Anda di halaman 1dari 35

RESUME TUTORIAL

BLOK 3
SKENARIO 5
PENYAKIT AGROMEDIS KERUSAKAN DNA
Oleh Kelompok Tutorial I
Angkatan 2017
1. BAGUS WAHYU MULYONO (172010101033)
2. VIOLITA INDRA SUSETIYO (172010101034)
3. NIKMATUL LAILI (172010101035)
4. HANIFAH SYAHNAS HAQ (172010101036)
5. THIFAL ANTIRA PUSPITA (172010101087)
6. FARAH FADHILA N. P. (172010101088)
7. AHMAD RIFQI MUAVI (172010101089)
8. DICKY DEWANTORO (172010101090)
9. ZHAFIRAH RANA LABIBAH (172010101091)
10. HANA IFTITAH HIDAYATI (172010101092)
11. KAHFI KARUNIA ILLAHI (172010101125)
12. INDRA SAMUDRA RAHMAT (172010101126)
13. ROIKHANATUL JANNAH (172010101127)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
Skenario 5: Penyakit Agromedis Kerusakan DNA

Pertanian adalah tetap menjadi perhatian pemerintah. Walaupun demikian, pengembangan


pertanian untuk meningkatkan hasil pangan terkadang menimbulkan masalah kesehatan.
Penggunaan pestisida yang tidak terukur dapat mencemari lingkungan (residu pestisida pada
tanah, air, udara dan produk pertanian).
Salah satu penyakit yang menakutkan adalah kanker dan penyakit paru obstruksi kronik.
Masyarakat sering melupakan bahwa paparan residu kimia tidak hanya menyebabkan efek akut
tapi sering berupa paparan kronis yang menjadi penyakit atau gangguan kesehatan setelah
beberapa tahun.
KLARIFIKASI ISTILAH

1. Penyakit paru obstruksi kronik


2. Pestisida
zat yang beracun untuk membunuh hama; racun pembasmi hama; racun hama [KBBI]
3. Residu
4. Penyakit kanker
5. Akut
6. Kronis
PEMBAHASAN KLARIFIKASI ISTILAH
1. Penyakit paru obtruksi kronis adalah Menurut buku Fisiologi Manusia oleh Laurelee
Sherwood, Penyakit Paru Obstruksi Kronik atau PPOK adalah sekelompok penyakit
paru yang ditandai oleh peningkatan resistensi saluran napas yang terjadi akibat
penyempitan lumen saluran napas bawah yang mencakup 3 penyakit kronik
(jangka-panjang), yaitu bronkitis kronik, asma, dan emfisema.
2. Pastisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang di
gunakan untukk mengendalikan berbagai hama
3. Residu adalah insektisida yang di tinggalkan sesudah perlakuan dalam jangka waktu
yang telah menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa khemis dan fisis mulai
bekerja
4. Penyakit kanker adalah suatu penyakit yang di timbulkan dari sel tunggal yayng
tumbuh tidak normal dan tidak terkendali sehingga bisa menjadi tumor ganas yayng
dapat menghancurkan atau merusak sel yang rusak
5. Akut adalah istilah yang di gunakan untuk menggambarkan suatu kondisi atau
penyakit yang terjadi tiba-tiba dalam waktu singkat, dan biasanya menunjukkan
gangguan yang serius untuk menggambarkan tingkat nyeri (sakit)
6. Kronis adalah sebuah penyakit yang di derita dalam waktu yang sudah
cukup lama, menahun dan jugak belum sembuh
LEARNING OBJECTIVE

PESTISIDA BERDASARKAN BAHAN AKTIF :

1. Organoklorin:
A. DDT
B. Dieldrin
C. Endrin
2. Organofosfat
A. Diazonin
B. Basudin
3. Karbamat
A. Baygon
B. Karbaril
4. Dinitrofenol
A. Morochido 40EC
5. Pyretroid
A. Deltametrin
B. Sipermetrin
6. Fumigan
A. Metylbromide
7. Bahan Aktif Petroleum
8. Bahan Aktif Antibiotik
Pembahasan LO (Learning Objective)

1. Organofosfat

Organofosfat adalah zat kimia sintesis yang terkandung pada pestisida untuk membunuh hama.

A.DDT

DDT senyawa merupakan kepanjangan dari Dichoro Diphenyl Trichlorethane (DDT)


diproduksi dengan menyampurkan chloralhydrate dengan chlorobenzene (Tarumingkeng).

Sifat kimiawi dan fisik DDT

Senyawa yang terdiri atas bentuk-bentuk isomer dari 1,1,1-trichloro-2,2-bis-(p-chlorophenyl)


ethane yang secara awam disebut juga Dichoro Diphenyl Trichlorethane (DDT) diproduksi
dengan menyam¬purkan chloralhydrate dengan chlorobenzene.

Gambar 1. Rumus struktur dan molekul DDT

DDT-teknis terdiri atas campuran tiga bentuk isomer DDT (65-80% p,p'-DDT, 15-21% o,p'-
DDT, dan 0-4% o,o'-DDT, dan dalam jumlah yang kecil sebagai pencemar juga terkandung
DDE [1,1-dichloro-2,2- bis(p-chlorophenyl) ethylene] dan DDD [1,1-dichloro-2,2-bis(p-
chlorophenyl) ethane]. DDT-teknis ini berupa tepung kristal putih tak berasa dan tak berbau.
Daya larutnya sangat tinggi dalam lemak dan sebagian besar pelarut organik, tak larut dalam
air, tahan terhadap asam keras dan tahan oksidasi terhasap asam permanganat.

Dosis

Bila seseorang menelan DDT sekitar 10mg/Kg akan dapat menyebabkan keracunan, hal
tersebut terjadi dalam waktu beberapa jam. Perkiraan LD50 untuk manusia adalah 300-500
mg/Kg.

Toksikologi DDT

Cyclodien (subgroup organoklorin) mengikat y-aminobutyric acid (GABA) reseptor dalam


chloride channel dari neuron. Organoklorin (DDT dan analognya) serta pyrethroid mengikat
sodium channel dari membran syaraf dan mengganggu impuls ke axon. DDT pada serangga
dan mamalia merusak keseimbangan ion-ion Na dan K pada akson yang mencegah transmisi
impuls saraf secara normal. Keracunan DDT menyebabkan kejang otot (“DDT” jitter) yang
diikuti konvulsi dan kematian. DDT memiliki korelasi negatif terhadap suhu, yaitu semakin
rendah suhu lingkungan semakin meningkat daya racunnya terhadap serangga.( Harsoyo, dkk
2006) Keracunan DDT menimbulkan repetitive discharge (pembuangan muatan yang
berulang-ulang), yang menunjukkan bahwa pada serangga yang keracunan DDT terjadi
gangguan dalam rekalsifikasi permukaan membrane akson. Rekalsifikasi ini diperlukan untuk
memulihkan potensial istirahat yang normal pada membrane akson setelah satu rangsangan
(dari depolarisasi ke repolarisasi). Sifat DDT yang berafinitas dengan kolesterol pada
membrane (yang lipoid) dianggap mengurangi permeabilitas membran untuk ion-ion Ca2+.
Pada insektisida-insektisida analog DDT yang juga lipofilik, dan dalam keadaan tidak ada ion
Ca2+ pada medium eksternal, tidak timbul fenomena repetitive discharge. Gejala
elektrofisiologi lainnya pada keracunan DDT adalah respons pasca-potensial yang lebih lama
(prolongation of afterpotential). Jika pasca potensial negatif ditingkatkan sampai tahap tertentu
maka dengan satu stimulus akan terjadi repetitive discharge. Dengan demikian disimpulkan
bahwa DDT mempengaruhi derajat penghantaran, tahanan dan kapasitas membran akson,
dengan menghambat pengikatan Ca2+ yang bekerja dengan ATP, atau menghambat Ca-
ATPase pada membran akson sehingga terjadi tandatanda hipoklasemik (kekurangan Ca).
karena ATP merupakan sumber energi utama dalam mekanisme pemompaan CaNa pada
membrane akson (aksolema) maka keracunan DDT dapat menyebabkan gangguan pada
mekanisme penghantaran rangsangan. (Tarumingkeng, 1989)

Mekanisme toksisitas dari DDT masih dalam perdebatan, wlaupun komponen kimia ini
sudah disinthesis sejak tahun 1874. Tetapi pada dasarnya pengaruh toksiknya terfokus pada
neurotoksin dan pada otak. Saraf sensorik dan serabut saraf motorik serta kortek motorik adalah
merupakan target toksisitas tersebut. Dilain pihak bila terjadi efek keracunan perubahan
patologiknya tidaklah nyata.

Bahaya Penggunaan DDT

Bahan racun DDT sangat persisten (tahan lama, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin sampai
100 tahun atau lebih), bertahan dalam lingkungan hidup sambil meracuni ekosistem tanpa dapat
didegradasi secara fisik maupun biologis, sehingga kini dan di masa mendatang kita masih
terus mewaspadai akibat-akibat buruk yang diduga dapat ditimbulkan oleh keracunan DDT .
Pengaruh buruk DDT terhadap lingkungan sudah mulai tampak sejak awal penggunaannya
pada tahun 1940-an, dengan menurunnya populasi burung elang sampai hampir punah di
Amerika Serikat. Dari pengamatan ternyata elang terkontaminasi DDT dari makanannya
(terutama ikan sebagai mangsanya) yang tercemar DDT. DDT menyebabkan cang¬kang telur
elang menjadi sangat rapuh sehingga rusak jika dieram.

Dua sifat buruk yang menyebabkan DDT sangat berbahaya terhadap lingkungan hidup adalah:

1. Sifatkelarutan DDT: ia tidak larut dalam air tapi sangat larut dalam lemak. Makin larut
suatu insektisida dalam lemak semakin mudah DDT menembus kulit
2. Sifat DDT yang sangat stabil dan sangat sukar terurai sehingga cenderung bertahan
dalam lingkungan hidup, masuk rantai makanan (foodchain) melalui bahan lemak
jaringan mahluk hidup.

Karena sifatnya yang stabil dan persisten, DDT bertahan sangat lama di dalam tanah; bahkan
DDT dapat terikat dengan bahan organik dalam partikel tanah.

Dalam ilmu lingkungan DDT termasuk dalam urutan ke 3 dari polutan organik yang persisten
(Persistent Organic Pollutants, POP), yang memiliki sifat-sifat berikut:

 tak terurai melalui penguraian cahaya, biologis maupun secara kimia,


 berhalogen (biasanya klor),
 daya larut dalam air sangat rendah,
 sangat larut dalam lemak,
 mudah menguap,
 di udara dapat dipindahkan oleh angin melalui jarak jauh,
 terakumulasi dalam tubuh,
 daya racun meningkat sepanjang rantai makanan

Gejala keracunan akut pada manusia adalah paraestesia, tremor, sakit kepala, keletihan dan
muntah. Efek keracunan kronis DDT adalah kerusakan sel-sel hati, ginjal, sistem saraf, system
imunitas dan sistem reproduksi. Efek keracunan kronis pada unggas sangat jelas antara lain
terjadinya penipisan cangkang telur dan demaskulinisasi

Berikut ini adalah gambar atau foto produk mengandung DDT yang ada di pasaran.

B.Dieldrin
Dieldrin adalah insektisida dan produk sampingan dari pestisida Aldrin. Dari tahun 1950
sampai 1974, dieldrin secara luas digunakan untuk mengendalikan serangga pada kapas,
jagung dan jeruk tanaman. Juga, dieldrin digunakan untuk belalang kontrol dan nyamuk,
sepertikayu melestarikan, dan untuk kontrol rayap. Biasanya terlihat sebagai bubuk putih atau
cokelat, sebagian besar menggunakan dieldrin dilarang pada tahun 1987,namun, dieldrin tidak
lagi diproduksi di Amerika Serikat karena efek berbahaya terhadap manusia, ikan, dansatwa
liar. Dieldrin adalah gigih, bioacculumative, danberacun (PBT) polutan yang ditargetkan oleh
EPA.
Gambar Molekul Dieldrin

Dieldrin memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

 Memiliki nama ilmiah 3,4,5,6,9,9-Hexachloro-1a, 2,2 a, 3,6,6 a, 7,7 a-octahydro-2


,7:3,6-dimethanonaphth [2,3-b] oxirene,
 Memiliki nama lain (nama dagang) Alvit, Dieldrite, Dieldrix, Illoxol, Panoram D-31,
Qunitox.
 Bentuk fisik dieldrin berupa Kristal putih atau serbuk berwarna cokelat, tidak berbau,
atau sedikit bau.
 Dieldrin tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organic, lemak, dan minyak.
 Dieldrin pada awalnya adalah aldrin yang sudah teroksidasi menjadi dieldrin yang
merupakan senyawa aktif.
 Dieldrin dapat dibentuk dari sintesis hexachloro-1 ,3-siklopentadiena dengan
norbornadiene dalam reaksi Diels-Alder, diikuti oleh epoksidasi dari cincin
norbornena.

Gambar Sintesa Dieldrin

Dalam kondisi normal dieldrin berupa Kristal putih yang memiliki bau kimia yang samar.
Dieldrin mudah menguap dan dalam bentuk murni meleleh pada suhu 176 derajat celcius, tetapi
bentuk-bentukmurni memilikititik lebur lebih rendah sekitar 95 derajat Celsius. Dieldrin tidak
larut dalam air, tetapi mudah campur dengan pelarut, lemak dan minyak organic. Dieldrin
merupakan bagian dari “drin” kelomok pestisida, dank arena itu memiliki sifat yang mirip
dengan anggota kelompok lain seperti aldrin, diedrin, dan isodrin.

Dieldrin mulai diproduksi pada tahun 1948 oleh J. Hyman & Co,sebagai insektisida. Dieldrin
telah terbukti sangat efektif dan banyak digunakan selama tahun 1950 hingga awal tahun 1970-
an. Secara luas digunakan didaerah pertanian diseluruh dunia terutama pada buah, tanah, dan
biji. Dieldrin memiliki waKtu paruh 5 tahun, sehingga tetap bertahan dalam tanah dalam waktu.
lama. Pada tahun 1981, penggunaan dieldrin terbatas pada tebu dan pisang. Dieldrin mudah
terserap melalui pernafasan, tertelan, atau kulit Didalam tubuh,sebagian besar dieldrin
dimetabolisme, dan dreversikan dalam feses dan sisanya di dalam sel lemak. Memerlukan
beberapa mimggu dan tahun untuk meninggalkan tubuh.

Efek Terhadap Manusia

Sebagai pencemar POPs yang berbahaya, dieldrin memiliki efek terhadap kesehatan manusia,
yakni :

 Orang yang terpapar dieldrin dalam jumlah besar, bisa menyebakan kejang-kejang dan
kematian.
 Paparan pada tingkat rendah dan menengah bisa mengakibatkan sakit kepala, pusing,
lekas marah, muntah, dan gerakan otot tak terekendali.
Dieldrin masuk ke dalam tubuh bisa melalui udara yang dihirup, konsumsi air atau makanan
yang terkontaminasi atau melalui kontak mulut. Namun papparan terbesar dieldrin ke tubuh
bisa terjadi melalui makan yang terkontaminsi, Menghirup dieldrin tingkat sedang selama
jangka waktu tertentu bisa menyebabkan berbagai efek yang bisa merugikan
kesehatan,termasuk sakit kepala, pusing, otot tak terkendali, gerakan lekas marah, dan muntah.
Menelan dieldrin bisa mneyebabkan mual, muntah, dan diare. Menelan dalam jumlah besar
bisa menyebabkan gejala kasus kematian. Kontak kulit dengan dieldrin dalam jumalah besar
bisa menyebakan iritasi kulit. Aldrin bereaksi menjadi dieldrin didalam tubuh sehingga paparan
aldrin bisa meningkatkan paparan dieldrin didalam tubuh.

Efek Terhadap Lingkungan


 Kondisi ini dapat bertahan selama beberapa minggu setelah terpapar, tetapibelum
terbukti permanen.
 Dieldrin memiliki resiko 40 sampai 50 kali lebih beracun daripada DDT.
 Dieldrin bisa mneyebakan pperubahan enzimatik ataupun hormonal pada ikan yang
bisa menyebakan gangguan kemampuan reproduksi.
Dieldrin sangat beracun bagi organism akuatik,dan dapat terakumulasi dalam lingkungan
terutama lemak hewan. Dieldrin mengikat kuat dalam partikel tanah dan tidak mudah terurai.
Dieldrin sedikit merembes ke air tanah. Dieldrin yang sudah menguap dari atmosfir mungkin
berjalan jauh sebelum kembali disimpan ditempat lain. Oleh karenanya dieldrin digolongankan
sebagai” Polutan organic yang persisten”.

C.Endrin

ENDRIN adalah pestisida yang memiliki nama IUPAC 3,4,5,6,9, 9-


Hexachlorodimetanonapth [2,3-b] oxirene, rumus struktur C12H8Cl6O yang memiliki masssa
molar 380,91 g/mol dan titik lebur 200oC, titik didih 245°C, dan kadar kelarutan dalam air
sebesar 220-260 μg/L pada 25°C;. Nama dagang yang sering digunakan untuk endrin adalah
Compound 269, Endrex, Hexadrin, Isodrin Epoxide, Mendrin, Nendrin. Zat ini pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1952 di Amerika Serikat.
Kandungan
Dosis yang aman kurang dari 4,5 mg/kg
Cara kerja : Endrin diproduksi melalui berbagai tahapan dari hexachlorocyclopentadiene,
yang kemudian ditambahkan lagi hexacloronorbornadiene dan terakhir ditambahkan
sikl;op[entadiena sehingga menjadi endrin.
Digunakan untuk
-obat semprot untuk mengendalikan hama serangga kapa, padi,tebu, gandum, gula bit,
tembakau.
-digunakan dikebun untuk membasmi binatang pengerat, dengan cara disemprotkan ditanah
dibawah pohon pada musim gugur maupun musim semi
.
Efek samping:
- Pada mannusia :. Endrin akan bersifat racun jika tertelan dengan kadar mencapai 7,5
mg/kg makanan. Keracunan akut endrin pada manusia terutama mengganggu system
syaraf, dengan gejala hipereksitabilitas pada gerakan, yang dapat meliputi kedutan
otot, sentakan mioklonik, dan serangan kejang-kejang.

- EPA USA menetapakan air tawar yang mengadung endrin akut jika terdapat
0,086ug/L dan kriteria kronis pada 0,036ug/L. Untuk air asin jumlah endrin dikatakan
kronis jika mencapai 0,0023 ug/L dan criteria akut jika terdapat 0,037 ug/L.
Jika tertelan :
kejang pada manusia.Dosis yang sangat rendah dapat menyebabkan kematian pada hewan.
Pemberian bahan ini melalui makanan terhadap mencit dan tupai yang hamil menyebabkan
tingginya tingkat kejadian kematian pada janin dan kelainan bawaan.

Jika terkena kulit :


menyebabkan iritasi pada kulit. Dosis letal pada kelinci secara absorpsi melalui kulit adalah
sebesar 60 mg/kg.

.: ENDRIN :.
[ENDRIN]

Endrin

Rumus Molekul : C12H8Cl�6�O


Massa Molekul : 390,93 Dalton
1. PENANDA PRODUK
NOMOR : 72-20-8
REGISTER CAS
NOMOR HS : 2910.90.00.00
NOMOR UN : 2761

Sinonim dan nama dagang


2,7:3,6-Dimethanonaphth(2,3-B)oxirene, 3,4,5,6,9,9-hexachloro-1a,2a,3,6,6a,7,7a-octahydro-
,(1a alpha, 2beta, 2a beta, 3 alpha, 6 alpha, 6a beta, 7 beta, 7a alpha; 1,4:5,8-Dimethano-
naphtalene,1,2,3,4,10,10-hexachloro-6,7-epoxy-1,4,4a,5,6a,7,8,8a-octahydro-, endo, endo-;
(14, 4S, 4aS, 5S, 6S, 7R, 8R, 8AR)-1,2,3,4,10,10-hexachloro-1,4,4a,5,6,7,8,8a-oxctahydro-
6,7-epoxy-1,4,4a,5,6,7,8,8a-octahydro-2,7:3,6-dimethanonaphth(2,3-B)oxirene.

2. SIFAT KIMIA DAN FISIKA


a. Keadaan fisik : Padatan berbentuk serbuk kristalin, berwarna
putih, tidak berbau
b. Titik lebur : Mendekati 200oC
c. Suhu dekomposisi : 245 oC

d. Batas dapat terbakar : 1,1%-7% campuran dengan ksilen di udara

e. Tekanan uap : 0,0000002 mmHg pada 25 �C


f. Berat Jenis : 1,70 pada 20 �C (air = 1)
g. Ambang Bau : 1,80x10-2 bpj
h. Log Kow : 5,20
i. Kelarutan : Kelarutan dalam air 0,23 bpj
Larut dalam aseton, benzena, karbon
tetraklorida, heksana, xilena, senyawaan ester,
senyawaan keton, pelarut aromatik. Larut sedikit
dalam alkohol, hasil sulingan petroleum. Tidak
larut dalam methanol.

3. ELEMEN LABEL BERDASARKAN GHS


c. Piktogram Bahaya :

d. Kata Sinyal : "BAHAYA"


e. Pernyataan bahaya :  Fatal jika tertelan
 Fatal jika terkena kulit
 Menyebabkan iritasi kulit
 Menyebabkan iritasi pada mata
 Dapat merusak fertilitas atau janin
 Dapat membahayakan bagi yang menyusui
 Sangat toksik bagi kehidupan akuatik baik
jangka pendek maupun jangka panjang
f. Pernyataan kehati-hatian :  Jangan sampai kena mata, kulit atau pakaian
(hanya memuat sebagian  Jangan lakukan apapun sebelum membaca
dari pernyataan kehati- dan memahami petunjuk keselamatan
hatian yang ada)  Kenakan sarung tangan/ pakaian pelindung
sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan
oleh produsen/ pemasok atau pihak
berwenang yang kompeten
 Hindari kontak selama hamil/ menyusui
 Hindarkan emisi ke lingkungan
 Dilarang makan, minum atau merokok
sewaktu menggunakan bahan ini
 Basuh dengan seksama sesudah menangani
bahan ini
 Jangan menghirup debu atau kabutnya

4. PENYIMPANAN
Pisahkan dari bahan-bahan tidak tercampurkan (incompatible). Lindungi dari kerusakan fisik.
Simpan di luar atau dalam gedung yang terpisah. Simpan bersama-sama dengan cairan
mudah terbakar. SImpan dalam tempat yang sejuk dan kering. Ventilasi diperlukan. Hindari
panas, nyala api, percikan dan sumber nyala lainnya.

5. PENGGUNAAN
Sebagai bahan aktif pestisida, namun sudah dilarang menurut Konvensi Stockholm dan
Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001.
Rekomendasi dari US EPA : tidak direkomendasikan sebagai pestisida yang boleh digunakan
, tetapi dapat digunakan sebagai pengganti sesuai dengan kebutuhan.
e. Alat pelindung diri :
 Respirator :
Respirator dan
konsentrasi
maksimum
penggunaan berikut
dikutip dari NIOSH
dan/atau OSHA.
Peralatan pelindung
penafasan harus
disertifikasi oleh
NIOSH/OSHA.
Jenis respirator yang
digunakan
 Paparan 1 mg/m3
o Respirator
selongsong kimia
jenis apa saja dengan
selongsong uap
organik serta filter
debu dan kabut.
o Respirator pasokan
udara jenis apa saja.
 Paparan 2 mg/m3
o Respirator pasokan
udara jenis apa saja.
o Respirator pemurnian
udara bertenaga
mesin jenis apa saja
dengan pelindung
wajah penuh,
selongsong uap
organik dan filter
partikel berefisiensi
tinggi.
o Respirator
selongsong kimia
jenis apa saja dengan
pelindung wajah
penuh,
selongsong uap
organik, dan filter
partikel berefisiensi
tinggi.
o Respirator pemurnian
udara jenis apa saja
dengan pelindung
wajah penuh,
selongsong uap
organik dan filter
partikel berefisiensi
tinggi.
o Alat pernafasan seba
lengkap jenis apa saja
dengan pelindung
wajah penuh.
o Respirator pasokan
udara jenis apa saja
dengan pelindung
wajah penuh.
 Tindakan
penyelamatan
o Respirator pemurnian
udara jenis apa saja
dengan pelindung
wajah penuh,
selongsong uap
organik dan filter
partikel berefisiensi
tinggi.

o Alat pernafasan serba


lengkap jenis apa saja
yang sesuai.
 Untuk konsentrasi yang
tidak diketahui atau
dengan seketika/
langsung berbahaya
terhadap kehidupan atau
kesehatan
o Respirator pasokan udara
jenis apa saja dengan
pelindung wajah penuh
yang dioperasikan sesuai
dengan tekanan yang
dibutuhkan atau mode
tekanan-positif lainnya
dikombinasikan dengan
peralatan pasokan udara
keselamatan yang
terpisah.
o Alat pernafasan serba
lengkap jenis apa saja
yang dilengkapi
pelindung wajah penuh.
 Pelindung Mata :
Gunakan kacamata keselamatan yang tahan percikan dengan pelindung
wajah. Sediakan kran air pencuci mata untuk keadaan darurat dan semprotan
air deras di sekitar lokasi kerja.

 Pakaian :
Gunakan pakaian pelindung tahan bahan kimia yang sesuai

 Sarung Tangan :
Gunakan sarung tangan tahan bahan kimia yang sesuai.

 Sepatu : Data tidak tersedia


12. TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA
a. Jika terhirup : Jika aman untuk memasuki
area, jauhkan korban dari
paparan. Gunakan masker
berkatup atau peralatan sejenis
untuk melakukan pernafasan
buatan (pernafasan
keselamatan). Pertahankan
suhu tubuh korban dan
istirahatkan. Segera bawa ke
dokter.
Catatan untuk dokter : Jika
terhirup, pertimbangkan
pemberian oksigen
b. Jika tertelan : Segera hubungi dokter. Jangan
dirangsang untuk muntah atau
memberikan minum kepada
korban yang tidak sadar. Jika
terjadi muntah, jaga posisi
kepala agar lebih rendah dari
pinggul untuk mencegah
aspirasi. Jika korban tidak
sadar, putar posisi kepala ke
samping. Segera bawa ke
dokter.
Catatan untuk dokter : Jika
tertelan, pertimbangkan
pembilasan lambung dan
pemberian bubur karbon aktif.
Pertimbangkan pemberian
oksigen. Hindari pemberian
lemak.
c. Jika terkena mata : Cuci mata segera dengan air
yang banyak atau
menggunakan larutan garam
fisiologis, sambil sesekali
membuka kelopak mata atas
dan bawah hingga tidak ada
bahan kimia yang tertinggal.
Segera bawa ke dokter.

d. Jika terkena kulit : Petugas tanggap darurat harus


mengenakan sarung tangan dan
menghindari kontaminasi.
Lepaskan segera pakaian,
perhiasan dan sepatu yang
terkontaminasi. Lepaskan
segera pakaian, perhiasan dan
sepatu yang terkontaminasi.
Cuci bagian yang
terkontaminasi dengan sabun
atau deterjen lunak dengan air
yang banyak hingga tidak ada
bahan kimia yang tertinggal
(setidaknya selama 15-20
menit). Segera bawa ke dokter
jika diperlukan.
13. TINDAKAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN
a. Bahaya ledakan : Bahaya kebakaran tinggi. Mudah terbakar jika terkena
dan kebakaran panas, percikan atau nyala. Uapnya dengan udara/debu
membentuk campuran yang mudah meledak. Uap
bahan ini lebih berat dari udara, dapat bergerak kearah
sumber api dan dapat berbalik.
b. Media pemadam : Bahan kimia kering (dry chemical), busa, dan air. Bila
terjadi kebakaran besar : gunakan busa atau dengan
menyemprotkan air yang banyak.
c. Tindakan : Pindahkan kemasan dari lokasi kebakaran jika dapat
pemadaman dilakukan tanpa risiko. Padamkan api besar dari lokasi
yang terlindungi atau jarak yang aman. Jaga agar
posisi jauh dari ujung tangki. Bendung tumpahan
untuk pembuangan lebih lanjut. Jangan
menghamburkan bahan yang tumpah dengan aliran air
bertekanan tinggi.
d. Produk pembakaran : Data tidak tersedia
yang berbahaya

14. TINDAKAN PENANGANAN TUMPAHAN/ BOCORAN


Cara penanggulangan tumpahan/ bocoran jika terjadi emisi:

a. Di tempat kerja :  Jangan sentuh bahan yang tumpah. Hentikan


kebocoran jika dapat dilakukan tanpa risiko.
Tutup area tumpahan, kumpulkan tumpahan
dalam kemasan yang cocok, aman dan ditutup
rapat untuk reklamasi lebih lanjut. Tumpahan cair
yang mengandung endrin, absorbsikan dengan
pasir kering atau tanah.
 Tumpahan sedikit : Absorbsi dengan
menggunakan pasir atau bahan lain yang tidak
dapat terbakar. Kumpulkan tumpahan ke dalam
kemasan yang sesuai untuk pembuangan.
 Tumpahan sedikit dan kering : Jauhkan kemasan
dari lokasi tumpahan dan pindahkan ke tempat
yang aman.
 Tumpahan banyak : Bendung untuk pembuangan
lebih lanjut. Isolasi daerah bahaya dan orang yang
tidak berkepentingan dilarang masuk. Beri
ventilasi pada tempat yang tertutup sebelum
memasuki area.
b. Ke udara : Kurangi uap dengan menyemprotkan air. Jaga agar posisi
korban berdiri tidak berlawanan arah angin dan hindari
daerah yang rendah.
b. Ke air : Bahan yang tumpah dibendung dengan bendungan di
dasar penahan air cekung, area penahan yang digali atau
dalam palang kantong pasir. Absorbsi dengan karbon
aktif. Pindahkan bahan yang dibendung dengan selang
penghisap. Kumpulkan bahan yang tumpah menggunakan
peralatan mekanis. Jauhkan dari tempat persediaan air
dan saluran pembuangan air limbah.
d. Ke tanah : Gali tempat penampungan seperti lagoon, kolam atau
lubang. Tutupi dengan lembaran plastik untuk
mengurangi penyebaran dan melindungi dari kontak
terhadap air.

2.Organofosfat

A.Diazonin

Diazinon termasuk ke dalam golongan organofosfat.

a. Kandungan
Bahan aktif dalam pestisida diazinon adalah diazinon itu sendiri.
b. Dosis
Dosis diazinon berbeda-beda, tergantung pada merk yang dipakai dalam pengguanna
untuk pestisida.
 Basazinon = kadar diazinon 45gr/l
 Basudin 60 EC = kadar diazinon 60gr/l
 Diazinon 60 EC = kadar diazinon 60 gr/l
 Sidazinon 600 EC = kadar diazinon 600 gr/l
c. Pengaruh pestisida diazinon bagi tubuh

Secara umum, organofosfat merupakan insektisida yang paling toksik diantara pestisida
lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada manusia, diazinon merupakan komponen
organophosphat yang paling banyak digunakan. Efek sistemik yang timbul pada manusia
ataupun pada binatang percobaan yang terpapar, baik secara inhalasi, oral, ataupun melalui
kulit, terutama disebabkan oleh penghambatan enzim asetilkolinesterase (AChE) oleh
Diazoxon, senyawa metabolit aktif dari diazinon.

Penghambatan enzim asetilkolinesterase (AChE) terjadi pada hubungan antara saraf dan
otot, serta pada ganglion sinap. Secara normal, asetilkolin dilepaskan melalui perangsangan
pada saraf, yang kemudian akan diteruskan dari motor neuron ke otot volunter, misalkan pada
bronkus atau jantung. Asetilkolin yang dilepaskan tersebut kemudian akan dihidrolisis menjadi
kolin dan asam asetat oleh enzim asetilkolinesterase.

Sebagai antikolinesterase organofosfat, diazinon menghambat AChE dengan membentuk


kompleks fosforilasi yang stabil, sehingga tidak mampu memecah asetilkoline pada hubungan
antara saraf dan otot, serta pada ganglion sinap, sehingga terjadi penumpukan asetilkoline pada
reseptor asetilkolin, yang menyebabkan terjadinya stimulasi yang berlebihan dan berkelanjutan
pada serat-serta kolinergik pada parasimpatis postganglionik, hubungan neuromuskular pada
otot skeletal, dan hiperpolarisasi dan desentisasi sel-sel pada sistem saraf pusat.

d. Efek yang ditimbulkan

Efek yang ditimbulkan oleh pestisida diazonin antara lain:

 Perangsangan terhadap parasimpatik post-ganglionik, yang berefek pada beberapa


organ, antara lain kontriksi pada pupil (miosis), perangsangan terhadap kelenjar
(salivasi, lakrimasi, dan rhinitis), nausea, inkontinensia urin, muntah, nyeri perut, diare,
bronkokontriksi, bronkospasme, peningkatan sekresi bronkus, vasodilatasi,
bradikardia, dan hipotensi.
 Efek nicotinik, terjadi akibat penimbunan asetilkolin pada hubungan otot skeletal dan
simpatism preganglionik. Gejal-gejala yang muncul seperti muscular fasciculations,
kelemahan, midriasis, takikardia, dan hipertensi.
 Efek pada sistem saraf pusat terjadi akibat penimbunan asetilkolin pada tingkat
cortical, subcortical, dan spinal, terutama pada korteks serebral, hipocampus, dan
sistem motorik ekstrapiramidal. Gejala-gejalanya seperti depresi pernafasan, cemas,
insomnia, nyeri kepala, lemas, gangguan mental, gangguan konsentrasi, apatis,
mengantuk, ataksia, tremor, konvulsi, dan koma.
 Hambatan aktivitas AChE berhubungan dengan stres oksidatif pada sel darah. Jika
antioksidan dalam tubuh tidak mampu menangani radikal bebas yang terbentuk akibat
terhambatnya AChE, radikal bebas ini akan merusak sel-sel, dan menyebabkan
terjadinya stres oksidatif.
 Efek toksik Diazinon juga terjadi pada sel hati, dimana Diazinon juga meningkatkan
pelepasan glukosa ke darah dengan jalan mengaktifkan glikogenolisis dan
glukoneogenesis, sehingga menjadi predisposisi terjadinya Diabetes Mellitus.

Selain itu diazinon merupakan insektisida yang bekerja sebagai racun kontak, racun perut:

 Racun perut

Pestisida yang termasuk golongan ini pada umumnya dipaka iuntuk membasmi
serangga-serangga pengunyah, penjilat, dan penggigit. Daya bunuhnya melalui perut.

 Racun kontak

Pestisida jenis racun kontak, membunuh hewan sasaran dengan masuk ke dalam tubuh
melalu ikulit, menembus saluran darah, atau dengan melalui saluran nafas.

e. Organ yang terkena

Otak, sistem pencernaan, otot serta sel-sel otot yang lain, jantung, sel-sel saraf, hati,
pembuluh darah, dan mata.

B.Parathion

 Dosis
Dosis yang dianjurkan 0,5 – 1,5 kg/ha untuk penyemprotan di lapangan.
 Farmakologi / Mekanisme
Efek farmakologis dari parathion itu ada 2 :
1. Kronis, jika paparan nya terus menerus
2. Akut, jika hanya sekali paparan

Organofosfat mengikat enzim acetylcholinesterase ( Ache). Karena organofosfat


memiliki bentuk yang mirip dengan substrat alami dari enzim acetylcholinesterase
(Ache)

Akibat dari mengikat enzim acetylcholinesterase tersebut adalah menyebabkan


terjadinya penghambatan kerja enzim AChe. Sehingga, menyebabkan akumulasi
Acetylcholine (Ach). Dan jika Acetylcholine (Ach) nya berlebihan, hal tersebut akan
menyebabkan rangsangan saraf berlebihan.
 Dampak
 Bagi Lingkungan
1. Sangat berbahaya bagi serangga.
2. Hal ini juga beracun bagi mamalia saat diserap melalui kulit, terlebih
lagi saat dihirup.
3. Hal ini juga sangat beracun bagi ikan air tawar.
 Bagi Kesehatan
- Gejala akut :
1. Kram perut
2. Diare
3. Air liur yang berlebihan
4. Sakit kepala
5. Lemas
6. Sulit bernapas
7. Kabur atau redup penglihatan
8. Kejang
9. Depresi sistem saraf pusat
10. Kelumpuhan
11. Koma
- Gejala kronis :
1. mual
2. Sakit kepala yang tertekan

3.KARBAMAT

A. Baygon

Baygon merupakan pembasmi hama seperti kecoak,tikus dan lain-laon.Baygon


mengandung racun utama yaitu propoxur .Propoxur adalah senyawa karbamat (senyawa
antaranya, MIC, pernah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan kerusakan syaraf ratusan
ribu orang lainnya dalam kasus Bhopal di India) yang telah dilarang penggunaannya di luar
negeri karena diduga kuat sebagai zat karsinogenik, sedangkan transfluthrin relatif aman
hingga saat ini.

Propoxur digolongkan berbahaya karena daya racunnya tinggi. Jika terhirup maupun
terserap tubuh dapat mengaburkan penglihatan, keringat berlebihan, pusing, sakit kepala, dan
badan lemah. Propoxur juga menurunkan aktivitas enzim yang berperan pada saraf transmisi,
dan berpengaruh buruk pada hati dan reproduksi. Di Amerika, propoxur hanya diizinkan
terbatas untuk perkebunan dan pertanian dengan catatan para pekerjanya harus menggunakan
peralatan pelindung.

Senyawa Kimia (Propoxur)


B.Bayrusil

 Penggunaan
Insektisida(untuk membasmi serangga), nematisida(untuk membasmi cacing),
regulator(pengatur kecepatan dari) pertumbuhan tanaman.

 Cara kerjanya adalah

Menghambat AChE (acetylcholinesterase), menyebabkan hyperexcitation. AChE adalah


enzim yang mengakhiri aksi rangsang neurotransmiter asetilkolin pada sinapsis saraf. dengan
mengganggu fungsi normal system saraf. Impuls saraf ditransmisikan dari satu saraf ke saraf
lainnya melalui senyawa kimia yang disebut acethylcholine. Pada kondisi normal, enzim
yang disebut acetylcholinesterase menghancurkan acetylcholine agar impuls saraf lainnya
dapat ditransmisikan. Karbaril akan menghentikan fungsi dari enzim acetylcholinesterase ini,
dengan demikian tidak ada lagi yang menghancurkan acetylcholine, hal ini dapat
menimbulkan kejang, kebingungan, kelumpuhan, dan pada akhirnya kematian pada serangga.
 Efek samping
Iritasi, keluar air mata, mual, muntah, diare, sakit perut, sakit dada, sesak nafas, detak
jantung tidak beraturan, sakit kepala, pusing, gangguan penglihatan, dilatasi pupil,
kongesti paru, konvulsi, koma.
efek dari keracunan karbamat biasanya reversible (dapat pulih) dan durasinya singkat.
Selain itu golongan karbamat juga memiliki residu yang tidak dapat betahan lama di
alam.

Risiko utama: Berbahaya jika tertelan, iritasi saluran pernafasan, kulit, dan mata, serta
kerusakan sistem saraf.
Sasaran organ: Sistem pernafasan, kulit, hati, ginjal, sistem saraf, sistem kardiovaskuler.
efek dari keracunan karbamat biasanya reversible (dapat pulih) dan durasinya singkat. Selain
itu golongan karbamat juga memiliki residu yang tidak dapat betahan lama di alam.
4.Dinitrofenol
DNOC, menurut IUPAC merupakan singkatan dari nama kimianya yaitu 4,6-dinitro-o-cresol.
Sementara nama kimia menurut Chemical Abstract adalah 2-metil-4,6-dinitrofenol atau DNP.

a. Struktur
• Bahan kimia ini adalah bubuk kristal kuning yang memiliki bau apek, sedikit larut dalam air,
dan mudah menguap dengan uap. (6) Ambang bau untuk 2,4-dinitrophenol tidak tersedia.
• berat molekul 184,11 g / mol
• Tekanan uap untuk 2,4-dinitrophenol adalah 1,42 x 10 mmHg pada 25 ° C, dan koefisien
partisi log oktanol / air (logK) adalah 1,91

b. Jenis
• Berdasarkan struktur atau golongan zat kimianya:
Senyawa dinitrofenol termasuk pestisida sintetik

• Berdasarkan penggunaan dan jenis zat kimianya:


Senyawa dinitrofenol termasuk herbisida

• Sebagai insektisida dan akarisida non sistemik, DNOC bekerja sebagai racun kontak dan
racun perut.
• Sebagai herbisida, DNOC bersifat kontak.
• Untuk menekan pertumbuhan tanaman dan juga sebagai bahan peledak

c. Kandungan
• Digunakan dalam bentuk dinitrophenol saja atau dalam bentuk garamnya atau amine amine
alifatiknya atau alkali alkalinya
d. Dosis
• LD50 oral (tikus) sebesar 25-40 mg/kg berat badan, LD50 dermal (tikus) 200-600 mg/kg, dan
NOEL (6 bulan, tikus)> 100 mg/kg diet. DNOC diserap oleh kulit dan menimbulkan iritasi
kulit.
• Efek toksik sering muncul pada konsentrasi darah lebih dari 30 mg / l sedangkan konsentrasi
yang lebih besar dari 60 mg / l dikaitkan dengan toksisitas berat.

e. Cara kerja
Dinitrofenol ini merupakan pirogen eksogen karena bersifat sangat toksik. Pirogen eksogen
mula-mula merangsang fagosit untuk membentuk pirogen tubuh sendiri, yang kemudian melalui
peningkatan sintesis prostagladin akan menimbulkan reaksi kenaikan suhu tubuh dengan cara
menyempitkan pembuluh darah tepi dan menghambat sekresi kelenjar keringat. Sehingga terjadi
ketidakseimbangan pembentukan dan pengeluaran panas.

f. Efek samping
 Pada manusia:
Gejala gejala keracunannya berupa :

1. Nausea
2. Distensi ventriculus,
3. Gelisah,
4. Kulit hangat dan merah,
5. Banyak berkeringat,
6. Repirasi cepat,
7. Demam,
8. Dehidrasi
9. Tachycardia,
10. Cyanosis,
11. Collaps,
12. Coma

Proses peracunan ini berlaku cepat dan berakhir dengan kematian setelah 24-48 jam.
Penggunaan jangka panjang dapat memicu perkembangan katarak, lesi pada kulit, serta
membahayakan jantung dan sistem saraf. Ada bukti bahwa DNP dapat menyebabkan kanker dan
meningkatkan risiko cacat lahir.
 Pada lingkungan
DNP membentuk garam eksplosif dengan basa kuat dan amonia, dan memancarkan uap
nitrogen nitrogen beracun saat dipanaskan hingga dekomposisi.

 Pada hewan
a. Menyebabkan toksisitas akut pada tikus
b. Berpengaruh terhadap pembentukan sumsum tulang belakang, SSP, dan sistem
kardiovaskular.

 Pada tumbuhan

Konsentrasi rendah Dinitrofenol biasanya merangsang pertumbuhan alga. Konsentrasi yang lebih
tinggi menghambat atau menghentikan pertumbuhan. Ganggang hijau klorococcal lebih sensitif
daripada alga hijau dan biru-hijau berserat. Dua dari empat spesies sensitif dan toleran ditanam
bersama dalam kultur campuran yang diolah dengan Dinitrofenol. Spesies toleran menurunkan
toksisitas herbisida menjadi ganggang sensitif. Efek perlindungan tidak muncul saat Scenedesmus
acutus digunakan sebagai spesies toleran.

g. Contoh
 Dinex: rheumatoid factor (askarida dan fungisida)
 Morocidho 40 EC

5.Pyretroid
A.Deltametrin

Deltamethrin

Deltamethrin merupakan salah satu jenis insektisida pyretroid ester yang banyak digunakan
untuk membunuh serangga pengganggu pada bidang pertanian.

Struktur Kimia
Cara Kerja Deltamethrin

Deltamethrin dapat menyebabkan kelumpuhan pada serangga hingga lebih dari 10 jam, dan
setelah itu serangga akan mati. Deltamethrin bekerja dengan cara menyerang sistem saraf dari
serangga. Deltametrhin dapat berikatan kuat dengan reseptor Na+ gate yang menyebabkan Na+
gate terus menerus terbuka. Hal ini menyebabkan saraf serangga menjadi terdepolarisasi secara
terus-menerus sehingga otot-otot motoric pada serangga menjadi tegang atau tetani karena
dirangsang secara terus menerus. Kekakuan otot ini lah yang menyebabkan serangga menjadi
lumpuh dan akhirnya mati.

Contoh Deltamethrin

Deltamethrin dipasarkan dengan bentuk dan nama yang berbeda-beda sesuai dengan
produsennya. Deltametrin dapat berbentuk cair maupun padatan (kapur) Beberapa produk yang
mengandung deltametrin diantaranya:

1. Delta 25 ec
2. Delfox 25 ec
3. Delta Jet 28 ec
4. Kapur Bagus

Dosis Pemakaian
Efek Samping bagi Manusia

- Apabila tertelan dapat menyebabkan mual, muntah, pusing


- Apabila terhirup dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan sesak napas, pusing,
tidak sadarkan diri, lumpuh
- Dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan kematian

B.Sipermetrin
SIPERMETRIN adalah pestisida yang efektif untuk mengatasi pencemaran insektisida
terhadap berbagai hama serangga, terutama daun dan buah.
Sipermetrin mengandung alfa-siano-3-fenoksibensil termasuk golongan piretroid. Piretroid
adalah racun axonic, yaitu beracun terhadap serabut saraf.
Insektisida berbahan aktif Cypermethrin 100 g/l pada dosis 100; 150 dan 200 ml/ha dengan
pelarut solar yang diaplikasikan secara pengasapan (thermal fogging), efektif digunakan
untuk membunuh nyamuk vektor DBD Ae.aegypti, vektor ! lariasis Cx.quinqefasciatus dan
vektor malaria An.aconitus di dalam dan di luar rumah dengan tingkat kematian 100%.
6.Fumigan
Fumigan adalah senyawa atau campuran yang menghasilkan gas atau uap atau asap
untuk membunuh serangga , cacing, bakteri, dan tikus.

a. Kandungan
Biasanya fumigant merupakan cairan atau zat padat yang mudah menguap atau
menghasilkan gas yang mengandung halogen yang radikal (Cl, Br, F), misalnya
chlorofikrin, ethylendibromide, naftalene, metylbromide, formaldehid, fostin.

b. Dosis
Verifikasi jenis hama untuk mengetahui jenis hama yang akan difumigasi karena
berpengaruh pada dosis yang akan digunakan. Namun penggunaan dosis juga
tergantung pada jenis komoditas dan permintaan pelanggan/ketentuan negara tujuan.

c. Cara Kerja
Uap sebagai fumigant umumnya melewati epidermis atau katup wereng masuk saluran
pernafasan, sehingga penetrasi ke dalam darah untuk menyebabkan keracunan hama
untuk mati. Efeknya insektisida umumnya diyakini tindakan kimia enzim. Seperti metil
bromida dapat dikombinasikan dengan belerang-hidrogen, sehingga menghasilkan
berbagai enzim dalam hama inhibisi terbalik dan ireversibel.

d. Efek ke tanaman

1) Penurunan daya tumbuh


Daya tumbuh benih adalah munculnya unsur – unsur utama dari lembaga dari suatu
benih yang diuji yang menunjukkan kemampuan untuk menjadi tanaman normal
apabila ditanam pada lingkungan yang sesuai bagi benih tersebut.
Fumigasi pada bibit tanaman dapat mengakibatkan penurunan daya tumbuh. Toleransi
dari setiap bibit terhadap metil bromida berbeda satu dengan lainnya, tetapi banyak
yang terpengaruh walaupun hanya dengan satu kali fumigasi pada dosis normal. Bila
fumigant harus digunakan untuk fumigasi bibit, gunakanlah dosis yang lebih rendah
(misalnya 10 g/m3).
2) Pembentukan residu
Fumigasi komoditas dengan dosis yang tinggi atau yang aerasinya kurang baik dapat
mengakibatkan residu yang berlebihan pada bahan makanan.
3) Pencemaran/noda (taint)
Fumigasi terhadap komoditas yang menyerap fumigan, misalnya terigu, tepung kedelai
atau kacang, terutama pada dosis yang tinggi, dapat menghasilkan noda sulfur yang
nyata kelihatan, terutama pada waktu produk tersebut diolah. Roti yang dibuat dari
terigu yang telah difumigasi, dipotong dan dibungkus segera setelah dipanggang,
mungkin akan mempunyai bau yang khusus.

e. Efek terhadap manusia


Fumigan dapat menyebabkan :
kerusakan pada otak, sistem syaraf dan ginjal
terkumpulnya cairan dalam paru-paru
luka dan lepuh pada kulit

Pengaruh dari paparan (exposure) gas tergantung pada konsentrasi gas, jangka waktu
dan seringnya terkena paparan. Pengaruh yang buruk dapat terjadi tidak hanya
dikarenakan oleh paparan pada konsentrasi yang tinggi, tapi juga paparan terus menerus
atau berulang-ulang walaupun dalam konsentrasi rendah. Batas yang direkomendasikan
untuk paparan pada waktu bekerja terhadap metil bromida adalah 5 ppm (0,02 g/m3)
untuk 8 jam rata-rata waktu paparan, serta 15 ppm (0,06 g/m3) untuk 10 menit rata-rata
waktu paparan.

f. Tata Laksana

1. Siram kontaminasi fumigan dari kulit dan mata dengan jumlah berlebihan air atau
garam setidaknya selama 15 menit. Beberapa fumigan korosif terhadap kornea dan bisa
menyebabkan kebutaan. Perawatan medis khusus harus diperoleh segera menyusul
pembilasan. Kontaminasi kulit bisa menyebabkan terik dan dalam luka bakar kimia
Penyerapan beberapa fumigan di kulit mungkin cukup menyebabkan keracunan
sistemik karena tidak adanya inhalasi fumigan. Alasan untuk semua ini adalah
dekontaminasi mata dan kulit harus segera dan menyeluruh.
2. Pindahkan korban penghisapan fumigant ke udara segar dengan segera. Meskipun
gejala dan tanda awal ringan, jaga agar korban tetap tenang, dalam keadaan posisi semi-
reclining. Aktivitas fisik minimal membatasi kemungkinan edema paru.
3. Jika korban tidak bernafas, bersihkan jalan napas sekresi dan lakukan resusitasi
dengan positif
tekanan aparatus oksigen Jika ini tidak tersedia, gunakan kompresi dada
mempertahankan respirasi. Jika korban mengalami pulseless, lakukan resusitasi
jantung.
4. Mengelola pasien dengan tanda dan gejala keracunan parah, termasuk pulmonary
edema, gagal napas, syok, gagal ginjal dan kejang secara intensif unit perawatan.
5. Jika cairan fumigan atau padat telah tertelan kurang dari satu jam sebelum perawatan,
pertimbangkan pengosongan lambung, diikuti dengan arang aktif.
7. Pantau keseimbangan cairan dan periksa sedimen urin secara teratur untuk indikasi
cedera tubular ukur serum alkaline phosphatase, LDH, ALT, AST dan bilirubin
untuk menilai luka hati.
7.BAHAN AKTIF PETROLEUM
Minyak bumi yang dipakai sebagai insektisida dan miksida. Minyak tanah yang juga digunakan
sebagai insektisida

Minyak Tanah dan Solar (Insektisida dan Akarisida)


Definisi
Minyak didefinisikan sebagai cairan alami yang tidak larut didalam air, memiliki kekentalan
(viskositas), dan mudah terbakar. Beberapa jenis minyak dapat dilarutkan kedalam air dengan
bahan pengemulsi, seperti sabun atau senyawa alkali, untuk kemudian semprotkan ke tajuk
tanaman. Minyak yang biasa dipakai untuk mengendalikan hama bisa berasal dari tumbuhan,
binatang atau minyak bumi seperti minyak tanah dan minyak disel (solar). Minyak yang
dipakai untuk menyemprotkan hama biasanya disebut juga sebagai minyak holtikultura.
Kegunaan
Sampai saat ini minyak tetap merupakan alat yang penting untuk mengendalikan hama dari
golongan Insecta Arthropoda dan Homoptera yang merupakan bagian dari akarena seperti
kutu, tungau, aphid dan thrips pada pohon buah, sayuran (tomat, tanaman cabai, dan lain-
lain), tanaman hias, serta tanaman pangan. Selain sebagai insektisida, minyak dapat
mengendalikan jamur perusak tanaman seperti embun tepung dan embun jelaga. Minyak
dilaporkan juga dapat mengendalikan jamur Cerospora musae pada tanaman pisang. Minyak
dapat pula digolongkan sebagai fungistatik yang menghambat pertumbuhan jamur dengan
cara membuat lapisan pelindung yang mencegah spora jamur berkecambah.
Cara kerja
Penyemprotan minyak harus lebih sering dilakukan, karena minyak yang ada dipermukaan
daun lebih cepat menguap. Frekuensi penyemprotan yang dianjurkan setiap minggu dengan
konsentrasi dan dosis.
Konsentrasi yang disarankan jika memakai minyak tanah dan solar adalah 1%. Konsentrasi ini
diperoleh dari komposisi sebagai berikut:

 Tuangkan 10 mil minyak tanah atau solar kedalam 1 liter air


 Tuangkan 5 mil sabun cair sebagai pengemulsi
 Aduk sampai minyak menyatu (terlarut) kedalam air dengan bantuan pengemulsi
 Larutan minyak siap disemprotkan untuk tanaman
 Komposisi dengan jumlah besar maka harus mengikuti dosis tersebut

Efek samping

Minyak menunjukan efek yang berbeda terhadap hama tanaman dibandingkan dengan
insektisida lain yang telah dikenal. Pengaruh minyak yang terpenting adalah kemampuannya
menyumbat lubang masuk udara (spirake) untuk pernapasan serangga. Serangga akan mati
karena gas-gas beracun hasil metabolisme dari dalam tubuhnya yang tidak dapat dikeluarkan.
Arthropoda sangat sensitif terhadap sesuatu yang mengganggu proses respirasi walaupun untuk
waktu singkat. Pada beberapa kasus minyak juga beraksi sebagai racun yang berinteraksi
dengan asam lemak didalam tubuh serangga dan mengganggu proses metabolisme. Penelitian
terhadap nyamuk menunjukan minyak tanah dapat menembus membrane trachea dan
menggaggu aktivitas sel disekitarnya. Bukti lain juga menunjukan bahwa serangga muda
dengan lapisan integumen yang tipis dan lembut akan mudah dimasuki oleh minyak.

Kelemahan Minyak Sebagai Pestisida

Keterbatasan minyak sebagai pengendali hama tanaman adalah potensinya yang dapat merusak
atau meracuni tanaman. Dengan kata lain minyak memiliki fitotoksisitas yang tinggi. Pada
beeberapa kasus, sisa hasil penyemprotan minyak dapat mengrogoti permukaan daun dengan
meninggalkan noda kehitaman.
Hasil penyemprotan minyak dapat menutupi mulut daun (stomata) dan akan mengganggu
pernapasan (respirasi) tanaman. Jika pertukaran gas melalui stomata terlalu lama terhambat,
daun akan kehilangan warna normalnya, menjadi kekuningan dan akhirnya gugur. minyak juga
dapat merusak lapisan lilin permukaan daun.

Tingkat keracunan pada tanaman sangat ditentukan oleh dosis dan konsentrasi minyak yang
disemprotkan, serta kondisi iklim sekitar. Pada temperature yang tinggi, diatas 32oC, seperti
pada tengah hari, penyemprotan minyak kemungkinan besar akan menyebabkan kerusakan
tanaman. Konsentrasi larutan diatas 5% dapat meenyebabkan daun tanaman menjadi kuning.
Tanaman yang menyukai naungan, seperti kebanyakan tanaman hias di dalam ruangan,
umumnya lebih tahan terhadap minyak.

8.BAHAN AKTIF ANTIBIOTIK

Pestisida Antibiotika
Pestisida antibiotika merupakan senyawa kimia yang sangat baik untuk mengatasi penyakit
bakteri dan jamur pada tanaman. Berikut adalah jenis-jenis pestidia antibiotika:
Streptomisin
Streptomisin adalah antibiotika aminoglikosida, yang diperoleh dari Streptomyces griceus
dan spesies streptomyces lainnya. Streptomisin digunakan untuk mengendalikan sayur-
sayuran. Streptomisin bersifat bakterisid, bekerja dengan mengikat secara irreversibel
ribosom bakteri dan menghambat sintesa protein. Pada kadar tinggi, streptomisin dapat
bersifat fitotoksik pada tanaman, oleh karena itu penggunaannya cukup pada permukaan
tanaman dan tidak diinjeksikan.
Oksitetrasiklin
Dalam kelompok oksitetrasiklin mencakup oksitetrasiklin, hidroksitetrasiklin monoklorida
dan kalsium oksitetrasiklin. Oksitetrasiklin adalah pestisida antibiotika yang digunakan untuk
mengendalikan bakteri, jamur dan mikroplasma. Antibiotika ini dihasilkan secara alamiah
dari Streptomyces rimosus dengan aktivitas spektrum seperti klortetrasiklin dan tetrasiklin
dan bersifat termostabil. Pestisida ini terutama digunakan untuk mengendalikan fire blight
pada apel dan pir yang sudah resisten terhadap streptomisin, juga stone fruits pada pir dan
nektarin yang disebut bacterial spot disebabkan Xanthomonas arboricola pv. Pruni serta
penyakit kuning yang mematikan. Oksitetrasiklin juga didaftarkan untuk digunakan pada
tanaman hutan dan tanaman hias, semaksemak dan anggur. Di Amerika, penggunaan
oksitetrasiklin pada apel telah disetujui oleh Environmental Protection Agency (EPA) sebagai
pengecualian untuk keadaan darurat yang merupakan alternatif pengganti pada streptomisin
resisten.
Kasugamisin
Kasugamisin termasuk antibiotika golongan aminoglikosida dari Streptomyces kasugaensis,
termasuk dalam strain Streptomyces dan digunakan untuk mencegah pertumbuhan jamur
Pyricularia oryzae Cavara yang menimbulkan bercak (blast) pada tanaman padi dan tomat
juga dapat mencegah pertumbuhan bakteri pada bit, seledri, lada, kentang dan scab pada apel
dan pir.
Validamisin
Validamisin adalah antibiotika non sistemik untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur
yang dihasilkan dari Streptomyces hygroscopicus. Antibiotika ini digunakan untuk mengatasi
bercak pada daun padi dan mentimun. Validamisin tidak terdaftar di Amerika Serikat.
Antibiotika ini sangat efektif melawan penyakit-penyakit bakteri pada tanah dan juga untuk
mengendalikan Rhizoctonia solani pada tanaman padi, kentang, sayuran, tembakau dan lain-
lain, juga untuk mengatasi penyakit rebah kecambah pada saat persemaian sayuran, kapas,
kentang, bit, padi dan tanaman lain.

Blastisidin
Blastisidin merupakan antibiotik yang dihasilkan dari fermentasi Streptomyces
griseochromogens. Pestisida ini dengan dosis 1040g/ha, sangat baik untuk pengendalian
penyakit bercak pada tanaman padi, namun bersifat fitotoksik terhadap tanaman lain seperti
tomat, kentang, kedelai, tembakau. Oleh karena itu, blastisidin diberikan dalam bentuk garam
benzene amino benzene sulfonat untuk mengurangi sifat fitotoksiknya.