Anda di halaman 1dari 8

TEKTONIK LEMPENG

1. Tektonik lempeng

Tektonik lempeng adalah teori yang menerangkan proses dinamika bumi tentang
pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur gempa bumi, dan cekungan
endapan dimuka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng. Dalam pengertian
geologi, lempeng (plate) adalah batuan padat (solid rock) berbentuk seperti papan kaku
(rigid slab) yang berukuran sangat besar. Kata tektonik berasal dari bahasa Yunani yang
berarti membangun. Gabungan antara dua kata “tektonik lempeng” mengandung
pengertian “bagaimana permukaan bumi dibangun dari lempeng-lempeng batuan”.

Teori Tektonik Lempeng (theory of plate tectonics) menyebutkan bahwa lapisan


terluar bumi terdiri atas beberapa fragmen lempeng yang relatif saling bergerak antara satu
dengan yang lainnya, karena lempeng-lempeng tersebut mengapung di atas suatu material
yang bersifat mobile.

Sebelum munculnya teori tektonik lempeng, diyakini bahwa benua-benua yang ada
saat ini merupakan pecahan dari satu benua besar (supercontinents) yang telah ada
sebelumnya. Pada Gambar 2.1 terlihat proses pemisahan supercontinent Pangaea (Bahasa
Yunani berarti “seluruh daratan”) menjadi beberapa benua yang lebih kecil. Teori
pemisahan tersebut dikenal sebagai theory of continental drift yang merupakan cikal bakal
teori tektonik lempeng.

2. Pergerakan Lempeng-lempeng Bumi


Berdasarkan data seismik, berbagai tanda-tanda geofisika, dan hasil eksperimen
dilaboratorium, para ahli umumnya setuju bahwa pergerakkan lempeng disebabkan oleh
pergerakan lambat mantel bumi, yang bersifat lunak dan sangat panas, yang terletak
dibawah rigid plates. Ide ini pertama kali diungkapkan pada tahun 1930 oleh Arthur
Holmes, seorang geologis Inggris yang kemudian mempengaruhi pemikiran Harry Hess’
yang mencetuskan proses pemekaran lantai samudera (seafloor spreading). Holmes
berspekulasi bahwa gerakan circular dari mantel membawa benua-benua seperti sebuah
conveyor belt. Selanjutnya Wegener mengajukan teori continental drift. Semua teori
tersebut meyakini bahwa baik permukaan bumi maupun interiornya sama-sama bergerak.
Di bawah litosfer, pada kedalaman tertentu, mantel mengalami peleburan sebagian

1
(partially molten) dan dapat mengalir. Kejadian ini dapat diilustrasikan seperti baja yang
jika diberi panas dan tekanan dapat melunak dan berubah bentuk.

Gambar 2.1 Perubahan kerak bumi sebagai akibat tektonik lempeng dunia berlangsung sejak
Zaman perm.

Batuan yang bersifat mobile dibawah rigid plates bergerak dalam pola circular
seperti pola pergerakan air sop yang mendidih di dalam panci. Air sop yang panas bergerak
ke permukaan, menyebar dan mulai mendingin, dan kemudian tenggelam kembali ke dasar
panci untuk kembali keproses semula. Siklus ini terus berulang dan dikenal dengan istilah
arus konveksi (convection current).

Gambar 2.2 Arus konveksi dalam mantel, dibawah kedalaman sekitar 700 km.
2
Konveksi tidak mungkin terbentuk jika tidak ada sumber panas. Panas dalam
bumi berasal dari dua sumber utama :
2.1 Peluruhan Radio Aktif (radio active decay)
Adalah proses spontan yang menjadi dasar jam isotopik untuk menentukan
umur batuan ditandai dengan hilangnya partikel dari nucleus suatu isotop untuk
membentuk isotope suatu unsur baru. Peluruhan radio aktif yang terjadi pada unsur-
unsur kimia seperti uranium, thorium, dan potassium, melepaskan energi dalam bentuk
panas, yang bisa menyebabkan terjadinya peleburan sebagian batuan penyusun kerak
bumi.
2.2 Gredient geothermal.
Gradient geothermal adalah asumsi adanya pertambahan temperatur seiring
dengan bertambahnya kedalaman ke pusat bumi. Secara teoritis, setiap penambahan
kedalaman sekitar 100 m terjadi penambahan temperatur ± 3 °C dari permukaan. Jika
asumsi tersebut benar, maka pada kedalaman 20 km saja (jari-jari bumi ± 5.000 km)
temperatur bumi sudah mencapai 600°C, sedangkan batuan penyusun kerak bumi
mulai mengalami pelemburan sebagian pada temperatur 300-400°C. Dengan
demikian, pada kedalaman yang lebih besar tidak lagi padat dan kompak seperti yang
terlihat di permukaan bumi, tapi menjadi lebih lunak dan sangat panas (seperti larutan
magma) sehingga bersifat mobile.

3. Lempeng Dan Pergerakannya


Menurut teori tektonik lempeng, kerak bumi (litosfer) dapat diterangkan ibarat suatu
rakit yang sangat kuat dan relatif dingin yang mengapung di atas mantel astenosfer yang liat
dan sangat panas, atau bisa juga disamakan dengan pulau es yang mengapung di atas air laut.
Ada dua jenis kerak bumi, yakni kerak samudera yang tersusun oleh batuan bersifat basa dan
ultra basa, dan kerak benua yang tersusun oleh batuan asam dan intermediet yang lebih tebal
dari kerak samudera. Kerak bumi menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya
aliran panas yang. mengalir di dalam astenofer menyebabkan kerak bumi ini pecah menjadi
beberapa bagian yang lebih kecil yang disebut lempeng kerak bumi. Dengan demikian
lempeng dapat terdiri dari kerak benua, kerak samudera atau keduanya. Arus konvensi
merupakan sumber kekuatan utama yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng dan
para geologis umumnya berpendapat bahwa pemekaran lantai samudera (seafloor
Spreading) adalah mekanisme primer dari terjadinya konveksi pada mantel bumi.

3
Gambar 3.1 Lempeng teltonik di Indonesia

3.1 Akibat Pergerakan Lempeng

Batas-batas dan tipe pergerakan lempeng bumi dapat dibagi dalam tiga
kelompok seperti disajikan pada penjelasan dibawah ini :

1. Divergent boundaries
Batas lempeng yang ditandai dengan terbentuknya kerak bumi baru, terbentuk
akibat adanya “gaya tarik saling menjauh” antara dua lempeng. Pergerakan
lempeng saling menjauh menyebabkan penipisan dan peregangan kerak bumi dan
akhirnya terjadi pengeluaran material baru dari mantel yang membentuk jalur
magmatik/gunung api.

Gambar 3.1.1 Batas divergen


4
2. Convergent boundaries
Batas lempeng yang ditandai dengan hilangnya sebagian kerak bumi akibat
adanya “gaya saling mendekati” antara dua lempeng, sehingga terjadi tumbukan
dan batuan yang lebih berat cenderung menyusup ke bagian bawah lempeng yang
lebih ringan. Pergerakan lempeng saling mendekati akan menyebabkan tumbukan
dimana salah satu dari lempeng menujam ke bawah yang lain. Daerah penujaman
membentuk suatu palung dalam, yang biasanya merupakan jalur gempa bumi yang
kuat. Di belakang jalur penujaman terbentuk rangkaian kegiatan magmatik dan
gunung api serta berbagai cekungan pengendapan. Batas konvergen dapat dijumpai
pada proses tumbukan antara :
1. Lempeng Benua dan Lempeng Samudera
Biasanya membentuk palung (trench) lembah sempit melengkung yang
dalam (8-10 km), panjang (ribuan kilometer) dan memotong dasar laut. Pada
kondisi ini lempeng samudera menunjam di bawah lempeng benua. Kecepatan
pergerakan penunjaman dipengaruhi oleh tebal/tipisnya lempeng, kedalaman
penunjaman dan sudut penunjaman yang dihasilkan.

Gambar 3.1.2 batas konvergen benua – samudera

2. Lempeng Samudera dan Samudera


Lempeng samudra dan samudra juga membentuk palung. Proses
penunjaman lempeng samudra di bawah lempeng samudra juga menghasilkan
kegiatan gunung api. Lebih dari jutaan tahun, erupsi lava dan material debris

5
gunung api telah menyusun dasar samudera, bahkan ratusan hingga ribuan
gunung api bawah laut ini muncul ke permukaan membentuk gugusan gunung
api kepulauan.

Gambar 3.1.2 batas konvergen lempeng samudera dan samudera yang membentuk gugusan
gunung api.

3. Lempeng benua dan lempeng benua


Lempeng benua dan benua salah satu contoh bentang alam yang dibentuk
oleh proses konvergensi. Contoh lempeng benua dan benua adalah pembentukan
pegunungan Himalaya. Ketika dua lempeng kontinen bertemu, tidak satu pun
lempeng yang menunjam ke lempeng yang lainnya.

Gambar 3.1.3 lempengan benua dan benua

6
4. Transform boundaries
Batas lempeng yang ditandai adanya gerakan lempeng saling ber-sisi-an
(saling berpapasan) yang hampir tidak memperlihatkan terjadinya pembentukan
kerak bumi baru ataupun menghilangnya kerak bumi. Pergerakan saling
bersisian (transform) dicirikan oleh adanya sesar mendatar yang besar.

Gambar 3.1.4 Transform boundaries

7
DAFTAR PUSTAKA

Balfas, Muhammad Dahlan. 2015. Geologi Untuk Pertambangan Umum. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Mulyaningsih, Sri. 2010. Pengantar Geologi Lingkungan. Yogyakarta: Panduan.

http://elisa.ugm.ac.id/mobile/mcommunity/section/s1-mfg-1904-geologi-dasar-
geofisika/39799. Diakses pada tanggal 13 september 2017 di Samarinda.