Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hukum adalah suatu kebutuhan bagi masyarakat maka pantaslah dlam dunia
hukum kita mengenal sebuah adagium “dimana ada masyarakat disana ada hukum”.
Dan seyogyanya hukum yang ada adalah hukum yang subtansinya mencukupi
kebutihan dimasyarakatnya.oleh karena itu sistem hukum selalu menyesuaikan dengan
keadaan yang ada di masyarakat itu sendiri. Sehingga perbedaan sistem dan corak
sistem antar negara sangat dimaklum adanya, termasuk halnya dalam shukum pidana,
setiap negara mempunyai perbedaan dan persamaan tersendiri.
Menurut Winterton, bahwa perbandingan hukum adalah sutu metoda yang
membandingkan sistem-sistem hukum dan perbandingan tersebut menghasilkan data
sistem hukum yang dibandingkan. Merujuk dari perntaat tersebut, itu artinya
kerberadaan hukum yang berbeda-beda patiut menjadi sebuah kajian, sehingga dengan
adanya kajian tewrsebut dapat diekathui bagaiamana hukum yang ada itu keberadaanya
dan juga latar belakang adanya hukum itu sendiri.
Indonesia sebagai negara hukum pun mempunyai corak tersendiri dari mulai
nomenklatur atau istilah hukum, sistem dan budaya hukum yang diterapkan, pun negara
lain mempunyai perbedaan tersendiri, dari sini menarik untuk dikaji, bagaimana
perbandingan yang ada antara negara itu dapat menghasilkan ide dan pemikiran tetang
pembaharuan hukum yang lebih relevan.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian diatas ada beberapa hal yang penting untuk dirumuskan:
1. Bagaimana sistem dan corak hukum pidana di Indonesia?
2. Bagaimana sistem dan corak hukum pidana di Austria?

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perbedaan Sistem Hukum Pidana Antara Indonesia Dengan Austria Dan
Karakteristiknya Masing-Masing
Di dunia sebenarnya terdapat berbagai sistem hukum dengan
karakteristiknya maupun dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Dalam Ilmu Hukum Pidana dewasa ini lazim dikenal adanya 2 (dua) sistem hukum
pidana yang paling menonjol dan mengemuka yang masing-masing mempunyai
ciri-ciri khas ataupun karakteristik sendiri pula. Walaupun pada akhirnya kita dapat
melihat suatu kecenderungan (tendency) bahwa ciri-ciri khas masing-masing sistem
hukum pidana tersebut semakin tidak tegas lagi. Hal ini baik karena pertimbang-
pertimbangan teknis maupun karena adanya kebutuhan hukum yang semakin
kompleks. Dalam bab ini penulis mencoba megemukakan tentang dua sistem
hukum pidana yang, yaitu sistem hukum pidana eropa kontinental yang dianut oleh
Indonesia dan sistem hukum pidana eropa kontinental yang juga dianut oleh
Jerman.

1. Sistem Hukum di Indonesia

Sistem hukum pidana Indonesia adalah sistem hukum pidana yang menganut
sistem hukum pidana eropa kontinental, lazim dipergunakan di negara-negara Eropa
daratan. Pada awalnya sistem hukum pidana Eropa Kontinental ini berasal dari
hukum Romawi kuno yang selanjutnya diresepsi dalam kode Napoleon. Dari sinilah
kemudian menyebar ke berbagai daratan Eropa seperti Jerman, Belanda, Spanyol,
dan lain sebagainya.

Ketika negara-negara Eropa Kontinental ini melakukan penjajahan ke berbagai


bagian bumi baik di Asia, Afrika, dan lain-lain, selama berpuluh tahun bahkan
beratus tahun, maka mereka turut menerapkan sistem hukum pidana seperti yang
dipakai di negara asal mereka di negara-negara yang mereka jajah, yang pada
umumnya sistem hukum pidana tersebut berlanjut sampai sekarang.Ada beberapa
ciri khas ataupun karakteristik dari sistem hukum pidana Indonesia yang menganut
sistem hukum pidana eropa kontinental, antara lain dalam hal Pengkodifikasiannya:

2
Kendatipun dalam perkembangannya sukar untuk menentukan sistem hukum pidana
mana yang lebih terkodifikasi, namun pada umumnya dapat dikatakan bahwa sistem
hukum pidana Eropa Kontinental adalah terkodifikasi, karena diundangkan
sekaligus dalam satu kitab. Hal ini menunjukkan bahwa sumber hukum pidana yang
utama dalam negara-negara yang menganut sistem Eropa Kontinental adalah Kitab
Undang-Undang Hukum Pidananya.

Berbagai ketentuan hukum pidana dalam rangka kodifikasi ini dimuat dan diatur
dalam suatu Kitab Hukum Pidana yang dikenal dengan istilah Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP). Sebagai contoh dapat disebutkan adalah Hukum
Pidana Belanda (yang semula berasal dari Code Penal Perancis) terdapat dalam satu
kitab yang terdiri dari tiga buku. Hal yang sama juga terdapat di Indonesia yang
memang diresepsi dari hukum pidana Belanda dahulu.

Dalam perkembangannya sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya,


ternyata perundang-undangan Hukum Pidana atau perundang-undangan yang di
dalamnya terdapat materi hukum pidana, semakin lama semakin banyak dan
menumpuk juga. Di Indonesia misalnya dapat dikatakan bahwa materi hukum
pidana di luar KUHP (hukum pidana khusus) justru lebih banyak dan terus
bertambah, seperti:

 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak


Pidana Korupsi.
 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Tindak Pidana
Penyalahgunaan Narkotika.
 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian.
 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang Tindak Pidana Imigrasi

Dengan telah tertulisnya semua ketentuan tentang hukum pidana, dapat dikatakan
bahwa dalam sistem Eropa Continental yang dianut oleh Indonesia, lebih terjamin
adanya kepastian hukum. Walaupun kepastian hukum yang terkandung dalam sistem
ini adalah kepastian hukum yang bersifat formal yang dalam hal-hal tertentu selalu
tertinggal oleh perkembangan peradaban dan kesadaran hukum masyarakat. Karena
itulah di negara-negara Eropa Kontinental sudah semakin berkembang kepastian
hukum yang bersifat materil.

3
2. Sistem Hukum Pidana di Austria

Seperti halnya di negara-negara lainnya, mula-mula hukum yang dipergunakan


adalah hukum kebiasaan yang di Perancis dinamakan Droit de Costumes, di negara
Belanda disebut Gewoonte recht dan di Indonesia dinamakan Hukum Adat. Hukum
kebiasaan tersebut adalah hukum asli mereka. Dibandingkan dengan Indonesia ada
perbedaan sedikit yakni bahwa hukum adat sampai saat ini dapat dipertahankan,
sedangkan hukum kebiasaan di Eropa Kontinental tinggal sejarah saja. Hal-hal yang
menyebabkan lenyapnya hukum kebiasaan di Eropa Kontinental adalah adanya
penjajahan oleh bangsa Romawi dan adanya anggapan bahwa hukum Romawi lebih
baik daripada hukum mereka sendiri, sehingga diadakannya resepsi hukum.
Anggapan atas hukum Romawi sebagai hukum yang sempurna tersebut memang
wajar, karena jauh sebelumnya tepatnya sejak abad ke satu bangsa Yunani dengan
ahli-ahli hukumnya seperti Gajus Ulpanus telah menciptakan serta
mempersembahkan suatu system hukum kepada bangsa dan negaranya. Bahkan
pada abad ke enam mereka dapat menyajikan kodifikasi hukum Romawi dalam kitab
yang diberi nama Corpus Lurus Civilis. Anggapan tersebut timbul atas hasil
penelitian para Glossatoren.

Hukum Pidana Austria sebenarnya sangat mirip dengan hukum pidana di


Jerman. Di Austria sendiri pengkodifikasian hukumnya dikenal dengan nama Code
Civil Austria. Beberapa hal yang perlu dicatat sebagai sesuatu yang berbeda dengan
KUHP Indonesian adalah sebagai berikut :

1. Sesudah perang dunia II berakhir, negara-negara eropa pada umumnya sangat


kecewa terhadap model rehabilitasi dalam pemidanaan. Jerman menerapkan
pembinaan klinik ( clinical tretment).
2. Diterapkan alternatif denda sebagai penganti pidana penjara yang singkat,
dalam hal ini diperlukan apa yang disebut denda harian (day fine) pada tahun 1975.
Sebenarnya sistem denda harian ini sudah lama dikenal di negara-negara
Skandinavia. Denda harian berarti perhitungan besar denda didasarkan kepada
pendapatan pelanggar per hari. Jadi, perimbangan berapa lama orang seharusnya
dipidana penjara dibanding dengan jika diganti denda, maka besar denda yang
dikenakan ialah berapa besar pendapatan orang itu per hari. Maksud ketentuan ini

4
agar pidana (denda) menjadi adil. Untuk tiba pada denda harian individual yang lebih
jitu, hakim menempuh cara-cara seperti yang dibawah ini:
a. Kesalahan dinyatakan dan dikonversasi dalam pidana penjara menurut hari.
b. Denda harian diperhitungkan sesuai dengan pendapatan per bulan terdakwa.
c. Utang-utang yang ada sekarang dikurangkan.
d. Jumlah itu dibagi jumlah hari dalam sebulan.
e. Jumlah yang ditentukan dalam bagian 1 dan 4 dikali sehingga diperoleh jumlah
denda. yang harus dibayar misalnya : [ A ($300) : B (30)] * C (100) = F ($100)
A = Jumlah pendapatan per bulan B = jumlah hari per bulan C = jumlah hari
seimbang dalam pidana penjara F = jumlah denda yang harus dibayar 3.
3. Dasar pemikiran Alfons Wohl, seorang bekas jaksa federal, mempertahankan bahwa
langkah pertama dalam memperbarui sistem pidana, ialah menganut ajaran bahwa
pembuat delik harus dibebaskan segera setelah kelihatan dapat diterima baik oleh dia
maupun oleh masyarakat.
4. Disamping denda harian sebagai alternatif pemenjaraan, juga diadakan penundaan
pidana, dikenal pula penghentian penuntutan yang dikenakan oleh penuntut umum
sebagai pidana percobaan praperadilan.
5. Pidana pokok dalam KUHP jerman hanya dua yang penting, yaitu pidana penjara yang
maksimum 15 tahun atau seumur hidup, dan pidana denda sebagai alternatif terpenting.
Disamping itu, dikenal pidana yang ditunda (suspended sentence).
6. Tindakan hukum yang menyebabakan hilangnya kemerdekaan yaitu penyembuhan
sosial, sedangkan tindakan yang tidak menyebabakan hilangnya kemerdekaan yang
disebut dengan tindakan preventif termasuk pencabutan dan penundaan surat izin
mengemudi dan larangan menjalankan profesi.

Hukum pidana Austria selalu sejajar dengan hukum pidana Indonesia, yang berbeda
ialah pelaksanaannya. Beberapa hal yang perlu dicatat sebagai sesuatu yang berbeda dengan
KUHP Indonesian adalah sebagai berikut :

1. Pidana bersyarat dan pelepasan bersyarat sudah lama ada di austria, hampir seumur
dengan yang ada di indonesia. Tetapi alternatif utama bagi pidana penjara, yaitu
probation dan parole baru sejak tahun 1966 dan denda harian (day fine) sejak tahun
1975. Jadi, sesudah perang dunia.
2. Pidana pokok hanya pidana penjara seumur hidup dan denda. Keduanya dapat
diterapkan bersamaan.

5
3. Tindakan hukum terhadap pelanggar sakit jiwa, peyalah guna narkotika dan tersangka
yang ketagihan obat dan multi residivis yang berbahaya, masing-masing kelompok
dikenakan pengurangan dalam waktu tertentu atau jangka waktu yang tidak terbatas.
4. Pidana denda dikenakan kepada semua pidana penjara sampai (6) enam bulan, kecuali
jika dipandang perlu terdakwa dipenjara untuk mencegah mereka melakukan delik lagi.

Adapun peradilan Pidana di Austria adalah peradilan Umum yang mengurusi


menangani kasus-kasus pidana, kasus perdata. Terdapat empat tingkatan: Pengadilan Distrik
(Amtsgericht); Pengadilan Negeri (Landgericht); Pengadilan Tinggi (Oberlandesgericht) dan
Mahkamah Agung Federal (Bundesgerichtshof).

6
BAB III

KESIMPULAN

Di dunia sebenarnya terdapat berbagai sistem hukum dengan karakteristiknya maupun


dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam Ilmu Hukum Pidana dewasa
ini lazim dikenal adanya 2 (dua) sistem hukum pidana yang paling menonjol dan mengemuka
yang masing-masing mempunyai ciri-ciri khas ataupun karakteristik sendiri pula.

Pada dasarnya Indonesia dan Austria menganut sistem hukum yang sama, yaitu sistem
eropa kontiental yang mempunyai ciri khas paling dominan yaitu terkodifikasinya sumber
hukum di negara itu. karena diundangkan sekaligus dalam satu kitab. Hal ini menunjukkan
bahwa sumber hukum pidana yang utama dalam negara-negara yang menganut sistem Eropa
Kontinental adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidananya.

Di Indoensia hukum pidananya terkodifikasi dalam sebuah kitab yang bernama Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sedangkan dinegara Austria pengkodifikasian
hukumnya dikenal dengan nama Code Civil Austria. Yang paling mendasar dari perbedaan
kedua negara ini adalah sistem pemidaan.

Kemudian peradilan pidana di Austriaitu Terdapat empat tingkatan: Pengadilan Distrik


(Amtsgericht); Pengadilan Negeri (Landgericht); Pengadilan Tinggi (Oberlandesgericht) dan
Mahkamah Agung Federal (Bundesgerichtshof).

7
DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Sunaryati. DR., S.H., 1992. Capita Selecta Perbandingan Hukum, Alumni, Bandung

https://www.scribd.com/doc/130693652/Sistem-Peradilan-Administrasi-Jerman-Phan
diunduh pada tangga 10 desember 2017 pukul 20;00 WIB

Prof. Atmamsasmita, Romli. S.H, LL.M., 2009, Perbandingan Hukum Pidana Kontenporer,
Finkahati aneska, Jakarta.