Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Paton mengatakan bahwa semua masyarakat yang telah mencapai tingkat perkembangan
tertentu harus menciptakan suatu sistem hukum untuk melindungi kepentingan-kepentingan
tertentu. Jika masyarakat berkembang, maka konsepsi-konsepsi hukum akan menjadi lebih
sempurna dan kepentingan yang dilindungi akan berubah. Menurut Paton selanjutnya, tidak ada
alasan bagi kita untuk berusaha tidak menjawab berbagai permasalahan tersebut. Statement yang
dikemukakan G.W. Paton tersebut adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi. Kemajuan-
kemajuan dalam bidang sosial, budaya, dan teknologi bergerak begitu cepat. Akibatnya, berbagai
sarana dan pranata-pranata yang telah ada seperti peraturan perundang-undangan menjadi
ketinggalan dan tidak sesuai lagi dengan dinamika masyarakat dan pembangunan zaman.
Dalam rangka pembangunan hukum itu, diperlukan terlebih dahulu adanya perencanaan
hukum (legal planning) yang dapat menampung segala kebutuhan dalam suasana perubahan-
perubahan sosial atau dinamika masyarakat. Namun sebagaimana dikatakan Sunaryati Hartono.,
“Legal Planning” itu bukan pekerjaan yang mudah. Harus terlebih dahulu kita mempunyai
pengetahuan yang luas dan mendalam tentang sistem hukum asing. Di sinilah letak perlunya
Perbandingan Hukum (Comparative Law). Dengan perbandingan hukum akan memperluas
cakrawala berpikir serta memberi kesadaran kepada perencana/pelaksana pembangunan hukum
itu bahwa bagi setiap masalah hukum terbuka lebih dari hanya satu cara untuk mengatasinya.
Apalagi dalam perkembangan kehidupan masyarakat modern sekarang ini. Akibat kemajuan
teknologi, jarak-jarak antar negara semakin rapat, hubungan komunikasi semakin cepat, maka
setiap negara akan cenderung memperbandingkan dirinya dengan negara lain, dengan maksud
untuk memelihara keseimbangan dan harmonisasi antar negara sehingga tujuan nasional masing-
masing dapat tercapai.1

1
Hartono, Sunaryati. DR., S.H., 1992. Capita Selecta Perbandingan Hukum, Alumni, Bandung
B. Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini, penulis mencoba merumuskan batasan masalah, agar masalah yang akan
dibahas dapat terarah. Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa masalah yang diidentifikasi
sebagai berikut :

1. Perbedaan sistem hukum pidana antara Indonesia yang menganut sistem hukum eropa
kontinental dengan Filipina yang menganut sistem hukum anglo saxon dan karakteristiknya
masing-masing.

2. Peranan dan manfaat perbandingan hukum pidana kedua negara bagi pembaharuan hukum
pidana nasional.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perbedaan Sistem Hukum Pidana Antara Indonesia Dengan Filipina Dan


Karakteristiknya Masing-Masing.
Di dunia sebenarnya terdapat berbagai sistem hukum dengan karakteristiknya maupun
dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam Ilmu Hukum Pidana dewasa ini
lazim dikenal adanya 2 (dua) sistem hukum pidana yang paling menonjol dan mengemuka yang
masing-masing mempunyai ciri-ciri khas ataupun karakteristik sendiri pula. Walaupun pada
akhirnya kita dapat melihat suatu kecenderungan (tendency) bahwa ciri-ciri khas masing-masing
sistem hukum pidana tersebut semakin tidak tegas lagi. Hal ini baik karena pertimbang-
pertimbangan teknis maupun karena adanya kebutuhan hukum yang semakin kompleks. Dalam
bab ini penulis mencoba megemukakan tentang dua sistem hukum pidana yang, yaitu sistem
hukum pidana eropa kontinental yang dianut oleh Indonesia dan sistem hukum pidana anglo
saxon yang dianut oleh Filipina.
1. Sistem Hukum Pidana Indonesia
Sistem hukum pidana Indonesia adalah sistem hukum pidana yang menganut sistem hukum
pidana eropa kontinental, lazim dipergunakan di negara-negara Eropa daratan. Pada awalnya
sistem hukum pidana Eropa Kontinental ini berasal dari hukum Romawi kuno yang selanjutnya
diresepsi dalam kode Napoleon. Dari sinilah kemudian menyebatr ke berbagai daratan Eropa
seperti Jerman, Belanda, Spanyol, dan lain sebagainya.
Ketika negara-negara Eropa Kontinental ini melakukan penjajahan ke berbagai bagian bumi
baik di Asia, Afrika, dan lain-lain, selama berpuluh tahun bahkan beratus tahun, maka mereka
turut menerapkan sistem hukum pidana seperti yang dipakai di negara asal mereka di negara-
negara yang mereka jajah, yang pada umumnya sistem hukum pidana tersebut berlanjut sampai
sekarang.Ada beberapa ciri khas ataupun karakteristik dari sistem hukum pidana Indonesia yang
menganut sistem hukum pidana eropa kontinental, antara lain dalam hal Pengkodifikasiannya:
Kendatipun dalam perkembangannya sukar untuk menentukan sistem hukum pidana mana
yang lebih terkodifikasi, namun pada umumnya dapat dikatakan bahwa sistem hukum pidana
Eropa Kontinental adalah terkodifikasi, karena diundangkan sekaligus dalam satu kitab. Hal ini
menunjukkan bahwa sumber hukum pidana yang utama dalam negara-negara yang menganut
sistem Eropa Kontinental adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidananya.
Berbagai ketentuan hukum pidana dalam rangka kodifikasi ini dimuat dan diatur dalam
suatu Kitab Hukum Pidana yang dikenal dengan istilah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP). Sebagai contoh dapat disebutkan adalah Hukum Pidana Belanda (yang semula berasal
dari Code Penal Perancis) terdapat dalam satu kitab yang terdiri dari tiga buku. Hal yang sama
juga terdapat di Indonesia yang memang diresepsi dari hukum pidana Belanda dahulu.
Dalam perkembangannya sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, ternyata perundang-
undangan Hukum Pidana atau perundang-undangan yang di dalamnya terdapat materi hukum
pidana, semakin lama semakin banyak dan menumpuk juga. Di Indonesia misalnya dapat
dikatakan bahwa materi hukum pidana di luar KUHP (hukum pidana khusus) justru lebih banyak
dan terus bertambah, seperti:
Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang Tindak Pidana Imigrasi
Dengan telah tertulisnya semua ketentuan tentang hukum pidana, dapat dikatakan bahwa
dalam sistem Eropa Continental yang dianut oleh Indonesia, lebih terjamin adanya kepastian
hukum. Walaupun kepastian hukum yang terkandung dalam sistem ini adalah kepastian hukum
yang bersifat formal yang dalam hal-hal tertentu selalu tertinggal oleh perkembangan peradaban
dan kesadaran hukum masyarakat. Karena itulah di negara-negara Eropa Kontinental sudah
semakin berkembang kepastian hukum yang bersifat materil.
Selanjutnya sistem hukum pidana Indonesia mempergunakan sistem peradilan yang berbeda
dengan sistem hukum pidana Filipina. Di Indonesia dianut sistem di mana Hakim atau Majelis
Hakim yang mengadili perkara pidana; dengan kata lain hakim atau majelis hakimlah yang
menentukan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa dan sekaligus menjatuhkan putusannya
baik berupa pemidanaan ataupun pembebasan.
2. Sistem Hukum Pidana Filipina
Sistem hukum pidana Filipina adalah suatu sistem hukum pidana yang berasal dari negara-
negara Anglo Saxon yaitu Amerika Serikat dan Inggris. Temasuk ke dalam sistem ini adalah
negara-negara lain baik itu di Asia, Australia, Afrika, dan Amerika yang dalam sejarahnya
pernah mengalami penjajahan dari negara-negara Anglo Saxon tersebut yang sampai saat ini
masih menganut dan menerapkan sistem hukum pidana Anglo Saxon tersebut. Sebagaimana
sistem Eropa Kontinental maka sistem hukum pidana Anglo Saxon mempunyai ciri-ciri yang
khas pula.2
Di negara-negara Anglo Saxon seperti Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara ex-
dominionnya seperti Malaysia, Filipina, dan lain-lain sumber utama hukum pidananya bukan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang telah terkodifikasi tetapi adalah hukum umum
(Common Law) baik berupa undang-undang (Statue act), Yurisprudensi maupun perundang-
undangan lain (delegated Legislation).
Sumber-sumber ini berkembang terus dan bertambah tahun demi tahun, sehingga untuk
memperlajarinya harus mengumpulkan terlebih dahulu berbagai yurisprudensi dan perundang-
undangan yang bersangkutan. Usaha untuk mengkofikasikannya baru bagian demi bagian yang
sudah tercapai, seperti:3
Undang-undang tentang kejahatan terhadap orang (Offences against the person act);
Undang-Undang tentang Kejahatan Seksual (Sexual Act);
Undang-Undang tentang Pencurian (Theft Act), dan lain-lain.
Namun usaha untuk mengkofikasikan keseluruhannya dan mengunifikasikannya belum
berhasil sepenuhnya. Oleh karena sumber hukum pidana yang utama adalah Common Law,
kepastian hukum yang bersifat material yang dalam prakteknya senantiasa dapat mengikuti
perkembangan kesadaran hukum dalam masyarakat.
Hal ini nampaknya sejalan dengan ajaran Paul Van Schalten tentang “Het Open Sistem
vanm Het Recht” yang pada dasarnya mengakui kesadaran hukum yang berkembang baik di
kalangan penegak hukum dan masyarakat.

2
Hamzah, Andi. Dr., S.H. 1987. KUHP Republik Phlipina sebagai Perbandingan, Ghalia Indonesia, Jakarta
3
Seno Adji, Oemar, Prof. SH, 1998. Komentar Atas Seri Terjemahan KUHP Negara-Negara
Asing, Ghalia Indonesia
BAB III
PENUTUP

Setelah melalui pembahasan pada bab-bab terdahulu maka penulis sampai kepada suatu
kesimpulan yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut:
1. Perbandingan hukum (rechtvergelijking) adalah suatu kegiatan membanding-bandingkan
sistem hukum yang satu dengan sistem hukum yang lain ataupun membanding-bandingkan
lembaga hukum (legal institution) dari suatu sistem hukum dengan lembaga hukum dari
sistem hukum yang lain.

2. Perbandingan hukum pidana (Comparative Criminal Law) mempunyai banyak manfaat baik
secara ilmiah untuk meningkatkan kualitas pendidikan hukum dan pengembangan ilmu
hukum pidana maupun secara praktis dalam bidang legislatif, judikatif (untuk
pengembangan yurisprudensi) serta untuk meningkatkan hubungan internasional dengan
danya harmoninasi hukum antar negara.
DAFTAR PUSTAKA

Hamzah, Andi. Dr., S.H. 1987. KUHP Republik Phlipina sebagai Perbandingan,
Ghalia Indonesia, Jakarta

Hartono, Sunaryati. DR., S.H., 1992. Capita Selecta Perbandingan Hukum, Alumni, Bandung

Seno Adji, Oemar, Prof. SH, 1998. Komentar Atas Seri Terjemahan KUHP Negara-Negara
Asing, Ghalia Indonesia