Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit kecacingan erat hubungannya dengan kebiasaan hidup

sehari-hari. Penyakit kecacingan biasanya tidak menyebabkan penyakit yang

berat dan angka kematian tidak terlalu tinggi namun dalam keadaan kronis

pada anak dapat menyebabkan kekurangan gizi yang berakibat menurunnya

daya tahan tubuh dan pada akhirnya akan menimbulkan gangguan pada

tumbuh kembang anak. Khusus pada anak usia sekolah, keadaan ini akan

mengakibatkan kemampuan mereka dalam mengikuti pelajaran akan menjadi

berkurang. Ascariasis merupakan helmintiasis yang paling sering menyerang

anak-anak, cacing ini telah menyebabkan lebih dari 1 miliar kasus cacingan di

seluruh dunia.

World Health Organization (WHO) tahun 2012 memperkirakan lebih

dari 1,5 miliar orang atau 24 % dari populasi dunia terinfeksi dengan cacing

yang ditularkan melalui tanah. Lebih dari 270 juta anak usia prasekolah dan

lebih dari 600 juta anak sekolah tinggal di daerah di mana parasit ini

ditularkan secara intensif dan membutuhkan pengobatan serta tindakan

pencegahan.

Di Indonesia penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih

tinggi prevalensinya yaitu 60 %-80%. Hal ini terjadi dikarenakan Indonesia

berada dalam posisi geografis yang sesuai untuk tempat hidup dan

berkembang biaknya cacing. Pengaruh lingkungan global dan semakin

1
meningkatnya komunitas manusia serta kesadaran untuk menciptakan perilaku

hygiene dan sanitasi yang semakin menurun merupakan factor yang

mempunyai andil yang besar terhadap penularan parasit ini. Penyakit infeksi

kecacingan juga merupakan masalah kesehatan masyarakat terbanyak setelah

malnutrisi( Kep-Menkes,2006).

Pencegahan infeksi berulang sangat penting dengan membiasakan

perilaku hidup bersih dan sehat seperti menghindari kontak dengan tanah yang

kemungkinan terkontaminasi feses manusia, cuci tangan dengan sabun dan air

sebelum memegang makanan, lindungi makanan dari tanah dan cuci.

Beberapa peneliti ternyata menunjukkan bahwa usia sekolah merupakan

golongan yang sering terkena infeksi kecacingan karena sering berhubungan

dengan tanah (Depkes, 2004).

B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari Ascariasis?

2. Apa factor dan penyebab yang mempengaruhi ascariasis?

3. Bagaimana tanda dan gejala ascariasis?

4. Bagaimana patofisiolog terjadinya ascariasis?

5. Apa komplikasi ascariasis?

6. Bagaimana penatalaksaan dan pencegahan ascariasis?

7. Bagaimana penyimpangan KDM ascariasis?

8. Bagaimana konsep keperawatan ascariasis?

C. Tujuan

1. Mengetahui definisi dari ascariasis.

2
2. Mengetahui factor yang mempengaruhi infeksi ascariasis.

3. Mengetahui tanda dan gejala ascariasis.

4. Mengetahui patofisiologi terjadinya ascariasis.

5. Mengetahui komplikasi ascariasis.

6. Mengetahui penatalaksanaan dan pencegahan ascariasis.

7. Mengetahui penyimpangan KDM ascariasis.

8. Mengetahui konsep keperawatan dari ascariasis.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Medis

1. Definisi

Cacingan (atau sering disebut kecacingan) merupakan penyakit

endemic dan kronik diakibatkan oleh cacing parasit dengan prevalensi

tinggi, tidak mematikan, tetapi menggerogoti kesehatan tubuh manusia

sehingga berakibat menurunnya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat.

Cacing yang popular sebagai parasit saat ini adalah cacing gelang (Ascaris

Lumbricoides), cacing kremi (Axyuris vermicularis), cacing pita (Taenia

solium) dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale). (Akhsin

Zulkoni,2011)

Ascariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing

Ascaris Lumbricoides atau cacing gelang (Noer,1996:513). Hal senada

juga terdapat dalam kasus kedokteran (Ramali,1997:26). (Kartika

Sari,2013)

Ascaris lumbricoides merupakan nematoda kedua yang paling

banyak menginfeksi manusia. Ascaris telah dikenal pada masa Romawi

sebagai Lumbricus Teres dan mungkin telah menginfeksi manusia selama

ribuan tahun. Jenis ini banyak terdapat di daerah yang beriklim panas dan

lembab, tetapi juga dapat hidup di daerah beriklim sedang.

4
Ascaris lumbricoides adalah cacing yang berwarna merah dan

berbentuk silinder, dengan ukuran cacing jantang 15-25 cm x 3 mm dan

betina 25-35 cm x 4 mm. Cacing betina mampu bertahan hidup selama 1-2

tahun dengan memproduksi 26 juta telur atau sekitar 200.000 telur perhari.

Ukuran telur 40 µm dan dilapisi lapisan tebal sebagai pelindung terhadap

situasi lingkungan yang tidak sesuai sehingga telur dapat bertahan hidup

dalam tanah sampai berbulan-bulan bahkan sampai 2 tahun.

2. Etiologi

Etiologi askariasis adalah ascaris lumbricoides, manusia

merupakan satu-satunya hospes. Penyebab dari Ascariasis adalah Ascaris

Lumbricoides. Ascaris termasuk genus parasit usus dari kelas Nematoda:

Ascaris Lumbricoides/cacing gelang (Garcia,1996:138). Rata-rata jangka

hidup cacing dewasa sekitar 6 bulan.

Ascaris lumbricoides pada stadium dewasa di lumen usus halus

migrasi ke lambung, saluran empedu, appendiks keluar bersama tinja

bolus menyumbat usus dan menembus dinding usus dan terjadi peritonitis.

Telur ascaris lumbricoides diluar tubuh resisten terhadap kebanyakan zat

kimia (mati) akibat sinar matahari langsung, panas masuk melalui

makanan/minuman ke lambung duodenum,jejunum bagian atas. Larva

ascaris lumbricoides dari dinding usus ke system portal/limfe paru ke

alveoli, trakea, epiglottis, esophagus, lambung, usus halus, duodenum (2-3

bulan).

5
3. Manifestasi Klinik

Hanya sebagian kecil penderita yang menunjukkan gejala klinis,

sebagian besar asimtomatis. Gejala yang muncul biasanya disebabkan oleh

migrasi larva dan cacing dewasa. Paru merupakan organ yang dilalui

cacing pada silus hidupnya, maka keluhan klinis sering berasal dari organ

tersebut. Gejala penyakit berkisar dari yang ringan berupa batuk sampai

yang berat seperti sesak napas. Gejala yang disebabkan cacing dewasa

dapat bervariasi mulai dari penyumbatan lumen usus karena banyaknya

cacing, kemudian cacing berjalan ke jaringan hati, sampai muntah cacing

yang bisa menyumbat saluran napas. (Widoyono,2011)

Anak-anak lebih mungkin dibandingkan orang dewasa untuk

terkena gejala gastrointestinal dengan infeksi ascariasis karena usus

mereka lebih kecil sehingga mempunyai risiko yang lebih besar untuk

obstruksi usus. Semakin besar jumlah cacing yang terlibat, semakin parah

gejala yang mungkin ditimbulkan.

Gejala yang terlihat pada infeksi ringan yaitu adanya cacing dalam

tinja, batuk, kehilangan nafsu makan, demam, mengi. Infeksi yang lebih

parah dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala yang lebih serius yaitu

muntah, sesak napas, perut distensi (pembengkakan perut), sakit perut,

penyumbatan usus, penyumbatan saluran empedu. ( Iskarima Ratih,2013)

4. Patofisiologi

Ascariasis terjadi ketika telur cacing dari parasit lumbricoides

dikeluarkan melalui tinja dalam lingkungan yang sesuai akan berkembang

6
menjadi embrio dan menjadi larva yang infektif di dalam telur. Telur bisa

ditularkan dari makanan yang terkontaminasi, minuman atau tanah.

Apabila karena sesuatu sebab telur tersebut tertelan oleh manusia dan

masuk ke usus, maka didalam usus larva akan menetas, larva kemudian

bergerak ke seluruh tubuh.

Ketika keluar dan menembus dinding usus halus menuju ke system

peredaran darah larva akan menuju ke paru, selama tahap ini gejala seperti

batuk dapat terjadi. Di paru-paru, larva memancar melalui saluran

bronchial trakea, faring, dan tertelan masuk ke esophagus. Larva kemudian

kembali ke usus halus dimana larva menjadi dewasa, kawin dan

bertelur(Widoyono,2011)

Cacing mencapai kematangan sekitar 2 bulan setelah telur yang

tertelan dari tanah. Cacing dewasa tetap hidup dan berada dalam usus

halus. 1 cacing betina dapat memproduksi hingga 240.000 telur dalam

sehari, yang kemudian dibuang ke feses (kotoran) dan menetaskannya

dalam tanah selama beberapa minggu. Anak-anak sangat rentang terhadap

ascariasis karena mereka cenderung meletakkang segala sesuatu di mulut

mereka, termasuk kotoran dan mereka umumnya memiliki kebiasaan

kebersihan yang masih rendah dibandingkan dengan orang dewasa.

(Iskarima Sari,2013)

5. Komplikasi

Kebanyakan kasus ascariasis memiliki gejala ringan dan tidak

menyebabkan masalah besar. Namun, penumpukan yang banyak dari

7
cacing dewasa dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi berbahaya

terjadi ketika cacing berkumpul di area tertentu di tubuh seperti:

a. Sumbatan di usus terjadi ketika sekumpulan cacing dewasa memblok

usus dan menyebabkan nyeri hebat dan muntah. Sumbatan di usus

dianggap sebagai kegawatan medis dan membutuhkan terapi yang

segera.

b. Sumbatan di duktus terjadi ketika cacing memblok aliran di hepar atau

pancreas.

c. Infeksi yang menyebabkan hilangnya nafsu makan dan penyerapan

yang buruk sehingga mengakibatkan masalah pertumbuhan dan

perkembangan. Hal ini dapat menyebabkan anak berisiko kurang gizi

dan pada akhirnya berpengaruh ke perkembangan fungsi otak dan

sebagainya.

6. Penatalaksanaan

a. Pengobatan professional

Dokter biasanya akan memberikan resep obat antiparasit seperti

Pirantel pamoat, dosis tunggal 10 mg/kgBB, Mebendazol 100 mg, 2

kali sehari selama 3 hari, Albendazol (anak >2 tahun) 400 mg (2

tablet) dosis tunggal, untuk membunuh cacing gelang usus. Kadang-

kadang tinja akan kembali diperiksa sekitar 3 (tiga) minggu setelah

pengobatan untuk memeriksa telur dan cacing. Gejala ascariasis

biasanya akan menghilang dalam waktu 1 minggu setelah pengobatan.

8
Meskipun sangat jarang, terkadang operasi pengangkatan

cacing mungkin diperlukan (khususnya dalam hal obstruksi usus atau

terkait hati atau infeksi perut). Seorang anak yang memiliki ascariasis

harus dievaluasi lebih lanjut untuk memeriksa adanya parasit usus

lainnya, seperti cacing kremi.

b. Pengobatan di rumah

Untuk mencegah infeksi ulang lakukan hal-hal sebagai berikut:

a) Mencuci tangan dengan baik dan benar setelah menggunakan

kamar mandi dan sebelum makan.

b) Apakah hewan peliharaan diperiksa untuk cacing secara teratur

c) Jaga kuku tetap pendek dan bersih.

d) Mensterilkan pakaian yang terkontaminasi.

e) Mengevaluasi sumber infeksi, tindakan sanitasi tambahan di dalam

atau disekitar rumah anda mungkin diperlukan (Iskarima

Ratih,2013)

7. Pencegahan

Karena pintu utama penularan adalah masuknya telur cacing yang

termakan oleh manusia, maka program utama adalah perbaikan perilaku

yang berupa kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan pribadi,

menggunakan alas kaki, tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman

terutama sayuran, dan perbaikan sanitasi lingkungan terutama jambang

keluarga yang memenuhi syarat kesehatan. Pengobatan massal biasanya

9
berhasil dengan mempertimbangkan kemungkinan kekambuhan.

(Widoyono,2011)

Standar paling penting untuk perlindungan terhadap ascariasis

adalah system pembuangan yang aman dan sanitasi limbah manusia yang

baik. Khusus di beberapa daerah di dunia yang menggunakan kotoran

manusia sebagai pupuk, semua makanan harus dimasak hingga matang

atau dibersihkan dengan larutan yodium yang tepat (terutama buah dan

sayuran). Anak-anak yang tinggal di daerah bersanitasi buruk mungkin

perlu diresepkan obat pencegah cacingan.

Praktik yang direkomendasikan untuk semua anak adalah usahakan

sebisa mungkin untuk menjaga anak-anak agar tidak memasukkan benda-

benda dalam mulut mereka, ajarkan anak untuk mencuci tangan dengan

bersih dan sering, terutama setelah dari kamar mandi dan sebelum makan.

( Iskarima Ratih,2013)

B. Konsep Keperawatan

1. Pengkajian

Dasar data pengkajian menurut Doenges (1999) adalah:

a. Aktifitas dan istirahat

Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah, insomnia, tidak

tidur semalaman karena diare, merasa gelisah, dan ansietas.

b. Sirkulasi

Tanda : Tachicardia (respon terhadap demam, dehidrasi, proses

inflamasi dan nyeri).

10
c. Nutrisi/cairan

Gejala : Mual, muntah, anoreksia

Tanda : Hipoglikemia, perut buncit, dehidrasi, berat badan turun.

d. Eliminasi

Tanda : Diare, penurunan haluaran urine

e. Nyeri

Gejala : nyeri epigastrik, nyeri daerah pusat, colik

f. Integritas ego

Gejala : Ansietas

Tanda : Gelisah, ketakutan

g. Keamanan

Tanda : kulit kemerahan, kering, panas, suhu meningkat

11
2. Penyimpangan KDM dan Masalah Keperawatan

Telur Askaris yang infektif di dalam tanah

Tertelan lewat makanan yang terkontaminasi

Masuk ke lambung dan duodenum kemudian menetas

Larva menembus dinding usus halus

Via sirkulasi portal ke jantung kanan

Sirkulasi pulmonal ke paru-paru


Melepas antigen askaris Reaksi alergi
Tembus kapiler masuk alveoli dan bronkhi

Secara ascenden ke trachea, Pelepasan histamin


faring, epiglottis, esofagus

Migrasi ke lambung Mual, muntah, nyeri Peningkatan permeabilitas


epigastria kolik kapiler dan sensasi gatal
Dalam usus cacing matur
menjadi cacing dewasa Nyeri
Fosinofilia dan urtikaria

Mengeluarkan anti enzim sebagai Anoreksia


proteksi dan mengambil nutrisi Kerusakan integritas kulit
Distropi
Absorpsi nutrisi terganggu Hipoglikemia

Migrasi ke colon Gangguan nutrisi


menimbulkan iritatif
Gangguan keseimbangan Malnutrisi energy protein
Diare
cairan elektrolit
Kehilangan cairan
Dehidrasi Sirkulasi darah Syok hipovolemia
dan elekrolit

Hipertermia

12
Masalah keperawatan adalah sebagai berikut:

a. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder

terhadap diare.

b. Gangguan rasa aman nyeri berhubungan dengan spasme otot polos

sekunder akibat migrasi parasit di lambung.

c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

anoreksia dan muntah.

d. Hipertermi berhubungan dengan penurunan sirkulasi sekunder

terhadap dehidrasi.

e. Perubahan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara

dermal-epidermal sekunder akibat cacing gelang.

3. Intervensi keperawatan

1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder

terhadap diare. (Carpenito,2000:104)

Tujuan : mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan

criteria tidak ditemukannya tanda-tanda dehidrasi dank lien mampu

memperlihatkan tanda-tanda dehidrasi dan pemeliaharaan hidrasi yang

adekuat.

Intervensi :

a. Monitor intake dan output cairan

b. Observasi tanda-tanda dehidrasi (hipertermi, turgor kulit kering,

membrane mukosa kering)

13
c. Berikan oral rehidrasi solution sedikit demi sedikit mencegah

dehidrasi yang adekuat

d. Observasi tanda-tanda dehidrasi

e. Observasi pemberian cairan intravena

2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan spasme otot polos

sekunder akibat migrasi parasit di lambung

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri akan hilang

atau berkurang dengan criteria klien tidak menunjukkan kesakitan

Intervensi :

a. Kaji tingkat dan karakteristik nyeri

b. Beri kompres hangat di perut

c. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut

d. Atur posisi yang nyaman yang dapat mengurangi rasa nyeri

e. Kolaborasi untuk pemberian analgetik

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

anoreksia dan muntah (Carpenito, 2000:260)

Tujuan : nutrisi terpenuhi dengan criteria klien menunjukkan nafsu

makan meningkat, berat badan sesuai usia

Intervensi :

a. Beri diit makanan yang adekuat, nutrisi yang bergizi

b. Timbang BB setiap hari

c. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat

d. Pertahankan kebersihan mulut yang baik

14
4. Hipertermi berhubungan dengan penurunan sirkulasi sekunder

terhadap dehidrasi. (Carpenito,2000:21)

Tujuan : mempertahankan normotermi yang ditujukan dengan tidak

terdapatnya tanda-tanda dan gejala hipertermia, seperti tachycardia,

kulit kemerahan, suhu, dan tekanan darah normal

Intevensi :

a. Ajarkan klien dan keluarga pentingnya masukan adekuat

b. Monitor intake dan output cairan

c. Monitor suhu dan tanda vital

d. Lakukan kompres

5. Perubahan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara

dermal-epidermal sekunder akibat cacing gelang (Carpenito, 2000:300)

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan gangguan integritas

kulit teratasi dengan criteria tidak lecet dan kemerahan.

Intervensi :

a. Beri bedak antiseptic

b. Anjurkan untuk menjaga kebersihan diri/personal hygiene

c. Anjurkan untuk tidak menggaruk

d. Anjurkan untuk menggunakan pakaian meresap keringat

4. Implementasi keperawatan

Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan

dari rencana keperawatan, untuk memperoleh pelaksanaan yang efektif

dituntut pengetahuan dan keterampilan yang luas dari tenaga perawat

15
untuk memberikan pelayanan perawatan yang baik dan bermutu yang telah

ditentukan dan direncanakan.

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi keperawatan merupakan proses yang kontinyu untuk

menjamin kualitas dan ketepatan perawatan serta mengukur sejauh mana

hasil implementasi yang diberikan dan dilakukan dengan meninjau respon

klien untuk menentukan keefektifan rencana perawatan dalam memenuhi

kebutuhan klien.

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ascariasis disebabkan oleh investasi cacing Ascaris lumbricoides.

Cacing ini berbentuk bulat besar dan hidup dalam usus manusia. Cacing ini

terutama tumbuh dan berkembang pada penduduk di daerah yang beriklim

panas dan lembab dengan sanitasi yang buruk. Di Indonesia prevalensi

askariasis tinggi terutama pada anak. Kurangnya pemakaian jamban keluarga

menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar rumah. Cacing betina

akan mengeluarkan telur yang kemudian akan menjadi matang dan invektif,

dengan tumbuhnya larva pada telurnya di dalam waktu 2-3 minggu.

Infeksi pada manusia terjadi karena makanan dan minuman. Di dalam

usus halus larva cacing akan keluar menembus dinding usus dan kemudian

menuju pembuluh darah dan limpe menuju paru. Setelah itu larva cacing ini

akan bermigrasi ke bronkus, faring dan kemudian turun ke esophagus dan usus

halus. Lama perjalanan sampai menjadi bentuk cacing dewasa 60-75 hari,

panjang cacing dewasa 20-40 cm hidup di dalam usus halus manusia untuk

bertahun-tahun lamanya. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa

bertelur di perlukan waktu ± 2 bulan.

B. Saran

Dalam menyusun makalah ini kami menyadari masih jauh dari

kesempurnaan, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan

di masa mendatang.

17
DAFTAR PUSTAKA

Amaliya,Kamila.2015.MakalahPenyakitCacingan.http://kamilaamaliya.blogspot.c
o.id/2015/11/makalah-penyakit cacingan.html m=1. 15 oktober 2016.

Ratih, Iskarima.2013.Deteksi penyakit anak sehari-hari. Yogyakarta:Imperium.

Sari,Kartika. 2013. Standar Asuhan Keperawatan. Jakarta:TIM

Widoyono. 2011. Epidemiologi, Penularan, Pencegahan & Pemberantasannya.


Jakarta: Erlangga.

Zulkoni,Akhsin. 2011. Parasitologi. Yogyakarta:Nuha Medika

18