Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN


OKSIGENASI DI RUANG BUGENVIL
RSUD UNGARAN

Disusun oleh:
ANGGITA PUTRI HADININGSIH
P1337420616040

PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG
2017
I. KONSEP DASAR
A. Definisi

Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses
metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh,
secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O2 ruangan setiap kali
bernapas. (Wartonah Tarwanto, 2006)
Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem (kimia
atau fisika). Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat
dibutuhkan dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon
dioksida, energi, dan air. Akan tetapi penambahan CO2 yang melebihi batas normal
pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktivitas sel.
(Wahit Iqbal Mubarak, 2007).
Pemenuhan kebutuhan oksigen tidak terlepas dari kondisi sistem pernapasan
secara fungsional. Bila ada gangguan pada salah satu organ sistem respirasi, maka
kebutuhan oksigen akan mengalami gangguan banyak kondisi yang menyebabkan
seseorang mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen, seperti
adanya sumbatan pada saluran pernapasan.
B. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Oksigenasi
1. Tahap Perkembangan
Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang
sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan
jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-
kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap
diameter transversal.
Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia
juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.
2. Lingkungan
Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin
tinggi daratan, makin rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup
individu. Sebagai akibatnya individu pada daerah ketinggian memiliki laju
pernapasan dan jantung yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang
meningkat.
3. Gaya Hidup
Aktivtas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan
denyut jantung, demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan
pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit
paru.
4. Status Kesehatan
Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat
menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi
penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya
pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu penyakit-penyakit pada sistem
pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya terhadap oksigen darah. Salah satu
contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi oksigen adalah anemia,
karena hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida maka
anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.
5. Narkotika
Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam
pernapasan ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila
memberikan obat obat narkotik analgetik, perawat harus memantau laju dan
kedalaman pernapasan.
6. Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan
Hipoksia yaitu suatu kondisi ketika ketidakcukupan oksigen di dalam tubuh
yang diinspirasi sampai jaringan. Hal ini dapat berhubungan dengan ventilasi,
difusi gas atau transpor gas oleh darah yang dapat disebabkan oleh kondisi yang
dapat merubah satu atau lebih bagian-bagian dari proses respirasi. Penyebab lain
hipoksia adalah hipoventilasi alveolar yang tidak adekuat sehubungan dengan
menurunnya tidal volume, sehingga karbondioksida kadang berakumulasi
didalam darah. Sianosis dapat ditandai dengan warna kebiruan pada kulit, dasar
kuku dan membran mukosa yang disebabkan oleh kekurangan kadar oksigen
dalam hemoglobin. Oksigenasi yang adekuat sangat penting untuk fungsi
serebral. Korteks serebral dapat mentoleransi hipoksia hanya selama 3 - 5 menit
sebelum terjadi kerusakan permanen. Wajah orang hipoksia akut biasanya terlihat
cemas, lelah dan pucat.
7. Perubahan pola nafas
Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama
jaraknya dan sedikit perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut
dyspnoe (sesak). Kadang-kadang terdapat napas cuping hidung karena usaha
inspirasi yang meningkat, denyut jantung meningkat. Orthopneo yaitu
ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan berdiri seperti
pada penderita asma.
8. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang
saluran pernapasan di sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas
meliputi : hidung, pharing, laring atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda
asing seperti makanan, karena lidah yang jatuh kebelakang (otrhopharing) bila
individu tidak sadar atau bila sekresi menumpuk disaluran napas.
Obstruksi jalan napas di bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau
lengkap dari saluran napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan
napas yang terbuka merupakan intervensi keperawatan yang kadang-kadang
membutuhkan tindakan yang tepat. Obstruksi sebagian jalan napas ditandai
dengan adanya suara mengorok selama inhalasi (inspirasi).
C. Tanda dan Gejala Gangguan Oksigenasi
Adanya penurunan tekanan inspirasi/ ekspirasi menjadi tanda gangguan
oksigenasi. Penurunan ventilasi permenit, penggunaaan otot nafas tambahan untuk
bernafas, pernafasan nafas flaring (nafas cuping hidung), dispnea, ortopnea,
penyimpangan dada, nafas pendek, posisi tubuh menunjukan posisi 3 poin, nafas
dengan bibir, ekspirasi memanjang, peningkatan diameter anterior-posterior,
frekuensi nafas kurang, penurunan kapasitas vital menjadi tanda dan gejala adanya
pola nafas yang tidak efektif sehingga menjadi gangguan oksigenasi (NANDA,
2015).
Beberapa tanda dan gejala kerusakan pertukaran gas yaitu takikardi,
hiperkapnea, kelelahan, somnolen, iritabilitas, hipoksia, kebingungan, AGS
abnormal, sianosis, warna kulit abnormal (pucat, kehitam-hitaman), hipoksemia,
hiperkarbia, sakit kepala ketika bangun, abnormal frekuensi, irama dan kedalaman
nafas (NANDA, 2015).
D. Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigen menurut Tarwoto dan
Wartonah (2006) antara lain:
1. Faktor Fisiologi
- Menurunnya kapasitas peningakatan oksigen (misal: anemia).
- Menurunnya konsentrasi oksigen oksigen yang diinspirasi.
- Hipovolemia mengakibatkan transpor oksigen terganggu akibat tekanan
darah menurun.
- Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu hamil, luka,
dll.
- Kondisi yang mempengaruhi pergerakan dinding dada (kehamilan, obesitas).
2. Faktor Perkembangan
- Bayi prematur: kurangnya pembentukan surfaktan.
- Bayi dan toddler: akibat adanya infeksi saluran nafas.
- Anak usia sekolah dan remaja: resiko infeksi saluran pernafasan dan
merokok.
- Dewasa muda dan pertengahan: akibat diet yang tidak sehat, kurang aktivitas,
dan stres.
- Dewasa tua: adanya penuaan yang mengakibatkan kemungkinan
arteoriklerosis dan ekspansi paru menurun.
3. Faktor Perilaku
- Nutrisi: penurunan ekspansi paru pada obesitas.
- Exerase: meningkatkan kebutuhan oksigen.
- Merokok: nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah.
- Substanse abuse dan nikotin: menyebabkan intake nutrisi atau Fe menurun
mengakibatkan penurunan Hb, alkohol menyebabkan depresi pernafasan.
4. Faktor Lingkungan
- Tempat kerja (polusi).
- Suhu lingkungan.
- Ketinggian tempat dari permukaan laut.
E. Penanganan Kekurangan Oksigen
1. Pemberian terapi oksigen
a. Sistem aliran rendah
Teknik sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi
udara ruangan. Teknik ini menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung
pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal pasien. Pemberian O2
sistem aliran rendah ini ditujukan untuk klien yang memerlukan O2 tetapi
masih mampu bernafas dengan pola pernafasan normal, misalnya klien
dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 – 20 kali
permenit (Harahap, 2005). Yang termasuk dalam sistem aliran rendah yaitu
kateter nasal, kanula nasal, sungkup muka sederhana, sungkup muka dengan
kantong rebreathing, sungkup muka dengan kantong non rebreathing.
b. Sistem aliran tinggi
Suatu teknik pemberian O2 dimana FiO2 lebih stabil dan tidak
dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan teknik ini dapat
menambahkan konsentrasi O2 yang lebih tepat dan teratur. Adapun contoh
teknik sistem aliran tinggi yaitu sungkup muka dengan ventury. Prinsip
pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan
menuju ke sungkup kemudian dihimpit untuk mengatur suplai O2 sehingga
tercipta tekanan negatif, akibat udara luar dapat diisap dan aliran udara yang
dihasilkan lebih banyak. Aliran udara pada alat ini ± 4–14 L/mnt dan
konsentrasi 30 – 55% (Harahap, 2005).
2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya
gangguan oksigenasi yaitu:
a. EKG: menghasilkan rekaman grafik aktivitas listrik jantung, mendeteksi
transmisi impuls dan posisi listrik jantung.
b. Pemeriksaan stres latihan, digunakan untuk mengevaluasi respond jantung
terhadap stres fisik. Pemeriksaan ini memberikan informasi tentang respond
miokard terhadap peningkatan kebutuhan oksigen dan menentukan
keadekuatan aliran darah koroner.
c. Pemeriksaan untuk mengukur keadekuatan ventilasi dan oksigenasi;
pemeriksaan fungsi paru, analisis gas darah (AGD).
II. PATHWAYS

Proses pertukaran gas

difusi ventilasi transport

tergantung obstruksi Perubahan volume sekuncup,


afterload, preload, dan
kontraktilitas miokard

Gangguan Ketidakefektifan Gangguan pola


pertukaran gas jalan napas napas
III. PENGKAJIAN
A. Identitas Pasien
Meliputi : Nama, tempat/tanggal lahir, usia, agama, suku, jenis kelamin, status
perkawinan, pendidikan terakhir, pekerjaan, alamat, diagnosa medis.
B. Catatan Masuk
C. Riwayat Keperawatan Dahulu
Meliputi : penyakit yang pernah diderita, kebiasaan buruk, penyakit keturunan,
alergi, imunisasi, Operasi, Obat-obatan.
D. Riwayat Keperawatan Sekarang
Meliputi : alasan masuk, tindakan/terapi yang sudah diterima, keluhan utama.
E. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum:
a. Tidak tampak sakit : mandiri, tidak terpasang alat medis.
b. Tampak sakit ringan : bed rest, terpasang infus.
c. Tampak sakit berat : menggunakan oksigen, coma
2. Kesadaran:
a. Kuantitatif:
1) Motorik:
a) Menurut perintah (6)
b) Gerakan lokal (5)
c) Fleksi Motorik (4)
d) Fleksi Abnormal (3)
e) Ekstensi Abnormal (2)
f) Tidak Bereaksi (1)
2) Verbal:
Verbal dewasa:
a) Orientasi baik (5)
b) Bingung/apatis (4)
c) Kata-kata tdak jelas (3)
d) Bunyi tapi tidak jelas (2)
e) Tidak bersuara (1)
Verbal anak:
a) Kata bermakna, senyum, ikut objek (5)
b) Menangis, tapi bisa diredakan (4)
c) Tertasi secara peristen (3)
d) Rangsangan terhadap nyeri (2)
e) Tidak bereaksi (1)
3) Mata:
a) Membuka secara spontan (4)
b) Rangsangan terhadap suara/dipanggil (3)
c) Rangsangan terhadap nyeri (2)
d) Tidak bereaksi (1)
b. Kualitatif:
1) Compos Mentis: pasien sadar penuh
2) Apatis: Pasien acuh tak acuh
3) Somnolen: Pasien cenderung mengantuk walaupun sedang diajak bicara
4) Soporocoma: Dengan sedikit rangsanagn masi bisa berespon
5) Coma: Tidak ada respon sama sekali
3. Tanda-tanda vital:
Meliputi: Suhi, Nadi, Pernapasan, Tekanan Darah, Saturasi, Status gizi.
4. Pemeriksaan sistemik (Head to toe/ 6B)
F. Data subjektif dan objektif
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
a. Data Subjektif
- Pasien mengeluh sesak saat bernafas
- Pasien mengeluh batuk tertahan
- Pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi jalan nafas
- Pasien merasa ada suara nafas tambahan
b. Data Objektif
- Pasien tampak tersengal-sengal dan pernafasan dangkal
- Terdapat bunyi nafas tambahan
- Pasien tampak bernafas dengan mulut
- Penggunaan otot bantu pernafasan dan nafas cuping hidung
- Pasien tampak susah untuk batuk
2. Pola nafas tidak efektif
a. Data Subjektif
- Pasien mengatakan nafasnya tersengal-sengal dan dangkal
- Pasien mengatakan berat saat bernafas
b. Data Objektif
- Irama nafas pasien tidak teratur
- Orthopnea
- Pernafasan disritmik
- Letargi
3. Gangguan pertukaran gas
a. Data Subjektif
- Pasien mengeluh pusing dan nyeri kepala
- Pasien mengeluh susah tidur
- Pasien merasa lelah
- Pasien merasa gelisah
b. Data Objektif
- Pasien tampak pucat
- Pasien tampak gelisah
- Perubahan pada nadi
- Pasien tampak lelah
G. Data Penunjang
1. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:
- Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal
eosinopil.
- Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang
bronkus.
- Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
- Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat
mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
2. Pemeriksaan darah
- Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
- Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
- Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3
dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
3. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal.Pada waktu
serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen
yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang
menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat
adalah sebagai berikut :
a. Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
b. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen
akan semakin bertambah.
c. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru Dapat
pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
d. Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumo-
perikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-
paru.
IV. RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Macam-macam diagnosa keperawatan:
a. Aktual : Merupakan diagnosa yang nyata
b. Resiko : masalah belum terjadi tetapi pasien mempunyai faktor-faktor resiko
yang menyebabkan maslah tersebut bisa terjadi jika dilakukan intervensi
keperawatan
c. Wellnes : Dimana pasien dalam kondisi baik tapi perlu ditingkatkan lagi agar
lebih baik lagi.
d. Sindrome : Gejala
2. Rumusan diagnosa keperawatan
a. Aktual : P +E +S
1) P + E : berhubungn dengan
2) E + S : ditandai dengan
b. Resiko :P+E
1) P + E : berhubungan dengan
c. Wellnes : P
3. Keterangan:
a. P (problem)
1) Gambaran keadaan pasien → terapi keperawtan yang harus diberikan
2) Penyimpangan dari keadaan yang seharusnya tidak terjadi
b. E (Etiologi)
1) Penyebab/faktor resiko
2) Mempengaruhi perkembangan masalah
3) Faktor yang mendukung terhadapmasalah kesehatan pasien → sasaran
intervensi
c. S (Sindorm/sign)
1) Ciri tanda dan gejala (definisi karakteristik)
2) DS dan DO sebagai komponen pendukung DP
3) Membantu perawat dalam menemtukan DP data-data yang diperlukan untuk
merupuskan DO yang akurat
4. Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan
kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah:
a. Bersihan Jalan Nafas berhubungan dengan:
- Sekresi kental/belebihan sekunder akibat infeksi, fibrosis kistik atau influenza.
- Imobilitas statis sekresi dan batuk tidak efektif
- Sumbatan jalan nafas karena benda asing
- Eksudat di alveoli
- Sekresi yang tertahan
- Sekresi di bronkus
b. Pola Nafas Tidak Efektif berhubungan dengan:
- Lemahnya otot pernafasan
- Penurunan ekspansi paru
- Hiperventilasi
- Nyeri
- Cemas
- Defornitas dinding dada
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan:
- Perubahan suplai oksigen
- Obstruksi saluran nafas
- Adanya penumpukan cairan dalam paru
- Edema paru
V. RENCANA KEPERAWATAN
Rencana Tujuan, Rencana Tindakan dan Intervensi
Dx 1: bersihan jalan nafas tidak efektif
Tujuan: bersihan jalan nafas efektif
Kriteria hasil:
a. Menunjukkan jalan nafas bersih
b. Suara nafas normal tanpa suara tambahan
c. Tidak ada penggunaan otot bantu nafas
d. Mampu melakukan perbaikan bersihan jalan nafas
INTERVENSI RASIONAL
1. Auskultasi dada untuk karakter bunyi 1. Pernafasan mengi, rochi, wheezing
nafas dan adanya secret. Pantau TTV menunjukkan tertahannya secret
2. Terapi inhalasi dan latihan pernafasan obstruksi jalan nafas
dalam dan batuk efektif 2. Untuk memudahkan pernafasan dan
3. Catat adanya derajat dispnea, geliasah, membantu mengeluarkan secret
distres pernafasan, dan penggunaan 3. Disfungsi pernafasan adalah variable
otot bantu nafas yang tergantung pada tahap proses
4. Anjurkan intake cairan 3000cc/hari jika kronis selain proses akut yang
tidak ada kontraindikasi menimbulkan perawatan di rumah sakit
5. Beri posisi yang nyaman seperti posisi 4. Membantu mengencerkan secret
semi fowler 5. Memungkinkan ekspansi paru
6. Kolaborasi humidikasi tambahan maksimal
(nebulizer) dan terapi oksigen 6. Kelembapan mempermudah penge-
luaran dan mencegah pembentukan
mucus tebal pada bronkus dan
membantu pernafasan

Dx 2: pola nafas tidak efektif


Tujuan: pola nafas efektif
Kriteria hasil:
a. Menunjukkkan pola nafas efektif dengan frekuensi nafas 16-20 kali/menit dan irama
teratur
b. Mampu menunjukkan perilaku peningkatan fungsi paru
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji frekuensi kedalaman pernafasan 1. Kecepatan pernafasan meningkatkan
dan ekspansi dada. Catat upaya dispnea dan terjadi peningkatan kerja
pernafasan termasuk penggunaan otot nafas, kedalaman nafas bervariasi
bantu tergantung derajat gagal nafas.
2. Tinggikan kepala dan bantu Ekspansi dada
mengubah posisi. Ambulasi pasien 2. Duduk tinggi memungkinkan ekpansi
sesegera mungkin paru dan memudahkan pernafasan
3. Berikan pendidikan kesehatan tentang 3. Pendidikan kesehatan dapat member
gaya hidup sehat, teknik bernafas, pengetahuan pada pasien tentang
dan relaksasi faktor yang terkait dengan posisinya
4. Delegatif dalam pemberian 4. Pengobatan mempercepat
pengobatan penyembuhan dan memperbaiki pola
nafas
Dx 3: gangguan pertukaran gas
Tujuan: mempertahankan pertukaran gas
Kriteria hasil:
a. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan
b. Tidak ada gejala distres pernafasan
INTERVENSI RASIONAL
1. Catat frekuensi, kedalaman, dan 1. Peningkatan kerja nafas dapat
kemudahan dalam bernafas menunjukkan peningkatan konsumsi
2. Selidiki kegelisahan dan perubahan oksigen
mental atau tingkat kesadaran 2. Dapat menunjukkan peningkatan
3. Berikan terapi oksigen melalui hipoksia atau komplikasi
nasal, masker parsial 3. Memaksimalkan sediaan oksigen
khususnya ventilasi menurun
VI. IMPLEMENTASI
Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana
tindakan keperawatan
- Mandiri: aktivitas perawat yang didasarkan pada kemampuan sendiri dan bukan
merupakan petunjuk/perintah dari petugas kesehatan
- Delegatif: tindakan keperawatan atas intruksi yang diberikan oleh petugas kesehatan
yang berwenang
- Kolaboratif: tindakan perawat dan petugas kesehatan yang lain dimana didasarkan
atas keputusan bersama.
VII. EVALUASI
A. Dx 1:
a. Menunjukkan jalan nafas efektif
b. Tidak ada suara nafas tambahan
c. Mampu melakukan perbaikan bersihan jalan nafas
B. Dx 2:
a. Menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman nafas yang
normal
b. Tidak ada gejala distres pernafasan
C. Dx 3:
a. Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jatingan
b. Tidak ada gejala distres pernafasan
DAFTAR PUSTAKA

Debora, Oda. 2011.Proses Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik. Yogyakarta:Salemba


Medika

Harahap. 2005. Oksigenasi D alam Suatu Asuan Keperawatan. Jurnal Keperawatan Rufaidah
Sumatera Utara Volume 1

Marni. 2014. Asuhan Keperawan dengan Gangguan Pernapasan.Jakarta: Gosyen Publishing

Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia: Teori & Aplikasi Dalam
Praktek. Jakarta: ECG

Nanda International. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi. Jakarta: EGC

Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuan Dasar Manusia dan Proses Keperaatan. Edisi 3.
Jakarta: Salemba Mardika.