Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu cara untuk mengetahui kondisi pasien adalah dengan
mendengarkan suara dari tubuh manusia, melalui suatu alat yang disebut stetoskop.
Kata stetoskop diambil dari bahasa yunani yakni stethos yang berarti dada dan
skopein yang berarti memeriksa. Sedangkan proses pemeriksaan suara respirasi
atau detak jantung disebut auskultasi. Masalah yang timbul pada auskultasi paru
atau jantung menggunakan stetoskop konvensional adalah noise lingkungan,
kepekaan telinga, frekuensi dan amplitudo yang rendah, dan pola suara yang relatif
sama.
Hasil pendengaran suara juga sangat subyektif, sehingga masing-masing
orang bisa mengartikan berbeda. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan
suatu alat yang mampu merekam suara respirasi atau detak jantung dan
menampilkannya melalui suatu monitor dalam bentuk gambar sinyal. Stetoskop
digital mampu mengambil data suara respirasi dari tubuh manusia dan
menampilkan pada monitor komputer.
Dengan bantuan komputer, data suara pernafasan atau respirasi bisa
disimpan dan diolah serta ditampilkan dalam berbagai bentuk untuk
mempermudah analisa. Perbedaan bentuk sinyal sedikit saja bisa ditunjukkan
dengan beberapa metoda pengolahan sinyal.
Beberapa metoda pengolahan suara respirasi dan murmur jantung untuk
menentukan identifikasi penyakit sudah banyak dilakukan, tetapi data suara
respirasi atau data detak jantung berasal dari rumah sakit atau internet. Oleh karena
itu diperlukan stetoskop digital perekam suara respirasi untuk mendapatkan data
langsung dari pasien.Stetoskop digital sebagai perekam suara respirasi ini
merupakan pengembangan dan perbaikan dari stetoskop digital dengan tampilan
grafik EKG pada PC yang dibuat oleh Ary (2007) , yang gagal menampilkan grafik
EKG seperti yang diharapkan. Stetoskop yang akan dibuat diusahakan agar dapat
menampilkan bentuk sinyal suara pernafasan normal dan tidak normal.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1. Filter apa yang terdapat pada stetoskop elektronik?
2. Apa fungsi dari filter yang terdapat pada stetoskop elektronik?
3. Bagaimana cara kerja stetoskop elektronik?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1. Mahasiswa dapat mengetahui tentang filter yang terdapat pada stetoskop
elektronik
2. Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi dari filter yang terdapat pada stetoskop
elektronik
3. Mahasiswa dapat menjelaskan cara kerja dari stetoskop elektronik
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Suara Jantung
Jantung adalah salah satu organ tubuh manusia terpenting. Jantung terbagi
atas empat ruangan, bagian atas disebut serambi (atria) sedangkan bagian bawah
disebut bilik (ventricle). Otot-otot jantung memompa darah dari satu ruangan ke
ruangan lainnya. Setiap kali terjadi proses pemompaan, katup jantung membuka
sehingga darah dapat mengalir ke ruangan yang dituju. Selanjutnya katup menutup
untuk mencegah aliran balik darah.
Dalam kondisi normal, pada dasarnya terdapat dua macam bunyi jantung,
yaitu S1 dan S2 seperti ditunjukkan Gambar 1.a. Bunyi S1 terjadi hampir
bersamaan dengan menutupnya katup mitral dan tricuspid setelah darah kembali
setelah beredar ke tubuh dan paru-paru. Ini adalah permulaan sistolik. Sedangkan
bunyi S2 yang terjadi pada akhir sistolik dan merupakan permulaan diastolik,
dibangkitkan oleh menutupnya katup aortic dan pulmolic, yaitu ketika darah
meninggalkan jantung menuju ke tubuh dan paru-paru. Penyakit akibat kelainan
katup jantung terjadi ketika sebuah katup tidak dapat bekerja sebagaimana
mestinya. Jika katup tidak mampu membuka lebar maka hanya sedikit darah yang
dapat melaluinya. Sebaliknya jika katup tidak mampu menutup secara sempurna,
maka darah dapat mengalir balik. Dalam auskultasi kondisi tersebut dinamakan
murmur dan dapat terjadi pada sistolik mau pun diastolik, seperti ditunjukkan pada
Gambar 1b.
Gambar 1: Bunyi jantung, (a) Jantung normal dan (b) Jantung dengan murmur
sistolik dan diastolik
Penyakit jantung, stenosis, terjadi ketika katup tidak bisa membuka secara
sempurna. Hal ini bisa terjadi jika katup mengeras atau menjadi kaku akibat
endapan kalsium. Akibatnya hanya sedikit darah yang bisa mengalir antar ruang
jantung. Sebaliknya regurgitation terjadi jika katup tidak dapat menutup dengan
sempurna, sehingga darah bisa mengalir ke ruang yang salah. Penyakit-penyakit
tersebut berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat gagal jantung.
Selain jantung, sistem respirasi juga menghasilkan bunyi yang dapat
dideteksi dengan stetoskop. Bunyi paru-paru normal terbagi atas empat kelompok,
yaitu: tracheal, bronchial, bronchovesikular dan vesikular. Selain itu masih terdapat
bunyi paru-paru tambahan yang muncul karena adanya kelainan pada paru-paru
yang disebabkan oleh penyakit. Bunyi tersebut harus dianalisis dengan hasil
pemeriksaan lain misalnya palpasi, untuk memutuskan diagnosis penyakit paru-
paru.
2.2 Stetoskop
Pengertian Stetoskop Stetoskop (bahasa Yunani: stethos, dada dan
skopeein, memeriksa) adalah sebuah alat medis akustik untuk memeriksa suara
dalam tubuh. Dia banyak digunakan untuk mendengar suara jantung dan
pernapasan, meskipun dia juga digunakan untuk mendengar intestine dan aliran
darah dalam arteri dan “vein”. Mungkin tidak ada simbol kedokteran yang paling
terkenal selain stetoskop. "Alat bantu pendengaran" yang sederhana ini
memungkinkan dokter mendengar suara-suara yang berasal dari dalam tubuh,
terutama jantung dan paru selain persendian serta arteri yang tersumbat secara
parsial. Mendengarkan suarasuara ini dengan stetoskop disebut auskultasi berjarak
(mediate auscultation), atau biasanya hanya auskultasi. Banyak suara dari daerah
dada dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosis penyakit. Sebelum tahun 1818, satu-
satunya metode yang ada untuk memeriksa dada adalah perabaan dengan tangan,
perkusi, dan kadangkadang, auskultasi dekat dengan telinga menempel ke dada.
2.3 Bagian – Bagian Stetoskop

Fungsi bagian stetoskop :


1. Ear tips fungsinya :untuk mendengar bunyi dari dalam
2. Diafragman fungsinya : untuk mendengar bunyi jantung
3. Chestpiece sebuah silinder ( media rambat ) yang diletakkan dipermukaan kulit
pasien yang akan didengar suara dalam tubuhnya
2.4 Jenis – Jenis Stetoskop
1. Stetoskop Janin

Stetoskop janin atau fetoscope adalah stetoskop akustik berbentuk seperti


terompet. Ia ditempatkan pada perut wanita hamil untuk mendengarkan bunyi
jantung janin. Stetoskop janin juga dikenal sebagai Pinard’s stetoskop atau pinard.
2. Stetoskop Akustik

Stetoskop akustik yang paling umum digunakan, dan beroperasi dengan


menyalurkan suara dari bagian dada, melalui tabung kosong berisi-udara, ke telinga
pendengar. Bagian “chestpiece” biasanya terdiri dari dua sisi yang dapat diletakaan
di badan pasien untuk memperjelas suara; sebuaah diaphgram (disk plastik) atau
“bell” (mangkok kosong). Bila diaphgram diletakkan di pasien, suara tubuh
menggetarkan diaphgram, menciptakan tekanan gelombang akustik yang berjalan
sampai ke tube ke telinga pendengar. Bila “bell” diletakkan di tubuh pasien
getarakn kulit secara langsung memproduksi gelombang tekanan akustik yang
berjalan ke telinga pendengar. Bell menyalurkan suara frekuensi rendah, sedangkan
diaphgram menyalurkan frekuensi suara yang lebih tinggi. Stetoskop dua sisi ini
diciptakan oleh Rappaport dan Sprague pada awal abad ke- 20. Permasalahan
dengan akustik stetoskop adalah tingkatan suara sangat rendah, membuat diagnosis
sulit.
3. Stetoskop Elektronik

Stetoskop elektronik memerlukan konversi gelombang suara akustik untuk


sinyal-sinyal listrik. Tidak seperti stetoskop akustik, yang semuanya didasarkan
pada metoda fisika. Stetoskop elektronik terdiri dari bagian membran biasa disebut
chest piece, selang/tubing, mik kondensor, dan jack penghubung ke soundcard.
Stetoskop biasa dipotong pada earpiece-nya kemudian dipasang mik kondensor
sebagai transducer untuk mengubah suara menjadi getaran listrik. Selanjutnya
dipasang jack yang sesuai dengan soundcard. Stetoskop elektronik dapat digunakan
dengan menggunakan teknologi melalui bluetooth. Kalau dilihat dari modelnya
memang terlihat sama dengan stetoskop biasa. Dengan adanya bluetooth ini tentu
akan memberikan kemudahan bagi pemeriksa untuk dapat menganalisa tanpa
dibatasi jarak terlalu pendek dengan kliennya. Tidak hanya itu saja, stetoskop
canggih ini memiliki kemampuan untuk menolak suara berisik dari luar, selain itu
Anda juga dapat merekam dan mendokumentasikan irama detak jantung klien.
BAB III
PERANCANAAN SISTEM
3.1 Diagram Rangkaian

Gambar Block Diagram Stetoskop Elektronik


3.2 Prinsip Kerja Blok Diagram Stetoskop Elektronik
Power supply memberikan supply daya sebesar +12 VDC keseluruh
rangkaian stetoskop digital. Apabila diafragma diletakkan bersentuhan dengan
kulit pasien, maka suara yang ada dalam tubuh akan menggetarkan diafragma
serta menciptakan gelombang akustik. Gelombang akustik ini akan ditangkap
oleh mikrophone dan sinyal suara ini akan berubah menjadi sinyal elektrik.
Kemudian sinyal elektrik masuk ke rangkaian penguat awal (pre amplifier)
untuk dikuatkan agar suara yang dihasilkan menjadi lebih keras.suara yang
keras tentu saja menghasilkan banyak noise untuk itu dibuat rangkaian filter
yang berfungsi untuk meloloskan frekuensi yang diharapkan saja dan meredam
frekuensi yang tidak diinginkan. Pada filter ini menggunakan rangkaian BPF
untuk meloloskon frekuensi suara jantung yaitu 20-660 Hz. Setelah difilter
maka sinyal elektrik akan dikuatkan lagi di penguatan akhir(amplifier) agar
suara yang dihasilkan pada speaker sesuai dengan apa yang diharapkan.
3.3 Gambar Rangkaian
3.4 Penjelasan Bagian Pada Rangkaian Stetoskop
3.4.1 Pre Amplifier

Gambar Pre Amplifier


Pada rangkaian preamp menggunakan penguat inverting ganda dimana nilai
penguatannya
𝐴𝑉1 = (−Rf)/Rin 𝐴𝑉2 = (−Rf)/Rin
𝐴𝑉1 = (−R14)/R13 𝐴𝑉2 = (−R19)/R18
𝐴𝑉1 = (−100k)/10k 𝐴𝑉2 = (−100k)/30k
𝐴𝑉1 = 10X 𝐴𝑉2 = 3X
AVtotal= AV1xAV2
= 10 x 3
= 30x penguatan
Penguatan 30 kali adalah penguat untuk menguatkan sinyal ac yang dihasilkan
dari microphone.
3.4.2 Filter BPF

Gambar Rangkaian Bpf


Pada rangkaian ini frekuensi yang akan diloloskan adalah frekuensi pada range 20-
660 Hz oleh karena itu maka terdapat 2 rangkaian yaitu Hpf dan Lpf untuk
menentukan titik frekuensi cut-offnya. Berikut merupakan perhitungan dalam
menentukan nilai resistor dan kapasitor.
Hpf(Fc)=20 hz Lpf(Fc)=660 Hz
𝑅𝐶 = 1/2πFc 𝑅𝐶 = 1/2πFc
𝑅𝐶 = 1/2π20 𝑅𝐶 = 1/2π660
RC = 796x10-5 RC=241x10-6
Untuk rangkaian Hpf nilai R7 = R8 = 796 Ω dan C = 10uF
Untuk rangkaian Lpf nilai R5 = R6 = 241 Ω dan C = 1uF
3.4.3 Rangkaian Amplifier
Rangkaian penguat audio diperlukan untuk menguatkan sinyal yang telah
disaring frekuensinya oleh rangkaian filter Bpf. Keluaran dari rangkaian ini
dihubungkan ke earphone output atau ke speaker. Untuk memenuhi kebutuhan
penguatan audio dengan kualitas yang baik maka digunakan IC LM386 sebagai
penguat audio. Pada penguat akhir ini keakurasian spesifikasi komponen IC LM386
adalah tegangan output = ½ keluaran dari tegangan input.
Gambar Rangkaian Amplifier
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Stetoskop Stetoskop (bahasa Yunani: stethos, dada dan skopeein,
memeriksa) adalah sebuah alat medis akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh.
Dia banyak digunakan untuk mendengar suara jantung dan pernapasan, meskipun
dia juga digunakan untuk mendengar intestine dan aliran darah dalam arteri dan
“vein”. Mungkin tidak ada simbol kedokteran yang paling terkenal selain stetoskop.
"Alat bantu pendengaran" yang sederhana ini memungkinkan dokter mendengar
suara-suara yang berasal dari dalam tubuh, terutama jantung dan paru selain
persendian serta arteri yang tersumbat secara parsial.
Pada rangkaian stetoskop elektronik ini, rangkaian yang paling penting
adalah rangkaian filter dimana rangkaian ini yang akan meloloskan frekuensi yang
diinginkan dan meredam frekuensi yang tidak diharapkan. Pada rangkaian ini
frekuensi yang diloloskan adalah adalah frekuensi pada range 20-660 Hz.
DAFTAR PUSTAKA
[1]F Dalu Setiaji, Daniel Santoso, Deddy Susilo, 2011, rekayasa stetoskop
elektronik dengan kemampuan analisis bunyi jantung, Seminar Nasional
Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2011
[2]Sri anggraeni k , 2013, rancang bangun stetoskop digital sebagai perekam suara
respirasi dan detak jantung, Jurnal Teknik Energi Vol 9 No. 1 Januari 2013
[3]Rizal, A, Soegijoko S, 2006, Stetoskop Elektronik Sederhana Berbasis PC
dengan Fasilitas Pengolahan Sinyal Digital untuk Auskultasi Jantung dan Paru,
Bandung, Seminar Instrumentasi Berbasis Fisika 2006.