Kuncara, Waluyo, penelitian ilmu keperawatan.
Penerjemah.). Jakarta: EGC. Jakarta: salemba medika.

Depkes RI (2009). Undang-undang Potter,P.A & Perry,A.G.(2005).


kesehatan. Jakarta : Depkes RI Fundamentals of nursing (6th
ed.). St. Louis,Missouri:
Depkes RI (2006).Standar Pelayanan Mosby, Inc
keperawatan ICU. Direktorat
Keperawatan dan Keteknisian Riyanto. (2011). Metodologi
Medik Direktorat Jendral Penelitian Kesehatan.
Pelayanan Medik. Jakarta : Yogyakarta: Nuha Medika
Depkes RI.
Robbins, S. P (2003). Perilaku
Handoko, T. H. (2008). Manajemen manusia, Jakarta: Gramedia.
personalia dan sumber daya
Sastroasmoro, S & Ismael, S .(2011).
manusia.Yogyakarta : BPFE
Dasar-dasar metodologi
Elliott, D., Aitken, L., & Chaboyer, penelitian klinis. Edisi ke-3.
W. (2012). Critical care Jakarta: Sagung Seto.
nursing. (2th ed.) Elsevier
Sugiono. (2010). Metode penelitian
Australia: Libby Houston.
kuantitatif dan kualitatif.
Hanafie, A. (2007). Peranan ruangan Bandung: Alfabeta
perawatan intensif (ICU) dalam
Sulsky, L., & Smith, C (2005). Work
memberikan pelayanan
stress. Canada : Thomson
kesehatan di rumah sakit.
Learning Inc.
Makalah dipresentasikan di

499
Immanuel
Jurnal Ilmu Kesehatan
Volume 9, Nomor 1, Juni 2015 ISSN 1410-234X

Suma’mur, 2009. Keselamatan kerja


dan pencegahan kecelakaan.
Jakarta : CV Haji Masagung.

Tarwaka, Bakhri H.A S, Sudajeng L.


2004. Ergonomi untuk
keselamatan, kesehatan kerja
dan prodiktivitas. Urakarta.
Uniba

Wijono S, 2006. Pengaruh


kepribadian type A dan peran
terhadap stress kerja manajer.
Insan

Widyasari (2002). Stres kerja dan


dampaknya, Team e-
psikologi.com, informasi
psikologi online, Jakarta.

500