Anda di halaman 1dari 24

1

Mata kuliah : SISTEM RESPIRASI


Dosen : NERS

Formatted: Font: (Default) +Headings (Calibri Light),


12 pt

(PENYAKIT SARS)

Formatted: Font: (Default) +Headings (Calibri Light),


12 pt, Bold

SRI WAHYUNI SENE


B2 002 16 014

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEMESTER III
STIKES BARAMULI PINRANG
TAHUN 2017
Formatted: Left

1
2

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah yang Maha Esa atas
segala rahmatnya sehingga makaah ini dapat tersusun hingga
selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas
bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk ke
dpannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah
agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami
yakin masih banyak kekurangan dalam maklah ini, oleh karena itu
kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembca demi kesempurnaan makalah ini.

2
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i


DAFTAR ISI........................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................1
A. Latar Belakang............................................................................................. 2
B. Rumusan Masalah..................................................................................
C. Tujuan....................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................
A. Definisi rhinitis alergi ………………………………………………
B. Etiologi rhinitis………………………………………….
C. Klasifikasi rhinitis………………………………………
D. Patofisiologi rhinitis……………………………………
E. Manifestasi rhinitis……………………………………..
F. insiden rhinitis alergi…………………………………….
G. evaluasi diagnostik rinitis………………………………….
H. penatalaksanaan rhinitis alergi………………………….
I. komplikasi rhinitis alergi…………………….................

BABIII III PENUTUP..................................................................................................


A. Kesimpulan.............................................................................................
B. Saran.........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................

3
4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rinitis didefinisikan sebagai peradangan dari membran hidung yang
ditandai dengan gejala kompleks yang terdiri dari kombinasi beberapa gejala
berikut : bersin, hidung tersumbat, hidung gatal dan rinore. Mata, telinga,
sinus dan tenggorokan juga dapat terlibat. Rinitis alergi merupakan
penyebab tersering dari rinitis.Rinitis alergi adalah peradangan pada
membran mukosa hidung, reaksi peradanganyang diperantaraiIgE, ditandai
dengan obstruksi hidung, sekret hidung cair, bersin-bersin, dan gatal pada
hidung dan mata.
Rinitis alergi mewakili permasalahan kesehatan dunia mengenai sekitar
10 – 25% populasi dunia, dengan peningkatan prevalensi selama dekade
terakhir. Rinitis alergi merupakan kondisi kronik tersering pada anak dan
diperkirakan mempengaruhi 40% anak-anak. Sebagai konsekuensinya,
rinitis alergi berpengaruh pada kualitas hidup, bersama-sama dengan
komorbiditas beragam dan pertimbangan beban sosial-ekonomi, rinitis alergi
dianggap sebagai gangguan pernafasan utama.
Tingkat keparahan rinitis alergi diklasifikasikan berdasarkan pengaruh
penyakit terhadap kualitas hidup seseorang. Diagnosis rinitis alergi
melibatkan anamnesa dan pemeriksaan klinis yang cermat, lokal dan
sistemik khususnya saluran nafas bawah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi rhinitis alergi ?
2. Bagaimana etiologi rhinitis alergi ?
3. Bagaimana klasifikasi rhinitis alergi ?
4. Bagaimana Patofisiologi rhinitis alergi ?
5. Bagaimana Manifestasi rhinitis alergi
6. Bagaimana insiden rhinitis alergi terjadi ?
7. Bagaimana evaluasi diagnostik rinitis?

4
5

8. Bagaimana penatalaksanaan rhinitis alergi ?


9. Bagaimana komplikasi rhinitis alergi ?
10. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien rhinitis alergi ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui rhinitis alergi
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui definisi rhinitis alergi
b. Untuk mengetahui etiologi rhinitis alergi
c. Untuk mengetahui klasifikasi rhinitis alergi
d. Untuk mengetahui patofisiologi rhinitis alergi
e. Untuk mengetahui manifestasi rhinitis alergi
f. Untuk mengetahui insiden rhinitis alergi terjadi
g. Untuk mengetahui evaluasi diagnostik alergi rinitis
h. Untuk mengetahui penatalaksanaan rhinitis alergi
i. Untuk mengetahui komplikasi rhinitis alergi
j. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien rhinitis
alergi

5
6

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi rhinitis alergi


Rhinitis alergik merupakan bentuk alergi respiratorius yang paling
sering ditemukan dan diperkirakan diantarai oleh reaksi imunologi cepat
(hipersensitive I). Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada
membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 ). Rhinitis adalah peradangan
selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 )
Sedangkan menurut WHO ARIA 2001adalah kelainan pada hidung
dengan gejala bersin-bersin, rhinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah
mukosa hidung terpapar alergen yang diperantari oleh IgE.
B. Etiologi
1. Rinitis Alergi
Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi
dari pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan
lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran penting. Pada 20 –
30 % semua populasi dan pada 10 – 15 % anak semuanya atopi.
Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih
besar atau mencapai 50 %. Peran lingkungan dalam dalam rinitis
alergi yaitu alergen, yang terdapat di seluruh lingkungan, terpapar
dan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki
kecenderungan alergi.
Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan
yang masuk bersama udara pernapasan yaitu debu rumah, tungau,
kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk sari, dan lain-lain.
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua
tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri
dari dua fase yaitu :

6
7

Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak


dengan allergen hingga 1 jam setelahnya Late Phase Allergic
Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam
dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung
hingga 24 jam.
1. Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :
a. Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara
pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel
dari bulu binatang serta jamur
b. Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa
makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang
c. Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan,
misalnya penisilin atau sengatan lebah
d. Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau
perhiasan
2. Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi
dibagi menjadi tiga tahap besar :
a. Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen,
reaksi non spesifik
b. Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang
membangkitkan system humoral, system selular saja atau
bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen
berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen
masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system
tersebut maka berlanjut ke respon tersier
c. Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan
3. Sedangkan klasifikasi yang lebih baru menurut guideline
dari ARIA, 2001 (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma)
diisdasarkan pada waktu terjadinya gejala dan keparahannya
adalah:

7
8

3.
Berdasarkan lamanya terjadi gejala
Klasifikasi Gejala dialami selama
Intermitten Kurang dari 4 hari seminggu, atau
kurang dari 4 minggu setiap saat
kambuh.
Persisten Lebih dari 4 hari seminggu, atau
lebih dari 4 minggu setiap saat
kambuh.
Berdasarkan keparahan dan kualitas hidup
Ringan Tidak mengganggu tidur,
aktivitas harian, olahraga,
sekolah atau pekerjaan. Tidak ada
gejala yang mengganggu.
Sedang sampai Terjadi satu atau lebih kejadian di
berat bawah ini:
1. Gangguan tidur
2. gangguan aktivitas harian,
kesenangan, atau olah raga
3. gangguan pada sekolah atau
pekerjaan
4. gejala yang mengganggu
Formatted: Normal, Indent: Left: 0.25", No bullets or
numbering

2. Rinitis Nonalergi Formatted: Font: (Default) +Body CS (Arial), 12 pt,

a. Rinitis vasomotor Keseimbangn vasomotor ini dipengaruhi Formatted: Font: (Default) +Body CS (Arial), 12 pt

berbagai hal :

8
9

1) Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf


simpatis, seperti: ergotamin, klorpromazin, obat
antihipertensi, dan obat vasokontriktor lokal.
2) Faktor fisik, seperti iritasi asap rokok, udara dingin,
kelembapan udara yang tinggi, dan bau yang merangsang
3) Faktor endokrin, seperti : kehamilan, pubertas, dan
hipotiroidisme
4) Faktor psikis, seperti : cemas dan tegang ( kapita selekta)

b. Rinitis Medikamentosa
Rinitis Medikamentosa merupakan akibat pemakaian
vasokonstriktor topical (obat tetes hidung atau obat semprot
hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga
menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Dapat dikatakan
hal ini disebabkan oleh pemakaian obat yang berlebihan (Drug
Abuse).
c. Rinitis Atrofi
Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai
penyebabnya seperti infeksi oleh kuman spesifik, yaitu spesies
Klebsiella, yang sering Klebsiella ozanae, kemudian stafilokok,
sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi
vitamin A, sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit
kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi
radiasi.

C. Klasifikasi rhinitis alergi


1. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua:
a. Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan
membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang
disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat
mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali

9
10

terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal


musim hujan dan musim semi.
b. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran
mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena
alergi, atau karena rinitis vasomotor.

2. Rhinitis berdasarkan penyebabkannya dibedakan menjadi :


a. Rhinitis alergi
Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di
derita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan.
Merupakan inflamasi mukosa saluran hidung yang disebabkan
oleh alergi terhadap partikel, seperti: debu, asap, serbuk/tepung
sari yang ada di udara. Meskipun bukan penyakit berbahaya yang
mematikan, rinitis alergi harus dianggap penyakit yang serius
karena karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Tak hanya aktivitas sehari-hari yang menjadi terganggu, biaya
yang akan dikeluarkan untuk mengobatinya pun akan semakin
mahal apabila penyakit ini tidak segera diatasi karena telah
menjadi kronis. Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang
digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa
hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau musiman.
Berdasarkan waktunya, Rhinitis Alergi dapat di golongkan
menjadi:
1) Rinitis alergi musiman (Hay Fever)
Biasanya terjadi pada musim semi. Umumnya disebabkan
kontak dengan allergen dari luar rumah, seperti benang sari
dari tumbuhan yang menggunakan angin untuk
penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap.

10
11

2) Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)


Disebabkan bukan karena musim tertentu ( serangan yang
terjadi sepanjang masa (tahunan)) diakibatkan karena kontak
dengan allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu
debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang
menyengat
b. Rhinitis Non Alergi
Rhinitis non allergi disebabkan oleh infeksi saluran napas (rhinitis
viral dan rhinitis bakterial, masuknya benda asing kedalam
hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan massa,
penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi
oral, kokain dan anti hipertensif.
Berdasarkan penyebabnya, rhinitis non alergi di golongkan
sebagai berikut:
Tipe-tipe rinitis non alergi adalah:
1) Rinitis Infeksiosa
Rinitis infeksiosa biasanya disebabkan oleh infeksi
pada saluran pernafasan Bagian atas, baik oleh bakteri
maupun virus. Ciri khas dari rinitis infeksiosa adalah lendir
hidung yang bernanah, yang disertai dengan nyeri dan
tekanan pada wajah, penurunan fungsi indera penciuman
serta batuk.
2) Rinitis Non-Alergika Dengan Sindroma Eosinofilia
Penyakit ini diduga berhubungan dengan kelainan
metabolisme prostaglandin. Pada hasil pemeriksaan apus
hidung penderitanya, ditemukan eosinofil sebanyak 10-20%.
Gejalanya berupa hidung tersumbat, bersin, hidung meler,
hidung terasa gatal dan penurunan fungsi indera penciuman
(hiposmia).
3) Rinitis Okupasional

11
12

Gejala-gejala rinitis hanya timbul di tempat penderita


bekerja. Gejala-gejala rinitis biasanya terjadi akibat
menghirup bahan-bahan iritan (misalnya debu kayu, bahan
kimia). Penderita juga sering mengalami asma karena
pekerjaan.
4) Rinitis Hormonal
Beberapa penderita mengalami gejala rinitis pada saat terjadi
gangguan keseimbangan hormon (misalnya selama
kehamilan, hipotiroid, pubertas, pemakaian pil KB).
Estrogen diduga menyebabkan peningkatan kadar asam
hialuronat di selaput hidung. Gejala rinitis pada kehamilan
biasanya mulai timbul pada bulan kedua, terus
berlangsung selama kehamilan dan akan menghilang pada
saat persalinan tiba. Gejala utamanya adalah hidung
tersumbat dan hidung berair.
5) Rinitis Karena Obat-obatan (rinitis medikamentosa)
Obat-obatan yang berhubungan dengan terjadinya rinitis
adalah dekongestan topikal, ACE inhibitor, reserpin,
guanetidin, fentolamin, metildopa, beta-bloker,
klorpromazin,gabapentin, penisilamin, aspirin, NSAID, kokain,
estrogen eksogen, pil KB.
6) Rinitis Gustatorius
Rinitis gustatorius terjadi setelah mengkonsumsi makanan
tertentu, terutama makanan yang panas dan pedas.
7) Rinitis Vasomotor
Rinitis vasomotor diyakini merupakan akibat dari
terganggunya keseimbangan sistem parasimpatis dan
simpatis. Parasimpatis menjadi lebih dominan sehingga
terjadi pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah di
hidung. Gejala yang timbul berupa hidung tersumbat, bersin-
bersin dan hidung berair. Gangguan vasomotor hidung

12
13

adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa


hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas
parasimpatis. Rinitis vasomotor adalah gangguan pada
mukosa hidung yang ditandai dengan adanya edema yang
persisten dan hipersekresi kelenjar pada mukosa hidung
apabila terpapar oleh iritan spesifik. Etiologi yang pasti
belum diketahui, tetapi diduga sebagai akibat gangguan
keseimbangan fungsi vasomotor dimana sistem saraf
parasimpatis relatif lebih dominan. Keseimbangan
vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang
berlangsung temporer, seperti emosi, posisi tubuh,
kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dan
sebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi
tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut.
Merupakan respon non spesifik terhadap perubahan
perubahan lingkungannya, berbeda dengan rinitis alergi
yang mana merupakan respon terhadap protein spesifik pada
zat allergennya. Faktor pemicunya antara lain alkohol,
perubahan temperatur / kelembapan, makanan yang panas
dan pedas, bau – bauan yang menyengat ( strong odor ), asap
rokok atau polusi udara lainnya, faktor – faktor psikis seperti :
stress, ansietas, penyakit – penyakit endokrin, obat-obatan
seperti anti hipertensi, kontrasepsi oral. Formatted: Font: Not Bold

D. Patofisiologi
Tepung sari yang dihirup, spora jamur, dan antigen hewan di
endapkan pada mukosa hidung. Alergen yang larut dalam air
berdifusi ke dalam epitel, dan pada individu individu yang
kecenderungan atopik secara genetik, memulai produksi
imunoglobulin lokal (Ig ) E. Pelepasan mediator sel mast yang
baru, dan selanjutnya, penarikan neutrofil, eosinofil, basofil, serta
limfosit bertanggung jawab atas terjadinya reaksi awal dan reaksi

13
14

fase lambat terhadap alergen hirupan. Reaksi ini menghasilkan


mukus, edema, radang, gatal, dan vasodilatasi. Peradangan yang
lambat dapat turut serta menyebabkan hiperresponsivitas hidung
terhadap rangsangan nonspesifik suatu pengaruh persiapan.
(Behrman, 2000).
E. Manifestasi Klinis
1. Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi
hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali).
2. Berdasarkan gejala yang menonjol Berdasarkan gejala yang
menonjol, dibedakan atas golongan yang obstruksi dan rinorea.
Pemeriksaan rinoskopi anterior menunjukkan gambaran klasik
berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap
atau merah tua, dapat pula pucat. Permukaanya dapat licin atau
berbenjol. Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya
sedikit, namun pada golongan rinorea, sekret yang ditemukan
biasanya serosa dan dalam jumlah banyak.
3. Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang
disebabkan alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat
menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika
berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.
4. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan
tenggorok.
5. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
6. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena
perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap
rokok dan sebagainya.
7. Keluhan subyektif yang sering ditemukan pada pasien biasanya
napas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia),
ingus kental hijau, krusta hijau, gangguan penciuman, sakit
kepala, dan hidung tersumbat.

14
15

8. Pada penderita THT ditemukan ronnga hidung sangat lapang,


kinka inferiordan media hipotrofi atau atrofi, sekret purulen hijau,
dan krusta berwarna hijau
F. Insiden Rhinitis Alergi
Rinitis tersebar di seluruh dunia, baik bersifat endemis
maupun muncul sebagai KLB. Di daerah beriklim sedang, insidensi
penyakit ini meningkat di musim gugur, musim dingin, dan musim
semi. Di daerah tropis, insidensi penyakit tinggi pada musim hujan.
Sebagian besar orang, kecuali mereka yang tinggal di daerah
dengan jumlah penduduk sedikit dan terisolasi, bisa terserang satu
hingga 6 kali setiap tahunnya. Insidensi penyakit tinggi pada anak-
anak di bawah 5 tahun dan akan menurun secara bertahap sesuai
.dengan bertambahnya umur.
Rinitis merupakan salah satu penyakit paling umum yang
terdapat di amerika Serikat, mempengaruhi lebih dari 50 juta orang.
Keadaan ini sering berhubungan dengan kelainan pernapasan
lainnya, seperti asma. Rhinitis memberikan pengaruh yang signifikan
pada kualitas hidup. Pada beberapa kasus, dapat menyebabkan
kondisi lainnya seperti masalah pada sinus, masalah pada telinga,
gangguan tidur, dan gangguan untuk belajar. Pada pasien dengan
asma, rinitis yg tidak terkontrol dapat memperburuk kondisi
asmanya.
Karena rinitis alergik ditimbulkan oleh tepung sari atau kapang
(mold) yang terbawa angin, keadaan ini dditandai oleh insiden
musiman di Negara empat musim :
1. Awal musim semi- teung sari ( pollen) pohon (oak, elm,poplar)
2. Awal musim panas (rose fever) – tepung sari rerumputan(Timothy,
red-top)
3. Awal musim gugur – tepung sari gulma (ragweed)
4. Setiap tahunya, serangan dimulai dan berakhir pada waktu yang
kurang-lebih sama.

15
16

Spora kapang yang hangat dan lembab. Meskipun pola musiman


yang kaku tidak terdapat, spora ini muncul pada awal musim semi,
bertambah banyak selama musim panas dan berkurang serta
menghilang menjelang turunnya salju yang pertama.
G. EVALUASI DIAGNOSIS
a. Anamnesis
Anamnesis sangat penting, karena seringkali serangan tidak terjadi
dihadapan pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari
anamnesis saja. Gejala rinitis alergi yang khas adalah terdapatnya
serangan bersin berulang. Sebetulnya bersin merupakan gejala
yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak
dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme
fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process).
Bersin dianggap patologik, bila terjadinya lebih dari lima kali setiap
serangan, terutama merupakan gejala pada RAFC dan kadang-
kadang pada RAFL sebagai akibat dilepaskannya histamin.
Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung
tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai
dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Rinitis alergi sering
disertai oleh gejala konjungtivitis alergi. Sering kali gejala yang
timbul tidak lengkap, terutama pada anak. Kadang-kadang keluhan
hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya
gejala yang diutarakan oleh pasien.1 Gejala klinis lainnya dapat
berupa ‘popping of the ears’, berdeham, dan batuk-batuk lebih jarang
dikeluhkan.4
1. Pemeriksaan Fisik
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna
pucat atau livid disertai adanya sekret encer yang banyak. Bila gejala
persisten, mukosa inferior tampak hipertrofi. Pemeriksaan
nasoendoskopi dapat dilakukan bila fasilitas tersedia. Gejala spesifik
lain pada anak adalah terdapatnya bayangan gelap di daerah bawah

16
17

mata yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung.
Gejala ini disebut allergic shiner.
Selain dari itu sering juga tampak anak menggosok-gosok hidung,
karena gatal, dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut sebagai
allergic salute. Keadaan menggosok ini lama kelamaan akan
mengakibatkan timbulnya garis melintang di dorsumnasi bagian
sepertiga bawah, yang disebut sebagai allergic crease.
Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi,
sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi geligi (facies
adenoid). Dinding posterior faring tampak granuler dan edema
(cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal. Lidah
tampak seperti gambaran peta (geographic tongue). 1
2. Pemeriksaan Penunjang
a. In vitro
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat.
Demikian pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent
test) sering kali menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi
pada pasien lebih dari satu macam penyakit, misalnya selain rinitis
alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. Pemeriksaan ini
berguna untuk prediksi kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil
dari suatu keluarga dengan derajat alergi yang tinggi. Lebih
bermakna adalah dengan RAST (Radio Immuno Sorbent Test) atau
ELISA (Enzyme Linked Immuno SorbentAssay Test).
Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun tidak dapat
memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan
pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak
menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (5 sel/lap)
mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel
PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri.1
b. In vivo

17
18

b. Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes


cukit kulit, uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri
(Skin End-point Titration/SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan
dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi yang
bertingkat kepekatannya. Keuntungan SET, selain alergen
penyebab juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi
dapat diketahui.
Untuk alergi makanan, uji kulit seperti tersebut diatas kurang dapat
diandalkan. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan diet eliminasi
dan provokasi (³Challenge Test´).
Karena itu pada Challenge Test, makanan yang dicurigai diberikan
pada Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu
lima hari. pasien setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya
diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan setiap kali
menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan.
H. Penatalaksanaan
Hindari kontak & eliminasi, Keduanya merupakan terapi paling ideal.
Hindari kontak dengan alergen penyebab, sedangkan eliminasi untuk
alergen ingestan (alergi makanan).
Simptomatik : Terapi medikamentosa yaitu antihistamin, dekongestan
dan kortikosteroid
a. Antihistamin
Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral.
Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu generasi pertama
(nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif serta generasi
kedua (selektif) dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif.
Efek sedative antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien
yang mengalami gangguan tidur karena rhinitis alergi yang
dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat
golongan antihistamin adalah efek antikolinergik seperti mulut
kering, susah buang air kecil dan konstipasi. Penggunaan obat ini

18
19

perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami kenaikan tekanan


intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.
Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum
terpapar allergen. Penggunaan antihistamin harus selalu
diperhatikan terutama mengenai efek sampingnya. Antihistamin
generasi kedua memang memberikan efek sedative yang sangat
kecil namun secara ekonomi lebih mahal.
b. Dekongestan
Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen
yang beraksi pada reseptor adrenergic pada mukosa nasal,
memproduksi vasokonstriksi. Topikal dekongestan biasanya
digunakan melalui sediaan tetes atau spray. Penggunaan
dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi
secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan obat ini dalam jangka
waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa (rhinitis
karena penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang
dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa terbakar,
bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat
ini memerlukan konseling bagi pasien.
Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical.
Namun durasinya biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa
digunakan adalah pseudoefedrin. Pseudoefedrin dapat
menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun digunakan
pada dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hati-hati
digunakan untuk pasien-pasien tertentu seperti penderita hipertensi.
Saat ini telah ada produk kombinasi antara antihistamin dan
dekongestan. Kombinasi ini rasional karena mekanismenya
berbeda.

c. Nasal Steroid

19
20

Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat


digunakan untuk rhinitis seasonal. Nasal steroid diketahui memiliki
efek samping yang sedikit.
Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan
ipatropium bromida.
Operatif : Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi
inferior yang mengalami hipertrofi berat. Lakukan setelah kita gagal
mengecilkan konka nasi inferior menggunakan kauterisasi yang
memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.
Imunoterapi : Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi.
Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody
Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung
lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan. Netralisasi tidak
membentuk blocking antibody dan untuk alergi ingestan.
I. Komplikasi
a. Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan
kekambuhan polip hidung.
b. Otitis media. Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang
sering residif dan terutama kita temukan pada pasien anak-anak.
c. Sinusitis kronik
d. Otitis media dan sinusitis kronik bukanlah akibat langsung dari rinitis
alergi melainkan adanya sumbatan pada hidung sehingga
menghambat drainase.

20
21

BAB III IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran
mukosa di hidung. (Dipiro, 2005).Rhinitis adalah peradangan selaput
lendir hidung. ( Dorland, 2002 )
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :
Alergen Inhalan,Alergen Ingestan,Alergen Injektan,Alergen
Kontaktan,
Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi
menjadi tiga tahap besar :
Respon Primer,Respon Sekunder,Respon Tersier
B. Saran
penyusun sangat membutuhkan saran, demi meningkatkan kwalitas
dan mutu makalah yang kami buat dilain waktu. Sehingga penyusun
dapat memberikan informasi yang lebih berguna untuk penyusun
khususnya dan pembaca umumnya.

21
22

DAFTAR PUSTAKA

-Mansjoer, arif dkk. 1993. Kapita Selekta Kedokteran Jilid.1 Edisi 3. jakarta
: Media Aesculapius
- Price, silvya A. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
Edisi 4. Jakarta : EGC
-Smeltzer, suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
universitas indonesia
hendy.2010. Kumpulan askep.http://hendy-kumpulanaskep.blogspot.com/
Diakses tanggal 13 september pukul : 16.10

Diposting oleh Dian Al Mira di 19.44 Formatted: Line spacing: 1.5 lines

22
23

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke


FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar: Formatted: Space After: Auto, Line spacing: 1.5 lines

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Formatted: Line spacing: 1.5 lines

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog

 ► 2014 (15)

 ▼ 2013 (23)
o ► Desember (1)
o ▼ April (17)
 Askep Addison Disease
 Askep Demam Tifoid
 Askep Kanker Lambung NHM
 Askep Ulkus Peptikum
 ASKEP KARSINOMA ESOFAGUS
 Askep Thalassemia
 RINITIS ALERGI MAKALAH KELOMPOK 4B STIKES
NHM
 PENTINGNYA SOSIALISASI POLITIK DALAM
PENGEMBANGAN ...
 Askep Cytic fibrosis (CF) Stikes NHM
 Askep Limfoma non-Hodgkin
 Askep Koagulasi intravascular diseminata (KID) Sti...
 Kanker Paru
 ASKEP ENSEFALITIS STIKES NHM
 Askep Empiema Makalah Kelompok 4B Stikes NHM

23
24

 ASKEP DIFTERI MAKALAH KELOMPOK


 Askep Leukimia 4B Stikes NHM
 Askep Hiperplenisme
o ► Maret (5)

 ► 2012 (51)

Mengenai Saya

Formatted: Font: (Default) +Body CS (Arial), 12 pt,


Font color: Blue
Formatted: Line spacing: 1.5 lines

Dian Al Mira
Haii.. sory ya, akhir2 ini jarang aktif di Blogger, masi sibuk dg banyak
urusan, insyaallah nnti sy ngepost makalah2 yang blm sy posting
sblmnya. Semoga bermanfaat buat adek2 calon nurse masa depan,
berhati lembut dan bersikap ramah..
Lihat profil lengkapku
Formatted: Line spacing: 1.5 lines

Tema Tanda Air. Diberdayakan oleh Blogger. Formatted: Line spacing: 1.5 lines

24