Anda di halaman 1dari 2

3.

ANTOLOGI

Pancasila sebagai ontologi pada hakikatnya adalah manusia yang memiliki hakikat mutlak
yaitu monopluralis, atau monodualis, karena itu juga disebut sebagai dasar antropologis.
Sedangkan manusia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki
hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga dan jiwa, jasmani dan rohani.
Sifat kodrat manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial serta sebagai
makhluk pribadi dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Maka secara hirarkis sila pertama
mendasari dan menjiwai sila-sila Pancasila lainnya.

EPISTEMOLOGI

Pancasila sebagai epistemologi pada hakikatnya adalah suatu sistem pengetahuan. Dalam
kehidupan sehari-hari Pancasila menjadi pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam
memandang realitas alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa, dan negara tentang makna
hidup serta sebagai dasar bagi manusia Indonesia untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapi dalam hidup dan kehidupan. Pancasila dalam pengertian seperti itu telah menjadi
suatu sistem cita-cita atau keyakinan-keyakinan (belief system) sehingga telah menjelma
menjadi ideologi (mengandung tiga unsur yaitu : 1. logos (rasionalitas atau penalaran),
2.pathos (penghayatan), dan 3. ethos (kesusilaan).

AKSIOLOGI

Pancasila sebagai aksiologi berarti manfaat dari epistemologi tersebut. Jadi pancasila sebagai
nilai merupakan fungsi rohani jasmani manusia. Dengan demikian, aksiologi adalah cabang
fisafat yang menyelidiki makna nilai, sumber nilai, jenis nilai, tingkatan nilai dan hakikat
nilai, termasuk estetika, etika, ketuhanan dan agama.

4. Monopluralis artinya kodrat manusia yang terdiri atas jiwa dan raga, manusia sebagia
makhluk individu dan sosial, dan manusia sebagai makhluk religious(Makhluk Tuhan), serta
kodrat manusia yang terdiri atas jiwa dan raga.

Contoh : Sebagai makhluk yang terdiri atas komponen jiwa dan raga, KH. Ahmad Dahlan
menyadari potensi diri sendiri. KH. Ahmad Dahlan memiliki potensi luar biasa di bidang
agama. Beliau memiliki referensi ilmu pengetahuan Islam yang lebih dibandingkan
masyarakat lainnya. Beliau senantiasa mengembangkan ide-ide yang beliau miliki untuk
disebarluaskan kepada masyarakat Indonesia.Beliau memberikan sumbangsih ilmu
pengetahuan yang dia miliki dengan mengajak masyarakat muslim kembali ke ajaran Islam
yang murni, jauh dari bid’ah dan kesesatan.

Monodualis adalah sifat manuasia yang mempunyai dua kebribadian yaitu sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial.

Contoh : Dalam hal ini, KH. Ahmad Dahlan dikategorikan sebagai sosok Monodualis
karena beliau telah mendapatkan haknya sebagai makhluk individu, yaitu beliau telah
mendapatkan hak hidup dalam kurun waktu 60 tahun, meskipun beliau hidup pada masa
penjajahan, beliau masih dapat menikmati hak kebebasan, hak milik. Beliau adalah sosok
pribadi yang hak kebebasan dalam hal menimba ilmu dapat terpenuhi. Beliau memperoleh
pemikiran-pemkiran Islam dari tokoh-tokoh agama terkemuka di Mekah pada zaman itu.
Saat itu beliau menimba ilmu di luar negeri yang nantinya dapat dibagi kepada seluruh
masyarakat di Yogyakarta. Dalam hal manusia sebagai makhluk individu, KH. Ahmad
Dahlan sudah memenuhi kategori ini.
Sebagai makhluk sosial, KH. Ahmad Dahlan sangat berperan penting dalam masyarakat
pada zaman itu. Ilmu yang beliau peroleh saat di Mekah bersama Muhammad Abduh, Al-
Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah, beliau bagikan kepada masyarakat sekitar
rumahnya hingga beliau mendirikan organisasi Muhammadiyah. Meskipun sempat
mendapat pertentangan dari pihak lain hingga dirinya diancam keselamatannya, beliau
tetap mempertahankan keteguhannya untuk menyebarluaskan agama islam.